Anda di halaman 1dari 11

ANALISA KASUS

Pasien dapat didiagnosa Acne Vulgaris sesuai dengan keluhan pasien.Yaitu :


o Wanita 38 tahun berobat ke poli kulit RSUD karena timbul banyak jerawat pada
wajah dan leher sejak 3 bulan.Dan mengeluh wajahnya sangat berminyak dan terdapat
komedo kecil-kecil.Pasien mengaku jarang membersihkan wajahnya.Saat pasien
menstruasi,ia merasakan wajahnya semakin berminyak dan semakin banyak timbul
jerawat.
Dikeluarga pasien adik pasien juga mempunyai keluhan yang sama.

o Gejala Klinis Pasien :

 Timbul jerawat kemerahan


 Predileksi : wajah dan leher
 Gatal
 Perih
 Jerawat ada yang berisi nanah dan darah.
 Terdapat komedo kecil-kecil
 Terdapat Luka garuk

Status Dermatologis:
Distribusi : Regional
a/r : Wajah dan leher
Lesi : Berbatas tegas,kemerahan,sebesar jarum pentul,vesikel,pustul,abses.
Efloresensi : pustul eritema,sirkumskrip,Miliar.

Berdasarkan teori Acne Vulgaris


I.Definisi
Peradangan kronik dari folikel polisebasea yang disebabkan oleh beberapa faktor dengan
gambaran klinis yang khas (Siregar, 1991).
a merupakan reaksi peradangan dalam folikel sebasea yang pada umumnya dan biasanya
disertai dengan pembentukan papula, pustula, dan abses terutama di daerah yang banyak
mengandung kelenjar sebasea (Wasitaatmadja, 2002).
Daerah-daerah predileksinya terdapat di muka, bahu, bagian atas dari ekstremitas superior,
dada, dan punggung (Harahap, 2000).

II Klasifikasi Akne vulgaris


Jerawat terbagi menjadi menjadi empat tingkatan yaitu ringan, sedang, agak berat dan berat.
Tingkatan tersebut ditentukan berdasarkan jumlah jerawat yang ada pada wajah, dada dan
punggung, serta ukuran besar kecil jerawat atau kondisi peradangan jerawat. Selain itu, di
bawah ini juga termasuk dalam perbedaan jenis jerawat:

1. Jerawat pada bayi yang baru lahir (newborn acne): Jerawat jenis ini menyerang sekitar 20
persen bayi yang baru lahir dan tergolong jerawat ringan.
2. Jerawat pada bayi (infantile acne): Bayi berumur 3–6 bulan juga ditumbuhi jerawat, dan
akan tumbuh kembali pada saat ia beranjak remaja.
3. Jerawat vulgaris (Acne vulgaris): Jerawat jenis ini adalah yang paling umum terjadi pada
remaja dan kaum muda yang beranjak dewasa.
4. Jerawat konglobata (cystic acne): Jerawat jenis ini terjadi pada kaum pria muda, tergolong
serius namun jarang terjadi.

III. Faktor resiko dan Etiologi


Faktor resiko dan penyebab akne sangat banyak yaitu multifaktorial antara lain :
o Sebum.
Merupakan faktor utama penyebab timbulnya akne.
o Genetik.
Faktor herediter yang sangat berpengaruh pada besar dan aktivitas kelenjar glandula
sebasea. Apabila kedua orang tua mempunyai parut bekas akne, kemungkinan besar
anaknya akan menderita akne.
o Usia.
Umumnya insiden terjadi pada sekitar umur 14 – 17 tahun pada wanita, 16 – 19 tahun
pada pria dan pada masa itu lesi yang predominan adalah komeda dan papul dan
jarang terlihat lesi beradang penderita (Djuanda, Hamzah dan Aisyah, 1999).
o Jenis kelamin.
Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan Akne vulgaris.
(Nami, 2009).
o Kebersihan wajah.
Meningkatkan perilaku kebersihan diri dapat mengurangi kejadian akne vulgaris pada
remaja (Nami, 2009).
o Psikis.
Pada beberapa penderita, stres dan gangguan emosi dapat menyebabkan eksaserbasi
akne. Kecemasan menyebabkan penderita memanipulasi aknenya secara mekanis,
sehingga terjadi kerusakan pada dinding folikel dan timbul lesi yang beradang yang
baru (Goggin et al, 1999).
o Hormon endokrin:
 Androgen. Konsentrasi testosteron dalam plasma penderita akne pria tidak
berbeda dengan yang tidak menderita akne. Berbeda dengan wanita, pada
testosteron plasma sangat meningkat pada penderita akne (Pochi, Frorstrom &
Lim James, 2006).
 Estrogen. Pada keadaan fisiologi, estrogen tidak berpengaruh terhadap
produksi sebum. Estrogen dapat menurunkan kadar gonadotropin yang berasal
dari kelenjar hipofisis. Hormon gonadotropin mempunyai efek menurunkan
produksi sebum.
 Progesteron. Progesteron, dalam jumlah fisiologis tidak mempunyai efek
terhadap efektivitas terhadap kelenjar lemak. Produksi sebum tetap selama
siklus menstruasi, akan tetapi kadang-kadang progesteron dapat menyebabkan
akne premenstrual (Suyono, 2002).
 Diet. Pada penderita yang makan banyak karbohidrat dan zat lemak, tidak
dapat dipastikan akan terjadi perubahan pada pengeluaran sebum atau
komposisinya karena kelenjar lemak bukan alat pengeluaran lemak yang kita
makan.
Iklim. Di daerah yang mempunyai empat musim, biasanya akne bertambah hebat pada
musim dingin, sebaliknya kebanyakan membaik pada musim panas. Bertambah hebatnya
akne pada musim panas tidak disebabkan oleh sinar UV melainkan oleh banyaknya keringat
pada keadaan yang sangat lembab dan panas tersebut.

 Bakteria. Mikroba yang terlibat pada terbentuknya akne adalah


corynebacterium acnes, Stafilococcus epidermidis, dan pityrosporum ovale.
 Kosmetika. Pemakaian bahan-bahan kosmetika tertentu seperti, bedak dasar
(faundation), pelembab (moisturiser), krem penahan sinar matahari
(sunscreen), dan krem malam secara terus menerus dalam waktu lama dapat
menyebabkan suatu bentuk akne ringan yang terutama terdiri dari komedo
tertutup dan beberapa lesi papulopustular pada pipi dan dagu.

IV. Patogenesis
Patogenesis akne vulgaris sangat kompleks dipengaruhi banyak faktor dan kadang-kadang
masih kontroversial. Ada empat hal penting yang berhubungan dengan terjadinya akne :
1. Kelenjar minyak menjadi besar yaitu hipertropi dengan peningkatan penghasilan sebum.
2. Hiperkeratosis (kulit menjadi tebal) menyebabkan pertumbuhan sel-sel yang cepat dan
mengisi ruang folikel polisebaceous dan membentuk plug (epitelium folikular).
3. Pertumbuhan kuman, propionibacterium acnes yang cepat (folikel polisebaceous) yang
tersumbat akan memerangkap nutrient dan sebum serta menggalakkan pertumbuhan kuman.
4. Inflamasi (radang) akibat hasil sampingan kuman propionibacterium acnes.

V.Gejala Klinis

 Erupsi kulit pada tempat-tempat predileksi, yakni di muka, bahu, leher, dada,
punggung bagian atas, dan lengan bagian atas.
 Rasa Gatal

 Erupsi kulit berupa komedo, papul, pustula, nodus, atau kista.


Komedo lazim dikenal sebagai kepala hitam (komedo terbuka) dan kepala putih
(komedo tertutup) (Strauss,1991).

 Bisa terlihat nodulus, infiltrasi granulomatosa dalam peradangan karena asam lemak
atau piokokus, jaringan parut dan keloid.

VI. Penatalaksanaan akne vulgaris

Penatalaksanaan akne vulgaris meliputi usaha untuk mencegah terjadinya erupsi (preventif)
dan usaha untuk menghilangkan jerawat yang terjadi (kuratif). Kedua usaha tersebut harus
dilakukan bersamaan mengingat bahwa kelainan ini terjadi akibat pengaruh berbagai faktor,
baik faktor internal dari dalam tubuh sendiri (ras, familial, hormonal), maupun faktor
eksternal (makanan, musim, stres) yang kadang-kadang tidak dapat dihindari oleh penderita
(Djuanda, Hamzah dan Aisyah, 1999)

VII.Pencegahan
 Jaga kebersihan wajah,minimal rutinitas mencuci wajah 2 s/d 3 kali dalam sehari.
 Menjaga dari stres.
 Tidak menggunakan bermacam-macam obat kos

VIII.Diagnosa Banding

• Erupsi akneiformis

• Rosacea

IX. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan akne vulgaris meliputi usaha untuk mencegah terjadinya erupsi (preventif) dan usaha untuk menghilangkan
jerawat yang terjadi (kuratif). Kedua usaha tersebut harus dilakukan bersamaan mengingat bahwa kelainan ini terjadi akibat
pengaruh berbagai faktor (multifaktorial), baik faktor internal dari dalam tubuh sendiri (ras, familial, hormonal), maupun faktor
eksternal (makanan, musim, stres) yang kadang-kadang tidak dapat dihindari oleh penderita.

Daftar Pustaka

1. Wolff K., Johnson RA., Suurmond D. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology.5th Edition. McGraw-Hill. USA. 2007.
2. Fitzpatrick JE., Morelli JG., Dermatology SecretsIn Color. Third Edition. Mosby
Elsevier.Philadelphia,USA. 2007.
3. Zouboulis CC. Is acne vulgaris a genuine inflammatory disease?.
Dermatology.2001;203
4. 277-9.4. Kim J, Ochoa MT, Krutzik SR, Takeuchi O,Uematsu S, Legaspi AJ.
Activation of toll-likereceptor 2 in acne triggers inflammatory cytokine responses. J
Immunol. Aug 1 2002;169(3):1535-41.
5. Ingham E, Eady EA, Goodwin CE, Cove JH,Cunliffe WJ. Pro-inflammatory levels of
interleukin-1 alpha-like bioactivity are present in the majorityof open comedones in acne
vulgaris. J InvestDermatol. Jun 1992;98(6):895-901.
6. Goulden V, McGeown CH, Cunliffe WJ. Thefamilial risk of adult acne: a
comparison betweenfirst-degree relatives of affected and unaffectedindividuals. Br J
Dermatol. Aug 1999;141(2):297-300.
7. Eady EA, Farmery MR, Ross JI, Cove JH, CunliffeWJ. Effects of benzoyl peroxide
and erythromycinalone and in combination against antibioticsensitiveand -resistant skin
bacteria from acnepatients. Br J Dermatol. Sep 1994;131(3):331-6.
8. Cunliffe WJ, Holland KT. The effect of benzoylperoxide on acne. Acta Derm
Venereol.
1981;61(3):267-9.
9. Eady EA, Jones CE, Gardner KJ, Taylor JP, CoveJH, Cunliffe WJ. Tetracycline-
resistant
propionibacteria from acne patients are crossresistantto doxycycline, but sensitive to
minocycline. Br J Dermatol. May 1993;128(5):556-60.
10. Bottomley WW, Cunliffe WJ. Oral trimethoprimas a third-line antibiotic in the
management ofacne vulgaris. Dermatology. 1993;187(3):193-6.
11. Fernandez-Obregon AC. Azithromycin for thetreatment of acne. Int J Dermatol. Jan
2000;39(1):45-50.
12. Koulianos GT. Treatment of acne with oralcontraceptives: criteria for pill selection.
Cutis. Oct2000;66(4):281-6.
13. Redmond GP. Effectiveness of oralcontraceptives in the treatment of
acne.Contraception. Sep 1998;58(3 Suppl):29S-33S;quiz 68S.
14. Strauss JS, Pochi PE. Effect of cyclic progestinestrogentherapy on sebum and acne in
women.JAMA. Nov 30 1964;190:815-9.
15. Thorneycroft IH, Stanczyk FZ, Bradshaw KD,Ballagh SA, Nichols M, Weber ME.
Erupsi akneiformis adalah suatu kelainan kulit yang menyerupai akne, berupa reaksi peradangan folikular
dengan manifestasi klinis papulopustular. Bork pada tahun 1988 mendefinisikan erupsi akneiformis
sebagai suatu reaksi inflamasi yang bermanifestasi klinis sebagai papula dan pustula dan menekankan
ketiadaan komedo sebagai perbedaan yang mendasar antara erupsi akneiformis dengan akne. Akan tetapi
komedo dapat muncul secara sekunder jika erupsi tersebut sudah berlangsung lama.1,2
—-Etiologi erupsi akneiformis sampai saat ini masih belum dapat diketahui secara pasti, namun diduga
erupsi akneiformis disebabkan oleh obat, baik obat-obatan yang digunakan secara sistemik maupun yang
digunakan secara topikal. Erupsi akneformis adalah reaksi kulit yang berupa peradangan folikular akibat
adanya iritasi epitel duktus pilosebasea yang terjadi karena eksresi substansi penyebab (obat) pada kelenjar
kulit. Umumnya reaksi pada kulit atau daerah mukokutan yang terjadi sebagai akibat pemberian obat
(erupsi obat) timbul karena reaksi hipersensitivitas berdasarkan mekanisme imunologis, tetapi reaksi ini
juga dapat terjadi melalui mekanisme non imunologis yang disebabkan karena dosis yang berlebihan,
akumulasi obat atau karena efek farmakologi yang tidak diinginkan.1,3
—-Kasus erupsi akneformis akibat obat (drug-induced acneiform eruption / DAE) awalnya sudah dilaporkan
sejak tahun 1928 ketika lesi yang menyerupai akne muncul dengan penggunaan iodida dan hidrokarbon
klorinat. Erupsi akneiformis mulai tercatat sebagai salah satu dari beberapa efek samping steroid saat
pengenalan steroid dalam terapi medis pada tahun 50-an. Pada tahun 1959, Bereston melaporkan
timbulnya erupsi akneiformis seiring dengan penggunaan isoniazid (INH). Sejak itu, berbagai macam obat
ditemukan sebagai penyebab erupsi akneiformis. 2

-Gambar. Erupsi akneformis akibat penggunaan steroid.10


—–Bagian Dermatologi Rumah Sakit Christian M edical Vellore di India selama periode 2 tahun melaporkan
78 % dari 56 orang pasien baru dermatosis akneiformis disebabkan oleh penggunaan obat. Dari 78 %
tersebut didapatkan perbandingan antara penderita laki-laki dan perempuan sebanyak 2 : 1.2 Oleh karena
itu perlu ditegakkan diagnosis yang tepat dari gangguan ini karena kasus ini memberikan manifestasi yang
serupa dengan gangguan kulit lain pada umumnya. Id entifikasi dan anamnesis yang tepat dari penyebab
timbulnya reaksi obat adalah salah satu hal penting untuk memberikan tatalaksana yang cepat dan tepat
bagi penderita dengan tujuan membantu meningkatkan prognosis serta menurunkan angka morbiditas.1,3,4,5
—-
Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode tinjauan pustaka dengan mengacu pada beberapa literatur
—-
—-
TINJAUAN PUSTAKA
—-
Definisi
—-Erupsi akneformis adalah kelainan kulit yang menyerupai akne yang berupa reaksi peradangan folikuler
dengan manifestasi klinis papulopustular.1
—-
Etiologi
—-Etiologi penyakit ini masih belum jelas. Semula erupsi akneformis disangka sebagai salah satu jenis
akne, namun kemudian diketahui bahwa etiopatogenesis dan gejalanya berbeda. Induksi obat yang
diberikan secara sistemik diakui sebagai faktor penyebab yang paling utama seperti yang tercantum dalam
tabel 2.1. Ada pula yang mengganggap bahwa erupsi akneformis dapat disebabkan oleh aplikasi topikal
kortikosteroid, psoralen dan ultraviolet A (PUVA) atau radiasi, bahkan berbagai bahan kimia yang kontak
ke kulit akibat kerja (minyak, klor), kosmetika, atau tekanan pada kulit. 1,5
—-
Tabel 1 Obat dan bahan yang diduga menyebabkan erupsi akneformis. 1,2,5

Hormon dan steroid Antibiotik

- gonadotropin - tetrasiklin – co-trimoxazole

- androgen- steroid anabolik- steroid - penisilin – doxicyclin-


topikal dan oral kloramfenikol- o floxacin

Senyawa halogen Vitamin

- bromida - riboflavin (B2)

- iodida- halotan - piridoksin (B6)- sianokobalamin (B12)

Obat antikonvulsi Obat lain

- fenitoin - Lithium

- fenobarbital- troxidone - Kloral hidrat- Disulfiram

Obat anti Tuberkulosis - Psorialen dengan ultraviolet A

- isoniazid (INH)- rifampisin

—-
Patogenesis
—-Mekanisme patogenesis terjadinya erupsi akneiformis belum diketahui secara pasti. John Hunter dkk
menyatakan bahwa erupsi akneiformis terjadi melalui mekanisme non imunologis yang dapat disebabkan
karena dosis yang berlebihan, akumulasi obat atau karen a efek farmakologi yang tidak diinginkan. Andrew
J.M dalam bahasannya tentang Cutaneous Drug Eruption menyatakan bahwa m
B

Sapokalinus
SAPOKALINUS Antiseptik merupakan sabun lunak transparan antiseptik yang mempunyai sifat Non-
Irritant yang sangat sesuai bagi kulit yang sensitif terhadap sabun keras yang terbuat dari Garam
Natrium.

Sabun Hijau SAPOKALINUS Antiseptik tersedia dalam 3 Varian yaitu Original, Cum Extract Daun
Sirih dan Cum Bio Sulfur.

1.SAPOKALINUS Antiseptik - Original


Merupakan sabun lunak yang ditujukan bagi mereka yang mengalami masalah dengan sabun keras
yang terbuat dari Garam Natrium.

2.SAPOKALINUS Antiseptik - Cum Extract Daun Sirih


Sebagai Antiseptik dan Anti Jamur sekaligus membantu menghilangkan bau badan dan gatal-gatal
karena Alergi.

3.SAPOKALINUS Antiseptik - Cum Bio Sulfur


Sebagai Antiseptik, Anti Jamur dan Parasit. Dapat pula mengatasi Jerawat dan gatal-gatal karena
Biang Keringat.

CARA PAKAI:
Gunakan SAPOKALINUS setiap mandi.
Diamkan beberapa saat sebelum dibilas dengan air bersih agar hasil yang diperoleh lebih Maksimal.

Bioacne

BIO ACNE

ANTI JERAWAT

KOMPOSISI :
Setiap gram BIOACNE mengandung Sulfur 50mg, Resorcinol 5mg, dan Cetrimide 5mg
dalam dasar krim yang cocok

INDIKASI :
BIOACNE membantu mencegah dan menghilangkan jerawat. Kombinasi sulfur,
Resorcinol, dan Cetrimide mempunyai kemampuan anti bakteri, terutama terhadap
bakteri yang terlibat dalam pembentukan jerawat (propionibacterium acnes) serta daya
keratolitik yang optimal.

CARA PEMAKAIAN :
Setelah kulit dibersihkan, oleskan BIOACNE tipis saja pada jerawat dua atau tiga kali
sehari, pagi, siang, malam secara teratur

KONTRA INDIKASI :
Kepekaan terhadap salah satu komponen krim ini.

peringatan :
Jangan digunakan pada luka lecet.

PENYIMPANAN :
Simpan di tempat sejuk.
KEMASAN:
Tube@ 10 g
No.Reg. : Dep. Kes. RI No. CD 1008392236