Anda di halaman 1dari 12

PERBEDAAN KUALITAS TIDUR DAN KUALITAS MIMPI

ANTARA MAHASISWA LAKI-LAKI DAN MAHASISWA PEREMPUAN

Fuad Nashori, R. Rachmy Diana


Universitas Islam Indonesia, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kualitas tidur dan kualitas mimpi
antara mahasiswa pria dan mahasiswa wanita. Hipotesis yang diajukan adalah (a) ada
perbedaan kualitas tidur antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan,mahasiswa
wanita memiliki kualitas tidur yang lebih tinggi dibanding mahasiswa laki-laki, dan (b) ada
perbedaan kualitas mimpi antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan, mahasiswa
wanita memiliki kualitas mimpi yang lebih tinggi dibanding mahasiswa laki-laki.
Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Kualitas Tidur dan
Skala Kualitas Mimpi. Alat ukur Skala Kualitas Tidur dan Skala Kualitas Mimpi
dirumuskan berdasarkan teori kualitas tidur yang disusun oleh penulis. Subjek penelitian ini
adalah 319 mahasiswa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, yang berasal dari delapan
fakultas (psikologi, kedokteran, matematika dan ilmu pengetahuan, teknologi industri, teksnik
sipil dan perencanaan, ilmu agama islam, hukum, dan ekonomi).
Hasil penelitian menunjukkan (a) ada perbedaan kualitas tidur antara mahasiswa pria
dan wanita; mahasiswa wanita memiliki kualitas tidur yang lebih tinggi dibanding mahasiswa
laki-laki, dan (b) tidak ada perbedaan kualitas mimpi antara mahasiswa pria dan wanita.
Kata kunci: kualitas tidur, kualitas mimpi, jenis kelamin

Abstract
The aim of the research is to knowing the difference sleeping quality and dreaming
quality between male student and female student. The hypothesis which of the offered are (a)
there are any difference of sleeping quality between male student and female student; female
student having higher quality if sleeping compare to the male student, and (b) there are any
difference of dreaming quality between male student and female student; female student having
higher quality of dreaming compared to the male student.
The measurement which is used are sleeping quality scale and dreaming quality scale.
Sleeping quality scale and dreaming quality scale. Sleeping quality scale and dreaming quality
scale measurement are formulated based on the sleeping quality’s theory which is arranged by the
writer. The subject of the research are 319 UII Yogyakarta’s student, which are from eight faculties
(Psychology, Medical, Science and Mathematic, Industry, Islamic Science, Law, and Economic).
The result of the research showing that (a) there are any difference of sleeping quality
between male students and female students, and (b) there are no differences of dreaming quality
between male students and female students.
Keyword : sleeping quality, dreaming quality, sexuality

Perbedaan Kualitas Tidur ................. (Fuad Nashori, R. Rachmy Diana) \ 77[


[
Tidur adalah salah satu aktivitas sudah jamak acaranya adalah kekerasan, seks
terpenting manusia. Bila aktivitas ini dapat bebas, dan mistik. Apa yang dikonsumsi
dijalani seseorang dengan baik, maka efeknya seseorang terhadap hal-hal di atas akan
akan mengenai berbagai dimensi kehidupan memiliki efek terhadap mimpi individu. Sebuah
seseorang di waktu terjaga. Maas (2002) pengamatan yang penulis lakukan terhadap
mengungkapkan bahwa tidur memiliki anak-anak adalah ada kecenderungan pada
pengaruh terhadap kewaspadaan, energi, anak-anak untuk bermimpi buruk setelah
konsentrasi, dan seterusnya. Senada dengan mereka mengkonsumsi sajian-sajian kekerasan
pandangan di atas, hasil penelitian penulis dan mistik.
menunjukkan bahwa kualitas tidur Sebuah hasil pengamatan yang pernah
berpengar uh terhadap prestasi belajar penulis lakukan adalah mahasiswa pria
(Nashori, 2004c) dan kendali diri (Nashori, memiliki kebiasaan tidur yang lebih buruk
2004b). Begitu juga dengan mimpi yang dibanding mahasiswa wanita. Salah satu
berkualitas. Ia dapat memberikan implikasi fenomena yang sempat penulis cermati adalah
terhadap mood seseorang. Hal ini sebagaimana mahasiswa pria memulai tidur lebih lambat dan
diungkapkan oleh Kramer (Purnamaki, 1999)
bangun lebih lambat dibanding mahasiswa
yang menunjukkan hasil penelitian bahwa tidur
wanita. Akibatnya, ketika hadir di kelas
dan mimpi seseorang berpengaruh terhadap
mahasiswa laki-laki yang tidak bisa
mood orang tersebut di pagi hari. Tidur dan
berkonsentrasi lebih banyak dibanding
mimpi yang positif menjadikan mood yang ada
mahasiswa wanita. Hal ini terlihat dari
dalam diri seseorang dalam keadaan positif,
kenyataan dalam kelas bahwa mahasiswa pria
yang menjadikannya dapat mengatur atau
lebih banyak mengantuk dalam kelas dibanding
mengelola emosinya secara optimal. Hasil
mahasiswa wanita. Bebagai kasus juga
penelitian tersebut dapat ditemukan dalam
menunjukkan bahwa banyak mahasiswa pria
studi Purnamaki (1999) yang bertajuk The
yang terlambat untuk masuk ke ruang ujian,
Relationship of Dream Content and Changes in
namun tidak terjadi pada mahasiswa wanita.
Daytime Mood in Traumatized Vs Non-
Dari berbagai fakta di atas, ada sebuah
Traumatized Children.
pertanyaan yang layak diajukan, yakni apakah
Problem yang terjadii adalah ternyata terdapat perbedaan kualitas tidur dan kualitas
kualitas tidur sebagian individu dan bahkan
mimpi antara mahasiswa laki-laki dan
sebagian besar umat manusia tidak optimal.
mahasiswa perempuan?
Salah satu contohnya adalah sejak adanya
televisi orang cenderung untuk tidur di waktu Dasar Teori
yang lebih larut. Di Indonesia, sejak adanya
berbagai televisi swasta sejak awal tahun 1990- Kualitas Tidur. Tidur, menurut Maas
an, ada kecenderungan masyarakat untuk (2002) adalah suatu keadaan di mana
mengkonsumsi acara televisi hingga larut kesadaran seseorang akan sesuatu menjadi
malam. Akibat yang muncul adalah saat turun, namun aktivitas otak tetap memainkan
bekerja seseorang tidak dapat berkonsentrasi peran yang luar biasa dalam mengatur fungsi
secara penuh. Di Amerika dilaporkan bahwa pencernaan, aktivitas jantung dan pembuluh
kekurangan tidur mengakibatkan lebih banyak darah, serta fungsi kekebalan, dalam
terjadi kecelakaan (Maas, 2002). Mimpi yang memberikan energi pada tubuh dan dalam
dialami pun semakin buruk. Di media massa, pemrosesan kognitif, ter masuk dalam

\ 78[
[ Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 2 No. 2 Agustus 2005 : 77 - 88
penyimpanan, penataan, dan pembacaan miring ke kanan dan menghadap kiblat. Aktivitas
informasi yang disimpan dalam otak, serta lain yang dipandang mempengaruhi kualitas
perolehan informasi saat terjaga. tidur adalah poisisi tidur dalam keadaan miring
Sementara yang dimaksud dengan ke kanan dan menghadap kiblat. Yang
kualitas tidur adalah suatu keadaan di mana tidur dimaksud menghadap kiblat adalah
yang dijalani seorang individu menghasilkan mengarahkan tubuh ke baitullah (“rumah Allah
kesegaran dan kebugaran di saat terbangun. ‘Azza wa jalla”), yaitu Ka’bah yang berada di
Kualitas tidur berdasarkan telaah pustaka atas Kota Makkah. Itu artinya sebelum tidur
berbagai macam pendapat yang dihimpun seseorang secara sadar menyerahkan dirinya
penulis (Nashori, 2002; Purwanto, 2003). kepada Allah. Keadaan ini membawa implikasi
Adapun aspek-aspek kualitas tidur bagi seseorang, yaitu dirinya terarah secara fisk
dirumuskan oleh penulis dengan menggunakan dan spiritual kepada Allah. Miring ke kanan
berbagai rujukan (Nashori, 2002; Maas, 2002; adalah simbol yang baik. Kanan dalam
Purwanto, 2003). Aspek-aspek kualitas tidur pandangan Islam, sering diistilahkan ash-habul
terdiri atas tujuh buah. yamin, adalah posisi yang baik (Nashori, 2002).
Tidak kurang dari itu, miring ke kanan
Aspek pertama adalah bersuci, berdoa dan
ternyata memiliki implikasi biologis bagi
berdz ikir sebelum tidur. Menjelang tidur,
seseorang. Dalam posisi demikian, lambung
aktivitas yang dipandang ikut berperan serta
berada dalam posisi yang lebih bebas untuk
mempengaruhi kualitas tidur adalah bersuci,
berdoa dan berdzikir sebelum tidur. Bersuci menjalankan fungsinya (Maas, 2002).
yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Aspek ketiga adalah nyaman secara
menyucikan jasad dan ruhani, dengan psikologis. Keadaan lain yang dipandang
berwudhu. Aktivitas berwudhu sebelum tidur mempengar uhi kualitas tidur adalah
adalah aktivitas yang dianjurkan oleh ajaran kenyamanan secara psikologis. Boleh jadi
Islam. Barangsiapa bersuci dan kemudian seseorang dalam keadaan menghadapi beragam
mendatangi tempat tidurnya, maka ia tidur seakan masalah, namun yang terpenting adalah
tempat tidurnya itu masjidnya (Shadiq, 1996). bagaimana ia menanggapi masalah tersebut.
Aktivitas lain yang dianjurkan adalah berdoa Bila seseorang tetap optimis dalam
menjelang tidur. Inti dari doa adalah memandang berbagai macam masalah, yakin
penyerahan diri manusia kepada Allah Azza akan adanya jalan keluar, maka ia dapat
wa jalla, Dzat yang menghidupkan dan menjalani tidurnya dengan baik. Sebaliknya,
mematikan manusia. Islam juga menganjurkan kalau seseorang dibebani oleh berbagai macam
umatnya untuk berdzikir atau mengingat Allah hal menjelang tidurnya, misalnya dipenuhi
‘Azza wa jala sebelum tidur. Sebuah hadis Nabi ketakutan, maka tidurnya kemungkinan lebih
Muhammad menunjukkan bahwa seseorang mudah terganggu (Nashori, 2002).
yang melakukan aktivitas berdzikir sebelum Aspek keempat adalah badan dalam
tidurnya, maka sepanjang tidurnya dinilai keadaan rileks (tidak aktivitas tidur yang berat)
berdzikir. Kalau selama tidur seseorang menjelang tidur. Secara fisik, aktivitas yang
berdzikir, maka tentu saja secara spiritual tidur dianjurkan adalah tidak melakukan aktivitas
seseorang berkualitas atau bermutu tinggi fisik yang berat sesaat menjelang tidur.
(Nashori, 2002). Dikatakan oleh Maas (2002) bahwa menjelang
Aspek kedua adalah tidur dalam keadaan tidur seseorang sebaiknya tidak melakukan

Perbedaan Kualitas Tidur ................. (Fuad Nashori, R. Rachmy Diana) \ 79[


[
aktivitas olahraga. Aktivitas olahraga yang Karena setiap jam yang dilewatkan
terlalu dekat dengan waktu tidur akan seseorang untuk terjaga menambah utang
menghadirkan pengaruh berupa terganggunya tidurnya, maka ia harus ter us mener us
tidur seseorang. Yang dianjurkan adalah di sore menabung tidur dalam rekeningnya. Sebagian
hari, beberapa jam sebelum tidur, seseorang orang perlu menabung sekitar delapan jam
berolahraga. Ototnya telah memperoleh dalam rekeningnya untuk menghapus utang
kesempatan untuk relaksasi, sehingga saat tidur yang diakibatkan oleh enam belas jam
tidur seseorang dapat menjalaninya secara terjaga terus-menerus. “Kita perlu
pulas. memperoleh sejumlah tidur setiap malam
Aspek kelima, nyenyak selama tidur. sehing ga tidak membuat atau tetap
Sebenarnya orang tidur melalui beberapa fase mempunyai utang tidur,” ungkap William
tidur, mulai dari fase tidak nyenyak, nyenyak, Dement dari Universitas Stanford (Maas,
hingga tidak nyenyak dalam tidur. Berkaitan 2002). Jika tidak, orang akan utang dan
dengan kenyenyakan ini, para ahli mengantuk setiap hari.
menggambarkan tahap tidur menjadi enam Aspek ketujuh adalah merasa segar ketika
tahap (Maas, 2002). Seseorang yang nyenyak terbangun. Saat terbangun dari tidur yang cukup
tidur tidak mengalami gangguan internal semestinya seseorang merasakan rasa segar
maupun eksternal yang menjadikan tidurnya atau bugar saat terbangun. Dengan
tidak nyenyak. Termasuk gangguan internal kebugarannya itu, ia siap melakukan berbagai
adalah mudah terbangun karena ingin kencing, aktivitas sepanjang hari secara efektif dan
suhu tubuh yang panas, dan sebagainya. efisien (Maas, 2002). Namun, tidak semua
Termasuk gangguan eksternal adalah suara orang yang tidur merasa bugar saat terbangun.
gaduh (seperti ketukan pintu, suara mobil, Banyak orang yang merasakan badannya tidak
adanya pukulan di tembok, dan sebagainya). bugar, persendiannya ngilu-ngilu saat terbangun,
Aspek keenam, waktu tidur yang cukup matanya ingin tertutup saja, dan sebagainya.
(minimal enam jam dalam sehari). Bila seseorang Kualitas Mimpi. Mimpi, menurut Chaplin
dapat tidur dalam waktu yang cukup, maka ia (1997), adalah deretan tamsil dan ide yang
akan siap melakukan aktivitas-aktivitas yang lebih kurang saling bertalian dan berlangsung
harus dikerjakannya saat ia tersadar. Tentang selama orang tidur, atau selama orang dikuasai
waktu tidur yang cukup, diungkapkan oleh obat bius, atau sewaktu seseorang berada
Maas (2002) bahwa setiap orang mempunyai dalam situasi hipnotis. Sementara itu, yang
rekening utang tidur. Setiap orang perlu dimaksud kualitas mimpi adalah suatu keadaan
menyimpan cukup tidur dalam rekening di mana mimpi yang diperoleh seseorang
tersebut agar dapat menjaga kondisi banyak menggambarkan hal-hal yang benar,
homeostatis tidur tetap stabil, suatu hal yang menghasilkan optimisme serta kepastian bagi
akan membuatnya awas sepanjang siang. Tidur individu yang mengalaminya (Nashori, 2004).
yang terjadi dalam diri seseorang adalah Tentang mimpi yang berkualitas ini
tabungan atau asset, setiap jam terjaga adalah karakteristik pentingnya adalah mimpi yang
penarikan tabungan, atau utang. Seperti memiliki aspek kebenaran (al-ru’ya al-shadiqah,
apakah neraca rekening tidur rata-rata orang? al-ru’ya al-shalihah, penulis menyebutnya mimpi
Ternyata setengah dari penduduk dewasa nubuwat). Hal ini sebagaimana disampaikan
memiliki utang tidur yang cukup besar. oleh hadis Nabi: Mimpi yang baik datangnya dari

\ 80[
[ Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 2 No. 2 Agustus 2005 : 77 - 88
Allah dan mimpi (polusi) datangnya dari setan (HR Dalam berbagai hadits diungkapkan
Bukhari dari Abdullah Ibnu Qatadah). Hadis bahwa perlindungan dari Allah ‘Azza wa jalla
Nabi yang lain juga mengungkapkan: Mimpi dicapai melalui serangkaian aktivitas, di
yang benar adalah salah satu dari empat puluh enam antaranya adalah membaca surat al-fatihah,
cabang kenabian (HR Bukhari dari Anas bin ayat kursi, surat al-ikhlas, surat al-falaq, dan
Malik). surat al-naas (Nashori, 2002).
Berdasarkan berbagai macam Aspek kedua memperoleh mimpi yang
pandangan, penulis membagi kualitas mimpi menyenangkan. Dalam kehidupan sehari-hari,
menjadi tujuh aspek (Mubarok, 2004; Nashori, seseorang mengalami berbagai pengalaman
2002; Shadiq, 1996): hidup. Pengalaman-pengalaman hidup itu
Aspek pertama adalah meminta perlindungan secara garis besar dikelompokkan menjadi
dari Allah ‘Azza wa jalla. Pada malam hari, pengalaman yang menyenangkan, pengalaman
dalam pandangan agama, manusia dalam yang tidak menyenangkan, dan pengalaman
keadaan tak berdaya, terutama saat manusia yang netral-netral saja. Semua pengalaman
tertidur. Kekuatan-kekuatan yang hidup manusia itu terekam dalam alam sadar
mengganggu manusia ternyata bekerja lebih dan tidak sadar seseorang. Ia akan memilih
keras. Hal ini digambarkan oleh Al-Qur’an jalan untuk muncul kembali, salah satunya
melalui Surat al-Falaq. Katakanlah: “Aku adalah melalui mimpi. Bila seseorang melihat
berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, kembali gambaran positif kehidupannya, maka
dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan ia memperoleh mimpi yang menyenangkan.
malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan Contoh-contoh mimpi yang menyenangkan
wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada adalah bertemu dengan orang yang disayangi,
buhul-buhul, dan dari kejahatan orang dengki berjalan-jalan di tempat wisata, berenang atau
apabila ia dengki.” (QS al-Falaq, 113:1-5). Di bermain-main di danau atau di sungai yang
dalamnya dijelaskan bahwa pada malam hari airnya mengalir perlahan, dan seterusnya
makhluk manusia maupun makhluk halus (Nashori, 2004).
menggunakan malam untuk mendzalimi Aspek ketiga adalah memperoleh mimpi yang
orang-orang yang tak mereka sukai. benar, berisi pengetahuan (ide, masa depan,
Dalam kondisi ancaman kejahatan pengetahuan masa lalu), petunjuk, dan peringatan).
berbagai makhluk, manusia dapat Berdasarkan penelitian Nashori (2001),
mempertahankan dirinya untuk tetap diketahui bahwa mimpi-mimpi yang benar
terlindung dan tak terperdaya, yaitu dengan dapat ditemukan oleh seseorang. Mimpi
memohon perlindungan kepada Allah. Intinya, pengetahuan ini bisa berisi pengetahuan
agar dalam tidur tidak hadir gangguan berbagai tentang suatu persoalan yang membutuhkan
makhluk, termasuk melalui mimpi, maka salah pemecahan atau jalan keluar. Sebagai contoh,
satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan dalam kehidupan sehari-hari seseorang
meminta perlindungan kepada Allah. menghadapi masalah studi. Saat tertidur, ia
Seseorang yang ada dalam perlindungan Allah memperoleh mimpi yang relevan dengan
berada dalam keadaan aman. Andaikan persoalan hidupnya, yaitu apa yang harus
makhluk manusia maupun makhluk yang lain dilakukannya agar studinya berjalan sukses
hendak mengganggunya, kekuatan Allah akan (Mubarok, 2004).
mampu menghadang gangguan yang datang. Seseorang juga bisa memperoleh mimpi

Perbedaan Kualitas Tidur ................. (Fuad Nashori, R. Rachmy Diana) \ 81[


[
tentang sesuatu yang berkaitan dengan masa kan kepada orang lain berarti memutus
depan. Misalkan, seseorang memimpikan hubungan mimpi dengan kesadaran kita. Tidak
meletusnya sebuah gunung berapi dan ternyata menyebarkan mimpi buruk berarti meniadakan
mimpinya itu beberapa waktu kemudian pengaruh buruk mimpi kepada kenyataan
terbukti. Mimpi yang benar juga berisi hidup kita.
petunjuk, yaitu hal praktis apa yang semestinya Aspek keenam adalah introspeksi dan
dilakukan. Misalnya, apakah memilih program pemantauan diri berkaitan dengan mimpi.
studi tertentu atau program studi lain. Kadang- Introspeksi adalah usaha untuk melihat ke
kadang mimpi juga berisi peringatan, yaitu apa dalam diri sendiri, terutama untuk melihat
yang semestinya dihindari dan ditinggalkan perilaku dan kondisi psikologis seseorang.
seseorang. Apakah selama ini hatinya tenang-tenang saja
Aspek keempat adalah memandang hidup ketika diingatkan untuk tidak berbuat hal yang
lebih positif dan optimis setelah bermimpi. Dengan buruk. Pemantauan diri (self monitoring)
mimpi yang benar, seseorang akan terutama dimaksudkan untuk setiap saat
memperoleh insight atau pencerahan bahwa melihat kecenderungan-kecenderungan hati,
setiap saat Allah ‘Azza wa jalla akan seperti kecenderungan untuk berbuat curang,
melimpahkan karunianya kepada siapa saja mementingkan diri sendiri, merugikan orang
yang mendekatkan diri kepada-Nya, terutama lain, lupa terhadap Allah, lupa bersyukur, dan
ketika dilanda kesulitan. Dengan kebersihan seterusnya. Kondisi semacam ini dipantau
hati, hal-hal yang sulit akan lebih mudah untuk ditegur kalau memilih pilihan yang tidak
diselesaikan. Dalam situasi seperti ini, semestinya.
seseorang akan tumbuh sikap positif dan Agak berbeda dengan introspeksi yang
optimisnya dalam memandang hidup. lebih diarahkan untuk melihat diri secara
Aspek kelima adalah menjaga jarak dengan keseluruhan dan di masa lalu, pemantauan diri
mimpi. Sikap yang sangat dianjurkan bila terutama diarahkan untuk melihat diri di sini
seseorang bermimpi buruk adalah menjaga dan saat ini. Begitu bangun dari tidurnya
jarak dengan mimpi. Maksudnya, individu seseorang bisa memantau diri apakah
tidak mempercayainya dan tidak merasakan ketakutan, kegelisahan, dan
menceritakannya kepada orang lain. Sebuah seterusnya. Kalau ya, maka tugas berikutnya
hadis Nabi Muhammad SAW menandaskan: adalah memasrahkan diri kepada Allah ‘Azza
Barangsiapa bermimpi buruk yang tidak wa jalla (Nashori, 2002).
disenanginya, maka sesungguhnya mimpi itu berasal Aspek ketujuh adalah mengambil hikmah
dari setan, dan hendaklah ia mehohon perlindangan dari mimpi. Bila mimpi buruk sudah terjadi yang
kepada Allah dari setan niscaya ia tidak akan semestinya dilakukan adalah mengambil
meng gang gunya, serta hendaklah ia tidak hikmah dari mimpi tersebut. Mimpi kekasih
menyebarkan mimpi itu kepada orang lain (HR direbut orang mengisyaratkan pesan agar
Muslim dari Abu Qatadah). Mimpi buruk tidak seseorang memberikan cinta yang tulis kepada
perlu diceritakan kepada orang lain, di samping kekasihnya. Mimpi bertengkar dengan
karena ia tidak benar dan tidak dapat orangtua mengandung pelajaran betapa
dipercaya, juga sikap tidak menceritakannya buruknya kalau itu benar-benar terjadi dan
kepada orang lain dapat mengakhiri pengaruh karenanya seseorang perlu meneguhkan
psikologis mimpi tersebut. Tidak mencerita- komitmen untuk selalu menyayangi dan

\ 82[
[ Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 2 No. 2 Agustus 2005 : 77 - 88
menghormati orangtua (Nashori, 2002). melakukannya, maka itu dipandang sebagai
Kualitas Tidur dan Kualitas Mimpi sangat bermasalah. Dampak lanjutannya
Mahasiswa Pria dan Mahasiswa Wanita. Sebelum adalah kualitas tidur laki-laki mungkin lebih
melakukan pengambilan data, penulis telah buruk dibanding kualitas tidur mahasiswa
banyak melakukan pengamatan dan perempuan.
wawancara terhadap berbagai macam Selain tidur, masalah mimpi juga
fenomena kualitas tidur dan kualitas mimpi di berbeda antara laki-laki dan perempuan.
kalangan mahasiswa UII. Berdasarkan berbagai pengamatan dan
Berdasarkan pengamatan dan wawancara, perempuan lebih mungkin
wawancara yang penulis lakukan, dapatlah memiliki mimpi yang lebih berkualitas
diketahui bahwa banyak mahasiswa yang dibanding laki-laki. Dasarnya adalah karena
memulai tidur di waktu sudah sangat larut dan kualtias tidur perempuan lebih baik dibanding
bangun juga terlambat. Mahasiswa laki-laki kualitas tidur laki-laki. Padahal mimpi yang
suka memulai tidur ketika waktu menunjukkan dialami seseorang itu terjadi dalam tidur
pukul 12 malam. Mahasiswa perempuan seseorang. Namun, demikian laki-laki
memiliki kebiasaan tidur yang lebih baik, yaitu dimungkinkan juga untuk memiliki kualitas
tidur lebih awal. Sekalipun demikian ada mimpi yang lebih baik daripada mahasiswa
perempuan. Seperti diketahui bahwa
sejumlah perkecualian, khususnya mereka
(mahasiswa) laki-laki biasanya kurang terlibat
yang suka menghabiskan waktu malamnya
secara emosional dibanding mahasiswa
dengan dugem atau dunia gemerlap. Mereka
perempuan terhadap persoalan-persoalan yang
keluar rumah dan melakukan aktivitas hingga
dihadapi. Keterlibatan yang intens dengan
pukul 3 pagi, namun yang melakukan hal
suasana emosi saat terjaga memungkinkan
seperti ini terbilang sedikit.
mimpi para mahasiswa wanita untuk
Salah satu hal penting adalah toleransi terpengaruh oleh pengalaman emosional.
yang berbasis jender. Sebuah kebiasaan yang Padahal, seperti diketahui bahwa mimpi yang
berkembang dalam masyarakat Indonesia dialami seseorang sangat dipengaruhi oleh
adalah memberi peluang kepada laki-laki pengalaman batin seseorang saat sadar.
untuk pulang hingga larut malam. Laki-laki
diperkenankan untuk menuntaskan berbagai Hipotesis
urusannya hingga larut malam bahkan pagi
hari, sementara perempuan tidak diperkenan- Berdasarkan penjelasan di atas, dapatlah
kan. Kalaupun perempuan diperkenankan, dirumuskan hipotesis penelitian:
biasanya harus ditemani laki-laki. Toleransi 1. Ada perbedaan kualitas tidur antara
terhadap aktivitas di larut malam pada laki- mahasiswa laki-laki dan mahasiswa
laki ini secara keseluruhan akan menyebabkan perempuan.
pengelolaan tidur laki-laki berbeda dengan 2. Ada perbedaan kualitas mimpi antara
pengelolaan tidur perempuan. Laki-laki merasa mahasiswa laki-laki dan mahasiswa
lebih bebas menggunakan waktu malamnya perempuan.
dibanding perempuan. Hal itu pulalah yang Metode Penelitian
terjadi pada mahasiswa. Mahasiswa laki-laki
merasa tidak bermasalah ketika pulang larut Dalam penelitian yang berposisi sebagai
malam sementara kalau perempuan variabel tergantung adalah kualitas tidur dan

Perbedaan Kualitas Tidur ................. (Fuad Nashori, R. Rachmy Diana) \ 83[


[
kualitas mimpi, sementara yang menjadi fisik yang berat menjelang tidur, (e) Nyenyak
variable bebasnya adalah jenis kelamin. selama tidur (tidak ada gangguan tidur), (f)
Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Waktu tidur minimal enam jam dalam sehari,
Universitas Islam Indonesia. Jumlah dan (g) Merasa segar setelah terbangun tidur.
mahasiswa UII saat ini sebanyak 24.000 orang. Setelah dianalisis, diketahui bahwa alat ukur
Sampel penelitiannya adalah mahasiswa skala kualitas tidur menunjukkan koefisien
Universitas Islam Indonesia yang berasal dari korelasi aitem-total yang bergerak antara –
delapan fakultas (Psikologi, Kedokteran, 0,2741 hingga 0,5661. Aitem-aitem skala yang
MIPA, Teknik Sipil dan Perencanaan, sahih menunjukkan koefisien korelasi aitem-
Teknologi Industri, Ekonomi, Hukum, dan total yang bergerak antara 0,2914 hingga
Ilmu Agama Islam), berjenis kelamin laki-laki 0,5661 Sementara koefisien alphanya
dan perempuan, berasal dari lima angkatan menunjukkan 0,8805. Dari 56 aitem yang diuji-
terakhir, dan tercatat aktif sebagai mahasiswa. coba, yang lolos berjumlah 28 aitem.
Sampel diperoleh melalui cluster sampling. Skala kualitas mimpi dimaksudkan
Jumlah sampel sebanyak 319 orang. untuk mengetahui seberapa tinggi kualitas
Alat ukur yang dipergunakan dalam mimpi seseorang. Kualitas mimpi diketahui
penelitian ini ada dua, yaitu skala kualitas tidur berdasarkan aspek-aspek kualitas mimpi yang
dan skala kualitas mimpi. Skala kualitas tidur dirumuskan peneliti berdasarkan berbagai
dimaksudkan untuk mengetahui seberapa pandangan ahli psikologi. Adapun aspek-aspek
tinggi kualitas tidur seseorang. Kualitas tidur kualitas mimpi yang diukur dalam penelitian
diketahui berdasarkan aspek-aspek kualitas terdiri atas (a) Meminta perlindungan Tuhan
tidur yang dirumuskan peneliti berdasarkan dari mimpi buruk, (b) Memperoleh mimpi yang
berbagai pandangan ahli psikologi. Adapun menyenangkan, (c) Memperoleh mimpi yang
aspek-aspek kualitas tidur yang diukur dalam benar (berisi ide, pengetahuan masa depan,
penelitian ini adalah (a) Bersuci, Berdoa dan pengetahuan masa lalu), petunjuk, dan
berdzikir sebelum tidur, (b) Memulai tidur peringatan, (d) Memandang hidup lebih positif
dalam keadaan miring ke kanan dan dan optimis setelah bermimpi, (e) Menjaga
menghadap ke kiblat, (c) Nyaman secara jarak dengan mimpi buruk, (f) Introspeksi dan
psikologis (tak ada beban psikologis yang monitoring diri berkaitan dengan mimpi, dan
berat) menjelang tidur, (d) Tak ada aktivitas (g) Mengambil hikmah dari mimpi. Berikut ini

Tabel 1. Kategorisasi Kualitas Tidur Subjek Penelitian

Skor Kategori Jumlah Persentase

X> 100,24 Sangat Tinggi 2 0,6%

80,08< X <100,24 Tinggi 89 27,9%

59,92< X <80,08 Sedang 221 69,3%

39,76< X <59,92 Rendah 7 2,2%

X <39,76 Sangat Rendah 0 0

\ 84[
[ Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 2 No. 2 Agustus 2005 : 77 - 88
adalah blue print skala kualitas mimpi. sangat rendah (2,2%) dam sangat tinggi
Setelah dianalisis, diketahui bahwa alat (0,6%).
ukur skala kualitas mimpi menunjukkan Data dari tabel di atas menunjukkan
koefisien korelasi aitem-total yang bergerak bahwa kualitas mimpi subjek sebagian besar
antara –0,3787 hingga 0,6509. Sementara subjek penelitian tergolong sedang (64,6%)
Tabel 2. Kategorisasi Kualitas Mimpi Subjek Penelitian

Skor Kategori Jumlah Persentase

X>103,82 Sangat Tinggi 2 0,6%

82, 94< X <103,82 Tinggi 97 30,4%

62,06< X <82,94 Sedang 206 64,6%

41,18< X <62,06 Rendah 13 4,1%

X<41,18 Sangat Rendah 1 0,3%

aitem-aitem skala yang sahih menunjukkan dan tinggi (30,4%). Sisanya sangat tinggi
koefisien korelasi aitem-total yang bergerak (0,6%), rendah (4,1%), dan sangat rendah
antara 0,2541 hingga 0,6509. Koefisien (0,3%).
alphanya menunjukkan koefisien korelasi Sementara analisis uji beda terhadap
0,9046. Dari 50 aitem yang diuji-coba, yang kualitas tidur dan kualitas mimpi pada
lolos berjumlah 31 aitem. Di antara 31 aitem mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan
yang lolos, sebanyak 29 aitem digunakan menunjukkan hasil sebagai berikut:
peneliti sebagai alat ukur penelitian. a. Ada perbedaan kualitas tidur antara
Data penelitian ini akan menggunakan mahasiswa putra dan mahasiswa putri
analisis t-test. Analisis uji beda dimaksudkan Universitas Islam Indonesia. Mahasiswa
untuk mengetahui (a) perbedaan kualitas tidur putri memiliki kualitas tidur yang lebih
antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa tinggi dibanding mahasiswa putra (F =
perempuan dan (b) perbedaan kualitas mimpi 1.400, t = -3.486, p = 0.001/p < 0.01).
antara mahasiswa laki-laki dan mahasiswa Adapun rata-rata skor kualitas tidur
perempuan. mahasiswa putri (N = 163) adalah 78.15
dan mahasiswa putra (N = 156) adalah
Hasil Penelitian 74.66.
b. Tidak ada perbedaan kualitas mimpi
Data penelitian ini diambil dari delapan antara mahasiswa putra dan mahasiswa
Fakultas di lingkungan Universitas Islam putri Universitas Islam Indonesia. (F =
Indonesia. Jumlahnya adalah 319 orang. 4.115, t = 0.151, p = 0.880/p > 0.05).
Data dari tabel di atas menunjukkan Adapun rata-rata skor kualitas mimpi
bahwa tingkat kesiapan tidur berkualitas mahasiswa putri (N = 163) adalah 78.95
sebagian besar subjek penelitian tergolong dan mahasiswa putra (N = 156) adalah
sedang (69,3%) dan tinggi (27,9%). Sisanya 79.14.

Perbedaan Kualitas Tidur ................. (Fuad Nashori, R. Rachmy Diana) \ 85[


[
Pembahasan kecekatan reaksi, produktivitas, kinerja,
ketrampilan komunikasi, kreativitas,
Mengapa kualitas tidur mahasiswa
keselamatan, dan kesehatan prima. Dalam
perempuan lebih tinggi dibanding mahasiswa
keadaan daya ingat, daya pikir, persepsi, dan
laki-laki? Salah satu hal yang penting yang perlu
kesehatan yang prima, mahasiswa siap
diperhatikan adalah kebiasaan hidup antara
berkonsentrasi saat mengikuti proses belajar
laki-laki dan perempuan dalam mengisi waktu
mengajar. Konsentrasi memegang peranan
malam. Salah satu kebiasaan yang
penting bagi seorang mahasiswa untuk
berkembang dalam masyarakat Indonesia
merekam dan mengingat dan selanjutnya
adalah memberi peluang kepada laki-laki
mengembangkan pelajaran yang diperoleh di
untuk pulang hingga larut malam. Toleransi
perguruan tinggi. Kemampuan merekam,
terhadap aktivitas di larut malam pada laki-
mengingat, dan mengembangkan materi
laki ini secara keseluruhan akan menyebabkan
pengelolaan tidur berbeda dengan pengelolaan pelajaran akan memungkinkan mahasiswa
tidur perempuan. Laki-laki merasa lebih bebas memperoleh prestasi yang optimal.
menggunakan waktu malamnya dibanding Sementara itu, berkaitan dengan
perempuan. Akibatnya, mahasiswa laki-laki kualitas mimpi yang tidak berbeda antara
merasa tidak bermasalah ketika memulai tidur mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan
di waktu yang sangat larut. Penjelasan ini adalah mereka sama-sama masih cenderung
sesuai dengan temuan berdasarkan wawancara didominasi oleh jenis-jenis mimpi fisik dan
dan pengamatan. Salah satu hasil pengamatan psikologis. Mahasiswa adalah individu yang
yang penulis lakukan adalah mahasiswa laki- rentang usianya sekitar 18-25 tahun.
laki dikarenakan tidur terlalu larut, maka Pengalaman-pengalaman hidup mereka dalam
mereka datang ke tempat kuliah dalam keadaan kehidupan sehari-hari berkaitan dengan
terlambat. Bahkan, masih sering ditemukan kualitas mimpi mereka. Hal ini berbeda dengan
mahasiswa yang datang terlambat secara total jenis mimpi yang dialami oleh mereka yang
untuk mengikuti ujian tengah atau akhir lebih dewasa. Penelitian yang dilakukan
semester. penulis tentang tema-tema mimpi menunjuk-
Akibat dari kualitas tidur yang berbeda kan bahwa subjek yang berusia sekitar 40-50
ini, sebagaimana diungkapkan oleh penelitian- tahun banyak yang bermimpi psiko-spiritual,
penelitian yang lain (Nashori, 2004c), seperti mimpi masa depan (mimpi prediktif),
mahasiswa perempuan cenderung memiliki mimpi retrospektif, mimpi peringatan, dan
prestasi belajar yang lebih tinggi dibanding mimpi petunjuk.
mahasiswa laki-laki. Maas (2002) bahwa Penelitian Levin (1994), yang bertajuk
proses tidur, jika diberi waktu yang cukup dan Sleep and Dreaming Characteristics of Frequent
lingkungan yang tepat, menghasilkan tenaga Nightmare Subject in a University Population,
yang luar biasa. Tidur memulihkan, menunjukan bahwa subjek (mahasiswa) yang
meremajakan dan memberi energi tubuh dan mengalami mimpi buruk menilai mimpi buruk
otak. Sepertiga hidup manusia, yang yang mereka alami berkaitan dengan kualitas
seharusnya dilewati dengan tidur, berpengaruh tidur mereka yang mereka nilai buruk. Subjek
besar terhadap dua pertiga lainnya, dalam hal yang bermimpi buruk melaporkan bahwa lebih
kewaspadaan, energi, suasana hati, berat banyak agresi hadir dalam mimpi mereka.
badan, persepsi, daya ingat, daya pikir, Mereka yang bermimpi buruk ini sering

\ 86[
[ Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 2 No. 2 Agustus 2005 : 77 - 88
menggunakan kata sifat yang negatif untuk Daftar Pustaka
meng gambarkan emosi mereka, seperti
ketidakberdayaan, paranoid, terluka, shock, Barrett, D. 1993. The “Committee of Sleep”:
merasa bersalah, kecemburuan, menangis, A Study of Dream Incubation for
berteriak, frustrasi, kematian, kelelahan (Ross Problem Solving. Dreaming, Vol. 3,
Levin, 1994). Dalam penelitian-penelitian di No.2.
atas tidak ditemukan perbedaan antara Bergin, A.E. 1987. Religiousness and Mental
kualitas mimpi antara laki-laki dan perempuan. Health Reconsidered. Journal of
Consulting Psychology, 34, 2, 95-105.
Kesimpulan dan Saran
Berry, J.W., Poortinga, Y.H., Segall, M. H., &
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Dasen, P. R. 1994. Cross-Cultural
1. Ada perbedaan kualitas tidur antara Psychology: Reasearch and Application.
mahasiswa putra dan mahasiswa putri New York: Cambridge University Press.
Universitas Islam Indonesia. Mahasiswa Calhoun, J.F. & Acocella, J.R. 1990. Psychology
putri memiliki kualitas tidur yang lebih of Adjustment and Human Relationship.
tinggi dibanding mahasiswa putra. Thrid Edition. New York: McGraw
2. Tidak ada perbedaan kualitas mimpi Hill.
antara mahasiswa putra dan mahasiswa
putri Universitas Islam Indonesia. Chaplin, J.P. 1997. Kamus Lengkap Psikologi.
Cetakan Keempat. Jakarta: Rajawali
Saran untuk subjek penelitian adalah
Press.
agar memperoleh prestasi belajar yang optimal,
mahasiswa putra disarankan untuk Dee, N. 2001. Memahami Mimpi. Yogyakarta:
meningkatkan kualitas tidurnya. Mahasiswa LkiS.
hendaknya mengupayakan agar tidurnya dapat Delorme, M.A., Lortie-Lussier, M., & De
berlangsung secara nyenyak. Disarankan pula Koninck, J. 2002. Stress and Coping in
agar mereka membiasakan diri memulai tidur the Waking and Dreaming States
lebih awal dan bangun lebih awal. During in Examination Period.
Sementara itu saran untuk Lembaga Dreaming, Vol. 12, No. 4.
Perguruan Tinggi adalah pimpinan perguruan Domhoff, G.W. & Schneider, A. 1998. New
tinggi, melalui dosen pembimbing akademik, Rationales and Methods for
hendaknya sejak awal menekankan pentingnya Quantitative Dream Research Outside
kualitas tidur para mahasiswa. Mereka perlu the Laboratory. Sleep, 21, 398-404.
mendorong mahasiswa agar dapat meraih tidur
yang nyenyak serta memulai tidur lebih awal Freud, S. 2002. Tafsir Mimpi. Yogyakarta:
bangun tidur lebih awal. Saran ini sangat Penerbit Jendela.
relevan untuk diberikan pada saat ini, di mana Gustinawati. 1990. Peranan Kontrol Pribadi
salah satu fenomena yang dapat ditemukan terhadap Kesesakan pada Penghuni
pada sebagian mahasiswa adalah kesukaan Perumahan dengan Kepadatan Tinggi.
untuk beraktivitas di dunia gemerlap (dugem), Skripsi (tidak dipublikasikan).
begadang hingga larut malam, dan seterusnya. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Hall, C. S. dan Lindzey, G. 1998. Teori

Perbedaan Kualitas Tidur ................. (Fuad Nashori, R. Rachmy Diana) \ 87[


[
Kepribadian. Yogyakarta: Kanisius. Nashori, H.F. 2004b. Hubungan antara
Hardjito, P. 1994. Pengaruh Kebiasaan Belajar Kualitas Tidur dengan Kendali Diri
dan Tempat Tinggal terhadap Prestasi Mahasiswa. Laporan Penelitian (tidak
dipublikasikan). Yogyakarta: Lembaga
Belajar. Laporan Penelitian. Yogyakarta:
Penelitian UII.
Fakultas Psikologi UGM.
Nashori, H.F. 2004b. Hubungan antara
Kail, R.V. & Nelson, R.W. 1993. Developmental
Kualitas Tidur dan Kualitas Mimpi
Psychology. New Jersey: Khan, I. 2000.
dengan Prestasi Belajar Mahasiswa.
Dimensi Spiritual Psikologi. Bandung:
Laporan Penelitian (tidak
Penerbit Pustaka Hidayah.
dipublikasikan). Yogyakarta: Lembaga
Khaldun, I. 2000. Muqaddimah. Cetakan Penelitian UII dan Dikti Depdiknas.
Keempat. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Purwanto, Y. 2003. Memahami Mimpi. Yogya:
Levin, R. 1994. Sleep and Dreaming Menara Kudus.
Characteristics of Frequent Nightmare
Purnamaki, R.L. 1999. The Relationship of
Subject in a University Population.
Dream Content and Changes in
Dreaming, Vol. 4, No. 2.
Daytime Mood in Traumatized vs
Maas, J.B. 2002. Power Sleep. Bandung: Penerbit Non-Traumatized Children. Dreaming,
Kaifa. Vol. 9, No. 4.
Mubarok, A. 2004. Mengaji Islam: Dari Rasional Reiser, M.F. 2001. The Dream in
Hingga Spiritual. Jakarta: IIIT. Contemporary Psychiatry. The American
Journal of Psychiatry. 158, 351-359.
Mujib, A. & Mudzakir, J. 2001. Nuansa-nuansa
Psikologi Islam. Jakarta: Rajawali Press. Shadiq,I.J. 1996. Mengungkap Rahasia Mimpi.
Jakarta: Penerbit Lentera.
Nashori, H. F. 2001. Tema-tema Mimpi Psiko-
Spiritual. Laporan Penelitian (tidak Subandi. 1997. Relevansi Mimpi. Majalah
diterbitkan). Yogyakarta: Lembaga Shufiyah, No. 1, 1997.
Penelitian UII. Subandi & Hasanat, N.U. 2000.
Nashori, H. F. 2002. Mimpi Nubuwat. Pengembangan Model Pelayanan
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rohani bagi Pasien Rawat Inap di
Rumah Sakit Umum. Jurnal Pemikiran
Nashori, H.F. 2004a. Menggapai Prestasi
dan Penelitian Psikologi PSIKOLOGIKA,
Puncak dengan Meningkatkan Kualitas
Nomor 10, Volume V, hal. 5-16.
Tidur dan Kualitas Mimpi. Makalah.
Disampaikan dalam Kongres IX Thouless, Robert H. 1995. Pengantar Psikologi
Himpunan Psikologi Indonesia Agama. Jakarta: PT Raja Grafindo
(Himpsi), Surabaya, 14-17 Januari Persada.
2004.

\ 88[
[ Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 2 No. 2 Agustus 2005 : 77 - 88