Anda di halaman 1dari 21

Bisakah Sekolah Menciptakan Manusia Kreatif?

Jika diminta membayangkan


contoh manusia kreatif, siapa yang ada dalam bayangan anda? Newton dengan tragedi buah
apelnya? Einstein dengan popularitas relativitasnya? Archimedes dengan teriakan Eureka tanpa
busananya? Anak-anak SMK dengan berbagai produknya? Atau barisan pemuda yang kemarin
meramaikan pemilukada DKI? Terserah siapa dan yang mana yang akan kita sebut dan kita
golongkan sebagai manusia kreatif.

Kreativitas adalah seni penemuan. Kemampuan seseorang untuk menciptakan hal-hal yang baru
bagi dunia berdasar pada inovasi. Kreativitas adalah seni keberanian. Kemampuan seseorang
untuk melihat secara berbeda dari kebanyakan orang. Menyimpulkan secara tidak biasa. Keluar
dari keumuman. Siapa yang bakal menyangka bak mandi penuh air adalah tempat munculnya
hukum Archimedes?
Seorang penulis pernah menyebut karakteristik manusia kreatif sebagaimana berikut;

1.   Tidak biasa. Manusia kreatif tidak terikat dengan kebiasaan dan norma keumuman
yang berlaku. Mereka hanya percaya pada apa yang mereka yakini benar. Lihat saja betapa
beraninya Galileo mengeluarkan pendapat bahwa bumi mengitari matahari. Satu pendapat yang
menabrak kepercayaan kala itu.

2.   Individualistik. Manusia kreatif tidak mempercayai sesuatu yang bersifat takhayul.
Mereka akan selalu berusaha mencari kebenaran dengan cara mereka sendiri.

3.   Inventif. Manusia kreatif penuh dengan daya cipta dalam balutan inovasi-inovasi.
Mereka selalu berusaha mencari apa yang hilang didunia dan apa yang bisa dilakukan untuk
kehidupan yang lebih baik.

4.   Terdorong. Manusia kreatif memiliki dorongan visi yang kuat dan memiliki keinginan
untuk mengubah visi tersebut menjadi penemuan yang luar biasa melalui sebuah tindakan.

5.   Visioner. Manusia kreatif adalah manusia yang visioner. Visi mereka terletak pada hati
dan jiwa mereka. Prioriotas utama hidup mereka adalah untuk mengejar visi itu.

6.   Intuitif. Manusia kreatif sangat intuitif. Pekerjaan yang mereka lakukan berasal dari
jiwa mereka. Mereka mendengarkan jiwa mereka dan menjadikannya sebagai pembimbing
dalam kehidupan mereka.

Nah..pertanyaannya sekarang, apakah lembaga sekolah kita bisa menciptakan manusia-manusia


kreatif?

Oke, kita mulai pertanyaan ini dengan pertanyaan yang lain lagi, kenapa tanggungjawab ini
diberikan kepada lembaga sekolah?
Jawabannya, mayoritas anak-anak kita menghabiskan masa-masa kecilnya di sekolah, mulai dari
setingkat PAUD sampai dengan SMA atau bahkan bangku kuliah. Artinya, lembaga sekolah
inilah yang sedikit banyak akan membentuk pemikiran mereka untuk mengarungi kehidupan
yang lebih jauh lagi, yaitu terjun dalam kehidupan yang lebih nyata, dalam profesi apapun
nantinya.

Kembali lagi ke pertanyaan semula, bisakah sekolah menciptakan manusia-manusia kreatif?


Jawabnya, harus mampu. Setidaknya menjadi inisiator kemunculan manusia-manusia kreatif
Indonesia. harapan kea rah itu sudah mulai terlihat. Kita telah menyaksikan kemunculan-
kemunculan berbagai karya luar biasa dari anak-anak sekolah kita. Inovasi-inovasi spektakular
hal pemikiran-pemikiran brilian. Tak perlu jauh-jauh melihat ke bangku kuliah. Siswa-siswa
setingkat SMK pun sudah mampu menciptakannya.

Pada dasarnya menjadi inisiator kemunculan manusia kreatif tidaklah begitu sulit. Lembaga
sekolah kita cukup menghilangkan kekakuan proses pembelajaran dengan memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengeksplorasi semua potensi mereka.
Keragaman potensi ini adalah modal pertama yang harus dijaga dan dikembangkan. Selanjutnya,
menjadi fasilitator dan apresiator. Lembaga sekolah harus mampu memfasilitasi ide-ide siswa,
baik yang biasa, tidak biasa, unik, aneh, atau yang wajar saja. Semua harus terfasilitasi secara
seimbang dan adil bukan malah dengan membunuh yang satu dan menghidupkan yang satunya
lagi. Lalu, memberikan apresiasi terhadap semua hal yang telah dilakukan siswa. Apresiasi ini
menjadi sangat penting karena bisa menjadi pemicu semangat untuk kemunculan-kemunculan
ide-ide baru lainnya. Kekurangan disana-sini adalah satu kewajaran yang tak perlu untuk
dicemooh atau dihujat. Tak ada sesuatu yang langsung sempurna pada fase pertama. Evaluasi
berupa kritik dan saran memang patut diberikan sebagai wujud apresiasi. Hanya, perlu
disampaikan dengan cara-cara yang tepat sehingga tidak menekan dan malah membunuh
kreativitas itu sendiri.

Masalahnya, seberapa banyak lembaga sekolah kita yang mampu menghilangkan kekakuan
dalam proses pembelajaran? Menjadi fasilitator and apresiator?
Jika tidak banyak, maka bisa jadi hanya siswa dari sekolah yang itu-itu saja yang akan kita
saksikan kreativitasnya. Sementara, siswa dari lembaga lain masih terpendam dalam lubang
kekakuan.

Memanusiakan Ruang Kelas

Tak bisa disangkal, setiap manusia terlahir dalam keadaan yang


berbeda satu sama lain. Perbedaan genetik ini kemudian diperkuat oleh faktor lingkungan, baik
keluarga, masyarakat, teman sepermainan, serta yang lainnya. Pergumulan faktor genetik dan
faktor lingkungan ini kemudian melahirkan berbagai pengalaman, yang pada akhirnya
memunculkan kemampuan (potensi, minat, bakat) yang beragam dan unik. Dan akhirnya,
kemampuan yang beragam dan unik ini terbawa oleh siswa ke dalam ruang kelas, menjadi
modalitas mereka dalam belajar.

Dengan modalitas belajar yang beragam dan unik, niscaya setiap siswa memiliki gaya belajar
yang beragam dan unik pula. Konsekuensinya, seorang pendidik diharuskan mampu untuk
mengadaptasi setiap gaya belajar siswa ini dengan gaya pengajaran mereka. Hanya masalahnya
kondisi seperti ini jarang (atau hampir tidak pernah) kita temukan di ruang kelas di lembaga-
lemabaga sekolah di negara kita. Para pendidik lebih cenderung menyamaratakan dan
menyeragamkan kemampuan peserta didik dengan parameter yang sempit yaitu kemampuan
kognitif. Semua hal diukur dengan menggunakan parameter angka-angka sehingga yang banyak
kita temukan adalah ketidaksesuaian gaya mengajar pendidik dengan gaya belajar peserta didik.
Maka tak mengherankan jika Paulo Freire sering mengistilahkan model pendidikan seperti ini
sebagai banking concept of education. Yaitu, sebuah konsep yang secara sederhana
menggambarkan bagaimana siswa diperlakukan seperti tempat penyimpanan selalu siap untuk
ditumpahi atau diisi dengan apa-apa yang diinginkan oleh sang guru.

Lalu, seperti apakah seharusnya pendidikan di kelas itu kita jalankan?

Sederhana saja, yaitu dengan memandang siswa sebagai manusia yang beragam dan unik. Atau,
mudahnya adalah pendidikan humanistik, memandang ruang kelas sebagai sesuatu yang
manusiawi. Bahwa, siswa adalah individu yang berbeda. Memiliki potensi dan bakat yang
berbeda, yang pastinya tak boleh untuk dipaksa sama. Keunikan dan keragaman inilah yangÂ
oleh para pendidik harus dijadikan sebagai modal untuk melangsungkan proses belajar mengajar.
Pendidikan humanistik memandang bahwa belajar
bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan juga sebuah proses yang terjadi
dalam individu yang melibatkan seluruh bagian atau domain yang ada. Domain-domain tersebut
meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan kata lain, pendekatan humanistik
dalam pembelajaran menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi yang terbuka, dan
nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Sehingga tujuan yang ingin dicapai dalam
proses belajar itu tidak hanya dalam domain kognitif saja, tetapi juga bagaimana siswa menjadi
individu yang bertanggung jawab, penuh perhatian terhadap lingkunganya, mempunyai
kedewasaan emosi dan spiritual.

Salah satu ide penting dalam pendidikan humanistik adalah siswa harus mempunyai kemampuan
untuk mengarahkan sendiri perilakunya dalam belajar (self regulated learning); apa yang akan
dipelajari, dan sampai tingkat mana, kapan, dan bagaimana. Proses pembelajaran harus
mengajarkan peserta didik bagaimana belajar dan menilai kegunaan belajar bagi diri mereka
sendiri. Ide pokoknya adalah bagaimana peserta didik bisa memotivasi dirinya sendiri, sehingga
membuat mereka memiliki keinginan belajar yang kuat.

Kita semua meyakini bahwa proses belajar adalah proses discovering ability, menemukan
kecerdasan seseorang yang kata Howard Gardner sangatlah beragam (multiple intelligence).
Dalam proses ini diyakini bahwa setiap peserta didik pasti memiliki kecenderungan jenis
kecerdasan tertentu. Dan kecenderungan tersebut harus ditemukan melalui proses pencarian.
Dalam menjalankan proses ini, seorang pendidik diharapkan bisa mempromosikan kemampuan
atau kelebihan peserta didiknya, sementara †œmengubur†• ketidakmampuan atau
kelemahan mereka.

Tentunya di masa-masa yang akan datang kita berharap semakin banyak manusia kreatif yang
muncul dari lembaga-lembaga sekolah kita, yang tidak hanya mampu mencipta produk berupa
barang, namun juga ide-ide spektakuler, sehingga semakin bertaburanlah pemikir-pemikir brilian
dan problem-solver handal di negara tercinta ini. Pastinya, kita tidak ingin melihat lembaga-
lembaga sekolah kita hanya menciptakan manusia yang †œkreatif†• dalam mencontek,
tawuran, atau membullying sesama temannya. Semoga.

Bisakah Sekolah Menciptakan Manusia Kreatif?


Jika diminta membayangkan
contoh manusia kreatif, siapa yang ada dalam bayangan anda? Newton dengan tragedi buah
apelnya? Einstein dengan popularitas relativitasnya? Archimedes dengan teriakan Eureka tanpa
busananya? Anak-anak SMK dengan berbagai produknya? Atau barisan pemuda yang kemarin
meramaikan pemilukada DKI? Terserah siapa dan yang mana yang akan kita sebut dan kita
golongkan sebagai manusia kreatif.

Kreativitas adalah seni penemuan. Kemampuan seseorang untuk menciptakan hal-hal yang baru
bagi dunia berdasar pada inovasi. Kreativitas adalah seni keberanian. Kemampuan seseorang
untuk melihat secara berbeda dari kebanyakan orang. Menyimpulkan secara tidak biasa. Keluar
dari keumuman. Siapa yang bakal menyangka bak mandi penuh air adalah tempat munculnya
hukum Archimedes?

Seorang penulis pernah menyebut karakteristik manusia kreatif sebagaimana berikut;


1.   Tidak biasa. Manusia kreatif tidak terikat dengan kebiasaan dan norma keumuman
yang berlaku. Mereka hanya percaya pada apa yang mereka yakini benar. Lihat saja betapa
beraninya Galileo mengeluarkan pendapat bahwa bumi mengitari matahari. Satu pendapat yang
menabrak kepercayaan kala itu.

2.   Individualistik. Manusia kreatif tidak mempercayai sesuatu yang bersifat takhayul.
Mereka akan selalu berusaha mencari kebenaran dengan cara mereka sendiri.

3.   Inventif. Manusia kreatif penuh dengan daya cipta dalam balutan inovasi-inovasi.
Mereka selalu berusaha mencari apa yang hilang didunia dan apa yang bisa dilakukan untuk
kehidupan yang lebih baik.

4.   Terdorong. Manusia kreatif memiliki dorongan visi yang kuat dan memiliki keinginan
untuk mengubah visi tersebut menjadi penemuan yang luar biasa melalui sebuah tindakan.

5.   Visioner. Manusia kreatif adalah manusia yang visioner. Visi mereka terletak pada hati
dan jiwa mereka. Prioriotas utama hidup mereka adalah untuk mengejar visi itu.

6.   Intuitif. Manusia kreatif sangat intuitif. Pekerjaan yang mereka lakukan berasal dari
jiwa mereka. Mereka mendengarkan jiwa mereka dan menjadikannya sebagai pembimbing
dalam kehidupan mereka.

Nah..pertanyaannya sekarang, apakah lembaga sekolah kita bisa menciptakan manusia-manusia


kreatif?

Oke, kita mulai pertanyaan ini dengan pertanyaan yang lain lagi, kenapa tanggungjawab ini
diberikan kepada lembaga sekolah?

Jawabannya, mayoritas anak-anak kita menghabiskan masa-masa kecilnya di sekolah, mulai dari
setingkat PAUD sampai dengan SMA atau bahkan bangku kuliah. Artinya, lembaga sekolah
inilah yang sedikit banyak akan membentuk pemikiran mereka untuk mengarungi kehidupan
yang lebih jauh lagi, yaitu terjun dalam kehidupan yang lebih nyata, dalam profesi apapun
nantinya.

Kembali lagi ke pertanyaan semula, bisakah sekolah menciptakan manusia-manusia kreatif?


Jawabnya, harus mampu. Setidaknya menjadi inisiator kemunculan manusia-manusia kreatif
Indonesia. harapan kea rah itu sudah mulai terlihat. Kita telah menyaksikan kemunculan-
kemunculan berbagai karya luar biasa dari anak-anak sekolah kita. Inovasi-inovasi spektakular
hal pemikiran-pemikiran brilian. Tak perlu jauh-jauh melihat ke bangku kuliah. Siswa-siswa
setingkat SMK pun sudah mampu menciptakannya.
Pada dasarnya menjadi inisiator kemunculan manusia kreatif tidaklah begitu sulit. Lembaga
sekolah kita cukup menghilangkan kekakuan proses pembelajaran dengan memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengeksplorasi semua potensi mereka.
Keragaman potensi ini adalah modal pertama yang harus dijaga dan dikembangkan. Selanjutnya,
menjadi fasilitator dan apresiator. Lembaga sekolah harus mampu memfasilitasi ide-ide siswa,
baik yang biasa, tidak biasa, unik, aneh, atau yang wajar saja. Semua harus terfasilitasi secara
seimbang dan adil bukan malah dengan membunuh yang satu dan menghidupkan yang satunya
lagi. Lalu, memberikan apresiasi terhadap semua hal yang telah dilakukan siswa. Apresiasi ini
menjadi sangat penting karena bisa menjadi pemicu semangat untuk kemunculan-kemunculan
ide-ide baru lainnya. Kekurangan disana-sini adalah satu kewajaran yang tak perlu untuk
dicemooh atau dihujat. Tak ada sesuatu yang langsung sempurna pada fase pertama. Evaluasi
berupa kritik dan saran memang patut diberikan sebagai wujud apresiasi. Hanya, perlu
disampaikan dengan cara-cara yang tepat sehingga tidak menekan dan malah membunuh
kreativitas itu sendiri.

Masalahnya, seberapa banyak lembaga sekolah kita yang mampu menghilangkan kekakuan
dalam proses pembelajaran? Menjadi fasilitator and apresiator?

Jika tidak banyak, maka bisa jadi hanya siswa dari sekolah yang itu-itu saja yang akan kita
saksikan kreativitasnya. Sementara, siswa dari lembaga lain masih terpendam dalam lubang
kekakuan.

Memanusiakan Ruang Kelas


Tak bisa disangkal, setiap manusia terlahir dalam keadaan yang
berbeda satu sama lain. Perbedaan genetik ini kemudian diperkuat oleh faktor lingkungan, baik
keluarga, masyarakat, teman sepermainan, serta yang lainnya. Pergumulan faktor genetik dan
faktor lingkungan ini kemudian melahirkan berbagai pengalaman, yang pada akhirnya
memunculkan kemampuan (potensi, minat, bakat) yang beragam dan unik. Dan akhirnya,
kemampuan yang beragam dan unik ini terbawa oleh siswa ke dalam ruang kelas, menjadi
modalitas mereka dalam belajar.

Dengan modalitas belajar yang beragam dan unik, niscaya setiap siswa memiliki gaya belajar
yang beragam dan unik pula. Konsekuensinya, seorang pendidik diharuskan mampu untuk
mengadaptasi setiap gaya belajar siswa ini dengan gaya pengajaran mereka. Hanya masalahnya
kondisi seperti ini jarang (atau hampir tidak pernah) kita temukan di ruang kelas di lembaga-
lemabaga sekolah di negara kita. Para pendidik lebih cenderung menyamaratakan dan
menyeragamkan kemampuan peserta didik dengan parameter yang sempit yaitu kemampuan
kognitif. Semua hal diukur dengan menggunakan parameter angka-angka sehingga yang banyak
kita temukan adalah ketidaksesuaian gaya mengajar pendidik dengan gaya belajar peserta didik.
Maka tak mengherankan jika Paulo Freire sering mengistilahkan model pendidikan seperti ini
sebagai banking concept of education. Yaitu, sebuah konsep yang secara sederhana
menggambarkan bagaimana siswa diperlakukan seperti tempat penyimpanan selalu siap untuk
ditumpahi atau diisi dengan apa-apa yang diinginkan oleh sang guru.

Lalu, seperti apakah seharusnya pendidikan di kelas itu kita jalankan?

Sederhana saja, yaitu dengan memandang siswa sebagai manusia yang beragam dan unik. Atau,
mudahnya adalah pendidikan humanistik, memandang ruang kelas sebagai sesuatu yang
manusiawi. Bahwa, siswa adalah individu yang berbeda. Memiliki potensi dan bakat yang
berbeda, yang pastinya tak boleh untuk dipaksa sama. Keunikan dan keragaman inilah yangÂ
oleh para pendidik harus dijadikan sebagai modal untuk melangsungkan proses belajar mengajar.
Pendidikan humanistik memandang bahwa belajar
bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan juga sebuah proses yang terjadi
dalam individu yang melibatkan seluruh bagian atau domain yang ada. Domain-domain tersebut
meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan kata lain, pendekatan humanistik
dalam pembelajaran menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi yang terbuka, dan
nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Sehingga tujuan yang ingin dicapai dalam
proses belajar itu tidak hanya dalam domain kognitif saja, tetapi juga bagaimana siswa menjadi
individu yang bertanggung jawab, penuh perhatian terhadap lingkunganya, mempunyai
kedewasaan emosi dan spiritual.

Salah satu ide penting dalam pendidikan humanistik adalah siswa harus mempunyai kemampuan
untuk mengarahkan sendiri perilakunya dalam belajar (self regulated learning); apa yang akan
dipelajari, dan sampai tingkat mana, kapan, dan bagaimana. Proses pembelajaran harus
mengajarkan peserta didik bagaimana belajar dan menilai kegunaan belajar bagi diri mereka
sendiri. Ide pokoknya adalah bagaimana peserta didik bisa memotivasi dirinya sendiri, sehingga
membuat mereka memiliki keinginan belajar yang kuat.

Kita semua meyakini bahwa proses belajar adalah proses discovering ability, menemukan
kecerdasan seseorang yang kata Howard Gardner sangatlah beragam (multiple intelligence).
Dalam proses ini diyakini bahwa setiap peserta didik pasti memiliki kecenderungan jenis
kecerdasan tertentu. Dan kecenderungan tersebut harus ditemukan melalui proses pencarian.
Dalam menjalankan proses ini, seorang pendidik diharapkan bisa mempromosikan kemampuan
atau kelebihan peserta didiknya, sementara †œmengubur†• ketidakmampuan atau
kelemahan mereka.

Tentunya di masa-masa yang akan datang kita berharap


semakin banyak manusia kreatif yang muncul dari lembaga-
lembaga sekolah kita, yang tidak hanya mampu mencipta
produk berupa barang, namun juga ide-ide spektakuler,
sehingga semakin bertaburanlah pemikir-pemikir brilian
dan problem-solver handal di negara tercinta ini. Pastinya,
kita tidak ingin melihat lembaga-lembaga sekolah kita
hanya menciptakan manusia yang †œkreatif†• dalam
mencontek, tawuran, atau membullying sesama temannya.
Semoga. Bisakah Sekolah Menciptakan Manusia Kreatif?

Jika diminta membayangkan


contoh manusia kreatif, siapa yang ada dalam bayangan anda? Newton dengan tragedi buah
apelnya? Einstein dengan popularitas relativitasnya? Archimedes dengan teriakan Eureka tanpa
busananya? Anak-anak SMK dengan berbagai produknya? Atau barisan pemuda yang kemarin
meramaikan pemilukada DKI? Terserah siapa dan yang mana yang akan kita sebut dan kita
golongkan sebagai manusia kreatif.

Kreativitas adalah seni penemuan. Kemampuan seseorang untuk menciptakan hal-hal yang baru
bagi dunia berdasar pada inovasi. Kreativitas adalah seni keberanian. Kemampuan seseorang
untuk melihat secara berbeda dari kebanyakan orang. Menyimpulkan secara tidak biasa. Keluar
dari keumuman. Siapa yang bakal menyangka bak mandi penuh air adalah tempat munculnya
hukum Archimedes?
Seorang penulis pernah menyebut karakteristik manusia kreatif sebagaimana berikut;

1.   Tidak biasa. Manusia kreatif tidak terikat dengan kebiasaan dan norma keumuman
yang berlaku. Mereka hanya percaya pada apa yang mereka yakini benar. Lihat saja betapa
beraninya Galileo mengeluarkan pendapat bahwa bumi mengitari matahari. Satu pendapat yang
menabrak kepercayaan kala itu.

2.   Individualistik. Manusia kreatif tidak mempercayai sesuatu yang bersifat takhayul.
Mereka akan selalu berusaha mencari kebenaran dengan cara mereka sendiri.

3.   Inventif. Manusia kreatif penuh dengan daya cipta dalam balutan inovasi-inovasi.
Mereka selalu berusaha mencari apa yang hilang didunia dan apa yang bisa dilakukan untuk
kehidupan yang lebih baik.

4.   Terdorong. Manusia kreatif memiliki dorongan visi yang kuat dan memiliki keinginan
untuk mengubah visi tersebut menjadi penemuan yang luar biasa melalui sebuah tindakan.

5.   Visioner. Manusia kreatif adalah manusia yang visioner. Visi mereka terletak pada hati
dan jiwa mereka. Prioriotas utama hidup mereka adalah untuk mengejar visi itu.

6.   Intuitif. Manusia kreatif sangat intuitif. Pekerjaan yang mereka lakukan berasal dari
jiwa mereka. Mereka mendengarkan jiwa mereka dan menjadikannya sebagai pembimbing
dalam kehidupan mereka.

Nah..pertanyaannya sekarang, apakah lembaga sekolah kita bisa menciptakan manusia-manusia


kreatif?

Oke, kita mulai pertanyaan ini dengan pertanyaan yang lain lagi, kenapa tanggungjawab ini
diberikan kepada lembaga sekolah?
Jawabannya, mayoritas anak-anak kita menghabiskan masa-masa kecilnya di sekolah, mulai dari
setingkat PAUD sampai dengan SMA atau bahkan bangku kuliah. Artinya, lembaga sekolah
inilah yang sedikit banyak akan membentuk pemikiran mereka untuk mengarungi kehidupan
yang lebih jauh lagi, yaitu terjun dalam kehidupan yang lebih nyata, dalam profesi apapun
nantinya.

Kembali lagi ke pertanyaan semula, bisakah sekolah menciptakan manusia-manusia kreatif?


Jawabnya, harus mampu. Setidaknya menjadi inisiator kemunculan manusia-manusia kreatif
Indonesia. harapan kea rah itu sudah mulai terlihat. Kita telah menyaksikan kemunculan-
kemunculan berbagai karya luar biasa dari anak-anak sekolah kita. Inovasi-inovasi spektakular
hal pemikiran-pemikiran brilian. Tak perlu jauh-jauh melihat ke bangku kuliah. Siswa-siswa
setingkat SMK pun sudah mampu menciptakannya.

Pada dasarnya menjadi inisiator kemunculan manusia kreatif tidaklah begitu sulit. Lembaga
sekolah kita cukup menghilangkan kekakuan proses pembelajaran dengan memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengeksplorasi semua potensi mereka.
Keragaman potensi ini adalah modal pertama yang harus dijaga dan dikembangkan. Selanjutnya,
menjadi fasilitator dan apresiator. Lembaga sekolah harus mampu memfasilitasi ide-ide siswa,
baik yang biasa, tidak biasa, unik, aneh, atau yang wajar saja. Semua harus terfasilitasi secara
seimbang dan adil bukan malah dengan membunuh yang satu dan menghidupkan yang satunya
lagi. Lalu, memberikan apresiasi terhadap semua hal yang telah dilakukan siswa. Apresiasi ini
menjadi sangat penting karena bisa menjadi pemicu semangat untuk kemunculan-kemunculan
ide-ide baru lainnya. Kekurangan disana-sini adalah satu kewajaran yang tak perlu untuk
dicemooh atau dihujat. Tak ada sesuatu yang langsung sempurna pada fase pertama. Evaluasi
berupa kritik dan saran memang patut diberikan sebagai wujud apresiasi. Hanya, perlu
disampaikan dengan cara-cara yang tepat sehingga tidak menekan dan malah membunuh
kreativitas itu sendiri.

Masalahnya, seberapa banyak lembaga sekolah kita yang mampu menghilangkan kekakuan
dalam proses pembelajaran? Menjadi fasilitator and apresiator?
Jika tidak banyak, maka bisa jadi hanya siswa dari sekolah yang itu-itu saja yang akan kita
saksikan kreativitasnya. Sementara, siswa dari lembaga lain masih terpendam dalam lubang
kekakuan.

Memanusiakan Ruang Kelas

Tak bisa disangkal, setiap manusia terlahir dalam keadaan yang


berbeda satu sama lain. Perbedaan genetik ini kemudian diperkuat oleh faktor lingkungan, baik
keluarga, masyarakat, teman sepermainan, serta yang lainnya. Pergumulan faktor genetik dan
faktor lingkungan ini kemudian melahirkan berbagai pengalaman, yang pada akhirnya
memunculkan kemampuan (potensi, minat, bakat) yang beragam dan unik. Dan akhirnya,
kemampuan yang beragam dan unik ini terbawa oleh siswa ke dalam ruang kelas, menjadi
modalitas mereka dalam belajar.

Dengan modalitas belajar yang beragam dan unik, niscaya setiap siswa memiliki gaya belajar
yang beragam dan unik pula. Konsekuensinya, seorang pendidik diharuskan mampu untuk
mengadaptasi setiap gaya belajar siswa ini dengan gaya pengajaran mereka. Hanya masalahnya
kondisi seperti ini jarang (atau hampir tidak pernah) kita temukan di ruang kelas di lembaga-
lemabaga sekolah di negara kita. Para pendidik lebih cenderung menyamaratakan dan
menyeragamkan kemampuan peserta didik dengan parameter yang sempit yaitu kemampuan
kognitif. Semua hal diukur dengan menggunakan parameter angka-angka sehingga yang banyak
kita temukan adalah ketidaksesuaian gaya mengajar pendidik dengan gaya belajar peserta didik.
Maka tak mengherankan jika Paulo Freire sering mengistilahkan model pendidikan seperti ini
sebagai banking concept of education. Yaitu, sebuah konsep yang secara sederhana
menggambarkan bagaimana siswa diperlakukan seperti tempat penyimpanan selalu siap untuk
ditumpahi atau diisi dengan apa-apa yang diinginkan oleh sang guru.

Lalu, seperti apakah seharusnya pendidikan di kelas itu kita jalankan?

Sederhana saja, yaitu dengan memandang siswa sebagai manusia yang beragam dan unik. Atau,
mudahnya adalah pendidikan humanistik, memandang ruang kelas sebagai sesuatu yang
manusiawi. Bahwa, siswa adalah individu yang berbeda. Memiliki potensi dan bakat yang
berbeda, yang pastinya tak boleh untuk dipaksa sama. Keunikan dan keragaman inilah yangÂ
oleh para pendidik harus dijadikan sebagai modal untuk melangsungkan proses belajar mengajar.
Pendidikan humanistik memandang bahwa belajar
bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan juga sebuah proses yang terjadi
dalam individu yang melibatkan seluruh bagian atau domain yang ada. Domain-domain tersebut
meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan kata lain, pendekatan humanistik
dalam pembelajaran menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi yang terbuka, dan
nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Sehingga tujuan yang ingin dicapai dalam
proses belajar itu tidak hanya dalam domain kognitif saja, tetapi juga bagaimana siswa menjadi
individu yang bertanggung jawab, penuh perhatian terhadap lingkunganya, mempunyai
kedewasaan emosi dan spiritual.

Salah satu ide penting dalam pendidikan humanistik adalah siswa harus mempunyai kemampuan
untuk mengarahkan sendiri perilakunya dalam belajar (self regulated learning); apa yang akan
dipelajari, dan sampai tingkat mana, kapan, dan bagaimana. Proses pembelajaran harus
mengajarkan peserta didik bagaimana belajar dan menilai kegunaan belajar bagi diri mereka
sendiri. Ide pokoknya adalah bagaimana peserta didik bisa memotivasi dirinya sendiri, sehingga
membuat mereka memiliki keinginan belajar yang kuat.

Kita semua meyakini bahwa proses belajar adalah proses discovering ability, menemukan
kecerdasan seseorang yang kata Howard Gardner sangatlah beragam (multiple intelligence).
Dalam proses ini diyakini bahwa setiap peserta didik pasti memiliki kecenderungan jenis
kecerdasan tertentu. Dan kecenderungan tersebut harus ditemukan melalui proses pencarian.
Dalam menjalankan proses ini, seorang pendidik diharapkan bisa mempromosikan kemampuan
atau kelebihan peserta didiknya, sementara †œmengubur†• ketidakmampuan atau
kelemahan mereka.

Tentunya di masa-masa yang akan datang kita berharap


semakin banyak manusia kreatif yang muncul dari lembaga-
lembaga sekolah kita, yang tidak hanya mampu mencipta
produk berupa barang, namun juga ide-ide spektakuler,
sehingga semakin bertaburanlah pemikir-pemikir brilian
dan problem-solver handal di negara tercinta ini. Pastinya,
kita tidak ingin melihat lembaga-lembaga sekolah kita
hanya menciptakan manusia yang †œkreatif†• dalam
mencontek, tawuran, atau membullying sesama temannya.
Semoga. Bisakah Sekolah Menciptakan Manusia Kreatif?

Jika diminta membayangkan


contoh manusia kreatif, siapa yang ada dalam bayangan anda? Newton dengan tragedi buah
apelnya? Einstein dengan popularitas relativitasnya? Archimedes dengan teriakan Eureka tanpa
busananya? Anak-anak SMK dengan berbagai produknya? Atau barisan pemuda yang kemarin
meramaikan pemilukada DKI? Terserah siapa dan yang mana yang akan kita sebut dan kita
golongkan sebagai manusia kreatif.

Kreativitas adalah seni penemuan. Kemampuan seseorang untuk menciptakan hal-hal yang baru
bagi dunia berdasar pada inovasi. Kreativitas adalah seni keberanian. Kemampuan seseorang
untuk melihat secara berbeda dari kebanyakan orang. Menyimpulkan secara tidak biasa. Keluar
dari keumuman. Siapa yang bakal menyangka bak mandi penuh air adalah tempat munculnya
hukum Archimedes?
Seorang penulis pernah menyebut karakteristik manusia kreatif sebagaimana berikut;

1.   Tidak biasa. Manusia kreatif tidak terikat dengan kebiasaan dan norma keumuman
yang berlaku. Mereka hanya percaya pada apa yang mereka yakini benar. Lihat saja betapa
beraninya Galileo mengeluarkan pendapat bahwa bumi mengitari matahari. Satu pendapat yang
menabrak kepercayaan kala itu.

2.   Individualistik. Manusia kreatif tidak mempercayai sesuatu yang bersifat takhayul.
Mereka akan selalu berusaha mencari kebenaran dengan cara mereka sendiri.

3.   Inventif. Manusia kreatif penuh dengan daya cipta dalam balutan inovasi-inovasi.
Mereka selalu berusaha mencari apa yang hilang didunia dan apa yang bisa dilakukan untuk
kehidupan yang lebih baik.

4.   Terdorong. Manusia kreatif memiliki dorongan visi yang kuat dan memiliki keinginan
untuk mengubah visi tersebut menjadi penemuan yang luar biasa melalui sebuah tindakan.

5.   Visioner. Manusia kreatif adalah manusia yang visioner. Visi mereka terletak pada hati
dan jiwa mereka. Prioriotas utama hidup mereka adalah untuk mengejar visi itu.

6.   Intuitif. Manusia kreatif sangat intuitif. Pekerjaan yang mereka lakukan berasal dari
jiwa mereka. Mereka mendengarkan jiwa mereka dan menjadikannya sebagai pembimbing
dalam kehidupan mereka.

Nah..pertanyaannya sekarang, apakah lembaga sekolah kita bisa menciptakan manusia-manusia


kreatif?

Oke, kita mulai pertanyaan ini dengan pertanyaan yang lain lagi, kenapa tanggungjawab ini
diberikan kepada lembaga sekolah?
Jawabannya, mayoritas anak-anak kita menghabiskan masa-masa kecilnya di sekolah, mulai dari
setingkat PAUD sampai dengan SMA atau bahkan bangku kuliah. Artinya, lembaga sekolah
inilah yang sedikit banyak akan membentuk pemikiran mereka untuk mengarungi kehidupan
yang lebih jauh lagi, yaitu terjun dalam kehidupan yang lebih nyata, dalam profesi apapun
nantinya.

Kembali lagi ke pertanyaan semula, bisakah sekolah menciptakan manusia-manusia kreatif?


Jawabnya, harus mampu. Setidaknya menjadi inisiator kemunculan manusia-manusia kreatif
Indonesia. harapan kea rah itu sudah mulai terlihat. Kita telah menyaksikan kemunculan-
kemunculan berbagai karya luar biasa dari anak-anak sekolah kita. Inovasi-inovasi spektakular
hal pemikiran-pemikiran brilian. Tak perlu jauh-jauh melihat ke bangku kuliah. Siswa-siswa
setingkat SMK pun sudah mampu menciptakannya.

Pada dasarnya menjadi inisiator kemunculan manusia kreatif tidaklah begitu sulit. Lembaga
sekolah kita cukup menghilangkan kekakuan proses pembelajaran dengan memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengeksplorasi semua potensi mereka.
Keragaman potensi ini adalah modal pertama yang harus dijaga dan dikembangkan. Selanjutnya,
menjadi fasilitator dan apresiator. Lembaga sekolah harus mampu memfasilitasi ide-ide siswa,
baik yang biasa, tidak biasa, unik, aneh, atau yang wajar saja. Semua harus terfasilitasi secara
seimbang dan adil bukan malah dengan membunuh yang satu dan menghidupkan yang satunya
lagi. Lalu, memberikan apresiasi terhadap semua hal yang telah dilakukan siswa. Apresiasi ini
menjadi sangat penting karena bisa menjadi pemicu semangat untuk kemunculan-kemunculan
ide-ide baru lainnya. Kekurangan disana-sini adalah satu kewajaran yang tak perlu untuk
dicemooh atau dihujat. Tak ada sesuatu yang langsung sempurna pada fase pertama. Evaluasi
berupa kritik dan saran memang patut diberikan sebagai wujud apresiasi. Hanya, perlu
disampaikan dengan cara-cara yang tepat sehingga tidak menekan dan malah membunuh
kreativitas itu sendiri.

Masalahnya, seberapa banyak lembaga sekolah kita yang mampu menghilangkan kekakuan
dalam proses pembelajaran? Menjadi fasilitator and apresiator?
Jika tidak banyak, maka bisa jadi hanya siswa dari sekolah yang itu-itu saja yang akan kita
saksikan kreativitasnya. Sementara, siswa dari lembaga lain masih terpendam dalam lubang
kekakuan.

Memanusiakan Ruang Kelas

Tak bisa disangkal, setiap manusia terlahir dalam keadaan yang


berbeda satu sama lain. Perbedaan genetik ini kemudian diperkuat oleh faktor lingkungan, baik
keluarga, masyarakat, teman sepermainan, serta yang lainnya. Pergumulan faktor genetik dan
faktor lingkungan ini kemudian melahirkan berbagai pengalaman, yang pada akhirnya
memunculkan kemampuan (potensi, minat, bakat) yang beragam dan unik. Dan akhirnya,
kemampuan yang beragam dan unik ini terbawa oleh siswa ke dalam ruang kelas, menjadi
modalitas mereka dalam belajar.

Dengan modalitas belajar yang beragam dan unik, niscaya setiap siswa memiliki gaya belajar
yang beragam dan unik pula. Konsekuensinya, seorang pendidik diharuskan mampu untuk
mengadaptasi setiap gaya belajar siswa ini dengan gaya pengajaran mereka. Hanya masalahnya
kondisi seperti ini jarang (atau hampir tidak pernah) kita temukan di ruang kelas di lembaga-
lemabaga sekolah di negara kita. Para pendidik lebih cenderung menyamaratakan dan
menyeragamkan kemampuan peserta didik dengan parameter yang sempit yaitu kemampuan
kognitif. Semua hal diukur dengan menggunakan parameter angka-angka sehingga yang banyak
kita temukan adalah ketidaksesuaian gaya mengajar pendidik dengan gaya belajar peserta didik.
Maka tak mengherankan jika Paulo Freire sering mengistilahkan model pendidikan seperti ini
sebagai banking concept of education. Yaitu, sebuah konsep yang secara sederhana
menggambarkan bagaimana siswa diperlakukan seperti tempat penyimpanan selalu siap untuk
ditumpahi atau diisi dengan apa-apa yang diinginkan oleh sang guru.

Lalu, seperti apakah seharusnya pendidikan di kelas itu kita jalankan?

Sederhana saja, yaitu dengan memandang siswa sebagai manusia yang beragam dan unik. Atau,
mudahnya adalah pendidikan humanistik, memandang ruang kelas sebagai sesuatu yang
manusiawi. Bahwa, siswa adalah individu yang berbeda. Memiliki potensi dan bakat yang
berbeda, yang pastinya tak boleh untuk dipaksa sama. Keunikan dan keragaman inilah yangÂ
oleh para pendidik harus dijadikan sebagai modal untuk melangsungkan proses belajar mengajar.
Pendidikan humanistik memandang bahwa belajar
bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja, melainkan juga sebuah proses yang terjadi
dalam individu yang melibatkan seluruh bagian atau domain yang ada. Domain-domain tersebut
meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan kata lain, pendekatan humanistik
dalam pembelajaran menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi yang terbuka, dan
nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Sehingga tujuan yang ingin dicapai dalam
proses belajar itu tidak hanya dalam domain kognitif saja, tetapi juga bagaimana siswa menjadi
individu yang bertanggung jawab, penuh perhatian terhadap lingkunganya, mempunyai
kedewasaan emosi dan spiritual.

Salah satu ide penting dalam pendidikan humanistik adalah siswa harus mempunyai kemampuan
untuk mengarahkan sendiri perilakunya dalam belajar (self regulated learning); apa yang akan
dipelajari, dan sampai tingkat mana, kapan, dan bagaimana. Proses pembelajaran harus
mengajarkan peserta didik bagaimana belajar dan menilai kegunaan belajar bagi diri mereka
sendiri. Ide pokoknya adalah bagaimana peserta didik bisa memotivasi dirinya sendiri, sehingga
membuat mereka memiliki keinginan belajar yang kuat.

Kita semua meyakini bahwa proses belajar adalah proses discovering ability, menemukan
kecerdasan seseorang yang kata Howard Gardner sangatlah beragam (multiple intelligence).
Dalam proses ini diyakini bahwa setiap peserta didik pasti memiliki kecenderungan jenis
kecerdasan tertentu. Dan kecenderungan tersebut harus ditemukan melalui proses pencarian.
Dalam menjalankan proses ini, seorang pendidik diharapkan bisa mempromosikan kemampuan
atau kelebihan peserta didiknya, sementara †œmengubur†• ketidakmampuan atau
kelemahan mereka.

Tentunya di masa-masa yang akan datang kita berharap semakin banyak manusia kreatif yang
muncul dari lembaga-lembaga sekolah kita, yang tidak hanya mampu mencipta produk berupa
barang, namun juga ide-ide spektakuler, sehingga semakin bertaburanlah pemikir-pemikir brilian
dan problem-solver handal di negara tercinta ini. Pastinya, kita tidak ingin melihat lembaga-
lembaga sekolah kita hanya menciptakan manusia yang †œkreatif†• dalam mencontek,
tawuran, atau membullying sesama temannya. Semoga.
http://timpakul.web.id/kreatifitas-itu-bermula-dari-ruang-kelas.html