Anda di halaman 1dari 4

ASCARIDIASIS

Ascaridiasis adalah penyakit cacing yang menyerang unggas dan disebabkan oleh
Ascaridia galli (..., 2012). Cacing Ascaridia galli ini dapat ditemukan di usus halus unggas
(Levine, 1994; ..., 2012; Prastowo dan Priyowidodo, 2014; Tabbu, 2002; dan Urquhart,
2004). Penyakit ini sering menyerang ayam, terutama ayam buras karena sistem
pemeliharaan ayam buras yang cenderung dibebaskan berkeliaran. Selain ayam, cacing ini
juga berparasit pada kalkun, burung dara, itik, guinea fowl, angsa dan juga burung liar di
seluruh dunia (..., 2012 dan Tabbu, 2002). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi infeksi
cacing Ascaridia galli adalah umur, jenis ayam, dosis infeksi, tipe kandang, nutrisi, sistem
pemeliharaan dan cuaca (..., 2012).
Ascaridia galli merupakan cacing nematoda terbesar pada ayam yang berwarna putih,
berbentuk bulat, tidak berpigmen dan dilengkap dengan kutikula yang halus. Cacing jantan
memiliki panjang 50-76 mm, sedangkan cacing betina memiliki panjang 72-116 mm dengan
diameter 0,5-1,2 mm. Cacing ini memiliki 3 buah bibir yang besar dan menonjol, serta pada
bagian oesophagus tidak memiliki bulbus posterior. Cacing jantan menciri dengan memiliki
preanal sucker dan 2 buah spikulum pada bagian posteriornya. Kedua spikulum cacing jantan
ini memiliki panjang yang sama yaitu 1-2,4 mm. Vagina cacing betina terletak di bagian
tengah tubuh (..., 2012; Prastowo dan Priyowidodo, 2014; dan Permin dan Hansen, 1998).
Cacing jantan memiliki panjang 30-80 mm dan diameter 0,5-1,2 mm, sedangkan
cacing betina memiliki panjang 60-120 mm dan diameter 0,9-1,8 mm. Ascaridia galli jantan
memiliki preanal sucker dengan diameer sekitar 220 mikron dan mempunyai papila-papila
pada tepi tubuh bagian posterior (Levine, 1994).
Telur Ascaridia galli berbentuk oval dengan dinding sel tebal dan berukuran 77-94 x
43-55 µm (Prastowo dan Priyowidodo, 2014, dan Zajac dan Conboy, 2012). Telur Ascaridia
galli berbentuk oval, dengan ukuran 73-92 µm sampai 45-57 µm (..., 2012). Telur Ascaridia
galli memiliki ukuran 75-80 x 45-50 mikron (Levine, 1994). Telur Ascaridia galli berbentuk
oval dengan dinding sel tebal dan berukuran 73-92 x 45-57 µm (Permin dan Hansen, 1998).
Ascaridia galli mempunyai siklus hidup langsung dan tidak memerlukan hospes
intermedier (inang antara) (..., 2012; Prastowo dan Priyowidodo, 2014; Permin dan Hansen,
1998; dan Tabbu, 2002). Penularan terjadi melalui pakan, air minum, litter atau bahan lain
yang tercemar oleh feses yang mengandung telur infektif (..., 2012 dan Tabbu, 2002).
Siklus dimulai dengan cacing dewasa di usus halus ayam yang mengeluarkan telur
cacing bersama dengan feses. Di lingkungan, telur berkembang menjadi telur infektif (telur
berisi larva stadium 2) dalam waktu 10 hari atau lebih. Telur infektif ini sangat resisten
terhadap kondisi lingkungan yang jelek. Telur ini dapat bertahan hidup selama 3 bulan di
dalam tempat yang terlindung, tetapi dapat mati dengan segera terhadap kekeringan, air
panas, juga di dalam tanah yang kedalamannya sampai 15 cm. Infeksi terjadi jika telur
infektif ini kemudian termakan oleh ayam. Cacing tanah dapat bertindak sebagai hospes
paratenik (atau vektor mekanis (..., 2012)) dengan cara menelan telur infektif tersebut dan
kemudian cacing tanah tersebut dimakan oleh ayam (..., 2012; Prastowo dan Priyowidodo,
2014; Permin dan Hansen, 1998; dan Zajac dan Conboy, 2012).
Di dalam proventrikulus atau lumen usus halus ayam, telur akan menetas menjadi
larva stadium 3 (10 hari pasca infeksi (Prastowo dan Priyowidodo, 2014)). Larva-3 ini akan
hidup bebas di dalam lumen duodenum bagian posterior selama 8 hari, sebelum akhirnya
mengalami ekdisis menjadi larva stadium 4 dan masuk ke dalam mukosa usus (..., 2012;
Prastowo dan Priyowidodo, 2014; Permin dan Hansen, 1998;dan Tabbu, 2002). Hanya ada
beberapa larva yang masuk ke dalam dinding usus, tetapi kebanyakan tetap di dalam lumen.
Larva yang di dalam lumen juga tetap berkembang menjadi larva stadium 4 dan kemudian
menjadi larva sadium 5, seperti larva yang masuk ke dalam mukosa usus. Perkebangan larva
ini jauh lebih cepat daripada larva yang masuk ke dalam mukosa usus (Beriajaya dkk., 2006
dan Levine, 1994).
Masuknya larva-4 ke dalam mukosa usus ini menyebabkan terjadinya hemoragi. Di
mukosa usus, larva-4 mengalami ekdisis menjadi larva-5. Larva-5 atau yang disebut cacing
muda ini kemudian kembali ke dalam lumen usus pada hari ke-17 dan menetap hingga
menjadi dewasa dalam waktu 28-30 hari setelah unggas menelah telur infektif (6-8 minggu).
Larva-4 rata-rata menetap di dalam jaringan usus selama 8 hari, akan tetapi dapat sampai 17
hari (..., 2012; Prastowo dan Priyowidodo, 2014; dan Tabbu, 2002). Cacing dewasa dapat
dapat bermigrasi melewati lumen usus besar dan kloaka, yang kemudian berakhir di oviduct,
dimana mereka bisa bergabung ke dalam telur ayam (Permin dan Hansen, 1998).
Periode prepaten cacing Ascaridia galli antara 5-6 minggu pada ayam muda, dan
hingga 8 minggu pada ayam dewasa. Cacing ini, dapat hidup selama 1 tahun (Urquhart dkk.,
2004).
Ascaridiasis dapat menyebabkan penyakit serius pada ayam umur 3-4 minggu. Pada
ayam petelur, penyakit ini dapat menyebabkan produksi telur menurun dengan kuning telur
berwarna pucat (..., 2012; Prastowo dan Priyowidodo, 2014; Tabbu, 2002; dan Zajac dan
Conboy, 2012). Ayam juga tampak mengalami penurunan nafsu makan, sayapnya
menggantung dan bulunya tampak berantakan (Permin dan Hansen, 1998).

---------------------------------------------------------------------------------------------------
Pada kasus yang parah, biasanya karena invasi larva di dalam mukosa usus dalam
jumlah yang banyak, dapat menyebabkan enteritis yang bersifat kataralis, tetapi pada infeksi
berat dapat terjadi hemoragi (Urquhart dkk, 2004). Enteritis dan hemoragi ini dapat
menyebabkan ayam menjadi anemia, diare, kurus, kelemahan umum dan produksi telur
menurun. Cacing dewasa dalam jumlah banyak di dalam usus juga dapat menyebabkan
obstruksi usus dan perforasi usus, sehingga mengganggu proses penyerapan makanan. Ayam
yang terserang akan mengalami gangguan proses pencernaan dan penyerapan nutrisi sehingga
dapat menghambat pertumbuhan. Selain itu, ayam juga akan mengalami penurunan kadar
gula dalam darah, peningkatan asam urat, atrofi timus dan peningkatan mortalitas (..., 2012;
Prastowo dan Priyowidodo, 2014; Tabbu, 2002; dan Zajac dan Conboy, 2012).
Pengamatan histopatologi pada epitel usus tampak adanya kerusakan pada vili dan
atropi. Pada permukaan mukosa usus terjadi nekrosa sehingga menyebabkan kehilangan
kemampuan untuk menyerap makanan (..., 2012)
Ayam dengan umur 3 bulan atau lebih menunjukkan adanya resistensi terhadap
infeksi Ascaridia galli. Status nutrisi ayam juga mempengaruhi pembentukan kekebalan
terhadap cacing tersebut. Ayam yang diberi pakan dengan kadar vitamin A, B kompleks,
kalsium dan lisin yang tinggi akan meningkatkan resistensi terhadap Ascaridia galli (Tabbu,
2002).
Infeksi Ascaridia galli tidak mempunyai pengaruh terhadap kadar protein darah,
packed cell volume (PCV) atau kadar hemoglobin (Tabbu, 2002).
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Diagnosis dapat dilakukan dengan menemukan telur cacing Ascaridia galli dalam
pemeriksaan feses, tetapi karena ini sulit dibedakan dengan telur cacing Heterakis, maka
konfirmasi harus melalui pemeriksaan pasca mati dengan menemukan cacing Ascaridia galli
(Prastowo dan Priyowidodo, 2014 dan Urquhart dkk., 2004). Telur cacing ini sangat mirip
dengan telur cacing Heterakis gallinarum, namun telus cacing Ascaridia galli mempunyai
ukuran yang lebih besar daripada telur cacing Heterakis gallinarum (Prastowo dan
Priyowidodo, 2014). Pada fase prepaten, larva akan ditemukan pada isi usus dan pada
kerokan mukosa usus (Urquhart dkk., 2004).
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Terapi yang dapat digunakan untuk pengobatan penyakit ini antara lain adalah
Cambendazole (70 mg/kg, PO), Febantel (60 ppm melalui pakan selama 6 hari atau 15
mg/kg, po, selama 2 hari), Fenbendazole (60 ppm melalui pakan selama 3 hari), Flubendazole
(60 ppm melalui pakan selama 7 hari), Levamizole (30 mg/kg, po atau 300 ppm melalui
pakan), Piperazine (200-300 mg/kg, po) dan Pyrantel tartrate (10-40 mg/kg, po selama 2 hari)
(Prastowo dan Priyowidodo, 2014).
Pengobatan terhadap Ascaridia galli yang paling sering dilakukan adalah dengan
pemberian piperazine. Dosis pemberiannya 300-440 mg/kg pakan atau piperazine sitrat 440
mg/liter. Selain itu dapat digunakan juga hygromisin B dosis 8 g/ton selama 8 minggu,
albendazol dosis 3,75 mg/kg BB, atau fenbendazol dosis 15-20 mg/kg BB selama 3 hari
berturut-turut dapat digunakan untuk memberantas infestasi cacing pada ayam. Fenbendazole
juga dapat diberikan dengan dosis 30-60 ppm dalam pakan selama 6 hari berturut-turut.
Levamisol 37,5 mg/kg dalam air minum atau pakan juga dapat digunakan untuk pengobatan
terhadap Ascaridia galli (..., 2012 dan Beriajaya dkk., 2006). Selain itu, perlu juga dilakukan
pemberian vitamin A selama 5-7 hari untuk membantu kesembuhan mukosa usus yang rusak
akibat cacing tersebut (Tabbu, 2002).
Untuk mencegah berkembangnya telur cacing menjadi telur infektif dapat dilakukan
dengan melaksanakan manajemen litter yang baik, seperti membalik litter secara rutin dan
menjaga litter tetap kering (Prastowo dan Priyowidodo, 2014). Selain itu, sebaiknya unggas
muda dipisah dengan unggas dewasa, dan lingkungan tempat unggas dipelihara harus
mempunyai saluran air yang baik sehingga air tidak tergenang di tanah. Tempat pakan dan
minum juga harus sering dibersihkan (..., 2012).
----------------------------------------------------------------------------------------------------

Beriajaya, Martindah, E. Dan Nurhayati, I. S. 2006. Masalah Ascariasis pada Ayam


(Lokakarya Nasional Inovasi Teknologi dalam Mendukung Usaha Ternak Unggas
Berdaya Saing). Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.
Levine, N. D. 1994. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Edisi ke-2. Penerjemah: Ashadi,
G, judul buku asli: Textbook of Veterinary Parasitology. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta. Hal 249.
Permin, A. dan Hansen, J. G. 1998. Epidemiology, Diagnosis and Control of Poultry
Parasites. Food and Agriculturan Organization of The United Nation. Rome. Hal 25-
29.
Prastowo, J. dan Priyowidodo, D. 2014. Penyakit Parasit pada Ayam. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta. Hal 39-42.
Soulsby, E. J. L. 1982. Helminths, Anthropods and Protozoa of Domesticated Animals. Edisi
ke-7. Bailliere, Tindall. London.
Tabbu, C.R. 2002. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya: Volume 2 (Penyakit Asal
Parasit, Noninfeksius dan Etiologi Kompleks). Kanisius. Yogyakarta. Hal 151-155.
Urquhart, G.M., Armour, J., Duncan, J.L., Dunn, A.M. dan Jennings, F.W. 2004. Veterinary
Parasitology. Edisi ke-2. Blackwell Science. Scotland. Hal 75-76.
.... 2012. Manual Penyakit Unggas. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Jakarta. Hal 169-173.
Zajac, A. M. dan Conboy, G. A. 2012 Veterinary Clinical Parasitology. Edisi ke-8. Wiley-
Blackwell. UK. Hal 144-145.
Ascaridia merupakan cacing gilig yang mempunyai ukuran cacing dewasa 12-18 cm
dan ukuran telur 85 x 50 µm. Ascaridia galli dapat menyebabkan penurunan produksi telur,
penurunan penambahan berat badan, diare, emasiasi dan anemia pada infeksi berat.
Diagnnosis. Ditemukan telur cacing pada feses dan cacing dewasa pada usus halus
pada saat nekropsi.

[Foreyt, W.J. 2001. Veterinary Parasitologi: Reference Manual. Edisi ke-5. Iowa. Blackwell
Publishing. Hal 158.]

Identifikasi. Cacing memiliki ukuran besar, tebal dan berwarna putih-krem. Cacing
jantan memiliki panjang 8 cm, sedangkan yang betina sekitar 12 cm. Cacing ini memiliki 3
bibir berukuran besar. Telur cacing ini berbentuk oval dengan ukuran sekitar 85 x 50 µm dan
memiliki smooth-shelled. Periode prepaten cacing ini adalah 5-6 minggu pada ayam muda
dan 8 minggu pada ayam dewasa.
Cacing ini dapat mempengaruhi produksi telur dan penabahan berat badan, terutama
pada ayam broiler.
Siklus hidup. Telur dikeluarkan melalui feses dan larva infektif stadium 2 akan
terbentuk dalam 10-20 hari. Telur berlarrva yang teringesti menetas di dalam usus hospes,
larva memasuki mukosa usus, kembali memasuki lumen dari usus dan tumbuh dewasa dalam
6-8 minggu. Telur ini cukup resisten pada suhu rendah. Cacing tanah dapat menjadi hospes
pembawa untuk nematoda ini.
Transmisi. Ingesti telur yang mengandung larva infektif stadium 2
Gejala dan patogenitas
Ayam tampak unthrifty, lemah dan emasiasi, produksi telur menurun. Diare yang
disertai oleh anemia dan obstruksi usus pada kasus infeksi berat.
Diagnosa melalui penemuan telur cacing di feses atau penemuan cacing di dalam usus
saat nekropsi.
Kontrol. Manajemen merupakan hal yang penting dalam mengontrol nematoda ini.
Ayam muda harus dipisahkan dengan yang tua. Yards dan pens harus di rotasi dan
dikeringkan dengan baik. Litter dalam pens harus dijaga tetap kering. Droppings harus
dibersihkan dengan teratur. Piperazine sitrat dan tetramisole merupakan terapi yang sangat
efektif untuk dicampurkan dalam air atau pakan.

[Griffiths, H.J. 1978. A Handbook of Veterinary Parasitology – Domestic Animals of North


America. Minneapolis. University of Minnesota Press. Hal 46-47]