Anda di halaman 1dari 3

Nadhia Maharany Siara

135060601111003
ALPR Kelas B
Circles of Sustainability
Circles of sustainability adalah metode yang pertama kali dikembangkan melalui
kolaborasi antara kota-kota besar, UN Global Compact Cities Programme dan organisasi
lainnya. Circles of sustainability dapat didefinisikan sebagai sebuah pendekatan yang
mendukung kota, masyarakat dan organisasi untuk memahami dan bertindak berdasarkan isu-
isu yang relevan terhadap kehidupan sosial. Pendekatan ini menyarankan agar kehidupan sosial
harus dipahami secara menyeluruh (holistik). Circles of sustainability merupakan bagian dari
circles of social life project yang dibentuk oleh Paul James dan Liam Magee. Circle of Social
Life adalah sebuah pendekatan yang melibatkan keterlibatan dan kolaborasi untuk mewujudkan
kota, masyarakat dan organisasi menjadi lebih berkelanjutan, resilient, adaptable dan liveable.
Dasar pemikiran dari circles of sustainability dimulai pada agenda global (Rio+20 dan The UN
Habitat World Urban Forum di Napoli, 2012 and Medellin, 2014).
Circles of sustainability menawarkan cara untuk mencapai keberlanjutan dan ketahanan
dengan menggunakan indikator kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan ini menggunakan konsep
dan teknologi yang dibuat dalam bentuk kerangka dan digunakan untuk menyelidiki masalah
yang dihadapi masyarakat sehingga dapat diterapkan pada berbagai konteks. Pendekatan ini
dibuat untuk memperkuat program dari UN Global Compact Cities.
Prakarsa dari circles of sustainability dimulai dengan perkembangan dari alat yang
terintegrasi untuk menilai dan memantau isu keberlanjutan itu sediri sambil memberikan
pedoman untuk proyek pembangunan. Metode ini kemudian disempurnakan melalui proyek di
Melbourne, Porto Alegre dan Milwaukee dan melalui proyek lintas disiplin yang didanai oleh
ARC yang bekerja sama dengan Microsoft Australia, Fuji Xerox Australia dan Kota
Melbourne.
Circles of sustainabilitie sudah sukses diimplementasikan oleh pemerintah dan NGO
(LSM) di seluruh dunia. Metode ini telah digunakan oleh organisasi global termasuk UN
Global Compact Cities Programme, FIABCI, World Vision dan Save The Chidren. Circles of
sustainability juga digunakan untuk mengembangkan dan mempertimbangkan rencana
adapatasi perubahan iklim di Barcelona, Berlin, Lyon dan Liverpool.
Circles of Sustainability menyediakan alat untuk menciptakan kota dan masyarakat
yang berkelanjutan. Misalnya untuk menentukan indikator dan menganalisis hubungan di
antara keduanya (kota dan masyarakat), maka dibutuhkan sebuah proses terlebih dahulu, tidak
secara langsung menggunakan seperangkat indikator yang telah ditentukan sebelumnya.
Semakin kompleks masalah yang dihadapi sebuah kota maka alat penilaian circles of
sustainbability menjadi kurang maksimal penggunaannya

Gambar 1 Circle of Sustainability

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Circles_of_Sustainability
Circles of sustainability mempertimbangkan keberlanjutan pada empat aspek yakni
ekonomi, ekologi, politik dan budaya. Pada masing-masing aspek terdapat tujuh sub aspek
yang dapat dilihat di Gambar 1. Circles of sustainability menggunakan alat untuk menanggapi
empat pertanyaan kunci. Masing-masing pertanyaan dikaitkan dengan empat lingkaran terkait.
Penilaian sustainability terbagi atas sembilan kelas. Semakin hijau atau terisi penuh kotaknya
berarti semakin baik (vibrant) nilai sustainability sedangkan semakin merah atau semakin
sedikit isi kotaknya berarti semakin buruk (critical) nilai sustainability. Berikut merupakan
penjelasan mengenai masing-masing aspek pada Circles of Sustainability
1. Ekonomi
Aspek ekonomi didefinisikan sebagai praktek yang berkaitan dengan produksi,
penggunaan dan pengelolaan sumber daya. Konsep sumber daya yang dimaksud adalah
arti kata secara luas.
2. Ekologi
Ekologis didefinisikan sebagai praktik, wacana, dan materi yang terdapat di persilangan
antara sosial dan alam, khususnya keterlibatan manusia dengan alam, mulai dari
lingkungan sekitar hingga hutan belantara.
3. Politik
Aspek politik didefinisikan sebagai praktek yang berhubungan dengan isu-isu dari
aspek sosial yang terdiri atas organisasi, otoritas, legitimasi dan peraturan. Parameter
dari aspek ini tidak hanya sebatas dengan masalah tata kelola pemerintahan publik dan
swasta namun juga termasuk hubungan sosial pada umumnya.
4. Budaya
Aspek budaya didefinisikan sebagai praktek dan wacana yang mengungkapkan
kelestarian dan ketidak lestarian dari “makna sosial”. Secara singkat aspek budaya
adalah jawaban atas pertanyaan “Bagaimana dan mengapa kita melakukan suatu hal di
sini?”
Secara singkat maka circles of sustainability dapat membangun sebuah keberlanjutan
di semua aspek kehidupan social (ekologi, ekonomi, politik dan budaya)

Referensi
James, P. & Soguk, N. 2012. Annual Review Global Cities 2012. Melbourne: Global Cities
Research Institute.
James, P., Magee, L., Scerri, A.& Steger, M. 2015. Urban Sustainability In Theory and
Practice: Circles of Sustainability. New York: Routledge.
http://www.circlesofsustainability.org/
https://www.westernsydney.edu.au/ics/research/impact/circless_of_sustainability