Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM KETAHANAN PANGAN

“Analisis Ketahanan Pangan Rumah Tangga”

Oleh :
NIKMATUS SHOLIHAH
(170400381)

PROGRAM STUDI S1 ALIH JENJANG GIZI


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ALMA ATA
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pangan merupakan kebutuhan dasar bagi manusia, sehingga merupakan
hak asasi manusia untuk tidak mengalami kekurangan pangan. Oleh karena itu,
peningkatan ketahanan pangan merupakan prioritas utama dalam
pembangunan. Menurut Undang-Undang Nomor 7 tahun 1996 tentang pangan,
ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah
tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah
maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Dengan demikian, suatu
wilayah dikatakan berhasil dalam pembangunan ketahanan pangan jika adanya
peningkatan produksi pangan, distribusi pangan yang lancar serta konsumsi
pangan yang aman dan berkecukupan gizi pada seluruh masyarakat
(Rahmawati, 2012).
Tujuan akhir dari ketahanan pangan adalah meningkatnya kesejahteraan
manusia yang dapat dilihat dari terpenuhinya hak seseorang atas pangan.
Namun hal tersebut tidak mudah untuk diwujudkan, karena ternyata di wilayah
negara Indonesia masih banyak masyarakat yang tidak dapat memenuhi
kebutuhan pangannya. Hal ini mengakibatkan masih banyak masyarakat yang
belum terbebas dari kelaparan dan gizi kurang (Nurdiani, Ulfah dan Widjojoko
Tatang, 2016)
Ketersediaan pangan yang cukup secara nasional ternyata tidak
menjamin adanya ketahanan pangan tingkat regional maupun rumah
tangga/individu. Penentu ketahanan pangan di tingkat nasional, regional dan
lokal dapat dilihat dari tingkat produksi, permintaan, persediaan dan
perdagangan pangan. Sementara itu, penentu utama di tingkat rumah tangga
adalah akses (fisik dan ekonomi) terhadap pangan, ketersediaan pangan dan
risiko yang terkait dengan akses serta ketersediaan pangan tersebut. Semakin
besar pangsa pengeluaran pangan dalam suatu rumah tangga, semakin rendah
ketahanan pangannya.
Upaya memenuhi kebutuhan pangan melibatkan banyak pelaku yaitu
pemerintah, masyarakat dan sector swasta. Keterlibatan masyarakat dan swasta
sebagai mitra pemerintah mencerminkan adanya proses pembangunan yang
berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan merupakan proses proaktif yang
memungkinkan pemerintah dan mitranya untuk memanfaatkan sumber daya
yang ada berupa sumber daya ekonomi, fisik,maupun social dalam
mewujudkan pembangunan nasional yaitu ketahanan pangan sampai tingkat
rumah tangga (Baliwati, dkk. 2004).

B. Tujuan
1. Mengetahui pendapatan dan pengeluaran rumah tangga miskin dan tidak
miskin.
2. Mengetahui proporsi tingkat pengeluaran pangan rumah tangga miskin dan
tidak miskin.
3. Mengetahui rata-rata konsumsi energi dan protein rumah tangga miskin dan
tidak miskin.
4. Menganalisa derajat ketahanan pangan di tingkat rumah tangga.
5. Mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat ketahanan
pangan rumah tangga.
BAB II
ISI

A. Gambaran Lokasi Penelitian


Pengambilan sampel dalam praktikum analisis ketahanan pangan rumah
tangga dilakukan di Perdukuhan Ngrame, Desa Tamantirto, Kecamatan
Kasihan, Kabupaten Bantul dan Provinsi Daerah Istemewa Yokyakarta.
Luas Desa Tamantirto sebesar 672 Ha, dengan batas wilayah sebagai
berikut :
1. Sebelah Utara adalah Desa Ambarketawang, Kecamatan Gamping,
Kabupaten Sleman.
2. Sebelah Selatan yaitu Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan.
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Ambarketawang dan Desa
Bangunjiwo.
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Sungai Bedhog, Desa Ngestiharjo,
Desa Tirtonirmolo
Perdukuhan Ngrame merupakan salah satu Perdukuhan dari 10
perdukuhan yang ada di Desa Tamantirto. Luas wilayah Perdukuhan Ngrame
adalah 80,750 Ha. Perdukuhan Ngrame terbagi menjadi 6 RT yang dihuni oleh
sekitar 514 kepala keluarga yang kurang lebih jumlah penduduknya sebanyak
2.557 jiwa.

B. Karakteristik Sampel
Karakteristik sampel merupakan gambaran secara umum tentang
keadaan sampel. Penelitian ini diambil dua keluarga berbeda, satu keluarga
yang tergolong miskin dan satu keluarga yang tergolong tidak miskin untuk
dilakukan analisa tingkat ketahanan pangannya. Karakteristik sampel meliputi
data-data yang mencakup identitas responden dan jumlah anggota keluarga
responden. Data-data tersebut meliputi nama, jenis kelamin, umur, tingkat
pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anggota keluarga.
Karakteristik dan jumlah anggota rumah tangga keluarga dapat dilihat
pada tabel dibawah ini :

Tabel 1. Karakteristik Rumah Tangga Keluarga Tidak Miskin (Bp. S)


No. Anggota Jenis Kelamin Tingkat
Umur Pekerjaan
Keluarga Pendidikan
1. Ayah Laki-laki 31 thn SMP Pedagang
2. Ibu Perempuan 31 thn SMP Pedagang

Tabel 2. Karakteristik Rumah Tangga Keluarga Miskin (Bp. M)


No. Anggota Jenis Tingkat
Umur Pekerjaan
Keluarga Kelamin Pendidikan
1. Ayah Laki-laki 39 thn SMA Buruh
2. Ibu Perempuan 36 thn SMA IRT
3. Anak pertama Perempuan 10 thn SD Pelajar
4. Anak kedua Laki-laki 18 bulan Belum sekolah

Berdasarkan data karakteristik sampel menunjukkan bahwa umur rata-


rata sampel tergolong muda dan tergolong umur produktif (15-64 tahun)
sehingga dapat mengerjakan pekerjaan dengan maksimal untuk mencukupi
kebutuhan rumah tangganya. Tingkat umur berpengaruh terhadap
produktivitas seseorang. Semakin bertambahnya umur, maka produktivitas
seseorang akan meningkat namun akan kembali mengalami penurunan setelah
melewati umur produktif.
Jumlah anggota keluarga antara keluarga tersebut juga berbeda. Pada
keluarga tidak miskin, jumlah anggota keluarga hanya dua saja yaitu sebagai
suami dan anak karena belum memiliki keturunan. Sedangkan pada keluarga
tidak miskin jumlah anggota keluarga adalah 4 orang yang terdiri dari suami,
istri dan 2 orang anak. Jumlah tanggungan dalam keluarga merupakan
karakteristik yang berhubungan dalam peningkatan pendapatan, termasuk
pengeluaran dan konsumsi pangan rumah tangga, semakin banyak anggota
rumah tangga maka akan membutuhkan biaya yang lebih besar sehingga
pengeluaran dan konsumsi juga semakin besar.
Tingkat pendidikan berpengaruh pada konsumsi rumah tangga. Ibu
rumah tangga berperan dalam hal pengambilan keputusan konsumsi pangan.
Penyajian bahan makanan untuk seluruh anggota rumah tangga menjadi tugas
pokok ibu rumah tangga. Oleh karena itu, semakin tinggi tingkat pendidikan
ibu rumah tangga, maka akan semakin tinggi pula kemampuan dalam hal
pengambilan keputusan konsumsi rumah tangga terutama untuk memenuhi
kebutuhan gizi seluruh anggota keluarga. Menurut Sediaoetama (2002)
Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu maka semakin baik pengetahuan gizi
dan semakin diperhitungkan jenis serta jumlah makanan yang dipilih untuk
dikonsumsi
Pada sampel keluarga tidak miskin pendidikan ibu dan ayah hanya
sampai tingkat SMP saja sedangkan pada keluarga miskin tingkat pendidikan
ibu dan ayah pada tingkat SMA yang lebih baik dari keluarga tidak miskin.
Hasil penelitian Arida Agustia, Sofyan, dan Fadhiella Keumala (2015)
membuktikan bahwa pendidikan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
pola pikir dan pengetahuan ibu rumah tangga terhadap gizi makanan yang
dikonsumsi. Sehingga tingkat pendidikan masing-masing keluarga tersebut
belum tentu akan menggambarkan pola dan pengetahuan dalam mengelola
pangan

C. Hasil dan Pembahasan


1. Pendapatan Rumah Tangga
Pendapatan rumah tangga merupakan sejumlah uang yang diperoleh
oleh masing-masing anggota rumah tangga dari pekerjaaan yang dilakukan
dalam satu bulan. Pendapatan keluarga merupakan seluruh jumlah
pendapatan yang diperoleh keluarga (Kepala keluarga, ibu dan anggota
lainnya) baik pendapatan tetap, atau sampingan yang di bagi dengan jumlah
keluarga dalam satuan rupiah per kapita. (Ernawati, 2006)
Jumlah pendapatan masing-masing keluarga dapat dilihat pada tabel
di bawah ini :
Tabel 3. Pendapatan per Bulan Keluarga Tidak Miskin (Bp. S)
No Sumber Pendapatan Pendapatan (Rp/Bulan)
1 Ayah 12.000.000
2 Ibu
Jumlah 12.000.000

Tabel 4. Pendapatan per Bulan Keluarga Miskin (Bp. M)


No Sumber Pendapatan Pendapatan (Rp/Bulan)
1 Ayah 2.000.000
2 Ibu 500.000
Jumlah 2.500.000

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa pendapatan rata-rata


untuk keluarga tidak miskin sebesar Rp 12.000.000,- sedangkan untuk rata-
rata pendapatan keluarga miskin per bulannya sebesar Rp 1.572.000,-. Sumber
pendapatan rumah tangga responden berasal dari pendapatan ayah dan ibu
dalam keluarga tersebut dan juga hasil dari berdagang makanan ringan di
rumah.
Pendapatan menjadi faktor penting dalam menentukan pengeluaran
rumah tangga, termasuk pola konsumsi pangan keluarga. Rumah tangga
dengan pendapatan rendah lebih mementingkan pemenuhan pangan secara
kuantitas dan belum atau kurang mementingkan gizi yang terkandung dalam
pangan. Sebaliknya rumah tangga dengan pendapatan tinggi tidak hanya dari
segi kuantitas, tetapi sudah mementingkan dari segi kualitas pangannya.
Teori konsumsi Keynes dalam bukunya yang berjudul The General
Theory of Employment, Interest and Money menjelaskan adanya hubungan
antara pendapatan yang diterima saat ini (pendapatan disposable) dengan
konsumsi yang dilakukan saat ini juga. Dengan kata lain pendapatan yang
dimiliki dalam suatu waktu tertentu akan mempengaruhi konsumsi yang
dilakukan oleh manusia dalam waktu itu juga. Apabila pendapatan
meningkat maka konsumsi yang dilakukan juga akan meningkat, begitu
pula sebaliknya (Pujoharso, 2013).
Perbedaan tingkat pendapatan akan mengakibatkan perbedaan pola
distribusi pendapatan termasuk pola konsumsi rumah tangga. Dalam
kondisi terbatas (pendapatan kecil), maka seseorang akan mendahulukan
pemenuhan kebutuhan makanan dan sebagian besar pendapatan tersebut
dibelanjakan untuk konsumsi makanan. Semakin rendah pangsa
pengeluaran pangan, berarti tingkat kesejahteraan masyarakat semakin baik
(Ariani et al., 2007).
Pada tingkat rumah tangga, perkembangan tingkat konsumsi pangan
juga merefleksikan tingkat pendapatan atau daya beli rumah tangga.
Peningkatan pendapatan akan mengakibatkan individu cenderung
meningkatkan kualiatas konsumsi pangannya dengan harga yang lebih
mahal. Apabila pendapatan meningkat, pola konsumsi pangan akan lebih
beragam sehingga konsumsi pangan yang lebih bernilai gizi tinggi juga
akan ikut meningkat (Yudaningrum, 2011).

2. Pengeluaran Rumah Tangga


Pengeluaran rumah tangga adalah sejumlah uang yang dikeluarkan
untuk dikonsumsi dan kebutuhan semua anggota rumah tangga.
Pengeluaran rumah tangga terdiri dari pengeluaran untuk pangan dan non
pangan. Jumlah pengeluaran masing-masing keluarga dapat dilihat pada
tabel dibawah ini :
Tabel 5. Pengeluaran Rata-Rata Rumah Tangga Keluarga Tidak Miskin
& Keluarga Miskin
Pengeluaran (Rp)
Keluarga
Pangan Non Pangan Pengeluaran Total
Tidak Miskin 2.825.000 1.983.000 4.808.000
Miskin 1.220.000 633.000 1.853.000

Pengeluaran pangan meliputi makanan pokok, sayuran, lauk pauk,


buah-buahan dan lain-lain seperti pada lembar kuesioner pengeluaran
pangan keluarga yang terlampir. Dapat dilihat bahwa pengeluaran untuk
bahan pangan yang dibeli digolongkan menjadi tiga macam yaitu
pengeluaran harian, mingguan dan bulanan. Dapat diartikan bahwa ada
bahan makanan atau pangan yang dibeli setiap hari, mingguan dan
bulanan.
Pengeluaran non-pangan digunakan untuk keperluan sehari-hari
selain kebutuhan pangan, seperti transportasi, listrik, gas, air dan lain-lain
seperti pada lembar kuesioner pengeluaran non-pangan keluarga yang
terlampir pada lampiran. Disamping pengeluaran pangan dan non pangan,
sisa dari pendapatan per bulan disimpan sebagai tabungan. Dapat dilihat
pada tabel diatas bahwa pada keluarga tidak miskin dengan penghasilan
Rp 12.000.000,- dan dengan pengeluaran total Rp 4.808.000,- mempunyai
tabungan sejumlah Rp 7.192.000,-. Sedangkan untuk keluarga miskin
dengan penghasilan Rp 2.500.000,- dan pengeluaran total sebesar Rp
1.853.000,- mempunyai tabungan sejumlah Rp 647.000,-.
Untuk mengetahui proporsi pengeluaran pangan terhadap
pengeluaran total rumah tangga dapat dihitung dengan rumus berikut :
𝑃𝑃
PF = x 100%
𝑇𝑃
Dimana :
PF : Proporsi pengeluaran pangan (%)
PP : Pengeluaran pangan (Rp)
TP : Total pengeluaran (Rp)

Hasil perhitungan proporsi pengeluaran pangan antara keluarga


tidak miskin dan keluarga miskin, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 6. Proporsi Pengeluaran Pangan Keluarga Tidak Miskin
Pengeluaran Jumlah (Rp/Bln) Proporsi (%)
Pengeluaran Pangan 2.885.000 58,8%
Pengeluaran Non Pangan 1.983.000 41,2%
Pengeluaran Total 4.808.000 100%

Tabel 7. Proporsi Pengeluaran Pangan Keluarga Miskin


Pengeluaran Jumlah (Rp/Bln) Proporsi (%)
Pengeluaran Pangan 1.220.000 65,83%
Pengeluaran Non Pangan 633.000 34,16%
Pengeluaran Total 1.853.000 100%
Berdasarkan hasil perhitungan PF (Proporsi Pengeluaran Pangan)
pada tabel diatas dapat dilihat bahwa proporsi pengeluaran keluarga tidak
miskin sebesar 58,8%, sedangkan keluarga miskin sebesar 65,83%.
Semakin rendah persentase pengeluaran untuk makanan terhadap total
pengeluaran, maka semakin baik tingkat perekonomian rumah tangga
tersebut.

3. Konsumsi Energi dan Protein Rumah Tangga


Konsumsi pangan merupakan sejumlah makanan dan minuman yang
dimakan/diminum penduduk/seseorang dalam rangka memenuhi
kebutuhan fisiknya. Konsumsi pangan dihitung dari makanan/minuman
yang dimakan setiap anggota rumah tangga tanpa memperhitungkan asal
makanan tersebut (masak sendiri atau membeli). Konsumsi pangan yang
dinilai adalah konsumsi energi dan protein. Konsumsi energi adalah
sejumlah energi pangan yang dikonsumsi per orang per hari yang
dinyatakan dalam kkal/orang/hari dan Konsumsi protein adalah sejumlah
protein pangan yang dikonsumsi per orang per hari yang dinyatakan dalam
kkal/orang/hari
Konsumsi protein dan energi rumah tangga dapat diperoleh dari
perhitungan nilai gizi dari bahan makanan yang dikonsumsi, mulai dari
Ukuran Rumah Tangga (URT) maupun Bagian makanan yang Dapat
Dimakan (BDD). Analisis kandungan gizi tersebut dapat menggunakan
Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM) yang terdiri dari susunan
kandungan energi, protein, lemak, karbohidrat dan lain-lain. Berdasarkan
Depertemen Kesehatan RI Tahun 1990 klasifikasi tingkat konsumsi dibagi
menjadi 4, yaitu :
1) Baik : TKG ≥ 100% AKG
2) Sedang : TKG 80-99% AKG
3) Kurang : TKG 70-80% AKG
4) Defisit : TKG < 70% AKG
Hasil perhitungan konsumsi energi dan protein rumah tangga dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 8. Konsumsi Energi Dan Protein Rumah Tangga
Keluarga Tidak Miskin Keluarga Miskin
Total Total Total Total
Anggota keluarga Energi protein Anggota keluarga Energi Protein
(kkal) (g) (kkal) (g)
Ayah Ayah 2192,5 60,33
2454,9 67,55
Ibu Ibu 1784,95 48,4
1810,9 53,55
Anak 1 1396,25 58,9
Anak 2 957,65 38,6
Rata-rata ∑ Energi Rata-rata ∑ Energi
2132,9 60,55 1582,8 51,5
& Protein & Protein

Sedangkan untuk melihat hasil rata-rata konsumsi energi dan


protein rumah tangga dibandingkan dengan AKG yang dianjurkan seperti
perhitungan menggunakan rumus dibawah ini :

Tingkat Konsumsi Protein :


∑ Konsumsi Energi ∑ Konsumsi Protein
TKE = x 100% TKP = x 100%
AKE yang dianjurkan AKP yang dianjurkan

Keterangan :
TKE : Tingkat Konsumsi Energi (%)
TKP : Tingkat Konsumsi Protein (%)
∑ Konsumsi Energi : Jumlah konsumsi energi (kkal/kapita/hari)
∑ Konsumsi Protein: Jumlah konsumsi protein (kkal/kapita/hari)

Tabel 9. Rata-Rata Konsumsi Energi Dan Protein Rumah Tangga


∑ ∑
AKE yang AKP yang
Rumah Konsumsi Konsumsi TKP
dianjurkan TKE (%) dianjurkan
Tangga Energi Protein (%)
(kkal) (kkal)
(kkal) (kkal)
Tidak miskin 2132,9 2387,5 90% 60,55 61 99,1%
Miskin 1582,8 1975 80% 51,5 52 99%

Masing-masing rumah tangga memiliki AKG yang berbeda


tergantung umur dan jenis kelamin. Perbedaan ini dikarenakan masing-
masing anggota keluarga mempunyai pemenuhan gizi yang berbeda pula.
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa besarnya rata-rata konsumsi
energi keluarga tidak miskin adalah 2132,9 kkal/orang/hari dan konsumsi
protein adalah 60,5 gram/orang/hari. Sedangkan untuk rata-rata konsumsi
energi keluarga miskin adalah 1582,8 kkal/orang/hari dan konsumsi protein
adalah 52 gram/orang/hari.
Besarnya rata-rata konsumsi energi pada kelurga miskin hanya 80%
dari AKE yang dianjurkan, sedangkan AKE yang dianjurkan yaitu 1975
kkal/orang/hari. Pada keluarga tidak miskin rata-rata konsumsi energi sudah
memenuhi AKE yang dianjurkan yaitu 90%. Sedangkan untuk rata-rata
konsumsi protein, masing-masing rumah tangga sudah memenuhi standar
AKP yaitu dengan rata-rata lebih dari 90%.
Tingkat konsumsi energi (TKE) dan tingkat konsumsi protein (TKP)
diperoleh dari perbandingan antara jumlah konsumsi energi dan protein
rumah tangga dengan angka kecukupan gizi (AKG) yang dianjurkan
berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin yang dinyatakan dalam
persen. Berdasarkan klasifikasi TKG apabila dilihat dari tingkat kecukupan
gizinya dapat disimpulkan bahwa kedua rumah tangga untuk tingkat
konsumsi energi (TKE) termasuk dalam kategori sedang, sedangkan tingkat
konsumsi protein (TKP) termasuk dalam kategori baik.
Pemenuhan gizi yang diperoleh dari pangan yang dikonsumsi, akan
menentukan tingkat konsumsi. Semakin tinggi nilai gizi pangan berupa
energi yang dikonsumsi, maka tingkat konsumsi energi juga akan
meningkat. Demikian juga halnya pada konsumsi protein. Tercukupinya
kebutuhan pangan dapat diindikasi dari pemenuhan kebutuhan energi dan
protein (Adriani &Wirtjatmadi, 2012).
Kondisi negara yang memiliki ketahanan yang terjamin tidak selalu
mencerminkan ketahanan pangan rumah tangga. Ketahanan pangan rumah
tangga justru menjadi indikator terbentuknya ketahanan pangan daerah baik
di wilayah atau regional. Sedangkan pengeluaran pangan (pangan dan non
pangan) rumah tangga merupakan salah satu indikator ketahanan pangan
rumah tangga (Pakpahan, 1993). Semakin besar pangsa pengeluaran pangan
suatu rumah tanga maka akan semakin rendah ketahanan pangan rumah
tangga tersebut. Ketahanan pangan rumah tangga juga dapat dilihat dari
indikator kecukupan gizi. Zat gizi yang hingga kini digunakan sebagai
indikator ketahanan pangan adalah tingkat kecukupan gizi makro yaitu
energi dan protein.

4. Ketahanan Pangan Rumah Tangga


Ketahanan pangan dapat diketahui dari ketersediaan, distribusi dan
konsumsi masyarakat terhadap pangan. Pada praktikum ini ketahanan
pangan dilihat dari segi konsumsi pangan dan hubungannya dengan proporsi
pengeluaran pangan. Proporsi pengeluaran pangan dan tingkat konsumsi
energi merupakan komponen untuk menentukan ketahanan pangan rumah
tangga.
Menurut Jonsson and Tole (1991) terdapat empat tingkatan
ketahanan pangan, yaitu : (1) rumah tangga tahan pangan, (2) rumah tangga
rentan pangan, (3) rumah tangga kurang pangan, dan (4) rumah tangga
rawan pangan.
Tabel 12. Empat Tingkatan Ketahanan Pangan
Tingkat Pengeluaran Pangan
Konsumsi Energi Rumah Rendah Tinggi
Tangga (≤ 60% Pengeluaran (> 60% Pengeluaran
Total) Total)
Cukup
Tahan Pangan Rentan Pangan
(>80% kecukupan energi)
Kurang
Kurang Pangan Rawan Pangan
(≤ 80% kecukupan energi)
Sumber : Jonsson and Tole, 1991

Hasil analisis ketahanan pangan rumah tangga berdasarkan teori


Jonsson dan Tole (1991) dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 11. Analisis Ketahanan Pangan Rumah Tangga
Pendapatan
Proporsi Tingkat Kategori
Rumah Rumah
Pengeluaran Konsumsi Ketahanan
Tangga Tangga
Pangan (%) Energi (%) Pangan
(Rp/Bln)
Tidak Miskin 12.000.000 58,8% 89,3% Tahan Pangan
Miskin 2.500.000 65,8% 80% Rentan Pangan
Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa responden
keluarga tidak miskin termasuk kategori tahan pangan, sedangkan untuk
responden miskin termasuk kategori rentan pangan. Penggolongan kategori
tersebut sesuai dengan penelitian Jonsson dan Toole (1991), yang
menggunakan indikator-indikator proporsi pengeluaran pangan dan
kecukupan konsumsi energi untuk mengukur derajat ketahanan pangan
rumah tangga. Tingkat kecukupan gizi dapat digunakan sebagi indikator
untuk menunjukkan tingkat kesejahteraan penduduk yang dihitung
berdasarkan banyaknya kalori dan protein yang dikonsumsi (BPS, 2014).
BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan praktikum analisis ketahanan pangan rumah tangga yang telah


dilakukan, dapat ditarik kesimpulan berikut ini :
1. Besar pendapatan rumah tangga keluarga tidak miskin adalah Rp 12.000.000,
sedangkan untuk keluarga miskin Rp 2.500.000 dan besar pengeluaran rumah
tangga keluarga tidak miskin Rp 4.808.000, sedangkan untuk kelurga miskin Rp
1.853.000.
2. Proporsi pengeluaran pangan rumah tangga keluarga tidak miskin sebesar 58,8%
yang termasuk dalam kategori rendah. Sedangkan untuk keluarga miskin sebesar
65,83% yang termasuk dalam kategori tinggi.
3. Rata-rata konsumsi energi keluarga tidak miskin adalah 90%, sedangkan untuk
keluarga miskin sebesar 80%. Rata-rata konsumsi protein pada keluarga tidak
miskin dan miskin adalah di atas 90%
4. Derajat ketahanan pangan pada keluarga tidak miskin termasuk dalam tahan
pangan, sedangkan pada keluarga tidak miskin termasuk dalam rawan pangan.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan pangan rumah tangga adalah
pendapatan, jumlah anggota keluarga, tingkat kecukupan konsumsi energi, dan
proporsi tingkat pengeluaran pangan rumah tangga tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad Djaeni Sediaoetama. 2000. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa Dan Profesi. edisi
keempat. Jakarta: Dian Rakyat.
Adriani, Merryana dan Wirjatmadi, Bambang. 2012. Pengantar Gizi Masyarakat.
Kencana. Jakarta
Ariani, et al. 2007. Kinerja dan Prospek Pemberdayaan Rumah Tangga Rawan
Pangan Dalam Era Desentralisasi. Kerjasama Penelitian Biro Perencanaan,
Departemen Pertanian, dan Agrisep Vol (16) No. 1 , 2015 34 UNESCAP-
CAPSA, Bogor. Departemen Pertanian . 2004. Kinerja Sektor Pertanian
Tahun 2000-2003. Jakarta
Arida Agustia, Sofyan, dan Fadhiella Keumala. 2015. Analisis Ketahanan Pangan
Rumah Tangga Berdasarkan Proporsi Pengeluaran Pangan Dan Konsumsi
Energi (Studi Kasus Pada Rumah Tangga Petani Peserta Program Desa
Mandiri Pangan di Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar). Jurnal
Agrisep Vol (16) No. 1 , 2015. Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
Baliwati,Y. F, dkk. 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta: Penebar Swadaya
Ernawati, A. 2006. Hubungan Faktor Sosial Ekonomi, Higiene Sanitasi
Lingkungan, Tingkat Konsumsi dan Infeksi dengan Status Gizi Anak Usia
2-5 Tahun di Kabupaten Semarang Tahun 2003. Tesis. Program
pascasarjana, Universitas Diponegoro : Semarang
Nurdiani, Ulfah dan Widjojoko Tatang, 2016. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Ketahanan Pangan Rumah Tangga Miskin Di Wilayah Perkotaan
Kabupaten Banyumas. Jurnal Agrin Vol. 20, No. 2, Oktober 2016 ISSN:
1410-0029. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Jenderal Soedirman
Pakpahan, A.H. Saliem. 1993. Ketahanan Pangan Masyarakat Berpendapatan
Rendah. Monograph Series No. 14. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi
Pertanian. Bogor
Pujoharso, Cahyo. 2013. Aplikasi Teori Konsumsi Keynes Terhadap Pola
Konsumsi Makan Masyarakat Indonesia. Artikel Ilmiah. Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. Malang
Rahmawati, Emy. 2012. Aspek Distribusi pada Ketahanan Pangan Masyarakat di
Kabupaten Tapin. Jurnal Agribisnis Pedesaan. Jurusan Sosial Ekonomi
Pertanian Lambung Mangkurat. Banjar Baru. Vol.2 No.3 Hal 241-251.
Yudaningrum, Agnes. 2011. Analisis Hubungan Proporsi Pengeluaran dan
Konsumsi Pangan Dengan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani di
Kabupaten Kulon Progo. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas
Maret. Surakarta.
LAMPIRAN

1. Pengeluaran Rumah Tangga


Kuesioner Pengeluaran Pangan 1 bulan Keluarga Tidak Miskin Bp. S
Jumlah Satuan Pengeluaran
No Jenis Harian Mingguan Bulanan Jumlah
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
I Pangan Pokok :
Beras 150.000 150.000
Jagung
Singkong
Ubi jalar
II Lauk Pauk :
Tempe/Tahu 8.000 32.000
Ikan Kering
Ikan segar 30.000 (1x/mg) 120.000
Telur 40.000 40.000
Daging Ayam 28.000 (4x/mg) 448.000
Daging sapi 110.000 110.000
Bakso daging
Susu 14.000 56.000 56.000
III Sayuran :
Sawi 2.500 (5x/bln) 12.500
Kool Putih (Kubis) 7.000 (5x/bln) 35.000
Buncis 3.000 (4x/bln) 12.000
Kacang Panjang
Kentang 8.000 (2x/bln) 16.000
Terong 5.000 (2x/bln) 10.000
Kangkung 2.500 (3x/bln) 7.500
Nangka muda 5.000 (3x/bln) 15.000
Bayam 2.000 (1x/bln) 2.000
Wortel 4.000 (5x/bln) 20.000
IV Kacang-kacangan :
Kacang merah (koro)
Kacang kedelai
kacang tanah 8.000 8.000
kacang hijau 12.000 12.000
V Buah-buahan :
Jeruk 15.000 (5x/bln) 75.000
Pisang 15.000 (2x/bln) 30.000
Apel 22.000 (2x/bln) 44.000
Jumlah Satuan Pengeluaran
No Jenis Harian Mingguan Bulanan Jumlah
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
Semangka 20.000 (5x/bln) 100.000
Pear 25.000 (2x/bln) 50.000
Melon 20.000 (3x/bln) 60.000
Buah naga 15.000 (2x/bln) 30.000
Alpukat 10.000 (2x/bln) 20.000
VI Lain-lain :
Gula 64.000 64.000
Minyak Goreng 14.000 56.000
Bumbu 200.000 200.000
Kue/Roti 10.000 300.000
Nasi bungkus 20.000 600.000
Air galon 60.000 60.000
Mie 30.000 30.000
Teh 10.000 10.000
Madu 50.000 50.000
TOTAL 2.885.000
Rata-rata pengeluaran pangan keluarga per bulan Rp 2.885.000,-

Kuesioner Pengeluaran Non Pangan Selama 1 bulan Keluarga Tidak Miskin


Bp. S
Jumlah Satuan Pengeluaran
No Jenis Harian Mingguan Bulanan Jumlah
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1. Listrik 200.000 200.000
2. Air PDAM 29.000 29.000
3. Bensin 300.000 300.000
4. Solar 400.000 400.000
5. LPG 20.000 20.000
7. Keperluan mandi 350.000 200.000
8. Tabungan/arisan 10.000 30.000 330.000
9. BPJS 104.000 104.000
10. Perawatan kendaraan 250.000 150.000
TOTAL 1.733.000
Rata-rata pengeluaran non pangan keluarga per bulan Rp 1.733.000,-
Kuesioner Pengeluaran Pangan 1 bulan Keluarga Miskin Bp. M
Jumlah Satuan Pengeluaran
No Jenis Harian Mingguan Bulanan Jumlah
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
I Pangan Pokok :
Beras 50.000 200.000
Jagung 5.000 5.000
Singkong
Ubi jalar
Mie instan/bihun 5.000 20.000
II Lauk Pauk :
Tempe/Tahu 8.000 32.000
Ikan Kering 7.000 7.000
Ikan pindang 10.000 40.000
Telur 40.000 40.000
Daging Ayam 18.000 72.000
Bakso daging 5.000 20.000
Susu
III Sayuran :
Sawi 2.500 (5x/bln) 7.500
Kool Putih (Kubis) 3.000 (5x/bln) 15.000
Buncis 3.000 (5x/bln) 15.000
Kacang Panjang
Terong 5.000 (4x/bln) 20.000
Bayam 3.000 (4x/bln) 12.000
Labu siam 3.000 (2x/bln) 6.000
Wortel 5.000 (4x/bln) 20.000
Daun singkong 2.500 (1x/bln) 2.500
Namgka muda 5.000 (3x/bln) 15.000
IV Kacang-kacangan :
Kacang merah (koro) 3.000 (2x/bln) 6.000
Kacang kedelai
kacang tanah 8.000 8.000
kacang hijau
V Buah-buahan :
Jeruk 10.000 (2x/mg) 80.000
Pisang 10.000 (2x/bln) 20.000
Pepaya
Apel
Semangka 25.000 (1x/bln) 25.000
Jumlah Satuan Pengeluaran
No Jenis Harian Mingguan Bulanan Jumlah
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
VI Lain-lain :
Gula 48.000 48.000
Minyak Goreng 28.000 28.000
Bumbu 150.000 150.000
Makanan Jajanan 5.000 150.000
Kue/Roti 50.000 50.000
Minuman 48.000 48.000
Mie
Kerupuk 12.000 48.000
Teh 10.000 10.000
TOTAL 1.220.000
Rata-rata pengeluaran pangan keluarga per bulan Rp 1.220.000,-

Kuesioner Pengeluaran Non Pangan Selama 1 bulan Keluarga Miskin Bp. M


Jumlah Satuan Pengeluaran
No Jenis Harian Mingguan Bulanan Jumlah
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
1. Listrik 98.000 98.000
2. Air PDAM - -
3. Bensin 200.000 200.000
4. Solar - -
5. LPG 20.000 80.000
7. Keperluan mandi 100.000 100.000
8. Tabungan/arisan 10.000 78.000 88.000
9. BPJS - -
10. Perawatan kendaraan - -
11. Pampers 67.000
TOTAL 633.000
Rata-rata pengeluaran non pangan keluarga per bulan Rp 633.000,-
2. Hasil Recall 24 Jam
a. Keluarga Tidak Miskin
FORMULIR RECALL 24 JAM (Bp. S)
WAKTU BAHAN Berat Energi Protein(
MENU
MAKAN MAKANAN (gr) (kkal) gr)
nasi 200 360 6
ayam goreng ayam 50 149 9,1
tepung tepung 5 16,65 0,45
Pagi
minyak goreng 5 44,2 0
tempe 25 50,25 5,2
orek tempe
minyak goreng 5 44,2 0
kecap 5
bihun 10 34,8 0,4
oseng bihun
wortel 10 9 0,1
minyak goreng 5 44,2 0
teh hangat gula 20 78,8 0
Siang Buah semangka 75 28 0,5
roti goreng 100 284 8
Nasi 300 540 9
nila goreng nila 150 84,75 12,75
Sore minyak goreng 10 88,4 0
Sambal
mangga 50 23 0,3
jus mangga susu kental
manis 10 34,3 0,8
gula 20 78,8 0

mie kuning 75 254,25 7,5


Malam mie ayam
ayam 25 74,5 4,55
bakso 20 89,6 2,9
minyak goreng 5 44,2 0

TOTAL 2454,9 67,55


FORMULIR RECALL 24 JAM (Ny. R)
WAKTU BAHAN Berat Energi Protein
MENU
MAKAN MAKANAN (gr) (kkal) (gr)
nasi 100 180 3
ayam goreng ayam 50 149 9,1
tepung tepung 5 16,65 0,45
Pagi
minyak goreng 5 44,2 0
tempe 25 50,25 5,2
orek tempe
minyak goreng 5 44,2 0
kecap 5
bihun 10 34,8 0,4
oseng bihun
wortel 10 9 0,1
minyak goreng 5 44,2 0
teh anget gula 20 78,8 0

Siang buah semangka 75 28 0,5

nasi 200 360 6


nila goreng nila 150 84,75 12,75
Sore minyak goreng 10 88,4 0
sambal
mangga 50 23 0,3
jus mangga susu kental
manis 10 34,3 0,8
gula 20 78,8 0

mie kuning 75 254,25 7,5


Malam mie ayam
ayam 25 74,5 4,55
bakso 20 89,6 2,9
minyak goreng 5 44,2 0

TOTAL 1810,9 53,55


b. Keluarga Miskin
FORMULIR RECALL 24 JAM (Bp. M)
WAKTU BAHAN Berat Energi Protein
MENU
MAKAN MAKANAN (gr) (kkal) (gr)
nasi 200 360 6
telur ceplok telur 50 77 6,2
minyak goreng 5 44,2 0
tempe goreng tempe 25 50,25 5,2
minyak goreng 5 44,2 0
Pagi
oseng sawi sawi 10 9,2 0,4
wortel 10 9 0,1
minyak goreng 5 44,2 0
kerupuk 10 33,6 1,5
teh anget gula 20 78,8 0

nasi 300 540 9


ayam balado ayam 50 84,75 12,75
minyak goreng 5 44,2 0
sambal goreng
tahu 20 16 2,18
kentang
Siang kentang 10 6,2 0,2
minyak goreng 5 44,2 0
oseng bihun bihun 10 34,8 0,4
minyak goreng 3 44,2 0
es teh gula 20 78,8 0

nasi kucing nasi 200 360 6


tempe goreng tempe 50 100,5 10,4
Malam minyak goreng 10 88,4 0

TOTAL 2192,5 60,33


FORMULIR RECALL 24 JAM (Ny. D)
WAKTU BAHAN Berat Energi Protein
MENU
MAKAN MAKANAN (gr) (kkal) (gr)
nasi 200 360 6
telur
telur 50 77 6,2
ceplok
minyak goreng 5 44,2 0
tempe
tempe 25 50,25 5,2
goreng
Pagi minyak goreng 5 44,2 0
oseng
sawi 10 9,2 0,4
sawi
wortel 10 9 0,1
minyak goreng 5 44,2 0
kerupuk 10 33,6 1,5

roti 100 284 8


Siang es teh gula 20 78,8 0
pisang pisang ambon 100 108 1
mie
75 105,8 3,6
goreng
minyak goreng 5 44,2 0
nasi
nasi 150 270 4,5
kucing
tempe
tempe 50 100,5 10,4
goreng
Malam
minyak goreng 10 88,4 0
kerupuk 10 33,6 1,5

TOTAL 1784,95 48,4


FORMULIR RECALL 24 JAM (An. DA)
WAKTU BAHAN Berat Energi Protein
MENU
MAKAN MAKANAN (gr) (kkal) (gr)
nasi 200 360 6
telur
telur 50 77 6,2
ceplok
minyak goreng 5 44,2 0
tempe
tempe 25 50,25 5,2
goreng
Pagi minyak goreng 5 44,2 0
oseng
sawi 10 9,2 0,4
sawi
wortel 10 9 0,1
minyak goreng 5 44,2 0
kerupuk

roti 100 284 8


Siang es teh gula 20 78,8 0
pentol 50 185 11,8
mie
100 141 4,8
Sore goreng
buah jeruk 50 23,5 0,4

nasi
nasi 100 180 3
kucing
tempe
tempe 50 100,5 10,4
goreng
Malam minyak goreng 10 88,4 0
telur
20 37 2,6
puyuh

TOTAL 1396,25 58,9


FORMULIR RECALL 24 JAM (An. DT)
WAKTU BAHAN Berat Energi Protein
MENU
MAKAN MAKANAN (gr) (kkal) (gr)
nasi 30 39 0,7
telur
telur 25 38,5 3,1
ceplok
minyak goreng 5 44,2 0
Pagi
tempe
tempe 25 50,25 5,2
goreng
minyak goreng 5 44,2 0
kerupuk 10 33,6 1,5
ASI 100 62 1,5
Siang roti 25 71 2
pentol 50 185 11,8
mie
Sore 50 70,5 2,4
goreng
buah jeruk 50 23,5 0,4
ASI 50 31 0,5

nasi
nasi 50 90 1,5
kucing
tempe
tempe 25 50,2 5,2
goreng
Malam minyak goreng 5 44,2 0
telur
10 18,5 1,3
puyuh
ASI 100 62 1,5
TOTAL 957,65 38,6
DOKUMENTASI KEGIATAN

Rumah Keluarga Bp. S Wawancara dengan


Ibu R

Rumah Keluarga Bp. M Wawancara dengan


Ibu D