Anda di halaman 1dari 7

Efek Fotolistrik compton dan Teori Planck

Efek Fotolistrik

Efek fotolistrik adalah pengeluaran elektron dari suatu permukaan (biasanya logam) ketika dikenai,
dan menyerap, radiasi elektromagnetik (seperti cahaya tampak dan radiasi ultraungu) yang berada di
atas frekuensi ambang tergantung pada jenis permukaan. Efek fotolistrik membutuhkan foton dengan
energi dari beberapa electronvolts sampailebih dari 1 MeV unsur yang nomor atomnya tinggi. Studi
efek fotolistrik menyebabkan langkah-langkah penting dalam memahami sifat kuantum cahaya,
elektron dan mempengaruhi pembentukan konsep Dualitas gelombang-partikel. Hamburan Compton
adalah suatu efek yang merupakan bagian interaksi sebuah penyinaran terhadap suatu materi. Efek
Compton adalah salah satu dari tiga proses yang melemahkan energi suatu sinar ionisasi. Atau lebih
sederhana dapat digambarkan bahwa untuk membangkitkan tenaga listrik dari cahaya matahari kita
mengenal istilah sel surya. Namun tahukah kita bahwa sel surya itu sebenarnya memanfaatkan konsep
efek fotolistrik. Efek ini akan muncul ketika cahaya tampak atau radiasi UV jatuh ke permukaan benda
tertentu. Cahaya tersebut mendorong elektron keluar dari benda tersebut yang jumlahnya dapat
diukur dengan meteran listrik.

Pada tahun 1888 Hallwachs mengamati bahwa suatu keping itu mula-mula positif, maka tidak terjadi
kehilangan muatan. Diamatinya pula bahwa suatu keping yang netral akan memperoleh muatan
positif apabila disinari. Kesimpulan yang dapat ditarik dari pengamatan-pengamatan di atas adalah
bahwa chaya ultraviolet mendesak keluar muatan litrik negatif dari permukaan keping logam yang
netral. Gejala ini dikenal sebagai efek fotolistrik.

Hasil-hasil eksperimen menunjukkan, bahwa suatu jenis logam tertentu bila disinari (dikenai radiasi)
dengan frekuensi yang lebih besar dari harga tertentu akan melepaskan elektron, walaupun intensitas
radiasinya sangat kecil. Sebaliknya, berapapun besar intensitas radiasi yang dikenakan pada suatu
jenis logam, jika frekuensinya lebih kecil dari harga tertentu maka tidak akan dapat melepaskan
elektron dari logam tersebut. Peristiwa pelepasan elektron dari logam oleh radiasi tersebut disebut
efek fotolistrik, diamati pertama kali oleh Heinrich Hertz (1887). Elektron yang terlepas dari logam
disebut foto-elektron. Efek fotolistrik membutuhkan foton dengan energi dari beberapa electronvolts
sampai lebih dari 1 MeV unsur yang nomor atomnya tinggi. Studi efek fotolistrik menyebabkan
langkah-langkah penting dalam memahami sifat kuantum cahaya, elektron dan mempengaruhi
pembentukan konsep Dualitas gelombang-partikel. fenomena di mana cahaya mempengaruhi
gerakan muatan listrik termasuk efek fotokonduktif (juga dikenal sebagai fotokonduktivitas atau
photoresistivity ), efek fotovoltaik , dan efek fotoelektrokimia . Ketika seberkas cahaya dikenakan
pada logam, ada elektron yang keluar dari permukaan logam. Gejala ini disebut efek fotolistrik. Efek
fotolistrik diamati melalui prosedur sebagai berikut. Dua buah pelat logam (lempengan logam tipis)
yang terpisah ditempatkan di dalam tabung hampa udara. Di luar tabung kedua pelat ini dihubungkan
satu sama lain dengan kawat. Mula-mula tidak ada arus yang mengalir karena kedua plat terpisah.
Ketika cahaya yang sesuai dikenakan kepada salah satu pelat, arus listrik terdeteksi pada kawat. Ini
terjadi akibat adanya elektron-elektron yang lepas dari satu pelat dan menuju ke pelat lain secara
bersama-sama membentuk arus listrik.
Cahaya dipandang sebagai kuantum energi yang hanya memiliki energi yang diskrit bukan kontinu
yang dinyatakan sebagai E = hf. Konsep penting yang dikemukakan Einstein sebagai latar belakang
terjadinya efek fotolistrik adalah bahwa satu elektron menyerap satu kuantum energi. Satu kuantum
energi yang diserap elektron digunakan untuk lepas dari logam dan untuk bergerak ke pelat logam
yang lain. Hal ini dapat dituliskan sebagai

Energi cahaya = Energi ambang + Energi kinetik maksimum elektron

E = W0 + Ekm

hf = hf0 + Ekm

Ekm = hf – hf0

Persamaan ini disebut persamaan efek fotolistrik Einstein. Perlu diperhatikan bahwa W0 adalah energi
ambang logam atau fungsi kerja logam, f0 adalah frekuensi ambang logam, f adalah frekuensi cahaya
yang digunakan, dan Ekm adalah energi kinetik maksimum elektron yang lepas dari logam dan bergerak
ke pelat logam yang lain. Dalam bentuk lain persamaan efek fotolistrik dapat ditulis sebagai.

Dimana m adalah massa elektron dan ve adalah dan kecepatan elektron. Satuan energi dalam SI adalah
joule (J) dan frekuensi adalah hertz (Hz). Tetapi, fungsi kerja logam biasanya dinyatakan dalam satuan
elektron volt (eV) sehingga perlu diingat bahwa 1 eV = 1,6 × 10-19 J.

a) Mekanisme Emisi

Foton dari sinar memiliki energi karakteristik yang ditentukan oleh frekuensi cahaya. Dalam proses
photoemission, jika elektron dalam beberapa bahan menyerap energi dari satu foton dan dengan
demikian memiliki lebih banyak energi daripada fungsi kerja (energi ikat elektron) dari materi, itu
dikeluarkan. Jika energi foton terlalu rendah, elektron tidak bisa keluar dari materi. Peningkatan
intensitas sinar meningkatkan jumlah foton dalam berkas cahaya, dan dengan demikian meningkatkan
jumlah elektron, tetapi tidak meningkatkan energi setiap elektron yang dimemiliki. Energi dari
elektron yang dipancarkan tidak tergantung pada intensitas cahaya yang masuk, tetapi hanya pada
energi atau frekuensi foton individual. Ini adalah interaksi antara foton dan elektron terluar.

Efek fotolistrik banyak membantu penduaan gelombang-partikel, dimana sistem fisika (seperti foton
dalam kasus ini) dapat menunjukkan kedua sifat dan kelakuan sepertigelombang dan seperti-partikel,
sebuah konsep yang banyak digunakan oleh pencipta mekanika kuantum. Efek fotolistrik dijelaskan
secara matematis oleh Albert Einstein yang memperluas kuanta yang dikembangkan oleh Max Planck.

Hukum emisi fotolistrik:


1. Untuk logam dan radiasi tertentu, jumlah fotoelektro yang dikeluarkan berbanding lurus dengan
intensitas cahaya yg digunakan.

2. Untuk logam tertentu, terdapat frekuensi minimum radiasi. di bawah frekuensi ini fotoelektron
tidak bisa dipancarkan.

3. Di atas frekuensi tersebut, energi kinetik yang dipancarkan fotoelektron tidak bergantung pada
intensitas cahaya, namun bergantung pada frekuensi cahaya.

4. Perbedaan waktu dari radiasi dan pemancaran fotoelektron sangat kecil, kurang dari 10 -9 detik.

b) Potensial Penghenti
Hubungan antara arus dan tegangan diterapkan menggambarkan sifat efek fotolistrik. Untuk diskusi,
sumber cahaya menerangi P piring, dan lain elektrode pelat Q mengumpulkan setiap elektron yang
dipancarkan. Kami bervariasi potensial antara P dan Q dan mengukur arus yang mengalir dalam sirkuit
eksternal antara dua lempeng. Jika frekuensi dan intensitas radiasi insiden adalah tetap, arus
fotolistrik meningkat secara bertahap dengan peningkatan potensi positif sampai semua foto elektron
yang dipancarkan dikumpulkan. Arus fotolistrik mencapai nilai saturasi dan tidak meningkatkan lebih
lanjut untuk peningkatan potensi positif. Arus saturasi tergantung pada intensitas pencahayaan, tapi
tidak panjang gelombang.

Jika kita menerapkan potensi negatif ke piring Q sehubungan dengan plat P dan secara bertahap
meningkatkan itu, berkurang saat fotolistrik sampai nol, pada potensial negatif tertentu di piring Q.
potensi negatif minimum yang diberikan ke piring Q di mana arus fotolistrik menjadi nol disebut
potensial menghentikan atau memotong potensial. Dalam rezim sinar-X, efek fotolistrik dalam bahan
kristal sering didekomposisi menjadi tiga langkah:

1) Inner efek fotolistrik. Lubang tertinggal dapat menimbulkan efek auger , yang terlihat bahkan ketika
elektron tidak meninggalkan materi. Dalam padatan molekul fonon sangat antusias dalam langkah ini
dan dapat terlihat sebagai garis dalam energi elektron akhir. Para photoeffect batin harus
diperbolehkan. Para aturan transisi untuk atom menerjemahkan melalui model ketat mengikat ke
kristal. Mereka adalah geometri untuk osilasi plasma dalam bahwa mereka harus transversal.

2) Balistik transportasi setengah dari elektron ke permukaan. Beberapa elektron tersebar.

3) Elektron melarikan diri dari bahan di permukaan.

Dalam model tiga langkah, elektron dapat mengambil beberapa jalur melalui tiga langkah. Semua jalan
dapat mengganggu dalam arti formulasi jalan terpisahkan. Untuk negara permukaan dan molekul
model tiga langkah apakah masih masuk akal bahkan beberapa sebagai yang paling atom memiliki
elektron yang dapat menyebarkan beberapa elektron yang meninggalkan. Arus nol atau tidak ada
arus berarti tidak ada lagi elektron yang lepas dari permukaan logam akibat efek fotolistrik. Nilai
tegangan yang menyebabkan elektron berhenti terlepas dari permukaan logam pada efek fotolistrik
disebut tegangan atau potensial penghenti (stopping potential). Jika V0 adalah potensial penghenti,
maka Ekm = eV0

Persamaan ini pada dasarnya adalah persamaan energi. Perlu diperhatikan bahwa e adalah muatan
elektron yang besarnya 1,6 × 10 -19 C dan tegangan dinyatakan dalam satuan volt (V).

Hamburan Compton

Seberkas radiasi yang dikenakan pada lempeng (plat tipis) logam akan mengalami hamburan.
Intensitas radiasi terhambur tergantung pada sudut hamburannya. Gambar berikut menunjukkan
susunan peralatan dan hasil pengamatan hamburan radiasi. Gejala tersebut tidak dapat dijelaskan
dengan memandang radiasi sebagai gelombang klasik.

Pada tahun 1923, Compton mempelajari hamburan radiasi tersebut di atas, dan menerangkan sebagai
berikut. Radiasi yang dikenakan pada lempeng logam berinteraksi dengan elektron bebas dalam logam
(tidak selalu menimbulkan efek fotolistrik walaupun tenaganya cukup). Interaksi antara radiasi dengan
elektron bebas dalam logam berperilaku seperti tumbukan elastis antara dua partikel. Mekanisme
hamburan radiasi (kemudian disebut hamburan Compton atau efek Compton) tersebut di atas dapat
dijelaskan dengan memberlakukan hukum-hukum kekekalan tenaga dan momentum linear secara
relativistik. Percobaan Compton merupakan salah satu dari tiga proses yang melemahkan energi suatu
sinarionisasi. Bila suatu sinar jatuh pada permukaan suatu materi sebagian daripada energinya akan
diberikankepada materi tersebut, sedangkan sinar itu sendiri akan di sebarkan, sehingga energy
radiasi yangdipancarkan lebih kecil dari energi radiasi yang datang ( panjang gelombang lebih panjang
daripadasebelumnya ). Hamburan Compton adalah suatu efek yang merupakan bagian interaksi
sebuah penyinaran terhadapsuatu materi. Efek Compton adalah salah satu dari tiga proses yang
melemahkan energi suatu sinar ionisasi. Bila suatu sinar jatuh pada permukaan suatu materi sebagian
daripada energinya akan diberikan kepadamateri tersebut, sedangkan sinar itu sendiri akan di
sebarkan. Proses hamburan Compton dianalisis sebagai suatu interaksi (―tumbukan‖ dalam
pengertian partikel secara klasik) antara sebuah foton dan sebuah elektron, yang kita anggap diam.
Hamburan Compton terjadi apabila foton dengan energi hf berinteraksidengan elektron bebas atau
elektron yang tidak terikat dengan kuat oleh inti, yaitu elektron terluar dari atom.Elektron itu
dilepaskan dari ikatan inti dan bergerak dengan energi kinetik tertentudisertai foton lain denganenergi
lebih rendah dibandingkan foton datang. Foton lain inidinamakan foton hamburan. Dalam
hamburanCompton ini, energi foton yang datang yangdiserap atom diubah menjadi energi kinetik
elektron dan foton hamburan.

Efek Compton

Pada efek fotolistrik, cahaya dapat dipandang sebagai kuantum energi dengan energi yang diskrit.
Kuantum energi tidak dapat digambarkan sebagai gelombang tetapi lebih mendekati bentuk partikel.
Partikel cahaya dalam bentuk kuantum dikenal dengan sebutan foton. Pandangan cahaya sebagai
foton diperkuat lagi melalui gejala yang dikenal sebagai efek Compton. Jika seberkas sinar-X
ditembakkan ke sebuah elektron bebas yang diam, sinar-X akan mengalami perubahan panjang
gelombang dimana panjang gelombang sinar-X menjadi lebih besar. Gejala ini dikenal sebagai efek
Compton, sesuai dengan nama penemunya, yaitu Arthur Holly Compton.
Sinar-X digambarkan sebagai foton yang bertumbukan dengan elektron (seperti halnya dua bola bilyar
yang bertumbukan). Elektron bebas yang diam menyerap sebagian energi foton sehingga bergerak ke
arah membentuk sudut terhadap arah foton mula-mula. Foton yang menumbuk elektron pun
terhambur dengan sudut θ terhadap arah semula dan panjang gelombangnya menjadi lebih besar.
Perubahan panjang gelombang foton setelah terhambur dinyatakan sebagai

Dimana m adalah massa diam elektron, c adalah kecepatan cahaya, dan h adalah konstanta Planck.

Teori Planck

Pada tahun 1900, Max Planck dapat menjelaskan radiasi benda panas dengan suatu teori yang sangat
radikal. Menurut Planck, radiasi elektromagnetik tidak bersifat kontinyu, melainkan bersifat
diskontinyu. Artinya suatu benda hanya dapat memancarkan atau menyerap radiasi elektromagnetik
dalam ukuran atau paket-paket kecil dengan nilai tertentu. Paket energi tersebut disebut Kuantum.

Planck menemukan bahwa energi foton (kuantum) berbanding lurus dengan frekuensi cahaya.

Salah satu fakta yang mendukung teori kuantum Max Planck, yaitu efek fotolistrik, yang dikemukakan
oleh Albert Einstein pada tahun 1905. Fotolistrik adalah listrik yang diinduksi oleh cahaya (foton).
Susunan alat untuk menunjukan efek fotolistrik ditunjukan pada Gambar 2. Alat tersebut terdiri dari
sepasang elektrode (katode dan anode) yang ditempatkan dalam ruang hampa, sebuah tabung foto,
yaitu sumber radiasi yang diarahkan ke permukaan katode, serta sebuah ammeter. Sebagai katode
digunakan suatu logam murni, misalnya sesium. Fotolistrik terjadi jika radiasi yang digunakan memiliki
energi minimum (frekuensi) tertentu. Setiap logam berbeda dalam hal energi minimumnya.

Einstein menerangkan bahwa cahaya terdiri dari partikel-partikel foton yang energinya sebanding
dengan frekuensi cahaya. Jika frekuensinya rendah, setiap foton mempunyai jumlah energi yang
sangat sedikit dan tidak mampu memukul elektron agar dapat keluar dari permukaan logam. Jika
frekuensi (dan energi) bertambah, maka foton memperoleh energi yang cukup untuk melepaskan
elektron (James E. Brady, 1990). Hal ini menyebabkan kuat arus juga akan meningkat. Energi foton
bergantung pada frekuensinya.
Energi Foton dalam Efek Fotolistrik

hv = Ekmaks+ hvo
ket:
Energi Foton (Ef) vo = frekuensi ambang material

Ef = hv (eV) Ekmaks = Energi Kinenik maksimum

h = konstanta Planck hvo= fungsi kerja metal

h = 6,626x10-34 Js hv = energi kuantum

v = frekuensi foton (Hz)

Ef
f

Fungsi Kerja Metal (hvo)