Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.


Hipertensi menjadi momok bagi sebagian besar penduduk dunia termasuk
Indonesia. Hal ini karena secara statistik jumlah penderita yang terus meningkat dari
waktu ke waktu. Berbagai faktor yang berperan dalam hal ini salah satunya adalah
gaya hidup modern. Pemilihan makanan yang berlemak, kebiasaan aktifitas yang
tidak sehat, merokok, minum kopi serta gaya hidup sedetarian adalah beberapa hal
yang disinyalir sebagai faktor yang berperan terhadap hipertensi ini. Penyakit ini
dapat menjadi akibat dari gaya hidup modern serta dapat juga sebagai penyebab
berbagai penyakit non infeksi. Hal ini berarti juga menjadi indikator bergesernya dari
penyakit infeksi menuju penyakit non infeksi, yang terlihat dari urutan penyebab
kematian di Indoensia. Untuk lebih mengenal serta mengetahui penyakit ini, maka
kami akan membahas tentang hipertensi. Hipertensi didefinisikan sebagai
peningkatan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg atau peningkatan
tekanan darah diastolik lebih besar atau sama dengan 90 mmHg(Anindya,2009).
Hipertensi menyebabkan meningkatnya resiko terhadap stroke, aneurisma,
gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan ginjal. Tanpa melihat usia atau jenis
kelamin, semua orang bisa terkena hipertensi dan biasanya tanpa ada gejala-gejala
sebelumnya. Hipertensi juga dapat mengakibatkan kerusakan berbagai organ target
seperti otak, jantung,ginjal,aorta,pembulu darah perifer dan retina.
Oleh karena itu, negara Indonesia yang sedang membangun di segala bidang
perlu memperhatikan pendidikan kesehatan masyarakat untuk mencegah timbulnya
penyakit seperti hipertensi, kardiovaskuler, penyakit degeneratif dan lain-lain,
sehingga potensi bangsa dapat lebih dimanfaatkan untuk proses pembangunan.
Golongan umur 45 tahun ke atas memerlukan tindakan atau program pencegahan
yang terarah. Hipertensi perlu dideteksi dini yaitu dengan pemeriksaan tekanan darah
secara berkala, yang dapat dilakukan pada waktu check-up kesehatan atau saat
periksa ke dokter.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi hipertensi ?
2. Apakah etiologi/ faktor pencetus hipertensi ?
3. Apakah manifestasi klinis hipertensi ?
4. Apakah pemeriksaan penunjang pada hipertensi ?
5. Apakah penatalaksanaan klien dengan hipertensi ?
6. Apa sajakah komplikasi dari hipertensi ?
7. Apakah asuhan keperawatan pasien dengan hipertensi ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Menjelaskan pengertian dan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan
hipertensi.

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mengetahui dan memahami definisi hipertensi.
2. Mengetahui dan memahami etiologi/ faktor pencetus hipertensi.
3. Menyebutkan dan memahami manifestasi klinis hipertensi.
4. Mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang pada hipertensi.
5. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan klien dengan hipertensi.
6. Mengetahui dan memahami komplikasi dari hipertensi.
7. Menjelaskan asuhan keperawatan pasien dengan hipertensi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. KONSEP KELUARGA
2.1.1 Pengertian Keluarga
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan
adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota
keluarga ,Duvall dan Logan ( 1986 )
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga
karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi
satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta
mempertahankan suatu budaya. Bailon dan Maglaya ( 1978 )
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah
satu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Departemen Kesehatan RI ( 1988 )
Dapat disimpulkan bahwa karakteristik keluarga adalah :
1. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan
atau adopsi
2. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka tetap
memperhatikan satu sama lain
3. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain dan masing-masing mempunyai
peran sosial : suami, istri, anak, kakak dan adik
4. Mempunyai tujuan : menciptakan dan mempertahankan budaya, meningkatkan
perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota.

2.1.2 Struktur Keluarga


1. Patrilineal
Keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa
generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur ayah
2. Matrilineal
Keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa
generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu
3. Matrilokal
Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah ibu
4. Patrilokal
Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami
5. Keluarga kawinan
Hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga, dan beberapa
sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan
suami atau istri.

2.1.3 Ciri-Ciri Struktur Keluarga


1. Terorganisasi : saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota
keluarga
2. Ada keterbatasan : setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka juga
mempunyai keterbatasan dalam mejalankan fungsi dan tugasnya masing-masing
3. Ada perbedaan dan kekhususan : setiap anggota keluarga mempunyai peranan
dan fungsinya masing-masing.

2.1.4 Macam-Macam Struktur / Tipe / Bentuk Keluarga


1. Tradisional :
a. The nuclear family (keluarga inti)
Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak.
b. The dyad family
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri (tanpa anak) yang hidup bersama
dalam satu rumah
c. Keluarga usila
Keluarga yang terdiri dari suami istri yang sudah tua dengan anak sudah
memisahkan diri
d. The childless family
Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak
terlambat waktunya, yang disebabkan karena mengejar karir/pendidikan
yang terjadi pada wanita
e. The extended family (keluarga luas/besar)
Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu
rumah seperti nuclear family disertai : paman, tante, orang tua (kakak-
nenek), keponakan, dll)
f. The single-parent family (keluarga duda/janda)
Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah dan ibu) dengan anak, hal ini
terjadi biasanya melalui proses perceraian, kematian dan ditinggalkan
(menyalahi hukum pernikahan)
g. Commuter family
Kedua orang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut
sebagai tempat tinggal dan orang tua yang bekerja diluar kota bisa
berkumpul pada anggota keluarga pada saat akhir pekan (week-end)
h. Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal
bersama dalam satu rumah
i. Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau saling berdekatan
dan saling menggunakan barang-barang dan pelayanan yang sama.
Misalnya: dapur, kamar mandi, televisi, telpon, dll)
j. Blended family
Keluarga yang dibentuk oleh duda atau janda yang menikah kembali dan
membesarkan anak dari perkawinan sebelumnya
k. The single adult living alone / single-adult family
Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup sendiri karena
pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti : perceraian atau ditinggal mati

2. Non-Tradisional
a. The unmarried teenage mother
Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan anak dari
hubungan tanpa nikah
b. The stepparent family
Keluarga dengan orangtua tiri
c. Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak ada hubungan
saudara, yang hidup bersama dalam satu rumah, sumber dan fasilitas yang
sama, pengalaman yang sama, sosialisasi anak dengan melalui aktivitas
kelompok / membesarkan anak bersama
d. The nonmarital heterosexual cohabiting family
Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui
pernikahan
e. Gay and lesbian families
Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama sebagaimana
pasangan suami-istri (marital partners)
f. Cohabitating couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena
beberapa alasan tertentu
g. Group-marriage family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat-alat rumah tangga bersama,
yang merasa telah saling menikah satu dengan yang lainnya, berbagi sesuatu,
termasuk sexual dan membesarkan anaknya
h. Group network family
Keluarga inti yang dibatasi oleh set aturan/nilai-nilai, hidup berdekatan satu
sama lain dan saling menggunakan barang-barang rumah tangga bersama,
pelayanan dan bertanggung jawab membesarkan anaknya
i. Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan keluarga/saudara dalam
waktu sementara, pada saat orangtua anak tersebut perlu mendapatkan
bantuan untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya
j. Homeless family
Keluarga yang terbentuk dan tidak mempunyai perlindungan yang permanen
karena krisis personal yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau
problem kesehatan mental
k. Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif, dari orang-orang muda yang
mencari ikatan emosional dan keluarga yang mempunyai perhatian, tetapi
berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam kehidupannya.

2.1.5 Tahap-Tahap Kehidupan / Perkembangan Keluarga


Meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangannya secara unik, namun
secara umum seluruh keluarga mengikuti pola yang sama (Rodgers cit Friedman,
199:
1. Pasangan baru (keluarga baru)
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki dan perempuan
membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan meninggalkan
(psikologis) keluarga masing-masing :
a. Membina hubungan intim yang memuaskan
b. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, kelompok social
c. Mendiskusikan rencana memiliki anak
2. Keluarga child-bearing (kelahiran anak pertama)
Keluarga yang menantikan kelahiran, dimulai dari kehamilan samapi
kelahiran anak pertama dan berlanjut damapi anak pertama berusia 30 bulan :
a. Persiapan menjadi orang tua
b. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan
sexual dan kegiatan keluarga
c. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan

3. Keluarga dengan anak pra-sekolah


Tahap ini dimulai saat kelahiran anak pertama (2,5 bulan) dan berakhir saat
anak berusia 5 tahun :
a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti kebutuhan tempat tinggal,
privasi dan rasa aman
b. Membantu anak untuk bersosialisasi
c. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara kebutuhan anak yang lain
juga harus terpenuhi
d. Mempertahankan hubungan yang sehat, baik di dalam maupun di luar
keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar)
e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap yang paling
repot)
f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga
g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh dan kembang anak

4. Keluarga dengan anak sekolah


Tahap ini dimulai saat anak masuk sekolah pada usia enam tahun dan
berakhir pada usia 12 tahun. Umumnya keluarga sudah mencapai jumlah anggota
keluarga maksimal, sehingga keluarga sangat sibuk :
a. Membantu sosialisasi anak : tetangga, sekolah dan lingkungan
b. Mempertahankan keintiman pasangan
c. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat,
termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga

5. Keluarga dengan anak remaja


Dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya berakhir
sampai 6-7 tahun kemudian, yaitu pada saat anak meninggalkan rumah
orangtuanya. Tujuan keluarga ini adalah melepas anak remaja dan memberi
tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri
menjadi lebih dewasa :
a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab, mengingat
remaja sudah bertambah dewasa dan meningkat otonominya
b. Mempertahankan hubungan yang intim dalam keluarga
c. Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orangtua. Hindari
perdebatan, kecurigaan dan permusuhan
d. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga

6. Keluarga dengan anak dewasa (pelepasan)


Tahap ini dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan
berakhir pada saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahap ini
tergantung dari jumlah anak dalam keluarga, atau jika ada anak yang belum
berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua :
a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar
b. Mempertahankan keintiman pasangan
c. Membantu orangtua suami/istri yang sedang sakit dan memasuki masa tua
d. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat
e. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga

7. Keluarga usia pertengahan


Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan
berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal :
a. Mempertahankan kesehatan
b. Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan anak-
anak
c. Meningkatkan keakraban pasangan

8. Keluarga usia lanjut


Tahap terakhir perkembangan keluarga ini dimulai pada saat salah satu
pasangan pensiun, berlanjut saat salah satu pasangan meninggal sampai
keduanya meninggal :
a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan
b. Adaptasi dengan peruabahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan
pendapatan
c. Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat
d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat
e. Melakukan life review (merenungkan hidupnya).

2.2 KONSEP DASAR HIPERTENSI


2.2.1. Batasan Hipertensi
Hipertensi didefinisikan adanya kenaikan tekanan darah yang persisten .
Pada orang dewasa rata-rata tekanan sistolik sama atau di atas 140 mm Hg dan
tekanan diastolik sama atau di atas 90 mm Hg , menurut American Heart
Association, rata-rata dari dua kali pemeriksaan yang berbeda dalam dua
minggu. Menurut Pusdiknakes Depkes disebutkan hipertensi adalah
peningkatan tekanan darah sistolik diatas standar dihubungkan dengan usia.
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana
tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada
populasi lansia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan
tekanan diastolik 90 mmHg. (Smeltzer,2001)
Menurut WHO ( 1978 ), tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95
mmHg dinyatakan sebagai hipertensi.
Hipertensi adalah peningkatan abnormal pada tekanan sistolik 140
mmHg atau lebih dan tekanan diastolik 120 mmHg (Sharon, L.Rogen, 1996).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140
mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg (Luckman
Sorensen,1996).
Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi dua
golongan besar, yaitu :
1. Hipertensi esensial (hipertensi primer / idiopathic) yaitu hipertensi yang tidak
diketahui penyebabnya, sebanyak 90 % kasus.
2. Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain ,
sebanyak 10 % .

2.2.2. Faktor Predisposisi


Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya
data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering
menyebabkan terjadinya hipertensi . Faktor-faktor tersebut antara lain :
1. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa sesorang akan memiliki kemungkinan lebih
besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita
hipertensi.
2. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah : umur,
jenis kelamin dan ras. Umur yang bertambah akan menyebabkan kenaikan
tekanan darah. Tekanan darah pria umumnya lebih tinggi dibandingkan
tekanan darah wanita.Juga statistik di Amerika menunjukan prevalensi
hipertensi pada orang kulit hitam hampir dua kali lipat dibandingkan dengan
orang kulit putih.
3. Kebiasaan Hidup.
Kebiasaan hidup yang yang sering menyebabkan hipertensi adalah :
a. Konsumsi garam yang tinggi, dari statistik diketahui bahwa suku
bangsa atau penduduk dengan konsumsi garam rendah jarang
menderita hipertensi. Dari dunia kedokteran juga telah dibuktikan
bahwa ,pembatasan garam dan pengeluaran garam / natrium oleh obat
diuretik akan menurunkan tekanan darah lebih lanjut.
b. Kegemukan atau makan berlebihan ; dari penelitian kesehatan terbukti
ada hubungan antara kegemukan dan hipertensi . Meskipun
mekanisme bagaimana kegemukan menimbulkan hipertensi belum
jelas, tetapi sudah terbukti penurunan berat badan dapat menurunkan
tekanan darah.
c. Stres dan ketegangan jiwa ; sudah lama diketahui bahwa ketegangan
jiwa seperti rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam, rasa takut,
rasa bersalah dapat mmerangsang kelenjar anak ginjal melepaskaqn
hormon adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta
lebih kuat , sehingga tekanan darah akan meningkat. Jika stres
berlangsung cukup lama , tubuh akan berusaha mengadakan
penyesuaian sehingga tinbul kelainan organis atau perubahan patologis
(Dr. Hans Selye: General Adaptation Syndrome, 1957). Gejala yang
muncul dapat berupa hipertensi atau penyakit maag.
d. Pengaruh lain yang dapat menyebabkan naiknya tekanan darah adalah
sebagai berikut : merokok: karena merangsang sistem adrenergik dan
meningkatkan tekanan darah ; minum alkohol, minum obat-obat,misal;
ephedrin, Prednison, epinefrin.
2.2.3. Anatomi Jantung

2.2.4. Patofisiologi
Kerja jantung terutama ditentukan oleh besarnya curah jantung dan tahanan
perifer. Curah jantung pada penderita hipertensi umumnya normal.
Kelainannya terutama pada peninggian tahanan perifer. Kenaikan tahanan
perifer ini disebabkan karena vasokonstriksi arteriol akibat naiknya tonus otot
polos pembuluh darah tersebut. Bila hipertensi sudah berjalan cukup lama
maka akan dijumpai perubahan-perubahan struktural pada pembuluh darah
arteriol berupa penebalan tunika interna dan hipertropi tunika media. Dengan
adanya hipertropi dan hiperplasi, maka sirkulasi darah dalam otot jantung
tidak mencukupi lagi sehingga terjadi anoksia relatif. Keadaan ini dapat
diperkuat dengan adanya sklerosis koroner.
2.2.5. Usaha Pencegahan Hipertensi.
Pencegahan lebih baik dari pada pengobatan, demikian juga terhadap
hipertensi.pada umumnya, orang akan berusaha mengenali hipertensi jika
dirinya atau keluarganya sakit keras atau meninggal dunia akibat hipertensi.
Sebenarnya sangat sederhana dan tidak memerlukan biaya, hanya
diperlukan disiplin dan ketekunan menjalankan aturan hidup sehat, sabar, dan
ikhlas (jawa; nrimo) dalam mengendalikan perasaan dan keinginan atau
ambisi. Di samping berusaha untuk memperoleh kemajuan, selalu sadar atau
mawas di ri untuk ikhlas menerima kegagalan atau kesulitan.
Usaha pencegahan juga bermanfaat bagi penderita hipertensi agar
penyakitnya tidak menjadi lebih parah , tentunya harus disertai pemakaian
obat-obatan yang harus ditentukan oleh dokter. Agar terhindar dari komplikasi
fatal hipertensi, harus diambil tindakan pencegahan yang baik (Stop high
blood pressure), antara lain dengan cara sebagai berikut :
1. Mengurangi konsumsi garam
2. Menghindari kegemukan
3. Membatasi konsumsi lemak
4. Olahraga teratur
5. Makan banyak sayur segar
6. Tidak merokok dan tidak minum alkohol
7. Latihan relaksasi atau meditasi
8. Berusaha membina hidup yang positif.

2.2.6. Penanggulangan Hipertensi


Penanggulangan hipertensi secara garis besar dapat dibagi menjadi dua
penatalaksanaan yaitu : Penatalaksanaan Nonfarmakologis dan farmakologis
2.2.5.1. Penatalaksanaan Nonfarmakologis :
Hipertensi atau tekanan darah tinggi sebetulnya bukan suatu penyakit,
tetapi hanya merupakan suatu kelainan dengan gejala gangguan pada
mekanisme regulasi tekanan darah yang timbul.
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah
saja, tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar
penderita bertambah kuat (Barry,1987).
Penatalaksanaan nonfarmakologi adalah dengan jalan memodifikasi
gaya.
2.2.5.2. Penatalaksanaan farmakologis
Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup
penderita. Pengobatan obat standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter
Ahli Hipertensi (Joint National Commite On Detection, Evaluation and
Treatment of high Blood Pressure, USA, 1988) menyimpulkan bahwa obat
diuretik, Penyekat Betha , Antagonis kalsium, atau penghambatan ACE,
dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan
keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita. Bila tekanan
darah tidak dapat diturunkan dalam satu bulan, dosis obat dapat disesuaikan
sampai dosis maksimal atau menambahkan obat golongan lain atau
mengganti obat pertama dengan obat golongan lain. Sasaran penurunan
tekanan darah adalah kurang dari 140/90 mm Hg dengan efek samping
minimal. Penurunan tekanan dosis obat dapat dilakukan pada golongan
hipertenssi ringan yang sudah terkontrol dengan baik selama 1 tahun.

2.2.7. Komplikasi
Hipertensi merupakan penyebab utama penyakit jantung koroner,
cedera cerebrovaskuler, dan gagal ginjal. Hipertensi menetap yang disertai
dengan peningkatan tahanan perifer menyebabkan gangguan paada
endothelium pembuluh darah mendorong plasma dan lipoprotein ke dalam
intima dan lapisan sub intima dari pembuluh darah dan menyebabkan
pembentukan plaque /aterosklerosis. Peningkatan tekanan juga menyebabkan
hiperplasi otot polos , yang membentuk jaringan parut intima dan
mengakibatkan penebalan pembuluh darah dengan penyempitan lumen.
(Underjillet all.,1989) dikutip dari Carpenito (1999).
Komplikasi yang dapat timbul bila hipertensi tidak terkontrol adalah
1. Krisis Hipertensi
2. Penyakut jantung dan pembuluh darah : penyakit jantung koroner dan
penyakit jantung hipertensi adalah dua bentuk utama penyakit jantung yang
timbul pada penderita hipertensi.
3. Penyakit jantung cerebrovaskuler : hipertensi adalah faktor resiko paling
penting untuk timbulnya stroke. Kekerapan dari stroke bertambah dengan
setiap kenaikan tekanan darah.
4. Ensefalopati hipertensi yaitu sindroma yang ditandai dengan perubahan
neurologis mendadak atau sub akut yang timbul sebagai akibat tekanan arteri
yang meningkat dan kembali normal apabila tekanan darah diturunkan.
5. Nefrosklerosis karena hipertensi.
6. Retinopati hipertenssi.

2.3.Kosep Asuhan Keperawatan


2.3.1. Pengkajian klien dengan hipertensi
o Aktifitas/ istirahat
Gejala: Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton
Tanda: Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung
o Sirkulasi
Gejala: Riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner.
Tanda: Kenaikan tekanan darah, tachycardi, disarythmia.
o Integritas Ego
Gejala: Ancietas, depresi, marah kronik, faktor-faktor stress.
Tanda: Letupan suasana hati, gelisah, otot mulai tegang.
o Eliminasi
Riwayat penyakit ginjal, obstruksi.
o Makanan/ cairan
Gejala: Makanan yang disukai (tinggi garam, tinggi lemak, tinggi
kolesterol), mual, muntah, perubahan berat badan (naik/
turun), riwayat penggunaan diuretik.
Tanda: Berat badan normal atau obesitas, adanya oedem.
o Neurosensori
Gejala: Keluhan pusing berdenyut, sakit kepala sub oksipital,
gangguan penglihatan.
Tanda: Status mental: orientasi, isi bicara, proses berpikir,memori,
perubahan retina optik.
Respon motorik: penurunan kekuatan genggaman tangan.
o Nyeri/ ketidaknyamanan
Gejala: Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, nyeri abdomen/
masssa.
o Pernafasan
Gejala: Dyspnea yang berkaitan dengan aktifitas/ kerja, tacyhpnea,
batuk dengan/ tanpa sputum, riwayat merokok.
Tanda: Bunyi nafas tambahan, cyanosis, distress respirasi/ penggunaan
alat bantu pernafasan.
o Keamanan
Gejala: Gangguan koordinasi, cara brejalan.
Pemeriksaan Diagnostik
o Hb: untuk mengkaji anemia, jumlah sel-sel terhadap volume cairan
(viskositas).
o BUN: memberi informasi tentang fungsi ginjal.
o Glukosa: mengkaji hiperglikemi yang dapat diakibatkan oleh
peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi).
o Kalsium serum
o Kalium serum
o Kolesterol dan trygliserid
o Px tyroid
o Urin analisa
o Foto dada
o CT Scan
o EKG
Prioritas keperawatan:
o Mempertahankan/ meningkatkan fungsi kardiovaskuler.
o Mencegah komplikasi.
o Kontrol aktif terhadap kondisi.
o Beri informasi tentang proses/ prognose dan program pengobatan.

2.3.2. Diagnosa keperawatan


a. Intoleran aktifitas
Mungkin berhubungan dengan:
- Kelemahan umum
- Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Kemungkinan di buktikan oleh:
- Laporan verbal tentang keletihan atau kelemahan
- Frekuensi jantung atau respons TD terhadap aktifitas abnormal
- Rasa tidak nyaman saat bergarak atau dispnea
- Perubahan - perubahan EKG mencerminkan iskemia; disritmia
Hasil yang di harapkan/kriteria evaluasi pasien akan :
- berpartisipasi dalam aktifitas yang di inginkan
- Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktifitas yang dapat di ukur .
- Menunjukan penurunan dalam tanda - tanda intoleransi fisiologi.
TINDAKAN/INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Kaji respon pasien terhadap aktivitas, Menyebutkan parameter membantu
perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali dalam mengkaji respons fisiologi
per menit di atas frekuensi istirahat; terhadap stres aktifitas, dan bila ada
peningkatan tekanan darah yang nyata merupakan indicator dari kelebihan
selama /sesudah aktifitas (tekanan siatolik kerja yang berkaitan dengan tingkat
meningkat 40 mmhg atau tekanan diastolik aktifitas.
meningkat 20 mmhg; dipsnea atau nyeri
dada; keletihan atau kelemahan yang
brlebihan; diaphoresis; pusing atau pingsan.
Instruksikan pasien tentang teknik Teknik menghemat energi
penghematan energi. mis: menggunakan mengurangi penggunaan energi, juga
kursi saat mandi, duduk sat menyisir rambut membantu keseimbangan antara
atau menyikat gigi, melakukan aktifitas suplai dan kebutuhan oksigen.
secara perlahan.
Berikan dorongan untuk melakukan Kemajuan aktifitas bertahap
aktifitas/perawatan diri bertahap jika dapat di mencegah peningkatan kerja jantung
toleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan. tiba – tiba. Memberikan bantuan
hanya sebatas kebutuhan akan
mendorong kemandirian dalam
melakukan aktifitas.

b. Diagnosa keperawatan: Nyeri, [akut], sakit kepala


Mungkin berhubungan dengan:
- Peningkatan tekanan vascular serebral
Kemungkinan dibuktikan oleh:
- Melaporkan tentang nyeri berdenyut yang terletak pada region
suboksipital, terjadi pada saat bangun, dan hilang secara spontan setelah
beberapa waktu berdiri.
- Segan untuk menggerakkan kepala, menggaruk kepala menghindari sinar
terang dan keributan, mengerutkan kening, mengenggam tangan.
- Melaporkan kekakuan leher, pusing penglihatan kabur,mual,muntah.
Hasil yang di harapkan/ kriteri evaluasi pasien akan:
- Melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang/terkontrol. Mengungkapkan
metode yang memberikan pengurangan.
TINDAKAN/INTERVENSI RASIONAL
Mandiri Meminimalkan stimulasi/meningkatkan
Mempertahankan tirah baring selama fase relaksasi
akut
Berikan tindakan nonfarmakologi untuk Tindakan yang yang menurunkan tekanan
menghilangkan sakit kepala. Mis: vascular serebral yang
kompres dingin pada dahi, pijat memperlambat/memblok respons simpatis
punggung dan leher, tenang, redupkan efektif dalam menghilangkan sakit kepala
lampu kamar, teknik relaksasi (panduan dan komplikasinya.
imajinasi,distraksi) dan aktifitas waktu
senggang.
Hilangkan/minimalkan aktifitas Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi
vasokontriksi yang dapat meningkatkan menyebabkn sakit kepala pada adanya
sakit kepala. Mis: mengejan saat BAB, peningkatan tekanan vaskular serebral.
batuk panjang, membungkuk.
Bantu pasien dalam ambulasi sesuai Pusing dan penglihatan kabur sering
kebutuhan. berhubungan dengan sakit kepala. Pasien
juga dapat mengalami episode hipotensi
postural.
Berikan cairan, makanan lunak, Meningkatkan kenyamanan umum.
perawatan mulut yang teratur bila terjadi Kompres hidung dapat menganggu menelan
perdarahan hidung atau kompres hidung atau membutuhkan napas dengan mulut,
telah di lakukan untuk menghentikan menimbulkan stagnasi sekresi oral dan
perdarahan mengeringkan membran mukosa.

Kolaborasi Menurunkan/mengontrol nyeri dan


Berikan sesuai indikasi; analgesik menurunkan rangsang sistem saraf simpatis.
Antiansietas. Mis; lorazepam, (ativan), Dapat mengurangi ketegangan dan
diazepam (valium). ketidaknyamanan yang diperberat oleh stres.

c. Diagnosa keperawatan: Nutrisi, perubahan, lebih dari kebutuhan tubuh


Mungkin berhubungan dengan:
- Masukan berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolik.
- Pola hidup monoton.
- Keyakinan budaya.
Kemungkinan di buktikan oleh:
- BB 10% - 20% lebih dari ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh
- Lipatan kulit trisep lebih besar lebih besar dari 15 mm pada pria dan 25
mm pada wanita.
- Di laporkan atau terobservasi disfungsi pola makan.
Hasil yang di harapkan/kriteria evaluasi pasien akan:
- Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan.
- Menunjukan perubahan pola makan (mis: pilihan makanan, kuantitas, dan
sebagainya). mempertahankan berat badan yang diinginkan degan
pemeliharaan ksehatan optimal.
- Melakukan/mempertahankan program olah raga yang tepat secara
individual

TINDAKAN/INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
Kaji pemahaman pasien tentang Kegemukan adalah risiko tambahan pada
hubungan langsung antara hipertensi tekanan darah tinggi karena disproposi antara
dan kegemukan . kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung
berkaitan dengan peningkatan massa tubuh.
Bicarakan pentingnya menurunkan Kesalahan kebiasaan makan menunjang
masukan kalori dan batasi masukan terjadinya aterosklerosis dan kegemukan, yang
lemak, garam, dan gula sesuai merupakan predisposisi untuk hipertensi dan
indikasi komplikasinya, mis: stroke, penyakit ginjal,
gagal ginjal, kelebihan masukan garam
memperbanyak volume cairan intravaskular
dan dapat merusak ginjal. Yang lebih
memperburuk hipertensi.
Tetapkan keinginan pasen Motivasi untuk penurunan berat badan adalah
menurunkan berat badan internal. Individu harus berkeinginan untuk
menurunkan berat badan.bila tidak maka
program sama sekali tidak berhasil.
Kaji ulang masukan kalori harian Mengidentifikasi kekuatan /kelemahan dalam
dan pilihan diit. program diit terakhir. Membantu dalam
menentukan kebutuhan individu untuk
penyesuaian/penyuluhan.
Tatapkan rencana penurunan BB Penurunan masukan kalori masukan kalori
yang realistik dengan pasien, mis: seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara
penurunan BB 0,5 kg per minggu teori dapat menurunkan BB 0,5 kg/minggu.
Penurunan BB yang lambat mengindikasikan
kehilangan lemak melalui kerja otot dan
umumnya dengan cara mngubah kebiasaan
makan.
Dorong pasien untuk Memberikan data dasar tentang keadekuatan
mempertahankan masukan makanan nutrisi yang dimakan, dan kondisi emosi saat
harian termasuk kapan dan dimana makan. Membantu untuk memfokuskan
makan dilakukan dan lingkungan perhatian pada faktor mana pasien telah/dapat
dan perasaan sekitar saat makanan mengontrol perubahan.
dimakan.
Instruksikan dan bantu memilih Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan
makanan yang tepat, hindari kolesterol penting dalam mencegah
makanan dengan kejenuhan lemak perkembangan aterogenesis.
tinggi (mentega, keju, telur, es krim,
daging) dan kolesterol (daging
berlemak, kuning telur, produk
kalengan, jeroan).
Kolaboratif
Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi Memberikan konseling dan bantuan dengan
memenuhi kebutuhan diit individual.

d. Diagnosa keperawatan: Koping, individual, inefektif


Mungkin berhubungan dengan:
- Kritis situasional/maturasional
- Perubahan hidup beragam.
- Relaksasi tidak adekuat.
- Sistem pendukung tidak adekuat.
- Sedikit atau tak pernah olah raga.
- Nutrisi buruk.
- Harapan yang tidak terpenuhi.
- Kerja berlebihan.
- Persepsi tidak realistik.
- Metode koping tidak efektif
Kemungkinan dibuktikan oleh:
- Menyatakan ketidakmampuan untuk mengatasi atau meminta bantuan.
- Ketidakmampuan untuk memenuhi harapan peran /kebutuhan dasar atau
pemecahan masalah.
- Perilaku merusak terhadap diri sendiri, makan berlebihan, hilang nafsu
makan, merokok/minuman berlebihan, cenderung melakukan
penyalahgunaan alkohol.
- Kelemahan/insomnia kronik, ketegagan otot, sering sakit kepala/leher,
kekuatiran/gelisah/cemas/tegangan emosi kronik, depresi.
Hasil yang di harapkan/kriteria evaluasi pasien akan:
- Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya.
- Menyatakan kesadaran kemampuan koping/kekuatan priadi.
- Mengidentifikasi potensial situasi stres dan mengambil langkah untuk
menghindari/mengubahnya.
- Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan /metode koping efektif.

TINDAKAN/INTERVENSI RASIONAL
Mandiri Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah
Kaji keefektifan strategi koping pola hidup sesorang, mengatasi hipertensi
dengan mengobservasi perilaku, mis: kronik, dan mengintegrasikan terapi yang
kemampuan menyatakan perasaan diharuskan kedalam kehidupan sehari hari.
dan perhatian, keinginan
berpartisipasi dalam rencana
pengobatan.
Catat laporan gangguan tidur, Manifestasi mekanisme koping maladaptive
peningkatan keletihan, kerusakan mungkin merupakan indicator marah yang di
konsentrasi, peka rangsang, tekan dan di ketahui telah menjadi penentu
penurunan toleransi sakit kepala, utama TD diastolik
ketidakmampuan untuk
mengatasi/menyelesaikan masalah.
Bantu pasien untuk mengidentifikasi Pengenalan terhadap stresor adalah langkah
stressor spesifik dan kemungkinan pertama dalam mengubah respon seseorang
strategi untuk mengatasinya terhadap stresor
Libatkan pasien dalam perencanaan Keterlibatan memberikan pasien perasaan
perawatan dan beri dorongan control diri yang berkelanjutan, memperbaiki
partisipasi maksimum dalam rencana keterampilan koping, dan dapat
pengobatan. meningkatkan kerja sama dalam regimen
terapeutik.
Dorong pasien untuk mengevaluasi Fokus perhatian pasien pada realitas situasi
prioritas/tujuan hidup. Tanyakan yang ada relative terhadap pandangan pasian
pertanyaan seperti “apakah yang anda tentang apa yang diinginkan.
lakukan merupakan apa yang anda
inginkan?”
Bantu pasien untuk mengidentifikasi Perubahan yang perlu harus di prioritaskan
dan mulai merencanakan perubahan secara realistic untuk menghindari rasa tidak
hidup yang perlu. Bantu untuk menentu dan tidak berdaya.
menyesuaikan, ketimbang
membatalkan tujuan diri/keluarga.

e. Diagnosa keperawatan: Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai


kondisi, rencana pengobatan
Mungkin berhubungan dengan:
- Kurang pengetahuan/daya ingat.
- Misinterprestasi informasi.
- Keterbatasan kognitif.
- Menyangkal diagnose.
Kemungkinan di buktikan oleh:
- Menyatakan masalah.
- Meminta informasi.
- Menyatakan miskonsepsi.
- Mengikuti instruksitidak akurat; inadekuat kinerja prosedur.
- Perilaku tidak tepat atau eksagregasi, mis; bermusuhan, agitasi, apatis.
Hasil yang di harapkan/evaluasi criteria pasien akan:
- Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen
pengobatan.
- Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang
perlu di perhatikan.
- Memperhatikan TD dalam parameter normal
TINDAKAN/INTERVENSI RASIONAL
Mandiri Kesalahan konsep dan menyangkal
Kaji kesiapan dan hambatan dalam diagnosa kerena perasan sejahtera yang
belajar. Termasuk orang terdekat. sudah lama di nikmati mempengaruhi
minat pasien/orang terdekat untuk
mempelajari penyakit, kemajuan, dan
prognosis. Bila pasien tidak menerima
realitas bahwa membutuhkan
pengobatankontinu, maka perubahan
perilaku tidak akan di pertahankan.
Tetapkan dan nyatakan batas TD normal. Memberikan dasar untuk pemahaman
Jelaskan tentang hipertensi da efeknya tentang peningkatan TD dan
pada jantung, pembuluh darah, ginjal, dan mengklarifikasi istilah medis yang sering
otak. di gunakan. Pemahaman bahwa TD
tinggi dapat terjadi tanpa gejala adalah
ini untuk memungkinkan pasien
melanjutkan pengobatanmeskipun ketika
merasa sehat.
Hindari mengatakan TD “normal” dan Karena pengobatan untuk hipertensi
gunakan istilah “terkontrol dengan baik” adalah sepanjang kehidupan, maka
saat menggambarkan TD pasien dalam dengan penyampaian ide “terkontrol”
batas yang diinginkan. akan membantu pasien untuk memahami
kebutuhab untuk melanjutkan
pengobatan.
Bantu pasien dalam mengidentifikasi Faktor – faktor resiko ini telah
faktor – faktor risiko kardiovaskuler yang menunjukan hubungan dalam menunjang
dapat di ubah. Mis: obbesitas, diit tinggi hipertensi dan penyakit kardiovaskuler
lemak jenuh, dan kolesterol, pola hidup serta ginjal.
monoton, merokok dan minuman alkohol
(lebih dari 60cc/hari dengan teratur), pola
hidup penuh stres.
Atasi masalah dengan pasien untuk Faktor – faktor resiko dapat
mengidentifikasi cara di mana perubahan meningkatkan proses penyakit atau
gaya hidup yang tepat dapat dibuat untuk memperburuk gejala. Dengan mengubah
mengurangi faktor – faktor di atas. pola perilaku yang “ biasa/memberikan
rasa aman” dapat sangat menyusahkan.
Dukungan petunjuk dan empati dapat
meningkatkan keberhasilan pasien dalam
menyelesaikan tugas ini.
Bahas pentingnya menghentikan Nikotin meningkatkan pelepasan
merokok dan bantu pasien dalam katekolamin, mengakibatkan peningkatan
membuat rencana untuk berhenti frekuensi jantung, TD, dan
merokok. vasokontroksi, mengurangi oksigenasi
jaringan, dan meningkatkan beban kerja
miokardium.
Beri penguatan pentingnya kerja sama Kurangnya kerja sama adalah alas an
dalam regimen pengobatan dan umum kegagalan terapi antihipertensif.
mempertahankan perjanjian tingkat Oleh karenanya evaluasi yang
lanjut. berkelanjutan untuk kepatuhan pasien
adalah penting untuk keberhasilan
pengobatan . terapi yang efektif
menurunkan insiden strok, gagal
jaunting, gngguan ginjal, dan
kemungkinan miokard infark.
Instruksikan dan peragakan teknik Dengan mengajarkan pasien atau orang
pemantauan TD mandiri. Evaluasi terdekat untuk memantau TD adalah
pendengaran, ketajaman penglihatan dan meyakinkan untuk pasien, karena
ketajaman manual serta koordinasi hasilnya memberikan penguatan
pasien. visual/positif akan usaha pasien.
Bantu pasien untuk mengembangkan Dengan mengnidividualsisasikan jadwal
jadwal yang sederhana, memudahkan pengobatan sehingga sesuai dengan
untuk minum obat. kebiasaan/kebutuhan pribadi pasien dapat
memudahkan kerja sama dengan regimen
jangka panjang.
Jelaskan tentang obat yang di resepkan Informasi yang adekuat dan penambahan
bersamaan dengan rasional, dosis, efek bahwa efek samping, mis: perubahan
samping yang di perkirakan serta efek suasana hati, peningkatan BB awal,
yang merugikan, dan idiosinkrasi. mulut kering)adalah umum dan sering
menghilang dengan berjalannya waktu
dengan demikian meningkatkan kerja
sama rencana pengobatan.
Diuretik: minum dosis harian (atau dosis Penjadwalan yang meminimalkan
lebih besar) pada pagi hari; berkemih pada malam hari.
Ukur dan catat BB sendiri pada jadwal Indikator utama keefektifan terapi
diuretik.
Hindari/batasi masukan alkohol Kombonasi efek vasodilatasi alkohol dan
efek penipisan volume dari diuretik
sangat meningkatkan resiko hipotensi
ortostatik
Beritahu dokter bila tak dapat Dehidrasi dapat terjadi dengan cepat bila
mentoleransi makanan/cairan. masukan kurang dan pasien terus minum
diuretik
Antihipertensi: minum dosis yang di Penghentian obat mendadak
resepkan dengan teratur, hindari menyebabkan rebound hipertensi yang
melalaikan dosis, mengubah atau dapat mengarah pada komplikasi berat.
melebihi dosis dan jangan menghentikan Ukur penurunan keparahan hipotensi
tanpa memberitahu pemberi asuhan ortostatik yang berhubungan dengan
kesehatan, bangun dengan perlahan dari penggunaan vasodilator dan diuretik.
berbaring ke posisi berdiri, duduk untuk
beberapa menit sebelum berdiri, tidur
dengan kepala agak di tinggikan.
Sarankan untuk sering mengubah posisi, Menurunkan bendungan vena perifer
olah raga kaki saat berbaring. yang dapat di timbulkan oleh vasodilator
dan duduk /berdiri terlalu lama
Rekomendasikan untuk menghindari air Mencegah vasodolatasi yang tak perlu
panas, ruang penguapan, dan penggunaan dengan bahaya efek samping yaitu
alkohol yang berlebihan. pingsan dan hipotensi.
Anjurkan pasien untuk berkonsultasi Tindak kewaspadaan penting dalam
dengan pemberi perawatan dengan pencegahan interaksi obat yang
sebelum menggunakan obat – obatan kemungkinan berbahaya. Setiap obay
yang di resepkan atau tidak di resepkan. yang mengandung stimulan saraf
simpatis dapat meningkatkan TD atau
dapat melawan efek antihipertensif.
Instruksikan pasien tentang peningkatan Diuretik dapat menurunkan kadar
makanan/cairan tinggi kalium, mis: jeruk, kalium. Penggantian diit lebih baik dari
pisang, tomat, kentang, apricot, kurma, pada obat dan semua ini di perlukan
buah ara, kismis, Gatorade, sari buah untuk memperbaiki kekurangan.
jeruk, dan minuman yang mengandung Beberapa penelitian menunjukan bahwa
tinggi kalsium, mis: susu rendah lemak, mengkonsumsi kalsium 400 – 2000 mg
yogurt atau tambahan kalsium sesuai per hari dapat menurunkan TD sistolik
indikasi. dan diastolik. Memperbaiki mineral
dapat juga mempengaruhi TD.
Riviu tanda - tanda/yang memerlukan Deteksi dini terjadinya komplikasi,
pelaporan pada pemberi asuhan penurunan efektifitas atau reaksi yang
kesehatan, mis: sakit kepala yang terjadi merugikan dari regimen obat
saat bangun, peningkatan TD tiba - tiba memungkinkan untuk intervensi.
dan terus menerus, nyeri dada/sesak
nafas, frekuensi nadi
meningkat/takteratur, peningkatan BB
yang signifikan (1 kg/hr atau 2,5
kg/minggu) atau pembengkakan
perifer/abdomen, gangguan penglihatan,
sering perdarahan hidung tak terkontrol,
depresi/emosi labil, pusing yang hebat
atau episode pingsan, kelemahan/kram
otot, mual/muntah, haus berlebihan,
penurunan libido/impoten.
Jelaskan rasional regimen diit yang di Kelebihan lemak jenuh,kolesterol,
haruskan (biasanya diit rendah natrium, natrium, alkohol, dan kalori telah
lemak jenuh, dan kolesterol). didefinisikan sebagai risiko nutrisi dalam
hipertensi.diit rendah lemak dan tinggi
lemak poli tak jenuh menurunkan TD,
kemungkinan melalui keseimbangan
prostaglandin, pada orang – orang
normotensif dan hipertensi.
Bantu pasien untuk mengidentifikasi Diit rendah garam selama 2 tahun
sumber masukan natrium, mis: garam mungkin sudah mencukupi untuk
meja, makanan bergaram, daging dan mengontrol hipertensi sedang atau
keju olahan, saus, sup kaleng, sayuran, mengurangi jumlah obat yang di
soda kue, baking powder MSG. tekankan butuhkan.
pentingnya membaca label kandungan
dan obat yang di jual bebas.
Dorong pasien untuk menurunkan atau Kafein adalah stimulan jantung dan dapat
menghilangkan kafei , mis: kopi, the, memberikan efek merugikan pada fungsi
cola, coklat. jantung.
Tekankan pentingnya Dengan menyelingi istirahat dan aktifitas
perencanaan/penyelesaian periode akan meningkatkan toleransi terhadap
istirahat harian. kemajuan aktifitas.
Anjurkan pasien untuk memantau respon Keterlibatan pasien dalam memantau
fisiologi sendiri terhadap aktifitas, mis: toleransi aktifitasnya sendiri penting
frekuensi nadi, sesak napas. Laporkan untuk keamanan dan atau memodifikasi
penurunan toleramsi terhadap aktifitas aktifitas kehidupan se hari hari.
dan hentikan aktifitas yang menyebabkan
nyeri dada sesk napas, pusing, keletihan
berat, atau kelemahan

Dorong pasien untuk membuat program Selain membantu menurunkan TD,


olah raga sendiri seperti olah raga aerobik aktifitas aerobik merupakan alat untuk
berenang,berjalan.yang pasien mampu menguatkan sistem kardiovaskuler.
lakukan. Tekankan pentingnya Latihan isometrik dapat meningkatkan
menghindari aktivitas isometrik. kadar katekolamin serum, akan lebih
meningkatkan td.
Peragakan penerapan kompres es pada Kapiler nasal dapat rupture sebagai
punggung leher dan tekanan pada akibat dari tekanan vaskuler berlebihan.
sepertiga ujung hidung, dan anjurkan Dingin dan tekanan mengkonstriksikan
pasien menundukan kepala kedepan bila kapiler, yang melambatkan perdarahan.
terjadi perdarahan hidung. Menundukan menurunkan jumlah darah
yang tertelan.
Berikan informasi tentang sumber – Sumber – sumber di masyarakat seperti
sumber di masyarakat dan dukungan yayasan jantung Indonesia “coronary
pasien dalam membuat perubahan pola club” , klinikn berhenti merokok,
hidup. Lakukan untuk rujukan bila da rehabilitasi alkohol, program penurunan
indikasi. BB, kelas penanganan stres, dan
pelayanan konseling dapat membantu
pasien dalam upaya mengawali dan
mempertahankan perubahan pola hidup.
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA Tn. R DENGAN
HIPERTENSI PADA Ny. M DI RT 03 DESA MEKAR SARI
KECAMATAN SIMPANG EMPAT KABUPATEN TANAH BUMBU

A. DATA UMUM KELUARGA


a. Nama kepala keluarga : Tn. R
b. Umur : 41 Tahun
c. Agama : Islam
d. Pendidikan : SD
e. Pekerjaan : Swasta
f. Suku / Bangsa : Banjar / Indonesia
g. Alamat : Jl. Kodeco Km. 14,5 Rt.03
h. Komposisi keluarga :
No Nama Umur Sex Tgl Lahir Pendidikan Pekerjaan Ket.
1. Tn. R 41 Thn L 1974 SD Swasta
2. Ny. M 31 Thn P 1984 SD IRT
3. Tn. H 15 Thn L 2000 SD Swasta
4. An.M 09 Thn L 2006 - Pelajar
5. By.M 05 Bln L 2015 - -
6. Ny.M 67 Thn P 1948 Tidak Sekolah -

i. Tipe keluarga : Multigenerational family


j. Genogram :

Keterangan :

: Laki-laki : Perempuan

: Meninggal : Pasien

: Tinggal satu rumah


k. Sifat Keluarga
1). Pengambilan Keputusan
Dalam keluarga Tn. R jika ada masalah maka pengambilan keputusan
selalu dilakukan dengan musyawarah terlebih dahulu.
2). Kebiasaan Hidup Sehari-hari
a) Kebiasaan tidur / istirahat
Ny M tidur malam kurang lebih 8 jam perhari, Ny. M mempunyai
kebiasaan tidur siang. Sedangkan anggota keluarga yang lain tidak
mempunyai masalah dengan tidur yakni tidur malam kurang lebih 7
jam dengan kualitas nyenyak, dan tidak suka tidur siang karena harus
beraktivitas.
b) Kebiasaan rekreasi
Keluarga Tn. R jarang berekreasi keluar rumah. Saat ini keluarga
mendapat hiburan hanya dari televise.
c) Kebiasaan makan keluarga
Kebiasaan makan dan minum keluarga Tn. R tidak teratur, kadang -
kadang frekwensi makan 2-3 x/hari dengan menu seadanya : jenis
makanan pokok berupa nasi, sedangkan lauk yang paling sering tahu,
tempe. Makanan pantangan di keluarga tidak ada., kecuali Ny M
mempunyai makanan yang harus dikontrol konsumsinya yakni
berjenis makanan yang mengandung garam. Namun kadang-kadang
Ny.M memakan makanan yang kadar garamnya tinggi seperti ikan
asin dan jenis sayuran yang dapat memicu peningkatan tekanan darah
seperti sayur daun pepaya. Porsi makan setiap anggota keluarga 1
porsi habis. Keluarga selalu mencuci tangan sebelum makan. Cara
memasak sayuran adalah dengan dipotong, dicuci kemudian dimasak.
Kebiasaan minum keluarga setiap hari adalah air putih dengan
frekwensi minum  8 gelas / hari. Tn. R kadang – kadang minum teh
dan kopi setiap pagi, sedangkan Ny. M terbiasa minum air teh.
l. Status Sosial Ekonomi Keluarga
Keluarga Tn R. Mempunyai penghasilan yang tidak menetap, penghasilan
tertinggi Rp. 1.500.000,- /bulan sedangkan jika tidak ada pekerjaan sama
sekali kadang dalam satu bulan tidak menghasilkan sama sekali. Sedangkan
pengeluaran sebagai berikut:
Keperluan makan : Rp. 700.000,-
Listrik : Rp. 45.000,-
SPP : Rp. 150.000,-
Air : Rp. 5.000,-
Jajan Anak : Rp. 500.000,-
Lain-lain : Rp. 100.000,-
Jumlah : Rp.1.500.000,-
m. Suku (kebiasaan kesehatan terkait suku bangsa)
Menurut pengakuan keluarga, untuk menyembuhkan penyakitnya, Ny. M
telah melakukan berbagai upaya selain berobat ke pelayanan kesehatan juga
pernah mendatangi ke “orang pintar” dan mencoba konsul ke tempat herbalis.
n. Agama (kebiasaan kesehatan terkait agama)
Anggota keluarga semuanya beragama islam, dan keluarga selalu berdo’a
untuk kesembuhan Ny. W.

B. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


a. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tahapan keluarga Tn.R berada dalam tahap 5 yakni anak pertama telah remaja
(Rodgers cit Friedman, 199).
b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
Tahap perkembangan keluarga yang belum dipenuhi keluarga Tn. R adalah
memenuhi kebutuhan dasar keluarga yang meningkat, termasuk biaya
kehidupan dan kesehatan anggota keluarga (makan seadanya, ada anak bayi,
alat sekolah, bila anak sakit terkadang hanya dibelikan obat diwarung, bila tak
sembuh baru diperiksakan ke Puskesmas)
c. Riwayat keluarga inti
Dalam keluarga Tn. R tidak mempunyai riwayat penyakit menular, namun
mempunyai riwayat penyakit keturunan yakni Ny. M mempunyai penyakit
Hipertensi.
d. Riwayat keluarga sebelumnya (pihak istri dan suami)
Menurut pengakuan keluarga baik dari Tn. R maupun Ny. M sebelumnya
tidak ada yang mempunyai riwayat penyakit keturunan.

C. LINGKUNGAN
a. Karakteristik rumah (tipe, ukuran, jumlah ruangan)
Jenis rumah keluarga Tn. R non permanen dengan ukuran 40 m2, dengan
ruangan terdiri dari: ruang tamu, dapur dan kamar tidur.
b. Ventilasi dan penerangan
Rumah keluarga Tn. R mempunyai ventilasi lebih dari 10 % dari luas rumah,
dimana udara dapat masuk melalui pintu rumah, jendela dan kisi-kisi jendela.
Adapun penerangan ketika siang hari menggunakan sinar matahari sedangkan
malam hari menggunakan cahaya listrik .
c. Persediaan air bersih
Sumber air berasal dari sumur, digunakan untuk keperluan sehari-hari,
keadaan air bersih tidak berasa, tidak berbau dan tidak berwarna.
d. Pembuangan sampah
Keluarga Tn. R membuang sampah yang berasal dari sampah Rumah Tangga
dilakukan dengan cara mengumpulkannya terlebih dahulu kemudian di bakar.
e. Pembuangan air limbah
Air limbah dialirkan menuju selokan, bersama-sama dengan masyarakat lain.
f. Jamban / WC (tipe, jarak dari sumber air)
Keluarga Tn. R mempunyai WC pribadi, jarak antara WC dengan sumber air
lebih dari 10 meter.
g. Denah rumah
DPR WC

K.TDR R.KLG

R.TM

h. Lingkungan sekitar rumah


Di rumah Tn. R terdapat tanaman tahunan, antar rumah satu dengan rumah
lain saling berjauhan, ada jarak yang cukup lebar, ada kandang ternak yang
lokasinya ada di belakang rumah, terpisah dengan bangunan rumah.
i. Sarana komunikasi dan transportasi
Keluarga Tn. R mempunyai sarana komunikasi berupa handphone dan
penghubung komunikasi antar anggota keluarga Tn R adalah komunikasi
langsung untuk menyampaikan maksud dan tujuan. Sarana angkutan /
tranportasi yang digunakan untuk bepergian motor atau angkutan umum.
j. Fasilitas hiburan (TV, radio, dll.)
Keluarga Tn R mempunyai fasilitas hiburan TV berukuran 21 inci.
k. Fasilitas pelayanan kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan yang dimiliki keluarga Tn. R adalah
JAMKESDA (Jaminan Kesehatan Daerah).
D. SOSIAL
a. Karakteristik tetangga dan komunitas
Karakteristik antar keluarga selalu rukun, apabila ada masalah diselesaikan
dengan cara bermusyawarah bersama. Karakteristik tetangga beraneka ragam
pekerjaan. Kebanyakan tetangga masih ada hubungan keluarga dan berasal
dari suku yang sama. Sehingga hubungan kekeluargaan diantara komunitas
sangat baik.
b. Mobilitas geografis keluarga
Keluarga Tn. R adalah penduduk asli yang menetap di RT 03 Desa Mekar
Sari sampai saat ini dan belum pernah berpindah tempat
c. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Keluarga Tn R biasa berkumpul dengan anggota keluarga sehabis shalat
magrib sambil nonton TV. Sedangkan dengan masyarakat, keluarga Tn R
berkumpul ketika sedang ada waktu saja. Tn. R sering berkumpul dengan
keluarga dan masyarakat pada hari jumat, karena ada kebiasaan dimasyarakat
bahwa pada hari jumat mereka akan libur bekerja diladang dan akan berada
dirumah mereka masing-masing. Mereka menghormati hari jumat sebagai hari
untuk beribadah.
d. Sistem pendukung keluarga
Jika ada anggota keluarga yang sakit, keluarga terutama Tn. R selaku kepala
keluarga selalu memberi dukungan dan motivasi diri untuk selalu berobat ke
pelayanan kesehatan. Namun pada saat ini petugas kesehatan yang
ditempatkan didesa mereka tidak ada ditempat/poskesdes. Sehingga keluarga
Tn. R sangat kesulitan bila ingin berobat.

E. STRUKTUR KELUARGA
a. Pola Komunikasi Keluarga
Anggota keluarga Tn. R dalam berkomunikasi sehari-hari selalu
menggunakan bahasa Banjar.
b. Struktur Kekuatan Keluarga
Keluarga Tn. R merupakan patriakal yang mana garis keturunannya disusun
dengan garis ayah, dan yang memegang kekuatan dalam keluarga adalah Tn.
R.
c. Struktur Peran (formal dan informal)
Peran Tn. R adalah sebagai suami dari Ny W dan sebagai bapak dari anak-
anaknya. Dalam keluarganya Tn R berperan sebagai kepala keluarga yang
berfungsi untuk menghidupi keluarganya.
Peran Ny. WE adalah sebagai istri dari Tn R dan seorang ibu dari anak-
anaknya. Dalam keluarganya Ny. W berperan sebagai Ibu Rumah Tangga
sekaligus bekerja untuk membantu beban suaminya.
Peran Tn. M adalah sebagai anak di keluarganya, saat ini sedang bersekolah di
SLTA di Batulicin.
Peran An. M sebagai anak di keluarganya, saat ini sedang bersekolah di
Sekolah Dasar di Desa Mekar Sari.
Peran By M adalah sebagai anak.
Ny. M sebagai orang tua dari Ny. M, mertua dari Tn. R yang sekarang sebagai
lansia di keluarga Tn. R.
d. Nilai dan Norma Keluarga
Keluarga masih memegang adat istiadat Banjar, dan keluarga menetapkan
norma-norma agama dalam kehidupan sehari-hari diantaranya tentang hormat-
menghormati dengan sesama dan orang yang lebih tua.

F. FUNGSI KELUARGA
a. Fungsi afektif
Tn. R mengatakan dikeluarganya selalu menanamkan sikap saling
menghargai, saling menghormati dan saling memiliki. Pada saat sakit,
keluarga selalu mendukung dan memotivasi pengobatan Ny. M.
b. Fungsi sosialisasi
Tn. R mengatakan dalam keluarganya selalu berkomunikasi dan berinteraksi
satu sama lainnya, keluarga Tn. R suka berinteraksi dengan baik terhadap
lingkungan sekitarnya
c. Fungsi perawatan kesehatan
Tn. R, mengatakan bahwa keluarganya sangat peduli jika terdapat anggota
keluarganya yang sakit. Keluarga belum memahami tentang pengkajian
keluarganya yang sakit, keluarga belum memahami tentang penyajian
makanan yang dapat menurunkan derajat kesehatan, kebersihan pakaian dan
pentingnya tempat tinggal sebagai tempat perlindungan. Keluarga belum
dapat memahami tentang perawatan anggota keluarga yang sakit, pengetahuan
keluarga tentang sehat-sakit dan kesadaran keluarga dalam pelaksanaan
kesehatan.
Penapisan masalah berdasarkan 5 tugas perawatan kesehatan:
1). Mengenal masalah kesehatan
Keluarga menganal adanya masalah pada Ny. M yakni sering sakit kepala
2). Memutuskan untuk merawat
Keluarga belum mampu mengambil kuputusan untuk merawat Ny. M,
dengan jaminan kesehatan yang dimiliki dari pemerintah
3). Mampu merawat
Keluarga mengatakan tidak tahu cara merawat anggota dengan anggota
keluarga hipertensi dan kolesterol.
4). Modifikasi lingkungan
Keluarga mengatakan tidak tahu bagaimana cara mensiasati penyakit yang
di derita Ny. M
5). Memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada
Keluarga Tn. R tidak bisa memanfaatkan fasilitas kesehatan yakni
Puskesdes secara maksimal dikarenakan petugasnya tidak ada di tempat.
c. Fungsi reproduksi
Jumlah anak Ny. M 3 orang, saat ini Ny R belum menopouse
d. Fungsi ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan ekomoni, ditanggung oleh Tn. R sebagai kepala
keluarga.

G. STRESS DAN KOPING KELUARGA


a. Stressor jangka pendek dan jangka panjang
1). Stresor jangka pendek
Keluarga mengatakan dan selalu berharap agar Ny. M tidak mengeluh
sakit.
2). Stresor jangka panjang
Keluarga mengatakan dan berharap agar Ny. M kembali seperti keadaan
sebelumnya dan seluruh anggota keluarga selalu sehat.
b. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi atau stressor
Keluarga mengatakan apabila ada suatu permasalahan, maka ia selalu
menyampaikan dan merundingkannya dengan anggota keluarga.
c. Strategi koping yang digunakan
Keluarga Tn. R dalam menghadapi permasalahan selalu dibicarakan secara
bersama-sama untuk mencari solusinya.
d. Strategi adaptasi disfungsional
Jika Tn. R sedang menghadapi suatu permasalahan dengan anggota keluarga,
ia akan membicarakannya dengan istrinya dan keluarga. Sehingga tidak
menjadi beban pikiran baginya.

H. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


a. Riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga
a). Ayah
Tn. R mengatakan tidak mempunyai masalah kesehatan, dan tidak pernah
mengalami sakit parah.
b). Ibu
Ny. M mengatakan mengeluh pusing, leher kadang terasa kaku seperti
memikul beban berat. Klien mengatakan takut kalau sakitnya ini
bertambah parah seperti tetangganya yang menderita penyakit jantung.
c). Anak
Tn. M : Tn. M mengatakan tidak mempunyai masalah kesehatan
An. M : An. M mengatakan tidak mempunyai masalah kesehatan
By. M : By. M mengatakan tidak mempunyai masalah kesehatan
Ny. M : Ny. M mengatakan kadang pusing dan pegal-pegal
b. Keluarga berencana
Dalam keluarga Tn. R tidak ada yang menggunakan KB.
c. Imunisasi
Dalam keluarga Tn. R ada anggota keluarganya yang masih balita, namun
anak-anak Tn. R tidak diimunisasi lengkap.
d. Tumbuh kembang
a). Pemeriksaan tumbuh kembang anak
- Anak I :-
- Anak II :-
- Anak III :-
b). Pengetahuan orang tua terhadap tumbuh kembang anak
PEMERIKSAAN FISIK
Aspek Yang
NO Tn. R Ny. M Tn. M An. M By. M Ny. M
Diperiksa
Sakit (pusing, pegal-
1 Penampilan sehat Sakit (Pusing) sehat Sehat Sehat
pegal)
2 Kesadaran Compos mentis Compos mentis Compos mentis Compos mentis Compos mentis Compos mentis
Tanda vital
 Tensi T : 120/80 mmHg T : 150/90 mmHg T : 110/70mmHg T : - mmHg T : - mmHg T : 190/90 mmHg
3  Suhu S : 36,2 0C S : 37,3 0C S : 35,90C S : 36,0 0C S : 36,6 0C S : 36,6 0C
 Nadi N : 84x/menit N : 84x/menit N : 89x/menit N : 96x/menit N : 104x/menit N : 83x/menit
 Respirasi R : 21xmenit R : 24xmenit R : 22xmenit R : 32xmenit R : 32xmenit R : 21xmenit
Bentuk simetris, Bentuk simetris, Bentuk simetris, Bentuk simetris,
Kepala distribusi rambut distribusi rambut merata, distribusi rambut Warna hitam, tidak ada Warna hitam, tidak distribusi rambut
4
merata, terdapat uban, tidak terdapat uban, lesi merata, tidak terdapat kelainan, bersih ada kelainan, bersih merata, terdapat uban,
lesi tidak ada tidak ada uban, lesi tidak ada lesi tidak ada
Mata
 Konjungtiva An anemis An anemis An anemis An anemis An anemis An anemis
 Sklera An ikterik An ikterik An ikterik An ikterik An ikterik An ikterik
 Reflek pupil Miosis saat terkena Miosis saat terkena Miosis saat terkena Miosis saat terkena Miosis saat terkena Miosis saat terkena
5
cahaya miosis cahaya cahaya cahaya cahaya cahaya

 Penglihatan Baik Baik Baik Baik Baik Baik

Hidung
 Bentuk Simteris Simteris Simteris Simteris Simteris Simteris
 Septum Ditengah Ditengah Ditengah Ditengah Ditengah Ditengah
 Sekret Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
6
 Pernafasan TAK TAK TAK TAK TAK TAK
cuping
hidung
 Penciuman Baik Baik Baik Baik Baik Baik
Mulut
 Keadaan Lembab Lembab Lembab Lembab Lembab Lembab
7
mukosa
 Caries Ada Ada Tidak Ada Tidak Ada Tidak Ada Ada
 Ovula Ditengah warna merah Ditengah warna merah Ditengah warna merah Ditengah warna merah Ditengah warna merah Ditengah warna merah
muda muda muda muda muda muda
 Pengecapan Baik Baik Baik Baik Baik Baik
Telinga
Simteris Simteris
 Bentuk Simteris Simteris Simteris Simteris
Sejajar sudut mata Sejajar sudut mata
 Daun telinga Sejajar sudut mata Sejajar sudut mata Sejajar sudut mata Sejajar sudut mata
8 Tidak ada Tidak ada
 Sekret Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Tidak ada Tidak ada
 Massa/nyeri Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Baik Baik
 Pendengaran Baik Baik Baik Baik
Leher
 JVP Tidak ada peningkatan Tidak ada peningkatan Tidak ada peningkatan Tidak ada peningkatan Tidak ada peningkatan Tidak ada peningkatan
 KGB Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran
9
 Tiroid Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran
 Reflek
menelan Ada Ada Ada Ada Ada Ada
Dada
 Bentuk
Simetris Simetris Simetris Simetris Simetris Simetris
 Pergerakan
Simetris Simetris Simetris Simetris Resonan Resonan
 Perkusi paru
10 Resonan Resonan Resonan Resonan Resonan Resonan
 Auskultasi
Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler
paru
 Auskultasi
Reguler Reguler Reguler Reguler Reguler Reguler
jantung
Abdomen
 Bentuk Datar
Datar Datar Datar Datar Datar
 Kontur Lembut
11 Lembut Lembut Lembut Lembut Lembut
 Massa Tidak ada pembesaran
Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran
Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
 Nyeri Tidak ada
Ekstremitas
 Bentuk Simetris Simetris Simetris Simetris Simetris Simetris
 Pergerakan normal normal Normal Normal Normal Normal
 Tonus otot Normal Normal Normal Normal Normal Normal
 Edema Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
12  Varises Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
 Kekuatan otot +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +3 +3
+5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +5 +3 +3
VIII. Harapan Keluarga.
Keluarga berharap Ny.M dapat sembuh dan petugas kesehatan dapat memberi
pelayanan kesehatan dengan baik.

Ø Analisa Data, Perumusan masalah dan Diagnosa Keperawatan


No Data Etiologi Masalah
1. DS : Peningkatan tekanan Nyeri akut
Klien mengatakan sakit kepala dan darah
leher terasa tegang.
P : Pada saat duduk dan berjalan. Vasokonstriksi
Q : Terasa berat. pembuluh darah
R : Daerah kepala dan leher.
S : Sedang dengan skala 4 (1-10)
T : Kadang-kadang Peredaran darah ke
seluruh tubuh
DO : berkurang sehingga
- Klien tampak tegang. suplao O2 ke otak
- Klien tampak menahan sakit berkurang
- TD : 190/100 mmHg
- N : 85 x/mnt Peningkatan tekanan
- R : 22 x/mnt intra cranial

Nyeri kepala
2. DS : Kurangnya sumber Ketakutan
Klien mengatakan takut kalau informasi tentang
penyakitnya ini bertambah parah. penyakit yang
DO : diderita
- Klien tampak kurang
pengetahuan.
- Klien dan keluarga tampak
masih asing dengan sumber
informasi
- TD : 150/90 mmHg

Diagnosa keperawatan.
1. Nyeri akut pada Ny.M keluarga Tn.R b.d ketidak mampuan keluarga dalam
merawat anggota keluarga dengan hipertensi.
2. Ketakutan Ny.M keluarga Tn.R terhadap komplikasi penyakit b.d ketidak
mampuan keluarga dalam merawat dan mengenal karakteristik penyakit dan
perawatannya.

B. Perencanaan
Untuk menentukan skala prioritas pemecahan masalah dalam rencana perawatan
keluarga Tn. R terlebih dahulu dibuat sistem skoring masalah kesehatan sebagai
berikut :
1. Nyeri akut pada Ny.M keluarga Tn.R b.d ketidak mampuan keluarga dalam
merawat anggota keluarga dengan hipertensi.

No Kriteria Perhitungan Skor Pembenahan


1. Sifat masalah 3/3 x 1 1 Masalah adalah
1. Tidak/Kurang Sehat (3) keadaan yang sudah
2. Ancaman Kesehatan (2) terjadi dan perlu di
3. Krisis (1) lakukan tindakan segera.
2. Kemungkinan masalah 1/2x 2 1 Sumber-sumber yang ada
dapat diubah dan tindakan untuk
1. Dengan Mudah (2) memecahkan masalah
2. Hanya Sebagian (1) dapat dijangkau keluarga.
3. Tidak Dapat (0)
3. Potensi untuk mencegah 3/3 x 1 1 Masalah dapat dicegah
masalah untuk tidak
1. Tinggi (3) memperburuk keadaan
2. Cukup (2) dapat dilakukan Ny.M
3. Rendah (1) dan keluarga dengan
memperbaiki perilaku
hidup sehat.
4. Menonjolnya masalah 1/2 x 1 ½ Keluarga menyadari
1. Masalah dirasakan dan adanya masalah tetapi
perlu penanganan tidak didukung dengan
segera. (2) pemahaman yang ade-
2. Masalah di rasakan, kuat tentang karakteristik
tidak perlu di tangani penyakit .
segera (1)
3. Masalah tidak
dirasakan (0)

Total Skor 3½
2. Ketakutan Ny.M keluarga Tn.R terhadap komplikasi penyakit b.d ketidak
mampuan keluarga dalam merawat dan mengenal karakteristik penyakit dan
perawatannya.
No Kriteria Perhitungan Skor Pembenahan
1. Sifat masalah 2/3 x 1 ⅔ Adanya ancaman
1. Tidak/Kurang Sehat (3) kesehatan tetapi tidak
2. Ancaman Kesehatan (2) perlu ditangani
3. Krisis (1) segera.
2. Kemungkinan masalah 1/2 x 2 1 membawa Ny.W ke
dapat diubah pelayanan kesehatan
1. Dengan Mudah (2) untuk mendapatkan
2. Hanya Sebagian (1) pengobatan dan
3. Tidak Dapat (0) perawatan.
3. Potensi untuk mencegah 2/3 x 1 ⅔ Pencegahan bias
masalah dilakukan dengan
1. Tinggi (3) menjaga pola hidup
2. Cukup (2) dan pola makan.
3. Rendah (1)
4. Menonjolnya masalah 2/2 x 1 1 Tn.A dan Ny.S bisa
1. Masalah dirasakan menerima keadaan
dan perlu penanganan mereka saat ini
segera. (2) meskipun belum
2. Masalah di rasakan, stabil.
tidak perlu di tangani
segera (1)
3. Masalah tidak
dirasakan (0)
Total Skor 3⅓
RENCANA KEPERAWATAN KELUARGA Tn. R

DX. KEP TUJUAN KRITERIA EVALUASI INTERVENSI


NO
KELUARGA UMUM KHUSUS KRITERIA STANDART
1 I Setelah dilakukan Setelah dilakukan Demonstrasi Keluarga dapat mendemonstrasikan 1. Berikan penjelasan pada keluarga
tindakan keperawatan kunjungan rumah 3x cara mengurangi dan mencegah tentang cara mengurangi/ mencegah
rasa nyeri diharapakan keluarga trerjadinya nyeri dengan benar terjadinya nyeri
teratasi/hilang mampu memberikan dengan teknik relaksasi, kompres 2. Demonstrasikan pada keluarga
keperawatan pada Ny M dingin pada kepala bagian belakang tentang cara mengurangi nyeri
dengan nyeri akut dan menghindari perubahan posisi 3. Berikan penjelasan pada keluarga
secara mendadak dan pengobatan tentang diet yang sesuai dengan
secara teratur penderita hipertensi yaitu diet
rendah garam, rendah lemak dan
kolesterol
4. Anjurkan pada keluarga untuk
mengkonsumsi makanan sesuai
dengan diet hipertensi
5. Anjurkan pada keluarga untuk
jadwal tidur Ny. M
6. Anjurkan pada keluarga
memeriksakan Ny. M secara
teratur

II Setelah dilakukan Setelah dilakukan Demonstrasi  Adanya usaha untuk tidur sesuai 1. Berikan penjelasan pada keluarga
tindakan keperawatan kunjunngan rumah 3x kebutuhan tentang diet yang sesuai untuk
diharapkan rasa takut diharapakn keluarga  Periksa secara teratur ke penderita hipertensi yaitu diet
teratasi/hilang mampu memberikan pelayanan kesehatan rendah garam, rendah lemak dan
perawatan pada Ny. S  Ungkapan Ny M tidak takut kolesterol
 Wajah Ny M tamapak relaks 2. Anjurkan pada keluarga untuk
mengkonsumsi makanan sesuai
dengan diet hipertensi
3. Anjurkan pada keluarga untuk
jadwal tidur Ny. M
4. Anjurkan kepada keluarga
memeriksakan Ny M secara teratur
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN KELUARGA
No Tanggal Dx Tujuan Khusus Implementasi TTD
Keperawatan
1 I, II Setelah dilakukan 1. Memberikan penjelasan
kunjungan rumah pada keluarga tentang
3x diharapkan cara mengurangi dan
keluarga mampu mencegah terjadinya
memberikan nyeri dengan benar,
perawatan dengan teknik relaksasi,
bagaimana cara kompres dingin pada
mengurangi rasa kepala bagian belakang
nyeri dan menghindari
perubahan posisi secara
mendadak
2. Mendemonstrasikan
pada keluarga tentang
cara mengurangi nyeri
dengan cara : pada saat
Setelah dilakukan ada nyeri menarik nafas
kunjungan rumah panjang ditahan sebentar
3x diharapkan kemudian dikeluarkan
keluarga mampu secara perlahan-lahan
memberikan 3. Menganjurkan pada
perawatan pada keluarga memerikasakan
Ny. S dengan Ny. S secara teratur
hipertensi dengan setiap minggu dan
memperhatikan minum obat secara
diet, pola tidur teratur.
dan control secara 4. Memberikan penjelasan
teratur pada keluarga tentang
diet yang sesuai dengan
hipertensi pada makanan
yang diberikan Ny. S
harus benar-benar rendah
garam, mengurangi
makanan berlemak
5. Menganjurkan pada
keluarga untuk mengatur
jadwal tidur pada sore
hari sebaiknya digunakan
untuk istirahat
CATATAN PERKEMBANGAN

Dx
No Tanggal Catatan Perkembangan TTD
Keperawatan
1. I DS :
Keluarga mengatakan sudah memahami
tentang cara mengurangi/mencegah terjadinya
nyeri kepala
DO :
Keluarga dapat mengungkapkan kembali cara
mengurangi/mencegah terjadinya nyeri kepala
A : Tujuan tercapai sebagian
P : Lanjutkan Intervensi
1. Anjurkan NY. S dan keluarga
melakukan teknik relaksasi
2. Anjurkan Ny. S dan keluarga
menghindari perubahan posisi secara
mendadak
3. Anjurkan Ny. S dan keluarga untuk
mengkonsumsi makanan sesuai diet
hipertensi
4. Anjurkan pada Ny. S dan keluarga
untuk mengatur jadwal tidur
5. Anjurkan pada keluarga mengontrol
secara teratur
I : Melaksanakan tindakan sesuai intervensi
E : Masalah teratasi sebagian
R : -
2. II DS :
Keluarga mengatakan sudah memahami
tentang cara merawat keluarga dengan
hipertensi dengan memperhatikan diet, pola
tidur dan control secata teratur
DO :
 Keluarga dapat mengungkapkan
kembali cara merawat keluarga
hipertensi dengan memperhatikandiet,
pola tidur dan control teratur
 Makanan yang disajikan untuk Ny. S
sama dengan anggota keluarga yang
lain
A : Tujuan tercapai sebagian
P : Lanjutkan Intervensi
1. Anjurkan Ny. S dan keluarga untuk
mengkonsumsi sesuai diet hipertensi
2. Anjukan pada Ny. S dan keluarga untuk
mengatur jadwal tidur Ny. S
3. Anjurkan pada keluarga mengontrol
secara teratur
I : Melaksanakan tindakan sesuai intervensi
E : Masalah teratasi sebagian
R : -
Dx
No Tanggal Catatan Perkembangan TTD
Keperawatan
I DS :
Keluarga mengatakan Ny. S sering melakukan
teknik relaksasi
DO :
 Ny. S dapat menjawab,
mendemonstrasikan teknik relaksasi
 T : 160/100 mmHg
 N : 88x/menit
 Wajah Ny. S tampak lebih relaks
A : Tujuan Tercapai sebagaian
P : Lanjutkan Intervensi
 Anjurkan pada keluarga untuk
mengontrolkan Ny. S secara teratur
I : Melaksanakan tindakan sesuai intervensi
E : Masalah teratasi sebagian
R : -
II DS :
 Keluarga mengatakan sudah
menyendirikan makanan Ny. S dengan
anggota keluarga
 Ny. S mengatakan sudah tidak takut
lagi dengan tensinya
DO :
 Makanan yangdisajikan untuk Ny. S
nasi, sayur asam, lauk tahu, tempe
garing
 Makanan untuk Ny. S dan anggota
keluarga yang lain tersendiri
 Wajah Ny. S tamapak lebih relaks
A : Tujuan tercapai
P : Lanjutkan Intervensi
1. Anjurkan Ny. S dan keluarga
mengkonsumsi diet hipertensi
2. Anjurkan pada Ny. S dan keluarga
mengatur pola tidut Ny. S
I : Melaksanakan tindakan sesuai intervensi
E : Masalah teratasi
R :-
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan
darah yang abnormal dengan diastol > 90 mmHg dan sistol > 140 mmHg yang
dipengaruhi oleh banyak faktor risiko. Hipertensi dibagi menjadi dua
golongan besar, yaitu hipertensi primer (essensial) dan hipertensi sekunder.
Hipertensi primer merupakan penyebab kematian terbesar dengan
presentase 90% dibandingkan dengan hipertensi sekunder dengan presentase
10% karena penyebab dari langsung (etiologi) dari hipertensi primer tidak
diketahui dan penderita yang mengalami hipertensi primer tidak mengalami
gejala (asimtomatik). Terapi hipertensi dibagi menjadi dua kelompok besar,
yaitu terapi medis dan non-medis. Kontrol pada penderita hipertensi sangat
diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

4.2 Saran
Untuk menurunkan resiko hipertensi, pasien yang menderita hipertensi
hendaknya melakukan terapi medis maupun non-medis secara kontinyu,
melakukan pola gaya hidup sehat seperti olahraga teratur, diet teratur sesuai
dengan kebutuhan dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Diagnosa Keperawatan Jilid 6. Jakarta : EGC
Doenges, ME., Moorhouse, MF., Geissler, AC. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta :
EGC
Guyton, AC. & Hall, JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
RENCANA PERAWATAN KELUARGA Ny.M
TANGGAL 10 April 2012

Diagnosis Kep. Tujuan Kriteria Evalua


No
Keluarga Umum Khusus Kriteria St
1 Gangguan Setelah di lakukan Setelah di lakukan Verbal 1. Meng
pemenuhan nutrisi tindakandiharapkan kunjungan Pasien dan tentan
kurang dari kebutuhannutrisinya sampai 1 hari selama keluarga bisa penti
kebutuhan pasien terpenuhi 30 menit diharapkan memahami nutris
tubuhpada Ny.S secara sembang pasien dan keluarga materi yang di tubuh
keluarga Tn.A mampu memahami berikan. 2. Mege
b.dkekurangefektifan tentang pentingnya komp
keluarga dalam . nutrisi. yang
membantu
memenuhi
kebutuhan nutrisi
keluarga yang sakit.

Setelah di lakukan Perilaku 1. Maka


kunjungan sampai 1-2 Pasien mampu porsi
hari selama 30 menit makan dan bantu
diharapkan pasien minum 2. Minu
mampu makan 3x/hari Secara 8 ge
porsi habis dan seimbang tanpa
minum 8 gelas air /
hari.
2. Hipertensi pada Setelah dilakukan 1. setelah dilakukan Verbal Pasien 1. Pen
Ny.S keluarga Tn.A kunjungan kunjungan 2-3 dapat tens
berhubungan dengan keperawatan, hari selama 30 menyebutkan 2. Pen
ketidakmampuan keadaan penyakit menit Keluarga dengan jelas - K
keluarga mengenal Ny.S berangsur dapat mengenal dan benar - K
karakteristik membaik karakteristik - K
penyakit dan penyakithipertens r
perawatannya i - P
a
t
3. M
pe
de
da

2. setelah dilakukan Verbal Keputus


kunjungan 2-3 Pasien dibuat k
hari selama memperhatikan Ny.S sen
30menit Keluarga dengan baik
dapat membuat
kepu-tusan yang
tepat tentang
upaya
pengobatan Ny.S
ke sarana
kesehatan dan
bersedia
memberikan
perawatan yang
baik dan benar.

3. pada akhir pertemuan Perilaku - melaku


Keluarga sepakat jika Pasien raga yan
diadakan evaluasi melaksanakn - makan
sewaktu-waktu. apa yang sudah - meluan
di ajarkan untuk is
dengan baik refreshin
EVALUASI
No Diagnosa Implementasi Evaluasi Waktu
1 Gangguan Tgl 11-04-2012 Jam S: Tgl 11-
pemenuhan 08.30-09.00 · Keluarga menjawab 04-2012
nutrisi kurang
· Mengucapkan salam salam Jam
dari kebutuhan
· Memvalidasi keadaan
· Tn.A mengatakan 08.30-
tubuh pada Ny.S keluarga Ny.S masih mual, 09.00
keluarga Tn.A
· Mengingatkan kontrak pahit di mulut, dan Sampai
b.d · Menjelaskan tujuan belum bisa Tgl. 12-
kekurangefektifan sepenuhnya 04-2012
keluarga dalam TUK menghabiskan porsi jam
membantu 1. Memberitahu kepada makannya. 08.30-
memenuhi pasien dan keluarga
· Keluarga 09.00
kebutuhan nutrisi betapa pentingnya menyetujui

keluarga yang menjaga keseimbangan pertemuan saat ini

sakit. nutrisi walaupun saat selama 30 menit


sakit. tentang pentingnya
2. Memberitahu pasien dan pemenuhan nutrisi
keluarga tentang dan komposisi
komposisi nutrisi yang seimbangnya.
seimbang. · Keluarga
3. Memberikan mengatakan sudah
kesempatan pada faham tentang
keluarga untuk bertanya proses membantu
dan mengulangi pemenuhan nutrisi
penjelasan apa yang Ny.S.
sudah kita ajarkan. O:
4. Memberitahu keluarga
· Keluarga kooperatif
untuk lebih aktif dalam dan aktif saat
membantu pemenuhan dijelaskan.
kebutuhan nutrisi secara
· Keluarga
parsial. mendengarkan
5. Memberikan motivasi penjelasan yang
pasien dan membantu diberikan.
anggota keluarga untuk
· Keluarga
membantu Ny.S membantu proses
perlahan-lahan
memenuhi kebutuhan pemenuhan
nutrisi sampai tujuan kebutuhan nutrisi
tercapai. Ny.S sampai
akhirnya bisa
makan dan minum.
· Ny.S belum
menghabiskan
seluruh porsi, tapi
2/3 porsi dan
minum kurang lebih
5 gelas/hari.
· A:
Masalah teratasi
sebagian
P:
Lanjutkan
intervensi.

2 Hipertensi pada Tgl 11-04-2012 Jam S: Tgl 13-


Ny.S keluarga 08.30-09.00 · Keluarga menjawab 04-2012
Tn.A · Mengucapkan salam salam Jam
berhubungan · Memvalidasi keadaan
· Tn.A mengatakan 08.30-
dengan keluarga Ny.S masih sedikit 09.00
ketidakmampuan· Mengingatkan kontrak pusing dan belum
keluarga · Menjelaskan tujuan bisa sepenuhnya
mengenal TUK melakukan aktifitas.
karakteristik 1. Memberikan pendidikan
· Keluarga
penyakit dan kesehatan tentang menyetujui
perawatannya Hipertensi yang pertemuan saat ini
meliputi: selama 30 menit
- Pengertian hipertensi tentang pentingnya
- Tanda dan gejala aktifitas sehari-hari.
- Penyebab dan
· Keluarga dan
pencegahan pasien mengatakan
2. Memeberikan masukan belum sepenuhnya
/saran kepada keluarga memahami apa itu
untuk membawa Ny.S yang berkaitan
untuk berobat ke pelayan dengan hipertensi.
kesehatan sebagai
· Keluarga sudah
keputusan yang baik. membawa Ny.S ke
3. Mengajukan kontrak dokter yang biasa di
waktu pada akhir kunjungi.
pertemuan untuk di O:
lakukan evaluasi
· Keluarga kooperatif
keadaan Ny.S dan dan aktif saat
keluarga. dijelaskan.
· Keluarga
mendengarkan
penjelasan yang
diberikan.
· Ny.S masih terlihat
sedikit lemas , tapi
sudah agak lebih
baik.
· TD: 130/90mmHg
A:
Masalah teratasi
sebagian
P:
Lanjutkan
intervensi.
BAB IV
PENUTUP
4.2 Kesimpulan
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan tekanan
darah yang abnormal dengan diastol > 90 mmHg dan sistol > 140 mmHg yang
dipengaruhi oleh banyak faktor risiko. Hipertensi dibagi menjadi dua
golongan besar, yaitu hipertensi primer (essensial) dan hipertensi sekunder.
Hipertensi primer merupakan penyebab kematian terbesar dengan
presentase 90% dibandingkan dengan hipertensi sekunder dengan presentase
10% karena penyebab dari langsung (etiologi) dari hipertensi primer tidak
diketahui dan penderita yang mengalami hipertensi primer tidak mengalami
gejala (asimtomatik). Terapi hipertensi dibagi menjadi dua kelompok besar,
yaitu terapi medis dan non-medis. Kontrol pada penderita hipertensi sangat
diperlukan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

4.2 Saran
Untuk menurunkan resiko hipertensi, pasien yang menderita hipertensi
hendaknya melakukan terapi medis maupun non-medis secara kontinyu,
melakukan pola gaya hidup sehat seperti olahraga teratur, diet teratur sesuai
dengan kebutuhan dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Diagnosa Keperawatan Jilid 6. Jakarta : EGC
Doenges, ME., Moorhouse, MF., Geissler, AC. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan
Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta :
EGC
Guyton, AC. & Hall, JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC