Anda di halaman 1dari 2

Menurut data RSCM pada 2007, angka kematian akibat ulkus kaki 17-23% dengan angka amputasi 25-

30%. Angka kematian pascaamputasi 14,8% dengan umur rata-rata pascaamputasi 23,8 bulan. Angka
amputasi tersebut meningkat menjadi 54% pada 2010-2011. Selain risiko kematian pascaamputasi,
tindakan amputasi sering menimbulkan dampak yang besar, baik fisik maupun mental pasien, seperti
penarikan diri dari lingkungan sosial. Oleh karena itu, amputasi akibat luka infeksi perlu dicegah dengan
perawatan luka yang tepat.
Pembahasan mengenai perawatan luka untuk mencegah amputasi terangkum dalam Seminar dan
Workshop “Stop Amputasi” yang diadakan pada 26 September 2014 di Balai Kartini, Jakarta. Seminar
dan workshop yang diselenggarakan atas kerjasama PT BSN Medical, Wocare Center, dan Persatuan
Perawat Nasional Indonesia (PPNI) ini dihadiri oleh 1.000 perawat dari Jabodetabek. Acara dimulai
dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars PPNI, selanjutnya sambutan oleh Bapak
Stanley Ch. Budihardja selaku Regional Director South East Asia PT BSN?Medical; Drs. Heru
Kusumanto, SKM, MM, MQA dari Wocare Center; dan Ns. Purwadi, M.Kep, Sp.Kom selaku Ketua
PPNI Cabang DKI Jakarta. Seminar dan workshop dibuka dengan penyematan pin “Stop Amputasi”
kepada para tamu undangan dan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh para pakar yang
dimoderatori oleh dr. Debby Puspa dan Edy Mulyadi, WOC(ET)N.
Wida Sri Gitarja, SKp, RN, WOC(ET)N dari Wocare Center dalam presentasi berjudul “Wound Healing”
menyampaikan bahwa sebelum melakukan perawatan luka, seorang perawat harus mampu menilai luka.
Kemampuan menilai luka meliputi menilai jenis luka (akut atau kronik); luas luka (panjang, lebar,
kedalaman, dan undermining); dasar luka (merah, kuning, atau hitam); stadium luka (1=Kemerahan,
2=blister, 3=hilang jaringan hingga dermis, 4=kelihatan otot/tulang); dan menilai jumlah eksudat
(dressing, adjunctive treatment, perbaikan nutrisi, dan pertimbangan psikososial.
Selanjutnya, Ns. Ikram Bauk, MKep, WOC(ET)N dari IWCC Majene dalam materi berjudul “Bacterial
Wound Healing and Infection” memaparkan bahwa hampir pada semua luka terdapat mikroorganisme,
baik patogen maupun non-patogen, yang berisiko menyebabkan infeksi. Salah satu kondisi yang
dihubungkan dengan infeksi adalah penggunaan antibiotik oral dan topikal yang tidak tepat sasaran
sehingga menambah parah luka, resistansi bakteri, dan akhirnya menyebabkan superinfeksi. “Maka
memahami proses infeksi menjadi sangat penting dalam perawatan luka,” ungkap Ns. Ikram. Proses
infeksi terbagi menjadi 4 tahap: pertama, kontaminasi apabila luka terdapat bakteri tetapi belum
bereplikasi sehingga tidak memerlukan antibakterial. Kedua, kolonisasi, yaitu luka dengan bakteri yang
sudah bereplikasi tetapi tidak mengarah ke infeksi maka cukup dilakukan safe debridment dan tidak
memerlukan antibakterial. Ketiga, kritikal kolonisasi. Keempat, infeksi. Keduanya, baik kritikal
kolonisasi maupun infeksi, membutuhkan antibakterial karena bakteri yang bereplikasi sudah sangat
tinggi dan terdapat eksudat pada luka.
Antibakterial apa yang diperlukan? Menurut Ns. Ikram, antibakterial hidrofobik sangat efektif untuk
penyembuhan luka kronik dan luka infeksi.
Dalam presentasi berjudul “Antimicrobial Strategies in Wound care”, Dr. Alessandro Corsi mengatakan
bahwa masalah yang paling sering terjadi dalam manajemen perawatan luka adalah hilangnya kontrol
kelembaban dan meningkatnya replikasi bakteri atau infeksi. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang
dapat mengatasi kedua masalah tersebut. Menurut Dr. Corsi, penggunaan antibakterial berupa dressing
yang bersifat hidrofobik (Cutimed®Sorbact®) merupakan strategi yang tepat untuk manajemen perawatan
luka, baik akut, kronis, maupun infeksi. Hal ini karena sifat hidrofobik merupakan karakteristik bakteri
dalam menginfeksi luka sehingga melalui interaksi hidrofobik, dressing dapat mengikat dan mengangkat
bakteri tanpa melepaskannya kembali. Selain mengurangi jumlah bakteri pada luka, dressing ini juga
membantu menciptakan kondisi optimal, termasuk kontrol kelembaban untuk proses penyembuhan luka
secara alami. Dr. Corsi menambahkan bahwa penggunaan dressing ini tidak memiliki risiko resistansi
bakteri, reaksi citotoksin, dan gejala sistemik.
Pasien yang mengalami luka kronis, misalnya luka DM, luka kanker, selain penyembuhan luka, juga
memerlukan pelayanan paliatif. Demikian dikatakan oleh Agung Waluyo, SKp, MSc, PhD., dari Fakultas
Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dalam presentasi terakhir berjudul “Optimizing Wellbeing”.
Pelayanan paliatif dilakukan dengan memberikan rasa nyaman kepada pasien luka oleh tim kesehatan
multidisiplin atau yang memiliki keahlian berbeda. Pendekatan pelayanan paliatif disesuaikan dengan
kebutuhan pasien dan harus menyesuaikan dengan gejala yang muncul. Pelayanan paliatif bertujuan untuk
meningkatkan atau mempertahankan kualitas hidup (wellbeing) pasien luka. Wellbeing artinya
tercapainya kesehatan atau kesejahteraan pasien luka, baik fisik, mental, maupun sosial