Anda di halaman 1dari 6

PELAKSANAAN DISCHARGE PLANNING PADA PASIEN STROKE

DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


dr. ZAIONEL ABIDIN

IMPLEMENTATION DISCHARGE PLANNING FOR PATIEN IN


INPATIEN NEUROLOGICAL DISEASES OF dr. ZAINOEL
ABIDIN GENERAL HOSPITAL

Anisah Ulfah1; Ahyana2


1
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
2
Bagian Keilmuan Keperawatan medikal bedah Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh
e-mail: annisaulfa93@yahoo.com ; Ahyana_arjad@yahoo.com

ABSTRAK

Stroke merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya tinggi di dunia. Pasien pasca stroke memerlukan
perhatian khusus karena masa pemulihannya akan berlangsung lama, dan mengalami gejala sisa. Oleh karena
itu discharge planning harus diberikan sejak pasien dirawat untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan
keluarga, sehingga mempercepat proses penyembuhan dan mengurangi kekambuhan. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui gambaran pelaksanaan discharge planning pada pasien stroke di RSUD dr. Zainoel
Abidin Banda Aceh. Jenis penelitian ini deskriptif eksploratif dengan desain cross sectional study dan
menggunakan metode consecutive sampling terhadap 30 responden dengan criteria yang sesuai dengan
sampel penelitian.. Analisa data pada penelitian ini menggunakan analisa univariat, dan alat pengumpulan
data berupa kuesioner. Hasil penelitian didapatkan gambaran pelaksanaan discharge planning pada pasien
stroke berada pada kategori baik yaitu sebanyak 23 orang (76,7%). Perawat dan tim medis diharapkan dapat
mempertahankan dan meningkatkan pelayanan discharge planning khususnya pada pasien stroke untuk
meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan kualitas hidup pasien stroke.

Kata Kunci : Stroke, Discharge Planning

ABSTRACT

Stroke is one of the most prevalence diseases in the world. The post-stroke patients often suffer certain
symptoms and they need special attention because the recovery period will be long. Overcoming these stroke
patients is the responsibility of all parties, both from health workers and also the family. To keep patient
health’s stability and increase the knowledge of the patient and family, the treatment needs continuity and
the discharge planning must be well planned. The purpose of this research is to figure out the implementation
of discharge planning of stroke patients at RSUD dr. Zainoel Abidin Hospital, Banda Aceh. This research is
a descriptive explorative research using the crosssectional study design and the consecutive sampling method
on 30 respondents. The data in this research is by using univariat analysis and the tool of data is by using the
questionnaire. The research result shown an overview of the implementation in discharge planning in stroke
patients are at a good category based on 23 patients (70.7%). The nurses and medical team are expected to
maintain and improve the discharge planning services, especially for the stroke patients in order to improve
the quality of nursing care and life hope of stroke patients.

Keywords : Stroke, Discharge Planning

1
PENDAHULUAN pada 44 pasien stroke iskemik, didapatkan
Stroke atau cedera serebrovaskular hasil bahwa pasien stroke iskemik yang
(CVA) adalah kehilangan fungsi otak secara dilakukan discharge planning terstruktur
mendadak akibat gangguan suplai darah ke memiliki peluang 20 kali lebih besar untuk
bagian otak (Smeltzer, 2010, p.177). Stroke memiliki perubahan kearah kualitas hidup
merupakan penyebab kematian tersering yang lebih baik dibandingkan tanpa
ketiga pada orang dewasa di Amerika dilakukan discharge planning.
Serikat. Angka kematian setiap tahun akibat Timby (2009, p.169) mengatakan
stroke baru atau rekuren adalah lebih dari bahwa perencanaan pulang pasien
200.000. Insiden stroke secara nasional membutuhkan identifikasi kebutuhan pasien.
adalah 750.000 pertahun, dengan 200.000 Tenaga medis harus menentukan kebutuhan
merupakan stroke rekuren. Angka kejadian pengetahuan, keterampilan dan sumber daya
stroke di antara orang Amerika keturunan masyarakat yang dibutuhkan pasien untuk
Afrika adalah 60% lebih tinggi daripada mempertahankan derajat kesehatanya. Dalam
orang Kaukasian (Broderick et al., 2001 penerapan discharge planning perawat
dalam Price & Wilson 2005, p.1106). berkerja sama dengan dokter dan tenaga
Berdasarkan data dari hasil Riset Kesehatan medis seperti ahli gizi, farmasi dan terapis.
Dasar (Rikesdas) 2013, prevalensi stroke di Berdasarkan studi pendahuluan pada pasien
Indonesia 12,1% per 1.000 penduduk. stroke/keluarga di Ruang Rawat Inap
Prevelensi stroke tertinggi terdapat di Geulima I Rumah Sakit Umum Daerah dr.
Sulawesi Utara yaitu 10,8% per 1.000 Zainoel Abidin Banda Aceh pada tanggal 19
penduduk dan prevelensi terendah terdapat di Februari 2016, 4 dari 5 pasien/keluarga
Papua sebesar 2,3% per 1.000 penduduk. menyatakan informasi yang diberikan masih
Sedangkan untuk provinsi Aceh sebesar 6,6% terbatas dan hanya diberikan pada saat pasien
per 1.000 penduduk dan menempati urutan pulang. Mengingat pentingnya pelaksanaan
ke-14 di Indonesia (Rikesdas, 2013, p.92). discharge planning terutama pada pasien
Menurut data awal yang didapatkan stroke, peneliti tertarik untuk melakukan
pada tanggal 18 Februari 2016, stroke penelitian tentang gambaran pelaksanaan
merupakan kategori 10 besar penyakit yang discharge planing pada pasien stroke di
paling tinggi angka kejadiannya. Jumlah Ruang Rawat Inap Geulima I Rumah Sakit
pasien stroke yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda
Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh
Aceh pada tahun 2015 mencapai 789 orang.
Proses penyembuhan dan rehabilitasi METODE
pada pasien stroke dapat berlangsung dalam Metode penelitian adalah deskriptif
waktu yang lama serta membutuhkan eksploratif, dengan desain cross sectional
kesabaran dan ketekunan pasien dan study. Sampel adalah semua pasien stroke
keluarga. Pasien akan membutuhkan yang dirawat di ruang saraf RSUDZA Banda
pelayanan kesehatan profesional yang mana Aceh dengan kriteria inklusi: pasien sadar,
bergantung pada penurunan neurologis pasien tidak mengalami depresi, pasien tidak
spesifik yang disebabkan oleh stroke mengalami gangguan komunikasi (afasia
(Smeltzer & Bare, 2002, p.2143). sensorik), pasien tidak mengalami gangguan
Penelitian experimental yang memori dan pasien dengan hari rawatan
dilakukan oleh Upik Rahmi (2011) terakhir di Ruang Rawat Inap Geulima I
membandingkan pengaruh pemberian Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel
discharge planning terstruktur di RS Al- Abidin Banda Aceh.
Islam dengan discharge planning rutin di RS
Al-Ihsan Bandung terhadap kualitas hidup

2
HASIL Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan
Didapatkan 30 responden yang discharge planning terkait pecengahan
memenuhi kriteria inklusi. berulang (n=30)
Pencegahan f %
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan Berulang
discharge planning (n=30) Baik 25 83,3
Pelaksanaan f % Kurang Baik 5 16,7
Disharge Pada tabel 4, dapat diketahui bahwa
Planning pelaksanaan discharge planning terkait tahap
Baik 23 76,7 III Pencegahan Berulang (Medication,
Kurang Baik 7 23,3 Environment, Diet) pada pasien stroke
Pada tabel 1, terlihat bahwa pelaksanaan sebagian besar pada kategori baik sebanyak
discharge planning pada pasien stroke berada 25 orang (83,3 %) dan kurang baik sebanyak
pada kategori baik sebanyak 23 orang (76,7%). 5 orang (15,7%).
Hasil pengkategorian tiap-tiap subvariable
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan
discharge planning adalah sebagai berikut.
discharge planning terkait pertemuan
keluaga (n=30)
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan
Pertemuan f %
discharge planning terkait pengetahuan
Keluarga
(n=30)
Baik 17 56,7
Pengetahuan f %
Kurang Baik 13 43,3
Baik 26 86,7
Kurang Baik 4 13,3 Pada tabel 5, dapat diketahui bahwa
Pada tabel 2, dapat diketahui bahwa pelaksanaan discharge planning terkait tahap
pelaksanaan discharge planning terkait tahap IV pertemuan keluarga (medication, diet)
I pengetahuan (health teaching) pada pasien pada pasien stroke sebagian besar pada
stroke sebagian besar pada kategori baik kategori baik sebanyak 17 orang (56,7%) dan
sebanyak 26 orang (86,7%) dan kurang baik kurang baik sebanyak 13 orang (43,3%).
sebanyak 4 orang (13,3%).
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pelaksanaan discharge planning terkait rencana tindak
discharge planning terkait tindakan (n=30) lanjut (n=30)
Tindakan f % Rencana f %
Baik 28 93,3 Tindak
Kurang Baik 2 6,7 Lanjut
Pada tabel 3, dapat diketahui bahwa Baik 29 96,7
pelaksanaan discharge planning terkait tahap Kurang Baik 1 3,3
II tindakan (treatment) pada pasien stroke Pada tabel 6, dapat diketahui bahwa
sebagian besar pada kategori baik sebanyak pelaksanaan discharge planning terkait tahap
28 orang (93,3 %) dan kurang baik sebanyak V rencana tindak lanjut (outpatient referal)
2 orang (6,7%). pada pasien stroke sebagian besar pada
kategori baik sebanyak 29 orang (96,7 %)
dan kurang baik sebanyak 1 orang (3,3%).

3
PEMBAHASAN akan memberikan dampak positif bagi pasien
Pelaksanaan discharge planning pada terutama dalam meningkatkan pengetahuan
pasien stroke pasien tentang pencengahan stroke berulang.
Berdasarkan tabel terlihat bahwa Berdasarkan tabel tahap II terkait
pelaksanaan discharge planning pada pasien tindakan (treatment) berada pada kategori
stroke di Ruang Rawat Inap Geulima I berada baik sebanyak 28 orang (93.3%).
pada kategori baik sebanyak 23 orang Ketika pasien diperbolehkan untuk
(76,7%). meninggalkan suatu unit pelayanan
Penelitian ini sejalan dengan kesehatan, perawat harus memastikan bahwa
penelitian yang dilakukan Haryono, dkk pengobatan dan tindakan latihan fisik yang
(2008) tentang gambaran pelaksanaan diberikan perawat dapat berlanjut setelah
discharge planning pada pasien diabetes pasien pulang. Pasien harus mengetahui
mellitus terhadap 20 pasien dan 20 perawat, tujuan berbagai tindakan tersebut dan mampu
hasil penelitian didapatkan bahwa mendemonstrasikan secara benar. Intervensi
pelaksanaan discharge planning pasien atau tindakan keperawatan terkait kegiatan
diabetes mellitus di IBNA I RSUP Dr. Sarjitp discharge planning diberikan dengan tujuan
Yogyakarta baik menurut pasien dan perawat untuk membantu mempersiapkan pasien dan
dalam kategori baik. keluarga merawat pasien serta pendukung
Discharge planning dilakukan secara yang lainnya hingga dapat menunjang
maksimal membutuhkan pengetahuan yang perbaikan di rumah sampai pasien di rumah
cukup tentang discharge planning itu sendiri (Bullecheck, Butcher & Docterman, 2008
oleh tenaga kesehatan. Hal ini dikarenakan dalam Wahyuni, Nurrachmah, & Gayatri,
pengetahuan merupakan salah satu domain 2012).
yang penting dalam pembentukan perilaku Aktivitas fisik, khususnya latihan
seseorang. Dalam penelitian ini perawat, yang meningkatkan kekuatan dan
dokter dan tim medis lainnya telah keseimbangan tungkai bawah, dapat
memberikan discharge planning kepada membantu agar pasien tidak mudah jatuh.
pasien stroke dimulai saat pasien pertama Apabila timbul masalah spastisitas
memasuki ruang rawatan. Perawat di ruang (kekakuan) otot setelah stroke, hal tersebut
Geulima I juga menyatakan pernah dapat dikurangi dengan memanaskan atau
mendapatkan pelatihan bagaimana mendinginkan atau dengan latihan
pelaksanaan discharge planning secara tepat perenggangan (ROM) pasif dan aktif pada
dan benar kepada pasien, khususnya pasien rentan gerakan yang biasanya dilakukakan
stroke. oleh otot atau sendi yang terkena (Gordon,
Berdasarkan tabel 2 tahap I 2000, p.28).
pengetahuan (health teaching) berada pada Penelitian ini sejalan dengan
kategori baik dengan frekuensi sebanyak 26 penelitian Marza (2013) dengan judul
orang (86,7%). dukumentasi asuhan keperawatan pada
Berdasarkan hasil penelitian ini pelaksanaan range of motion pasien stroke di
berarti masih ada pasien yang belum ruang rawat inap saraf Rumah Sakit Daerah
mendapatkan discharge planning aspek dr. Zaionoel Abidin Banda Aceh, dalam
pendidikan kesehatan sebanyak 7 responden penelitian tersebut menunjukkan
(23,3%) yang mana akan memungkinkan dokumentasi pelaksanaan ROM pada pasien
pasien tidak mengetahui hal-hal yang harus stroke berada pada kategori baik yaitu 67%.
dilakukan setelah pasien pulang. Namun Gangguan bicara seperti disfasia
sebagian besar pasien menyatakan dokter dan atau afasia dialami sekitar 25% penderita
perawat telah memberikan informasi terkait stroke. Beberapa penderita bahkan
penyakit stroke yang mana informasi tersebut

4
kehilangan sama sekali kemampuannya environment, diet) berada pada kategori baik
untuk bicara (Suwantara, 2004) sebanyak 25 orang (83,3%).
Menurut Agustina, dkk (2009) Pada penelitian ini pasien
sebagai upaya untuk mencegah pasien stroke menyatakan bahwa perawat memeriksa ulang
terkait masalah komunikasi verbal yang instruksi pemulangan dokter, melakukan
terganggu, pasien stroke membutuhkan intruksi pengambilan obat-obatan dan
adanya bantuan untuk terapi bicara. Selain itu menjelaskan tentang bagaimana pemberian
sebagian pasien stroke yang diobservasi obat dengan prinsip pemberian yang benar,
menunjukkan masalah dengan fungsi memberikan materi mengenai perubahan
menelan. Dalam hal ini, pemasangan sonde lingkungan rumah yang baik bagi pasien
merupakan intervensi yang harus diberikan stroke, khususnya untuk mencegah jatuh dan
selama klien masih mengalami masalah menanyakan kebutuhan akan alat-alat medis
makan. yang khusus (kursi roda) berkaitan dengan
Berdasarkan penelitian Robbins, perawatan pasien. Lebih dari setengah pasien
Stephanie, Jacqueline, Angela, Gentry, et al. menilai pelaksanaan discharge planning yang
(2007, p. 154) dikatakan bahwa ada dilakukan perawat kategori baik.
peningkatan yang significant pada tekanan Berdasarkan tabel 5 tahap IV terkait
isometrik dengan menggunakan alat ukur pertemuan keluarga (medication dan diet)
IOPI yang di letakkan di bagian atas lidah pada pasien stroke yang diperlihatkan pada
(minggu 4, P < ,001; mingu 8 P < ,001 dan tabel 5.6 berada pada kategori baik sebanyak
bagian belakang lidah (minggu 4, P < = 0,1; 17 orang (56,7%).
minggu 8 P < ,001. Persentase total terbesar Menurut Friedman 2000 keluarga
yang diraih selama 4 minggu latihan untuk berfungsi sebagai system pendukung bagi
kedua bagian lidah, 63% lidah bagian depan anggotanya. Dukungan keluarga pada pasien
dan 76% lidah bagian belakang). Penelitian stroke sangat dibutuhkan untuk mencapai
ini disimpulkan bahwa pasien stroke dengan proses penyembuhan/ pemulihan.
dysphagia dapat meningkatkan kekuatan Ketidaktahuan pihak keluarga akan
lidah (menelan) selama 8 minggu program mempengaruhi perubahan system keluarga
latihan isometric pada lidah. yang dapat menghambat proses
Bantuan untuk pemenuhan ADL penyembuhan dan berdampak negatif
(Activity Daily Living) juga dipandang terhadap keutuhan rumah tangga (Moser &
sebagai kebutuhan yang penting untuk Riegel 2008 dalam Wahyuni, dkk 2012 ).
dipenuhi pasien stroke (Agustina, dkk, 2009). Berdasarkan hasil penelitian
Penelitian terkait yang dilakukan Shofiana didapatkan bahwa perawat telah memberikan
(2014) terhadap 30 responden, didapatkan informasi terkait dukungan keluarga seperti
hasil bahwa ada hubungan persepsi perawat membantu pasien stroke untuk melakukan
tentang manfaat discharge planning dengan kegiatan sehari-hari pasca stroke. Menurut
pelaksanaan discharge planning di ruang penulis pasien stroke sangat membutuhkan
rawat inap Rumah Sakit PKU perhatian dan bantuan yang berasal dari
Muhammadiyah Yogyakarta. Dalam orang-orang terdekatnya (keluarga) baik saat
penelitianya juga dijelaskan pada item di rawat di ruang rawat maupun saat telah
tindakan dalam mempersiapkan pasien dan pulang ke rumah.
keluarga yang dilakukan sebelum hari Berdasarkan tabel 6 tahap V terkait
pemulangan pada 17 pasien (100%) berada rencana tindak lanjut (outpatient referal)
dalam ketegori baik sebanyak 11 pasien berada pada kategori baik dengan frekuensi
(64,7%). sebanyak 29 orang (96,7%).
Berdasarkan tabel 4 tahap III terkait Dalam penelitian pada tahap ini
pencegahan berulang (medication, pelaksanaan discharge planning yang

5
dilakukan perawat berada pada kategori baik Keperawatan Universitas Syiah
dimana sebelum pasien dan keluarga Kuala
meninggalkan rumah sakit perawat Price, S. A. (2006). Patofisiologi: Konsep
klinis proses-proses penyakit (Vol.
mengingatkan kembali kepada keluarga
2, ed. 6). Jakarta: EGC
untuk memahami keterbatasan pasien
sehingga harus lebih sabar dalam melakukan Rahmi, U. (2011). Pengaruh discharge
perawatan dirumah. Mereka juga menyatakan planning terstruktur terhadap
bahwa perawat dan dokter mengingatkan kualitas hidup pasien stroke
pasien dan keluarga untuk datang kembali ke iskemik di RSUD Al- Ihsan dan RS
rumah sakit untuk melakukan kontrol kondisi Al-Islam Bandung. Diakses pada
tanggal 30 November 2015, dari
pasien sesuai jadwal yang ditetapkan.
http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital
/20282707T%20Upik%20Rahmi.pd
KESIMPULAN f.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini
adalah pelaksanaan discharge planning pada Rikesdas. (2013). Laporan nasional riset
pasien stroke di Ruang Rawat Inap Geulima I kesehatan dasar. Jakarta: Badan
Penelitian dan Pengembangan
Rumah Sakit Umum dr. Zainoel Abidin
Kesehatan Kementrian Kesehatan
Banda Aceh berada pada kategori baik RI. 2013 Diakses tanggal 18
sebanyak 23 orang (76,7%). November 2015, dari
Adapun saran untuk instansi pelayanan http://www.depkes.go.id/resources/
kesehatan adalah diharapkan pada petugas download/general/Hasil%20Riskes
kesehatan agar mempertahankan dan das%202013.pdf
meningkatkan pelayanan discharge planning Robbins, J., Stephanie, A. K., Ronald, E. G.,
Jacqueline, A. H., Angela, L. H.,
khususnya pada pasien stroke sehingga dapat
Gentry, LR., et al. (2007). The
mempertahankan kesehatan pasien ketika effects of lingual exercice in stroke
telah pulang dari rumah sakit. patients with dysphagia. Arch Phys
Med Rehabil,
REFERENSI 10.1016/j.apmr.200.11.002.x
Agustina, H. R., Ayu, P. P., & Irman, S. Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2001). Buku
(2009). Kajian kebutuhan ajar keperawatan medikal bedah
perawatan di rumah bagi klien brunner & suddarth (Ed. 8).
dengan stroke di rumah sakit umum Jakarta: EGC
daerah cianjur. Diakses pada
tanggal 10 November 2015 Smeltzer, S. C. (2010). Keperawatan medikal
http://www.scribd.com/doc/399970 bedah brunner & suddarth (Ed.
61/Kebutuhan-Perawatan-Di- 12). Jakarta: EGC
Rumah-Pasien-Stroke#scribd
Timby, B. K. (2009). Fundamental nursing
Haryono, R., Christantie, E., Khudazi, A. skills and concepts (9th ed).
(2008). Gambaran pelaksanaan Malaysia: Imago
discharge planning pada pasien
diabetes mellitus. Jurnal Ilmu Wahyuni, A., Nurrachmah, E., & Gayatri, D.
Keperawatan. 3, 98-103. (2012). Kesiapan pulang pasien
penyakit jantung koroner melalui
Marza, R. (2013). Dukumentasi asuhan penerapan discharge planning.
keperawatan pada pelaksanaan Jurnal Keperawatan Indonesia. Vol
range of motion pasien stroke di 15 no 3 hal. 151-158
ruang rawat inap saraf rumah sakit
daerah dr. zaionoel abiding banda
aceh 2013. Skripsi: Fakultas

Anda mungkin juga menyukai