Anda di halaman 1dari 15

TELAAH JURNAL

PROTEINURIA IN PREECLAMPSIA: NOT ESSENTIAL TO DIAGNOSIS


BUT RELATED TO DISEASE SEVERITY AND FETAL OUTCOMES

Oleh:
Muhammad Rasyid Ridho, S.Ked 04054821719059
Annisa Khaira Ningrum, S.Ked 04054821719060
Nadya Ayu Saraswati, S.Ked 04054821719062
Sakhteeswary A/P Achanan, S.Ked 04011381320078 Pembimbing:
dr. H. Agustria
Zainu Saleh, Sp.OG (K)

BAGIAN/DEPARTEMEN ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRI
RUMAH SAKIT MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
2017
Akan dipersentasikan pada Jumat, 29 Desember 2017, di Bagian/Departemen Ilmu
Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Mohammad Hoesin, Palembang, Sumatera
Selatan

TELAAH KRITIS JURNAL

Judul Jurnal:
Proteinuria in preeclampsia: not essential to diagnosis but related to disease
severity and fetal outcomes

ABSTRAK
Preeklamsia adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu dan
perinatal secara global dan proteinuria merupakan salah satu gejala utama penyakit
ini. Namun, penelitian tentang hubungan antara proteinuria dan tingkat keparahan
preeklampsia dan perinatal masih kurang. Data tentang 239 wanita dengan
preeklampsia dikumpulkan secara retrospektif dari rumah sakit pendidikan
universitas dari bulan September 2011 sampai Juni 2013 dan dianalisis. Data
mencakup semua parameter klinis dan proteinuria dalam urine 24 jam. Pada kasus
preeklampsia berat, pasien dengan kadar proteinuria <0,3 g/L jauh lebih sedikit bila
dibandingkan dengan kelompok dengan proteinuria >0,3 g/L, namun tidak ada
perbedaan dalam kasus preeklampsia berat ketika kadar proteinuria >0,3 g/L. Ketika
kadar proteinuria >0,3 g/L, frekuensi preeklampsia berat pada masing-masing
kelompok secara signifikan lebih tinggi daripada frekuensi kasus pre-eklampsia
ringan. Waktu onset pada pasien dengan proteinuria >3 g/L dalam koleksi urin 24
jam secara signifikan dimulai lebih awal, namun waktu antara onset preeklampsia
dan persalinan tidak berkorelasi dengan jumlah proteinuria. Berat lahir secara
signifikan lebih rendah pada pasien dengan proteinuria >3g/L. Insidensi pembatasan
pertumbuhan janin atau kelahiran mati secara signifikan lebih tinggi pada pasien
dengan proteinuria >5 g/L. Data kami menunjukkan bahwa jumlah proteinuria
setelah proteinuria terdeteksi tidak terkait dengan parahnya preeklampsia, namun
berkaitan dengan tingkat keparahan preeklampsia. Hasil janin yang merugikan
tampaknya merupakan kegagalan fungsi prematuritas daripada proteinuria itu sendiri.

Pendahuluan
Preeklampsia adalah kelainan multisistem pada kehamilan dengan etiologi
yang tidak diketahui dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu
dan perinatal di seluruh dunia [1]. Preeklampsia terjadi secara klinis setelah 20
minggu kehamilan atau dalam 4-6 minggu pertama postpartum oleh hipertensi onset
baru dan/atau proteinuria [2,3]. Hal ini dianggap parah jika tekanan darah meningkat
secara substansial atau gejala klinis kerusakan organ (termasuk pembatasan
pertumbuhan janin) terjadi. Saat ini satu-satunya pengobatan 'efektif' untuk penyakit
ini adalah mengantarkan plasenta pada waktu optimal untuk kesehatan ibu dan janin.
Pada kehamilan normal, ekskresi protein urin meningkat secara substansial
dan total ekskresi protein dianggap abnormal pada wanita hamil jika melebihi 300
mg dalam urin 24 jam [4]. Proteinuria bisa menjadi salah satu ciri utama
preeklampsia.
Namun, sampai 10% wanita dengan manifestasi klinis dan/atau histologis
preeklamsia dan 20% wanita dengan eklampsia tidak memiliki proteinuria pada saat
presentasi awal dengan gejala klinis, yang juga disebut preeklampsia 'non-
proteinurik' [5,6]. Ini mungkin terjadi karena beberapa disfungsi organ yang
mempengaruhi ginjal dan hati dapat terjadi tanpa tanda protein dan bahwa jumlah
proteinuria tidak memprediksi tingkat keparahan perkembangan penyakit. Oleh
karena itu sejak tahun 2014, International Society for Study of Hypertension in
Pregnancy [3] dan American Society of Obstetrics and Gynecology [7] belum
merekomendasikan penggunaan proteinuria sebagai kriteria untuk mendiagnosis
preeklampsia. Meskipun proteinuria saat ini tidak direkomendasikan sebagai kriteria
untuk mendiagnosis preeklampsia, kenyataannya klinisi umumnya menggunakan
kadar proteinuria untuk menentukan keputusan klinis mengenai penyampaian kasus
preeklampsia [8]. Ini karena peningkatan kadar proteinuria memperburuk progresi
preeklamsia dan dikaitkan dengan hasil perinatal yang buruk [9-11]. Hasil ini
mungkin menunjukkan bahwa jumlah proteinuria berkorelasi dengan tingkat
keparahan preeklampsia dan ini mempengaruhi tatalaksana preeklampsia.
Hanya sedikit penelitian yang menyelidiki hasil perinatal dan komplikasi ibu dan
janin dengan preeklampsia pada kasus dengan kadar proteinuria tinggi [9,10,12].
Sampai saat ini, penelitian mengenai hubungan jumlah proteinuria pada
preeklampsia dan tingkat keparahan preeklamsia masih terbatas. Oleh karena itu
dalam penelitian ini kami melakukan analisis retrospektif untuk menyelidiki
hubungan antara jumlah proteinuria dengan tingkat keparahan dan hasil klinis
preeklampsia. Semua data diperoleh dari rumah sakit pendidikan universitas yang
melayani beragam wilayah perkotaan dan pedesaan di China.

Metode dan Bahan


Penelitian ini sesuai dengan garis besar prinsip Deklarasi Helsinki. Studi ini
disetujui oleh komite etik Rumah Sakit Xi’an, Universitas Jiatong, Cina.

Populasi studi
Studi retrospektif ini dilakukan di rumah sakit pendidikan universitas yang
melayani populasi perkotaan dan pedesaan sekitar 8 juta penduduk Cina. Data yang
didapat dari 239 wanita dengan preeklampsia dikumpulkan dari Departemen Obstetri
dan Ginekologi Rumah Sakit Xi’an, Universitas Jiatong, Cina, dari September 2011
sampai Juni 2013. Rumah Sakit Xi’an, Universitas Jiatong, merupakan rumah sakit
rujukan perawatan maternal utama di Kota Xi’an dan banyak wanita dengan
preeklampsia khususnya wanita dengan preeklampsia berat dirujuk ke rumah sakit
ini.
Semua wanita yang memilki faktor risiko preeklampsia seperti hipertensi,
riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya, atau kelainan medis penyerta
lainnya seperti diabetes/diabetes gestasional, atau penyakit autoimun dieksklusi dari
studi ini. Kehamilan yang didapat dari fertilisasi in vitro tidak diikutkan dalam studi.
Semua kasus yang didata sebagai preeklampsia pada database elektronik
rumah sakit ini secara individual dinilai oleh penulis senior untuk memastikan bahwa
kriteria preeklampsia seperti yang dijelaskan dibawah ini terpenuhi. Data yang
dikumpulkan berupa usia ibu, usia kehamilan pada saat didiagnosis, graviditas,
paritas, tekanan darah, proteinuria pada urin yang dikumpulkan 24 jam, usia
kehamilan saat dilahirkan, berat lahir, perkembangan janin terhambat (PJT) dan janin
mati (stillbirth). Proteinuria pada urin yang dikumpulkan 24 jam diiukur dalam 24
jam pasien masuk ke rumah sakit, sebelum mendapatkan penatalaksanaan.
Preeklampsia didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik ibu ≥140 mmHg
dan atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg yang diukur 2 kali dengan jarak paling
tidak 6 jam, dan proteinuria >300 mg dalam periode 24 jam, atau gangguan fungsi
hati dan jumlah trombosit rendah, setelah kehamilan 20 minggu sesuai dengan
pedoman American Collage of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Tekanan
darah sistolik ibu ≥160 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥110 mmHg
didefinisikan sebagai preeklampsia berat. Preeklampsia yang terjadi lebih awal dari
34 minggu usia gestasi didefinisikan sebagai preeklampsia dini (early-onset).

Subgrup
Tidak terdapat konsensus yang jelas mengenai jumlah proteinuria yang
diklasifikasikan sebagai proteinuria berat. Mayoritas menggunakan nilai ≥3 g/L atau
≥5g/L dalam urin 24 jam, dan definisi proteinuria berat berkisar antara 2 – 5 g/L pada
urin 24 jam. Sehingga berdasarkan studi dan pedoman ACOG (2013), berdasarkan
jumlah proteinuria pada urin 24 jam, kami membagi preeklampsia menjadi 4
kelompok seperti yang dijelaskan dibawah ini. Kelompok 1: proteinuria pada urin 24
jam <0,3 g/L; kelompok 2: proteinuria pada urin 24 jam antara 0,3 g/L dan 3 g/L;
kelompok 3: proteinuria pada urin 24 jam antara 3 g/L dan 5 g/L; kelomok 4:
proteinuria pada urin 24 jam ≥5 g/L.

Analisis statistik
Data disajikan dalam median dan rentang atau persentase. Perbedaan statistik
pada usia ibu, usia kehamilan pada saat diagnosis, tekanan darah, usia kehamilan
pada saat kelahiran, dan proteinuria pada urin 24 jam antara subgroup preeklampsia
dianalisa dengan uji Mann-Whitney U menggunakan perangkat lunak Prism.
Perbedaan statistik pad berat lahir dianalisa dengan regresi linier multipel
menggunakan perangkat lunak SAS versi 9.4 (SAS Institute Inc., Cary, NC, USA).
Perbedaan statistik pada jumlah kasus preeklampsia berat, PJT atau janin mati
diantara subgroup preeklampsia dianalisa dengan uji Chi-square menggunakan
perangkat lunak Prism. Nilai P <0,05 merupakan hasil yang dianggap signifikan.

Hasil
Karakteristik klinis populasi studi
Selama periode studi, sebanyak 239 wanita dengan preeklampsia diikutkan
dalam studi ini. Semua data klinis wanita dengan preeklampsia dirangkum dalam
tabel 1. Dari 239 wanita dengan preeklampsia, sebanyak 97 (40,5%) wanita
didiagnosa sebagai preeklampsia ringan. Terdaat 41 (16%) pasien dengan PJT dan 23
(9,6%) pasien dengan janin mati.

Jumlah proteinuria ada urin 24 jam berhubungan dengan frekuensi


preeklampsia berat
Untuk membandingkan keparahan preeklampsia dengan jumlah proteinuria
pada urin 24 jam, dilakukan analisa korelasi antara tekanan darah (baik tekanan
darah sistolik dan diastolik) dan jumlah proteinuria pada urin 24 jam. Tidak terdapat
korelasi antara tekanan darah dengan jumlah proteinuria pada urin 24 jam (data tidak
ditampilkan). Walaupun jumlah kasus preeklampsia berat tidak berbeda diantara grup
2,3, dan 4 (proteinuria >0,3 g/L), jumlah kasus preeklampsia berat secara signifikan
lebih tinggi pada pasien dengan proteinuria >3 g/L (Tabel 2, grup 3, p = 0,03 dan
grup 4, p = 0,0006), dibandingkan dengan pasien yang memiliki proteinuria <0,3
g/L. Sebagai tambahan, jumlah kasus preeklampsia berat secara signfikan lebih
tinggi pada tiap grup ketika secara individual dibandingkan jumlah kasus
preeklampsia ringan pada tiap grup (gru 2, 3, dan 4), ketika proteinurianya mencapai
>0,3 g/L (Tabel 2, p < 0,05).

Tabel 1. Karakteristik Klinis Populasi Studi


Preeklampsia (n=239)
Onset dini Preeklampsia Preeklampsia berat
(n=135) ringan (n=97) (n=142)
Usia ibu (Tahun, 30 (18 - 44) 30 (18 – 44) 29 (19 – 44)
median/rentang)
Usia kehamilan pada 31+1 (20+6 - 34) 34+5 (21 - 40+4) 32+4 (20+5 - 38+6)
saat diagnosis
(minggu,
median/rentang)
Usia kehamilan saat 33+2 (22+6 - 37+4) 37+2 (25 – 42+4) 34+4 (22+5 – 40+1)
kelahiran
(minggu,
median/rentang) 160 (130 – 240)
Tekanan darah sistolik 145 (130 – 159) 165 (140 – 240)
(mmHg,
median/rentang) 109 (90 – 150)
Tekanan darah 100 (80 – 128) 110 (78 – 150)
diastolik (mmHg,
median/rentang) 1780 (920 –
Berat lahir (gram, 3330) 2870 (1080 – 4100) 1870 (920 – 4195)
median/rentang) 2,53 (2,02 –
Proteinuria pada urin 18,8) 0,61 (0,07 – 11,9) 2,41 (0,04 – 18,8)
24 jam (g/L,
median/rentang) 24,5 (8,7 – 384)
AST (IU/L) 15 (8,7 – 346) 21,5 (8,7 – 253) 25,6 (10,2 – 384)
ALT (IU/L) 62 (33,3 – 177) 14,5 (6 – 346) 16 (3,7 – 240)
Kreatinin (uM) 57,2 (33,3 – 120) 62,9 (33,3 – 177)

Tidak ada korelasi antara tekanan darah dan jumlah proteinuria dalam urin 24
jam (data tidak ditunjukkan). Meskipun jumlah kasus preeklampsia berat tidak
berbeda pada kelompok 2, 3, dan 4 (proteinuria >0,3 g/L dalam urin 24 jam), jumlah
kasus preeklampsia berat secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan
proteinuria >3 g/L dalam urin 24 jam (Tabel 2, kelompok 3, p = 0,03 dan kelompok
4, p = 0,0006), dibandingkan dengan pasien dengan proteinuria <0,3 g/L dalam urine
24 jam. Selain itu jumlah kasus preeklamsia berat lebih tinggi secara signifikan di
setiap kelompok bila masing-masing dibandingkan dengan jumlah kasus
preeklampsia ringan pada masing-masing kelompok (kelompok2, 3 dan 4, ketika
kadar proteinuria >0,3 g/L) (Tabel 2, p <0,05).
Onset dan waktu persalinan secara signifikan lebih dini pada pasien dengan
proteinuria >3 g/L dalam urine 24 jam, dibandingkan dengan pasien dengan
proteinuria <3 g/L dalam urin 24 jam (Tabel 2, kelompok 3 dan 4, p <0,001). Namun,
tidak ada perbedaan waktu rata - rata yang signifikan antara onset preeklamsia dan
persalinan antara salah satu dari 4 kelompok proteinuria (18 hari, 14 hari, 14 hari dan
11 hari pada masing-masing kelompok) (p = 0,11, ANOVA).
Tabel 2. Hubungan antara jumlah proteinuria dalam 24 jam dan derajat
keberatan preeklamsia

Kami juga menganalisis perubahan proteinuria dengan tingkat keparahan


preeklampsia sesuai dengan waktu onset. Pada onset awal preeklampsia, ketika
proteinuria >3 g/L dalam urin 24 jam, frekuensi preeklampsia berat secara signifikan
lebih tinggi daripada frekuensi preeklampsia ringan. Namun, pada preeklampsia
onset terlambat, frekuensi preeklamsia berat tidak berbeda dengan preeklamsia
ringan tanpa memperhatikan jumlah proteinuria dalam pengumpulan urin 24 jam
(Tabel 3).
Jumlah proteinuria dalam urin 24 jam dikorelasikan dengan keluaran
perinatal. Untuk membandingkan apakah jumlah proteinuria dalam urin 24 jam
berkaitan dengan keluaran perinatal, kami menganalisis korelasi antara jumlah
proteinuria dalam urin 24 jam dan berat lahir, dan jumlah kasus FGR, dan jumlah
kasus dimana skor Apgar janin pada 1 menit adalah <7, dan jumlah kasus kelahiran
mati (Tabel 4). Setelah menyesuaikan usia kehamilan, berat badan lahir secara
signifikan lebih rendah pada pasien dengan proteinuria ≥5 g/L atau 3-5 g/L dalam
kelompok urin 24 jam dibandingkan dengan kelompok <0,3 g/L atau 0,3-3 g/L (Tabel
5, p = 0,002). Tidak ada perbedaan berat lahir antara pasien dengan ≥5 g/L dan
pasien dengan proteinuria 3-5 g/L dalam urin 24 jam (p = 0,653). Jumlah kasus FGR
secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan proteinuria 5 g/L dalam
pengumpulan urine 24 jam dibandingkan dengan tiga kelompok lainnya (Tabel 4, p =
0,038). Jumlah kasus kelahiran mati secara signifikan lebih tinggi pada pasien
dengan proteinuria 5 g/L atau 3-5 g/L dalam pengumpulan urine 24 jam
dibandingkan dengan dua kelompok lainnya (Tabel 4, p = 0,041). Jumlah kasus
dimanaskor Apgar janin pada 1 menit <7 tidak berbeda antara kelompok 1 dan 2 dan
4. Sedangkan jumlah kasus dimana Skor apgar janin pada 1 menit <7 lebih tinggi
secara signifikan pada pasien dengan proteinuria 3-5 g/L dalam urin 24 jam (Tabel 4,
p = 0,008).
Tabel 3. Hubungann jumlah ptoteinuria dalam 24 jam pengumpulan urin dan
beratnya preeklampsia sesuai dengan waktu onset
Early onset Severe PET (n = 91) Mild PET (n = 44)
(n = 135) (Number, %, lower, upper
(Number,%, lower, upper,
CI.)
CI.)
<0.3 g/L (group 1, n =13) 8 (61%) (31%, 86%) 5 (39%) (13%, 68%)
0.3-3 g/L (group 2, n =60) 34 (56%) (43%, 69%) 26 (46%) (30%, 56%)
3-5 g/L (group 3, n =30) 24 (80%) (61%, 92%) 6 (20%) (7%, 38%)
≥5 g/L (group 4, n =32) 25 (78%) (60%, 90%) 7 (22%) (9%, 39%)
Late onset (n = 104) Severe PET (n = 51) Mild PET (n=53)
(Number, %, lower, upper (Number, %, lower, upper
CI.) CI.)
<0.3 g/L (group 1, n =22) 7 (32%) (13%, 54%) 15 (68%) (45%, 86%)
0.3-3 g/L (group 2, n =61) 31 (51%) (37%, 64%) 30 (49%) (36%, 62%)
3-5 g/L (group 3, n =16) 9 (56%) (30%, 80%) 7 (44%) (19%, 70%)
≥5 g/L (group 4, n =5) 4 (80%) (29%, 99%) 1 (20%) (50%, 71%)
PET : Preeclampsia
a: p <0.01 dibandingkan dengan preeklampsia ringan di grup yang sama

Tabel 4. Hubungan antara jumlah proteinuria dalam 24 jam pengumpulan urin dan hasil
neonatal
Proteinuria (n = FGR (Number%) Stillbirth (number Apgar at 1 min <7
239) %) (number%)
<0.3 g/L (group 1, 4 (11%)a 1 (3%)b 1 (3%)
n =35)
0.3-3 g/L (group 2, 18 (15%)a 4 (3.4%)b 9(7.5%)
n =121)
3-5 g/L (group 3, n 8 (17.3%)a 9 (19.5%)b 8(25%)
=46)
≥5 g/L (group 4, n 11 (29.7%)a 7 (18.9%)b 5(17.8%)
=37)
FGR: Fetal Growth Restriction
a. p = 0.038 dibandingkan dengan jumlah FGR dalam preeclampsia dengan
proteinuria <0.3 g/L atau diantara 0.3-3 g/L
b. p = 0.036 dibandingkan dengan kelahiran mati dalam preeclampsia dengan
proteinuria <0.3 g/L
c. p = 0.043 dibandingkan dengan kelahiran mati dalam preeclampsia dengan
proteinuria <0.3 g/L atau diantara 0.3-3 g/L
d. p = 0.008 dibandingkan dengan nilai APGAR <7 kurang dari 1 menit dengan tiga
grup lainnya

Pembahasan
Skrining proteinuria saat ini tidak penting dalam penegakkan diagnosis
preeklasmpsia pada antepartum care wanita hamil karena gejala preeklampsia yang
banyak dan tidak spesifik. Namun, keadaan perinatal meliputi pertumbuhan janin
terhambat (fetal growth restriction/FGR), komplikasi neonatal, janin mati (stillbirth),
dan persalinan prematur mungkin berkaitkan dengan jumlah proteinuria. Terdapat
perdebatan mengenai manfaat menilai proteinuria pada diagnosis preeklamsia,
terutama pada preeklamsia berat. Pedoman NICE tidak merekomendasikan penilaian
ulang dan pemantauan jumlah proteinuria begitu proteinuria terdeteksi. American
Society of Obstetrics and Gynecology juga tidak merekomendasikan untuk
memasukan proteinuria dalam kriteria penegakkan diagnosis preeklamsia jika
kriteria preeklampsia berat lainnya ditemukan, seperti disfungsi hati dan jumlah
trombosit yang lebih rendah, pada tahun 2013. Namun, sebuah studi tinjauan
menyarankan bahwa penentuan jumlah proteinuria pada diagnosis preeklampsia
harus lebih difokuskan untuk membedakan preeklampsia ringan dan berat.
Meskipun hampir 10% kasus preeklamsia tidak disertai proteinuria,
kombinasi tekanan darah dan proteinuria dianggap sebagai penanda utama untuk
kondisi perinatal yang buruk dan peningkatan risiko terhadap kondisi ibu. Hal ini
karena proteinuria berat diperkirakan berkembang pada akhir perjalanan terjadinya
preeklampsia. Studi survei terbaru menunjukkan proteinuria >3 g/L dalam urin 24
jam dianggap sebagai salah satu kriteria untuk preeklampsia berat. Namun, penelitian
kami menemukan bahwa 62% kasus preeklampsia dengan proteinuria 0.3-3 g/L
selama 24 jam termasuk dalam preeklampsia berat, lebih tinggi secara signifikan
daripada persentase preeklamsia ringan dengan kadar proteinuria yang sama (38%).
Selain itu, kami menemukan bahwa lebih dari 70% kasus preeklamsia berat terlihat
pada pasien dengan proteinuria >3 g/L dalam urin 24 jam, yang menunjukkan
sebagian besar kasus preeklamsia berat memiliki proteinuria >0,3 g/L dalam urin 24
jam (Tabel 2). Bahkan pada kelompok wanita preeklampsia dengan proteinuria <0,3
g/L dalam urin 24 jam, 43% diantaranya termasuk dalam preeclampsia berat. Data
kami juga menunjukkan bahwa frekuensi preeklamsia berat tidak berbeda pada
proteinuria >0,3 g/L. Secara keseluruhan, data kami menunjukkan bahwa jumlah
proteinuria (>0,3 g/L) tidak berhubungan dengan preeklamsia berat, meskipun
proteinuria terdeteksi. Temuan kami didukung oleh laporan sebelumnya yang
menyarankan bahwa jumlah proteinuria sebaiknya tidak menjadi kriteria untuk
preeklamsia berat. Namun, data kami juga menunjukkan bahwa frekuensi
preeklamsia berat dengan jumlah proteinuria yang lebih tinggi (>0,3 g/L) lebih
banyak secara signifikan daripada kasus preeklamsia ringan dengan jumlah
proteinuria yang sama. Ini menunjukkan bahwa jumlah proteinuria berkaitan dengan
perkembangan tingkat keparahan preeklampsia, yang merupakan akibat
meningkatnya kerusakan ginjal pada preeklamsia berat.
Sebelumnya telah dikemukakan bahwa morbiditas maternal pada
preeklampsia berat atau ringan dengan jumlah proteinuria yang beda, tidak berbeda.
Oleh karena itu dalam penelitian ini kami menganalisis perubahan proteinuria
dengan tingkat keparahan preeklampsia sesuai dengan onset penyakitnya. Pada
preeklamsia dengan onset dini, kami menemukan frekuensi preeklampsia berat lebih
tinggi secara signifikan daripada frekuensi preeklampsia ringan dengan proteinuria
>3 g/L dalam urin 24 jam. Namun, pada preeklamsia dengan onset lama, frekuensi
preeklampsia berat dan ringan tidak berbeda terlepas dari jumlah proteinuria dalam
urin 24 jam. Data ini menunjukkan bahwa jumlah proteinuria mungkin merupakan
indikator untuk preeklamsia onset dini dan progresi pada preeklamsia berat.
Korelasi antara jumlah proteinuria dan onset pada preeklampsia belum
diteliti. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jumlah proteinuria dikaitkan
dengan komplikasi maternal, sementara yang lain menyimpulkan bahwa preeklamsia
dengan proteinuria masif tidak meningkatkan komplikasi. Penelitian kami
menemukan bahwa onset preeklampsia dengan proteinuria >3 g/L dalam urin 24 jam
(kelompok 3 dan 4) secara signifikan lebih awal daripada preeklampsia dengan
proteinuria <3 g/L dalam 24 jam (kelompok 1 dan 2). Data ini menunjukkan bahwa
jumlah proteinuria berkorelasi positif dengan waktu terjadinya preeklamsia. Ekskresi
protein urin meningkat secara substansial karena kombinasi peningkatan laju filtrasi
glomerulus (glomerular filtration rate/GFR) dan peningkatan permeabilitas
membran basalis glomerulus selama kehamilan. Lesi histologis ginjal pada
preeklamsia adalah glomerular endotheliosis yang menyebabkan GFR dan aliran
plasma ginjal efektif (effective renal plasma flow/ERPF) menjadi lebih rendah.
Masih belum jelas apakah disfungsi ginjal merupakan penyebab primer atau
sekunder pada patogenesis preeklamsia. Data kami menunjukkan bahwa disfungsi
ginjal dapat terjadi lebih awal karena keparahan glomerular endotheliosis pada
preeklampsia. Menariknya, kami menemukan bahwa tidak ada perbedaan waktu
antara onset preeklamsia dan persalinan di antara semua kelompok. Hal ini mungkin
menunjukkan bahwa jumlah proteinuria pada preeklampsia tidak berkorelasi dengan
waktu persalinan, walaupun secara klinis, proteinuria berat biasanya dianggap
sebagai indikator untuk melakukan persalinan pada pasien preeklampsia.
Dengan meningkatnya jumlah proteinuria, tedapat peningkatan risiko
keadaan janin yang buruk. Namun, jumlah proteinuria berlebih yang mendasari
asosiasi ini belum dapat dijelaskan. Sebuah studi menyimpulkan bahwa terdapat
hubungan antara keadaan janin dan proteinuria masif (>5 g/L dalam urin 24 jam).
Penelitian kami menemukan bahwa jumlah kasus FGR tidak berhubungan dengan
jumlah proteinuria, kecuali kadar proteinuria pada preeklampsia mencapai >5 g/L
dalam urin 24 jam. Kami juga menemukan bahwa berat badan lahir lebih rendah dan
jumlah janin mati lebih tinggi pada preeklamsia dengan proteinuria >3 g/L. Hasil ini
menunjukkan bahwa keadaan janin dapat dikaitkan dengan jumlah proteinuria pada
preeklampsia. Namun, dalam penelitian ini kami juga menemukan bahwa waktu
persalinan lebih awal pada preeklampsia dengan proteinuria >3 g/L. Oleh karena itu,
keadaan janin yang buruk seperti berat lahir rendah atau jumlah janin mati yang lebih
tinggi mungkin disebabkan persalinan prematur atau fungsi prematuritas daripada
jumlah proteinuria yang berat.
Kesimpulannya, data kami menunjukkan bahwa jumlah proteinuria tidak
berhubungan dengan preeklampsia berat meskipun proteinuria terdeteksi, namun
berkaitan dengan tingkat keparahan preeklampsia, terutama pada preeklampsia dini.
Selain itu, kami menemukan bahwa jumlah proteinuria berkorelasi positif dengan
onset pada preeklampsia, namun waktu antara onset preeklampsia dan waktu
persalinan tidak terkait dengan jumlah proteinuria. Keadaan janin yang buruk
mungkin disebabkan prematuritas daripada proteinuria itu sendiri. Meskipun evaluasi
proteinuria tidak penting dalam menetapkan diagnosis preeklampsia, data kami
menunjukkan bahwa proteinuria berkaitan dengan tingkat keparahan preeklampsia.

TELAAH JURNAL
PICO VIA
• Population
Populasi penelitia semua wanita hamil yang datang berobat ke Rumah Sakit
Xi’an, Universitas Jiatong, Cina, dari September 2011 sampai Juni 2013.
Didapatkan data 239 wanita dengan preeklampsia dikumpulkan dari
Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Xi’an, Universitas Jiatong,
Cina, dari September 2011 sampai Juni 2013.
• Intervention
Pada penelitian ini tidak dilakukan intervensi.
• Comparison
Penelitian ini membandingkan jumlah proteinuria pada pasien dengan
preeklampsi
• Outcome
Penentuan hubungan antara jumlah proteinuria dengan tingkat keparahan dan
hasil klinis preeklampsia.

VALIDITY
1. Apakah fokus penelitian ini sesuai dengan tujuan penelitian?
YA, penelitian ini bertujuan untuk menentuan hubungan antara jumlah
proteinuria dengan tingkat keparahan dan hasil klinis preeklampsia dan fokus
penelitian ini adalah menentukan itu.
2. Apakah subjek penelitian ini diambil dengan cara yang tepat?
YA, subjek penelitian diambil sesuai tema, yaitu wanita hamil yang datang
berobat ke Rumah Sakit Xi’an, Universitas Jiatong, Cina, dari September
2011 sampai Juni 2013 dan tidak termasuk kriteria eksklusi.
3. Apakah data yang dikumpulkan sesuai dengan tujuan penelitian?
YA, sesuai dengan tujuan penelitian yaitu menentuan hubungan antara jumlah
proteinuria dengan tingkat keparahan dan hasil klinis preeklampsia di Rumah
Sakit Xi’an, Universitas Jiatong, Cina, dari September 2011 sampai Juni
2013. Semua kasus yang didata sebagai preeklampsia pada database
elektronik rumah sakit ini secara individual dinilai oleh penulis senior untuk
memastikan bahwa kriteria preeklampsia seperti yang dijelaskan dibawah ini
terpenuhi. Data yang dikumpulkan berupa usia ibu, usia kehamilan pada saat
didiagnosis, graviditas, paritas, tekanan darah, proteinuria pada urin yang
dikumpulkan 24 jam, usia kehamilan saat dilahirkan, berat lahir,
perkembangan janin terhambat (PJT) dan janin mati (stillbirth). Proteinuria
pada urin yang dikumpulkan 24 jam diiukur dalam 24 jam pasien masuk ke
rumah sakit, sebelum mendapatkan penatalaksanaan. Proteinuria
dikelompokkan menjadi 4 yaitu kelompok 1: proteinuria pada urin 24 jam
<0,3 g/L; kelompok 2: proteinuria pada urin 24 jam antara 0,3 g/L dan 3 g/L;
kelompok 3: proteinuria pada urin 24 jam antara 3 g/L dan 5 g/L; kelomok 4:
proteinuria pada urin 24 jam ≥5 g/L.

4. Apakah penelitian ini mempunyai jumlah subjek yang cukup untuk


meminimalisirkan kebetulan?
Peneliti melakukan penelitian observasional retrospektif maka semua data
yang dapat diterima sesuai kriteria inklusi akan dipakai menjadi subjek
penelitian. Pada penelitian ini terdapat 239 wanita dengan preeklampsia
dikumpulkan dari Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Xi’an,
Universitas Jiatong, Cina, dari September 2011 sampai Juni 2013.
5. Apakah analisis data dilakukan cukup baik?
YA, data disajikan dalam median dan rentang atau persentase. Perbedaan
statistik pada usia ibu, usia kehamilan pada saat diagnosis, tekanan darah,
usia kehamilan pada saat kelahiran, dan proteinuria pada urin 24 jam antara
subgroup preeklampsia dianalisa dengan uji Mann-Whitney U menggunakan
perangkat lunak Prism. Perbedaan statistik pad berat lahir dianalisa dengan
regresi linier multipel menggunakan perangkat lunak SAS versi 9.4 (SAS
Institute Inc., Cary, NC, USA). Perbedaan statistik pada jumlah kasus
preeklampsia berat, PJT atau janin mati diantara subgroup preeklampsia
dianalisa dengan uji Chi-square menggunakan perangkat lunak Prism.

IMPORTANT
6. Apakah penelitian ini penting?
Mengingat bahwa proteinuria merupakan gejala yang menyertai preeklampsia
dan dalam klinis dijadikan sebagai salah satu kriteria diagnosis, maka
diperlukan pembuktian mengenai korelasi antara proteinuria dan
preeklampsia baik dalam tingkat keparahan, onset, waktu persalinan, kondisi
janin serta berbagai komplikasi yang akan terjadi.

APPLICABLE
7. Apakah penelitian ini dapat diterapkan?
Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai referensi tentang hubungan antara
proteinuria dan preeklampsia dalam tingkat keparahan, onset, waktu
persalinan, kondisi janin serta berbagai komplikasi yang akan terjadi. Hasil
penelitian ini juga dapat dijadikan referensi diagnosis dan rencana
tatalaksana preeklampsi.

Kesimpulan: penelitian ini valid