Anda di halaman 1dari 36

PT PLN (Persero)

Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

JARINGAN DISTRIBUSI

1. Jaringan Distribusi Tenaga Listrik


Unit distribusi tenaga listrik merupakan salah satu bagian dari suatu sistem tenaga listrik
yang terdiri dari unit pembangkit, unit penyaluran / transmisi dan unit distribusi yang
dimulai dari PMT incoming di Gardu Induk sampai dengan Alat Penghitung dan
Pembatas (APP) di instalasi konsumen. Rangkaian dari semua ini dapat di ilustrasikan
seperti pada gambar.1 seperti berikut
Gambar 1. Instalasi Sistem Tenaga Listrik

Unit Unit Gardu Induk


Unit Distribusi
Pembangkitan Transmisi distribusi

Distribusi Distribusi

sekunder Primer
PMT Trf PM T
G Trf PM T
Transformator
Generator


Pemutus
Tenaga

Konsumen Besar

Konsumen Umum

Unit distribusi tenaga listrik dalam hal ini berfungsi untuk menyalurkan dan
mendistribusikan tenaga listrik dari pusat pusat suplai atau Gardu Induk ke pusat-pusat
beban yang berupa gardu-gardu distribusi (gardu trafo) atau secara langsung mensuplai
tenaga listrik ke konsumen dengan mutu yang memadai. dengan demikian unit distribusi
ini menjadi suatu sistem tersendiri karena unit distribusi ini memiliki komponen
peralatan yang saling berkaitan dalam operasinya untuk menyalurkan tenaga listrik
Sistem adalah perangkat unsur-unsur yang saling ketergantungan yang disusun untuk
mencapai suatu tujuan tertentu dengan menampilkan fungsi yang ditetapkan. Dilihat dari
tegangannya unit distribusi dapat dibedakan dalam 2 macam yaitu

1
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

a. Distribusi Primer, sering disebut Sistem Jaringan Tegangan


Menengah (JTM) dengan tegangan operasi nominal 20 kV/ 11,6 kV
b. Distribusi Sekunder, sering disebut Sistem Jaringan Tegangan
Rendah (JTR) dengan tegangan operasi nominal 380 / 220 volt
Dalam rencana pengembangan dan perluasan jaringan distribusi tenaga listrik
sedikitnya ada tiga kriteria sebagai dasar rekayasa (basic engineering) yang semestinya
diperhatikan dalam pengembangan distribusi ketenaga listrikan yaitu :
a. Desain sistem dan peralatan distribusi serta pembuatannya
b. Penentuan garis-garis besar standar konstruksi yang didasarkan pada peralatan
yang diperoleh
c. Memilih dan menyeleksi berbagai macam standar konstruksi yang akan
digunakan pada situasi tertentu berdasarkan hal-hal tertentu yang ditetapkan
perusahaan

2. Spesifikasi Sistem Distribusi


Adanya keberagaman spesifikasi desain ketenaga listrikan akan memungkinkan dapat
mengganggu kelancaran pengusahaan dan pembangunan ketenaga listrikan itu sendiri
Untuk keperluan penyederhanaan pengelolaan investasi serta kelancaran pengusahaan
ketenaga listrikan di wilayah PT PLN, perusahaan ini telah menyusun spesifikasi desain
untuk JTM dan JTR dalam SPLN 72 tahun 1987 yang diantaranya sebagai berikut :
1. Sistem Distribusi Tegangan Menengah
a. Saluran Udara Tegangan Menengah ( SUTM )
 Jaringan Radial
 Radial tanpa saklar seksi
 Radial dengan saklar seksi manual Local , Remote
 Radial dengan saklar seksi otomatik
 Jaringan Lingkar (loop)
 Loop dengan saklar seksi manual Local, Remote
 Loop dengan saklar seksi otomatik

2
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

b. Saluran Kabel Tegangan Menengah


 Jaringan Gugus
 Jaringan Spindel
 Jaringan Simpul
2. Jenis Pemutus Tenaga
a. Pemutus Tenaga (PMT) tipe hembusan udara (Air Blast )
b. Pemutus Tenaga tipe hampa udara (Vacuum)
c. Pemutus Tenaga tipe minyak banyak ( Oill Bulk )
d. Pemutus Tenaga tipe minyak sedikit ( Low Oil Content)
e. Pemutus Tenaga tipe Gas ( SF 6 )
3. Gardu Transformator
a. Gardu Tembok Untuk SKTM
b. Gardu Tembok Untuk SUTM
c. Gardu Kiosk
d. Gardu Tiang
4. Pengaturan tegangan dan turun tegangan
a. Turun tegangan pada JTM diperbolehkan 2% dari tegangan kerja yang tidak
memanfaatkan Sadapan Tanpa Beban (STB) yaitu sistem spindle dan sistem
gugus.
b. Turun tegangan pada JTM diperbolehkan 5% dari tegangan kerja bagi sistem
yang memanfaatkan STB yaitu sistim radial diatas tanah dan sistim simpul
c. Turun tegangan pada sistim distribusi dibolehkan 3 % dari
tegangan kerja
d. Turun tegangan pada JTR dibolehkan sampai 4 % dari tegangan
kerja
e. Turun tegangan pada SR dibolehkan sampai 1 % dari tegangan
nominal
5. Penghantar Jaringan Tegangan Menengah
a. Penghantar terbuka diatas tanah

3
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

b. Kabel alumunium type XLPE


c. Kabel pilin udara sesuai SPLN 43-5:1986
6. Suplai konsumen besar Tegangan Menengah ( TM )
Untuk konsumen besar TM dapat disuplai dengan cara sebagai berikut:
a. Saluran suplai tunggal diatas tanah
b. Saluran suplai ganda diatas tanah atau satu diatas tanah dan satu didalam tanah
c. Saluran suplai ganda didalam tanah
d. Saluran suplai ganda / banyak didalam tanah
7. Relai Pengaman
a. Relai pengaman yang dipakai untuk saluran penyulang sesuai dengan SPLN
52 –3 ; 1983
b. Relai Penutup Balik disesuaikan dengan sistim pentanahan netral

3. Konfigurasi Sistim Distr.


Beragam jenis konfigurasi sistem yang bisa dipilih untuk membangun suatu sistem
distribusi, namun pemilihan konfigurasi lain dari yang sudah dispesifikasi perlu
pengkajian yang lebih mendalam untuk menghindari timbulnya dampak yang tidak di
inginkan baik dalam investasi maupun dalam pengusahaan
Ada 6 jenis konfigurasi sistem distribusi yang sesuai dengan spesifikasi PLN[2] adalah

a. Simpul ( Spot Network )


b. Spindle dengan Pengatur Distribusi
c. Spindle tanpa Pengatur Distribusi
d. Gugus ( Cluster )
e. Lingkar / Ring ( Loop )
f. Radial

Pemilihan jenis konfigurasi untuk sistem distribusi tegangan menengah tergantung


kepada beberapa faktor antara lain faktor kawasan, kapasitas beban dan peruntukan.

4
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

Untuk tujuan meningkatkan pelayanan tenaga listrik kepada konsumen modifikasi


konfigurasi jaringan dilapangan sering dilakukan dengan harapan dapat melancarkan
tugas operasi sistem dengan mempertahankan kontinuitas suplai pada konsumen.
Bentuk-bentuk dari konfigurasi sistem distribusi tegangan menengah ini dapat dilihat
pada gambar 2. sampai dengan gambar nomor 2.7 seperti berikut :

Trf

PMT Grd 1
Trf

Grd 9

Gambar 2. Konfigurasi Sistem Radial

Pada gambar 3. diperlihatkan modifikasi dari konfigurasi sistem radial dengan


memasangkan suatu peralatan hubung Pemutus Balik Otomatis (PBO) yang sering
disebut recloser atau Load Break Switch ( LBS ) Umumnya dipasang ditengah jaringan
atau dibeberapa tempat yang diperlukan baik dengan sistem operasi lokal atau dengan
sistem operasi remote atau diperlukan operasi yang otomatis. Dengan adanya peralatan
hubung yang operasinya didukung teknologi informasi, pengoperasian sistem atau dalam
kegiatan manuver beban menjadi lebih cepat sehingga lamanya padam dapat dikurangi
lebih banyak

PSO
Trf PMT Grd 1 ( PBO )

Grd 9

Gambar 3. Konfigurasi Radial dengan PBO

5
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

Namun demikian keberadaan PBO memerlukan penelitian secara seksama terlebih


dahulu. Kemampuan PBO untuk melakukan trip dan close beberapa kali sering tidak
di kehendaki oleh peralatan listrik yang berbasis elektronika atau microprosesor dan
perusahaan garmen dan sejenisnya yang cukup peka dengan kondisi stabilitas dan
kontinuitas

Feeder A
Trf
PMT Grd a Grd b Grd z

Feeder B LBS
GI
PMT
Gambar 4. Konfigurasi sistem loop.
Gambar 4 Konfigurasi Sistem Lingkar ( Loop )

Trf PMT Grd 1 Grd 9

Feeder A LBS

Gambar 5 Konfigurasi Sistem Gugus (Cluster).

6
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

PPJD TS+TC+TM

TS+TC

TS+TC+TM

Trf
Grd a Grd z

PMT Feeder A Midle Point PMT GH


GI
PMT Express Feeder PMT

Gambar 6 Konfigurasi Sistem Spindle dengan PPJD

Trf
Feeder A

PMT

GI
PMT
LBS

TRAFO
DISTRIBUSI
NETWORK
PROTECCTOR

Gambar 7. Konfigurasi Sistem Simpul (Spot Net Word)

7
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

4. Kontinuitas Pelayanan
Kontinuitas pelayanan merupakan salah satu unsur dari mutu pelayanan yang nilainya
akan tergantung kepada jenis sarana penyalurannya, sarana peralatan pengaman yang
dipilihnya. Tingkat kontinuitas pelayanan dari peralatan penyalur tenaga listrik disusun
berdasarkan lamanya upaya untuk pemulihan suplai tenaga listrik ke konsumen setelah
mengalami pemutusan
Pada SPLN 52-3 tingkat kontinuitas pelayanan tenaga listrik tersusun seperti berikut

a. Kontinuitas tingkat 1
Pada tingkat ini memungkinkan jaringan berada pada kondisi padam dalam
waktu berjam-jam dalam rangka mencari dan memperbaiki bagian bagian yang
mengalami kerusakan karena gangguan
b. Kontinuitas tingkat 2
Kondisi jaringan padam dimungkinkan dalam waktu beberapa jam untuk
keperluan mengirim petugas kelapangan, melokalisir kerusakan dan melakukan
pengaturan switching untuk menghidupkan suplai beban pada kondisi sementara
dari arah atau saluran lain
c. Kontinuitas tingkat 3.
Dimungkinkan padam dalam waktu beberapa menit untuk kegiatan pengaturan
switching dan pelaksanaan switching oleh petugas yang stand by di gardu atau
pelaksanaan deteksi dengan bantuan Pusat Pengatur Jaringan Distribusi yang
disingkat PPJD ( DCC )
d. Kontinuitas tingkat 4
Dimungkinkan padam dalam beberapa detik, pengaturan switching dan
pengamanan dilaksanakan secara otomatis
e. Kontinuitas tingkat 5
Dimungkinkan tanpa adanya pemadaman dengan melengkapi instalasi cadangan
terpisah dan otomatisasi penuh

8
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

Jaringan distribusi untuk luar kota (pedesaan) terdiri dari saluran udara dengan susunan
jaringan menggunakan konfigurasi radial yang memenuhi kontinuitas tingkat 1
sedangkan untuk daerah dalam kota terdiri dari saluran udara dengan susunan jaringan
menggunakan konfigurasi loop / gelang atau cincin atau yang lebih baik yaitu
konfigurasi spindle dengan bantuan PPJD (Pusat Pengatur Jaringan Distribusi) dimana
tingkat kontinuitas sistem ini akan menjadi lebih baik lagi
Tingkat keandalan suatu sistem merupakan kebalikan dari besarnya jam pemadaman
atau pemutusan pelayanan jadi tingkat keandalan yang tinggi dapat diperoleh dengan
memilih jaringan dengan tingkat kontinuitas pelayanan yang tinggi dan frekuensi
pemadaman karena gangguan yang rendah.

5. Tingkat Jaminan Sistem Distribusi


Indeks-indeks yang dapat dipakai untuk membandingkan unjuk kerja (performance)
sistem distribusi dalam memberi pelayanannya pada konsumen sebagai tolok ukur
kemajuan atau untuk menentukan proyeksi yang akan dicapai adalah :

a. SAIFI : System Average Interuption Frequency Index


b. SAIDI : System Average Interuption Duration Index
c. CAIFI : Customer Average Interuption Frequency Index
d. CAIDI : Customer Average Interuption Duration Index
e. ASAI : Average System Availability Index

Untuk melihat unjuk kerja (performance) dari pengusahaan ketenaga listrikan yang
diusahakan PT PLN digunakan SAIDI dan SAIFI.

6. Konstruksi Jaringan Distribusi


Konstruksi jaringan tenaga listrik dengan saluran udara untuk sistem distribusi terdiri
dari beberapa macam bentuk atau formasi Konstruki jaringan distribusi yang
dipergunakan di wilayah Jawa tengah berbeda dengan yang dipergunakan di Jawa Timur

9
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

demikian pula dengan yang dipergunakan di Jawa Barat. Dengan demikian karakteristik
komponen-komponen sistemnya pun akan berbeda
Selain dengan saluran udara untuk menyalurkan tenaga listrik dari pusat-pusat tenaga
dalam hal ini pembangkitan atau Gardu Induk (GI) ke pusat pusat beban gardu (trafo)
distribusi atau kosumen dapat dilakukan dengan sarana saluran kabel tanah dan
pemilihan sarana ini akan tergantung kepada kriteria pemilihan yang dipersyaratkan .
Penggunaan jaringan listrik dengan sarana kabel akan mempunyai nilai estetika yang
lebih baik dari saluran udara sehingga cocok untuk dipergunakan di daerah perkotaan
yang padat dengan bangunan dimana saluran udara tidak mungkin lagi diterapkan
dengan tidak adanya jaminan keselamatan dan berkurangnya nilai estetika.
Biaya investasi yang lebih mahal dan sulitnya dalam menelusuri letak gangguan serta
mahalnya biaya untuk perbaikan merupakan beberapa kendala dari pemilihan saluran
kabel. Saluran kabel tidak terpengaruh dengan kondisi-kondisi diluar sehingga tingkat
keandalan sistim menjadi lebih tinggi, hanya kabel yang tercangkul yang sering tercatat
sebagai gangguan pada saluran kabel selain itu hampir tidak ada catatan Namun
demikian. sampai saat ini saluran udara merupakan pilihan yang banyak dipergunakan
PT PLN terutama untuk mensuplai tenaga listriknya keluar kota (pedesaan) dimana hal
ini dengan mudah dapat dilihat secara nyata. Rawan terhadap gangguan eksternal
merupakan salah satu kekurangan dari penggunaan saluran udara terbuka yang
dampaknya saat ini sangat mempengaruhi kinerja perusahaan dan banyak mengurangi
kepercayaan konsumen pada perusahaan Konstruksi-konstruksi saluran udara untuk
jaringan distribusi tegangan menengah yang dipergunakan PT PLN secara garis besar
dapat dikelompokan dalam 4 macam formasi yaitu :

1. Formasi Horizontal simetris tanpa kawat tanah


2. Formasi Horizontal tidak simetris dengan satu kawat tanah di atas kawat
fasanya
3. Formasi Segitiga dengan kawat tanah di bawah kawat fasanya
4. Formasi Vertical satu fasa dengan kawat tanah dibawah kawat fasanya

10
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

Bentuk bentuk formasi saluran udara ini dapat dilihat pada gambar–gambar seperti
berikut :

1. Formasi Horizontal simetris tanpa kawat tanah

Gambar 2.8 . Kostruksi SUTM Formasi Horizontal Simetris tanpa


kawat tanah

Formasi ini dipergunakan di wilayah PLN Distribusi Jawa barat, Jakarta dan
Banten sebagai tiang penopang penghantar

2. Formasi Horizontal tidak simetris dengan satu kawat tanah di atas kawat
fasanya Formasi ini banyak di gunakan di Jawa Timur dan Kalimantan Selatan

Gambar 2.9 : Konstruksi SUTM Formasi Horixontal tidak simetris


dengan kawat tanah diatas kawat fasa

11
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

3. Formasi Segitiga dengan kawat tanah di bawah


kawat fasanya
Formasi saluran ini banyak dipergunakan di wilayah PLN Distribusi Jawa
Tengah untuk saluran sutm 3 fasa

Gambar 2.10 Konstruksi SUTM Formasi Segitiga dengan


kawat Netral dibawah kawat fasa [8]

4. Formasi Vertical satu fasa dengan kawat


tanah dibawah kawat fasa
Fomasi saluran ini banyak dipergunakan di wilayah PLN Distribusi Jawa
Tengah untuk Saluran 1 fasa

12
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

Gambar 2.11 . Konstruksi SUTM Formasi Vertikal 1 kawat dengan kawat


Netral dibawah kawat fasa [8]

7. Pengaman Sistem Distribusi


Untuk mendapatkan frekuensi pemadaman karena gangguan yang rendah dapat
diperoleh dengan memilih sistem dan peralatan pengaman yang memadai. Sistem
pengaman utamanya bertujuan untuk mencegah dan membatasi kerusakan pada jaringan
beserta peralatannya dan menjaga keselamatan umum yang disebabkan adanya
gangguan serta untuk meningkatkan kontinuitas pelayanan pada konsumen. Dengan
demikian tugas yang harus dilaksanakan pengaman sistem adalah :
a. Dapat melaksanakan koordinasi dengan unit-unit sistem yang terkait
b. Dapat mengamankan peralatan dari kerusakan akibat arus lebih
c. Dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya kecelakaan atau kerugian atau
minimal dapat mengurangi dampaknya
d. Dapat secepatnya membebaskan pemadaman karena gangguan
e. Dapat membatasi daerah yang mengalami pemadaman
f. Dapat mengurangi frekuensi pemutusan tetap karena gangguan
Adapun cara, macam dan tingkat pengamanan yang akan atau semestinya diterapkan
pada suatu sistem distribusi tergantung pada sejumlah faktor, antara lain adalah :
a. Pola sistem distribusi yang dipergunakan termasuk pentanahan sistemnya
b. Jenis peralatan yang dipergunakan
c. Kondisi wilayah
d. Jenis dan karakteristik beban yang terpasang
e. Biaya yang dikeluarkan

Dengan demikian perencanaan pengaman sistem distribusi pada hakekatnya tidak dapat
dipisahkan melainkan harus terpadu (integrasi) dalam perencanaan sistem distribusi

13
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

8. Jenis-Jenis Gangguan Pada Sistem Distribusi


Saluran udara dengan kawat terbuka merupakan saluran yang paling rawan terhadap
gangguan eksternal, gangguan akibat sentuhan pohon merupakan penyebab gangguan
pelayanan tenaga listrik yang paling banyak dilaporkan diseluruh unit pelayanan PLN
sehubungan dengan banyaknya pohon pohon yang tumbuh disekitar jaringan SUTM
selain itu disebabkan binatang seperti burung kelelawar dan ular dibeberapa tempat
layangan dilaporkan sebagai salah satu penyebab gangguan pelayanan tenaga listrik .
Gangguan-gangguan semacam ini dapat dikategorikan sebagai gangguan sesaat atau
temporer bila gangguan semacam ini dapat hilang dengan sendirinya yang disusul
dengan penutupan kembali perlatan hubungnya secara otomatis (Reclose) atau manual .
Gangguan terhadap pelayanan tenaga listrik yang tidak dapat hilang dengan sendirinya
dikategorikan sebagai gangguan permanen (persistent) jenis gangguan untuk kategori
permanent adalah : kawat putus dan gangguan hubung singkat yang terdiri dari :
1. Gangguan hubung singkat 3 fasa
2. Gangguan hubung singkat fasa-fasa
3. Gangguan hubung singkat 1 fasa ke tanah
4. Gangguan hubung singkat 2 fasa ke tanah
5. Gangguan hubung singkat 3 fasa ke tanah

9. Jenis Alat Pengaman Sistem Distribusi


Jenis alat pengaman untuk sistem distribusi tegangan menengah yang distandarisasi PT
PLN (Persero) sesuai SPLN 52-3:1983 adalah[3]
a. Pengaman lebur (Fuse)
Merupakan bagian pengaman dari saluran dan peralatan dari adanya gangguan
hubung singkat antar fasa dan dapat pula sebagai pengaman hubung tanah bagi
sistem distribusi yang menggunakan pentanahan langsung dan bagi peralatan
pada sistem didtribusi dengan pentanahan rendah
b. Pemutus Beban dengan relai arus lebih

14
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

Berlaku sebagai pengaman utama sistem terhadap gangguan hubung singkat


antar fasa dan hubung tanah bagi sistem yang ditanahkan langsung
c. Pemutus Beban dengan relai arus tanah
Pealatan ini dapat dipergunakan sebagai pengaman utama terhadap gangguan
tanah bagi sistim yang di tanahkan dengan tahan rendah
d. Pemutus Beban dengan relai arus tanah terarah
Peralatan ini dipergunakan sebagai pengaman utama terhadap gangguan hubung
tanah pada sistem yang ditanhkan langsung atau sistem yang menggunakan
pentanahan dengan tahanan tinggi
e. Pemutus Beban dengan relai penutup balik otomatis ( Recloser )
Alat ini merupakan pengaman pelengkap untuk membebaskan gangguan yang
bersifat temporer
f. Saklar Seksi Otomatis (Sectionalizer)
Alat pemutus otomatis ini bermanfaat untuk mengurangi luas daerah yang padam
karena gangguan
g. Indikator Gangguan
Alat ini untuk mempercepat lokalisasi gangguan yang terjadi
h. Pemisah manual
Dipergunakan untuk mengurangi daerah yang padam karena gangguan

10. Pola Sistim Distribusi


Ada 3 (tiga) macam pola sistem distribusi utama yang dianut oleh PT PLN (persero) di
seluruh Indonesia dan satu pola tambahan untuk sistem yang tidak lagi dikembangkan
oleh PLN.
Di PT PLN untuk koordinasi, investasi, tingkat pelayanan dan keselamatan dalam
rangka pengamanan sistem distribusi, suatu wilayah atau distribusi hanya diperbolehkan
untuk menganut salah satu pola yang cocok untuk lingkungannya [3]
Jaminan keselamatan, keandalan dan kontinyuitas penyaluran sulit untuk dipertahankan
pada posisi yang optimum dan dalam pelaksanaanya dilapangan dapat menimbulkan

15
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

beberapa kesulitan dengan adanya ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan biaya
investasi dan pemeliharaan peralatan. Pola-pola sistem distribusi tersebut adalah :

1. Sistem Distribusi Pola 1:


Yaitu sistem distribusi 20 KV fasa tiga 3 kawat dengan pentanahan netral melalui
tahanan tinggi.
Di Indonesia pola sistem distribusi semacam ini petama dikembangkan di PLN
distribusi Jawa Timur dan ciri cirinya dapat di indentifikasi sebagai berikut
Sistem Jaringan :
a. Tegangan nominal : 20 kV
b. Sistem Pentanahan : Netral Kumparan TM yang dihubungkan secara bintang dari
trafo utama ditanahkan melalui tahanan dengan nilai 500 ohm (arus hubung
singkat ke tanah maksimum 25 A )
c. Konstruksi jaringan : Pada dasarnya adalah saluran udara yang terdiri dari
Saluran Utama ( Main lines ) : Kawat jenis AAAC 150 mm 2 fasa tiga 3-kawat
untuk saluran cabang: kawat AAAC 70 mm2
d. Sistem pelayanan : radial dengan kemungkinan saluran utama antara jaringan
yang berdekatan dapat saling berhubungan dalam keadaan darurat

Sistem Pengaman :
a. Pemutus Beban (PMB) utama dipasang pada saluran utama di GI sebagai
pengaman utama jaringan dan dilengkapi dengan alat pengaman ( Relai )
 Relai Penutup Balik (Recloser) untuk memulihkan sistem dari gangguan-
gangguan yang bersifat temporer dan untuk koordinasi kerja dengan
peralatan pemutus / pengaman yang lain disisi hilir dan saluran cabang dari
jaringan antara lain sectionalizer dan Pengaman Lebur (fuse)
 Relai Gangguan Tanah Terarah (DGFR = Directional Ground Fault Relays)
dipergunakan untuk membebaskan gangguan fasa tanah

16
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

 Relai arus lebih (OCR = Over Current Relays) untuk membebaskan


gangguan antar fasa

b. Saklar seksi otomatis ( SSO )


Model saklar ini dipergunakan sebagai alat pemutus rangkaian untuk memisah-
misahkan saluran utma dalam beberapa seksi agar pada keadaan gangguan
permanen luas daerah (jaringan) yang terganggu diusahakan sekecil mungkin,
SSO untuk pola sistem ini akan membuka pada waktu rangkaian tidak
bertegangan dan pada saat rangkaian bertegangan harus mampu menutup
rangkaian dalam keadaan hubung singkat
c. Pengaman Lebur (Fuse)
Fuse dipasang pada titik percabangan antara saluran utama dan saluran cabang
juga dipasang pada sisi primer (20 kV) trafo distribusi dengan maksud untuk
mengamankan jaringan dan peralatan yang berada di sebelah hilirnya terhadap
gangguan permanen antar fasa dan tidak untuk mengamankan gangguan fasa
tanah.

2. Sistem Distribusi Pola 2:


Sistem Distribusi 20 kV fasa tiga 4 kawat dengan pentanahan netral secara
langsung .
Pola sistem ini mulai dikembangkan di Indonesia di PLN distribusi Jawa tengah
dan pola sistem distribusi ini di indentifikasi sebagai berikut:

Sistem Jaringan :
a. Tegangan Nominal : 20 kV

17
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

b. Sistem Pentanahan : Netral ditanahkan sepanjang jaringan dan kawat netral


dipakai bersama untuk saluran tegangan menengah dan saluran tegangan rendah
dibawahnya.
c. Konstruksi Jaringan : Terdiri dari saluran udara terutama dan saluran kabel
sedang saluran udara terdiri dari : saluran utama dan saluran cabang.
 Saluran Utama : kawat AAC 240 dan 150 mm2 fasa tiga – 4 kawat
 Saluran Cabang : kawat AAC 100 dan 55 mm 2 fasa tiga – 4 dan kawat
AAC 55 dan 35 Fasa satu 2 kawat ( Fasa netral )
Cat : Penghantar dapat dipilih yang setara
d. Sistem pelayanan : radial dengan kemungkinan saluran utama antara jaringan
yang berdekatan dapat saling berhubungan dalam keadaan darurat
e. Pelayanan Beban : Fasa tiga 4 kawat : 20 / 11.6 kV, Fasa tunggal : 2 kawat
11,6 kV
Sistem Pengaman :
a. Penutup Balik otomatis ( PBO )
Alat ini dipasang pada saluran utama Di GI sebagai pengaman utama jaringan .
Pada jaringan yang panjang ( > 20 km ) yang dipasang pada ujung GI tidak lagi
peka untuk mengindentifikasi gangguan yang berada jauh pada ujung hilir
sehingga untuk pengamanan terhadap gangguan temporer maupun untuk
membagi jaringan dalam beberapa seksi guna melokalisir daerah yang
terganggu skecil mungkin dipasang PBO ke dua dan ke tiga pada jarak jarak
tertentu sepanjang saluran utama
b. PMB ( PMT ) dapat dipasang sebagai PBO 1 dimana alat ini perlu dilengkapai
dengan relai–relai :
 Relai penutup balik unutuk memulihkan sistem dari gangguan gangguan
yang bersifat temporer dan untuk kordinasi kerja dengan peralatan
pemutus / pengaman lain disisi hilir dan saluran cabang antar lain PBO ,
SSO dan Fuse Cut out

18
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

 Relai arus lebih jenis waktu tebalik untuk membebaskan gangguan fasa
fasa
 Relai arus tanah untuk membebaskan gangguan fasa tanah
c. Saklar seksi otomatis ( SSO )
Model saklar ini dipergunakan sebagai alat pemutus rangkaian untuk
memisah-misahkan saluran utama dalam beberapa seksi agar pada keadaan
gangguan permanen luas daerah (jaringan) yang terganggu diusahakan
sekecil mungkin, SSO untuk pola 2 ini akan membuka pada saat rangkaian
tidak ada arus dan tidak menutup kembali. Saklar ini bekerja berdasarkan
penginderaan dan hitungan (account) trip PMT (PBO) arus hubung singkat
dengan demikian saklar ini dipasang apabila dibagian hulu terpasang PMT
atau PBO
d. Pengaman Lebur ( Fuse )
Fuse dipasang pada titik percabangan antara saluran utama dan saluran
cabang juga dipasang pada sisi primer (20 kV) trafo distribusi sebagi
pengaman saluran terhadap gangguan gangguan yang besrsifat permanen
koordinasi antar PBO dan alat lainnya perlu dilakukan

3. Sistem Distribusi Pola 3:


Sistem Distribusi 20 KV fasa tiga 3 kawat dengan pentanahan netral melalui
tahanan rendah
Pola sistem ini mulai dikembangkan di Indonesia di distribusi Jawa Barat dan DKI
Jaya , sekarang meluas keseluruh wilayah kerja PLN meskipun dibeberpa tempat
digunakan modifikasi. Pola sistem distribusi ini ciri-cirinya dapat di indentifikasi
seperti berikut :

Sistem Jaringan
a. Tegangan nominal : 20 kV

19
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

b. Sistem Pentanahan : Netral Kumparan TM yang dihubungkan secara bintang


dari trafo utama ditanahkan melalui tahanan dengan nilai 12 ohm (arus hubung
singkat ke tanah maksimum 1000 A ) dan 40 ohm
(arus hubung singkat ke tanah maksimum 300 A) untuk sistem SUTM atau
sistem campuran
c. Konstruksi jaringan : Pada dasarnya adalah saluran udara terdiri dari :
Saluran Utama ( Main lines ) : Kawat jenis AAAC 150 mm 2 fasa tiga 3-kawat
untuk saluran cabang: kawat AAAC 70 mm2
a. Sistem pelayanan : radial dengan kemungkinan saluran utama antara jaringan
yang berdekatan dapat saling berhubungan dalam keadaan darurat

Sistem Pengaman :
a. Pemutus Beban (PMB) utama dipasang pada saluran utama di GI sebagai
pengaman utama jaringan dan dilengkapi dengan alat pengaman ( Relai )
 Relai Penutup Balik (Recloser) untuk memulihkan sistim dari gangguan-
gangguan yang bersifat temporer dan untuk koordinasi kerja dengan
peralatan pemutus / pengaman yang lain disisi hilir dan saluran cabang dari
jaringan antara lain sectionalizer dan fuse (PL = Pengaman Lebur)
 Relai Gangguan Tanah Terarah (DGFR= Directional Ground Fault Relays)
dipergunakan untuk membebaskan gangguan fasa tanah
 Relai arus lebih (OCR = Over Current Relays) dipergunakan untuk
membebaskan gangguan antar fasa
b. Saklar seksi otomatis ( SSO )
Model saklar ini dipergunakan sebagai alat pemutus rangkaian untuk memisah-
misahkan saluran utma dalam beberapa seksi agar pada keadaan gangguan
permanen luas daerah (jaringan) yang terganggu diusahakan sekecil mungkin,
SSO untuk pola sistem ini akan membuka pada saat rangkaian tidak ada arus
dan tidak menutup kembali.

20
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

Saklar ini bekerja berdasarkan penginderaan dan hitungan (account) trip PMT
(PBO) arus hubung singkat dengan demikian saklar ini dipasang apabila
dibagian hulu terpasang PMT atau PBO
c. Pengaman Lebur (Fuse)
Fuse dipasang pada titik percabangan antara saluran utama dan saluran cabang
juga dipasang pada sisi primer (20 kV) trafo distribusi dengan maksud untuk
mengamankan jaringan dan peralatan yang berada di sebelah hilirnya terhadap
gangguan permanen antar fasa dan tidak untuk mengamankan gangguan fasa
tanah.

4. Sistem Distribusi Pola 4 :


Sistem Distribusi 6 KV fasa tiga 3 kawat dengan pentanahan netral mengambang.
Pada dewasa ini pola sistem distribusi ini diwilayah kerja PT PLN tidak
dikembangkan lagi dimana ciri cirinya antara lain :
Sistim Jaringan
a. Tegangan Nominal : 6 KV dan 12 KV
b. Sistem pentanahan netral : Tidak ditanahkan ( mengambang )
c. Krakteristik :
1. Terjadi kemencengan tegangan pada saat terjadi gangguan satu fasa ke
tanah pada seluruh sistim
2. Pada saat gangguan dua fasa dan tiga fasa cirinya sama dengan sistem
yang ditanahkan besarnya tergantung tegangan sistem, impedansi sumber
dan impedansi jaringan
3. Arus gangguan hubung singkat ke tanah hanya dipengaruhi tegangan
sistem dan kapasitansi jaringan
4. Bermasalah untuk keselamatan manusia dan hewan dimana pada saat
gangguan hubung singkat ke tanah tidak ada kelengkapan untuk segera
secara otomatis membuka rangkaian namun dilakukan dengan sistim coba-
coba (trial and error)

21
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

11. GARDU DISTRIBUSI.

Gardu distribusi berfungsi untuk mendistribusikan dan melayani energi/daya listrik


ke pelanggan dengan tegangan rendah 380V/220V baik satu phase maupun tiga
phase (3Ф), disamping itu digunakan juga untuk mengatur tegangan rendahnya
sesuai dengan standar dari tegangan nominal disamping itu pula gardu distribusi
tersebut dipasang saklar dan alat pengaman Arus (fuse) yang digunakan bila terjadi
hubung singkat di jaringan, maka pengaman tsb akan putus.

11.1. TEGANGAN.
Stabilitas tegangan pelayanan adalah merupakan tanggung jawab perusahaan listrik
untuk mempertahankan stabilitas tegangan pelayanan kepada konsumen.
Untuk itu harus ditetapkan besarnya batas-batas toleransinya, yang antara lain
ditentukan oleh fungsi teknis pemakai.
Stabilitas tegangan meliputi 2 macam masalah :
 Gangguan pada tegangan normal.
 Jatuh tegangan yang berlebihan.

Gangguan pada tegangan normal disebabkan oleh:


 Manipulasi beban jaringan.
 Motor sinkron.
 Perubahan beban secara periodik.
 Tanur dan mesin las.

Gangguan tersebut umumnya disebabkan oleh konsumen-konsumen tertentu


disekitarnya, dan memberi pengaruh secara terbatas kepada konsumen-konsumen lain
disekitarnya, hal ini merupakan tugas perencanaan untuk menganalisa pada tahap
perencanaan.

22
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

Sebaliknya, jatuh tegangan yang berlebihan pada titik-titik tertentu di jaringan


merupakan kewajiban operasional dari perusahaan listrik untuk mengembalikan nya ke
keadaan tegangan normal seperti semula.
Batas-batas toleransi yang berlaku di beberapa negara tidak seragam, tetapi umumnya
lebih kecil dari ±10%.
Untuk standar PLN kita tentukan (SPLN No.1 th 1985) yaitu +5% dan -10% dari
tegangan standar tegangan rendah.
Harus diusahakan tindakan untuk menjaga toleransi tegangan tersebut dengan cara-cara
mengadakan pengaturan tegangan ditempat-tempat tertentu di jaringan, umumnya
berupa menaikan tegangan apabila beban naik, memperbesar kapasitas penyaluran
antara sumber dan beban (menurunkan impedansi saluran), mengurangi arus beban atau
memasang pengatur tegangan.

Cara-cara yang lajim ditempuh misalnya adalah:


a. Mengatur tegangan pembangkit (isolatet).
b. Menyetel sadapan trafo TT/TM di Gardu Induk.
c. Menyetel sadapan trafo TM/TR di Gardu Distribusi.
d. Mengganti saluran TM/TR (memperbesar penampang).
e. Menambah Gardu Induk.
f. Menambah Gardu Distribusi (sisipan).
g. Memindah beban dari Gardu yang satu ke yang lain.
h. Memasang bank kapasitor dijaringan maupun pelanggan.

Berikut ini akan dijelaskan beberapa contoh misalnya:


1. Penyetelan sadapan trafo TT/TM di GI.
Dengan merubah sadapan trafo maka perbandingan transformasinya berubah
sehingga teganganyapun berubah.
Penyetelan di GI dilakukan disisi primer untuk memperoleh tegangan yang konstan
di sisi sekunder, meskipun misalnya dalam keadaan beban yang ber ubah-ubah.

23
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

Ada 2 macam perubahan sadapan yaitu jenis reaktor dan jenis tahanan, masing-
masing dapat dioperasikan secara manual maupun otomatis.
Pengaturannya dilaksanakan oleh petugas gardu induk yang bersangkutan.
Tingkatan penyetelan terdiri atas 8, 16, atau 32 buah sadapan, dengan variasi harga
keseluruhan ±10 % rating tegangannya.
Misalnya untuk trafo dengan 16 sadapan, maka masing-masing tingkat sadapan
menyatakan perubahan tegangan sebesar 1,25 %.

2. Penyetelan sadapan trafo distribusi:


Trafo distribusi yang pada umumnya terpasang memiliki sadapan tanpa beban 3
buah yaitu 105, 100 dan 95% tegangan nominal nya. Hal ini mengakibatkan tidak
banyak yang bisa diperbuat untuk menekan rugi jaringan dan mengkompensasikan
tegangan pelayanan.
Sebaiknya trafo distribusi menggunakan sadapan berikut:
 Dengan 3 sadapan : 115, 110 dan 105% terhadap tegangan nominalnya.
 Dengan 5 sadapan : 115, 110, 105, 100 dan 95% tegangan nominal.

Untuk menjelaskan penggunaan kedua macam sistem sadapan itu dipersilahkan


memeriksa uraian pada lampiran.

3. Pemasangan kapasitor pada JTM.


Kecuali untuk menaikan tegangan pelayanan, kapasitor shun yang dipasang pada JTM
dapat sekaligus :
Memperbaiki faktor daya jaringan.
Mengurangi rugi-rugi jaringan.
Pembebasan jaringan dari muatan reaktip.

Selain itu, dibandingkan dengan peralatan lain untuk maksud yang sama, penggunaan
kapasitor memiliki keuntungan-keuntungan tambahan berupa biaya investasi yang lebih

24
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

murah, pemeliharaan yang lebih mudah, ukurannya yang lebih kecil serta segi teknis
rugi-rugi daya dielektriknya rendah.
Untuk maksud perbaikan tegangan, penempatan kapasitor shunt pada jaringan akan
mengakibatkan jatuh tegangan pada saluran menjadi berkurang dan dengan demikian
terjadi kenaikan tegangan.

12. JARINGAN TEGANGAN RENDAH.


Jaringan tegangan rendah digunakan untuk menyalurkan daya/energi listrik ke
pelanggan dengan tenggangan 380/220 V, tergantung pada jenis pelanggan (industri
kecil, sosial maupun rumah tangga dsb).
Jaringan tegangan rendah dapat dibedakan ada beberapa kriteria:
1. Jaringan tegangan rendah – kabel udara mempergunakan over head twisted cabel.
Ada dua daerah pemasangan untuk twisted ini :
 Dibawah JTM-KU (tiang JTM-KU dipakai untuk twisted ini) atau disebut
anderbuilt.
 Khusus twisted yang lazimnya mempergunakan tiang 9m 200 daN atau lazim
disebut JTM-KU murni.
Di kedua daerah pemasangan, dimungkinkan dipasang dua twisted tersusun (double).

2. Tiang beton. (lihat konstruksi).


Tiang beton yang digunakan untuk jaringan JTR-KU dengan kabel twisted
alumunium mempunyai ciri sebagai berikut:
 Jenis tiang : tiang beton bulat dan tiang beton H.
 Panjang total : 9 meter, 11 meter.
 Beban kerja : 200, 350, 500 dan 800 daN.
Pemakaian tiang-tiang beton tersebut diatas dapat dilihat pada gambar di konstruksi.

25
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

3. Ketentuan jarak aman .


Pemasangan JTR-KU harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga baik langsung
maupun tidak langsung tidak menyebabkan timbulnya pengaruh yang
membahayakan, merusak atau mengganggu instalasi lain disekitarnya.
Syarat-syarat konstruksi yang ditetapkan diberikan dalam gambar-gambar
konstruksi.

4. Perlengkapan .
Pemasangan JTR-KU yaitu dengan menggunakan peralatan-peralatan sebagai
berikut:
1. Pole Braket.
Berfungsi sebagai tempat bergantungan suspension clamp maupun strain clamp.
Dengan demikian pole bracket ini tidak perlu dibedakan antara mounting
suspension maupun strain clamp nya.

2. Strain Clamp.
Di tiang-tiang yang menderita tarikan neutral (mesenger) dari twisted dipakai
strain clamp, misalnya tiang ujung section pole atau sudut belok besar.

3. Pengikat.
Untuk pengikat pole bracket ke tiang dipakai stain-less steel strip 20 mm x 0,7
mm yang dipasang dengan memakai stopping bucle.

4. Link.
Dipakai pemisah antara tiang dengan pipa yang keduannya pada keadaan terikat
oleh stainless steel strip.

26
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

5. Turn Buckle.
Dipakai pada tiang ujung penarikan, diatur untuk pengaturan halus sebelum di
tiang-tiang lain, selain tiang awal dan tiang ujung penarikan dikencangkan.
Spesifikasinya sendiri sesuai dengan turn buckle JTM-KU mengingat harga yang
relatif sama.

6. Suspension Clamp.
Dipakai pada tiang selain tiang awal, section atau tiang ujung yang jaringannya
lurus atau belok sampai max.400

7. Twited Cable (TC).


Walaupun sampai sekarang masih lebih mahal, harga TC ini cenderung menurun,
hingga akan lebih murah dari penggunaan bare conductor.
Beberapa keuntungan lain adalah:
Mengurangi gangguan.
Mengurangi pencurian.
Mengurangi biaya HAR pemotongan cabang/ranting pohon.
Mengurangi peralatan Bantu seperti isolator TR, Travers (cross
arm).
Lebih flexible
Lebih memenuhi persyaratan estetika.

8. Cable Joint.
Guna penyambungan kabel phasanya dipakai kawat CU 50 mm2 terisolasi,
sedang untuk netralnya adalah compression tension joint. Cable Joint biasanya
dipakai hanya karena ketidak cocokan antara panjang kabel dalam drum dengan
jarak antar tiang

27
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

9. Pembumian
Pembumian pada JTR –KU memakai kawat CU 50 mm2 terisaolasi. Kawat
terisolasi disini dipakai karena dinetral TC selalu ada arus urutan nol; yang mana
diakibatkan oleh karena sulit sekali beban yang betul-betul seimbang di masing-
masing phasa. Harga pembumian sesuai SPLN adalah 5 Ω hingga dalam tanah
tidak perlu pembumian yang melingkar seperti pada JTM-KU. Pembumian di
JTR-KU dilakukan untuk setiap 5 gawang di tiang ke 2 dari awal dan tiang ke 2
dari akhir.
Pembumian di tiang ke 2 dari awal ini juga merupakan pembumian netral
sekunder trafo distribusi.
Pembumian setiap 5 gawang dimaksudkan pula membantu pembumian yang
dirumah-rumah.

10. Pondasi.
Pada umumnya pondasi dipakai campuran pasir batu. Hanya hal-hal khusus, bila
di tiang ujung atau tempat yang tidak mungkin memakai guy set dipakai pondasi.
Untuk keadaan ini tiang pondasinya mempunyai design load 500 daN.
Pondasi mungkin juga dipakai bila kekerasan tanah dimana tiang itu ditanam
kecil.

11. Sambungan-sambungan.
Yang dimaksud sambungan-sambungan disini adalah selain dari cable joint,
seperti percabangan- percabangan. Dipakai tap conector isolated yang ada
giginya dan dilindungi dengan grace.
Karena sambunga-sambungan ini sering terjadi timbulnya kendala-kendala yang
disebabkan oleh tidak sempurnanya sewaktu pemasangan, material yang kurang
baik dan lingkungan (panas dan hujan), sehingga saat ini dikembangkan dengan
Joint Sleep / dipres.

28
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

13. SAMUNGAN JARINGAN LISTRIK.

1.DEFINISI.
a. Sambungan Tenaga Listrik (SL).
Sambungan tenaga listrik ialah pengharnar dibawah atau diatas tanah termasuk
peralatannya sebagai bagian instalasi PLN yang merupakan sambungan antara
jaringan tenaga listrik milik PLN dengan instalasi pelanggan untuk menyalurkan
tenaga listrik.

b. Sambungan Luar Pelayanan (SLP).


Sambungan luar pelayanan ialah bagian dari SL yang dipasang dibawah atau
diatas tanah dan berada diluar bangunan.

c. Sambungan Masuk Pelayanan (SMP).


Sambungan masuk pelayanan ialah bagian dari SL yang dipasang dibawah atau
diatas tanah dan berada didalam bangunan.

d. Titik Penyambungan.
Titik penyambungan ialah titik pada jaringan tenaga listrik tempat SL dibungkan.

e. Sambungan Tenaga Listrik Tegangan Rendah (SLTR).


Sambungan tenaga listrik tegangan rendah ialah penghantar dibawah atau diatas
tanah termasuk peralatanya mulai dari titik penyambungan pada JTR sampai
dengan alat pembatas dan pengukur (APP).

f. Jaringan Tegangan Rendah (JTR).

29
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

Jaringan tegangan rendah ialah jaringan tenaga listrik dengan tegangan rendah
yang mencakup seluruh bagian jaringan tersebut beserta perlengkapan.nya dari
sumber penyaluran tegangan rendah tidak termasuk SLTR.
2. JENIS PENGHANTAR SLTR

Jenis penghantar SLTR baik SLP maupun SMP terdiri dari :

Kabel pilin udara dengan netral bukan sebagai penggantung (lihat SPLN 42-10).

Kabel udara berisolasi XLPE dan berselubung PVC dengan penghantar kosentris
tembaga (lihat SPLN 42-11).

a. Kabel tanah berisolasi dan terselubung PVC dengan perisai pita baja.

b. Kabel tanah berisolasi dan berselubung PCV dengan perisai kawat baja.

c. Kabel tanah berisolasi dan berselubung PVC dengan perisai pita baja.

3. SPESIFIKASI UMUM SAMBUNGAN TENAGA LISTRIK TEGANGAN


RENDAH (SLTR).

a. Rugi Tegangan.

Rugi tegangan maksimum yang diperkenankan sepanjang penghantar sambungan


tenaga listrik tegangan rendah ialah 10 %, dari tegangan nominal JTR.

b. Tegangan Minimum.

Terakhir dihitung berbeban penuh. Tegangan yang diperkenankan pada instalasi


pelanggan (IP) terakhir minimum 0,9 dari tegangan nominal diukur dan atau
dihitung pada saat beban puncak pada calon pelanggan

30
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

c. Ukuran Penghantar Minimum SLTR.

Ukuran penghantar minimum SLTR baik, dibawah atau diatas tanah 10 mm 2


untuk aluminium dan 6 mm 2 untuk tembaga.

d. Kuat Hantar Arus (KHA).

1. KHA kabel pilin udara dengan netral bukan sebagai penggantung dapat dilihat
pada tabel I-A lampiran B.

2. KHA kabel udara berisolasi XLPE dan berselubung PVC dengan penghantar
kosentris tembaga dapat dilihat pada tabel II .

3.a. KHA kabel tanah berisolasi dan berselubung PVC dengan perisai pita kawat baja
dapat dilihat pada tabel III-A lampiran B.

b.KHA kabel tanah berisolasi dan berselubung PVC dengan perisai pita baja dapat
dilihat pada tabel III-B lampiran B.

c.KHA kabel tanah berisolasi dan berselubung PVC dengan penghantar kosentris
tembaga dapat dilihat pada tabel III-C lampiran B.

31
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

TABEL I-A

KHA KABEL PILIN UDARA DENGAN NETRAL BUKAN SEBAGAI


PENGGANTUNG UNTUK SLTR.

KHA Maksimum pada suhu sekitar maksimum 400C


2
Ukuran (mm ) XLPE
ALUMUNIUM TEMBAGA
2X6 - 4

2 X 10 54 3

2 X 16 72 7

4 X 16 - 4

4 X 10 54 3

4 X 16 72 7

4 X 25 102 133

4 X 35 125 -
SPLN 42-10

TABEL I-B

KHA KABEL PILIN UDARA DENGAN NETRAL SEBAGAI PENGGANTUNG


UNTUK SLTR

KHA Maksimum pda suhu sekitar


Ukuran (mm2)
maksimum 400C
3 x 50 + 35 154

3 x 70 + 50 196

32
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

SPLN 42-10

TABEL II

KHA KABEL UDARA BERISOLASI XLPE DAN BERSELUBUNG PVC DENGAN


PENGHANTAR KONSENTRIS UNTUK SLTR.

KHA Maksimum NA2XCY-SR KHA Maksimum N2XCY-SR


Di udara pada suhu sekitar Di udara pada suhu sekitar
Ukuran (mm2)
maksimum maksimum
300C 400C 300C 400C
1x6 - - 61 55

1 x 10 61 55 83 75

1 x 16 88 79 113 102

1 x 25 119 106 - -

3x6 - - 52 47

3 x 10 52 47 71 64

3 x 16 75 67 96 86

3 x 25 100 90 130 115

3 x 35 123 110 - -
SPLN 42-11

33
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

TABEL III-A

KHA BABEL TANAH BERISOLASI DAN BERSELUBUNG PVC DENGAN


PENGHANTAR PERISAI PITA KAWAT BAJA UNTUK SLTR

KHA MAKSIMUM NAYBY KHA MAKSIMUM NYBY


Langsung dalam Di udara suhu Langsung dalam Di udara suhu
Ukuran
tanah dengan suhu keliling maksimum tanah dengan suhu keliling maksimum
(mm2)
tanah tanah
200C 300C 300C 400C 200C 300C 300C 400C

2 X 16 78 69 62 54 115 102 90 78

2 X 25 100 89 82 71 150 134 120 104

2 X 35 120 107 100 87 180 160 150 131

2 X 50 145 129 125 109 210 187 180 157

2 X 70 175 156 155 135 260 230 230 200

2 X 95 215 191 190 165 315 280 275 240

2 X 120 245 220 220 191 360 320 320 280

4 X 16 78 69 62 54 110 89 80 70

4 X 25 100 89 82 71 130 116 105 91

4 X 35 120 107 100 87 155 138 130 113

4 X 50 145 129 125 109 185 165 160 139

4 X 70 175 156 155 135 230 205 200 174

4 X 95 215 191 190 165 275 245 245 215

4 X 120 245 220 230 191 315 280 285 250

SPLN 43-2

34
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

TABEL III-B

KHA BABEL TANAH BERISOLASI DAN BERSELUBUNG PVC DENGAN


PERISAI PITA BAJA UNTUK SLTR

KHA MAKSIMUM NAYBY KHA MAKSIMUM NYBY


Langsung dalam Di udara suhu Langsung dalam Di udara suhu
Ukuran
tanah dengan suhu keliling maksimum tanah dengan suhu keliling maksimum
(mm2)
tanah tanah
200C 300C 300C 400C 200C 300C 300C 400C

2 X 16 78 69 62 54 100 89 90 70

2 X 25 100 89 82 71 130 116 105 91

2 X 35 120 107 100 87 155 138 130 113

2 X 50 145 129 125 109 215 165 160 139

2 X 70 175 156 155 135 230 205 200 174

2 X 95 215 191 190 165 275 245 245 215

2 X 120 245 220 220 191 315 285 285 250

4 X 16 78 69 62 54 100 80 80 70

4 X 25 100 89 82 71 130 106 105 91

4 X 35 120 107 100 87 155 130 130 113

4 X 50 145 129 125 109 185 160 160 139

4 X 70 175 156 155 135 230 200 200 174

4 X 95 215 191 190 165 275 245 245 215

4 X 120 245 220 230 191 315 285 285 250

SPLN 43-3

35
PT PLN (Persero)
Jasa Pendidikan dan Pelatihan Jaringan Distribusi

TABEL III-C

KHA BABEL TANAH BERISOLASI DAN BERSELUBUNG PVC DENGAN


PENGHANTAR PERISAI KAWAT BAJA UNTUK SLTR

KHA MAKSIMUM NAYBY KHA MAKSIMUM NYBY


Langsung dalam Di udara suhu Langsung dalam Di udara suhu
Ukuran
tanah dengan suhu keliling maksimum tanah dengan suhu keliling maksimum
(mm2)
tanah tanah
200C 300C 300C 400C 200C 300C 300C 400C

2 X 16 78 69 62 54 115 108 90 78

2 X 25 100 89 82 71 150 135 120 104

2 X 35 120 107 100 87 180 160 150 131

2 X 50 145 129 125 109 210 187 180 157

2 X 70 175 156 155 135 260 230 230 200

2 X 95 215 191 190 165 315 280 275 240

2 X 120 245 220 220 191 360 320 320 280

4 X 16 78 69 62 54 100 89 80 70

4 X 25 100 89 82 71 130 116 105 91

4 X 35 120 107 100 87 155 138 130 113

4 X 50 145 129 125 109 185 165 160 139

4 X 70 175 156 155 135 230 205 200 174

4 X 95 215 191 190 165 275 245 245 215

4 X 120 245 220 230 191 315 280 285 250

SPLN 43-4

36

Beri Nilai