Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA KLINIK

PEMERIKSAAN KADAR BILIRUBIN

Disusun Oleh :
Zainul Irfan 10060313010
Asri Maulanasari 10060313011
Petrisia Oktaviani 10060313012
Mida Purnama Sari 10060313014

Kelompok :3
Shift : A (08.00-11.00)
Tanggal Praktikum : 25 Oktober 2016
Tanggal Pengumpulan : 1 November 2016
Asisten Praktikum : Ira Rayanti, S.Farm

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT A


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2016
PERCOBAAN 4
PEMERIKSAAN KADAR BILIRUBIN

I.Tujuan Percobaan
a. Melakukan pemeriksaan fungsi hati melalui tes kombinasi bilirubin
b. Menginterprestasikan hasil pemeriksaan yang diperoleh

II. Teori dasar


Hati merupakan organ yang sangat penting dalam pengaturan homeostasis
tubuh yang meliputi metabolisme, biotransformasi, sintesis, penyimpanan dan
imunologi (Sudoyo, 2007). Hati adalah organ yang paling besar di dalam tubuh kita,
warnanya coklat dan beratnya ± 1 ½ kg. Letaknya dibagian atas dalam rongga
abdomen di sebelah kanan bawah diafragma. Hati terbagi atas dua lapisan utama :
 Permukaan atas terbentuk cembung, terletak di bawah diafragma.
 Permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan lekukan fisura transfersus.
Permukaan posterior hati berbentuk cekung dan terdapat celah transversal
sepanjang 5 cm dari sistem porta hepatis. Omentum minor terdapat mulai dari sistem
porta yang mengandung arteri hepatica, vena porta dan duktus koledokus. Sistem
porta terletak di depan vena kava dan dibalik kandung empedu. Permukaan anterior
yang cembung dibagi menjadi 2 lobus oleh adanya perlekatan ligamentum falsiform
yaitu lobus kiri dan lobus kanan yang berukuran kira-kira 2 kali lobus kiri. Pada
daerah antara ligamentum falsiform dengan kandung empedu di lobus kanan kadang-
kadang dapat ditemukan lobus kuadratus dan sebuah daerah yang disebut sebagai
lobus kaudatus yang biasanya tertutup oleh vena kava inferior dan ligamentum
venosum pada permukaan posterior. Hati terbagi dalam 8 segmen dengan fungsi yang
berbeda. Pada dasarnya, garis Cantlie yang terdapat mulai dari vena kava sampai
kandung empedu telah membagi hati menjadi 2 lobus fungsional, dan dengan adanya
daerah dengan vaskularisasi relatif sedikit, kadang-kadang dijadikan batas reseksi
(Sudoyo, 2007).

Hati merupakan pusat dari metabolisme seluruh tubuh, merupakan sumber


energi tubuh sebanyak 20% serta menggunakan 20-25% oksigen darah. Ada beberapa
fungsi hati yaitu :
a. Mengubah zat makanan yang diabsorpsi dari usus dan yang disimpan disuatu
tempat dalam tubuh, dikeluarkan sesuai dengan pemakaian dalam jaringan
b. Mengubah zat buangan dan bahan racun untuk disekresi dalam empedu dan urin,
membersihkan darah sebelum zat-zat toksin tersebut mencapai organ tubuh yang
peka misalnya otak fungsi, hal ini disebut detoksikasi
c. Menghasilkan enzim glikogenik glukosa menjadi glikogen, karbohidrat yang
diabsorbsi sebagai glukosa disimpan dalam hati sebagai glikogen. Glukosa
dilepaskan sesuai dengan kebutuhan
d. Sekresi empedu
e. Pembentukan ureum, golongan asam amino diubah menjadi ureum yang diekskresi
melalui ginjal, rantai karbon yang yang tersisa mengalami oksidase menjadi CO2
dan air. Sebagian asam amino akan masuk sirkulasi sistemik dalam jumlah kecil,
kadar asam amino yang tinggi dalam peredaran darah dapat menjadi racun yang
merusak fungsi otak. Asam amino yang berjumlah 22 macam dipergunakan dalam
tubuh sebagai bahan–bahan dasar pembangunan protein. Beberapa asam amino ini
tidak dapat dibuat dalam tubuh sehingga harus diperoleh dari makanan dan disebut
sebagai asam amino esensial. Asam amino lainnya dapat diubah dari satu bentuk
lain dengan bantuan enzim–enzim khusus dalam sel-sel tubuh, terutama dalam sel
hati
f. Menyiapkan lemak untuk pemecahan terakhir asam karbonat dan air, zat lemak
yang dipadukan dengan lesitin akan membentuk fosfolipid, kolesterol dibuat dihati
dari asam asetat, sedangkan esternya merupakan gabungan kolesterol dengan asam
lemak. Lipoprotein plasma yang mengangkut trigliserida juga dibuat dihati
(Syaifudin, 1999).
Hati mempunyai multi fungsi yang berkaitan dengan metabolisme maka
gangguan faal hati dapat disebabkan oleh kelainan prahepatik, intra hepatik dan post-
hepatik. Kelainan prehepatik misalnya pada anemi hemolitik, kelainan intrahepatik
atau hepatoseluler misalnya pada hepatitis, cirrhosis dan karsinoma hepatis.
Sedangkan kelainan post hepatik karena adanya tumor (Hardjono, 2003).
Faal Hati merupakan pusat berbagai proses metabolisme, hal ini
dimungkinkan sebab hati menerima darah baik dari sirkulasi ssstem dan juga dari
system porta (Riswanto, 2009).
Jaringan hati tersusun dari sel parenkim (60%), sel system fagosotik monosit-
makrofag (lebih dikenal sebagai Reticulo-Endothelial Sytem, RES) yaitu sel-sel
kupffer (30%), dan sisanya adalah jaringan vaskuler, saluran empedu dan jaringan
penunjang. Sel-sel hati berderet radialis dipisahkan oleh sinusoid dengan sel-sel
kupfer pada dindingnya (Yayan, 2010).

Bilirubin
Bilirubin adalah pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari
hemoglobin dalam proses pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel. Di samping
itu sekitar 20% bilirubin berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel retikuloendotel
membuat bilirubin tidak larut dalam air, bilirubin yang disekresikan dalam darah
harus diikatkan albumin untuk diangkut dalam plasma menuju hati (Sacher dkk,
2004).

Di dalam hati, hepatosit melepaskan ikatan dan mengkonjugasinya dengan


asam glukoronat sehingga bersifat larut air, sehingga disebut bilirubin direk atau
glukoroniltransferase, selain dalam bentuk diglukoronida dapat juga dalam bentuk
bilirubin terkonjugasi. Proses konjugasi melibatkan enzim glukoroniltransferase,
selain dalam bentuk diglukoronida dapat juga dalam bentuk monoglukoronida atau
ikatan dengan glukosa, xylosa dan sulfat. terkonjugasi dikeluarkan melalui proses
energi kedalam sistem bilier (Sacher dkk, 2004).
Bilirubin berikatan dengan albumin sehingga zat ini dapat diangkut ke seluruh
tubuh. Dalam bentuk ini, spesies molekular disebut bilirubin tak terkonjujgasi.
Sewaktu zat ini beredar melalui hati, hepatosit melakukan fungsi sebagai berikut :
 Penyerapan bilirubin dan sirkulasi
 Konjugasi enzimatik sebagai bilirubin glukuronida
 Pengangkutan dan ekskresi bilirubin terkonjugasi ke dalam empedu untuk
dikeluarkan dari tubuh
Konjugasi intrasel asam glukoronat ke dua tempat di molekul bilirubin
menyebabkan bilirubin bermuatan negatif, sehingga bilirubin terkonjugasi ini larut
dalam fase air. Apabila terjadi obstruksi atau kegagalan lain untuk mengekskresikan
bilirubin terkonjugasi ini zat ini akan masuk kembali ke dan tertimbun dalam
sirkulasi (Sacher dkk, 2004).
Selain bilirubin masuk ke dalam usus, bakteri kolon mengubah bilirubin
menjadi urobilinogen yaitu beberapa senyawa tidak berwarna yang kemudian
mengalami oksidasi menjadi pigmen coklat urobilin. Urobilin diekskresikan dalam
feses tetapi sebagian urobilinogen direabsorpsi melalui usus, dan melalui sirkulasi
portal diserap oleh hati dan direekskresikan dalam empedu. Karena larut air,
urobilinogen juga dapat keluar melalui urin apabila mencapai ginjal (Sacher dkk,
2004).
Macam dan sifat bilirubin
a. Bilirubin terkonjugasi /direk
Bilirubin terkonjugasi /direk adalah bilirubin bebas yang bersifat larut
dalam air sehingga dalam pemeriksaan mudah bereaksi. Bilirubin terkonjugasi
(bilirubin glukoronida atau hepatobilirubin ) masuk ke saluran empedu dan
diekskresikan ke usus. Selanjutnya flora usus akan mengubahnya menjadi
urobilinogen (Riswanto, 2009).
Bilirubin terkonjugasi bereaksi cepat dengan asam sulfanilat yang
terdiazotasi membentuk azobilirubin. Peningkatan kadar bilirubin direk atau
bilirubin terkonjugasi dapat disebabkan oleh gangguan ekskresi bilirubin
intrahepatik antara lain Sindroma Dubin Johson dan Rotor, Recurrent (benign)
intrahepatic cholestasis, Nekrosis hepatoseluler, Obstruksi saluran empedu.
Diagnosis tersebut diperkuat dengan pemeriksaan urobilin dalam tinja dan urin
dengan hasil negatif (Riswanto, 2009).
b. Bilirubin tak terkonjugasi/ indirek
Bilirubin tak terkonjugasi (hematobilirubin) merupakan bilirubin bebas
yang terikat albumin, bilirubin yang sukar larut dalam air sehingga untuk
memudahkan bereaksi dalam pemeriksaan harus lebih dulu dicampur dengan
alkohol, kafein atau pelarut lain sebelum dapat bereaksi, karena itu dinamakan
bilirubin indirek. Peningkatan kadar bilirubin indirek mempunyai arti dalam
diagnosis penyakit bilirubinemia karena payah jantung akibat gangguan dari
delivery bilirubin ke dalam peredaran darah. Pada keadaan ini disertai dengan
tanda-tanda payah jantung, setelah payah jantung diatasi maka kadar bilirubin
akan normal kembali dan harus dibedakan dengan chardiac chirrhosis yang tidak
selalu disertai bilirubinemia (Riswanto, 2009).
Peningkatan yang lain terjadi pada bilirubinemia akibat hemolisis atau
eritropoesis yang tidak sempurna, biasanya ditandai dari anemi hemolitik yaitu
gambaran apusan darah tepi yang abnormal,umur eritrosit yang pendek (Riswanto,
2009).
Pembentukan bilirubin
Dalam keadaan fisiologis, masa hidup eritrosit manusia sekitar 120 hari,
eritrosit mengalami lisis 1-2×108 setiap jamnya pada seorang dewasa dengan berat
badan 70 kg, dimana diperhitungkan hemoglobin yang turut lisis sekitar 6 gr per hari.
Sel-sel eritrosit tua dikeluarkan dari sirkulasi dan dihancurkan oleh limpa. Apoprotein
dari hemoglobin dihidrolisis menjadi komponen asam-asam aminonya. Katabolisme
heme dari semua hemeprotein terjadi dalam fraksi mikrosom sel retikuloendotel oleh
sistem enzim yang kompleks yaitu heme oksigenase yang merupakan enzim dari
keluarga besar sitokrom P450. Langkah awal pemecahan gugus heme ialah
pemutusan jembatan α metena membentuk biliverdin, suatu tetrapirol linier. Besi
mengalami beberapa kali reaksi reduksi dan oksidasi, reaksi-reaksi ini memerlukan
oksigen dan NADPH. Pada akhir reaksi dibebaskan Fe3+ yang dapat digunakan
kembali, karbon monoksida yang berasal dari atom karbon jembatan metena dan
biliverdin. Biliverdin, suatu pigmen berwarna hijau akan direduksi oleh biliverdin
reduktase yang menggunakan NADPH sehingga rantai metenil menjadi rantai metilen
antara cincin pirol III – IV dan membentuk pigmen berwarna kuning yaitu bilirubin.
Perubahan warna pada memar merupakan petunjuk reaksi degradasi ini (Yayan,
2010).
Bilirubin bersifat lebih sukar larut dalam air dibandingkan dengan biliverdin.
Dalam setiap 1 gr hemoglobin yang lisis akan membentuk 35 mg bilirubin dan tiap
hari dibentuk sekitar 250–350 mg pada seorang dewasa, berasal dari pemecahan
hemoglobin, proses erytropoetik yang tidak efekif dan pemecahan hemprotein
lainnya. Bilirubin dari jaringan retikuloendotel adalah bentuk yang sedikit larut dalam
plasma dan air. Bilirubin ini akan diikat nonkovalen dan diangkut oleh albumin ke
hepar. Dalam 100 ml plasma hanya lebih kurang 25 mg bilirubin yang dapat diikat
kuat pada albumin. Bilirubin yang melebihi jumlah ini hanya terikat longgar hingga
mudah lepas dan berdifusi ke jaringan. Bilirubin yang sampai dihati akan dilepas dari
albumin dan diambil pada permukaan sinusoid hepatosit oleh suatu protein pembawa
yaitu ligandin. Sistem transport difasilitasi ini mempunyai kapasitas yang sangat
besar tetapi penggambilan bilirubin akan tergantung pada kelancaran proses yang
akan dilewati bilirubin berikutnya. Bilirubin nonpolar akan menetap dalam sel jika
tidak diubah menjadi bentuk larut. Hepatosit akan mengubah bilirubin menjadi
bentuk larut yang dapat diekskresikan dengan mudah kedalam kandung empedu.
Proses perubahan tersebut melibatkan asam glukoronat yang dikonjugasikan dengan
bilirubin, dikatalisis oleh enzim bilirubin glukoronosiltransferase. Hati mengandung
sedikitnya dua isoform enzym glukoronosiltransferase yang terdapat terutama pada
retikulum endoplasma. Reaksi konjugasi ini berlangsung dua tahap, memerlukan
UDP asam glukoronat sebagai donor glukoronat. Tahap pertama akan membentuk
bilirubin monoglukoronida sebagai senyawa antara yang kemudian dikonversi
menjadi bilirubin diglukoronida yang larut pada tahap kedua.
Nilai urat dalam darah yang dianggap normal bagi orang dewasa : total : 0,1 –
1,2 mg/dl, direk : 0,1 – 0,3 mg/dl indirek : 0,1 – 1,0 mg/ dl, Anak : total : 0,2 – 0,8
mg/dl indirek sama dengan kadar orang dewasa. Bayi baru lahir : total : 1 – 12 mg/dl,
indirek sama dengan kadar orang dewasa (Tjay dan Raharja, 2002).
Metabolisme Bilirubin
Bilirubin merupakan suatu senyawa tetrapirol yang dapat larut dalam lemak
maupun air yang berasal dari pemecahan enzimatik gugus heme dari berbagai heme
protein seluruh tubuh. Sebagian besar ( kira- kira 80 % ) terbentuk dari proses
katabolik hemoglobin, dalam proses penghancuran eritrosit oleh RES di limpa, dan
sumsum tulang. Disamping itu sekitar 20 % dari bilirubin berasal dari sumber lain
yaitu non heme porfirin, prekusor pirol dan lisis eritrosit muda. Dalam keadaan
fisiologis pada manusia dewasa, eritrosit dihancurkan setiap jam. Dengan demikian
bila hemoglobin dihancurkan dalam tubuh, bagian protein globin dapat dipakai
kembali baik sebagai protein globin maupun dalam bentuk asam- asam aminonya. (E.
N. Kosasih, 2008).
Metabolisme bilirubin diawali dengan reaksi proses pemecahan heme oleh
enzim hemoksigenase yang mengubah biliverdin menjadi bilirubin oleh enzim
bilirubin reduksitase. Sel retikuloendotel membuat bilirubin tak larut air, bilirubin
yang sekresikan ke dalam darah diikat albumin untuk diangkut dalam plasma.
Hepatosit adalah sel yang dapat melepaskan ikatan, dan mengkonjugasikannya
dengan asam glukoronat menjadi bersifat larut dalam air. Bilirubin yang larut dalam
air masuk ke dalam saluran empedu dan diekskresikan ke dalam usus . Didalam usus
oleh flora usus bilirubin diubah menjadi urobilinogen yang tak berwarna dan larut air,
urobilinogen mudah dioksidasi menjadi urobilirubin yang berwarna. Sebagian
terbesar dari urobilinogen keluar tubuh bersama tinja, tetapi sebagian kecil diserap
kembali oleh darah vena porta dikembalikan ke hati. Urobilinogen yang demikian
mengalami daur ulang, keluar lagi melalui empedu. Ada sebagian kecil yang masuk
dalam sirkulasi sistemik, kemudian urobilinogen masuk ke ginjal dan diekskresi
bersama urin (Sacher dkk, 2004).
Metabolisme Bilirubin di Hati
Metabolisme bilirubin dalam hati dibagi menjadi 3 proses:
 Pengambilan (uptake) bilirubin oleh sel hati
 Konjugasi bilirubin
 Sekresi bilirubin ke dalam empedu (5:2)
Pembentukan urobilin
Bilirubin terkonjugasi yang mencapai ileum terminal dan kolon dihidrolisa
oleh enzym bakteri β glukoronidase dan pigmen yang bebas dari glukoronida
direduksi oleh bakteri usus menjadi urobilinogen, suatu senyawa tetrapirol tak
berwarna.7
Sejumlah urobilinogen diabsorbsi kembali dari usus ke perdarahan portal dan
dibawa ke ginjal kemudian dioksidasi menjadi urobilin yang memberi warna kuning
pada urine. Sebagian besar urobilinogen berada pada feces akan dioksidasi oleh
bakteri usus membentuk sterkobilin yang berwarna kuning kecoklatan (Yayan, 2010).
Pengambilan Bilirubin oleh Hati
Bilirubin hanya sedikit larut dalam plasma dan terikat dengan protein,
terutama albumin. Beberapa senyawa seperti antibiotika dan obat-obatan bersaing
dengan bilirubin untuk mengadakan ikatan dengan albumin. Sehingga, dapat
mempunyai pengaruh klinis. Dalam hati, bilirubin dilepaskan dari albumin dan
diambil pada permukaan sinusoid dari hepatosit melalui suatu sistem transport
berfasilitas (carrier-mediated saturable system) yang saturasinya sangat besar.
Sehingga, dalam keadaan patologis pun transport tersebut tidak dipengaruhi.
Kemungkinan pada tahap ini bukan merupakan proses rate limiting.
Konjugasi Bilirubin
Dalam hati, bilirubin mengalami konjugsi menjadi bentuk yang lebih polar
sehingga lebih mudah diekskresi ke dalam empedu dengan penambahan 2 molekul
asam glukoronat. Proses ini dikatalisis oleh enzim diglukoronil transferase dan
menghasilkan bilirubin diglukoronida. Enzim tersebut terutama terletak dalam
retikulum endoplasma halus dan menggunakan UDP-asam glukoronat sebagai donor
glukoronil. Aktivitas UDP-glukoronil transferase dapat diinduksi oleh sejumlah obat
misalnya fenobarbital (Helvi, 2004).
Donor glukuronat ialah: UDP-glukosa
UDP-glukosa
dehidrogenase
UDP-glukosa UDP- asam
glukuronat
2NAD+ 2NADH+2H+

UDP-glukuronosil
transferase
UDP-asam glukuronat bilirubin monoglukuronida
+ +
bilirubin UDP

UDP-glukuronosil
transferase
UDP-asam glukuronat bilirubin diglukuronida
+ +
bilirubin UDP
monoglukuronida

Ekskresi bilirubin kedalam empedu


Bilirubin yang sudah terkonjugasi akan disekresi kedalam empedu melalui
mekanisme pangangkutan yang aktif dan mungkin bertindak sebagai rate limiting
enzyme metabolisme bilirubin. Sekeresi bilirubin juga dapat diinduksi dengan obat-
obatan yang dapat menginduksi konjugasi bilirubin. Sistem konjugasi dan sekresi
bilirubin berlaku sebagai unit fungsional yang terkoordinasi.
Metabolisme Bilirubin di Usus
Setelah mencapai ileum terminalis dan usus besar bilirubin terkonjugasi akan
dilepaskan glukoronidanya oleh enzim bakteri yang spesifik (b-glukoronidase).
Dengan bantuan flora usus bilirubin selanjutnya dirubah menjadi urobilinogen.
Urobilinogen tidak berwarna, sebagian kecil akan diabsorpsi dan
diekskresikan kembali lewat hati, mengalami siklus urobilinogen enterohepatik.
Sebagian besar urobilinogen dirubah oleh flora normal colon menjadi urobilin atau
sterkobilin yang berwarna kuning dan diekskresikan melalui feces. Warna feces yang
berubah menjaadi lebih gelap ketika dibiarkan udara disebabkan oksidasi
urobilinogen yang tersisa menjadi urobilin (Helvi, 2004).
Metabolisme pigmen empedu
Eritrosit pada akhir masa hidupnya (yang sudah terlalu rapuh dalam sirkulasi)
membran selnya pecah dan hemoglobin yang lepas difagositosis oleh RES.
Hemoglobin dipecah menjadi heme dan globin dan cincin heme dibuka untuk
memberikan (1) besi bebas yang ditranspor ke dalam darah oleh transferin, dan (2)
rantai lurus dari empat inti pirol, yaitu substrat yang akan dibentuk menjadi pigmen
empedu. Pertama pembentukan biliverdin berantai lurus. Biliverdin di konversikan ke
bilirubin dengan reduksi. Bilirubin (bebas) yang bersirkulasi dalam plasma terikat
albumin (karena bilirubin ini larut lemak). Memasuki hati, albumin melepaskan
ikatan dengan bilirubin, dan memasuki hepatosit. Sekitar 80% Bilirubin dikonjugasi
oleh asam glukuronat melalui mekanisme yang melibatkan biilirubin-UDP
glukuronosiltransferase menjadi bilirubin terkonjugasi (larut air), 10% dikonjugasi
dengan sulfat membentuk bilirubin sulfat, dan 10% lainnya berikatan dengan zat lain.
Hati orang dewasa mempunyai kapasitas cadangan untuk mengkonjugasi dan
mengekskresi 5-10 kali biilrubin normal (500 µmol/24 jam). Pada neonatus, enzim ini
belum aktif sepenuhnya, misal aktivitas glukuronosil transferase perlu waktu ±3
minggu untuk berkembang, sehingga hati neonatus hampir tak mempunyai kapasitas
untuk mengekskresi beban bilirubin normalnya dan bisa meningkat saat terjadi
pemecahan eritrosit berlebih. Ikterus sebelum usia 24 jam adalah abnormal, tapi
hiperbilirubinemia moderat (80 µmol/L) dalam minggu pertama mungkin tak
patologis (ikterus fisiologis) (Baron, 1981).
Ikterus adalah pewarnaan jaringan tubuh menjadi kekuning-kuningan pada
kulit dan jaringan dalam. Penyebab umumnya karena sejumlah besar bilirubin masuk
dalam cairan ekstrasel, baik bilirubin bebas atau bilirubin terkonjugasi. Konsentrasi
bilirubin normal (baik bilirubin bebas dan terkonjugasi) ±0.5 mg/dL plasma. Kulit
mulai tampak kuning ketika konsentrasinya meningkat >3 kali dari normal (>1.5
mg/dL) (Baron, 1981).
Ekskresi Pigmen Empedu
Empedu yang dihasilkan oleh hepatosit mengalir ke kanalikuli biliaris dan
masuk ke duktus biliaris hingga sampai ke usus. Dalam usus besar ia direduksi oleh
kerja bakteri menjadi berbagai pigmen termasuk urobilinogen yang mudah larut dan
akhirnya menjadi sterkobilinogen. Kemudian sterkobilinogen diekskresikan dalam
feses dan mengalami oksidasi dengan udara menjadi sterkobilin (Baron, 1981).
Di usus besar, sebagian besar urobilinogen direabsorbsi mukosa usus kembali
ke dalam darah. Sebagian lagi di ekskresikan oleh hati ke usus, tapi ±5% oleh ginjal
lewat urin. Setelah terpapar udara, mengalami oksidasi menjadi urobilin (Baron,
1981).

Penyakit yang berhubungan dengan bilirubin


Hiperbilirubinemia adalah keadaan dimana konsentrasi bilirubin darah
melebihi 1 mg/dl. Pada konsentrasi lebih dari 2 mg/dl, hiperbilirubinemia akan
menyebabkan gejala ikterik atau jaundice. Ikterik atau jaundice adalah keadaan
dimana jaringan terutama kulit dan sklera mata menjadi kuning akibat deposisi
bilirubin yang berdiffusi dari konsentrasinya yang tinggi didalam darah.
Hiperbilirubinemi dikelompokkan dalam dua bentuk (Helvi, 2004).
Berdasarkan penyebabnya yaitu hiperbilirubinemia retensi yang disebabkan
oleh produksi yang berlebih dan hiperbilirubinemia regurgitasi yang disebabkan
refluks bilirubin kedalam darah karena adanya obstruksi bilier. Hiperbilirubinemia
retensi dapat terjadi pada kasus-kasus haemolisis berat dan gangguan konjugasi. Hati
mempunyai kapasitas mengkonjugasikan dan mengekskresikan lebih dari 3000 mg
bilirubin perharinya sedangkan produksi normal bilirubin hanya 300 mg perhari. Hal
ini menunjukkan kapasitas hati yang sangat besar dimana bila pemecahan heme
meningkat, hati masih akan mampu meningkatkan konjugasi dan ekskresi bilirubin
larut. Akan tetapi lisisnya eritrosit secara massive misalnya pada kasus sickle cell
anemia ataupun malaria akan menyebabkan produksi bilirubin lebih cepat dari
kemampuan hati mengkonjugasinya sehingga akan terdapat peningkatan bilirubin tak
larut didalam darah. Peninggian kadar bilirubin tak larut dalam darah tidak terdeteksi
didalam urine sehingga disebut juga dengan ikterik acholuria. Pada neonatus terutama
yang lahir premature peningkatan bilirubin tak larut terjadi biasanya fisiologis dan
sementara, dikarenakan haemolisis cepat dalam proses penggantian hemoglobin fetal
ke hemoglobin dewasa dan juga oleh karena hepar belum matur, dimana aktivitas
glukoronosiltransferase masih rendah (Helvi, 2004).
Apabila peningkatan bilirubin tak larut ini melampaui kemampuan albumin
mengikat kuat, bilirubin akan berdiffusi ke basal ganglia pada otak dan menyebabkan
ensephalopaty toksik yang disebut sebagai kern ikterus. Beberapa kelainan penyebab
hiperbilirubinemia retensi diantaranya seperti Syndroma Crigler Najjar I yang
merupakan gangguan konjugasi karena glukoronil transferase tidak aktif, diturunkan
secara autosomal resesif, merupakan kasus yang jarang, dimana didapati konsentrasi
bilirubin mencapai lebih dari 20 mg/dl. Syndroma Crigler Najjar II, merupakan kasus
yang lebih ringan dari tipe I, karena kerusakan pada isoform glukoronil transferase II,
didapati bilirubin monoglukoronida terdapat dalam getah empedu. Syndroma Gilbert,
terjadi karena haemolisis bersama dengan penurunan uptake bilirubin oleh hepatosit
dan penurunan aktivitas enzym konjugasi dan diturunkan secara autosomal dominan.
Hiperbilirubinemia regurgitasi paling sering terjadi karena terdapatnya obstruksi pada
saluran empedu, misalnya karena tumor, batu, proses peradangan dan sikatrik.
Sumbatan pada duktus hepatikus dan duktus koledokus akan menghalangi masuknya
bilirubin keusus dan peninggian konsentrasinya pada hati menyebabkan refluks
bilirubin larut ke vena hepatika dan pembuluh limfe (Helvi, 2004).
Bentuknya yang larut menyebabkan bilirubin ini dapat terdeteksi dalam urine
dan disebut sebagai ikterik choluria. Karena terjadinya akibat sumbatan pada saluran
empedu disebut juga sebagai ikterus kolestatik. Bilirubin terkonjugasi dapat terikat
secara kovalen pada albumin dan membentuk θ bilirubin yang memiliki waktu paruh
(T1/2) yang panjang mengakibatkan gejala ikterik dapat berlangsung lebih lama dan
masih dijumpai pada masa pemulihan.

Metode Pemeriksaan Bilirubin Total


Dalam pemeriksaan bilirubin total metode yang dipakai antara lain:
1. Metode Jendrasik- Grof
Prinsip : Bilirubin bereaksi dengan DSA ( diazotized sulphanilic acid) dan
membentuk senyawa azo yang berwarna merah. Daya serap warna dari senyawa ini
dapat langsung dilakukan terhadap sampel bilirubin pada panjang gelombang 546
nm. Bilirubin glukuronida yang larut dalam air dapat langsung bereaksi dengan DSA,
namun bilirubin yang terdapat di albumin yaitu bilirubin terkonjugasi hanya dapat
bereaksi jika ada akselerator. Total bilirubin  bilirubin direk + bilirubin indirek
(Helvi, 2004).
2. Colorimetric Test - Dichloroaniline (DCA)
Prinsip :Total bilirubin direaksikan dengan dichloroanilin terdiazotisasi
membentuk senyawa azo yang berwarna merah dalam larutan asam, campuran khusus
(detergen enables ) sangat sesuai untuk menentukan bilirubin total. Reaksi : Bilirubin
+ ion diazonium  membentuk Azobilirubin dalam suasana asam (Dialine
Diagnostik) (Helvi, 2004).
Prinsip Reaksi
Bilirubin-albumin + surfaktan Bilirubin bebas + albumin
Asam sulfanilat + natrium nitrit p-diazobenzensulfonat
p-diazobenzensulfonat + bilirubin azobilirubin

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Stabilitas Bilirubin Total


Dalam suatu pemeriksaan bilirubin total, sampel akan selalu berbubungan
langsung dengan faktor luar. Hal ini erat sekali terhadap kestabilan kadar sampel
yang akan diperiksa, sehingga dalam pemeriksaan tersebut harus memperhatikan
faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas kadar bilirubin total dalam serum
diantaranya yaitu
1. Sinar
Stabilitas bilirubin dalam serum pada suhu kamar tidak stabil dan mudah
terjadi kerusakan terutama oleh sinar, baik sinar lampu ataupun sinar matahari.
Serum atau plasma heparin boleh digunakan, hindari sampel yang hemolisis dan
sinar matahari langsung. Sinar matahari langsung dapat menyebabkan penurunan
kadar bilirubin serum sampai 50% dalam satu jam, dan pengukuran bilirubin total
hendaknya dikerjakan dalam waktu dua hingga tiga jam setelah pengumpulan
darah. Bila dilakukan penyimpanan serum hendaknya disimpan di tempat yang
gelap, dan tabung atau botol yang berisi serum di bungkus dengan kertas hitam
atau aluminium foil untuk menjaga stabilitas serum dan disimpan pada suhu yang
rendah atau lemari pendingin (Helvi, 2004).
2. Suhu Penyimpanan
Suhu merupakan faktor luar yang selalu berhubungan langsung terhadap
sampel, baik saat penyimpanan maupun saat pemeriksaan. Pemeriksaan kadar
bilirubin total sebaiknya diperiksa segera, tapi dalam keaadaan tertentu
pemeriksaan kadar bilirubin total bisa dilakukan penyimpanan. Dengan
penyimpanan yang benar stabilitas serum masih stabil dalam waktu satu hari bila
disimpan pada suhu 15 ºC-25ºC, empat hari pada suhu 2ºC-8ºC, dan tiga bulan
pada penyimpanan -20ºC (DialineDiagnostik ). Lamanya sampel kontak dengan
faktor-faktor di atas berpengaruh terhadap kadar bilirubin didalam sampel
sehingga perlu upaya mengurangi pengaruh tersebut serta mengoptimalkan kadar
bilirubin total di dalam serum agar dapat bereaksi dengan zat pereaksi secara
sempurna, sedangkan reagen bilirubin total akan tetap stabil berada pada suhu 2-
8ºC dalam keadaan tertutup, terhindar dari kontaminan dan sinar. Dalam hal ini
dapat dimungkinkan bahwa penurunan kadar bilirubin dipengaruhi oleh kenaikan
suhu dan pengaruh sinar yang berintensitas tinggi (Helvi, 2004).

Kesalahan-kasalahan Dalam Pemeriksaan Laboratorium


1. Kesalahan Kasar
Merupakan kesalahan yang dapat timbul akibat kekeliruan pada
penanganan sampel, pipetasasi, reagensia, panjang gelombang dan lain lain. Hasil
yang diukur biasanya tidak sesuai yang diharapkan maka kesalahan yang demikian
dapat segera diketahui (Helvi, 2004).
2. Kesalahan Acak
Pengukuran suatu zat pada kondisi yang sama untuk beberapa kali pada
suatu sampel, kita mendapatkan hasil yang tidak sama, hasil-hasil yang didapat
pasti berdeviasi satu sama lain. Hasil nilai yang didapat pada kesalahan acak tidak
dapat dihindari tapi bisa diatasi dengan melakukan pemeriksaan yang cermat dan
teliti serta reagensia dan peralalatan yang baik (Helvi, 2004).
3. Kesalahan Sistemik atau Sistematik
Biasanya disebabkan oleh pipet yang kurang akurat, penyimpanan serum yang
kurang baik, suhu yang tidak sesuai waktu pemeriksaan, reagensia yang rusak dan
photometer yang tidak terkalibrasi (Helvi, 2004).
III. Alat dan Bahan
a. Alat b. Bahan
 Sentrifuga  Serum
 Mikropipet 20 µL dan 1 mL  Reagensia Diazo
 Tabung reaksi  Diazo Blank
 Spektrofotometer pada panjang  Aquabidest
gelombang 546 nm  Accelelator
 Kuvet
 Beaker glass

IV. Prosedur
Prosedur pertama yang dilakukan adalah pengambilan spesimen. Kemudian
spesimen yang sudah diambil dari praktikan kemudian dilakukan sentrifugasi dengan
menggunakan sentrifuga pada kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Setelah terjadi
pemisahan antara plasma dan serum kemudian dipisahkan kedalam tabung yang
berbeda untuk percobaan berikutnya. Kemudian disiapkan 4 buah tabung reaksi 2
tabung reaksi untuk total dan 2 tabung reaksi untuk direct yaitu tabung reaksi untuk
larutan blangko dan larutan standar yang masing-masing diberi label. Pertama untuk
yang total kedalam tabung larutan blangko dimasukkan serum sebanyak 50 µL,
accelerator 1 mL dan diazo blank sebanyak 100 µL, sedangkan pada tabung reaksi
larutan uji dimasukkan serum sebanyak 50 µL kemudian ditambahkan kedalamnya 1
mL accelerator dan 100 µL reagensia diazo . Dan untuk direct pada tabung blangko
kedalamnya ditambahkan serum sebanyak 50 µL, diazo blank 100 µL dan aquadest
sebanyak 1 mL, sedangkan pada tabung reaksi uji ditambahkan serum sebanyak 50
µL, aquadest 1 mL, dan reagensia diazo sebanyak 100 µL. Keempat tabung reaksi
kemudian dicampur rata diinkubasi pada suhu kamar selama 10 menit. Selanjutnya
dilakukan pengukuran absorbansi dengan menggunakan spektrofotometri UV-Vis
terhadap blanko dan larutan uji pada panjang gelombang (λ) 546 nm. Setelah
dilakukan proses pengukuran dilanjutkan dengan perhitungan kadar bilirubin.

V. Pengamatan dan Perhitungan

Pengamatan Perhitungan
Absorbansi Bilirubin Total x
=
Faktor
Kadar Bilirubin
Total = 0,014 x 45 mg/dL
a. Waktu inkubasi = 10 menit
= 0,63 mg/dL
b. Absorbansi Total = 0,014
Absorbansi Bilirubin Total x
c. Absorbansi Direct = 0,004 =
Faktor
Kadar Bilirubin
Direct = 0,004 x 5

= 0,02 mg/dl

VI. Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin. Birirubin adalah
pigmen kuning yang berasal dari perombakan heme dari hemaglobin dalam proses
pemecahan eritrosit oleh sel retikuloendotel, disamping itu sekitar 20 % birirubin
berasal dari perombakan zat-zat lain. Sel retikuloendotel membuat birirubin tidak
larut dalam air, bilirubin yang disekresikan dalam darah terus diikatkan albumin
untuk diangkut dalam plasma menuju hati. Didalam hati, hepatosit melepaskan ikatan
dan mengkonjugasinya dengan asam glukoronat sehingga bersifat larut air, sehingga
disebut bilirubin direk atau bilirubin terkonjugasi. Proses konjugasi melibatkan enzim
glukoroniltnsferase, selain dalam bentuk diglukoronida dapat juga dalam bentuk
monoglukoronida atau ikatan dengan glukosa, xylosa dan sulfat. Bilirubin
terkonjugasi dikeluarkan melalui proses energi ke dalam sistem bilier. (E.N
Kosasih,2008).
Bilirubin dapat digunakan sebagai salah satu parameter pemeriksaan fungsi hati
karena bilirubin merupakan hasil pemecahan heme dari sel darah merah yang akan
mengalami konjugasi di hati dengan asam glukoronat dengan batuan enzim uridyl
diphosphate glucoronyl transferase (UDGPT) sehingga menjadi bilirubin-glukoronat
yang lebih larut air (bilirubin direk) dan akan disekresikan ke empedu untuk
mengemulsikan lemak di usus. Apabila ada gangguan fungsi
hati, jumlah bilirubin indirek (hasil pemecahan heme) akan banyak terdapat di darah,
sedangkan jumlah bilirubin direk sedikit terbentuk akibatnya billirubin yang
tidak larut air akan berikatan dengan protein jaringan pada kulit, mata, dan jaringan
lain yang menimbulkan warna kuning pada jaringan tersebut.

Pengukuran kadar bilirubin serum merupakan prosedur yang relatif sederhana


dilakukan di laboratorium, dan sering digunakan sebagai indikator yang peka untuk
fungsi hati. Bilirubin terbagi atas dua komponen yaitu, bilirubin terkonjugasi (
bilirubin direk ) dan yang tak terkonjugasi (bilirubin indirek). Pada praktikum,
dilakukan pemeriksaan fungsi hati bilirubin total dan direk.

Metabolisme bilirubin diawali dengan reaksi proses pemecahan oleh enzim


hemoksigenase yang mengubah biliverdin menjadi bilirubin oleh enzim bilrubin
reduksitase. Sel retikuloendotel bilirubin tak larut air, bilirubin yang disekresikan ke
dalam darah diikat albumin untuk diangkut dalam plasma. Hepatosit adalah sel yang
dapat melepaskan ikatan, dan mengkonjugasikannya dengan asam glukoronat
menjadi bersifat larut dalam air. Bilirubin yang larut dalam air masuk ke dalam
saluran empedu dan diekskresikan ke dalam usus. Didalam usus oleh flora usus
bilirubin diubah menjadi urobilinogen yang demikian mengalami daur ulang, keluar
lagi melalui empedu. Ada sebagian kecil yang masuk dalam sirkulasi sistemik,
kemudian urobilinogen masuk ke ginjal dan dieksekresi bersama urine (Widman
F.K,1995)
Prisnip reaksi bilirubin adalah bilirubin bereaksi dengan asam sulfanilat
diazotized akan membentuk kompleks azobilirubin. Kompleks warna yang terbentuk
sangat tergantung pada pH, pada suasana asam atau netral akan terbentuk kompleks
warna merah muda, sedangkan pada suasana basa akan terbentuk kompleks warna
biru atau ungu. Pada pemeriksaan bilirubin total dilakukan dengan pengambilan
sampel darah dengan teknik flebotomi yang perlu diperhatikan pada saat pengambilan
darah untuk sampel Bilirubin total adalah menghindari terjadinya hemolisis pada
eritrosit, lipemia atau pajanan sumber cahaya yang dapat menurunkan konsentrasi
bilirubin serum yang kemudian dilakukan sentrifugasi yang berguna untuk
mengendapakan analit tertentu, menempatkan partikel dan medium suspensinya
dalam suatu medan gaya sentrifugasi.

Penetapan kadar bilirubin dapat ditentukan dengan menggunakan reagen diazo


untuk membentuk kompleks warna yang nantinya dapat diukur dengan
spektrofotometri. Penggunaan asam sulfanilat dalam reagen diazo ini
berfungsi untuk memberikan suasana asam sehingga membantu pembentuk
kompleks warna, sedangkan penambahan metil alkohol berfungsi untuk memberikan
suasana basa, sehingga kompleks yang terbentuk akan berwarna merah muda sampai
ungu. Selain itu prosedur manual untuk pengukuran bilirubin yang banyak digunakan
adalah metode Evelyn-Malloy yang menggunakan larutan methanol 50% untuk
akselelator sebelum dikopling dengan reagen diazo dan metode Jendrassik-Grof yang
menggunakan akselelator kafein-benzoat-asetat. Dan metode Peralman & Lee dipakai
surfaktan. Pada percobaan kali ini metode yang digunakan adalah metode Evelyn
Malloy.

Langkah awal yang dilakukan dalam percobaan adalah preparasi sampel yaitu
pengambilan serum darah dari vena, serum adalah bagian dari darah yang sudah
dihilangkan partikel-partikelnya. Setelah serum darah diambil, darah kemudian
ditampung dalam tabung sentrifugasi dan kemudian disentrifugasi dengan kecepatan
3000 rpm selama 10 menit (ini merupakan waktu dan kecepatan yang optimum dalam
memisahkan antara plasma darah dan serumnya). Tujuan dari sentrifugasi antara lain
untuk mengendapakan analit tertentu, menempatkan partikel dan medium
suspensinya dalam suatu medan gaya sentrifugasi. Medan sentrifugasi menyebabkan
partikel bermigrasi lebih cepat ke arah luar dari sumbu rotasi sehingga terjadi
pemisahan sedimen dan suspensinya yang dilakukan selama 15 menit dengan
kecepatan 3000 rpm guna memperoleh serum yang akan digunakan sebagai sampel
pemeriksaan. Perbedaan yang mendasar antara serum dan plasma adalah plasma
darah mengandung fibrinogen, Pada dasarnya, ketika serum dan plasma dipisahkan
dari darah, plasma masih mempertahankan fibrinogen yang membantu dalam
pembekuan darah sementara serum adalah bagian dari darah yang tersisa setelah
fibrinogen ini dihilangkan. Sehingga digunakan serum untuk menguji kadar
bilirubin agar menghindari adanya faktor pembekuan darah (fibrinogen) sehingga
memudahkan dalam menganalisis (Setyaningrum, 2002). Prinsip dari sentrifugasi
adalah memisahkan serum dan plasma berdasarkan prinsip berat jenis (BJ) dan juga
berdasarkan gaya sentrifuga, dimana plasma berwarna lebih merah tua pekat berada
pada bagian bawah tabung (BJ besar), sedangkan serum yang berwarna merah bening
(BJ kecil) akan berada pada bagian atas tabung.

Setelah serum diperoleh kemudian disiapkan 4 buah tabung reaksi yang


masing-masing diberi label tabung untuk total blangko, total uji, direct blangko dan
direct uji. Pada saat pengambilan larutan–larutan yang akan digunakan, digunakan
mikropipet/pipet piston. Hal ini dikarenakan jumlah larutan yang diambil sangat
sedikit. Sebelum pipet piston digunakan, bagian atas pipet (thumb knob) harus
ditekan berkali – kali untuk memastikan lancar atau tidaknya mikropipet. Kemudian
bagian bawah pipet piston yang disebut sebagai tip, harus di bersihkan terlebih
dahulu. Thumb knob ditekan sampai hambatan pertama (first stop), tetapi jangan
ditekan berlebihan ke dalam lagi. Karena cairan yang terambil akan lebih besar dari
pada jumlah yang sebenarnya. Setelah itu, tip dimasukkan ke dalam cairan
sedalam 0,5 cm, karena jika kurang dari nilai tersebut dikhawatirkan cairan tidak
terambil secara full atau sempurna yang mengakibatkan adanya gelembung udara
yang terambil. Sedangkan jika lebih dari nilai tersebut dikhawatirkan terdapat zat
yang dapat mengkontaminasikan cairan dari tip pipet. Selanjutnya pipet ditahan,
kemudian tekanan dari thumb knob dan dilepaskan hingga cairan masuk ke tip. Ujung
tip dipindahkan ke dalam tabungt. Untuk mengeluarkan cairannya, thumb knob
ditekan sampai hambatan kedua / second stop atau ditekan semaksimal mungkin
sehingga semua cairan keluar dari ujung tip. Pipet piston digunakan dalam percobaan
ini karena memiliki ketelitian, sensitivitas, dan spesifisitas yang lebih tinggi dan
akurat dibandingkan dengan pipet gelas.

Pada tabung total blangko biasanya larutan blanko tidak berisi larutan yang
dianalisis hanya saja berisi pelarut dan reagen yang dilakukan untuk mengkalibrasi
spektrofotometri, akan tetapi pada praktikum ini blanko yang digunakan ditambahkan
kedalamnya serum sebanyak 50 𝜇𝑙, 1 ml accelator. Fungsi dari penambahan
accelelator adalah sebagai zat yang dapat memutus ikatan antara bilirubin dan
albumin selain itu accelerator bertfungsi untuk mempercepat reaksi dengan
membentuk zat warna azo. Selain itu kedalmnya ditambahkan diazo blank sebanyak
100 𝜇𝑙. Hal ini dilakukan agar pengujian yang dilakukan lebih spesifik karena
billirubin merupakan zat dengan pigmen warna kuning yang menyebabkan
kemungkinan adanya gangguan senyawa lain yang mempunyai intensitas warna yang
sama yang kemudian jadi pengotor ketika pengujian dengan spektrofotometri.
Sedangkan pada tabung total uji kedalamnya ditambahkan serum sebanyak 50 𝜇𝑙
accelelator sebanyak 1 ml dan reagen diazo sebanyak 100 𝜇𝑙

Pada tabung direct blangko dimasukkan kedalamnya serum sebanyak 50 𝜇𝑙,


aquadest sebanyak 1 ml. Penambahan aquadest bertujuan untuk menyamakan volume
dengan larutan uji dan larutan standar karena pada saat pengujian perlakuan yang
diberikan harus sama. Selain aquadest juga kedalamnya ditambahkan diazo blank
sebanyak 100 𝜇𝑙 dan yang tabung terakhir adalah direct uji dimasukkan kedalamnya
serum sebanyak 50 𝜇𝑙 aquadest sebanyak 1 ml dan reagent diazo sebanyak 100 𝜇𝑙.
Penambahan reagen diazo berfungsi untuk membentuk kompleks warna yang
nantinya dapat diukur dengan spektrofotometri. Penggunaan asam sulfanilat
dalam reagen diazo ini berfungsi untuk memberikan suasana asam sehingga
membantu pembentukan kompleks warna, sedangkan penambahan metil alcohol
berfungsi untuk memberikan suasana basa, sehingga kompleks yang terbentuk akan
berwarna merah muda sampai ungu. Kemudian tabung tersebut diinkubasi selama 10
menit pada suhu kamar hal ini bertujuan agar didapat hasil yang maksimal, karena
suhu kamar lebih rendah dari pada suhu tubuh, maka didiamkannya pun harus lebih
lama.

Setelah proses inkubasi telah selesai, masing – masing larutan diukur


absorbansinya dengan spektrofotometer. Spektrofotometer adalah alat untuk
mengukur transmitan atau absorban suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang.
Prinsip kerja spektrofotometer uv-vis mengacu pada hukum Lambert-Beer. Apabila
cahaya monokromatik melalui suatu media, maka sebagian cahaya tersebut akan
diserap, sebagian dipantulkan dan sebagian lagi akan dipancarkan (Basset, 1994).
Pada panjang gelombang inilah diharapkan hasil yang didapat daya absorbansinya
optimal. Pada saat menggunakan alat spekrofotometer UV-Vis, kuvet yang akan
digunakan harus dicuci bersih agar tidak ada kontaminan. Adanya kontaminan
menyebabkan pengukuran tidak tepat. Pada saat memegang kuvet harus diperhatiakan
cara memegangnya. Kuvet harus dipegang pada bagian yang buram, karena jika
dipegang pada bagian bening kuvet maka dikhawatirkan akan mengganggu
absorbansi, disebabkan oleh adanya protein dari tangan kita yang mungkin tertinggal
pada kuvet. pada saat penyimpanan kuvet didalam spektro pun harus diperhatikan.
Yaitu bagian kuvet yang dihadapkan pada sinar adalah yang terdapat garis berupa
segitiga. Bukan bagian kuvet yang terdapat lengkungan disisinya. Jika yang
dihadapkan pada sinar adalah bagian kuvet yang terdapat lengkungan pada sisinya
kemungkinan sinar yang akan menembus kuvet justru akan berbelok arah dan tidak
tepat sasaran karena bentuk kuvet yang tidak simetris. Pengukuran dilakukan dengan
panjang gelombang 546 nm yang merupakan panjang gelombang maksimum pada
pengukuran. Pengukuran blanko perlu dilakukan karena dikhawatirkan akan terjadi
perubahan reagen pada saat proses inkubasi dan memberikan serapan pada panjang
gelombang pengukuran di spektrofotometer UV – Visible. Prinsip dari pengujian ini
adalah menembakkan energi dengan panjang gelombang tertentu (dalam percobaan
ini λmaks yang digunakan adalah 546 nm) pada suatu senyawa (dalam hal ini adalah
kuinoneimina). Hal ini membuat elektron dari senyawa tersebut akan tereksitasi ke
orbital yang lebih tinggi. Setelah mengalami eksitasi, elektron tersebut akan turun
kembali ke ground state (keadaan dasar), sambil melepaskan emisi yang akan terukur
oleh detektor. (Basset, 1994).

Dari percobaan diperoleh hasil absorbansi total uji 0,014 dan absorbansi direct
uji 0,004. Sehingga diperoleh kadar bilirubin total dan bilirubin direct masing-
masing yaitu 0,63 mg/dL dan 0,02 mg/ dL. Dari hasil kadar bilirubin total dan
bilirubin direct memasuki nilai normal yaitu 0,1-1,2 mg/dL dan <0,2 mg/dL.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hasil dari kadar bilirubin yang tidak
sesuai dengan literature, yaitu : Alkohol, penumpukan lemak, virus hepatitis, genetik
dan penyakit autoimun.

VII. Kesimpulan
a. Hasil dari pemeriksaan kadar bilirubin yang diambil dari laki-laki ini, diperoleh
kadar bilirubin total dan bilirubin direct sebesar 0,63 mg/dL dan 0,02 mg/ dL
b. Kadar bilirubin yang diperoleh menunjukkan hasil yang normal dimana praktikan
memiliki kadar bilirubin yang sesuia dengan nilai normal kadar bilirubin.
VIII. Daftar Pustaka
Baron . D. N. (1981). Kapita Selekta Patologi Klinik. EGC, Jakarta.
Basset, J., R. C. Denney, G.H Jeffrey, J. Mendhom. (1994). Buku Ajar Vogel Kimia
Analisa Kuantitatif Anorganik. EGC, Jakarta.
EN Kosasih. (2008). Tafsiran Hasil Pemeriksaan Laboratorium Klinik. Karisma
Publising Group, Jakarta.
Helvi Mardiani. (2004). Metabolisme HEME; Digital Library. Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Rahmawaty,Setyaningrum. (2002). Petunjuk Praktikum Biokimia Gizi.
Riswanto. (2009). Tes Kimia Darah Laboratorium Kesehatan. diakses tanggal 26-10-
2016.
Sacher A. Ronald dan Richard A. McPherson. (2004). Tinjauan Klinis Hasil
Pemeriksaan Laboratorium. EGC, Jakarta.
Sudoyo, A.W. dkk. (2007). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I ed.IV Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.
Tjay, T.H., Rahardja, K. (2002). Obat-obat Penting : Khasiat, Penggunaan, dan Efek-
Efek Sampingnya. Edisi VI. Jakarta: Penerbit PT. Elex Media Komputindo.
Yayan A. Israr. (2010). Metabolisme bilirubin. diakses tanggal 26-10-2016.
Widmann FK. (1995). Tinjauan klinis atas hasil pemeriksaan laboratorium. Edisi 9.
EGC, Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai