Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA UDANG VANNAMEI

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi
Udang vannamei digolongkan kedalam genus Penaeus pada filum
Arthropoda. Ada ribuan spesies di filum ini namun, yang mendominasi
perairan berasal dari subfilum crustacea. Ciri-ciri subfilum crustacea yaitu
memiliki 3 pasang kaki berjalan yang berfungsi untuk mencapit, terutama
dari ordo Decapoda, seperti Litopenaeus chinensis, L. Indicus, L.
Japonicus, L. Monodon, L. Stylirostris dan Litopenaeus vannmei. Menurut
Haliman dan Adijaya (2005), klasifikasi udang vannamei (Litopenaeus
vannamei) sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Sub kingdom : Metazoa
Filum : Arthopoda
Sub filum : Crustacea
Kelas : Malascostraca
Sub kelas : Eumalacostraca
Super ordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Sub ordo : Dendrobrachiata
Infra ordo : Penaeidea
Super famili : Penaeioidea
Famili : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei

Menurut Elovoora (2001), udang vaname termasuk crustacea, ordo


decapoda seperti halnya udang lainnya, lobster dan kepiting. Dengan kata
lain decapoda dicirikan mempunyai 10 kaki, carapace berkembang baik
menutup seluruh kepala. Udang vaname termasuk genus penaeus dicirikan
oleh adanya gigi pada rostrum bagian atas dan bawah, mempunyai dua
gigi pada bagian ventral dari rostrum dan gigi 8-9 di bagian dorsal serta
mempunyai antena panjang.

2.2. Morfologi
Haliman dan Adijaya (2005), menyatakan tubuh udang vannamei dibentuk
oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite dan endopodite. Vannamei
memiliki tubuh berbuku-buku dan aktivitas berganti kulit luar atau
eksoskeleton secara periodik (moulting). Bentuk tubuh yaitu terbagi
menjadi tiga bagian antara lain : bagian kepala dan dada (cephalothorax),
badan (abdomen) dan ekor. Bagian-bagian tubuh lain terdiri dari rostrum,
sepasang mata, sepasang antenna, sepasang antennele bagian dalam dan
luar, tiga buah maxliped, lima pasang kaki jalan (periopodas) lima pasang
kaki renang (pleopoda), sepasang telson dan uropoda. Bagian tubuh udang
vannamei sudah mengalami modifikasi, sehingga dapat digunakan untuk
keperluan yakni: (1). Makan, bergerak, dan membenamkan diri ke dalam
lumpur (burrowing); (2). Menopang insang karena struktur insang udang
mirip bulu unggas; dan (3). Organ sensor, seperti pada antena dan
antenula.
Kepala (thorax) udang vannamei terdiri dari antenula, antena, mandibula,
dan dua pasang maxillae. Kepala udang vannamei juga dilengkapi dengan
tiga pasang maxillipied dan lima pasang kaki berjalan (periopoda) atau
kaki sepuluh (decapoda). Maxillipied sudah mengalami modifikasi dan
berfungsi sebagai organ untuk makan. Endopodite kaki berjalan menempel
pada chepalothorax yang dihubugka oleh coxa. Bentuk periopoda beruas-
ruas yang berujung di bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit
(kaki ke-1, ke-2, dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5). Di antara
coxa dan dactylus, terdapat ruang berturut-turut disebut basis, ischium,
merus, carpus, dan cropus. Pada bagian ischium terdapat duri yang bisa
digunakan untuk mengidentifikasi beberapa spesies penaeid dalam
taksonomi (Haliman dan Adijaya, 2005).

2.3. Habitat dan Siklus Hidup


Briggs et al., (2004) menyatakan bahwa udang vannamei hidup di habitat
laut tropis dimana suhu air biasanya lebih dari 20 °C sepanjang tahun.
Udang vannamei dewasa dan bertelur di laut terbuka, sedangkan pada
stadia postlarva udang vannamei akan bermigrasi ke pantai sampai pada
stadia juvenil. Udang vannamei merupakan bagian dari organisme laut.
Beberapa udang laut menghabiskan siklus hidupnya di muara air payau.
Siklus hidup udang vannamei sebelum ditebar di tambak yaitu stadia
naupli, stadia zoea, stadia mysis, dan stadia post larva. Pada stadia naupli
larva berukuran 0,32-0,59 mm, sistem pencernaanya belum sempurna dan
masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur. Stadia zoea
terjadi setelah larva ditebar pada bak pemeliharaan sekitar 15-24 jam.
Larva sudah berukuran 1,05-3,30 mm dan pada stadia ini benur mengalami
3 kali moulting. Pada stadia ini pula benur sudah bisa diberi makan yang
berupa artemia.
Habitat udang berbeda-beda tergantung dari jenis dan persyaratan hidup
dari tingkatan-tingkatan dalam daur hidupnya. Pada umumnya, udang
bersifat bentik dan hidup pada dan hidup pada permukaan dasar laut.
Adapun habitat yang disukai oleh udang adalah dasar laut yang lumer
(soft) yang biasanya campuran lumpur dan pasir. Lebih lanjut djelaskan
bahwa induk udang putih ditemukan di perairan lepas pantai dengan
kedalaman berkisar antara 70-72 m. Sifat hidup dari udang putih adalah
catadromous atau hidup di dua lingkungan, dimana udang dewasa akan
memijah di laut terbuka.
Larva dan yuwana udang putih setelah menetas akan bermigrasi ke daerah
pesisir pantai atau daerah mangrove yang biasa disebut daerah estuari
(nursery ground), dan setelah dewasa akan bermigrasi kembali ke laut
untuk melakukan kegiatan pemijahan seperti pematangan gonad (maturasi)
dan perkawinan (Wyban dan Sweeney, 1991). Hal ini sama seperti pola
hidup udang penaeid lain, dimana mangrove merupakan tempat berlindung
dan mencari makanan setelah dewasa akan kembali ke laut (Elovoora,
2001).
2.4. Sistem Reproduksi
Perbedaan alat kelamin pada induk jantan dan betina udang vannamei
dapat dilihat dari sisi bawah (ventral). Alat kelamin betina bernama
thelicum dan terletak diantara dasar sepasang kaki jalan atau periopoda
yang berfungsi untuk menyimpan sperma, sedangkan alat kelamin jantan
disebut petasma dan terletak pada pangkal kaki renang pertama yang
berfungsi untuk mentransfer sperma (Susanto dkk, 2004).
Menurut Bailey dan Moss (1992), telikum berguna sebagai tempat untuk
menampung sperma yang akan dilepaskan pada saat pemijahan. Telikum
terletak antara pangkal kaki jalan ke-4 dan ke-5. Udang vaname memiliki
telikum yang tidak tertutup oleh lempeng karapas yang keras atau biasa
disebut telikum terbuka, sehingga proses perkawinannya tidak didahului
oleh molting. Udang betina juga memiliki organ internal sistem reproduksi
yang terdiri dari sepasang ovari. Ovari tersebut berbentuk tubular, simetrik
bilateral, terletak di bagian ventral hingga rongga dada dan berkembang ke
arah posterior hingga hepatopankreas. Cuping abdominal berdampingan
dengan usus dan cuping anterior terdapat di cepalotorax. Cuping lateral
berkembang menyamping seperti jari dan terletak antara cuping anterior
dan posterior.
Proses perkawinan ditandai dengan loncatan betina secara tiba-tiba. Saat
meloncat tersebut, betina mengeluarkan sel-sel telur. Saat yang bersamaan,
udang jantan mengeluarkan sperma sehingga sel telur dan sperma bertemu.
Proses perkawinan berlangsung lebih kurang satu menit. Sepasang udang
vannamei berukuran antara 30-45 gram dapat menghasilkan telur yang
berukuran 0,22 mm berkisar antara 100.000-250.000 butir (Adiyodi and
Adiyodi, 1970).
2.5. Pemijahan
2.5.1. Seleksi Induk
Calon induk betina yang baik memiliki ukuran lebih besar dari 35 g dan
untuk udang jantan lebih dari 30 g. Udang putih betina ideal untuk
dipergunakan dalam pembenihan yaitu berukuran antara 40-50 g. Ukuran
panjang tubuh udang putih betina yang termasuk ke dalam kriteria
produktif antara 20-25 cm, sedangkan untuk memilih calon induk udang
putih jantan sebaiknya berukuran sedang, yang memiliki panjang tubuh
antara 15-20 cm (Wyban dan Sweeney, 1991).
Menurut Susanto et al., (2004), kriteria indukan udang vannamei yang
memenuhi syarat dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria indukan udang vannamei yang memenuhi syarat
Induk Jantan Induk Betina
Berat : 30-35 g
Panjang Tubuh : 18-20 cm
Kelamin : Bersih
Insang : Normal, berwarna merah dengan penutup transparan
Anggota Tubuh : Lengkap dan normal Berat : > 35 g
Panjang Tubuh : 20-25 cm
Kelamin : Bersih
Insang : Normal, berwarna merah dengan penutup transparan
Anggota Tubuh : Lengkap dan normal

2.5.2. Pemeliharaan Induk


Menurut Susanto et al., 2004), dalam pemeliharaan induk udang harus
memperhatikan hal-hal berikut:
a. Persiapan wadah dan media
Bak pemeliharaan induk merupakan sarana yang harus dipersiapkan dalam
pembenihan udang. Menurut Nurjana dkk, (1983), ukuran bak
pemeliharaan induk udang berpengaruh terhadap perkembangan telur dan
sperma calon induk. Bentuk yang ideal untuk bak pemeliharaan dan
bakpemijahan induk adalah segi empat, dengan panjang 8 m, lebar 5 m,
dan tinggi 1,5 m, dengan tinggi air wadah 1,2 m.
Fasilitas pendukung yang perlu dipersiapkan dalam pemeliharaan induk di
bak yaitu dengan pipa paralon diameter 4 inci, untuk pemasukan dan
pengeluaran air. Bak diberi fasilitas aerasi untuk memberikan tambahan
oksigen di dalam air. Insensitas cahaya yang masuk dalam bak dapat
diminimalisir dengan menggunakan terpal plastik. Bentuk pengeluaran
berupa pipa goyang (stand pipe), agar sirkulasi air dapat berjalan.
Bak yang telah digunakan dicuci dengan menggunakan chlorin 200-300
mg/L yang dicampur dengan detergen. Pencucian dapat dilakukan dengan
sikat. Setelah dicuci, bak dibilas dengan menggunakan air tawar. Bak yang
telah dibilas dipastikan bersih dan tidak bau chlorin atau detergen yang
digunakan.
b. Pengaturan jumlah induk
Padat penebaran dalam bak pemeliharaan induk berkisar 1-1,5 ekor/m2.
Hal ini untuk menghindari terjadinya sifat kanibal pada induk yang
dipelihara, sehingga kondisi induk tetap sehat. Penebaran induk udang
vanamei di UD SARI BENUR Rembang dilakukan pada sore hari saat
matahari akan tenggelam. Menurut Khairul (2003), waktu yang baik untuk
penebaran yaitu kondisi yang cocok untuk proses penebaran. Penebaran
sebaiknya dilakukan saat teduh, seperti pada pagi hari atau sore hari.
Hindari penebaran benur ketika hujan atau terik matahari karena akan
menyebabkan stress, bahkan bisa memicu kematian udang.
c. Pemberian pakan
Kualitas dan kuantitas telur dan benur (benih udang) ditentukan oleh
keberhasilan pematangan gonad. Keberhasilan pematangan gonad sangat
dipengaruhi oleh pakan. Salah satu kendala yang menyebabkan kegagalan
pematangan gonad dipengaruhi oleh kualitas, kuantitas dan cara pemberian
pakan. Pakan yang baik untuk induk berupa pakan segar yang
mengandung kandungan nutrisi berupa protein, kolestrol dan vitamin yang
cukup sehingga dapat menjaga daya tahan tubuh terhadap penyakit,
pertumbuhan dan perkembangan gonad. Jumlah pakan yang diberikan 10-
20% dari bobot tubuh udang setiap hari. Dalam keadaan normal udang
dewasa hanya makan 10-15% dari bobot tubuhnya.
Menurut Ghufron (2006), nutrisi adalah kandungan gizi yang terkandung
dalam pakan. Apabila pakan yang diberikan kepada udang pemeliharaan
mempunyai kandungan nutrisi yang cukup tinggi, maka hal ini akan
menjamin hidup dan aktifitas udang, dan akan mempercepat
pertumbuhannya. Banyaknya zat-zat gizi yang dibutuhkan tergantung pada
spesies udang, juga pada ukuran atau besarnya udang serta keadaan
lingkungan tempat hidupnya. Beberapa komponen nutrisi yang penting
dan harus tersedia dalam pakan udang antara lain protein, lemak,
karbohidrat, vitamin dan mineral.
Sebelum pemberian pakan, bak pemeliharaan induk terlebih dahulu
dibersihkan dari kotoran dan sisa pakan. Pakan yang akan diberikan
terlebih dahulu ditimbang dan dibersihkan. Adapun cara pemberian pakan
yaitu ditebar langsung pada wadah pemeliharaan induk secara merata.
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), pemberian pakan dapat dilakukan
sejak benur ditebar hingga udang siap panen. Namun ukuran dan jumlah
pakan harus diperhatikan secara cermat dan tepat sehingga udang tidak
kekurangan pakan (underfeeding) atau kelebihan pakan (overfeding).
Pemberian pakan dilakukan dengan cara penebaran secara merata pada
tambak budidaya udang.
d. Pengelolaan kualitas air
Air merupakan media hidup bagi udang dan organisme lain sehingga
penting untuk diperhatikan. Kesalahan mengelola air berakibat fatal bagi
kegiatan pembenihan. Untuk memperoleh air laut yang bersih selain
mengambil langsung dari laut dapat pula dihasilkan melalui penyaringan.
Macam-macam penyaringan yang digunakan yaitu penyaringan dengan
pasir (sand filter), penyaringan dengan sumur laut, dan penyaringan secara
biologis (biology filter).
Kualitas air harus diatur dan dipelihara pada kondisi menyerupai
lingkungan alami udang Penaeid. Air laut yang dimasukkan ke bak harus
mengalami beberapa perlakuan dahulu, antara lain penghilangan materi
organik yang terlarut dengan cara filtrasi dan pengendapan, ozonisasi
untuk menghilangkan sebagian besar mikroorganisme. Hal tersebut
dilakukan untuk menghasilkan kualitas air yang baik bagi udang vaname.
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), kualitas air tambak terkait dengan
kondisi kesehatan udang. Kualitas air yang baik mampu mendukung
pertumbuhan secara optimal. Hal itu berhubungan dengan faktor stres
akibat perubahan kualitas air di tambak. Beberapa parameter kualitas air
primer yang selalu dipantau yaitu suhu air, salinitas, pH, DO (Dissolved
oxygen), dan amoniak. Parameter-parameter tersebut akan mempengarui
proses metabolisme tubuh udang, seperti keaktifan mencari pakan, proses
pencernaan, dan pertumbuhan udang. Pergantian air dilakukan 2 kali
sehari, yaitu sebanyak 10% dan sore hari sebanyak 50%. Sisa makanan
berupa cangkang dan kulit induk yang moulting dibersihkan setiap pagi
sebelum pemberian pakan. Ahmad (1992) menambahkan bahwa kualitas
air selama pemeliharaan dengan kandungan oksigen terlarut 3-5 ppm, suhu
29-31 oC, salinitas 15-20 ppt, kecerahan air 25 – 70 cm dan pH 7,8 – 8,2.
Parameter kualitas air selama pemeliharaan udang vannamei masih dalam
batas-batas yang layak untuk budidaya udang.
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), secara kimiawi, kualitas air untuk
budidaya udang vaname ditentukan oleh: Salinitas, yaitu jumlah total
garam terlarut yang terukur dalam sampel air dalam satuan ppt (part per
thausand). Salinitas yang baik untuk budidaya udang vaname adalah 15-22
ppt; DO (Dissolved Oxygen), yaitu jumlah oksigen yang terikat dengan
partikel air. Udang vaname memerlukan oksigen untuk menghasilkan
energi untuk beraktivitas, pertumbuhan, reproduksi dan lain-lain. Besarnya
DO optimal untuk budidaya adalah 4–7,5 ppm. DO dihasilkan dari
aktivitas fotosintesa phytoplankton pada siang hari dan dari penggunaan
kincir air; Derajat keasaman (pH), yaitu tingkat keasaman air yang
dinyatakan dalam pH air. Besarnya pH air yang optimal untuk kehidupan
udang adalah 6,5–8 (netral), karena pada kisaran tersebut menunjukkan
imbangan yang optimal antara oksigen dan karbondioksida serta berbagai
mikrooranisme yang merugikan sulit berkembang; serta suhu air juga
sangat penting bagi kehidupan ikan atau udang karena suhu air sangat
berpengaruh terhadap kehidupan jasad renik (mikroorganisme), sehingga
dapat mempengaruhi kehidupan ikan dan udang. Suhu ideal untuk
budidaya adalah 25-31 oC.
e. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian penyakit merupakan faktor penting yang harus diperhatikan.
Secara umum pengendalian penyakit meliputi tindakan diagnosa, tindakan
pencegahan dan tindakan pengobatan.
a. Diagnosa : Diperlukan dalam setiap rencana pengendalian penyakit.
Diagnosa yang tepat akan menghasilkan kesimpulan yang tepat dan
tindakan penanggulangan yang lebih terarah. Diagnosa dilakukan dengan
cara memperhatikan nafsu makan udang, tingkah laku udang dan kondisi
kualitas air wadah pemeliharaan.
b. Tindakan pencegahan, merupakan tujuan utama dalam pengendalian
penyakit. Dalam pemeliharaan induk, tindakan pencegahan yang dilakukan
ialah :
– Membersihkan bak pemeliharaan dengan membilas permukaan bak
menggunakan kain yang telah dicelupkan ke dalam larutan Chlorin 100
mg/L (100 ml larutan Chlorin 10% dalam 1 m3 air) dan dikeringkan 1-2
jam.
– Mengaklimatisasi induk yang baru datang serta merendamnya dalam
larutan formalin 25 mg/L selama ± 8 jam. Hal ini bertujuan untuk
membunuh jasad parasit yang mungkin menempel pada tubuh udang.
– Memberikan makanan yang cukup baik mutu, maupun jumlahnya.
– Mempertahankan kualitas air (Suhu, Salinitas, dan pH).
c. Pengobatan, merupakan tindakan terakhir jika tindakan pencegahan
tidak memberikan hasil yang memuaskan. Udang yang sakit tidak baik
digunakan untuk induk, karena akan mempengaruhi larva yang dihasilkan.
Induk yang sakit umumnya dipisahkan dan tidak digunakan.
FAO (2006), menyatakan bahwa ketersediaan induk SPF (Specific
Pathogen Free) dan SPR (Specific Pathogen Resistant) menyediakan cara
untuk menghindari penyakit, meskipun prosedur biosekuriti juga penting,
termasuk: (1). Pengeringan dari dasar kolam antara siklus; (2) mengurangi
pertukaran air dan penyaringan halus dari air yang masuk, (3) Penggunaan
jaring burung, dan (4). Membuat pagar di sekitar kolam. Adiwidjaya dan
Erik (2011) menambahkan, setelah virus memasuki kolam, tidak ada
bahan kimia atau obat yang tersedia untuk mengobati infeksi, tetapi
pengelolaan air, pengelolaan pakan yang baik dan pengelolaan kesehatan
yang baik dapat mengurangi infeksi virus tersebut. Selain itu pencegahan
dapat dilakukan dengan Persiapan air yang baik, air yang masuk keseluruh
sistem akan diberi kaporit 30 ppm dan diendapkan selama 3 hari untuk
menghilangkan carrier dan partikel virus yang terbawa air.
Faktor lain yang menentukan keberhasilan budidaya udang di tambak
adalah keberhasilan dalam usaha pengendalian/ pemberantasan hama di
dalam tambak. Dalam pemberantasan hama, pestisida anorganik yang
digunakan adalah saponin dengan dosis 20 mg/L. Keuntungan jenis racun
ini karena dapat menjadi pupuk setelah daya racunnya hilang (ampasnya).
Oleh karena itu, pengendalian hama ditambak sebaiknya dilakukan dengan
mempergunakan cara mekanis dan pestisida organik (pestisida nabati).
Apabila dengan mempergunakan cara tersebut belum memberikan hasil
yang diharapkan, maka sebagai langkah terakhir barulah mempergunakan
pestisida anorganik yang memiliki residu sangat rendah (Prihatman, 2001).
Menurut Haliman dan Adijaya (2005), penyakit dapat muncul dan
menyerang udang vannamei. Beberapa penyakit yang menyerang
disebabkan oleh predator, parasit, bakteri, jamur dan virus. Predator adalah
segala jenis hewan yang dapat memangsa udang vannamei yang dipelihara
dalam petakan tambak. Beberapa jenis predator udang vannamei yaitu ikan
seperti kakap, dan ikan kerong-kerong. Jenis crustase, seperti kepiting dan
jenis reptil seperti ular. Selain itu jaga udang liar laut jaga menjadi
kompetitor dalam mencari pakan sehingga udang vannamei akan
kekurangan pakan. Parasit mudah menyerang udang vannamei jika
kualitas air tambak kurang baik terutama pada kondisi kandungan bahan
organik yang tinggi. Parasit akan menempel pada insang, kaki renang dan
kaki jalan. Pada kondisi yang parah parasit bisa menempel pada tubuh
udang. Parasit akan terlepas pada tubuh vannamei jika udang mengalami
ganti kulit (moulting). Bakteri dan jamur tumbuh optimal di perairan yang
mengandung bahan organik tinggi (sekitar 50 ppm). Oleh karenanya
sebaiknya kandungan bahan organik di air tambak tidak melebihi 50 ppm.
Bakteri yang perlu diwaspadai yaitu bakteri vebrio bakteri ini
menyebabkan penyakit vibriosis yaitu inveksi pada ingsang pada saat inag
lemah. Salah satu virus spesifik yang menyerang udang adalah Taura
Syndrom Virus (TSV), White Spot Syndrome Virus (WSSV), dan
Infectionus Hypodermal Haematopoetic Necrosis Virus (IHHNV).
Menurut Prihatman (2001), saponin adalah glikosida, yaitu metabolit
sekunder yang banyak terdapat dialam, terdiri dari gugus gula yang
berikatan dengan aglikon atau sapogenin. Senyawa ini bersifat racun bagi
binatang berdarah dingin. Oleh karena itu dapat digunakan untuk
pembasmi hama tertentu bagi budidaya udang.

2.5.3. Ablasi
Teknik ablasi cukup efektif dalam merangsang perkembangan gonad,
tetapi penghilangan organ penghasil hormon akan mengganggu sistem
endokrin dalam tubuh udang. Pemotongan salah satu tangkai mata
menyebabkan kerusakan permanen pada mata dan menurunkan 50%
sintesis neurohormon oleh kelenjar sinus. Hal ini menyebabkan
kemampuan udang untuk mengatur berbagai proses fisiologis tidak
berjalan dengan baik (Huberman, 2000). Selain itu, ablasi dapat
mempengaruhi metabolisme lipid, metabolisme protein, metabolisme
karbohidrat (Cooke dan Sullivan, 1985) serta mempengaruhi respon
kekebalan pada udang vannamei (Hernández et al., 2008).
Pemijahan udang vannamei (Litopenaeus vannamei) dapat dilakukan
setelah udang mengalami matang gonad atau matang telur. Ablasi salah
satu mata udang yang bertujuan untuk mempercepat proses pematangan
gonad pada induk udang. Ablasi mata bertujuan untuk menghilangkan
hormon penghambat perkembangan gonad. Proses ini dilaksanakan
dengan cara merusak atau memotong tangkai mata. Induk yang akan
diablasi harus sehat, tidak sedang ganti kulit atau keropos, organ lengkap
dan tidak ada gejala infeksi penyakit bakteri pada insang dan induk telah
dinyatakan bebas virus (Nurdjana, 1985).

2.5.4. Tingkat Kematangan Gonad


Tingkat kematangan telur diukur berdasarkan perkembangan ovari, yang
terletak di bagian punggung atau dorsal dari tubuh udang, mulai dari
karapas sampai ke pangkal ekor (telson). Ovari tersebut berwarna hijau
sampai hijau gelap, semakin gelap warnanya dan tampak melebar serta
berkembang ke arah kepala (karapas).
Menurut Susanto et al., (2004), Tingkat Kematangan Gonad (TKG) pada
udang adalah sebagai berikut:
a. TKG I (Early Maturing Stage) : Garis ovari kelihatan hijau kehitam-
hitaman yang kemudian membesar. Pada akhir TKG I garis nampak jelas
berupa garis lurus yang tebal.
b. TKG II (Late Maturing Stage) : Warna ovari semakin jelas dan semakin
tebal. Akhir TKG II ovarium membentuk gelembung pada ruas abdomen
pertama.
c. TKG III (The Mature Stage) : Terbentuk beberapa gelembung lagi
sehingga ovarium mempunyai beberapa gelembung pada ruas
abdomennya. Gelembung pada ruas pertama membentuk cabang ke kiri
maupun kekanan yang menyerupai setengah bulan sabit. Tingkat ini
merupakan fase terakhir sebelum udang melepas telurnya.
d. TKG IV (Spent Recovering Stage) : Bagian ovarium terlihat pucat yang
berarti telur telah dilepaskan.
Kematangan gonad udang jantan ditentukan oleh perkembangan petasma
yang sempurna dan biasanya mengandung spermatopora. Dari tingkatan-
tingkatan diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri induk udang betina
yang matang gonad adalah jika telah memasuki TKG III.

2.5.5. Proses Pemijahan


Udang vannamei melakukan mating (perkawinan) apabila udang betina
telah matang telur yang ditandai dengan warna orange pada punggungnya,
udang jantan segera memburu oleh rangsangan feromon yang dikeluarkan
oleh betina dan terjadilah mating. Dari hasil mating tersebut sperma akan
ditempelkan pada telikum, 4-5 jam kemudian induk betina tersebut akan
mengeluarkan telur (spawning) dan terjadilah pembuahan (Wyban dan
Sweeney, 1991).
Perbedaan udang vannamei dengan udang penaeus umumnya yaitu, pada
betina telikumnya terbuka, dimana jantan hanya menempelkan sperma
pada waktu pemijahan. Perkawinan terjadi pada saat kulit atau kerapasnya
keras dan ketika telur sudah matang. Pemijahan terjadi setelah beberapa
jam setelah perkawinan, biasanya kurang dari 3 jam (Elovoora, 2001).

2.5.6. Jenis-Jenis Pemijahan Udang


Menurut Gusrina (2008), pemijahan adalah proses perkawinan antara
udang jantan dan udang betina yang mengeluarkan sel sperma dan sel
telur. Teknik pemijahan udang dapat dilakukan dengan tiga macam cara,
yaitu:
1. Pemijahan udang secara alami, yaitu pemijahan ikan tanpa campur
tangan manusia, terjadi secara alamiah (tanpa pemberian rangsangan
hormon);
2. Pemijahan secara semi buatan, yaitu pemijahan udang yang terjadi
dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan
gonad, tetapi proses ovulasinya terjadi secara alamiah di kolam; dan
3. Pemijahan udang secara buatan, yaitu pemijahan ikan yang terjadi
dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan
gonad serta proses ovulasinya dilakukan secara buatan dengan teknik
stripping atau pengurutan.
Pemijahan alami bisa dibilang cara yang paling sederhana, karena tidak
memerlukan banyak pekerjaan, namun tingkat keberhasilannya sangat
rendah, karena sangat tergantung pada alam. Meski kedua induk jantan
dan betina matang gonad, tetapi tingkat kematangannya sulit ditentukan
secara visual, sehingga seringkali pemijahan gagal. Kegagalan dalam
pemijahan dapat menghambat proses produksi.

2.5.7. Pembuahan dan Penetasan Telur


Derajat pembuahan dan penetasan sangat ditentukan oleh kualitas sperma
dan kemampuan penempelan pada telikum serta media penetasan (suhu
dan salinitas). Beberapa kegagalan yang mungkin terjadi adalah tidak
terjadinya pembuahan yang disebabkan induk betina belum matang telur
atau rusaknya spermatofor (Djunaidah et al., 1989).
Telur akan menetas menjadi naupli dalam waktu 12-16 jam. Setelah
pemijahan biasanya induk betina akan moulting. Telur udang putih akan
menetaspada kisaran suhu 28-30 oC dan salinitas 35 ppt, satu induk udang
putih menghasilkan 100-200 ribu telur (Wyban dan Sweeney, 1991).
Perkembangan telur udang vannamei bersadarkan pernyataan Iskandar dan
Khairul (2008), yaitu pada stadia zoea perubahan bentuk dari nauplius
menjadi zoea memerlukan waktu kira-kira 40 jam setelah penetasan. Pada
stadia ini larva dengan cepat bertambah besar. Tambahan makanan yang
diberikan sangat berperan dan mereka aktif memakan phytoplankton.
Stadia akhir zoea juga memakan zooplankton. Zoea sangat sensitif
terhadap cahaya yang kuat dan ada juga yang lemah diantara tingkat stadia
zoea tersebut. Zoea terdiri dari tiga substadia secara kasar tubuhnya di bagi
kedalam tiga bagian, yaitu carapace, thorax dan abdomen. Tiga substadia
tersebut dapat dibedakan berdasarkan segmentasi abdomen dan
perkembangan dari lateral dan dorsal pada setiap segmen. Pada stadia
mysis, larva mencapai stadia mysis pada hari ke lima setelah penetasan.
Larva pada stadia ini kelihatan lebih dewasa dari dua stadia sebelumnya.
Stadia mysis lebih kuat dari stadia zoea dan dapat bertahan dalam
penanganan. Stadia mysis memakan phytoplankton dan zooplankton, akan
tetapi lebih menyukai zooplankton menjelang stadia mysis akhir (M3).
Mysis memilki tiga sub stadia dimana satu dengan lainnya dapat
dibedakan dari perkembangan bagian dada dan kaki renang. Pada stadia
post larva, perubahan bentuk dari mysis menjadi post larva terjadi pada
hari kesembilan. Stadia post larva mirip dengan udang dewasa, dimana
lebih kuat dan lebih dapat bertahan dalam penanganan. Kaki renang pada
stadia post larva bertambah menjadi tiga segmen yang lebih lengkung.
Post larva bersifat planktonik, dimana mulai mencari jasad hidup sebagai
makanan.
Stadia mysis, benur udang sudah menyerupai bentuk udang. Yang
dicirikan dengan sudah terluhatnya ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson).
Selanjutnya udang mencapai stadia post larva, dimana udang sudah
menyerupai udang dewasa. Hitungan stadianya sudah menggunakan
hitungan hari. Misalnya, PL1 berarti post larva berumur satu hari. Pada
stadia ini udang sudah mulai bergerak aktif (Haliman dan Adijaya, 2005).

DAFTAR PUSTAKA

Adiwidjaya, A. dan Erik 2011. Menejemen Pakan dan Pendugaan Populasi


Pada Budidaya Udang. DKP. Ditjen Perikanan Budidaya. BBPBAP,
Jepara, pp 15.

Adiyodi, K.G. and R.G. Adiyodi. 1970. Endocrine Control of


Reproduction in Decapod Crustacea. Biol. Rev. 45; 121-165.

Ahmad, T. 1992. Pengelolaan Perubah Mutu Air yang Penting dalam


Tambak Udang Intensif. Kerjasama Direktorat Jenderal Perikanan dan
International Development Research Centre. Jakarta.

Amri, K. dan I. Kanna. 2008. Budidaya Udang Vaname. Gramedia


Pustaka Utama. Jakarta.

Arce, S.M., S.M. Moss, and B.J. Argue. 2000. Artificial Insemination and
Spawning of Pacific White Shrimp (Litopenaeus vannamei): Implication
for a Selective Breeding Program. The Oceanic Institute, USA, pp. 4-6.

Arnold, S.J., G.J. Coman and M. Emerenciano. Constraints on Seedstock


Production in Eight Generation Domesticated Litopenaeus vannamei
Broodstock. Aquaculture, (410–411): 95–100.
Bailey-Brock J.H. and S.M. Moss. 1992. Peneid Taxonomy, Biology, and
Zoogeography, Didalam Fast A. W. and L. J. Lester. (Eds). Marine Shrimp
Culture: Principles and Practices. Development in Aquaculture and
Fisheries Science. Elsevier Science Publisher. B.V., Netherlands, 23; 9-27.

Baso dan Kordi. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan.
Rineka Cipta. Jakarta, 135: 139-146.

Briggs, M., F.S. Simon, S. Rohana, dan P. Michael. 2004. Introductions


and Movement of Penaeus vannamei and Penaeus stylirostris in Asia and
The Pacific. FAO. Bangkok.

Cooke, M.I., and E. R. Sullivan. 1985. Hormones and Neurosecretion in


the Biology of Crustacea, Bliss, D.E., and Mantel, H.L. (eds.). Academic
Press, London, 3: 205-290.
Departemen Kelautan dan Perikanan. 2008. Data Ekspor Hasil Perikanan
2008. Jakarta.

Djunaidah, dkk. 1989. Paket Teknologi Pembenihan Udang Skala Rumah


Tangga. Direktur Jendral Perikanan. Internasional Development Research
Center. Bogor, 25 hlm.

Elovoora, A.K. 2001. Shrimp Forming Manual. Practical Tecnology


Intensive Commercial Shrimp Production. United States of America, 200p.

FAO. 2012. The State Of World Fisheries and Aquaculture. Rome-Italy.

FAO Food and Agricultural Organization. 2006. Capture Fisheries and


Aquaculture Production.Rome-Italy, pp 192-196.

Ghufran, M. 2006. Pemeliharaan Udang Vanname. Gramedia. Surabaya.

Gusrina, 2008. Budidaya Ikan untuk SMK. Pusat Perbukuan Departemen


Pendidikan Nasional. Jakarta.

Haliman R.W. dan D. Adiwijaya. 2005. Budidaya Udang Vannamei.


Penebar Swadaya, Jakarta, pp. 16-18.
Hernandez, J.C., L.S. Racotta, S. Dumas, and J. Hernandez. 2008. Effect
of Unilateral and Bilateral Eyestalk Ablation in Litopenaeus Vannamei
Male and Female on Several Metabolic and Immunologic Variables.
Aquaculture, 283:188–193.

Heryadi, D. dan Sutadi. 1993. Back Yard Usaha Pembenihan Skala Rumah
Tangga. Penebar Swadaya, Jakarta, pp. 31-32, 40-43.

Huberman, A. 2000. Shrimp Endocrinology. A Review. Aquaculture,


191:191-200.

Iskandar dan Khairul Amri. 2008. Budidaya Udang Vannamei. Gramedia.


Jakarta.

Khairul, A. 2003. Budi Daya Udang Windu secara Intensif. PT Agro


Media Pustaka. Jakarta.

KKP. 2011. Budidaya Udang Vaname. Kementerian Kelautan dan


Perikanan. Jakarta, pp. 10-13.

Kungvankij P., L.B. Tiro, J.R. Pudadera, I.O. Potesta, K.G.E. Borlongan,
G.A. Talaen, L.F. Bustilo, E.T. Tech, A. Unggui, dan T.E. Chua. 1987.
Shrimp Hatchery Design Operasional and Management (Desain
Pengoperasiandan Pengelolaan). Terjemahan Suyanto, R. dan Harjono.
NACA Training.

Nur, A. 2011. Manajemen Pemeliharaan Udang Vaname. Badan


Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan. Kementerian Kelautan dan
Perikanan. pp. 8.

Nurdjana M.L., Anindianstuti dan B. Saleh. 1983. Produksi Induk Matang


Telur Udang Penaeid. Direktorat Jenderal Perikanan dan Departemen
Pertanian. BBAP Jepara. pp. 12-13.

Nurdjana M.L. 1985. Pengaruh Ablasi Mata Terhadap Perkembangan


Telur Dan Embrio, Serta Kualitas Larva Udang Windu (Penaeus
monodon). Disertasi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. 438 hlm.
Prihatman, K. 2001. Saponin untuk Pembasmi Hama Udang. Laporan
Hasil Penelitian. Pusat Penelitian Perkebunan Gambung. Bandung.

Susanto, A.B., K. Peranginangin, Khoironi, N. Maharani, D. Ariana dan A.


Saefudin. 2004. Pemilihan dan Pemeliharaan Induk Udang. Direktorat
Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. pp.
10-13, 17-23.

Suyanto, S., Rachmatun dan P.T. Enny. 2009. Panduan Budidaya Udang
vaname. Penebar Swadaya. Jakarta,143 hlm.

Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-6142. 2006. Induk udang vaname.


Badan Standarisasi Nasional, pp. 1–8.

Taqwa, F.H. 2008. Penurunan Salinitas dan Waktu Penggantian Pakan


Alami oleh Pakan Buatan terhadap Performa Pasca Larva Udang Vaname
(Litopenaeus vannamei) [Thesis]. Institut Pertanian Bogor, Bogor (ID), pp.
7.

Wyban, J.A. and J. Sweeney. 1991. Intensive Shrimp Production


Technology. Honolulu, Hawaii. USA. pp 84-89, 102-105.