Anda di halaman 1dari 21

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR.........................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................ii
BAB I : PENDAHULUAN...............................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG........................................................................................1
1.2 RUMUSAN MASALAH..................................................................................2
1.3 MAKSUD DAN TUJUAN MAKALAH..........................................................2
BAB II : PEMBAHASAN.................................................................................................3
2.1 PENGERTIAN PASAR MONOPOLISTIS......................................................3
2.2 CIRI-CIRI PASAR PERSAINGAN MONOPOLISTIS....................................3
2.3 KESEIMBANGAN DALAM PASAR PERSAINGAN MONOPOLISTIS.....5
2.4 PENILAIAN ATAS PERSAINGAN MONOPOLISTIS.................................10
2.5 PERSAINGAN BUKAN-HARGA.................................................................14
2.6 KEBAIKAN DAN KEBURUKAN PENGIKLANAN...................................15
2.7 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PASAR MONOPOLISTIS..................17
BAB III : PENUTUP.......................................................................................................19
3.1 KESIMPULAN...............................................................................................19
3.2 SARAN............................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Usaha seseorang untuk selalu memenuhi kebutuhan hidupnya selalu dilakukan


sejak zaman dahulu kala. Sebelum adanya jual beli seseorang memenuhi kebutuhan
hidupnya dengan bertukar barang dengan orang lain yang memiliki barang yang ia
butuhkan (barter). Namun, barter bukanlah hal yang efisien bagi seseorang untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena terkadang barang yang ditukar tidak seimbang
nilainya dengan barang yang didapat. Seiring berkembangnya zaman akhirnya didapat
satuan pengukur nilai suatu barang yaitu uang. Setelah orang-orang mengenal uang
maka sistem barter tidak lagi berlaku, akan tetapi yang ada adalah sistem jual beli.

Pasar merupakan salah satu tempat krusial yang tidak dapat lepas dari kehidupan
manusia. Manusia dalam memenuhi kebutuhannya pasti membutuhkan pasar, karena
seperti yang kita ketahui, di pasar lah barang kebutuhan manusia tersedia. Pasar adalah
salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur
dimana usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan
uang. Barang dan jasa yang dijual menggunakan alat pembayaran yang sah seperti uang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari perekonomian. Ini adalah pengaturan yang
memungkinkan pembeli dan penjual untuk item pertukaran. Menurut organisasinya
pasar dapat dibedakan menjadi 2, yaitu pasar persaingan sempurna, dan pasar
persaingan tidak sempurna. Pasar persaingan tidak sempurna dibagi lagi menjadi 3
bagian yaitu pasar monopoli, pasar monopolistis, dan pasar oligopoli. Pada kesempatan
kali ini, kita akan membahas tentang pasar monopolistis. Melihat dari jenis barang yang
termasuk di dalamnya, pasar tipe ini merupakan salah satu pasar yang begitu dekat
dengan kehidupan kita sehari-hari.

Produsen yang berhasil dalam menjalankan suatu usaha tidak akan menutup
kemungkinan usaha tersebut akan diikuti oleh orang lain. Apalagi didukung oleh
sumber daya alam yang melimpah yang memungkinkan untuk seseorang memproduksi

1
barang dengan jumlah yang banyak. Indonesia merupakan Negara yang memiliki
kekayaan alam yang melimpah sehingga dengan mudah setiap produsen mendapat
bahan untuk berproduksi. Ketika banyak produsen memproduksi barang yang sama,
walaupun dengan kemasan, merk dan kualiatas yang berbeda. Maka disinilah terjadi
pasar persaingan monopolistis.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Dari latar belakang di atas dapat di buat beberapa rumusan masalah yaitu :
1. Apakah pengertian dari pasar persaingan monopolistis?
2. Bagaimana ciri-ciri pasar persaingan monopolistis?
3. Bagaimana keseimbangan dalam pasar persaingan monopolistis?
4. Bagaimana penilaian atas persaingan monopolistis?
5. Apa yang dimaksud dengan persaingan bukan-harga ?
6. Apa saja kebaikan dan keburukan pasar persaingan monopolistis?
7. Apa saja kebaikan dan keburukan pengiklanan?

1.3 MAKSUD DAN TUJUAN MAKALAH


Tujuan pembuatan makalah ini adalah:
1. Memberikan penjelasan mengenai pengertian pasar persaingan monopolistis.
2. Menjelasakan tentang ciri-ciri dari pasar persaingan monopolistis.
3. Menjelaskan tentang keseimbangan dalam pasar persaingan monopolistis.
4. Menjelaskan tentang penilaian atas persaingan monopolistis.
5. Memberikan penjelasan tentang persaingan bukan-harga.
6. Menjelaskan tentang kebaikan dan keburukan pasar persaingan monopolistis.
7. Menjelaskan tentang kebaikan dan keburukan dari pengiklanan.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN PASAR MONOPOLISTIS


Pasar persaingan monopolistis pada dasarnya adalah pasar yang berada di antara
dua jenis pasar yang ekstrem, yaitu persaingan sempurna dan monopoli. Oleh sebab itu
sifat-sifatnya mengandung unsur-unsur sifat pasar monopoli dan unsur-unsur sifat pasar
persaingan sempurna. Pasar persaingan monopolistis dapat didefinisikan sebagai suatu
pasar di mana terdapat banyak produsen yang menghasilkan barang yang berbeda
corak (differentiated products).

2.2 CIRI-CIRI PASAR PERSAINGAN MONOPOLISTIS


Ciri-ciri pasar persaingan monopolistis adalah sebagai berikut :
1. Terdapat Banyak Penjual
Terdapat cukup banyak penjual dalam pasar persaingan monopolistis, namun
demikian tidaklah sebanyak seperti dalam pasar persaingan sempurna. Apabila di
dalam pasar sudah terdapat beberapa puluh perusahaan, maka pasar persaingan
monopolistis sudah mungkin terwujud. Dimana perusahaan dalam pasaran
monopolistis mempunyai ukuran yang relatif sama besarnya.
2. Barangnya Bersifat Berbeda Corak (Diferensiasi Produk)
Ciri ini merupakan sifat yang terpenting dalam membedakan antara pasar
persaingan monopolistis dan persaingan sempurna. Produksi dalam pasar persaingan
monopolistis berbeda coraknya dan secara fisik mudah dibedakan diatara produksi
suatu perusahaan dengan produksi perusahaan lainnya. Di samping perbedaan dalam
bentuk fisik barang tersebut terdapat pula perbedaan-perbedaan dalam
pengemasannya, perbedaan dalam bentuk “jasa perusahaan setelah penjualan” dan
perbedaan dalam cara membayar barang yang dibeli. Sebagai akibat dari perbedaan-
perbedaan ini, barang yang diproduksikan oleh perusahaan-perusahaan dalam pasar
persaingan monopolistis bukanlah barang yang bersifat pengganti sempurna kepada
barang yang diproduksikan perusahaan lain. Mereka hanya merupakan pengganti yang
dekat atau close substitute. Perbedaan dalam sifat barang yang dihasilkan inilah yang
menjadi sumber dari adanya kekuasaan monopoli, walaupun kecil, yang dimiliki oleh
perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis.
3. Perusahaan Mempunyai Sedikit Kekuasaan Mempengaruhi Harga
Berbeda dengan perusahaan dalam pasar persaingan sempurna, yang tidak
mempunyai kekuasaan dalam mempengaruhi harga, perusahaan dalam pasar
persaingan monopolistis dapat mempengaruhi harga. Namun demikian, pengaruhnya
ini relatif kecil kalau dibandingkan dengan perusahaan oligopoli dan monopoli.
Kekuasaan mempengaruhi harga oleh perusahaan monopolistis bersumber dari sifat
barang yang dihasilkannya, yaitu yang bersifat berbeda corak atau differentiated
produk. Perbedaan ini menyebabkan para pembeli bersifat memilih, yaitu lebih
menyukai barang dari sesuatu perusahaan tertentu dan kurang menyukai barang yang
dihasilkan perusahaan lainnya. Maka apabila sesuatu perusahaan menaikkan harga
barangnya, ia masih dapat menarik pembeli walaupun jumlah pembelinya tidak
sebanyak seperti sebelum kenaikan harga. Sebaliknya, apabila perusahaan
menurunkan harga, tidaklah mudah untuk menjual semua barang yang diproduksinya.
Banyak di antara konsumen di pasar masih tetap membeli barang yang dihasilkan
oleh perusahaan-perusahaan lain, walaupun harganya sudah menjadi relatif lebih
mahal.
4. Penjual Dapat Keluar Masuk Pasar Relatif Mudah
Perusahaan yang akan masuk dan menjalankan usaha di dalam pasar persaingan
monopolistis tidak akan banyak mengalami kesukaran. Hal ini dikarenakan, modal
yang diperlukan relatif besar kalau dibandingkan dengan mendirikan perusahaan
dalam pasar persaingan sempurna dan perusahaan itu harus menghasilkan barang yang
berbeda coraknya dengan yang sudah tersedia di pasar, serta mempromosikan barang
tersebut untuk memperoleh langganan. Maka perusahaan baru yang masuk di pasar
persaingan monopolistis harus berusaha memproduksi barang yang lebih menarik dari
yang sudah ada di pasar, dan harus dapat meyakinkan konsumen akan kebaikan mutu
barang tersebut.
5. Promosi Penjualan Harus Aktif
Harga bukanlah penentu utama dari besarnya pasar dari perusahaan-perusahaan
dalam pasar persaingan monopolistis. Suatu perusahaan mungkin menjual barangnya
dengan harga relatif tinggi, tetapi masih dapat menarik banyak pelanggan. Sebaliknya
suatu perusahaan lain mungkin harga barangnya rendah, tetapi tidak banyak menarik
pelanggan. Keadaan seperti ini disebabkan oleh sifat barang yang mereka hasilkan,
yaitu barang yang bersifat berbeda corak, citarasa pembeli, para pengusaha melakukan
persaingan bukan-harga. Persaingan yang demikian itu antara lain adalah dalam
rangka memperbaiki mutu dan desain barang, melakukan kegiatan iklan yang terus
menerus, memberikan syarat penjualan yang menarik dan sebagainya.

2.3 KESEIMBANGAN DALAM PASAR PERSAINGAN MONOPOLISTIS


Ciri-ciri persaingan monopolistis seperti yang telah dijelaskan pada bab
sebelumnya menimbulkan pengaruh yang cukup penting atas corak permintaan yang
dihadapi oleh perusahaan dalam persaingan monopolistis. Kurva permintaan yang
dihadapi oleh perusahaan dalam persaingan monopolistis adalah lebih elastis dari yang
dihadapi oleh perusahaan dalam persaingan monopolistis adalah lebih elastis dari yang
dihadapi monopoli, tetapi elastisitansya tidak sampai mencapai elastis sempurna (yaitu
kurva permintaan sejajar dengan sumbu datar) yang mana merupakan kurva permintaan
yang dihadapi suatu perusahaan dalam persaingan sempurna. Maka pada hakikatnya
kurva permintaan atas barang produksi perusahaan dalam persaingan monopolistis
adalah bersifat menurun secara sedikit demi sedikit (lebih mendatar dan bukan turun
dengan curam). Kurva permintaan yang bersifat seperti ini berarti : (i) apabila
perusahaan menaikkan harga maka jumlah barang yang dijualnya menjadi sangat
berkurang, dan sebaliknya (ii) apabila perusahaan menurunkan harga maka jumlah
barang yang dijualnya menjadi sangat bertambah.
Oleh karena kurva permintaan dalam persaingan monopolistis tidak bersifat elastis
sempurna, kurva hasil penjualan marjinal (MR) tidak berimpit dengan kurva
permintaan. Dalam persaingan monopolistis kurva MR adalah sama seperti yang
terdapat dalam monopoli, yaitu kurva tersebut terletak di bawah kurva permintaan.
1. Keseimbangan Pasar Jangka Pendek
Oleh karena kurva permintaan adalah menurun sedikit demi sedikit, dan sebagai
akibatnya kurva MR tidak berimpit dengan kurva permintaan, keseimbangan yang
dicapai suatu perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis adalah sama
dengan di dalam monopoli. Bedanya, di dalam monopoli yang dihadapi adalah
permintaan dari seluruh pasar, sedangkan dalam persaingan monopolistis,
permintaan yang dihadapi perusahaan adalah sebagian dari keseluruhan
permintaan pasar.
Berikut ini adalah grafik perusahaan monopolistis yang mana perusahaan
memperoleh keuntungan :

Gambar 1

Keuntungan maksimum akan diperoleh apabila perusahaan memproduksi pada tingkat


dimana keadaan MC = MR tercapai. Maka keuntungan maksimum tercapai apabila
jumlah produksi adalah Q dan pada tingkat produksi ini tingkat harga adalah P. Segi
empat PABC menunjukkan jumlah keuntungan maksimum yang dinikmati perusahaan
monopolistis itu. Sedangkan untuk grafik yang menunjukkan perusahaan mengalami
kerugian adalah sebagai berikut :

Gambar 2

Pada saat perusahaan mengalami kerugian, kerugian dapat diminimumkan apabila


keadaan MC = MR tercapai. Ini berarti perusahaan harus mencapai tingkat produksi
sebanyak Q. Pada tingkat produksi ini harga mencapai P. Besarnya kerugian yang
diderita digambarkan oleh kotak PABC. Walaupun mengalami kerugian perusahaan
akan terus beroperasi selama hasil penjualannya melebihi jumlah biaya berubah (atau
harga melebihi AVC).
Untuk lebih memperjelas tentang pemahaman dalam memaksimumkan
keuntungan pada pasar persaingan monopolistis, maka terdapat contoh soal sebagai
berikut :
Diketahui fungsi permintaan perusahaan “Herlambang” dalam pasar persaingan
monopolistic adalah P = 100 - 2Q. Sedangkan fungsi biayanya adalah TC = 5 + 2Q dan
MR = 100 – 4Q. Dalam hal ini p = tingkat harga, q = tingkat out put dan TC = biaya
total. Tentukan kombinasi harga dan tingkat produksi yag memaksimumkan keuntungan
perusahaan. Hitunglah laba yang diperoleh perusahaan.

Penyelesaian :
P = 100 - 2Q
TR = PQ
MR = 100 - 4Q
MC = 2
Syarat tercapainya laba maksimum adalah MR = MC
100 - 4Q = 2
4Q = 98
Q = 24,5
P = 100 - (2 x 24,5)
P = 51
π = TR - TC
= (51x24,5) – (5 + 2x24,5)
= 1195,5
2. Keseimbangan Pasar Jangka Panjang
Dalam pasar persaingan monopolistis, setiap perusahaan hanya mendapat
keuntungan normal di dalam jangka panjang. Keseimbangan jangka panjang
memerlukan syarat keseimbangan jangka pendek dan keuntungan sama dengan nol
untuk semua perusahaan yang representatif.

Implikasi dari model persaingan monopolistis ini merupakan gabungan dari


implikasi dari persaingan sempurna dan monopoli, antara lain:
a. Harga lebih besar dari marginal Cost (P>MC)
b. Keuntungan sama dengan nol.
c. AC lebih besar dari titik minimum pada kurva LRAC
Ketiga kondisi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
a. Harga (P) Lebih besar dari Marginal Cost (MC) P>MC

Gambar 3

Jadi keseimbangan dalam pasar monopolistis jangka panjang akan terjadi pada saat :
1. MR = MC
2. Kurva AC dan kurva DD berpotongan pada tingkat harga dan kuantitas yang
dapat memaksimalkan keuntungan.
3. Keuntungan sama dengan nol
Pada gambar diatas, keseimbangan jangka panjang tersebut akan terjadi pada kuantitas
QL dan harga PL. pada titik (QL,PL) tersebut syarat tersebut terpenuhi.

b. Keuntungan Sama dengan Nol


Keuntungan akan sama dengan nol dalam keseimbangan jangka panjang, karena ada
kemudahan untuk memasuki pasar, sehingga keuntungan di atas tingkat normal akan
segera hilang. Keadaan ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 4

Pada gambar diatas, kurva dd akan bersinggungan dengan kurva LRAC dalam
keseimbangan jangka panjang. Jika keuntungan sama dengan nol, maka P harus sama
dengan AC. Jika kurva dd diatas kurva LRAC pada setiap titik, maka paling tidak akan
ada sebuah ukuran pabrik yang menghasilkan keuntungan yang positif. Selama masih
ada perusahaan yang memperoleh keuntungan positif, maka masih terdapat peluang
bagi perusahaan lain memasuki industri. Penyesuaian menuju keseimbangan pada posisi
keuntungan sama dengan nol dapat dijelaskan melalui penyesuaian masuknya beberapa
perusahaan baru ke pasar. Atau melalui persaingan harga antar perusahaan yang terdapat
dalam industri. Untuk menjelaskan pernyataan diatas dapat digambarkan sebagai
berikut:

Gambar 5

Gambar diatas menjelaskan bahwa pada awalnya kurva permintaan yang dihadapi oleh
perusahaan dalam pasar monopolistis adalah dd dan biaya dalam jangka panjang adalah
LRAC, sedangkan biaya marginalnya adalah LRMC. Harga yang terbentuk P* dan
output yang dijual sebanyak Q*. Pada posisi ini perusahaan menikmati keuntungan
supernormal. Adanya keuntungan dalam industri ini merangsang perusahaan lain untuk
memasuki pasar, sehingga permintaan tidak lagi pada posisi dd, melainkan bergeser ke
bawah. Proses bergesernya kurva permintaan dan masuknya perusahaan baru ini akan
terus berlangsung sampai kurva permintaan penyinggung LRAC jangka panjang, yaitu
pada kurva permintaan d’d’. Pada kondisi ini, kurva permintaan tidak lagi
kecenderungan untuk turun karena pada Posisi ini keuntungan perusahaan sama dengan
nol, sehingga tidak lagi mendorong perusahaan baru untuk memasuki industri. Harga
yang terbentuk menjadi P** dan output yang dapat dijual menjadi berkurang hanya
pada Q**. Proses menuju keseimbangan sama dengan nol juga bisa terjadi melalui
perang harga antar perusahaan sehingga menggeser kurva permintaan masing masing
perusahaan. Hal ini dapat dijelaskan dengan gambar berikut ini:
Gambar 6

Kondisi awal perusahaan berada pada ketidakseimbangan. Untuk menigkatkan


penjualannya perusahaan tersebut menurunkan harganya menjadi P1 dengan harapan
kuantitas penjualan dapat ditingkatkan sebesar Q1 namun kondisi ini tidak terjadi
karena perusahaan lain juga melakukan hal yang sama begitu seterusnya sampai tercipta
kondisi dimana semua perusahaan tidak lagi bersedia menurunkan harganya karena
mereka hanya menikmati keuntungan normal (P=AC) dan proses perang harga ini akan
terhenti pada harga P**. Dua analisis diatas telah menjelaskan bahwa perang harga
maupun proses masuknya perusahaan baru ke dalam industri akan terhenti bila
perusahaan yang ada dalam pasar berada pada posisi keuntungan sama dengan nol. Oleh
karena itu, pasar monopolistis keuntungan sama dengan nol merupakan keseimbangan
jangka panjang.

c. Kelebihan Kapasitas (Exces Capacity)


Pasar persaingan monopolistis bisa mengakibatkan kelebihan kapasitas. Ada
kecenderungan dalam jangka panjang untuk mengurangi AC (biaya rata-rata)
perusahaan dalam pasar monopolistic cenderung meningkatkan produksinya dan akan
mengurangi pabrik-pabrik yang dimilikinya. Kondisi ini akan dapat menyebabkan
kelebihan pasokan.

2.4 PENILAIAN ATAS PERSAINGAN MONOPOLISTIS


Di dalam bagian ini analisis yang dibuat hanya meliputi penilaian atas efek dari
pasar bersifat persaingan monopolistis kepada penggunaan sumber-sumber daya,
dorongan untuk mengembangkan teknologi dan melakukan inovasi, serta corak
distribusi pendapatan. Salah satu kegiatan penting yang dilakukan oleh perusahaan
monopolistis adalah melakukan promosi penjualan secara iklan. Kebaikan dan
keburukan dari kegiatan ini akan dinilai dalam bagian berikut.

1. Efisiensi Dalam Menggunakan Sumber Daya

Untuk menilai sampai di mana efisiensi pasar persaingan monopolistis di dalam


mengalokasikan sumber-sumber daya, akan dibuat suatu perbandingan dengan efisiensi
perusahaan dalam pasar persaingan sempurna. Perbandingan tersebut menunjukkan
keseimbangan suatu perusahaan dalam pasar persaingan sempurna dan keseimbangan
suatu perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis. Kedua keadaan keseimbangan
tersebut adalah di dalam jangka panjang. Dalam membuat perbandingan tersebut biaya
produksi dalam perusahaan persaingan sempurna dan perusahaan monopolistis
bersamaan. Dengan demikian ACS = ACm dan MCS = MCm.

MC
P ACs

Ps MR

O Qs Q
(i) Persaingan Sempurna

P
MC
ACm
D

Pm
Ps

MR

O Qm Qs Q
(ii) Persaingan Monopolistis
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa:
 Biaya produksi per unit adalah pada tingkat yang paling minimum, Biaya per unit
adalah Ps.

 Harga yang berlaku di pasar adalah PS.

 Jumlah barang yang diproduksikan adalah Qs.

Sedangkan keadaan yang satu lagi menunjukkan bahwa:


 Biaya produksi per unit perusahaan monopolistis adalah lebih tinggi dari biaya
produksi per unit yang paling minimum. Biaya per unit adalah Pm.
 Hargayang berlaku di pasar adalah Pm.
 Jumlah barang yang diproduksikan adalah Qm.
Kesimpulan pokok yang dapat dibuat dari membuat perbandingan tersebut adalah:
walaupun perusahaan persaingan sempurna dan perusahaan monopolistis
sama-sama mendapat keuntungan normal, tetapi dalam perusahaan monopolistis
biaya produksi per unit lebih tinggi, harga barang lebih tinggi, dan jumlah
produksi lebih rendah (sehingga menyebabkan kapasitas memproduksi yang
digunakan adalah di bawah tingkat yang optimal).

Kesimpulan di atas menunjukkan bahwa perusahaan persaingan sempurna adalah lebih


efisien dari perusahaan monopolistis di dalam menggunakan sumber-sumber daya. Baik
ditinjau dari sudut efisiensi produktif (seperti telah diterangkan ia dicapai apabila biaya
produksi per unit adalah yang paling minimum), maupun dari sudut efisiensi alokatif (ia
dicapai apabila harga sama dengan biaya marginal) perusahaan dalam persaingan
sempurna adalah lebih efisien dari perusahaan dalam persaingan monopolistis.
2. Efisiensi Dan Diferensiasi Produksi
Telah diterangkan dalam analisis sebelum ini bahwa barang-barang yang dihasilkan
oleh perusahaan-perusahaan persaingan monopolistis bersifat berbeda corak, yaitu ia
berbeda dari segi mutu barangnya, pembukusannya, dan pelayanan setelah penjualan.
Perbedaan-perbedaan ini menyebabkan para konsumen mempunyai pilihan yang lebih
baik dari pilihan yang dapat dibuat mereka di dalam pasar persaingan sempurna.
Pilihan lebih baik, ini dapatlah dipandang sebagai kompensasi kepada penggunaan
sumber- sumber daya yang kurang efisien seperti yang baru saja diterangkan.

Persoalannya sekarang adalah: manakah yang lebih baik kepada masyarakat?


Barang yang diproduksikan secara efisien sehingga dapat dijual dengan harga murah?
Ataukah harga yang lebih mahal sedikit tetapi masyarakat dapat menentukan barang
yang akan dikonsuminya dan pilihan jenis barang yang lebih banyak? Ini merupakan
persoalan normatif, yang jawaban sangat tergantung kepada value judgment masyarakat
tersebut. Sekiranya mereka lebih menyukai harga yang murah, maka kekurangan pilihan
tidak dipandang sebagai suatu yang merugikan. Sebaiknya, apabila masyarakat
menginginkan pilihan barang yang lebih banyak, sehingga dapat dibuat pilihan yang
lebih tepat, harga yang lebih tinggi sedikit tidaklah perlu terlalu dirisaukan.

3. Perkembangan Teknologi Dan Inovasi

Sampai di manakah persaingan monopolistis akan mendorong perkembangan


teknologi dan inovasi? Pada umumnya ahli ekonomi berpendapat bahwa pasar
persaingan monopolistis memberikan dorongan yang sangat terbatas untuk melakukan
perkembangan teknologi. Terbatasnya dorongan tersebut disebabkan karena dalam
jangka panjang perusahaan hanya memperoleh keuntungan normal. Keuntungan yang
melebihi normal di dalam jangka pendek dapat mendorong kepada kegiatan
mengembangkan teknologi. Tetapi dorongan tersebut adalah sangat lemah karena
perusahaan-perusahaan menyadari bahwa keuntungan yang diperoleh dari
mengembangkan teknologi dan melakukan inovasi tidak dapat bertahan dalam jangka
waktu yang lama. Keuntungan melebihi normal yang diperoleh akan mendorong
perusahaan-perusahaan lain untuk masuk ke industri tersebut, dan ini akan terus
berlangsung sehingga keuntungan melebihi normal tidak ada lagi. Maka dalam jangka
panjang keuntungan yang diperoleh dari perkembangan teknologi dan melakukan
inovasi tidak dapat lagi dinikmati.

4. Distribusi Pendapatan
Persaingan monopolistis mengakibatkan corak distribusi pendapatan yang sama
sifatnya seperti yang biasanya terdapat dalam persaingan sempurna, yaitu distribusi
pendapatan adalah seimbang. Karana tidak terdapat keuntungan yang berlebih-lebihan
dalam jangka panjang, maka pengusaha dan pemilik modal tidak memperoleh
pendapatan yang berlebih-lebihan. Di samping itu dalam pasar terdapat banyak
perusahaan, dan ini berarti keuntungan normal yang diperoleh akan dibagikan kepada
jumlah pemilik modal dan pengusaha yang banyak jumlahnya. Berdasarkan kepada
kecenderungan ini ahli-ahli ekonomi berpendapat bahwa pasar persaingan monopolistis
menimbulkan distribusi pendapatan yang lebih merata.
2.5 PERSAINGAN BUKAN-HARGA
Persaingan bukan-harga pada hakikatnya mengandung arti usaha –usaha di luar
perubahan harga yang dilakukan oleh perusahaan untuk menarik lebih banyak pembeli
atas barang yang diproduksinya. Maka pada hakikatnya usaha-usaha untuk melakukan
persaingan bukan-harga bertujuan untuk memindahkan kurva permintaan ke kanan.
Perpindahan itu berarti pada setiap tingkat pendapatan dan kesempatan kerja, jumlah
barang yang diminta menjadi bertambah banyak. Persaingan bukan-harga dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Diferensiasi Produksi
Setiap perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis akan berusaha untuk
memproduksi barang yang mempunyai sifat yang khusus, dan yang dapat dengan jelas
dibedakan dari produksi perusahaan-perusahaan lainnya. Maka di dalam pasar akan
terdapat berbagai barang yang dihasilkan suatu industri yang mempunyai corak, mutu,
desain, mode dan merek yang berbeda-beda.terdapatnya berbagai variasi dari suatu jenis
barang adalah sifat istimewa dari pasar persaingan monopolis, yang tidak terdapat
dalam pasar persaingan sempurna. Terdapat barang yang beraneka ragam coraknya di
pasar persaingan monopolistis menimbulkan keuntungan kepada perusahaan maupun
kepada para konsumen.
Kepada setiap perusahaan, barang yang berbeda-beda sifatnya tersebut akan menjadi
daya tarik khusus atas barang yang diproduksinya. Beberapa konsumen tertentu akan
lebih suka membeli barangnya (walaupun harganya lebih mahal) kalau dibandingkan
dengan barang-barang yang sejenis yang dihasilkan produsen-produsen lain. Dengan
demikian diferensiasi produksi dapat menciptakan suatu bentuk kekuasaan monopoli.
Dengan menghasilkan suatu barang tertentu yang berbeda dari barang lainnya,
perusahaan menciptakan suatu penghambat kepada perusahaan-perusahaan lain untuk
menarik para pelanggannya. Diferensiasi produksi memungkinkan seorang produsen
dalam pasar monopolistis untuk tetap menjual produksinya (tetapi jumlahnya semakin
sedikit) apabila ia menaikkan harga. Tetapi sebaliknya, produsen itu dapat menarik
sebagian dari langganan perusahaan-perusahaan lain, sekiranya ia menurunkan harga
penjualan barangnya.
Kepada para konsumen, barang yang sejenis tetapi berbeda corak tersebut
menimbulkan suatu keuntungan pula, yaitu pilihan mereka untuk membeli sesuatu
barang menjadi lebih beraneka ragam. Ini memungkinkan mereka memilih barang yang
benar-benar sesuai dengan keinginannya. Berdasarkan para ahli-ahli ekonomi, mereka
banyak yang memandang pilihan yang beraneka ragam itu sebagi suatu kompensasi
terhadap ketidakefisienan persaingan monopolistis di dalam menggunakan sumber-
sumber daya.
2. Iklan Dan Berbagai Bentuk Promosi Penjualan
Di dalam perusahaan-perusahaan modern kegiatan mempersiapkan dan membuat
iklan adalah suatu bagian penting dari usaha untuk memasarkan hasil produksinya.
Pengeluaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan untuk pengiklanan meliputi jumlah
yang cukup besar yang adakalanya menimbulkan pertambahan yang nyata pada biaya
produksi. Perusahaan-perusahaan melakukan kegiatan pengiklanan untuk mencapai
salah satu atau gabungan dari tiga tujuan berikut ini :
a. Untuk memberikan informasi mengenai produk.
b. Untuk menekankan kualitas suatu produk secara persuasive
c. Untuk memelihara hubungan baik dengan para konsumen

2.6 KEBAIKAN DAN KEBURUKAN PENGIKLANAN


Di dalam menilai apakah iklan memberikan manfaat kepada masyarakat, terdapat
berbagai pendapat. Beberapa orang berkeyakinan bahwa iklan merupakan suatu
penghamburan karena biaya produksi bertambah tinggi sedangkan konsumen tidak
menerima kenikmatan tambahan dari barang yang dipromosikan melalui kegiatan
pengiklanan. Pengiklanan tidak menambah atau memperbaiki mutu suatu barang. Selain
itu juga ada yang berpendapat bahwa iklan memberikan sumbangan yang positif kepada
masyarakat karena ia dapat menurunkan biaya produksi per unit. Di samping perbedaan
pendapatn mengenai pengaruh iklan atas biaya produksi dan harga, perbedaan pendapat
mengenai kegunaan iklan dikemukakan berdasarkan beberapa argumen lain, yaitu
sebagai berikut :
1. Iklan dan Biaya Produksi
Adakah iklan akan menaikkan atau menurunkan biaya produksi per unit ? Keduanya
mungkin berlaku, dan ia tergantung kepada perubahan permintaan yang terjadi sebagai
akibat kegiatan pengiklanan yang dilancarkan. Apabila permintaan menjadi sangat
bertambah elastis, besar kemungkinan biaya produksi per unit akan menjadi lebih
rendah. Tetapi kemungkinan ini tidak banyak berlaku, dan ini berarti bahwa pada
umumnya iklan akan menimbulkan kenaikan biaya produksi. Perbedaan pendapat
mengenai pengaruh iklan kepada biaya produksi dan harga dapat diterangkan pada
gambar di bawah ini :
P AC1

AC
P2 A
P1 C

D3
D2

D1
O Q1 Q1 Q1 Q
Pengaruh Iklan terhadap Biaya Produksi
Biaya rata-rata jangka panjang dari suatu perusahaan monopolistis sebelum
melakukan kegiatan pengiklanan adalah AC. Permintaan atas barang yang diproduksi
oleh perusahaan itu adalah D1. Maka keseimbangan jangka panjang perusahaan
monopolistis tersebut dicapai pada titik A, dan keseimbangan ini menunjukkan bahwa
harga pasar mencapai P1 dan jumlah barang yang akan diproduksikan perusahaan
monopolistis tersebut adalah Q1.
Apabila perusahaan melakukan pengiklanan biaya produksi akan menjadi lebih
tinggi dan ini dicerminkan oleh kenaikan kurva biaya rata-rata dari AC menjadi AC 1.
pada waktu yang sama usaha mempromosikan penjualan melalui iklan tersebut
menyebabkan permintaan atas produksi perusahaan bertambah. Apabila permintaan
tersebut bertambah dari D1 ke D2, keseimbangan menyebabkan jumlah barang yang
dijual bertambah dari Q1 ke Q2, akan tetapi iklan tersebut menaikkan harga dari P 1
menjadi P2. Berdasarkan keadaan tersebut, beberapa ahli ekonomi berpendapat bahwa
iklan merupakan suatu penghamburan karena ia menaikkan biaya produksi tanpa
membuat suatu perubahan apapun atas bentuk, berat dan mutu suatu barang.
Namun, beberapa ahli ekonomi lain tidak sependapat dengan kesimpulan di atas,
dan sebaliknya berpendapat bahwa iklan adalah sangat berguna karena ia akan dapat
menurunkan biaya produksi per unit. Promosi penjualan melalui iklan, menurut mereka,
akan menyebabkan permintaan berubah dari D1 menjadi D3. Maka keseimbangan jangka
panjang dari suatu perusahaan monopolistis yang melakukan kegiatan iklan akan
dicapai di titik C. Ini berarti iklan menaikkan jumlah penjualan yang cukup banyak,
yaitu dari Q1 menjadi Q3. Pertambahan penjualan yang banyak menyebakan biaya
produksi per unit semakin rendah, dan memungkinkan perusahaan menjual barangnya
pada harga yang lebih rendah dari harga pada waktu belum ada iklan (P1), yaitu harga
penjualan yang sekarang adalah P3.
2. Pandangan lain yang mendukung pengiklanan
Bebarapa keuntungan dari menggunakan pengiklanan adalah sebagai berikut :
a. Pengiklanan membantu konsumen untuk membuat keputusan yang lebih baik di
dalam menentukan jenis-jenis barang yang akan dibelinya.
b. Iklan akan menggalakkan kegiatan memperbaiki mutu suatu barang.
c. Iklan membantu membiayai perusahaan komunikasi masa seperti radio, televisi,
surat kabar dan majalah.
d. Iklan menaikkan kesempatan kerja.
3. Pandangan lain yang mengkritik pengiklanan
Beberapa kekurangan dari pengiklanan adalah sebagai berikut :
a. Promosi secara iklan adalah suatu penghamburan.
b. Iklan tidak selalu memberi informasi yang benar.
c. Iklan bukanlah suatu cara yang efektif untuk menambah jumlah pekerjaan dalam
perekonomian.
d. Iklan dapat menjadi penghambat kepada perusahaan-perusahaan baru untuk
masuk ke dalam industri.

2.7 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN PASAR MONOPOLISTIS


Keuntungan dari Pasar Monopolistis adalah sebagai berikut :
1. Banyaknya produsen di pasar memberikan keuntungan bagi konsumen untuk
dapat memilih produk yang terbaik baginya.
2. Kebebasan keluar masuk bagi produsen, mendorong produsen untuk selalu
melakukan inovasi dalam menghasilkan produknya.
3. Diferensiasi produk mendorong konsumen untuk selektif dalam menentukan
produk yang akan dibelinya, dan dapat membuat konsumen loyal terhadap produk
yang dipilihnya.
4. Pasar ini relatif mudah dijumpai oleh konsumen, karena sebagian besar kebutuhan
sehari-hari tersedia dalam pasar monopolistik.
5. Adanya distribusi pendapatan dalam masyarakat yang lebih merata. Oleh karena
perusahaan terdiri dari perusahaan-perusahaan kecil yang memperoleh untung
normal, pemilik modal tak memiliki kekayaan yang berlebihan dan kesempatan
kerja yang diciptakan lebih besar.

Sedangkan Kerugian dari Pasar Monopolistis adalah sebagai berikut :

1. Pasar monopolistik memiliki tingkat persaingan yang tinggi, baik dari segi harga,
kualitas maupun pelayanan. Sehingga produsen yang tidak memiliki modal dan
pengalaman yang cukup akan cepat keluar dari pasar.
2. Dibutuhkan modal yang cukup besar untuk masuk ke dalam pasar monopolistik,
karena pemain pasar di dalamnya memiliki skala ekonomis yang cukup tinggi.
3. Pasar ini mendorong produsen untuk selalu berinovasi, sehingga akan
meningkatkan biaya produksi yang akan berimbas pada harga produk yang harus
dibayar oleh konsumen.
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Pasar persaingan monopolistis adalah suatu pasar di mana terdapat banyak
produsen yang menghasilkan barang yang berbeda corak (differentiated products).
Dimana memiliki ciri-ciri yaitu terdapat banyak penjual, barangnya bersifat berbeda
corak, dapat mempengaruhi harga, keluar masuk relatif mudah, dan banyak melakukan
persaingan bukan-harga.
Dalam jangka pendek suatu perusahaan dalam pasar persaingan monopolistis
dapat memperoleh untung lebih normal, untung normal maupun mengalami kerugian.
Dan dalam jangka panjang, keuntungnan akan menimbulkan masuknya perusahaan baru
dan kerugian akan mendorong perusahaan keluar dari pasar persaingan monopolistis.
Oleh sebab itu, dalam jangka panjang semua perusahaan dalam persaingan
monopolistis hanya memperoleh untung normal.
Persaingan monopolistis memiliki kelebihan, yaitu diantaranya adalah
menghasilkan barang yang berbeda corak dan distribusi pendapatan dalam masyarakat
lebih merata. Sedangkan kelemahannya adalah memiliki tingkat persaingan yang tinggi
dan dibutuhkan modal yang besar untuk dapat masuk dalam pasar persaingan
monopolistis.

3.2 SARAN
Berdasarkan uraian makalah, penulis memberikan saran kepada produsen yang
akan masuk ke dalam lingkungan pasar persaingan monopolistis agar dapat lebih kreatif
dan berinovasi lebih tinggi di pasar persaingan monopolistis. Supaya nantinya mampu
mengatasi segala permasalahan yang ada pada pasar persaingan monopolistis. Prinsip
kelebihan dan kelemahan dari pasar persaingan monopolistis dapat digunakan sebagai
dasar dalam mempelajari konsep pasar persaingan monopolistis.

19
DAFTAR PUSTAKA

Sukirno, Sadono.2012. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo


Persada.

http://www.smanepus.sch.id/kumpulan%20materi/KUMPULAN
%20MATERI/Ekonomi/kls%20x/mp_312/konsep.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar#Pasar_Menurut_Organisasinya

http://ikamaiyastri.blogspot.com/2010/12/pasar-persaingan-monopolistik.html

iii