Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Produksi singkong yang sangat tinggi telah mendorong cukup banyak berdirinya
industri tapioka yang tersebar di seluruh daerah di Provinsi Lampung dengan
skala produksi yang beragam salah satunya adalah industri tapioka rakyat. Industri
tapioka rakyat umumnya masih menggunakan peralatan produksi yang masih
sederhana menyebabkan pemakaian energi yang tidak terkontrol. Ubikayu dalam
keadaan segar tidak tahan lama. Pemasaran yang memerlukan waktu lama, ubi
kayu harus diolah dulu menjadi bentuk lain untuk pemasaran yang lebih lama agar
lebih awet seperti gaplek, tapioka (tepung ubi kayu), tapai, peuyeum, keripik
singkong dan lain-lain. Tapioka yang dibuat dari ubikayu mempunyai banyak
kegunaan, antara lain sebagai bahan baku berbagai industri, dibandingkan dengan
tepung jagung, kentang, dan gandum atau terigu, komposisi zat gizi tapioka lebih
baik (BPPT, 2006).

Pengolahan singkong menjadi tapioka saat ini sering menimbulkan masalah


lingkungan yang memang perlu perhatian khusus dan penangannanmya. Apabila
tidak ada tindakan secara serius maka limbah industri tapioka yang meliputi
limbah padat, cair dan gas, berpotensi besar mencemari lingkungan. Dengan ini
perlu dilakukan proses dengan basis produksi bersih untuk mengurangi, men

1.2 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah supaya mahasiswa mengetahui konsep
produksi bersih industri Tapioka di PD Semangat Jaya.
II. ISI

Industri tapioka rakyat (ITTARA) merupakan salah satu jenis usaha industri di
sektor pertanian yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap perkembangan
ekonomi masyarakat khususnya di Provinsi Lampung. Industri tapioka rakyat
menghasilkan tepung tapioka sebagai produk utama dan air limbah yang cukup
banyak. Sumber air limbah ITTARA berasal dari proses pencucian alat produksi,
proses pencucian singkong dan proses pengendapan pati. Setiap 1 ton singkong
yang diolah, akan menghasilkan air limbah 4.000 - 6.000 liter, (Aprizal, 2011).
Menurut Hasanudin (2007) dalam Usman (2011) bahwa air limbah industri
tapioka memiliki kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) berkisar 18.000 -
25.000 mg/L. Bahan organik yang terdapat pada air limbah tapioka umumnya
terdiri dari pati, serat, lemak dan protein. Nilai COD yang tinggi mampu
menurunkan kualitas lingkungan dan merusak ekosistem hayati. Senyawa organik
yang terurai menjadi metana (CH4) dan karbondioksida (CO2) ditandai dengan
menurunnya nilai COD pada air limbah.

Gambar 1. Air limbah industri tapioka


Singkong

Pengupasan kulit Kulit + kotoran

Air Pencucian Air buangan


singkong

Pengupasan kulit

Pemarutan

Air Ekstraksi Onggok

Pengendapan
Air buangan

Air Penjemuran Air

Penggilingan

Pengayakan

Tepung tapioka

Gambar 2. Diagram alir proses pengolahan tepung tapioka di skala kecil

Bapedal (1996) dalam Suroso (2011)


Tabel 1. Uraian industri tapioka
Uraian Pemakaian Satuan
Ubikayu 80,00 Ton/hari
Produksi tapioka 20,48 Ton/hari
Skala produksi Skala kecil/rakyat -
Teknologi Semi otomatis -
Operasional 25,00 Hari
Sumber Energi Listrik -
3
Penggunaan Air 400,00 m /hari
Sumber air Sumur dalam -
Indeks air 19,53 m3/ton tapioka
Air limbah 395,38 m3/hari
Limbah padat
Onggok/ampas 9,60 Ton/hari
Kulit 1,16 Ton/hari
Bonggol/kotoran 0,59 Ton/hari
Sumber : Suroso (2011)

Limbah cair
Jumlah yang sangat besar dan berpotensi akan menimbulkan pencemaran
lingkungan bila tidak dilakukan pengelolaan air limbah secara tepat. Air
merupakan bahan pembantu utama dalam proses produksi tapioka, yang sampai
saat ini pemakaiannya terus dikaji agar terjadi efisiensi penggunaan air bersih.
Limbah cair yang dihasilkan pada proses pengolahan tapioka berasal dari proses
pencucian, pembersihan alat produksi dan lantai pabrik serta dari proses
pemisahan pati ubikayu. Limbah cair dari hasil pengolahan tapioka terdiri atas air
dan sisa tapioka yang tersuspensi dalam air. Sehingga limbah cair yang dihasilkan
oleh industri tapioka PD Semangat Jaya ini berkisar antara 395,38 m3/ton
ubikayu.

Hal tersebut menyebabkan warna perairan berubah menjadi keruh sampai


kecoklatan sehingga dapat menurunkan kadar oksigen di dalam air, dan dapat
menyebabkan aroma busuk. Secara alami limbah tersebut dapat terdegradasi di
lingkungan, akan tetapi penumpukan limbah organik di wilayah perairan seperti
sungai, sumur, danau akan menurunkan kandungan oksigen terlarut karena
tingginya kandungan bahan-bahan organik tersebut dapat mempengaruhi
keseimbangan lingkungan untuk menetralkannya.
Industri tapioka tersebut menggunakan sistem kolam (lagoon) untuk mengolah air
limbah yang dihasilkan dari proses produksi tapioka. Industri tapioka PD
Semangat Jaya memiliki kolam instalasi pengolahan air limbah dengan luas 3600
m3 yang mampu menampung air limbah dengan laju alir luas 150 m3 per hari dan
untuk proses dekomposisi bahan organik diberikan waktu tinggal selama 20 hari
(Wintolo et al, 2013). Lay out kolam air limbah industri tapioka disajikan pada
Gambar 2 .

Gambar 3. Sistem Lagoon untuk pengolahan air limbah


Usaha utama dalam penerapan konsep produksi bersih yaitu upaya untuk
mencegah dan mengurangi limbah yang dihasilkan dengan melakukan
perhitungan penggunaan bahan kimia dan sejumlah limbah yang dihasilkan,
mengidentifikasi penyebab munculnya limbah, mengidentifikasi kemungkinan
usaha untuk mengurangi limbah, mengevaluasi kemngkinan-kemungkinan yang
layak dan menerapkan kemungkinan yang dapat atau layak untuk menerapkan
produksi bersih. Dengan penerapan produksi bersih yang diharapkan terjadinya
peningkatan efisiensi, kinerja lingkungan dan keunggulan kompetitif. Maka dari
itu, dibutuhkan informasi pemilihan bahan baku yang bersih dari bahan pencemar,
teknologi proses yang bersih dan mampu menghasilkan limbah yang sedikit,
efisiensi proses yang tinggi, serta didukung teknologi daur ulang dan penanganan
limbah yang baik (Suroso, 2011).

Dalam industri tapioka tradisional, air limbah yaang dihasilkan industri tapioka
dengan rata-rata kapasitas 30 ton per hari dapat mencapai sekitar 4-5 m3/ton
ubikayu yang diolah dengan konsentrasi bahan organiknya yang sangat tinggi.
Pada umumnya sistem pengolahan air limbah industri tapioka yang sekarang ini
diterapkan adalah limbah biologis secara anaerobik yang menghasilkan gas CO2
(karbondioksida) dan CH4 (metana). Kedua gas tersebut merupakan gas rumah
kaca yang dapat menyebabkan pemanasan global. Dari hasil pengukuran emisi
gas di kolam anaerobik yang dipasang pada rakyat PD Semangat Jaya desa
Bangun Sari Kecamatan Negeri Katon Kabupaten Pesawaran lampung, diketahui
bahwa setiap ton ubikayu menghasilkan sekitar 24,4 m3 biogas atau 14,6-15,8 m3
(59,8% - 64,75%) gas metana/ton ubikayu dan gas metana murni memiliki nilai
kalor 8.900 kkal/m3 (Hasanudin, 2007).

Produksi bersih dengan pengolahan limbah industri tapioka sebagai sarana


produksi biogas dengan sistem CoLAR dapat mencegah emisi gas metana dan
karbondioksida ke udara. Diketahui ke dua gas yang dihasilkan tersebut
merupakan gas rumah kaca yang memberikan efek terhadap percepatan kenaikan
suhu atmosfer yang dikenal dengan istilah pemanasan global. Sekali gas metana
menghasilkan emisi ke atmosfer maka gas tersebut akan berada disana selama 12
tahun dan gas metana memiliki kekuatan 21 kali lebih stabil dibandingkan
terhadap karbondioksida. Meskipun pada pembakaran metana juga akan
dihasilkan CO2 , namun keberadaan CO2 dialam bebas adalah 21 kali lebih
smudah terurai daripada metana dan hal ini membuktikan bahwa mencegah emisi
gas metana ke udara bebas lebih bermanfaat untuk mengurangi dampak
pemanasan global (Wintolo et al, 2013).

Pencucian
Pengendapan tapioka Pengendapan elot
singkong

Pabrik
Singkong tapioka

Bioreaktor
Air limbah cucian
singkong

Gambar 4. Diagran alir industri tapioka PD. Semangat Jaya


Gambar 5. IPAL yang ditutup plastik HDPE

Berdasarkan penelitian Wintolo et al, (2013), pengukuran produksi biogas di PD.


Semangat Jaya menunjukkan bahwa bioreaktor mampu menghasilkan biogas rata-
rata 485,4 m3 per hari dari 150 m3 limbah yang diproduksi. Atau setiap m3 limbah
menghasilkan biogas sebesar 3,2 m3. Berarti setiap m3 limbah dapat menghasilkan
sekitar 1,88 m3 gas metana atau gas metana yang dihasilkan sebesar 150 x 1,88 m3
= 282 m3 . kerapatan massa/densitas CH4 = 0,717 kg/m3, jadi gas metana yang
bisa diperoleh adalah sebesar 282 x 0,717 kg = 202,2 kg per hari. Dalam 1 tahun
diperoleh 202,2 x 360 = 72,8 ton CH4 dan jumlah ini ekivalen dengan 72,8 x 21
CO2e = 1.528,6 ton CO2e. Berdasarkan perhitungan ini dapat disimpulkan bahwa
pengurangan emisi gas metana ke atmosfer adalah 72,8 ton.

Pada industri tapioka tersebut menggunakan kembali pada tempatnya (recycling)


adalah penggunaan kembali limbah yang dihasilkan pada proses yang sama atau
pada proses yang lain di industri tersebut. Sistem daur ulang dan penggunaan
kembali proses tersebut dapat melakukan penggunaan air yang masih bersih
secara berulang. Air yang dikeluarkan dari beberapa proses yang masih bisa
digunakan kembali, seperti air pencucian pada proses penggilingan, ditampung
terlebih dahulu di suatu bak penampungan dan selanjutnya disalurkan ke beberapa
proses yang membutuhkan air. Hal tersebut dilakukan untuk tidak terlalu
pemborosan dalam penggunaan air dalam proses. Air tersebut tidak akan
digunakan kembali atau dibuang apabila sudah dianggap tidak layak untuk
digunakan lagi disebabkan oleh adanya kotoran-kotoran yang akan mempengaruhi
kualitas tapioka yang dihasilkan.
Gambar 6. Pencucian singkong

Hasil pengamatan yang telah dilakukan di industri tapioka tersebut, usaha yang
dilakukan untuk meminimalkan limbah cair yang dihasilkan dapat dilakukan
dengan memanfaatkan kembali air sisa dari separator untuk digunakan kembali
untuk air pencucian bahan baku.

Pada industri tapioka ini juga dilakukan Metode end of pipe dilakukan untuk
mengelola air limbah yang dihasilkan oleh industri tapioka agar air yang
dikeluarkan tidak berbahaya atau mencemari lingkungan. Air limbah yang
dihasilkan setiap harinya mengandung senyawa asam sianida (HCN), sehingga
perlu ditangani sebelum dibuang langsung ke sungai. Penanganan tersebut dapat
dilakukan dengan membuat bak penampung air limbah. Selanjutnya limbah
dilakukan ditumbuhkan dengan tanaman enceng gondok sehingga kandungan
asam sianida pada limbah dapat diturunkan sehingga pH limbah netral.

Limbah Padat

Untuk limbah padat berupa Limbah meniran ubikayu terdiri dari kulit (80%) serta
bonggol dan serpihan ubi (20%). Upaya produksi bersih terhadap limbah padat
tersebt dapat digunakan sebagai pakan ternak untuk mengurangi limbah yang
dihasilkan. Limbah padat industri tapioka tersebut meliputi onggok/ampas
sebanyak 9,60 ton/hari, kulit 1,16 ton/ hari dan bonggol/kotoran sebanyak 0,59
ton/hari. Limbah tersebut dapat diberikan sebagai pakan ternak dan kompos.
Pemberian pada ternak karena kandungan nutrisi didalamnya yang cukup tinggi.
Menurut Hikmiyati, et al. (2009), limbah kulit ubikayu dapat menjadi sumber
pakan ternak ruminansia karena kulit ubikayu memiliki kandungan nutrisi yang
lengkap yaitu serat, karbohidrat, lemak, protein dan mineral makro.

Limbah padat yang sudah dipisahkan dengan tanah memiliki nilai ekonomi yang
cukup tinggi. Saat ini harga limbah padat/ongok jika dijual kepada peternak
sekitar Rp.250.000,00/ton. Peminat limbah padat tersebut umumnya peternak-
peternak besar dengan kegiatan usaha yang sama yaitu penggemukan sapi potong
Kontribusi onggok ubikayu pada pakan ternak adalah sebesar 70,58% dari total
pakan campuran, sisanya adalah pakan pelet (23,53%), dan bungkil sawit atau
hijauan (5,88%). Sistem pemberian pakan diberikan secara bersamaan dengan
mencampur ketiga jenis pakan tersebut. Limbah padat industri tapioka berupa
onggok memang sudah memiliki nilai ekonomi tanpa harus dilakukan pengolah-
an terlebih dahulu dan banyak pihak ketiga yang bersedia membeli limbah padat
ini untuk berbagai keperluan. Nilai ekonomi dari onggok ini cukup tinggi yaitu
sekitar Rp. 400,-/kg untuk onggok basah dengan kualitas rendah dan dapat
mencapai harga Rp. 1.000,-/kg untuk onggok dengan kualitas tinggi dan kadar
kekeringan tertentu. Harga onggok tersebut bahkan melampaui dari harga
ubikayunya itu sendiri.