Anda di halaman 1dari 4

Gejala Penyebab Konflik yang Terjadi di Lingkungan Masyarakat

Terdapat beberapa gejala yang menyebabkan konflik. Baik itu secara kelompok
maupun individu. Secara psikologis, terdapat dua jenis kepentingan dalam diri
individu, yakni kepentingan biologis dan kebutuhan sosial.
Menurut Soerjono Soekanto, terdapat beberapa gejala yang bisa menjadi penyebab
konflik, yaitu :

Perbedaan Antar Individu > maksudnya adalah

Manusia sebagai makhluk individu memiliki karakter yang khas berdasarkan corak
kepribadiannya. Setiap individu mampu berkembang dengan sendirinya sejalan
dengan ciri-ciri khasnya, walaupun berada di dalam lingkungan yang sama.

Ketika interaksi berlangsung, individu akan mengalami proses adaptasi serta


pertentangan dengan individu yang lain. Apabila terdapat ketidaksesuaian maka
akan terjadi konflik.

Perbedaan Kebudayaan> maksudnya adalah

Seringkali kebudayaan dianggap sebagai sebuah ideologi, sehingga dapat memicu


terjadinya konflik. Anggapan kebudayaan yang berlebihan oleh sebuah kelompok
maka akan menempatkan kebudayaan menjadi sebuah tingkatan sosial.

Sehingga kebudayaan yang dimiliki akan dianggap lebih tinggi


dibandingkan kebudayaan lain. Dalam catatan sejarah umat manusia konsep suku
serta kebudayaannya telah memainkan peranan yang sangat penting dalam
percaturan masyarakat.

Perbedaan Kepentingan> maksudnya adalah

Proses pergaulan dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan batiniah serta
lahiriah untuk membentuk dirinya, hal itulah yang menyebabkan terjadi hubungan
timbal balik sehingga manusia dikatakan sebagai mahluk sosial.

Manusia memiliki kebutuhan yang berbeda – beda dalam memenuhi kebutuhan


hidupnya, perbedaaan kebutuhan tersebut dapat berubah menjadi kepentingan yang
berbeda – beda pula.
Perubahan Sosial > maksudnya adalah

Kecenderungan terjadinya perubahan sosial adalah gejala yang wajar sebagai


akibat dari terjadinya interelasi sosial dalam pergaulan hidupantar manusia. Hal
tersebut juga bisa terjadi karena adanya perubahan-perubahan di dalam unsur-
unsur yang berfungsi mempertahankan keseimbangan masyarakat.
Pada masyarakat yang tidak dapat menerima perubahan sosial dapat menimbulkan
konflik sebagai proses pertentangan nilai serta norma yang tidak sesuai dengan
nilai dan norma yang dianut oleh masyarakat.

Selain yang disebutkan di atas, proses sosial dalam masyarakat ada juga yang
menyebabkan atau berpeluang menimbulkan konflik adalah persaingan dan
kontravensi.

1. Persaingan (Competition)
Dalam persaingan individu atau kelompok berusaha mencari keuntungan melalui
bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian
umum. Cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu adalah dengan menarik
perhatian atau mempertajam prasangka yang telah ada tanpa menggunakan
ancaman atau kekerasan.
Jika dikelompokkan, ada dua macam persaingan, yaitu persaingan yang bersifat
pribadi dan tidak pribadi atau kelompok. Persaingan pribadi merupakan persaingan
yang dilakukan orang per orang atau individu untuk memperoleh kedudukan dalam
organisasi. Persaingan kelompok, misalnya terjadi antara dua macam perusahaan
dengan produk yang sama untuk memperebutkan pasar di suatu wilayah.

Persaingan pribadi dan kelompok menghasilkan beberapa bentuk persaingan,


antara lain persaingan di bidang ekonomi, kebudayaan, kedudukan dan peranan,
dan persaingan ras.
a. Persaingan di Bidang Kebudayaan
Persaingan di bidang kebudayaan merupakan persaingan antara dua kebudayaan
untuk memperebutkan pengaruh di suatu wilayah. Persaingan kebudayaan
misalnya terjadi antara kebudayaan pendatang dengan kebudayaan penduduk asli.
Bangsa pendatang akan berusaha agar kebudayaannya dipakai di wilayah di mana
ia datang. Begitu pula sebaliknya, penduduk asli akan berusaha agar bangsa
pendatang menggunakan kebudayaannya dalam kehidupan.
b. Persaingan Kedudukan dan Peranan
Apabila dalam diri seseorang atau kelompok terdapat keinginan-keinginan untuk
diakui sebagai orang atau kelompok yang mempunyai kedudukan dan peranan
terpandang maka terjadilah persaingan. Kedudukan dan peranan yang dikejar
tergantung pada apa yang paling dihargai oleh masyarakat pada suatu masa
tertentu.
c. Persaingan Ras
Persaingan ras sebenarnya juga merupakan persaingan di bidang kebudayaan.
Perbedaan ras baik perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, maupun corak rambut
hanya merupakan suatu perlambang kesadaran dan sikap atau perbedaan-
perbedaan dalam kebudayaan. Persaingan dalam batas-batas tertentu memiliki
fungsi. Berikut ini adalah beberapa fungsi persaingan:
1) alat untuk mengadakan seleksi atas dasar jenis kelamin dan sosial;
2) menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang bersifat kompetitif;
3) jalan untuk menyalurkan keinginan, kepentingan, serta nilai-nilai yang pada
suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian sehingga tersalurkan dengan baik oleh
mereka yang bersaing;
4) alat untuk menyaring para warga golongan fungsional sehingga menghasilkan
pembagian kerja yang efektif.
Persaingan dalam segala bentuknya akan menghasilkan hal-hal yang bersifat
positif maupun negatif. Hal-hal positif yang dihasilkan dengan adanya persaingan,
antara lain makin kuatnya solidaritas kelompok, dicapainya kemajuan, dan
terbentuknya kepribadian seseorang.

a. Makin Kuatnya Solidaritas Kelompok


Persaingan yang dilakukan dengan jujur akan menyebabkan individu saling
menyesuaikan diri dalam hubungan sosialnya. Dengan demikian, keserasian dalam
kelompok akan tercapai. Hal itu bisa tercapai apabila persaingan dilakukan dengan
jujur.
b. Dicapainya Kemajuan
Persaingan akan lebih banyak dijumpai pada masyarakat yang maju dan
berkembang pesat. Untuk itu, individu yang berada dalam masyarakat tersebut
harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut. Persaingan akan
menyebabkan seseorang terdorong untuk bekerja keras supaya dapat berperan
dalam masyarakat.
c. Terbentuknya Kepribadian Seseorang
Persaingan yang dilakukan dengan jujur dapat menimbulkan tumbuhnya rasa sosial
dalam diri seseorang. Namun sebaliknya, persaingan juga bisa menimbulkan hal
yang negatif, yaitu terciptanya disorganisasi. Adanya disorganisasi karena
masyarakat hampir tidak diberi kesempatan untuk menyesuaikan diri dan
melakukan reorganisasi saat terjadi perubahan. Hal itu disebabkan karena
perubahan yang terjadi bersifat cepat atau revolusi.
2. Kontravensi
Kontravensi berasal dari bahasa Latin, contra dan venire yang berarti menghalangi
atau menantang. Kontravensi merupakan usaha untuk menghalang-halangi pihak
lain dalam mencapai tujuan. Tujuan utama tindakan dalam kontravensi adalah
menggagalkan tercapainya tujuan pihak lain. Hal itu dilakukan karena rasa tidak
senang atas keberhasilan pihak lain yang dirasa merugikan. Namun demikian,
dalam kontravensi tidak ada maksud untuk menghancurkan pihak lain.
Menurut Leopold von Wiese dan Howard Beckerada lima macam bentuk
kontravensi.
1. Kontravensi umum, antara lain dilakukan dengan penolakan, keengganan,
perlawanan, perbuatan menghalanghalangi, protes, gangguan-gangguan, dan
kekerasan.
2. Kontravensi sederhana, antara lain dilakukan dengan menyangkal pernyataan
pihak lain di depan umum, memakimaki orang lain melalui selebaran, mencerca,
dan memfitnah.
3. Kontravensi intensif, antara lain dilakukan dengan menghasut, menyebarkan
desas-desus, dan mengecewakan pihak lain.
4. Kontravensi rahasia, antara lain dilakukan dengan pengkhianatan dan
mengumumkan rahasia pihak lain.
5. Kontravensi taktis, antara lain dilakukan dengan mengejutkan lawan dan
mengganggu pihak lain.