Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gencarnya suara pembaruan pemikiran Islam yang dicanangkan oleh para pembaru
muslim dari berbagai negara seperti Mesir, India, Turki, Pakistan sampai juga gaung
pembaruan itu ke Indonesia yang menyadarkan umat Islam dari era kemunduran yang
dialami. Salah satu dampak dari “suara pembaruan” itu adalah munculnya pembaruan di
bidang pendidikan. Lebih lanjut di awal abad ke dua puluh, muncullah ideide pembaruan
pendidikan Islam di Indonesia, ide ini muncul disebabkan sudah mulai banyak orang yang
tidak puas dengan sistem pendidikan yang berlaku saat itu, oleh karena ada sisi yang perlu
diperbarui. Sisi yang perlu diperbarui itu, pertama dari segi isi (materi), kedua dari segi
metode, ketiga dari segi manajemen dan administrasi pendidikan.
Dari segi isi (materi) yang disampaikan sudah ada keinginan untuk memasukkan
materi pengetahuan umum ke dalam isi pengajaran Islam masa itu. Dari segi metode tidak
lagi hanya menggunakan metode, sorogan, wetonan, bandongan, hafalan, tetapi
diinginkan adanya metodemetode baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Selanjutnya keinginan untuk mengelola lembaga pendidikan Islam, telah muncul dengan
diterapkannya sistem klasikal dan pemberlakuan administrasi pendidikan.
Pembaruan-pembaruan yang muncul ini merupakan awal kebangkitan global Islam di
Indonesia menuju pembaruan yang lebih baik termasuk dalam bidang pendidikan.
Pemikiran-pemikiran inspiratif dari berbagai tokoh-tokoh pembaru pemikiran Islam pada
masa itu seperti Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha,
Rifa’ al-Thathawi, Sayyid Ahmad Khan dan lain sebagainya memberi pengaruh besar bagi
pola pikir tokoh-tokoh Islam di Indonesia untuk melakukan pembaruan. Ide dan inti dari
pembaruan itu adalah berupaya meninggalkan pola pemikiran lama yang tidak sesuai lagi
dengan kemajuan zaman dan berupaya meraih aspek-aspek yang menopang untuk
menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman.
Berkaca dari ide pembaruan pendidikan yang telah dilakukan oleh dua tokoh besar
KH.Ahmad Dahlan dan KH.Hasyim Asy’ari diharapkan memberi kontribusi pemikiran
yang besar dalam dunia pendidian Islam kekinian. penulis mengangkat tema pembaruan
pendidikan Islam perspektif KH.Ahmad Dahlan dan KH.Hasyim Asy’ari. Dua tokoh ini
mempunyai karakteristik yang berbeda dalam upaya untuk memajukan umat Islam

1
Indonesia, yang tentunya dalam keberbedaannya terdapat benang merah persamaan yang
bisa ditarik.
KH.Ahmad Dahlan merupakan tipe man of action sehingga sudah pada tempatnya
apabila mewariskan cukup banyak amal usaha bukan tulisan. Oleh sebab itu untuk
menelusuri bagaimana wacana pembaruan pendidikan KH.Ahmad Dahlan, maka akan
lebih banyak merujuk pada bagaimana ia membangun sistem pendidikan. Dengan usaha
beliau di bidang pendidikan, Dia dapat dikatakan sebagai suatu “model” dari bangkitnya
sebuah generasi yang merupakan titik pusat dari suatu pergerakan yang bangkit untuk
menjawab tantangan-tantangan yang dihadapi Islam, yaitu berupa ketertinggalan dalam
sistem pendidikan dan kejumudan paham agama Islam. Berbeda dengan tokoh-tokoh
nasional pada zamannya yang lebih menaruh perhatian pada persoalan politik dan
ekonomi, KH.Ahmad Dahlan mengabdikan diri sepenuhnya dalam bidang pendidikan
walaupun tidak menutup kemungkinan bidang-bidang lain juga mendapat perhatiannya.
Titik bidik pada dunia pendidikan pada gilirannya mengantarkannya memasuki jantung
persoalan umat yang sebenarnya. Seiring dengan bergulirnya politik etis atau politik
asosiasi sejak tahun 1901, ekspansi sekolah Belanda diproyeksikan sebagai pola baru
penjajahan yang dalam jangka panjang diharapkan dapat menggeser lembaga pendidikan
Islam semacam pondok pesantren. Pendidikan di Indonesia pada saat itu terpecah menjadi
dua: pendidikan sekolah-sekolah Belanda yang sekuler, yang tak mengenal ajaran-ajaran
yang berhubungan dengan agama dan pendidikan di pesantren yang hanya mengajar
ajaranajaran yang berhubungan dengan agama saja. Dihadapkan pada dualisme sistem
pendidikan ini KH.Ahmad Dahlan gelisah dan bekerja keras sekuat tenaga untuk
mengintegrasikan, atau paling tidak mendekatkan kedua sistem pendidikan itu.
Gagasan dasar K.H Ahmad Dahlan bermula pada keprihatinan terhadap umat Islam
pribumi yang saat itu semakin terpuruk karena kondisi dan situasi global ditambah
pendidikan yang dianggap suatu kebutuhan utama belum terpenuhi. Perbedaaan strata
sosial membuat pendidikan semakin sulit didapatkan. Gagasan kedua karena melihat
adanya kesenjangan pendidikan antara ilmu agama dan ilmu umum. Saat itu hanya ilmu
umum yang wajib diajarkan pada sekolah kolonial, sehingga membuat K.H Ahmad
Dahlan berpikir ini harus dibenahi, karena ilmu yang sempurna adalah ilmu agama dan
ilmu umum.
Pemikiran untuk mendirikan sekolah tidak mungkin bisa didirikan dengan cepat,
namun melalui kerjasama dengan pemerintah Belanda, sudah dapat dipastikan akan dapat
segera terealisasi. Sekolah Belanda hanya mengajarkan ilmu umum saja, sedangkan

2
pesantren mengajarkan ilmu agama. Untuk itu kerjasama tersebut menjadi saling
menguntungkan awalnya, namun berdampak negatif pada sekolah Belanda karena telah
memberi peluang besar pribumi maju dengan pendidikannya.
Muhammadiyah merupakan organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia setelah NU.
Pendidikan telah menjadi “trade-merk” gerakan Muhammadiyah, besarnya jumlah
lembaga pendidikan merupakan bukti konkrit peran penting Muhammadiyah dalam proses
pemberdayaan umat Islam dan pencerdasan bangsa. Dalam konteks ini Muhammadiyah
tidak hanya berhasil mengentaskan bangsa Indonesia dan umat islam dari kebodohan dan
penindasan, tetapi juga menawarkan suatu model pembaharuan sistem pendidikan
“modern” yang telah terjaga identitas dan kelangsungannya.
Pendidikan Muhammadiyah sebagai salah satu pembaharuan pendidikan islam di
Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pemikiran para pendirinya. Salah satu tokoh
pendidikan Muhammadiyah yang paling menonjol adalah K.H. Ahmad Dahlan.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi K.H Ahmad Dahlan?
2. Bagaimana pemikiran pendidikan K.H Ahmad Dahlan?
3. Bagaimana revalensi pemikiran K.H Ahmad Dahlan dengan pendidikan nasional?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui bagaimana biografi K.H Ahmad Dahlan.
2. Untuk mengetahui bagaimana pemikiran pendidikan K.H Ahmad Dahlan.
3. Untuk mengetahui bagaimana revalensi pemikiran K.H Ahmad Dahlan dengan
pendidikan nasional.

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi K.H Ahmad Dahlan


K.H. Ahmad Dahlan dilahirkan pada tahun 1869 di Kauman Yogyakarta dengan
nama Muhamad Darwis. Ayahnya bernama Kyai Haji Abu Bakar bin Kyai Sulaiman,
seorang khatib tetap di masjid Sultan dikota tersebut. Sementara ibunya bernama Siti
Aminah, adalah anak seorang penghulu di Kraton Yogyakarta, Haji Ibrahim. K.H.
Ahmad Dahlan adalah anak ke empat dari tujuh bersaudara. Adapun saudara Muhammad
Darwis menurut urutannya adalah: (1) Nyai Chatib Arum, (2) Nyai Muhsinah (Nyai Nur),
(3) Nyai H. Sholeh, (4) M. Darwis (K.H.A. Dahlan), (5) Nyai Abdurrahman, (6) Nyai H.
Muhammad Fekih (Ibu H. Ahmad Badawi), dan (7) Muhammad Basir.
K.H. Ahmad Dahlan tidak menuntut ilmu pada sekolah Gubernamen, ia
mendapatkan pendidikan, khususnya pendidikan keagamaan dari ayahnya sendiri.12
Setelah dewasa barulah K.H. Ahmad Dahlan diserahkan kepada Kyai Haji Muhammad
Soleh untuk belajar ilmu Fiqih (hukum agama Islam) dan kepada Kyai Haji Muchsin
untuk belajar ilmu Nahwu dan Shorof (struktur dan tata bahasa arab) serta kepada Syeikh
Amin dan Syeikh Sayyid Bakri Syata’ untuk belajar ilmu Qiro’atul qur’an (membaca Al
Qur’an). Untuk mempelajari ilmu-ilmu lainnya diserahkan kepada para ulama lainnya
seperti Kyai Haji Muhammad Nur (Hoofd Panghulu Hakim Kota Yogyakarta) dan Kyai
Haji Abdul Hamid dari kampung Lempuyangan Wangi Yogyakarta
Tahun 1890 K.H Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji. Kesempatan itu
dimanfaatkannya berguru kepada para ulama untuk belajar ilmu fi qh, ilmu hadits, serta
menguasai berbagai kitab. Salah satu guru K.H Ahmad Dahlan adalah ayahnya sendiri
yang antara lain mengajarkan membaca dan menulis. Setelah berumur 24 tahun K.H
Ahmad Dahlan menikahi Siti Walidah, sepupunya sendiri yang kemudian dikenal dengan
Nyai Ahmad Dahlan. Dari pernikahannya K.H Ahmad Dahlan dikaruniai 6 orang anak.
Sebelum Muhammadiyah berdiri, K.H Ahmad Dahlan telah melakukan berbagai
kegiatan keagamaan dan dakwah. Tahun 1907, Kiai mempelopori Musyawarah Alim
Ulama. Dalam rapat pertama Musyawarah Alim Ulama 1907, Kiai menyatakan pendapat
bahwa arah kiblat Masjid Besar Yogyakarta kurang tepat. Sejak itulah arah kiblat masjid
besar digeser agak ke kanan oleh para murid Kiai Ahmad Dahlan.
K.H. Ahmad Dahlan meninggal pada tanggal 7 Rajab 1340 H atau 23 Pebruari 1923
M dan dimakamkan di Karang Kadjen, Kemantren, Mergangsan, Yogyakarta.

4
Nama kecil K.H. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Saat masih kecil beliau
diasuh oleh ayahnya sendiri yang bernama K.H. Abu Bakar. Karena sejak kecil
Muhammad Darwis mempunyai sifat yang baik, budi pekerti yang halus dan hati yang
lunak serta berwatak cerdas, maka ayah bundanya sangat sayang kepadanya. Ketika
Muhammad Darwis menginjak usia 8 tahun Ia dapat membaca Al-Qur’an dengan lancar.
Dalam hal ini Muhammad Darwis memang seorang yang cerdas pikirannya karena dapat
mempengaruhi teman-teman sepermainannya dan dapat mengatasi segala permasalahan
yang terjadi diantara mereka.
Sebelum mendirikan organisasi Muhammadiyah, KH.Ahmad Dahlan mempelajari
perubahan-perubahan yang terjadi di Mesir, Arab, dan India, untuk kemudian berusaha
menerapkannya di Indonesia. Ahmad Dahlan juga sering mengadakan pengajian agama
di langgar atau mushola.
Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan berangkat dari keprihatinannya terhadap situasi dan
kondisi global umat Islam waktu itu yang tenggelam dalam kejumudan (stagnasi),
kebodohan, serta keterbelakangan. Kondisi ini semakin diperparah dengan politik
kolonial Belanda yang sangat merugikan bangsa Indonesia. Latar belakang situasi
tersebut telah mengilhami munculnya ide pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan. K.H.
Ahmad Dahlan beranggapan, bahwa upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam
dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui
pendidikan.

B. Pemikiran Pendidikan K.H Ahmad Dahlan


K.H. Ahmad Dahlan menekankan bahwa pendidikan Islam merupakan suatu wadah
untuk menuju kepada kesempurnaan budi, yaitu mengerti baik - buruk, benar salah,
kebahagiaan atau penderitaan. Kondisi ini dicapai jika akalnya sempurna, yakni akal
kritis dan kreatif bebas yang di peroleh dari belajar. Setiap orang wajib mengikuti
pendidikan, menyebarkan ilmu sekaligus Islam kesemua orang di semua tempat. Menjadi
guru sekaligus murid, belajar dan mengajar untuk kebaikan hidup seluruh umat manusia.
Sekolah, madrasah, dan pesantren adalah instrumen dan media bagi kebaikan hidup,
penyempurnaan budi dan akal yang terus diubah dan disempurnakan sesuai zaman dan
perkembangan ilmu.
Menurut K.H. Ahmad Dahlan Tujuan Pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada
usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas
pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan

5
masyarakatnya. Tujuan pendidikan tersebut merupakan pembaruan dari tujuan
pendidikan yang saling bertentangan pada saat itu yaitu pendidikan pesantren dan
pendidikan sekolah model Belanda. Di satu sisi pendidikan pesantren hanya bertujuan
untuk menciptakan individu yang shaleh dan mengamalkan ilmu agama. Sebaliknya,
pendidikan sekolah model Belanda merupakan pendidikan sekuler yang didalamnya tidak
diajarkan pendidikan agama. Akibat dualisme pendidikan tersebut lahirlah dua kutub
intelegensia : lulusan pesantren yang menguasai agama tetapi tidak menguasai ilmu
umum dan sekolah belanda yang menguasai ilmu umum tetapi tidak menguasai ilmu
agama.
Melihat ketimpangan tersebut K.H. Ahmad Dahlan berpendapat bahwa tujuan
pendidikan yang sempurna adalah melahirkan individu yang utuh menguasai ilmu agama
dan ilmu umum, material dan spiritual serta dunia dan akhirat. Bagi K.H. Ahmad dahlan
kedua hal tersebut (agama dan umum, material dan spiritual, serta dunia dan akhirat)
merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Inilah yang menjadi alasan
mengapa K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan pelajaran agama dan ilmu umum sekaligus di
Madrasah Muhammadiyah.
Upaya mengaktualisasikan gagasan tersebut maka konsep pendidikan K.H. Ahmad
Dahlan ini meliputi:
1. Tujuan Pendidikan
Menurut K.H. Ahmad Dahlan, pendidikan Islam hendaknya diarahkan pada
usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama,
luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk
kemajuan masyarakatnya. Tujuan pendidikan tersebut merupakan pembaharuan dari
tujuan pendidikan yang saling bertentangan pada saat itu yaitu pendidikan pesantren
dan pendidikan sekolah model Belanda. Di satu sisi pendidikan pesantren hanya
bertujuan utnuk menciptakan individu yang salih dan mendalami ilmu agama.
Sebaliknya, pendidikan sekolah model Belanda merupakan pendidikan sekuler yang
didalamnya tidak diajarkan agama sama sekali.
Melihat ketimpangan tersebut KH. Ahamd Dahlan berpendapat bahwa tujuan
pendidikan yang sempurna adalah melahirkan individu yang utuh menguasai ilmu
agama dan ilmu umum, material dan spritual serta dunia dan akhirat. Bagi K.H.
Ahmad Dahlan kedua hal tersebut (agama-umum, material-spritual dan dunia-akhirat)
merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Inilah yang menjadi alasan

6
mengapa KH. Ahmad Dahlan mengajarkan pelajaran agama dan ilmu umum
sekaligus di Madrasah Muhammadiyah.
2. Pendidik
Muhammadiyah menanamkan keyakinan paham tentang Islam dalam sistem
pendidikan dan pengajaran. Penerapan sistem pendidikan Muhammadiyah ini
ternyata membawa hasil yang tidak tenilai harganya bagi kemajuan, bangsa Indonesia
pada umumnya dan khususnya umat Islam di Indonesia.
Muhammadiyah, berpendirian, bahwa para guru memegang peranan yang
penting di sekolah dalam usaha menghasilkan anak-anak didik seperti yang dicita-
citakan Muhammadiyah. Yang penting bagi para guru ialah memahami dan
menghayati serta ikut beramal dalam Muhammadiyah. Dengan memahami dan
menghayati serta ikut beramal dalam Muhammadiyah, para guru dapat menjalankan
fungsinya sesuai dengan apa yang dicita-citakan Muhammadiyah.
3. Peserta Didik
Muhammadiyah berusaha mengembalikan ajaran islam pada sumbernya yaitu Al-
Qur’an dan Hadis. Muhammadiyah bertujuan meluaskan dan mempertinggi
pendidikan agama Islam, sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenarnya.
Untuk mencapai tujuan itu, muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah yang
tersebar di seluruh Indonesia.
Dalam dunia pendidikan dan pengajaran Muhammadiyah telah mengadakan
pembaruan pendidikan agama. Modernisasi dalam sistem pendidikan dijalankan
dengan menukar sistem pondok pesantren dengan pendidikan modern sesuai dengan
tuntutan dan kehendak zaman.Pengajaran agama Islam diberikan di sekolah-sekolah
umum baik negeri maupun swasta. Muhammadiyah telah mendirikan sekolah-sekolah
baik yang khas agama maupun yang bersifat umum.
Metode baru yang diterapkan oleh sekolah Muhammadiyah mendorong
pemahaman Al-Qur’an dan Hadis secara bebas oleh para pelajar sendiri. Tanya jawab
dan pembahasan makna dan ayat tertentu juga dianjurkan dikelas. “Bocah-bocah
dimardikaake pikire (anak-anak diberi kebebasan berpikir)”, suatu pernyataan yang
dikutip dari seorang pembicara kongres Muhammadiyah tahun 1925, melukiskan
suasana baik sekolah-sekolah Muhammadiyah pertama kali (Mailrapport No.
467X/25: 13).

7
Dengan sistem pendidikan yang dijalankan Muhammadiyah, bangsa Indonesia
dididik menjadi bangsa berkeperibadian utuh, tidak terbelah menjadi pribadi yang
berilmu umum atau yang berilmu agama saja.
4. Materi pendidikan
KH. Ahmad Dahlan berpendapat bahwa kurikulum atau materi pendidikan
hendaknya meliputi:
a. Pendidikan moral, akhlaq yaitu sebagai usaha menanamkan karakter manusia yang
baik berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
b. Pendidikan individu, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran individu
yang utuh yang berkesinambungan antara perkembangan mental dan gagasan,
antara keyakinan dan intelek serta antara dunia dengan akhirat.
c. Pendidikan kemasyarakatan yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesediaan
dan keinginan hidup bermasyarakat.
5. Metode Mengajar
Ada dua sistem pendidikan yang berkembang di Indonesia, yaitu pendidikan
pesantren dan pendidikan Barat. Pandangan Ahmad Dahlan, ada problem mendasar
berkaitan dengan lembaga pendidikan di kalangan umat Islam, khususnya lembaga
pendidikan pesantren. Menurut Syamsul Nizar, dalam bukunya Filsafat Pendidikan
Islam, menerangkan bahwa problem tersebut berkaitan dengan proses belajar-
mengajar, kurikulum, dan materi pendidikan.
Dari realitas pendidikan tersebut, K.H. Ahmad Dahlan menawarkan sebuah
metode sintesis antara metode pendidikan modern Barat dengan metode pendidikan
pesantren. Dari sini tampak bahwa lembaga pendidikan yang didirikan K.H. Ahmad
Dahlan berbeda dengan lembaga pendidikan yang dikelola oleh masyarakat pribumi
saat ini. Metode pembelajaran yang dikembangkan K.H. Ahmad Dahlan bercorak
kontekstual melalui proses dialogis dan penyadaran. Contoh klasik adalah ketika
beliau menjelaskan surat al-Ma’un kepada santri-santrinya secara berulang-ulang
sampai santri itu menyadari bahwa surat itu menganjurkan supaya kita
memperhatikan dan menolong fakir-miskin, dan harus mengamalkan isinya.
Setelah melihat gagasangagasan dasar tersebut, barulah muncul tindakan atas
pemikiran K.H Ahmad Dahlan. Diantaranya mendirikan sekolah, sekolah yang didirikan
ini mengacu pada dua ilmu yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu dengan
memadukan ilmu agama dan ilmu umum. Pemikiran selanjutnya adalah lahir ulama-

8
intelek atau intelek-ulama. Sehingga dengan cita-cita tersebut, pribumi tidak akan
terpuruk dan tenggelam lagi dalam kondisi global.
Pemikiran untuk mendirikan sekolah tidak mungkin bisa didirikan dengan cepat,
namun melalui kerjasama dengan pemerintah Belanda, sudah dapat dipastikan akan dapat
segera terealisasi. Sekolah Belanda hanya mengajarkan ilmu umum saja, sedangkan
pesantren mengajarkan ilmu agama. Untuk itu kerjasama tersebut menjadi saling
menguntungkan awalnya, namun berdampak negatif pada sekolah Belanda karena telah
memberi peluang besar pribumi maju dengan pendidikannya.
Gerakan pembaruan Islam yang dilakukan oleh K.H. Ahmad Dahlan dalam bidang
pendidikan, khususnya dalam bidang pendidikan Islam, sudah begitu banyak, kita
menengok kembali Kultur pendidikan Islam tradisional (pesantren) yang membelenggu
sebagian besar masyarakat Indonesia itulah yang hendak dibongkar oleh K.H. Ahmad
Dahlan. Paradigma mengenai reformasi pendidikan Islam tentunya dibidikkan dalam
rangka mengembalikan kemampuan pendidikan Islam untuk mengimbangi produk
(siswa) sekolah Belanda. Menurut soebardi dan lee dikutip oleh Achmad Jainuri, K.H.
Ahmad Dahlan sangat berkeinginan untuk mencetak ”elit” muslim terdidik dan memiliki
identitas Islam yang kuat sehingga mampu memberikan bimbingan dan keteladanan
terhadap masyarakat, dan sekaligus sebagai kekuatan untuk mengimbangi tantangan
kaum elit sekuler berpendidikan Barat yang dihasilkan oleh sistem pendidikan Belanda.
Agaknya, semangat juang K.H. Dahlan untuk selalu memberikan pencerahan melalui
dunia pendidikan tidak pernah berlaku surut. Hal ini bisa kita lihat lewat perjalanan yang
telah ditempuh oleh pergerakan Muhammadiyah yang telah didirikan oleh K.H. Ahmad
Dahlan, dia telah mempunyai pengalaman dalam zaman penjajahan Barat dan Timur.
Selain itu, bidang pendidikan juga dapat dikatakan sebagai salah satu faktor yang
mendorong berdirinya Muhammadiyah. pada tanggal 1 Desember 1911, beliau
mendirikan Sekolah Dasar di lingkungan Kraton Yogyakarta yang mengajarkan mata
pelajaran umum. Sekolah yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan diselenggarakan dengan
sistem pendidikan modern yang kemudian dikembangkan secara luas setelah
Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912. Kehadiran pendidikan Muhammadiyah
dengan sistem baru merupakan elemen modern di dalam Kraton Yogyakarta, yang oleh
Steenbrink disebut ”ultra konservatif”.
Pendidikan Muhammadiyah memiliki idealisme untuk menyiapkan generasi muda
yang mampu menjadi khalifah Allah di muka bumi, dan sekaligus responsif terhadap
tuntutan perkembangan zaman. Perpaduan antara idealisme dan konteks perkembangan

9
zaman dalam pengembangan pendidikan dimaksudkan sebagai upaya untuk menyiapkan
kader-kader persyarikatan dan umat Islam yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Kini, pendidikan Muhammadiyah telah berlangsung selama satu abad (seratus tahun), dan
secara gemilang terus mengalami perkembangan, baik kuantitas maupun kualitasnya.

C. Relevansi Pemikiran K.H Ahmad Dahlan dengan Pendidikan Nasional


Pada awal abad ke-20, dunia pendidikan Islam masih ditandai oleh adanya sistem
pendidikan yang dikotomis antara pendidikan agama dengan pendidikan umum. Di satu
segi terdapat madrasah yang mengajarkan pendidikan agama tanpa mengajarkan
pengetahuan umum, dan di satu sisi terdapat lembaga pendidikan umum yang tidak
mengajarkan agama. Pada saat itu pendidikan Islam juga tidak memiliki visi, misi dan
tujuan yang jelas, terutama jika dihubungkan dengan perkembangan masyarakat. Umat
Islam berada dalam kemunduran yang diakibatkan oleh pendidikannnya yang
tradisional.KH. Ahmad Dahlan adalah tokoh pembaru atau pelopor pendidikan Islam dari
Jawa yang berupaya menjawab permasalahan umat tersebut di atas. Beliaulah tokoh yang
berusaha memasukkan pendidikan umum ke dalam kurikulum madrasah, dan
memasukkan pendidikan agama ke dalam lembaga pendidikan umum.
Melalui pendidikan, KH. Ahmad Dahlan menginginkan agar umat dan bangsa
Indonesia memiliki jiwa kebangsaan dan kecintaan kepada tanah air. Beliaulah tokoh
yang telah berhasil mengembangkan dan menyebarluaskan gagasan pendidikan modern
ke seluruh pelosok tanah air menggunakan imannya dalam menjawab tantangan hidup
dan mampu memanusiakan sesamanya dengan berbagai kehidupan. Dengan kata lain,
kurikulum pendidikan Islam abad 21 mengambil bagian secara aktif, kreatif, dan kritis.
Kurikulum yang didesain KH. Ahmad Dahlan hendakmengintegrasikan ilmu agama dan
ilmu umum menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan juga menjaga prinsip
keseimbangan. Dalam konsep KH. Ahmad Dahlan, ilmu agama yang masuk dalam
kurikulum harus diajarkan pada semua lembaga-lembaga pendidikan, baik lembaga
pendidikan agama maupun umum.
Begitu sebaliknya, ilmu umum harusdiajarkan pada semua lembaga, termasuk
lembaga pendidikan Islam sehingga dengan demikian pembekalan keagamaan bukan
hanya menjadi tanggung jawab lembagalembaga pendidikan Islam, tetapi
menjaditanggung jawab lembagalembaga Pendidikan Nasional. Dengan kurikulum
semacam ini, akan menghasilkan sarjana-sarjana yang tidak hanya memiliki otoritas di
bidangnya, tetapi juga otoritas dalam ilmu-ilmu keIslaman di tingkat nasional dan

10
internasional sehingga akan lahir Intelektual Muslim, Insinyur Muslim dan Dokter
Muslim yang akan menyiarkan risalah Islam dan merealisasikan tujuan dakwah sesuai
dengan spesialisasinya dan metode masing-masing saling melengkapi. Sebagai penutup,
penulis dapat memberi contoh bahwasanya sebenarnya usaha pembaharuan yang dibawa
KH. Ahmad Dahlan merupakan tawaran yang relatif bagus dalam konteks inilah
pengkajian terhadap pemikiran para tokoh pendidikan, yang relevan untuk terus
dilakukan. Kajian terhadap pemikiran tersebut merupakan wacana yang mampu
memperkaya langkah untuk meyempurnakan pendidikan Islam di abad 21 dan di masa
depan.
Tujuan pendidikan menurut KH. Ahmad Dahlan yaitu membentuk manusia yang
alim dalam ilmu agama, berpandangan luas dengan memiliki pengetahuan umum, siap
berjuang mengabdi untuk Muhammadiyah dalam menyantuni nilai-nilai keagamaan pada
masyarakat.
K.H Ahmad Dahlan berpendapat bahwa tujuan pendidikan yang utuh adalah
membentuk individu yang paham ilmu agama serta ilmu umum. Ini merupakan satu
kesatuan ilmu yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Atas jasa-jasa KH. Ahmad
Dahlan dalam membangkitkan kesadaran bangsa ini melalui pembaharuan Islam dan
pendidikan, maka Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan
Nasional dengan surat Keputusan Presiden no. 657 tahun 1961. Dasar-dasar penetapan itu
ialah: KH. Ahmad Dahlan telah mempelopori kebangkitan umat Islam dengan
menyadarkan masyarakat akan nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar
dan berbuat.
Relevansi pemikiran tokoh KH. Ahmad Dahlan tentang pendidikan terkini
berpendapat bahwa kurikulum atau materi pendidikan hendaknya meliputi:
1. Pendidikan moral, akhlaq yaitu sebagai usaha menanamkan karakter manusia yang
baik berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
2. Pendidikan individu, yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesadaran individu
yang utuh yang berkesinambungan antara perkembangan mental dan gagasan, antara
keyakinan dan intelek serta antara dunia dengan akhirat.
3. Pendidikan kemasyarakatan yaitu sebagai usaha untuk menumbuhkan kesediaan dan
keinginan hidup bermasyarakat.
Kaitannya dengan persoalan pendidikan, maka secara ringkas dapat dikatakan bahwa
dalam proses pendidikan haruslah mampu menghasilkan lulusan yang:

11
a. Memiliki kepribadian yang utuh, seimbang antara aspek jasmani dan ruhaninya,
pengetahuan umum dan pengetahuan agamanya, duniawi dan ukhrawinya.
b. Memiliki jiwa sosial yang penuh dedikasi.
c. Bermoral yang bersumber pada al-Qur’an dan sunnah.
Sebagaimana pelaksanaan pendidikan menurut KH. Ahmad Dahlan hendaknya
didasarkan pada landasan yang kokoh. Landasan ini merupakan kerangka filosofis bagi
merumuskan konsep dan tujuan ideal pendidikan Islam, baik secara vertikal (khaliq)
maupun horizontal (makhluk). Dalam pandangan Islam, paling tidak ada dua sisi tugas
penciptaan manusia, yaitu sebagai ‘abdAllah dan khalifah fil-ardh.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kyai Haji Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta, 1 Agustus 1868 adalah
seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera ke empat dari tujuh bersaudara
dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib
terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H.
Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat sebagai penghulu
Kasultanan Yogyakarta pada masa itu. Dalam sumber lain K.H. Ahmad Dahlan dilahirkan
pada tahun 1869.
Semasa pertumbuhan dan perkembangan KH Ahmad Dahlan banyak melihat berbagai
kejadian atau fenomena yang dianggapnya tidak sesuai dengan ajaran Agama Islam.
Sehingga fenomena tersebut mempengaruhi pola pikir KH Ahmad Dahlan bertekat untuk
melakukan pemurnian ajaran Islam kembali.
Ide-ide yang di kemukakan K.H.Ahmad Dahlan telah membawa pembaruan dalam
bidang pembentukan lembaga pendidikan Islam yang semula bersistem pesantren menjadi
sistem klasikal, dimana dalam pendidikan klasikal tersebut dimasukkan pelajaran umum
kedalam pendidikan madrasah. Meskipun demikian, K.H. Ahmad Dahlan tetap
mendahulukan pendidikan moral atau ahlak, pendidikan individu dan pendidikan
kemasyarakatan.

B. Saran
Kami selaku penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat banyak
kesalahan dalam penulisan makalah ini. Demi memperbaiki makalah ini dan makalah
selanjutnya kami mohon kritik dan saran kepada para pembaca. Dan atas perhatiannya
kami sampaikan terima kasih.

13
DAFTAR PUSTAKA

Amirah Mawardi, Studi Pemikiran Pendidikan KH. Ahmad Dahlan, Jurnal Tarbawi, Volume
1, No 2, ISSN 2527-4082

Putri Yuliasari, Relevansi Konsep Pendidikan Islam KH. Ahmad Dahlan Di Abad 21, As-
Salam | Vol V, No. 1, Th 2014

Leyan Mustapa, Pembaharuan Pendidikan Islam Studi ATAS Teologi Sosial Pemikiran KH.
Ahmad Dahlan, Jurnal Pembaharuan Pendidikan Islam (JPPI), Volume 1 No 1
Desember 2014 Halaman 129-142

Sumarno, Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, AL MURABBI Vol.3, No. 2, Januari


2017

Zetty Azizatun Ni’mah, Pemikiran Pendidikan Islam Perspektif KH. Ahmad Dahlan (1869-
1923 M) Dan Kh. Hasyim Asy’ari 1871-1947) M): Study Komparatif dalam Konsep
Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, Didaktika Religia Volume 2 , No. 1 Tahun
2014

iii 14
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan
kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya
penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu dengan tugas yang kami
sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita.
Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri
penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa. Saya sadar bahwa
makalah ini masih banyak kekurangan dan jau dari sempurna. Untuk
itu, kepada dosen pembimbing saya meminta masukannya demi perbaikan pembuatan
makalah saya di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca.

Bengkulu, Januari 2018

Penyusun,

15

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 4
C. Tujuan.................................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN
A. Biografi K.H Ahmad Dahlan ............................................................... 5
B. Pemikiran Pendidikan K.H Ahmad Dahlan ......................................... 7
C. Revalensi Pemikiran K.H Ahmad Dahlan dengan Pendidikan Nasional 12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan.......................................................................................... 16
B. Saran .................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA

16
MAKALAH
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
"Pemikiran Pendidikan Menurut K.H Ahmad Dahlan

Disusun Oleh:
RENI ALIYANTI
1711250036

DosenPembimbing :
Ahmad Syarifi, M.Ag

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI


FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
BENGKULU
2018

17