Anda di halaman 1dari 15

Makalah

Transaksi Elektronik dan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik Penyelenggaraan


system Elektronik

 Undang-Undang Informasi dan transaksi elektronik

Disusun Oleh :
Kata Pengantar

Puji Syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Makalah ini disusun untuk menyelesaikan Tugas Komputer Masyarakat - Universitas


Mercubuana dan sekaligus untuk memperluas pengetahuan dan pemahaman tentang
pemanfaatan komputer di masyarakat.

Penulis sadar makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, oleh sebab itu penyusun
mengharapkan danya saran yang membangun agar dapat menjadi acuan dalam penyusunan
makalah berikutnya.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada para
pembaca. Terima kasih.

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

Peradaban dunia dewasa ini, dicirikan dengan fenomena kemajuan teknologi informasi
dan globalisasi yang berlangsung hampir di semua bidang kehidupan.2 Salah satu pendorong
Globalisasi adalah kemajuan teknologi Informasi yang memungkinkan manusia untuk saling
berhubungan tanpa dibatasi oleh batas-batas negara sehingga dunia seakan-akan menjadi datar3.
Era informasi (information age) merupakan tahapan selanjutnya setelah era pra sejarah, era agraris
dan era industri

Lahirnya teknologi digital telah mengakibatkan terjadinya keterpaduan ataupun


konvergensi dalam perkembangan Teknologi Informasi, Multimedia dan Telekomunikasi
(Information, Media and Communication Technology). Semula masing-masing teknologi tersebut
seakan berjalan terpisah atau linear antara yang satu dengan yang lainnya, namun kini semua
teknologi tersebut semakin menyatu. Wujud konvergensi (perpaduan) teknologi Telekomunikasi,
Multimedia dan Informatika (“Telematika”)6 tersebut adalah lahirnya produk-produk teknologi
baru yang memadukan kemampuan sistem informasi dan sistem komunikasi yang berbasiskan
sistem komputer yang selanjutnya terangkai dalam suatu jaringan (network) sistem informasi
dan/atau sistem komunikasi secara elektronik (selanjutnya disebut, "sistem elektronik") baik
dalam lingkup lokal, regional maupun global. Kehadiran sistem informasi tersebut seakan-akan
telah membuat suatu ruang baru dalam dunia ini yang populer dengan istilahcyberspace.

Seiring dengan dinamika tersebut, masing-masing bidang hokum yang terkait dengan
konvergensi Telematika, yakni Hukum Telekomunikasi, Hukum Multimedia dan Hukum
Informatika (Komputer) yang semula dikaji secara terpisah/linear , dalam perkembangannya kini
juga kian menyatu menjadi Hukum terhadap Informasi, Multimedia dan Komunikasi itu sendiri.
Jelas terlihat bahwa konvergensi hukum Telematika (hukum telekomunikasi, hukum media dan
hukum informatika) sesungguhnya merupakan benturan paradigmahukum sebelum nya yang
selanjutnya melahirkan suatu paradigm hukum yang baru. Benturan paradigma hukum tersebut
juga membuat ketidakjelasan tentang siapa yang harus bertanggungjawab dan bagaimana
pertanggungjawabannya jika terhadap penyelenggaraan sistem elektronik terjadi suatu
kerusakan atau tidak bekerjasebagaimana mestinya sehingga mengakibatkan kerugian kepada
pihaklain. Hal tersebut tidak dapat dengan mudah ditentukan karena begitu rumit atau
kompleksnya hubungan para pihak yang mempunyai kontribusi terhadap penyelenggaraan
sistem tersebut kepada publik. Pemerintah telah beberapa kali merubah kebijakannya. Dengan
menggulirkan Inpres No.6 Tahun 2001 tentang Pengembangan dan Pendayagunaan elematika,
Pemerintah c.q. Bapenas sebelumnya juga pernah mencanangkan pengembangan Kerangka
Teknologi Informasi Nasional (National IT Framework) yang menekankan pembangunan sistem
informasi dalam lima pilar besar, yakni E-Democracy, ESociety, E-Commerce, E-Education dan
E-Government. Selanjutnya, pemerintah juga telah mengeluarkan Instruksi Presiden No.3 Tahun
2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan government untuk mewujudkan
penyelenggaraan sistem pemerintahan yang baik. Terakhir, Presiden RI langsung melibatkan diri
sebagai Ketua Pengarah dari Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (”Dewan TIK
Nasional”) berdasarkan Keppres No.20 Tahun 2006 tentang Dewan Teknologi Informasi dan
Komunikasi.
BAB II

PENYELENGGARAAN SISTEM ELEKTRONIK

A. Pengertian Sistem Elektronik

Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi
mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan,
mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan Informasi Elektronik.
Mengenai Penyelenggaraan Transaksi Elektronik, dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun
2012 itu, disebutkan harus memperhatikan aspek keamanan, kendalaan, dan efisiensi; melakukan
penyimpanan data transaksi di dalam negeri; memanfaatkan gerbang nasional, jika melibatkan
lebih dari satu Penyelengara Sistem Elektronik; dan memanfaatkan jaringan Sistem Elektronik
dalam negeri.

“Dalam hal gerbang nasional dan jaringan Sistem Elektronik belum dapat dilaksanakan,
penyelenggara Transaksi Elektronik dapat menggunakan sarana lain atau fasilitas dari luar negeri
setelah memperoleh persetujuan dari Instansi pengawas dan pengatur sektor terkait,” bunyi Pasal
43 Ayat (2) PP tersebut.

Adapun pengelolaan nama domain, menurut PP ini, diselenggarakan oleh Pengelola


Nama Domain, yang terdiri atas: a. Nama Domain tingkat tinggi generik; b. Nama Domain tingkat
Indonesia; c. Nama Domain Indonesia tingkat kedua; dan d. Nama Domain indonesia tingkat
turunan.

“Pengelola Nama Domain dapat diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat,


harus berbadan hukum, dan ditetapkan oleh Menteri,” bunyi Pasal 74 Ayat (1,2,3) PP No. 82/2012
itu.

Dijelaskan dalam PP itu, pendaftaran Nama Domain dilaksanakan berdasarkan prinsip


pendaftar pertama. Sedang Nama Domain yang mengindikasikan Instansi hanya dapat didaftarkan
dan/atau digunakan oleh Instansi yang bersangkutan. “Instansi wajib menggunakan Nama Domain
sesuai dengan nama Instansi yang bersangkutan,” bunyi Pasal 79 Ayat (2).(Pusdatin. ES)

B. Penyelenggara Transaksi Elektronik

Penyelenggara Sistem Elektronik adalah adalah setiap Orang, penyelenggara negara, Badan
Usaha, dan masyarakat yang menyediakan, mengelola, dan/atau mengoperasikan Sistem
Elektronik secara sendiri-sendiri maupun bersama- sama kepada Pengguna Sistem Elektronik
untuk keperluan dirinya dan/atau keperluan pihak lain.
BAB III

PEMBAHASAN UNDANG UNDANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

A. Latar Belakang Disusun Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik

Hukum yang baik adalah hukum yang bersifat dinamis, dimana hukum dapat berkembang
sesuai dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat. Salah satu perkembangan yang terjadi
adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam dunia maya. Dunia maya juga telah
mengubah kebiasaan banyak orang yang menggunakan internet untuk melakukan berbagai
kegiatan dan juga membuka peluang terjadinya kejahatan. Untuk itu tentu dibutuhkan suatu aturan
yang dapat memberikan kepastian hukum dunia maya di Indonesia. Maka di terbitkanlah Undang
– Undang No. 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik yang lazim dikenal dengan
istilah “UU ITE”

B. Pengertian Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik

adalah ketentuan yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia
maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia
dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia..

 Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan


Komputer, jaringan Komputer, dan/atau media elektronik lainnya.

 Teknologi Informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan,


menyimpan, memproses, mengumumkan, menganalisis, dan/atau menyebarkan
informasi.

 Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang dibuat, diteruskan,


dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam bentuk analog, digital, elektromagnetik,
optikal, atau sejenisnya, yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui
Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara,
gambar, peta, rancangan, foto atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol
atau perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh orang yang
mampu memahaminya. Berikut pengertian beberapa elemen dalam informasi dan
transaksi elektronik :

 Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi
mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan,
mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan Informasi Elektronik.
 Penyelenggaraan Sistem Elektronik adalah pemanfaatan Sistem Elektronik oleh
penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat.

 Jaringan Sistem Elektronik adalah terhubungnya dua Sistem Elektronik atau lebih, yang
bersifat tertutup ataupun terbuka.

 Agen Elektronik adalah perangkat dari suatu Sistem Elektronik yang dibuat untuk
melakukan suatu tindakan terhadap suatu Informasi Elektronik tertentu secara otomatis
yang diselenggarakan oleh Orang.

 Sertifikat Elektronik adalah sertifikat yang bersifat elektronik yang memuat Tanda
Tangan Elektronik dan identitas yang menunjukkan status subjek hukum para pihak
dalam Transaksi Elektronik yang dikeluarkan oleh Penyelenggara Sertifikasi Elektronik.

 Penyelenggara Sertifikasi Elektronik adalah badan hukum yang berfungsi sebagai pihak
yang layak dipercaya, yang memberikan dan mengaudit Sertifikat Elektronik.

 Lembaga Sertifikasi Keandalan adalah lembaga independen yang dibentuk oleh


profesional yang diakui, disahkan, dan diawasi oleh Pemerintah dengan kewenangan
mengaudit dan mengeluarkan sertifikat keandalan dalam Transaksi Elektronik.

 Tanda Tangan Elektronik adalah tanda tangan yang terdiri atas Informasi Elektronik
yang dilekatkan, terasosiasi atau terkait dengan Informasi Elektronik lainnya yang
digunakan sebagai alat verifikasi dan autentikasi.

 Penanda Tangan adalah subjek hukum yang terasosiasikan atau terkait dengan Tanda
Tangan Elektronik.

 Komputer adalah alat untuk memproses data elektronik, magnetik, optik, atau sistem
yang melaksanakan fungsi logika, aritmatika, dan penyimpanan.

 Akses adalah kegiatan melakukan interaksi dengan Sistem Elektronik yang berdiri
sendiri atau dalam jaringan.

 Kode Akses adalah angka, huruf, simbol, karakter lainnya atau kombinasi di antaranya,
yang merupakan kunci untuk dapat mengakses Komputer dan/atau Sistem Elektronik
lainnya.

 Kontrak Elektronik adalah perjanjian para pihak yang dibuat melalui Sistem Elektronik.

 Pengirim adalah subjek hukum yang mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau


Dokumen Elektronik.

 Penerima adalah subjek hukum yang menerima Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik dari Pengirim.

 Nama Domain adalah alamat internet penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha,
dan/atau masyarakat, yang dapat digunakan dalam berkomunikasi melalui internet, yang
berupa kode atau susunan karakter yang bersifat unik untuk menunjukkan lokasi tertentu
dalam internet.

 Orang adalah orang perseorangan, baik warga negara Indonesia, warga negara asing,
maupun badan hukum.

 Badan Usaha adalah perusahaan perseorangan atau perusahaan persekutuan, baik


yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.

 Pemerintah adalah Menteri atau pejabat lainnya yang ditunjuk oleh Presiden.

Secara umum, materi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UUITE)


dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu pengaturan mengenai informasi dan transaksi
elektronik dan pengaturan mengenai perbuatan yang dilarang. Pengaturan mengenai
informasi dan transaksi elektronik mengacu pada beberapa instrumen internasional, seperti
UNCITRAL Model Law on eCommerce dan UNCITRAL Model Law on eSignature. Bagian ini
dimaksudkan untuk mengakomodir kebutuhan para pelaku bisnis di internet dan masyarakat
umumnya guna mendapatkan kepastian hukum dalam melakukan transaksi elektronik.
Beberapa materi yang diatur, antara lain: 1. pengakuan informasi/dokumen elektronik
sebagai alat bukti hukum yang sah (Pasal 5 & Pasal 6 UU ITE); 2. tanda tangan elektronik
(Pasal 11 & Pasal 12 UU ITE); 3. penyelenggaraan sertifikasi elektronik (certification
authority, Pasal 13 & Pasal 14 UU ITE); dan 4. penyelenggaraan sistem elektronik (Pasal 15
& Pasal 16 UU ITE)

Beberapa materi perbuatan yang dilarang (cybercrimes) yang diatur dalam UU ITE, antara
lain:

1. konten ilegal, yang terdiri dari, antara lain: kesusilaan, perjudian, penghinaan/pencemaran
nama baik, pengancaman dan pemerasan (Pasal 27, Pasal 28, dan Pasal 29 UU ITE);

2. akses ilegal (Pasal 30);

3. intersepsi ilegal (Pasal 31);

4. gangguan terhadap data (data interference, Pasal 32 UU ITE);

5. gangguan terhadap sistem (system interference, Pasal 33 UU ITE);

6. penyalahgunaan alat dan perangkat (misuse of device, Pasal 34 UU ITE).

C. Manfaat UU ITE

Kehadiran UU No.11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) akan
memberikan manfaat, beberapa diantaranya:

1. Menjamin kepastian hukum bagi masyarakat yang melakukan transaksi secara elektronik
2. Mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia;

3. Sebagai salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kejahatan berbasis teknologi informasi;

4. Melindungi masyarakat pengguna jasa dengan memanfaatkan teknologi informasi.

D. Kronologi Pembahasan UU ITE

UU ITE mulai dirancang sejak maret 2003 oleh Kementrian Negara komunikasi dan
Informasi (Kominfo) dengan nama rancangan Undang – Undang informasi Elektronik dan
Transaksi Elektronik (RUU – IETE). Semula UU ini dinamakan Rancangan Undang – undang
Informasi Komunikasi dan Transaksi Elektronik (RUUIKTE) yang disusun Ditjen Pos dan
Telekomunikasi – Departemen perhubungan serta Departemen Perindustrian dan perdagangan,
bekerja sama dengan tim dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (unpad) dan tim Asistensi
dari ITB, serta Lembaga kerja hukum dan Teknologi Universitas indonesia (UI).

Serta Departemen komunikasi dan Informasi terbentuk berdasarkan peraturan peresiden


RI no 9 Tahun 2005, tindak lanjut usulan UU ini kembali digulirkan. Pada 5 september, Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat no.R./70/Pres/9/2005 menyampaikan naskah RUU ini
secara resmi kepada DPR RI. Bersama dengan itu, pemerintah melalui Departemen komunikasi
dan Informatika membentuk “Tim Antar Departemen dalam rangka pembahasan RUU Antara
pemerintah dan DPR RI” dengan keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika
No.83/KEP/M.KOMINFO/10/2005 tanggal 24 Oktober 2005 yang kemudian dipersempurnakan
dengan keputusan menteri No.10/KEP/M.Kominfo/01/2007 tanggal 23 Januari 2007 dengan
pengarah:

1. Menteri Komuniksi dan Informatika

2. Menteri hukum dan HAM, Menteri Sekertaris Negara, dan Sekertaris Jendral

3. Defkominfo. Ketua Pelaksana Ir. Cahyana Ahmadjayadi,Dirjen Aplikasi Telematika

4. Defkominfo, Wakil Ketua Pelaksana 1: Dirjen Peraturan Perundang – undangan

5. Departemen Hukum dan HAM dan Wakil Ketua Pelaksana 11: Staf Ahli Menteri

E. Tujuan UU ITE

a. Mengembangkan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia.

b. Mengembangkan perdagangan dan perekonoman nasional dalam rangka meningkatkan


kesejahteraan masyarakat.

c. Meningkatkan aktifitas dan efesiensi pelayanan publik.


d. Membuka kesempatan seluas- luasnya kepada setiap orang untuk memajukan pemikiran
dan kemampuan dibidang penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi se’optimal
mungkin namun disertai dengan tanggung jawab.

e. Memberikan rasa aman, keadilan dan kepastian hukum bagi pengguna dan
penyelenggara teknologi informasi.

F. Contoh kasus Pelanggaran UU ITE

a. Luna maya dijerat pasal 27 undang – undang ITE karema melecehkan profesi wartawan
(bukan jurnalist, kalau jurnalis menulis dengan fakta dan bukti yang nyata, kalaw wartawan
bisa menulis dengan abstrak yang dalam hal ini kita pandang sebagai ISU) infotaiment
dengan kata “pelacur” dan “pembunuh”.

b. Prita Mulyasari di jerat pasal 27 ayat 3 Undang – undang no 11 tahun 2008 tentang
informasi dan transaksi elektronik (UU ITE), karena akan mengancam kebebasan
berekspresi.

c. Narliswandi sudah diperiksa pada 28 Agustus lali, penyidik berniat pula menjerat
Narliswandi dengan pasal 27 undang – undang informasi dan transaksi Elektronik dengan
ancman hukum 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Karena kasus pencemaran nama
baik terhadap anggota dewan Perwakilan rakyat, Alvin lie.

d. Agus Hamonangin diperiksa oleh penyidik polda Metro jaya Sat. IV Cyber Crime yakni
sudirman AP dan Agus Ristiani. Merujuk pada laporan Alvin Lie,ketentuan hukum yang
dilaporkan adalah dugaan perbuatan pidana pencemaran nama baik dan fitnah seperti
tercantum dalam pasal 310, 311 Kitab Undang – undang hukum pidana (KUHP), serta
dugaan perbuatan mendistribusikan/mentrasnsmisikan informasi elektronik yang memuat
materi penghinaan seperti tertuang dalam pasal 27 ayat (3) pasal 45 (1) UU nomor 11 tahun
2008 tentang Informasi dan transaksi elektronik (ITE).

e. Ariel dijerat pasal 27 ayat 1 UU nomor 11 tahun 2008 tentang ITE jo pasal 45 ayat 1 UU
ITE mengatur tentang hak mendistribusikan dan atau dokumen elektronik yang memiliki
buatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik.

f. Dani Firmansyah,hacker situs KPU dinilai terbukti melakukan tindak pidana yang
melanggar pasal 22 huruf a, b, c, tahun 2008 tentang Telekomunikasi. Selain itu Dani
Firmansyah juga dituduh melanggar pasal 38 Bagian ke -11 UU Telkomunikasi.

G. Sisi Positif UU ITE

Berdasarkan dari pengamatan para pakar hukum dan politik UU ITE mempunyai sisi positif
bagi Indonesia. Misalnya memberikan peluang bagi bisnis baru bagi para wiraswastawan di
Indonesia karena penyelenggaraan sistem elektronik diwajibkan berbadan hukum dan
berdomisili di Indonesia. Otomatis jika dilihat dari segi ekonomi dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi. Selain pajak yang dapat menambah penghasilan negara juga
menyerap tenaga kerja dan meninggkatkan penghasilan penduduk.

UU itu juga dapat mengantisipasi kemungkinan penyalahgunaan internet yang merugikan,


memberikan perlindungan hukum terhadap transaksi dan sistem elektronik serta
memberikan perlindungan hukum terhadap kegiatan ekonomi misalnya transaksi dagang.
Penyalahgunaan internet kerap kali terjadi seperti pembobolan situs-situs tertentu milik
pemerintah. Kegiatan ekonomi lewat transaksi elektronik seperti bisnis lewat internet juga
dapat meminimalisir adanya penyalahgunaan dan penipuan.

UU itu juga memungkinkan kejahatan yang dilakukan oleh seseorang di luar Indonesia
dapat diadili. Selain itu, UU ITE juga membuka peluang kepada pemerintah untuk
mengadakan program pemberdayaan internet. Masih banyak daerah-daerah di Indonesia
yang kurang tersentuh adanya internet. Undang-undang ini juga memberikan solusi untuk
meminimalisir penyalahgunaan internet.

H. Sisi Negatif UU ITE

Selain memiliki sisi positif UU ITE ternyata juga terdapat sisi negatifnya. Contoh kasus Prita
Mulyasari yang berurusan dengan Rumah Sakit Omni Internasional juga sempat dijerat
dengan undang-undang ini. Prita dituduh mencemarkan nama baik lewat internet. Padahal
dalam undang-undang konsumen dijelaskan bahwa hak dari konsumen untuk
menyampaikan keluh kesah mengenai pelayanan publik. Dalam hal ini seolah-olah terjadi
tumpang tindih antara UU ITE dengan UU konsumen. UU ITE juga dianggap banyak oleh
pihak bahwa undang-undang tersebut membatasi hak kebebasan berekspresi,
mengeluarkan pendapat, dan menghambat kreativitas dalam berinternet. Padahal sudah
jelas bahwa negara menjamin kebebasan setiap warga negara untuk mengeluarkan
pendapat.

Undang-undang ini menimbulkan suatu polemik yang cukup panjang. Maka dari itu muncul
suatu gagasan untuk merevisi undang-undang tersebut.

Ada sejumlah pasal yang melarang penyebaran informasi palsu misalnya melalui media
pesan elektronik. Antara lain:

Pasal 28

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan
menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik.

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk
menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat
tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Pasal 35

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan manipulasi,
penciptaan, perubahan, penghilangan, pengrusakan Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik dengan tujuan agar Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik
tersebut dianggap seolah-olah data yang otentik.

Pasal 36

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 34 yang mengakibatkan
kerugian bagi Orang lain.

Pasal-pasal tersebut, bila dilanggar akan menghadapi ancaman pidana seperti yang diatur
pada Pasal 51 UU ITE:

Pasal 51

Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.
12.000.000.000, 00 (dua belas miliar rupiah).

Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 dipidana
dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.
12.000.000.000, 00 (dua belas miliar rupiah).

Perbandingan atau perbedaan antara undang-undang ITE di Indonesia dengan negara lain

Pada dasarnya tujuan diadakannya atau dibuatnya undang-undang ITE ini, agar ada
sistem pengendali pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange
(EDI ) , surat elektronik (electronic mail) , telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda,
angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti atau dapat dipahami
oleh orang yang mampu memahaminya. Jadi, semua akses yang berhubungan dengan informasi
transaksi elektronik dilindungi oleh undang-undang ITE ini, dan terdapat pula hukuman dan denda
yang harus dibayar.

Beberapa perbandingan yang kami tahu antara di Indonesia dan Amerika:


1. Di Indonesia Konten Pornografi dilarang, namun di Amerika Serikat Konten Pornografi justru
Diperbolehkan, namun itu hanya diperuntukkan untuk pengguna dewasa.

2. Di Indonesia Konten Perjudian Online Dilarang, tetapi di Amerika Serikat justru hal itu
diperbolehkan. Asalkan tidak merugikan negara dan membawa devisa bagi perpajakan
mereka, lain halnya dengan Konten perjudian Online yang ilegal dengan segera mereka akan
memusnahkannya dan menghukumnya.

3. Apabila ada konten penghinaan ataupun masalah agama, politik, ras, suku atau apapun,
mereka tetap memperbolekan itu sejauh tidak memberikan ancaman yang mengancam jiwa
seseorang, artinya sejauh itu hanya perbedaan pandangan mereka masih tetap
meghormatinya, lain halnya jika dari perbedan pandangan tersebut muncul ancaman
misalnya pembunuhan, mereka akan segera menindaklanjutinya.
4. Ini yang paling penting, dan yang mengakibatkan RPM Konten Banyak ditentang di Indonesia,
Di Amerika sendiri, Privasi seseorang didunia maya sangat dilindungi bahkan sampai data
sekecil apapun. Dan anehnya dalam rancanagan RPM Konten tersebut pemerintah justru
membuat yang sebaliknya. Bayangkan apa yang terjadi jika E-mail sang presiden kita SBY
pun dapat dengan mudah dibaca dan diketahui karena setiap konten di sensor terlebih dahulu.
Dan andai orang tersebut punya kepentingan tertentu bisa saja dia menggunakan E-mail
tersebut untuk menjatuhkan Negara kita dan saya pikir ini lebih berbahaya dari pada konten
Pornografi dan perjudian Online.

- Selesai -
Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Undang-undang_Informasi_dan_Transaksi_Elektronik

http://samawaholic.com/tag/undang-undang-informasi-dan-transaksi-elektronik/

http://tugaskelompok02.blogspot.com/

http://arsip.uns.ac.id/unduh/UU-ITE.pdf

http://www.pu.go.id/satminkal/itjen/lama/hukum/ruuite.htm

http://ppid.kominfo.go.id/undang-undang-bidang-komunikasi-dan-informatika/

http://prasetyooetomo.wordpress.com/2012/06/27/pengertian-uu-ite/