Anda di halaman 1dari 23

PENERAPAN METODE DISKUSI UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN

DAN HASIL BELAJAR IPS PADA SISWA SD KELAS V

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami banyak

perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai

usaha pembaharuan dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu pendidikan

nasional semakin mengalami kemajuan, pendidikan di sekolah-sekolah telah

menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan itu terjadi

karena terdorong adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam

pengajaranpun guru selalu ingin menemukan metode dan peralatan baru yang

dapat memberikan semangat belajar bagi semua siswa. Bahkan secara

keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembaharuan dalam sistem pendidikan

nasional yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan di

bidang pendidikan nasional barulah ada artinya apabila dalam pendidikan

dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa

Indonesia yang sedang membangun.

Tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta

didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang

Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan

demikian melalui pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kualitas

kehidupan pribadi maupun masyarakat, serta mampu menghasilkan sumber

daya manusia yang berkualitas dan professional.

Untuk tercapainya tujuan Pendidikan Nasional tersebut, telah

ditempuh berbagai upaya oleh pemerintah. Upaya-upaya tersebut hampir

mencakup seluruh komponen pendidikan seperti pengadaan buku-buku

pelajaran, peningkatan kualitas guru, proses pembelajaran, pembaharuan

kurikulum, serta usaha lainnya yang berkaitan dengan kualitas pendidikan.

Dewasa, ini telah terjadi pergeseran pola sistem mengajar yaitu dari

guru yang mendominasi kelas menjadi guru sebagai fasilitator dalam proses

pembelajaran. Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, guru harus

menciptakan kondisi belajar yang aktif dan kreatif. Kegiatan pembelajaran

harus menantang, mendorong eksplorasi member pengalaman sukses, dan

mengembangkan kecakapan berfikir siswa (Dimyati, 2006:116).

Penggunaan media dan metode pembelajaran yang dipilih guru

merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas pembelajaran. Hamalik

(2001:32) juga menyatakan bahwa, “untuk lebih mengefektifkan komunikasi

dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran,

di sekolah perlu digunakan metode dan teknik pembelajaran yang tepat”.

Berdasarkan pendapat teersebut di atas dapat disimpulkan bahwa

kualitas pembelajaran akan meningkat jika guru mampu menciptakan kondisi


belajar yang aktif, kreatif, dan mengefektifkan komunikasi interaksi guru dan

siswa menggunakan metode diskusi dengan media pembelajaran yang tepat.

Namun, kenyataan menunjukkan bahwa penerapan metode diskuis

dan penggunaan media belum tampak diterapkan secara optimal. Hal ini

ditunjukkan oleh tindakan guru pada saat mengajar. Guru hanya

menggunakan buku pegangan yang ada dan hanya mengandalkan metode

ceramah, tanpa menggunakan media yang sesuai dengan materi. Akibatnya

keaktifan, partisipasi, dan hasil belajar siswa menjadi rendah.

Keaktifan dan hasil belajar siswa yang rendah, khususnya pada mata

pelajaran IPS merupakan permasalahan yang muncul dalam kegiatan

pembelajaran. Permasalahan dalam kegaiatan pembelajaran dapat ditinjau

dari beberapa aspek. Ditinjau dari aspek siswa, yang mempengaruhi hasil

belajar muncul dari factor internal dan eksternal. Menurut (Dimyati,

2006:200) “faktor internal siswa meliputi sikap terhadap belajar, motivasi

berprestasi, konsentrasi belajar, mengolah bahan belajar, menyimpan

perolehan hasil belajar, menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan

berprestasi, kebiasaan belajar dan cita-cita siswa, sedangkan faktor eksternal

dapat berupa guru, sarana dan prasarana, kebijakan penilaian, lingkungan

social, dan kurikulum sekolah”.

Karena rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa kelas V SD

khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial , maka dilaksanakan

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) denga judul: Penerapan Metode Diskusi

Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPS Pada Siswa SD Kelas
V. Metode ini mampu meningkatkan kemungkinan berpikir kritis, partisipasi,

demokratis, mengembangkan sikap, motivasi, dan kemampuan berbicara.

Dengan menerapkan metode diskusi diharapkan dapat meningkatkan keaktifan

dan hasil belajar siswa SD kelas V khususnya mata pelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka penelitian ini

difokuskan pada permasalahan pokok sebagai berikut.

1. Apakah penerapan metode diskusi dapat meningkatkan keaktifan belajar

Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas V SD?

2. Apakah penerapan metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu

Pengetahuan Sosial pada siswa kelas V SD?

C. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Untuk mengetahui peningkatan keaktifan belajar setelah penerapan metode

diskusi, dan penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial.

2. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar setelah penerapan metode

diskusi, dan penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Manfaat Teoretis
Secara teoritis penelitian ini akan mengkaji metode pembelajaran

yang sesuai untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS melalui

metode diskusi. Dengan demikian temuan penelitian ini akan memperkaya

khasanah pengetahuan di bidang metode pembelajaran.

2. Manfaat Praktis

aa Bagi Siswa

Dari penelitian ini siswa memperoleh pengalaman belajar yang

lebih bermakna, sehingga siswa menjadi lebih menguasai dan terampil

dalam pembelajaran pemecahan masalah dengan penerapan metode

diskusi sehingga hasil belajar lebih meningkat dalam mata pelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial.

ab Bagi Guru

Informasi hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi

serta masuka berharga bagi para guru dalam melakukan berbagai upaya

untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dengan

penerapan metode diskusi, khususnya dalam mata pelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial dan mata pelajaran lain pada umunya.

ac Bagi Orang Tua Siswa

Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar bahwa betapa pentingnya

perhatian orang tua dengan aktivitas dan prestasi belajar putra-putrinya.

Dengan demikian, akan menggugah hati para orang tua siswa untuk

berpartisipasi aktif dalam rangka menyukseskan pendidikan putra-

putrinya.
ad Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi berharga

bagi kepala sekolah untuk mengambil suatu kebijakan yang paling tepat

dalam kaitan dengan upaya menyajikan strategi pembelajaran yang efektif

dan efesien di sekolah.

E. LANDASAN TEORI

1. Kajian Teoretis

a. Pengertian Metode Diskusi

Metode diskusi merupakan suatu kegiatan dimana sejumlah orang

membicarakan secara bersama-sama melalui tukar pendapat tentang suatu

topik atau masalah, atau mencari jawaban dari suatu masalah berdasarkan

semua fakta yang memungkinkan untuk itu.

Menurut (Depdikbud, 1999:14) metode diskusi adalah suatu

metode untuk memupuk keberanian anak didik untuk mengemukakan

pendapat atau memberi kritikan terhadap pendapat orang lain yang

dikemukakan dalam suatu forum.

Dari uraian tersebut di atas dapat didefinisikan metode diskusi

adalah suatu kegiatan belajar-mengajar yang membahas suatu topic atau

masalah yang dilakukan oleh dua orang atau lebih (dapat guru dan siswa

atau siswa dan siswa lain).

Dapat disimpulkan metode diskusi adalah suatu kegiatan belajar

mengajar dalam bentuk tukar pendapat dari pertanyaan-pertanyaan yang


ada baik dari murid secara individual atau secara kelompok maupun dari

guru sehingga diperoleh suatu kesepakatan bersama dari permasalahan

yang dikaji.

Dalam kegiatan diskusi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan

guru dan siswa agar diskusi dapat dilaksanakan dengan efektif, selanjutnya

disebut syarat-syarat diskusi yaitu sebagai berikut.

1) Pembicaraan berlangsung dalam kelompok, dan setiap kelompok ada

peserta yang terlibat didalamnya.

2) Setiap peserta bebas mengeluarkan pendapatnya, dalam komunikasi

langsung tatap muka.

3) Ada aturan main yang disepakati bersama untuk mengatur proses

pembicaraan.

4) Harus ada tujuan dari diskusi tersebut dan tidak boleh ada tekanan dari

siapapun termasuk dari guru.

5) Harus ada pemimpin yang memimpin jalannya diskusi agar tidak

menyimpang dari topik yang dibahas.

b. Tujuan Pemakaian Metode Diskusi

Secara rinci tujuan pemakaian metode diskusi adalah sebagai berikut.

1) Mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan, dan

menyimpulkan pada diri siswa.

2) Mengembangkan sikap sportif terhadap sekolah, para guru dan bidang

studi yang dipelajari.


3) Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan konsep diri

yang lebih positif.

4) Meningkatkan keberhasilan siswa dalam mengemukakan pendapat.

5) Mengembangkan sikap terhadap isu-isu controversial.

c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Diskusi

Kelebihan dan kelemahan dari metode diskusi adalah sebagai berikut.

1) Kelebihan Metode Diskusi

a) Metode ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk

berpartisipasi secara langsung, baik sebagai partisipan, ketua

kelompok, atau penyusun pertanyaan diskusi.

b) Metode ini dapat digunakan secara mudah sebelum, selama, ataupun

sesudah metode yang lain.

c) Metode ini mampu meningkatkan kemungkinan berpikir kritis,

partisipasi, demokratis, mengembangkan sikap, motivasi, dan

kemmpuan berbicara yang dilakukan tanpa persiapan.

d) Metode ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk

menguji, mengubah dan mengembangkan, pandangan, nilai dan

keputusan yang diperlihatkan kesalahannya melalui pengamatan yang

cermat dan pertimbangan kelompok.

e) Metode ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk

memahami kebutuhan memberi dan menerima, sehingga siswa dapat

mengerti dan mempersiapkan dirinya sebagai warga Negara yang

demokratis.
f) Metode ini menguntungkan para siswa yang lemah dalam

pemecahan masalah oleh kelompok, biasanya lebih tepat daripada

pemecahan perorangan (Joni, 1984:105).

2) Kelemahan Metode Diskusi

(1) Metode diskusi sulit diramalkan hasilnya walaupun sudah diatur

secara hati-hati.

(2) Metode ini kurang efesien dalam penggunaan waktu dan

memerlukan perangkat meja dan kursi yang mudah diatur.

(3) Metode ini tidak menjamin penyelesaian sekalipun kelompok setuju

dan membuat kesepakatan pada akhir pertemuan sebab keputusan

yang dicapai belum tentu dilaksanakan.

(4) Metode ini seringkali didominasi oleh seorang atau beberapa orang

anggota diskusi dan menyebabkan orang yang tak berminat hanya

sebagai penonton.

(5) Metode ini membutuhkan kemampuan berdiskusi dari para peserta

agar dapat berpartisipasi aktif dalam diskusi. Kemampuan ini hanya

dimiliki oleh seseorang bila dipelajari dan dilatih (Joni, 1984:105).

b. Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar

IPS merupakan bidang studi yang utuh yang tidak terpisah-pisah

dalam kotak-kotak disiplin ilmu yang ada. Artinya bahwa bidang IPS

tidak lagi mengenal adanya pelajaran geografi, ekonomi, sejarah secara

terpisah melainkan semua disiplin tersebut diajarkan secara terpadu

(Mujinem, 2008:6).
Agar pelaksanaan pembelajaran IPS tersebut menjadi

pembelajaran yang Aktif, Kreatif, dan Menyenangkan (PAKEM), salah

satu solusinya adalah pembelajaran dengan metode diskusi.

Di bawah ini beberapa hal penting yang berhubungan dengan IPS di

SD, yaitu sebagai berikut.

c. Fungsi Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar

IPS di Sekolah Dasar berfungsi mentransmisikan pengetahuan

dan pemahaman tentang masyarakat, berupa fakta-fakta dan ide-ide

kepada anak, selain itu juga mengembangkan rasa kontunuitas dan

stabilitas, memberikan informasi dan teknik-teknik sehingga mereka

dapat ikut memajukan masyarakat sekitar (Hidayat, 2008:24).

d. Pendekatan dan Metode Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar

Beberapa pendekatan dan metode pembelajaran IPS adalah sebagai

berikut.

1) Lingkungan

Kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan ini dapat

dimulai dari atau mencakup hal-hal atau petistiwa yang pernah dialami.

2) Penemuan

Pendekatan ini mendorong dan mengarahkan siswa untuk

melibatkan diri secara aktif dalam proses belajar mengajar dengan

melakukan kegiatan belajar.

3) Induktif-Deduktif
Pendekatan induktif, siswa menarik suatu kesimpulan dari

sejumlah fakta yang satu sama lainnya ada hubungannya yang diperoleh

melalui pengamatan atau cara lain. Sedang deduktif, menghadapkan

siswa pada sesuatu yang berlaku umum dan mengumpulkan berbagai

fakta yang medukung pernyataan tersebut.

4) Nilai

Pendekatan ini dapat dikembangkan berbagai nilai seperti nilai

moral, nilai estetika, dan sebagainya (Hidayat, 2008:26).

e. Alat Peraga atau Media IPS

Alat peraga atau media adalah sumber belajar yang harus

dikembangkan untuk tercapainya hasil belajar yang optimal. Hal ini

seperti yang dikatakan (Hidayat, 2008:123) “Dalam usaha

meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran,

kita tidak boleh melupakan suatu hal yang sudah pasti kebenarannya

yaitu bahwa, pelajar sebanyak-banyaknya berinteraksi dengan sumber

belajar. Tanpa sumber belajar yang memadai sulit diharapkan dapat

diwujudkan proses pembelajaran mengarah kepada tercapainya hasil

belajar yang optimal”.

Atas dasar ini, beberapa alat peraga atau media IPS sangatlah

perlu diaplikasikan dalam setiap pelaksanaan pembelajaran IPS di

sekolah dasar. Adapun alat peraga atau media IPS dapat digunakan

adalah peta, atlas, globe, planetarium, solar sistem, gambar-gambar


(pahlawan, rumah adat) lingkungan sekitar, alat peraga buatan siswa

atau guru dan sebagainya.

A. Keaktifan Belajar

a. Pengertian Keaktifan Belajar

Dalam kemajuan metodologi dewasa ini asas keaktifan lebih

ditonjolkan melalui suatu program unit activity, sehingga kegiatan belajar

siswa menjadi dasar untuk mencapai tujuan dan hasil belajar yang lebih

memadai (Hamalik, 2001:172).

Pendapat lain menyatakan bahwa keaktifan belajar itu beraneka

ragam bentuknya, mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai

kegiatan psikis yang susah kita amati. Kegiatan fisik bias berupa

membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan (Dimyati, 2006:45).

Bertolak dari beberapa pendapat tentang keaktifan belajar di atas,

maka dapat disimpulkan bahwa keaktifan belajar merupakan bentuk segala

kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran, baik secara

fisik maupun mental dan kegiatan yang mudah diamati maupun sulit

diamati.

b. Ciri-Ciri Keaktifan Belajar

Dimyati, (2006:48) mengemukakan pendapatnya bahwa terdapat lima ciri-

ciri dalam keaktifan belajar siswa yaitu sebagai berikut.

1) Keberanian siswa untuk mewujudkan minat, keinginan, dan dorongan.

2) Keinginan dan keberanian siswa untuk ikut serta dalam kegiatan belajar.
3) Adanya usaha dan kreativitas siswa.

4) Adanya keingin tahuan siswa.

5) Memiliki rasa lapang dan bebas.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar

Menurut pendapat Dimyati, (2006:33) “ada empat hal yang

mempengaruhi keaktifan belajar antara lain: 1) bahan belajar, 2) suasana

belajar, 3) media dan sumber belajar, 4) guru sebagai subjek pembelajar”.

Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan

belajar siswa adalah, ada dari luar siswa maupun dari dalam diri siswa.

Faktor internal itu terdiri atas, faktor fisiologis psikologis sedangkan faktor

eksternal terdiri atas faktor lingkungan (fisik dan sosial) dan faktor

instrumental (kurikulum, sarana prasarana, guru, metode, media, serta

manajemen).

d. Pengertian Hasil Belajar

Di antara para pakar pendidikan dan psikologi tidak memiliki

definisi dan perumusan yang sama mengenai pengertian hasil belajar.

Namun di antara mereka memiliki pemahaman yang sama mengenai

makna hasil belajar sebagaimana yang dikemukakan Dimyati dan

Moedjiono, (2006:200) bahwa “hasil belajar merupakan hasil dari suatu

interaksi tindak mengajar atau tindak belajar”. Demikian pula dalam

Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa “Hasil belajar


merupakan sesuatu yang diadakan, dibuat, dijadikan oleh suatu atau dapat

juga berarti pendapatan atau perolehan”.

Hamalik, (2001:34) menyebutkan ada 3 teori tentang hasil belajar

yaitu: 1) Teori disiplin formal yang menyatakan bahwa ingatan, sikap,

imajinasi dapat diperkuat melalui latihan akademis. 2) Teori unsur-unsur

yang identik yaitu: siswa diberikan respon-respon yang diharapkan

diterapkan dalam situasi kehidupan. 3) Teori generalisasi yaitu:

menekankan pada pembentukan pengertian yang dihubungkan pada

pengalaman-pengalamannya.

Berdasarkan pernyataan di atas, dalam konteks penelitian ini dapat

disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah

mengalami interaksi proses pembelajaran. Hasil belajar Ilmu Pengetahuan

Sosial (IPS) yaitu hasil belajar yang dicapai oleh seseorang setelah

mengalami proses pembelajaran mata pelajaran IPS.

2. Kajian Hasil-Hasil Penelitian yang Relevan

Berdasarkan hasil pengamatan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas

V Sd No 5 Bondalem rendah, khusunya pada mata pelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial dipengaruhi faktor eksternal. Guru tidak menggunakan

metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan materi, sehingga sikap

belajar, motivasi belajar siswa, konsentrasi belajar, dan perolehan hasil

belajar siswa rendah.

Karena rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa kelas V SD No 5

Bondalem, khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, maka


dilaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul: Penerapan

Metode Diskusi untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPS pada

Siswa SD Kelas V SD No 5 Bondalem Tahun Ajaran 2009/2010 Kecamatan

Tejakula Kabupaten Buleleng. Metode ini mampu meningkatkan

kemungkinan berpikir kritis, partisipasi, demokratis, mengembangkan sikap,

motivasi, dan kemampuan berbicara. Dengan menerapkan metode diskusi

diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa SD No 5

Bondalem khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahaun Sosial.

F. KERANGKA BERPIKIR

Penerapan metode diskusi dalam proses pembelajaran merupakan

salah satu metode yang tidak terlalu mahal dan tidak terlalu sulit diterapkan

serta cukup efektif untuk mencapai tujuan belajar.

Penerapan metode diskusi merupakan sebuah metode yang dapat

menggali potensi siswa untuk dapat berpikir kritis, bebas mengembangkan

gagasan-gagasannya serta memberi pengalaman langsung sehingga

perolehan belajar tidak bersifat verbal semata, melainkan mampu member

pengalaman yang bersifat konkret. Dengan demikian metode tersebut akan

dapat menguatkan ingatan siswa terhadap materi yang dipelajarinya. Bertitik

tolak dari kerangka berpikir demikian, maka dapat dinyatakan bahwa

dengan penerapan metode diskusi secara efektif, cenderung dapat

meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran IPS.

Penerapan metode diskusi menyebabkan siswa memperoleh

pengalaman belajar yang lebih bermakna dan lebih kuat melekat dalam
memori (pikiran) mereka, sehingga secara tidak langsung berdampak pula

terhadap perolehan atau hasil belajar siswa. Di samping itu dengan

diterapkannya metode ini akan membuat perhatian siswa tertarik dalam

proses belajar, karena siswa mengalami sendiri, dan terlibat aktif dalam

proses belajar sehingga akan mempermudah siswa tersebut memahami

materi pelajaran IPS yang dipelajarinya. Diterapkannya metode ini secara

efektif dan efesien akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata

pelajaran IPS.

G. PERUMUSAN HIPOTESIS

Berdasarkan teori-teori dan kerangka berpikir sebagaimana telah

diuraikan di atas maka berikut ini dapat dijadikan hipotesis yang

dirumuskan sebagai berikut.

Jika penerapan metode diskusi dapat berjalan dengan efektif dan

efesien maka keaktifan belajar dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran

Ilmu PEngetahuan Sosial cenderung meningkat.

H. METODE PENELITIAN

1. Subyek Penelitian

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas V SD yang berjumlah

35 orang. Siswa di kelas ini dipilih sebagai subjek penelitian karena

ditemukan permasalahan-permasalahan yang ditemukan seperti yang telah

dipaparkan pada latar belakang.


Obyek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: a) keaktifan belajar

siswa, dan b) hasil belajar siswa, dan c) respon siswa terhadap proses

pembelajaran IPS dengan penerapan metode diskusi.

2. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif.

Jumlah soal sebanyak 10 butir dan masing-masing diberi skor 1, esay

sebanyak 5 butir, masing-masing diberi skor 2. Selain itu menggunakan

lembar observasi siswa untuk mengetahui keaktifannya. Lembar observasi

untuk siswa adalah sebagai berikut.

Lembar Observasi Siswa

N Aspek

o Perhatian Keberanian Menghargai Pelaksanaan Keberanian

Siswa berpendapat Pendapat Tugas Menjawab

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

Keterangan:

Aspek 1 : Perhatian siswa

Aspek 2 : Keberanian berpendapat

Aspek 3 : Menghargai pendapat


Aspek 4 : Pelaksanaan tugas

Aspek 5 : Keberanian menjawab

Skor

Sangat aktif :5

Aktif :4

Cukup aktif :3

Kurang aktif :2

Sangat kurang aktif :1

3. Teknik Analisis Data

Untuk mengumpulkan data diperlukan nilai siswa yang diperoleh

melalui penilaian proses dan hasil. Setelah data terkumpul, maka data tersebut

diolah dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan mencari tingkat

keaktifan, Mean (M), hasil belajar, dan ketuntasan belajar.

a. Tingkat keaktifan dapat diperoleh dengan menghitung rata-rata persentase

dan membandingkan dengan kriteria PAP skala lima.

M (%) =

Keterangan:

M (%) = Angka rata-rata persen

M = Angka rata-rata skor siswa

Smi = Skor maksimal ideal

(Agung, 1998:8)

PAP Skala 5 Keaktifan Belajar


Persentase Kriteria Keaktifan Belajar IPS

90 – 100 Sangat aktif

80 – 89 Aktif

65 – 79 Cukup aktif

55 – 64 Kurang aktif

0 – 54 Sangat kurang aktif

b. Dalam menilai hasil pembelajaran IPS digunakan nilai dengan skala 0 – 100,

nilai yang diperoleh siswa berdasarkan lembar observasi dan hasil tes siswa.

Kriteria keberhasilan siswa adalah sebagai berikut.

1) Menghitung rata-rata skor siswa dengan mencari Mean (M) dengan rumus

(Nurkancana, 2002:174)

Keterangan:

M = Mean (rata-rata)

= Jumlah seluruh nilai

N = Jumlah individu

2) Untuk menentukan tingkat hasil belajar siswa, digunakan rumus sebagai

berikut.

Keterangan:

Rh = Angka rata-rata persen

M = Angka rata-rata

Smi = Skor maksimal ideal


Sutrisno Hadi, (dalam Arbawa, 2000:12)

3) Menghitung ketuntasan belajar mengacu pada buku pedoman pelaksanaan

kurikulum Sekolah Dasar (SD).

Ketuntasan Belajar

Keterangan:

KB = Ketuntasan belajar

n ≥ 65 = Banyak siswa yang memperoleh nilai 65 keatas

(Misal KKM IPS kelas V adalah 65)

N = Jumlah siswa

(Departemen Pendidikan Nasional, 2002:15)

Hasil analisis yang diperoleh selanjutnya dikonversikan dengan

kriteria Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala lima.

Kriteria PAP skala 5

Persentase Kriteria Hasil Belajar Kriteria Keaktifan Belajar

IPS

90 – 100 Sangat tinggi Sangat aktif

80 – 89 Tinggi Aktif

65 – 79 Sedang Cukup Aktif

55 – 64 Rendah Kurang aktif

0 – 54 Sangat rendah Sangat kurang aktif

I. RANCANGAN PENELITIAN
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) maka

prosedur penelitian ini sesuai dengan prosedur penelitian tindakan kelas yang

dilakukan dalam suatu proses berdaur/bersiklus. Setiap siklus terdiri dari

perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Hal ini sesuai dengan pendapat

Kemmis S. dan M.C. Tanggrat (dalam Karniti 2002:15) yang menyatakan

bahwa PTK adalah siklus refleksi diri yang berbentuk spiral dalam rangka

melakukan proses perbaikan terhadap kondisi yang ada mencarikan solusi

dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan dalam rangka menemukan

cara-cara baru yang lebih baik dan lebih efektif untuk mencapai hasil yang

lebih optimal.

Berdasarkan analisis terhadap permasalahan yang ada, penelitian

tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari 2 (dua) siklus, setiap siklus terdiri

dari dua kali pertemuan dengan 4 (empat) fase, yaitu perencanaan tindakan,

pelaksanaan tindakan, observasi tindakan dan refleksi terhadap tindakan yang

telah dilakukan pada setiap siklus. Namun demikian, keputusan untuk

melanjutkan atau menghentikan penelitian pada akhir siklus tertentu

sepenuhnya bergantung pada hasil yang dicapai pada siklus terakhir. Bila hasil

yang dicapai telah memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan,

maka penelitian dihentikan dan apabila belum mencapai hasil sesuai dengan

yang diharapkan, maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Agung, A.A Gede. 1998. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Singaraja: STKIP Singaraja.
Depdikbud. 1995. Metodik Khusus Pengajaran IPS di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud, Rineka Cipta.

Hamalik Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hidayat, Mujinem, dkk. 2008. Pengembangan Pendidikan IPS di SD. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional.

Joni. 1984. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud.

Nurkancana, Wayan dan P.P.N Sunartana. 2002. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha
Nasional.

Uno, Hamzah. 2008. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.