Anda di halaman 1dari 46

i

LAPORAN PENELITIAN

SINTESIS, KARAKTERISASI DAN APLIKASI CHITOSAN MODIFIED


CARBOXYMETHYL (CS-MCM) SEBAGAI AGEN PERBAIKAN
MUTU KERTAS DAUR ULANG

Oleh:
AGUNG NUGROHO CATUR SAPUTRO,S.Pd.,M.Sc
LINA MAHARDIANI, ST.,MM

Dibiayai DIPA PNBP LPPM


Tahun Anggaran 2009
Sesuai Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Nomor 460/H27.3/PL/2009
tanggal 29 Juni 2009

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
TAHUN 2009

i
ii

HALAMAN PENGESAHAN

1. a. Judul Penelitian : Sintesis, Karakterisasi, dan Aplikasi Chitosan Modified


Carboxymethyl (CS-MCM)) sebagai Agen Perbaikan
Mutu Kertas Daur Ulang
b. Bidang Ilmu : Material dan Energi
2. Ketua Penelitian :
a. Nama Lengkap dan Gelar : Agung Nugroho Catur Saputro,S.Pd.,M.Sc
b. Jenis Kelamin : Laki-laki
c. Golongan/Pangkat/NIP : IIIA/ Penata Muda/ 132 308 872
d. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
f. Fakultas/Jurusan : KIP/P.MIPA/Pendidikan Kimia
g. Pusat Penelitian :-
3. Alamat Ketua Penelitian :
a. Alamat kantor/Telp/Fax/E-mail : Prodi Pendidikan Kimia PMIPA FKIP UNS
Jl. Ir Sutami 36A Kentingan Surakarta.57126
Telp.646994 Psw.376
b. Alamat rumah/Telp/Fax/E-mail : Gumpang Baru RT. 10 RW.02, Gumpang, Kartasura,
Sukoharjo. 57169/ Telp. 081329023054/
E-mail : anc_saputro@yahoo.co.id
4. Jumlah Anggota Peneliti : 1 (satu) orang
a. Nama Anggota : Lina Mahardiani,ST.,MM
5. Lokasi Penelitian : Lab. Prodi Kimia PMIPA FKIP UNS dan SubLab
Lingkungan, Lab. Pusat UNS
6. Kerjasama dengan institusi lain :-
a. Nama Institusi :-
b. Alamat :-
c. Telepon/Fax/E-mail :-
7. Lama Penelitian : 07 bulan
8. Biaya yang diperlukan :
a. LPPM UNS : Rp. 10.000.000,00
b. Sumber lain,sebutkan : Rp. -

Jumlah :Rp. 10.000.000,00


Surakarta, 10 November 2009
Mengetahui ; Ketua Peneliti,
a.n.Dekan
Pembantu Dekan I FKIP

Prof. Dr. rer.nat. Sajidan, M.Si Agung Nugroho Catur Saputro,S.Pd.,M.Sc


NIP 19660415 199103 1 002 NIP. 19770723 2005011001

Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Universitas Sebelas Maret

Prof. Dr. Sunardi, M.Sc.


NIP. 19540916 197703 1 001

ii
iii

SINTESIS, KARAKTERISASI DAN APLIKASI CHITOSAN MODIFIED


CARBOXYMETHYL (CS-MCM) SEBAGAI AGEN PERBAIKAN
MUTU KERTAS DAUR ULANG

Agung Nugroho Catur Saputro, Lina Mahardiani


Program studi Pendidikan Kimia, PMIPA
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang sintesis, karakterisasi dan aplikasi kitosan
termodifikasi karboksimetil (Chitosan Modified Carboxymethyl, CS-MCM) sebagai agen
perbaikan mutu kertas daur ulang. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan kertas
bekas menjadi kertas daur ulang yang berkualitas tinggi dengan penambahan kitosan dan
CS-MCM, memperoleh metode sintesis CS-MCM dari bahan baku kitosan, dan
memperoleh metode sederhana pembuatan kertas daur ulang berkualitas tinggi dengan
penambahan kitosan atau CS-MCM.
Kitosan dipreparasi dari limbah cangkang kepiting melalui tahap deproteinasi,
demineralisasi dan deasetilasi. CS-MCM disintesis melalui reaksi antara kitosan dengan
asam monokloroasetat dalam pelarut larutan NaOH 20%. Kitosan dan CS-MCM
dikarakterisasi meliputi uji kadar air, kadar abu, viskositas dan analisis gugus fungsi
dengan spektroskopi FTIR. CS-MCM hasil sintesis dipergunakan sebagai agen perbaikan
mutu kertas daur ulang melalui metode pencampuran dan pencelupan. Kertas daur ulang
yang telah ditambahi kitosan dan CS-MCM dikarakterisasi melalui uji kehalusan
permukaan kertas dan uji kekuatan tarik kertas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kertas daur ulang berkualitas tinggi dapat
dibuat dengan cara menambahkan agen perbaikan mutu kertas yang berupa kitosan atau
kitosan termodifikasi karboksimetil (Chitosan Modified Carboxymethyl, CS-MCM). CS-
MCM dapat disintesis dengan cara mereaksikan kitosan dengan asam monokloroasetat
dalam pelarut larutan NaOH 20%. Metode sederhana pembuatan kertas daur ulang
berkualitas tinggi adalah dengan cara mencampurkan larutan kitosan ataupun CS-MCM
kedalam adonan bubur kertas atau melapiskan larutan kitosan maupun CS-MCM ke
permukaan kertas dengan teknik pencelupan (dip-coating). CS-MCM memberikan
pengaruh lebih besar dibandingkan dengan kitosan terhadap peningkatan mutu kertas daur
ulang.
Kata kunci : kitosan, chitosan modified carboxymethyl (CS-MCM), mutu kertas daur ulang
iii
iv

SYNTHESIS, CHARACTERIZATION AND APPLICATION OF CHITOSAN


MODIFIED CARBOXYMETHYL (CS-MCM) AS IMPROVEMENT AGENT
ON RECYCLE PAPER QUALITY

Agung Nugroho Catur Saputro, Lina Mahardiani


Chemistry Education of Study Programme, Mathematics and Natural Science Department,
Teaching and Education Science Faculty, Sebelas Maret University

ABSTRACT
The study about synthesis, characterization and application of chitosan modified
carboxymethyl (CS-MCM) as improvement agent on recycle paper quality was conducted.
The purposes of this study are to convert the waste paper to high quality paper with
addition of chitosan or CS-MCM, to get CS-MCM synthesis method from chitosan as raw
material, and to get making simple method of high quality paper with addition chitosan or
CS-MCM.
Chitosan was prepared from crabs shell waste through deproteination,
demineralization and deacetylation steps. CS-MCM was synthesized through react
between chitosan and monocloroacetic acid on alkali condition. Chitosan and CS-MCM
was characterized with water content test, ash content test, viscosity and group functional
analyzed with FTIR spectroscopy. CS-MCM was used as improvement agent on recycle
paper through mixing and coating methods. The recycle paper that was added chitosan and
CS-MCM then characterized through surface softeness test and strength tensile test.
It was concluded that high quality recycle paper can be made by add improvement
agent such chitosan and CS-MCM. CS-MCM can be synthezed through react between
chitosan and monocloroacetic acid on alkali condition. The simple method to make high
quality paper is mixing chitosan or CS-MCM solution to paper solution or coating chitosan
and CS-MCM on paper surface with dip-coating technique. The addition of CS-MCM on
recycle paper shown higher quality than chitosan.

Keywords : chitosan, chitosan modified carboxymethyl (CS-MCM), recycle paper quality

iv
v

PRAKATA
Assalamu’alaikum, wr.wb.
Puji syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian dengan
judul “Sintesis, Karakterisasi dan Aplikasi Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM)
sebagai Agen Perbaikan Mutu Kertas Daur ulang”. Shalawat dan salam semoga
senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW , keluarganya dan
para sahabatnya.

Banyak hambatan dan kesulitan yang menyertai peneliti selama menyelesaikan


penelitian ini, tetapi berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya hambatan dan kesulitan
tersebut dapat teratasi. Untuk itu atas segala bentuk bantuannya, maka peneliti dengan rasa
hormat menyampaikan banyak terima kasih kepada :
1. Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas
Sebelas Maret atas bantuan dana penelitian sesuai Surat Perjanjian Pelaksanaan
Penelitian Nomor : 460/H27.3/PL/2009, tanggal 29 Juni 2009.
2. Ibu Endang Susilowati,S.Si.,M.Si selaku ketua Lab. Kimia Program Studi Pendidikan
Kimia PMIPA FKIP UNS atas pemberian ijin penggunaan lab. kimia untuk penelitian.
3. Saudari Yuliesta Arofati, mahasiswi Program Studi Pendidikan Kimia PMIPA FKIP
UNS atas bantuannya dalam penelitian ini.
4. Tenaga laborat Lab. Kimia instrument jurusan Kimia FMIPA UGM atas bantuannya
dalam analisis spektroskopi FTIR.
Semoga bantuan kebaikan semua pihak tersebut di atas diterima di sisi Allah SWT dan
memperoleh balasan yang sepadan dengan kebaikan mereka..
Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan laporan penelitian ini masih banyak
kekurangan dan kesalahan, itu semua dikarenakan segala keterbatasan yang ada pada
peneliti . Untuk itu sangat diharapkan saran dan kritik yang positif dan konstruktif demi
perbaikan laporan penenlitian ini.
Akhirnya peneliti tetap berharap semoga laporan penelitian ini dapat bermanfaat
bagi peneliti sendiri khususnya dan bagi perkembangan penelitian kimia pada umumnya.
Amiin.
Wassalamu’alaikum, wr.wb.
Surakarta, 10 Nopember 2009
Peneliti

v
vi

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………...….i


HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………………………ii
ABSTRAK ………………………………………….……………………………….….iii
ABSTRACT …………………………………………………………………….…..….iv
PRAKATA ………………………………………………………………………….…...v
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………...vi
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………….……1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………...4
BAB III TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN …………………………...9
BAB IV METODE PENELITIAN ………………………………………….......10
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN …………………………………….…..15
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………………....30
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………...31
LAMPIRAN ......................................................................................................................33
DRAF ARTIKEL ILMIAH .............................................................................................37
SINOPSIS PENELITIAN LANJUTAN ……………………………………………… 44

vi
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Sampah merupakan salah satu permasalahan utama dalam suatu wilayah. Jumlah
sampah di kota-kota besar semakin banyak sedangkan metode pengolahannya belum
cukup optimum dalam mengatasi laju pertambahan sampah. Di kota Surabaya sampah
yang dihasilkan pada tahun 2002 rata-rata perhari mencapai 2.400 ton di mana 1.075,44
ton merupakan sampah organik. Kota Bandung menghasilkan sampah relatif setengah
jumlah total sampah di kota Surabaya dan metode pengolahannya masih konvensional
(Sulistyo P, 2003).
Menurut berita di harian pagi Riau Pos, (3/1/2006), selama tahun 2005 volume
sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Fajar mencapai 1.171
meter kubik per hari. Sementara itu, dengan jumlah rumah tangga 150 ribu maka
diasumsikan akan ada sebanyak 0,015 meter kubik volume sampah per hari untuk setiap
keluarga. Namun dari 2.250 meter kubik sampah rumah tangga, yang terangkut hanya 39
persen sedangkan 61 persen masih menumpuk. Kepala Bappeda Kota Pekanbaru, Ir Dedi
Gusriadi MT, mengatakan bahwa sampah tidak mungkin lagi dilakukan pembakaran
karena akan menimbulkan polusi udara dan tidak akan memberikan manfaat apapun bagi
masyarakat. Dari 1.372,5 meter kubik sampah kota yang belum terangkut, 70 persen
adalah sampah organik, 20 persen lagi sampah plastik, serta 10 persen adalah sampah
pilihan seperti kaca, plastik, kertas, dan logam (www.riaupos.com).
Sampah, seringkali dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu, baik pandangan
hingga kesehatan. Ada berbagai macam sampah yang antara lain berupa limbah padat
maupun limbah cair. Secara sederhana sampah dalam rumah dapat kita bagi menjadi 3
kategori, yakni sampah beracun, seperti batere bekas, bola lampu bekas dan barang-barang
yang mengandung zat kimia. Kemudian sampah padat yang tidak dapat diurai, seperti
plastik, botol, kaleng, dsb. Dan terakhir barang-barang yang masih dapat diurai oleh tanah
seperti sisa sayuran, daun-daun, dsb.
Gaya hidup ramah lingkungan dikenal pula dengan semboyan 3R : Reduce, Reuse
& Recycle. Artinya mengurangi tingkat kebutuhan akan sampah, menggunakan kembali
sampah-sampah yang telah ada dan mendaur ulang sampah-sampah yang telah terpakai

1
2

(Dhinok, 2005). Sampah organik yang berasa dari hewan maupun tumbuh-tumbuhan dapat
dimanfaatkan menjadi pupuk dan biogas. Biogas dibuat dari berbagai jenis bahan buangan
dan bahan sisa, semacam sampah, kotoran ternak, jerami, eceng gondok serta banyak
bahan-bahan lainnya lagi yang masih termasuk senyawa organik, entah berasal dari sisa
dan kotoran hewan ataupun sisa tanaman, melalui fermentasi anaerobik oleh
mikroorganisme. (Saputro, et al., 2006). Salah satu sampah yang dapat didaur ulang adalah
kertas.
Kertas merupakan material yang sangat dibutuhkan di segala bidang, baik
perkantoran, lembaga pendidikan, rumah tangga, rumah makan, dan lain-lain. dengan kata
lain setiap hari kertas bekas yang dihasilkan oleh masyarakat sangat banyak sekali, dan hal
ini tentu perlu perlakuan. Salah satu perlakuan yang dapat diterapkan pada kertas-kertas
bekas tersebut adalah memproduksinya menjadi kertas daur ulang.
Kertas daur ulang memiliki tekstur yang indah. Dari kertas daur ulang dapat dibuat
beraneka ragam kerajinan tangan. Masalah yang berkaitan dengan kertas daur ulang adalah
mutu yang lebih rendah dari kertas non-daur ulang, warna kertas cepat buram, tidak cerah,
memiliki kekuatan yang rendah, mudah rusak karena pengaruh udara lembab maupun oleh
pengaruh mikroorganisme. Oleh karena itu sangat penting untuk diteliti bagaimana
menciptakan kertas daur ulang yang berkualitas tinggi dengan memanfaatkan bahan-bahan
yang ramah lingkungan yang juga merupakan limbah buangan serta menggunakan metode
yang sederhana sehingga dapat dilakukan oleh masyarakat. Salah satu bahan yang bersifat
ramah lingkungan dan diproses dari limbah buangan adalah kitosan.
Kitosan (poli- -(1,4)-D-glukosamin) merupakan makromolekul biologi yang dapat
diperoleh dari proses deasetilasi dari kitin yang dapat tersedia melimpah pada cangkang
kepiting, kulit udang dan cangkang serangga. Kitin (poli- -(1,4)-N-asetil-D-glukosamin)
merupakan biopolimer alami kedua terbanyak di alam setelah selulosa (Yanming, et al.,
2001, Baxter, et al., 2005). Setiap tahun sekitar 100 milyar ton kitin diproduksi di
permukaan bumi ini oleh krustasea, kerang, rajungan, serangga, jamur dan organisme
lainnya. (Rege,P.R and Block,L.H.,1999). Sebagai negara maritim, Indonesia sangat
berpotensi menghasilkan kitin dan produk turunannya.
Kitosan banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang karena sifat-sifatnya yang
unik. Penggunaan kitosan meliputi pemurnian limbah, pengkelat logam-logam berat,
pelapis biji untuk meningkatkan hasil panen dan melindungi dari serangan jamur, sistem
pengantar obat, dan lain sebagainya (Baxter, et al., 2005). Kitosan juga dibisa

2
3

dimanfaatkan sebagai penyerap zat warna (dye) dan di industri kertas, kitosan bisa
dimanfaatkan sebagai agen perbaikan mutu kertas. Sehingga diperkirakan kitosan dapat
dipergunakan sebagai agen perbaikan kertas daur ulang karena selain bisa menyerap warna
buram pada kertas daur ulang, kitosan juga membentuk ikatan hidrogen antar rantai
polimer selulosa sehingga dapat memperkuat mutu kertas daur ulang. Oleh karena itu
sangat penting dilakukan penelitian tentang penggunaan kitosan dan kitosan termodifikasi
sebagai agen perbaikan mutu kertas daur ulang.

1.2. Perumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam
penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah cara pembuatan kertas daur ulang berkualitas tinggi dengan
menggunakan agen perbaikan dari kitosan dan senyawa derivate kitosan ?
2. Bagaimanakah cara mensintesis kitosan termodifikasi karboksimetil?
3. Bagaimanakah metode sederhana yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan
kualitas kertas daur ulang dengan menggunakan agen perbaikan dari kitosan dan
kitosan termodifikasi karboksimetil?

3
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Struktur kitosan


Kitin merupakan polisakarida alam terbanyak kedua di permukaan bumi setelah
selulosa (Cervera et al., 2004; Mello et al., 2006., Tolaimate et al., 2003). Polimer ini
tersusun atas rantai lurus (1 4) ikatan unit-unit 2-asetamido-2-deoksi- -D-glukopiranosa
(Tolaimate et al., 2003). Kitin dikenal sangat sulit larut dalam banyak pelarut karena
struktur kristalnya, sehingga hal ini juga yang mengakibatkan kitin sukar dimanfaatkan
(Yanming et al., 2001). Derivate kitin yang paling banyak disintesis adalah kitosan, yang
terbentuk dari deasetilasi parsial maupun total dari kitin. Jika derajat asetilasi kurang dari
50% (atau derajat deasetilasi lebih dari 50%), kitosan menjadi larut dalam larutan asam
lemah dan berubah menjadi polikationik (Tolaimate, et al., 2003). Sumber utama produksi
kitin adalah kulit kepiting, shrimp dan krill. Kulit shrimp berisi 40-45% kitin dan diperoleh
dengan ekstraksi kalsium karbonat dan protein dari kulit shrimp. Struktur kimia kitin dan
kitosan sebagaimana terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Struktur kimia kitin dan kitosan

Kitosan adalah senyawa turunan kitin dan diperoleh dari proses deastilasi sebagian
ataupun deasetilasi sempurna kitin. Deasetilasi dengan larutan alkali adalah metode yang
paling banyak digunakan untuk deasetilasi kitin tetapi bukan kondisi standar yang
ditetapkan. Alkali yang paling sering dipakai adalah NaOH. Derajat deasetilasi
dipengaruhi oleh konsentrasi alkali, temperatur, dan waktu reaksi (Yaghobi, and
Mirzadeh., 2004).
Kitosan yang merupakan hasil deasetilasi parsial atau sempurna dari kitin dapat
larut dalam larutan asam dan mempunyai banyak kegunaan. Sifat kitosan sangat
dipengaruhi oleh derajat deasetilasi (DD), salah satu parameter struktur dasar kitosan yang

4
5

berefek tidak hanya pada sifat psikokimia, morfologi cincin dan berat molekul, tetapi juga
pada aplikasi biomedical, biodegradability dan aktifitas immunological (Yaghobi and
Mirzadeh., 2004). Oleh karena itu, metode penentuan DD secara tepat harus di tetapkan
(Yanming et al., 2001), dan setiap laporan harga DD harus selalu dicantumkan metode
penentuannya karena harga DD sangat dipengaruhi oleh metode analitik yang
dipergunakan (Khan, et al., 2002).

2.2. Modifikasi struktur kimia kitosan


Kitosan memiliki 2 gugus reaktif, yaitu gugus amino dan gugus hidroksil sehingga
memungkinkan untuk memodifikasi kitosan secara kimia untuk memperluas aplikasi
kitosan. Beberapa tipe derivat kitosan adalah :
a. Crosslinking kitosan
b. Basa schiff
Basa schiff merupakan senyawa imina dengan karakteristik ikatan C=N. Derivat ini
bisa diperoleh melalui kondensasi kitosan dengan aldehid dan keton. Reaksi
kondensasi pada umumnya terjadi dalam mild condition dengan campuran pelarut
asam asetat encer dan metanol.
c. N-alkil kitosan
Derivat ini diperoleh dengan mereduksi ikatan imina pada basa schiff dengan suatu
reduktor seperti Natrium sianohidrat dan natrium borohidrat. N-alkil derivat juga dapat
dibuat dengan mereaksikan sakarida dengan gugus amino kitosan dan diikuti dengan
reduksi dengan NaCNBH3.
d. N-acil kitosan
Derivatisasi dilakukan dengan mereaksikan kitosan dengan asam karboksilat anhidrat
atau asilhalida. Reaksi dapat mengikuti mekanisme adisi maupun eliminasi.

2.3. Penggunaan kitosan sebagai agen croslinked selulosa


Kitosan dapat dipergunakan sebagai agen crosslink antara fiber kertas sehingga
dapat memperkuat kertas. Fiber kertas diikat oleh ikatan hidrogen. Ikatan hidrogen ini
akan berpengaruh pada jarak antar pemisahan fiber croslinking. Keberadaan air yang
berlebih dapat melemahkan kekuatan kertas. Untuk memperbaiki kekuatan kertas,
beberapa resin dan polimer telah digunakan, seperti urea, fenol, melamin, formaldehid
(Nada et al., 2005).

5
6

Beberapa polimer dapat digunakan untuk men-treatmen kertas sehingga mampu


mengurangi kepudaran warna kertas. Polimer-polimer tersebut biasanya digunakan pada
kertas-kertas berusia lama agar lebih baik kualitasnya. Salah satu polimer yang dapat
digunakan untuk memperbaiki mutu kertas adalah kitosan.
Kitosan dapat digunakan sebagai agen perbaikan kertas karena memiliki sifat-sifat
non-toksik, tidak berbau, tidak larut dalam air, mampu membentuk lapis tipis, dan bersifat
antibakteri (Liu et al., 2006) maupun antijamur. Dengan demikian, kertas yang telah diberi
perlakukan dengan kitosan akan bersifat kuat karena kitosan dapat membentuk crosslink
antara fiber kertas melalui ikatan hidrogen, mampu mengurangi adsorpsi air atau udara
lembab karena kitosan bersifat tidak larut dalam air, dan mampu melindungi kertas dari
serangan jamur dan mikroorganisme.

2.4. Pembuatan kertas daur ulang


Pembuatan Kertas Daur Ulang dapat dilakukan menurut metode berikut :
a. Kertas bekas yang telah disobek-sobek sebesar perangko, direndam minimal 12 jam agar
serat-seratnya menjadi lunak diresapi air. Perendaman dapat pula dibantu dengan
perebusan untuk mempercepat proses peresapan air.
b. Kertas yang telah lemas direndam air / direbus, dihancurkan dengan blender. Dengan
perbandingan 1 ; 4 (4 bagian air untuk 1 bagian kertas). Lama pemblenderan tidak lebih
dari 1 menit, sebaiknya dilakukan 2 kali pemblenderan dengan interval 30 detik saja.
c. Bubur kertas yang diperoleh dari pemblenderan dikumpulkan dalam satu wadah.
Selanjutnya dapat dilakukan pencucian untuk mengurangi kadar asamnya dengan cara
menyaring bubur kertas pada kain yang agak lebar dan meletakkannya di atas ember berisi
air. Dengan demikian bubur kertas dapat dicuci sekaligus memisahkan potongan-potongan
kertas yang mungkin belum hancur akibat pemblenderan.
d. Selanjutnya bubur kertas siap untuk diolah, dapat dicetak langsung maupun dilakukan
pencampuran warna dan serat. Masukan bubur kertas yang hanya bercampur dengan warna
saja, atau bercampur dengan serat saja, atau bercampur dengan pewarna dan serat maupun
bubur kertas tanpa campuran, kedalam ember kotak tempat cetakan. Perbandingan antara
jumlah air dan bubur kertas tetap 4 : 1 (4 bagian air untuk 1 bagian bubur kertas). Aduk-
aduk hingga campuran air dan bubur kertas merata.
e. Masukkan bingkai cetakan, dengan posisi bingkai cetak yang memakai kain kassa
berada dibawah dan bingkai kosong dibagian atas sisi kain kassa. Masukkan hingga

6
7

kedasar ember cetak, dengan hati-hati. Atur posisi bingkai cetak agar datar dan sejajar
permukaan air. Kemudian angkat bingkai tersebut dengan hati-hati dalam posisi datar.
Bubur kertas akan tercetak dipermukaan bingkai dengan bentuk seperti selembar kertas
yang basah. Angkat bingkai penutup dengan cepat, jangan sampai airnya memerciki
lembaran kertas yang masih basah tadi. Kemudian ditiriskan dalam posisi miring sekitar 30
derajat hingga airnya tinggal sedikit. Selanjutnya kertas basah tersebut siap untuk
ditransfer ke atas permukaan alas cetak untuk dikeringkan.
f. Bingkai cetak dibalik, sehingga kertas basah menghadap ke alas cetak. Letakkan bingkai
cetak dengan kertas basah tersebut pada alas cetak dengan hati-hati. Pada bagian atas
bingkai cetak atau sisi sebaliknya dari kertas basah dapat dilakukan pengeringan dengan
menggunakan spon. Selain untuk mempercepat pengeringan juga untuk mempermudah
proses pemindahan kertas. Jika sudah cukup keringda bingkai cetak sudah dapat diangkat
dari alas cetak, lakukan dengan hati-hati agar kertas tersebut tidak cacat.
g. Kertas yang telah dipindahkan ke alas cetak tinggal menunggu kering saja, tetapi
sebaiknya tidak dijemur dibawah matahari langsung. Dapat juga diselingi dengan
pengepresan sewaktu kertas belum kering, dengan cara lapisi setiap lembar kertas dengan
kain dan tumpuk sampai beberapa lapis kemudian diletakkan diantara papan pengepresan,
lakukan selama kira-kira 10 menit. Jika kertas sudah kering, pengepresan dilakukan selama
1 jam.(Dhinok, 2005).

7
8

BAB III
TUJUAN DAN MANFAAT

3.1. Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini adalah untuk :
1. Memanfaatkan kertas-kertas bekas yang tidak terpakai menjadi kertas daur ulang yang
memiliki kualitas tinggi dengan penambahan bahan-bahan lain.
2. Memperoleh cara mensintesis kitosan menjadi kitosan termodifikasi karboksimetil
untuk digunakan sebagai agen perbaikan kualitas kertas daur ulang.
3. Memperoleh metode yang sederhana pembuatan kertas daur ulang yang berkualitas
tinggi dengan menggunakan agen perbaikan dari kitosan dan kitosan termodifikasi
karboksimetil.
4. Memperoleh informasi kualitas kertas daur ulang berkualitas tinggi berdasarkan
parameter-parameter uji karakterisasi dan pengujian kualitas kertas.

3.2. Manfaat Penelitian


Manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah :
1. Memperoleh cara alternative memanfaatkan kembali kertas bekas menjadi kertas daur
ulang yang berkualitas tinggi.
2. Memperoleh cara mensintesis kitosan menjadi kitosan termodifkasi karboksimetil
untuk digunakan sebagai agen perbaikan kualitas kertas daur ulang.
3. Memperoleh metode sederhana meningkatkan kualitas kertas daur ulang dengan
menggunakan agen perbaikan dari kitosan dan kitosan termodifikasi karboksimetil.
4. Membantu upaya pemerintah daerah dalam mengurangi volume sampah organik yang
terbuang dan mendaur ulang menjadi kertas daur ulang yang berkualitas tinggi.

8
9

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1. Bahan-bahan
Bahan-bahan yang dipergunakan dalam penelitian ini meliputi kertas bekas, limbah
cangkang kepiting, asam asetat (Merck), NaOH (Merck), HCl (Merck), asam
monokloroasetat ( Merck), methanol (Merck).

4.2. Alat-alat
Alat-alat yang dipergunakan meliputi seperangkat alat-alat gelas, satu set alat
refluks, satu set alat pencetak kertas sederhana, dan spektroskopi FTIR.

4.3. Prosedur Penelitian


Sintesis kitosan
Sintesis kitin dari limbah cangkang kepiting dan konversi kitin menjadi kitosan
dilakukan menurut metode (Saputro, et al., (2009) berikut :
4.3.1.1.Preparasi sampel cangkang kepiting.

Cangkang kepiting dicuci dengan menggunakan air dan kalau perlu disikat sampai
bersih agar sisa-sisa dagingnya hilang. Cangkang kepiting yang sudah bersih dikeringkan
di udara terbuka dengan bantuan sinar matahari selama satu hari. Cangkang kepiting yang
sudah kering kemudian dihaluskan sampai dengan ukuran lolos pada saringan dengan
ukuran 100 mesh (150µm). Serbuk kepiting yang diperoleh kemudian dikeringkan pada
suhu 60oC selama 48 jam. Setelah dilakukan proses pengeringan, sampel serbuk kepiting
siap untuk diolah pada tahap selanjutnya.
4.3.1.2. Preparasi kitosan
Tahap deproteinasi.
Lima puluh gram sampel serbuk kepiting dimasukkan ke dalam labu leher tiga 500
ml kemudian ditambahkan NaOH 4% dengan perbandingan konsentrasi sampel
berbanding NaOH sebesar 1:10 b/v. Campuran tersebut kemudian dipanaskan dan diaduk
pada suhu 80oC selama 1 jam pada kondisi refluks. Kemudian campuran di saring dengan
menggunakan kertas saring dan residu yang diperoleh dicuci dengan menggunakan
aquades sampai netral. Setelah kondisi netral tercapai, residu yang diperoleh kemudian
dikeringkan pada suhu 60oC selama 48 jam.

9
10

Tahap demineralisasi.
Sepuluh gram residu hasil deproteinasi dimasukkan ke dalam gelas kimia 600 ml
kemudian ditambahkan HCl 1M dengan perbandingan konsentrasi sampel berbanding HCl
sebesar 1:15 b/v. Campuran tersebut kemudian diaduk pada suhu kamar selama 3 jam.
Kemudian campuran di saring dengan menggunakan kertas saring dan residu yang berupa
kitin yang diperoleh dicuci dengan menggunakan aquades sampai netral. Setelah kondisi
netral tercapai, kitin yang diperoleh kemudian dikeringkan pada suhu 60oC selama 48 jam.
Tahap deasetilasi.
Sepuluh gram kitin dimasukkan ke dalam labu leher tiga 250 ml kemudian
ditambahkan NaOH dengan konsentrasi 50% dengan perbandingan konsentrasi sampel
berbanding NaOH sebesar 1:15 b/v. Campuran tersebut kemudian dipanaskan dan diaduk
pada suhu 100oC selama 2 jam pada kondisi refluks. Kemudian campuran di saring dengan
menggunakan kertas saring dan residu yang merupakan kitosan dicuci dengan
menggunakan aquades sampai netral. Setelah kondisi netral tercapai, kitosan yang
diperoleh kemudian dikeringkan pada suhu 60oC selama 48 jam.
4.3.1.3.Sintesis Chitosan modified carboximethyl (CS-MCM)
Chitosan modified carboxymethyl disintesis menurut metode Nada et al., (2005)
cara sebagai berikut : lima gram kitosan dilarutkan dalam 100 mL larutan NaOH 20% dan
diaduk selama 15 menit. 15 gram larutan asam monokloroasetat ditambahkan kedalam
larutan kitosan dan mengaduknya selama 2 jam pada suhu 40oC. Kemudian campuran
larutan kitosan-monokloro asetat dinetralkan dengan larutan asam asetat 10%, dituangkan
kedalam larutan methanol 70% berlebih, menyaringnya dan mencucinya dengan methanol.
Produk kitosan termodifikasi karboksimetil yang diperoleh kemudian dikeringkan pada
suhu 55oC selama 8 jam.
4.3.1.4. Pembuatan kertas daur ulang
Kertas bekas yang telah disobek-sobek sebesar perangko, direndam minimal 12
jam agar serat-seratnya menjadi lunak diresapi air. Perendaman dapat pula dibantu dengan
perebusan untuk mempercepat proses peresapan air. Kertas yang telah lemas direndam air /
direbus, dihancurkan dengan blender, dengan perbandingan 1 ; 4 (4 bagian air untuk 1
bagian kertas). Lama pemblenderan tidak lebih dari 1 menit, sebaiknya dilakukan 2 kali
pemblenderan dengan interval 30 detik saja. Bubur kertas yang diperoleh dari
pemblenderan dikumpulkan dalam satu wadah. Selanjutnya dapat dilakukan pencucian
untuk mengurangi kadar asamnya dengan cara menyaring bubur kertas pada kain yang

10
11

agak lebar dan meletakkannya di atas ember berisi air. Dengan demikian bubur kertas
dapat dicuci sekaligus memisahkan potonganpotongan kertas yang mungkin belum hancur
akibat pemblenderan. Selanjutnya bubur kertas siap untuk diolah, dapat dicetak langsung
maupun dilakukan perlakuan khusus untuk meninngkatkan kualitas kertas.
Bubur kertas yang diperoleh kemudian diberi perlakuan yang berbeda.
a. Pembuatan kertas daur ulang metode I.
Pada metode I ini, bubur kertas langsung dicetak menjadi kertas daur ulang. Proses
pencetakan kertas daur ulang dilakukan menurut metode Dhinok (2005), yaitu :
1. Masukkan bingkai cetakan, dengan posisi bingkai cetak yang memakai kain kassa
berada dibawah dan bingkai kosong dibagian atas sisi kain kassa. Masukkan hingga
kedasar ember cetak, dengan hati-hati. Atur posisi bingkai cetak agar datar dan sejajar
permukaan air. Kemudian angkat bingkai tersebut dengan hati-hati dalam posisi datar.
Bubur kertas akan tercetak dipermukaan bingkai dengan bentuk seperti selembar kertas
yang basah. Angkat bingkai penutup dengan cepat, jangan sampai airnya memerciki
lembaran kertas yang masih basah tadi. Kemudian ditiriskan dalam posisi miring sekitar 30
derajat hingga airnya tinggal sedikit. Selanjutnya kertas basah tersebut siap untuk
ditransfer ke atas permukaan alas cetak untuk dikeringkan.
2. Bingkai cetak dibalik, sehingga kertas basah menghadap ke alas cetak. Letakkan bingkai
cetak dengan kertas basah tersebut pada alas cetak dengan hati-hati. Pada bagian atas
bingkai cetak atau sisi sebaliknya dari kertas basah dapat dilakukan pengeringan dengan
menggunakan spon. Selain untuk mempercepat pengeringan juga untuk mempermudah
proses pemindahan kertas. Jika sudah cukup keringda bingkai cetak sudah dapat diangkat
dari alas cetak, lakukan dengan hati-hati agar kertas tersebut tidak cacat.
3. Kertas yang telah dipindahkan ke alas cetak tinggal menunggu kering saja, tetapi
sebaiknya tidak dijemur dibawah matahari langsung. Dapat juga diselingi dengan
pengepresan sewaktu kertas belum kering, dengan cara lapisi setiap lembar kertas dengan
kain dan tumpuk sampai beberapa lapis kemudian diletakkan diantara papan pengepresan,
lakukan selama kira-kira 10 menit. Jika kertas sudah kering, pengepresan dilakukan selama
1 jam.
b. Pembuatan kertas daur ulang metode II.
Pada metode II ini, bubur kertas sebelum dicetak menjadi kertas daur ulang terlebih
dahulu dicampur dengan larutan kitosan variasi konsentrasi dalam pelarut asam asetat 3%

11
12

(Saputro, et al., 2009), kemudian baru dilakukan proses pencetakan. Proses pencetakan
kertas daur ulang dilakukan menurut metode Dhinok (2005) di atas.
c. Pembuatan kertas daur ulang metode III
Pada metode III ini, bubur kertas sebelum dicetak menjadi kertas daur ulang
terlebih dahulu dicampur dengan larutan kitosan termodifikasi karboksimetil variasi
konsentrasi dalam pelarut asam asetat 5% (Nada, et al., 2005), kemudian baru dilakukan
proses pencetakan. Proses pencetakan kertas daur ulang dilakukan menurut metode Dhinok
(2005) di atas.
d. Pembuatan kertas daur ulang metode IV.
Pada metode III ini, bubur kertas langsung dicetak seperti metode I. Kemudian
setelah kertas daur ulang selesai dicetak dan diperoleh lembaran kertas daur ulang kering,
kertas daur ulang ini dilapisi dengan larutan kitosan variasi konsentrasi (dalam pelarut
asam asetat 3%) dengan metode sol-gel coating.
e. Pembuatan kertas daur ulang metode V.
Pada metode V ini, bubur kertas langsung dicetak seperti metode I. Kemudian
setelah kertas daur ulang selesai dicetak dan diperoleh lembaran kertas daur ulang kering,
kertas daur ulang ini dilapisi dengan larutan kitosan termodifikasi karboksimetil variasi
konsentrasi (dalam pelarut asam asetat 5%) dengan metode sol-gel coating.
4.3.2. Karakterisasi kitosan dan kitosan termodifikasi karboksimetil serta pengujian
kualitas kertas daur ulang

Kitosan dan kitosan termodifikasi karboksimetil hasil preparasi dikarakterisasi


meliputi uji kadar air, kadar abu, kadar nitrogen, viskositas, dan analisis gugus fungsi.
Kertas daur ulang yang diproses menurut metode I, II, III, IV, dan V dikarakterisasi
untuk menentukan kualitas kertas daur ulang, yang meliputi uji kehalusan permukaan
kertas daur ulang dan uji kekuatan tarik kertas daur ulang.

12
13

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini akan diuraikan tentang metode preparasi kitosan, karakterisasi kitosan,
sintesis kitosan termodifikasi karboksimetil (Chitosan Modified Carboxymethyl, CS-
MCM), karakterisasi kitosan termodifikasi karboksimetil dan pembuatan kertas daur ulang
beserta karakterisasinya. Karakterisasi kitosan dan kitosan termodifikasi karboksimetil
meliputi uji kadar air, kadar abu, analisis gugus fungsi dan viskositas. Karakterisasi kertas
daur ulang meliputi uji kehalusan permukaan kertas daur ulang dan uji kuat tarik kertas
daur ulang.
5.1. Preparasi kitosan dari serbuk cangkang kepiting
Preparasi kitosan dari limbah cangkang kepiting jawa secara umum dilakukan
melalui 4 tahap perlakuan, yaitu persiapan, deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi.
Tahap persiapan meliputi pencucian, pengeringan, dan penggerusan cangkang kepiting
sampai diperoleh serbuk yang lolos ayakan 100 mesh (150 m).
Tahap deproteinasi bertujuan untuk menghilangkan protein yang terdapat pada
cangkang kepiting. Tahap deproteinasi dilakukan dengan larutan NaOH 4% pada suhu
80oC selama 1 jam dan diperoleh rendemen sebesar 79,21%. Hal ini menunjukkan kalau
protein yang hilang proses deproteinasi sebesar 20,79%.
Tahap selanjutnya adalah tahap demineralisasi, yaitu penghilangan mineral-
mineral dalam cangkang kepiting dengan menggunakan larutan HCl 1 M pada suhu kamar
selama 3 jam. Pada tahap ini diperoleh rendemen sebesar 21,32%. Hal ini menunjukkan
bahwa sebagian besar komponen penyusun cangkang kepiting adalah mineral-mineral
logam, khususnya kalsium karbonat (CaCO3) dan kalsium fosfat [Ca3(PO4)2]. Proses
penghilangan mineral diperkirakan menurut reaksi sebagai berikut :
CaCO3 (s) + 2HCl(aq) CaCl2 (aq) + CO2 (g) + H2O (l)

Ca3(PO4)2 (s) + 6HCl(aq) 3CaCl2 (aq) + 2H3PO4 (aq)

Tahap terakhir adalah deasetilasi, yaitu penghilangan gugus asetil. Deasetilasi

dilakukan dengan menggunkan larutan NaOH 50% pada suhu 100oC selama 2 jam. Pada

tahap deasetilasi ini diperoleh rendeman sebesar 60,67%. Pada proses deasetilasi terjadi

pemutusan ikatan antara karbon pada gugus asil dengan nitrogen pada kitin menjadi gugus

13
14

amino. Ketika proses deasetilasi dengan menggunakan larutan NaOH konsentrasi tinggi,

dalam larutannya NaOH akan terurai menjadi ion Na+ dan OH-. Ion hidroksil tersebut lalu

menyerang karbon karbonil yang bersifat elektropositif. Produk akhir dari reaksi ini berupa

kitosan dan garam natrium asetat sebagai hasil samping. Reaksi deasetilasi kitin dengan

basa kuat yang terjadi diperkirakan mengikuti reaksi sebagai berikut :

Gambar 5.1. Reaksi deasetilasi kitin dengan basa kuat menjadi kitosan (Dewi dan Fawzya,
2006)

Berdasarkan data rendeman dari tahap deproteinasi, demineralisasi, dan deasetilasi,


maka dapat disimpulkan bahwa pada proses preparasi kitosan dari bahan dasar serbuk
cangkang kepiting diperoleh rendeman total sebesar 10,24%. Sehingga dari berat serbuk
kepiting awal 50 gram akan diperoleh kitosan sebanyak 5,12 gram. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa kandungan kitosan dalam cangkang kepiting sebanyak 10,24%.
Kandungan kitosan dalam cangkang kepiting jawa menurut penelitian ini ternyata lebih
rendah dibandingkan kandungan kitosan dalam cangkang kepiting Tarakan sebesar
17,05% (Saputro, 2009).

5.2 Karakterisasi Kitosan


Kitosan dapat dikarakterisasi dengan sifat intrinsik (kemurnian, berat molekul,
viskositas, dan derajat deasetilasi) dan bentuk fisik (Nadarajah, 2005). Lebih lanjut,
kualitas dan sifat kitosan mungkin bervariasi karena banyak faktor dalam proses preparasi
yang dapat mempengaruhi karakteristik produk kitosan akhir. Kitosan secara komersial
dijual dengan variasi tingkat kemurnian, berat molekul dan derajat deasetilasi.
14
15

Karakterisasi kitosan dapat digunakan sebagai parameter mutu kitosan. Mutu


kitosan dapat ditentukan oleh jenis dan kualitas bahan baku, kondisi proses, dan
penanganan selama penyimpanan. Kitosan hasil preparasi yang diperoleh dalam penelitian
ini dikarakterisasi dengan menggunakan beberapa metode untuk mengetahui sifat-sifatnya.
Karakterisasi kitosan hasil preparasi ini meliputi karakterisasi dengan menggunakan
spektroskopi IR, penghitungan derajat deasetilasi dengan metode spektrofotometri
inframerah (base line), uji viskositas, uji kadar air dan kadar abu.

5.2.1 Analisis gugus fungsi dengan spektroskopi FTIR


Kitin dan kitosan hasil preparasi dikarakterisasi dengan menggunakan spektroskopi
inframerah untuk mengetahui gugus-gugus fungsi karakteristiknya. Spektra IR kitin dan
kitosan disajikan dalam Gambar 5.2.
Berdasarkan Gambar 5.2 terlihat bahwa pada spektra IR kitin muncul puncak-
puncak serapan pada bilangan gelombang 3448,72 cm-1 yang menunjukkan vibrasi ulur –
OH. Munculnya serapan pada bilangan gelombang 2924,09 cm-1 dan 2854,05 cm-1 yang
masing-masing merupakan vibrasi ulur simetri CH3 dan vibrasi ulur C-H, menunjukkan
keberadaan gugus asetil (Yanming et al., 2001). Serapan pada bilangan gelombang
1627,92 cm-1 menunjukkan pita amida I (ulur C=O) juga menandakan keberadaan gugus
asetil. Bilangan gelombang 1558,48 cm-1 merupakan serapan dari amida II (tekuk –NH)
dan 1311,59 cm-1 menunjukkan serapan amida III (ulur C-N) juga merupakan bukti
keberadaan gugus asetil.

15
16

Gambar 5.2. Spektra IR (A). Kitin dan (B). Kitosan

Pada spektra IR kitosan, muncul puncak serapan pada bilangan gelombang 3448,72
cm-1 menunjukkan serapan vibrasi ulur –OH yang tumpang tindih dengan vibrasi ulur –
NH (Velde dan Kiekens, 2004). Melebarnya puncak serapan pada bilangan gelombang
3448,72 cm-1 menunjukkan telah terjadinya proses deasetilasi. Puncak serapan pada
bilangan gelombang 2916,37 cm-1 mempunyai intensitas lebih lemah daripada 2924,09 cm-
1
pada spektra IR kitin menunjukkan telah hilangnya sebagian gugus asetil akibat proses
deasetilasi dengan basa kuat konsentrasi tinggi. Munculnya serapan amida I (C=O) pada
spektra IR kitosan walaupun mengalami pergeseran dari 1627,92 cm-1 menjadi 1658,78
cm-1 menunjukkan masih adanya gugus asetil pada rantai polimer kitosan walaupun
jumlahnya lebih sedikit akibat proses deasetilasi. Kemunculan serapan pada bilangan
gelombang 1566,20 cm-1 yang merupakan serapan vibrasi amida II (tekuk –NH)
menunjukkan telah terjadinya proses deasetilasi karena serapan tersebut mendekati serapan
1590 cm-1 yang merupakan pita serapan gugus amina pada kitosan.
Berdasarkan analisis gugus fungsi di atas, ternyata pada spektra IR kitin dan
kitosan menunjukkan munculnya serapan-serapan karakteristik dari kitin dan kitosan. Oleh
karena itu, disimpulkan bahwa produk hasil preparasi pada penelitian ini adalah kitosan.

16
17

5.2.2. Kadar air


Kitosan mempunyai sifat higroskopis sehingga mudah sekali menyerap uap air dari
udara di sekitarnya. Kadar air yang terkandung di dalam serbuk kitosan dinyatakan sebagai
H2O yang terikat pada gugus-gugus fungsional polimer kitosan, terutama gugus amina, N-
asetil dan hidroksil melalui ikatan hidrogen. Kadar air kitosan bergantung pada
kelembaban relatif udara sekeliling tempat penyimpanan karena kitosan bersifat
higroskopis. Kadar air kitosan merupakan parameter penting dalam menentukan mutu
kitosan. Data hasil pengukuran kadar air kitin dan kitosan ditampilkan dalam Tabel 5.1.

Tabel 5.1. Kadar air kitin dan kitosan


No Sampel Kadar air (%)
1 Kitin 0,9415
2 Kitosan 0,4985

Data hasil uji kadar air pada Tabel 5.1 menunjukkan bahwa kandungan air kitin
lebih banyak daripada kitosan. Hal ini menunjukkan bahwa kitin mempunyai kekuatan
mengikat molekul-molekul air lebih kuat dibandingkan kitosan. Lebih banyaknya molekul
air yang terikat pada kitin dibandingkan pada kitosan kemungkinan disebabkan oleh masih
adanya protein yang melingkupi rantai kitin karena gugus peptina pada rantai protein
potensial mengikat molekul air. Setelah melalui tahap deasetilasi dengan larutan basa kuat
konsentrasi dan temperatur tinggi, barulah protein-protein yang masih melingkupi rantai-
rantai kitin terlepas dan menyebabkan daya ikat molekul air dari kitosan mengalami
penurunan.
5.2.3. Kadar abu
Abu merupakan indikasi dari komponen senyawa anorganik yang terkandung
dalam bahan baku kitosan. Kadar abu merupakan ukuran keberhasilan proses
demineralisasi pada proses isolasi kitin dari bahan bakunya (Dewi dan Fawzya, 2006).
Kadar abu dapat dijadikan parameter mutu kitosan. Semakin rendah nilai kadar abu, maka
tingkat kemurnian kitosan semakin tinggi, dan sebaliknya. Data hasil pengukuran kadar
abu kitin dan kitosan disajikan dalam Tabel 5.2.

17
18

Tabel 5.2. Kadar abu kitin dan kitosan


No Sampel Kadar abu (%)
1 Kitin 0.9774
2 Kitosan 0.3317

Nilai kadar abu kitin dan kitosan menurut Tabel 5.2 menunjukkan bahwa proses
demineralisasi belum sepenuhnya mampu menghilangkan mineral-mineral anorganik
dalam cangkang kepiting, terutama kalsium karbonat dan kalsium fosfat (Muzzarelli,
1977). Kadar abu kitosan lebih kecil daripada kadar abu kitin menunjukkan bahwa proses
deasetilasi dengan menggunakan larutan NaOH 50% dan kondisi temperatur 100oC
disamping menghilangkan gugus asetil juga mampu menghilangkan mineral-mineral
anorganik. Hal ini sesuai dengan pendapat Gyliene et al. (2003) yang menyatakan bahwa
mineral anorganik dapat dihilangkan melalui perlakuan asam dan basa.

5.2.4. Viskositas
Viskositas merupakan salah satu sifat karakteristik dari polimer. Larutan kitosan
merupakan senyawa kimia berupa rantai-rantai polimer yang mempunyai viskositas tinggi.
Informasi mengenai viskositas kitosan berhubungan dengan aplikasinya. Dalam bidang
farmasi diperlukan kitosan dengan viskositas rendah, sedangkan untuk keperluan
pengental atau pengeras bahan makanan diperlukan kitosan dengan viskositas tinggi (Dewi
dan Fawzya, 2006).
Viskositas kitosan mengalami pengurangan seiring dengan bertambahnya waktu
proses demineralisasi. Berat molekul kitosan dapat diukur dengan cara melarutkan 1%
kitosan ke dalam larutan asam asetat 1% kemudian diukur viskositasnya dengan alat
viscometer. Rinaudo dan Domand (1989) menyatakan bahwa viskositas kitosan
berbanding lurus dengan berat molekulnya. Kitosan dengan berat molekul tinggi
memounyai viskositas yang tinggi pula, begitu pula sebaliknya (Dewi dan Fawzya, 2006).
Oleh karena itu viskositas dapat dipergunakan untuk menghitung berat molekul kitosan.
Kitosan hasil preparasi dalam penelitian ini memiliki viskositas sebesar 0.7001cPs.
Nilai viskositas kitosan tersebut jika dibandingkan dengan standar mutu kitosan menurut
lab. Protan (1987) termasuk kategori rendah dan jika dibandingkan dengan spesifikasi
kitosan komersial, maka kitosan hasil preparasi dalam penelitian ini termasuk kategori
kitosan tingkat farmasi (Subasinghe, 1999).

18
19

5.3. Sintesis Chitosan Modifiied Carboxymethyl (CS-MCM)


Chitosan modified carboxymethyl (CS-MCM) yang merupakan senyawa derivate
kitosan disintesis dari bahan baku kitosan yang diperoleh dari hasil preparasi dari serbuk
cangkang kepiting. CS-MCM disintesis dengan cara merekasikan kitosan dengan asam
monokloroasetat. Reaksi perubahan kitosan menjadi chitosan modified carboxymethyl
(CS-MCM) diperkirakan sebagai berikut (Nada et al., 2005) :
R-OH + Cl-CH2-COOH  R-O-CH2-COOH
Kitosan CS-MCM
Pada penelitian ini diperoleh rendemen hasil sintesis chitosan modified
carboxymethyl sebesar 72,9%. Hal ini menunjukkan bahwa kitosan yang merupakan bahan
baku sintesis CS-MCM mengalami penurunan massa karena jika sesuai teori maka massa
CS-MCM seharusnya lebih besar dibandingkan massa kitosan karena adanya substitusi
gugus hidroksil dengan gugus karboksil. Fenomena penurunan massa kitosan
kemungkinan terjadi pada saat pengadukan kitosan dengan larutan NaOH 20% yang
menyebabkan larutnya sisa-sisa protein maupun kemungkinan pemutusan gugus asetil
menjadi gugus amina.

5.4. Karakterisasi Chitosan Modifiied Carboxymethyl (CS-MCM)


Senyawa derivate kitosan hasil sintesis dalam penelitian ini yaitu chitosan modified
carboxymethyl dilakukan uji karakterisasi meliputi uji kadar air, kadar abu, dan analisis
gugus fungsi dengan menggunakan spektroskopi FTIR.

5.4.1. Kadar air


Derivate kitosan CS-MCM hasil sintesis dalam penelitian ini mempunyai kadar air
sebesar 0,6779%, yang ternyata lebih tinggi jika dibandingkan kadar air kitosan awal yaitu
0,4985%. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa derivat kitosan CS-MCM mempunyai
kemampuan mengikat molekul air lebih kuat dibandingkan kemampuan mengikat molekul
air oleh kitosan.
Kemampuan mengikat molekul air yang lebih besar pada CS-MCM dibandingkan
kitosan kemungkinan disebabkan oleh keberadaan gugus karboksimetil pada struktur CS-
MCM. Keberadaan gugus karboksimetil yang menggantikan atom H dalam gugus
hidroksil pada atom C-5 dari struktur kitosan menyebabkan lebih banyak kemungkinan
terjadi ikatan hidrogen dengan molekul-molekul air, sehingga menyebabkan molekul-

19
20

molekul air terhidrat yang mengelilingi rantai CS-MCM lebih banyak dibandingkan yang
mengelilingi rantai kitosan.

5.4.2. Kadar abu


CS-MCM hasil sintesis dalam penelitian ini mempunyai kadar abu sebesar
0,6911%. Kadar abu CS-MCM ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan kadar abu
kitosan, yaitu sebesar 0,3317%. Data ini menunjukkan bahwa senyawa derivat kitosan CS-
MCM mempunyai kandungan karbon yang lebih tinggi dibandingkan kitosan.
Kenaikan kadar abu senyawa CS-MCM kemungkinan besar disebabkan oleh
substitusi/penggantian atom H dalam gugus hidroksil pada atom C-5 dari struktur kitosan
dengan gugus karboksimetil sehingga jumlah atom karbon dalam rantai CS-MCM lebih
banyak dibandingkan dalam rantai kitosan.

5.4.3. Viskositas
Data viskositas dapat digunakan untuk memprediksi panjang rantai suatu polimer.
Semakin panjang rantai suatu polimer, maka semakin tinggi viskositasnya. Viskositas juga
dapat dipergunakan untuk menghitung berat molekul polimer dengan menggunakan
persamaan Mark-Hawink.
Polimer CS-MCM hasil sintesis mempunyai viskositas sebesar 0.6760 cPs
sedangkan kitosan yang merupakan bahan dasar sintesis CS-MCM mempunyai harga
viskositas sebesar 0.7001 cPs. Harga viskositas CS-MCM yang lebih kecil dibandingkan
dengan harga viskositas kitosan menunjukkan bahwa rantai polimer CS-MCM lebih
pendek dibandingkan rantai polimer kitosan. Hal ini kemungkinan ada kaitannya dengan
perlakuan dengan larutan NaOH 20% ketika proses sintesis CS-MCM. Kemungkinan
ketika dicampurkan dan diaduk dalam larutan NaOH 20%, pada rantai polimer kitosan
terjadi proses depolimerisasi sehingga menyebabkan pemendekan rantai polimer CS-
MCM.
Berdasarkan perbandingan harga viskositas antara kitosan dengan CS-MCM, maka
diperkirakan CS-MCM mempunyai berat molekul lebih kecil dibandingkan dengan kitosan
karena rantai polimernya lebih pendek daripada rantai polimer kitosan.

5.4.4. Analisis gugus fungsi dengan spektroskopi FTIR

20
21

Perubahan kitosan menjadi kitosan termodifikasi karboksimetil (Chitosan Modified


Carboxymethyl, CS-MCM) dapat diamati melalui perubahan gugus-gugus fungsi
karakteristiknya. CS-MCM memiliki gugus karboksilat yang merupakan gugus fungsi
karakteristik, sedangkan kitosan tidak mempunyai gugus fungsi karboksilat. Oleh karena
itu dengan mengamati keberadaan gugus-gugus fungsi karakteristiknya, maka dapat
diperkirakan sudah terbentuk atau tidak CS-MCM. Spektra IR kitosan dan kitosan
termodifikasi karboksimetil (CS-MCM) disajikan pada Gambar 5.3.

Gambar 5.3. Spektra IR (A). Kitosan dan (B). CS-MCM

Berdasarkan Gambar 5.3 terlihat bahwa pada spektra IR CS-MCM muncul puncak
serapan pada bilangan gelombang 3448,72 cm-1 yang merupakan serapan dari vibrasi ulur
gugus-OH yang tumpang tindih dengan serapan vibrasi ulur –NH (Velde dan Kiekens,
2004). Puncak serapan vibrasi ulur C-H mengalami pergeseran dari 2854,65 cm-1 menjadi
2885,51 cm-1 dan intensitasnya berkurang kemungkinan menunjukkan terjadinya kembali
pemutusan gugus asetil dari rantai polimer kitosan akibat perlakuan dengan larutan NaOH
20%. Bertambahnya puncak serapan pita amida I (ulur C=O) yang muncul pada bilangan
gelombang 1658,78 cm-1 dan 1627,92 cm-1 menunjukkan bertambahnya gugus C=O akibat
penambahan gugus karboksilat (-COOH) yang berarti telah terbentuk CS-MCM. Di
samping bukti kemunculan dua puncak serapan C=O, terbentuknya CS-MCM dari kitosan

21
22

dapat diperkuat dengan semakin melebarnya puncak serapan vibrasi ulur C-O yang muncul
pada bilangan gelombang 1072,42 cm-1 dan 1026,13 cm-1, yang menunjukkan telah terjadi
penambahan gugus karboksilat.
Berdasarkan analisis perbandingan gugus fungsi antara kitosan dan CS-MCM di
atas, maka disimpulkan bahwa CS-MCM telah terbentuk karena munculnya puncak-
puncak karakteristik CS-MCM, sedangkan puncak-puncak karakteristik kitosan berkurang.

5.5. Kajian pengaruh penambahan kitosan dan Chitosan Modifiied Carboxymethyl


(CS-MCM) terhadap mutu kertas daur ulang
Kitosan dan CS-MCM dapat dipergunakan sebagai bahan tambahan untuk
memperbaiki mutu kertas daur ulang. Keberadaan kitosan maupun CS-MCM akan mampu
memperkuat ikatan antara fiber kertas sehingga kertas lebih kuat dan tahan terhadap
pengaruh mekanik luar. Hal itu disebabkan kitosan dan CS-MCM mampu menjadi
jembatan penguat antar fiber kertas dengan cara membentuk ikatan hidrogen antar rantai
selulosa.
Berikut ini akan dikaji pengaruh penambahan kitosan dan kitosan termodifikasi
karboksilat (CS-MCM) terhadap tingkat kehalusan permukaan dan kuat tarik kertas daur
ulang.

5.5.1. Pengaruh penambahan kitosan terhadap tingkat kehalusan dan kekuatan tarik
kertas daur ulang

Data pengaruh penambahan kitosan terhadap tingkat kehalusan dan kekuatan tarik
kertas daur ulang diperoleh berdasarkan uji organoleptik dari 10 responden dengan skala
penilaian 1 s/d 5, dimana angka 1 menunjukkan nilai paling kecil dan angka 5
menunjukkan nilai paling besar. Data penilaian tingkat kehalusan dan kekuatan tarik kertas
daur ulang sebelum dan setelah penambahan kitosan disajikan pada Tabel 5.3 dan Tabel
5.4.
Tabel 5.3. Data uji tingkat kehalusan kertas daur ulang
No. Tingkat kehalusan
Responden Tanpa penambahan kitosan Penambahan kitosan
1 2 3
2 2 3
3 1 3
4 2 3
5 2 3

22
23

6 2 4
7 3 3
8 3 4
9 2 4
10 1 3
Jumlah 20 33

Tabel 5.4. Uji tingkat kekuatan tarik kertas daur ulang


No. Tingkat kekuatan tarik
Responden Tanpa penambahan kitosan Penambahan kitosan
1 2 3
2 1 4
3 1 4
4 1 3
5 2 4
6 2 4
7 1 4
8 1 3
9 2 3
10 2 4
Jumlah 15 36

Berdasarkan Tabel 5.3 dan Tabel 5.4 terlihat bahwa kertas daur ulang yang
diproses dengan penambahan kitosan mempunyai tingkat kehalusan dan kekuatan tarik
yang lebih tinggi dibandingkan dengan kertas daur ulang yang diproses tanpa penambahan
kitosan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh keberadaan kitosan dalam serat-serat fiber
selulosa mampu memperpendek dan mempererat ikatan antar fiber selulosa sehingga
permukaan kertas menjadi lebih rata dan halus.
Di samping mampu meningkatkan tingkat kehalusan permukaan kertas daur ualng,
kitosan juga mampu meningkatkan kekuatan tarik kertas daur ulang sehingga kertas tidak
mudah sobek. Hal itu kemungkinan disebabkan oleh semakin eratnya ikatan antar fiber
selulosa dalam kertas daur ulang.

5.5.2. Pengaruh penambahan CS-MCM terhadap tingkat kehalusan dan kekuatan


tarik kertas daur ulang

Data pengaruh penambahan CS-MCM terhadap tingkat kehalusan dan kekuatan


tarik kertas daur ulang diperoleh berdasarkan uji organoleptik dari 10 responden dengan
skala penilaian 1 s/d 5, dimana angka 1 menunjukkan nilai paling kecil dan angka 5
menunjukkan nilai paling besar. Data penilaian tingkat kehalusan dan kekuatan tarik kertas

23
24

daur ulang sebelum dan setelah penambahan kitosan disajikan pada Tabel 5.5 dan Tabel
5.6.
Tabel 5.5. Data uji tingkat kehalusan kertas daur ulang
No. Tingkat kehalusan
Responden Tanpa penambahan CS-MCM Penambahan CS-MCM
1 2 3
2 2 4
3 1 4
4 2 4
5 2 3
6 2 4
7 3 4
8 3 3
9 2 3
10 1 4
Jumlah 20 36

Tabel 5.6. Uji tingkat kekuatan tarik kertas daur ulang


No. Tingkat kekuatan tarik
Responden Tanpa penambahan CS-MCM Penambahan CS-MCM
1 2 5
2 1 4
3 1 4
4 1 3
5 2 4
6 2 5
7 1 4
8 1 4
9 2 3
10 2 4
Jumlah 15 40

Berdasarkan Tabel 5.5 dan Tabel 5.6 terlihat bahwa kertas daur ulang yang
diproses dengan penambahan CS-MCM juga mempunyai tingkat kehalusan dan kekuatan
tarik yang lebih tinggi dibandingkan dengan kertas daur ulang yang diproses tanpa
penambahan kitosan, sebagaimana terjadi pada penambahan kitosan. Hal ini kemungkinan
disebabkan oleh keberadaan CS-MCM dalam serat-serat fiber selulosa mampu
memperpendek dan mempererat ikatan antar fiber selulosa sehingga permukaan kertas
menjadi lebih rata dan halus.
Di samping mampu meningkatkan tingkat kehalusan permukaan kertas daur ulang,
CS-MCM juga mampu meningkatkan kekuatan tarik kertas daur ulang sehingga kertas

24
25

tidak mudah sobek. Hal itu kemungkinan disebabkan oleh semakin eratnya ikatan antar
fiber selulosa dalam kertas daur ulang.

Berdasarkan uraian pada subbab 5.5.1 dan subbab 5.5.2 tentang pengaruh
penambahan kitosan dan CS-MCM terhadap mutu kertas daur ulang, maka dapat
disimpulkan bahwa penambahan kitosan dan CS-MCM dalam proses pembuatan kertas
daur ulang dapat meningkatkan mutu kertas daur ulang yang dihasilkan dalam hal tingkat
kehalusan permukaan kertas dan tingkat kekuatan tarik kertas sehingga penampilan kertas
lebih halus dan tidak mudah sobek. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kemampuan
kitosan dan CS-MCM untuk mempererat ikatan antar fiber selulosa dalam kertas daur
ulang.

5.6. Kajian perbandingan besarnya pengaruh penambahan kitosan dan CS-MCM


terhadap mutu kertas daur ulang

Berdasarkan analisis pada sub.bab 5.5.1 dan 5.5.2 diketahui bahwa penambahan
kitosan dan CS-MCM dalam proses pembuatan kertas daur ulang mampu meningkatkan
mutu kertas daur ulang yang dihasilkan, terutama dalam hal tingkat kehalusan permukaan
kertas dan kekuatan tarik kertas. Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah kitosan atau
CS-MCM yang memberikan pengaruh lebih tinggi terhadap peningkatan mutu kertas daur
ulang maka dibuat kurva perbandingan sebagaimana terlihat pada Gambar 5.4.
Berdasarkan Gambar 5.4 terlihat bahwa CS-MCM memberikan pengaruh lebih
besar dibandingkan kitosan terhadap peningkatan tingkat kehalusan dan tingkat kekuatan
tarik kertas daur ulang. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh keberadaan gugus
karboksilat pada rantai CS-MCM sehingga mengakibatkan lebih banyak terjadi ikatan
hidrogen antara rantai selulosa dengan rantai CS-MCM dibandingkan antara rantai
selulosa dengan rantai kitosan. Semakin banyaknya ikatan hidrogen yang terjadi antara
rantai selulosa dengan rantai CS-MCM menyebabkan jarak ikatan antar fiber rantai
selulosa pada kertas daur uolang menjadi semakin dekat dan permukaan kertas menjadi
semakin halus dan ikatan antar faiber selulosa menjadi semakin kuat.

25
26

Gambar 5.4. Kurva perbandingan tingkat kehalusan dan kekuatan tarik kertas

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa senyawa derivate kitosan yaitu
kitosan termodifikasi karboksilmetil (Chitosan Modified Carboxymethyl, CS-MCM)
mampu meningkatkan mutu kertas daur ulang lebih tinggi dibandingkan dengan kitosan
mula-mula. Oleh karena itu CS-MCM dapat direkomendasikan sebagai agen perbaikan
mutu kertas daur ulang dalam hal tingkat kehalusan permukaan kertas dan tingkat
kekuatan tarik kertas.

26
27

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Kertas daur ulang berkualitas tinggi dapat dibuat dengan cara menambahkan agen
perbaikan mutu kertas yang berupa kitosan atau kitosan termodifikasi karboksimetil
(Chitosan Modified Carboxymethyl, CS-MCM).
2. CS-MCM dapat disintesis dengan cara mereaksikan kitosan dengan asam
monokloroasetat dalam pelarut larutan NaOH 20%.
3. Metode sederhana pembuatan kertas daur ulang berkualitas tinggi adalah dengan cara
mencampurkan larutan kitosan ataupun CS-MCM kedalam adonan bubur kertas atau
melapiskan larutan kitosan maupun CS-MCM ke permukaan kertas dengan teknik
pencelupan.
4. CS-MCM memberikan pengaruh lebih besar dibandingkan dengan kitosan terhadap
peningkatan mutu kertas daur ulang.

6.2. Saran-saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat diberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Kerusakan kertas pada umumnya disebabkan oleh pengaruh asam terhadap selulosa.
Oleh karena itu perlu dilanjutkan penelitian tentang pengaruh penambahan kitosan
maupun CS-MCM terhadap peningkatan daya tahan kertas terhadap pengaruh asam.
2. Modifikasi karboksimetil terhadap kitosan ternyata dapat menghasilkan derivate
kitosan yang dapat berfungsi sebagai agen perbaikan mutu kertas daur ulang dan
hasilnya lebih baik dibandingkan dengan kitosan awal. Oleh karena itu perlu
dilanjutkan penelitian tentang modifikasi kitosan dengan senyawa-senyawa lain dan
aplikasinya di bidang lain.

27
28

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2006, Alternatif Pengolahan Sampah di Pekanbaru.


www.riaupos.com/web/content/view/ 5793/7/ diakses 20 maret 2006

Baxter, S., Zivanovic, S. and Weiss, J., 2005, Molecular Weight and Degree of acetylation
of High-intensity Ultrasonicated Chitosan, Food Hydrocolloids, 19, 821-
830.

Cervera, M. F., Heinamaki, J., Rasanen, M., Maunu, S. L., Karjalainen, M., Acosta, O.
M. N., Colarte, A. I. and Yliruusi, J., 2004, Solid-state Characterisation of
Chitosans Derived from Lobster Chitin, Carbohydr.Polym, 58, 401-408.

Dhinok, 2005, Kertas Daur Ulang, We R Mommies | WRM Indonesia, http://wrm-


indonesia.org.

Khan, T. A., Peh, K. K, and Ch’ng, H. S., 2002. Reporting Degree of deacetylation Values
of Chitosan : The influence of Analitycal Methods, J. Pharm Pharmaceut
.Sci., 5 (3), 205-212.

Mello, K. G. P. C., Bernusso, L. C., Pitombo, R. N. M. and Polakiewicz, B., 2006,


Synthesis and Physiochemical Characterization of Chemically Modified
Chitosan by Succinic Anhydride, Brazil. Arch. Biol.Technol., 49 (4), 665-
668.

Muzzarelli, R. A. A., 1977, Chitin, Pergamon Press, Oxford.

Nada, A.M.A., El-Sakhawy, M., Kamel, S., Eid, M.A.M. and Adel, A. M., 2005, Effect of
Chitosan and Its Derivates on the Mechanical dan Electrical Properties of
Paper Sheets, Egypt. J .Solids, 28 (2), 359-377.

Rege, P. R. and Block, L. H., 1999, Chitosan Processing : Influence of Process Parameters
during Acidic and Alkaline Hydrolysis and Effect of the Processing
Sequence on the Resultant Chitosan’s Properties, Carbohydr.Res., 321,
235-245.

Saputro, A. N. C., Yamtinah, S., Utami, B., Mahardiani, L., 2006, Studi Pustaka
Pemanfaatan Proses Biokonversi Sampah Organik sebagai Alternatif
Memperoleh Biogas, Makalah Seminar Nasional Sumber Energi Hayati di
FMIPA UNS.

Saputro, A.N.C., Kartini, I. dan Sutarno, 2009, Pengaruh Metode Preparasi Kitosan
terhadap Sifat Karakteristik Kitosan, Makalah Seminar Nasional Kimia dan
Pendidikan Kimia di Prodi Kimia PMIPA FKIP UNS.

28
29

Saputro,A. N. C, 2009, Pengaruh Metode Preparasi Kitosan terhadap Sifat Kitosan dan
Aplikasinya sebagai Agen Antibakteri pada Kain Katun, Tesis S2, Program
Pascasarjana Ilmu Kimia, Jurusan Kimia FMIPA UGM, Yogyakarta.

Sulistyo Putro,H. 2003. Studi Biokonversi Sampah Organik oleh Mikroba Probiotik
Menggunakan Model Sampah Organik dalam Reaktor Sederhana.
Proseding Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia II. LIPI Jakarta

Tolaimate, A., Desbrieres, J., Rhazi, M. and Alagui, A., 2003, Contribution to The
Preparation of Chitins and Chitosan with Controlled Physico-chemical
Properties, Polymer, 44, 7939-7952.

Velde, K.V. and Kiekens, P., 2004, Structure Analysis and Degree of Substitution of
Chitin, Chitosan and Dibuthyrylchitin by FT-IR spectroscopy and solid
state 13C NMR, Carbohydr. Polym., 58, 409-416.

Yanming, D., Congyi,X., Jianwei, W., Mian, W., Yusong, W.and Yonghong, R., 2001,
Determination of Degree of Substitution for N-Acylated Chitosan using IR
Spectra, Sci. China,Ser. B, 44 (2), 216-224.

Yaghobi, N. and Mirzadeh, H., 2004, Enhancement of Chitins Degree of Deacetylation by


Multistage Alkali Treatments, Iran. Polym. J., 13 (2), 131-136.

29
30

30
31

Lampiran 1. Spektra IR Kitin

31
32

Lampiran 2. Spektra IR Kitosan

32
33

Lampiran 3. Spektra IR CS-MCM

33
34

ARTIKEL PUBLIKASI

SINTESIS DAN KARAKTERISASI CHITOSAN MODIFIED CARBOXYMETHYL


(CS-MCM) DARI BAHAN BAKU
CANGKANG KEPITING
Agung Nugroho Catur Saputro1, Lina Mahardiani1
Program Studi Pendidikan Kimia, PMIPA FKIP Universitas Sebelas Maret
Jl. Ir. Sutami 36 A Kentingan, Surakarta
E-mail : anc_saputro@yahoo.co.id Telp. 081329023054

Abstrak
Telah dilakukan penelitian sintesis dan karakterisasi Chitosan Modified Carboxymethyl
(CS-MCM) dari cangkang kepiting. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode
sintesis CS-MCM dan sifat-sifat karakteristiknya. Sintesis CS-MCM dilakukan dengan
cara mereaksikan kitosan dari hasil preparasi limbah cangkang kepiting dengan asam
monokloroasetat dalam kondisi pelarut NaOH 20%. CS-MCM hasil sintesis dikarakterisasi
meliputi uji kadar air, kadar abu, viskositas, dan analisis gugus fungsi dengan spektroskopi
FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CS-MCM dapat disintesis dengan bahan baku
kitosan yang dengan direaksikan dengan asam monokloroasetat dalam kondisi basa dan
berdasarkan analisis IR disimpulkan bahwa produk yang dihasilkan adalah CS-MCM.
Produk CS-MCM hasil sintesis mempunyai kadar air 0,68%, kadar abu 0,69% dan
viskositas 0,67 cPs.

Kata kunci : Sintesis, Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM), cangkang kepiting

PENDAHULUAN
Kitosan (poli- -(1,4)-D-glukosamin) merupakan makromolekul biologi yang dapat
diperoleh dari proses deasetilasi dari kitin yang dapat tersedia melimpah pada cangkang
kepiting, kulit udang dan cangkang serangga. Kitin (poli- -(1,4)-N-asetil-D-glukosamin)
merupakan biopolimer alami kedua terbanyak di alam setelah selulosa (Yanming, et al.,
2001, Baxter, et al., 2005). Setiap tahun sekitar 100 milyar ton kitin diproduksi di
permukaan bumi ini oleh krustasea, kerang, rajungan, serangga, jamur dan organisme
lainnya. (Rege,P.R and Block,L.H.,1999). Sebagai negara maritim, Indonesia sangat
berpotensi menghasilkan kitin dan produk turunannya.
Kitosan banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang karena sifat-sifatnya yang
unik. Penggunaan kitosan meliputi pemurnian limbah, pengkelat logam-logam berat,
pelapis biji untuk meningkatkan hasil panen dan melindungi dari serangan jamur, sistem
pengantar obat, dan lain sebagainya (Baxter, et al., 2005). Kitosan juga dibisa

34
35

dimanfaatkan sebagai penyerap zat warna (dye) dan di industri kertas, kitosan bisa
dimanfaatkan sebagai agen perbaikan mutu kertas.
Kitosan memiliki 2 gugus reaktif, yaitu gugus amino dan gugus hidroksil sehingga
memungkinkan untuk memodifikasi kitosan secara kimia untuk memperluas aplikasi
kitosan. Salah satu modifikasi gugus pada kitosan adalah penggantian gugus hidroksil
dengan gugus karbosilat melalui sintesis Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui metode sintesis Chitosan modified
Carboxymethyl (CS-MCM) dan sifat-sifat karakteristiknya melalui beberapa metode
karakterisasi.

METODE PENELITIAN

Bahan-bahan yang dipergunakan adalah NaOH pellet (Merck), asam


monokloroasetat (Aldrich), asam asetat p.a (Merck), methanol 70% (Asialab). Alat-alat
yang dipergunakan adalah seperangkat alat-alat gelas, kertas saring dan oven. Chitosan
modified carboxymethyl (CS-MCM) disintesis menurut metode Nada et al., (2005) cara
sebagai berikut : lima gram kitosan dilarutkan dalam 100 mL larutan NaOH 20% dan
diaduk selama 15 menit. 15 gram larutan asam monokloroasetat ditambahkan kedalam
larutan kitosan dan mengaduknya selama 2 jam pada suhu 40oC. Kemudian campuran
larutan kitosan-monokloro asetat dinetralkan dengan larutan asam asetat 10%, dituangkan
kedalam larutan methanol 70% berlebih, menyaringnya dan mencucinya dengan methanol.
Produk kitosan termodifikasi karboksimetil yang diperoleh kemudian dikeringkan pada
suhu 55oC selama 8 jam. Produk CS-MCM hasil sintesis dikarakterisasi melalui uji kadar
air, kadar abu, viskositas dan analisis gugus fungsi dengan spektroskopi FTIR.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM) disintesis melalui reaksi antara


kitosan dengan asam monokloroasetat dalam pelarut larutan NaOH 20% dan diperoleh
rendemen sebesar 72,9%. Reaksi yang terjadi pada sintesis CS-MCM dari kitosan
diperkirakan sebagai berikut :
R-OH + Cl-CH2-COOH  R-O-CH2-COOH
Kitosan CS-MCM

35
36

Produk CS-MCM hasil sintesis dalam penelitian ini dianalisis melalui beberapa metode
meliputi uji kadar air, uji kadar abu, viskositas dan analisis gugus fungsi dengan
spektroskopi FTIR.
A. Kadar air
Produk kitosan CS-MCM hasil sintesis dalam penelitian ini mempunyai kadar air
sebesar 0,6779%, yang ternyata lebih tinggi jika dibandingkan kadar air kitosan awal yaitu
0,4985%. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa derivat kitosan CS-MCM mempunyai
kemampuan mengikat molekul air lebih kuat dibandingkan kemampuan mengikat molekul
air oleh kitosan.
Kemampuan mengikat molekul air yang lebih besar pada CS-MCM dibandingkan
kitosan kemungkinan disebabkan oleh keberadaan gugus karboksimetil pada struktur CS-
MCM. Keberadaan gugus karboksimetil yang menggantikan atom H dalam gugus
hidroksil pada atom C-5 dari struktur kitosan menyebabkan lebih banyak kemungkinan
terjadi ikatan hidrogen dengan molekul-molekul air, sehingga menyebabkan molekul-
molekul air terhidrat yang mengelilingi rantai CS-MCM lebih banyak dibandingkan yang
mengelilingi rantai kitosan.
B. Kadar abu
Produk CS-MCM hasil sintesis dalam penelitian ini mempunyai kadar abu sebesar
0,6911%. Kadar abu CS-MCM ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan kadar abu
kitosan, yaitu sebesar 0,3317%. Data ini menunjukkan bahwa senyawa derivat kitosan CS-
MCM mempunyai kandungan karbon yang lebih tinggi dibandingkan kitosan.
Kenaikan kadar abu senyawa CS-MCM kemungkinan besar disebabkan oleh
substitusi/penggantian atom H dalam gugus hidroksil pada atom C-5 dari struktur kitosan
dengan gugus karboksimetil sehingga jumlah atom karbon dalam rantai CS-MCM lebih
banyak dibandingkan dalam rantai kitosan.
C. Viskositas
Data viskositas dapat digunakan untuk memprediksi panjang rantai suatu polimer.
Semakin panjang rantai suatu polimer, maka semakin tinggi viskositasnya. Viskositas juga
dapat dipergunakan untuk menghitung berat molekul polimer dengan menggunakan
persamaan Mark-Hawink.
Polimer CS-MCM hasil sintesis mempunyai viskositas sebesar 0.6760 cPs
sedangkan kitosan yang merupakan bahan dasar sintesis CS-MCM mempunyai harga
viskositas sebesar 0.7001 cPs. Harga viskositas CS-MCM yang lebih kecil dibandingkan

36
37

dengan harga viskositas kitosan menunjukkan bahwa rantai polimer CS-MCM lebih
pendek dibandingkan rantai polimer kitosan. Hal ini kemungkinan ada kaitannya dengan
perlakuan dengan larutan NaOH 20% ketika proses sintesis CS-MCM. Kemungkinan
ketika dicampurkan dan diaduk dalam larutan NaOH 20%, pada rantai polimer kitosan
terjadi proses depolimerisasi sehingga menyebabkan pemendekan rantai polimer CS-
MCM.
Berdasarkan perbandingan harga viskositas antara kitosan dengan CS-MCM, maka
diperkirakan CS-MCM mempunyai berat molekul lebih kecil dibandingkan dengan kitosan
karena rantai polimernya lebih pendek daripada rantai polimer kitosan.
D. Analisis gugus fungsi dengan spektroskopi FTIR
Perubahan kitosan menjadi kitosan termodifikasi karboksimetil (Chitosan Modified
Carboxymethyl, CS-MCM) dapat diamati melalui perubahan gugus-gugus fungsi
karakteristiknya. CS-MCM memiliki gugus karboksilat yang merupakan gugus fungsi
karakteristik, sedangkan kitosan tidak mempunyai gugus fungsi karboksilat. Oleh karena
itu dengan mengamati keberadaan gugus-gugus fungsi karakteristiknya, maka dapat
diperkirakan sudah terbentuk atau tidak CS-MCM. Spektra IR kitosan dan kitosan
termodifikasi karboksimetil (CS-MCM) disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Spektra IR (A). Kitosan dan (B). CS-MCM

37
38

Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa pada spektra IR CS-MCM muncul puncak


serapan pada bilangan gelombang 3448,72 cm-1 yang merupakan serapan dari vibrasi ulur
gugus-OH yang tumpang tindih dengan serapan vibrasi ulur –NH (Velde dan Kiekens,
2004). Puncak serapan vibrasi ulur C-H mengalami pergeseran dari 2854,65 cm-1 menjadi
2885,51 cm-1 dan intensitasnya berkurang kemungkinan menunjukkan terjadinya kembali
pemutusan gugus asetil dari rantai polimer kitosan akibat perlakuan dengan larutan NaOH
20%. Bertambahnya puncak serapan pita amida I (ulur C=O) yang muncul pada bilangan
gelombang 1658,78 cm-1 dan 1627,92 cm-1 menunjukkan bertambahnya gugus C=O akibat
penambahan gugus karboksilat (-COOH) yang berarti telah terbentuk CS-MCM. Di
samping bukti kemunculan dua puncak serapan C=O, terbentuknya CS-MCM dari kitosan
dapat diperkuat dengan semakin melebarnya puncak serapan vibrasi ulur C-O yang muncul
pada bilangan gelombang 1072,42 cm-1 dan 1026,13 cm-1, yang menunjukkan telah terjadi
penambahan gugus karboksilat.
Berdasarkan analisis perbandingan gugus fungsi antara kitosan dan CS-MCM di
atas, maka disimpulkan bahwa CS-MCM telah terbentuk karena munculnya puncak-
puncak karakteristik CS-MCM, sedangkan puncak-puncak karakteristik kitosan berkurang.

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa produk Chitosan
Modified Carboxymethyl (CS-MCM) yang disintesis merupakan CS-MCM berdasarkan
analisis gugus fungsi dari spektra IR dan diperoleh rendemen sebesar 72,9%. CS-MCM
hasil sintesis memiliki kadar air 0,68%., kadar abu 0,69% dan viskositas 0,67 cPs.

UCAPAN TERIMA KASIH


Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ketua LPPM UNS atas biaya penelitian yang
diberikan melalui Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian Nomor 460/H27.3/PL/2009
tanggal 29 Juni 2009.

DAFTAR PUSTAKA

Baxter, S., Zivanovic, S. and Weiss, J., 2005, Molecular Weight and Degree of acetylation
of High-intensity Ultrasonicated Chitosan, Food Hydrocolloids, 19, 821-
830.

Cervera, M. F., Heinamaki, J., Rasanen, M., Maunu, S. L., Karjalainen, M., Acosta, O.
M. N., Colarte, A. I. and Yliruusi, J., 2004, Solid-state Characterisation of
Chitosans Derived from Lobster Chitin, Carbohydr.Polym, 58, 401-408.

38
39

Khan, T. A., Peh, K. K, and Ch’ng, H. S., 2002. Reporting Degree of deacetylation Values
of Chitosan : The influence of Analitycal Methods, J. Pharm Pharmaceut
.Sci., 5 (3), 205-212.

Mello, K. G. P. C., Bernusso, L. C., Pitombo, R. N. M. and Polakiewicz, B., 2006,


Synthesis and Physiochemical Characterization of Chemically Modified
Chitosan by Succinic Anhydride, Brazil. Arch. Biol.Technol., 49 (4), 665-
668.

Nada, A.M.A., El-Sakhawy, M., Kamel, S., Eid, M.A.M. and Adel, A. M., 2005, Effect of
Chitosan and Its Derivates on the Mechanical dan Electrical Properties of
Paper Sheets, Egypt. J .Solids, 28 (2), 359-377.

Rege, P. R. and Block, L. H., 1999, Chitosan Processing : Influence of Process Parameters
during Acidic and Alkaline Hydrolysis and Effect of the Processing
Sequence on the Resultant Chitosan’s Properties, Carbohydr.Res., 321,
235-245.

Saputro, A.N.C., Kartini, I. dan Sutarno, 2009, Pengaruh Metode Preparasi Kitosan
terhadap Sifat Karakteristik Kitosan, Makalah Seminar Nasional Kimia dan
Pendidikan Kimia di Prodi Kimia PMIPA FKIP UNS.

Saputro,A. N. C, 2009, Pengaruh Metode Preparasi Kitosan terhadap Sifat Kitosan dan
Aplikasinya sebagai Agen Antibakteri pada Kain Katun, Tesis S2, Program
Pascasarjana Ilmu Kimia, Jurusan Kimia FMIPA UGM, Yogyakarta.

Tolaimate, A., Desbrieres, J., Rhazi, M. and Alagui, A., 2003, Contribution to The
Preparation of Chitins and Chitosan with Controlled Physico-chemical
Properties, Polymer, 44, 7939-7952.

Velde, K.V. and Kiekens, P., 2004, Structure Analysis and Degree of Substitution of
Chitin, Chitosan and Dibuthyrylchitin by FT-IR spectroscopy and solid
state 13C NMR, Carbohydr. Polym., 58, 409-416.

Yanming, D., Congyi,X., Jianwei, W., Mian, W., Yusong, W.and Yonghong, R., 2001,
Determination of Degree of Substitution for N-Acylated Chitosan using IR
Spectra, Sci. China,Ser. B, 44 (2), 216-224.

Yaghobi, N. and Mirzadeh, H., 2004, Enhancement of Chitins Degree of Deacetylation by


Multistage Alkali Treatments, Iran. Polym. J., 13 (2), 131-136.

39
40

SINOPSISI PENELITIAN LANJUTAN


Penelitian aplikasi kitosan dan senyawa-senyawa derivatnya untuk berbagai tujuan
merupakan bidang kajian yang cukup luas. Penelitian ini ke depannya masih dapat
dilakukan dalam beberapa tahap fokus penelitian, yaitu :
Tahun ke- Fokus Penelitian
Pertama Sintesis, karakterisasi dan aplikasi Chitosan Modified
Carboxymethyl (CS-MCM) sebagai agen perbaikan mutu kertas
daur ulang
Kedua Pemanfaatan Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM) sebagai
absorben logam-logam berat.
Ketiga Pemanfaatan Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM) sebagai
agen antibakteri pada tekstil
Keempat Sintesis senyawa-senyawa derivate/turunan/modifikasi kitosan
lainnya untuk berbagai aplikasi lain.

40