Anda di halaman 1dari 12

TUGAS TEKNOLOGI KESEHATAN

AUDIOMETRI

Disusun oleh : Kelompok 18

1. Anggis Mefrianingsih (141420131740007)


2. Wildarahma Aprilia (141420132890122)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN S1/7A


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HARAPAN BANGSA
PURWOKERTO
2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Teknologi
Kesehatan Tentang ”Audiometri” ini.
Penyusun mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yang telah
memberi saran dan masukan kepada kami sehingga penyusunan tugas ini kami
selesaikan dengan baik dan tepat waktu, dalam makalah ini kami menyadari bahwa
masih banyak kekurangan dan kelemahan. Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan
tugas ini. Semoga tugas ini menjadi lebih bermafaat untuk para mahasiswa pada
umumnya dan untuk teman sejawat keperawatan pada khususnya.

Purwokerto, 04 Desember 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................................. ii

Daftar Isi........................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 1

A. Latar Belakang .................................................................................. 1


B. Rumusan Masalah ............................................................................. 1
C. Tujuan ............................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN TEORI ......................................................................... 3

A. Definisi Audiometri .......................................................................... 3


B. Fungsi Audiometri ........................................................................... 3
C. Indikasi Audiometri .......................................................................... 4
D. Jenis Audiometri ............................................................................... 4
E. Prosedur kerja Audiometri ............................................................... 6

BAB III PENUTUP ...................................................................................... 8

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 9

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Teknologi adalah pengembangan dan aplikasi dari alat, mesin,
material dan proses yang menolong manusia menyelesaikan masalahnya.
Pemanfaatan teknologi akan semakin meningkat seiring dengan
perkembangan kebutuhan manusia. Perkembangan teknologi mempunyai
peran penting terhadap kehidupan manusia termasuk di dalam pemenuhan
kebutuhan kesehatan. Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang ikut
serta berperan dalam pelayanan kesehatan merasakan dampaknya.
Sekarang ini Teknologi Informasi di Bidang Kesehatan memiliki peran
yang sangat signifikan untuk menolong jiwa manusia serta riset-riset di
bidang kedokteran. Teknologi Informasi digunakan untuk menganalisis organ
tubuh manusia bagian dalam yang sulit dilihat, untuk mendiagnosa penyakit,
menemukan obat yang tepat untuk mengobati penyakit, dan masih banyak
lagi.
Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa Teknologi Informasi dan
Komunikasi ( TIK ) akan berperan besar dalam meningkatkan layanan
kesehatan warga dunia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan Audiometri ?
2. Apa saja fungsi dari Audiometri ?
3. Apa saja indikasi dari Audiometri ?
4. Apa saja jenis dari Audiometri ?
5. Bagaimana prosedur penggunaan Audiometri

1
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi dari Audiometri
2. Untuk mengetahui fungsi dari Audiometri
3. Untuk mengetahui indikasi dari Audiometri
4. Untuk mengetahui jenis dari Audiometri
5. Untuk mengetahui prosedur penggunaan Audiometri

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi
Audiometri merupakan sebuah kata yang berasal dari kata audir dan
metrios di mana audir sendiri memiliki makna mendengar sedangkan metrios
berarti mengukur. Kalau digabungkan, maka hal ini disebut juga dengan
proses uji pendengaran. Penggunaan audiometri tak hanya untuk mengukur
seberapa tajam pendengaran seseorang, tapi tujuan penggunaan juga sebagai
penentu lokalisasi rusaknya anatomis yang menyebabkan pendengaran
terganggu.
Audiometer adalah suatu alat pemeriksaan yang berfungsi untuk
menguji pendengaran manusia.

B. Fungsi Audiometri
1. Untuk mengukur berapa tingkat ketajaman pendengaran manusia
2. Untuk mengukur ambang pendengaran manusia
3. Untuk mengindikasikan apabila terjadi kehilangan fungsi pendengaran
4. Mampu mencatat kemampuan pendengaran dari setiap telinga pada deret
frekuensi yang berbeda-beda
5. Dapat menghasilkan audiogram (suatu gambar berupa grafik dari ambang
pendengaran dari masing-masing telinga terhadap suatu rentang
frekuensi)

3
C. Indikasi Pemeriksaan Audiometri
Ada sejumlah indikasi pemeriksaan yang perlu diketahui dan diwaspadai.
Audiometri perlu dilakukan ketika:
1. Riwayat trauma.
2. Terjadi penurunan kualitas pendengaran.
3. Telinga terus berbunyi atau mendengung (tinitus)
4. Riwayat kesehatan keluarga di mana mungkin ada anggota keluarga yang
mengalami gangguan pendengaran.
5. Riwayat penggunaan obat-obatan jenis ototoksik.
6. Riwayat terlalu sering terpajan kebisingan (kemungkinan faktor tempat
kerja).
7. Riwayat keluarnya cairan dari telinga atau telinga berair.
8. Telinga terasa penuh.

D. Jenis Audiometri
1. Audiometri Nada Murni
Pada jenis audiometri ini, uji pendengaran dilakukan dengan
memanfaatkan alat listrik yang diketahui dapat memroduksi nada-nada
murni sebagai bunyi. Bunyi tersebut pun memiliki berbagai frekuensi,
seperti 4000-8000, 1000-2000, dan 250-500. Pengaturan intensitas dapat
dilakukan dalam satuan (dB).
Headphone adalah salah satu alat untuk menyalurkan bunyi ke telinga
pasien yang tengah diperiksa pendengarannya. Audiogram akan lebih
membantu dalam memperoleh informasi detil akan gambaran dari
pendengaran yang normal berdasarkan usia seseorang.

4
Pada normalnya, telinga manusia memiliki kemampuan pendengaran
akan bunyi dengan frekuensi 20-20000 Hz dan 500-2000 Hz adalah
frekuensi yang vital dalam melakukan percakapan sehari-hari.
a. Pendengaran dianggap normal ketika kehilangan pendengaran dalam
desibel 0-15.
b. Kehilangan pendengaran kecil adalah >15-25 desibel.
c. Kehilangan pendengaran ringan adalah >25-40 desibel.
d. Kehilangan pendengaran sedang adalah >40-55 desibel.
e. Kehilangan pendengaran sedang hingga berat adalah >55-70 desibel.
f. Kehilangan pendengaran berat adalah >70-90 desibel.
g. Kehilangan pendengaran berat sekali adalah >90 desibel.
Pada uji pendengaran ini kemudian akan dihasilkan grafik nilai
ambang pendengaran pasien yang didasarkan pada stimulus nada murni.
Pengukuran nilai ambang dilakukan dengan frekuensi yang berbeda-beda
dan grafik pun dibuat berdasar pada skala desibel.
2. Audiometri Tutur
Uji pendengaran jenis ini merupakan sebuah sistem pengujian
pendengaran dengan memakai kata-kata terpilih yang tentunya telah
melewati proses pembakuan. Lalu dituturkan lewat sebuah alat yang
dinyatakan telah melalui kaliberasi dengan tujuan untuk mengukur
sejumlah aspek kemampuan pendengaran.
Audiometri pada jenis ini mirip dengan audiometri nada murni,
hanya saja memang di sini sarana yang dipakai adalah daftar kata yang
sudah dipilih dan penderita perlu menuturkannya. Pemeriksa melalui
mikrofon dapat menuturkan langsung kata-kata terpilih tersebut dan
kemudian dihubungkan dengan audiometri tutur. Kata-kata tersebut
disalurkan lewat headphone ke telinga pasien.

5
Prinsip dasar dari audiometri tutur ini pasien akan diminta untuk
mendengar kata-kata yang sebenarnya dibuat secara jelas. Pengujian
dilakukan mulai dari intensitas yang tinggi hingga 50 persen tak mampu
menirukan kembali kata-kata secara benar. Di bawah ini adalah kriteria di
mana menggambarkan bahwa kondisi seseorang tak bisa mendengar alias
tuli.
a. Pada intensitas 20-40 dB masih bisa mendengar (level ringan).
b. Pada intensitas 40-60 dB masih bisa mendengar (level sedang).
c. Pada intensitas 60-80 dB sudah tak mampu mendengar (level berat).
d. Pada intensitas >80 dB sudah tak mampu mendengar sama sekali
(level berat sekali).
Ketulian atau kehilangan pendengaran jelas akan mengakibatkan
gangguan ketika melakukan komunikasi dengan orang lain. Hanya saja,
ABD/hearing AID biasanya bisa menjadi alat bantu bagi seseorang yang
masih mempunyai sisa pendengaran. Penggunaan alat ABD tersebut
tujuannya adalah untuk membuat suara yang diamplifikasi menjadi lebih
keras.

E. Prosedur Penggunaan Audiometri


1. Persiapan Alat
a. Nyalakan power audiometer 10 menit sebelum pemeriksaan
b. Tombol :
1) Output : untuk memilih earphone (kiri atau kanan), AC atau BC,
2) Frekuensi : Memilih nada
3) Hearing level : Mengatur Intensitas
4) Tone : Memberikan Sinyal
5) Masking : Memberikan bunyi Masking pada NTE (Non-Test Ear)
apabila diperlukan

6
2. Posisi Pemeriksaan
a. Penderita duduk dikursi
b. Penderita tidak boleh melihat gerakan pemeriksa. Minimal
menghadap 30o dari posisi pemeriksa.

7
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Audiometri adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui
tingkat/ambang batas pendengaran seseorang dan jenis gangguannya bila ada.
Pemeriksaan dilakukan dengan memakai alat audiogram nada murni di dalam
ruang kedap suara.
Audiometer sendiri merupakan sebuah alat dimana penggunaannya
yang paling utama adalah sebagai pengukur level pendengaran dan seberapa
tajam pendengaran seseorang mampu dinilai dengan alat tersebut. Orang yang
membutuhkan tes audiometri adalah yang mempunyai masalah pada
pendengarannya.

8
DAFTAR PUSTAKA

Rukmini, S., Herawati, S., Teknik Pemeriksaan Telinga Hidung Tenggorok, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2000
.
Sudono, A., Memanfaatkan Port Printer Menggunakan Delphi, Penerbit Smart Books,
2008.
Susanto, H., Audiologi, www2.rnw.nl/rnw/id /tema/pengetahuan/audiologi.html
,Oktober 2007.
Bahtiar, S. Audiometer berbasis soundcard pada komputer pribadi. Universitas

Diponegoro.