Anda di halaman 1dari 11

PERS DI MASA ORDE BARU

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

PERS DI MASA ORDE BARU

Pada awal kepemimpinan orde baru menyatakan bahwa membuang jauh praktik demokrasi
terpimpin diganti dengan demokrasi Pansasila, hal ini mendapat sambutan positif dari semua
tokoh dan kalangan, sehingga lahirlah istilah pers Pancasila. Menurut sidang pleno ke 25 Dewan
Pers bahwa Pers Pancasila adalah pers Indonesia dalam arti pers yang orientasi, sikap, dan
tingkah lakunya didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hakekat pers Pancasila
adalah pers yang sehat, pers yang bebas dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya
sebagai penyebar informasi yang benar dan objektif, penyalur aspirasi rakyat, dan kontrol sosial
yang konstruktif.

Masa kebebasan ini berlangsung selama delapan tahun disebabkan terjadinya pristiwa malari
(Lima Belas Januari 1974) sehingga pers kembali seperti zaman orde lama. Dengan peristiwa
malari beberapa surat kabar dilarang terbit termasuk Kompas. Pers pasca peristiwa malari
cenderung pers yang mewakili kepentingan penguasa, pemerintah atau negara. Pers tidak pernah
melakukan kontrol sosial disaat itu. Pemerintah orde baru menganggap bahwa pers adalah
institusi politik yang harus diatur dan dikontrol sebagaimana organisasi masa dan partai politik.

BAB II PEMBAHASAN

Perkembangan Pers Pada Masa Orde Baru

Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Orde Baru
menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir
dengan semangat “koreksi total” atas penyimpangan yang dilakukan Orde Lama Soekarno.

Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi
Indonesia berkembang pesat meski hal ini dibarengi praktek korupsi yang merajalela di negara
ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar.

Masa Jabatan Suharto Pada 1968, MPR secara resmi melantik Soeharto untuk masa jabatan 5
tahun sebagai presiden, dan dia kemudian dilantik kembali secara berturut-turut pada tahun 1973,
1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.

Pada awal kepemimpinan orde baru menyatakan bahwa membuang jauh praktik demokrasi
terpimpin diganti dengan demokrasi Pansasila, hal ini mendapat sambutan positif dari semua
tokoh dan kalangan, sehingga lahirlah istilah pers Pancasila. Menurut sidang pleno ke 25 Dewan
Pers bahwa Pers Pancasila adalah pers Indonesia dalam arti pers yang orientasi, sikap, dan
tingkah lakunya didasarkan pada nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hakekat pers Pancasila
adalah pers yang sehat, pers yang bebas dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsinya
sebagai penyebar informasi yang benar dan objektif, penyalur aspirasi rakyat, dan kontrol sosial
yang konstruktif.

Pada awal kekuasaan orde baru, Indonesia dijanjikan akan keterbukaan serta kebebasan dalam
berpendapat. Masyarakat saat itu bersuka-cita menyambut pemerintahan Soeharto yang
diharapkan akan mengubah keterpurukan pemerintahan orde lama. Pemerintah pada saat itu
harus melakukan pemulihan di segala aspek, antara lain aspek ekonomi, politik, social, budaya,
dan psikologis rakyat. Indonesia mulai bangkit sedikit demi sedikit, bahkan perkembangan
ekonomi pun semakin pesat.Namun sangat tragis, bagi dunia pers di Indonesia. Dunia pers yang
seharusnya bersuka cita menyambut kebebasan pada masa orde baru, malah sebaliknya. Pers
mendapat berbagai tekanan dari pemerintah. Tidak ada kebebasan dalam menerbitkan berita-
berita miring seputar pemerintah. Bila ada maka media massa tersebut akan mendapatkan
peringatan keras dari pemerintah yang tentunya akan mengancam penerbitannya.

Pada masa orde baru, segala penerbitan di media massa berada dalam pengawasan pemerintah
yaitu melalui departemen penerangan. Bila ingin tetap hidup, maka media massa tersebut harus
memberitakan hal-hal yang baik tentang pemerintahan orde baru. Pers seakan-akan dijadikan alat
pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya, sehingga pers tidak menjalankan fungsi yang
sesungguhnya yaitu sebagai pendukung dan pembela masyarakat.
“Pada masa orde baru pers Indonesia disebut sebagai pers pancasila. Cirinya adalah bebas dan
bertanggungjawab”. (Tebba, 2005 : 22). Namun pada kenyataannya tidak ada kebebasan sama
sekali, bahkan yang ada malah pembredelan

Tanggal 21 Juni 1994, beberapa media massa seperti Tempo, deTIK, dan editor dicabut surat izin
penerbitannya atau dengan kata lain dibredel setelah mereka mengeluarkan laporan investigasi
tentang berbagai masalah penyelewengan oleh pejabat-pejabat Negara. Pembredelan itu
diumumkan langsung oleh Harmoko selaku menteri penerangan pada saat itu. Meskipun pada
saat itu pers benar-benar diawasi secara ketat oleh pemerintah, namun ternyata banyak media
massa yang menentang politik serta kebijakan-kebijakan pemerintah. Dan perlawanan itu
ternyata belum berakhir. Tempo misalnya, berusaha bangkit setelah pembredelan bersama para
pendukungnya yang tentu rezim Soeharto.

Pembredelan Tempo serta perlawanannya terhadap pemerintah Orde Baru


Pembredelan 1994 ibarat hujan, jika bukan badai dalam ekologi politik Indonesia secara
menyeluruh. Tidak baru, tidak aneh dan tidak istimewa jika dipahami dalam ekosistemnya.
(Aliansi Jurnalis Independen, 1995 : 140) Sebelum dibredel pada 21 Juni 2004, Tempo menjadi
majalah berita mingguan yang paling penting di Indonesia. Pemimpin Editornya adalah
Gunawan Mohammad yang merupakan seorang panyair dan intelektual yang cukup terkemuka di
Indonesia. Pada 1982 majalah Tempo pernah ditutup untuk sementara waktu, karena berani
melaporkan situasi pemilu saat itu yang ricuh. Namun dua minggu kemudian, Tempo diizinkan
kembali untuk terbit. Pemerintah Orde Baru memang selalu was-was terhadap Tempo, sehingga
majalah ini selalu dalam pengawasan pemerintah. Majalah ini
memang popular dengan independensinya yang tinggi dan juga keberaniannya dalam
mengungkap fakta di lapangan. Selain itu kritikan- kritikan Tempo terhadap pemerintah di
tuliskan dengan kata-kata yang pedas dan bombastis. Goenawan pernah menulis di majalah
Tempo, bahwa kritik adalah bagian dari kerja jurnalisme. Motto Tempo yang terkenal adalah “
enak dibaca dan perlu”. Meskipun berani melawan pemerintah, namun tidak berarti Tempo bebas
dari tekanan. Apalagi dalam hal menerbitkan sebuah berita yang menyangkut politik serta
keburukan pemerintah, Tempo telah mendapatkanberkali-kali maendapatkan peringatan. Hingga
akhirnya Tempo harus rela dibungkam dengan aksi pembredelan itu. Namun perjuangan Tempo
tidak berhenti sampai disana. Pembredelan bukanlah akhir dari riwayat
Tempo. Untuk tetap survive, ia harus menggunakan trik dan startegi.Salah satu trik dan strategi
yang digunakan Tempo adalah yang pertama adalah mengganti kalimat aktif menjadi pasif dan
yang kedua adalah stategi pinjam mulut. Semua strategi itu dilakukan Tempo untuk menjamin
kelangsungannya sebagai media yang independen dan terbuka. Tekanan yang dating bertubi-tubi
dari pemerintah tidak meluluhkan semangat Tempo untuk terus menyampaikan kebenaran
kepada masyarakat.

Setelah pembredelan 21 Juni 1994, wartawan Tempo aktif melakukan gerilya, seperti
denganmendirikan Tempo Interaktif atau mendirikan ISAI (Institut Studi Arus Informasi) pada
tahun 1995.Perjuangan ini membuktikan komitmen Tempo untuk menjunjung kebebasan pers
yang terbelengguada pada zaman Orde Baru. Kemudian Tempo terbit kembali pada tanggal 6
Oktober 1998, setelahjatuhnya Orde Baru.

Fungsi Dewan Pers pada masa Orde Baru

Dewan pers adalah lembaga yang menaungi pers di Indonesia. Sesuai UU Pers Nomor 40 tahun
1999, dewan pers adalah lembaga independen yang dibentuk sebagai bagian dari upaya
untukmengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional.
Ada tujuh fungsi dewan pers yang diamanatkan UU, diantaranya :(www.JurnalNasional.com)

1. Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain, bisa pemerintah dan juga
masyarakat.
2. Melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan pers.
3. Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan kode etik jurnalistik.
4. Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas
kasusyang berhubungan dengan pemberitaan pers.
5. Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat adn pemerintah.
6. Memfasilitasi organisasi pers dalam menyusun peraturan di bidang pers dan
meningkatkan kualitas profesi wartawan.
7. Mendata perusahaan pers.

Pada masa Orde baru, fungsi dewan pers ini tidaklah efektif. Dewan pers hanyalah formalitras
semata. Dewan Pers bukannya melindungi sesama rekan jurnalisnya, malah menjadi anak buah
dari pemerintah Orde Baru. Hal itu terlihat jelas ketika pembredelan 1994, banyak anggota dari
dewan pers yang tidak menyetujui pembredelan. Termasuk juga Gunaman Muhammad yang
selaku editor Tempo juga termasuk dalam dewan pers saat itu. Namun ironisnya, pada saat itu
dewan pers diminta untuk mendukung pembredelan tersebut. Meskipun dewan pers menolak
pembredelan, tetap saja pembredelan dilaksanakan. Menolak berarti melawan pemerintah.
Berarti benar bahwa dewan pers hanya formalitas saja.
Istilah pers digunakan dalam konteks historis seperti pada konteks “press freedom or law” dan
“power of the press”. Sehingga dalam fungsi dan kedudukannya seperti itu, tampaknya, pers
dipandang sebagai kekuatan yang mampu mempengaruhi masyarakat secara massal. ( John
C.Merrill, 1991, dalam Asep Saeful, 1999 : 26)). Seharusnya pers selain mempengaruhi
masyarakat,pers juga bisa mempengaruhi pemerintah. Karena pengertian secara missal itu adalah
seluruhlapisan masyarakat baik itu pemerintah maupun masyarakat. Namun di Era Orde Baru,
dewan persmemang gagal meningkatkan kehidupan pers nasional, sehingga dunia pers hanya
terbelenggu olehkekuasaan oleh kekuasaan Orde Baru tanpa bisa memperjuangkan hak-haknya.

Status TVRI Di Era Orde Baru

Tahun 1974, TVRI diubah menjadi salah satu bagian dari organisasi dan tatakerja Departemen
Penerangan, yang diberi status Direktorat, langsung bertanggung-jawab pada Direktur Jendral
Radio, TV, dan Film Departemen Penerangan Republik Indonesia.

Sebagai alat komunikasi Pemerintah, tugas TVRI adalah untuk menyampaikan policy
Pemerintah kepada rakyat dan pada waktu yang bersamaan menciptakan two-way traffic dari
rakyat untuk pemerintah selama tidak men-diskreditkan usaha-usaha Pemerintah.

Pada garis besarnya tujuan policy Pemerintah dan program-programnya adalah untuk
membangun bangsa dan negara Indonesia yang modern dengan masyarakat yang aman, adil,
tertib dan sejahtera, dimana tiap warga Indonesia mengenyam kesejahteraan lahiriah dan mental
spiritual.

Semua kebijaksanaan Pemerintah beserta programnya harus dapat diterjemahkan melalui siaran
dari studio-studio TVRI yang berkedudukan di Ibukota maupun daerah dengan cepat, tepat dan
baik .

Semua pelaksanaan TVRI baik di Ibukota maupun di Daerah harus meletakan tekanan kerjanya
kepada integrasi, supaya TVRI menjadi suatu well-integrated mass media Pemerintah.

Tahun 1975, dikeluarkan SK Menpen No. 55 Bahan siaran/KEP/Menpen/1975, TVRI memiliki


status ganda yaitu selain sebagai Yayasan Televisi RI juga sebagai Direktorat Televisi, sedang
manajemen yang diterapkan yaitu manajemen perkantoran / birokrasi.

Kelebihan sistem Pemerintahan Orde Baru

 Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS$70 dan pada
1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000
 Sukses transmigrasi
 Sukses KB
 Sukses memerangi buta huruf
 Sukses swasembada pangan
 Pengangguran minimum
 Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
 Sukses Gerakan Wajib Belajar
 Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
 Sukses keamanan dalam negeri
 Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia
 Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri

Kekurangan Sistem Pemerintahan Orde Baru

 Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme


 Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pembangunan
antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan daerah sebagian besar
disedot ke pusat
 Munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan,
terutama di Aceh dan Papua
 Kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh
tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya
 Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya
dan si miskin)
 Pelanggaran HAM kepada masyarakat non pribumi (terutama masyarakat Tionghoa)
 Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan
 Kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibredel
 Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan program
“Penembakan Misterius”
 Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya)
 Menurunnya kualitas birokrasi Indonesia yang terjangkit penyakit Asal Bapak Senang,
hal ini kesalahan paling fatal Orde Baru karena tanpa birokrasi yang efektif negara pasti
hancur.
 Menurunnya kualitas tentara karena level elit terlalu sibut berpolitik sehingga kurang
memperhatikan kesejahteraan anak buah.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pers dalam masa orde baru seakan-akan kehilangan jati dirinya sebagai media yang bebas
berpendapat dan menyampaikan informasi. Meskipun orde baru telah menjanjikan keterbukaan
dan
kebebasan di awal pemerintahannya, namun pada kenyataannya dunia pers malah terbelenggu
dan
mendapat tekanan dari segala aspek. Pers pun tidak mau hanya diam dan terus mengikuti
permainan
politik Orde baru. Sehingga banyak media massa yang memberontak melalui tulisan-tulisan yang
mengkritik pemerintah, bahkan banyak pula yang membeberkan keburukan pemerintah. Itulah
sebabnya pada tahun 1994 banyak media yang dibredel, seperti Tempo, deTIK, dan Monitor.
Namun majalah Tempo adalah satu-satunya yang berjuang dan terus melawan pemerintah orde
baru
melalui tulisan-tulisannya hingga sampai akhirnya bisa kembali terbit setelah jatuhnya Orde
baru.
Pemerintah memang memegang kendali dalam semua aspek pada saat, terutama dalam dunia
pers.

Sumber : https://dhaniquinchy.wordpress.com/2010/06/01/pers-di-masa-orde-baru/
Perbandingan Kebebasan Pers Pada Masa Orde Baru Dan
Masa Reformasi Di Indonesia
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejak merdeka tahun 1945, Indonesia sudah beberapa kali mengalami pergantian sistem
pemerintahan. Tahun 1945 sampai 1965 dikenal dengan nama sistem pemerintahan orde lama,
yang mana merupakan era presiden Soekarno. Setelah presiden Soekarno tumbang, tampung
kekuasaan diserahkan kepada jenderal Soeharto yang akhirnya melahirkan sistem pemerintahan
orde baru. Orde baru berlangsung dari tahun 1966 sampai tahun 1998. Dikarenakan sudah terlalu
lama menjabat dan merajalelanya KKN, presiden Soeharto digulingkan oleh rakyat Indonesia
yang akhirnya melahirkan zaman baru bagi Indonesia, reformasi. Reformasi berlangsung dari
tahun 1998 sampai sekarang.

Tidak ada yang menyangkal bahwa setiap periode pemerintahan memiliki ciri khasnya masing
masing. Orde baru dikenal dengan keotoriteran rezim presiden Soeharto sedangakan masa
reformasi dianggap sebagai masa berjayanya demokrasi. Kedua masa tersebut, orde baru dan
reformasi merupakan dua masa pemerintahan yang cukup berbeda. Masa orde baru merupakan
masa dimana segala sesuatunya harus sesuai dengan kehendak pengusa, bukan kehendak rakyat.
Rakyat dipaksa untuk bungkam dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah tanpa
dapat melakukan kritik untuk kebijakan yang lebih baik. Pada masa orde baru Indonesia memang
mengalami pertumbuhan ekonomi yang mengesankan, namun tidak merata. Hutang Indonesia
tak terhitung banyaknya. Ditambah maraknya korupsi di tubuh pemerintahan. Siapapun yang
menentang pemerintah, nyawanya akan terancam. Sanksi kriminal dilaksanakan dengan
menggelar Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto
sebagai pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat “dibuang” ke
Pulau Buru. Tidak ada yang mampu meruntuhkan kebobrokan sistem tersebut sampai akhirnya
rakyat benar – benar telah kehilangan kesabaran pada tahun 1998.

Sedangkan masa reformasi sering digaung – gaungkan sebagai masa demokrasi. Yang artinya
kebebasan hampir disegala aspek kehidupan, termasuk dalam hal kepolitikan. Pada masa orde
baru, pemenang pemilu sudah bisa dipastikan, namun pada masa reformasi benar benar
merupakan persaingan terbuka. Dalam hal pengambilan kebijakan, rakyat dapat menyalurkan
aspirasinya secara bebas melalui wakil wakil rakyat maupun media. Walaupun pada
kenyataannya saat ini aspirasi rakyat cenderung tidak didengar, setidaknya tidak ada yang
membungkam rakyat seperti pada masa orde baru.

Berdasarkan uraian diatas, sudah dapat dipastikan nasib jurnalisme Indonesia pada masa orde
baru dan reformasi itu berbeda. Nasib pers sangat bergantung dari kebijakan kebijakan yang
dikeluarkan pemerintah.
B. Rumusan Masalah

Bagaimana perbandingan kebebasan pers pada masa orde baru dan masa reformasi?

C. Teori

Teori sistem politik menurut pendapat Robert A.Dahl dalam bukunya yang berjudul Modern
Political Analysis : “ sistem politik adalah sebagai pola yang tetap dari hubungan – hubungan
antar manusia yang melibatkan -sampai dengan tingkat yang berarti- kontrol, pengaruh,
kekuasaan, ataupun wewenang”

demokrasi menurut Henry B.Mayo : “Kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh
wakil-wakil yang diawasi secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan yang didasarkan
atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana di mana terjadi kebebasan
politik.”

D. Hipotesis

Pada masa orde baru kebebasan pers sangat dibatasi sedangkan pada masa reformasi pers
memiliki ruang gerak yang cukup luas.

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pers masa orde baru

Tidak bisa dipungkiri bahwa pers memiliki peran yang sangat penting di suatu negara. Tanpa
pers, tidak ada informasi yang bisa tersalurkan baik dari rakyat ke pemerintahnya maupun
sebaliknya. Singkat kata, pers memiliki posisi tawar yang tidak bisa diremehkan. Konsepsi
Riswandha (1998 : 101) mengatakan bahwa ada empat pilar pemelihara persatuan bangsa, salah
satunya adalah kaum intelektual atau pers. Pers berfungsi sebagai pemikir dan penguji konsep-
konsep yang diterapkan pada setiap kebijakan.

Pada masa orde baru, pers bisa dikatakan tidak ada fungsinya untuk warga negara. Pers sangat
terlihat hanya sebagai boneka penguasa. Tidak ada kebebasan berpendapat yang dijanjikan
pemerintah pada awal awal kekuasaan orde baru. Keberadaan pers diawasi secara ketat oleh
pemerintah di bawah naungan departemen penerangan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi
hal – hal buruk di dalam pemerintahan orde baru sampai di telinga masyarakat. Pers tidak bisa
melakukan apapun selain patuh pada aturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Aspirasi
masyarakat untuk pemerintah tidak tersalurkan sama sekali. Hal ini dikarenakan komunikasi
politik yang terjadi hanya top – down. Artinya pers hanya sebagai komunikator dari pemerintah
ke rakyat. Pers tidak dapat melakukan fungsinya sebagai komunikator dari rakyat ke pemerintah.
Selain itu, pemberitaan yang disalurkan ke masyarakat mengenai pemerintah harus merupakan
berita – berita yang menjunjung tinggi keberhasilan pemerintah. Yang diberitakan hanyalah
sesuatu yang baik. Apabila suatu media nekat menerbitkan pemberitaan – pemberitaan miring
soal pemerintah, bisa di pastikan nasib media tersebut berada di ujung tanduk.

Berdasarkan teori politik yang dipaparkan diatas, jelas bahwa pers pada masa orde baru sangat
dikendalikan oleh pemerintah. Kontrol pemerintah terhadap pers tidak dapat diragukan lagi,
begitu juga dengan pegaruhnya. Kebijakan – kebijakan yang dikeluarkan pemerintah orde baru
sangat tidak mendukung keberadaan pers. Salah satu contohnya adalah kebijakan SIUPP, yakni
Surat Izin untuk Penerbitan Pers, yang mana sangat tidak pro-pers. Pers mengalami kesulitan
saat dituntut untuk melasanakan fungsi – fungsi yang secara alamiah melekat padanya,
khususnya fungsi mereka bagi masyarakat. Fungsi pers bagi masyarakat adalah menampilkan
informasi yang berdimensi politik lebih banyak dibandingkan dengan ekonomi, dengan
didominasi subyek negara serta kecenderungan pers untuk lebih berat ke sisi negara harus
dilakukan dengan cara lebih memilih realitas psikologis dibanding dengan realitas sosiologis.
Tidak hanya itu, 9 elemen dasar Bill Kovach mengenai jurnalisme yang seharusnya diamalkan
oleh pers tidak terlaksana. 9 elemen dasar tersebut adalah :

1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran


2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara
3. Esensi utama jurnalisme adalah disiplin verifikasi
4. Jurnalis harus menjaga indepedensi dari objek liputannya
5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan
6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling kritik dan menemukan kompromi
7. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan
8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional
9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personelnya

Jika sudah begitu, bisa dikatakan pers telah kehilangan jati dirinya. Contoh kediktatoran
pemerintah terhadap pers adalah peristiwa 21 Juni 1994. Saat itu beberapa media massa seperti
Tempo, deTIK, dan editor dicabut surat izin penerbitannya atau dengan kata lain dibredel setelah
mereka mengeluarkan laporan investigasi tentang berbagai penyelewengan yang dilakukan oleh
pejabat-pejabat Negara. Akan tetapi, meskipun pemerintah telah membungkam media
sedemikian rupa, tetapi saja ada media yang pantang menyerah melakukan perlawanan pada
pemerintah. Salah satunya adalah Tempo. Pemerintah orde baru selalu merasa terancam dengan
keberadaan Tempo. Hal tersebut wajar karena sikap pantang menyerah yang ditanamkan media
tersebut kepada wartawan – wartawannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa Tempo menjadi media
terpenting pada masa orde baru.

Sesungguhnya pada masa orde baru terdapat lembaga yang menaungi pers di Indonesia, yaitu
Dewan Pers. Sesuai UU Pers Nomor 40 tahun 1999, dewan pers adalah lembaga independen
yang dibentuk sebagai bagian dari upaya untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan
meningkatkan kehidupan pers nasional. Berdasarkan amanat UU, dewan pers meiliki 7 fungsi :

1. Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain, bisa pemerintah dan juga
masyarakat
2. Melakukan pengkajian untuk pengembangan keidupan pers
3. Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan kode etik jurnalistik
4. Memberikan pertimbangan dan pengupayaan penyelesaian pengaduan masyarakat atas
kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers
5. Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat, dan pemerintah.
6. Memfasilitasi organisasi pers dalam menyusun peraturan di bidang pers dan
meningkatkan kualitas profesi wartawan
7. Mendata persahaan pers

Namun sangat disayangkan bahwa dewan pers masa orde baru tidak melaksanakan fungsinya
dengan efektif. Ironisnya, dewan pers justru tidak melindungi rekan sesama jurnalis. Hal tersebut
terlihat saat peristiwa pembredelan media tahun 1994. Banyak anggota dewan pers yang tidak
meyetujui pemberedelan tersebut, namun dewan pers dipaksa menyetujui langkah pemerintah
tersebut. Tidak ada yang bisa dilakukan dewan pers selain mematuhi instruksi pemerintah.
Menolak sama artinya dengan melawan pemerintah. Bisa disimpulkan keberadaan dewan pers
masa orde baru hanya sebatas formalitas.

2. Pers masa reformasi

Bagaimana dengan kebebasan pers pada masa reformasi? Tidak bisa dipungkiri bahwa pers pada
masa orde baru sangat berbeda dengan pers pada masa reformasi. Tidak ada kebebasan pers pada
masa orde baru. Namun, saat orde baru tumbang, pers seperti kehilangan kendali. Arus
kebebasan dibuka lebar – lebar secara spontan. Gelombang kebebasan pers tercipta secara besar
besaran, bukan perlahan dengan proses yang seharusnya.

Suatu kebijakan yang monumental karena dianggap sebagai tonggak dimulainya kebebesan pers
di Indonesia yakni dikeluarkannya Permenpen No. 01/per/Menpen/1998, tentang Kententuan –
Ketentuan SIUPP. Pada Permenpen ini, sanksi pencabutan SIUPP maupun pembreidelan bagi
pers ditiadakan. Ada lima peraturan, baik berupa Peraturan Menteri maupun Surat Keputusan
Menteri, yang keseluruhannya menghambat ruang gerak pers, dicabut. Puncaknya adalah
dikeluarkannya Undang- Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Terdapat pasal di dalam
undang-undang ini yang menyatakan pencabutan semua undang- undang pers yang ada
sebelumnya. Sejak saat itu, tidak ada lagi kebijakan pemerintah yang memberatkan pers.
Akibatnya, permintaan untuk izin penerbitan meningkat.

Pers masa reformasi selalu dihubungkan dengan demokrasi. Yang mana demokrasi berarti
kebebasan untuk berbicara dan mengeluarkan pendapat. Salah satu indikator demokrasi adalah
terciptanya jurnalisme yang independen. Walaupun pada kenyataannya saat ini, terkadang pers
masih dimanfaatkan oleh pemerintah untuk melanggengkan kekuasaan. Pers masa reformasi
bebas menuliskan apapun kritik mereka terhadap pemerintah. Tidak ada pembungkaman, apalagi
pembredelan. Jika pemerintah tersinggung dengan apa yang disampaikan oleh pers, jalan untuk
melawannya bukan dengan memberedel pers, tetapi dengan memanfaatkan pers itu sendiri
sebagai alat komunikasi yang efektif antara masyarakat dan pemerintah. Dengan kata lain, pers
masa reformasi menempatkan dirinya sebagai perantara rakyat dan pemerintah supaya tidak
terjadi perbedaan persepsi.

Pers masa reformasi sedikit banyak telah menemukan jati dirinya. Pers menjadi lemabga yang
independen. Pada masa reformasi, komunikasi politik yang terjadsi antara masyarakat dan
pemerintah tidak hanya komunikasi top – down, melainkan juga bottom – up. Pers menjadi
sarana masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya, baik berupa tuntutan maupun dukungan. Pers
juga menjadi sarana pemerintah mensosialisasikan kebijakan – kebijakan yang telah diambilnya.
Pers menjadi wadah pemerintah untuk mengetahui apakah kebijakan – kebijakan yang akan
diambil disetujui rakyat atau tidak. Apabila suatu kebijakan telah diambil dan dilaksanakan, pers
dapat mengambil perannya sebagai pengontrol kebijakan. Intinya, pers masa reformasi
senantiasa melaksanakan fungsinya pada setiap proses sistem politik. Pada masa ini, 9 elemen
dasar serta fungsi – fungsi pers cukup terlaksana.

Namun, kebebasan pers yang tercipta pada masa reformasi bukan berarti tidak menimbulkan
masalah apapun. Kebebasan pers masa reformasi terkadang terlewat batas. Terdapat
ketidakseimbangan antara keinginan masyarakat dengan kepentingan pers. Pers cenderung
menampilkan sesuatu yang berbau komersil dan hanya memikirkan keuntungan perusahaan.
Berita yang disajikan terkadang tidak objektif. Tidak hanya itu, pers juga terkadang melanggar
kode etik nya sendiri. Norma dan nilai yang ada di masyarakat diabaikan. Dalam pencarian berita
pun pers sering meniadakan kesopan santunan. Pers tidak lagi menghargai privatisasi sumber
berita. Sebagai contoh, pers seharusnya fokus hanya pada masalah – masalah yang berhubungan
dengan kepentingan masyarakat, seperti kebijakan pemerintah, akan tetapi pers
menambahkannya dengan urusan pribadi sumber berita. Hal itu sangat melanggar norma.

Kekhawatiran masyarakat terhadap kebebasan pers, sempat muncul dalam aksi perlawanan
dalam bentuk kekerasan fisik. Hal ini antara lain ditandai dengan penyerangan harian Jawa Pos
di Surabaya oleh Banser pendukung Abdurrahman Wahid (alam Emilianus, 2005: 128).

Intinya, pers menjadi lupa bahwa kebebasan pun masih harus ada batasnya. Di masa reformasi
pers lebih menampilkan diri sebagai pihak yang dekat dengan kekuasaan dan modal. Dan hal ini
harus diantisipasi oleh masyarakat sebagai pengawas atas perilaku pers di Indonesia.

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa kebebasan pers pada
masa orde baru sangat berbeda dengan kebebasan pers pada masa reformasi. Pada masa orde
baru pergerakan pers sangat dibatasi dan hanya sebagai boneka pemerintah untuk
melanggengkan kepentingannya. Sedangakan pada masa reformasi, kebebasan pers sangat
terjamin. Ruang gerak pers menjadi sangat luas. Pers dapat melakukan fungsi top – down dan
bottom – up, walaupun terkadang masih dimanfaatkan sebagai alat penguasa serta pemilik
modal. Kebebasan pers masa reformasi juga bukan berarti tanpa masalah, banyak masalah yang
timbul akibat dari kebebasan pers itu sendiri.

Sumber : https://kampekique.wordpress.com/2011/08/11/perbandingan-kebebasan-pers-pada-masa-
orde-baru-dan-masa-reformasi-di-indonesia/