Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah S.W.T yang telah melimpahkan Rahmat serta
hidayahnya dan telah mengutus Muhammad dengan petunjuk din yang benar
untuk dimenangkan atas semua din. Semoga Salawat serta salam selalu di
limpah curahkan kepada junjungan nabi kita Muhammad SAW, beserta
segenap pengikutnya hingga hari akhir.

Syukur alhadulillah makalah ini telah saya susun sesuai dengan jadwal yang
di tetapkan. Makalah ini merupakan himpunan dari berbagai referensi buku
lain.

Atas saran dari beberapa rekan, mengingat isi buku tersebut masih relevan
da actual untuk diketahui oleh mahasiswa, praktisi dan diperlukan masyarakat
umum, maka buku tersebut kami ambil bagian-bagian yang sangat diperlukan
dalam mengerjakan makalah ini.

Kami berterima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah
memberikan bantuan baik moral maupun materil sehingga makalah yang
sederhana ini dapat Kami selesaikan.

Secara khusus kami sapaikan terimakasih kepada teman-teman


seperjuangan yang telah mensupport dan terimakasih juga kepada
perpustakaan syaria’ah yang telah meminjamkan buku sehingga dapat
tersusun bentuk makalah seperti sekarang ini. Oleh karena hal-hal yang
tersbut dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan
kesempurnaan, baik dari segi teknik penulisan maupun materi yang disajikan,
oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan semoga makalah ini
bermanfaat bagi semua yang membacanya.

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………...........1

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………..........2

PENDAHULUAN…………………………………………………………………….............3

1. Pengertian…………………………………………………………………...................4

2. Aplikasi Dalam Perbankan…………………………………………….................5

3. Ketentuan hukum Al qard…………………………………………….................6

4 .Manfaat Al Qard……………………………………………………………...............7

5. Aplikasi AL Qard……………………………………………………………................8

6. Aplikasi dalam saudara.........................................………….............….9

7. pinjaman komulatif……………………………………………………………...........10

8. pinjaman produktif..........................................................................11

IV.KESIMPULAN………………………………………………….....…...................12

2
PENDAHULUAN

Ajaran Islam mengakui adanya perbedaan pendapatan dan kekayaan pada


setiap
orang dengan syarat bahwa perbedaan tersebut diakibatkan karena setiap
orang
mempunyai perbedaan keterampilan, inisiatif, usaha dan resiko. Namun
perbedaan itu tidak boleh menimbulkan kesenjangan yang terlalu jauh antara
yang kaya dengan yang miskin karena kesenjangan yang terlalu dalam tidak
sesuai dengan syariah Islam yang menekankan bahwa sumber-sumber daya
bukan
saja karunia dari Allah bagi semua manusia, melainkan juga merupakan suatu
amanah. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk mengkonsentrasikan
sumber-sumber daya di tangan segelintir orang.

Kurangnya program-program efektif untuk mereduksi kesenjangan sosial yang


terjadi selama ini dapat mengakibatkan kehancuran, bukan penguatan
perasaan
persaudaraan yang hendak diciptakan ajaran Islam. Syariah Islam sangat
menekankan adanya suatu distribusi kekayaan dan pendapatan yang merata
sebagaimana yang tercantum dalam Surah Al Hasyr ayat 7, yakni “… kekayaan
itu tidak beredar di kalangan orang-orang kaya di antara kamu saja.”

Distribusi kekayaan dan pendapatan yang merata bukan berarti sama rata
sebagaimana faham kaum komunisme, tetapi ajaran Islam mewajibkan setiap
individu untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya, dan sangat melarang
seseorang menjadi pengemis untuk menghidupi dirinya.

Dalam literatur Ekonomi Syariah, terdapat berbagai macam bentuk transaksi


kerjasama usaha, baik yang bersifat komersial maupun sosial, salah satu
berbentuk “qardh”. Qardh adalah pemberian harta kepada orang lain yang
dapat
ditagih atau diminta kembali tanpa mengharapkan imbalan atau dengan kata
lain merupakan sebuah transaksi pinjam meminjam tanpa syarat tambahan
pada
saat pengembalian pinjaman. Dalam literatur fiqh klasik.

3
1. Definisi al-Qardh

Secara umum pinjaman merupakan pengalihan hak milik harta atas harta
dimana pengalihan tersebut merupakan kaidah dari Qardh.

A. Pengertian Pinjaman Menurut Bahasa Arab

Qardh secara bahasa, bermakna Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta


yang disodorkan kepada orang yang berhutang disebut Qardh, karena
merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang. Kemudian
kata itu digunakan sebagai bahasa kiasan dalam keseharian yang berarti
pinjam meminjam antar sesama. Salah seorang penyair
berkata,“Sesungguhnya orang kaya bersaudara dengan orang kaya, kemudian
mereka saling meminjamkan, sedangkan orang miskin tidak memiliki saudara”

B. Pengertian Pinjaman Menurut Hukum Syara’

Secara syar’i para ahli fiqh mendefinisikan Qardh:


1. Menurut pengikut Madzhab Hanafi , Ibn Abidin mengatakan bahwa
suatu

apa yang dimiliki satu orang lalu diberikan kepada yang lain kemudian
dikembalikan dalam

kepunyaannya dalam baik hati.


2. Menurut Madzhab Maliki mengatakan Qardh adalah Pembayaran dari
sesuatu yang berharga

untuk pembayaran kembali tidak berbeda atau setimpal.


3. Menurut Madzhab Hanbali Qardh adalah pembayaran uang ke seseorang
siapa yang akan

memperoleh manfaat dengan itu dan kembalian sesuai dengan padanannya.


4. Menurut Madzhab Syafi’i Qardh adalah Memindahkan kepemilikan sesuatu
kepada seseorang,

disajikan ia perlu membayar kembali kepadanya.

3. Aplikasi dalam Perbankan

Akad qard biasanya diterapkan sebagai berikut:


a. Sebagai produk perlengkapan kepada nasabah yang telah terbukti loyalitas
dan

bonafiditasnya,yang membutuhkan dana talangan segera untuk masa yang


rlatif pendek. Nasabah

tersebut akan mengembalikan secepatnya sejumlah uang yang dipinjamnya


itu.

b. Sbagai fasilitas nasabah yang memerlukan dana cepat,sedangkan ia tidak


bisa menarik dananya

karena,misalnya tersimpan dalam bentuk deposito.

c. Sebagai produk untuk menyumbang usaha yang sangat kcil atau memebayar
sektor sosial.Guna

pemenuhan skema khusus ini telah dikenal suatu produk khusus yaitu al-
qardh Al-hasan

Hal yang diperbolehkan pada Qardh


Madzhab Hanafi berpendapat, Qardh dibenarkan pada harta yang memiliki
kesepadanan, yaitu harta yang perbedaan nilainya tidak meyolok, seperti
barang-barang yang ditakar, ditimbang, biji-bijian yang memiliki ukuran serupa
seperti kelapa, telur. Tidak diperbolehkan melakukan qardh atas harta yang
tidak memiliki kesepadanan, baik yang bernilai seperti binatang, kayu dan
agrarian, dan harta biji-bijian yang memiliki perbedaan menyolok, karena tidak
mungkin mengembalikan dengan semisalnya.

Madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat, diperbolehkan melakukan


qardh atas semua harta yang bisa diperjualbelikan objek salam, baik ditakar,
atau ditimbang, seperti emas, perak dan makanan atau dari harta yang
bernilai, seperti barang-barang dagangan, binatang dan sebagainya, seperti
harta-harta, biji-bijian.

4. Hukum Qardh
Hak kepemilikan dalam Qardh menurut Abu Hanifah dan Muhammad –
berlaku melalui Qabdh (penyerahan).Jika seseorang berhutang satu mud
gandum dan sudah terjadi qabdh, maka ia berhak menggunakan dan
mengembalikan dengan semisalnya meskipun muqridh meminta pengembalian
gandum itu sendiri, karena gandum itu bukan lagi miliki muqridh. Yang menjadi
tanggung jawab muqtaridh adalah gandum yang semisalnya dan bukan
gandum yang telah diutangnya, meskipun Qardh itu berlangsung.

Abu yusuf berkata : muqtaridh tidak memiliki harta yang menjadi objek
Qardh selama Qardh itu berlangsung.

Mazhab hanafi berpendapat, Qardh dibenarkan pada harta yang memiliki


kesepadanan, yaitu harta yang perbedaan nilainya tidak menyolok, seperti
barang-barang yang ditakar, ditimbang, biji-bijian yang memiliki ukuran serupa
seperti kelapa dan telur, dan yang diukur, seperti kain bahan. Di perbolehkan
juga meng-qardh roti, baik dengan timbangan atau biji.
Mazhab Maliki, Syafi’I, dan Hambali berpendapat, diperbolehkan melakukan
qardh atas semua harta yang bias dijualbelikan obyek salam, baik itu ditakar,
ditimbang, seperti emas, perak dan makanan atau dari harta yang bernilai,
seperti barang-barang dagangan, binatang dan sebagainya, seperti harta-harta
biji-bijian, karena pada riwayat Abu Rafi’ disebutkan bahwa Rasulullah SAW
berutang unta berusia masih muda, padahal untuk bukanlah harta yang ditakar
atau ditimbang, dan karena yang menjadi obyek salam dapat di hakmiliki
dengan jual beli dan ditentukan dengan pensifatan. Maka bisa menjadi obeyek
qardh. Sebagaimana harta yang ditakar dan ditimbang.
Dari sini, menurut jumhur ahli fiqih, diperbolehkan melakukan qardh atas
semua benda yang boleh diperjualbelikan kecuali manusia, dan tidak
dibenarkan melakukan qardh atas manfaat/jasa, berbeda dengan
pendapat Ibnu Taimiyah, seperti membantu memanen sehari dengan imbalan
ia akan dibantu memenen sehari, atau menempoati rumah orang lain dengan
imbalan orang tersebut menempati rumahnya.

5. Manfaat al-qardh

a. Memungkinkan nasabah yang sedang dalam kesulitan mendesak untuk


mendapat talangan jangka

pendek.
b. Al-qardh al-hasan juga merupakan salah satu ciri syariah dan bank
konvensional yang didalamnya

terkandungØpembeda antara bank misi social, disamping misi komersial.

c. Adanya misi kemasyarakatan ini akan meningkatkan citra baik dan


meningkatkan

loyalitasmasyarakatkepadabanksyariah.

d. Risiko al-qardh terhitung tinggi karena ia di anggap pembiayaan yang tidak


ditutup dengan

jaminan.

Dilihat dari definisi diatas, maka pinjaman dapat dibagi menjadi dua bagian,
yaitu pinjaman seorang hamba untuk Tuhan-Nya dan pinjaman seorang
muslim untuk saudaranya.

a. Pinjaman seorang hamba untuk Tuhan-Nya

Yaitu apa yang diberikan oleh seorang muslim untuk membantu saudaranya
tanpa mengharap

kembalinya barang tersebut karena semata-mata untuk mengharapkan


balasan di akhirat nanti.

Hal ini mencakup infaq untuk berjihad, infaq untuk anak-anak yatim, infaq
untuk orang-orang

jompo, dan infaq untuk orang-orang miskin. Jenis ini telah disebutkan di
dalam Al-Qur’an dengan
kata ‘al-qardh’, sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT “Dan
berperanglah kamu sekalian

di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi


Maha Mengetahui.”
(Q.S Al-Baqarah : 244)

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik
(menafkahkan hartanya

di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran


kepadanya dengan lipat ganda

yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan


kepada- Nya-lah kamu

dikembalikan.”(Q.S Al-Baqarah : 245

berbeda dengan apa yang sering kita lihat didalam kehidupan


bermasyarakat, yang mana seseorang meminjam dari temannya karena
didorong oleh adanya suatu kebutuhan. Karena pinjaman yang dimaksud
dalam ayat ini sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.

b. Pinjaman seorang hamba untuk saudaranya

Para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan masalah ini.Madzhab Abu


Hanifah berkata, “Pinjaman yang diperbolehkan adalah sesuatu yang
mempunyai persamaan yang mungkin dapat digantikan dengan sesuatu yang
seruoa, akan tetapi menyangkut barang-barang bernilai seperti hewan,
property, kayu bakar dan segala sesuatu yang tidak mungkin ditemukan barang
yang serupa dan persis dengannya waktu pengembalian barang pinjaman
tersebut, maka tidak boleh dipinjamkan. Karena menurut golongan ini, bahwa
pinjam meminjam dengan sesuatu yang tidak dapat digantikan dengan yang
serupa tidak diperbolehkan.

Madzhab Imam Malik menambahkan definisi ini dengan beberapa point


berikut :
• Hendaklah barang yang dipinjamkan mempunyai nilai jual, dengan begitu
tidak dibenarkan

meminjamkan sepotong api.


• Orang yang meminjam harus mengembalikan barang pinjamannya.
• Pengembalian pinjaman hendaklah diberikan sesudah menerima
pinjamannya.
• Hendaklah orang yang memberikan pinjaman tersebut berniat untuk
memberikan manfaat kepada

orang yang meminjam saja, dan tidak berniat untuk mendapatkan


keuntungan pribadi maupun

untuk mendapatkan keuntungan bersama.


• Tidak boleh meminjamkan alat fital seorang sahaya perempuan kepada
seseorang untuk

dimanfaatkan
• Hendaklah orang yang meminjam sesuatu harus menjamin bahwa ia akan
mengembalikan

1. Pinjaman Konsumtif

Pinjaman-pinjaman semacam ini dilakukan oleh orang-orang yang


mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya. Pinjaman jenis
ini amat biasa di kalangan orang-orang miskin dan menengah, khususnya di
negara-negara yang sedang berkembang, seperti terjadi di Indonesia sejak
dilanda krisis multidimensi salah satu diantara krisis moneter, dimana terjadi
kenaikan pada semua harga barang, akibatnya masyarakat kesusahan untuk
membutuhkan barang tersebut karena nilai mata uang yang menurun
disamping itu juga pendapatan masyarakat yang cenderung tidak meningkat.
Sebagian besar orang mengambil pinjaman ini untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Oleh karena itu, sebagian besar dari pendapatan mereka diambil
alih oleh pemilik modal dalam bentuk bunga. Jutaan manusia di negara-negara
yang sedang berkembang menggunakan seluruh hidupnya untuk membayar
utang yang diwariskan kepada mereka. Upah dan gaji mereka sangat rendah
sehingga setelah membayar bunga, sangat sedikit yang tersisa untuk
menjadikan mereka mampu mendapatkan satu dua piring makanan setiap
hari.
Pembayaran angsuran bunga yang berat secara terus menerus ini telah
merendahkan standard kehidupan dan pendidikan anak-anak mereka.
Disamping itu, kecemasan yang terus menerus rupanya mempengaruhi
efisiensi kerja mereka yang pada akhirnya akan memperlemah perekenomian
negara mereka

Selanjutnya, pembayaran bunga telah mengurangi (menurunkan) daya beli di


kalangan mereka. Oleh karena itu, industri yang memenuhi permintaan
golongan miskin dan menengah akan memperoleh kesan akan rendahnya
permintaan pada kalangan tersebut. Dan secara berangsur-angsur tetapi
dengan pasti, hal ini akan menurunkan pembangunan industri serta
menghambat kemajuan masyarakat.

10

1. Pinjaman Produktif

Pinjaman ini dilakukan oleh para pedagang, industrialis dan para petani
untuk tujuan-tujuan yang produktif termasuk dalam kategori peminjam jenis
ini. Kapitalis, dengan malapraktek mereka, telah menimbulkan banyak
kesengsaraan dengan memungut bunga dari para peminjam, begitu juga
terhadap masyarakat.

6. Aplikasi Qardh

Pinjaman qardh biasanya diberikan oleh bank kepada nasabahnya


sebagai fasilitas pinjaman talangan pada saat nasabah mengalami overdraft.
Fasilitas ini dapat merupakan bagian dari satu paket pembiayaan lain, untuk
memudahkan nasabah bertransaksi. Aplikasi qardh dalam perbankan ada
empat hal:

a.Sebagai pinjaman talangan haji


b.Sebagai pinjaman tunai dari produk kartu kredit syariah
c.Sebagai pinjaman kepada pengusaha kecil
d Sebagai pinjaman kepada pengurus bank

Rukun dan Syarat


1. Rukun :
– Muqridh (pemilik barang)
– Muqtaridh (yang mendapat barang atau peminjam)
– Ijab qobul
– Qardh (barang yang dipinjamkan)

2. Syarat sah qardh :


– Qardh atau barang yang dipinjamkan harus barang yang memiliki manfaat,
tidak sah jika tidak ada

kemungkinan pemanfaatan karena qardh adalah akad terhadap harta.


– Akad qardh tidak dapat terlaksana kecuali dengan ijab dan qobul seperti
halnya dalam jual beli.

11

KESIMPULAN

Dari uraian makalah ini, maka dapat disimpulkan bahwa bank syariah memiliki
keunggulan atau nilai lebih dibandingkan dengan bank konvensional dari segi
pembiayaan, karena dalam bank syari’ah memiliki berbagai macam bentuk
pembiayaan yang meudahkan bagi para nasabah dalam segi pembiayaan. Bank
syariah juga memiliki keuntungan yang lebih dibandingkan dengan bank
konvensional, karena produknya dijamin halal.
12