Anda di halaman 1dari 8

Peranan Penelitian Ilmiah pada Bidang Kajian Bahasa

A. Filsafat dan bahasa


Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani. Kata ini berasal dari kata philosophia yang
berarti cinta pengetahuan. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, senang, dan suka, serta
kata shopia yang berarti pengetahuan, hikmah, dan kebijaksanaan (Hamdani Ali, 1986:7).
Hasan Shadily (1984:9) mengatakan bahwa filsafat menurut asal katanya adalah cinta
kebenaran. Dengan demikian, dapat ditarik pengertian bahwa filsafat adalah cinta pada ilmu
pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah dan kebijaksanaan. Jadi, orang yang
berfilsafat adalah orang yang mencintai kebenaran, berilmu pengetahuan, ahli hikmah dan
bijaksana (Jalaluddin H. dan Idi Abdullah H., 2011:1)
Bahasa menurut Subroto (dalam Muhammad, 2011:40) merupakan sistem tanda bunyi
ujaran yang bersifat arbitrer atau sewenang-wenang. Berdasarkan konsep ini, substansi
bahasa adalah bunyi yang dihasilkan oleh manusia.
Kridalaksana (dalam Muhammad, 2011:40) menyatakan bahwa bahasa adalah sistem
lambang bunyi arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok social untuk bekerja
sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Bahasa mempunyai lima substansi, yaitu
identitas bahasa, pilar bahasa, komponen bahasa, sifat bahasa, dan eksponen bahasa. Kata
kucinya adalah ‘identitas’, ‘pilar’, ‘komponen’, ‘sifat’, dan ‘eksponen’ (Sudaryanto dalam
Muhammad, 2011:40)
Alwasilah dalam bukunya yang berjudul filsafat bahasa dan pendidikan mengatakan
bahwa filsafat adalah proses berpikir secara radikal ihwal suatu realitas. Bagaimanakah kita
berpikir? Berpikir adalah berbahasa juga. Apa yang kita pikirkan? Realitas. Apa realitas?
Realitas adalah sesuatu yang disimbolkan lewat bahasa. Bahasa tidak sekadar urutan bunyi
yang dapat dicerna dengan empiris, tetapi juga kaya dengan makna nonempiris. Dengan
demikian, bahasa adalah sarana vital dalam berfilsafat, yakni sebagai alat untuk
mengejawantahkan pikiran tentang fakta dan realitas yang direpresentasi lewat simbol bunyi.
Bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam filsafat, seperti yang dikemukakan
kembali di dalam buku filsafat bahasa dan pendidikan bahwa tanpa bahasa para filsuf tidak
akan pernah berfilsafat. Sebaliknya, tanpa filsafat kita tetap mampu berbahasa. Atau ide tak
berwujud lepas dari bahasa.
B. Teori bahasa dan metode ilmiah
1. Teori Bahasa
Teori tentang bahasa adalah abstraksi para ahli bahasa sebagai hasil pengamatan terhadap
gejala bahasa. Dengan jalan pemikiran ini, ilmu bahasa tunduk kepada sejumlah asumsi
tentang objek empiris (bahasa) sebagai berikut:
a. Keragaman
Beberapa fenomena menghasilkan keragaman dalam sifat, struktur, bentuk, dan
sebagainya. Keragaman ini menghasilkan klasifikasi yang sangat mendasar bagi ilmu
pengetahuan untuk menghasilkan taksonomi. Dari taksonomi, para ilmuwan
membandingkan objek studi sehingga muncul komparasi.
b. Kelestarian Relatif
Ilmu pengetahuan mencari hukum-hukum dari objek yang relative lestari sehingga
dapat dijadikan pegangan. Sulitlah keilmuan akan tegak bila objek studinya berubah
setiap saat. Struktur bahasa relatif lestari sehingga kita dapat mempelajarinya.
c. Sebab-Akibat
Diterminisme mengatakan bahwa sebuah fenomena bukanlah kejadian asal jadi
dengan sendirinya. Ada keteraturan sehingga ada keterkaitan sababiyah atau sebab-
akibat, X menyebabkan Y. Walau begitu, dalam ilmu pengetahuan tidak harus selalu
ditemukan X akan selalu menyebabkan Y.

2. Teori Bahasa dan Metode Ilmiah


a) Fakta, Realita, dan Aktualita
Manusia memaknai alam semesta dengan kemampuan bahasa. Erikson seperti dikutip
Hoover (1980) membedakan tiga jenis konsep:
1) Fakta/factuality
Fakta atau factuality adalah konsep yang paling akrab berkait dengan kegiatan atau
metodologi saintifik, yaitu semesta fakta-fakta, data, dan teknik-teknik yang dapat
diverifikasi dengan metode obseravasi. Fakta jangan dikacaukan dengan kebenaran,
sebab benar-salah bukan urusan epistemologi.
2) Realiti/ reality
Realiti atau reality adalah urutan kedua setelah fakta dalam memahami hubungan
manusia dengan semesta ini. Realitas kurang konkret dibandingkan fakta, tetapi lebih
sederhana bagi intuisi kita. Ia adalah perspektif kia terhadap suatu fakta.
3) Aktualita/actuality
Aktualita atau actuality adalah pengetahuan yang diperoleh lewat tindakan. Ia lebih
membantu kita bagaimana bertindak atas apa yang kita ketahui. Manusia lebih
cenderung berorientasi pada aksi dan refleksi.

b) Peran Teori
Yang dimaksud dengan metode saintifik lazimnya merujuk pada langkah-langkah
sistematik berikut:
1) Identifikasi variable yang diteliti;
2) Pengajuan hipotesis yag menghubungkan suatu variable dengan variable lain atau
situasi lain;
3) Mengetes realitas, yakni dengan mengukur hubungan hipotesis dengan hasil yang
diperoleh;
4) Melakukan evaluasi dimana hubungan yang telah terukur itu dibandingkan dengan
hipotesis awal, lalu dimunculkanlah sebuah generalisasi;
5) Mengajukan saran ihwal makna (signifikansi) teoretis dari temuan, faktor-faktor yang
terlibat dengan pengetesan yang mungkin menyebabkan distorsi temuan, dan
sejumlah hipotesis lain yang berkembang.

Langkah-langkah di atas itu gambaran pendekatan konvensional dalam melakukan


penelitian. Hal ini tidak berlaku bagi pendekatan naturalistik karena berangkat dari
asumsi filosofis yang berbeda.
Teori adalah kreasi manusia untuk menjelaskan pemahaman ihwal fenomena. Ada
empat fungsi teori sebagai berikut (Hoover dalam Alwasilah, 2008:50):
1) Teori menyajikan pola-pola untuk memaknai data;
2) Teori menghubungkan satu studi dengan studi lainnya;
3) Teori menyajikan berbagai kerangka yang memayungi konsep dan variable untuk
memperoleh makna yang spesifik; dan
4) Teori memungkinkan kita menginterpretasi makna yang besar dari temuan penelitian
kita yang bermakna bagi kita maupun bagi orang lain.

C. Ihwal Penelitian Ilmiah

Penelitian atau research berasal dari kata “re” dan “to”,”search” yang berarti mencari
kembali. Sementara itu Yoseph dan Yoseph mengungkapkan bahwa penelitian merupakan “art
and science guna mencari jawaban terhadap suatu permasalahan.” (Yoseph dan Yoseph, 1979,
hlm. 23). Penelitian merupakan salah satu wujud ikhtiar manusia yang dilakukan dalam upaya
pemecahan masalah yang dihadapinya (Mahsun, 2005, hlm. 1). Adanya dua wujud tanggapan
manusia terhadap realitas alamiah yaitu manusia selalu mengamati alam sebagai sesuatu yang
statis dan juga di sisi lain manusia mengamati alam sebagai sesuatu yang dinamis atau
berkembang. Hal ini menjadi penyebab munculnya persoalan yang mendorong manusia untuk
mencari jawabannya. Pencarian jawaban itu dilakukan melaui teknik penelitian terhadap realitas
alamiah yang memunculkan persoalan tersebut.

Menurut Kerlinger (dalam Mahsun, 2005, hlm 2), penelitian ilmiah merupakan penelitian
yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis terhadap proposisi-proposisi hipotesis tentang
hubungan yang diperkirakan terdapat antargejala alam. Oleh karena itu, tidak semua kegiatan
yang dilakukan untuk memecahkan masalah disebut penelitian, karena penelitian bergantung
pada jenis masalah yang ingin dicari jawabannya serta prosedur (cara) yang digunakan dalam
pemecahan masalah tersebut. Berdasarkan batasan penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa
peran penelitian terbagi manjadi tiga, yaitu antara lain:

1. Pemecahan masalah
2. Memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dalam bidang yang diajukan
3. Mendapatkan pengetahuan dan ilmu baru.

Adapun tujuan dari penelitian adalah untuk memperoleh informasi, mengembangkan dan
menjelaskan data penelitian, serta menerangkan, memprediksi, dan mengontrol suatu ubahan.
D. Ihwal Penelitian Bahasa

Penelitian bahasa adalah penelitian yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis
terhadap objek sasaran yang berupa bunyi tutur (bahasa) (Mahsun, 2005, hlm. 2). Objek sasaran
yang berupa bahasa (bunyi tutur) dikatakan sistematis karena penelitian itu dilakukan dengan
terencana. Penelitian dimulai dari identifikasi masalah yang terkait dengan objek kajian yang
berupa bunyi tutur, seperti upaya menjelaskan masalah secara cermat dan rinci, serta
penyeleksian dan penentuan variabel-variabel dan instrumen yang digunakan. Selain itu, peneliti
menghubungkan masalah tersebut dengan teori-teori linguistik tertentu, pengumpulan data,
analisis, interpretasi data, sampai pada penarikan kesimpulan dan menghubungkannya ke dalam
khazanah ilmu bahasa (linguistik).

Penelitian yang terkontrol maksudnya adalah setiap aktivitas yang dilakukan dalam
masing-masing tahapan itu dapat dikontrol dengan baik dalam proses pelaksanaan dan hasil yang
dicapai melalui kegiatan tersebut. Hal ini dimaksudkan supaya pakar lain yang berminat
melakukan hal yang sama untuk menguji kembali hasil yang dicapai dari penelitian yang pernah
dilakukan. Dalam sifat terkontrol ini, penggunaan metode dan teknik-teknik tertentu memiliki
dasar logika pemilihan yang dikaitkan dengan sasaran yang hendak dicapai. Di sinilah peneliti
dapat mengontrol pemilihan dan tujuan pemilihan penggunaan metode atau teknik tertentu.

Penelitian bahasa yang bersifat empiris yaitu fenomena lingual yang menjadi objek
penelitian bahasa itu adalah fenomena yang benar-benar hidup dalam pemakaian bahasa atau
dengan kata lain penelitian benar-benar bersumber pada fakta lingual yang digunakan oleh
penuturnya, bukan fakta lingual yang dipikirkan oleh si penutur yang menjadi informannya.

Adapun penelitian bahasa yang bersifat kritis adalah kritis terhadap hipotesis-hipotesis
tentang hubungan yang diperkirakan terjadi antara bunyi tutur sebagai objek penelitian bahasa
dengan fenomena ekstralingual yang memungkinkan bunyi tutur itu muncul. Contohnya, dalam
kajian variasi bahasa (kajian secara dialektologis) mungkin kita akan tergoda untuk membuat
suatu hipotesis bahwa suatu bahasa dapat memunculkan berbagai varian yang disebabkan faktor
perbedaan tempat tinggal penutur-penutur bahasa tersebut. Hipotesis tentang munculnya varian
dalam bahasa tertentu ini mungkin ada benarnya, tetapi kita juga tidak hanya terpaku pada
hipotesis ini karena ternyata berbagai kelompok penutur bahasa yang berbeda tempat tinggalnya
secara geografis tidak juga membuat makna tertentu memiliki realisasi secara formatif berbeda.
Bisa saja perbedaan itu muncul karena faktor sosio-psikologis penutur-penutur bahasa itu yang
ingin tampil dengan bentuk bahasa yang berbeda pada medan makna (glos) tertentu, seperti
munculnya varian yang bersifat sosiologis yang tidak lagi terkait dengan faktor perbedaan tempat
tinggal penuturnya. Selain itu, pengertian kritis dapat mengandung makna kreatif, yaitu jika
peneliti dalam melaksanakan penelitiannya menggunakan metode penyediaan data tertentu
dalam tahapan penyediaan data, ternyata dengan metode itu, data yang diharapkan muncul tidak
juga terjaring. Maka, dia harus segera melakukan revisi metodologi, jadi tidak terpaku pada apa
yang telah direncanakan, tetapi harus berani mengubah rencana jika tidak mencapai apa yang
diharapkan.

Uraian ihwal penelitian bahasa menyangkut semua tahapan yang dilalui dalam kegiatan
dari penelitian itu sendiri. Mulai dari tahap prapenelitian (tahap penyusunan usulan penelitian),
sampai ke tahap penelitian (pemilihan metode, dan teknik penyediaan, analisis, dan penyajian
hasil analisis data), dan tahapan pascapenelitian (penyusunan laporan penelitian). Ihwal paparan
metode dan teknik dikhususkan pada metode dan teknik yang digunakan dalam kajian linguistik
sinkronis dan linguistik diakronis (dialektologi diakronis dan linguistik historis komparatif), serta
sosiolinguistik.

E. Hakikat Penelitian Bahasa

Pada dasarnya, penelitian merupakan upaya yang dilakukan untuk menguak identitas
objek penelitian. Objek penelitian bahasa tidak pernah hadir sendirian, tetapi selalu disertai
konteks, sehingga konteks merupakan penentu identitas objek penelitian. Hakikat penelitian
bahasa adalah kegiatan menguraikan identitas objek sasaran (objek penelitian) dalam
hubungannya dengan keseluruhan konteks yang memungkinkan hadirnya objek penelitian
tersebut. Hakikat penelitian bahasa hendaknya disadari oleh peneliti pada tahap penyediaan data.
Hal ini dapat membantu dan membimbing peneliti bahwa yang harus dilakukan pada tahap
penyediaan data adalah menemukan semua jenis konteks yang memungkinkan hadirnya objek
penelitian. Oleh karena itu, hal tersebut akan berperan dalam menentukan wujud metode dan
teknik yang digunakan, baik pada tahap penyediaan data maupun pada tahap analisis data.
F. Tahapan Pelaksanaan Penelitian Bahasa

Pelaksanaan penelitian bahasa menurut tahapannya dapat dibagi atas tiga tahapan, yaitu
sebagai berikut.

1. Prapenelitian
Tahapan prapenelitian dimaksudkan sebagai tahapan yang menuntun peneliti untuk
berusaha merumuskan secara jelas tentang masalah yang hendak dipecahkan melalui penelitian.
Rumusan tersebut mencakup: latar belakang munculnya masalah, rumusan masalah secara
spesifik dan operasional, hubungan masalah yang hendapk diteliti dengan penelitian-penelitian
terdahulu (berkaitan dengan kajian pustaka) dan teori-teori tertentu (kerangka teori yang
digunakan), dan metode-metode yang hendak digunakan. Semuanya harus tertuang dalam desain
penelitian atau proposal. Dengan kata lain, tahapan prapenelitian adalah tahapan penyusunan
desain penelitian (proposal).
2. Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian dijabarkan dalam tiga tahapan pokok, yaitu penyediaan data,
analisis data, dan membuat rumusan hasil analisis yang diwujudkan dalam bentuk kaidah-kaidah.
Ketiga tahapan ini merupakan inti dari kegiatan penelitian bahasa. Hal ini dikarenakan
terjawabnya permasalahan yang menjadi dasar dilakukannya penelitian hanya dimungkinkan,
jika data yang gayut dengan masalah tersebut telah tersedia dan teranalisis serta tertemukannya
kaidah-kaidah yang merupakan jawaban terhadap masalah yang diteliti tersebut. Ketiga tahapan
tersebut masing-masing ditandai oleh kegiatan menyediakan dan tersedianya data; menganalisis
dan ditemukannya kaidah-kaidah tertentu; serta tersajinya kaidah-kaidah tersebut dalam
rumusan-rumusan tertentu.
3. Penulisan Laporan Penelitian
Pada tahap ini peneliti membuat laporan dari penelitian yang dilakukan. Laporan ini
dapat berwujud makalah, skripsi, tesis, disertasi, dan lain-lain tergantung untuk apa penelitian
tersebut dilakukan. Tahap ini ditandai oleh kegiatan membuat dan terwujudnya sebuah laporan
penelitian.
Daftar Rujukan:

A.Chaedar, Alwasilah. 2008. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

H. Jalaluddin dan H. Abdullah Idi. 2011. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Raja Grasindo Persada.