Anda di halaman 1dari 29

PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API

DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

BAB
01 PENDAHULUAN

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 1


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Pemerataan pembangunan di Indonesia terus dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka


mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Infrastruktur merupakan salah satu program prioritas
yang terus dibangun pemerintah dalam rangka mengakselerasi kemajuan dalam berbagai
bidang.

Rencana pembangunan kereta api Trans-Sulawesi yang telah lama didambakan masyarakat
Sulawesi akhirnya akan segera terwujud. Secara keseluruhan proyek perkeretaapian Trans-
Sulawesi yang masuk dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2015-2019 mencapai panjang 1.700 km yang membentang dari Makassar sampai Manado.
Jalur kereta api Trans-Sulawesi tersebut diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2018.

Keberadaan kereta api sebagai moda transportasi massal baik untuk orang maupun barang
akan meningkatkan pertumbuhan perekonomian setempat. Hal ini disebabkan karena
konektivitas yang terbangun akan memberikan daya tarik bagi pelaku bisnis dalam
menanamkan modalnya di kota-kota yang dilalui oleh jalur kereta api Trans-Sulawesi.

Dampak lanjutan dari adanya rencana pembangunan kereta api Trans-Sulawesi adalah daya
saing berbagai kota di Sulawesi akan meningkat seiring dengan semakin murahnya biaya
logistik untuk mengirimkan beragam produk ke berbagai tujuan. Dengan sendirinya ini menjadi
semacam insentif bagi para pelaku usaha dan juga investor untuk mengembangkan usahanya
di Sulawesi. Pada akhirnya, ini akan meningkatkan pendapatan asli daerah dan kesejahteraan
masyarakat setempat.

Gambar 1.1. Rencana Jalur Kereta Api


Trans-Sulawesi
(Sumber : Ditjen KA
Kemenhub, 2015)

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 1


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Hal ini pula yang ditegaskan oleh Presiden Jokowi dalam kunjungannya ke Sulawesi untuk
meninjau proses pembangunan jalur kereta api Trans-Sulawesi Tahap I lintas Makassar-
Parepare.

Kereta api Trans-Sulawesi memiliki kelebihan dibandingkan kereta api di pulau Jawa. Kereta
api Trans-Sulawesi langsung dibangun double track sehingga akan lebih meningkatkan arus
lalu lintas kereta. Selain itu, pembangunan jalur kereta Trans-Sulawesi direncanakan tidak
sebidang dengan jalan raya. Pembangunan jalur rel kereta tidak sebidang akan meminimalisir
kecelakaan kereta akibat adanya persimpangan dengan jalan raya yang dilalui kendaraan
bermotor.

Kelebihan lain adalah dari sisi kecepatan. Kereta api Trans-Sulawesi dapat mencapai
kecepatan hingga 200 km/jam dibandingkan dengan kereta api di Jawa yang hingga tahun
2015 ini hanya maksimal mampu mencapai 120km/ jam.

Selain itu, lebar rel kereta api Trans-Sulawesi mengikuti standar internasional yang memiliki
lebar 1 meter 435 milimeter (1.435). Hal ini juga berbeda dengan di pulau Jawa yang hanya
memiliki lebar 1 meter 67 milimeter (1.067). Lebar rel standar internasional tersebut
memberikan dampak keamanan yang lebih baik, yaitu agar kereta tidak mudah terguling dalam
kecepatan tinggi.

Menurut rencana, hingga akhir Desember 2015 rel terpasang akan mencapai 16,1 km dari
Barru ke Parepare, dari total panjang jalur Makassar-Parepare yang direncanakan sepanjang
145,23 km. Sebelumnya, groundbreaking rel kereta api Makassar-Pare Pare di Sulawesi
Selatan telah dilaksanakan pada tanggal 12 Agustus 2014.

Gambar 1.2. Pembangunan Jalan KA Lintas Makassar- Parepare


(Sumber : Ditjen KA Kemenhub, 2015)

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 2


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Di masa pendudukan Belanda, sebetulnya pernah dibangun jalur kereta api pertama di
Sulawesi sepanjang 47 km dengan rute Makassar-Takalar yang dioperasikan pada tanggal 1
Juli 1923. Namun, sejarah perkeretapian di Sulawesi berakhir di masa pendudukan Jepang
karena alasan perang. Oleh karenanya Jalur Kereta Api Trans-Sulawesi akan menghidupkan
kembali sejarah kereta api di bumi Celebes. Kali ini, lebih panjang, lebih terhubung dan kiranya
dapat menjadi penanda baru kebangkitan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi.

Dengan adanya rencana pemerintah yang tertuang dalam Rancangan Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, maka dibangun jalur rel kereta api Trans-Sulawesi.
Untuk mendukung insfrastruktur jalur rel kereta api maka pemerintah pusat melalui Ditjen
Perkeretaapian Kementerian Perhubungan perlu membangun sarana dan prasarana beserta
fungsinya, salah satunya adalah Depo sebagai sarana dan fasilitas perawatan dan
pemeliharaan lokomotif dan gerbong kereta api secara berkala.

1.1. LATAR BELAKANG

Dalam rangka menunjang perekonomian wilayah Indonesia bagian timur yaitu di


kepulauan Sulawesi dan Papua, Pemerintah akan membangun dan menunjang
infrastruktur guna pemerataan dalam segala bidang, termasuk infrastruktur kereta api.

Terdapat lima (5) hal yang menjadi latar belakang perlu dilaksanakannya kegiatan ini
yang sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan No. 43 Tahun 2011 tentang
Rencana Induk Perkeretaapian Nasional di Pulau Sulawesi, yaitu sebagai berikut:

1. Sasaran pengembangan jaringan jalur kereta api di Pulau Sulawesi adalah untuk
menghubungkan wilayah/ kota yang mempunyai potensi angkutan penumpang
dan barang atau produk komoditas berskala besar, berkecepatan tinggi, dengan
penggunaan energi yang rendah dan mendukung pengembangan kota terpadu
melalui pengintegrasian kota-kota di wilayah pesisir, baik industri maupun
pariwisata serta agropolitan baik kehutanan, pertanian maupun perkebunan.

2. Pada Tahun 2030 direncanakan akan dibangun secara bertahap pengembangan


jaringan dan layanan perkeretaapian meliputi jalur, stasiun dan fasilitas operasi
kereta api, diantaranya meliputi :

a. Pengembangan jaringan dan layanan kereta api antar kota terutama pada
Iintas dengan prioritas tinggi meliputi : Makasar - Parepare, Parepare -
Makasar - Takalar - Bulukumba, Manado - Bitung - Gorontalo.

b. Pengembangan jaringan dan layanan kereta api regional yaitu meliputi lintas:
Mamminasata (Makasar, Maros, Sungguminasa, Takalar).

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 3


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

c. Pengembangan dan layanan kereta api perkotaan yaitu meliputi kota: Makasar
dan Manado.

d. Pengembangan jaringan dan layanan kereta api yang menghubungkan pusat


kota dengan bandara yaitu: Hasanudin (Makasar).

e. Pengembangan jaringan dan layanan kereta api yang menghubungkan wilayah


sumberdaya alam atau kawasan produksi dengan pelabuhan meliputi:
Soekarno-Hatta (Sulawesi Selatan) dan Bitung (Sulawesi Utara).

f. Pengembangan layanan kereta api perintis.

g. Pengembangan sistem persinyalan, telekomunikasi dan kelistrikan.

h. Pengembangan stasiun kereta api termasuk fasilitas park and ride pada pusat-
pusat kegiatan strategis nasional, provinsi dan kabupaten/kota.

3. Pada tahun 2030, di Pulau Sulawesi diperlukan lokomotif sebanyak 50 unit dan
Kereta sebanyak 470 unit untuk mengangkut penumpang sebesar 15.500.000
orang/ tahun. Sedangkan untuk angkutan barang dibutuhkan lokomotif sebanyak
105 unit dan gerbong sebanyak 2.040 unit untuk mengangkut barang sebesar
27.000.000 ton/tahun.

4. Tahapan atau rencana pengadaan sarana perkeretaapian di Sulawesi


sebagaimana terlihat pada Tabel berikut ini.

Tabel 1.1. Rencana kebutuhan Sarana Perkeretaapian Di Sulawesi


(Sumber: Rencana Induk Perkeretaapian Indonesia, Permenhub No. 43, Thn. 2011)

Rencana kebutuhan sarana perkeretaapian tersebut diatas harus didukung


fasilitas perawatan sarana seperti : Balai Yasa dan Depo dengan jumlah yang
cukup sesuai dengan standar perawatan sarana perkeretaapian.

5. Rencana pembangunan kereta api Trans-Sulawesi yang telah lama didambakan


masyarakat Sulawesi akhirnya akan segera terwujud. Secara keseluruhan proyek
perkeretaapian Trans-Sulawesi yang masuk dalam Rancangan Pembangunan

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 4


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 mencapai panjang 1.700 km


yang membentang dari Makassar sampai Manado. Jalur kereta api Trans-
Sulawesi tersebut diperkirakan akan beroperasi pada tahun 2018.

Ke-lima hal tersebut memang saling terkait dan tidak terpisahkan hingga
terfokus pada inti permasalahan, yaitu kurangnya sumber media informasi dan
dokumentasi tentang Rencana Induk Perkeretaapian Nasional di Pulau Sulawesi,
beserta seluruh aspek terkaitnya. Hal ini dapat dipahami karena akses untuk
mendapatkan data-data dan informasi tersebut masih relatif minim, apalagi
belum ada Instansi/Lembaga khusus yang menangani informasi dan
dokumentasi tersebut.

Dengan telah direncanakannya kebutuhan sarana perkeretaapian di Jalur Kereta Api


Trans-Sulawesi sebagaimana pada poin 4 di atas, maka sarana dan fasilitas penunjang
utama untuk pemeliharaan dan perawatan kereta api pun mendesak untuk disiapkan
dan dibangun di jalur utama kereta api yang telah direncanakan dan telah dibangun
sebagian saat ini, berupa Depo dan Balai Yasa. Khususnya untuk segmen jalur Maros –
Parepare yang telah dimulai dan terselesaikannya pembangunan jalur rel tahap pertama
sepanjang 16,1 km dari Barru ke Parepare. Oleh karena itu melalui pekerjaan ini perlu
direncanakan hingga dokumen DED untuk pembangunan Depo Sarana Kereta Api yang
akan melayani pemeliharaan dan perawatan kereta api pada jalur antara Maros sampai
dengan Parepare.

1.2. LANDASAN HUKUM

Landasan Hukum pada paket pekerjaan DED Pembangunan Depo Sarana Kereta Api Di
Maros dan Parepare Tahun 2017 harus didasarkan pada:

a. Undang - Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;

b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan


Gedung;

c. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah;

d. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian (Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 65 Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4722);

e. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan


Ruang;

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 5


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

f. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana


Tata Ruang Wilayah Nasional;

g. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan


Perkeretaapian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 129
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5048);

h. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Kereta Api (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 176,
Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 5086);

i. Peraturan Presiden No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/ Jasa


Pemerintah;

j. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 15 Tahun 2010 tentang


Penyelenggaraan Penataan Ruang

k. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 43 Tahun 2011 tentang Rencana Induk


Perkeretaapian Nasional;

l. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 60 Tahun 2012 tentang Persyaratan Teknis


Jalur Kereta Api;

m. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman


Persyaratan Teknis Bangunan Gedung;

n. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman


Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Gedung dan Lingkungan;

o. Peraturan Menteri perhubungan Nomor 60/2012 tentang Persyaratan Teknis Jalur


Kereta Api

Selain itu dalam kaitannya dengan keterpaduan dan sinkronisasi antara pembangunan
Depo Sarana dengan rencana pengembangan wilayah di provinsi maupun kabupaten/
kota dimana lokasi Depo Sarana direncanakan, maka dalam pekerjaan ini pun mengacu
dan mempertimbangkan produk-produk hukum berupa peraturan daerah provinsi
maupun kabupaten/ kota yang terkait dengan rencana tata ruang wilayah masing –
masing, yaitu antara lain :

a. Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan;

b. Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Maros;

c. Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Parepare dan

d. Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 6


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

1.3. MAKSUD DAN TUJUAN

1.3.1. Maksud Pekerjaan

Maksud dari pekerjaan DED Pembangunan Depo Sarana Kereta Api Di


Maros dan Parepare Tahun 2017 adalah untuk merencanakan Depo Kereta Api
beserta sarana prasarananya di Maros dan Parepare sesuai dengan standar
teknis dan kaidah yang berlaku sehingga dapat dilaksanakan pembangunan
fisiknya.

1.3.2. Tujuan Pekerjaan

Tujuan dari pekerjaan DED Pembangunan Depo Sarana Kereta Api Di Maros
dan Parepare ini adalah :
a. Tersedianya dokumen perencanaan (detail design) yang berkualitas, yang
dapat dijadikan panduan secara teknis dalam proses pembangunan Depo
Sarana Kereta Api.
b. Dapat terlaksananya pekerjaan pembangunan Depo Sarana Kereta Api di
Lintas Maros - Parepare.

1.4. RUANG LINGKUP PEKERJAAN

Ruang lingkup pekerjaan ini meliputi beberapa kegiatan berikut :

a. Melakukan kajian penentuan lokasi Depo;

b. Penyusunan Detail Desain Depo Sarana Kereta Api.

c. Pengumpulan data sekunder.

d. Pengumpulan data primer antara lain hasil survei topografi, penyelidikan tanah, dan
hidrologi

e. Penyusunan desain teknis rinci (Detail Engineering Design) berupa gambar desain,
perhitungan desain, spesifikasi teknis.

f. Penyusunan dokumen pendukung pengadaan berupa dokumen teknis/ spesifikasi


teknis, dokumen kuantitas/ Bill of Quantity (BoQ), perkiraan kebutuhan biaya/
Engineering Estimates (EE).

Dalam pelaksanaan lingkup kegiatan diatas, dilakukan tahapan sebagai berikut:

a. Kajian Penentuan Lokasi Balai Yasa, Kajian lokasi penempatan berdasarkan


kebutuhan pola operasi kereta api dan aksesbilitas.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 7


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

b. Penyusunan Detail Desain Depo Sarana Kereta Api. Penyusunan rencana


pengembangan stasiun antara lain membuat:

1) Rencana arsitektur/ interior bangunan dan uraian konsep sesuai guna


bangunan (Depo Sarana Kereta Api).

2) Rencana struktur, beserta uraian konsep dan perhitungannya (sesuai dengan


fungsi Depo Sarana Kereta Api yaitu untuk perawatan sarana kereta api).

3) Rencana utilitas, beserta uraian konsep dan perhitungannya.

1.5. JADWAL TAHAPAN KEGIATAN

Sebagaimana Untuk mencapai target pekerjaan yang optimal dalam menyelesaikan


pekerjaan ini, Konsultan akan menyusun Jadwal pelaksanaan pekerjaan selama 7
(tujuh) bulan kalender. Secara lengkap jadual yang lebih rinci yang telah disusun oleh
Konsultan dapat dilihat dalam Tabel berikut ini:

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 8


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

TABEL 1.1. JADUAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

BULAN
No ITEM KEGIATAN BULAN I BULAN II BULAN III BULAN IV BULAN V BULAN VI BULAN VII
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

I. PERSIAPAN

1. Persiapan dan mobilisasi tim

2. Pendalaman pemahaman terhadap arah dan tujuan KAK

Penyempurnaan rencana kerja, metodologi dan jadwal


3.
pekerjaan serta program kerja
Desk Study : Pengumpulan data dan literatur awal
(Kajian pustaka, aturan peraturan dan produk hukum
4.
baik di tingkat pusat maupun wilayah lokasi
perencanaan)
Desk Study : Penelusuran dan studi literatur Rencana
5. Jalur Track Rel KA Maros-Parepare dan lokasi rencana
sarana terkait dari kajian-kajian sebelumnya
6. Koordinasi Instansional

7. Penyusunan Draft Laporan Pendahuluan

II. PENGUMPULAN DATA SEKUNDER

1. Persiapan survey (koordinasi, administrasi, form)


Survei Instansional terkait Rencana Pola Operasi Kereta
2.
Api dalam jalur Maros - Parepare
Survei Instansional terkait Peta Rupa Bumi Kawasan
3. wilayah yang menjadi Jalur Rencana Rel KA Maros -
Parepare
4. Survei Instansional terkait

5. Survei Pendahuluan Peninjauan Lapangan

6. Kompilasi dan Tabulasi Data Hasil Survei

III. ANALISA I
Analisa Rencana Jalur Kereta Api dan Rencana Operasi
1.
Stasiun
Analisa Rencana Pengembangan Wilayah sekitar
2.
Stasiun dan Jalur Track
Analisa Kondisi Eksisting Rona Muka Bumi dan
3. Bentangan Alam di lokasi perencanaan yang akan
diusulkan
Analisa Komparasi dan SWOT Alternatif Lokasi Depo
4.
Sarana KA Marosr dan Parepare
Perumusan Hasil Analisa dan Rekomendasi Lokasi
5.
Depo
IV. SURVEI PENGUMPULAN DATA PRIMER

1. Survey Topografi & Penyelidikan Tanah di Kab. Maros


Survey Topografi & Penyelidikan Tanah di Kota
2.
Parepare
3. Kompilasi dan Tabulasi Data Hasil Survei

4. Penggambaran Hasil Survey Topografi

5. Pengujian Laboratorium Sampel Hasil Sondir Boring

V. ANALISA DATA PRIMER

1. Analisa Delienasi Lahan Eksisting

2. Analisis Topografi dan Hidrologi

3. Analisis Geoteknis

VII. ANALISA & PERUMUSAN KRITERIA

1. Analisa Kebutuhan Ruang dan Bangunan Sarana

2. Analisa Vol. & Kapasitas Prasarana & Utilitas

Perumusan Kriteria dan Konsep meliputi Skematik Tata


3.
Letak & Bentuk Massa Bangunan, dan Sirkulasi

Penyusunan Draft Masterplan & Basic Design Depo


4.
Sarana KA Maros - Parepare

5. Penyiapan Bahan Draft Laporan Antara

6. Koordinasi Instansional

VIII. PENYUSUNAN SKEMATIK RANCANGAN

1. Perumusan konsep rancangan (Ars, Struktur, & ME)

2. Gambar Final Masterplan dan Rencana Tapak

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 9


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

BULAN
No ITEM KEGIATAN BULAN I BULAN II BULAN III BULAN IV BULAN V BULAN VI BULAN VII
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

3. Gambar Pra rencana (denah, tampak, potongan)

4. Draft Perkiraan biaya pembangunan

5. Gambar Final perspektif / visualisasi 3D

IX. PENGEMBANGAN RANCANGAN


Gambar rencana detil (pengembangan Arsitektur,
1.
Struktur, ME, dan Infrastruktur)
2. Penyusunan pengembangan rencana dan perhitungan

3. Penyusunan Draf Rincian RAB

4. Penyusunan Konsep Rencana Kerja dan Syarat-Syarat

X. PENYUSUNAN RENCANA DETAIL

1. Gambar rencana teknis lengkap/ gambar kerja

2. Rencana item pekerjaan dan volume pekerjaan (BQ)

3. Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS)

4. Rencana Anggaran Biaya (RAB) pembangunan

5. Penyusunan Konsep Laporan Akhir

6. Penyusunan Laporan Akhir (Revisi Konsep Lap.Akhir)

XI. PENYUSUNAN LAPORAN & PEMAPARAN

1. Laporan Pendahuluan

2. Laporan Antara

3. Laporan Hasil Survey & Uji Laboratorium Tanah

4. Konsep Laporan Akhir

5. Laporan akhir

6. Rencana Detail, RKS,RAB

7. Laporan Akhir Perencanaan

8. Buku Petunjuk Pemeliharaan dan Perawatan Bangunan

9. Executive Summary

10. Dokumen Tender

~ Gambar-Gambar Kerja

~ Rencana Anggaran Biaya & Analisa Harga Satuan

~ Bill of Quantity (BQ)

~ Rencana Kerja dan Syarat-Syarat

~ Perhitungan Struktur

~ Perhitungan Mekanikal & Elekterikal

11. Disk Soft Copy

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 10


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

1.6. TAHAPAN PELAKSANAAN

1.6.1. Pengumpulan Data Sekunder

Pengumpulan data sekunder adalah pengumpulan data yang sudah tersedia/


diolah tidak lagi langsung dari sumber asli atau awalnya, seperti data yang
didapat dari instansi terkait, perpustakaan, dan lain -lain.

Pengumpulan data-data yang relevan dengan pekerjaan ini akan dilakukan


dengan mendapatkan dari berbagai pihak/instansi yang terkait seperti peta
geologi, peta rupa bumi, peninjauan lapangan, peta gempa, dan dokumen lain
– lain yang diperlukan sehingga dapat dipergunakan untuk melakukan
pendalaman, analisa, dan pembuatan rekomendasi dalam pelaksanaan kajian
dan desain pekerjaan yang diminta.

Dalam pengumpulan data sekunder, minimal data yang diperlukan adalah


sebagai berikut:

a. Peta kondisi tanah.


b. Peta rupa bumi atau peta Topografi min skala1 : 50.000.
c. Peta geologi.
d. Data curah hujan stasiun sekitar dan data banjir.
e. Data hasil peninjauan lapangan awal (reconnaissance) seperti:
f. Mencari titik tetap (BM = Bench Mark) yang terdekat dengan lokasi
rencana.
g. Membuat dokumentasi hasil peninjauan awal.
h. Pola operasi di stasiun.
i. Desain track hasil kajian sebelumnya.
j. Melakukan kajian perbandingan dengan Depo yang telah ada (min. 1
lokasi)
k. Tata ruang wilayah dan peruntukan.
l. Batas Tanah
m. Data lain yang terkait dan relevan serta diperlukan untuk menunjang
keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini.

1.6.2. Pengumpulan Data Primer

Data primer adalah data yang didapat dari sumber asli atau pertama. Metode
pengumpulan data primer yang digunakan antara lain

(1) Survei geodesi / topografi.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 11


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

(2) Survei penyelidikan tanah.

Penjelasan detail mengenai pelaksanaan adalah sebagai berikut:

a. Survei geodesi/ topografi

Dalam pelaksanaan survei geodesi / topografi hal - hal yang diperhatikan


antara lain:

i. Metoda pelaksanaan

ii. Referensi pengukuran

iii. Monumentasi/ Bench Marking

Penjelasan mengenai hal - hal tersebut diatas adalah sebagai berikut:

a) Metoda Pelaksanaan

1) Pada prinsipnya metoda pengukuran menggunakan metoda


pengukuran geodesi yaitu pengukuran kerangka dasar vertical
(KDV) dan pengukuran kerangka dasar horisontal (KDH).

2) Pelaksanaan pengukuran dilakukan dengan menggunakan


peralatan pesawat Total Station dan dapat menggunakan
metoda manual (konvensional) untuk pemeriksaan keakuratan/
koreksi data yang diperoleh.

3) Metode pelaksanaan yang digunakan dilaksanakan terutama


pada titik – titik kritis untuk menjamin keakuratan data seperti titik
– titik pada konstruksi utama dan batas tanah.

4) Seluruh data dukung yang dihasilkan dalam pengolahan data


ukur termasuk rumus – rumus perhitungan, tingkat ketelitian, dan
lain - lain yang digunakan sebagai bahan analisa pengukuran.

b) Referensi Pengukuran

1) Untuk menentukan koordinat X dan Y, sedapatnya dilakukan


pengikatan kepada Titik GPS (orde 2 atau 3 dari Badan Informasi
Geospasial) atauorde 4 (BPN) atau titik referensi (BM) hasil
pekerjaan desain sebelumnya yang berada paling dekat ke lokasi
kegiatan.

2) Untuk ketinggian (elevasi), sedapatnya dilakukan pengikatan


kepada Titik Tinggi Geodesi (TTG) dari Badan Informasi

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 12


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Geospasial (BIG) atau titik referensi hasil pekerjaan desain


sebelumnya yang berada paling dekat ke lokasi kegiatan.

3) Titik referensi yang diambil dari BIG atau BPN atau hasil
pekerjaan desain sebelumnya harus dijelaskan / dicantumkan
dalam penggambaran.

4) Penyedia Jasa harus menjelaskan mengenai status referensi


pengukuran. Bila perlu penentuan referensi pengukuran
dilakukan bersama sama dengan pemberi tugas.

c) Monumentasi (BM= Bench Mark)

1) Bench Mark pada awal dan akhir lokasi proyek dipasang 2 buah
yang saling terlihat dengan jarak 75 m.

2) Bench Mark (BM) terbuat dari konstruksi beton bertulang ukuran


20x20x125 cm.

3) Diskripsi Bench Mark (BM) dan titik-titik tetap lainnya harus


dibuat lengkap dengan photo dan sketsa lokasinya.

4) Daftar Bench Mark (BM) dan titik-titik tetap lainnya lengkap


dengan koordinat (x,y,z) harus dibuat secara terpisah dengan
titik-titik lainnya dalam formulir tersendiri. Khusus untuk
ketinggian, harus dicantumkan ketinggian tanah atas tanah dan
atas patok.

5) Semua Bench Mark (BM) dan atau titik-titik tetap lainnya harus
dipasang terlebih dahulu sebelum pengukuran dimulai.

6) Semua titik Bench Mark (BM) harus dicantumkan dalam


penggambaran.

Setelah pelaksanaan survei, seluruh hasil yang didapat dari kegiatan


tersebut harus disampaikan kepada Pemberi Tugas dan merupakan
bagian dari laporan yang disyaratkan.

b. Penyelidikan tanah
Metoda penyelidikan tanah yang digunakan adalah:
i. Sondir
ii. Boring dalam/ boring mesin
iii. Pengujian tanah di laboratorium

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 13


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Penjelasan mengenai metoda penyelidikan tanah yang digunakan adalah


sebagai berikut:

a) Sondir

Dilakukan di sepanjang jalur kereta api yang berpotensi dengan


ketentuan, sebagai berikut:

1) Dilakukan untuk mengetahui kedalaman lapisan tanah keras


dengan menggunakan Dutch Cone Penetration Test type 2 ton
sampai kedalaman maksimum 10 meter atau sampai kedalaman
lapisan tanah dengan tekanan konus 200 kg/cm2.

2) Pembacaan tekanan konus dan hambatan lekat dilakukan tiap


interval 20 cm.

3) Dibuat photo dokumentasi dan sketsa lokasi titik pekerjaan.

4) Semua perhitungan-perhitungan (analisis/ interpretasi/ grafik)


harus dibuat dan dilampirkan pada laporan.

b) Bor dalam/ Bor mesin

Dilakukan untuk mengambil contoh tanah dan deskripsi lapangan


serta uji penetrasi lapangan dengan SPT, dengan dengan ketentuan,
sebagai berikut:

1) Dilakukan dengan memakai mata bor ("Iwan Auger" atau


sejenisnya) sampai kedalaman 30 meter atau sampai tidak dapat
ditembus lagi.

2) Pengambilan contoh tanah tak terganggu, dilakukan minimal 2


buah tabung per titik bor.

3) Dilakukan diskripsi jenis tanah untuk setiap lokasi bor dan dibuat
dalam suatu bor log.

4) Semua perhitungan-perhitungan (analisis/ interpretasi/ grafik)


harus dibuat dan dilampirkan pada laporan.

c. Pengujian Tanah di laboratorium

Dilaksanakan masing-masing 2 sample untuk tiap titik bor tangan, dengan


ketentuan/kesetaraan standar pengujian sebagai berikut:

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 14


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Setelah pelaksanaan penyelidikan tanah selesai, seluruh hasil yang


didapat dari kegiatan tersebut harus disampaikan kepada Pemberi Tugas
dan merupakan bagian dari laporan yang disyaratkan.

1.6.3. Penyusunan Desain Teknis Rinci

Dalam penyusunan Desain Teknis Rinci, Penyedia Jasa diminta untuk


memperhatikan hal - hal berikut:

a. Referensi desain.

b. Kriteria pelaksanaan desain.

c. Ruang lingkup desain teknis rinci.

d. Tata cara penggambaran.

Penjelasan mengenai hal - hal tersebut diatas adalah sebagai berikut:

1) Referensi Desain

a) Peraturan terkait dengan Tata Ruang Wilayah;

b) Peraturan terkait dengan Persyaratan Bangunan;

c) Peraturan terkait dengan Benda Bersejarah;

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 15


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

d) Peraturan terkait dengan teknis operasi, jalur,


jembatan,telekomunikasi, dan persinyalan KA;

e) Peraturan terkait dengan pelayanan di stasiun KA;

f) Peraturan – Peraturan lain yang terkait.

2) Kriteria Pelaksanaan Desain

Dalam pelaksanaan desain harus memperhatikan hal - hal di bawah ini:

a) Desain harus dilaksanakan dengan memperhitungkan area kerja, jalan


akses, operasi KA, waktu pelaksanaan, dampak sosial, dan lain-lain
yang dapat menghalangi pelaksanaan pekerjaan.

b) Desain harus sesuai dengan ketentuan teknis yang berlaku.

c) Desain dapat diterapkan dan bukan merupakan Hak Kekayaan


Intelektual Orang Lain.

d) Desain harus memperhatikan material di sekitarnya atau mudah


didapat.

e) Desain harus dilaksanakan seefektif dan seefisien mungkin.

3) Ruang Lingkup Desain Teknis Rinci (DED)

Dalam pelaksanaan desain teknis rinci hal - hal yang harus dihasilkan
adalah sebagai berikut:

a) Desain Landscape Depo KA meliputi :

i. Perhitungan kebutuhan Luas Area Depo KA

ii. Perhitungan kebutuhan Luas Gedung Perkantoran

iii. Perhitungan kebutuhan Luas Gedung Pemeliharaan

iv. Perhitungan Kebutuhan Tenaga Listrik

v. Perhitungan Kebutuhan Jalur Stabling

vi. Perhitungan Kebutuhan Jalur Pemeliharaan tahunan

vii. Perhitungan Kebutuhan Jalur Perbaikan

viii. Perhitungan Kebutuhan Jalur Pemeliharaan Bulanan

ix. Perhitungan Kebutuhan Jalur pemeliharaan harian

x. Perhitungan Kebutuhan Jalur Cuci Besar

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 16


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

xi. Dilengkapi Fasilitas Semi/ Pemeliharaan Akhir, dan Perbaikan

xii. Dilengkapi Peralatan mesin bubut roda Onfloor dan Underfloor

xiii. Sistem persinyalan listrik otomatis

b) Perkantoran dan Bangunan Penunjang

i. Perkantoran

 Ruang Kepala Depo KA

 Ruang Kepala Administrasi

 Ruang Kepala Seksi Perencanaan

- Kepala seksi Logistik

- Kepala seksi Perencanaan

 Ruang Kepala Perawatan dan Pendayagunaan Sarana

 Ruang Kepala Pemeliharaan Harian

 Ruang Kepala Pemeliharaan Bulanan

 Ruang Kepala Pemeliharaan Tahunan

 Ruang Kepala Quality Control

 Ruang Kepala Fasilitas dan Keamanan

 Ruangan Staff

ii. Gedung Perawatan

 Perbaikan

 Pemeliharaan harian

 Pemeliharaan Bulanan

 Pemeliharaan Tahunan

 Pemeliharaan PA

iii. Banguan Lain

 Pos Satpam + Kamar Mandi, Gudang Material

 Bangunan Genset, Menara Radio

 Mushalla, Kantin

 Lahan Parkir, Jalan Akses

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 17


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

 Tempat Pembuangan Akhir

 Lapangan Olah raga

c) Desain, elektrikal & mekanikal, plumbing, persyaratan pemadam


kebakaran, toilet, alat penunjuk, dan lain - lain yang dilengkapi dengan
gambar grafis (3D).

4) Penggambaran Hasil Desain

Gambar desain dibuat diatas kertas berukuran A3, terdiri atas :

a) Gambar situasi dengan skala 1 : 1000

b) Interval garis kontur 0,5 m

c) Gambar / peta batas tanah (Groundkaart/Rumaja/Rumija)

d) Gambar Skema rencana sistem persinyalan dan telekomunikasi


termasuk kebutuhan lahannya.

e) Gambar rencana pembebasan tanah/lahan (jika diperlukan) dengan


skala 1 : 1000

f) Profil memanjang :

 Skala horizontal = 1 : 1000

 Skala vertikal = 1 : 100

g) Profil melintang :

 Skala horizontal = 1 : 200

 Skala vertikal = 1 : 100

h) Gambar detail = 1 : 20 dan 1 : 50

i) Grid beserta nilainya, digambarkan dengan ketentuan sebagai berikut :

 Grid 100 m untuk skala 1 : 1000

 Grid 200 m untuk skala 1 : 2000

 Grid 500 m untuk skala 1 : 5000

j) Format gambar dan tata letak disesuaikan dengan yang biasa


digunakan Ditjen Perkeretaapian.

k) Ada tiap lembar peta situasi harus dicantumkan hal-hal sebagai


berikut:

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 18


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

 Tahun survey, Skala garis,

 Arah Utara, Legenda.

l) Pada tiap lembar peta, harus dibuat daftar koordinat semua titik
triangulasi dan atau semua Bench Mark yang terdapat pada lembar
tersebut. Khusus untuk ketinggian, harus dicantumkan elevasi atas
tanah dan ketinggian atas patok.

m) Tiap interval 4 garis kontur dibuat 1 garis kontur tebal dengan angka
ketinggian yang bulat.

5) Penyusunan Dokumen Pengadaan

Menyusun dokumen kelengkapan yang akan digunakan untuk Pengadaan


Pekerjaan seperti Bill of Quantity (Daftar Kuantitas) dan Perkiraan
Engineering Estimates (EE), Referensi Harga Satuan.

Secara teknis, ruang lingkup desain teknis rinci dalam perencanaan depo
sarana kereta api di Maros dan Pareoare ini juga melakukan studi yang terkait
dengan kebutuhan mengenai luasan ruang dalam Depo. Untuk itu untuk
beberapa hal yang terkait hirarki dan fungsi dalam aktivitas yang terdapat
dalam Depo Kereta Api dapat diuraikan sebagaimana dalam diagram berikut
ini :

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 19


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Diagaram alur pekerjaan pada


Depo Lokomotif, Kereta dan Gerbong
(Sumber: Konsultan, 2017)

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 20


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Pada diagram diatas terlihat alur pekerjaan pada setiap depo-depo, untuk
depo lokomotif alur pekerjaan dikepalai oleh Kepala UPT Depo Lokomotif atau
yang dulu disebut Kepala Depo Traksi (KDT), Kep. UPT Depo Lok dibantu
oleh empat KR (Kepala Ruas) yaitu KR. LOOS, KR. QC, KR. KOR dan KR.
ADM. Untuk masalah teknis yang berkaitan dengan lokomotif dipegang oleh
KR. LOOS dan KRC, sedangkan untuk 2 KR lainnya untuk menangani non-
teknis. Dari diagram tersebut diatas akan terlihat mengenai kebutuhan ruang
untuk lokomotif dan kebutuhan ruang bagi personil/ anggota depo sarana. Hal
yang sama berlaku pada kebutuhan ruang pada Depo kereta/ gerbong serta
bengkel bubut roda.

1.7. INDIKATOR KELUARAN DAN KELUARAN

1.7.1. Indikator Keluaran (Kualitatif)

Secara kualitatif keluaran pekerjaan ini adalah tersusunnya hasil Depo Sarana
Kereta Api Di Maros dan Parepare Tahun 2017 yang dapat dimanfaatkan
sebagai salah satu sumber media informasi dan dokumentasi tentang kawasan
penataan dan per encanaan Depo Sarana Kereta Api. Oleh karena itu
diharapkan bahwa penanganan kegiatan-kegiatan tersebut diatas menjadi
lebih tepat sasaran dan tepat manfaat, serta sasaran setiap kegiatan di
daerah dapat tercapai secara tepat fisik, tepat keuangan, dan tepat waktu.

1.7.2. Keluaran (Kuantitatif)

Sedangkan secara kuantitatif, keluaran dan produk dari pekerjaan ini meliputi
laporan – laporan sebagai berikut:

a. LAPORAN PENDAHULUAN, minimal meliputi:

1) Uraian secara umum mengenai latar belakang, maksud dan tujuan,


lokasi, waktu pelaksanaan termasuk gambaran lingkup pekerjaan.

2) Struktur organisasi tim pelaksana.

3) Hasil analisa terhadap studi yang pernah di laksanakan, data sekunder.

4) Hasil koordinasi dengan pihak-pihak terkait antara lain Ditjen


Perkeretaapian yang berkaitan dengan perencanaan, lalu lintas dan
angkutan, prasarana, sarana, keselamatan, PT KAI, dan lain-lain

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 21


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

5) Pendekatan teknis terhadap hasil survey sekunder, metodologi


pelaksanaan pekerjaan termasuk identifikasi kendala yang mungkin
dapat terjadi.

6) Hasil kemajuan pekerjaan dibuat dalam bentuk Bar chart dan S-Curve.

b. LAPORAN ANTARA, minimal memuat:

1) Hasil penelaahan terhadap kebutuhan operasi yang sidah dilakukan


kajian pada studi sebelumnya

2) Melakukan kajian desain dasar (Basic Design)

3) Hasil analisa pengumpulan data sekunder dan survei pendahuluan

4) Hasil koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

5) Hasil pelaksanaan pekerjaan termasuk hasil survei primer seperti, survei


topografi, survei hidrologi/hidrolika dan penyelidikan tanah.

6) Hasil analisa pengumpulan data sekunder dan primer (topografi,


penyelidika tanah, dll).

7) Hasil koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

8) Konsep desain teknis rinci dengan beberapa kemungkinan alternatif bila


ada beserta dasar perhitungannya.

9) Hasil kemajuan pekerjaan dibuat dalam bentuk Bar chart dan S-Curve.

c. KONSEP LAPORAN AKHIR, minimal memuat:

1) Hasil desain teknis rinci yang sudah dipilih.

2) Hasil perhitungan volume dan biaya.

3) Hasil kemajuan pekerjaan dibuat dalam bentuk Bar chart dan S-Curve.

d. LAPORAN AKHIR, memuat:

Merupakan penyempurnaan dari hasil pembahasan Konsep Laporan Akhir


yang telah disetujui oleh seluruh Tim Teknis. Laporan Akhir ini juga
harus dilengkapi dengan beberapa laporan lainnya, antara lain:

1) Buku 1 Laporan Akhir

2) Buku 2 Ringkasan Eksekutif

3) Buku 3 Laporan Desain Teknis

4) Buku 4 Gambar Perancangan/ Desain

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 22


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

5) Buku 5 Spesifikasi Teknis

6) Buku 6 Daftar Kuantitas/ BOQ, Rencan Anggaran Biaya dan Analisa


Harga Satuan

7) Buku 7 Laporan Survei Topografi

8) Buku 8 Gambar Topografi

9) Buku 9 Laporan Survei Penyelidikan Tanah dan Laboratorium Test

10) Buku 10 Gambar Hasil Penyelidikan tanah

11) Buku 11 Laporan hasil Kajian Operasi Tram

12) Buku 12 Laporan hasil Kajian Desain Dasar

13) 2 Buah Flashdisk berisikan Semua file Dokumen Perencanaan dan Dok
DED

1.8. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

1.8.1. Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan pekerjaan yang digunakan dalam pekerjaan penyusunan


Depo Sarana Kereta Api di Maros dan Parepare ini terdiri dalam beberapa
tahapan yang runtut, yang meliputi yaitu :

a. Melakukan penyusunan program kerja (alur pikir dan jadwal) dan


penyusunan instrumen pendataan, pencatatan dan analisis.

b. Mengkaji dan merumuskan kembali kebijakan, peraturan, standar dan


manual serta landasan teori tentang penataan bangunan dan lingkungan.

c. Merumuskan, mendefinisikan, dan memberikan batasan pembahasan


tentang kriteria kawasan strategis dalam konteks penataan bangunan dan
lingkungan. Kajian dilakukan dengan minimal tahapan sebagai berikut:
identifikasi, pengukuran, penggambaran, dokumentasi sistem struktur,
mekanikal, elektrikal dan utilitas kawasan, fotografi, penelitian
arsitektur,serta bangunan dan tapak.

d. Mendorong peran aktif Pemda, Ditjen Perkeretaapian serta PT. KAI


(Persero) sebagai operator untuk melakukan sumbang saran melalui Focus
Group Discussion (FGD) di Kota Maros atau di Parepare.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 23


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

e. Melakukan inventarisasi, pengumpulan data, informasi dan kajian tentang


Kawasan Perencanaan beserta seluruh aspek terkaitnya di 2 (dua) lokasi
yaitu Depo Lokomotif Sidotopo dan Balai Yasa Surabaya Gubeng di Kota
Surabaya.

f. Melakukan kajian literatur guna memperkaya materi/substansi kawasan


strategis dalam konteks penataan bangunan dan lingkungan.

g. Menyusun konsep kerangka penulisan Identifikasi pada kegiatan


perencanaan Depo Sarana Kereta Api Di Maros dan Parepare Tahun 2017.

h. Melakukan diskusi serta pembahasan konsep kerangka penulisan dan


perencanaan bersama para stakeholder terkait.

1.8.2. Tahapan Pelaksanaan

Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan Depo Sarana Kereta Api Di Maros dan


Parepare Tahun 2017 ini, terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut :

a. Tahap Persiapan

1) Menyusun dan mempelajari daftar kegiatan jasa konsultan yang


dilaksanakan oleh Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa
bagian Timur, meliputi kegiatan :

a) Penyusunan Perencanaan Masterplan Depo Sarana Kereta Api Di


Maros dan Parepare Tahun 2017

b) Penyusunan Perencanaan Detail Engineering Design (DED) Depo


Sarana Kereta Api Di Maros dan Parepare Tahun 2017

c) Penyusunan Dokumen Spesifikasi Teknis, Daftar Kuantitas/ BOQ,


Rencana Anggaran Biaya dan Analisa Harga Satuan, Laporan
Survei Topografi, Gambar Topografi, Laporan Survei Penyelidikan
Tanah dan Laboratorium Test,Gambar Hasil Penyelidikan tanah.

b. Tahap Survei dan Pengumpulan Data Primer

Pada Tahap Survei dan Pengumpulan Data Primer ini dilakukan


koordinasi dengan Pemkab/ Pemkot, Ditjen Perkeretaapian, Bappeda,
Dinas Perhubungan setempat serta PT. Kereta Api (Persero), dengan
tujuan untuk :

1) Melakukan diskusi dan memaparkan rencana survey kepada


Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Wilayah Jawa Timur di

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 24


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Surabaya. Dalam kegiatan ini konsultan melaporkan rencana


survey lapangan dan diskusi serta asistensi.

2) Survei dan pengumpulan data tentang lahan, data sekunder, data


primer serta survei lokasi perencanaan dengan Badan/ Dinas terkait.

3) Survei dan pengumpulan data tentang berbagai studi dan kajian yang
pernah dilaksanakan terkait dengan beberapa kawasan yang
akan dikembangkan.

4) Koordinasi dengan Pemda Provinsi, Pemkab/ kota, Ditjen


Perkeretaapian, Bappeda, Dinas Perhubungan setempat serta PT.
Kereta Api (Persero).

5) Melakukan diskusi dengan pemerintah kabupaten/ kota, Ditjen


Perkeretaapian, Bappeda, Dinas Perhubungan setempat serta PT.
Kereta Api (Persero).

c. Tahap Konsep dan Perencanaan Akhir

1) Merumuskan konsep desain serta pengembangan rancangan detil


teknis tahap akhir yang dilakukan tim konsultan perencana Depo
Sarana Kereta Api Di Maros dan Parepare Tahun 2017.

2) Menyusun laporan, dokumen DED beserta dokumen lainnya yang


terkait.

1.9. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Adapun sistematika pembahasan Laporan Antara ini terdiri dari beberapa bab, yaitu :

Bab 1. Pendahuluan
Berisikan latar belakang, maksud, tujuan, ruang lingkup pekerjaan, tahapan
pelaksanaan, metode, jadwal pelaksanaan pekerjaan dan sistematika
pembahasan.

Bab 2. Tinjauan Umum Literatur dan Hasil Studi Terdahulu


Pada bab ini akan dibahas tinjauan literatur yang terkait dengan aturan
perundangan mengenai pengaturan teknis terkait perkeretaapian serta rencana
pengembangan ruang wilayah lokasi perencanaan, serta studi terkait obyek
perencanaan yang sejenis dan relevan sebagai sumber referensi dan inspirasi.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 25


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Bab 3. Studi Identifikasi dan Penetapan Lokasi Tapak Perencanaan


Bab ini menjelaskan hasil studi pengkajian mengenai penetapan kedua lokasi
tapak perencanaan secara lebih akurat yang dimulai dari penggambaran secara
makro wilayah kota/kabupaten masing-masing dari kedua lokasi yang telah
ditentukan sebelumnya, analisis jalur utama kereta api serta posisi dari stasiun-
stasiun yang telah direncanakan di dalam masing-masing wilayah yang
ditentukan hingga analisis secara mikro terhadap potensi kavling tapak di
tingkat kelurahan ataupun kecamatan yang relevan dengan hasil analisis dan
studi sebelumnya. Pengkajian dilakukan tidak hanya dengan berbasiskan studi
literatur dari data sekunder, namun juga berdasarkan hasil survey pendahuluan
yang berisi hasil pengamatan visual ke lokasi perencanaan yang dimaksud
sesuai hasil koordinasi sebelumnya dengan pihak pemberi tugas, pemangku
kebijakan maupun dinas terkait yang berwenang.

Bab 4. Kondisi Eksisting Tapak Perencanaan


Bab ini berisikan gambaran mengenai kondisi eksisting tapak perencanaan
sesuai hasil survey pengukuran topografi mengenai batas-batas delienasi tapak
beserta kondisi ketinggian naik turunnya level permukaan di dalam lingkup
tapak, kondisi geoteknik struktur dan jenis tanah di dalam tapak sesuai hasil
penyelidikan tanah dengan metode Sondir dan Boring, kondisi hidrologi, kondisi
cuaca serta kondisi lingkungan sekitar tapak.

Bab 5. Analisis
Pada bab ini dijabarkan beberapa analisis, baik analisis terhadap data-data
primer terkait kondisi eksisting yang didapatkan dari hasil pelaksanaan survey
lapangan mengenai topografi, geologi dan geoteknik, hidrologi, cuaca, curah
hujan dan peil banjir, maupun analisis terhadap potensi serta permasalahan
yang terkait dengan peruntukan lahan, aksesibilitas, linkage kawasan serta
analisis sarana dan pola operasi kereta api di Sulawesi.

Bab 6. Studi Program Kebutuhan Ruang dan Pengembangan Sarana Prasarana


Depo
Pada bab ini akan diuraikan mengenai penyusunan program kebutuhan ruang
yang dibutuhkan dalam merencanakan tata layout ruang beserta luasan
bangunan Depo untuk setiap lokasi, baik di Maros maupun di Lumpue
Parepare, beserta pengembangan sarana prasarananya yang akan
direncanakan dan disediakan. Dalam menyusun program kebutuhan ruang,
digunakan dasar pertimbangan yang mengacu pada standar ketentuan yang

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 26


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

berlaku, mengadopsi dari kondisi empiris pada preseden yang sejenis yang
saat ini masih beroperasi, serta melalui simulasi perhitungan yang berdasarkan
kebutuhan personil dan fungsi kerja yang ada.

Bab 7. Penyusunan Kriteria dan Konsep Rancangan Depo


Bab ini menjabarkan penyusunan kriteria-kriteria rancangan yang telah
memperhitungkan area kerja, jalan akses, operasi kereta api, waktu
pelaksanaan, maupun implikasi teknis dan dampak sosial yang dapat timbul.
Dari kriteria-kriteria rancangan tersebut kemudian disusun konsep rancangan
berdasarkan sintesa dari rumusan hasil analisis dan studi ruang serta luasan
yang direncanakan, yang telah mempertimbangkan segala aspek
permasalahan serta potensi yang ada di dalam tapak serta dikompromikan
dengan standar aturan yang telah ditetapkan sebagai rujukan. Konsep
rancangan tersebut minimal meliputi konsep rancangan arsitektur, struktur,
serta utilitas kawasan maupun bangunan.

Bab 8. Penyusunan Masterplan Depo dan Pengembangan Rancangan Skematik


Bab ini berisikan mengenai draft Masterplan yang memuat layout awal tatanan
blok masa dan jalur track di dalam kawasan Depo di kedua lokasi, beserta
rancangan skematik dari bangunan utama maupun penunjang di dalam
kawasan Depo lengkap dengan fasilitas perlengkapan penunjang yang ada di
dalam kawasan. Tatanan dalam draft Masterplan Depo ini disajikan secara
grafis dalam bentuk gambar single line 2D serta 3D.

Bab 9. Penutup
Bab ini berisikan kesimpulan mengenai hasil sementara mengenai pelaksanaan
pekerjaan terkait hasil survey, analisis hingga penyusunan konsep rancangan
sampai dengan draft masterplan yang telah dihasilkan. Sekaligus sebagai
penutup pula keseluruhan bab dalam laporan antara ini.

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 27


PEKERJAAN DED PEMBANGUNAN DEPO SARANA KERETA API
DI MAROS DAN PAREPARE TAHUN 2017

Contents
1.1. LATAR BELAKANG ..........................................................................................................................3
1.2. LANDASAN HUKUM .......................................................................................................................5
1.3. MAKSUD DAN TUJUAN ..................................................................................................................7
1.3.1. Maksud Pekerjaan .................................................................................................................7
1.3.2. Tujuan Pekerjaan ...................................................................................................................7
1.4. RUANG LINGKUP PEKERJAAN ........................................................................................................7
1.5. JADWAL TAHAPAN KEGIATAN .......................................................................................................8
1.6. TAHAPAN PELAKSANAAN ........................................................................................................... 11
1.6.1. Pengumpulan Data Sekunder ............................................................................................. 11
1.6.2. Pengumpulan Data Primer ................................................................................................. 11
1.6.3. Penyusunan Desain Teknis Rinci ........................................................................................ 15
1.7. INDIKATOR KELUARAN DAN KELUARAN .................................................................................... 21
1.7.1. Indikator Keluaran (Kualitatif) ............................................................................................ 21
1.7.2. Keluaran (Kuantitatif) ......................................................................................................... 21
1.8. METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN ......................................................................................... 23
1.8.1. Metode Pelaksanaan .......................................................................................................... 23
1.8.2. Tahapan Pelaksanaan ......................................................................................................... 24
1.9. SISTEMATIKA PEMBAHASAN ...................................................................................................... 25

PT. ABDI NUSA KREASI LAPORAN ANTARA I- 28