Anda di halaman 1dari 13

Nama : Tri Wulandari

No : 25
Kelas : IX G

What is Love

“Oppa…” Aku mendengar lengkingan suara itu lagi pagi itu. Padahal gadis itu berada di
luar rumah, tapi suaranya masih bisa menembus kaca kamarku yang berlapiskan gorden putih.
Aku segera menyibakkan gorden itu. Cahaya matahari yang cukup terik menyilaukan
mataku yang masih bersusah payah mengumpulkan nyawa, karena aku baru terbangun dari tidur
karena lengkingan suara tadi.
“Apa??” Ucapku sedikit kesal. Gadis itu malah nyengir dengan santainya.
Dia mengangkat rantang makanan yang ia bawa. “Sup rumput laut….” Pekiknya manja.
Kantukku hilang seketika. Aku segera berlari ke bawah, membukakan pintu untuknya,
lalu berlari lagi menghampirinya.
Ia menyodorkan rantangan itu. Ia tersenyum senang melihatku.
“Baiklah…” Aku tersenyum pada Miyoung, kekasihku. “Ayo masuk…”
Saat di meja makan…
Aku menjejerkan masing-masing lapisan makanan itu di meja makanku dengan rapi.
Lapisan pertama sup rumput laut, lapisan kedua sudah ada nasinya. Haha.,.. Lengkap.
“Ayo makan….” Ucapku. Aku langsung memakan sup rumput laut yang ada di mangkok
porselinku secepat kilat. Kulihat, Miyoung hanya menganga melihat tingkahku yang seperti
orang kelaparan, lalu mengatupkannya lagi.
“Oppa tidak makan berapa hari?”
Aku hanya tersenyum menjawab pertanyaannya. Dia tahu aku suka sup rumput laut, tapi
baru kali ini ia memasakkannya padaku, dan baru kali ini juga dia tahu ekspresiku menyantap
makanan yang satu ini.
“Kau tidak makan?” aku mengalihkan pembicaraan.
Ia menggeleng pelan. “Aku memasaknya hanya untukmu….”
“Ah… jadi ini kuhabiskan?” Tanyaku lagi.
Ia mengangguk sambil tersenyum.
“Trimakasih….” Aku tersenyum lagi, namun kali ini lebih lebar. “Kau benar-benar
baik…”
Dia hanya tertawa kecil mendengar ucapanku.
“Hari ini ada jadwal?” tanyaku lagi padanya. Pacarku ini adalah seorang model, walau
tingginya hanya sebahuku.
Dia mengangguk. “Hanya jadwal pemotretan sih… Untuk Shinning Jewelries…”
“Oh…” Responsku.
“Oppa sendiri?” Ia balik bertanya.
“Ya… kami akan tampil di Music Bank…” Tak terasa sup rumput lautku sudah habis.
Sudah ludes juga yang ada di rantang. “Setelah pemotretan, kau tak ada acara?”
“Tidak…”
“Berarti… Kita bisa jalan-jalan?” Tanyaku.
“Apa?”
“Iya.. Jalan-jalan, a.k.a kencan….” Ucapku lagi, meyakinkannya. “Sejak kita pacaran 6
bulan lalu, kita belum pernah kencan…”
“Boleh… Tapi, apa itu tidak akan menimbulkan masalah?” Ucapnya. Binar matanya
memancarkan kekhawatiran yang keruh di pupil matanya yang hitam legam.
“Kau kahawatir aku kena marah oleh manager kami?”
Ia mengangguk.
“Tak apa…. Aku punya ide bagus…” Ucapku lembut padanya, membuatnya tersenyum
lagi, walau rona kekhawatiran di wajahnya belum pudar.
~***~
“Modeun seulpeumi… gippeumi yeogie… nawa neoneun han saengmyeongin geol…..”
Aku bernyanyi di panggung itu lagi, membuat penonton yang mayoritas perempuan itu
menjerit histeris. Aku benar-benar ingin acara ini selesai dan segera berkencan dengan gadisku.
Mana mungkin kubiarkan dia menunggu lama?
“Dolgo doraseo dasi sijakhaneun gose da wasseo…..” Sekali lagi, aksi Kim Joong In saat
menyanyikan bagian Rap membuat para penonton menjerit. Sebagian besar anggota EXO, baik
EXO K maupun EXO M selalu iri padanya, karena ketika ia menampilkan senyum ‘cool’-nya,
pasti para wanita akan menjerit histeris. Tapi, aku tidak. Aku sudah punya Miyoung… Walaupun
aku selalu tersenyum di setiap penampilanku, tapi senyum yang tulus dari hati hanya kuberikan
untuk Miyoung seorang, tidak untuk gadis lain.
“I need you and you want me, jiguran i byeoreseo….” Akhirnya… Sudah hampir selesai.
“O~ O~ O~ O~”
“Every, every, everyday naega mandeun History…”
Tepuk tangan riuh rendah terdengar jelas di telingaku. Baiklah, Performance dari kami
sudah selesai. Tinggal menunggu 2 penampilan lagi dari penyanyi lain, lalu selesailah acara ini.
Eh, Tunggu!!
Di belakang para fangirl yang berteriak tak penting itu, aku melihat seorang gadis,
pakaiannya kasual. Menggunakan jaket jeans warna biru terang, dan celana jeans berwarna sama.
Rambutnya di kuncir satu, memakai topi putih. Perlahan, ia membuka topi putihnya dan menatap
panggung.
Oh, Miyoung!!
Ia tersenyum nakal padaku sambil mengedipkan mata sebelahnya padaku. Dasar!! Di saat
seperti ini masih saja genit padaku. Kau tidak tahu, aku disini benar-benar gerah menunggu acara
ini selesai??
Aku melangkah gontai menuju backstage. Benar-benar melelahkan. Aku segera
mengambil hp-ku yang kutitipkan pada staff music bank. Baru saja kupegang hp itu, sudah ada
yang menelfonku.
Di layar hp tertulis, “My Girlfriend :D”
Aku tersenyum, lalu mengangkatnya. “Hallo…”
“Seperti biasa,… kau tampan…” Ucapnya dengan nada menggoda.
“Kau curang….”
“Kenapa curang?”
“Kau sudah memakai baju yang nyaman untuk kencan di kebun binatang nanti…
Semetara aku?? Aku belum memakai baju yang pas untuk itu…” Ucapku sambil berbisik,
melihat sekelilingku. Bagus. Semua sibuk pada urusan masing-masing.
“Haha….”
“Malah tertawa….” Ucapku jengkel.
“Yah… Biarkan saja…”
“Lalu, kenapa menelfonku?”
“Memangnya tidak boleh aku menelfonmu?” Ia malah balik bertanya.
“Bukan begitu… Ma~”
“Aku hanya ingin bilang seperti tadi… Oppa tampan… Suara oppa…. Membuatku
terpana….” Ucapnya manja.
“Dasar… Kalau kau ada di sampingku sekarang.. Sudah ku koyak rambutmu itu!!”
Sekali lagi, ia malah tertawa. “Baiklah Oppa… ku tunggu di pintu belakang ya,…
Pulsaku mau habis… Bye…”
“Eh.. Tu~”
PIP!!!
Ya, selalu seperti itu.
~***~
Sudah. Sudah selesai. Aku segera menghampiri Chanyeol. satu-satunya sahabat karibku
yang tahu aku berpacaran dengan Miyoung.
“ChanYeol…” Aku menepuk pundaknya. Ia menoleh padaku, lalu aku berbisik padanya,
“Tolong bantu aku…”
“Apa?”
“Seperti yang aku bilang tadi…”
“Ok… C’mon…”
“Kemana?”
“Ke kamar mandi…”
“Hah?” Pekikku. “Ngapain ke kamar mandi?”
“Lho?? Katanya ganti baju… Kalau ganti baju kan di kamar mandi. Kau mau ganti baju
di sini, di depan para staff Music bank?? Tidak ‘kan?”
Aku hanya tersenyum, tanda mengerti. Akupun mengikuti langkahnya….
Beberapa menit kemudian….
Aku keluar dari kamar mandi. Aku sudah mengenakan jaket jeans dark blue, dan celana
jeans warna yang sama, lengkap dengan topi hitam.
“Nanti… bilang ke mereka~”
“Iya… Tahu…” Potong Chanyeol cepat. “Bilang ke manager kita, kau sedang ada acara
keluarga, dan tak bisa pulang bersama staff kita karena harus segera ke tempat acara tepat waktu.
Iya ‘kan? Kau sudah bilang hal itu lebih dari 5 kali…”
“Kau benar-benar sahabat sejati…” Aku menepuk-nepuk pipinya. “Bye….”
Aku tak menunggu responsnya dan segera berlari menuju pintu belakang sambil
menggendong tas punggungku warna hitam, yang berisi bajuku saat perform tadi.
“Baby….” Aku menepuk pundaknya yang sedang berdiri menyandarkan punggungnya di
tembok samping pintu. Ia menoleh padaku, lalu tersenyum.
“Ayo…” ucapnya.
~***~
Kami sudah sampai di kebun binatang. Entahlah, aku tak tahu kenapa tempat tujuanku
adalah kebun binatang. Dan anehnya lagi, Miyoung setuju. Aku kira dia ingin pergi kencan
denganku di tempat yang lebih bagus lagi. Entah di mall, atau Seoul Tower, museum teddy bear,
atau skating. Saat aku tanya, kenapa dia setuju akan ideku yang aneh ini, dia hanya menjawab,
“asal aku di samping oppa, aku bahagia kok…”
Gadis ini. Benar-benar membuatku nyaman di dekatnya, walau aku tidak nyaman berada
di rumahnya.
Di Han Mansion.
Orang tua tunggalnya, Mr. Han Sung Ju, tidak merestui hubungan kami. Aku sendiri tak
tahu alasannya. Tapi, Miyoung masih berani mendekatiku, padahal aku tahu pasti dia bukan tipe
anak pembangkang. Sebenarnya aku tak mau dia berubah hanya karena aku. Tapi dia selalu
bahagia jika dekat denganku, dan aku juga selalu bahagia di dekatnya. Jadi kubiarkan saja seperti
air mengalir. Cepat atau lambat Appanya pasti akan tahu besarnya cinta kami satu sama lain.
“Kita mulai dari mana oppa?” Ucapnya sambil menggenggam tanganku. Aku
menatapnya lalu tersenyum.
“Jerapah….”
Penjelajahan kami sudah seru, walau tanpa makanan. Sebenarnya aku ingin membeli es
krim, untuk kami, tapi dicegah oleh Miyoung. “Jika para penjual itu melihat wajah kita dengan
jelas, habislah kita…”
Sudah sekitar 15 menit kami berkeliling.. Tapi sayangnya…
“Itu BaekHyun kan?” Terdengar bisikan usil itu di telinga kami.
“Kau dengar?” Bisikku pada Miyoung.
“Ya…” Ucapnya datar.
“Mereka sudah menyadari keberadaan kita…” Bisikku lagi.
“Ya….” Ucapnya lagi.
“Kenapa kau begitu santai?” Tanyaku sedikit jengkel.
“Memangnya apa yang bisa kita lakukan sekarang?”
“Sembunyi…”
“BAEKHYUN OPPA!!!! SARANGHAEYO!!!”
Akhirnya, sekumpulan wanita mengerikan itu sudah benar-benar mengenaliku, dan
mereka sudah lari berhamburan mengejarku. Aku segera menarik tangan Miyoung dan
mengajaknya bersembunyi.
“Oppa.. memangnya kita mau bersembunyi kemana?” Tanya Miyoung.
“Ke toilet….”
“Hah?”
Aku semakin mempercepat lariku, berusaha membuat para gadis itu kewalahan
menejarku.
Dan berhasil. Aku segera memasuki toilet umum dan memilih kamar paling lorong.
“Di sini kita aman…” Ucapku pelan.
“Dasar kau ini!!” Miyoung memukul pantatku.
“Apa!!” Tanyaku.
“Kenapa kau mengajakku sembunyi di toilet laki-laki?? Aku ini perempuan!!!”
Waduh, gawat!! Aku lupa!! Tapi, bagaimana mungkin kubiarkan dia berlari keluar
menuju toilet perempuan?? Jaraknya cukup jauh, dan bisa membuat para EXOtic itu mengetahui
keberadaanku, mengingat mereka sempat melihatku bersama super model saat ini, Miyoung.
“Tak apa, baby…” Aku berusaha menenangkannya. “Disini kita hanya bersembunyi
‘kan?? Aku tak punya hasrat sedikitpun untuk membuka celanaku….”
“OPPA!!!” Ia mencubit pinggangku.
“AWW!!”
Gawat!!! Gemuruh derap kaki para gadis itu mendekat. Jangan-jangan, mereka
mendengar teriakanku tadi??
Baiklah, di saat seperti ini, aku harus menghubungi Chan Yeol.
“Hai.. bagaimana~”
“Bukan saatnya untuk basa-basi…” Ucapku. “Kami diserbu EXOtic……”
“Hah?? Kok bisa??”
“Entahlah…. Segera jemput kami.. Di kebun binatang wilayah Busan.”
“Baiklah…. Aku akan segera sampai di sana sekitar 10 menit lagi. Sementara aku dalam
perjalanan, jangan lakukan hal yang aneh-aneh…”
“Hal aneh-aneh apa yang kau maksud?? Kau suruh kami diam saja ketika gadis-gadis itu
sudah menggedor-gedor pintu toilet satu persatu?? Tinggal menunggu waktu mereka
menemukan kami!!” Tuturku panjang lebar.
“Benar-Benar gadis yang ganas!!” Ucap Miyoung.
“Memang mereka sudah melakukannya?” Tanya Chanyeol.
“Belum… Tapi sebentar lagi mereka memasuki toilet ini…”
“Tenang Saja… Masih ada 5 menit…”
“BAEKHYUN-OPPA!!! KELUARLAH!!!” Gadis-gadis itu sudah mulai menggedor
pintu toilet satu-persatu. Mampus!!
“i.. i.. ya… toilet ini masih penuh…” Ucap lelaki yang ada di kamar itu. Mereka pindah
ke pintu lain.
“Oiya.. suruh saja Miyoung berteriak marah, seolah-olah dia sedang menggunakan toilet
itu. Para gadis itu tak mungkin berani menggedornya kan, begitu tahu yang di dalam toilet adalah
seorang wanita?”
Miyoung mendengar perkataan Chan Yeol yang tadi, karena aku berbicara dengan
ChanYeol melalui handphone dan mendekatkannya ke telinga kami berdua.
“Benar juga sih…” ucap Miyoung.
“Eh, tapi~”
“BAEKHYUN OPPA!!” Mereka sudah menggedor pintu tempat kami bersembunyi.
“Ehm…” Miyoung berdehem.
“KURANG AJAR!! AKU MASIH PAKE TOILET INI TAU!!! BRENGSEK!!!”
Miyoung benar-benar mengerahkan seluruh tenaganya untuk berteriak hingga nafasnya
tak teratur. Kami terdiam beberapa saat.
“Heh!! Chan Yeol-ssi… ini toilet laki-laki lo!!!” Miyoung membentak ChanYeol.
“Ah… ya.. maaf aku lupa kalau kalian bersembunyi di toilet laki-laki….”
“Dasar!!” ganti aku yang membentak Chan Yeol.
“Baiklah… Kalian keluar saja dari toilet itu lewat jendela kecil yang ada di sana… Aku
sudah sampai. Aku pakai mobil warna emas, jadi kalian tak kan keliru….”
Aku dan Miyoung segera keluar melalui ventilasi kecil itu, lalu segera berlari ke mobil
Chan Yeol sambil membenahi topi kami. Ternyata, di luar toilet sudah banyak yang menunggu
kami. Untungnya, kami sudah berada di dalam mobil.
“Kenapa bisa begini?” Chan Yeol bertanya padaku yang duduk di samping jok-nya.
“nanti ku ceritakan. Sekarang, ayo pulang….”
~***~
Esoknya…..
“Seharusnya kau berpikir dahulu sebelum bertindak…” Yah, Mr. Lee Soo Man, atasan
kami itu sudah menyentakku pagi itu. Karena apa? Berita yang susah payah kusembunyikan itu
malah menjadi Headline news di halaman utama Koran nasional, ahk, bukan hanya Koran
nasional, semua media massa sudah menangkap fotoku bersama Miyoung.
“Apa kau tak berpikir jadinya akan begini?? Kalian ‘kan publik figure…. Ada sedikit saja
dari kau yang terlihat media, langsung akan jadi berita heboh….”
Aku hanya menatapnya yang berjalan mondar-mandir di depanku sambil terus
menceramahiku. Media massa benar-benar kampret!!
Maksudku, apa ada gunanya bagi mereka mengutak-atik kehidupan pribadi para
selebriti?? Kalaupun ada, hanya demi kantong mereka ‘kan? Lalu, apa mereka tak berfikir kalau
itu mengganggu artis yang bersangkutan?
Tapi, aku suka foto yang ada di halaman pertama koran itu. Di foto itu, aku sedang
menatap Miyoung, dan Miyoung menatapku. Wajahku memang tak terlalu kelihatan karena aku
memakai topi terlalu kebawah, untuk menutupinya dari orang lain –walau tak berhasil, tapi
wajah Miyoung terlihat jelas. Tatapan matanya yang sejuk padaku di hari itu sangat indah. Ah,
gadis itu.
“BACOON!!!”
Aku terperanjat kaget mendengar bentakan itu.
“Kau dengar tidak, ucapanku tadi??!!” Lee Soo man membentakku lagi.
“Yes… Sir… I heard it…” Ucapku santai sambil menatap matanya santai.
“Kau…” Jari Telunjuknya yang kekar menunjukku. Otot-otonya sudah seperti keluar dari
tubuhnya.
Aku berniat untuk membalas pandangan matanya yang tajam, tapi tiba-tiba pandangan
mataku kabur, tiba-tiba semuanya terasa gelap. Keringat dingin membasahi tubuhku. Pusing….
~***~
~*Normal PoV*~
“Baiklah… Hari ini, episode perdana reality show “beautiful girl” akan dimeriahkan oleh
Han Mi Young… top model era kini….”
Miyoung menaiki panggung sambil melambaikan tangan pada para penggemarnya.
Seperti biasa, ia mengenakan pakaian yang casual karena tema di episode perdana acara itu
adalah “CASUAL DATE”
“Apa kabar, Miyoung?” MC yang bernama Cho Hwa Young itu menyambut hangat
Miyoung ambil bercipika-cipiki.
“Baik tentunya…”
“Mengenai tema perdana hari ini… Casual date,.. menurutmu, casual date itu bagus atau
tidak?”
“Tentu saja bagus.. Bagi para pasangan remaja yang ingin melakukan kencan, pasti tidak
ingin kencan yang terlalu formal. Target mereka pasti pertandingan olahraga, atau….”
“Kebun binatang…” Potong Cho hwayoung, membuat para penonton tertawa. Pipi
Miyoung memerah.
“Ada berita yang mengejutkan ternyata….” MC lelaki yang bernama Cha Seung Won
membaca headline news yang terpampang di layar kaca. “Byun BaekHyun EXO telah dilarikan
ke rumah sakit karena kondisi kesehatan yang memburuk…”
Miyoung terkejut. “Oppa?” Batinnya.
“Baiklah.. Kita doakan yang terbaik baginya…” Sahut Cho Hwayoung.
“Mari Kita lanjutkan…” Cha Seung Won berusaha kembali ke topik. “Lalu… bagaimana
menurutmu tentang kencan kasual yang sekarang banyak diminati kawula muda?”
Miyoung terdiam. Pikirannya hanya tertuju pada BaekHyun. Pandangan matanya kosong.
“Miyoung?” Panggil Cho Hwa Young.
“Miyoung?” Ucap Cha Seung Won. Setelahnya, Miyoung malah menuruni panggung dan
keluar dari tempat acara. Cho Hwayoung dan Cha Seung Won kebingungan, lalu berusaha
membahas topic episode perdananya itu tanpa Miyoung.
“Oppa… ada apa?” Ucap Miyoung saat melangkahkan kaki keluar. Ternyata, diluar
gedung, sudah banyak wartawan yang sudah menyergapnya.
“Nona Miyoung… Sekarang kekasih anda, Byun BaekHyun berada di rumah sakit.. Apa
anda bisa menjelaskannya?”
“Miyoung.. Apa Benar BaekHyun adalah kekasih anda?”
“Miyoung… Apa Anda akan menangkis gossip yang sekarang beredar??”
“Miyoung.. Bagaimana keadaan terkini tentang BaekHyun??”
“DIIAAAMMM!!!” Miyoung berteriak, membuat para wartawan itu terperangah kaget.
“Aku Tak akan menyangkalnya!! Aku kekasih Baek Hyun!! Sekarang, dia ada di Rumah
Sakit!! Puas??!! Apakah itu sudah menjawab semua pertanyaan kalian??!”
Nafas Miyoung tersengal-sengal, lalu menatap wajah para wartawan itu. “Jika ini sudah
cukup untuk menjawab pertanyaan kalian, bisakah kalian menyediakan jalan untukku,
membiarkanku berjalan menghampiri BaekHyun yang sekarang tengah sakit??!! Kekasihku
sedang sakit sekarang, dan aku khawatir… aku sudah berusaha menenangkan diriku dengan
berfikir bahwa dia baik-baik saja.. tapi kalian malah datang menyerbuku seperti ini, membuat
pikiranku lebih sesak lagi!! Tak tahukah kalian, sebagai wartawan kalian sudah terlalu sering
memeras otak artis-artis yang sudah kalian cemari nama baiknya dengan berita murahan
karangan kalian itu??!! Apa kalian tak sadar itu??”
Para wartawan itu hanya saling bertatapan, kemudian menunduk.
“Sekarang, beri aku jalan!!”
Mereka menyingkir dari hadapan Miyoung. Miyoung berjalan tegap dan segera menaiki
taxi yang kebetulan lewat. “Dasar pengganggu!!”
Ia menaiki taxi dengan perasaan tak menentu. “Seoul Hospital….”
Sementara itu….
Dokter yang menangani BaekHyun sudah keluar dari ruang UGD.
“Siapa orang tua dari pasien?” ucapnya datar.
“Saya…” Lee Soo Man mendekati dokter itu.
“Baik.. Kita berbicara di ruangan saya…” Dokter itu menatap teman-teman EXO yang
lain. “Untuk sementara… jangan di jenguk dulu…”
“Baik…”
Di ruang dokter….
“Jadi.. apa yang terjadi pada BaekHyun?” Ucap Lee Soo Man tak sabar.
“Sebenarnya… Sudah sejak 2 minggu lalu hasil laboratorium ini keluar, namun pasien
tidak ingin membeberkannya pada siapapun…” Ucap dokter itu, sedikit tertekan. “Tapi,
bagaimanapun, aku harus menjelaskannya pada anda…”
“Memangnya, penyakitnya parah??”
Dokter itu menghela nafas. “Hasil dari penelitian laboratoriumnya, kadar Hb-nya rendah,
jumlah darah putih dan trombositnya menurun, kenaikan SGOT, SGPT dan gamma GT akibat
kebocoran dari sel-sel yang rusak, Kadar albumin rendah, Kadar kolinesterase (CHE) yang
menurun karena kerusakan sel hati…”
“Tunggu…” Potong Mr. Lee cepat. “Dia sakit apa dokter?”
Dokter itu kembali menghela nafas. “Dia sudah terkena penyakit sirosis hati tingkat
akut…”
“Apa?”
“Sudah keliatan dari fisiknya ‘kan?”
“Iya…” Ucap Mr. Lee lemas. “Belakangan ini dia sering kelelahan.. Juga sering mual dan
muntah…. Bahkan dia pernah muntah darah… Dan dia gampang sekali memar…”
“Sekarang tubuh dan matanya juga mulai menguning…” Lanjut dokter itu.
“Apa yang harus dilakukan?”
“Operasi transplantasi liver.. Bisa dari donor hidup yang darahnya cocok.. Bisa juga dari
donor yang sudah meninggal…”
“Lakukan apapun demi dia dokter…”
“Ya… Aku Akan berusaha mencarikan donor yang sesuai untuknya… Kita berpacu
dengan waktu, sebelum racunnya menyebar ke seluruh tubuh…”
~***~
“Kenapa bisa begini?” Miyoung menangis mendengar penuturan Mr. Lee. “Baru saja
kami berpacaran… baru kemarin kami berkencan… Kenapa seperti ini?”
“Tenangkan dirimu…” Chan Yeol menghampirinya. “Dia pasti sembuh… tenanglah…”
Miyoung hanya mengangguk.
“Pasien sudah sadar…” ucap perawat yang baru saja keluar dari kamar BaekHyun.
“Kerabat sudah boleh menjenguk… Tapi hanya 1 orang….”
Seluruh member EXO beserta Mr. Lee sepakat untuk menyuruh Mi Young memasuki
ruangan BaekHyun. Ia memasuki ruangan itu dan memakai pakaian steril yang harus ia pakai ke
ruang ICU.
Ia duduk di samping BaekHyun. Ia menangis tersedu-sedu, melihat tubuhnya yang mulai
menguning. Ia menggenggam tangan kanan BaekHyun yang tak di beri infus.
“Oppa…” Rintihnya. “Maaf… Aku sudah membawa sial untukmu… Andai saja kau tak
mengenalku.. Mungkin tak begini jadinya…”
Ia menciumi tangan BaekHyun. Air matanya mengalir pelan ke tangan BaekHyun, hingga
membuat BaekHyun sadar.
“Miyoung….” Rintihnya. Tangan BaekHyun bergerak mengelus pipi Miyoung, menyeka
air matanya yang hangat.
“Maaf….” Ucapnya lagi.
“Kau tak bersalah….” Ucap BaekHyun, memasang senyuman untuk kekasihnya itu.
“Kenapa kau tidak bilang?”
“Aku tak mau membuatmu khawatir….” BaekHyun kini menggenggam tangan Miyoung
dan meletakkan tangan Miyoung kedadanya. “Melihatmu menangis seperti sekarang, itu
membuatku tersiksa… aku tak mau membuatmu menangis lebih deras lagi ketika tahu hidupku
takkan lama lagi…”
Miyoung menggeleng. Ia sudah terisak.
“Sayangnya… Sekarang kau sudah tahu…”
“Aku yakin… Oppa bisa hidup lebih lama lagi… Aku tahu…. Aku yakin itu…”
BaekHyun hanya tersenyum. Sesekali mengernyit, merasakan sakit di bagian perut
kanannya.
“Oppa….”
“Penyakit ini sudah parah, baby… Kalaupun ada donor hati yang cocok.. Percuma…”
“Kita tak akan tahu kalau tak mencoba…”
“Kata dokter… Kemungkinan yang ada adalah 70 : 30…”
“Tapi…” Miyoung menempelkan telinganya ke dada BaekHYun. “Aku ingin mendengar
jantung ini berdetak lebih kencang lagi… Aku Ingin jantung ini terus menemaniku… Apapun
situasinya…”
Air mata Miyoung sudah membasahi pakaian BaekHYun. BaekHyun pun tak kuat
menahan air matanya. Ia mendekap kepala Miyoung yang menempel di dadanya, tangan kirinya
yang di infuse membelai rambut Miyoung yang halus dengan lembut… Ia Pun mencium kepala
Miyoung cukup lama.
Mereka menangis di dalam keheningan yang memilukan.
~***~
Esoknya…
~*BaekHyun PoV*~
Sekarang semua sudah tahu dengan persis apa penyakitku. Sirosis hati. Penyakit
mematikan. Pagi ini, saat aku bercermin di kamar mandi rumah sakit, wajah dan mataku sudah
kuning. Kulit tangan dan kakiku sudah kuning. Aku benar-benar sudah pasrah.
Aku berjalan kembali menuju ranjangku. Eh. Ternyata di sana sudah ada ChanYeol dan
Miyoung.
“Makan…” Ucap ChanYeol. “Sudah disediakan oleh perawat…”
Aku mengangguk pelan, lalu duduk di ranjang.
“Oppa…” Ucap gadis itu. Aku memang pasrah, tapi aku takut tidak bisa mendengar suara
manjanya lagi. “Tadi dokter bilang, sudah ada donor hidup yang cocok dengan liver oppa…”
“Iya…” ChanYeol menyahut. “Kecocokannya 85 persen…”
“Lalu?” ucapku cuek. Kulihat, kedua orang yang sangat berarti bagiku itu bertatapan.
“Kenapa kau menanggapinya cuek begitu?” tanya ChanYeol. “Kau tak mau operasi?”
Aku mengangguk pelan.
“Kenapa?” Miyoung bertanya.
“Kalian tak tahu rasanya menghadapi kematian…” Ucapku pelan. “bukankah sudah
kubilang, persentasinya 70 banding 30? Aku mustahil selamat…”
“Kau harus percaya bahwa kau bisa melewatinya…” ChanYeol merangkulku.
“Dokter sudah memperkirakan hidupku 2 minggu lagi.. Bahkan mungkin lebih singkat
dari itu…” Ucapku. “Kalau operasi itu di lakukan hari ini dan berhasil… Maka hidupku tidak 2
minggu lagi. Tapi bagaimana jika operasi itu gagal?” Aku benar-benar pasrah. “Aku yang
seharusnya masih bisa hidup 2 minggu lagi, malah mati hari ini juga…”
“Oppa….” Panggil Miyoung dengan nada manjanya yang khas. Ia menggenggam erat
tangan kananku, lalu menatap mataku. One Wish on her eyes… “Kalau oppa yakin bisa
sembuh… Pasti bisa sembuh…”
Aku tak kuat melihat harapan yang begitu besar di matanya. Cahaya harapan itu berhasil
menghancurkan benteng keputus-asaanku yang berdiri kokoh itu.
“Please try it….”
Aku mengangguk pelan. Ia tersenyum.
Tak lama kemudian…
HUOOKK!!!
AKu muntah, berhasil mengotori baju Miyoung. Ia spontan berdiri dan memijati
tengkukku pelan. Aku merasa berdosa melakukan hal itu, walau itu tak sengaja.
Aku sudah muntah berkali-kali. ChanYeol meninggalkan kami berdua untuk memanggil
dokter.
Sepertinya sudah selesai. Aku mengelus pelan perutku yang masih teraduk-aduk rasanya.
“Maaf…” ucapku. Gadisku itu hanya tersenyum.
“Sudah kukira… kau berubah jadi pembangkang semenjak berpacaran dengannya!!!”
Mr. Han??
“Appa…. Lepaskan!!!” kasihan gadisku. Ia berusaha meronta, tapi aku tahu Appanya.
Dia pernah mengusirku dari rumah dengan menggenggam kuat tanganku dan melemparkanku ke
teras rumahnya. Aku ingin membantunya, tapi aku yakin itu malah memperkeruh suasana. Aku
hanya bisa menatapnya pilu.
Tak lama kemudian, dokter yang menanganiku datang bersama ChanYeol di
belakangnya.
“HUUOOKK!!!”
Kali ini yang ku keluarkan bukanlah isi perut, namun isi hati. Darah yang telah
kukeluarkan dari mulutku. Warna darahku bemar-bemar gelap. Merah pekat, disertai beberapa
tonjolan kecil. Itulah hati rusakku yang telah cuil, luruh begitu saja mengikuti aliran darah yang
sepertinya enggan mengaliri tubuhku lagi.
~***~
~*Normal PoV*~
Malamnya…
ChanYeol melemparkan tali panjang menuju balkon kamar Miyoung. Kebetulan,
Miyoung belum tidur, ia segera mengetahui gerak gerik ChanYeol. “ChanYeol-ssi?”
“Ssttt!!!” ChanYeol melintangkan jari telunjuknya ke bibir Miyoung. “Besok, BaekHyun
harus di operasi. Dia bilang ingin menemuimu sebelum di operasi.. maka dari itu.. ikutlah
aku…”
Miyoung mengangguk tanpa banyak bicara, ia mengikuti langka Chanyeol menuruni
balkon menggunakan tali itu.
Sampai di rumah sakit…..
“Oppa…” Panggil Miyoung. BaekHyun langsung tersenyum menatapnya. “Aku senang..
Oppa mau di operasi…”
“Berkat kau…” BaekHyun menatap mata Miyoung sekali lagi. Ia benar-benar berharap
untuk bisa menatap mesra mata Miyoung seumur hidupnya. “Kau mau aku sembuh ‘kan?”
Miyoung mengangguk.
“Bantu aku… Hidupkan kembali Byun BaekHyun…”
“Apa?”
“Nyanyikan lagu ‘Baby Baby’ milik So nyeo Shi dae… Lalu aku akan hidup kembali…”
“Tapi….”
“Kau mau aku sembuh ‘kan?”
Miyoung tersenyum. Ia menghela nafas, lalu mulai bernyanyi, “Dorineun mam goma oon
mam gadeukhi damaso jelyebeun pojak soge,…”
“Jonhago shipeunde..” Sahut baekhyun.
“Anilgoya ooseulgo ya ungdoonghan sang sang daemooneh, mae il miruneun babo..”
“Wae nagat janh ge….”
“Neul ootdon moseub neega nae mam hoob chingo… Jung maro numoo malo
andweneunde”
Miyoung dan BaekHyun bernyanyi bersama. “please baby baby baby geu dae ga nae
aneh… numoo do gipi deurowa bo ilga iron nae sujubeun gobaek.. baby baby baby salmyo shi
dagaga… jakeun mogsoriro gaga ee noman deurige malhae joolgeh….”
~***~
“SULIT SEKALI BERBICARA PADAMU!! APA AKU HARUS BERBICARA
DENGAN BAHASA ALIEN PADAMU??!!! HAH??!!” bentak Mr. Han sekali lagi pada
Miyoung pagi itu, membuat BaekHyun dan ChanYeol terbangun.
“DEMI PEMUDA PENYAKITAN SEPERTI INI KAU MEMBANGKANG PADA
ORANG TUA??!! DASAR TAK TAHU DIUNTUNG!!”
Miyoung terkejut akan ucapan Appanya itu. “Tak seharusnya Appa berbicara seperti
itu… Siapa yang penyakitan?”
“LELAKI ITU!! SUDAH JELAS KAN??!!” dengan tegas, Mr. Han menunjuk BaekHyun
yang berbaring, membuat BaekHyun terpukul mendengarnya.
“APPA SUDAH TAK BISA MEMBIARKANMU BEBAS LAGI!! APPA AKAN
MENGURUNGMU DI KAMAR!! AKAN KUKUNCI SEMUA PINTU DAN JENDELA
YANG ADA DI KAMARMU??!!”
Sekali lagi, Mr. Han dengan tega menarik paksa tangan putrid semata wayangnya itu.
BaekHyun menatap Miyoung dengan pilu. Ia masih ingat apa yang dikatakan Miyoung
malamnya.
“Aku sudah bernyanyi untuk oppa… Maka berjanjilah untuk hidup kembali…” Ucapnya
penuh harap.
“Jika aku hidup kembali, apakah aku bisa menggapaimu?” Rintih BaekHyun di dalam
hatinya.
Di perjalanan pulang Miyoung…
“Menggelikan…” desis Miyoung. Tangannya sudah diikat dengan tali yang kuat oleh
Appanya sendiri. Ia menerawang jauh keluar jendela, melihat matahari terbit yang perlahan naik
ke atas dengan cahayanya yang hangat.
“Mentari itu hidup kembali…” Ucapnya dalam hati. “Ya Tuhan.. bersamaan dengan ini…
aku mohon.. bantulah kekasihku untuk hidup kembali….”
~***~
Sudah seminggu ini Miyoung terkurung di kamarnya. Pintu terbuka sesekali hanya untuk
mengantarkannya makanan. Miyoung hanya memakannya sedikit, tak lebih dari 10 sendok di
setiap harinya. Tambah hari, tubuhnya semakin kurus. Dia benar-benar terkurung di mansion-
nya.
Dia melihat ke seluruh ruangan, lalu tatapan matanya berhenti ke satu arah. Meja riasnya.
Ia mengambil sebuah kotak kardus yang ada di bawah meja itu.
Ia kembali duduk di bawah kasurnya dan menyandarkan punggungnya ke kasur. Ia
membuka kotak kardus yang ada di pangkuannya. Ia mengambil sebuah bola kuning yang ada di
dalamnya. Ia tersenyum mengingatnya.
Bola itu adalah bola yang digunakan Appanya untuk melempar BaekHyun agar segera
pergi dari rumahnya 5 bulan yang lalu.
Lalu, ia mengambil sebuah mobil mainan berwarna merah. Pertama kali bertemu
BaekHyun setahun yang lalu.
“Nona… bisa antarkan aku ke dorm EXO?” ia mengetuk jendela mobil Miyoung
berkali-kali.
“buat apa?” Miyoung yang akan mengendarai mobil merahnya itu mendengus
kesal.
“untuk menghindari itu…” BaekHyun menunjuk ke arah EXOtic yang
membludak. Panik, Miyoung pun membukakan pintu untuk BaekHyun dan mengendarai
mobil dengan cepat untuk menghindari kawanan gadis yang mengamuk itu.
Pandangan matanya beralih lagi ke boneka teddy bear berwarna coklat tua yang
memegang tiga hati yang disusun ke bawah. Hati paling atas bertuliskan nama BaekHyun, hati
tengah bertuliskan Love, dan hati terbawah berukirkan namanya. Boneka itu adalah hadiah ulang
tahun dari BaekHyun untuknya.
Dan yang terakhir, topi putih yang ia gunakan saat berkencan dengan BaekHyun
beberapa waktu lalu. Ia menangis tersedu-sedu memandangi semua kenangan indahnya bersama
BaekHyun.
~***~
Esoknya….
Mr. Han membuka pintu. Melihat makanan yang ada di samping Miyoung tidak
berkurang sama sekali.
“Kau masih memikirkan lelaki yang penyakitan itu?” Mr. Han mendesis.
Pelayannya pun masuk sambil membawa sarapan pagi untuk Miyoung.
“Nona… sarapan…” Ucapnya lembut.
Miyoung hanya menatap tajam pelayan itu.
“Tidak mau!!!”
“Nona…”
Miyoung menampik nampan itu hingga seluruh piring dan gelas yang ada di atasnya
pecah berhamburan ke lantai.
“Miyoung!!” Mr. Han membentaknya. “Apa yang membuatmu seperti ini??!!”
“Amarah…” desisnya pelan. Ia mengambil pecahan piring dan menunjukkannya pada
pelayan dan Appanya.
“Miyoung…”
“Nona…”
“Aku tak pernah mendapatkan kebahagiaan selama ini…” Pandangan matanya kosong.
“Saat aku berhasil mendapatkannya… Appa malah menjauhkannya…”
“Miyoung…”
“Buat apa aku hidup??!!”
Ia menggerakkan tangannya yang memegang serpihan kaca itu ke urat nadinya.
“Miyoung!! Hentikan!!” Mr. Han menggenggam tangan Miyoung erat. Kini, air matanya
meleleh. “Miyoung….”
“Bukankah ini yang Appa inginkan?? Anaknya mati?? Daripada menggerus hati anaknya
secara lamban, lebh baik bunuh saja….” Ucapnya dingin. Mr. Han memeluk erat Miyoung
sambil menangis terisak. Airmata Miyoung meleleh, namun ia masih tetap berada di ruang
hatinya yang sunyi.
~***~
TOK!! TOK!!
BaekHyun membuka pintu rumahnya.
“Nak…” ucap Mr. Han dengan bibirnya bergetar. “Kau sudah sembuh…”
“Ya…” jawab BaekHyun ketus. “Anda ingin mencaci maki saya lagi?? Maaf saja,
sekarang saya bukan orang yang penyakitan lagi….”
“Bukan.. Bukan begitu nak…”
“Lalu apa?”
“Miyoung…”
BaekHyun teringatkan oleh kekasihnya itu. Miyoung yang sudah berhasil menghidupkan
kembali dirinya. Sebenarnya, BaekHyun sangat ingin menemui Miyoung, namun ia tahu ia tak
bisa melawan kerasnya hati Mr.Han.
“ada apa dengannya?”
~***~
Kali ini, Miyoung mengunci kamarnya dari dalam. Benar-benar tak ingin orang lain
mengganggunya. Ia butuh waktu untuk sendiri, mengenang kenangannya bersama BaekHyun.
“Nona… buka pintunya… anda harus makan..” Ucap Sopir pribadinya. Miyoung tak
menjawab.
“Nona… makan…” Pengawalnya membujuknya, dan ia tetap tak meresponsnya.
Seluruh pembantunya di Han mansion sudah mencoba merayunya, tapi nihil.
~*BaekHyun PoV*~
“Baby…..” ucapku sambil mengambil piring makanan yang di pegang salah satu
pembantunya.
“It’s me, Your Boyfriend….”
Tak ada respons. Apa dia benar-benar depresi karena tekanan dari ayahnya?
Cklek!!
Pintunya terbuka. Aku segera memasuki kamarnya. Kulihat Miyoung duduk di lantainya
sambil bersandar di kasurnya.
Kamarnya benar-benar seperti kapal pecah!! Sprei yang terlepas dari kasurnya,
selimutnya berserakan di lantai, seluruh isi lemari berhamburan di seluruh ruangan, dan seluruh
perhiasannya berjatuhan di sekitar meja itu.
“Baby… habis ada badai di kamarmu?? Berantakan sekali… hahaha…”
Tak berhasil membuatnya tertawa. Kampret.
“Baby… belum sarapan kan?” ucapku lembut. Ia menggeleng.
“Bagaimana mungkin aku bisa makan, sementara aku tahu Oppa masih sakit…”
Aku mengernyit. Dia benar-benar sudah lupa?
“Hello Baby…” ucapku lagi. “Aku sudah sembuh lho… lihat…” Aku berdiri. Ia
mengangkat kepalanya demi menatapku. “Kulitku sudah tak kuning lagi ‘kan?? Mataku juga
sudah bening… aku tampan lagi ‘kan? Tampak depan…” Ucapku, lalu menghadap ke kanan.
“Tampak samping… tampan juga ‘kan?” Lalu berdiri membelakanginya. “Tampak belakang…
tampan ‘kan?”
Aku menghadap ke arahnya lagi, lalu menemaninya duduk di lantai. Perlahan,
senyumnya yang manis kembali menghiasi wajahnya, walau masih ada bekas aliran air matanya
di pipinya.
“Sudah bisa makan sekarang?”
Ia mengangguk pelan. Aku menyuapkan sesendok makanan untuknya. “Aaaa…”
Ia mau membuka mulutnya, lalu mengunyahnya. Bagus.
“Sudah.. makan sendiri…” aku menyodorkan piring itu padanya. “kau punya tangan
sendiri, gunakan itu dengan baik…”
Ia hanya tersenyum, lalu menyendok nasi dan sup rumput laut yang menjadi lauknya.
“Aaa…”
Oh, maksudnya, dia menyuapiku. Baiklah, kurespons dengan baik. Ku buka mulutku lalu
memakannya.
Untuk selanjutnya, ia memakannya sampai habis. Aku memandanginya lekat-lekat.
“sudah habis?” tanyaku. Ia mengangguk.
“selama kita berpacaran, pernahkah kita berciuman?”
Ia mendelik. “Apa?”
Aku meraih piring di tangan kanannya, meletakkannya di sampingku. Aku mendekatkan
wajahku ke wajahnya. Tanganku mulai membelai rambutnya, lalu mengelus pipinya yang halus,
dan mulai meraba tengkukknya, lalu mendorongnya, berusaha mendekatkan bibirku dan
bibirnya. Lalu…
Chu~
Aku melepaskan kecupan itu cukup lama setelahnya. Ia tersenyum menatapku. Akupun
duduk di sampingnya. Dengan manja, ia meletakkan kepalanya ke pundakku. Aku meresponsnya
dengan membelai rambutnya lembut.
“Menurut Oppa… apa itu cinta?” Tanyanya.
“Aku tak bisa menjelaskannya dengan gamblang. Ada banyak perbedaan pendapat
tentang cinta… aku takut menjawabnya…” Jawabku. “Yang pasti, aku mulai mengenal cinta..
ketika aku berada di dekatmu, dan aku bahagia… itulah pemikiran sederhanaku tentang cinta…”
“begitukah?” ia meraba dada kiriku.
“kenapa kau lakukan itu?” tanyaku.
“Aku sudah pernah bilang ‘kan? Aku ingin mendengar detak jantung ini, detak jantung
yang akan menemani hidupku.. detak jantung yang selalu membuatku bahagia…”
“Baiklah… lakukan sesukamu.. toh.. yang membuat jantung ini tetap berdetak adalah
dirimu…”
“benarkah?”
“ya…”
“Kalau begitu.. berikan hadiah untukku…” Ucapnya manja. Akhirnya dia kembali
menjadi Miyoung yang ku kenal.
“Baiklah… demi merayakan bangkitnya Byun Baek Hyun, dan demi merayakan
bersatunya kembali Byun Baek Hyun dan Han Mi Young, akan kunyanyikan ‘What is Love’
untukmu.”
Ia menatapku. “benarkah?”
Aku balas menatapnya sambil tersenyum. “ya…” aku menyibakkan poninya yang dibelah
tengah, lalu mengecup keningnya dengan mesra.