Anda di halaman 1dari 12

Nama : Salmon Jonico Sapulette

Kelas : C

 Kasus 1

 Soal:
1. Diagnosa medis pada kasus tersebut …
1. Gangguan integritas kulit
2. Nyeri
3. Perubahan citra tubuh
2. - Analisa data :
DS (Data Subjektif) DO (Data Objektif)
- Suami pasien mengatakan bahwa - Kulit kering dan terkelupas
timbul bintik-bintik merah di kaki - Gatal
pasien. - Nyeri
- Bintik yang pecah dan menghitam
serta melepuh seperti luka bakar.
- Hasil pemeriksaan lab :
Leukosit dan eosinofil abnormal

- Diagnosa Keperawatan :
1. Gangguan integritas kulit b/d Vesikel atau bula yang pecah
2. Nyeri b/d
3. Gangguan konsep diri b/d perubahan body image

No. Diagnosa Rencana Keperawatan


Keperawatan Tujuan dan Rencana tindakan
kriteria
1. Gangguan Tujuan : a) Kaji kerusakan jaringan
integritas kulit b/d
dalam 5 x 24 jam kulit yang terjadi pada klien
Vesikel atau bula
yang pecah integritas kulit Rasional : menjadi data
membaik secara dasar untuk memberikan
optimal informasi intervensi
perawatan yang akan
Kriteria evaluasi : digunakan
Pertumbuhan b) Lakukan oral higiene
jaringan membaik Rasional : perawatan lokal
dan lesi berkurang kulit merupakan
penatalaksanaan
keperwatan yang penting.
Jika diperlukan berikan
kompres hangat , tetapi
harus dilaksanakan dengan
hati-hati sekali pada daerah
yang erosif atau terkelupas.
Lesi oral yang nyeri akan
membuat higiene oral
dipelihara
c) Tingkatkan asupan nutrisi
Rasional : diet TKTP
diperlukan untuk
meningkatkan asupan dari
kebutuhan pertumbuhan
jaringan
d) Evaluasi kerusakan
jaringan dan perkembangan
pertumbuhan jaringan
Rasional : apabila masih
belum mencapai dari
kriteria evaluasi 5 x 24 jam
, maka perlu dikaji ulang
faktor-faktor menghambat
pertumbuhan dan perbaikan
dari lesi
e) Lakukan intervensi untuk
mencegah komplikasi
Rasional : pemantauan
yang ketat terhadap tanda-
tanda vital dan pencatatan
setiap perubahan yang
serius pada fungsi
respiratorious , renal , atau
gastrointestinal dapat
mendeteksi dengan cepat
dimulainya suatu infeksi
f) Kolaborasi untuk
pemberian kortikosteroid
Rasional : kolaborasi
pemberian glukokortikoid
misalnya metil prednisolon
80-120 mg peroral atau
pemberian deksametason
injeksi
g) Kolaborasi untuk
pemberian antibiotik
Rasional : pemberian
antibiotik untuk infeksi
dengan catatan
menghindari pemberian
sulfonamide dan atibiotik
yang sering juga sebagai
penyebab sjs misalnya
penisilin, chepalosporin.
Nyeri akut Mandiri
berhubungan Pantau keadaan kulit pasien
dengan lesi pada menghindari pajanan bahan
kulit iritan, baik yang bersifat
mekanik, fisis atau kimiawi
serta menyingkirkan faktor
yang memperberat.
Rasional :
1. Gerak badan memberikan
efek yang menguntungkan
untuk tidur
2. Udara yang kering membuat
kulit terasa gatal.
Lingkungan yang nyaman
meningkatkan relaksasi

Kolaborasi :
Kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian obat anti
histamine dan salep kulit.
Dapat diberikan kortikosteroid,
bila lesi akut (kulit bengkak
dan basah) dapat diberikan
kompres tiap dua jam sekali.
Kemudian dapat diberikan
kortikosteroid topikal atau
sistemik.
Rasional :
1. Pruritus neoturnal
mengganggu tidur yang
normal.
2. Tindakan ini mencegah
kehilangan air. Kulit yang
kering dan gatal biasanya
tidak dapat disembuhkan
tetapi bisa dikendalikan.
3. Kafein memiliki efek
puncak 2 - 4 jam sesudah
dikonsumsi
Tindakan ini memudahkan
peralihan dari keadaan terjage
menjadi keadaan tertidur.
Perubahan citra Tujuan : a) Kaji perubahan dari
tubuh b/d dalam waktu 5 x 24 ganguan presepsi dan
penampilan kulit jam setelah hubungan dengan derajat
yang tidak baik. diberikan tindakan ketidakmampuan.
keperawatan citra Rasional : menentukan
diri pasien bantuan individual dalam
meningkat menyusun rencana
keperawatan atau
Kriteria evaluasi : pemilihan intervensi.
- mampu b) Identifikasi arti dari
menyatakan atau kehilangan atau disfungsi
mengkomunikasi pada pasien.
kan dengan orang Rasional : beberapa pasien
terdekat tentang dapat menerima secara
stuasi dan efektief kondisi perubahan
perubahan yang fungsi yang dialaminya,
sedang terjadi. sedangkan yang lain
- mampu mempunyai kesulitan
menyatakan dalam menerima
penerimaan diri perubahan fungsi yang
terhadap stuasi. dialaminya, sehinga
memberikan dampak pada
kondisi koping malapatief.
c) Bina hubunga teraupetik
Rasional : hubungan
teraupetik antara
profesional pelayanan
kesehatan dan penderita
psoriasis merupakan
hubungan yang mencakup
pendidikan, serta dukungan
. setelah hubungan tersebut
diciptakan, pasien harus
lebih memiliki keyakinan
diri dan pembedayaan
dalam melaksanakan
program terapi, serta
mengunakan strategi
koping yang membantu
mengatasi perubahan pada
konsep diri dan citra tubuh
yang ditimbulkan oleh
penyakit psoriasi tersebut.
d) Bantu pasien untuk
mendapatkan mekanisme
koping yang efektief .
Rasional : pengenalan
terhadap strategi koping
yang berhasil dijalankan
oleh penderita psoriasis
lainnyadan sasaran sasaran
untuk mengurangi atau
menghadapi stress di
rumah , sekolah, atau
tempat kerja akan
memfasilitasi ekpetasi
pasien yang lebih positif
dan kesediaannya untuk
memahami sifat penyakit
yang kronik.
e) Anjurkan orang terdekat
untuk mengizinkan pasien
melakukan sebanyak-
banyaknya untuk dirinya.
Rasional : mengidupkan
kembali perasaan
kemandirian dan
membantu perkembangan
harga diri serta
mempengaruhi proses
rehabilitas.
f) Dukung prilaku atau usaha
seperti peningkatan minat
atau partisipasi dalam
aktivitas rehabilitasi .
Rasional : pasien dapat
beradaptasi terhadap
perubahan dan pengertian
tentang peran individu
masa mendatang.
g) Monitor gangguan tidur
peningkatan kesulitan
kosentrasi dan latergi.
Rasional : dapat
mengindikasikan
terjadinya depresi yang
umumnya terjadi sebagai
pengaruh dari stroke
dimana memerlukan
intervensi dan evaluasi
lebih lanjut.
h) Kolaborasi untuk
pemberian regimen MDT.
Rasional : multi drug
therapi ( DMT ) diberikan
selama 6-9 bulan dan
diminum di depan petugas.

 Kasus 2

 Soal:
1. Diagnosa medis pada kasus tersebut …
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan kulit
2. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan ujung-ujung saraf
3. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
primer, kerusakan kulit, trauma jaringan prosedur invasive
3. - Analisa data :
DS (Data Subjektif) DO (Data Objektif)
- Pasien khwatir dengan keadaan luka - Luka bakar listrik pada kedua
bakarnya tangan dan kaki
- Nyeri
- Sesak napas

- Diagnosa Keperawatan :
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan permukaan kulit
2. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan ujung-ujung saraf
3. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
primer, kerusakan kulit, trauma jaringan prosedur invasive

No. Diagnosa Rencana Keperawatan


Keperawatan Tujuan dan Rencana tindakan
kriteria
1. Kerusakan  Heterograft Mandiri:
integritas kulit (xenogratf, 1. Kaji/catat ukuran,warna,
berhubungan porcine) kedalaman luka, perhatikan
dengan kerusakan jaringan nekrotik dan
permukaan kulit kondisi sekitar Kulit
 Autograft
2. Berikan perawatan luka
bakar yang tepat dan
tindakan kontrol infeksi

Kolaborasi:
Siapkan/bantu prosedur
bedah/balutan biologis, contoh:
 Homograft (allograft)
 Rasional :
1. memberikan informasi
dasar tentang kebutuhan
penanaman kulit dan
kemungkinan petunjuk
tentang sirkulasi pada area
graft.

2. menyiapkan jarinagan
untuk penanaman dan
menurunkan risiko
infeksi/kegagalan graft

 graft kulit diambil dari kulit


orang itu sendiri atau orang
yang sudah meninggal
(donor mati) digunakan
untuk penutupan sementara
pada luka bakar luas sampai
kulit orang itu siap ditanam
(test graft), untuk menutup
luka terbuka secara cepat
setelah eskarotomi untuk
melindungi jaringan
granulasi
 kulit graft diambil mungkin
dari binatang
denganpenggunaan yang
sama untuk homograft atau
untuk autograft yang
berlubang.

 kulit graft diambil dari


bagian pasien yang tak
cedera; mungkin ketebalan
penuh atau ketebalan
parsial.
2. Nyeri akut Setelah dilakukan Mandiri:
intervensi 1. Tutup luka sesegera
berhubungan
keperawatan selama mungkin kecuali
dengan kerusakan 3x24 jam diharapkan perawatan luka bakar
nyeri berkurang, metode pemajanan pada
ujung-ujung saraf
dengan kriteria hasil: udara terbuka
karena luka bakar  Pasien
mengatakan nyeri 2. Tinggikan ekstremitas
berkurang luka bakar secara periodic
 Pasien tampak
relax 3. Berikan tempat tidur
 Skala nyeri = 3 ayunan sesuai indikasi
 Nadi = 80-100
x/mnt 4. Kaji keluhan nyeri,
perhatikan lokasi atau
karakter (skala 0-10)

5. Dorong penggunaan
teknik manajemen stres,
contoh relaksasi progresif,
nafas dalam, bimbingan
imajinasi, dan visualisasi

6. Berikan tindakan
kenyamanan dasar contoh
pijatan pada area yang
tidak sakit, perubahan
posisi dengan sering

Rasional :

1. suhu berubah dan gerakan


udara dapat menybabkan
nyeri hebat pada pemajanan
ujung saraf

2. peninggian mungkin
diperlukan pada awal untuk
menurunkan pembentukan
edema; setelah perubahan
posisi dan peninggian
menurunkan
ketidaknyamanan serta
risiko kontraktur sendi

3. peninggian linen dari luka


membantu menurunkan
nyeri

4. nyeri hampir selalu ada


pada beberapa derajat
beratnya keterlibatan
jaringan atau kerusakan
tetapi paling berat selama
penggantian balutan dan
debridemen. Perubahan
lokasi/ karakter/ intensitas
nyeri dapat
mengindikasikan terjadinya
komplikasi atau perbaikan
kembalinya fungsi saraf.

5. memfokuskan kembali
perhatian, meningkatkan
relaksasi dan meningkatkan
rasa kontrol yang dapat
menurunkan
ketergantungan
farmakologis.

6. dukungan empati dapat


membantu menghilangkan
nyeri atau meningkatkan
relaksasi

7. metode IV sering
digunakan pada awal untuk
memaksimalkan efek otot

3. Risiko tinggi Setelah dilakukan Mandiri


intervensi 1. Kaji tanda- tanda infeksi
terhadap infeksi
keperwatan selama 2. Batasi jumlah pengunjung
berhubungan 3x24 jam 3. Jaga asepsis selama
diharapakan infeksi pasien beresiko
dengan tidak
tidak terjadi dengan 4. Sediakan perswatan kuliut
adekuatnya criteria hasil: pada area edema
 Tidak terjadi 5. Inpeksi kulit dan
pertahanan
tanda-tanda membrane mukosa selama
primer, infeksi kemerahan, panas tinggi
 Suhu tubuh atau drainase
kerusakan kulit, dalam batas
normal Rasional :
trauma jaringan
 Kadar WBC 1. Mengetahui secara dini
prosedur dalam batas terjadinya infeksi
normal (4,10-
invasive
10,9 10^3/UL) 2. Mengurangi kontaminasi
silang
3. Meminimalkan kesempatan
untuk terkontaminasi

4. Membantu mencegah
terjadinya nfeksi yang lebih
luas

5. apabila kulit kembali


kemerahan dan terdapat
drainase purulen
menandakan terjadi
prosesinflamasi bakteri.