Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PENDAHULUAN

TENTANG KOLESTROL

Khoiril Anwar
1720151023

PROGRAM DIPLOMA KEPERAWATAN


STIKES MUHAMMADIYAH KUDUS
2017/2018
A. PENGERTIAN

Asal kata kolesterol berasal dari bahasa Yunani, chole yang berarti empedu, dan
stereo yang berarti padat. Kolesterol adalah senyawa lemak yang lunak, berbentuk seperti
lilin yang ditemukan di antara lipid dalam aliran darah dan dalam semua sel tubuh.
Diperlukan untuk membentuk membran sel, hormon, dan fungsi-fungsi tubuh lainnya
(Mackay, 2004).

Kolesterol merupakan zat berlemak yang diproduksi oleh hati. Kolesterol dapat
ditemukan diseluruh tubuh dan berperan penting terhadap terhadap fungsi tubuh sehari-
hari (Simple Guide kolesterol,2007).

Selain itu, kolesterol merupakan bahan semacam lilin dan seperti lemak yang
sesungguhnya diperlukan untuk kesehatan kita. Kolesterol merupakan komponen esensial
dari setiap sel dan diperlukan oleh tubuh untuk melakukan banyak fungsi dasar.
Kolesterol membantu hati menghasilkan empedu, yang diperlukan untuk mencerna
lemak, dan merupakan bahan pembentuk yang darinya tubuh membuat kalenjar adrenal
dan hormon seks. Kolesterol juga membentuk jubah pelindung disekitar dinding sel dan
selubung mielin saraf, serta bekerja sebagai pelumas pada dinding arteri, membantu
kelancaran aliran darah.

Kolesterol dalam jumlah seimbang sangat penting bagi tubuh. Terlalu sedikit
kolesterol tidaklah sehat, sama dengan terlalu banyak. Kadar kolesterol di bawah 135 bisa
merupakan tanda adanya stres kalenjer adrenal, kerusakan hati yang berat (akibat bahan
kimia, obat, atau hepatitis), serta gangguan autoimun atau “penyerangan diri sendiri”
seperti alergi, lupus, dan artritis rematoid. Kadar kolesterol yang menurun juga telah
dihubungkan dengan kanker dan gangguan fungsi kekebalan tubuh secara umum yang
tampak melalui kelelahan. Jika jumlah lebih banyak dari yang bisa diproses dan
digunakan oleh tubuh, kolesterol bisa disimpan dalam dinding pembuluh darah, dimana
kemudian menjadi berbahaya bagi tubuh. Kenaikan kadar kolesterol, yaitu angkannya
lebih dari 200, merupakan faktor risiko tunggal yang paling penting pada penyakit
jantung koroner. Hubungan antara kadar kolesterol dan penyakit jantung sangat rumit,
karena kenyataannya bahwa tubuh menghasilkan dua bentuk utama dari kolesterol.
Kolesterol dibawa melalui aliran darah dalam dua komponen protein : lipoprotein
berdensitas rendah (Low Density Lipoprotein/HDL) dan lipoprotein berdensitas tinggi
(High Density Lipoprotein/HDL). LDL dianggap kolesterol yang “jahat”, atau merusak,
karena membawa kolesterol dari hati ke sel-sel tubuh dan pembuluh darah dimana
kolesterol itu kemudian tinggal di dalam sel-sel yang melapisi dinding arteri. Sedangkan
HDL dianggap “baik”, atau melindungi, karena membaawa kolesterol dari dinding arteri
ke hati, di mana kolesterol dipecah untuk dibuang dari tubuh.

B. KLASIFIKASI

Klasifikasi kolesterol total , kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserida


(Adam, 2006). Klasifikasi kolesterol total , kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan
trigliserida menurut NCEP-ATP III (mg/dl)

1. Kolesterol Total

Normal
<200

Mengkhawatirkan
200-239

Tinggi
>240

2. Kolesterol LDL

<100 Optimal

100-129 Sub Optimal


130-159 Mengkhawatirkan
160-189 Tinggi
>190 Sangat Tinggi
3. Kolesterol HDL

>60 Tinggi

41-59 Mengkhawatirkan

<40 Rendah

4. Trigliserida

<150 Normal

150-199 Ambang tinggi

200-499 Tinggi

>500 Sangat Tinggi

C. ETIOLOGI

Kadar lipoprotein, terutama kolesterol LDL, meningkat sejalan dengan


bertambahnya usia. Dalam keadaan normal, pria memiliki kadar yang lebih tinggi, tetapi
setelah menopause kadarnya pada wanita mulai meningkat. Faktor lain yang
menyebabkan tingginya kadar lemak tertentu (misalnya VLDL dan LDL) adalah :

1. Riwayat keluarga dengan kolestrol


2. Obesitas
3. Diet kaya lemak
4. Kurang melakukan olah raga
5. Penggunaan alcohol
6. Merokok sigaret
7. Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik
8. Kelenjar tiroid yang kurang aktif.

Sebagian besar kasus peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol total bersifat
sementara dan tidak berat, dan terutama merupakan akibat dari makan
lemak.Pembuangan lemak dari darah pada setiap orang memiliki kecepatan yangberbeda.
Seseorang bisa makan sejumlah besar lemak hewani dan tidak pernahmemiliki kadar
kolesterol total lebih dari 200 mg/dL, sedangkan yang lainnyamenjalani diet rendah
lemak yang ketat dan tidak pernah memiliki kadarkolesterol total dibawah 260 mg/dL.
Perbedaan ini tampaknya bersifat genetik dansecara luas berhubungan dengan perbedaan
kecepatan masuk dan keluarnyalipoprotein dari aliran darah.

D. Patofisiologi

Kerja jantung terutama ditentukan oleh besarnya curah jantung dan tahanan
perifer. Curah jantung pada penderita hipertensi umumnya normal. Kelainannya terutama
pada peninggian tahanan perifer. Kenaikan tahanan perifer ini disebabkan karena
vasokonstriksi arteriol akibat naiknya tonus otot polos pembuluh darah tersebut. Bila
hipertensi sudah berjalan cukup lama maka akan dijumpai perubahan-perubahan
struktural pada pembuluh darah arteriol berupa penebalan tunika interna dan hipertropi
tunika media. Dengan adanya hipertropi dan hiperplasi, maka sirkulasi darah dalam otot
jantung tidak mencukupi lagi sehingga terjadi anoksia relatif. Keadaan ini dapat diperkuat
dengan adanya sklerosis koroner

E. Patwhey
F. MANIFESTASI KLINIS

Sebagian besar pasien tidak merasakan gejala hiperlipidemia selama beberapa


tahun hingga penyakit tersebut sudah terbukti secara klinis. Pasien dengan sindrom
metabolik mempunyai tiga atau lebih tanda berikut ini: tekanan darah tinggi, resistensi
insulin dengan atau tanpa intoleransi glukosa dan perut membesar. Berikut ini merupakan
tanda dan gejala pada pasien kolestrol.

Gejala:

1. Nyeri abdominal
2. Nyeri dada
3. Palpitasi
4. Nafas pendek
5. Berkeringat
6. Cemas.
7. Kehilangan kesadaran
8. Sulit berbicara / bergerak

Tanda:

1. Pancreatitis
2. Polineuropati
3. Tekanan darah naik
4. BMI > 30 kg/m2

Tes laboratorium:

1. Peningkatan kadar kolesterol total, trigliserida, LDL, apolipoprotein B dan C-


reaktif.
2. Penurunan kadar HDL
G. Data penunjang

Kadar kolesterol pada darah dapat diukur dengan tes darah sederhana. Sampel
darah tersebut nantinya akan dipakai untuk menentukan tingkat kolesterol total,
kolesterol jahat (LDL), kolesterol baik (HDL), serta trigliserida di dalam darah. Sebelum
melakukan tes, biasanya pasien akan diminta untuk tidak makan selama 10-12 jam.
Tujuannya agar hasil tes tidak terpengaruh oleh makanan yang masih dicerna. Setelah
pemeriksaan selesai dan hasilnya didapat, maka dokter akan menjelaskan kepada pasien
dan menyimpulkan apakah pasien tersebut memiliki risiko rendah, menengah, atau tinggi
untuk terkena penyakit kardiovaskular, seperti penyakit stroke atau penyakit jantung
dalam kurun waktu 10 tahun. Kesimpulan tersebut tidak hanya didasarkan pada hasil tes
kolesterol, namun juga didapat dengan memperhitungkan hal-hal berikut ini.

1. Jenis kelamin
2. riwayat keluarga
3. etnis
4. usia.

Faktor-faktor risiko yang dapat diobati, sepertidiabetes, tekanan darah tinggi, dan
penyakit lainnya. Indeks massa tubuh pasien yang ukurannya didapat dari perbandingan
berat badan pasien dengan tinggi badan. Untuk mengukur kadar kolesterol total,
kolesterol darah diukur dengan satuan yang disebut milimol per liter darah, atau biasa
disingkat dengan mmol/L. Bagi orang dewasa yang sehat, tingkat kolesterol yang
disarankan adalah 5 mmol/L atau kurang. Sedangkan bagi mereka yang berisiko tinggi,
disarankan 4 mmol/L atau kurang. Kadar kolesterol jahat (LDL) yang ideal adalah 3
mmol/L atau kurang bagi orang-orang dewasa yang sehat dan 2 mmol/L atau kurang bagi
mereka yang berisiko tinggi. Kadar ideal kolesterol baik adalah di atas 1 mmol/L. Jika di
bawah itu, maka risiko terkena penyakit jantung akan tinggi. Selain memeriksa kadar
kolesterol, kadar trigliserida juga akan diperiksa. Trigliserida merupakan lemak dalam
tubuh yang akan diubah menjadi energi. Zat ini bersumber dari konsumsi makanan
berlemak. Trigliserida yang tidak terpakai akan disimpan tubuh di dalam jaringan lemak.
Kelebihan trigliserida dapat menyebabkan penyakit jantung. Kadar trigliserida yang
dianjurkan adalah sama dengan/atau di bawah 1.7 mmol/l. Orang-orang yang disarankan
menjalani pemeriksaan kolesterol.Seseorang disarankan menjalani pemeriksaan kadar
kolesterol darah jika:

a. Berusia di atas empat puluh tahun.


b. Menderita diabetes atau tekanan darah tinggi.
c. Kelebihan berat badan atau obesitas.
d. Terdiagnosis mengidap stroke ringan, penyakit arteri perifer, atau jantung
koroner.
e. Memiliki penyakit lain, seperti penyakit ginjal, radang pankreas atau pankreatitis,
atau kelenjar tiroid yang kurang aktif. Penyakit-penyakit tersebut dapat
meningkatkan kadar trigliserida dan kolesterol.
f. Memiliki keluarga dekat yang memiliki gangguan kesehatan terkait kolesterol,
seperti familial hypercholesterolaemia.
g. Memiliki riwayat keluarga berpenyakit kardiovaskular dini (misalnya ayah atau
saudara laki-laki yang terkena stroke, penyakit jantung, atau serangan jantung di
bawah usia 55 tahun dan ibu atau saudara perempuan yang terkena penyakit
tersebut di bawah usia 65 tahun).

H. Komplikasi

Tubuh membutuhkan kolesterol, namun dalam batas yang normal. Kolesterol ini
berperan penting dalam tubuh untuk membuat vitamin D dan hormon, dan juga dalam
sintetis asam empedu yang dibutuhkan untuk proses pencernaan lemak atau minyak.
Namun ketika kolesterol berada dalam jumlah berlebih, apalagi jika itu adalah kolesterol
jahat (LDL) harus segera diatasi dengan cara menurunkan kolesterol tinggi. Jika tidak
maka akan berisiko menjadi sumber berbagai penyakit, seperti:

1. Penyakit jantung koroner

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah kondisi ketika pembuluh darah atau
arteri utama yang menyuplai darah ke jantung mengalami sumbatan. Sumbatan ini bisa
disebabkan beberapa hal, salah satunya yaitu kolesterol. Ketika kolesterol berada dalam
jumlah berlebih dan menempel pada dinding arteri, akan membuat pembuluh arteri
menyempit sehingga aliran darah terhambat. Kurangnya aliran darah yang mengalir ke
jantung akan menyebabkan rasa nyeri pada dada dan juga sesak napas. Ketika sumbatan
ini telah menutup aliran darah ke jantung, maka akan membuat penderitanya mengalami
serangan jantung.

2. Stroke

Tingginya kadar LDL dan lemak dalam darah dapat meningkatkan risiko
terjadinya penggumpalan darah. Ketika gumpalan darah ini terjadi pada bagian otak,
maka aliran darah dan oksigen yang masuk ke dalam otak akan terganggu, sehingga
menyebabkan terjadinya stroke.

3. Diabetes melitus

Kolesterol dan diabetes dapat saling memperburuk kondisi satu sama lain
karena termasuk ke dalam salah satu sindrom metabolik. Istilah ini digunakan untuk
menggambarkan kombinasi dari sejumlah penyakit, yaitu kolesterol, diabetes, hipertensi,
dan obesitas. Dokter hanya akan menggunakan istilah ini jika seseorang mengalami lebih
dari satu masalah kesehatan, seperti kolesterol dan diabetes.

4. Tekanan darah tinggi

Sama halnya dengan diabetes, kolesterol dan hipertensi termasuk ke dalam


sindrom metabolik. Plak yang muncul akibat LDL berlebih akan membuat arteri
menyempit. Akibatnya jantung harus bekerja keras untuk memompa aliran darah agar
dapat mengalir. Inilah yang menyebabkan tekanan darah akan menjadi tinggi.

5. Penyakit arteri perifer

Penyakit ini terjadi ketika arteri yang mengalirkan darah ke kaki tersumbat.
Sumbatan ini bisa disebabkan oleh timbunan lemak dari kolesterol atau zat buangan
lainnya. Ketika hal ini terjadi, kaki tidak akan mendapatkan aliran darah yang cukup
sehingga akan terasa sakit. Rasa sakit ini bervariasi tergantung tingkat keparahannya.
Kelima penyakit di atas bisa dikatakan sebagai penyakit kritis yang cukup berbahaya.
Itulah sebabnya sangat penting bagi Anda untuk bisa mengatur kadar LDL dalam tubuh
Anda. Caranya tidak sulit, cukup menerapkan gaya hidup TANGKAL yang terdiri dari 7
Langkah Tangkal Kolesterol yaitu:

a. Teratur periksa kolesterol


b. Awasi asupan dan pola makan
c. Nikmati hidup tanpa rokok dan minuman beralkohol
d. Giat Berolahraga dengan senam B-FIT
e. Kendalikan berat badan dan hindari stress
f. Awasi tekanan darah
g. Lengkapi dengan Nutrive Benecol 2x sehari.

I. Penatalaksanaan

Terapi utama untuk hiperlipidemia adalah diet dan modifikasi gaya hidup, diikuti dengan
terapi obat, sesuai kebutuhan.

1. Olahraga teratur dapat meningkatkan tingkat HDL dan trigliserida, tetapi memiliki
sedikit efek pada LDL. Aktivitas fisik sedang hingga rendah, seperti berjalan kaki,
menurunkan kadar trigliserida rata-rata 10 mg/dL, sementara meningkatkan HDL
rata-rata sebesar 5 mg/dL. Aktivitas lebih berat mungkin memiliki efek lebih besar.
2. HMG-CoA reduktase inhibitor (statin) menurunkan produksi kolesterol di hati, dan
merupakan obat lini pertama dalam pengobatan kolesterol LDL tinggi. Statin juga
memiliki efek penting pada risiko kardiovaskular, dan mungkin bahkan
direkomendasikan untuk individu yang berisiko tinggi dengan kadar kolesterol
normal. Namun, potensi efek samping termasuk nyeri otot dan gangguan hati. Selain
itu, beberapa statin juga dapat menurunkan HDL.
3. Sequestrant asam empedu (misalnya, cholestyramine dan colestipol) adalah lini kedua
agen untuk pengobatan kolesterol LDL tinggi. Mereka mengurangi penyerapan
kolesterol dari usus. Obat-obat ini dapat menghasilkan ketidaknyamanan pencernaan,
sembelit, dan gangguan penyerapan obat lain.
4. Fibrate (misalnya, gemfibrozil dan fenofibrate) digunakan sebagai pengobatan lini
pertama untuk peningkatan kadar trigliserida dan dapat digunakan dalam kombinasi
dengan obat-obatan di atas. Potensi efek samping termasuk batu empedu, gangguan
pencernaan, dan gangguan otot.
5. Asam nikotinat (niacin) adalah terapi lini kedua untuk semua gangguan lipid. Niacin
sering dikombinasikan dengan statin, tetapi juga efektif sebagai agen tunggal. Efek
samping termasuk gatal-gatal kulit atau terbakar, ketidaknyamanan pencernaan,
kerusakan hati, gula darah tinggi, dan asam urat.
6. Ezetimibe dan colesevelam juga mengurangi penyerapan kolesterol dari usus, dan
telah muncul sebagai terapi lini kedua yang disukai karena efektivitas, keamanan, dan
kurangnya efek samping. Obat ini menurunkan LDL dan sering meningkatkan HDL,
dan sangat efektif bila dikombinasikan dengan statin.

J. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Aktifitas/ istirahat
Gejala : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton
Tanda : Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung,
takipnea
b. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner aterosklerosis.
Tanda : Kenaikan tekanan darah, tachycardi, disrythmia, denyutan nadi
jelas, bunyi jantung murmur, distensi vena jugularis
c. Integritas Ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria,
marah, faktor stress multiple (hubungan, keuangan, pekerjaan)
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian,
tangisan yang meledak, otot muka tegang (khususnya sekitar mata),
peningkatan pola bicara
d. Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi, obstruksi,
riwayat penyakit ginjal ), obstruksi.
e. Makanan/ cairan
Gejala : Makanan yang disukai (tinggi garam, tinggi lemak, tinggi
kolesterol), mual, muntah, perubahan berat badan (naik/ turun), riwayat
penggunaan diuretik.
Tanda : Berat badan normal atau obesitas, adanya oedem.
f. Neurosensori
Gejala : Keluhan pusing berdenyut, sakit kepala sub oksipital,
gangguan penglihatan.
Tanda : Status mental: orientasi, isi bicara, proses berpikir,memori,
perubahan retina optik. Respon motorik : penurunan kekuatan
genggaman tangan.
g. Nyeri/ ketidaknyamanan
Gejala : Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, nyeri abdomen/
masssa.
Pernafasan
Gejala : Dyspnea yang berkaitan dengan aktifitas/ kerja, tacyhpnea,
batuk dengan/ tanpa sputum, riwayat merokok.
Tanda : Bunyi nafas tambahan, cyanosis, distress respirasi/
penggunaan alat bantu pernafasan.
h. Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi, cara brejalan.
2. Pemeriksaan Diagnostik
a. Hb: untuk mengkaji anemia, jumlah sel-sel terhadap volume cairan
(viskositas).
b. BUN: memberi informasi tentang fungsi ginjal.
c. Glukosa: mengkaji hiperglikemi yang dapat diakibatkan oleh
peningkatan kadar katekolamin (meningkatkan hipertensi).
1) Kalsium serum
2) Kalium serum
3) Kolesterol dan trygliserid
4) Urin analisa
5) Foto dada
6) CT Scan
7) EKG
3. Diagosa Keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman nyeri (sakit kepala) b/d peningkatan tekanan
vaskuler serebral.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake nutrisi inadekuat
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum,
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
d. Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping
tidak efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistic.
e. Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan
dengan kurangn
f. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan
vasokontriksi pembuluh darah.
g. Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan defisit
lapang pandang, motorik atau persepsi.
4. Intervensi
a. Gangguan rasa nyaman nyeri (sakit kepala) b.d peningkatan tekanan
vaskuler serebral
Tujuan : Menghilangkan rasa nyeri
Kriteria hasil :
 Melaporkan ketidanyamanan hilang atau terkontrol.
 Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan.
Intervensi :
 Pertahankan tirah baring selama fase akut.
R/ Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan relaksasi.
 Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit
kepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan
leher.
R/Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral, efektif
dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.
 Hilangkan/minimalkan aktifitas vasokontraksi yang dapat
meningkatkan sakit kepala, misalnya batuk panjang, mengejan
saat BAB.
R/Aktifitas yang meningkatkan vasokontraksi menyebabkan sakit
kepala pada adanya peningkatan vaskuler serebral.
 Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
R/Meminimalkan penggunaan oksigen dan aktivitas yang
berlebihan yang memperberat kondisi klien.
 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik, anti
ansietas, diazepam dll.
R/Analgetik menurunkan nyeri dan menurunkan rangsangan saraf
simpatis.

b. G3 pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d


intake nutrisi inadekuat
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil :
 Klien menunjukkan peningkatan berat badan
 Menunjukkan perilaku meningkatkan atau mempertahankan
berat badan ideal
Intervensi
 Bicarakan pentingnya menurunkan masukan lemak, garam dan
gula sesuai indikasi.
R/Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya
aterosklerosis, kelebihan masukan garam memperbanyak
volume cairan intra vaskuler dan dapat merusak ginjal yang
lebih memperburuk hipertensi.

 Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet.


R/Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dalam program diit
terakhir..
 Dorong klien untuk mempertahankan masukan makanan harian
termasuk kapan dan dimana makan dilakukan, lingkungan dan
perasaan sekitar saat makanan dimakan.
R/Memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang
dimakan dan kondisi emosi saat makan, membantu untuk
memfokuskan perhatian pada factor mana pasien telah/dapat
mengontrol perubahan.
 Intruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat, hindari
makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur,
es krim, daging dll) dan kolesterol (daging berlemak, kuning
telur, produk kalengan,jeroan).
R/Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol
penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis.
 Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi.
R/Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi
kebutuhan diet individual.

c. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum, ketidakseimbangan antara


suplai dan kebutuhan O2.
Tujuan : tidak terjadi intoleransi aktivitas
Kriteria Hasil :
 Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di inginkan atau
diperlukan
 Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat
diukur.
Intervensi
 Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan
parameter : frekwensi nadi 20 x/menit diatas frekwensi
istirahat, catat peningkatan TD, dipsnea, atau nyeri dada,
kelelahan berat dan kelemahan, berkeringat, pusing atau
pingsan.
R/Parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap
stress, aktivitas dan indikator derajat pengaruh kelebihan kerja
jantung.
 Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan
kelemahan/kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan
perhatian pada aktivitas dan perawatan diri.
R/Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan
tingkat aktivitas individual.
 Dorong memajukan aktivitas/toleransi perawatan diri.
R/Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat
meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas
bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung.
 Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan
kursi mandi, menyikat gigi/rambut dengan duduk dan
sebagainya.
R/ Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi
dan sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan
oksigen.
 Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam memilih periode
aktivitas.
R/Jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas
dan mencegah kelemahan.

d. Inefektif koping individu b.d mekanisme koping tidak efektif, harapan


yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistik.
Tujuan : klien menunjukkan tidak ada tanda-tanda inefektif koping
Kriteria Hasil :
 Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya
 menyatakan kesadaran kemampuan koping / kekuatan pribadi
 mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil
langkah untuk menghindari dan mengubahnya.
Intervensi
 Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi
perilaku, Misalnya : kemampuan menyatakan perasaan dan
perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan.
R/Mekanisme adaptif perlu untuk megubah pola hidup seorang,
mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasikan terapi yang
diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari.
 Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan
konsentrasi, peka rangsangan, penurunan toleransi sakit kepala,
ketidak mampuan untuk mengatasi/menyelesaikan masalah.
R/Manifestasi mekanisme koping maladaptif mungkin
merupakan indicator marah yang ditekan dan diketahui telah
menjadi penentu utama TD diastolic.
 Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan
kemungkinan strategi untuk mengatasinya.
R/Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam
mengubah respon seseorang terhadap stressor.
 Libatkan klien dalam perencanaan perwatan dan beri dorongan
partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan.
R/Keterlibatan memberikan klien perasaan kontrol diri yang
berkelanjutan. Memperbaiki keterampilan koping, dan dapat
menigkatkan kerjasama dalam regiment teraupetik.
 Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan
perubahan hidup yang perlu. Bantu untuk menyesuaikan
ketimbang membatalkan tujuan diri / keluarga.
R/Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistic
untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya.
DAFTAR PUSTAKA

Dali S. Naga, Pengantar Teori kolesterol(Jakarta: Besbats, 1992),h.306.


Ronald K. Hambleton, H. Swaminathan dan H. Jane Rogers,
Fundamentals keperawatan(London: Sage Publications, 1991), hh. 12-13.
Hambleton, Ronald K., H. Swaminathan, dan H. Jane Rogers.
Fundamentals of Item Response Theory (London: Sage
Publications, 1991),
Mackay J, Mensah GA, 2004. The Atlas of Heart Disease and Stroke.
GenevaWHO, 30-49
Mensink RP, Zock PL , Kester ADM, Katan MB, 2003. Effects of dietary
fattyacids and carbohydrates on the ratio of serum total to HDL cholesterol
andon serum lipids and apolipoproteins: a meta-analysis of 60 controlled
trials. Am J Clin Nutr ;77, 1146–55.