Anda di halaman 1dari 14

F.

Manifestasi Klinik
Menurut Arif masjoer (2001), Gejala yang muncul dapat berbeda
tergantung pada kegagalan ventrikel mana yang terjadi.
1. Gagal jantung kiri
Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri karena ventrikel
kiri tak mampu memompa darah yang datang dari paru. Manifestasi
klinis yang terjadi, yaitu:
a. Dispnue
Terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli dan mengganggu
pertukaran gas. Dapat terjadi ortopnue. Beberapa pasien dapat
mengalami ortopnu pda malam hari yang dinamakan Paroksimal
Nokturnal Dispnea ( PND).
b. Batuk
c. Mudah lelah
Terjadi karena curah jantung yang kurang yang menghambat
jaringan dari dari sirkulasi normal dan oksigen serta menurunnya
pembuangan sisa hasil katabolisme juga terjadi karena meningkatnya
energi yang digunakan untuk bernafas dan insomnia yang terjadi
karena distress pernafasan dan batuk.
d. Kegelisahan dan kecemasan
Terjadi akibat gangguan oksigenasi jaringan, stress akibat kesakitan
bernapas dan pengetahuan bahwa jantung tidak berfungsi dengan
baik.
2. Gagal jantung kanan:
a. Kongestif jaringan perifer dan viseral.
b. Edema ekstrimitas bawah (edema dependen), biasanya edema
pitting, penambahan berat badan.
c. Hepatomegali. Nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen
terjadi akibat pembesaran vena di hepar.
d. Anorexia dan mual.
e. Nokturia
f. Kelemahan.
18
A. Pemeriksaan Penunjang
1. EKG (elektrokardiogram): untuk mengukur kecepatan dan
keteraturan denyut jantung. EKG: Hipertrofi atrial atau ventrikuler,
penyimpangan aksis, iskemia san kerusakan pola mungkin terlihat.
Disritmia mis: takhikardi, fibrilasi atrial. Kenaikan segmen ST/T
persisten 6 minggu atau lebih setelah imfark miokard menunjukkan
adanya aneurime ventricular.
2. Echokardiogram: menggunakan gelombang suara untuk mengetahui
ukuran dan bentuk jantung, serta menilai keadaan ruang jantung dan
fungsi katup jantung. Sangat bermanfaat untuk menegakkan
diagnosis gagal jantung.
3. Foto rontgen dada: untuk mengetahui adanya pembesaran jantung,
penimbunan cairan di paru-paru atau penyakit paru lainnya.
4. Tes darah BNP: untuk mengukur kadar hormon BNP (B-type
natriuretic peptide) yang pada gagal jantung akan meningkat.
5. Sonogram: Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik,
perubahan dalam fungsi/struktur katub atau are penurunan
kontraktilitas ventricular.
6. Scan jantung: Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan
pergerakan dinding.
7. Kateterisasi jantung: Tekanan abnormal merupakan indikasi dan
membantu membedakan gagal jantung sisi kanan verus sisi kiri, dan
stenosi katup atau insufisiensi, Juga mengkaji potensi arteri kororner.
Zat kontras disuntikkan kedalam ventrikel menunjukkan ukuran
abnormal dan ejeksi fraksi/perubahan kontrktilitas.

19
B. Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan

Tujuan pengobatan adalah:


1. Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung.
2. Meningkatkan kekuatan dan efisiensi kontraktilitas miokarium
dengan preparat farmakologi.
3. Membuang penumpukan air tubuh yang berlebihan dengan cara
memberikan terapi antidiuretik, diit dan istirahat.
4. Mengatasi keadaan yang reversible, termasuk tiroksikosis,
miksedema, dan aritmia digitalisasi
5. Meningkatkan oksigenasi dengan pemberian oksigen dan
menurunkan konsumsi O2 melalui istirahat/pembatasan aktivitas
Terapi farmakologis:
1. Glikosida jantung.
Digitalis, meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung
dan memperlambat frekuensi jantung. Efek yang dihasilkan:
peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan volume
darah dan peningkatan diuresisidan mengurangi edema.
2. Terapi diuretik.
Diberikan untuk memacu eksresi natrium dan air mlalui
ginjal. Penggunaan harus hati–hati karena efek samping
hiponatremia dan hipokalemia.
3. Terapi vasodilator.
Obat-obatfasoaktif digunakan untuk mengurangi impadansi
tekanan terhadap penyemburan darah oleh ventrikel. Obat ini
memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas
vena sehingga tekanan pengisian ventrikel kiri dapat diturunkan.

20
C. Asuhan Keperawatan (Teoritis)
1. Pengkajian Teoritis
a. Primary Survey
1) Airway
Biasanya pada klien dengan gagal jantung akan terdengar
suara tambahan yaitu wheezing.
2) Breathing
Biasanya pada klien dengan gagal jantung, pernafasan tidak
teratur, dispnea, menggunakan pernapasan dada/ perut
3) Circulation
Biasanya pada klien dengan gagal jantung akral akan
menjadi dingin dan klien akan tampak pucat
b. Secondary Survey
Anamnesa
1) Identitas Klien
Meliputi nama, tempat tanggal lahir, umur, nama ayah/ibu,
pekerjaan ayah dan ibu, alamat, agama, suku bangsa,
pendidikan ayah dan ibu.
2) Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama
Biasanya klien akan merasa dispneu, edema periper,
kelelahan dan kelemahan.
b) Riwayat Kesehatan Saat Ini
Mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien
mencari pertolongan, dikaji dengan menggunakan
pendekatan PQRST:
P : Apa yang menyebabkan timbulnya keluhan.
Q : Bagaimana keluhan dirasakan oleh klien, apakah
hilang, timbul atau terus- menerus (menetap).
R : Di daerah mana gejala dirasakan
S : Seberapa keparahan yang dirasakan klien

21
T : Kapan keluhan timbul, sekaligus faktor yang
memperberat dan memperingan keluhan.
c) Riwayat kesehatan yang lalu
Apakah pasien menderita:
 Hipertensi
 Hiperliproproteinemia
 Diabetes melitus
 Rematik fever dan penggunaan obat-obatan tertentu.
d) Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat penyakit cardiovaskuler, DM, Penyakit renal
dan predisposisi genetik.
3) Pemeriksaan fisik/ Fokus pengkajian
Menurut Doenges (2000: 52) pengkajian fokusnya adalah
sebagai berikut:
a) Aktivitas/istirahat
a. Gejala: Keletihan/kelelahan terus menerus sepanjang
hari, insomnia, nyeri dada dengan aktivitas, dispnea
pada saat istirahat.
b. Tanda: Gelisah, perubahan status mental mis: letargi,
tanda vital berubah pada aktivitas.
b) Sirkulasi
a. Gejala: Riwayat HT, IM baru/akut, episode GJK
sebelumnya, penyakit jantung , bedah jantung ,
endokarditis, anemia, syok septic, bengkak pada kaki,
telapak kaki, abdomen.
b. Tanda:
1. TD ; mungkin rendah (gagal pemompaan).
2. Tekanan Nadi ; mungkin sempit.
3. Irama Jantung ; Disritmia.
4. Frekuensi jantung ; Takikardia.
5. Nadi apical ; PMI mungkin menyebar dan merubah
6. posisi secara inferior ke kiri.
22
7. Bunyi jantung ; S3 (gallop) adalah diagnostik, S4
dapat
8. terjadi, S1 dan S2 mungkin melemah.
9. Murmur sistolik dan diastolik.
10. Warna ; kebiruan, pucat abu-abu, sianotik.
11. Punggung kuku ; pucat atau sianotik dengan
pengisian
12. kapiler lambat.
13. Hepar ; pembesaran/dapat teraba.
14. Bunyi napas ; krekels, ronkhi.
15. Edema ; mungkin dependen, umum atau pitting
16. khususnya pada ekstremitas.
c) Integritas ego
a. Gejala: Ansietas, kuatir dan takut. Stres yang
berhubungan dengan penyakit/keperihatinan finansial
(pekerjaan/biaya perawatan medis)
b. Tanda: Berbagai manifestasi perilaku, misalnya:
ansietas, marah, ketakutan dan mudah tersinggung.
d) Eliminasi
Gejala: Penurunan berkemih, urine berwana gelap,
berkemih malam hari (nokturia), diare/konstipasi.
e) Makanan/cairan
a. Gejala: Kehilangan nafsu makan, mual/muntah,
penambahan berat badan signifikan, pembengkakan
pada ekstremitas bawah, pakaian/sepatu terasa sesak,
diet tinggi garam/makanan yang telah diproses dan
penggunaan diuretic.
b. Tanda: Penambahan berat badan cepat dan distensi
abdomen (asites) serta edema (umum, dependen,
tekanan dan pitting).

23
f) Higiene
a. Gejala: Keletihan/kelemahan, kelelahan selama
aktivitas Perawatan diri.
b. Tanda: Penampilan menandakan kelalaian perawatan
personal.
g) Neurosensori
a. Gejala: Kelemahan, pening, episode pingsan.
b. Tanda: Letargi, kusut pikir, diorientasi, perubahan
perilaku dan mudah tersinggung.
h) Nyeri/Kenyamanan
a. Gejala: Nyeri dada, angina akut atau kronis, nyeri
abdomen kanan atas dan sakit pada otot.
b. Tanda: Tidak tenang, gelisah, focus menyempit
danperilaku melindungi diri.
i) Pernapasan
a. Gejala : Dispnea saat aktivitas, tidur sambil duduk
atau dengan beberapa bantal, batuk dengn/tanpa
pembentukan sputum, riwayat penyakit kronis,
penggunaan bantuan pernapasan.
b. Tanda :
1) Pernapasan : takipnea, napas dangkal, penggunaan
otot asesori pernpasan.
2) Batuk: Kering/nyaring/non produktif atau mungkin
batuk terus menerus dengan/tanpa pemebentukan
sputum.
3) Sputum: Mungkin bersemu darah, merah
muda/berbuih (edema pulmonal)
4) Bunyi napas: Mungkin tidak terdengar.
5) Fungsi mental: Mungkin menurun, kegelisahan,
letargi.
6) Warna kulit: Pucat dan sianosis.

24
j) Keamanan
Gejala: Perubahan dalam fungsi mental, kehilangan
kekuatan / tonus otot, kulit lecet.

c. Analisa Data
No Data Etologi Problem
1. Batasan Karakteristik Arteri skeloris koroner, Ketidakefektifan
- Perubahan kedalaman faktor sistemik pola nafas
pernafasan (hipoksia), hipertensi
- Penuruan tekanan sistemik pulmonal,
ekspirasi beban volume
- Pernafasan cuping berlebihan, penyakit
hidung jantung (stenosis katup
- Fase ekspirasi AV, Stenosis katup
memanjang tamponade, tamponade
- Pernafasan bibir perikardium,
perikarditis
konstruktif)

CHF

Backward failure

↑ tekanan ventrikel dan
atrium kiri

↑ tekanan pulmonal

↑ tekanan kapiler

25
Edema paru

Kompensasi sistem
pernafasan

Ventilasi paru ↑

Takipneu

Ketidakefektifan pola
nafas
2. Batasan Karakteristik : Arteri skeloris koroner, Penurunan curah
- Perubahan EKG faktor sistemik jantung
- Penurunan tekanan (hipoksia), hipertensi
vena sentral sistemik pulmonal,
- Penurunan tekanan beban volume
arteri paru berlebihan, penyakit
- Edema jantung (stenosis katup
- Distensi vena AV, Stenosis katup
jugularis tamponade, tamponade
- Dispneu perikardium,
- Perubahan warna perikarditis
kulit konstruktif)
- Gelisah CHF

Gagal jantung ventrikel
kiri

Forward failure

Suplai darah dan O2 ke

26
jaringan ↓

Metabolisme anaerob

Pemakaian glikolisis
dan ATP dalam tubuh↓

Kompensasi sistem
kardiovaskuler

Penurunan
kontraktilitas jantung

Cardiac Output ↓

Penurunan curah
jantung
3. Batasan karakteristik : Arteri skeloris koroner, Kelebihan volume
- Asupan berlebihan faktor sistemik cairan
dibanding output (hipoksia), hipertensi
- Tekanan darah sistemik pulmonal,
berubah, tekanan beban volume
arteri pulmonalis berlebihan, penyakit
berubah, jantung (stenosis katup
peningkatan CVP AV, Stenosis katup
- Distensi vena tamponade, tamponade
jugularis perikardium,
- Perubahan pada perikarditis
pola nafas konstruktif)
(dyspnoe) ↓
CHF

27

Backward failure

↑ tekanan ventrikel dan
atrium kiri

↑ tekanan pulmonal

↑ tekanan kapiler

Beban ventrikel
kanan↑

Hipertropi ventrikel
kanan

Penyempitan lumen
ventrikel kanan

Gagal pompa ventrikel
kanan

Tekanan diastol ↑

Bendungan ventrikel
kanan

Bendungan vena
Sistemik

Peningkatan

28
permeabilitas

Asites

Kelebihan volume
cairan
4. Batasan Karakteristik Arteri skeloris koroner, Intoleransi Aktivitas
- Respon frekuensi faktor sistemik
jantung abnormal (hipoksia), hipertensi
terhadap aktivitas sistemik pulmonal,
- Perubahan EKG yang beban volume
mencerminkan iskemia berlebihan, penyakit
- Ketidaknyamanan jantung (stenosis katup
setelah beraktivitas AV, Stenosis katup
- Menyatakan merasa tamponade, tamponade
lemah perikardium,
- Menyatakan merasa perikarditis
letih konstruktif)

CHF

Gagal jantung ventrikel
kiri

Forward failure

Suplai darah dan O2 ke
jaringan ↓

Metabolisme anaerob

29
Pemakaian glikolisis
dan ATP dalam tubuh↓

Kompensasi tubuh

Fatigue

Intoleransi aktivitas

d. Masalah Keperawatan
1) Intoleransi Aktivitas
2) Ketidakefektifan pola nafas
3) Penurunan curah jantung
e. Diagnosa Keperawatan
1) Ketidakefektifan pola nafas b.d kelelahan otot pernafasan
2) Penurunan curah jantung b.d perubahan volume sekuncup
3) Intoleransi aktivitas b.d kelelahan otot jantung

30
31