Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Dalam kehidupan sehari-hari, rayap belum dianggap sebagai sumber
ancaman yang merugikan. Hal ini berkaitan dengan tingkat apresiasi
masyarakat yang masih rendah terhadap persoalan hama yang merugikan, baik
secara ekonomi pada bangunan, sanitasi, dan kenyamanan lingkungan.
Padahal, kerugian akibat serangan rayap diperkirakan mencapai Rp 2,6 triliun
setahun.
Rayap sebagai serangga yang ada di alam dapat membantu manusia
untuk membersihkan sampah alam, yakni mendekomposisikan sisa kayu dan
sebagainya. Sejalan dengan pertumbuhan permukiman dan perkantoran di
tempat-tempat yang dahulunya tempat koloni rayap hidup, maka muncul
masalah dengan hama rayap. Akibatnya, hama rayap mencari makan di sekitar
bangunan. Hal ini terbukti dengan banyaknya bangunan gedung milik
pemerintah dan swasta serta rumah di daerah permukiman yang sudah
terserang hama rayap.
Barangkali tidak pernah terbayangan sebelumnya oleh kita, bahwa
rayap mampu menerobos saluran instalasi listrik, lorong lift, AC control untuk
menyerang gedung tinggi seperti pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, dan
gedung perkantoran. Di samping itu, rayap mampu memanfaatkan retakan
besar dan celah kecil untuk merayap ke atas menara di antara nat marmer yang
menempel pada dinding bangunan dan lem perekat yang menghubungkan kaca
dengan dinding bangunan.
Adapun rayap yang menyerang sebagian besar gedung bertingkat
adalah dari jenis Coptotermes curvignathus (rayap tanah). Bila rayap sudah
menjadi penghuni gedung, maka dapat dipastikan kondisi bangunan gedung
akan mengalami kerusakan. Sehingga masa pakai gedung lambat laun akan
berkurang.
Dari uraian diatas maka kali ini penulis menyusun makalah dengan
judul “Hama Perusak Bangunan Gedung”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka dalam makalah ini rumusan masalah
yang akan dibahas yaitu :
1. Bagaimana klasifikasi Coptotermes curvignathus (rayap tanah)?
2. Bagaimana struktur morfologi dan anatomi Coptotermes curvignathus ?
3. Bagaimana habitat Coptotermes curvignathus?
4. Bagaimana pencegahan dan pengendalian Coptotermes curvignathus?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui klasifikasi Coptotermes curvignathus (rayap tanah)?
2. Mengetahui struktur morfologi dan anatomi Coptotermes curvignathus ?
3. Mengetahui habitat Coptotermes curvignathus?
4. Mengetahui pencegahan dan pengendalian Coptotermes curvignathus?

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi Rayap


Menurut Nandika et, al. (2003), Coptotermes curvignathus merupakan
rayap tanah yang paling luas seranganya di Indonesia. Klasifikasi rayap tanah
Coptotermes curvignathus sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Artropoda
Kelas : Insecta
Sub-kelas : Pterigota
Ordo : Isoptera
Family : Rhinotermitidae
Sub-Family : Coptotermitinae
Genus : Coptotermes
Spesies : Coptotermes curvignathus

2.2 Morfologi & Anatomi


Rayap yang ditemukan di daerah tropis jumlah telurnya dapat
mencapai ± 36000 sehari bila koloninya sudah berumur ± 5 tahun. Bentuk
telur rayap ada yang berupa butiran yang lepas dan ada pula yang berupa
kelompok terdiri dari 16-24 butir telur yang melekat satu sama lain. Telur-
telur ini berbentuk silinder dengan ukuran panjang yang bervariasi antara 1-
1,5 mm (Hasan, 1986).
Nimfa muda akan mengalami pergantian kulit sebanyak 8 kali, sampai
kemudian berkembang menjadi kasta pekerja, prajurit dan calon laron
(Nandika dkk, 2003).
Kepala berwarna kuning, antena, labrum, dan pronotum kuning pucat.
Bentuk kepala bulat ukuran panjang sedikit lebih besar daripada lebarnya.
Antena terdiri dari 15 segmen. Mandibel berbentuk seperti arit dan
melengkung diujungnya, batas antara sebelah dalam dari mandibel kanan
sama sekali rata. Panjang kepala dengan mandibel 2,46-2,66 mm, panjang
mandibel tanpa kepala 1,40-1,44 mm dengan lebar pronotum 1,00-1,03 mm
dan panjangnya 0,56 mm, panjang badan 5,5-6 mm. Bagian abdomen ditutupi
dengan rambut yang menyerupai duri. Abdomen berwarna putih kekuning-
kuningan (Nandika dkk, 2003).
Tubuh Isoptera tersusun oleh :
1. Caput
Prognathous. Mempunyai mata majemuk, kadang-kadang mengecil,
mempunyai dua ocellus atau tidak mempunyai. Antena panjang tersusun
atas sejumlah segmen, sampai tigapuluh segmen. Tipe mulut penggigit dan
pengunyah.
2. Thorax
Mempunyai dua pasangan sayap yang bersifat membran, kedua
pasang sayap ini mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, pada keadaan
istirahat pasangan sayap melipat di bagian dorsal abdomen. Kebanyakan

2
pekerja dan tentara tidak bersayap. Pasangan-pasangan kaki pendek, coxae
sangat berkembang, tarsusu terdiri atas empat sampai lima segmen, dengan
sepasang ungues .
3. Abdomen
Tersusun atas sebelas segmen. Sternum segmen abdomen pertama
mengecil. Sternum segmen abdomen kesebelas menjadi paraproct. Cercus
pendek tersusun atas enam sampai delapan segmen.

2.3 Habitat
Dasar pembangunan sarang ini adalah adanya rangsangan yang
mungkin berupa pergerakan udara, bau, cahaya, temperatur dan sebagainya
yangberbeda/mengganggu keadaan normal dari lingkungan koloni. Pada
Zootermopsis dan Reticulitermes, rangsangan direspon dengan
menumpukkotoran dan memberikan alarm rayap lain, ini diikuti dengan
pembangunansarang. Kemudian akan timbul rangsangan kedua dan
seterusnya. Adanya rangsangan-rangsangan ini disebut stigmergie hypothesis
yaitu mekanismeperilaku membangun (Susanta, 2007)
Pembuatan sarang rayap tanah dimulai dari bawah membentuk
queenchamber yang berbentuk dome, kemudian sarang dikembangkan ke
atassecara berlapis-lapis mengikuti bentuk queen chamber (Prayogo, 2007).
Sistem struktur pada sarang rayap tanah pada dasarnya sarang tersusun
dari bulatan-bulatan yang memiliki dimensi dan bentuk yang tidak beraturan
(maksudnya bulatan itu tidaksempurna bulatnya) lebih menyerupai crispy
pada coklat (Putra, 1994).

2.4 Pencegahan dan Pengendalian Rayap


Pencegahan terhadap bahaya rayap sebelum mendirikan bangunan,
haruslah dipahami benar oleh kalangan masyarakat maupun kontraktor yang
hendak mendirikan bangunan gedung. Karena bahaya dari serangan rayap
yang menyerang bangunan mendatangkan kerugian yang sangat besar. Oleh
karena itu masyarakat maupun para kontraktor dapat mengetahui cara
pengendalian hama rayap atau termite control. Selain itu juga harus
memahami kontruksi bangunan, biologi rayap, karakteristik rayap, dan cara
pengendalian rayap yang efektif.
Dalam pengendalian hama rayap, kiranya perlu diketahui bahwa
pengendalian pra-kontruksi perlu dilakukan agar bangunan gedung tidak
menjadi sasaran yang empuk bagi rayap tanah. Untuk itu perlu diperhatikan
cara-cara pencegahannya yang meliputi:
1. Sebelum mendirikan bangunan gedung perlu dibersihkan lahan bangunan
dari potongan kayu, tonggak lapok, dan sisa akar yang mati. Kalau hal itu
dibiarkan dapat menjadi tempat yang paling disukai oleh rayap.
2. Hindari mendesain kontruksi bangunan yang memungkinkan terciptanya
kantong air. Karena rayap sangat membutuhkan air.
3. Agar rayap tidak merusak kayu, sebaiknya plesteran fondasi yang
menghubungkan kayu dengan fondasi dibuat sangat rapat dan kedap air.

3
4. Sebaiknya, sistem pembuangan air dibuat dengan baik agar air keluar
dengan lancar dan mudah dibersihkan.
5. Pergunakan papan lis talang dari kayu yang diawetkan. Bila kayu kaso dan
reng yang digunakan, sebaiknya dipoles dengan cat penolak air. Begitu
juga kayu-kayu yang digunakan untuk bagian bangunan haruslah yang
telah diawetkan dengan bahan anti rayap.
Sedangkan pengendalian rayap pasca-kontruksi sangat penting
dilakukan agar tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar akibat serangan
rayap pada bangunan gedung. Maka perlu dilakukan pengendalian dengan
cara sebagai berikut:
1. Melakukan survey sebagai langkah awal untuk mengetahui jenis rayap
yang akan dikendalikan. Setelah itu, dilakukan pengendalian anti rayap
pada area perlakuan berdasarkan data yang dikumpulkan melalui survey.
2. Termite control meliputi perlakuan terhadap rayap tanah dan rayap kayu
yang menyerang bangunan gedung atau rumah. Karena itu perlakuan
terhadap tanah dengan cara lantai tanah dibor untuk memasukan larutan
termitisida yang berdaya residual tinggi. Setelah dilakukan pengeboran,
lubang-lubang bekas pengeboran ditutup kembali dengan tanah yang telah
dicampur larutan termitisida.
3. Pondasi bangunan tidak dapat diabaikan dalam pengendalian rayap.
Karena pondasi menghubungkan dengan kayu bangunan. Sedangkan kayu
dapat terserang rayap tanah dan rayap kayu kering. Karena itu perlakukan
pada pondasi bangunan mendapat perhatian dalam pengendalian rayap,
dengan cara digali 40 cm dan disiram dengan larutan termitisida yang
berdaya residual tinggi. Setelah itu, lubang bekas galian ditutup kembali
dengan tanah yang telah diberi larutan termitisida yang sama. Agar mudah
pelaksanaannya, maka dilakukan dengan cara injector atau dengan alat
semprotan.
4. Pengendalian terhadap rayap dapat dilakukan dengan cara penyemprotan
(spraying). Biasanya penyemprotan dilakukan pada bagian permukaan
atap, kuda-kuda yang menghubungkan plafon dengan genteng.
5. Sistem umpan (baiting). Pemasangan umpan dilakukan dengan cara di
taruh di dalam tanah dan di atas tanah, yang tujuannya untuk
menghilangkan koloni rayap.
Semua tindakan (treatment) diatas sebaiknya diketahui oleh
masyarakat maupun pengerja konstruksi bangunan. Sehingga pengendalian
rayap dapat berjalan efektif dan hasilnya sesuai yang harapan.

4
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapanun yang dapat diambil kesimpulan dari makalah Coptotermes
curvignathus (Rayap) hama perusak bangunan yaitu sebagai berikut :
1. Ciri-ciri yang dimiliki oleh Ordo Isoptera yaitu berupa Tubuh lunak,
Memiliki dua Sayap yaitu sayap depan berupa Sayap yang agak menebal
seperti kulit, Bersifat hemitabola, Memiliki dua pasang sayap tipis yang
tipe dan ukurannya sama. Toraks berhubungan langsung dengan abdomen
yang ukuran lebih besar, merupakanserangga social. Isoptera mengalami
metamorfosis tidak sempurna, dengan Tipe mulut pengunyah, dan Cara
hidupnya membentuk koloni dengan sistem pembagian tugas tertentu yang
disebut polimorfisme. Sedangkan Pembagian tugas pada struktur hidupnya
berupa raja, ratu dan prajurit serta tentara. Contoh spesies : Helanithermis
sp. (rayap). Rayap mengalami 4 kasta.
2. Anatomi dari Tubuh Isoptera tersusun oleh Caput, Thorak dan abdormen
3. Siklus hidup dari Isoptera mengalami metamorfosis tidak sempurna berupa
telur, nimfa, dari nimfa akan menjadi (prajurit, pekerja dan nimfa fertile),
kemudian dari fertile akan menjadi Laron dan terlepas sayapnya,
mengalamai seleksi menjadi Kasta Reproduksi (Raja dan Ratu).
4. Diperlukan pencegahan sebelum dan sesudah mendirikan bangunan untuk
menghindari serangan rayap. Pengendalian rayap hingga saat ini masih
mengandalkan penggunaan insektisida kimia (termisida), yang dapat
diaplikasikan dalam beberapa cara yaitu melalui penyemprotan, atau
pencampuran termisida dalam bentuk serbuk atau granula dengan tanah.

5
DAFTAR PUSTAKA

Hasan, T. 1986. Rayap dan Pemberantasannya. Yayasan Pembinaan Watak dan


Bangsa, Jakarta.
Nandika, et al. 2003. Rayap : Biologi dan Pengendaliannya. Harun JP Ed.
Muhammadiyah University Press, Surakarta.
Ismantono, R. (2005). Fisiologi Dan Kebiasaan Rayap (Online).
http://burungkicauan.net/news-siklus-hidup. Diakses tanggal 05 Mei 2015.
Prayogo, I. 2007. Beberapa Pengalaman Menghadapi Serangan Rayap dan paya
Pencegahannya (Online). http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/
21340/4/ Chapter%20II.pdf. Diakses tanggal 05 Mei 2012.
Putra, N. 1994. Serangga disekitar Kita. Kanisius, Yogyakarta.
Rayap, Hama Perusak Bangunan. 2017. Dikutip dari
https://www.biosis.co.id/rayap-hama-perusak-bangunan-gedung/. 28
November 2017
Susanta, 2007. Cara Praktis Mencegah dan Membasmi Rayap. Jakarta : Penebar
Swadaya.