Anda di halaman 1dari 32

TUGAS EKSPERIMEN LABORATURIUM LANJUT

METODE PELAKSANAAN

CBR LAPANGAN & lABORATURIUM, DCP, SPT, CPT, SONDIR, DAN


INKLINOMETER

Disusun Oleh :
Nama : Annisa Bestari Djarens
Nim : 1704201010069
Bidang : Geoteknik
Magister : Teknik Sipil

BIDANG GEOTEKNIK
MAGISTER TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM – BANDA ACEH
JANUARI 2018
I. CALIFORNIA BEARING RATIO (CBR)

Lapisan tanah yang akan dipakai sebagai lapisan sub-base atau sub-grade suatu
konstruksi jalan pada umumnya memerlukan proses pemadatan agar mampu
menerima beban sesuai dengan yang direncanakan. Salah satu cara untuk mengukur
kekokohan (bearing) lapisan tanah adalah pengujian California Bearing Ratio (CBR).
Prinsip dasar dari pengujian CBR adalah membandingkan besarnya beban
(gaya) yang diperlukan untuk menekan torak dengan luas penampang 3 inch² ke
dalam lapisan perkerasan sedalam 0.1 inch (2.54 mm) atau 0.2 inch (5.08 mm)
dengan beban standar. Oleh karena itu, kekokohan lapisan perkerasan dinyatakan
dalam “kekokohan relatif” atau persen kekokohan. Besarnya beban standar untuk
penetrasi 0.1 inch adalah 3000 lbs (pound) atau sekitar 1350 kg, sedangkan besarnya
beban standar untuk penetrasi 0.2 inch adalah 4500 lbs atau sekitar 2025 kg. Satu hal
yang perlu diingat bahwa pengujian CBR hanya mengukur kekokohan relatif dari
lapisan permukaan tanah, karena diameter penampang torak yang dipergunakan
hanya sekitar 4.96 cm, sehingga daerah (volume) lapisan tanah di bawah torak yang
terpengaruh tekanan (stress bulb) hanya di permukaan.
Pengujian CBR bertujuan untuk menentukan kekokohan permukaan lapisan
tanah yang umumnya akan dipakai sebagai sub-base (urugan) atau sub-grade (lapisan
tanah dasar) konstruksi jalan.

1.1 PENGUJIAN CBR DI LABORATORIUM

Ada dua macam pengujian CBR di laboratorium, yaitu pengujian kering


(unsoaked) dan pengujian basah (soaked)
Alat yang dipergunakan untuk pengujian CBR di laboratorium terdiri dari :
1. Tabung silinder (mold) berdiameter 15 cm (6 inch) dengan volume 2837 cm³
(1/10 ft³) yang dilengkapi dengan alas dan tabung tambahan dibagian atas
yang disebut collar .
2. Penumbuk (rammer) berat 10 lbs (sekitar 4.5 kg).
3. Cawan aluminium
4. Timbangan
5. Oven
6. Mesin penekan (compression machine).

1
Prosedur pengujian kering (unsoaked)
1. Tentukan berat-volume kering (𝛾dry) maksimum dan kadar air optimum
contoh tanah, yang diperoleh dari pengujian Standard Proctor atau Modified
Proctor
2. Timbang berat tabung (mold) CBR, tanpa alas dan collar
3. Siapkan contoh tanah yang akan diuji kekokohannya dan keringkan didalam
oven selama 24 jam.
4. Keluarkan contoh tanah dari oven, biarkan hingga dingin, kemudian
tambahkan air sampai kadar air optimum dan aduk sampai rata
5. Masukkan tanah secukupnya ke dalam tabung silinder CBR yang telah
dipasang collar, sehingga volume tanah setelah ditumbuk kira-kira tinggal 1/5
volume tabung.
6. Tumbuk tanah di dalam tabung secara merata sebanyak 56 kali dengan
memakai penumbuk (rammer) seberat 10 lbs (sekitar 4.5 kg) yang dijatuhkan
dari ketinggian 45 cm (18 inch)
7. Ulangi langkah 5 dan 6 sebanyak 5 kali sampai tanah di dalam tabung penuh
dan permukaannya rata.
8. Taruh beban standar seberat 10 lbs (berupa lempengan logam yang berlubang
di tengahnya) diatas permukaan tanah didalam tabung CBR.
9. Letakkan tabung yang berisi tanah dan beban standar pada mesin penekan,
dan atur ketinggian agar torak penekan yang mempunyai luas penampang 3
inch² (diameter 4.96 cm) melewati lubang beban standar dan duduk tepat
diatas permukaan contoh tanah.
10. Pasang dan atur dial penurunan agar jarum penunjuk penurunan tepat pada
posisi nol.
11. Jalankan mesin penekan dengan kecepatan 0.05 inch per menit
12. Lakukan pembacaan (pencatatan) gaya yang terjadi setiap penetrasi 0.025
inch.
13. Gambarkan grafik hubungan antara penetrasi dan gaya tekan yang terjadi,
seperti contoh pada Gambar 7.5
14. Hitung kekokohan tanah dengan perumusan
Gaya pada penetrasi 0.1" [lbs]
CBR 0.1” = 1000 [lbs]
×100% ....................................... (3.1)

2
Atau dengan perumusan
Gaya pada penetrasi 0.2" [lbs]
CBR 0.2” = × 100% ...................................... (3.2)
1500 [lbs]

 Prosedur pengujian CBR Basah (soaked)

Pengujian CBR cara basah dilakukan pada 3 buah contoh tanah


(sample) yang mempunyai kepadatan yang berbeda – beda. Tabung pertama,
ke dua, dan ke tiga dipadatkan masing masing 10 tumbukan, 25 tumbukan , dan
56 tumbukan untuk tiap lapisannya.

Langkah-langkah pengujian adalah sebagai berikut :

1. Tentukan berat-volume kering (𝛾dry) maksimum dan kadar air optimum


contoh tanah, yang diperoleh dari pengujian Standard Proctor atau Modified
Proctor
2. Timbang berat tabung (mold) CBR, tanpa alas dan collar
3. Siapkan contoh tanah yang akan diuji kekokohannya dan keringkan didalam
oven selama 24 jam.
4. Keluarkan contoh tanah dari oven, biarkan hingga dingin, kemudian
tambahkan air sampai kadar air optimum dan aduk sampai rata
5. Masukkan tanah secukupnya ke dalam tabung silinder CBR yang telah
dipasang collar, sehingga volume tanah setelah ditumbuk kira-kira tinggal 1/5
volume tabung.
6. Tumbuk tanah di dalam tabung secara merata sebanyak 56 kali dengan
memakai penumbuk (rammer) seberat 10 lbs (sekitar 4.5 kg) yang dijatuhkan
dari ketinggian 45 cm (18 inch)
7. Ulangi langkah 5 dan 6 sebanyak 5 kali sampai tanah di dalam tabung penuh
dan permukaannya rata.
8. Taruh beban standar seberat 10 lbs (berupa lempengan logam yang berlubang
di tengahnya) diatas permukaan tanah didalam tabung CBR.
9. Rendam tanah dan tabung CBR di dalam air selama 4 hari (96 jam)
10. Apabila diperlukan, pengembangan tanah di dalm tabung (swelling) dapat
diukur dengan memasang dial penurunan pada permukaan contoh tanah

3
11. Angkat tabung-tabung yang berisi tanah dari dalam air dan tiriskan selama
kurang lebih 15 menit
12. Letakkan tabung yang berisi tanah dan beban standar pada mesin penekan, dan
atur ketinggian agar torak penekan yang mempunyai luas penampang 3 inch2 (
diamater 4,96 cm ) melewati lubang beban standar dan duduk tepat di atas
permukaan contoh tanah
13. Pasang dan atur dial penurunan agar jarum penunjuk penurunan tepat pada
posisi nol.
14. Jalankan mesin penekan dengan kecepatan 0,05 inch per menit. Lakukan
pembacaan ( pencatatan ) gaya yang terjadi setiap penetrasi 0,025 inch.
15. Gambarkan grafik hubungan antara penetrasi dan gaya tekan yang terjadi.
16. Hitung kekokohan tanah dengan perumusan :
𝐺𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,1" [𝑙𝑏𝑠]
CBR0,1” = x 100 %
1000 [𝑙𝑏𝑠]

atau dengan perumusan :


𝐺𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑒𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 0,2" [𝑙𝑏𝑠]
CBR0,2” = x 100 %
1500 [𝑙𝑏𝑠]

1.1.1 CONTOH HASIL PENGAMATAN

UJI CALIFORNIA BEARING RATIO (CBR) ASTM D1883

JUDUL PEKERJAAN : CALIFORNIA BEARING RATIO


LOKASI
: E3-LAB. MAKANIKA TANAH JURUSAN TEKNIK SIPIL
PEKERJAAN
SUMBER
: SP 1
MATERIAL
TANGGAL
: 28 APRIL 2014
PENGUJIAN
DIUJI OLEH : KELOMPOK 6 ROMBEL 2

METODE UNSOAKED SOAKED


Satuan
PEMADATAN 10 25 56 10 25 56

4
pukulan pukulan pukulan Pukulan Pukulan Pukulan
Tinggi Mold cm 17,8 17,8 17,8 17,5 17,5 17,5
Diameter Mold cm 15,67 15,67 15,67 15,52 15,5 15,59
Volume Mold cm3 3431,05478 3431,05478 3431,05478 3308,96 3300,43 3338,87
Berat Mold gram 4020,5 4020,5 4020,5 3888,5 4023 3974,5

SESUDAH PENGUJIAN
UNSOAKED SOAKED
METODE
satuan 10 25 56 10 25 56
PEMADATAN
Pukulan Pukulan Pukulan Pukulan Pukulan Pukulan
Berat Mold+Tanah
gram 8447,5 10217 10602 8180,59 8623,5 8999
Basah
berat tanah basah gram 4427 6196,5 6581,5 4292,09 4600,5 5024,5
Berat isi, ɣ gr/cm3 1,29 1,81 1,92 1,30 1,39 1,50

5
JUDUL PEKERJAAN : CALIFORNIA BEARING RATIO
LOKASI PEKERJAAN : E3-LAB. MAKANIKA TANAH JURUSAN TEKNIK SIPIL
SUMBER MATERIAL : SP 1
TANGGAL PENGUJIAN : 6 MEI 2014
DIUJI OLEH : KELOMPOK 6 ROMBEL 2
UNSOAKED-TIDAK TERENDAM
10 Pukulan 25 Pukulan 56 Pukulan
Waktu Penurunan
Pembacaan Arloji Load Pembacaan Arloji Load Pembacaan Arloji Load
psi psi psi
(menit) (inchi) (div) (lb) (div) (lb) (div) (lb)
0,25 0,0250 1,10 38,975 12,806 1,9 67,204 22,082 2,00 70,726 23,239
0,50 0,0500 2,00 70,686 23,226 3,8 134,017 44,035 4,00 141,040 46,343
1,00 0,0750 3,40 119,899 39,396 5,6 197,178 64,788 5,80 204,190 67,092
1,50 0,1000 4,50 158,503 52,080 6,40 225,220 74,002 6,80 239,235 78,607
2,00 0,1250 5,00 176,036 57,841 6,8 239,235 78,607 7,90 277,760 91,266
3,00 0,1500 5,40 190,057 62,449 7,25 254,998 83,787 8,40 295,263 97,017
4,00 0,1750 6,00 211,082 69,357 7,6 267,255 87,814 8,75 307,513 101,042
6,00 0,2000 6,50 228,595 75,111 8,2 288,262 94,716 9,10 319,761 105,066
8,00 0,2250 6,80 239,100 78,563 8,6 302,264 99,317 9,50 333,756 109,665
10,00 0,2500 7,10 249,603 82,014 9,0 316,262 103,916 9,60 337,255 110,814
12,00 0,2750 7,10 249,603 82,014 9,0 316,262 103,916 9,70 340,753 111,964
14,00 0,3000 7,10 249,603 82,014 9,0 316,262 103,916 9,90 347,749 114,262
16,00 0,3250 10,10 354,744 116,561

6
18,00 0,3500 10,50 368,733 121,157
20,00 0,3750 10,50 368,733 121,157
22,00 0,4000 10,50 368,733 121,157

SOAKED-TERENDAM
10 Pukulan 25 Pukulan 56 Pukulan
Waktu Penurunan
Pembacaan Arloji Load Pembacaan Arloji Load Pembacaan Arloji Load
(menit) (inchi) (div) (lb) psi (div) (lb) psi (div) (lb) psi
0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00
0,64 0,025 0,150 5,362 1,762 0,250 8,918 2,930 0,250 8,918 2,930

1,27 0,050 0,300 10,694 3,514 0,500 17,785 5,844 0,500 17,785 5,844

1,91 0,075 0,500 17,785 5,844 0,700 24,863 8,170 0,800 28,399 9,331

2,54 0,100 0,700 24,863 8,170 0,900 31,934 10,493 1,000 35,466 11,653

3,18 0,125 0,820 29,106 9,564 1,050 37,232 12,233 1,150 40,762 13,393

3,81 0,150 0,900 31,934 10,493 1,150 40,762 13,393 1,220 43,232 14,205

4,45 0,175 0,950 33,700 11,073 1,220 43,232 14,205 1,300 46,055 15,133

5,08 0,200 1,000 35,466 11,653 1,300 46,055 15,133 1,350 47,819 15,712

5,72 0,225 1,050 37,232 12,233 1,350 47,819 15,712 1,400 49,582 16,292

6,36 0,250 1,080 38,291 12,582 1,400 49,582 16,292 1,450 51,346 16,871

7,00 0,275 1,100 38,997 12,814 1,450 51,346 16,871 1,500 53,108 17,450

7,62 0,300 1,100 38,997 12,814 1,500 53,108 17,450 1,500 53,108 17,450

7
TES CBR LABORATORIUM
PEKERJAAN : PENGUJIAN CBR UNSOAKED
MATERIAL : -
LOKASI PEKERJAAN : LAB MEKANIKA TANAH E3 LANTAI 2
TGL UJI : 28 APRIL 2014
DI UJI OLEH : KELOMPOK 6
UNSOAKED
10X

90

80
75.111
70

60

52.080
Tekanan, psi

50

40

30

20

10

0
0.0 0.1 0.2 0.3 0.4

Penetrasi, inch

NILAI CBR % Penetrasi 0.1" 5,21

Penetrasi 0.2" 5,01

LAB. MEKANIKA TANAH - JURUSAN TEKNIK SIPIL - UNNES


UNSOAKED
Jumlah pukulan 10x
Penetrasi Beban Tekanan
Inch Bacaan Dial P = 35.466X0.999
mm
0 (lbs) (Psi)
0.64 0.025 0.150 5.362 1.76
1.27 0.050 0.300 10.694 3.51
1.91 0.075 0.500 17.785 5.84
TES CBR LABORATORIUM
2.54 0.100 0.700 24.863 8.17
3.18 0.125 0.820 29.106 9.56
PEKERJAAN : PENGUJIAN CBR SOAKED
3.81 0.150 0.900 31.934 10.49
MATERIAL
4.45 0.175 : -
0.950 33.700 11.07
5.08PEKERJAAN
LOKASI 0.200 : LAB
1.000 MEKANIKA 35.466
TANAH E3 LANTAI 2 11.65
5.72
TGL UJI 0.225 1.050
: 6 MEI 2014 37.232 12.23
6.36 0.250 1.080 38.291 12.58
DI UJI OLEH : KELOMPOK 6
7.00 0.275 1.100 38.997 12.81
SOAKED
7.62 0.300 1.100 38.997 12.81
10X

16

14
15,13 psi
12

10
8,17 psi
Tekanan, psi

0
0.0 0.1 0.2 0.3
Penetrasi, inch

NILAI CBR % Penetrasi 0.1 inchi 0.82 %


Penetrasi 0.2 inchi 0.78 %

LAB. MEKANIKA TANAH - JURUSAN TEKNIK SIPIL - UNNES

9
TES CBR LABORATORIUM
PEKERJAAN : PENGUJIAN CBR SOAKED
MATERIAL : -
LOKASI PEKERJAAN : LAB MEKANIKA TANAH E3 LANTAI 2
TGL UJI : 6 MEI 2014
DI UJI OLEH : KELOMPOK 6
VOLUME PENGMBANGAN SOAKED
10X

Waktu Waktu Bacaan Pengembangan


(jam) Dial cm %
(t) (t) (0,001") (s) (s/H)
0 0,0 0,00 0,00 0,00
1 1,0 160,00 0,41 3,52
2 1,4 175,00 0,44 3,85
4 2,0 183,00 0,46 4,02
8 2,8 184,00 0,47 4,05
12 3,5 184,00 0,47 4,05
24 4,9 184,00 0,47 4,05
36 6,0 185,00 0,47 4,07
48 6,9 186,00 0,47 4,09
72 8,5 187,00 0,47 4,11
96 9,8 188,00 0,48 4,13

10
Volume Pengembangan (%) 5

0
0.0 2.0 4.0 6.0 8.0 10.0 12.0
t

LAB. MEKANIKA TANAH - JURUSAN TEKNIK SIPIL - UNNES

1.1.2 LANGKAH PERHITUNGAN


CBR UNSOAKED
 Berat isi
γ = (berat mold+tanah basah)/Volume mold
= (8447,5) /3431,05
= 2,46 gr/cm3

 Berat Volume Basah


Rumus mencari berat volume basah:
γb = W/V
Dengan:
γb = Berat volume basah (gr/cm3)
W = Berat tanah basah (gr)
Vmold = Volume mold (cm3)

Sampel 10 ketukan :

11
Diketahui:
W = 4427 gr
Vmold = 3421,05 cm3
γb = W/ Vmold
γb = 4427/3421,05
= 1.29 gr/cm3

 Berat air
Rumus mencari berat air :
Ww = berat tanah basah – berat tanah kering
= 25,58-19,94
= 5,64 gr

 Kadar Air
Rumus mencari kadar air:
ω = (Ww / Ws) x 100%
Dengan:
ω = Kadar air (%)
Ww = Berat air (gr)
Ws = Berat tanah kering (gr)

Sample 1 :
Diketahui :
Ww = 5,64 gr
Ws = 19,94 gr
ω = (Ww / Ws) x 100%
= (5,64 / 19,94) x 100%
= 28,28 %

12
 Berat Volume Kering
γd = γb /(1+ω/100)
Dengan :
γd = Berat volume kering
γb = Berat Volume Basah
ω = Kadar air

Sampel 10 ketukan unsoaked


Diketahui:
γb = 1,29 gr
ωrata-rata = 28,28 gr
γd = γb /(1+ω/100)
= 1,29 / ( 1 + 28,28 /100)
= 1.01 gr/cm3
 Perhitungan Tekanan :

𝑃 = 35,466 𝑋 0,999

Dengan :

P = Tekanan (lbs)

X = Bacaan dial

Contoh untuk jumlah pukulan 10 x, penetrasi 0,01 inchi

Bacaan dial = 0.1

𝑃 = 35,466 (0.1)0,999 = 158,503 𝑙𝑏𝑠

 Mengkonversikan satuan tekanan lbs ke psi :


𝑃 = 158,503 𝑙𝑏𝑠

13
158,503
𝑃= = 52,080 𝑃𝑠𝑖
5
0,25 𝑥 3,14 𝑥 ( )2
2,54

 Nilai CBR
Untuk penetrasi 0,1 inchi, jumlah pukulan 10x
P = 158,503 lbs
P = 52,080 Psi
𝑃(𝑝𝑠𝑖)
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐶𝐵𝑅 = . 100
1000
52,080
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐶𝐵𝑅 = . 100
1000
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐶𝐵𝑅 = 5,2 %
Untuk penetrasi 0,2 inchi, jumlah pukulan 10x
P = 228,595 lbs
P = 75,111 Psi
𝑃(𝑝𝑠𝑖)
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐶𝐵𝑅 = . 100
1500
75,111
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐶𝐵𝑅 = . 100
1500
𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝐶𝐵𝑅 = 5,01 %
 Mengonversi dari waktu (jam) ke waktu (√ t)
Untuk pengembangan 56 pukulan sebagai contoh
Untuk waktu (jam) 2 jam = 20,5
= 1,4

 Mengonversi dari pembacaan dial (0,001”) ke cm


Untuk pengembangan 56 pukulan sebagai contoh
Untuk pembacaan dial (0,001’) = Bacaan dial (0,001) X 0,001 X
0,54
(Untuk waktu 2 jam) = 225 X 0,001 X 0,54

14
= 0,57 cm
 Menghitung pengembangan
Untuk pengembangan 56 pukulan sebagai contoh
bacaan (cm)
Pengembangan waktu 1 jam = tinggi sampel X 100
0,57
= 11,55 X 100

= 4,95 %
1.1.3 CONTOH DOKUMENTASI PENGUJIAN CBR LABORATURIUM

15
1.2 PENGUJIAN CBR DI LAPANGAN

CBR lapangan merupakan perbandingan antara beban penetrasi suatu


lapisan/bahan tanah atau lapisan perkerasan terhadap bahan standar dengan
kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama.

Peralatan Pengujian CBR Lapangan :

1. Dongkrak CBR mekanis dengan kapasitas 10 ton, dilengkapi dengan


“swivel head”.
2. Cincin penguji (proving ring) dengan kapasitas : 1,5 ton (3000 lbs), 3 ton
(6000 lbs), 5 ton (10.000 lbs), atau sesuai dengan kebutuhan.
3. Piston/torak penetrasi dan pipa-pipa penyambung.
4. Arloji penunjuk (dial) penetrasi untuk mengukur penetrasi dengan
ketelitian 0,01 mm (0,001”) dilengkapi dengan balok penyokong dari besi
propil sepanjang lebih kurang 2,5 meter.
5. Keping beban (plat besi) yang bergaris tengah 25 cm (10”) berlubang di
tengah dengan berat +/- 5 Kg (10 Pound) dan beban-beban tambahan
seberat 2,5 Kg (5 Pound) yang dapat ditambahkan bilamana perlu.
6. Sebuah truck yang dibebani sesuai dengan kebutuhan atau alat-alat berat
lainnya (vibro, excavator, buldozer, dll) yang dibawahnya dapat dipasang
sebuah dongkrak CBR mekanis.
7. Dua dongkrak truck, alat-alat penggali, alat-alat penumbuk, alat-alat
perata, waterpas.

16
Gambar 2.1 Contoh Alat CBR Lapangan

Pemasangan Alat :

1. Truk/alat berat lainnya ditempatkan sedemikan rupa sehingga dapat


dipasang dongkrak CBR mekanis tepat diatas lubang pemeriksaan.
2. As roda belakang diatur sejajar dengan muka jalan yang diperiksa.
3. Truk/alat berat didongkrak supaya berat sendirinya tidak ditahan lagi oleh
per kendaraan (jika tertahan per maka pembacaan akan tidak tepat karena
terpengaruh pengenduran gaya oleh per kendaraan)
4. Dongkrak CBR mekanis dan peralatan lain dirangkai, supaya piston
penetrasi berada 1 atau 2 cm dari permukaan yang akan diperiksa.
5. Cincin penguji (proving ring) diatur sehingga piston dalam keadaan
vertikal.
6. Pastikan semua peralatan uji dalan kondisi stabil, vertikal, sentris (segaris
dan tidak melenting/melendut) dan kokoh serta tepat pada posisi yang
disyaratkan
7. Keping beban/plat baja setebal 25 cm (10”) diletakkan sentris dibawah
torak penetrasi sehingga piston penetrasi tepat masuk kedalam lubang
keping beban tersebut.

17
8. Arloji/dial pengukur penetrasi dipasang pada piston penetrasi, sedemikian
rupa sehingga jarum pada dial penetrasi menempel pada keping beban/plat
baja.

Persiapan Lokasi Pengujian :

1. Tanah diratakan permukaannya atau digali sampai lapisan yang


dikehendaki dan diratakan (luas galian kira-kira 60 cm x 60 cm)
2. Permukaan tanah yang akan diuji harus rata levelnya dan tidak ada
kemiringan : cek dengan waterpass
3. Dipastikan bahwa di permukaan yang akan diuji (sub grade, sub base, base
course, dsb) tidak ada butiran lepas : bersihkan semua debu, pasir, kerikil
yang lepas/berserakan
4. Untuk tanah dasar yang belum ada perkerasan dan pemadatan, cukup
dibersihkan akar rumput dan bahan organik lain (biasanya sampai
kedalaman 30-50 cm)
5. Selama pemasangan alat-alat, permukaan tanah atau permukaan yang
sudah dibersihkan harus dijaga supaya tidak kelembabannya tidak berubah
dari kondisi awal, jika perlu ditutup dengan plastik apabila cuaca sangat
panas
6. Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin sesudah persiapan selesai
7. Apabila dibutuhkan, dapat dilakukan pemeriksaan kadar air dan berat isi
bahan setempat.

18
Gambar 2.2 Pemasangan Alat CBR di Lapangan

Pembacaan Waktu dan Penetrasi :

1. Piston penetrasi diturunkan sehingga memberikan beban permulaan


sebesar 5 Kg (10 Lbs) – jika diperlukan, dapat gunakan beban-beban
tambahan
2. Arloji cincin penguji (proving ring) dan arloji penunjuk penetrasi (dial
penetrasi) diatur sehingga menunjuk pada angka nol.
3. Pembebanan ditambah dengan teratur, agar kecepatan penetrasinya
mendekati kecepatan tetap 1,25 mm (0,05”) per menit – penambahan
pembebanan ini yang sering terlupa atau tidak terlaksana dengan baik konsistensi
kecepatan penetrasi per menitnya
4. Pembacaan beban dicatat pada penetrasi (angka di belakang = angka tabel
SNI yang direvisi):
 0,3128 mm (0,0125”) 0,32 mm [15 detik]
 0,6200 mm (0,0250”) 0,64 mm [30 detik]
 1,2500 mm (0,0500”) 1,27 mm [60 detik / 1 menit]
 1,8700 mm (0,0750”) 1,91 mm [1 menit 30 detik]
 2,5400 mm (0,1000”) 2,54 mm [2 menit]
 3,7500 mm (0,1500”) 3,81 mm [3 menit]
 5,0800 mm (0,2000”) 5,08 mm [4 menit]
 7,5000 mm (0,3000”) 7,62 mm [6 menit]
 10,1600 mm (0,4000”) 10,16 mm [8 menit]
 12,5000 mm (0,5000”) 12,70 mm [10 menit]

19
Umumnya CBR dinyatakan pada penetrasi 0,1 inchi

Jika CBR pada penetrasi 0,2 inchi lebih besar pada CBR pada penetrasi 0,1 inchi
maka pengujian harus dilakukan minimal 3 kali pada lokasi yang berdekatan
Jika dari 3 hasil pengujian menunjukkan CBR pada penetrasi 0,2 inchi lebih besar
dari CBR pada penetrasi 0,1 inchi maka ditetapkan nilai CBR adalah CBR pada
penetrasi 0,2 inchi.

Contoh Data CBR Lapangan

20
21
3. STANDART PENETRTION TEST (SPT)

Standart Penetration Test (SPT) dilakukan untuk mengestimasi nilai


kerapatan relatif dari lapisan tanah yang diuji.Untuk melakukan pengujian SPT
dibutuhkan sebuah alat utama yang disebut Standard Split Barrel Sampler atau
tabung belah standar.Alat ini dimasukkan ke dalam Bore Hole setelah dibor
terlebih dahulu dengan alat bor.Alat ini diturunkan bersama-sama pipa bor dan
diturunkan hingga ujungnya menumpu ke tanah dasar.Setelah menumpu alat ini
kemudian dipukul (dengan alat pemukul yang beratnya 63,5 kg) dari atas.
Pada pemukulan pertama alat ini dipukul hingga sedalam 15 cm.Kemudian
dilanjutkan dengan pemukulan tahap kedua sedalam 30 cm dan dilanjutkan
sedalam 45. Pukulan kedua dan ketiga inilah muncul nilai "N" yang merupakan
manifestasi jumlah pukulan yang dibutuhkan untuk membuat tabung standar
mencapai kedalaman 45 cm.
Berikut adalah tabel hubungana antara nilai SPT dan sifat tanah menurut J.E
Bowles, 1984 yang diambi dari buku pondasi dalam karya Prof. Herman.

Tabel 3.1 Hubungan antara nilai SPT dan sifat tanah menurut J.E. Bowles

Cohesionless soil
N (blows) 0-3 4-10 11-30 31-50 >50
ɣ(KN/m3) - 12-16 14-18 16-20 18-23
Φ - 25-32 28-36 30-40 >35
State Very loose loose Medium dense Very dense
Dr(%) 0-15 15-35 35-65 65-85 85-100
Cohesive soil
N (blows) <4 4-6 6-15 16-25 >25
ɣ(KN/m3) 14-18 16-18 16-18 16-20 >20
q (kPa) <25 20-50 30-60 40-200 >100
condition Very soft Soft medium Stiff Hard

22
 Tabel Hubungan Tingkat Kepadatan Relatif (Dc), sudut geser dalam (θ), Nilai
Konus (qc) dengan NSPT

Tingkat qc
Dr θ (˚) N
Kepadatan (Kg/cm2)
sangat lepas < 0.2 < 30 < 20.4 <4
lepas 0.2 - 0.4 30 - 35 20.4 - 45.9 4 - 10
45.9 -
agak padat 0.4 - 0.6 35 - 40 132.6 10 - 30
132.6 -
padat 0.6 - 0.8 40 - 45 224.4 30 - 50
sangat padat > 0.8 > 45 > 224.4 > 50

 Tabel hubungan nulai qu dengan nilai N

Kondisi qu (Kg/cm2) N
sangat lunak < 0.25 <2
lunak 0.25 - 0.5 2-4
agak lunak 0.5 - 1 4-8
agak keras 1-2 8 - 15
keras 2-4 15 - 30
sangat keras 4 - 8.5 > 30

Gambar 3.1 Skema urutan uji SPT

23
Setelah percobaan selesai, split barrel dikeluarkan dari lubang bor dan dibuka
untuk mengambil contoh tanah yang tertahan di dalamnya. Contoh tanah ini dapat
digunakan sebagai sampel tanah untuk percobaan Atterberg limit dan ukuran
butir, tetapi kurang sesuai untuk percobaan lain, karena diameter terlalu kecil dan
tidak dianggap benar-benar asli. Nilai N yang diperoleh dengan Standard
Penetration Test dapat dihubungkan secara empiris dengan beberapa sifat lain dari
tanah yang sedang diuji. Hasil SPT ini pada umumnya hanya digunakan sebagai
perkiraan kasar atau bukan sebagai nilai-nilai yang teliti.

Gambar 3.2 Alat pengambilan contoh tabung belah.

24
Gambar 3.3 Penetrasi dengan SPT Tahanan ujung

Gambar 3.4 Contoh Data SPT

25
5. PENGUJIAN SONDIR (CPT)

Pengujian sondir test merupakan salah satu pengujian penetrasi yang


bertujuan untuk mengetahui daya dukung tanah pada setiap lapisan serta
mengetahui kedalaman lapisan pendukung yaitu lapisan tanah keras. Hal ini
dimaksudkan agar dalam mendesain pondasi yang akan digunakan sebagai
penyokong kolom bangunan diatasnya memiliki factor keamanan (safety factor)
yang tinggi sehingga bangunan diatasnya tetap kuat dan tidak mengalami
penurunan atau settlement yang dapat membahayakan dari sisi keselamatan akan
bangunan dan penghuni didalamnya. Uji Sondir dapat digunakan untuk
mengetahui profil tanah, kepadatan relatif (untuk pasir), kuat geser tanah,
kekakuan tanah, permeabilitas tanah atau koefisien konsolidasi, kuat geser selimut
tiang, dan kapasitas daya dukung tanah.

Banyak terjadi kegagalan struktur (bangunan roboh/runtuh) akibat tidak


diperhatikan pentingnya pengujian soil test ini, untuk itu sangat disarankan untuk
melakukan pengujian tanah (sondir ) ini, sehingga dapat didesain jenis pondasi
yang aman dan efektif sesuai dengan karakteristik tanah dari bangunan yang akan
dibangun.

Sondir adalah alat berbentuk silindris dengan ujungnya berupa konus.


Biasanya dipakai adalah bi-conus type Begemann yang dilengkapi dengan
selimut/jacket untuk mengukur hambatan pelekat local (side friction) dengan
dimensi sbb :

Sudut kerucut conus : 60


Luas penampang conus : 10.000cm2
Luas Selimut/jacket : 150cm

Dalam uji sondir,stang alat ini ditekan ke dalam tanah dan kemudian
perlawanan tanah terhadap ujung sondir (tahanan ujung) dan gesekan pada silimur

26
silinder diukur. Alat ini telah lama di Indonesia dan telah digunakan hamper pada
setiap penyelidikan tanah pada pekerjaan teknik sipil karena relative mudah
pemakaiannya, cepat dan amat ekonomis.

Sesungguhnya alat uji sondir ini merupakan representasi atau model dari
pondasi tiang dalam skala kecil. Teknik pendugaan lokasi atau kedalaman tanah
keras dengan suatu batang telah lama dipraktekan sejak zaman dulu. Versi mula-
mula dari teknik pendugaan ini telah dikembangkan di swedia pada tahun 1917
oleh Swedish State Railways dan banyaknya penggunaan pondasi tiang, pada
tahun 1934 orang-orang Belanda memperkenalkan alat sondir sebagaimana yang
kita kenal sekarang (Barentseen, 1936)

Metode ini kemudian dikenal dengan berbagai nama seperti: “static


penetration test” atau “Duch Cone Statick Penetration Test dan secara singkat
disebut soundingsaja yang berarti pendugaan. Di Indonesia kemudian dinamakan
sondir yang diambil dari Bahasa Belanda.

Uji Sondir saat ini merupakan salah satu uji lapangan yang telah diterima
oleh para praktisi dan pakar geoteknik. Uji sondir ini telah menunjukkan manfaat
untuk pendugaan profil atau pelapisan (stratifikasi)tanah terhadap kedalaman
karena jenis perilaku tanah telah dapat diidentifikasi dari kombinasi hasil
pembacaan tahanan ujung dan gesekan selimutnya.

Besaran penting yang diukur pada uji sondir adalah perlawanan ujung
yang diambil sebagai gaya penetrasi per satuan luas penampang ujung sondir (qc).
Besarnya gaya ini seringkali menunjukan identifikasi dari jenis tanah dan
konsistensinya. Pada tanah pasiran,tahanan ujung jauh lebih besar daripada tanah
butiran halus.

27
Contoh Data Sondir

28
6. PENGUJIAN INKLINOMETER

Inclinometer merupakan termasuk perangkat instrumen pantauan


geoteknik yang memiliki faedah membaca pergerakan tanah (kemiringan tanah).
instrumen ini dipasang didalam pipa inclino dengan panjang lebih dari 20meter,
pipa ini mempunyai sifat elastis yang dapat melindungi istrumen pada ketika
ditanam didalam tanah.

 Prinsip Kerja Inklinometer.

Yaitu dengan menanamkan “casing Inclinometer” sedalam peraturan yang


sudah ditentukan dan dianggap akan terjadi pergerakan guna mendapatkan
informasi pergerakan pada kedalaman tertentu, ketika terjadi pergerakan maka
profil casing yang sudah tertanam akan mengekor pergerakan yang bakal terjadi,
maka dari tersebut kita memahami besarnya pergerakan, dan arah pergerakan
yang terjadi untuk lantas kita pantauan pergerakan tanah dengan memakai alat
Mens Digital Inclinometer. Proses pemungutan data dilaksanakan sesuai dengan
formalitas dan quantitynya dicocokkan permintaan oleh konsultan.

Pasang probe itu kedalam pipa eksklusif yang sudah di desain guna
pengujian inclinometer, pipa itu mempunyai jalur yang dapat dilewati oleh probe.
Probe inclinometer memiliki kekuatan terhadap gesekan dan ada sensor servo-
accelerometer guna mengukur kemiringan. Pipa itu dipasang kedalam tanah mesti
tegak dan lurus dengan ke dalaman yang sudah ditentukan dan dipasang
menghadap ke arah lokasi pembacaan.

Jika pipa tidak cukup panjang dapat dilaksanakan penyambungan dengan


pipa yang lainnya dengan teknik di lem terlebih dahulu, lantas dibor untuk
dilaksanakan pemasangan sekrup dan di blokir rapat dengan isolasi hitam
mengelilingi pipa. Setelah instalasi pipa sudah selelsai, pasangakan probe

29
kemudian hubungkan kabel probe dengan alat guna pembaca pergerakan tanah
yang terjadi, lantas lakukan grouting guna metupi rongga-rongga pada pipa.

Grouting bisa di lakukan menggunakan pipa tremie atau katup


grouting. Mixer, pompa nat, pipa atau selang ialah alat perangkat yang diperlukan
untuk menyalurkan bahan grouting tersebut sendiri . Jika terdapat ruang guna pipa
tremie di anulus antara pipa dan dinding lubang bor, proses grouting dapat di
kerjakan dengan teknik memasukkan selang ke dalam lubang antara dinding tanah
dan pipa. Probe akan menyimak pergerakan tanah dengan pertolongan software
yang terdapat dilaptop, sampai-sampai pergerakan bisa terbaca dan dapat
langsung dilaksanakan analisa.

Pengujian akan dilaksanakan dalam sejumlah hari guna mendapatkan hasil


yang maksimal pada pergerakan tanah, setelah tersebut lakukan analisa dan
perhitungan guna mengetahui ciri khas dari sifat tanah untuk penciptaan pondasi
apakah menyokong atau tidak.

 Contoh Data Inklinometer

30
31