Anda di halaman 1dari 34

PANDUAN PRAKTIK KLINIS OBSTETRI

RS SILOAM HOSPITAL
No. 46
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DEP: OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RS SILOAM HOSPITAL
PERSALINAN LETAK LINTANG PADA GEMELI ANAK II
1. Definisi 1. Pada retensi gemeli anak II. Bila syarat
terpenuhi dan tidak ada kontraindikasi
dilakukan versi luar menjadi letak
kepala atau letak sungsang (lihat bab
versi luar)
2. Pada persalinan gemeli dengan anak II
letak lintang
o Pada pembukaan lengkap dengan
ketuban masih utuh dilakukan versi
luar, bila tidak berhasil dilakukan
versi ekstraksi
o Bila ketuban baru pecah/dipecahkan,
bila dilakukan versi ekstraksi
PANDUAN PRAKTIK KLINIS OBSTETRI
RS SILOAM HOSPITAL
No. 47
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DEP: OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RS SILOAM HOSPITAL
GAWAT JANIN
Gawat janin adalah keadaan hipoksia janin yang
disebabkanoleh berbagai macam factor yang
1. Pengertian menurunkan aliran darah uteroplasenta sehingga
bila dibiarkan dapat menyebabkan kerusakan
jaringan yang permanen atau kematian janin
2. Anamnesis Keluhan utama : gerak anak berkurang
Mencari faktor-faktor risiko yang dapat
menyebabkan timbulnya gawat janin
Faktor maternal :
o Kontraksi uterus yang berlebihan
o Penyakit kardiovaskular
o Pendarahan antepartum
o Syok hipovolemik
o Penyakit paru
o Hipertensi dalam kehamilan
o Anemia gravis
o Ketuban pecah
3. Faktor Risiko
Faktor janin :
o Penekanan tali pusat
o Anemia
o Prematuritas
o PJT
o Kelainan jantung janin

Faktor plasenta dan cairan ketuban :


o Infark plasenta
o Oligohidramnion

Ditemukan denyut jantung janin (DJJ)


abnormal. Pemantauan DJJ segera setelah
4. Pemeriksaan Fisik
kontraksi uterus setiap 1-2 jam pada kala I
fase laten, setiap ½ jam pada kala I fase
aktif, setelah meneran pada kala II selama
1 menit

Mekonium
 Mekonium kental merupakan
indikasi perlunya percepatan
persalinan dan penanganan
mekomium pada saluran nafas
atas neonatus
 Mekomium yang dikeluarkan pada
saat persalinan sumsang bukan
merupakan tanda
kegawatdaruratan kecuali bila
dikeluarkan pada awal persalinan
Kardiotokografi sesuai dengan kategori II
dan III
Kategori II : pola DJJ ekuivokal
Frekuensi dasar dan variabilitas
 Frekuensi I dasar DJJ : bradikardi
(<110dpm) yang tidak disertai
hilangnya variabilitas
 Takikardi (DJJ >160dpm)
 Variabilitas minimal (1-5 dpm)
 Variabilitas > 25 dpm
Perubahan periodic
 Tidak ada akselerasi DJJ setelah
4. Pemeriksaan
Penunjang janin distimulasi
 Deselerasi variable berulang yang
disertai variabilitas DJJ minimal
atau moderat
 Deselerasi memanjang (prolonged
deceleration) > 2 menit (moderat
Vaseline variability)
 Deselerasi lambat berulang
disertai variabilitas DJJ moderat
(moderate caseline variability)
 Deselerasi variable disertai
gambaran lainnya, misalnya
kembalinya DJJ ke frekuensi dasar
lambat atau ada gambaran
overshoot

Kategori III : Pola DJJ abnormal


Tidak ada variabilitas DJJ (absent FHR
variability) disertai oleh :
 Deselerasi lambat berulang
 Deselerasi variable berkurang
 Bradikardi
 Pola sinusoid (sinusoidal pattern)

Umum
Resusitasi Intra Uterin (selama 15 menit
untuk dievaluasi ulang, sambil
mempersiapkan tindakan definitif)
a. Meningkatkan arus darah uterus
dengan cara :
 Menghindari tidur
terlentang
 Mengurangi kontraksi
uterus (bila hipertonus
atau hiperstimulasi)
 Pemberian cairan
4. Penatalaksanaan
parenteral : kristaloid 30
gtt/menit
b. Meningkatkan arus darah tali
pusat dengan mengubah posisi ibu
untuk mendapatkan DJJ terbaik
c. Pemberian oksigen 2-4 lt/menit
d. Cari dan tangani penyebab bila
ada (infeksi, syok, dll)

Tindakan definitif
a. Kala II dipersingkat (lihat syarat
ekstraksi forsep)
b. Seksio sesarea
c. Persiapan resusitasi bayi asfiksia
PANDUAN PRAKTIK KLINIS OBSTETRI
RS SILOAM HOSPITAL
No. 48
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DEP: OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RS SILOAM HOSPITAL
PERDARAHAN PASCASALIN
Perdarahan pascasalin adalah perdarahan yang
terjadi setelah janin lahir, yaitu melebihi 500 cc
pada persalinan pervaginam atau lebih dari
1000 cc pada persalinan per abdominam. Dibagi
menjadi :
 Perdarahan pascasalin dini (primer)
yaitu jika terjadi dalam 24 jam pertama
1. Pengertian  Perdarahan pascasalin lambat (sekunder)
yaitu jika terjadi lebih dari 24 jam
 Perdarahan pervaginam pascasalin atau
perdarahan berulang jika terjadi pada
masa nifas
 Terdapat faktor predisposisi

Predisposisi antepartum : riwayat pedarahan


pascasalin atau manual plasenta, solusio
plasenta, plasenta previa, hipertensi, IUFD,
overdistensi, uterus, gangguan darah ibu.
Predisposisi intrapartum : persalinan seksio
sesarea atau buatan, partus lama, partus
presipitatus, induksi atau augmentasi
2. Anamnesis
persalinan, infeksi korion, distosia bahu,
grandemulti paritas, gangguan koagulopati.
Predisposisi postpartum : laserasi jalan lahir
(ruptur perineum, episiotomi luas, robekan
porsio) retensio plasenta, sisa plasenta,
inversion uteri, rupture uteri.

Tanda-tanda syok (ringan sampai berat)


3. Pemeriksaan Fisik
4. Gambaran Klinis a. Atonia uteri :
Yaitu terjadinya gangguan
kontraksi uterus. Gejala berupa
perdarahan pervaginam yang deras
(seperti keran air) berasal dari OUI,
konsistensi rahim lunak, kontraksi
buruk, tidak ada perlukaan jalan
lahir, tidak ada sisa plasenta dan
umumnya terdapat tanda-tanda
syok hipovolemik berat.
b. Laserasi jalan lahir :
Yaitu terdapat robekan / rupture
pada perineum, vagina atau porsio.
Gejala berupa perdarahan
pervaginam yang berasal dari luka
robekan, berwarna merah terang/
darah segar, kontraksi rahim baik,
dapat ditemukan tanda-tanda syok.
c. Ruptur uteri :
Yaitu robeknya dinding uterus.
Gejala berupa perdarahan
pervaginam sedikit atau banyak,
berasal dari OUI, kontraksi rahim
biasanya buruk, sangat nyeri di
perut bawah, terdapat tanda akut
abdomen, syok berat, pada
eksplorasi terdapat robekan pada
uterus
d. Inversio uteri :
Yaitu uterus terputar balik sehingga
fundus uteri tertekuk ke dalamdan
selaput lendirnya di sebelah luar.
Gejala berupa perdarahan
pervaginam, syok sedang sampai
berat, fundus uteri sama sekali tidak
teraba atau teraba lekukan pada
fundus, kadang-kadang teraba
tumor dalam vagina jika inversion
sampai vagina atau tampak tumor
merah di luar vulva yaitu inversion
uteri yang prolaps.
e. Retensio plasenta :
Yaitu plasenta belum lahir ½ jam
setelah anak lahir. Gejala berupa
perdarahan pervaginam sedikit
sampe banyak, tinggi fundus uteri
sepusat, biasanya tampak tali pusat.
f. Sisa plasenta :
Yaitu plasenta sudah lahir namun
tidak lengkap. Gejala berupa
perdarahan pervaginam sedikit
sampai banyak dari OUI, kontraksi
biasanya baik dan pada
pemeriksaan teraba sisa plasenta.
Jika terjadi pada masa nifas;
kadang terdapat febris dan tanda-
tanda syok, fundus uteri masih
tinggi / subinvolusi, uterus lembek,
nyeri pada perut bawah jika ada
infeksi dan teraba sisa plasenta
dalam rongga rahim.
g. Gangguan pembekuan darah/koagulopati :
Yaitu kelainan pada pembekuan
darah. Gejala berupa perdarahan
dari tempat-tempat luka, kontraksi
rahim baik, tidak ditemukan
perlukaan jalan lahir maupun
jaringan plasenta, syok sedang
sampai berat dan terdapat gangguan
faktor pembekuan darah.

1. Laboratorium : crossmatch, kadar Hb,


L, Tr, Ht, Fibrinogen, D-Dimer, BT,
5. Penmeriksaan CT, PT, APTT
penunjang 2. Pemeriksaan USG

Penatalaksanaan umum
a. Informed consent
6. Penatalaksanaan b. Stabilisasi, ABC (posisikan semi
ekstensi, bebaskan jalan nafas, O2
jika perlu, resusitasi cairan, pasang
akses intravena ukuran besar
16/18), folley catherter pantau urin
output (30cc/jam atau 0.5-1.0
cc/kgBB/jam)), pantau kesadaran
c. Tentukan ada syok atau tidak. Jika
ada, berika transfuse darah, infuse
cairan, oksigen dan control
pendarahan. Jika tidak ada syok
atau keadaan umum optimal, segera
lakukan pemeriksaan untuk
mencari etiologi
d. Hentikan sumber perdarahan
e. Monitor tanda-tanda vital

Penatalaksanaan spesifik
a. Atonia uteri
Masase uterus, pemberian oksitosin
10 unit dalam rL 500 cc tetesan
cepat (dapat diberikan sampai 3
liter dengan tetesan 40 tetes/menit)
dan ergometrin IV/IM 0,2mg (dapat
diulang 1x setelah 15 menit dan
bila masih diperlukan dapat
diberikan tiap 2-4 jam OM/IV
sampai maksimal 1 mg atau 5
dosis) atau misoprostol 400
mikrogram perektal/peroral (dapat
diulang 400 mikrogram tiap 2-4jam
sampai maksimal 1200 mikrogram
atau 3 dosis). Bila setelah
pemberian dosis awal ada
perbaikan dan perdarahan berhenti,
oksitosin/misoprostol diteruskan,
bila tidak ada perbaikan lakukan
kompresi bimanual atau
pemasangan tampon balon. Jika
kontraksi tetap buruk, lakukan
laparotomi (lakukan ligasi arteri
uterine atau hipogastrika atau
teknik B-lynch suture untuk pasien
yang belum punya anak, hika tidak
mungkin lakukan histerektomi)
b. Laserasi jalan lahir
Segera lakukan penjahitan laserasi
c. Rupture uteri
Stabilisasi keadaan umum dan
segera lakukan laparotomi.
Rencana histerorafi atau
histerektomi
d. Inversio uteri
Reposisi manual setelah syok
teratasi. Jika plasenta belum lepas
sebaiknya jangan dilepaskan dulu
sebelum uterus direposisi karena
akan mengakibatkan perdarahan
banyak. Setelah reposisi berhasil,
diberi drip oksitosin. Pemasangan
tampon rahim dilakukan supaya
tidak terjadi lagi inversio. Jika
reposisi manual tidak berhasil,
dilakukan reposisi operatif.
e. Retensio plasenta
Dilakukan pelepasan plasenta
secara manual. Jika plasenta sulit
dilepaskan, pikirkan kemungkinan
plasenta akreta. Terapi terbaik pada
plasenta akreta komplit adalah
histerektomi.
f. Sisa plasenta
Dilakukan kuretase dengan
pemberian uterotonika dan
transfuse darah bila diperlukan.
Jika terjadi pada masa nifas,
berikan iterotonika, antibiotic
spectrum luas dan kuretase. Jika
kuretase tidak berhasil, lakukan
histerektomi.
g. Gangguan koagulaopati
Rawat bersama Departemen Ilmu
Penyakit Dalam, koreksi faktor
pembekuan darah dengan transfuse
FFP, kriopresipitat, trombosit dan
PRC, control DIC dengan heparin.

Syok irreversible, DIC, syndrome Seehan


7. Penyulit
Ke disiplin ilmu terkait, atas indikasi
(Departemen Ilmu Penyakit Dala,
8. Konsultasi
ICU/Anestesi, Patologi Anatomi)

9. Perawatan Rumah Diperlukan


Sakit
10. Ijin Tindakan Kuretase, pemasangan tampon intrauterine,
laparotomi (histerektomi)
Lampiran protocol (pada perdarahan masa nifas
11. Lama Perawatan : perawatan 5-6hari, jika dilakukan tindakan
operasi perawatan menjadi 7-10 hari)
Penurunan angka kecacatan dan kematian yang
12. Indikator Klinis
disebabkan perdarahan postpartum.
a. Departemen Ilmu Penyakit Dalam
b. Departemen Patologi Anatomi
13. Unit Terkait c. ICU
d. Departemen Anestesi
PANDUAN PRAKTIK KLINIS OBSTETRI
RS SILOAM HOSPITAL
No. 49
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DEP: OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RS SILOAM HOSPITAL
RUPTURA UTERIN
Robeknya dinding rahim, pada saat kehamilan
atau persalinan dengan atau tanpa robeknya
1. Pengertian
peritoneum. Risiko terjadi lebih tinggi pada
persalinan pervaginam bekas seksio (VBAC)
 Adanya faktor predisposisi
 Nyeri perut mendadak dengan tanda-tanda
adanya perdarahan intra abdominal
 Perdarahan pervaginam bisa sedikit atau
banyak
 Syok dengan gambaran klinis yang
biasanya tidak sesuai dengan jumlah darah
yang keluar, karena adanya perdarahan
intra abdominal
 Kadang-kadang disertai sesak nafas/ nafas
cuping hidung atau nyeri bahu
 His tidak ada
2. Diagnosis  Bagian janin terab langsung di bawah kulit
dinding perut
 Bunyi jantung janin tidak terdengar
 Urin bercampur darah

Pada rupture uteri inkomplit :


 Nyeri perut mendadak
 Tidak jelas ada tanda perdarahan intra
abdominal
 Perdarahan pervaginam
 Dapat terjadi syok
 His bisa ada atau tidak ada
 Bagian janin tidak teraba langsung di
bawah kulit dinding perut
 Bunyi jantung janin bisa terdengar atau
tidak
 Urin bisa bercampur darah

Pada eksplorasi rahim setelah janin lahir terdapat


robekan dinding rahim tanpa ada robekan
peritoneum
3. Diagnosis Banding Akut abdomen pada kehamilan abdominal lanjut
4. Pemeriksaan Laboratorium : Hemoglobin, Leukosit,
Penunjang Hematokrit, Trombosit
a. Dokter spesialis anestesi
b. Bila terjadi sepsis konsul ke Departemen
Penyakit Dalam
5. Konsultasi
c. Bila luka robekan meluas ke kandung
kencing konsul ke Departemen Bedah

a. Atasi syok segera, berikan infuse cairan


intravena, transfuse darah, oksigen dan
antibiotic
6. Terapi b. Laparotomi

Tindakan histerektomi atau histerorafi


bergantung pada bentuk, jenis, dan luas robekan
7. Perawatan
Diperlukan
Rumah Sakit
Syok ireversibel
 Sepsis
8. Penyulit  Luka yang meluas sampai ke kandung
kencing dan vagina

Hematom pada daerah parametrium


9. Prognosis Dubia
Dilakukan informed consent pada setiap aspek
10. Informed tindakan, baik diagnostic maupun terapeutik,
Consent kecuali bila keadaan sudah sangat mengancam
jiwa.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS OBSTETRI
RS SILOAM HOSPITAL
No. 50

PANDUAN PRAKTIK KLINIS


DEP: OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RS SILOAM HOSPITAL

INFEKSI INTRAUTERIN DALAM KEHAMILAN & PERSALINAN

Infeksi rahim (koriamnionitis, amnionitis,


infeksi intraamnion) yang terjadi dalam
1. Batasan kehamilan atau persalinan, yang ditandai oleh
suhu tubuh meningkat (> 38⁰C), lekositosis
dan cairan yang berbau busuk atau keruh

1. Ketuban pecah dini


2. Distosia / partus lama
3. Pemeriksaan dalam terlalu sering
2. Faktor 4. Anemia
Predisposisi 5. Kurang gizi
6. Servisitis
7. Vaginitis

1. Pemasangan infuse jaga


2. Pemberian antibiotic yang berspektrum
luas
3. Pengakhiran kehamilan (lihat bab
Terminasi Kehamilan)
4. Persalinan sedapat mungkin
pervaginam
3. Pengelolaan
5. Seksio sesarea hanya atas indikasi
obstetric
6. Bayi dapat menyusui dan rawat
gabung bila syarat terpenuhi
7. Observasi kemungkinan adanya sepsis
pascasalin
1. Sepsis/ syok septic
2. Perdarahan pascasalin
4. Penyulit 3. Subinvolusi Rahi
4. Luka episiotomy/ operasi terbuka
PANDUAN PRAKTIK KLINIS OBSTETRI
RS SILOAM HOSPITAL
No. 51
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DEP: OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RS SILOAM HOSPITAL
INFEKSI NIFAS
1. Batasan Infeksi alat genital dalam masa nifas yang
ditandai dengan meningkatnya suhu ≥38⁰C
yang terjadi selama 2 hari berturut-turut dalam
10hari pertama pascasalin, kecuali 24jam
pertama pascasalin
2. Faktor 1. Partus lama
Predisposisi 2. Ketuban pecah dini
3. Persalinan traumatis
4. Pelepasan plasenta secara manual
5. Infeksi intrauterine
6. Infeksi kandung kemih
7. Anemi
8. Pertolongan persalinan yang tidak
bersih

3. Diagnosis Klinis :
 Febris
 Nadi cepat
 Nyeri perut bagian bawah
 Sub-involusi rahim

Inspekulo : lokia berbau


PD : uterus dan parametrium nyeri pada
perabaan
4. Pemeriksaan  Kultur bakteri aeron dan anaerob dari
Penunjang bahan yang berasal dari serviks, uterus
dan darah
 Faktor-faktor pembekuan darah
 USG jika dicurigai adanya abses
5. Pengelolaan  Antibiotic spectrum luas
 Selanjutnya pemberian tergantung hasil
kultur dan resistensi
 Jika tidak ada perbaikan dalam waktu
72 jam, pikirkan kemungkinan
tromboplebitis pelvic, abses dan septic
emboli
 Septic emboli walaupun jarang terjadi
tapi merupakan komplikasi yang paling
berbahaya. Hal ini perlu
dipertimbangkan jika tidak ada respon
terhadap pemberian antibiotic dan
adanya nyeri dada akut/ manifestasi
paru lainnya
 Bila ada abses harus dilakukan insisi
dan drainase. Jika abses Douglas
lakukan kolpotomi posterior disertai
pemasangan drain. Jika abses terdapat
intra abdomen lakukan laparotomi. Jika
uterus merupakan focus infeksi,
terutama pada kasus persalinan dengan
seksio sesarea dan terdapat dehisensi
luka lakukan histerektomi
 Syok septic ditandai oleh suhu tinggi,
status kardiovaskular tidak stabil,
penurunan lekosit. Pengobatan : rawat
di ICU, O2, terapi cairan, transfuse
darah, antibiotic, kortikosteroid,
vasopresor/ digitalis serta anti koagulan
jika diperlukan.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS OBSTETRI
RS SILOAM HOSPITAL
No. 52
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DEP: OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RS SILOAM HOSPITAL
KURETASE
Kuretase adalah serangkaian proses pelepasan
jaringan yang melekat pada dinding kavum
1. Pengertian uteri dengan melakukan invasi dan
memanipulasi instrument (sendok kuret) ke
dalam kavum uteri.
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah
2. Tujuan
dalam persiapan pelaksanaan kuretase
a. Persiapan alat
 Alat kuretase
- 1 buah cunam
tampon
- 1 buah tenakulum
- 2 buah klem ovum
(Foerster clamp)
lurus dan
lengkung
- 1 set sendok kuret
- 1 buah sondage
3. Prosedur uterus
- 1 pasang speculum
sim’s atau L
- Spuit 5 cc dan
spuit 3 cc
- Dilalator
- Kassa steril
 Kain alas bokong
 Larutan antiseptic
 Oksigen dengan regulator
 Celemek plastic, masker,
kaca mata, sepatu/ boot
karet
 Sarung tangan DTT/ steril
4 pasang
 1 buah lampu sorot
 Penampung darah dan
jaringan
 Waskom air klorin 0,5%
 Waskom air DTT
b. Persiapan pasien
 Siapkan lingkungan
 Memberitahu pasien dan
keluarga pasien tentang
hal-hal yang akan
dilakukan
 Informed Consent
 Kosongakn kandung
kemih pasien
c. Persiapan obat-obatan
 Analgetika
 Sedative
 Atropine sulfas
 Uterotonika

 Pasang sampiran
 Bidan mempersiapkan pasien yang
akan dilakukan kuretase
 Bidan / residen/ mahasiswa
memberikan bimbingan mental dan
4. Penatalaksa fisik pasien
naan  Bidan/ residen/ mahasiswa mengontrol
kembali persiapan alat-alat dan obat-
obatan yang akan dipakai untuk
tindakan kuretase
 Bidan/ residen/ mahasiswa
menyiapkan paseien dengan letak
litotomi
 Dokter spesialis/ residen anestesi
memberikan suntikan narkoleptik yang
telah disetujui (bila umur pasien > 40
tahun, harus dikonsulkan ke
Departemen penyakit dalam)
 Dokter spesialis/ residen Obgin
melakukan tindakan kuretase
 Bersihkan ibu dan tempat pasca
kuretase
 Bereskan alat-alat dan rendam dalam
klorin 0,5% selama 10 menit kemudian
bilas, cuci dan sterilisasi
 Cuci tangan setelah melakukan
tindakan
 Periksa kembali tanda vital pasien
 Pendokumentasian
Dipergunakan di kamar bersalin, ruang rawat
inap, emergensi kebidanan dan kandungan, dan
5. Unit Terkait
ruangan-ruangan yang memerlukan tindakan
ini
PANDUAN PRAKTIK KLINIS OBSTETRI
RS SILOAM HOSPITAL
No. 53
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DEP: OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RS SILOAM HOSPITAL
EMBRIOTOMI
Prosedur penyelesaian persalinan dengan jalan
melakukan pengurangan volume atau merubah
1. Pengertian struktur organ tertentu pada bayi dengan tujuan
untuk member peluang lebih besar untuk
melahirkan keseluruhan tubuh bayi tersebut.
Sebagai acuan langkah-langkah dalam
melaksanakan tindakan embriotomi pada pasien
2. Tujuan
yang akan melahirkan di kamar bersalin ruang
kebidanan dan kandungan
 Memberikan pelayanan pertolongan
persalinan bermasalah pada ibu-ibu
yang mau melahirkan di lingkungan
3. Kebijakan Ruang Bersalin RS SILOAM
HOSPITAL
 Seluruh dokter dan bidan yang bertugas
di lingkungan ruang kebidanan dan
kandungan
 Penyakit jantung dan paru-paru
 Preeklamasi dan eklamsi
 Suhu lebih dari 38⁰C
4. Indikasi  Edema jalan lahir
 Kelelahan ibu
 Letak lintang
 Persalinan dengan bayi sudah mati
 Pembukaan lengkap
5. Syarat  Ketuban negative
 Konjugata vera >8 cm
a. Persiapan
 1 set partus
6. Prosedur
 Skapel
 Perforator naegle/siebold
 Cunam muzeaux/kranioklas braun
 Cunam boer
 Gunting siebold
 Speculum sim’s
 Gunting
 Cunam abortus
 Larutan antiseptic
 Klem foerster
 Larutan klorin 0,5%
 Tempat sampah medis
 Bengkok
b. Persiapan pasien
 Beri tahu pasien tentang tindakan
yang akan dilakukan
 Informed Consent/ persetujuan
tindakan
 Tutup gordyn/ sampiran
 Beri tahu pasien tentang hal-hal yang
akan dilakukan
 Siapkan untuk pertolongan persalinan
 Perlengkapan bahan dan obat yang
digunakan
 Mengenakan apron plastic, masker,
kaca mata dan tutup kepala
 Ibu dalam posisi litotomi pada tempat
tidur persalinan
 Melepaskan semua perhiasan
 Mencuci tangan hingga siku dengan
sabun di bawah air mengalir
 Keringkan tangan dengan handuk
kecil
 Pakai sarung tangan steril
 Memasang doek (kain penutup) steril
 Mengosongkan kandung kemih,
rectum serta membersihkan daerah
perineum dengan antiseptic, bila
perlu menggunting rambut daerah
tersebut

a. Kraniotomi
 Masukkan tangan secara obstetric ke
jalan lahir (lindungi kandung kemih
dan ureter)
 Instruksikan asisten untk menahan
kepala bayi dari luar
 Buat lubang pada ubun-ubun besar
atau sutura sagitalis dengan scalpel
 Masukkan perforator naegele (dalam
keadaan tertutup) secara horizontal
dengan bagian lengkung menghadap
ke atas (perforator tegak lurus
terhadap kepala bayi)
 Lubang perforasi diperlebar dengan
cara membuka menutup ujung
7. Tindakan perforator beberapa kali dalam arah
Prosedur tegak lurus hingga lubang perforasi
berbentuk irisan silang
 Keluarkan perforator (lindungi
dengan tangan yang lain)
 Lakukan pengurangan volume kepala
dengan foerster klem melalui insisi
 Jepit kulit kepala dan kalvaria dengan
cunam muzeaux (pada kedua tepi
luka insisi) kemudian lakukan traksi
dengan arah sesuai dengan sumbu
jalan lahir dan mengikuti putaran
paksi dalam setelah kepala lahir,
lahirkan seluruh badan janin.
 Pada presentasi bokong (kepala
menyusul) kraniotomi dibuat pada
foramen magnum yang dapat
dikerjakan dari arah belakang atau
dari arah muka di bawah mulut
b. Dekapitasi
 Pada bayi dengan letak lintang dan
lengan menumbung : ikat lengan
tersebut dengan tali kemudian minta
asisten untuk menarik lengan kea rah
bokong ibu
 Masukkan tangan yang dekat dengan
leher bayi ke dalam jalan lahir untuk
mencekam leher. Ibu jari berada di
depan leher dan jari lain berada di
belakangnya
 Dengan tangan lain, masukkan
pengait braun ke jalan lahir untuk
mengait leher
 Setelah terkait dengan baik, arahkan
ke bawah dan putar (lindungi
maneuver ini dengan tangan yang
lain) untuk mematahkan tulang leher
(instruksikan asisten untuk menekan
kepala)
 Putuskan jaringan lunak dengan
gunting siebold
 Lahirkan badan kanin dengan cara
menarik lengan janin
 Lahirkan kepala secara mauriceau
c. Kleidotomi
 Masukkan satu lengan ke jalan lahir,
pegang klavikula terendah (klavikula
posterior)
 Tangan lain meotong klavikula
dengan gunting siebold hingga patah,
bersamaan dengan itu kepala bayi
ditekan dengan kuat oleh seorang
asisten
d. Eviserasi/ eksenterasi
 Masukkan satu tangan ke dalam jalan
lahir
 Ambil lengan bayi dan keluarkan dari
vagina
 Tarik lengan bayi ke bawah
(menjauhi perut bayi)
 Pasang speculum pada dinding
vagina bawah
 Gunting dinding dada atau dinding
abdomen hingga mencapai rongga
dada/ abdomen
 Keluarkan organ-organ visera
(sebanyak mungkin) menggunakan
cunam ovum (foerster) melalui
lubang pada dinding dada/ abdomen
 Lanjutkan dengan tindakan
spondilotomy yaitu : dengan gunting
siebold dan dengan lindungan tangan
dalam potongan satu ruas tulang
belakang hingga terputus, atau
kaitkan pengait leher diantara ruas
tulang belakang dan putar (lindung
dengan tangan dalam) hingga tulang
belakang terpisah dua
 Tarik lengan bayi agar badan bayi
terlipat (dibantu dengan tangan
dalam) sehingga dapat dilahirkan
 Pada letak lintang badan bayi
dilahirkan dengan versi ekstraksi
e. Pungsi (pada hidrosefalus)
 Pastikan pembukaan serviks di atas 4
cm
 Pasang speculum atas dan bawah
agar kulit kepala janin dapat terlihat
dengan jelas
 Jepit kulit kepala dengan cunam
willet. Muzeaux
 Tusukkan jarum fungsi spinal dengan
ukuran 16/18 (yang akan
dihubungkan dengan semprit) pada
sutura/ ubun-ubun kepala janin
 Lakukan aspirasi sedikit untuk
membuktikan bnar atau tidaknya
cairan otak yang keluar
 Lepaskan semprit (tabung suntik)
dari jarum pungsi kemudian
hubungkan jarum dengan slang
plastic sehingga cairan serebrospinal
dapat ditampung dalam wadah
khusus
 Lakukan dekontaminasi dan
pencegahan infeksi pasca tindakan

 Periksa tanda vital pasien, catat


kondisi, buat laporan tindakan dalam
kolom yang tersedia
 Buat instruksi pengobatan,
pemantauan dan gejala-gejala yang
8. Perawatan Pasca harus diwaspadai dalam periode
Tindakan pasca tindakan
 Jelaskan pada petugas untuk
menjalankan instruksi perawatan dan
jadwal pemberian obat serta segera
laporkan bila ditemui komplikasi
pasca tindakan
Dipergunakan di kamar bersalin ruang
9. Unit Terkait
kebidanan dan kandungan.
PANDUAN PRAKTIK KLINIS OBSTETRI
RS SILOAM HOSPITAL
No. 54
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DEP: OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RS SILOAM HOSPITAL
EKSTRAKSI FORSEP
Persalinan dengan ekstraksi forsep
adalah tindakan obstetric yang
bertujuan untuk mempercepat kala
1. Pengertian pengeluaran dengan jalan menarik
bagian terbawah janin (kepala)
dengan dua buah instrument dengan
bilah melengkung (curved blades)
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah
dalam persiapan pelaksanaan pada pasien
2. Tujuan
dengan tindakan persalinan ekstraksi forsep
di ruang rawat kebidanan dan kandungan
 Memberikan pelayanan perawatan
pada ibu yang melahirkan dengan
ekstraksi forsep di lingkungan ruang
rawat inap kebidanan dan
3. Kebijakan kandungan
 Seluruh bidan, residen, mahasiswa
kebidanan dna mahasiswa
kedokteran yang bertugas di
lingkungan ruang rawat inap
kebidanan dan kandungan
a. Persiapan alat
 Alat steril
- 1 set Forsep Ekstraktor
(Naegele/Kielland/ Boerma)
- 1 set alat partus
4. Prosedur - 1 set alat hecting
- Alat resusitasi bayi
- 1 set alat untuk eksplorasi jalan
lahir : 2 pasang speculum sim’s
atau L, 2 klem ovum, 1 cunam
tampon
- Kateter karet
- Spuit 5 cc & spuit 3 cc
 Alat tidak steril
- Celemek plastic, sepatu boot,
kaca mata, masker, handuk
kecil, penutup kepala
- Tensimeter + stetoskop,
stetoskop monoaural, doptone
- Bengkok (nierbekken)
- Tempat plasenta
- Penghisap lender
- Waskom berisi air klorin 0,5%
- Waskom berisi air DTT
- Kain panjang 2 buah
- Kain panel 2 buah
- Handuk1 buah
- Tempat sampah medis
- Tempat kain kotor
b. Persiapan pasien
 Siapkan lingkungan
 Memberitahu pasien dan keluarga
pasien tentang hal-hal yang akan
dilakukan
 Informed Concent
 Pasien telah terpasang infuse
 Kosongkan kandung kemih pasien
c. Persiapan obat-obatan
 Obat-obatan Uterotonika
(oksitosin, ergometrin)
 Lidokain injeksi

 Pasang sampiran bidan/ dokter/


reseden Obgin memeriksa kembali
5. Penatalaksanaan persiapan dan kelengkapan alat-alat
untuk persalinan yang akan dipakai
 Bidan/ residen/ mahasiswa
memberitahukan bagian
Perinatologi bahwa akan dilakukan
ekstraksi forsep
 Bidan/ dokter/ residen Obgin
memberikan bimbingan mental
kepada pasien
 Pasien disiapkan untuk tindakan
Ekstraksi Forsep dengan posisi
litotomi
 Mencuci tangan
 Residen atau dokter spesialis Obgin
melakukan tindakan Ekstraksi
Forsep sesuai protap di kamar
bersalin atau emergensi kebidanan
 Dokter bagian Perinatologi merawat
bayi sesuai prosedur
 Observasi kontraksi uterus dan
perdarahan
 Dokter/ residen Obgin melakukan
eksplorasi jalan lahir untuk
memeriksa ada tidaknya robekan
perineum/ robekan vaginal/ robekan
portio
Dipergunakan di ruang bersalin, emergensi
6. Unit Terkait kebidanan dan kandungan dan ruangan-
ruangan yang memerlukan tindakan ini
PANDUAN PRAKTIK KLINIS OBSTETRI
RS SILOAM HOSPITAL
No. 55
PANDUAN PRAKTIK KLINIS
DEP: OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RS SILOAM HOSPITAL
EKSTRAKSI VAKUM
1. Pengertian Persalinan dengan ekstraksi vakum adalah usaha
untuk melahirkan bayi dengan memasang sebuah
mangkuk (cup) vakum di kepala bayi dengan
tekanan negatif
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam
persiapan pelaksanaan pada pasien dengan
tindakan persalinan ekstraksi vakum di ruang
bersalin dan emergensi kebidanan dan kandungan
3. Kebijakan  Memberikan pelayanan perawatan pada ibu
yang melahirkan dengan ekstraksi vakum di
lingkungan rawat inap kebidanan dan
kandungan
 Seluruh bidan, residen, mahasiswa kebidanan
dan mahasiswa kedokteran yang bertugas di
lingkungan ruang rawat inap kebidanan dan
kandungan
4. Prosedur Syarat ekstraksi vakum:
 Presentasi belakang kepala (vertex)
 Janin aterm (>37minggu)
 Pembukaan lengkap
 Kepala di H III-IV atau 1/5-2/5

a. Persiapan alat
 Alat steril
- 1 set ekstraktor vakum
- 1 set alat partus
- 1 set alat jahit (hechting set)
- Alat resusitasi bayi
- 1 set alat untuk eksplorasi jalan lahir : 2
pasang speculum sim’s U atau L, 2
klem ovum, 1 cunam tampon
- Kateter karet
- Spuit 5 cc & spuit 3 cc
 Alat tidak steril
- Celemek plastic,
sepatu boot, kaca
mata, masker, handuk
kecil, penutup kepala
- Tensimeter +
stetoskop, stetoskop
monoaural, doptone
- Bengkok
(nierbekken)
- Tempat plasenta
- Penghisap lender
- Waskom berisi air
klorin 0,5%
- Waskom bnersi air
DTT
- Kain panjang 2 buah
- Kain panel 2 buah
- Handuk 1buah
- Tempat sampah
medis
- Tempat kain kotor
b. Persiapan pasien
 Siapkan lingkungan
 Memberitahu pasien dan keluarga pasien
tentang hal-hal yang akan dilakukan
 Informed Concent
 Pasien telah terpasang infuse
 Kosongkan kandung kemih pasien
c. Persiapan obat-obatan
 Obat-obatan Uterotonika
(oksitosin, ergometrin)
 Lidokain injeksi
5. Penatalaksana  pasang sampiran
an  bidan/dokter/residen Obgin memeriksa
kembali persiapan dan kelengkapan alat-
alat untuk persalinan yang akan dipakai
 bidan/residen/mahasiswa memberitahukan
bagian Perinatologi bahwa akan dilakukan
Ekstraksi Vakum
 bidan/dokter/residen Obgin memberikan
bimbingan mentak kepada pasien
 pasien disiaokan untuk tindakan Ekstraksi
Vakum dengan posisi litotomi
 mencuci tangan
 residen atau dokter spesialis Obgin
melakukan tindakan Ekstraksi Vakum
sesuai protap di kamar bersalin atau
emergensi kebidanan
 dokter bagian Perinatologi merawat bayi
sesuai prosedur
 observasi kontraksi uterus dan perdarahan
 dokter spesialis/ residen Obgin melakukan
eksplorasi jalan lahir untuk mengecek ada
tidaknya robekan perineum/ robekan
vagina/ robekan portio
 bila ada robekan padan introitus vagina
dan perineum (robekan jalan lahir),
lakukan penjahiran jalan lahir
 bersihkan ibu dan tempat persalinan
pascasalin
 bereskan alat-alat dan rendam dalam
klorin 0,5% selama 10 menit kemudian
bilas, cuci, dan sterilisasi
 cuci tangan setelah melakukan tindakan
 periksa kembali tanda vital pasien
 pendokumentasian
Definisi kegagalan ekstraksi:
 Kepala tidak turun pada tarikan
 Sudah 3x tarikan atau ekstraksi sudah
berjalan 30 menit tetapi kepala belum
turun
 Mangkok 2x lepas dengan arah tarikan
yang benar dan tekanan negatif maksimal

6. Komplikasi  Maternal: sobekan jalan lahir


 Neonatal: edema kulit kepala. Sefal
hematoma, aberasi & laserai kulit kepala,
pendarahan intrakranial (jarang terjadi)

7. Unit Terkait Dipergunakan di ruang bersalin, emergensi


kebidanan dan kandungan dan ruangan-ruangan
yang memerlukan tindakan ini