Anda di halaman 1dari 22

Hipertensi Primer Grade I

Family Folder
Muhamad Shazwan Sazali (102012483)
Fakultas Kedokteran UKRIDA
Alamat korespondensi Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510

Pendahuluan

1. Latar belakang

Prinsip pokok dari dokter keluarga adalah untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kedokteran
secara menyeluruh. Oleh karena itu perlu diketahui berbagai latar belakang pasien yang menjadi
tanggungannya. Untuk dapat mewujudkan pelayanan kesehatan seperti itu diperlukan kunjungan
rumah (home visit) serta melakukan pelayanan kesehatan standar. Untuk memajukan dan
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada masyarakat, maka perlu adanya kerjasama antara
petugas kesehatan dan pasien. Pemantauan terhadap penyakit pasien tidak hanya sekadar
mendapatkan pengobatan di puskesmas, malah lingkungan pasien turut diikut sertakan dalam
usaha meningkatkan kesehatan pasien.

2. Tujuan

Tujuan umum : Meningkatkan pelayanan kesehatan

Tujuan khusus : Menilai kondisi lingkungan pasien dan memberi edukasi yang terkait
dengan penyakitnya.

3. Manfaat

Manfaat yang didapatkan dari kunjungan ke rumah pasien antara lain adalah:

 Meningkatkan pemahaman dokter tentang pasien dan penyakitnya

 Meningkatkan komunikasi dokter-pasien

 Menjamin terpenuhinya kebutuhan dan tuntutan kesehatan pasien

Page 1
Pembahasan

1. Laporan Kunjungan Rumah

a) Puskesmas : Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk


b) Tanggal kunjungan : 24 Juli 2015

c) Identitas Pasien
 Nama : Ny. Sumi Haryati
 Umur : 49 tahun
 Tanggal lahir : 10 Nopember 1966
 Jenis kelamin : Perempuan
 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
 Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA)
 Alamat : Jl. Perjuangan, No. 38, Gang Cempaka, RT 13/RW 10, Kebon
Jeruk, Jakarta Barat
 Telepon : 0813 1137 5584
 Tingkat Ekonomi : Sedang
 Status Imunisasi : Tidak ada data

d) Nama Keluarga dan Anggota Serumah yang Bukan Keluarga


Nama dan Jenis Tanggal Lahir Bekerja/Tidak Pendidikan Hubungan Status Domisili Keadaan
Kelamin Keluarga Perkahwinan Serumah/Tidak Kesehatan
Penyakit Bila
Ada

Rizki 15/10/1990 Bekerja S1 Ekonomi Anak Lajang Serumah -


(Lelaki)

Alvin 31/08/1995 Mahasiswa STMT Anak Lajang Serumah Maag


(Lelaki) Trisakti

e)

Page 2
e) Status Imunisasi Keluarga : Lengkap
f) Status Gizi Keluarga : Baik
g) Jaminan Pemeliharaan Kesehatan : BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial)

h) Keadaan Rumah

 Kebersihan Rumah : Baik

 Vektor Penyakit : Nyamuk

 Keadaan Udara Dalam Rumah : Baik

 Luas Rumah/Bangunan : Dua lantai ( Kira-kira 6 x 13 m2)

 Jumlah Tinggal Dalam Rumah : Tiga orang

 Luas Kamar Pasien : Kira-kira 3 x 4 m2

 Jenis Lantai : Keramik

 Jenis Tembok : Semen

 Jenis Atap : Genteng

 Ventilasi Rumah : Baik

 Ventilasi Kamar : Baik (Berjendela)

 Keadaan Dapur Dan Kebersihan : Sedang

 Tempat Penyimpanan Makanan : Kuskas (Bersih/Baik)

 Tempat Penyimpanan Alat Makan : Sedang

 Tempat Cuci Tangan : Air mengalir, Kebersihan wastafel sedang

 Keadaan Kamar Mandi : Sedang

 Keadaan Jamban : Sedang

 Sumber Air Sehari-hari : Air tanah

 Tempat Penyimpanan Air : Bak air (Sedang)

 Sumber Air Minum : Air tanah

Page 3
 Tempat Penyimpanan Air Minum : Kuskas (Bersih/Baik)

 Tempat Sampah Di Dalam Rumah : Tidak ada

 Sumber Pencahayaan Rumah : Sinar matahari (Sedang)

 Sistem Pembuangan Air Limbah : Baik

 Kebersihan Sekitar Rumah : Sedang

 Tempat Sampah Di Luar Rumah : Kurang Baik

 Keadaan Udara/ Polusi Luar Rumah : Sedang

2. Anamnesa

Keluhan Utama Pasien : Pusing, Nyeri kepala, Nyeri sendi lutut

Riwayat Penyakit Sekarang : Pusing secara tiba-tiba, membaik setelah makan


obat, Nyeri kepala setelah makan

Riwayat Penyakit Dahulu : Hipertensi sejak enam bulan yang lalu, Kadar asam
urat tinggi

Riwayat Penyakit Keluarga : Ibu pasien menghidap kencing manis, Almarhum


suami pasien meninggal akibat aneurysm

Perilaku Sosial Pasien

 Merokok : Tidak

 Konsumsi Alkohol : Tidak

 Pola Jajan : Menggemari gorengan

 Pola Makan : Sehari minimal tiga kali, Menggemari sayur hijau,


Menggemari makanan pedas, Tidak menggemari daging selain daging ayam

 Pola Memasak Makanan : Lebih sering masak sendiri

 Pola Minuman Sehari Hari : Masak air, minum kurang lebih 8gelas per hari,
konsumsi gula sedang

Page 4
 Olahraga : Jarang, kadang tidak dilakukan

 Kebersihan : Mandi sehari dua kali, sikat gigi dua hingga tiga kali
per hari, ganti baju setiap selesai mandi

 Pola Pengobatan : Pemeriksaan rutin ke Puskesmas setiap dua


minggu, konsumsi herbal (mengkudu) untuk hipertensi, konsumsi allopurinol untuk
menurunkan asam urat, konsumsi simvastatin untuk menurunkan kadar kolesterol
total, konsumsi captopril untuk menurunkan tekanan darah, konsumsi nifedipin
untuk menurunkan tekanan darah setelah mengalami keluhan nyeri dada akibat
pemakaian captopril

 Aktifitas Kemasyarakatan : Jarang

 Pola Kunjungan Puskesmas : Setiap dua minggu

3. Pemeriksaan Kesehatan Pasien

a) Keadaan Umum : Baik

b) Kesadaran : Compos mentis

c) Tanda Vital

 Suhu : 36◦C

 Frekuensi Nadi : 96 kali per menit

 Frekuensi Nafas : 18 kali per menit

 Tekanan Darah : 140/80 mmHg

d) Pemeriksaan Penunjang

 Kolesterol Total : 208 mg/dl

 Asam Urat : Tiada

 Fungsi Ginjal : Tiada

4. Diagnosis Pasien

a) Working Diagnosis : Hipertensi primer grade I

Page 5
b) Differential Diagnosis : Hipertensi sekunder

5. Anjuran Penatalaksaan Penyakit

a) Promotif
Memberi penyuluhan mengenai pengertian, gejala, faktor resiko, serta komplikasi
hipertensi.
b) Preventif
Menasihati pasien untuk mengkonsumsi makanan rendah garam dan lemak (kurangkan
gorengan atau jajanan), mengkonsumsi banyak buah, banyakkan minum air putih, hindari
makanan instan dan minuman berkaffein.
c) Kuratif
Menasihati pasien agar sering melakukan pemeriksaan rutin ke puskesmas dan minum obat
secara teratur.
d) Rehabilitatif
Menyarankan pasien untuk olahraga ringan, tetapi rutin.

6. Prognosis
Dubia ad Bonam

7. Resume
Ny. Sumi Haryati (49 tahun) datang ke Puskesmas Kecamatan Kebon Jeruk untuk
pemeriksaan rutin. Dokter telah mendiagnosa pasien dengan hipertensi primer grade I
karena tekanan darah yang agak tinggi yaitu 140/80 mmHg. Ny. Sumi Haryati juga
memberitahu bahwa kadar asam uratnya pernah meningkat beberapa bulan yang lalu dan
telah kembali normal setelah mengkonsumsi allopurinol dan menjaga pola makan dengan
mengurangi konsumsi sayur hijau. Selain itu, didapatkan kadar kolesterol total Ny. Sumi
Haryati sedikit meningkat yaitu 208 mg/dl setelah menyambut lebaran akibat konsumsi
makanan berminyak secara lebih. Ny. Sumi Haryati diberi nifedipin untuk pengobatan
hipertensi, dan simvastatin untuk menurunkan kadar kolesterol total tubuh. Ny. Sumi

Page 6
Haryati mengambil obat secara teratur dan mengunjungi Puskesmas setiap dua minggu.
Keadaan rumah dan persekitarannya pula secara keseluruhan pada tahap yang baik.

Analisa Masalah
Epidemiologi

Penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang berlanjut
untuk suatu target organ, seperti stroke untuk otak, penyakit jantung koroner untuk pembuluh
darah jantung dan untuk otot jantung. Penyakit ini telah menjadi masalah utama dalam kesehatan
masyarakat yang ada di Indonesia maupun di beberapa negara yang ada di dunia. Semakin
meningkatnya populasi usia lanjut maka jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga
akan bertambah. Diperkirakan sekitar 80% kenaikan kasus hipertensi terutama di negara
berkembang tahun 2025 dari sejumlah 639 juta kasus di tahun 2000, di perkirakan menjadi 1,15
milyar kasus di tahun 2025. Prediksi ini didasarkan pada angka penderita hipertensi saat ini dan
pertambahan penduduk saat ini. Angka-angka prevalensi hipertensi di Indonesia telah banyak
dikumpulkan dan menunjukkan di daerah pedesaan masih banyak penderita yang belum terjangkau
oleh pelayanan kesehatan. Baik dari segi case finding maupun penatalaksanaan pengobatannya.
Jangkauan masih sangat terbatas dan sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai
keluhan. Prevalensi tertinggi ditemukan di ProvinsiKalimantan Selatan (39,6%) sedangkan
terendah di Papua Barat (20,1%).1

Etiologi

Sampai saat ini penyebab hipertensi primer tidak diketahui dengan pasti. Hipertensi primer tidak
disebabkan oleh faktor tunggal dan khusus. Hipertensi ini disebabkan berbagai faktor yang saling
berkaitan. Hipertensi sekunder disebabkan oleh faktor primer yang diketahui yaitu seperti
kerusakan ginjal, gangguan obat tertentu, stres akut, kerusakan vaskuler dan lain-lain. Risiko
relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan keparahan dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi
dan yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara lain faktor
genetik, umur, jenis kelamin, dan etnis. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stres,
obesitas dan nutrisi.

Page 7
Patofisiologi

Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari


angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE). ACE memegang peran fisiologis
penting dalam mengatur tekanan darah. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal)
akan diubah menjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah
menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan
tekanan darah melalui dua aksi utama. Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon
antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja
pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat
sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi
osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan
cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat yang pada
akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. 2

Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron
merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume
cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara
mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan
cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume
dan tekanan darah. Patogenesis dari hipertensi primer merupakan multifaktorial dan sangat
komplek. Faktor-faktor tersebut merubah fungsi tekanan darah terhadap perfusi jaringan yang
adekuat meliputi mediator hormon, aktivitas vaskuler, volume sirkulasi darah, kaliber vaskuler,
viskositas darah, curah jantung, elastisitas pembuluh darah dan stimulasi neural. Patogenesis
hipertensi primer dapat dipicu oleh beberapa faktor meliputi faktor genetik, asupan garam dalam
diet, tingkat stress dapat berinteraksi untuk memunculkan gejala hipertensi. 2

Page 8
Gejala Klinis

Kebanyakan pasien dengan tekanan darah tinggi tidak memiliki tanda-tanda atau gejala, bahkan
pada pembacaan tekanan darah mencapai tingkat yang membahayakan. Beberapa pasien dengan
tekanan darah tinggi bisa mengalami sakit kepala, sesak napas atau mimisan, tapi tanda-tanda dan
gejala-gejala ini tidak spesifik dan biasanya tidak terjadi sampai tekanan darah tinggi telah
mencapai tahap yang parah atau yang mengancam jiwa.3

Tabel 1. Klasifikasi Tekanan Darah dari JNC 8


(https://www.ghc.org/all-sites/guidelines/hypertension.pdf)

STAGE SYSTOLIC (mmHg) DIASTOLIC (mmHg)

NORMAL < 120 < 80

PRE - 120 – 139 80 – 89

GRADE I 140 – 159 90 - 99

GRADE II > 160 > 100

Penatalaksanaan

1) Terapi Non Farmakologis

 Menurunkan berat badan bila status gizi berlebih.

Peningkatan berat badan di usia dewasa sangat berpengaruh terhadap tekanan darahnya.
Oleh karena itu, manajemen berat badan sangat penting dalam prevensi dan kontrol
hipertensi.

Page 9
 Meningkatkan aktifitas fisik.

Orang yang akt ivitasnya rendah berisiko terkena hipertensi 30% hingga 50% daripada
yang aktif. Oleh karena itu, aktivitas fisik antara 30 hingga 45 menit sebanyak >3x/hari
penting sebagai pencegahan primer dari hipertensi.

 Mengurangi asupan natrium.

Apabila diet tidak membantu dalam 6 bulan, maka perlu pemberian obat anti hipertensi
oleh dokter.

 Menurunkan konsumsi kafein dan alcohol

Kafein dapat memacu jantung bekerja lebih cepat, sehingga mengalirkan lebih banyak
cairan pada setiap detiknya. Sementara konsumsi alkohol lebih dari 2 hingga 3 gelas per
hari dapat meningkatkan risiko hipertensi.

2) Terapi Farmakologis

Terapi farmakologis yaitu obat antihipertensi yang dianjurkan oleh JNC VII yaitu
diuretika, terutama jenis thiazide (hydrochlorothiazide) atau aldosteron antagonis
(spironolactone), beta blocker (atenolol, propanolol), calcium channel blocker (nifedipine,
amlodipine) atau calcium antagonist, Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (captopril,
ramipril), Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/blocker (ARB) (Losartan,
Valsartan).

Pada November 2013 melalui upaya kolaboratif oleh American Heart Association (AHA),
American College of Cardiology (ACC), dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC),
telah menjelaskan kriteria untuk algoritma manajemen hipertensi.4

Page 10
Algoritma manajemen hipertensi yang dianjurkan oleh gabungan AHA/ACC /CDC adalah
seperti berikut:

Tekanan darah : 139/89 mm Hg atau kurang

Hipertensi Grade I : dapat diobati dengan modifikasi gaya hidup dan, jika perlu,
diuretik thiazide

Hipertensi Grade II : dapat diobati dengan kombinasi diuretik thiazide dan ACE
inhibitor, angiotensin receptor blocker (ARB), atau calcium channel
blocker.

Bagi pasien yang gagal mencapai tujuan tekanan darah, dosis obat dapat ditingkatkan
dan/atau obat dari kelas yang berbeda dapat ditambahkan ke pengobatan.

Komplikasi

Tekanan yang berlebihan pada dinding arteri yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi
dapat merusak pembuluh darah serta organ-organ dalam tubuh. Semakin tinggi tekanan darah dan
semakin lama dibiarkan tidak terkendali, semakin besar risiko kerusakan.

Tekanan darah yang tinggi dan tidak terkontrol dapat menyebabkan serangan jantung atau
stroke. akibat pengerasan dan penebalan arteri (aterosklerosis). Peningkatan tekanan darah juga
dapat menyebabkan pembuluh darah menjali melemah sehingga membentuk tonjolan (aneurisma).
Jika pecah aneurisma dapat mengancam nyawa.

Untuk memompa darah dengan melawan tekanan yang lebih tinggi di pembuluh darah, otot
jantung menjadi lebih tebal. Akhirnya, otot yang menebal mungkin mengalami kesulitan
memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh, menyebabkan gagal jantung.

Pembuluh darah di ginjal yang melemah dan menyempit pembuluh darah mencegah organ
tersebut dari berfungsi secara normal. Pembuluh darah yang menebal, menyempit atau robek di
mata pula dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan.

Page 11
Sindrom metabolik adalah sekumpulan gangguan metabolisme tubuh, termasuk
peningkatan lingkar pinggang, trigliserida tinggi, rendah high-density lipoprotein (HDL)
kolesterol, tekanan darah tinggi dan tingkat insulin yang tinggi. Kondisi ini membuat pasien lebih
mungkin untuk mengembangkan diabetes, penyakit jantung dan stroke.5

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol juga dapat mempengaruhi kemampuan untuk
berpikir, mengingat dan belajar. Masalah dengan memori atau pemahaman konsep lebih sering
terjadi pada orang dengan tekanan darah tinggi.

Kesimpulan

Hipertensi merupakan penyakit yang mempunyai prevalens yang tinggi, dan bukanlah satu
penyakit degeneratif meskipun risikonya lebih tinggi pada usia lanjut. Hal yang harus difahami
oleh masyarakat adalah hipertensi bukanlah kondisi normal untuk orang lanjut usia. Kebanyakan
kasus hipertensi akan menimbulkan komplikasi seperti kerusakan organ target, terutama jantung.
Prinsip pengobatan hipertensi adalah untuk mencapai target tekanan darah, dan menghindari
komplikasi.

Page 12
Daftar Pusaka

1. Rahajeng E, Tuminah S. Prevalensi hipertensi dan determinannya di Indonesia. Maj


Kedokt Indon. 2009;59(12)

2. Williams H. Hypertension: pathophysiology and diagnosis. Pharmaceutical Journal


[Internet]. 2015. Available from: http://www.pharmaceutical-journal.com/learning/cpd-
article/hypertension-pathophysiology-and-diagnosis/20067718.cpdarticle

3. American Heart Association. Home blood pressure monitoring. 2015. Available from:
http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/HighBloodPressure/SymptomsDiagnosis
MonitoringofHighBloodPressure/Home-Blood-Pressure-
Monitoring_UCM_301874_Article.jsp.

4. Go AS, Bauman M, King SM, et al. An effective approach to high blood pressure control:
a science advisory from the American Heart Association, the American College of

Page 13
Cardiology, and the Centers for Disease Control and Prevention. Hypertension. 2013 Nov
15.

5. Huang Y, Cai X, Li Y, et al. Prehypertension and the risk of stroke: a meta-analysis.


Neurology. 2014 Mar 12.

Lampiran

Page 14
Gambar 1. Rumah Ny. Sumi Haryati

Gambar 2. Perkarangan Rumah Ny. Sumi Haryati

Page 15
Gambar 3. Keadaan Parit di Luar Rumah Ny. Sumi Haryati

Gambar 4. Pembuangan Sampah di Sekitar Rumah Ny. Sumi Haryati

Page 16
Gambar 5. Sumber Pencahayaan Dalam Rumah

Gambar 6. Kamar Ny. Sumi Haryati dan Ventilasi Kamar

Page 17
Gambar 7. Kamar Anak Ny. Sumi Haryati dan Ventilasi Kamar

Gambar 8. Keadaan Tempat Cuci Tangan

Page 18
Gambar 9. Keadaan Tempat Penyimpanan Makanan/Kuskas

Gambar 10. Keadaan Dapur

Page 19
Gambar 11. Keadaan Jamban

Gambar 12. Sumber Air Mandi dan Takungan Air

Page 20
Gambar 13. Pengobatan Ny. Sumi Haryati

Page 21
Gambar 14. Pemeriksaan Tanda-Tanda Vital pada Ny. Sumi Haryanti

Gambar 15. Riwayat Kesehatan Ny. Sumi Haryati

Page 22