Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN GAGAL GINJAL KRONIS

DENGAN MASALAH KESEIMBANGAN CAIRAN DI RSUD JOMBANG

Maria Ulfa
1312010017

Subject: Klien gagal ginjal kronis, asuhan keperawatan, gagal ginjal kronis,
keseimbangan cairan

Description
Pada penderita gagal ginjal kronis sulit dalam membatasi asupan cairan.
Masalah yang sering muncul pada penderita gagal ginjal kronis yaitu
keseimbangan cairan. Tujuan studi kasus ini adalah melakukan asuhan
keperawatan pada klien gagal ginjal kronis yang mengalami masalah
keseimbangan cairan.
Desain penelitian ini adalah studi kasus. Jumlah responden yang diambil
yaitu 2 klien yang didiagnosa gagal ginjal kronis dan mengalami masalah
keseimbangan cairan. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu
wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan menggunakan format asuhan
keperawatan medikal bedah. Pengkajian menggunakan 4 sumber data utama yaitu
klien, perawat, keluarga klien, dan status medis klien. Kemudian ditegakkan
diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi.
Pengkajian pada klien 1, klien mengeluh pusing. Terdapat edema pada
ekstermitas bawah kanan dan kiri. Intake cairan 600 ml/24 jam dan output cairan
1000 ml/24 jam. Hemoglobin 8,1 g/dL dan kreatinin 8,6 mg/dL. Sedangkan pada
klien 2, klien mengeluh sesak nafas. Tekanan darah 160/80 mmHg, pernafasan 48
x/menit. Pernafasan dispnea, suara nafas rales, terpasang oksigen 4 liter/menit dan
terdapat asites. Intake cairan 460 ml/24 jam dan output cairan BAK 5-6 x/hari.
Dari hasil pengkajian, diagnosa keperawatan kedua klien yaitu kelebihan volume
cairan.
Dari diagnosa yang muncul pada kedua klien dilakukan intervensi
monitoring tanda-tanda vital; tanda dan gejala hipervolemia dan edema; catat
intake dan output cairan; kaji asupan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang
retensi cairan. Klien 1 masa perawatan 3 hari dan klien 2 masa perawatan 3 hari.
Hasil evaluasi tindakan keperawatan masalah kelebihan volume cairan pada klien
1 masalah teratasi sedangkan klien 2 masalah belum teratasi. Pada klien gagal
ginjal kronis yang mengalami masalah keseimbangan cairan harus mematuhi
pembatasan asupan cairan agar tidak terjadi keseimbangan cairan.

Abstract
In patients with chronic renal failure is difficult to limit fluid intake. The
imbalance of fluid often arises in patients with chronic renal failure. The purpose
of this case study was to perform nursing care to chronic renal failure client who
were having fluid imbalance.
The research design was a case study. Respondents used were 2 clients
who were diagnosed with chronic renal failure and were having problems of fluid
imbalance. The methods of data colection were interviews, observation, and
documentation using format of medical surgical nursing care. Assesment using 4
main data sourches that were the client, nurse, client’s family, and medical
record. Then enforced nursing diagnosis, intervention, implementation, and
evaluation.
Assesment of client 1, the client felt dizziness, there were edema of both
lower exstremities, fluid intake was 600 ml/24 hours and fluid output was
1000ml/24 hours. Hemoglobin was 8,1 g/dL and creatinin was 8,6 mg/dL. Client 2
obtained data, client complained of dyspnea. Blood pressure was 160/80 mmHg,
respiration rate was 48 x/minute, dyspnea with the sound of rales, giving oxygen
4 liter/minute and there was ascites. Fluid intake was 460 ml/24 hours and fluid
output by urinary about 5-6 x/day. From the results of the assesments both of
clients nursing diagnosed were excessfluid volume.
The intervention for both of clients were monitoring vital signs, signs and
symptoms of hypervolemia and edema; record fluid and output, assess dietary
intake and habits that support fluid retention. First client, 3 days treatment period
and second client 3 days treatment period. The evaluation of nursing intervention
showed the problem was excess fluid volume, the client 1 issue was resolved while
the client 2 issue was not resolved. On the clients with chronic renal failure who
were having problems of fluid imbalance, must obey with restrictions on fluid
intake to prevent fluid imbalance.

Key word : Nursing care; chronic renal failure ; fluid imbalance

Contributor : 1. Dwiharini Puspitaningsih, M. Kep


2. Widy Setyowati, M. Kep

Date : 19-22 Juli 2016


Type material : Laporan Tugas Akhir
Identifier :-
Right : Open Document
Summary :
LATAR BELAKANG
penderita gagal ginjal kronis berbanding lurus dengan peningkatan penderita
yang menjalani hemodialisis. Penderita gagal ginjal kronis paling banyak terjadi
pada usia dewasa dan usia lansia. Kebanyakan penderita gagal ginjal kronis
mengalami masalah keseimbangan cairan. Hasil penelitian Tanujiarso, Ismonah,
Supriadi, 2014 wawancara dengan pasien penderita gagal ginjal kronis, 7 dari 10
pasien mengatakan susah membatasi asupan cairan sehari-harinya dikarenakan
mereka sering merasa haus dan selalu ingin minum. Seharusnya penderta gagal
ginjal kronis tidak mengalami masalah keseimbangan cairan yang mengakibatkan
edema jika penderita bisa membatasi asupan cairan.
Prevalensi penderita gagal ginjal kronis di Indonesia sebesar 0,2%. Penderita
gagal ginjal kronis terbanyak di wilayah Sulawesi Tengah dengan prevalensi 0,5
%. Sedangkan di Jawa Timur prevalensi penderita gagal ginjal kronis 0,3 %
(RISKESDAS, 2013). Menurut penelitian Adrian, Paramata, Pakaya, 2015, pasien
yang patuh dalam pembatasan asupan cairan mempunyai kualitas hidup baik
dengan prevalensi 50%. 36,7% pasien tidak patuh dalam pembatasan asupan
cairan memiliki kualitas hidup kurang baik. 10% pasien patuh dalam pembatasan
asupan cairan memiliki kualitas hidup kurang. 3,3% pasien tidak patuh dalam
pembatasan asupan cairan memiliki kualitas hidup baik. Hasil studi pendahuluan
di ruang dahlia RSUD Kab Jombang, penyakit gagal ginjal kronis menduduki
urutan kedua setelah penyakit diabetes melitus. Bulan Januari penderita gagal
ginjal kronis berjumlah 69 orang dan bulan Februari berjumlah 67 orang. Semua
penderia gagal ginjal kronis tersebut rata-rata memiliki masalah keperawatan
keseimbangan cairan.
Gagal ginjal kronis yaitu penyakit ginjal yang dapat menggangu
keseimbangan cairan dan elektrolit karena adanya retensi natrium, klorida,
kalium, dan air di ruang ekstraseluler. Kadar plasma yang berasal dari produk sisa
metabolisme seperti nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin meningkat karena
ginjal tidak mampu menyaring dan mengekskresikan produk sisa metabolisme
seluler (Monahan et al, 2007) dalam (Potter & Perry, 2010). Gagal ginjal kronis
bersifat progresif, keberhasilan terapi mungkin dapat dilakukan dengan cara
kontrol ketat diet garam dan protein, diuresis, restriksi cairan, dan dialysis (Potter
& Perry, 2010).
Keberhasilan dari terapi kontrol ketat diet merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi kualitas hidup penderita gagal ginjal kronis. Hasil penelitian
Adrian, Paramata, Pakaya, 2015 faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas
hidup pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis yaitu
responden yang patuh pada pembatasan asupan cairan memiliki kualitas hidup
baik. Sedangkan responden yang tidak patuh dalam pembatasan asupan cairan
memiliki kualitas hidup kurang baik.
Analisa praktik klinik keperawatan dengan masalah perkotaan pada pasien
gagal ginjal kronis. Asuhan keperawatan dilakukan pada 5 orang responden
dengan masa perawatan 3-8 hari. Satu orang dari 5 orang responden mengalami
masa perawatan 8 hari dengan masalah kelebihan volume cairan dimana pasien
mengalami oliguri dan sesak nafas. Intervensi keperawatan yang dilakukan yaitu
mendokumentasikan dan memantau intake dan output cairan; mengkaji warna
kulit, wajah, dan adanya edema; monitor ttv; auskultasi jantung dan paru
(Mardiana, 2013).
Pada klien gagal ginjal kronis dilakukan intervensi berdasarkan NANDA
2015 dalam (Nurarif & Kusuma, 2015) dan (Carpenito, 2006) monitoring tanda-
tanda vital, monitor adanya distensi leher, roncki, edema perifer, dan penambahan
berat badan. Monitor tanda dan gejala dari edema. Monitor intake dan output
cairan. Mencatat intake dan output cairan jika terjadi penurunan output cairan
dilakukan pembatasan asupan cairan.

METODOLOGI
Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kasus. Jumlah
responden yang diambil dalam studi kasus ini yaitu 2 klien yang didiagnosa gagal
ginjal kronis dan mengalami masalah keseimbangan cairan. Studi kasus ini
dilakukan di ruang Dahlia RSUD Jombang.
Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancar, observasi, dan
dokumentasi. Wawancara dilakukan pada klien, keluarga, dan perawat. Observasi
yang dilakukan menggunakan pemeriksaan fisik dengan metode persistem.
Dokumentasi yaitu mencatat hasil wawancara dan observasi dengan klien, status
klien dan hasil pemeriksaan penunjang dengan menggunakan format asuhan
keperawatan medikal bedah.
Uji keabsahan data menggunakan 4 sumber data utama yaitu klien, keluarga,
perawat, dan status medis yang berkaitan dengan masalah keseimbangan cairan
pada klien gagal ginjal kronis. Analisa data yang digunakan yaitu dari analisa data
hasil pengkajian, dari analisa data ditegakkan diagnosa keperawatan. Kemudian
dibuat intervensi keperawatan dan dilakukan implementasi. Setelah selesai
implementasi dilakukan evaluasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Pengkajian
Klien 1 mengeluh kepalanya pusing. Tekanan darah 120/80 mmHg.
Nadi 80 x/menit. Pernafasan 22 x/menit. Suhu 36,80 C. Intake 600 ml/24
jam dan output 1000 ml/24 jam. Hasil laboratorium Hemoglobin 8,1 g/dL
dan kreatinin 8,6 mg/dL. Terdapat edema pada ekstremitas bawah kanan
dan kiri. CRT memanjang >3 detik. Kuku berwarna putih. Menurut
(Corwin, 2009) tanda dan gejala gagal ginjal kronis yaitu hipervolemia
akibat retensi natrium. Pada pemeriksaan penunjang nilai BUN serum,
kreatinin dan GFR tidak normal. Hemoglobin dan hematokrit turun
(Corwin, 2009). Menurut (Price & Wilson, 2006) hipervolemia memiliki
tanda edema perifer dan periorbital.
Klien 2 mengeluh sesak nafas. Klien mengalami dispnea, suara nafas
rales, terdapat tarikan intercostae saat bernafas, suara redup. Terpasang
oksigen nasal kanul 4 liter per menit. Terdapat asites pada abdomen.
Tekanan darah 160/80 mmHg. Nadi 80 x/menit. Pernafasan 48 x/menit.
Suhu 36,60 C. Intake 460 ml/24 jam dan output 5-6 kali per hari. hasil
laboratorium hemoglobin 9,2 g/dL dan kreatinin 5,36 mg/dL. Tanda dan
gejala gagal ginjal kronis menurut (Corwin, 2009) yaitu hipervolemia dan
hipertensi akibat kelebihan muatan cairan. Pemeriksaan penunjang nilai
BUN serum, kreatinin, dan GFR tidak normal (Corwin, 2009). Gambaran
klinis klebihan volume yaitu peningkatan tekanan darah, denyut nadi
penuh dan kuat, asites, efusi pleura, dispnea, takipnea (Price & Wilson,
2006).
Dari kedua klien tanda dan gejala gagal ginjal kronis berbeda. Klien 1
mengeluh kepalanya pusing dan terdapat edema pada ekstermitas bawah
kanan dan kiri. Pada klien 2 mengeluh sesak nafas. Selain terdapat
perbedaan tanda dan gejala gagal ginjal kronis kedua pasien memiliki
tanda dan gejala gagal ginjal kronis yang sama yaitu hasil laboratorim
hemoglobin kedua klien mengalami penurunan. Penurunan Hb kedua klien
berbeda sedikit. Hasil pemeriksaan kreatinin kedua klien meningkat.
Peningkatan kreatinin kedua klien berbeda sedikit.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa medis klien 1 yaitu anemia + CKD st 5-dyspnea-HT. Klien
mengeluh kepalanya pusing. Tekanan darah 120/80 mmHg. Nadi 80
x/menit. Pernafasan 22 x/menit. Suhu 36,80 C. Intake 600 ml/24 jam dan
output 1000 ml/24 jam. Hasil laboratorium Hemoglobin 8,1 g/dL dan
kreatinin 8,6 mg/dL. Terdapat edema pada ekstremitas bawah kanan dan
kiri. CRT memanjang >3 detik. Kuku berwarna putih.
Klien 2 mengeluh sesak nafas. Klien mengalami dispnea, suara nafas
rales, terdapat tarikan intercostae saat bernafas, suara redup. Terpasang
oksigen nasal kanul 4 liter per menit. Terdapat asites pada abdomen.
Tekanan darah 160/80 mmHg. Nadi 80 x/menit. Pernafasan 48 x/menit.
Suhu 36,60 C. Intake 460 ml/24 jam dan output 5-6 kali per hari. hasil
laboratorium hemoglobin 9,2 g/dL dan kreatinin 5,36 mg/dL. Pemeriksaan
radiologi cardiomegali, pneumonia dexstra, dan efusi pleura minimal.
Dari tanda dan gejala kedua klien, dimana klien 1 didiagnosa gagal
ginjal kronis dengan tanda dan gejala edema pada ekstermitas dan Hb
turun. Sedangkan pada klien 2 didiagnosa gagal ginjal kronis dengan
dispnea, suara nafas rales, dan asites. Dari tanda dan gejala tersebut klien 1
dan 2 mengalami masalah keperawatan kelebihan volume cairan. Penyakit
gagal ginjal kronis kedua klien tidak diawali dari penyakit gagal ginjal
akut. Klien 1 gagal ginjal kronis dengan anemia. Menurut (Corwin, 2009)
terjadinya anemia pada gagal ginjal kronis dikarenakan kegagalan ginjal
membentuk eritroprotein dalam jumlah adekuat sehingga sering kali
menimbulkan anemia.
klien 2 gagal ginjal kronis pada pemeriksaan radiologi terdapat
cardiomegali, pneumonia dexstra, dan efusi pleura minimal. Menurut
penelitian (Erika, et al. , 2000) dalam (Yuwono, 2014), melaporkan bahwa
infeksi nasokomial pada penderita gagal ginjal kronis yang dilakukan
hemodialisa yaitu infeksi saluran kemih (ISK), infeksi vaskuler,
pneumonia, dan diare karena infeksi. Menurut (Wilkinso & Ahern, 2011)
efusi pleura merupakan batasan karakteristik objektif pada masalah
keperawatan kelebihan volume cairan.
3. Intervensi
Intervensi yang akan dilakukan pada kedua klien sama. Intervensi yang
pertama monitor tanda-tanda vital. Intervensi yang kedua monitor tanda
dan gejala hipervolemia. Intervensi ketiga catat secara akurat intake dan
output cairan. Intervensi keempat kaji asupan diet dan kebiasaan yang
dapat menunjang retensi cairan. Intervensi kelima monitor tanda dan
gejala edema.
Intervensi monitor vital sign (tanda-tanda vital), catat secara akurat
intake dan output cairan dan monitor tanda dan gejala edema (Nurarif &
Kusuma, 2015). Monitor tanda dan gejala hipovolemia atau hipervolemia
karena kemampuan regulasi ginjal tidak adekuat (Nursalam & Batticaca,
2011). Kaji asupan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang retensi
cairan (misalnya asupan garam) (Carpenito, 2006).
Intervensi tanda-tanda vital dapat mengetahui tekanan darah, nadi,
suhu, dan pernafasan dimana pada klebihan volume cairan terjadi tekanan
darah tinggi (hipertensi), nadi takipnea, dan pernafasn dispnea. Mencatat
secara akurat intake dan output cairan untuk mengetahui jumlah asupan
dan pengeluaran cairan secara tepat. Monitor tanda dan gejala edema
dilakukan karena edema merupakan tanda dari kelebiha volume cairan.
Monitor tanda dan gejala hipervolumia dilakukan untuk mengetahui tanda
dan gejala hipervolemia selain dari tanda-tanda vital dan edema. Mengkaji
diet yang menunjang retensi cairan dilakukan untuk mengetahui adanya
diet yang menjadi penyebab kelebihan volume cairan.
Pada tujuan intervensi klien 1 dan klien 2 sama yaitu setelah dilakukan
tindakan keperawatan 3 x 24 jam kelebihan volume dapat teratasi. menurut
penelitian (Dewi, 2013) setelah dilakukan tindakan keperawatan 14 X 24
jam kelebihan volume dapat teratasi. tujuan dilakukan selama 3 hari
karena waktu dilakukan asuhan keperawatan minimal 3 hari intervensi.
Kriteria hasil pada klien 1 yaitu pertama terbebas dari edema. Kedua
tanda-tanda vital dalam batasan normal. Intake dan output seimbang dan
tidak ada tanda dan gejala hipervolemia. Pada klien 2 kriteria hasil bunyi
nafas bersih tidak ada dispnea/ortopnea. Terbebas dari kelelahan,
kecemasan, atau kebingungan. TTV dalam batas normal. Intake dan output
seimbang. Sesak nafas bekurang.
Kriteria hasil menurut (Nurarif & Kusuma, 2015) terbebas dari edema,
efusi, anaskara. Bunyi nafas bersih, tidak ada dispnea/ortopnea. Terbebas
dari kelelahan, kecemasan atau kebingungan. Kriteria hasil kedua klien
berbeda karena tanda dan gejala kelebihan volume cairan kedua klien
berbeda.
4. Implementasi
Implementasi hari pertama klien 1 dan klien 2 dilakukan tindakan
keperawatan sama yaitu memonitoring tanda-tanda vital, memonitoring
tanda dan gejala hipervolemia, mencatat secara akurat intake dan output
cairan, mengkaji asupan diet dan kebiasaan yang dapat menunjang retensi
cairan, dan memonitoring tanda dan gejala edema. Pada hari kedua klien 1
dilakukan implementasi yang sama dengan hari sebelumnya. Tetapi pada
klien 2 implementasi dilakukan modifikasi dengan menambah
implementasi menimbang pampers. Menurut (Nurarif & Kusuma, 2015)
intervensi timbang popok atau pembalut jika diperlukan. Menimbnag
pampers pada klien 2 dilakukan karena klien 2 tidak menggunakan kateter,
sehingga untuk mengukur output dengan cara menimbang pampers.
Implementasi hari ke tiga pada klien 1 implementasi dimodifikasi.
Implementasi ditambah dengan pemberian health education. Health
education yang diberikan yaitu mengenai masalah diet cairan dan
makanan yang dapat meningkatkan kadar Hb, karena pada klien 1 gagal
ginjal kronis dengan anemia. Pada klien 2 implementasi hari ke tiga
dimodifikasi dengan memberikan health education. Health education yang
diberikan masalah diet cairan dan makanan.
5. Evaluasi
Evaluasi hari pertama klien 1, masalah belum teratasi. masih terdapat
edema pada ekstremitas bawah kanan dan kiri. Intake cairan 600 ml/24
jam dan output cairan 1000 ml/24 jam. Pada klien 2 masalah belum
teratasi. klien masih mengeluh sesak nafas. Keadaan umum lemah. Pola
nafas dispnea, suara nafas rales, dan terdapat asites. Tekanan darah 160/80
mmHg.
Hari kedua evaluasi klien 1 masalah teratasi. tidak terdapat edema pada
ekstremitas bawah. Keadaan umum klien membaik dan akan dilakukan
hemodialisa. Intake cairan 600 ml/24 jam dan output cairan 1000 ml/24
jam. Evaluasi pada klien 2 masalah kelebihan volume cairan belum
teratasi. ditandai dengan pernafasan dispnea, terdapat suara nafas rales dan
terjadi asites.
Hari ketiga evaluasi klien 1 tidak ada kleuhan. Intake 600 ml/24 jam
dan output 1000 ml/24 jam. Keadaan klien membaik. Masalah teratasi
klien diperbolehkan pulang. Evaluasi pada klien 2 masalah belum teratasi.
klien mengalami penurunan kesadaran. Keadaan umum klien lemah.
Pernafasan dispnea, suara nafas ralesdan terdapat asites.
Menurut penelitian (Mardiana, 2013) salah satu responden
penelitiannya yang mengalami masalah kelebihan volume cairan, masa
perawatan selama 8 hari. Dari penelitian tersebut sesuai dengan evaluasi
klien 1. Klien 1 dirawat di rumah sakit selama 8 hari. Tapi pada studi
kasus ini perawatan klien 1 pada hari keenam klien masuk rumah sakit.
Sehingga hari ke tujuh klien sudah tidak ada tanda kelebihan volume
cairan.
Sedangkan pada klien 2 perawatan dilakukan perawatan pada hari ke
lima klien masuk rumah sakit. Saat evaluasi hari ketiga dan hari ke tujuh
klien masuk rumah sakit, keadaan klien lemah dan kesadaran menurun.
Sedangkan klien 1 hari ketujuh keadaan membaik. Hal ini dipengaruhi dari
faktor komplikasi dan penyakit penyerta dari gagal ginjal kronis yaitu pada
hasil radiologi terdapat cardiomegali, pneumonia dexstra, dan terdapatb
efusi pleura minimal.

SIMPULAN
1. Pengkajian
Dari data pengkajian tanda dan gejala gagal ginjal kronis berbeda yaitu
klien 1 ditandai dengan edema pada ekstermitas dan klien 2 ditandai
dengan sesak nafas.
2. Diagnosis
Masalah keperawatan kelebihan volume cairan klien 1 cenderung pada
anemia dan pasrtisipan 2 masalah kelebihan volume cairan cenderung
pada sistem pernafasan yang mengalami pneumonia dan efusi
minimal.
3. Perencanaan
Pada hari selanjutnya, perencanaan dimodifikasi anatara klien 1 dan
klien 2. Modifikasi perencanaan yaitu dengan memberi health
education pada kedua klien dan menimbnag pampers untuk mengukur
output pada klien 2.
4. Tindakan
Tindakan keperawatan pada kedua klien sama, kedua klien dilakukan
tindakan selama 3 hari.
5. Evaluasi
Hasil evaluasi tindakan keperawatna masalah kelebihan volume cairan
pada klien 1 masalah teratasi sedangkan tindakan pada klien 2 masalah
keperawatan belum teratasi.

REKOMENDASI
Bagi klien yang dilakukan asuhan keperawatan harus tetap mematuhi
pembatasan asupan cairan agar tidak terjadi ketidakseimbangan cairan.
Untuk pembaca asuhan keperawatan gagal ginjal kronis pembaca dapat
mencegah terjadinya gagal ginjal kronis. Bagi penulis selanjtnya dalam
mengembangkan asuhan keperawatan pada klien gagal ginjal kronis
disarankan melakukan asuhan keperawatan lebih lanjut mengenai klien
gagal ginjal kronis dengan masalah keperawatan kelebihan volume cairan
yang mengalami pneumonia.

DAFTAR PUSTAKA
Adrian, Paramata, N. R., & Pakaya, A. W. (2015). Faktor-Faktor yang
berhubungan dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di
Ruang Hemodialisa RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe Kota Gorontalo.
Jurnal Keperawatan.
Carpenito, L. J. (2006). Buku saku Diagnosis keperawtan . Jakarta: EGC.
Corwin, E. J. (2009). Buku saku patofisiologi. Jakarta: EGC.
Dewi, N. P. (2013). Analisa Praktik Klini keperawatan Kesehatan Masyarakat
Perkotaan Pada Pasien Gagal Ginjal di Ruang Penyakit Dalam Lantai 7
Zona A RSUP Cipto Mangunkusumo. Universitas Indonesia.
Mardiana, R. (2013). Analisis Praktik Klinik Keperawatan Masalah Perkotaan
Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Ruang Melati Atas Rumah Sakit
Umum Pusat Persahabatan Jakarta. Universitas Indonesia.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda NIC_NOC Edisi Revisi Jilid 2. Jogyakarta:
Medication.
Nursalam, & Batticaca, F. B. (2011). asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan
Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). Fundamental Keperawatan Edisi 7 buku 1 &
3 . Jakarta: EGC.
Price, s. A., & Wilson, L. M. (2006). Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC.
Riskesdas,2013. Riset Keseharan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: Balitibang
Kemenkes RI.
Tanujiarso, B. A., Ismonah, & Supriadi. (2014). Efektifitas Konseling Diet Cairan
Terhadap Pengontrolan Interdialitic Weight Gain (IDWG) Pasien
Hemodialis di Rs Telorejo Semarang. Jurnal Keperawatan dan
Kebidanan.
Wilkinso, J. M., & Ahern, N. R. (2011). Buku Saku Diagnosis Keperawatan :
diagnosis NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC ed 9. Jakarta: EGC.
Yuwono, I. H. (2014). Infeksi Hemodialisis unit hemodialisis RSUD Kota
Semarang. infeksi hemodialisis.

Alamat correspondensi
Email : ulfam2606@gmail.com
Alamat : Jln. Hasanudin Gg. 24 no. 23 Pasuruan
No. Hp : 085655999527