Anda di halaman 1dari 12

NAMA: JUNDULLAH.

H
NIM: H41114319
MATA KULIAH: AKUAKULTUR
MENENTUKAN LOKASI TAMBAK
Langkah pertama yang harus dilakukan dalam pembuatan tambak adalah menentukan
lokasi yang paling memenuhi persyaratan untuk memedia memelihara udang. Pemilihan lokasi
tambak ini tidak hanya untuk menentukan kecocokan lahan sebagai media pemeliharaan udang
saja, tetapi juga untuk mendukung modifiksai desain tambak, tata letak tambak, pembuatan
konstruksi tambak, dan manajemen yang akan diterapkan.
Pada prinsipnya, lahan yang akan digunakan sebagai tambak harus memenuhi
persyaratan fisika, kimia, biologis, teknis, sosial ekonomis,hogienis, dan legal.
Ditinjau dari segi aspek ekologis, keadaan alam, sumber air dan iklim di Indonesia
sangat menunjang usaha budi daya di tambak. Secara ekologis ada 7 faktor yang perlu
dipertimbangkan untuk menentukan tingkat kesesuaian lokasi tambak yaitu:
1. Iklim Dan Suhu Lingkungan
2. Kuantitas Dan Kualitas Air
3. Salinitas
4. Pasang surut air
5. Arus air
6. Pola hujan dan rembesan

Kondisi Fisik Air Tambak


Secara garis besar kondisi fisik air tambak merupakan keadaan air tambak ditinjau dari
keberadaan dan penampakan partikel-partikel fisik yang dijumpai di dalam perairan
tersebut. Partikel-partikel tersebut muncul sebagai akibat proses yang terjadi di dalam
ekosistem perairan maupun karena faktor teknis budidaya sehingga secara tidak langsung ikut
mempengaruhi kehidupan organisme yang berada di dalamnya. Kondisi fisik air tambak juga
dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur kualitas perairan dengan dasar pemikiran sebagai
berikut ini :
1. Pemunculan partikel tersebut dapat dijadikan isyarat bahwa telah terjadi proses (biologi, kimia,
fisika) di dalam perairan yang tidak sebagaimana mestinya;
2. Dalam jumlah yang besar dan jangka waktu lama dapat menyebabkan terganggunya fungsi
fisiologis udang dan organisme lainnya;
Ukuran partikel-partikel tersebut ada yang berukuran kecil dan ada yang relatif besar
karena karena proses akumulasi yang terjadi. Pemunculan partikel tersebut bisa berada di
lapisan air maupun muncul dipermukaan air tambak. Melalui pengamatan yang cermat maka
penampakannya akan dapat terlihat bahkan terdeteksi semenjak dini penyebab
permasalahannya. Beberapa kondisi fisik perairan tambak yang biasa dijumpai antara lain :
1. Air tambak berdebu, kondisi ini untuk menggambarkan bahwa di dalam air tambak muncul
partikel-partikel sangat halus dan melayang-layang karena tidak terlarut atau mengendap di
dalam perairan tambak. Kondisi seperti ini dapat mengakibatkan gangguan pada insang udang
dan pada jangka waktu tertentu dapat mengakibatkan penyakit insang merah. Alternatif
perlakuan yang bisa diterapkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan
peningkatan sirkulasi air baik dari segi frekuensi maupun volumenya secara kontinyu.
Penggunaan saponin pada dosis tertentu diharapkan dapat mengikat partikel yang ada di
perairan tambak.
2. Air tambak berbusa/berbuih, pada kondisi ini air dipermukaan tambak tampak berbusa/berbuih
dan akan lebih jelas kelihatan pada saat kincir air dioperasikan. Hal ini menandakan bahwa di
perairan tersebut telah terjadi mortalitas plankthon secara massal yang dapat menimbulkan
keseimbangan ekosistem perairan colaps, kecerahan air tambak cenderung tidak stabil, dasar
tambak kotor karena endapan bangkai plankthon. Perlakuan teknis yang dapat digunakan untuk
mengatasi kondisi ini adalah dengan melakukan sirkulasi air secara kontinyu dan pada kondisi
tertentu dapat dilakukan inokulasi bibit plankthon secara kontinyu dari petakan tambak lainnya
disertai dengan peningkatan dosis penggunaan pupuk atau pemakaian bahan organik.
3. Pemunculan klekap di permukaan air tambak. Klekap pada dasarnya merupakan campuran
antara kotoran dasar tambak dengan bangkai plankthon yang terangkat ke permukaan air
karena adanya proses oksidasi dengan bantuan sinar matahari. Kondisi ini terjadi karena dasar
tambak yang kotor dan kecerahan air tambak yang relatif tinggi. Klekap bila telah mengendap
kembali di dasar tambak akan terjadi pembusukan dan dapat menyebabkan peningkatan
kandungan H2S, NH3 di dalam tambak yang berbahaya bagi udang. Pemunculan klekap di
permukaan tambak dapat diatasi dengan pengangkatan klekap dari permukaan tambak dan
pembersihan dasar tambak yang diibangi dengan sirkulasi secara kontinyu dan pembentukan
kembali kualitas air tambak melalui regenerasi plankthon yang telah mati dengan cara inokulasi
bibit plankthon dan pemumpukan dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan;
4. Tumbuhnya lumut di dalam tambak. Kondisi ini terjadi karena kecerahan air tambak yang
relatif tinggi dan berlangsung dalam kondisi lama dan disertai dengan proses pemupukan yang
kontinyu. Lumut yang tumbuh di dalam tambak akan menghambat aktifitas dan gerak udang
serta proses penumbuhan plankthon relatif lebih susah. Lumut akan hilang jika penetrasi sinar
matahari yang membantu pertumbuhan lumut terhalang oleh plankthon pada kecerahan air
tertentu.
Ke empat kondisi tersebut di atas merupakan hal yang sering dijumpai pada petakan-
petakan tambak yang dalam pengamatan kualitas perairan kurang cermat ataupun pemberian
perlakuan teknis yang kurang tepat pada sasarannya. Perairan tambak dengan kualitas perairan
dan kondisi udang yang sesuai dengan keseimbangan ekosistem akan mempengaruhi rona dan
kualitas kondisi fisik perairan akan terjaga dengan sendirinya serta sangat tergantung pada
upaya untuk mempertahankan kondisi tersebut.

Warna Air Tambak


Warna air tambak pada dasarnya terjadi karena adanya dominansi jenis plankton
tertentu yang tumbuh dan berkembang di dalam perairan tambak. Parameter ini dapat
digunakan sebagai salah satu tolok ukur kualitas perairan tambak secara praktis melalui
pengamatan visual dengan memperhatikan kondisi dan kualitas udang di dalam perairan
tersebut dengan dasar pemikiran seperti berikut ini:
1. Phythoplankton mempunyai karakteristik warna tertentu yang disebabkan oleh kandungan
chlorophyl yang relatif berbeda antara jenis yang satu dengan yang lainnya.
2. Plankton memiliki karakteristik sifat tertentu dalam melakukan proses kegiatannya baik itu
biologi, kimia, fisika dan ekologi yang relatif berbeda antara jenis yang satu dengan yang
lainnya.
3. Phythoplankton merupakan produsen utama dalam rantai makanan yang ada di perairan
tambak, sehingga dominansinya relatif berpengaruh pada kehidupan organisme lainnya.
4. Tidak semua jenis plankton yang tumbuh dalam perairan tambak bersifat menguntungkan bagi
udang atau organisme lainnya di dalam tambak, sehingga dominansi dari jenis tertentu akan
berpengaruh pada tingkat kenyamanan organisme lain di dalam tambak.
Dasar pemikiran diatas memperlihatkan bahwa warna perairan tambak yang
disebabkan oleh adanya dominansi jenis plankton tertentu dapat dijadikan acuan dalam
pengambilan keputusan tentang kualitas air tambak. Faktor dominansi plankton di dalam
tambak dapat terjadi karena pengaruh bibit plankton yang dimasukkan ke dalam tambak dan
treatment yang diterapkan dalam proses penumbuhan dan pengelolaan plankton. Pada saat awal
pembentukan air tambak bibit plankton yang dimasukkan ada kemungkinan sudah terjadi
dominansi yang selanjutnya tumbuh dan berkembang di dalam tambak. Pada kasus lain bibit
plankton yang dimasukkan ke dalam tambak belum terjadi dominansi, tapi treatment yang
diterapkan memungkinkan terjadinya pertumbuhan dan perkembangan jenis plankton tertentu
sehingga mendominansi perairan tambak.
Aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai dan menganalisis warna air tambak
secara garis besar meliputi:
1. Jenis plankton yang dominan.
2. Kelimpahan plankton yang dominan.
3. Kondisi dan kualitas udang.
Analisis terhadap jenis plankton yang dominan didasarkan pada karakteristik dan
sifatnya serta tingkat permasalahan yang mungkin ditimbulkan di dalam perairan dan
pengaruhnya terhadap organisme lainnya. Perairan tambak yang didominansi oleh jenis
plankton yang bersifat menguntungkan dan membawa pengaruh yang nyaman dan aman pada
organisme lainnya keputusan yang perlu diambil adalah cara untuk mempertahankan,
sedangkan jika dominansi yang terjadi adalah dari jenis plankton yang merugikan maka perlu
dilakukan penggantian dominansi plankton dengan melakukan penurunan air tambak dalam
volume yang besar dan proses inokulasi bibit plankton yang menguntungkan dari petakan
tambak lainnya disertai dengan pemupukan.
Kelimpahan plankton yang dominan di perairan tambak erat hubungannya dengan
tingkat kecerahan air tambak seperti telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya.
Kelimpahan yang terlalu tinggi dari jenis plankton yang merugikan akan sangat
membahayakan bagi udang dan dapat menimbulkan masalah serius jika tidak segera
diantisipasi.
Analisis warna air tambak yang berkaitan dengan dominansi jenis plankton tertentu
harus bermuara pada kondisi dan kualitas udang yang hidup di perairan tersebut. Keadaan ini
dapat diartikan bahwa meskipun dominansi plankton di perairan tambak tersebut merupakan
jenis yang menguntungkan tapi jika kondisi dan kualitas udang mengalami degradasi, maka
ada sesuatu masalah di dalam perairan tersebut sehingga perlu diadakan identifikasi dan
analisis penyebab masalah secara cermat dan akurat. Sebaliknya jika pengamatan warna air
tambak menunjukkan adanya dominansi plankton yang merugikan sedangkan kondisi dan
kualitas udang dalam keadaan normal, maka proses penggantian air tambak perlu dilakukan
secara bertahap dan kontinyu agar tidak menimbulkan stress pada udang sampai dominansi
plankton di dalam tambak tergantikan dengan jenis yang baru dan bersifat menguntungkan.
Kriteria warna air tambak yang dapat dijadikan acuan standar dalam pengelolaan
kualitas air adalah seperti di bawah ini:
1. Warna air tambak hijau tua yang berarti menunjukkan adanya dominansi chlorophyceae
dengan sifat lebih stabil terhadap perubahan lingkungan dan cuaca karena mempunyai waktu
mortalitas yang relatif panjang. Tingkat pertumbuhan dan perkembangannya yang relatif cepat
sangat berpotensi terjadinya booming plankton di perairan tersebut.
2. Warna air tambak kecoklatan yang berarti menunjukkan adanya dominansi diatomae. Jenis
plankton ini merupakan salah satu penyuplai pakan alami bagi udang, sehingga tingkat
pertumbuhan dan perkembangan udang relatif lebih cepat. Tingkat kestabilan plankton ini
relatif kurang terutama pada kondisi musim dengan tingkat curah hujan yang tinggi, sehingga
berpotensi terjadinya plankton collaps dan jika pengelolaannya tidak cermat kestabilan kualitas
perairan akan bersifat fluktuatif dan akan mengganggu tingkat kenyamanan udang di dalam
tambak.
3. Warna air tambak hijau kecoklatan yang berarti menunjukkan dominansi yang terjadi
merupakan perpaduan antara chlorophyceae dan diatomae yang bersifat stabil yang didukung
dengan ketersediaan pakan alami bagi udang.
Standar warna air tambak seperti tersebut di atas merupakan acuan praktis dalam
mengidentifikasi jenis plankton sebagai upaya pendeteksian masalah kualitas perairan secara
dini. Selain warna standar tersebut ada beberapa warna air tambak yang biasa dijumpai dalam
kegiatan usaha budidaya udang, yaitu antara lain:
1. Warna air tambak kekuningan yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton
jenis cyanophyceae. Pada kondisi perairan tambak seperti ini biasanya udang berwarna lebih
pucat dari biasanya disertai dengan penurunan nafsu makan udang dan jika tidak segera
diantisipasi dapat menimbulkan kerusakan pada hepatopanchreas udang.
2. Warna air tambak hijau pupus yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton
jenis dynophyceae dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).
3. Warna air tambak biru kehijauan yang berarti menunjukkan adanya dominansi blue green algae
dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).
4. Kamuflase green color, pada kondisi ini tambak seolah-olah berwarna kehijauan tapi pada
dasarnya tidak/kurang mengandung plankton. Hal ini terjadi biasanya pada tambak yang
kandungan bibit planktonya sangat kurang tetapi kegiatan pemupukan berjalan terus, sehingga
warna yang ditimbulkan adalah warna karena pengaruh cuaca. Kejadian ini dapat diketahui
dengan mengukur kecerahan perairan tambak yang biasanya sangat tinggi, atau dengan melihat
warna air yang ada pada kincir air yang sedang dioperasikan.
Identifikasi jenis plankton di perairan tambak secara praktis dengan melihat warna
perairan seperti telah diuraikan di atas perlu ditunjang dengan pengamatan dan analisis
laboratorium secara berkala untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Kegiatan ini dilakukan
dengan cara pengambilan sampel perairan dan sampel udang dari petakan-petakan tambak baik
yang bermasalah maupun yang tidak terkena masalah, sehingga dapat diambil
perbandingannya.

Kondisi Dasar Tambak


Kondisi dasar tambak merupakan suatu keadaan fisik dasar tambak beserta proses yang
terjadi didalamnya baik yang menyangkut biologi, kimia, fisika maupun ekologi yang secara
langsung maupun tidak langsung ikut berpengaruh pada kehidupan udang maupun organisme
lainnya dalam suatu keterkaitan ekosistem perairan tambak. Parameter ini dapat dijadikan
sebagai salah satu tolok ukur kualitas perairan tambak dengan dasar pemikiran sebagai berikut
:
1. Dasar tambak merupakan ruang gerak dan tempat hidup bagi udang dan organisme lainnya
dalam kondisi normal seperti habitat alaminya, sehingga kondisi dasar tambak akan
mempengaruhi tingkat keamanan dan kenyamanan bagi udang maupun organisme lainnya di
dalam perairan tersebut;
2. Dasar tambak merupakan tempat akumulasi kotoran tambak baik yang berasal dari treatment
budidaya maupun proses metabolisme yang dilakukan oleh organisme yang hidup di perairan
tambak tersebut;
3. Dasar tambak merupakan suatu area di dalam tambak yang membentuk suatu sub komunitas
tersendiri yang bersifat benthic di dalam tambak dan keberadaannya mempunyai korelasi yang
erat dengan ekosistem perairan tambak;
4. Pada dasar tambak terjadi proses-proses biologi, kimia, fisika dan ekologi yang sangat
tergantung pada kestabilan ekosistem perairan;
5. Pada kondisi tertentu, dasar tambak dapat bersifat an aerob karena tidak terjadinya proses
oksidasi sehingga dapat membahayakan bagi kondisi dan kualitas udang di dalam tambak.
Beberapa faktor penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya akumulasi kotoran di
dasar tambak adalah antara lain :
1. Desain dan kontruksi dasar tambak yang tidak dirancang dengan tingkat kesesuaian
terkonsentrasinya kotoran ke arah sentral pembuangan, sehingga menyebabkan kotoran di
dasar tambak tersebut menyebar di beberapa titik konsentrasi;
2. Penempatan posisi kincir air yang kurang tepat, sehingga tidak dapat mengarahkan kotoran
tersebut ke arah sentral pembuangan;
3. Program pakan yang over feeding jika dibandingkan dengan tingkat kebutuhan udang. Sisa
pakan yang berlebihan tersebut tidak terkonsumsi oleh udang dan membusuk serta
terakumulasi di dasar tambak menjadi kotoran;
4. Teknik pemberian pakan yang tidak merata ke seluruh area pakan di dalam petakan tambak,
sehingga pakan terakumulasi di satu titik dan tidak terkonsumsi merata sehingga membusuk di
dasar tambak;
5. Tingkat populasi udang di dalam tambak. Pada tambak dengan populasi udang yang relatif
padat, kondisi dasar tambak akan relatif bersih karena kotoran di dasar tambak akan terdorong
dengan sendirinya ke sentral pembuangan yang diakibatkan oleh aktifitas udang di dasar
tambak;
6. Kurangnya pengecekkan dasar tambak dengan melakukan penyelaman secara berkala;
7. Kurangnya intensitas dan frekuensi sirkulasi air yang dapat mendorong kotoran dasar tambak
ke arah sentral pembuangan.
Kotoran di dasar tambak biasanya berupa lumpur hitam yang mengendap di dasar serta
mengandung H2S dan NH3 yang bersifat asam dalam dosis tertentu dapat membahayakan bagi
udang. Kotoran ini berasal dari proses metabolisme yang dilakukan oleh organisme perairan
tersebut, mortalitas plankthon dan sisa pakan udang yang tidak terkonsumsi serta pengaruh
dari treatment budidaya lainnya. Keberadaan lumpur hitam di dasar tambak dapat teramati
melalui cara antara lain :
1. Pengamatan warna kulit/khitin udang melaui sampling berkala maupun pengamatan
ancho. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya berdampak pada
penampakan kulit udang yang cenderung berwarna lebih gelap dari keadaan normal. Pada
saat dilakukan sampling sampling kotoran dasar tambak/lumpur biasanya ikut terbawa pada
jala yang ditebarkan ke dalam tambak;
2. Pengecekkan langsung ke dasar tambak dengan melakukan penyelaman untuk melihat kondisi
dasar tambak dan kondisi udang;
3. Melihat saluran pembuangan air tambak pada saat dilakukan sirkulasi air dengan
memperhitungkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kotoran/lumpur
tersebut. Pada kegiatan ini juga perlu diperhatikan tingkat kelancaran saluran pembuangan
dalam mengeluarkan air tambak, jika terjadi penyumbatan maka dibutuhkan identifikasi
lanjutan terhadap penyebab penyumbatan tersebut. Faktor lain yang juga perlu
dipertimbangkan adalah keberadaan bangkai udang yang ikut terbawa keluar bersama air
tambak berdasarkan jumlah dan kondisi bangkai udang tersebut agar dapat diambil alternatif
keputusan yang mengarah pada harvesting decision ataupun treatment decision;
4. Pengamatan terhadap permukaan air tambak pada saat kincir air tidak dioperasikan. Kondisi
dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya mengeluarkan gelembung-gelembung
udara yang muncul dari dasar tambak ke arah permukaan air, jika di permukaan tambak banyak
dijumpai fenomena ini maka kondisi dasar tambak relatif sangat kotor dan penuh lumpur.
Sirkulasi Air
Beberapa faktor sumber air tambak lainnya yang perlu dipertimbangkan sebelum
melakukan sirkulasi air adalah :
1) Kualitas sumber perairan yang meliputi :
– Biologi : ketersediaan bibit plankthon, keberadaan predator dan competitor bagi udang,
ketersediaan pakan alami udang, dsb,
– Kimia : kandungan H2S, NH3, tingkat keasaman (pH), dsb;
– Fisika : pasang surut, salinitas, kekeruhan air, dsb.
2) Kondisi fisik air yang meliputi, dasar perairan, dan kandungan partikel yang melayang-
layang di air, dsb
3) Aktifitas kegiatan manusia seperti alur pelayaran, penangkapan ikan, dsb;
4) Pencemaran perairan dari lingkungans ekitarnya dan merugikan bagi kegiatan budidaya ;
Berdasarkan pemikiran bahwa proses sirkulasi air adalah untuk memperbaiki atau
mempertahankan kualitas air, maka ke empat faktor di atas harus benar-benar diperhatikan agar
jangan sampai dengan melakukan sirkulasi air, kualitas perairan di dalam tambak mengalami
degradasi atau bertambah rusak.
Sumber air yang dimasukkan ke dalam tambak ada beberapa macam, tergantung dari
teknologi dan lokasi dimana tambak tersebut berada. Beberapa sumber air dan cara yang biasa
digunakan dalam proses sirkulasi air tambak antara lain sebagai berikut :
1. Air laut yang dimasukkan secara langsung ke dalam tambak dengan bantuan pasang surut
ataupun melalui alat bantu yang berupa pompa air. Cara ini digunakan pada lahan tambak yang
relatif dekat atau berhadapan langsung dengan laut dan perlu memperhatikan kondisi dan
kualitas air laut sebelum dimasukkan ke dalam tambak secara langsung. Pada tambak yang
menggunakan pompa air sebagai alat bantunya akan membutuhkan investasi yang cukup besar
untuk pemasangan instalasi pompa air beserta paralon yang dirangkai sampai batas pantai,
sedangkan dari segi lahan cara ini rentan terhadap pengikisan air laut terhadap lahan tambak;
2. Air sungai yang masih bersifat payau dan dimasukkan ke dalam tambak secara langsung
dengan bantuan pasang surut ataupun melalui alat bantu yang berupa pompa air. Cara ini biasa
digunakan pada tambak yang letaknya relatif agak jauh dari laut atau dekat dengan laut dan
sungai dengan pertimbangan pemasangan instalasi pompa air relatif lebih sederhana
dibandingkan dengan pengambilan air langsung dari laut. Cara ini rentan terhadap
sedimentasi dan pencemaran limbah sungai yang berasal dari rumah tangga maupun industri
yang berada di sekitar area sungai;
3. Sistem ‘tandon’, yaitu petakan/lahan yang dibuat sebagai tempat penampungan air
laut atau air sungai sebagai sumber pemasukan air tambak. Pada sistem ini, air di
dalam tandon biasanya diberi perlakuan teknis sebelum dimasukkan ke dalam tambak,
sehingga kualitas air yang dimasukkan sudah terkontrol dari segi kuantitas dan
kualitasnya. Sistem ini dapat dikatakan merupakan cara yang relatif ideal bagi kegiatan
budidaya karena air dari laut telah diendapkan dan segala faktor yang merrugikan bagi kegiatan
budidaya telah diminimalkan melalui perlakuan teknis yang telah diberikan;
4. Sistem water recircle yaitu proses daur ulang air dari saluran pembuangan tambak
ditampung kembali ke dalam suatu tandon melalui proses sterilisasi dan dijadikan sebagai
sumber pemasukan air tambak. Cara ini biasa digunakan pada tambak yang relatif jauh dari
laut maupun sungai atau sebagai antisipasi jika air laut dan sungai sedang mengalami masalah
sehingga tidak memungkinkan untuk dimasukkan ke dalam tambak. Bisa dikatakan cara ini
merupakan cara yang paling rentan terhadap masalah dibandingkan dengan beberapa cara
lainnya, karena air pembuangan yang dimasukkan kembali kedalam tambak merupakan air
kotor meski sudah melalui proses sterilisasi.
Selain sumber pemasukan air seperti telah diuraikan di atas, sirkulasi air juga
memerlukan saluran pembuangan air tambak yang berfungsi selain untuk mengatur volume air
tambak juga untuk membuang kotoran dan lumpur di dasar tambak. Beberapa faktor yang
mempengaruhi proses pembuangan air tambak dan perlu dipertimbangkan antara lain :
1. Desain dan konstruksi antara dasar tambak dengan saluran pembuangan air tambak
memungkinkan kelancaran sirkulasi dan tidak berpotensi menimbulkan penyumbatan pada
salurannya;
2. Saluran pembuangan lebih tinggi dari kondisi pasang surut terendah, sehingga dalam proses
pembuangan air tambak tidak mengalami kendala yang disebabkan oleh pasang surut;
3. Saluran pembuangan harus dilengkapi dengan pintu/paralon pembuangan yang dapat
digunakan untuk mengatur pembuangan air dasar tambak, pertengahan dan permukaan air;
4. Saluran pembuangan terutama bagian sentral memiliki filter yang dapat mencegah
keluar/lolosnya udang pada saat dilakukan pembuangan air tambak;
5 Saluran pembuangan harus terpisah dengan sumber pemasukan air tambak sehingga tidak
terjadi kontaminasi air yang akan digunakan dalam proses budidaya;
6. Saluran pembuangan air tambak sedapat mungkin berhubungan dengan sungai atau kanal
khusus sehingga kotoran dan lumpur tambak yang terbuang dapat terbawa arus dan tidak
mengendap di satu tempat yang menyebabkan terjadinya sedimentasi saluran pembuangan;
Sirkulasi air tambak yang didukung dengan sistem pemasukan air dan sistem
pembuangan air yang memadai akan menunjang kelancaran sirkulasi air di dalam kegiatan
pengelolaan kualitas perairan tambak. Kegiatan sirkulasi air tambak dapat dilakukan dengan
berbagai cara tergantung pada tingkat kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi. Metode
yang biasa digunakan dalam kegiatan budidaya udang adalah :
1. Sirkulasi air dengan pola buang isi, yaitu pergantian air tambak dengan cara melakukan
pembuangan air tambak sampai pada volume tertentu terlebih dahulu yang kemudian
dilanjutkan dengan pengisian kembali air baru ke dalam tambak sampai pada volume yang
dikehendaki. Sirkulasi air dengan cara ini biasa digunakan pada kasus :
 Air laut mengalami surut terendah sehingga menunjang kelancaran proses pembuangan air
tambak dan tidak memungkinkan untuk mengisi air baru dari laut;
 Menjaga/mempertahankan kualitas air tambak yang sudah terbentuk dengan volume
pembuangan air tidak terlalu besar dan tidak menimbulkan guncangan, sedangkan pengisian
air bertujuan untuk regenerasi plankthon;
 Penumbuhan dan pembentukan plankthon yang baru, yaitu pembuangan volume air tambak
yang relatif besar sehingga ketinggian air tambak relatif rendah, kemudian dilakukan pengisian
air baru secara bertahap yang diimbangi dengan pemupukan
 Pembuangan kotoran/lumpur dasar tambak secara rutin;
2. Sirkulasi air dengan pola isi buang, yaitu pergantian air tambak dengan cara melakukan
pengisian air ke dalam tambak terlebih dahulu yang kemudian dilanjutkan dengan pembuangan
air tambak sampai pada volume yang dikehendaki. Sirkulasi air dengan cara ini biasa
digunakan pada kasus :
Sirkulasi air pada awal tebar benur. Ketinggian air tambak pada saat tebar relatif rendah,
sehingga sirkulasi air yang dilakukan hanya dengan menambahkan air baru ke dalam tambak
secara bertahap sampai pada ketinggian yang dikehendaki, kemudian baru dilakukan
pembuangan air tambak. Metode ini bertujuan antara lain :
 mengurangi keluarnya udang yang masih berukuran sangat kecil melalui saluran pembuangan;
 menumbuhkan pakan alami di dalam tambak yang diperlukan oleh benur;
 mengontrol kecerahan air tambak dan kelimpahan plankthon yang sesuai dengan kebutuhan
benur/udang muda.
 Pembentukan plankthon ke arah yang stabil dengan volume air yang dimasukkan ke dalam
tambak lebih besar dibandingkan dengan air tambak yang dibuang;
 Membantu mengatasi saluran pembuangan yang kurang lancar/mampet. Air tambak yang yang
relatif tinggi mempunyai daya dorong yang kuat pada saluran pembuangan sehingga
diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.
3. Sirkulasi air dengan pola oplos yaitu melakukan pengisian air ke dalam tambak secara
bersamaan dengan pembuangan air tambak sampai batas waktu yang dikehendaki. Pada
sirkulasi ini ketinggian dan volume air tambak relatif tetap karena perbandingan air masuk dan
air keluar tambak relatif sama. Sirkulasi air dengan cara ini biasa digunakan pada kasus :
 Perbaikan kualitas air tambak yang collaps dengan tidak mengguncang volume air di dalam
tambak;
 Penanganan air tambak yang berpartikel. Pada kondisi seperti ini sirkulasi dilakukan secara
kontinyu untuk memgeluarkan partikel tersebut keluar tambak, kemudian dilakukan pemberian
saponin yang bertujuan mengikat partikel yang tersisa di dalam tambak;
Populasi udang di dalam tambak relatif padat dengan tingkat kebutuhan pakan tinggi. Pada
kondisi seperti ini sirkulasi yang dilakukan bertujuan antara lain :
 Mempertahankan tingkat kesegaran air yang diperlukan udang dengan meminimalkan
kesenjangan waktu antara pembuangan air dan pemasukan air tambak;
 Meminimalkan waktu terjadinya akumulasi sisa pakan dan metabolisme udang di dasar
tambak;
 Menekan terjadinya guncangan kualitas perairan yang dapat membahayakan bagi udang di
dalam tambak dengan populasi relatif padat.
4. Sirkulasi air tambak dengan pola penggantian air tambak secara total, yaitu dengan
melakukan pembuangan air sampai ke dasar tambak kemudian baru dilakukan pengisian air
secara bertahap. Sirkulasi air dengan cara ini biasa digunakan pada kasus :
 Tingkat kualitas perairan tambak relatif jelek dan membahayakan kehidupan udang, sehinggga
diperlukan perairan yang benar-benar baru dan diharapkan dapat menciptakan suasana nyaman
bagi udang;
 Udang terkena masalah yang disebabkan karena kondisi perairan yang jelek sehingga dengan
mengurangi volume air tambak dalam skala besar diharapkan dapat merangsang udang untuk
melakukan moulting massal;
 Sebagai upaya melihat/memantau populasi udang di dalam tambak secara langsung untuk
memberi kepastian sebagai dasar pengambilan keputusan secara teknis budidaya.
Pola sirkulasi air tambak sebagai salah satu metode pengelolaan kualitas perairan dalam
penerapannya sangat tergantung dari pengamatan dan kondisi yang sedang terjadi di
lapangan. Proses pengambilan keputusan tentang sirkulasi air tambak harus tetap mengacu
pada keterkaitan teknis budidaya lainnya serta mempertimbangkan faktor sebab akibat yang
akan ditimbulkan berdasarkan argumen dan alasan yang dapat diterima secara ilmiah.

Keramba
Agar usaha budidaya ikan kerapu dengan kajapung dapat berjalan dengan baik, maka
lokasi areal pembesaran ikan dimana kajapung ditempatkan harus dilakukan penelitian,
sehingga lokasi tersebut benar-benar layak. Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam
penentuan lokasi tersebut antara lain :
1. Gangguan Alam Lokasi harus terhindar dari badai dan gelombang besar atau gelombang
terus menerus. Sebab gangguan alam ini akan mengakibatkan konstruksi kajapung akan mudah
rusak, dan menyebabkan ikan menjadistres yang akhirnya produksi menjadi turun. Untuk
mengatasi hal ini, dapat dipilih lokasi perairan yang terdiri dari beberapa pulau-pulau kecil.
Pulau-pulau kecil ini berguna untuk menghambat gelombang dan badai.
2. Gangguan Pencemaran Lokasi harus bebas dari bahan pencemaran yang mengganggu
kehidupan ikan. Pencemaran tersebut dapat berupa limbah industri, limbah pertanian, dan
limbah rumah tangga.
3. Gangguan Predator Predator yang harus dihindari adalah hewan laut buas seperti ikan buntal
(ikan bola) dan ikan besar yang ganas yang dapat merusak kajapung. Burung-burung laut
pemangsa ikan juga harus diwaspadai.
4. Gangguan Lalu Lintas Kapal Lokasi kajapung bukan merupakan jalur transportasi kapal
umum, kapal barang, atau kapal tanker.
5. Kondisi Hidrografi Perairan di mana kajapung ditempatkan harus pula memenuhi
persyaratan sifat fisika dan kimia, yaitu:
- Kadar garam antara 33 – 35 ppt
- Suhu berkisar pada 27 – 32oC
- pH air laut antara 7,6 – 8,7
- Kandungan oksigen terlarut dalam air laut sekitar 0,2 – 05 m/detik