Anda di halaman 1dari 6

Diagnosis fraktur servikal

Fraktur servikal selalu dipikirkan terjadi pada pasien dengan riwayat


kecelakaan dengan kendaraan bermotor kecepatan tinggi, trauma pada wajah dan
kepala yang signifikan, terdapat defisit neurologis, nyeri pada leher, dan trauma multipel.

Gambaran umum adanya fraktur servikal dapat berupa nyeri pada palpasi
dari prosesus spinosus di leher posterior, terbatasnya gerakan yang disertai nyeri,
adanya kelemahan ekstremitas, rasa kebas, parestesi pada saraf yang terkena.
sulit untuk mengevaluasi secara klinis adanya trauma tumpul servikal.

Dari penelitian, kemampuan untuk memprediksi adanya trauma servikal


berdasarkan pemeriksaan klinis saja memiliki sensitivitas 46%, spesifisitas 94%, dan
33% pasien yang tidak terdiagnosis. Karena keterbatasan dan besarnya morbiditas
jangka panjang bila trauma tidak terdiagnosis, pasien dengan trauma tumpul yang
komplek dilakukan pemeriksaan radiologi, sampai dieksklusi adanya trauma servikal.
Tidak terdiagnosisnya trauma servikal dapat disebabkan karena tidak dicurigai adanya
trauma servikal, gambaran radiologi yang tidak adekuat, dan interpretasi radiologi yang
salah. (Mahadewa, 2009; Davenport, 2009 ;Brohi, 2002).

Adanya trauma servikal dapat ditemukan dari pemeriksaan fisik berupa : spinal
shock (paresis flaksid, areflexia, hilangnya tonus sfingter anus, inkontinensia alvi,
priapismus), neurogenic shock (hipotensi, bradikardi paradoksikal, flushed, kering
dan hangat pada kulit), disfungsi otonom (ileus, retensi urin, poikilotermi). Trauma
servikal yang mengenai medula spinalis dapat berupa lesi yang komplit atau inkomplit
(Davenport, 2009; Kirshblum et al, 2004).

Pemeriksaan radiologi diperlukan pada pasien dengan defisit neurologis yang


konsisten dengan lesi medula spinalis, pasien dengan perubahan kesadaran karena
trauma kepala atau intoksikasi, pasien dengan keluhan nyeri leher, pasien tanpa
keluhan nyeri leher tetapi dengan trauma signifikan disekitarnya. Pemeriksaan
radiologis standar yang dilakukan adalah rontgen servikal anteroposterior, cross-
table lateral, open-mouth odontoid view, bila diperlukan rontgen servikal swimmer’s, dan
bilateral oblique (Davenport, 2009; Brohi, 2002; Cohen, 1997)
Manajemen fraktur servikal

Penatalaksanaan awal

Pasien dengan fraktur servikal biasanya memiliki beberapa trauma,


sehingga perlu dilakukan stabilisasi segera di tempat kejadian. Penatalaksanaan
pertama cedera servikal berdasarkan prinsip umum ATLS (advanced trauma life support)
yaitu evaluasi awal berdasarkan primary survey ABCD (airway and C- spine control,
breathing and ventilatory, circulation and stop bleeding, disability and environment). Bila
airway tidak adekuat, perlu dilakukan intubasi tanpa menggerakkan kepala (C-spine
protection). Evaluasi dan assesmen berulang diperlukan pada pasien dengan trauma
kepala dan karena pasien dengan kesadaran menurun tidak dapat mengetahui adanya
nyeri pada leher. Bila stabil dilanjutkan ke secondary survey (head to toe examination)
(Foster, 2009; Mahadewa, 2009; Anonim, 2001(b)).

Manajemen awal pasien dengan cedera servikal dimulai di tempat


kejadian. Perhatian utama selama penatalaksanaan awal adalah adanya gangguan
fungsi neurologi karena gerakan yang patologis (trauma). Diperkirakan 3%
sampai 25% trauma medula spinalis terjadi saat awal trauma, saat transit atau pada
saat penatalaksanaannya. Telah dilaporkan beberapa kasus dengan outcome yang
buruk karena kesalahan penanganan cedera servikal (Anonim, 2001(b)). Stabilisasi
tulang belakang, manajemen hemodinamik dan gangguan otonom sangat penting
pada trauma akut. Prinsip khusus penatalaksanaan cedera servikal adalah
reposisi/realignment, imobilisasi, dan fiksasi tulang belakang sesuai indikasi. Semua
pasien dengan cedera servikal atau yang potensial untuk cedera servikal, harus
dilakukan imobilisasi sampai dieksklusi adanya trauma servikal. Bila terdapat
kecurigaan trauma, stabilisasi kepala dan leher secara manual atau dengan collar.

Beberapa alat yang direkomendasikan American College of Surgeons dapat


digunakan untuk imobilisasi pre-hospital adalah hard 7 backboard, rigid cervical collar,
dan pita pengikat. Imobilisasi ini dapat mengurangi gerakan sehingga menurunkan
morbiditas, karena gerakan patologis(trauma) pada servikal menyebabkan kerusakan
pada medula spinalis atau radiks saraf. Teknik imobilisasi dan penanganan pasien
pre-hospital yaitu tulang belakang harus dilindungi selama manajemen pasien dengan
trauma multipel.

Posisi ideal adalah imobilisasi seluruh tulang belakang posisi netral


dengan permukaan yang keras. Dapat dilakukan secara manual, servikal collar semi
rigid, side head support dan pengikat. Pindahkan pasien secara hati-hati menggunakan

logroll technique untuk mencegah displacement ke arah lateral. Papan spine


direkomendasikan, juga dapat digunakan bantal, head blocks. Traksi untuk
mendapatkan dan mempertahankan alignment yang baik, imobilisasi eksternal untuk
stabilisasi sementara dan farmakoterapi untuk meminimalisasi cedera sekunder
(Gondim, 2009; Mahadewa, 2009; Anonim, 2001(b))

Sasaran jangka panjang adalah penanganan komplikasi gastrointestinal (ileus,


konstipasi), genitourinarius (urinary tract infection, hidronefrosis), dermatologi
(dekubitus), dan muskuloskeletal (fraktur, nyeri akut dan kronis) (Gondim, 2009).

Traksi dan imobilisasi

Pada fraktur sevikal dengan malalignment, sebelum terapi definitif,


dilakukan pemasangan servikal traksi dengan Crutchfield traction atau Halo Tong
Traction dengan beban sesuai dengan level kerusakan segmen servikalnya. Halo vest
sering digunakan sebagai alat definitf eksternal fiksasi untuk cedera spinal servikal.
Philadelphia collar bersifat semi rigid, sintetik foam brace dimana pada dasarnya
membatasi fleksi dan ekstensi tetapi membebaskan rotasi. Miami-j collar bersifat
lebih kaku dan lebih nyaman untuk sandaran. Brace yang adekuat melakukan imobilisasi
adalah Thermoplastic Minnerva Body Jacket (TMBJ) dan halo vest. TMBJ lebih baik
dalam membatasi fleksi dan ekstensi dan lebih nyaman dibandingkan halo vest,
sedangkan halo vest lebih baik membatasi rotasi. Pasien cedera servikal diberikan
imobilisasi untuk mencegah penekanan medulla spinalis lebih lanjut (Mahadewa, 2009).

Medikamentosa

Obat yang diberikan pada pasien cedera servikal adalah golongan


kortikosteroid. Steroid berfungsi memperbaiki cedera medula spinalis dan
diberikan pada 8 jam pertama setelah cedera. Methylprednisolon dapat
menurunkan respon inflamasi dengan menekan migrasi polymorphonuclear (PMN)
dan menghambat peningkatan permeabilitas vaskular. Dosis yang diberikan 30
mg/kgbb intravena dalam 15 menit pertama diikuti 45 menit berikutnya dengan
dosis 5,4 mg/kgbb/jam selama 23 jam (Mahadewa, 2009; Cohen, 1997).

2.4.4. Bedah

Bila terdapat tanda kompresi pada medula spinalis karena deformitas


tulang, fragmen tulang, atau hematom, diperlukan tindakan dekompresi. Tujuan terapi
awal adalah untuk dekompresi medula spinalis dengan memperbaiki diameter
sagital normal dari kolumna vertebralis. Berkurangnya dislokasi baik parsial atau
komplit juga akan mengurangi nyeri. Dislokasi yang disertai instabilitas tulang
belakang memerlukan tindakan reposisi dan stabilisasi. Indikasi operasi cedera servikal
adalah (Mahadewa, 2009) :

 Reduksi terbuka dislokasi dengan atau tanpa disertai fraktur pada daerah
servikal, bilamana traksi atau manipulasi gagal

 Adanya fraktur servikal dengan lesi parsial medula spinalis, dengan fragmen
tulang tetap menekan permukaan anterior medula spinalis, meskipun telah

dilakukan traksi yang adekuat

 Trauma servikal dengan lesi parsial medula spinalis, dimana tidak tampak
adanya fragmen tulang dan diduga terdapat penekanan medula spinalis oleh
diskus intervertebralis. Perlu dilakukan pemeriksaan myelografi dan CT Scan
untuk membuktikannya

 Fragmen yang menekan lengkung saraf

 Adanya benda asing atau fragmen tulang dalam kanalis spinalis

 Lesi parsial medula spinalis yang memburuk setelah mulanya dengan cara
konservatif maksimal menunjukkan perbaikan, harus dicurigai adanya
hematoma
 Jika masih terdapat kelemahan motorik yang signifikan setelah suatu periode
perbaikan

 Jika terdapat instabilitas spinal

Pembedahan darurat dilakukan bila terdapat gangguan neurologis progresif


akibat penekanan dan pada luka tembus. Pembedahan akan mengurangi kemungkinan
terjadinya penyulit tetapi tidak harus dilakukan sebagai tindakan darurat. Pasien dengan
kompresi sekunder dari herniasi diskus akibat trauma harus segera didekompresi.
Cedera medula spinalis akibat osteofit, penebalan ligamen flavum, atau stenosis
tidak memerlukan operasi segera. Terdapat 3 indikasi utama untuk melakukan
tindakan operasi yaitu untuk dekompresi elemen saraf, koreksi deformitas, dan
stabilisasi segmen (Mahadewa, 2009; Cohen, 1997).

Rehabilitasi

Rehabilitasi dilakukan sedini mungkin untuk mencegah timbulnya


komplikasi, mengurangi kecacatan, dan menyiapkan penderita kembali ke
masyarakat. Tim rehabilitasi yang diperlukan terdiri dari dokter (ahli bedah saraf, ahli
bedah tulang), perawat, fisioterapis, petugas sosial, psikolog, ahli terapi kerja.

Program rehabilitasi dapat dibagi 2 tahap. Tahap pertama pada fase akut yaitu
semasa pasien dalam pengobatan yang intensif, terutama dikerjakan oleh perawat dan
fisioterapis. Tindakan yang dilakukan pada tahap ini adalah latihan, masase, memelihara
jalan nafas, merawat gangguan miksi dan defekasi. Tahap kedua adalah rehabilitasi
jangka panjang dengan tujuan mengembalikan penderita kembali ke masyarakat, yang
meliputi menyiapkan keadaan mental penderita agar tetap dapat berkarya walaupun
cacat, edukasi pada penderita dan keluarga tentang perawatan di rumah, latihan cara
makan, berpakaian, miksi dan defekasi, latihan menggunakan alat bantu, alih pekerjaan
sesuai dengan kondisi penderita.

 Terapi fisik dilakukan untuk pemulihan ROM (range of motion) dan


meningkatkan kemampuan mobilitas. Hal terpenting adalah memperkuat otot ekstremitas
atas, juga menjaga keseimbangan dan stabilitas tubuh. Otot ekstremitas atas
biasanya lebih parah dari ekstremitas bawah, maka pasien akan kesulitan untuk
menggunakan alat bantu berjalan yang membutuhkan bantuan tangan.

 Terapi rehabilitasi kerja ditujukan untuk perbaikan kemampuan dalam


menjalankan aktivitas sehari-hari, memperkuat ekstremitas atas, dan perbaikan ROM.
Bidai digunakan untuk mempertahankan posisi fungional tangan dan kaki juga mencegah
kontraktur.

 Terapi bicara diberikan untuk pasien yang mengalami disfagia akibat


pemakaian alat-alat untuk mempertahankan stabilitas servikal atau akibat fusi servikalis
anterior. Pasien diajarkan cara menelan agar tidak memperparah disfagi dan mencegah
aspirasi. (Mahadewa, 2009)