Anda di halaman 1dari 41

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang


Asma adalah penyakit saluran pernapasan dengan dasar inflamasi kronik yang
mengakibatkan obstruksi dan hipereaktivitas saluran pernapasan dengan derajat bervariasi.
Manifestasi klinis asma dapat berupa batuk, wheezing, sesak napas, dada tertekan yang
timbul secara kronik dan atau berulang, reversible, cenderung memberat pada malam atau

dini hari, dan biasanya timbul jika ada pencetus.1 Asma dikategorikan sebagai penyakit tidak

menular yang penting dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di
berbagai negara di seluruh dunia dengan kekerapan yang bervariasi di setiap negara dan
cenderung meningkat di negara berkembang. Asma dapat timbul pada semua usia terutama
usia muda dan tidak tergantung tingkat sosioekonomi tertentu. Penyakit ini sering
menimbulkan masalah baik pada anak maupun dewasa.2,3
Semua tingkatan umur dapat mengalami gangguan aluran napas berupa asma dan
dapat ditemukan di negara maju maupun berkembang, Menurut data organisasi kesehatan
dunia (WHO), jumlah penderita asma di dunia mencapai 300 juta orang. Angka ini
diperkirakan akan terus meningkat hingga 400 juta orang pada tahun 2025. Di dunia,
penyakit asma termasuk 5 besar penyebab kematian. Di perkirakan 250.000 orang mengalami
kematian setiap tahunnya karena asma.4 Di Indonesia, Survei Kesehatan Rumah tangga
(SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2004 memperlihatkan asma masih menempati
urutan ke 3 dari 10 penyebab kematian utama di Indonesia dan prevalens penyakit asma
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 4%, sedang berdasarkan tanda dan gejala
yang responden rasakan dalam satu tahun terakhir prevalensnya lebih besar lagi yaitu 6%.4
Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2013, diperoleh
data pravalensi asma di Indonesia mencapai 4,5% dari seluruh penduduk Indonesia dengan

angka kejadian asam pada anak usia 0 – 14 tahun adalah 9,2%. 5 Prevalensi asma tertinggi

terdapat di Sulawesi Tengah (7,8%), diikuti Nusa Tenggara Timur (7,3%), DI Yogyakarta
(6,9%), Sulawesi Selatan (6,7%) dan untuk DKI Jakarta prevalensi asma sebesar (8,9%).
Prevalensi asma pada anak yang tertinggi di usia 5 sampai 14 tahun sebesar 3,9%.6 Pada
RSUP Persahabatan yang merupakan rujukan paru jumlah kunjungan penderita asma setiap
tahunnya didapatkan selalu meningkat. Untuk instlasi gawat darurat RSUP Persahataban
terjadi peningkatan jumlah kunjungan pasien asma pada tahun 2012 hingga november 2013.

1
Jumlah kunjungan asma pada tahun 2012 berjumlah 1.610 orang sedangkan kunjungan pasien
asma di tahun 2013 mengalami peningkatan dengan jumlah 2.715 orang.5
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan tersebut, dimana asma masih
merupakan penyebab kematian tersering pada anak di Indonesia dan tingginya angka
kejadian asma dari tahun ke tahun di berbagai wilayah di Indonesia terkhususnya Jakarta,
maka peneliti ingin mengetahui lebih lanjut mengenai faktor sampai faktor yang berhubungan
dengan kejadian asma pada anak usia 5 sampai 16 tahun di Puskesmas Kelurahan Jelambar
Baru periode Januari sampai November 2017.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Menurut data organisasi kesehatan dunia (WHO), jumlah penderita asma di dunia
mencapai 300 juta penduduk. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga
400 juta orang pada tahun 2025.
1.2.2 Survei Kesehatan Rumah tangga (SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2004
memperlihatkan asma masih menempati urutan ke 3 dari 10 penyebab kematian
utama di Indonesia dan prevalens penyakit asma berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan sebesar 4%.
1.2.3 Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2013,
diperoleh data pravalensi asma di Indonesia mencapai 4,5% dari seluruh
penduduk Indonesia dengan angka kejadian asam pada anak usia 0 – 14 tahun
adalah 9,2%. Prevalensi asma pada anak yang tertinggi di usia 5 sampai 14 tahun
sebesar 3,9%.
1.3 Hipotesis
Terdapat hubungan antara, jenis kelamin anak, status gizi anak, riwayat keluarga
dengan asma, alergi dan paparan asap rokok dengan kejadian asma pada anak usia 5
sampai 16 tahun di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru periode Januari sampai
November 2017.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
Mengetahui Faktor sampai faktor yang berhubungan dengan kejadian asma
pada anak usia lima sampai enam belas tahun di Puskesmas Kelurahan Jelambar
baru periode Januari sampai November 2017.

2
1.4.2 Tujuan Khusus
a. Diketahuinya sebaran kejadian asma pada anak usia 5 sampai 16 tahun di Puskesmas
Kelurahan Jelambar Baru Periode Januari sampai November 2017.
b. Diketahuinya sebaran jenis kelamin, status gizi, riwayat keluarga dengan asma, alergi
dan paparan asap rokok pada anak usia 5 sampai 16 tahun di Puskesmas Kelurahan
Jelambar baru Periode Januari sampai November 2017.
c. Diketahuinya hubungan antara jenis kelamin, status gizi, riwayat keluarga dengan
asma, alergi dan paparan asap rokok anak dengan kejadian asma pada anak usia 5
sampai 16 tahun di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru periode Januari sampai
November 2017.

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Bagi Peneliti
a. Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti terutama
mengenai hubungan antara usia anak, jenis kelamin anak, status gizi, riwayat
keluarga dengan asma, alergi dan paparan asap rokok dengan kejadian asma pada
anak usia 5 sampai 16 tahun di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru periode
Januari sampai November 2017.
b. Penelitian ini dapat memberikan pengalaman peneliti terutama dalam bidang
penelitian klinik khususnya dalam menganalisa hasil penelitian.

1.5.2 Untuk Intitusi Pendidikan


Hasil penelitian ini dapat menjadi tambahan wawasan bagi mahasiswa Fakultas
Kedokteran mengenai hubungan antara usia anak, jenis kelamin anak, status gizi, riwayat
keluarga dengan asma, alergi dan paparan asap rokok dengan kejadian asma pada anak
usia 5 sampai 16 tahun di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru periode Januari sampai
November 2017.

1.5.3 Bagi Masyarakat


Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai
faktor sampai faktor yang berhubungan dengan kejadian asma pada anak.

3
Bab II
Tinjauan Pustaka

2.1 Definisi Asma


Asma pada anak adalah penyakit saluran pernapasan pada anak dengan dasar
inflamasi kronik yang mengakibatkan obstruksi dan hiperaktivitas saluran pernapasan dengan
derajat bervariasi. Manifestasi klinis asma dapat berupa batuk, wheezing, sesak napas, dada
tertekan yang timbul secara kronik dana tau berulang, reversible, cenderung memberat pada
malam atau dini hari, dan biasanya timbul jika ada pencetus. 1
Asma dikategorikan sebagai penyakit tidak menular yang penting dan masih menjadi
masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara di seluruh dunia dengan
kekerapan yang bervariasi di setiap negara dan cenderung meningkat di negara berkembang.
Asma dapat timbul pada semua usia terutama usia muda dan tidak tergantung tingkat
sosioekonomi tertentu. Penyakit ini sering menimbulkan masalah baik pada anak maupun
dewasa.2
Definisi asma menurut GINA, asma adalah penyakit heterogen, biasanya ditandai
dengan peradangan jalan napas kronis. Hal ini didefinisikan sebagai riwayat dengan gejala
pernafasan seperti mengi, sesak napas, sesak dada dan batuk yang bervariasi dari waktu ke
waktu dan dalam intensitas tertentu, bersamaan dengan keterbatasan aliran udara ekspirasi
yang bervariasi. Derajat keterbatasan aliran udara asma juga sangat bervariasi sehingga gejala
klinis yang ditimbulkannya (batuk, mengi dan sesak napas) juga bervariasi. 3
Asma merupakan inflamasi kronik saluran napas. Berbagai sel inflamasi berperan
terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel. Faktor
lingkungan dan berbagai faktor pejamu berperan sebagai penyebab atau pencetus inflamasi
saluran napas pada penderita asma.1 Penyakit asma semula dianggap bukan masalah serius di
Indonesia. Namun, angka morbiditas dan mortalitasnya terus meningkat baik di dunia
maupun di Indonesia maka penanganan penyakit ini perlu mendapat perhatian serius.3

2. 2. Epidemiologi
Semua tingkatan umur dapat mengalami gangguan aluran napas berupa asma dan
dapat ditemukan di negara maju maupun berkembang, Menurut data organisasi kesehatan
dunia (WHO), jumlah penderita asma di dunia mencapai 300 juta orang. Angka ini
diperkirakan akan terus meningkat hingga 400 juta orang pada tahun 2025. Di dunia,
penyakit asma termasuk 5 besar penyebab kematian. Di perkirakan 250.000 orang mengalami

4
kematian setiap tahunnya karena asma.4 Di Indonesia, Survei Kesehatan Rumah tangga
(SKRT) Departemen Kesehatan RI tahun 2004 memperlihatkan asma masih menempati
urutan ke 3 dari 10 penyebab kematian utama di Indonesia dan prevalens penyakit asma
berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan sebesar 4%, sedang berdasarkan tanda dan gejala
yang responden rasakan dalam satu tahun terakhir prevalensnya lebih besar lagi yaitu 6%.4.
.
Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2013, diperoleh
data pravalensi asma di Indonesia mencapai 4,5% dari seluruh penduduk Indonesia dengan
angka kejadian asam pada anak usia 0 – 14 tahun adalah 9,2%.6
Prevalensi asma tertinggi terdapat di Sulawesi Tengah (7,8%), diikuti Nusa Tenggara
Timur (7,3%), DI Yogyakarta (6,9%), dan Sulawesi Selatan (6,7%). Sulawesi Utara masuk ke
urutan 18 dari 33 provinsi dengan prevalensi sebesar 4,7%. Prevalensi asma pada anak yang
tertinggi di usia 5 sampai 14 tahun sebesar 3,9%.3 Prevalensi asma pada anak telah
meningkat di sebagian negara maju, meskipun prevalensi telah mulai menurun di negara
sampai negara barat. 6
2.3 Patogenesis
Terhambatnya mekanisme saluran pernapasan yang terjadi berulang dalam asma
disebabkan oleh beberapa perubahan dalam saluran pernapasan, mekanisme yang termasuk di
dalamnya sebagai berikut. 7
2.3.1 Bronkokonstriksi
Pada asma, kejadian fisiologis dominan yang menyebabkan gejala klinis adalah
penyempitan saluran napas dan gangguan berikutnya dengan aliran udara. Pada eksaserbasi
akut asma, kontraksi otot polos bronkial (bronkokonstriksi) terjadi dengan cepat untuk
mempersempit jalan napas sebagai respons terhadap paparan berbagai rangsangan termasuk
alergen atau iritasi. Hasil bronkokonstriksi akut yang disebabkan oleh alergen dari pelepasan
mediator IgE yang bergantung pada IgE yang mencakup histamin, tryptase, leukotrien, dan
prostaglandin yang secara langsung mengendalikan otot polos jalan nafas. Aspirin dan obat
antiinflamasi nonsteroid lainnya juga dapat menyebabkan penyumbatan aliran udara akut
pada beberapa pasien, dan bukti menunjukkan bahwa respons bebas IgE ini juga melibatkan
pelepasan mediator dari sel saluran napas. Selain itu, rangsangan lain (termasuk olahraga,
udara dingin, dan iritan) dapat menyebabkan obstruksi aliran udara akut. Mekanisme yang
mengatur respons saluran napas terhadap faktor sampai faktor ini kurang terdefinisi dengan
baik, namun intensitas respons muncul terkait dengan peradangan saluran napas bawah. Stres
juga dapat berperan dalam mempercepat eksaserbasi asma.

5
Gambar 1. Mekanisme Saluran Pernafasan.7

Gambar 2. Mediator Inflamasi.7

2.3.2 Edema Jalan Napas

Sehubungan dengan makin persisten dan progresifnya inflamasi, terdapat faktor


lain juga turut membatasi saluran pernapasan, yakni edema, radang, hipersekresi lendir dan
pembentukan busi lendir yang diinspirasikan, serta perubahan struktural termasuk hipertrofi
dan hiperplasia pada otot polos saluran nafas yang mungkin tidak respons terhadap

pengobatan biasa.7,8

6
2.3.3 Responsivitas Saluran Napas
Respons bronkokonstriktor yang berlebihan terhadap beragam rangsangan adalah
ciri khas asma yang utama. Tingkat hiperresponsif saluran napas dapat didefinisikan dengan
seberapa besar tanggapan kontraktil bronkus terhadap metakolin yang berhubungan dengan
tingkat keparahan klinis asma. Banyak mekanisme yang mempengaruhi hiperresponsif
saluran napas yaitu mencakup peradangan, disfungsional neoregulasi dan perubahan
struktural saluran napas. Peradangan tampaknya menjadi faktor utama dalam menentukan
tingkat hiperresponsif saluran napas. Pengobatan yang diarahkan untuk mengurangi
peradangan dapat mengurangi respons berlebihan dari jalan napas dan dapat mengontrol
asma.

2.3.4 Airway remodeling


Pada sebagian orang yang mempunyai asma, saluran napas yang menyempit
mungkin hanya terjadi pada sebagian. Pada beberapa orang yang menderita asma, perubahan
sturuktural saluran napas yang terganggu sebagian orang dapat bersifat reversibel. Tetapi
biasanya terdapat perubahan struktural permanen terjadi di jalan napas, yakni terkait
hilangnya fungsi paru secara progresif yang tidak dapat dicegah oleh terapi saat ini.
Remodelling jalan napas melibatkan pengaktifan banyak struktural sel, akibat perubahan
permanen di jalan napas yang menyebabkan peningkatan penyumbatan aliran udara dan
responsivitas saluran napas akhirnya membuat pasien kurang responsif terhadap terapi.
Perubahan struktural ini dapat mencakup penebalan membran sub sampai basal, fibrosis
subepitel, hipertrofi otot polos jalan nafas dan hiperplasia, proliferasi dan pelebaran
pembuluh darah, dan hiperplasia kelenjar lambung dan hipersekresi. Peraturan proses
perbaikan dan pemodelan ulang tidak selalu terjadi secara stabil, namun proses perbaikan dan
peraturannya cenderung menjadi peristiwa penting dalam menjelaskan sifat penyakit dan
keterbatasan yang terus sampai menerus terhadap respons terapeutik. 8

2.4 Patofisiologi
Peradangan memiliki peran sentral dalam patofisiologi asma. Seperti yang tertera
dalam definisi asma, peradangan saluran napas melibatkan interaksi banyak jenis sel dan
beberapa mediator dengan saluran udara yang pada akhirnya menghasilkan karakteristik
patofisiologis karakteristik penyakit ini, yakni peradangan bronkial dan pembatasan aliran
udara yang mengakibatkan episode batuk, wheeze, dan sesak napas. Selain itu, walaupun ada
fenotipe asma yang berbeda (mis., Asma intermiten, persisten, terkait olahraga, asma aspirin,

7
atau asma berat), peradangan saluran nafas tetap merupakan pola yang konsisten. 7

Peningkatan pemahaman tentang perkembangan peradangan saluran napas diikuti


oleh penemuan limfosit, sel T helper 1 dan sel T helper 2 (Th1 dan Th2), dengan profil
mediator inflamasi yang berbeda dan efek pada fungsi saluran nafas. Setelah penemuan
limfosit yang berbeda ini pada model alergi pada hewan, muncul bukti bahwa, pada asma
manusia, adanya peningkatan profil Th2 sampai sitokin menghasilkan karakteristik
peradangan eosinofilik asma.7
Selain itu, generasi sitokin Th2 (misalnya, interleukin sampai 4 (IL sampai 4), IL
sampai 5, dan IL sampai 13) juga dapat mengakibatkan kelebihan produksi IgE, adanya
eosinofil, dan peningkatan responsivitas saluran napas. Diketahui terdapat pula penurunan
subkelompok limfosit, sel T regulator, yang biasanya menghambat sel Th2, dan juga
peningkatan sel Natural Killer (NK) yang mengeluarkan sejumlah besar sitokin Th1 dan
Th2.Limfosit T, bersama dengan sel lainnya, juga dapat menentukan perkembangan dan
derajat remodelling jalan napas. selain itu trdapat aktivasi sel mast melepaskan mediator
bronkokonstriktor (histamin, sisteinil leukotrien, prostaglandin D2). Tidak hanya aktivasi
alergen terjadi melalui reseptor IgE dengan afinitas tinggi, sel mast yang peka juga aktif
akibat rangsangan osmotik yang biasanya terjadi pada bronkospasme akibat latihan (exercise
induced bronchospasm / EIB). Peningkatan jumlah sel mast pada otot polos saluran nafas
mengakibatkan respon berlebihan oleh jalan napas. Sel mast juga dapat melepaskan sejumlah
besar sitokin untuk mengubah lingkungan saluran napas dan meningkatkan peradangan meski
terpapar dengan kadar alergen yang sedikit saja.8
Peningkatan jumlah eosinofil ada di saluran napas paling banyak terjadi pada
penderita asma, namun ada sebagian penderita yang tidak mengalami peningkatan eosinofil.
Sel sampai sel ini mengandung enzim peradangan, menghasilkan leukotrien, dan
mengekspresikan berbagai macam sitokin pro sampai inflamasi. Peningkatan eosinofil sering
berkorelasi dengan tingkat keparahan asma yang lebih besar. Selain itu, banyak penelitian
menunjukkan bahwa mengobati asma dengan kortikosteroid mengurangi eosinofil dan diikuti
dengan perbaikan klinis. Namun, perlu dievaluasi lagi peran eosinofil terhadap asma, karena
dengan pengobatan anti sampai IL sampai 5 juga dapat mengurangi eosinofil secara
signifikan namun tidak mempengaruhi kontrol asma (Leckie et al., 2000). Oleh karena itu,
walaupun eosinofil mungkin bukan satu sampai satunya sel efektor primer pada asma,
kemungkinan memiliki peran lainnya dalam tahapan yang berbeda dalam penyakit ini.7,8
Jumlah neutrofil banyak terdapat di saluran napas dan dahak orang sampai orang yang

8
menderita asma berat, selama eksaserbasi akut dan pada perokok. Peran neutrofil dalam
patofisiologis masih belum jelas; adanya peningkatan neutrofil mungkin merupakan suatu
pertanda kurangnya respons terhadap pengobatan kortikosteroid. Sel makrofag paling banyak
di saluran napas dan juga dapat diaktifkan oleh alergen melalui reseptor IgE afinitas rendah
untuk melepaskan mediator inflamasi dan sitokin yang memperkuat respons inflamasi.9
Mediator inflamasi sangat penting dan biasanya menjadi sel inflamasi utama yang
terkeskpresikan dalam saluran pernapasan. Seperti sitokin berperan langsung dan
memodifikasi respon inflamasi pada asma dan dapat menentukan keparahan penyakit. Sitokin
yang diturunkan dari Th2 meliputi IL sampai 5, yang diperlukan untuk diferensiasi dan
kelangsungan hidup eosinofil, dan IL sampai 4 yang penting untuk diferensiasi sel Th2 dan
IL sampai 13 penting untuk pembentukan IgE. Kunci sitokin meliputi IL sampai 1β dan
tumor necrosis factor sampai α (TNF sampai α), yang memperkuat respons inflamasi, dan
faktor stimulasi granulosit sampai makrofag (GM sampai CSF), yang mempertahankan
eosinofil di saluran udara. Studi terbaru tentang perawatan yang ditujukan pada sitokin
tunggal (misalnya, antibodi monoklonal terhadap IL sampai 5 atau reseptor IL sampai 4 yang
larut) belum menunjukkan manfaat dalam memperbaiki hasil asma.10
Mediator inflamasi lainnya, cysteinyl sampai leulotrien adalah bronkokonstriktor
kuat yang berasal terutama dari sel mast. Satu sampai satunya mediator yang mempunyai
inhibitor yang secara khusus dikaitkan dengan peningkatan fungsi paru dan gejala asma.
Studi terbaru juga menunjukkan dengan adanya neutrofil, leukotriene B4 dapat berkontribusi
pada proses peradangan. Selain itu IgE juga memiliki peran. IgE adalah antibodi yang
bertanggung jawab untuk aktivasi reaksi alergi, penting untuk patogenesis penyakit alergi,
perkembangan dan lamanya peradangan. IgE melekat pada permukaan sel melalui reseptor
afinitas tinggi tertentu. Sel mast memiliki sejumlah besar reseptor IgE; Ini, bila diaktifkan
oleh interaksi dengan antigen, dapat melepaskan berbagai macam mediator untuk mengawali
bronkospasme akut dan juga untuk melepaskan sitokin pro sampai inflamasi untuk
mempertahankan peradangan saluran napas bagian bawah. Sel lain, basofil, sel dendritik, dan
limfosit juga memiliki reseptor IgE afinitas tinggi. Dalam pengembangan antibody
monoclonal melawan IgE telah menunjukkan bahwa dengan adanya pengurangan IgE,
efektif dalam pengobatan asma.9,10

2.5 Diagnosis Asma


Penegakan diagnosis asma pada anak mengikuti alur klasikDiagnosis medis yaitu
melalui anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis memegang

9
peranan sangat penting mengingat diagnosis asma pada anak sebagian besar ditegakkan
secara kinis. Keluhan wheezing dan atau batuk berulang merupakan manifestasi klinis yang
di terima luas sebagai titik awal diagnosis asma. Gejala respiratori asma berupa kombinasi
batuk, wheezing, sesak napas, rasa tertekan didada dan produksi sputum.1,2
Pada anamnesis didapatkan keluhan episodik batuk kronik berulang, mengi, sesak
dada, kesulitan bernafas. Pada pemeriksaan fisik sesak nafas (dyspnea), mengi, nafas cuping
hidung pada saat inspirasi (anak), bicara terputus putus, agitasi, hiperinflasi toraks, lebih
suka posisi duduk. Tanda sampai tanda lain sianosis, ngantuk, susah bicara, takikardia dan
hiperinflasi torak, pada pemeriksaan uji fungsi paru sebelum dan sesudah pemberian
metakolin atau bronkodilator sebelum dan sesudah olahraga dapat membantu menegakkan
diagnosis asma Asma sulit didiagnosis pada anak di bawah umur 3 tahun. Untuk anak yang
sudah besar (>6 tahun) pemeriksaan fungsi paru sebaiknya dilakukan.2 Uji fungsi paru yang
sederhana dengan peak flow meter atau yang lebih lengkap dengan spirometer, uji yang lain
dapat melalui provokasi bronkus dengan histamin, metakolin, latihan (exercise), udara
kering dan dingin, atau dengan NaCl hipertonis. Penggunaan peak flow meter merupakan hal
penting dan perlu diupayakan, karena selain mendukung diagnosis, juga mengetahui
keberhasilan tata laksana asma, selain itu dapat juga menggunakan lembar catatan harian
sebagai alternatif.1

Tabel 1. Klasifikasi Derajat Asma.1

GINA membagi derajat penyakit asma menjadi 4, yaitu Asma Intermiten, Asma
Persisten Ringan, Asma Persisten Sedang, dan Asma Persisten Berat. Dasar pembagiannya

10
adalah gambaran klinis, faal paru dan obat yang dibutuhkan untuk mengendalikan penyakit.
Dalam klasifikasi GINA dipersyaratkan adanya nilai PEF atau FEV1 untuk penilaiannya.1,3
Konsensus Internasional III juga membagi derajat penyakit asma anak berdasarkan
keadaan klinis dan kebutuhan obat menjadi 3 yaitu, Asma episodik jarang yang meliputi 75%
populasi anak asma, Asma episodik sering meliputi 20% populasi, dan Asma persisten
meliputi 5% populasi.

2.6 Faktor Resiko yang Berhubungan dengan Kejadian Asma pada Anak Usia 5
sampai 16 Tahun
2.6.1 Jenis Kelamin
Asma sering terjadi pada anak terutama mengenai anak laki sampai laki hal ini
mungkin sebagian disebabkan oleh tingginya prevalensi alergi pada anak laki sampai laki.
Selain itu, saluran napas anak laki sampai laki cenderung lebih kecil sehingga lebih rentan
terhadap obstruksi saluran napas. Sebelum masa puber, asma diderita 1,5 – 3 kali lebih besar

pada anak laki sampai laki.12 Laporan Penelitian Asma anak di RSUP Dr. M Djamil Padang

tahun 2015 menyatakan bahwa lebih banyak ditemukan jenis kelamin laki sampai laki lebih

banyak yakni sebesar 52,28% dan perempuan sebesar 47,72%.13

Data pendukung lainnya yakni adalah yang didapatkan di Kecamatan Wenang Kota
Manado 2007 dengan desain case control didapatkan, pada laki sampai laki kelompok kasus

22 orang (11,2%) dibandingkan dengan wanita yang menderita 17 orang (9,7%).13Data lain

menunjukkan, menurut analisa data Riskesdas 2007 menyatakan bahwa prevalensi anak yang
berusia  10 tahun lebih banyak berjenis kelamin laki sampai laki sebesar 3,7% dibandingkan
perempuan yakni 3,6%, memiliki nilai p 0,08 yang menunjukkan tidak adanya hubungan

antara factor jenis kelamin dengan penyakit asma.14Penelitian yang dilakukan di RSUP

Sardjito Yogyakarta Bagian Anak, didapatkan dalam kelompok kasus anak laki sampai laki
lebih besar dari jumlah perempuan. Laki sampai laki sebesar 23 orang 43% dan perempuan
14 orang (35%).15

2.6.2 Status Gizi


Gizi lebih dapat diukur melalui perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body
Mass Index (BMI). Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI) merupakan
cara yang sederhana untuk memantau status gizi seseorang, khususnya yang berkaitan dengan

11
kekurangan dan kelebihan berat badan (gizi lebih).16 Indeks massa tubuh (IMT) adalah nilai
yang diambil dari perhitungan antara berat badan (BB) dan Tinggi Badan (TB) seseorang.
Penelitian yang dilakukan oleh American College of Nurse Practitioners (2002) mendapatkan
bahwa gizi lebih dapat menyebabkan asma, dan pada saat yang sama, asma dapat
menyebabkan gizi lebih. gizi lebih pada anak cenderung menurunkan volume paru dan
membuat mereka lebih rentan untuk terkena asma dibandingkan anak sampai anak yang gizi
normal.17
Kelompok asma dengan gizi lebih 2,6% lebih sedikit dari kelopok bukan asma dengan
gizi lebih 5,1% dengan nilai p 0,382. Dengan nilai p tersebut maka factor resiko gizi lebih
masuk dalam factor yang tidak bermakna. Uji statistik menunjukkan tidak ada hubungan
antara gizi lebih dengan kejadian asma anak di RSUP M. Djamil Padang. Hasil ini didukung
oleh penelitian Luo et al (2013) yang menunjukkan angka signifikansi 0,16 (p >0,05).16
Tidak adanya hubungan antara gizi lebih dan asma anak di RSUP M. Djamil Padang
mungkin disebabkan oleh status gizi anak yang sangat berhubungan dengan sosioekonomi. 18

12
Gambar 3. BMI/U CDC 2000.17

13
Gambar 4. BMI/U CDC 2000.17

14
2.6.4 Riwayat Keluarga
Faktor genetik merupakan bakat pada seseorang yang ditandai dengan adanya gen
tertentu pada seseorang pengidap asma.19 Gen tersebut didapat karena diturunkan. Menurut
penelitian sasstrawan, dkk (2008) mengenai prevalensi asma bronkial alergi pada pelajar di
desa tenganan hal ini dapat disebabkan faktor genetik pada populasi tertutup seperti
penduduk Desa Tenganan karena adanya tradisi perkawinan antar keluarga serta interaksi
antara faktor genetik dan lingkungan. Asma bronkial merupakan interaksi yang kompleks
antara faktor genetik dan lingkungan. Data pada penelitian saudara kembar monosigot dan
disigot, didapatkan kemungkinan kejadian asma bronkial diturunkan sebesar 60 sampai
70%.20 Predesposisi genetik untuk timbulnya asma bronkial pada anak anak dan dewasa saat
ini telah banyak ditemukan dan respon IgE terhadap berbagai macam allergen merupakan
karakteristik utama asma bronkial. Beberapa kandidat gen yang diduga berhubungan dengan
peningkatan IgE total serum terutama pada kromosom 5 dan kromosom 6, 7, 11,16.21 Risiko
untuk terjadinya asma pada anggota keluarga generasi pertama dari individu yang
menyandang asma adalah 2 sampai 6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan individu pada
populasi normal
Hasil analisis sulistiyo didapatkan kelompok kasus dengan riwayat keluarga dengan
asma 6(22,3%), sedangkan kelompok bukan asma dengan tidak ada riwayat asma dengan
keluarga 21(77,7%). Di dapatkan nilai p 0,496 menunjukan tidak ada hubungan antara
riwayat keluarga dengan asma untuk kejadian asma.22 Bila kedua orang tua menderita
penyakit alergi (alergi), maka kemungkinan 60% anaknya akan menderita alergi pula. Bila
hanya satu dari orang tua yang menderita alergi maka kemungkinannya 40% menderita alergi
dan bila kedua orang tua tidak menderita alergi maka hanya 15% kemungkinan anaknya
menderita alergi. Pengaruh genetik ibu lebih kuat terhadap kejadian asma dibanding genetik
ayah. Risiko asma lebih besar pada anak dari ibu asma dibandingkan ayah yang menderita
asma.23

2.6.5 Alergi
Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang diawali oleh mekanisme imunologis,
yaitu akibat induksi oleh IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu, yang berikatan dengan
sel mast. Prevalensi penyakit alergi dilaporkan meningkat, diperkirakan lebih dari 20%
populasi di seluruh dunia menderita penyakit yang diperantarai oleh IgE, seperti asma.23
Keluhan penderita asma bronkial alergi pada pelajar di Desa Tenganan berdasarkan kuisioner

15
ISAAC didapatkariwayat mengi 82,9. Riwayat alergi salah satu orang tua 7,1 kali (p=0,000:
95% CI = 4.21 sampai 11.96). Dengan kelompok kasus yang memiliki riwayat alergi 21,1%
lebih kecil dari kelompok bukan kasus yang memiliki alergi 78,9%. Pada analisis multivariat
ternyata faktor alergi yang bermakna mempengaruhi kejadian asma hanya alergi pada salah
satu orang tua (riwayat alergi ayah atau ibu) (p=0,000 OR= 7: 95% CI 4,0 sampai 12,2).19
Faktor alergi terdapat 80% pada anak yang menderita asma. Alergi yang muncul pada usia
dini terutama dalam 3 tahun pertama kehidupan memiliki potensi untuk berkembang menjadi
asma. Alergi ditandai oleh peningkatan produksi IgE sebagai respon terhadap alergen.
Prevalensi asma bronkial non alergi tidak melebihi angka 10%. Prevalensi asma bronkial
alergi yang peneliti dapatkan pada pelajar di Desa Tenganan sebesar 97,2%, lebih tinggi dari
prevalensi di negara maju maupun negara berkembang lainnya. 24

2.6.6 Paparan Asap Rokok


Demikian juga faktor paparan asap rokok terhadap asma, hasil analisis bivariabel pada
penelitian ini sejalan dengan penelitian oleh Sihombing (2010) yang mendapatkan bahwa
pada penderita asma yang terpapar asap rokok lebih besar dibandingkan dengan yang bukan
penderita asma bronkiale dengan OR sebesar 60,78 (95%CI: 17,65 sampai 195,8) dan secara
statistik bermakna dengan nilai p<0,001 (Sihombing, 2010). Asap rokok yang dihirup
penderita asma secara aktif mengakibakan rangsangan pada sistem pernapasan, sebab
pembakaran tembakau menghasilkan zat iritan dalam rumah yang menghasilkan gas yang
komplek dan partikel sampai partikel yang berbahaya, perokok pasif menghisap lebih banyak
racun dalam asap rokok dibandingkan perokok aktif (Aryandani, 2010). Orang tua hendaknya
tidak merokok didalam rumah, karena asap rokok tersebut dapat membahayakan kesehatan
bagi anak, teruma kesehatan saluran pernapasan mereka. keterpaparan asap rokok pada kasus
lebih banyak dibandingkan yang tidak ada terpapar asap rokok yaitu sebanyak 27 orang
(84,4%).23
Hasil analisis bivariabel lainnya adalah hubungan keterpaparan asap rokok dengan
kejadian asma didapatkan OR sebesar 3,2 (95%CI: 1,1 sampai 9,5) dengan nilai p = 0,049.
Hasil ini menunjukkan anak yang terpapar asap rokok mempunyai risiko mengalami asma 3,2
kali dibandingkan yang tidak terpapar asap rokok.25

16
2.7 Kerangka Teori

Faktor Pejamu
- usia Faktor Lingkungan
- Jenis Kelamin
- Status Gizi - Tungau Debu Rumah
- Riwayat - Paparan asap rokok
keluarga - Hewan peliharaan
dengan Asma - Udara dingin
- Alergi

Bronkokonstriksi
Asma pada Anak usia
Edema mukosa,
Sekeresi berlebihan 5 sampai 16 Tahun

2.8 Kerangka Konsep

• Jenis kelamin
• Riwayat orang tua Kejadian Asma pada
dengan Asma Anak Usia 5 sampai 16
tahun
• Status gizi
• Alergi
• Paparan Asap rokok

17
Bab III
Metodologi Penelitian

3.1 Desain Penelitian


Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik,
dengan pendekatan case control.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru pada bulan
Januari 2017 sampai November 2017.

3.3 Populasi
3.3.1 Populasi Target
Seluruh anak berusia 5 sampai 16 tahun yang datang berobat ke Puskesmas
Kelurahan Jelambar Baru.

3.3.2 Populasi Terjangkau


Seluruh anak berusia 5 sampai 16 tahun yang datang berobat ke Puskesmas
Kelurahan Jelambar Baru periode Januari sampai November 2017.

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


3.4.1 Kriteria Kasus
Kriteria Inklusi
1. Anak berusia 5 sampai 16 tahun yang mengunjungi poli umum di Puskesmas
Kelurahan Jelambar Baru periode Januari sampai November 2017
2. Dinyatakan menderita asma oleh dokter atau tenaga kesehatan terlatih pada
periode Januari sampai November 2017.
Kriteria Eksklusi
1. Anak berusia 5 sampai 16 tahun yang mengunjungi poli umum di Puskesmas
Kelurahan Jelambar Baru, didiagnosa menderita asma dengan rekam medis yang
tidak lengkap data usia, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan asma, riwayat
alergi, dan paparan asap rokok tidak diketahui.

18
3.4.2 Kriteria Kontrol
Kriteria Inklusi
1. Anak berusia 5 sampai 16 tahun yang mengunjungi poli umum di Puskesmas
Kelurahan Jelambar Baru periode Januari sampai November 2017.
2. Tidak dinyatakan menderita asma oleh dokter atau tenaga kesehatan terlatih pada
periode Januari sampai November 2017.
Kriteria Eksklusi
1. Anak berusia 5 sampai 16 tahun yang mengunjungi poli umum di Puskesmas
Kelurahan Jelambar Baru, didiagnosa menderita penyakit paru selain asma dengan
rekam medis yang tidak lengkap data usia, jenis kelamin, riwayat keluarga dengan
asma, riwayat alergi, dan paparan asap rokok tidak diketahui.

3.5 Sampel
3.5.1 Besar Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang ingin diteliti. Sampel pada penelitian
ini adalah seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel kasus adalah anak
berusia 5 sampai 16 tahun di poli umum Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru periode
Januari sampai November 2017, yang dinyatakan menderita asma oleh dokter atau
tenaga kesehatan terlatih. Sementara itu, sampel untuk kontrol adalah anak berusia 5
sampai 16 tahun di poli umum Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru yang tidak
menderita asma. Untuk menentukan besarnya sampel dalam penelitian ini digunakan
rumus di bawah ini:

n
Z1 / 2 2 p1 p   Z1   p11 p1 p21 p22
 p1  p22

Keterangan :
n : Jumlah sampel minimal
α : Tingkat kemaknaan (0,05), dengan nilai α = 5% didapatkan Zα pada kurva
normal = 1.96
β : Kekuatan penelitian (80%), didapatkan Zβ= 0,842
p1 : Proporsi efek pada kelompok kasus

19
p2 : Proporsi efek pada kelompok kontrol
p : (p1+p2)/2

Dari persamaan diatas dan didasarkan pada perhitungan hasil penelitian yang
dilakukan peneliti terdahulu, dimana jumlah setiap variabel dengan α=0,05
perbandingan 1 kasus dan 1 kontrol dapat dihitung besar sampel minimal seperti tabel
berikut.
Tabel 3.1. Jumlah Sampel untuk Setiap Variabel
No Variabel Peneliti P2 P1 P n

1. Usia Anak Sihombing (2010) 0,21 0,979 0,604 12

2. Jenis Kelamin Anak Abraham (2007) 0,112 0,88 0,496 12

3. Status Gizi anak Usman (2015) 0,26 0,51 0,385 60

4. Riwayat keluarga dengan Sulistyo (2005) 0,77 0,223 0,496 24


Asma

5. Riwayat Alergi Afdal (2009) 0,211 0,789 0,500 22

6. Paparan Asap Rokok Masrizal (2016) 0, 250 0,844 0,547 20

7. Prevalensi Asma Riskesdas (2013) 0,045

Didapatkan jumlah sampel minimal untuk kasus terbesar sebanyak 60 orang.


Semakin besar sampel yang diambil maka akan mendekati distribusi normal.
Berdasarkan perhitungan, didapatkan besar sampel minimal yang harus diambil
sebanyak 60 orang, dengan perbandingan besar sampel antara kasus : kontrol = 1: 1,
dimana sampel terdiri dari 60 subjek sebagai kelompok kasus dan 60 subjek sebagai
kelompok kontrol, sehingga jumlah sampel secara keseluruhan adalah 120 sampel.

3.5.2 Teknik Pengambilan Sampel


Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode non sampai
probability sampling dengan teknik purpossive sampling pada anak yang berusia 5
sampai 16 tahun di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru periode Januari sampai

20
November 2017 yang memenuhi kriteria inklusi hingga mencapai total sampel yang
diinginkan yaitu 60 anak pada kelompok kasus dan 120 anak pada kelompok kontrol.

3.6 Cara Kerja


1. Mengumpulkan bahan sampai bahan ilmiah dari jurnal, text book dan pedoman
serta merancang desain penelitian.
2. Menentukan jumlah sampel minimal, didapatkan hasil sampel minimal 60 pada
kelompok kasus dan 60 pada kelompok kontrol. Jumlah sampel menjadi 120 anak
berusia 5 sampai dengan 16 tahun, yaitu 60 anak pada kelompok kasus dan 60
anak pada kelompok kontrol
3. Menghubungi Kepala Puskesmas Kelurahan Jelambar Barudan meminta surat
pengantar untuk melakukan penelitian di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru
4. Pada kelompok kasus, dilakukan pengambilan data sekunder yang didapatkan
melalui rekam medis anak yang berusia 5 sampai 16 tahun yang di diagnosis asma
oleh dokter atau tenaga kesehatan di poli umum Puskesmas Kelurahan Jelambar
Baru periode Januari sampai November 2017.
5. Pada kelompok kontrol dilakukan pengambilan data sekunder yang didapatkan
melalui rekam medis anak yang berusia 5 sampai 16tahun yang di diagnosis bukan
asma oleh dokter atau tenaga kesehatan di poli umum Puskesmas Kelurahan
Jelambar Baru periode Januari sampai November 2017.
6. Melakukan editing, verifikasi, koding dan tabulasi terhadap data sekunder
responden yang sudah dikumpulkan.
7. Melakukan pengolahan, analisis, dan interpretasi data dengan menggunakan
program komputer Statistical Package for Social Science version 16.0 (SPSS).
8. Penulisan laporan penelitian.
9. Pelaporan penelitian.

21
Alur Kerja Penelitian

Anak yang berusia 5 sampai 16tahun di


Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru
(Populasi)
1. Non sampai probability
sampling
2. Memenuhi kriteria inklusi dan
60 anak pada Kelompok Kasus dan 120 anak eksklusi

pada kelompok kontrol

Rekam Medik

Analisis
data

3.7 Identifikasi Variabel


Dalam penelitian ini digunakan variabel terikat (dependen) dan variabel bebas
(independen).
3.7.1 Variabel Dependen
Variabel dependen (terikat) pada penelitian ini adalah asma pada anak usia 5-
16 tahun.
3.7.2 Variabel Independen
Variabel independen berupa, jenis kelamin anak, status gizi anak, paparan asap
rokok dalam rumah, riwayat alergi, dan riwayat keluarga dengan asma

3.8 Definisi Operasional


3.8.1 Subyek Penelitian
Anak adalah adalah penduduk yang berusia antara 0 sampai dengan 18 tahun.
Subyek penelitian adalah 60 anak usia 5-16 tahun pada kelompok kasus dan 120 anak
pada kelompok kontrol di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru periode Januari
sampai November 2017 yang memenuhi kriteria inklusi.
3.8.2 Variabel Dependen
3.8.2.1 Kejadian Asma

22
Definisi : Penemuan kasus kejadian asma berdasarkan penegakkan diagnosa
yang tertulis di rekam medis
Alat Ukur : Rekam Medis
Cara Ukur : Ditentukan melalui diagnosa rekam medis
Hasil Ukur :
- Kode 1. Asma (sesak napas dan wheezing +)
- Kode 2. Bukan Asma (selain gejala diatas)
Skala Ukur : Kategorik – Nominal

3.8.3 Variabel Independen


3.8.3.1 Jenis Kelamin Anak
Definisi : Pembagian gender yang ditentukan secara biologis dan anatomis yang
dinyatakan dalam jenis kelamin laki sampai laki dan jenis kelamin
perempuan.
Alat Ukur : Rekam Medis.
Cara Ukur : Berdasarkan hasil rekam medik mengenai data tentang jenis
kelamin pasien.
Hasil Ukur :
- Kode 1. Laki sampai laki
- Kode 2. Perempuan
Skala Ukur : Kategorik – Nominal

3.8.3.2 Status Gizi Anak


Definisi : Interpretasi IMT terhadap umur yang didapatkan dari data berat
badan, tinggi badan dan usia yang tercantum pada rekam medis saat
pasien datang berobat
Alat Ukur : Rekam Medis dan Kurva CDC
Cara Ukur :
- Memasukkan data berat badan dan tinggi badan dari rekam medis
kemudian diinterpretasikan menggunakan rumus IMT
- Mengukur status gizi:
Berdasarkan kurva CDC 2000 tentang pengukuran IMT terhadap
usia. Menentukan titik CDC 2000 melalui garis mendatar dan

23
menentukan titik usia melalui garis tegak lurus sehingga
didapatkan titik temu antara IMT dan usia. Dikatakan status gizi
kurang jika percentile dibawah 5, normal jika percentile 5 sampai
di bawah percentil 85, lebih percentile 85 sampai dibawah
percentile 95
Hasil Ukur :
- Kode 0. Kurang
- Kode 1. Normal
- Kode 2. Lebih
Skala Ukur : Kategorik – Nominal

3.8.3.3 Riwayat Keluarga dengan Asma


Definisi : Ada tidaknya anggota keluarga yang memiliki riwayat asma.
Alat Ukur : Rekam Medis.
Cara Ukur : Berdasarkan hasil observasi rekam medik mengenai data tentang
riwayat keluarga pasien.
Hasil Ukur :
- Kode 1. Ada (ada anggota keluarga yang menderita asma)
- Kode 2. Tidak Ada (tidak ada anggota keluarga yang menderita
asma)
Skala Ukur : Kategorik – Nominal

3.8.3.4 Riwayat Alergi


Definisi : Ada tidaknya riwayat alergi pada pasien, meliputi alergi terhadap
binatang, debu, udara dingin, makanan, maupun obat sampai obatan.
Alat Ukur : Rekam Medis.
Cara Ukur : Berdasarkan hasil rekam medik mengenai data tentang riwayat alergi
pasien.
Hasil Ukur :
- Kode 1. ada (memiliki riwayat alergi)
- Kode 2. Tidak ada (tidak memiliki riwayat alergi)
Skala Ukur : Kategorik – Nominal

24
3.8.3.5 Paparan Asap Rokok
Definisi : Ada tidaknya anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah yang
aktif merokok.
Alat Ukur : Rekam Medis.
Cara Ukur : Berdasarkan hasil rekam medik mengenai data tentang ada tidaknya
orang yang merokok di dalam rumah pasien.
Hasil Ukur :
- Kode 1. Merokok
- Kode 2. Tidak merokok
Skala Ukur : Kategorik – Nominal

3.9 Data
3.9.1 Pengumpulan Data
Pada kelompok kasus, dilakukan pengambilan data sekunder yang didapatkan
melalui rekam medis anak yang berusia 5 sampai 16 tahun yang di diagnosis asma
oleh dokter atau tenaga kesehatan di poli umum Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru
periode Januari sampai November 2017.
Pada kelompok kontrol, dilakukan pengambilan data sekunder yang
didapatkan melalui rekam medis anak yang berusia 5 sampai 16 tahun yang di
diagnosis bukan asma oleh dokter atau tenaga kesehatan di poli umum Puskesmas
Kelurahan Jelambar Baru periode Januari sampai November 2017.

3.9.2 Instrumen Penelitian


Alat yang diperlukan :
 Rekam Medis
 Kurva CDC 2000 IMT terhadap umur

3.9.3 Pengolahan Data


Data sampai data yang telah dikumpulkan diolah melalui proses editing,
verifikasi, dan coding, kemudian data diolah dengan menggunakan program
komputer, yaitu program SPSS versi 16.0. Pengolahan data untuk penelitian ini diolah
dengan menggunakan aplikasi SPSS versi 16.0 yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu
:

25
 Editing
Upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data, yang diperoleh atau
editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data
terkumpul.
 Coding
Catatan untuk memberikan kode numerik (angka) terhadap data yang
terdiri atas beberapa kategori.
 Tabulating
Pada tahap ini, data yang sama dikelompokan dengan teliti dan teratur lalu
dihitung lalu dijumlahkan kemudian dituliskan dalam bentuk tabel sampai
tabel.

3.9.4 Pengelompokan Data


Setelah dilakukan pengolahan data, hasil data tersebut dikelompokkan
berdasarkan kelompok sampai kelompok data.
3.9.5 Penyajian Data
Data yang didapat disajikan secara tekstular dan tabel.
3.9.6 Analisis Data
Data yang diperoleh telah dikumpulkan, diolah, disajikan lalu dianalisis
menggunakan program SPSS v.16. Terdapat dua cara analisis data yang digunakan
yaitu analisis univariat dengan distribusi frekuensi dari setiap variabel bebas terhadap
variabel terikat, dan analisis bivariat dengan uji statistik Chi sampai Square (x2)
terhadap pasangan variabel tergantung dan variabel bebas tertentu.

Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan secara deskriptif dari masing sampai masing
variabel dengan tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan.

Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel dependent
dan independent. Variabel dependen pada penelitian ini adalah asma, sedangkan yang
merupakan variable independen adalah usia anak, jenis kelamin anak, status gizi anak,
paparan asap rokok dalam rumah, riwayat alergi, dan riwayat keluarga dengan asma.

26
Metode statistik yang digunakan untuk melihat kemaknaan dan besarnya
hubungan antara variabel tadi dilakukan uji Chi Square (X2). Sedangkan untuk
melihat kejelasan tentang dinamika hubungan antara faktor risiko dan faktor efek
dilihat melalui nilai rasio odds (OR). Rasio odds (OR) dalam hal ini adalah untuk
menunjukan rasio antara banyaknya kasus yang terpapar dan kasus tidak terpapar.
Nilai p alfa yang digunakan dalam penelitian ini adalah 0,05 dengan demikian
bila hasil penelitian menunjukan p value ≤ p alfa maka dikatakan bahwa kedua
variable tersebut berhubungan. Apabila nilai rasio prevalen < 1, berarti faktor risiko
yang diteliti justru mengurangi faktor efek. Apabila nilai rasio prevalen yang
dihasilkan = 1, maka variable faktor risiko tidak berpengaruh terhadap faktor efek,
sedangkan bila nilai rasio prevalen > 1, berarti faktor risiko menimbulkan faktor efek.
Kemaknaan hubungan selanjutnya dilihat melalui rentang (derajat) kepercayaan (nilai
α). Bila derajat kepercayaan melingkupi 1 makna hubungan antara variable tadi
menjadi tidak bermakna.

Tabel 3.2. Tabel Silang Kasus Kontrol Dilihat dari Faktor Risiko
Faktor Risiko Kasus Kontrol Jumlah

Faktor Risiko a b a+b

Faktor Risiko c d c+d

Jumlah a+c b+d a+b+c+d (n)

𝑛 { (ad) − (𝑏𝑐)}²
𝑋2 =
(a + b) (b + d )(a + b)(c + d )

Batas kemaknaan yang digunakan adalah P < 0,05


P > 0,05 : menunjukkan hasil yang tidak bermakna
P < 0,05 : menunjukkan hasil yang bermakna
𝑎𝑑
Odds Ratio (OR) = 𝑏𝑐

Interpretasi Odds Rasio :


OR = 1 : Tidak ada asosiasi antara faktor dengan penyakit (tidak ada hubungan)
OR > 1 : Ada asosiasi positif antara faktor risiko dengan penyakit (ada hubungan)

27
OR<1 : Ada asosiasi negatif antara faktor risiko dengan penyakit (tidak ada
hubungan/mengurangi risiko).

3.9.7 Interpretasi Data


Data diintepretasi secara analitik asosiatif antar variabel sampai variabel yang telah
ditentukan.

3.9.8 Pelaporan Data


Data disusun dalam bentuk laporan penelitian dan selanjutnya dipresentasikan
dalam forum pengetahuan Ilmu Kesehatan Masyarakat di depan staf pengajar Program
Studi Pengetahuan Dokter (PSPD) Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana (FK UKRIDA).

3.10 Etika Penelitian


Subjek penelitian ialah rekam medis yang terdapat di puskesmas kelurahan
Jelambar Baru Januari – November 2017, pada penelitian ini diberikan jaminan
kerahasiaan terhadap data sampai data rekam medis yang diberikan oleh puskesmas.

3.11 Sarana Penelitian


3.11.1 Tenaga
Penelitian dilakukan oleh 4 mahasiswa kepaniteraan Ilmu Kesehatan
Masyarakat dengan dibantu oleh satu orang pembimbing yaitu dosen IKM.
3.11.2 Fasilitas Penelitian
Fasilitas yang tersedia berupa ruang perpustakaan, ruang diskusi, lembar
kuesioner, komputer, printer, program aplikasi SPSS 16.0 dan alat tulis.

28
Bab IV
HASIL PENELITIAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengenai faktor sampai faktor yang


berhubungan dengan kejadian asma pada anak di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru
periode Januari sampai November 2017. Didapatkan sampel sebanyak 120 anak usia 5
sampai 16 tahun, dimana 60 sampel merupakan kelompok kasus dan 60 sampel merupakan
kelompok kontrol. Berikut adalah hasil penelitian yang disajikan dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 4.1 Tabel Distribusi Kejadian Asma pada Anak Usia Lima sampai Enam Belas Tahun
di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru Periode Januari sampai November 2017

Variabel Dependen Total


N %
Asma 60 50
Bukan asma 60 50

Tabel 4.2 Tabel Distribusi jenis kelamin, status gizi, riwayat keluarga dengan asma,
alergi dan paparan asap rokok pada Anak usia lima sampai enam belas Tahun di
Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru Periode Januari sampai November 2017
Variabel Total
N %
Jenis Kelamin Anak Laki - Laki 49 40.83
Perempuan 71 59.17
Status Gizi Anak Gizi Kurang 10 8.33
Gizi Normal 85 70.84
Gizi lebih 25 20.83
Riwayat Keluarga dengan Ada 46 38.33
Asma Tidak Ada 74 61.67
Riwayat Alergi Ada 14 11.67
Tidak Ada 106 88.33
Terpapar Asap Rokok Ada 71 59.17
Tidak Ada 49 40.83

29
Tabel 4.9 Analisis Bivariat Hubungan Antara Jenis Kelamin Anak usia lima sampai
enam belasTahun di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru Periode Januari sampai
November 2017 dengan uji statistik Pearson Chi Square
Variabel Kategori Asma Bukan Nilai P Ho OR OR
Asma

Jenis Kelamin Laki-Laki 22 27 0.862 Diterima


Anak Perempuan 38 33

Status Gizi Anak Gizi Kurang 1 9


0.002 Ditolak
Gizi normal 41 44
Gizi Lebih 18 7
24 22
Riwayat Keluarga Ada 0.141 Diterima
36 38
dengan Asma Tidak Ada

Ada 7 7 0.000 Ditolak 1.000


Riwayat Alergi
Tidak Ada 53 53

Terpapar Asap Ada 32 39 1.690 Diterima


Rokok Tidak Ada 28 21

30
Bab V
Pembahasan

5.1 Diketahuinya Sebaran


5.1.1 Diketahuinya Sebaran Jenis Kelamin Anak
Berdasarkan tabel sebaran jenis kelamin anak didapatkan anak yang berjenis
kelamin laki sampai laki sebanyak 49 anak dimana 22 (44.90) menderita asma dan 27
(55.10) tidak menderita asma. Pada anak yang berjenis kelamin perempuan,
didapatkan sebanyak 71 anak dengan 38 (53,52%) menderita asma dan 33 (46.48%)
tidak menderita asma. Pada penelitian ini didapatkan penderita asma lebih banyak
pada anak perempuan.

5.1.2 Diketahuinya Status gizi anak


Berdasarkan tabel sebaran status gizi anak didapatkan 25 anak mengalami gizi
lebih, 85 anak gizi normal, sementara itu 10 anak gizi kurang. Dari 25 anak yang gizi
lebih, sebanyak 18 anak (72%) menderita asma dan 7 (28%) tidak menderita asma,
dari 85 anak yang gizi normal, sebanyak 41 (48.24%) menderita asma dan 43 anak
(51.76%) tidak menderita asma, sedangkan dari 10 anak gizi kurang, 1 (10%) anak
menderita asma dan 9 (90%) anak tidak asma. Pada penelitian ini didapatkan
penderita asma lebih banyak pada kelompok anak yang gizi lebih.

5.1.3 Riwayat Keluarga dengan Asma


Berdasarkan tabel sebaran riwayat keluarga dengan asma didapatkan 46 anak
yang mempunyai riwayat keluarga dengan asma,dan didapatkan sebanyak 74 anak
yang tidak mempunyai riwayat keluarga dengan asma. Sebanyak 24 anak (52.17%)
menderita asma berada pada kelompok yang mempunyai riwayat keluarga dengan
asma dan 22 (47.83%) tidak menderita asma. Pada kelompok anak dengan tidak ada
riwayat keluarga dengan asma, sebanyak 36 anak (48.64%) menderita asma dan
sisanya yaitu sebanyak 38 (51.36%) tidak menderita asma. Pada penelitian ini
didapatkan penderita asma lebih banyak pada kelompok anak yang memiliki riwayat
keluarga asma.
5.1.4 Riwayat Alergi
Berdasarkan tabel sebaran riwayat alergi didapatkan anak yang memiliki
riwayat alergi sebanyak 14 anak, 7 anak (50%) diantaranya menderita asma dan 7

31
anak (50%) tidak menderita asma. Sementara itu sebanyak 106 anak tidak memiliki
riwayat alergi, sebanyak 53 anak (50%) mendeirta asma dan 53 anak (50%) tidak
mendeirta asma.

5.1.5 Terpapar Asap Rokok


Berdasarkan tabel sebaran terpapar asap rokok didapatkan anak yang positif
terpapar asap rokok sebanyak 71 anak, 32 anak (45.07%) diantaranya menderita asma
dan 39 anak (54.93%) tidak menderita asma. Sementara itu sebanyak 49 anak tidak
terpapar asap rokok, sebanyak 28 anak (57.14%) menderita asma dan 21 anak
(52.86%) tidak menderita asma. Pada penelitian ini didapatkan penderita asma lebih
banyak pada kelompok anak yang tidak terpapar asap rokok.

5.2 Analisis Bivariat


5.2.1 Hubungan antara Jenis Kelamin Anak dengan Kejadian Asma Bronkial di
Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru Periode Januari sampai November 2017.

Berdasarkan hasil penelitian ini, didapatkan anak yang berjenis kelamin laki
sampai laki sebanyak 22 anak menderita asma dan 27 anak tidak menderita asma.
Pada anak yang berjenis kelamin perempuan, didapatkan sebanyak 38 anak menderita
asma dan 33 anak tidak menderita asma. Pada uji statistik yang telah dilakukan, kami
mendapatkan tidak adanya hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian asma. Hal
ini dapat ditunjukkan dari hasil uji Chi Square antara variabel jenis kelamin anak
dengan variabel asma diperoleh nilai p = 0,862 (p > 0,05)
Hal ini diperkuat oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Abraham H.
Laisina pada tahun 2007 di SD kecamatan Wenang Kota Manado menunjukkan hasil
tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kejadian asma P = 0,382 (p >
0,05). Anak laki sampai laki lebih banyak menderita asma (11,2 %) daripada anak
perempuan (9,7 %) dengan perbandingan 1,15 : 1. Wantania mendapatkan
perbandingan anak laki sampai laki dan perempuan yang menderita asma di
Palembang sebesar 1,26 : 1 sedangkan di Manado sebesar 1,11: 1. Penelitian ini
mendapatkan anak laki sampai laki lebih sering menderita asma dari pada anak
perempuan dengan perbandingan 1,15 : 1. Namun demikian, perbedaan ini tidak
bermakna.

32
5.2.2 Hubungan antara Status Gizi Anak dengan Kejadian Asma Bronkial di
Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru Periode Januari sampai November 2017
Pada penelitian ini, anak yang gizi lebih, sebanyak 18 anak (72%) menderita
asma dan 7 (28%) tidak menderita asma, dari 85 anak yang gizi normal, sebanyak 41
(48.24%) menderita asma dan 43 anak (51.76%) tidak menderita asma, sedangkan
dari 10 anak gizi kurang, 1 (10%) anak menderita asma dan 9 (90%) anak tidak asma.
Pada uji statistik yang telah dilakukan, kami mendapatkan ada hubungan antara status
gizi anak dengan kejadian asma bronkial. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil uji Chi
square antara variabel status gizi anak dengan variabel asma bronkial diperoleh nilai p
= 0,002 (p < 0,05).
Hasil penelitian kami sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Usman I
dkk dengan hasil kelompok asma dengan gizi lebih 2,6% lebih sedikit dari kelompok
bukan asma dengan gizi lebih 5,1% dengan nilai p 0,382. Dengan nilai p tersebut
maka factor gizi lebih tidak berhubungan dengan kejadian asma. Uji statistik
menunjukkan tidak ada hubungan antara gizi lebih dengan kejadian asma anak di
RSUP M. Djamil Padang. Hasil ini didukung oleh penelitian Luo et al (2013) yang
menunjukkan angka signifikansi 0,16 (p >0,05).17 Tidak adanya hubungan antara gizi
lebih dan asma anak di RSUP M. Djamil Padang mungkin disebabkan oleh status gizi
anak yang sangat berhubungan dengan sosioekonomi.

5.2.3 Hubungan antara Riwayat Asma pada Keluarga dengan Kejadian Asma
Bronkial di Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru Periode Januari sampai
November 2017
Pada penelitian ini, anak yang memiliki riwayat keluarga dengan asma,
sebanyak 24 anak menderita asma dan 22 anak tidak menderita asma. Anak yang
tidak memiliki riwayat keluarga dengan asma sebanyak 36 anak menderita asma dan
38 anak tidak menderita asma. Pada uji statistik yang telah dilakukan, kami
mendapatkan tidak ada hubungan antara status gizi anak dengan kejadian asma
bronkial. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil uji Chi Square antara variabel status gizi
anak dengan variabel asma bronkial diperoleh nilai p = 0.141 (p > 0,05). Hal ini dapat
terjadi dikarenakan faktor sampai faktor lain diluar variabel uji seperti faktor
imunisasi, faktor sosial sampai ekonomi, maupun faktor iklim.
Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Abraham dkk tahun
2007. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara

33
riwayat asma pada orang tua. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian asma
pada anak yang orang tuanya memiliki riwayat asma adalah 72,7 % dan terdapat
hubungan antara riwayat asma pada orang tua dengan kejadian asma pada anak (p <
0,001). Celedon dkk mendapatkan kejadian asma sebesar 67,5 % pada anak yang
orang tuanya memiliki riwayat asma.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan data bahwa responden yang sering
mengalami kekambuhan Asma ternyata memiliki riwayat penderita Asma
dikeluarganya yakni sebanyak 14 orang (53,9%) dengan pengaruh bermakna yakni p
value=0,003 dengan OR yakni 14,37. Hal tersebut menginformasikan bahwa terdapat
hubungan riwayat keluarga dengan kekambuhan Asma adalah sedang. Hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian Purnomo (2008) yang menyatakan bahwa
riwayat penyakit Asma memiliki suatu hubungan yang bermakna dengan p
value=0,015.25

5.2.4 Hubungan antara Riwayat Alergi dengan Kejadian Asma Bronkial di


Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru Periode Januari sampai November 2017
Pada penelitian ini, anak yang memiliki alergi, sebanyak 7 anak menderita
asma dan 7 anak tidak menderita asma. Anak yang tidak memiliki alergi, sebanyak
53 anak menderita asma dan 53 anak tidak menderita asma. Pada uji statistik yang
telah dilakukan, kami mendapatkan tidak adanya hubungan antara status gizi anak
dengan kejadian asma bronkial. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil uji chi square
antara variabel riwayat alergi anak dengan variabel asma bronkial diperoleh nilai p =
0,000 (p<0,05) dan nilai OR = 1,000 dengan CI= 0,328 sampai 3,049 menunjukkan
riwayat alergi memiliki resiko 1x lebih besar terhadap kejadian asma.
Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Afdal, Yani FF, Basir
D, dkk mengenai kejadian asma diidentifikasi melalui adanya riwayat alergi yaitu
asma, rinitis alergi dan eksim pada orang tua. Riwayat alergi salah satu orang tua 7,1
kali (p=0,000: 95% CI = 4.21 sampai 11.96). Dengan kelompok kasus yang
memiliki riwayat alergi 21,1% lebih kecil dari kelompok bukan kasus yang memiliki
alergi 78,9%. Pada analisis multivariat ternyata faktor alergi yang bermakna
mempengaruhi kejadian asma hanya alergi pada salah satu orang tua (riwayat alergi
ayah atau ibu) (p=0,000 OR= 7: 95% CI 4,0 sampai 12,2). Faktor alergi terdapat 80%
pada anak yang menderita asma. Alergi yang muncul pada usia dini terutama dalam 3
tahun pertama kehidupan memiliki potensi untuk berkembang menjadi asma. Bila

34
kedua orang tua menderita penyakit alergi (alergi), maka kemungkinan 60% anaknya
akan menderita alergi pula. Bila hanya satu dari orang tua yang menderita alergi maka
kemungkinannya 40% menderita alergi dan bila kedua orang tua tidak menderita
alergi maka hanya 15% kemungkinan anaknya menderita alergi. Pengaruh genetik ibu
lebih kuat terhadap kejadian asma dibanding genetik ayah. Risiko asma lebih besar
pada anak dari ibu asma dibandingkan ayah yang menderita asma.

Riwayat alergi yang mempengaruhi kejadian asma pada anak dengan


persentase yang bervariasi walaupun paling tinggi didapatkan bahwa tidak terdapat
riwayat alergi pada orangtua. Penelitian yang membuktikan adanya hubungan
bermakna antara riwayat alergi dalam keluarga dengan kejadian asma pada anak telah
banyak dilakukan. Penelitian lain mendapatkan 46,4% anak asma mempunyai ayah
dan ibu yang menderita penyakit alergi lain selain asma.

5.2.5 Hubungan antara Paparan Asap Rokok dengan Kejadian Asma Bronkial di
Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru Periode Januari sampai November 2017
Pada penelitian ini, anak yang terpapar asap rokok, sebanyak 32 anak
menderita asma dan 39 anak tidak menderita asma. Anak yang tidak terpapar asap
rokok, sebanyak 28 anak menderita asma dan 21 anak tidak menderita asma. Pada uji
statistik yang telah dilakukan, kami mendapatkan tidak ada hubungan antara status
gizi anak dengan kejadian asma bronkial. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil uji chi
square antara variabel status gizi anak dengan variabel asma bronkial diperoleh nilai p
= 1,690 (p > 0,05). Artinya paparan asap rokok bukan merupakan faktor risiko
terhadap kejadian asma.
Dari penelitian yang telah kami lakukan terdapat hasil yang tidak sesuai
dengan yang dilakukan Sihombing (2010) mendapatkan bahwa pada penderita asma
yang terpapar asap rokok lebih besar dibandingkan dengan yang bukan penderita
asma bronkiale dengan OR sebesar 60,78 (95%CI: 17,65 sampai 195,8) dan secara
statistik bermakna dengan nilai p<0,001 (Sihombing, 2010). Asap rokok yang dihirup
penderita asma secara aktif mengakibakan rangsangan pada sistem pernapasan, sebab
pembakaran tembakau menghasilkan zat iritan dalam rumah yang menghasilkan gas
yang komplek dan partikel sampai partikel yang berbahaya, perokok pasif menghisap
lebih banyak racun dalam asap rokok dibandingkan perokok aktif (Aryandani, 2010).
Orang tua hedaknya tidak merokok didalam rumah, karena asap rokok tersebut dapat
membahayakan kesehatan bagi anak, teruma kesehatan saluran pernapasan mereka.

35
keterpaparan asap rokok pada kasus lebih banyak dibandingkan yang tidak ada
terpapar asap rokok yaitu sebanyak 27 orang (84,4%).
Hasil analisis bivariabel lainnya adalah hubungan keterpaparan asap rokok
dengan kejadian asma didapatkan OR sebesar 3,2 (95%CI: 1,1 sampai 9,5) dengan
nilai p = 0,049. Hasil ini menunjukkan anak yang terpapar asap rokok mempunyai
risiko mengalami asma 3,2 kali dibandingkan yang tidak terpapar asap rokok.

36
Bab VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara
status gizi dan riwayat alergi dengan kejadian asma di Puskesmas Kelurahan Jelambar
Baru Periode Januari sampai November 2017, sedangkan tidak terdapat hubungan
pada riwayat keluarga, dan paparan asap rokok dengan kejadian asma pada anak di
Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru Periode Januari sampai November 2017.
6.2 Saran
Dari hasil penelitian dan kesimpulan di atas, peneliti menyarankan beberapa hal:
6.2.1 Bagi Puskesmas Kelurahan Jelambar Baru
- Memberikan penyuluhan terkait dengan penyakit asma: kelompok umur yang
rentan terkena asma, faktor risiko, gejala, dan pengobatannya, agar masyarakat
dapat lebih sadar akan penyakit asma dan segera membawa penderita ke
pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan tatalaksana yang sesuai.
6.2.2 Bagi Penderita Asma
- Agar lebih memperhatikan kesehatan diri dan menjauhi faktor sampai faktor
mempengaruhi penyakit asma

37
statusgizi * asma Crosstabulation

asma

asma bukan asma Total

statusgizi gizi kurang Count 1 9 10

Expected Count 5.0 5.0 10.0

gizi lebih Count 18 7 25

Expected Count 12.5 12.5 25.0

gizi normal Count 41 44 85

Expected Count 42.5 42.5 85.0

Total Count 60 60 120

Expected Count 60.0 60.0 120.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided)

Pearson Chi-Square 11.346a 2 .003

Likelihood Ratio 12.477 2 .002

Linear-by-Linear Association .515 1 .473

N of Valid Cases 120

a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 5,00.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Rahajoe N, Kartasasmita CB, Supriyatno B, dkk. Pedoman nasional asma anak. Edisi
ke 2. Jakarta : UKK Respirologi PP IDAI ; 2015. hal 25 sampai 26.
2. Imelda S, Yunus F, Wiyono WH. Hubungan derajat asma dengan kualitas hidup yang
dinilai dengan asthma quality of ife questionnaire. Vol 57. No 12. Departemen
pulmonology dan ilmu kedokteran respirasi, FKUI. Jakarta : Majalah kedokteran
Indonesia ; November 2007. Hal 436.
3. GINA (Global Initiative for Asthma); Pocket global strategy for asthma management
and prevention, 2017. Available from www. ginasthma.org.
4. Sihombing M, Alwi Q, Nainggolan O. Faktor sampai faktor yang berhubungan
dengan penyakit asma pada usia ≥ 10 Tahun di indonesia (analisis data riskesdas
2007). vol 3, No.2. Jakarta : Jurnal Respirasi Indonesia ; 2010. Hal 85
5. Wahyuni AH,Yulia. Prevalensi factor sampai faktor pencetus serangan asma pada
pasien asma di salah satu rumah sakit di Jakarta.Jakarta : Departemen Keperawatan
Medikal Bedah, FIK UI ; 2014. Hal 2.
6. Fitri R, Priyanto H, Rinanda T. kepatuhan pengobtan asma dengan kualitas hidup
pada pasien asma persisten. Vol 36. No 3. Bagian Pulmonologi dan Kedokteran
Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala : Jurnal respirasi Indonesia ;
2016. Hal 130
7. Runtuwene IKT, Wahani AMI, Pateda V. Prevalensi dan faktor sampai faktor risiko
yang menyebabkan asma pada anak di rsu gmim bethesda tomohon periode agustus
2011 – juli 2016. Volume 4, Nomor 2. Jurnal e sampai Clinic (eCl) ; 2016. Hal 2.
8. Patofisiologi dan Patogenesis. Diunduh dari
https://www.nhlbi.nih.gov/files/docs/guidelines/03_sec2_def.pdf. 11/28/2017.
9. Surjanto E, Purnomo J. Mekanisme seluler dalam patogenesis asma dan rinitis.
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FK UNS/ SMF Paru RSUD
Dr. Moewardi Surakarta Solo : Jurnal Respirologi; 2006.h.2 sampai 26.
10. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Asma pedoman, diagnosis dan penatalaksaan di
Indonesia. Jakarta : Balai penerbit UI, 2003.
11. Sundaru H, Sukamto. Asma bronkial. In: Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi I,
Simadibrata MK, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam (Edisi V). Jakarta:
Interna Publishing, 2009; p. 404 sampai 8.

39
12. Musani AI, Pascual RM, Peters SP. Asthma. Dalam: Adelman DC, Casale TB, Corren
J, penyunting. manual of allergy and immunology. Edisi ke empat. Philadel sampai
phia : Lippincott WW; 2002. h. 93 sampai 137.
13. Abraham H. Laisina, D. Takumansang sampai Sondakh, J. M. Wantania. Faktor risiko
kejadian asma pada anak sekolah dasar di kecamatan Wenang kota Manado. Manado :
Sari Pediatri, Vol. 8 No. 4;2007.h. 299 sampai 304
14. Hamid S, Setyati A, Noormanto. Prognostic factors for frequent episodic asthma in
children. Yogyakarta : Jurnal Medicine Sci Volume 46, No. 4;2014.p.184 sampai 89
15. .Berawi KN, Ningrum AF. Faktor resiko gizi lebih dan kejadian asma. Vol 6. No 2.
Majority ; Maret 2017.h. 7
16. Usman I , Chundrayetti E, Khairsyaf O. Faktor risiko dan faktor pencetus yang
mempengaruhi kejadian asma pada anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Padang :
Jurnal Kesehatan Andalas; 2015.h.392 sampai 7.
17. Gambar BMI/U . Diunduh dari Developed by the National Center for Health Statistics
in collaboration with the National Center for Chronic Disease Prevention and Health
Promotion (2000). http://www.cdc.gov/growthcharts. 11/28/2017
18. . Zulfikar T, Yunus F, Wiyono WH. Prevalensi asma berdasarkan kuesioner ISAAC
dan hubungan dengan factor yang mempengaruhi asma pada siswa SLTP di daerah
Jakarta barat tahun 2008. J Respir Indo Vol. 31, No. 4, Oktober 2011. h. 182
19. Afdal, Yani FF, Basir D, dkk. Faktor risiko asma pada murid sekolah dasar usia 6
sampai 7 tahun di kota padang. Jurnal Kesehatan Andalas ; 2012. h. 120.
20. Sastrawan IGP, Suryana K, Rai IBN. Prevalensi asma bronkial alergi pada pelajar di
desa tenganan. Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK Unud. Jurnal Penyakit Dalam, Vol 9
nomor 1, januari 2008. h. 50 sampai 1
21. wistiani, Notoatmojo H. Hubungan pajanan allergen terhadap kejadian alergi pada
anak. Vol 3. No. 3. Semarang : Bagian ilmu kesehatan anak FKUNDIP Saripati
;2011.h. 185 sampai 6.
22. Sulistyo. Faktor sampai faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup anak asma.
Bagian FK Undip. Jurnal Anak ,Vol 2. November 2005.h.37
23. Masrizal MD. Faktor risiko kejadian asma pada anak di kota padang Vol. 3 No. 1 : 1
– 7 Juni 2016. Padang: Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Andalas Padang.h.1 sampai 7
24. Faktor Risiko Kejadian Asma pada Anak Sekolah Dasar di Kecamatan Wenang Kota
Manado Sari Pediatri, Vol. 8, No. 4, Maret 2007
25. Aini F, Hasneli Y, Dewi YI, Faktor sampai faktor Resiko yang Berpengaruh Terhadap
Tingkat Kekambuhan Pasien Asma.

40
41