Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak masuk dan berkembangnya Islam di Tunisia, mayoritas
penduduknya menganut mazhab Maliki. Namun demikian, Tunisia juga
dipengaruhi oleh mazhab Hanafi sebagai konsekuensi dari posisinya yang
merupakan salah satu daerah otonom dinasti Usmaniyah (sejak tahun 1574).
Ketika bangsa Prancis menguasai Tunisia (1881), mereka memberikan
otoritas berimbang kepada hakim-hakim kedua mazhab tersebut untuk
menyelesaikan kasus-kasus perkawinan, perceraian, warisan, dan kepemilikan
tanah.
Dalam perjalanannya, secara perlahan-lahan mereka juga mengadopsi
prinsip-prinsip hukum Prancis. Sehingga out put sistem hukum yang
dihasilkan merupakan perpaduan sinergis antara prinsip-prinsip hukum Islam
(Maliki dan Hanafi) dan prinsip-prinsip hukum sipil Prancis (French civil
law).
Pada tanggal 20 Maret 1956, Tunisia resmi merdeka. Sesaat setelah itu,
pemerintah Tunisia memberlakukan undang-undang hukum keluarga yang
disesuaikan dengan perubahan-perubahan sosial yang terjadi di Tunisia.
Undang-undang tersebut bernama Majallah al-Ahwal Al-Syakhsiyah No. 66
tahun 1956. Majallah itu sendiri mencakup materi hukum perkawinan,
perceraian, dan pemeliharaan anak yang berbeda dengan ketetapan hukum
Islam Klasik.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Profil Negara Tunisia?
2. Bagaimana Hukum Keluarga di Tunisia?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui Profil Negara Tunisia.
2. Mengetahui Hukum Keluarga di Tunisia.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Profil Negara Tunisia1


Secara Geografis, Tunisia adalah Negara Arab muslim di Afrika Utara.
Di antara negara-negara yang berada di daerah maghrib di Afrika Utara
daerah paling barat dari dunia Arab yaitu Maroko dan Aljazair, Tunisa
merupakan negara yang paling kecil. Sebelah barat berbatasan dengan
Aljazair, bagian utara dan timur berbatasan dengan Mediterania dan bagian
selatan berbatasan dengan Libya.
Ibukota Tunisia adalah Tunis, yang terdiri dari 23 provinsi. Bahasa
resmi Negara ini adalah Arab. Sistem pemerintahannya adalah Republik.
Tunisia termasuk dalam kepulauan Karkuana untuk daerah timur, sementara
di bagian tenggara termasuk kepulauan Djerba.
Secara konstitusional, islam merupakan agama Negara, seperti halnya
Negara-negara Arab Lainnya. Mazhab fiqh yang paling dominan di Tunisia
adalah mazhab Maliki, seperti yang terjadi di Negara tetangganyam Maroko,
Aljazair, dan Mesir. Pada tahun 2000, jumlah penduduk Tunisia mencapai
9.593.402 jiwa. Sedangkan, pada 2005 jumlah penduduk Tunisia telah
mencapai 10.074.951 jiwa. Sekitar 98% beragama Islam, sedangkan 1%
adalah Kristen dan 1% lagi Yahudi. sehingga dalam perkembangan
selanjutnya, di negara ini syari‘at Islam bisa diterapkan secara menyeluruh.
Pada awalnya, Negara Tunisia merupakan provinsi otonom pada masa
pemerintahan Turki Utsmani dan pada tahun 1883 menjadi negara ini menjadi
anggota persemakmuran Perancis berdasarkan perjanjian La Marsa. Tunisia
memperoleh kemerdekaan pada tahun 1956, dengan presiden pertama Habib
Bourguiba, Yang memerintah selama 31 tahun.
Undang-undang Dasarnya disahkan pada tanggal 1 Juni 1959, yang
secara tegas dalam pasal 1 menyebutkan bahwa Tunisia adalah Negara yang
berdasarkan agama Islam. Bahkan lebih jauh lagi, dalam pasal 38 dinyatakan
bahwa presiden Republik Tunisia haruslah seorang muslim.

1
http://fadliahozz.blogspot.co.id/2016/05/hukum-keluarga-di-tunisia.html di Akses pada
tanggal 5 Januari 2018
B. Hukum Keluarga di Tunisia2
Hukum keluarga Tunisia telah direformasi dan dikodifikasi setelah
Negara ini memperoleh kemerdekaan. Pada akhir tahun empat puluhan,
beberapa ahli hukum terkemuka Tunisia berfikir bahwa dengan melakukan
fusi terhadap mazhab Hanafi dan mazhab Maliki, sebuah ketentuan hukum
baru mengenai hukum keluarga dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan
perkembangan situasi dan kondisi sosial di Tunisia. Sekelompok ahli hukum
mengajukan catatan perbandingan antara dua sistem hukum, Hanafi dan
Maliki, dan dipublikasikan dengan judul Laihat Majallat al Ahkam al
Syar’iyyah (Draf Undang-Undang Hukum Islam). Akhirnya, pemerintah
membentuk sebuah komite dibawah pengawasan Syekh Islam, Muhammad
Ja’it, guna merancang Undang-Undang secara resmi.3
Bersumber dari Laihat dan Undang-Undang Hukum Keluarga Mesir,
Jordania, Syiria dan Turki Usmani, panitia tersebut mengajukan Rancangan
Hukum Keluarga kepada pemerintah. Rancangan tersebut akhirnya
diundangkan dengan judul Majallah al Ahwal al Syahsiyyah (Code of
Personal Status) tahun 1956, berisi 170 pasal, 10 buku dan diundangkan ke
seluruh wilayah Tunisia pada tanggal 1 Januari 1957. Namun, dalam
perjalanannya, Undang-Undang ini mengalami modifikasi dan perubahan
(amandemen) beberapa kali, yaitu melalui UU No. 70/1958, UU No. 41/1962,
UU No. 1/1964, UU No. 77/1969, dan terakhir, menurut catatan Tahir
Mahmood, Mengalami amandemen pada tahun 1981 melalui UU No. 1/1981.
Perlu dicatat pula bahwa walaupun secara umum berdasarkan mazhab
Maliki, UU ini memasukkan pula beberapa prinsip yang berasal dari mazhab-
mazhab hukum Islam lain. Jika dibandingkan dengan negara-negara Arab
lain, reformasi bidang hukum yang diintroduksikan di Tunisia lebih
revolusioner
C. Materi Perkawinan di Tunisia
1. Pencatatan Pernikahan

2
http://bismillahirrahmanirrahim1305.blogspot.co.id/2017/06/makalah-hukum-keluarga-di-
negara-tunisia.html di Akses pada tanggal 5 Januari 2018
3
Khoiruddin Nasution , Hukum Perdata (Keluarga) Islam Indonesia Dan Perbandingan
Hukum Perkawinan di Dunia Muslim (Yogyakarta: Academia, 2009), Hlm. 172.
Tunisia menetapkan, perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan
catatan resmi dari pemerintah (official document). Dalam pasal 4 UU
Tunisia No. 40 tahun 1957 dinyatakan; "Perkawinan seharusnya
dibuktikan dengan catatan resmi. Perkawinan yang dilakukan di luar
pengadilan seharusnya dibuktikan dengan cara yang berlaku di Tunisia,
yakni sesuai dengan peraturan tentang akad nikah".
2. Usia Perkawinan4
Laki-laki dan perempuan di Tunisia dapat melakukan perkawinan
jika telah berusia minimal 20 tahun. Hal ini merupakan ketentuan yang
merubah isi pasal 5 UU 1956 yang mana sebelum diubah, ketentuannya
adalah 17 tahun bagi perempuan dan 20 tahun bagi laki-laki. Berdasarkan
ketentuan tersebut, untuk dapat melangsungkan perkawinan, pasangan
yang berusia di bawah 20 tahun harus mendapat izin dari wali. Jika wali
tidak memberikan izin, perkara tersebut dapat diputus oleh pengadilan
(pasal 5).
Akan tetapi, pada Tahun 1981, ketentuan pasal ini berubah bahwa
untuk dapat melakukan perkawinan, laki-laki harus berusia 20 tahun dan
perempuan harus berusia minimal 17 tahun (pasal 5 [2]). Sehingga bagi
mereka yang berusia di bawah 20 tahun harus mendapatkan izin dari
pengadilan (pasal 5 [3]). Izin tidak dapat diberikan jika tidak ada alasan
yang kuat dan keinginan yang jelas dari masing-masing pihak. Di samping
itu, perwakilan di bawah umur tergantung pada izin wali. Jika wali
menolak untuk memberikan izin, padahal para pihak telah berkeinginan
kuat untuk menikah, perkara dapat diputus oleh pengadilan. Ini merupakan
langkah maju jika dilihat dari ketentuan kitab mazhab Maliki. Sebab tidak
ada batasan yang jelas mengenai batasan usia menikah dalam kitab-kitab
tersebut.
Meskipun secara terang-terangan Alquran dan hadits Nabi tidak
memberikan batasan yang jelas, namun dari isyarat secara tidak langsung
sudah ada di dalamnya. Adanya hak dan kewajiban tersebut
mengindikasikan bahwa pelakunya diharuskan sudah dewasa. Untuk
4
Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam (Jakarta: Rajawali
Grafindo, 2005), hlm. 54.
menetapkan konteks dewasa‖ ini, terdapat perbedaan. Terlepas dari konsep
yang diberikan oleh para ulama, perbedaan ini juga dipengaruhi oleh
perbedaan lingkungan, kebudayaan, tingkat kecerdasan suatu komunitas
dan beberapa faktor pendukung lainnya.5
3. Perjanjian Perkawinan
Undang-Undang tunisia 1956 memberi peluang adanya khiyar al-
syart dalam perkawinan. Jika ada isi perjanjian yang terlanggar, pihak
yang dirugikan atas pelanggaran perjanjian tersebut dapat mengajukan
tuntutan pembubaran perkawinan. Perjanjian tersebut tidak bisa
melahirkan hak ganti rugi jika hal tersebut terjadi sebelum perkawinan
terlaksana secara sempurna.
4. Perceraian dan Tata Caranya di Tunisia
Dalam Undang-undang Hukum Keluarga Tunisia, sebuah perceraian
yang dilakukan secara sepihak tidak mengakibatkan jatuhnya talak.
Perceraian hanya dapat kekuatan hukum dan berlaku efektif apabila
diputuskan oleh pengadilan.
Demikian juga sebaliknya, pengadilan dapat memutuskan
perkawinan yang diajukan oleh istri dengan alasan suami telah gagal
dalam memenuhi nafkah rumah tangga, atau karena kedua belah pihak
telah sepakat untuk melakukan perceraian. Pengadilan juga dapat
memutuskan perkawinan yang diajukan sepihak, dengan ketentuan pihak
tersebut wajib membayar ganti rugi kepada pihak lainnya. Putusan
perceraian hanya akan diberikan, dalam segala kondisi apabila upaya
damai yang telah diusahakan oleh pihak suami dan istri dalam dicapai
(pasal 30-31).
Regulasi mengenai ini menunjukkan keseriusan pemerintahan
Tunisia dalam mengakomodir dan melindungi hak-hak perempuan. Di sini
dapat terlihat betapa pentingnya dilaksanakan urgensi untuk mencatatkan
perkawinan yang bukan hanya sekedar formalitas belaka. Ketentuan ini
sudah jelas diberlakukan bagi semua warga Negara. Selain berfungsi
sebagai tertib administrasi dan perlindungan hukum bagi warga Negara,
5
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Jakarta: Kencana, 2007), hlm.
68.
adanya asas legalitas ini juga mempermudah pihak-pihak terkait dalam hal
ini pemerintah dalam melakukan pengawasan dalam pelaksanaan undang-
undang perkawinan.6
Pasal 19 undang-undang 1956 Tunisia menegaskan bahwa seorang
pria dilarang untuk merujuki mantan istrinya yang dijatuhkan talak tiga
(talaq ba‟in kubra). Sebelumnya, telah disebutkan dalam pasal 14 bahwa
talak tiga menjadi halangan yang bersifat permanen untuk pernikahan.
Ketentuan pasal ini sesuai dengan pendapat-pendapat yang dijelaskan
dalam kitab-kitab fiqh.
Perceraian adalah hal yang ketat dalam hukum di tunisia, perceraian
yang di jatuhkan secara sepihak tidak berdampak jatuhnya talak,
perceraian yang sah dan efektif hanya diputuskan di pengadilan.
Pengadilan dapat memberikan perceraian berdasarkan:
1) kesepakatan dari pasangan
2) petisi dari salah satu pasangan dengan alasan cedera yang disebabkan
oleh yang lain.
Pengadilan juga dapat memutuskan perceraian apabila salah satu
pihak bermaksud bercerai, dengan konsekuensi bahwa pihak yang
mengajukan gugatan perceraian wajib membayar ganti rugi kepada pihak
yang lain. Keputusan perceraian hanya di berikan apabila upaya
perdamaian pasangan suami istri tersebut gagal.
5. Poligami
Dalam Negara Tunisia peraturan tentang poligami di tulis dalam
pasal 18 Undang-Undang hukum keluarga menyatakan:
1) Poligami dilarang, siapa saja yang telah menikah sebelum perkawinan
pertamanya benar-benar berakhir, lalu menikah lagi, akan dikenakan
hukuman penjara selama satu tahun atau denda sebesar 240.000 malim
atau kedua-duanya.
2) Siapa yang telah menikah, melanggar aturan yang terdapat pada UU
No. 3 Tahun 1957 yang berhubungan dengan aturan sipil dan kontrak

6
Op. Cit., hlm. 188
pernikahan kedua, sementara ia masih terikat perkawinan, maka akan
dikenakan hukuman yang sama.
3) Siapa yang dengan sengaja menikahkan seseorang yang dikenai
hukuman, menurut ketentuan yang tak resmi, ia bisa juga dikenakan
hukuman yang sama.
Undang-Undang di atas secara tegas menetapkan bahwa poligami
dilarang. Bila seorang pria yang telah menikah , dan nikahnya belum putus
secara hukum, menikah lagi, dapat diancam hukuman penjara satu hatun
atau denda setinggi-tingginya 240.000 Malim.
Dengan demikian, idealnya al-Quran adalah monogami, lebih dari
itu syarat yang diajukan supaya suami berlaku adil terhadap istri-istrinya,
hal seperti ini adalah suatu kondisi yang sangat sulit, bahkan tidak
mungkin dapat terealilasi sepenuhnya.
Ada dua alasan yang dikemukakan Tunisia melarang poligami,
adalah: Pertama, bahwa institusi budak dan poligami hanya boleh pada
masa perkembangan atau masa transisi umat Islam, tetapi dilarang pada
masa perkembangan atau masyarakat berbudaya; dan Kedua, bahwa syarat
mutlak bolehnya poligami adalah kemampuan berlaku adil pada istri,
sementara fakta sejarah membuktikan hanya Nabi SAW. yang mampu
berlaku adil terhadap istri-istrinya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tunisia adalah Negara Arab muslim di Afrika Utara. Di antara negara-
negara yang berada di daerah maghrib di Afrika Utara daerah paling barat
dari dunia Arab yaitu Maroko dan Aljazair, Tunisa merupakan negara yang
paling kecil. Sebelah barat berbatasan dengan Aljazair, bagian utara dan timur
berbatasan dengan Mediterania dan bagian selatan berbatasan dengan Libya.
Ibukota Tunisia adalah Tunis, yang terdiri dari 23 provinsi. Bahasa
resmi Negara ini adalah Arab. Sistem pemerintahannya adalah Republik.
Tunisia termasuk dalam kepulauan Karkuana untuk daerah timur, sementara
di bagian tenggara termasuk kepulauan Djerba.
Hukum keluarga Tunisia telah direformasi dan dikodifikasi setelah
Negara ini memperoleh kemerdekaan. Pada akhir tahun empat puluhan,
beberapa ahli hukum terkemuka Tunisia berfikir bahwa dengan melakukan
fusi terhadap mazhab Hanafi dan mazhab Maliki, sebuah ketentuan hukum
baru mengenai hukum keluarga dapat dikembangkan dan disesuaikan dengan
perkembangan situasi dan kondisi sosial di Tunisia. Sekelompok ahli hukum
mengajukan catatan perbandingan antara dua sistem hukum, Hanafi dan
Maliki, dan dipublikasikan dengan judul Laihat Majallat al Ahkam al
Syar’iyyah (Draf Undang-Undang Hukum Islam). Akhirnya, pemerintah
membentuk sebuah komite dibawah pengawasan Syekh Islam, Muhammad
Ja’it, guna merancang Undang-Undang secara resmi.
Kecenderungan pembentukan dan pembangunan hukum keluarga di
Tunisia sangat signifikan. Pembaharuan paling menonjol adalah dalam
masalah pelarangan poligami dan keharusan mencatatkan perceraian di
lembaga peradilan.
DAFTAR PUSTAKA

Amin Suma, Muhammad . Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam. Jakarta:


Rajawali Grafindo

Nasution, Khoiruddin. Hukum Perdata (Keluarga) Islam Indonesia Dan


Perbandingan Hukum Perkawinan di Dunia Muslim. Yogyakarta: Academia,

Syarifuddin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia. Jakarta: Kencana

http://bismillahirrahmanirrahim1305.blogspot.co.id/2017/06/makalah-hukum-
keluarga-di-negara-tunisia.html di Akses pada tanggal 5 Januari 2018

http://fadliahozz.blogspot.co.id/2016/05/hukum-keluarga-di-tunisia.html di Akses
pada tanggal 5 Januari 2018