Anda di halaman 1dari 4

Tiba-tiba

“ Temui aku di café, jangan terlambat!”

Nayeon menautkan kedua alisnya, kesal menghiasi wajahnya yang sedari tadi dilanda kekalutan.
“ Yeonghwa oppa!” runtuknya dalam hati, kakinya melangkah cepat menuju café tempat seseorang
yang sedang menunggunya.
.
.
“ Jadi?”
“ Apa?” Nayeon masih berbalut baju kerja yang diyakini akan ia kenakan untuk terakhir kalinya.
“ Sejak kapan?”
“ Sejak kapan apanya?” Nayeon tidak mengerti.
“ Kau pura-pura lugu, nona?”
“ Aku benar-benar tidak mengerti.” Nayeon menggeleng.
“ Aish kau ini!”
Nayeon masih menatap Jeongyeon, atasannya yang sangat ia hindari itu. Selayaknya sinar
ultraviolet yang tidak disukai para penyuka kosmetik.
“ Mulai besok kau kujemput.”
“ Eh, kenapa?”
“ Bukankah jelas kau menyukaiku?” Ucap Jeongyeon dengan percaya diri.
“ Ha?”
“ Aku juga menyukaimu, Im Nayeon.”
.
.
Hamper setengah jam Jeongyeon menunggu kekasih yang telah diresmikannya secara sepihak tadi
malam. Senyum menghiasi wajah tampannya tatkala perempuan yang ia tunggu berjalan
kearahnya.
“ Jangan katakana kita sepasang kekasih!”
“ Kenapa?” Tanya Jeongyeon heran.
“ Kau akan membuat kantor gempar, Jeongyeon-ssi!”
“ Kenapa?”
“ Yya! Tidak adakah kata lain selain kenapa?”
Jeongyeon tersenyum kecil, ia sangat tahu mengapa Nayeon tidak ingin kabar menggembirakan
itu tersebar luas. Tentu akan sangat aneh jika karyawan yang terkenal bersebrangan dengannya,
terlihat sangat membenci dan antipasti terhadapnya. Tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk
mengundurkan diri dan beralih status menjadi kekasihnya.
“ Berjanjilah, Jeongyeon-ssi!”
“ Panggil aku oppa!”
“ oppa? No!”
“ kurasa Hyeosung siaran hari ini.” Ucap Jeongyeon santai dengan maksud mengancam.
“ Arra, hanya diluar kantor saja.”
“ Call.”
Jeongyeon berhasil.
.
Flashback
.
“ Nayeonie, kau harus membantuku kali ini!”
Itu Yeonghwa yang memasang wajah memelas, berharap sang adik bersedia membuatkannya surat
cinta, sekedar pemanis hubungan dirinya dan sang kekasih yang semakin hambar.
Nayeon semakin memasng wajah tidak sukanya. Sudah cukup atasan sekaligus mantan kekasihnya
yang membuat ulah, Jeongyeon memarahinya di depan karyawan lain hanya karena
kesalahpahaman. Meskipun nyatanya, atasannya yang dijuluki tampan seantero gedung, telah
meminta maaf kepadanya.
“ Kumohon.”
“ Ya Tuhan!” Nayeon menepuk keningnya.
.
.
“ Im Nayeon, dimana suratku?”
“ Coklat!”
“ yang mana?” Yeonghwa berpikir sejenak, tanpa buang waktu ia memasukan dua kertas yang
terlipat rapi tanpa membacanya kedalam dua amplop coklat.
.
.
Laki-laki yang terlihat begitu gagahnyapun sejatinya adalah makhluk yang kesepian. Perempuan
setegar apapun, juga makhluk yang kesepian. Kesepian yang hidup di dalam hatinya. Kekosongan
yang tidak kunjung terisi.
Aku bertanya pada orang yang berlalu lalang.
“ Dengan apa mengisi kekosongan, dengan apa membunuh sepi?”
Orang-orang pun menjawab, “ Dengan orang lain.”
Aku menjawab, “ Aku tidak suka orang lain masuk ke dalam hidupku!”
Mereka menjawab lagi, “ jika begitu, jadikan dia tidak lagi sebagai orang lain dalam hidupmu.”
.
.
Jeongyeon terkejut sekaligus bahagia mendapati surat Nayeon yang telah tergeletak rapi di meja
kerjanya, memorinya berputar mengenang kebersamaan mereka, dulu. Dia tidak menyangka
Nayeon nya menjadi puitis.
“ tunggu aku, Yeonie!”
.
.
“ Surat itu bukan untukmu Jeongyeon-ssi.”
“ lalu?”
“ itu surat milik yeonghwa Oppa.”
“ Ah, benarkah?”
“ Kau sangat percaya diri tuan Yoo. Untuk apa aku membuat surat cinta untukmu? Itu bukan aku.”
“ Tapi ini tulisan tanganmu, kau masih menyangkalnya?”
“ Demi Tuhan, seharusnya surat pengunduran diri yang ada disana.”
Jeongyeon bergeming, menatap wajah Nayeon yang menunduk. Wajahnya berubah merah padam
selepas ia mengatakan suka atas untaian kalimat di dalam surat yang ia terima pagi ini.
“ tapi aku suka, aku merasa kau sengaja menulisnya untukku.”
Nayeon mendongakan kepalanya, menatap raut wajah atasannya yang telah berada tepat di
hadapannya.
“ Bisakah kita mengulangnya dari awal lagi?”
“ Hem?” kedua mata jernih Nayeon membulat, terkejut.