Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

FARMAKOTERAPI GANGGUAN SALURAN CERNA DAN NUTRISI


TAHUN AKADEMIK 2017/2018

URINARY INCONTINENCE (UI)

Disusun oleh :

Destyalitha S. N. 260110150063 Iis Nuraeni 260110150073


Putri Eka Savitry 260110150064 Ruth Anneke 260110150074
Ruth Michellee P. 260110150065 Asri Putri Maidi 260110150075
Afina Dwi R. 260110150066 Esther Aprillia 260110150076
M. Rizky Fauzan 260110150067 Pramesthi Indah W. 260110150077
Bella Puteri Irinda 260110150068 Irfan Hadi Setiana 260110150078
Mufidah Mawaddah 260110150069 Lestia Anggraeni 260110150079
Rizki M. Zafrial 260110150070 Marini Utami 260110150080
Nadia Gitta Paramita 260110150071 Alyanada Nurafifah 260110150081
Zara Fushilla Herlian 260110150072 Reyhan Prayogo 260110150082

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2017
DAFTAR ISI

URINARY INCONTINENCE
Kasus III ..................................................................................................................................... 1

I. DEFINISI ..................................................................................................................... 2

II. ETIOLOGI ................................................................................................................... 2

III. GEJALA ...................................................................................................................... 3

IV. ANATOMI DAN FISIOLOGI .................................................................................... 4

V. FAKTOR RESIKO ...................................................................................................... 6

VI. PATOFISIOLOGI ....................................................................................................... 7

VII. HASIL LABORATORIUM ........................................................................................ 9

VIII. TERAPI FARMAKOLOGI ....................................................................................... 10

8.1. Tujuan Terapi ............................................................................................................ 10

8.2. Golongan Obat .......................................................................................................... 10

8.2.1. Estrogen ............................................................................................................. 10

8.2.2. Alfa – Adrenoreseptors Agonist ........................................................................ 12

8.2.3. Duloxetine .......................................................................................................... 12

8.3. Pemilihan Obat .......................................................................................................... 13

IX. NONFARMAKOLOGI ............................................................................................. 13

X. FITOTERAPI ............................................................................................................ 14

10.1. Anstringen ............................................................................................................. 14

10.2. Antiinflamasi ......................................................................................................... 14

10.3. Depresan ................................................................................................................ 15

10.4. Konstipasi .............................................................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 16


Kasus III : Urinary incontinence

Seorang pasien wanita berusia 44 tahun dengan 2 orang anak melakukan pemeriksaan
atas kelugan urinary incontinence terutama pada saat batuk dan melakukan aktivitas. Gejala
ini sebenarnya telah dirasakan sejak usia 41 tahun. Pada saat ini pasien terpaksa
menggunakan pantiliners dalam kegiatan sehari-hari untuk menjaga dari episode incontinent
yang terkadang tidak dapat dikontrol dengan baik. Hasil pemeriksaan menunjukan: urinalysis
(-), nilai post residual (PVR) kecil, stress test (+).

Riwayat pasien:
Alkohol (-)
Merokok (-)
Pasien memiliki penyakit kolesterol namun terkontrol dengan diet rendah kolesterol dan
sesekali saja mengkonsumsi anti kolesterol apabila diperlukan.
TD: 125/85 mmHg
BMI: 25kg/m2

Pertanyaan
Lakukan identifikasi terhadap permasalahan pasien ini dan rekomendasi terapi seperti apa
yang anda lakukan?

1
GASTROESOPHAGEAL REFLUX DISEASE (GERD)

I. DEFINISI
Urinary Incontinence adalah tidak dapat tertahannya pengeluran urin. Penyakit
in merupakan sindrom yang terjadi disebabkan oleh multi faktor yaitu permasalahan
pada genitourinary, perubahan usia, dan gangguan pada saat berkemih atau penjagaan
kebersihan diri atau keduanya (DuBeau).

II. ETIOLOGI
Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan
fungsi organ kemih, antara lain: melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan
berkali-kali, kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis. Ini mengakibatkan
seseorang tidak dapat menahan air seni. Selain itu, adanya kontraksi (gerakan)
abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga walaupun kandung kemih baru terisi
sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin berkemih. Penyebab Inkontinensia Urine (IU)
antara lain terkait dengan gangguan di saluran kemih bagian bawah, efek obat-obatan,
produksi urin meningkat atau adanya gangguan kemampuan/keinginan ke toilet.
Gangguan saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi. Jika terjadi infeksi saluran
kemih, maka tatalaksananya adalah terapi antibiotika. Apabila vaginitis atau uretritis
atrofi penyebabnya, maka dilakukan tertapi estrogen topical. Terapi perilaku harus
dilakukan jika pasien baru menjalani prostatektomi. Dan, bila terjadi impaksi feses,
maka harus dihilangkan misalnya dengan makanan kaya serat, mobilitas, asupan
cairan yang adekuat, atau jika perlu penggunaan laksatif. Inkontinensia Urine juga
bisa terjadi karena produksi urin berlebih karena berbagai sebab. Misalnya gangguan
metabolik, seperti diabetes melitus, yang harus terus dipantau. Sebab lain adalah
asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan cairan
yang bersifat diuretika seperti kafein.
Gagal jantung kongestif juga bisa menjadi faktor penyebab produksi urin
meningkat dan harus dilakukan terapi medis yang sesuai. Gangguan kemampuan ke
toilet bisa disebabkan oleh penyakit kronik, trauma, atau gangguan mobilitas. Untuk
mengatasinya penderita harus diupayakan ke toilet secara teratur atau menggunakan
substitusi toilet. Apabila penyebabnya adalah masalah psikologis, maka hal itu harus

2
disingkirkan dengan terapi non farmakologik atau farmakologik yang tepat. Pasien
lansia, kerap mengonsumsi obat-obatan tertentu karena penyakit yang dideritanya.
Inkontinensia urine juga terjadi akibat kelemahan otot dasar panggul, karena
kehamilan, pasca melahirkan, kegemukan (obesitas), menopause, usia lanjut, kurang
aktivitas dan operasi vagina. Penambahan berat dan tekanan selama kehamilan dapat
menyebabkan melemahnya otot dasar panggul karena ditekan selama sembilan bulan.
Proses persalinan juga dapat membuat otot-otot dasar panggul rusak akibat regangan
otot dan jaringan penunjang serta robekan jalan lahir, sehingga dapat meningkatkan
risiko terjadinya inkontinensia urine. Dengan menurunnya kadar hormon estrogen
pada wanita di usia menopause (50 tahun ke atas), akan terjadi penurunan tonus otot
vagina dan otot pintu saluran kemih (uretra), sehingga menyebabkan terjadinya
inkontinensia urine. Faktor risiko yang lain adalah obesitas atau kegemukan, riwayat
operasi kandungan dan lainnya juga berisiko mengakibatkan inkontinensia. Semakin
tua seseorang semakin besar kemungkinan mengalami inkontinensia urine, karena
terjadi perubahan struktur kandung kemih dan otot dasar panggul.

III. GEJALA
Gejala yang dimiliki oleh urinary incontinence adalah berdasarkan jenis yang
diderita oleh penderita penyakit ini. Berikut beberapa tipe urinary incontinence
beserta gejala yang muncul.
1. Stress incontinence
Gejala pada tipe ini yaitu terjadinya Pelepasan urin yang tidak
disengaja, terutama ketika batuk, bersin, atau tertawa. Tipe ini
mengalami kebocoran jumlah urin pada tingkat sedikit sampai sedang
(WebMD, 2017).

2. Urge incontinence
Tipe ini sering dan secara tiba-tiba merasakan harus urinasi (tidak
terkontrol). Kemungkinan mengalami kebocoran urin dari tingkat sedang
sampai berat, meski jumlah yang sedikit juga masih memungkinkan
terjadi (WebMD, 2017). Pada tipe ini, pengeluaran urin yang tidak
tertahankan dapat dipicu oleh perubahan posisi atau hanya mendengar
suara air, selain itu dapat terjadi ketika melakukan hubungan seksual
yaitu ketika mencapai orgasme. Pada tipe ini, tidak tetahankannya
urinasi masuk ke dalam kelompok gejala yang disebut overactive
bladder syndrome atau akhtifnya otot bladder dari keadaan biasanya.

3
Hal ini juga menandakan frekuensi urinasi yang tinggi serta seringnya
urinasi pada malam hari (NHS, 2016).

3. Mixed Incontinence
Tipe ini terjadi ketika stress incontinence dan urga incontinence
dialami pada waktu yang bersamaan oleh pasien. Misalnya ketika batuk
atau bersin terjadi pengeluaran sedikit urin, juga terjadinya dorongan
yang sangat kuat untuk urinasi (NHS, 2016).

4. Overflow Incontinence
Tipe ini disebut juga retensi urinari kronis, yang terjadi ketika
bladder tidak lagi mampu mengosongkan diri ketika urinasi. Hal ini
menyebabkan terjadinya pembengkakan. Pada tipe ini, urinasi sering
terjadi namun jumlah yang keluar sedikit. Perasaan yang dirasakan
pasien pun tidak pernah bisa mengosongkan bladder meski telah
mencoba (NHS, 2016).

5. Total Incontinence
Tipe ini termasuk ke dalam incontinence yang parah dan terjadi
terus menerus. Pada tipe ini, urin yang dikeluarkan sangatlah banyak
meskipun pada malam hari. Urinasi yang terjadi dapat sesekali namun
dalam jumlah yang banyak atau mengeluarkan urin dalam jumlah yang
kecil di antaranya (NHS, 2016).

IV. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Stress Urinary Incontinance erhubungan dengan anatomi Saluran Kemih Bawah


yaitu kandung kemih dan uretra.
Saluran kemih terdiri dari:
› Sepasang ginjal
› Sepasang ureter
› Satu kandung kemih
› Satu uretra

4

Proses berkemih adalah proses pengosongan kandung kemih, yang diatur oleh
dua mekanisme, yaitu refleks berkemih dan kontrol volunter. Refleks berkemih
dicetuskan apabila reseptor-reseptor regang di dalam dinding kandung kemih
terangsang. Kandung kemih pada seorang dewasa dapat menampung sampai 250 atau
400 ml urin sebelum tegangan di dindingnya mulai meningkat untuk mengaktifkan
reseptor regang. Semakin besar peregangan melebihi ambang ini, semakin besar tingkat
pengaktifan reseptor (Sherwood, 2001).
 Ginjal
Setiap ginjal diselubungi oleh kapsul fibrosa, lemak perinefrik, dan fasia perinefrik
(perineal). Korteks ginjal merupakan zona luar ginjal dan medula ginjal merupakan
zona dalam yang terdiri dari piramida-piramida ginjal. Korteks terdiri dari semua
glomerulus dan medula terdiri dari ansa Henle, vasa rekta dan duktus kolektivus
(O’Callaghan, 2009).
 Ureter

Ureter keluar dari ginjal di belakang peritoneum pada muskulus psoas dan kemudian
memasuki pelvis di depan sendi sakroiliaka Panjang ureter 25-30 cm dan diameter 1-
10 mm. Ureter berfungsi untuk menyalurkan urin dari ginjal ke kandung kemih Ureter

5
menembus dinding kandung secara oblik, sekitar 2 cm sebelum bermuara di kandung
kemih Susunan seperti ini mencegah aliran balik urin dari kandung kemih ke ginjal
apabila terjadi peningkatan tekanan di kandung kemih (Sherwood, 2001).
 Kandung Kemih

Berfungsi untuk menyimpan urin secara temporer Merupakan sebuah kantung


berongga yang dapat merenggang sesuai volumenya, dengan mengubah status
kontraktil otot polos di dindingnya Pada wanita, kandung kemih berada di anterior
dari vagina dan inferior dari uterus Otot polos kandung kemih dapat sangat meregang
tanpa menyebabkan peningkatan ketegangan dinding kandung kemih (Sherwood,
2001).
 Uretra
Panjang: 3 - 5 cm, berbentuk lurus dan lebih pendek daripada uretra pria,
berjalan secara langsung dari kandung kemih ke luar tubuh pada bagian bawah uretra
terdapat satu lapisan otot rangka yaitu sfingter uretra eksterna sfingter ini diperkuat
oleh seluruh diafragma pelvis. Dalam keadaan normal, sewaktu kandung kemih
melemas dan terisi, sfingter uretra interna dan eksterna tertutup untuk mencegah urin
kelua Selain itu, sfingter eksternal dan diafragma berada di bawah kontrol kesadaran
karena merupakan otot rangk Keduanya dapat dengan sengaja dikontraksikan untuk
mencegah pengeluaran urin sewaktu kandung kemih berkontraksi dan sfingter interna
terbuk (Sherwood, 2001).
Uretra pada wanita terdiri dari internal sphincter dan external sphincter. Jalur
keluarnya urin dari kandung kemih dijaga oleh sfingter uretra interna yang terdiri dari
otot-otot polos dan berada di bawah kontrol involunter Sewaktu kandung kemih
melemas, susunan anatomis sfingter interna menutupi pintu keluar kandung kemih
Secara berkala, urin dikosongkan dari kandung kemih ke luar tubuh melalui sebuah
saluran, yaitu uretra (Sherwood, 2001).

V. FAKTOR RESIKO
Faktor-faktor risiko yang mengakibatkan urinary incontinence termasuk
kehamilan, obesitas, diet lemak tinggi dan sebagainya.
1. Predisposing Factors
 Gender

6
 Genetics
 Culture
 Neurology
 Anatomy
 Collagen status
2. Promoting Factor
 Bowel dysfunction
 Dietary iritants
 Activity level
 Obesity
 Menopause
 Infection
 Medicine
 Pulmonary status
 Psycharic status
3. Inciting Factors
 Childbirth
 Surgery
 Pelvic nerve or nerve muscle damage
 Radiation
4. Decompensating Factor
 Aging (Diapers)
(Urology, 1997).

VI. PATOFISIOLOGI
1. Patofisiologi pada wanita
 IU tekanan
- ISD, gangguan pada struktur intrinsik sfingter uretra
- Hipermobilitas uretra

7
- Gangguan pada jaringan pendukung uretra (dinding vagina anterior,
levator ani, struktur ekstrinsik dari uretra)
 IU desakan
- Neurogenik (IU neurogenik yang terjadi akibat gangguan pada sistem
saraf sentral maupun perifer sangat tergantung pada topis atau lokasi lesi
serta luas sistem yang terlibat).
- Non neurogenik: sumbatan infravesika, adanya patologi kandung kemih
seperti batu, tumor, dan infeksi.
 IU campuran
- Gabungan antara tekanan dan desakan
 IU luapan
- Gangguan kontraktilitas kandung kemih dan sumbatan infravesika
 IU terus-menerus/kontinua
- Gangguan kontinuitas jaringan saluran kemih dan genitalia
(European Association of Urology, 2012).

2. Patofisiologi pada pria


IU pada pria dapat disebabkan oleh abnormalitas pada kandung kemih,
abnormalitas pada sfingter, atau campuran keduanya. Perubahan pada struktur dan
fungsi dapat terjadi akibat penuaan atau penyakit neurologis. Hal yang khas pada IU
pria adalah kaitannya dengan penyakit prostat dan terapinya. Misalnya obstruksi
karena prostat yang akan menyebabkan gangguan compliance kandung kemih. Selain
itu IU akibat gangguan sfingter dapat terjadi berkaitan dengan tindakan bedah, radiasi
prostat atau cedera saraf. Jenis lainnya adalah IU ekstra-uretra yang disebabkan fistula
(Turner-Warwick, 1983).
Pada pria, lokasi sfingter uretra terbagi dua, yaitu sfingter uretra proksimal
(SUP) dan sfingter uretra distal (SUD). Sfingter uretra proksimal terdiri dari leher
kandung kemih, prostat, dan uretra pars prostatika sampai verumontanum, dan
dipersarafi oleh saraf parasimpatik dari saraf pelvis. Porsi mekanisme kontinensia
inilah yang dibuang saat dilakukan prostatektomi, meninggalkan SUD bekerja sendiri
untuk mempertahankan kontinensia. Kompleks SUD terdiri dari uretra pars
membranosa dan otot ekstrinsik parauretral dan jaringan ikat pelvis. Kompleks ini
dipersarafi oleh saraf otonom (saraf pelvis) dan somatik (saraf pudenda). Maka

8
kontinensia pada pria tergantung pada integritas SUP dan SUD, dukungan struktur
sekitarnya dan persarafan (Turner-Warwick, 1983).

3. Patofisiologi Neurogenik
IU neurogenik dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu IU neurogenik
aktif (hiperaktivitas detrusor neurogenik) dan pasif (Perkumpulan Kontinensia
Indonesia, 2012).
IU aktif dapat ditemukan pada pasien dengan lesi spastik yang masih memiliki
tekanan penutupan sfingeter yang cukup. Hiperrefleks detrusor neurogenik disertai
dengan kontraksi yang tidak diinhibisi menghasilkan peningkatan tekanan intravesika.
Saat tekanan intravesika melebihi tekanan penutupan sfingter maka akan terjadi
kebocoran urin. IU aktif ini sering berkaitan dengan lesi suprasegmental atau UMN
(Perkumpulan Kontinensia Indonesia, 2012).
IU pasif disebabkan karena kelemahan sfingter sehingga menimbulkan
kebocoran urin. Kebocoran urin dapat terjadi walaupun tanpa disertai dengan
peningkatan tekanan intravesika yang tinggi. IU pasif ini sering dikaitkan dengan
kelainan pada lesi di pusat miksi atau lesi pada distalnya. IU pasif dibagi berdasarkan
fungsi traktus urinarius bagian bawah yang hilang yaitu kehilangan fungsi
penampungan atau kehilangan fungsi pengosongan (Perkumpulan Kontinensia
Indonesia, 2012).
1. Kehilangan fungsi penampungan Fungsi reservoir buli yang terganggu disebabkan
oleh penurunan fungsi otot detrusor.
2. Kehilangan fungsi pengosongan Lesi komplit pada segmen sakral atau cauda
equina, menghilangkan aktivitas otot halus ataupun otot lurik sfingter sehingga
sfingter hanya menghasilkan tekanan penahan yang kecil. Hal ini membuat otot
buli menjadi atoni dan tekanan intravesika rendah.

VII. HASIL LABORATORIUM


• Urinalysis = (-)
Untuk mengetahui ada tidaknya bakteri, glukosa dan darah pada urin
• Nilai post-void residual (PRV) = kecil
Pengosongan kandung kemih memenuhi syarat.

9
• Stress test = (+)
Urin keluar karena adanya aktivitas seperti batuk, tertawa, bersin. Menunjukan stress
UI (Thompson, 2015).
• Pasien memiliki penyakit kolesterol
Dapat meningkatkan onset SUI (Dallosso et al, 2004).
• TD = 125/85 mmHg (normal= 120/80 mmHg)
Masuk ke kategori prehipertensi (Muhlisin, 2017).
• BMI = 25 kg/m2 (normal= 18,5-24,9 kg/m2)
BMInya tinggi berarti obesitas dan dapat meningkatkan tekanan intra abdomen,
beresiko terjadinya urine incontinence (Dansinger, 2017).

VIII. TERAPI FARMAKOLOGI

8.1. Tujuan Terapi


Tujuan terapi farmakologis dari uretra tidak aktif adalah memperbaiki
mekanisme penutupan uretra dengan satu atau lebih dari berikut ini :
1. Merangsang adrenoseptor pada otot polos uretra proksimal dan leher kandung kemih
2. Meningkatkan struktur pendukung yang mendasari uretra mukosa
3. Meningkatkan efek positif serotonin dan norepinephrine di jalur aferen dan eferen
dari refleks berkemih.

8.2. Golongan Obat

8.2.1. Estrogen
Secara historis, estrogenn lokal dan sistemik telah menjadi pengobatan andalan
farmakologi SUI (Stress urin Incontence). Estrogen diberikan secara oral, intramuscular,
vaginal, atau transdermal. Terlepas dari rute, estrogen memberikan efek variabel pada
parameter urodinamik, seperti tekanan maksimum penutupan uretra, fungsional uretra, dan
rasio transmisi tekanan (Dipiro, 2009).
Estrogen konjugasi meningkatkan otot uretra dengan mengatur reseptor alfa-
adrenergik di daerah sekitarnya, dan meningkatkan respons kontraktil alfa-adrenergik
untuk menguatkan otot pelvis, yang penting dalam dukungan uretra (yaitu mencegah
10
hipermobilitas uretra). Turgor mukosa jaringan periuretra dari makanan yang tepat
meningkatkan koaptasi mukosa uretra. Hasilnya adalah efek segel mukosa yang
ditingkatkan, yang penting dalam fungsi uretra (yaitu mencegah kekurangan sfingter
intrinsik). Suplemen estrogen tampaknya paling efektif pada wanita pascamenopause
dengan inkontinensia ringan sampai sedang (Vasvada, 2016).
Konjugasi estrogen dapat digunakan sebagai agen farmakologis tambahan untuk
wanita pascamenopause dengan stres atau inkontinensia campuran. Bentuk estrogen oral
atau vagina dapat digunakan. Dosis oral yang biasa adalah 0,3-1,25 mg yang diminum
setiap hari dalam rejimen siklik. Bila estrogen oral dibutuhkan, tetapkan pil 0,625 mg.
Untuk mencegah overstimulasi rahim, estrogen konjugasi diminum sekali sehari selama 21
hari berturut-turut, diikuti 7 hari tanpa obat (misalnya 3 minggu dan 1 minggu). Regimen
ini diulang seperlunya dan diruncingkan atau dihentikan pada interval 3 sampai 6 bulan
(Vasvada,2016).
Krim vagina estrogen konjugasi tersedia dalam kemasan dengan aplikator plastik
dan tabung yang mengandung 42,5 gram estrogen terkonjugasi. Setiap gram mengandung
0,625 mg estrogen terkonjugasi. Bila krim vagina digunakan, 2-4 g (0,5-1 aplikator) krim
dapat diberikan secara intravaginal setiap hari dalam rejimen siklik biasa. Krim estrogen
mudah diserap melalui kulit dan selaput lendir. Bila krim ini digunakan untuk pengobatan
vaginitis atrofi, obat ini dapat ditempatkan secara intravaginal atau dioleskan secara
topikal di sekitar jaringan vagina (Vasvada,2016).
Bila estrogen digunakan dalam jangka panjang pada wanita dengan uterus utuh,
penambahan terapi progestin direkomendasikan untuk mencegah hiperplasia
endometrium. Medroksiprogesteron 2,5-10 mg/hari diperlukan selama 10-13 hari untuk
memberikan pematangan endometrium maksimum dan untuk menghilangkan perubahan
hiperplastik. Medroksiprogesteron dapat diberikan terus-menerus atau sebentar-sebentar
(Vasvada,2016).
Pengobatan dengan turunan estrogen menghasilkan sedikit penyembuhan (0-14%)
namun dapat menyebabkan perbaikan subjektif pada 29-66% wanita. Bukti terbatas
menunjukkan bahwa terapi estrogen oral atau vagina dapat bermanfaat bagi beberapa
wanita dengan stres dan inkontinensia urin campuran. Efek menguntungkan lainnya dari
penggunaan estrogen termasuk penurunan kehilangan tulang dan resolusi hot flashes
selama menopause (Vasvada,2016).
Secara rutin meresepkan estrogen terkonjugasi ke wanita pramenopause tidak
dianjurkan. Gunakan obat ini pada wanita pascamenopause yang tidak menentu dan yang
11
sudah menjalani histerektomi. Untuk wanita pascamenopause dengan rahim yang utuh,
dengan hati-hati merekomendasikan dosis estrogen terkonjugasi dosis rendah dan sering
memantau (Vasvada,2016).

8.2.2. Alfa – Adrenoreseptors Agonist


Agonis a-adrenoseptor, termasuk fenilpropanolamina, efedrin, dan pseudoephedrin,
dalam terapi SUI ringan dan sedang. Selain itu, beberapa penelitian telah menunjukkan
manfaat klinis dan urodinamik untuk penggunaan agonis estrogen-adrenoceptor harus
kombinasi dibandingkan dengan agen individual. Risiko ES stroke iskemik pada wanita
yang menggunakan obat ini. Meski masih tersedia dengan resep, efedrin jauh lebih
beracun daripada agonis adrenoceptor dan penggunaannya yang lain tidak disarankan.
Meskipun phenylephrine tersedia dalam formulasi oral, namun kurangnya data
penggunaan dalam SUI dan kurangnya data efikasi yang dilaporkan dalam dosis
maksimum. Efek sampingnya meliputi hipertensi, sakit kepala, mulut kering, mual,
insomnia, dan kegelisahan (Gruenwald, 2000).

8.2.3. Duloxetine
Duloxetine yang merupakan inhibitor reuptake serotonin dan norepinephrin yang
diindikasikan untuk depresi dan neuropati diabetes, telah disetujui di banyak negara untuk
pengobatan SUI. Penggunaannya untuk pengobatan SUI didasarkan pada penelitian
terhadap tikus dan kucing yang menunjukkan bahwa daerah serotoninergik dan
noradrenergik sentral terlibat dalam kontrol otot polos uretra dan sfingter uretra eksternal.
Mekanisme kerja duloxetine yaitu dengan memfasilitasi jalur refleks kandung kemih ke
simpatik, sehingga meningkatkan otot uretra dan otot urat sfingter uretra selama fase
penyimpanan. Terapi duloxetine menghasilkan penurunan frekuensi episode inkontinensia
yang signifikan, penurunan jumlah urinasi perhari, dan peningkatan kualitas hidup (Dipiro,
2011).
Duloxetine merupakan first line untuk pengobatan SUI. Dosis yang digunakan
adalah 40-80 mg/hari (dalam satu atau dua dosis). Terapi dimulai dengan 40 mg setiap hari
selama 2 minggu kemudian ditingkatkan menjadi 80 mg setiap hari. Pemakaian obat
dihentikan secara perlahan dengan mengurangi dosis hingga 50% selama 2 minggu
sebelum penghentian, kecuali jika situasinya berpotensi mengancam jiwa. Efek samping

12
yang dapat ditimbulkan dari penggunaan duloxetine meliputi mual, sakit kepala, insomnia,
konstipasi, mulut kering, pusing, kelelahan, mengantuk, muntah, dan diare (Dipiro, 2011).

8.3. Pemilihan Obat


1. DULOXETINE
 Gejala utamanya merupakan frekuensi urin yang berlebihan
 Pasien belum menopause sehingga belum terlalu direkomendasikan estrogen
 Meskipun efek samping berupa batuk, namun efek samping utama dari duloxetine
yaitu mual, mulut kering, konstipasi, sehingga tidak terlalu membuat parah
batuknya.
 Membantu memperkecil saluran uretra, sehingga tidak mengeluarkan urin ketika
melakukan aktivitas fisik.
DOSIS
Dosis yang dianjurkan adalah 40 mg dua kali sehari. Beberapa pasien mungkin
mendapat manfaat dari perawatan awal dengan dosis 20 mg dua kali sehari selama
dua minggu sebelum meningkat menjadi 40 mg dua kali sehari, mengurangi rasa mual
(merasa sakit) dan pusing. Manfaat perawatan harus ditinjau ulang pada interval
reguler. Menggabungkan dengan latihan otot dasar panggul dapat memberi manfaat
tambahan (EPAR, 2008)

IX. NONFARMAKOLOGI
Penanganan awal pada Stress Urinary Incontinence meliputi:
Anjuran untuk:
1. Memperbaiki gaya hidup:
 Menurunkan berat badan
 Mengurangi asupan kafein (makanan efek diuretik)
2. Terapi fisik
 Latihan otot dasar panggul, merupakan terapi konservatif lini pertama
IU stress pada wanita tiga bulan pasca melahirkan dengan gejala IU
yang menetap. Latihan otot dasar panggul dapat dilakukan pada
wanita hamil untuk mencegah IU pasca melahirkan.
 Latihan dengan menggunakan vaginal cones, dapat ditawarkan pada
stress IU

13
 Stimulasi elektrik dapat ditawarkan pada IU tekanan, desakan, dan
campuran
 Latihan fungsi kandung kemih (Bladder training) merupakan terapi
lini pertama untuk IU desakan
3. Pengaturan jadwal berkemih
Pengaturan jadwal berkemih dengan interval dua jam dapat
disarankan pada IU ringan. (Dipiro, 2015).
4. Terapi perilaku
Selain mengurangi asupan kafein yang dimana kafein memiliki sifat
diuretik, beberapa makanan berikut yang sebaiknya dihindari:
 Parsley
 Semangka
 Seledri
 Bawang Bombay dan putih
 Paprika
(Krucik, 2015).

X. FITOTERAPI

10.1. Anstringen
Selain dapat memperbaiki metabolisme yang terganggu, penggunaan
anstringen mampu memperbaiki sirkulasi darah. Pada waktu yang sama, anstringen
juga dapat meningkatkan ekskresi dari urni, eskresi empedu dan flow dari empedu
kembali normal. (Heyn, 1990).
Contoh : Agrimony (Agrimony eupatoria), Oak (Quercus robur), Kermes oak
(Quercus coccifera), Horse chestnut (Aesculus hippocastanum), Cinnamon
(Cinnamomun), Maize (Zea mays)

10.2. Antiinflamasi
 Kulit Manggis
Kulit manggis kaya akan kandungan vitamin B1, B2, dan C, serta terdapat
banyak mineral kalsium, kalium, dan zat besi yang baik untuk kesehatan tubuh. Kulit

14
manggis juga mengandung senyawa Xanthone yang mampu menghentikan infeksi
saluran kemih yang bisa menyebabkan Inkontinensia Urin. Selain itu, kaya akan
antioksidan sehingga mampu menangkal radikal bebas dan memperbaiki sel-sel tubuh
yang rusak.

10.3. Depresan
 St John’s wort (Hyperycum perforatum L.)
Digunakan pada pasien inkontinensia urin yang disebabkan oleh masalah saraf
atau depresi. Cara penyajiannya yaitu dengan 10 tetes dari tincture dikonsumsi tiga
kali sehari.
 Passiflora/Passion Flower (Passiflora caerulea)
Mengurangi inkontinensia urin yang disebabkan oleh masalah saraf atau yang
berhubungan dengan menopause atau premenstruasi (PMS).

10.4. Konstipasi

 Carob tree (Ceratonia siliqua)


Biji dari tanaman ini mampu mencegah kejadian terjadinya konstipasi dengan adanya
masalah pada proses defekasi yang kemungkinan disebabkan oleh aliran inkontinensia
urin. Cara penyajiannya yaitu dilakukan dekoktasi 30 gram Carob per liter air selama
30 menit (Heyn, 1990).

15
DAFTAR PUSTAKA

Dallosso, H., et al. 2004. Diet as a risk factor for the development of stress urinary
incontinence: a longitudinal study in women. European Journal of Clinical
Nutrition. Doi:10.1038/sj.ejcn.1601913
Dansinger, M. 2017. Weight Loss and Body Mass Index (BMI). Available at
https://www.webmd.com/men/weight-loss-bmi [diakses pada tanggal 21 Nov
2017]
Dipiro, Joseph T. et al. 2015. Pharmacotherapy Handbook. Edisi 9. New York: McGraw-Hill
Education Medical
Dipiro, Joseph T., et al. 2009. Pharmacoterapy Handbook, 7th Ed. New York: McGraw-Hill
Companies Inc.
Dipiro, Joseph T., et al. 2011. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 8th Ed. New
York: McGraw-Hill Companies, Inc.
DuBeau, Chaterine E. CHAPTER 20 – URINARY INCONTINENCE. Available at
https://www.hopkinsmedicine.org/geriatric_medicine_gerontology/_downloads/
readings/section5.pdf [Accessed on November 22, 2017].
European Association of Urology (EAU). Thuroff JW, Abrams P, Anderson KE, Artibani W,
Chapple CR, Drake MJ, et al. 2012. Guidelines on urinary incontinence. EAU
European Medicines Agency. 2008. Yentreve. European Public Assessment Report.
EPAR.
Gruenwald, J., et al. 2000, PDR for Herbal Medicines, 2nd ed. Montvale : Economics
Company.
Krucik, GeorgeT. 2015. Guide to Natural Diuretics. Available Online at
https://www.healthline.com/health/natural-diuretics#1 [Diakses pada 28 Nov
2017].
Muhlisin, A. 2017. Tabel Tekanan Darah Normal dan Tidak Normal. Available at
https://mediskus.com/penyakit/tabel-tekanan-darah-normal-dan-tidak-normal
[diakses pada tanggal 21 Nov 2017].
Nanda. 2009. Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: EGC
NHS. 2016. Urinary Incontinence. Available at https://www.nhs.uk/conditions/urinary-
incontinence/symptoms/ [[Accessed on November 29, 2017].

16
O’callaghan, Chris. 2009. At A Glance Sistem Ginjal, Edisi Kedua. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Perkumpulan Kontinensia Indonesia. 2012. Panduan Tata Laksana Inkontinensia Urin pada
Dewasa. Tersedia online pada https://www.medbox.org/panduan-tata-
laksana.../download.pdf [Diakses pada 25/11/17].
Sherwood, lauralee. 2001. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta: Penerbit buku
kedokteran EGC
Thompson, G. 2015. Bladder Stress Test and Bonney Test for Urinary Incontinence in
Women. Available at https://www.webmd.com/urinary-incontinence-oab/bladder-
stress-test-and-bonney-test-for-urinary-incontinence-in-women [diakses pada
tanggal 21 Nov 2017].
Turner-Warwick, R.T. 1983. The sphincter mechanisms : Their relation to prostatic
enlargement and its treatment, in Benign prostatic hyperthrophy, F. Hinman
and S. Boyarsky, Editors. Springer: New York. hal. 809.
Vasavada, 2016. Urinary Incontinence Medication. Available online at
https://emedicine.medscape.com/article/452289-medication#6 [Diakses pada 22
November 2017].
WebMD. 2017. Urinary Incontinence in Women – Symptoms. Available at
https://www.webmd.com/urinary-incontinence-oab/tc/urinary-incontinence-in-
women-symptoms [Accessed on November 22, 2017].
Wilkinson M Judith. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
NOC. Jakarta: EGC

17