Anda di halaman 1dari 24

Makalah Blok XXX

Peran Dokter
Constantia Evelin Kwandang
102012284-C6

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Alamat Korespondensi Jalan Arjuna Utara no. 6, Jakarta
Email : evie_8195@yahoo.com

Kasus
Seorang dokter (kapten) yang bekerja di kesatuan khusus militer dipanggil oleh
atasannya (kolonel). Sang kolonel memeberitahukan tentang situasi politik dan keamanan
akhir-akhir ini yang telah dipenuhi dengan banyaknya kasus pengeboman. Saat ini
kesatuanya telah menangkap seorang tersangka pelaku pengeboman. Suatu informasi intelijen
juga menyatakan bahwa orang itu telah menempatkan bom di suatu mall, tapi tidak tau
dimana. Tentu saja apabila bom tersebut meledak akan mengancam hidup banyak orang tak
berdosa. Sang kolonel mengatakan kepada si kapten agar membantu anak buahnya dalam
melakukan pemeriksaan terhadap tersangka yang mungkin akan “cukup keras”. Dokter
diharapkan dapat menilai kesehatan tersangka dan memantau jalannya pemeriksaan. Dokter
tersebut tahu bahwa dokter sebagai perofesional di bidang perikemanusiaan mestinya tidak
boleh berpartisipasi dalam suatu pemeriksaan yang “keras” (penyiksaan untuk memperoleh
pengakuan). Tapi di sisi lain banyak orang tak berdosa bisa menjadi korban.

Pendahuluan
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan
anugerahNya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum,
Pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia (Pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000
tentang Pengadilan HAM). Penyiksaan (Torture) sebuah kejahatan di bawah hukum
internasional. Dilihat dari semua instrumen yang ada, penyiksaan adalah hal yang dilarang
dan tidak bisa dibenarkan dalam keadaan apapun. Hak untuk tidak disiksa merupakan salah
satu HAM yang bersifat pokok (core right) yang telah diatur dalam Pasal 5 UDHR, yaitu:

1
“No one shall be subjected to torture or to cruel, inhuman or degrading treatment or
punishment.” Pengaturan mengenai hal itu juga terdapat dalam Pasal 7 ICCPR, yaitu: “No
one shall be subjected to torture or to cruel, inhuman or degrading treatment or punishment.
In particular, no one shall be subjected without his free consent to medical or scientific
experimentation.” 1 Hak dan kewajiban dokter suatu tindakan yang dilakukan dokter secara
material tidak bersifat melawan hukum, apabila memenuhi syarat-syarat berikut secara
komulatif. Tindakan itu mempunyai indikasi medis dengan tujuan perawatan konkrit; dan
dilakukan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku di dalam bidang ilmu kedokteran; serta
di izinkan oleh pasien.

Aspek Hukum
Dalam kasus ini, petugas meminta dampingan untuk menjaga kesehatan seorang
tersangka teroris yang akan diinterogasi secara keras, kami sebagai dokter kepolisian berada
disituasi yang menarik kedudukan dari kedua sisi, yaitu sebagai dokter yang memiliki kode
etik dan sebagai anggota kepolisian yang memiliki peraturan dan hukum kepolisian. Dari sisi
kepolisian, tentu diutamakan untuk melaksanakan tugas dan diberikan wewenang untuk
melakukan kewajiban sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Setiap tersangka yang
dicurigai melakukan tindak pidana, tidak serta merta ditahan dan diinterogasi oleh pihak
polisi namun memiliki langkah-langkah yang harus diikuti dan sesuai hukum.
1. Penangkapan
Menurut Pasal 1 KUHAP ayat 20, penangkapan adalah suatu tindakan penyidik berupa
pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup
bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan atau peradilan dalam hal serta cara yang
diatur dalam undang-undang ini. Maka perlu diperhatikan bahwa seorang dapat ditangkap
apabila melanggar suatu peraturan pidana dengan ada dugaan kuat yang didasarkan atas bukti
permulaan yang cukup. Berdasarkan Pasal 19 KUHAP ayat 1, batas waktu penangkapan
adalah satu hari. Lalu menurut Pasal 28 KUHAP, penyidik dapat menangkap seorang yang
diduga telah melakukan kejahatan terorisme berdasar bukti awal yang cukup sebagaimana
dimaksud pasal 26 ayat 2 UU no. 15 tahun 2003 paling lama untuk 7x24 jam. Jadi, pada
kasus ini yang merupakan kasus dugaan terorisme, dapat digunakan pasal 28 KUHAP
mengenai penangkapan tersangka ini.
Yang dimaksudkan pada pasal 28 KUHAP tersebut mengenai bukti awal yang cukup
tertera dalam pasal 26 UU no. 15 tahun 2003 yaitu bukti awal yang cukup dapat berupa
laporan intelijen, dan pada ayat 2 disebutkan bahwa penentuan apakah bukti awal sudah

2
cukup harus diproses oleh ketua atau wakil ketua pengadilan negeri dan proses pemeriksaan
dilakukan tertutup dalam waktu paling lama 3 hari. Setelah pemeriksaan selesai dilakukan
dan diputuskan bahwa bukti telah cukup maka dapat dilakukan penyidikan. Pada kasus ini,
sesuai dengan undang-undang, kepolisian telah mendapat laporan dari badan intelijen
mengenai kecurigaan pelaku pengeboman. Maka setelah didapat bukti laporan, pemeriksaan
bukti awal kemudian dilakukan oleh Ketua Pengadilan Negeri setempat dan setelah itu polisi
melakukan penangkapan. Selain pasal 26 UU no. 15 tahun 2003, terdapat pula penjelasan
mengenai alat bukti pada kasus terorisme yang diatur dalam pasal 27 UU no. 15 tahun 2003,
yaitu:
 Alat bukti sebagaimana dimaksud dalam hukum acara pidana.
 Alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima atau
disimpan secara elektronik dengan alat optic atau yang serupa dengan itu dan
 Data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar,
yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang
tertuang di atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam
secara elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada: tulisan, simbol, atau
perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu
membaca atau memahaminya.
2. Penahanan
Setelah ditangkap, pelaku kemudian ditahan dan diinterogasi. Penahanan, menurut
pasal 1 butir 21 KUHAP, adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh
penyidik atau penuntut umum atau hakim dengan penetapannya, dalam hal serta menurut cara
yang diatur dalam undang-undang ini. Penahanan dapat dilakukan setelah memenuhi kedua
syarat yaitu syarat subjektif dan objektif. Syarat subjektif adalah alasan terkait dengan pribadi
tersangka misalnya tersangka yang ditahan dengan adanya bukti yang cukup namun
dikhawatirkan tersangka akan melakukan hal melarikan diri, merusak atau menghilangkan
barang bukti, dan atau mengulangi tindak pidana. Syarat objektif berlaku pada pemenuhan
ketentuan pasal 21 KUHAP yaitu melakukan tindak pidana dengan ancaman hukuman 5
tahun atau lebih atau tindak pidana lain yang diatur oleh undang-undang. Pada penahanan,
polisi juga terikat pada ketentuan peraturan kepala kepolisian negara republik Indonesia no 8
tahun 2009 dalam pasal 15 sampai 21 bahwa seorang polisi wajib menghormati hak-hak asasi
manusia termasuk milik tersangka atau terdakwa.

3
3. Interogasi
Setelah tersangka teroris ini ditahan dengan bukti-bukti awal yang dinilai cukup, maka
dilakukan upaya interogasi oleh pihak kepolisian. Interogasi adalah sebuah fungsi
penyidikan. Tujuan dari dilakukannya interogasi adalah untuk mendapatkan dan
mengumpulkan semua informasi tentang kejadian yang diselidiki serta tentang pelaku
kejadian yang diselidiki serta tentang pelaku kejahatannya dan membuat si terdakwa
mengakui kejahatannya. Di dalam kasus disebutkan bahwa pihak polisi berencana melakukan
upaya kekerasan untuk mendapatkan informasi. Hal ini tidak dapat serta merta dilakukan.
Untuk melakukan kekerasan ini akan disebut penyiksaan.
Penyiksaan adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja, sehingga
menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, baik jasmani maupun rohani, pada
seseorang untuk memperoleh pengakuan atau keterangan dari orang itu atau dari orang
ketiga, dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah dilakukan atau diduga telah
dilakukan oleh orang itu atau orang ketiga, atau untuk suatu alasan yang didasarkan pada
setiap bentuk diskriminasi, apabila rasa sakit atau penderitaan tersebut ditimbulkan oleh, atas
hasutan dari dengan persetujuan, atau sepengetahuan pejabat publik. Berbeda dengan
penganiayaan yang dapat dilakukan siapa saja, penyiksaan biasanya dilakukan oleh pejabat
pemerintah termasuk kepolisian. Melakukan kekerasan dalam interogasi diperbolehkan,
dengan syarat tertentu yaitu apabila:
 Upaya persuasif tidak berhasil Hanya untuk tujuan perlindungan dan penegakan
HAM secara proporsional dengan tujuan yang sah
 Diarahkan untuk memperkecil terjadinya kerusakan dan luka baik bagi petugas
maupun bagi masyarakat
 Digunakan apabila diperlukan dan untuk penegakan hukum
 Penggunaan kekerasan harus sebanding dengan pelanggaran dan tujuan yang
hendak dicapai
 Harus meminimalisasi kerusakan dan cedera serta memelihara kehidupan
manusia
 Harus memastikan bahwa bantuan medis dan penunjangnya diberikan kepada
orang-orang yang terluka atau terkena dampak pada waktu sesegera mungkin
 Harus memastikan bahwa sanak keluarga atau teman dekat yang terluka atau
terkena dampak diberitahu sesegera mungkin.

4
Namun sebaiknya kekerasan ditempuh sebagai jalan terakhir ketika sudah tidak
dapat dihindari lagi dan dengan masih berpegang pada prinsip-prinsip keadilan dan
kemanusiaan. Kekerasan tidak ditempuh sebagai jalan pertama dan sebisa mungkin dihindari.
Ada banyak cara untuk mendapatkan informasi misalnya dengan menginterogasi secara
verbal dengan menilik sisi psikologis dan lingkungan tersangka. Maka sebagai seorang dokter
polisi yang terikat kewajiban dan hukum polisi dan memiliki keterikatan dengan hukum dan
etika kedokteran, merupakan suatu kewajiban untuk menasehati mendahulukan prosedur
interogasi secara persuasif terlebih dahulu.

Etik profesi kedokteran


Etik profesi kedokteran mulai dikenal sejak 1800 tahun sebelum Masehi dalam
bentuk Code of Hammurabi dan Code of Hittites, yang penegakannya dilaksanakan oleh
penguasa pada waktu itu. Selanjutnya etik kedokteran muncul dalam bentuk lain, yaitu dalam
bentuk sumpah dokter yang bunyinya bermacam-macam, tetapi yang paling banyak dikenal
adalah sumpah Hippocrates yang hidup sekitar 460-370 tahun SM. Sumpah tersebut berisikan
kewajiban-kewajiban dokter dalam berperilaku dan bersikap, atau semacam code of
conduct bagi dokter. World Medical Association dalam Deklarasi Geneva pada tahun 1968
menelorkan sumpah dokter (dunia) dan Kode Etik Kedokteran Internasional. Kode Etik
Kedokteran Internasional berisikan tentang kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien,
kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Selanjutnya, Kode Etik
Kedokteran Indonesia dibuat dengan mengacu kepada Kode Etik Kedokteran Internasional.
Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada prinsip-
prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan dalam membuat
keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-buruknya atau benar-salahnya suatu
keputusan atau tindakan medis dilihat dari segi moral. Pengetahuan etika ini dalam
perkembangannya kemudian disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi
pedoman bagi para tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics)
dan pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis.
Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar-salahnya suatu
sikap dan atau perbuatan seseorang individu atau institusi dilihat dari moralitas. Penilaian
baik-buruk dan benar-salah dari sisi moral tersebut menggunakan pendekatan teori etika yang
cukup banyak jumlahnya. Terdapat dua teori etika yang paling banyak dianut orang adalah
teori deontologi dan teleologi.1 Secara ringkas dapat dikatakan bahwa, Deontologi
mengajarkan bahwa baik-buruknya suatu perbuatan harus dilihat dari perbuatannya itu sendiri

5
(I Kant), sedangkan teleologi mengajarkan untuk menilai baik-buruk tindakan dengan melihat
hasilnya atau akibatnya (D Hume, J Bentham, JS Mills). Deontologi lebih mendasarkan
kepada ajaran agama, tradisi dan budaya, sedangkan teleologi lebih ke arah penalaran
(reasoning) dan pembenaran (justifikasi) kepada azas manfaat (aliran utilitarian). Etika
adalah cabang ilmu yang mempelajari baik buruk atau benar salahnya suatu sikap atau
perbuatan dilihat dari moralitas. Etik profesi kedokteran adalah seperangkat prilaku para
dokter dan dokter gigi dalam hubungannya dengan pasien, keluarga, masyarakat teman
sejawat dan teman semitranya.2 Etika sendiri terbagi kepada :
 Etika normatif : Penegakan terhadap apa yang benar secara moral dan mana yang
salah secara moral dalam kaitannya.
 Etika metaetik: Memperlihatkan analisis dari kedua konsep moral yang telah
disebutkan.1
Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah
penalaran etik. Suatu prinsip terkadang dapat sejalan dengan prinsip lainnya, namun pada
beberapa kasus kita dapat mengutamakan suatu prinsip dari pada prinsip
lainnya.Beuchamp and childress (1994) menguraikan bahwa untuk mencapai suatu
keputusan etik diperlukan 4 kaidah dasar moral, yaitu :
1. Beneficence
Berbuat baik (beneficence). Selain menghormati martabat manusia,
dokter juga harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan
kesehatannya (patient welfare). Pengertian ”berbuat baik” diartikan bersikap
ramah atau menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajiban. Kaidah ini secara
amnya bermaksud melakukan yang terbaik untuk pasien. Apa sahaja yang
dilakukan adalah demi kebaikan pasien. Kebajikan pasien adalah yang paling
utama. Beneficense juga membawa arti menyediakan kemudahan dan
kesenangan kepada pasien seperti mengambil langkah positif untuk mengelak
dan mencegah kemusnahan daripada pasien.1
2. Non-Maleficense
Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran
haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar
manfaatnya. Misalnya segera melakukan pemeriksaan karena kecurigaan.
Kaidah ini pula penting terutama sekali ketika waktu-waktu emergensi
atau gawat darurat. Kaidah ini bermaksud tidak menimbulkan bahaya atau

6
kecederaan kepada pasien dari segi fisikal atau psikologis. Prinsip non-
maleficense ini boleh digambarkan dengan kata ini yaitu “primum non nocere”
iaitu pertama jangan menyakiti. Prinsip ini menjadi satu kewajiban apabila :
 Tindakan dokter tadi ialah yang paling efektif pada waktu itu.
 manfaat bagi pasien adalah lebih berbanding manfaat kepada dokter.
 Pasien berada dalam keadaan yang sangat berbahaya atau berisiko kehilangan
sesuatu yang penting sperti nyawa atau anggota badan.1
3. Autonomy
Menghormati martabat manusia (respect for person / autonomy).
Menghormati martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus
diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan
nasib diri sendiri), dan kedua, setiap manusia yang otonominya berkurang atau
hilang perlu mendapatkan perlindungan.
4. Justice
Keadilan (justice). Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi,
pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan
kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan gender tidak boleh dan
tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan
lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter. Justice pula
adalah kaidah yang berarti pelakuan sama rata dan adil terhadap pasien untuk
kebahagiaan dan kenyamanan pasien tersebut.1
Sedangkan rules derivatnya adalah veracity (berbicara benar, jujur, terbuka), privacy
(menghormati hak privasi pasien), confidentiality (menjaga kerahasiaan pasien), dan fidelity
(loyalitas dan promise keeping). Selain prinsip atau kaidah dasar moral, profesional
kedokteran juga mengenal etika profesi sebagai panduan bersikap dan berperilaku. Nilai-nilai
dalam etika profesi tercermin di dalam sumpah dokter dan kode etik kedokteran. Sumpah
dokter berisikan suatu “kontrak kewajiban moral” antara dokter dengan Tuhannya, sedangkan
kode etik kedokteran berisikan “kontrak kewajiban moral” antara dokter dengan peer-
groupnya, yaitu masyarakat profesinya.
Baik sumpah dokter maupun kode etik kedokteran berisikan sejumlah kewajiban
moral yang melekat kepada para dokter. Meskipun kewajiban tersebut bukanlah kewajiban
hukum sehingga tidak dapat dipaksakan secara hukum, namun kewajiban moral tersebut
haruslah menjadi pemimpin dari kewajiban dalam hukum kedokteran. Jika meninjau kasus
dari segi kewajiban moral berdasarkan hal-hal yang telah dibahas di atas, seharusnya sebagai

7
dokter, tidak memperkenankan para polisi melakukan tindak penyiksaan kepada tersangka,
yang mana, dalam kasus juga disebutkan bahwa tujuan dokter ikut menginterogasi adalah
untuk menjaga kesehatan tersangka, artinya disini telah terjadi hubungan dokter-pasien pada
dokter dan tersangkanya.
Jika dokter mendukung adanya penyiksaan terhadap tersangka, artinya dokter telah
melanggar sumpah dan kode etik kedokterannya. Dalam hal seorang dokter diduga
melakukan pelanggaran etika kedokteran (tanpa melanggar norma hukum), maka ia akan
dipanggil dan disidang oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk
dimintai pertanggungjawaban (etik dan disiplin) profesinya.

Kode Etik Kedokteran Indonesia


Kode etik kedokteran Indonesia (KODEKI) dibuat dengan mengacu kepada Kode
Etik Kedokteran Internasional yang berunsurkan tentang kewajiban umum, kewajiban
terhadap pasien, kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap diri sendiri. Isi dari
kodeki itu sendiri adalah :
Kewajiban Umum2
Pasal 1:
Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.
Pasal 2:
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan
standar profesi yang tertinggi.
Pasal 3:
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4:
Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.
Pasal 5:
Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik
hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh
persetujuan pasien.
Pasal 6:
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap
penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang
dapat menimbulkan keresahan masyarakat.

8
Pasal 7:
Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa
sendiri kebenarannya.
Pasal 7a:
Seorang dokter harus, dalam setiap praktik medisnya, memberikan pelayanan medis
yang kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih
sayang (compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.
Pasal 7b:
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya,
dan berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan
dalam karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan,
dalam menangani pasien
Pasal 7c:
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga
kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien
Pasal 7d:
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk
insani.
Pasal 8:
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan
masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
(promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta
berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.
Pasal 9:
Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang
lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.2
Kewajiban Dokter Terhadap Pasien2
Pasal 10:
Setiap dokten wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan
ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan
suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien,ia wajib menujuk
pasien kepada dokten yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.

9
Pasal 11:
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam
masalah lainnya.
Pasal 12:
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
Pasal 13:
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas
perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu
memberikannya.
Kewajiban Dokter Terhadap Teman Sejawat2
Pasal 14:
Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin
diperlakukan.
Pasal 15:
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dan teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.
Kewajiban Dokter Terhadap Diri Sendiri2
Pasal 16:
Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.
Pasal 17:
Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran/kesehatan.

Kewajiban dan Kode Etik Penegak Hukum Dalam Melakukan Interogasi7


Terdapat delapan (8) pasal, yaitu :
a) Petugas Penegak Hukum selalu memenuhi kewajiban yang diberikan kepada mereka
sesuai dengan hukum dengan semua anggota masyarakat dan tindakan pelanggaran
hukum, konsisten dengan tanggung jawabnya sebagaimana disyaratkan profesinya.

10
b) Dalam melaksanakan kewajiban mereka, Petugas Penegak Hukum harus menghormati
dan melindungi harkat dan martabat manusia dan memelihara dan menegakkan hak-hak
asasi setiap orang.
c) Petugas Penegak Hukum dapat menggunakan kekuatan hanya jika sangat diperlukan dan
sejauh diperlukan untuk melakukan kewajibannya.
d) Masalah-masalah bersifat rahasia yang diketahui oleh Petugas Penegak Hukum harus
tetap dijaga kerahasiaannya kecuali pelaksanaan kewajiban atau kebutuhan peradilan
mengharuskan sebaliknya.
e) Setiap Petugas Penegak Hukum tidak diperbolehkan terlihat melakukan atau mentolerir
setiap tindakan penyiksaan atau tindak kekerasan lainnya, perlakuan atau hukuman yang
tidak dibenarkan memberikan alasan perintah atasan atau kondisi terpaksa seperti situasi
perang atau ancaman perang, ancaman terhadap keamanan nasional, ketidakstabilan
politik dalam negeri, atau keadaan darurat masyarakat lainnya sebagai pembenaran
tindakan penyiksaan atau kekerasan lainnya. Perlakuan atau hukuman yang tidak
manusiawi atau merendahkan harkat dan martabat manusia.
f) Petugas Penegak Hukum harus menjamin perlindungan penuh, kesehatan orang-orang
yang ada dalam perlindungannya dan secara khusus harus mengambil tindakan segera
untuk mendapatkan bantuan medis jika diperlukan.
g) Petugas Penegak Hukum tidak dibenarkan melakukan korupsi. Mereka juga harus
melawan dan memberantas tindakan tersebut.
Petugas Penegak Hukum harus menghormati undang-undang dan kode etik. Mereka harus
mencegah dan menentang setiap pelanggaran hukum dan kode etik

Hak dan kewajiban tersangka

Selain mempunyai hak-hak yang diatur oleh KUHAP, seorang tersangka atau
terdakwa juga mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakannya
sesuai dengan undang-undang yakni:9
(1) Kewajiban bagi tersangka atau terdakwa melapor diri pada waktu yang ditentukan dalam
hal yang bersangkutan menjalani penahanan kota (Pasal 22 ayat 3 KUHAP).
(2) Kewajiban meminta izin keluar rumah atau kota dari penyidik, penuntut umum atau
hakim yang memberi perintah penahanan, bagi tersangka atau terdakwa yang menjalani
penahanan rumah atau penahanan kota (Pasal 22 ayat 2 dan 3 KUHAP).

11
(3) Kewajiban menaati syarat yang ditentukan bagi tersangka atau terdakwa yang menjalani
massa penangguhan misalnya wajib lapor tidak keluar rumah atau kota (penjelasan Pasal 31
KUHAP). (4) Wajib menyimpan isi berita acara (turunan berita acara pemeriksaan) untuk
kepentingan pembelaannya (pasal 72 KUHAP dan penjelasannya).
(5) Kewajiban menyebut alasan-alasan apabila mengajukan permintaan tentang sah atau
tidaknya suatu penangkapan atau penahanan serta permintaan ganti kerugian dan atau
rehabilitas (Pasal 79 dan 81 KUHAP).
(6) Apabila dipanggil dengan sah dan menyebut alasan yang jelas, maka wajib datang kepada
penyidik kecuali memberi alasan yang patut dan wajar (Pasal 112 dan 113 KUHAP).
(7) Wajib hadir pada hari sidang yang telah ditetapkan. Kehadiran terdakwa di sidang
merupakan kewajiban bukan merupakan haknya, kadi terdakwa harus hadir di sidang
pengadilan (penjelasan Pasal 154 ayat 4 KUHAP). Bahkan apabila terdakwa setelah
diupayakan dengan sungguh-sungguh tidak dapat dihadirkan dengan baik, maka terdakwa
dapat dihadirkan paksa (Pasal 154 ayat 6 KUHAP).
(8) Meskipun tidak secara tegas disebut sebagai kewajiban, tetapi pembelaan terdakwa atau
penasehat hukum tentu merupakan suatu keharusan (Pasal 182).
(9) Kewajiban menghormati dan menaati tata tertib persidangan.
(10) Kewajiban membayar biaya perkara yang telah diputus pidana (Pasal 22 ayat 1).
(11) Meskipun tidak secara tegas merupakan keharusan, sangat logis jika memori banding
perlu dibuat terdakwa yang mengajukan permintaan banding. Pasal 237 KUHAP mengatakan
selama pengadilan tinggi, belum memeriksa suatu perkara dalam tingkat banding, baik
terdakwa atau kuasanya maupun penuntut umum dapat menyerahkan memori banding atau
kontra memori banding kepada pengadilan tinggi.
(12) Apabila sebagai pemohon kasasi maka terdakwa wajib mengajukan memori kasasinya,
dan dalam waktu 14 hari setelah mengajukan permohonan tersebut, harus sudah menyerahkan
kepada panitera (Pasal 248 ayat 1 KUHAP). (13) Apabila terdakwa mengajukan permintaan
peninjauan kembali (PK) maka harus menyebutkan secara jelas alasannya (Pasal 264 ayat 1
KUHAP).

Profesi dokter dan Prosedur Standar dalam Kedokteran


Profesi dokter adalah profesi yang luhur dan mulia dan ditunjukan dalam 6 sifat dasar,
yaitu sifat ketuhanan, kemurnian niat, keluhuran hati, kerendahan hati, kesunggguhan
kerja,integritas ilmiah, dan social. Dalam mengamalkan profesianya setiap dokter akan
berhungan dengan manusia yang sedang mengharapkan pertolongan dalam suatu hubungan

12
kesepakatan terapeutik.5 Agar dalam hubungan tersebut keenam sifat dasar dapat tetap
terjaga, yang disusun oleh KODEKI yang merupakan kesepakatan dokter Indonesia bagi
pedoman pelaksanaan profesi. Yang dimaksud dengan standar profesi adalah pedoman yang
harus digunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik. Berkenaan dengan
pelayanan medik, pedoman yang digunakan adalah standar pelayanan medik yang terutama
dititik beratkan pada proses tindakan medik Menurut Leenan, standar profesi medis terdiri
dari beberapa unsur utama :6
 Bekerja dengan teliti, hati-hati dan seksama
 Sesuai dengan ukuran medis
 Sesuai dengan kemampuan rata-rata dibanding dengan dokter dari kategori kehlian medic
yang sama
 Dalam situasi yang sebanding
 Dengan sarana dan upaya yang memenuhi perbandingan yang wajar disbanding dengan
tujuan konkret tindak medik tersebut
Kelima unsur yang dikemukakan Leenen ini dipakai pedoman oleh para hakim
Belanda di dalam menangani dugaan malpraktik yang diajukan ke pengadilan Belanda
sampai saat ini. Demikian juga yang dilakukan oleh para hakim di Indonesia, bila ada
tuntutan malpraktik terhadap seorang dokter, kelima unsur rumusan Leenen inilah yang
dipakai untuk menguji kebenaran tuduhan tersebut. Standar profesi adalah niat atau iktikad
baik dokter yang didasari etika profesinya, bertolak dan suatu tolak ukur yang disepakati
bersama oleh kalangan pendukung profesi. Wewenang untuk menentukan hal-hal yang dapat
dilakukan dan yang tidak dapat dilakukan dalam suatu kegiatan profesi merupakan tanggung
jawab profesi itu sendiri. Dalam melaksanakan profesinya, seorang tenaga kesehatan harus
berpegang pada tiga ukuran umum meliputi:
 Kewenangan
Yang dimaksud dengan kewenangan ialah kewenangan hukum (rechtsbevoegheid) yang
dipunyai oleh seorang tenaga kesehatan untuk melaksanakan pekerjaannya. Atas dasar
kewenangan inilah, seorang tenaga kesehatan berhak melakukan pengobatan sesuai dengan
bidangnya. Di Indonesia, kewenangan menjalankan profesi tenaga kesehatan pada umumnya
diperoleh dan Departemen Kesehatan. Namun sejak berlakunya UU Praktik Kedokteran pada
tanggal 6 Oktober 2005, maka kewenangan dokter untuk menjalankan praktik kedokteran di
Indonesia diperoleh dan Konsil Kedokteran Indonesia (pasal 29 ayat (2) UU Praktik
Kedokteran). Dengan diterbitkannya Surat Tanda Registrasi Dokter oleh Konsil Kedokteran

13
Indonesia, maka dokter pemilik Surat Tanda Registrasi (STR) tersebut, berhak untuk
melakukan praktik kedokteran di Indonesia, karena telah memenuhi syarat administratif
untuk melaksanakan profesinya. Dari persyaratan administratif yang telah dipenuhi ini,
dokter sebagai pengemban profesi telah memperoleh kewenangan profesional dalam
menjalankan pekerjaannya.
 kemampuan rata-rata
Dalam menentukan kemampuan rata-rata seorang tenaga kesehatan, banyak faktor
yang harus dipertimbangkan. Selain dan faktor pengalaman tenaga kesehatan yang
bersangkutan fasilitas, sarana prasarana di daerah tempat tenaga kesehatan (dokter) tersebut
bekerja juga ikut mempengaruhi sikap dokter dalam melakukan pekerjaannya. Sehingga
sangat sulit untuk. menentukan standar kemampuan rata-rata ini. Sebagai contoh misalnya :
(a) Kemampuan dokter yang baru menyelesaikan pendidikannya, tentu berbeda dengan
dokter yang sudah mempunyai pengalaman menangani pasien selama 25 (dua puluh lima)
tahun. (b) Kemampuan dokter yang bekerja di Irian Jaya dengan fasilitas dan sarana
prasarana yang mungkin sangat sederhana, tentu tidak bisa disamakan dengan dokter yang
melaksanakan pekerjaan profesinya di Jakarta yang semuanya serba modern dan canggih.
 ketelitian yang umum.
Untuk menentukan ketelitian umum, harus berdasarkan ketelitian yang dilakukan oleh
dokter dalam melaksanakan pekerjaan dan situasi yang sama. Tolak ukur untuk menentukan
ketelitian mi sangat sulit, karena setiap bidang keahlian mempunyai aturan main sendiri-
sendiri yang seharusnya bisa dituangkan di dalam “Standar Umum”. Dalam Undang-Undang
Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, pengertian standar profesi disebutkan di
dalam penjelasan pasal 50 sebagai berikut: Yang dimaksud dengan standar profesi adalah
batasan kemampuan (knowledge, skill and professional attitude) minimal yang harus dikuasai
oleh seorang individu untuk dapat melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat
secara mandiri yang dibuat oleh organisasi profesi. Penjelasan pasal 50 ini, merupakan
penjelasan dan pasal 50 sub a yang menyebutkan bahwa dokter yang melaksanakan praktik
kedokteran sesuai dengan standar profesi dan standar operasional prosedur, berhak
memperoleh perlindungan hukum. Kemudian di dalam pasal 50 sub b disebutkan lebih Lanjut
bahwa memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur
operasional juga merupakan hak dokter. Dan bunyi pasal 50 sub a dan b dan penjelasannya
tersebut, dapat diketahui bahwa undang-undang menghendaki di dalam pelaksanaan praktik
kedokteran, dokter berhak untuk melaksanakan praktik sesuai dengan standar profesi, dan

14
bila telah melaksanakan pratik sesuai standar profesi yang berlaku, maka ia berhak mendapat
perlindungan hukum. Dan standar profesi yang dijelaskan di dalam penjelasan pasal 50, maka
dapat diuraikan unsur-unsur dan standar profesi sebagai berikut:
1. Standar profesi merupakan batasan kemampuan minimal bagi dokter
2. Kemampuan tersebut meliputi:
a. knowledge (pengetahuan);
b. skill (keterampilan)
c. profesional attitude (prilaku yang profesional).
3. Kemampuan yang terdiri dan 3 (tiga) unsur tersebut, harus dikuasai oleh seorang
individu (dokter yang melakukan praktik kedokteran).
4. Kemampuan tersebut juga merupakan syarat untuk diizinkannva seorang dokter
melakukan kegiatan profesionalnya pada masyarakat secara mandiri.
Yang berhak membuat standar profesi menurut undang-undang Praktik Kedokteran
adalah organisasi profesi. Organisasi profesi dari dokter yang berlaku saat ini adalah Ikatan
Dokter Indonesia (IDI), yang dalam hal standar profesi dan masing-masing bidang
spesialisasi, dapat diserahkan kepada masing-masing ikatan profesi di dalam bidang
spesialisasi tersebut.
Sebagai contoh misalnya standar profesi tentang pembedahan, diserahkan kepada Ikatan Ahli
Bedah Indonesia (IKABI) untuk membuatnya, sedangkan standar profesi untuk penyakit anak
diserahkan kepada Ikatan Dokter Anak Indonesia (1DM) dan sebagainya.

Kedokteran Polisi
Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri adalah unsur Pelaksana Pusat
POLRI yang bertugas pokok membina dan menyelenggarakan fungsi kedokteran dan
kesehatan POLRI dalam rangka mendukung tugas POLRI dalam bentuk Dukungan
Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan sesuai dengan Visi dan Misi Dokkes Polri Fungsi
Dukungan Kesehatan adalah penerapan ilmu kedokteran dalam mendukung fungsi pokok
POLRI antara lain dalam rangka pelaksanaan Scientific Crime Investigation, Kesehatan
Lapangan, Intelkam, Lalu lintas dan lain-lain berupa dukungan Kedokteran Kepolisian (vide
UU No. 2, 2002, tentang POLRI) dan Kesehatan Kesamaptaan Kepolisian. Fungsi Pelayanan
Kesehatan diselenggarakan bagi Anggota/PNS Polri beserta keluarga dan Masyarakat umum
sebagai bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat dari jajaran POLRI.
KASAT SERSE Kasat serse atau nama lainnya penyidik menirut pasal 1 KUHAP
ayat (1) adalah pejabat polisi Negara Republik Indonesiayang diberi wewenang khusus oleh

15
undang undang untuk melakukan penyidikan. Berdasarkan pasal 5 KUHAP penyidik
memiliki kewajiban:
i. Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana.
ii. Mencari keterangan dan barang bukti
iii. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab.
iv. Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung-jawab.
v. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa:
1. penangkapan, larangan meninggalkan tempat, penggeledahan dan penahanan;
2. pemeriksaan dan penyitaan surat;
3. mengambil sidik jari dan memotret seorang;
4. membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik.
vi. Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil pelaksanaan tindakan
sebagaimana tersebut diatas.
vii. Untuk kepentingan penyelidikan, penyelidik atas perintah penyidik berwenang
melakukan penangkapan. Selain itu, penyidik memiliki wewenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter
sebagaimana disebutkan dalam pasal 133 KUHAP.

Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia


Diterima dan diumumkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948
melalui resolusi 217 A (III) Mukadimah;
- Menimbang, bahwa pengakuan atas martabat alamiah dan hak-hak yang sama dan
tidak dapat dicabut dari semua anggota keluarga manusia adalah dasar kemerdekaan,
keadilan dan perdamaian di dunia,
- Menimbang, bahwa mengabaikan dan memandang rendah hak-hak manusia telah
mengakibatkan perbuatan-perbuatan bengis yang menimbulkan rasa kemarahan hati
nurani umat manusia, dan terbentuknya suatu dunia tempat manusia akan mengecap
nikmat kebebasan berbicara dan beragama serta kebebasan dari rasa takut dan
kekurangan telah dinyatakan sebagai cita-cita yang tertinggi dari rakyat biasa,
- Menimbang, bahwa hak-hak manusia perlu dilindungi dengan peraturan hukum,
supaya orang tidak akan terpaksa memilih jalan pemberontakan sebagai usaha
terakhir guna menentang kelaliman dan penjajahan,
- Menimbang, bahwa pembangunan hubungan persahabatan di antara negara-negara
perlu ditingkatkan,

16
- Menimbang, bahwa bangsa-bangsa dari Perserikatan Bangsa-Bangsa di dalam
Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menegaskan kembali kepercayaan mereka
pada hak-hak dasar dari manusia, akan martabat dan nilai seseorang manusia dan
akan hak-hak yang sama dari laki- laki maupun perempuan, dan telah memutuskan
akan mendorong kemajuan sosial dan tingkat hidup yang lebih baik dalam
kemerdekaan yang lebih luas,
- Menimbang, bahwa Negara-negara Anggota telah berjanji untuk mencapai kemajuan
dalam penghargaan dan penghormatan umum terhadap hak-hak asasi manusia dan
kebebasankebebesan yang asasi, dalam kerja sama dengan Perserikatan Bangsa-
Bangsa,
- Menimbang, bahwa pemahaman yang sama mengenai hak-hak dan kebebasan-
kebebasan tersebut sangat penting untuk pelaksanaan yang sungguh-sungguh dari
janji tersebut,
maka dengan ini, Majelis Umum, Memproklamasikan Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia sebagai suatu standar umum untuk keberhasilan bagi semua bangsa dan semua
negara, dengan tujuan agar setiap orang dan setiap badan di dalam masyarakat, dengan
senantiasa mengingat Deklarasi ini, akan berusaha dengan cara mengajarkan dan memberikan
pendidikan guna menggalakkan penghargaan terhadap hak- hak dan kebebasan-kebebasan
tersebut, dan dengan jalan tindakan-tindakan yang progresif yang bersifat nasional maupun
internasional, menjamin pengakuan dan penghormatannnya yang universal dan efektif, baik
oleh bangsa-bangsa dari Negara-negara Anggota sendiri maupun oleh bangsa-bangsa dari
wilayah-wilayah yang ada di bawah kekuasaan hukum mereka.
Pasal 1
Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama.
Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam
persaudaraan.
Pasal 2
Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan-kebebasan yang tercantum di dalam
Deklarasi ini dengan tidak ada pengecualian apa pun, seperti pembedaan ras, warna
kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pandangan lain, asal-usul kebangsaan
atau kemasyarakatan, hak milik, kelahiran ataupun kedudukan lain. Selanjutnya, tidak
akan diadakan pembedaan atas dasar kedudukan politik, hukum atau kedudukan
internasional dari negara atau daerah dari mana seseorang berasal, baik dari negara

17
yang merdeka, yang berbentuk wilyah-wilayah perwalian, jajahan atau yang berada di
bawah batasan kedaulatan yang lain.
Pasal 3
Setiap orang berhak atas kehidupan, kebebasan dan keselamatan sebagai induvidu.
Pasal 4
Tidak seorang pun boleh diperbudak atau diperhambakan; perhambaan dan
perdagangan budak dalam bentuk apa pun mesti dilarang.
Pasal 5
Tidak seorang pun boleh disiksa atau diperlakukan secara kejam, diperlakukan atau
dikukum secara tidak manusiawi atau dihina.
Pasal 6
Setiap orang berhak atas pengakuan di depan hukum sebagai manusia pribadi di mana
saja ia berada.
Pasal 7
Semua orang sama di depan hukum dan berhak atas perlindungan hukum yang sama
tanpa diskriminasi. Semua berhak atas perlindungan yang sama terhadap setiap bentuk
diskriminasi yang bertentangan dengan Deklarasi ini, dan terhadap segala hasutan yang
mengarah pada diskriminasi semacam ini.
Pasal 8
Setiap orang berhak atas pemulihan yang efektif dari pengadilan nasional yang
kompeten untuk tindakan-tindakan yang melanggar hak-hak dasar yang diberikan
kepadanya oleh undang-undang dasar atau hukum.
Pasal 9
Tidak seorang pun boleh ditangkap, ditahan atau dibuang dengan sewenang-wenang.
Pasal 10
Setiap orang, dalam persamaan yang penuh, berhak atas peradilan yang adil dan
terbuka oleh pengadilan yang bebas dan tidak memihak, dalam menetapkan hak dan
kewajibankewajibannya serta dalam setiap tuntutan pidana yang dijatuhkan kepadanya.
Pasal 11
(1) Setiap orang yang dituntut karena disangka melakukan suatu tindak pidana
dianggap tidak bersalah, sampai dibuktikan kesalahannya menurut hukum dalam suatu
pengadilan yang terbuka, di mana dia memperoleh semua jaminan yang perlukan untuk
pembelaannya.

18
(2) Tidak seorang pun boleh dipersalahkan melakukan tindak pidana karena perbuatan
atau kelalaian yang tidak merupakan suatu tindak pidana menurut undang-undang
nasional atau internasional, ketika perbuatan tersebut dilakukan. Juga tidak
diperkenankan menjatuhkan hukuman yang lebih berat daripada hukum yang
seharusnya dikenakan ketika pelanggaran pidana itu dilakukan.
Pasal 12
Tidak seorang pun boleh diganggu urusan pribadinya, keluarganya, rumah tangganya
atau hubungan surat menyuratnya dengan sewenang-wenang; juga tidak diperkenankan
melakukan pelanggaran atas kehormatan dan nama baiknya. Setiap orang berhak
mendapat perlindungan hukum terhadap gangguan atau pelanggaran seperti ini.
Pasal 13
(1) Setiap orang berhak atas kebebasan bergerak dan berdiam di dalam batas-batas
setiap negara.
(2) Setiap orang berhak meninggalkan suatu negeri, termasuk negerinya sendiri, dan
berhak kembali ke negerinya.
Pasal 14
(1) Setiap orang berhak mencari dan mendapatkan suaka di negeri lain untuk
melindungi diri dari pengejaran.
(2) Hak ini tidak berlaku untuk kasus pengejaran yang benar-benar timbul karena
kejahatan- kejahatan yang tidak berhubungan dengan politik, atau karena
perbuatanperbuatan yang bertentangan dengan tujuan dan dasar Perserikatan Bangsa-
Bangsa.
Pasal 15
(1) Setiap orang berhak atas sesuatu kewarganegaraan.
(2) Tidak seorang pun dengan semena-mena dapat dicabut kewarganegaraannya atau
ditolak hanya untuk mengganti kewarganegaraannya.
Pasal 16
(1) Laki-laki dan Perempuan yang sudah dewasa, dengan tidak dibatasi kebangsaan,
kewarganegaraan atau agama, berhak untuk menikah dan untuk membentuk keluarga.
Mereka mempunyai hak yang sama dalam soal perkawinan, di dalam masa perkawinan
dan di saat perceraian.
(2) Perkawinan hanya dapat dilaksanakan berdasarkan pilihan bebas dan persetujuan
penuh oleh kedua mempelai.

19
(3) Keluarga adalah kesatuan yang alamiah dan fundamental dari masyarakat dan
berhak mendapatkan perlindungan dari masyarakat dan Negara.
Pasal 17
(1) Setiap orang berhak memiliki harta, baik sendiri maupun bersama-sama dengan
orang lain.
(2) Tidak seorang pun boleh dirampas harta miliknya dengan semena-mena.
Pasal 18
Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan agama; dalam hal ini
termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan, dengan kebebasan untuk
menyatakan agama atau kepercayaann dengan cara mengajarkannya, melakukannya,
beribadat dan mentaatinya, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, di
muka umum maupun sendiri.
Pasal 19
Setiap orang berhak atas kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat; dalam hal
ini termasuk kebebasan menganut pendapat tanpa mendapat gangguan, dan untuk
mencari, menerima dan menyampaikan keterangan-keterangan dan pendapat dengan
cara apa pun dan dengan tidak memandang batas-batas.
Pasal 20
(1) Setiap orang mempunyai hak atas kebebasan berkumpul dan berserikat tanpa
kekerasan.
(2) Tidak seorang pun boleh dipaksa untuk memasuki suatu perkumpulan.
Pasal 21
(1) Setiap orang berhak turut serta dalam pemerintahan negaranya, secara langsung atau
melalui wakil-wakil yang dipilih dengan bebas.
(2) Setiap orang berhak atas kesempatan yang sama untuk diangkat dalam jabatan
pemerintahan negeranya.
(3) Kehendak rakyat harus menjadi dasar kekuasaan pemerintah; kehendak ini harus
dinyatakan dalam pemilihan umum yang dilaksanakan secara berkala dan murni,
dengan hak pilih yang bersifat umum dan sederajat, dengan pemungutan suara secara
rahasia ataupun dengan prosedur lain yang menjamin kebebasan memberikan suara.
Pasal 22
Setiap orang, sebagai anggota masyarakat, berhak atas jaminan sosial dan berhak akan
terlaksananya hak-hak ekonomi, sosial dan budaya yang sangat diperlukan untuk

20
martabat dan pertumbuhan bebas pribadinya, melalui usaha-usaha nasional maupun
kerjasama internasional, dan sesuai dengan pengaturan serta sumber daya setiap negara.
Pasal 23
(1) Setiap orang berhak atas pekerjaan, berhak dengan bebas memilih pekerjaan, berhak
atas syarat-syarat perburuhan yang adil dan menguntungkan serta berhak atas
perlindungan dari pengangguran.
(2) Setiap orang, tanpa diskriminasi, berhak atas pengupahan yang sama untuk
pekerjaan yang sama.
(3) Setiap orang yang bekerja berhak atas pengupahan yang adil dan menguntungkan,
yang memberikan jaminan kehidupan yang bermartabat baik untuk dirinya sendiri
maupun keluarganya, dan jika perlu ditambah dengan perlindungan sosial lainnya.
(4) Setiap orang berhak mendirikan dan memasuki serikat-serikat pekerja untuk
melindungi kepentingannya.
Pasal 24
Setiap orang berhak atas istirahat dan liburan, termasuk pembatasan-pembatasan jam
kerja yang layak dan hari liburan berkala, dengan tetap menerima upah.
Pasal 25
(1) Setiap orang berhak atas tingkat hidup yang memadai untuk kesehatan dan
kesejahteraan dirinya dan keluarganya, termasuk hak atas pangan, pakaian, perumahan
dan perawatan kesehatan serta pelayanan sosial yang diperlukan, dan berhak atas
jaminan pada saat menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai
usia lanjut atau keadaan lainnya yang mengakibatkannya kekurangan nafkah, yang
berada di luar kekuasaannya.
(2) Ibu dan anak-anak berhak mendapat perawatan dan bantuan istimewa. Semua anak-
anak, baik yang dilahirkan di dalam maupun di luar perkawinan, harus mendapat
perlindungan sosial yang sama.
Pasal 26
(1) Setiap orang berhak memperoleh pendidikan. Pendidikan harus dengan cuma-cuma,
setidak- tidaknya untuk tingkatan sekolah rendah dan pendidikan dasar. Pendidikan
rendah harus diwajibkan. Pendidikan teknik dan kejuruan secara umum harus terbuka
bagi semua orang, dan pendidikan tinggi harus dapat dimasuki dengan cara yang sama
oleh semua orang, berdasarkan kepantasan.

21
(2) Pendidikan harus ditujukan ke arah perkembangan pribadi yang seluas-luasnya serta
untuk mempertebal penghargaan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan
dasar. Pendidikan harus menggalakkan saling pengertian, toleransi dan persahabatan di
antara semua bangsa, kelompok ras maupun agama, serta harus memajukan kegiatan
Perserikatan Bangsa- Bangsa dalam memelihara perdamaian.
(3) Orang tua mempunyai hak utama dalam memilih jenis pendidikan yang akan
diberikan kepada anak-anak mereka.
Pasal 27
(1) Setiap orang berhak untuk turut serta dalam kehidupan kebudayaan masyarakat
dengan bebas, untuk menikmati kesenian, dan untuk turut mengecap kemajuan dan
manfaat ilmu pengetahuan.
(2) Setiap orang berhak untuk memperoleh perlindungan atas keuntungankeuntungan
moril maupun material yang diperoleh sebagai hasil karya ilmiah, kesusasteraan atau
kesenian yang diciptakannya.
Pasal 28
Setiap orang berhak atas suatu tatanan sosial dan internasional di mana hak-hak dan
kebebasan- kebebasan yang termaktub di dalam Deklarasi ini dapat dilaksanakan
sepenuhnya.
Pasal 29
(1) Setiap orang mempunyai kewajiban terhadap masyarakat tempat satu-satunya di
mana dia dapat mengembangkan kepribadiannya dengan bebas dan penuh.
(2) Dalam menjalankan hak-hak dan kebebasan-kebebasannya, setiap orang harus
tunduk hanya pada pembatasanpembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang yang
tujuannya semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan yang tepat
terhadap hak-hak dan kebebasankebebasan orang lain, dan untuk memenuhi syarat-
syarat yang adil dalam hal kesusilaan, ketertiban dan kesejahteraan umum dalam suatu
masyarakat yang demokratis.
(3) Hak-hak dan kebebasan-kebebasan ini dengan jalan bagaimana pun sekali-kali tidak
boleh dilaksanakan bertentangan dengan tujuan dan prinsip-prinsip Perserikatan
Bangsa-Bangsa.
Pasal 30
Tidak sesuatu pun di dalam Deklarasi ini boleh ditafsirkan memberikan sesuatu Negara,
kelompok ataupun seseorang, hak untuk terlibat di dalam kegiatan apa pun, atau

22
melakukan perbuatan yang bertujuan merusak hak-hak dan kebebasan-kebebasan yang
mana pun yang termaktub di dalam Deklarasi ini.

Dampak Psikikologis
Psikologi forensik, bekerja dalam berbagai sistem pengadilan dan sistem rehabilitasi,
seperti berkonsultasi dengan instansi kepolisian dan petugas pengadilan dalam meningkatkan
pengertian terhadap masalah manusia yang harus mereka tangani, berhadapan dengan
narapidana dan keluarga mereka, berperan dalam mengambil keputusan apakah tertuduh
cakap bertindak di peradilan, dan menyiapkan laporan psikologis untuk membantu
memutuskan tindakan yang paling sesuai bagi terpidana. Berikut ini adalah damapk terhadap
seseorang yg menjadi tersangka dalam proses peradilan10
 Stress : Bentuk ketegangan dari fisik,psikis,emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini
mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas
menurun,rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya stress adalah sebuah
bentikketegangan baik fisik maupun mental.
 Depresi : suasana hati yang buruk dan berlangsung selama kurun waktu tertentu. Ketika
mengalami depresi kita akan merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, tidak punya
motivasi untuk beraktivitas, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dulunya
menghibur, dan menyalahkan diri sendiri.
 Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu
mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus
tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya.

Kesimpulan
Jadi peran dokter polisi selain membantu penyidik mengumpulkan barang bukti, juga
membantu penyidik dalam melakukan penginterogasian, dimana dokter juga harus
memperhatikan kewajiban dan haknya, serta hak dan kewajiban tersangka yang akan
diinterogasi, begitupula dengan penyidik. Penginterogasian dilakukan tidak dengan jalan
penyiksaan dan juga penganiayaan baik penyidik maupun dokter yang melakukan interogasi
melainkan harus memperhatikan hak tersangka tersebut seperti haknya untuk mendapatkan
pembelaan. Bagi dokter yang akan melakukan atau ikut dalam proses penginterogasian
dengan tidak melalui jalan kekerasan sesuai dengan etika dan moral kedokteran. Selain itu
juga akan ada dampak pada psikologis dari tersangka yang akan diinterogasi.

23
Daftar Pustaka
1. Sujatmoko A. Penahanan (detention) dan penyiksaan (torture) dalam hukum HAM
internasional. Available at:
http://sekartrisakti.wordpress.com/2011/05/18/penahanandetention-dan-penyiksaan-
torture-dalam-hukum-ham-internasional/. accessed April 12, 2012.
2. Wiradharma D, Hartat DS. Penuntun kuliah hukum kedokteran. Jakarta: Sagung seto;
2010.
3. Wirantaprawira WR. Indonesian law information center: kitab undang-undang hukum
acara pidana (KUHAP) nomor 8 tahun 1981. Available at
http://www.wirantaprawira.de/law/criminal/kuhap/index.html#babI. Accessed April 10,
2012.
4. Kementrian koordinator bidang kesejahteraan rakyat. UU nomor 15 tahun 2003 tentang
terorisme. Available at http://www.menkokesra.go.id/node/335. Accessed April 10,
2012.
5. Banirisset.com: narkotika, HIV AIDS, sosial dan lainnya. Torture = penyiksaan.
Available at http://banirisset.com/2008/07/penyiksaan-itu-adalah-torture.html. Accessed
April 10, 2012.
6. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran. Jakarta: Pustaka
Dwipar; 2007. 7. Bagian kedokteran forensik fakultas kedokteran universitas Indonesia.
Ilmu kedokteran forensik : keracunan karbon monoksida. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia ;1997.
7. Sunaryo E. Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Bintara Polri di Lapangan. 2006. Jakarta:
Kepolisian Negara Republik Indonesia Markas Besar
8. Mularno R. Kasat Serse dan Dokter Polisi . Diunduh dari www.polri.go.id/ tanggal 11
Januari 2011
9. Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana no. 8 tahun 1981. Diunduh dari
http://www.wirantaprawira.de/law/criminal/kuhap/index.html#babVI. 12 Januari 2016
10. Dampak psikologis tersangka peradilan. Diunduh dari http://www.psikologiku.com/ pada
tanggal 14 januari 2016

24