Anda di halaman 1dari 168

DAMPAK REKLAMASI PANTAI UTARA JAKARTA TERHADAP

PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT (TINJAUAN


SOSIOLOGIS MASYARAKAT DI SEKITARAN PELABUHAN MUARA
ANGKE, KELURAHAN PLUIT, JAKARTA UTARA)

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd)

Oleh :
Ibnu Mustaqim

(1110015000033)

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015/1436 H
rAt
KEMENTERIAN AGAMA No. Dokumen : FITK-FR-AKD-099
:w;
laewwl
UIN JAKARTA
FITK
FORM (FR)
Tgl. Terbit
No. Revisi:
:
:
1 Maret 2010
02
t-wsg"?) Jl. lr. H. Juanda No 95 Ciputat 15412 lndonesia
Hal 1t1
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama : lbnu Mustaqim


Tempat, Tgl. Lahir : Boyolali, 11 Maret 1993
NIM :1110015000033
Jurusan / Prodi : Pendidikan IPS / Sosiologi - Antropologi
Judul Skripsi : Dampak Reklamasi Pantai Utara Jakarta Terhadap
Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat (Tinjauan
Sosiologis Masyarakat di Sekitaran pelabuhan [Vluara
Angke, Kelurahan PIuit, Jakarta Utara)
Dosen Pembimbing : Drs. Syaripulloh, M. Si

Dengan ini menyatakan bahwa Skripsi yang saya buat benar-benar hasil karya sendiri
dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya tulis.
Pernyataan ini dibuat sebagai salah satu syarat Wisuda.

Jakarta, 0B Desember 2014


Mahasiswa Ybs,

lbnu Mustaqim
1110015000033
ABSTRAK

Ibnu Mustaqim (NIM : 1110015000033). Dampak Reklamasi Pantai Utara


Jakarta Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat (Tinjauan
Sosiologis Masyarakat di Sekitaran Pelabuhan Muara Angke, Kelurahan
Pluit, Jakarta Utara)

Salah satu bagian dari rencana reklamasi Pantai Utara Jakarta adalah pembagunan
Pelabuhan Muara Angke yang berfungsi sebagai sarana transportasi massal untuk
penyebrangan wisata menuju Kepulauan Seribu. Latar belakang pembangunan
Pelabuhan Muara Angke karena tingginya animo masyarakat maupun wisatawan
yang ingin berkunjung ke Kepulauan Seribu. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara
Angke, meniscayakan terjadinya perubahan sosial ekonomi masyarakat sekitar.
Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan sosial
ekonomi yang dialami oleh masyarakat sekitar. Penelitian ini termasuk dalam
jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Selain deskripsi berupa
narasi logis, penelitian ini juga diperkuat dengan data-data kuantitatif, seperti
persentase perubahan pendapatan dan pengeluaran.
Berdasarkan analisis yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa Perubahan dalam hal
pendapatan rumah tangga, rata-rata responden mengalami penurunan yaitu pada
kelompok pedagang dan pengolah kerang serta non perikanan, penurunan sebesar
lebih dari 3 kali lipat (360%) dialami oleh nelayan dari pendapatan awal sebelum
pembangunan pelabuhan. Kenaikan hanya terjadi pada kelompok pedagang dan
pengolah ikan, yaitu sebesar 10% atau senilai Rp 1.166.667,00. Sedangkan,
perubahan pengeluaran rumah tangga, kelompok pedagang dan pengolah ikan dan
nelayan mengalami kenaikan, terutama pada kelompok nelayan dengan kenaikan
sebesar 53%, penurunan dialami oleh kelompok pedagang dan pengolah kerang
dan non perikanan dengan persentase penurunan masing-masing sebesar 6%.

Kata Kunci : Perubahan, Sosial, Ekonomi, Reklamasi, Masyarakat, Pesisir.

v
ABSTRACT
Ibnu Mustaqim (NIM. 1110015000033). Impact Of Reclamation In North
Jakarta Coastal Towards People’s Economic Social Change (Sociological
Review Of People In Muara Angke Port, Pluit, North Jakarta)

The development of Muara Angke port is a part of Jakarta Northern Coast


reclamation’s planning. The port has function as the public transportation
infrastructure. The thought of its development caused of the high demand of
people visiting Kepulauan Seribu. The Muara Angke port is surely presenting
social-economic changes. Therefore, this research purposed to analyze social
economic changes that has happened. The methods of this research is quantitative-
descriptive research.
Based on the result, the changes affected the income of the responden and there is
some descending salary with the shell trader and processing, non-fishery sector,
and the fisherman with the total reached 320%. The ascending salary only affected
to fish trader, with total 10% (Rp 1.166.667,00). Whereas, outcome from fish
trader and processing with fisherman increasing 53%. The outcome of shell trader
and processing with non-fishery sector decreasing 6%.

Keywords: Social Economic Changes, Coast Reclamation, Coastal People

vi
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahirabbil’alamin, Puji syukur penulis panjatkan kehadirat


Gusti Allah SWT yang telah mengatur dan menetapkan ketentuan hidup yang
harus dilalui oleh kita sebagai makhluk ciptaan-Nya. Hanya Dialah dengan segala
kekuasaan-Nya senantiasa memberikan Nikmat kepada semua Insan, sehingga
penulis dapat menyelesaikan dengan baik skripsi yang berjudul “Dampak
Reklamasi Pantai Utara Jakarta Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi
Masyarakat (Tinjauan Sosiologis Masyarakat di Sekitaran Pelabuhan Muara
Angke, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara)”. Shalawat serta salam semoga
tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, kepada para keluarga dan
Sahabat Rasul yang selalu konsisten dijalan dakwah, juga kepada kita umatnya
yang tetap komitmen dalam menegakkan hembusan nafas Islam sampai akhir
hayat.

Penulis sepenuh hati menyadari bahwa skripsi ini selesai bukan


merupakan hasil dari diri pribadi penulis sepenuhnya, namun berkat ridho Allah
SWT dan bantuan dari semua pihak yang turut berkontribusi dalam memberikan
bantuan berupa Doa, semangat, pengorbanan, moril ataupun materil, serta
keikhlasan dalam membimbing penulis. Oleh karena itu, dalam kesempatan baik
ini penulis meyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang
telah banyak membantu penulis. Dengan segala ketulusan hati, penulis ingin
mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah


Jakarta, Nurlena Rifa’i, Ph.D.
2. Dr. Iwan Purwanto, M. Pd sebagai ketua jurusan Pendidikan IPS yang
mengajarkan makna kesabaran serta seluruh dosen yang telah menjadi
fasilitator dalam memperoleh ilmu selama belajar di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.

vii
3. Drs. Syaripulloh, M. Si, sebagai sekretaris jurusan Pendidikan IPS,
sekaligus sebagai dosen pembimbing yang telah banyak memberikan
pengarahan, pembelajaran, dan kemudahan dalam penyusunan skripsi.
4. Orang tua yang sangat penulis banggakan Bapak Slamet dan
Almarhumah Mama Isminingsih serta adik dan keluarga tercintaku,
Simbah, Pakde, Bude, Bulek, Paklek, Mas dan Mba yang telah
memberikan banyak motivasi, kasih sayang dan curahan perhatian
serta do’a yang selalu teriring setiap saat.
5. Bapak Khafidin sebagai ketua RW 011 dan Bapak Arfani sebagai
tokoh masyarakat setempat yang telah memberikan izin penelitian serta
kebutuhan informasi yang diperlukan dalam penyusunan skripsi.
6. Teman-teman seperjuangan angkatan 2010 Pendidikan IPS
(SosioAntro10, Geografi2010 dan Reaksi2010). Khususnya teman-
teman SosioAntro10 yang telah banyak memberikan kesan serta nilai
tak terlupakan, senang rasanya bisa mengenal kalian semua.
7. Semua bagian dari keluarga kecilku, ATK Fams (Febrianto, Arif
Putranto, M. Rizki Awaluddin, Ardi Wahyudi, Aldian Kurnia P, Ipan
Sunarya, Arib Jaudi, Avin Reza F, Lukmanul Hakim, Faris Pradana,
Ardi M. Arsyad, Faishal Ramdhan, M. Riza Fahlevi, Farid Iqbal,
Tarmidzi Ubadilah, Choerul Imam, Fajri Shobari, Syarif, Aidil Jufri,
Bani Rohman, Fery, Udin, Syahbani), CRC 589, dan Castelow, bangga
bisa menjadi bagian dari kalian yang selalu mengedepankan
kekeluargaan dan saling support dalam segala hal.
8. Para Timses dan sahabatku, Om Djoko, Desstia, Dara, Ida, Komeng,
Cabi, Lita, Indri, Anto dan keluarga, Jali, Ita, Chaakimah, dkk. Semoga
ikatan ini senantiasa terjalin dengan baik.
9. Kepada semua pihak yang belum dapat penulis sebutkan satu persatu,
terima kasih atas doa dan bantuannya.

Jerih payah, perjuangan, pengorbanan, darah, keringat, air mata, serta


harapan, begitu panjang proses perjalanan untuk meraih sebuah kebanggaan.

viii
Semoga pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini
mendapatkan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT, Amin.

Jakarta, 03 November 2014

Ibnu Mustaqim

ix
DAFTAR ISI

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH ............................................... i

LEMBAR PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ............................... ii

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI .............................. iii

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI SIDANG ........................................ iv

ABSTRAK ...................................................................................................... v

ABSTRACT ..................................................................................................... vi

KATA PENGANTAR .................................................................................... vii

DAFTAR ISI ................................................................................................... x

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xiv

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xvi

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvii

DAFTAR GRAFIK ........................................................................................ xviii

DAFTAR ISTILAH ....................................................................................... xix

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ........................................................................ 1


B. Identifikasi Masalah .............................................................................. 7
C. Pembatasan Masalah .............................................................................. 9
D. Rumusan Masalah.................................................................................. 11
E. Tujuan Penelitian ................................................................................... 11
F. Kegunaan Hasil Penelitian..................................................................... 11

x
BAB II KAJIAN TEORITIK

A. Potensi Sosial, Ekonomi dan Budaya Wilayah Pesisir .......................... 13


B. Penataan Ruang ..................................................................................... 14
C. Reklamasi .............................................................................................. 16
1. Pengertian Reklamasi Pantai .................................................... 16
2. Tujuan Reklamasi ..................................................................... 17
3. Dampak Reklamasi Pantai ........................................................ 18
D. Masyarakat............................................................................................. 21
1. Pengertian Masyarakat Pesisir .................................................. 21
2. Karakteristik Masyarakat Pesisir .............................................. 22
E. Perubahan Sosial.................................................................................... 24
1. Pengertian Perubahan Sosial .................................................... 24
2. Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial ................ 25
3. Strategi Adaptasi ....................................................................... 29
F. Pendapatan Rumah Tangga ................................................................... 30
G. Pengeluaran Rumah Tanngga ................................................................ 31
H. Sikap ...................................................................................................... 33
1. Pengertian Sikap ....................................................................... 33
2. Komponen Sikap ...................................................................... 33
3. Fungsi Sikap ............................................................................. 34
I. Hasil Penelitian Relevan ........................................................................ 35
J. Kerangka Berpikir ................................................................................. 39

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian................................................................ 42


B. Metode Penelitian .................................................................................. 42
C. Unit Analisis .......................................................................................... 44
D. Instrumen Penelitian .............................................................................. 44
E. Teknik Pengumpulan Data .................................................................... 44

xi
1. Kuesioner .................................................................................. 46
2. Wawancara ............................................................................... 47
3. Observasi .................................................................................. 47
F. Teknik Analisis Data ............................................................................. 48

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Keadaan Umum Daerah ......................................................................... 51


1. Letak Daerah Penelitian ............................................................ 51
2. Kependudukan .......................................................................... 51
B. Kondisi Sarana dan Prasarana ............................................................... 54
1. Peribadatan ............................................................................... 54
2. Kesehatan .................................................................................. 55
3. Pendidikan ................................................................................ 56
C. Keadaan Umum Pelabuhan Muara Angke ............................................ 57
1. Latar Belakang .......................................................................... 57
2. Kebijakan Pengembangan Pelabuhan Muara Angke ................ 58
3. Sarana dan Prasarana ................................................................ 59
4. Akses Transportasi ................................................................... 61
D. Karakteristik Responden........................................................................ 62
1. Umur Responden ...................................................................... 62
2. Jumlah Tanggungan Keluarga .................................................. 63
3. Pengalaman Usaha .................................................................... 63
4. Riwayat Pendidikan .................................................................. 64
5. Kondisi dan Fasilitas Perumahan ............................................. 65
E. Dampak Pelabuhan Muara Angke Terhadap Perubahan Kondisi
Sosial-Ekonomi Masyarakat .................................................................. 67
1. Keragaman Usaha (Mata Pencaharian) .................................... 67
2. Perubahan Pendapatan Rumah Tangga .................................... 69
3. Perubahan Pengeluaran Rumah Tangga ................................... 74
F. Sikap Masyarakat Mengenai Dampak Pelabuhan Muara Angke .......... 81

xii
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ............................................................................................ 85
B. Saran ...................................................................................................... 86

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 87

LAPIRAN-LAMPIRAN ..................................................................................... 90

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Indikator Kondisi dan Fasilitas Perumahan Menurut Badan


Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 yang dimodifikasi…….… 47

Tabel 3.2. Indikator Skor Pengukuran Sikap (Positif-Negatif)………….… 49

Tabel 4.1. Komposisi Penduduk Menurut Kewarganegaraan dan Jenis


Kelamin di Kelurahan Pluit dalam Laporan Bulanan
Februari 2014……………………………………….………....... 53

Tabel 4.2. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Pendidikan di Kelurahan


Pluit dalam Laporan Bulanan Februari 2014……………........... 54

Tabel 4.3. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Mata Pencaharian


di Kelurahan Pluit dalam Laporan Bulanan Februari 2014…...... 55

Tabel 4.4. Jenis Tempat Peribadatan di Kelurahan Pluit dalam


Laporan Bulanan Februari 2014……………………………....... 56

Tabel 4.5. Sarana dan Prasarana Kesehatan di Kelurahan Pluit dalam


Laporan Bulanan Februari 2014……………………………....... 57

Tabel 4.6. Jumlah Sarana dan Pendidikan Formal di Kelurahan Pluit dalam
Laporan Bulanan Februari 2014………………………………... 58

Tabel 4.7. Daftar Prasarana Pelabuhan Muara Angke Tahun 2002 -2012.... 61

Tabel 4.8. Kelompok Umur Responden Tahun 2014………………....….... 64

Tabel 4.9. Tingkat Pendidikan Responden Tahun 2014………………........ 66

Tabel 4.10. Rata-rata Pendapatan Utama Responden Sebelum dan Sesudah


Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014…….......... 73

xiv
Tabel 4.11. Rata-rata Pendapatan Tambahan Responden Sebelum dan
Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014.... 74

Tabel 4.12. Rata-rata Total Pendapatan Responden Sebelum dan


Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014.... 75

Tabel 4.13. Rata-rata Perubahan Pendapatan Total Responden Sebelum dan


Sesudah Pembangunan Pelabuhan MuaraAngke Tahun 2014..... 76

Tabel 4.14. Rata-rata Pengeluaran Pangan Responden Sebelum dan Sesudah


Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014…….......... 78

Tabel 4.15. Rata-rata Pengeluaran Non Pangan Responden Sebelum dan


Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014.... 79

Tabel 4.16. Rata-rata Pengeluaran Total Responden Sebelum dan Sesudah


Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014…….......... 80

Tabel 4.17. Rata-rata Perubahan Pengeluaran Total Responden Sebelum dan


Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke
Tahun 2014…………………………………………......…......... 81

Tabel 4.18. Sikap Responden atas Pembangunan Pelabuhan


Muara Angke………………………………………..............….. 83

Tabel 4.19. Keuntungan yang Dirasakan Responden atas Pembangunan


Pelabuhan Muara Angke………………….……....…..........…... 84

Tabel 4.20. Kerugian yang Dirasakan Responden atas Pembangunan


Pelabuhan Muara Angke………………….…….........….....…... 85

xv
DAFTAR GAMBAR

1.1.Peta Rencana Pengembangan Kawasan Terbangun/Peta Rencana


Peruntukan Reklamasi Pantura Jakarta ......................................................... 6
2.1.Kerangka Berpikir ......................................................................................... 41

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Karakteristik Responden (Umur, Jumlah Anggota Keluarga,


Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman Usaha) ............................... 87

Lampiran 2 : Kondisi Perumahan Responden Menurut Kriteria Badan


Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 ............................................ 88

Lampiran 3 : Fasilitas Perumahan Responden Menurut Kriteria Badan


Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 ............................................ 89

Lampiran 4 : Indikator Kondisi dan Fasilitas Perumahan Menurut


Badan Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 yang dimodifikasi ... 90

Lampiran 5 : Hasil Skor Sikap Responden Mengenai Kehadiran


Pelabuhan Muara Angke ............................................................... 91

Lampiran 6 : Kuesioner Penelitian....................................................................... 92

Lampiran 7 : Pedoman Wawancara Tokoh Masyarakat ...................................... 99

Lampiran 8 : Hasil Kuesioner Penelitian (Perwakilan Masing-masing


Mata Pencaharian) .......................................................................101

Lampiran 9 : Hasil Wawancara Tokoh Masyarakat ...........................................126

Lampiran 10 : Dokumentasi Lapangan ...............................................................130

Lampiran 11 : Gambar Lokasi Penelitian ...........................................................134

Lampiran 12 : Rumus Perhitungan .....................................................................135

xvii
DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1. Rata-rata Total Pendapatan Responden Sebelum dan Sesudah


Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014………...... 73

Grafik 4.2. Rata-rata Total Pengeluaran Responden Sebelum dan Sesudah


Pembangunan Pelabuhan Muara Angke Tahun 2014…...…....... 78

Grafik 4.3. Ketimpangan Pendapatan dan Pengeluaran Responden


Sebelum dan Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara
Angke Tahun 2014………………………………………........... 80

xviii
DAFTAR ISTILAH

Abrasi : Pengikisan batu oleh air, es atau angin

Bauksit : Barang tambang campuran yang merupakan bahan


dasar aluminium

Biologis : Bersifat biologi (ilmu tentang makhluk hidup)

Biota : Keseluruhan flora dan fauna yang terdapat dalam


suatu daerah

Budidaya : Usaha menghasilkan sesuatu yang baik dan


menguntungkan

Coastal and engineering : Rekayasa daerah pantai

Common property resources : Sumber daya milik bersama

Degradasi : Penurunan kualitas atau mutu

Drainase : Pengeringan air yang tergenang di daerah tertentu


secara besar-besaran

Ekosistem : Kesatuan komunitas tumbuh-tumbuhan, hewan,


organisme dan non organisme lain serta proses
yang menghubungkannya dalam membentuk
keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas.

Ekologi : Ilmu tentang lingkungan

Environmental services : Jasa-jasa lingkungan, seperti pariwisata dan


olahraga.

Erosi : Pengikisan / penipisan permukaan bumi oleh air


mengalir, gelombang, ombak atau arus

xix
Estuaria : Perairan pantai setengah tertutup, tempat air laut
bertemu dengan air tawar

Fosfor : Unsur kimia yang dalam alam dijumpai sebagai


bahan galian kalsium fosfat

Habitat : Tempat makhluk hidup

Hidraulik : Penggunaan air untuk menghasilkan tenaga

Hidrologi : Ilmu tentang air, sifat-sifat dan distribusinya

Konservasi : Perlindungan atas sesuatu dengan pemeliharaan

Lamun : Menggenangi (menutupi karang)

Mangan : Logam yang terdapat dalam tanah

Mangrove : Tanaman bakau

Mineral : Barang tambang

Moluska : Binatang triploblastik selomata tubuhnya tidak


beruas-ruas dan mempunyai cangkok (rumah),
seperti bekicot dan siput

Nelayan : Orang yg mata pencaharian utamanya dari usaha


menangkap ikan di laut

Non-renewable resources : Sumber daya tidak dapat pulih, seperti minyak


bumi, gas dan hasil tambang lainnya

Oseanografi : Ilmu tentang segala aspek yang berhubungan


dengan laut dan lautan

Overfishing : Kondisi tangkap lebih

Patron-klien : Pola hubungan yang bersifat vertikal antara


juragan dan pekerja (buruh)

xx
Pesisir : Suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan

Preservasi : Pengawetan

Reklamasi : Pekerjaan untuk mendapatkan bidang lahan


dengan luasan tertentu

Renewable resources : Sumber daya dapat pulih, seperti perikanan, hutan


mangrove dan terumbu karang

Sedimentasi : Pengendapan

Subsisten : Memenuhi kehidupan jangka pendek

Stakeholder : Pengampu kebijakan

Sumber daya hayati : Sumber daya kehidupan

Survival of the fittes : Kemampuan bertahan hidup

Sustainable capacity : Kapasitas berkelanjutan

Tangible : Hal yang nyata / dapat dihitung

Waterfront city : Pembangunan kota pantai

xxi
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia sebagai negara maritim mempunyai garis pantai terpanjang


keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia dengan panjang
garis pantai mencapai 95.181 km. Wilayah Laut dan pesisir Indonesia mencapai ¾
wilayah Indonesia (5,8 juta km2 dari 7.827.087 km2).1 Wilayah pesisir dan lautan
Indonesia yang kaya dan beragam sumber daya alamnya telah dimanfaatkan oleh
bangsa Indonesia sebagai salah satu sumber bahan makanan utama, khususnya
protein hewani, sejak berabad-abad lamanya. Selain menyediakan berbagai
sumber daya tersebut, wilayah pesisir dan lautan Indonesia juga memiliki fungsi
lain, seperti transportasi dan pelabuhan, kawasan industri, agribisnis dan agro
industri, rekreasi dan pariwisata, serta kawasan pemukiman dan tempat
pembuangan limbah.2 Hingga saat ini wilayah pesisir memiliki sumber daya dan
manfaat yang sangat besar bagi kehidupan manusia. Wilayah pesisir merupakan
salah satu sumber daya yang potensial di Indonesia. Wilayah pesisir memiliki
pengertian suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Potensi
pengembangan yang terdapat di wilayah pesisir dan lautan secara garis besar
terdiri dari tiga kelompok yaitu:3 sumber daya dapat pulih (renewable resources)
seperti perikanan, hutan mangrove dan terumbu karang, sumber daya tak dapat
pulih (non-renewable resources) seperti minyak bumi, gas dan hasil tambang
lainnya, dan jasa-jasa lingkungan (environmental services) seperti pariwisata dan
olahraga. Namun pemanfaatan saat ini terdapat kecendrungan yang mengancam

1
Ruchyat Deni Djakapermana, Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Reklamasi
Pantai Sebagai Alternatif Pengembangan Kawasan, Kementerian PU
2
Rokhmin Dahuri, Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan, untuk Kesejahteraan Rakyat
(Kumpulan Pemikiran Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS), (Jakarta : Lembaga Informasi dan Studi
Pembangunan Indonesia, 2000) h. 1
3
Rokhmin Dahuri, Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan, untuk Kesejahteraan Rakyat
(Kumpulan Pemikiran Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS), h. 10

1
2

kapasitas berkelanjutan (sustainable capacity) dari ekosistem tersebut, seperti


pencemaran perairan, kondisi tangkap lebih (overfishing), degradasi fisik habitat
pesisir utama (mangrove dan terumbu karang), dan abrasi pantai.4 Indonesia
sebagai Negara kepulauan, menurut Supriharyono, diperkirakan 60% dari
penduduk Indonesia hidup dan tinggal di daerah pesisir. Sekitar 9.261 desa dari
64.439 desa yang ada di Indonesia dapat dikategorikan sebagai desa atau
permukiman pesisir. Mereka ini kebanyakan merupakan masyarakat tradisional
dengan kondisi sosial ekonomi dan latar belakang pendidikan yang relatif sangat
rendah. Sekitar 90% mereka hanya berpendidikan sampai sekolah dasar.5
Pembangunan kelautan selama tiga dasawarsa terakhir selalu diposisikan sebagai
sektor pinggiran dalam pembangunan sosial-ekonomi. Dengan posisi semacam ini
bidang kelautan yang didefinisikan sebagai sektor perikanan, pariwisata bahari,
pertambangan laut, industri maritim, perhubungan laut, bangunan kelautan dan
jasa kelautan, bukan menjadi arus utama dalam kebijakan pembangunan ekonomi
nasional. Kondisi ini menjadi ironis mengingat hampir 75% wilayah Indonesia
merupakan lautan dengan potensi yang sangat besar serta berada pada posisi
geopolitis yang penting, yakni antara Lautan Pasifik dan Lautan Hindia yang
merupakan jalur vital perdagangan internasional.6

Terlebih lagi dengan berlakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999


mengenai pengaturan pembagian tugas, tanggung jawab dan wewenang
pemerintah kabupaten dan kota, yang kemudian disempurnakan oleh Undang-
undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, yang memberi
kewenangan penuh dalam pengelolaan sumber daya alam di kawasan pesisir dan
lautan sampai dengan 12 mil laut untuk provinsi dan 4 mil laut untuk
kabupaten/kota. Sudah seharusnya instansi terkait memahami bahwa sektor
kelautan dalam perspektif ekonomi tidak hanya sebatas kepentingan bisnis
kelautan saja, akan tetapi memandang sektor kelautan secara ekonomi politik

4
Syamsir Salam, Amir Fadilah, Sosiologi Pedesaan, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), h. 194
5
Supriharyono, Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir
Tropis. (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2000). h. 4
6
Syamsir Salam, Amir Fadilah, Sosiologi Pedesaan, h. 195-196
3

sebagai kekuatan sosial-ekonomi yang mampu mewujudkan kesejahteraan bangsa.


Sehingga kebijaksanaan pembangunan kelautan tidak hanya di dasarkan pada
peningkatan output semata tanpa memberikan kontribusi maksimal bagi
kemakmuran bangsa dan mampu menjawab tuntutan pembangunan
berkelanjutan.7 Salah satu implikasi dari undang-undang tersebut yaitu munculnya
program pemerintah daerah dengan mereklamasi kawasan pesisir Pantai atau juga
disebut reklamasi Pantai.

Seiring dengan perkembangan peradaban, masyarakat membutuhkan


lahan-lahan baru dalam kegiatan sosial ekonominya, sedangkan lahan yang ada di
daratan semakin terbatas. Dengan keadaan seperti ini masyarakat mulai
memanfatkan wilayah pesisir untuk berbagai kepentingan, sehingga muncul
permasalahan yang berkaitan dengan penyediaan lahan bagi aktivitas sosial dan
ekonomi masyarakat. Untuk memenuhi tuntutan kebutuhan akan lahan,
menjadikan usaha mereklamasi pantai sebagai salah satu konsekuensi logis bagi
penyediaan lahan baru aktifitas sosial-ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, wajar saja jika belakangan ini usaha untuk mereklamasi
pantai semakin banyak bermunculan. Reklamasi pantai memiliki beberapa
pengertian. Dari segi bahasa kata reklamasi berasal dari bahasa Inggris yaitu
reclamation yang berarti pekerjaan memperoleh tanah. Jadi reklamasi pantai dapat
diartikan sebagai pekerjaan untuk mendapatkan bidang lahan dengan luasan
tertentu di daerah pesisir dan laut. Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal
Penataan Ruang, Kementrian PU,8 Reklamasi lahan adalah proses pembentukan
lahan baru di pesisir atau bantaran sungai. Sesuai dengan definisinya, tujuan
utama reklamasi adalah menjadikan kawasan berair yang rusak atau tidak berguna
menjadi lebih baik dan bermanfaat. Kawasan ini biasanya dimanfaatkan untuk
kawasan permukiman, perindustrian, bisnis dan pertokoan, pelabuhan udara,
perkotaan, pertanian, serta objek wisata. Pengertian ini diperkuat oleh Undang-

7
Syamsir Salam, Amir Fadilah, Sosiologi Pedesaan, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), h. 198
8
Ruchyat Deni Djakapermana, Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Reklamasi
Pantai Sebagai Alternatif Pengembangan Kawasan, Kementerian PU
4

undang nomor 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil, mengungkapkan bahwa reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan dalam
rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan yang ditinjau dari sudut
lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau
drainase. Namun, dalam realitanya, program reklamasi pantai yang banyak
dilaksanakan di Indonesia kurang memenuhi kriteria definisi tersebut. Terutama
mengenai kelestarian kawasan pesisir serta keberlangsungan sosial-ekonomi
masyarakat nelayan.

DKI Jakarta dengan desakan pertambahan penduduk yang pesat,


meningkatnya kebutuhan lahan, sulitnya proses pembebasan tanah guna
mendapatkan lahan bagi pengembangan kota Jakarta, telah mendorong
Pemerintah DKI Jakarta membuat kebijakan untuk mengembangkan wilayah utara
bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi diperlukan untuk
menopang keberlanjutan kota dan untuk mendorong Jakarta sejajar dengan kota-
kota besar di lingkungan dunia internasional.9 Kebijakan ini ditandai dengan
munculnya program pemerintah daerah dengan mereklamasi wilayah Pantai Utara
Jakarta. Kebutuhan akan lahan ini akan meningkatkan harga tanah bahkan
melebihi biaya pembangunan. Penghasilan dari penjualan lahan baru ini adalah
sumber dana yang akhirnya digunakan untuk membiayai reklamasi pantai
sekaligus penyerasian dari wilayah.10

Rencana pengembangan reklamasi pantai di wilayah Pantai utara Jakarta


seluas 2.700 Ha merupakan upaya Pemerintah DKI Jakarta untuk meningkatkan
kualitas lingkungan Pantai Utara Jakarta dan mewujudkan kota pantai (waterfront
city) yang dapat berdiri sejajar dengan kota-kota pantai di Asia Pasifik seperti
Sidney, Singapura dan Hongkong serta dapat mewujudkan Jakarta sebagai kota
pantai yang berkelanjutan (sustainable) serta dapat berdiri sejajar dan bersaing
dengan kota-kota lain di dunia.
9
Sapto Supono, (Desertasi), Model Kebijakan Pengembangan Kawasan Pantai Utara
Jakarta Secara Berkelanjutan, Desertasi pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB),
Bogor, 2009, tidak dipublikasikan.
10
A. R. Soehoed, Bunga Rampai Pembangunan : Antara Harapan dan Ancaman Masa
Depan, (Jakarta : Puri Fadjar Mandiri dan FTUI, 2002), h. 187
5

Proyek pengembangan Pantai Utara Jakarta bukanlah gagasan baru yang


lahir setelah diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 1995. Inti dari
proyek ini sudah disinggung sewaktu Profesor Ir. H. Van Breen meninjau masalah
banjir kota Jakarta ketika masih menyandang nama Batavia.11 Keputusan Presiden
Nomor 52 Tahun 1995 telah memberikan kewenangan dan tanggung jawab
kepada Gubernur DKI Jakarta untuk menyelenggarakan reklamasi kawasan
Pantura Jakarta, yang ditindaklanjuti oleh Perda DKI No. 8 Tahun 1995 tentang
Penyelenggaraan Reklamasi dan Rencana Tata Ruang Kawasan Pantura Jakarta.
Sementara itu Perda DKI Jakarta No. 6 Tahun 1999 tentang RTRW Jakarta 2010
dan Pergub No. 121 Tahun 2012 juga ikut memberikan panduan kebijakan
terhadap penyelenggaraan reklamasi Kawasan Pantura Jakarta.12

Reklamasi pantai utara akan menimbun laut Teluk Jakarta seluas 2.700 ha.
Batas wilayah reklamasi yaitu dari batas wilayah Tangerang sampai dengan
Bekasi yang dibagi menjadi tiga kawasan yaitu zona barat (west zone), zona
tengah (central zone), dan zona timur (east zone) dengan uraian sebagai berikut :13

1. Zona Barat, termasuk daerah proyek Pantai Mutiara dan proyek Pantai
Hijau di daerah Pluit serta wilayah Pelabuhan Muara Angke dan daerah
proyek Pantai Indah Kapuk, dimana yang merupakan daerah reklamasi
adalah daerah laut seluas kira-kira 1000 ha (kira-kira 6,5 km x 1,5 km).
2. Zona Tengah, meliputi wilayah Muara Baru dan wilayah Sunda Kelapa,
begitu pula daerah Kota, Ancol Barat dan Ancol Timur hingga pada batas
daerah Pelabuhan Tanjung Priok, dimana yang merupakan daerah
reklamasi adalah daerah laut seluas kira-kira 1400 ha (kira-kira 8 km x 1,7
km).
3. Zona Timur, yang meliputi wilayah Pelabuhan Tanjung Priok ke Timur
termasuk daerah Marunda dengan luas daerah laut yang akan direklamasi
kurang lebih 300 ha (kira-kira 3 km x 1 km).
11
A.R. Soehoed, Proyek PANTURA Transformasi dari Ibukota Propinsi ke Ibukota
Negara : Persiapan-persiapan Bagi Proyek Multifungsi, (Jakarta : Djambatan, 2004), h. 25
12
Badan Pelaksana Reklamasi Pantai Utara Jakarta, “Rencana Kawasan Reklamasi
Pantai Utara Jakarta”, 2008, (http://panturajakarta.blogspot.com/)
13
Anonim Undergraduated Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, pdf.
6

Gambar 1.1. Peta Pengembangan Kawasan Terbangun/Peta


Peruntukan Reklamasi Pantura Jakarta

Dalam Pergub No. 121 Tahun 2012 tentang Penataan Ruang Kawasan
Reklamasi Pantai Utara Jakarta, diungkapkan bahwa Sub-Kawasan Barat akan
proyeksikan sebagai kawasan perumahan horizontal dan vertikal, kegiatan
pariwisata dan kawasan perkantoran, perdagangan dan jasa secara terbatas, dalam
hal kegiatan pariwisata pemerintah telah membangun Pelabuhan Muara Angke
sebagai sarana transportasi massal untuk penyebrangan wisata menuju Kepulauan
Seribu. Salah satu latar belakang pembangunan Pelabuhan Muara Angke adalah
karena tingginya animo masyarakat maupun wisatawan yang ingin berkunjung ke
Kepulauan Seribu, disamping itu pembangunan Pelabuhan Muara Angke ini juga
merupakan solusi bagi pemenuhan kebutuhan wisata yang efektif dan efisien
masyarakat urban.

Pelabuhan Muara Angke dibangun sejak tahun 2004 dan memiliki luas 3,4
hektar, biaya untuk membangun pelabuhan ini menelan biaya sekitar Rp 130
miliar. Pelabuhan ini utamanya difungsikan untuk mempermudah akses
masyarakat atau wisatawan yang ingin berkunjung ke Kepulauan Seribu. Menurut
informasi narasumber sebelum dibangun menjadi pelabuhan, kawasan ini awalnya
merupakan rawa dan tambak yang dikelola oleh sebagain warga sekitar, yang
kemudian mengalami proses pembangunan dengan teknik pengerukan dan
7

pengurukan sebidang lahan atau disebut juga reklamasi.14 Dengan pembangunan


pelabuhan ini meniscayakan terjadinya suatu dampak serta perubahan sosial-
ekonomi masyarakat, proses perubahan sosial terjadi karena manusia adalah
makhluk yang berpikir dan bekerja, manusia juga selalu mempertahankan
kehidupannya serta memperbaiki nasibnya.15 Disamping itu, perubahan sosial
juga terjadi karena keinginan manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan
sekelilingnya yang terus berubah baik dalam aspek sosial-budaya maupun aspek
ekologis. Dengan berubahnya kondisi fisik suatu wilayah yang diakibatkan oleh
pembangunan, masyarakat berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
yang telah berubah (baru), terutama dalam hal aktivitas sosial-ekonomi
masyarakat, seperti penyesuaian antara pendapatan dengan pengeluaran rumah
tangga, peralihan matapencaharian, serta strategi-strategi adaptasi untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, begitu juga dengan penyesuaian sikap
masyarakat terhadap kondisi lingkungan yang baru tersebut.

Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengetahui lebih jauh dengan
mengadakan penelitian mengenai perubahan sosial-ekonomi masyarakat di sekitar
pelabuhan Muara Angke. Dengan demikian, maka penelitian ini diberi judul
“Dampak Reklamasi Pantai Utara Jakarta Terhadap Perubahan Sosial
Ekonomi Masyarakat (Tinjauan Sosiologis Masyarakat di Sekitaran
Pelabuhan Muara Angke, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara)”.

B. Identifikasi Masalah

Jika diamati secara seksama, persoalan pemanfaatan sumber daya pesisir


dan lautan selama ini tidak optimal dan berkelanjutan disebabkan oleh faktor-
faktor kompleks yang saling terkait satu sama lain. Faktor-faktor tersebut dapat
dikategorikan kedalam faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor-

14
Wawancara dengan pengolah ikan, Bapak Kapidun (80 Tahun), Sabtu 12 Juli 2014,
Pukul 12.25 WIB, di halaman rumah.
15
Phill Astrid S. Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, (Bandung: Bina
Cipta, 1977), h. 188.
8

faktor yang berkaitan dengan kondisi internal sumber daya masyarakat pesisir dan
nelayan, seperti : 16

1. Rendahnya tingkat pemanfaatan sumber daya, teknologi dan manajemen


usaha,
2. Pola usaha tradisional dan subsisten (hanya cukup memenuhi kehidupan
jangka pendek),
3. Keterbatasan kemampuan modal usaha,
4. Kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat pesisir dan nelayan.

Sedangkan Faktor eksternal, yaitu : 17

1. Kebijakan pembangunan pesisir dan lautan yang lebih berorientasi pada


produktivitas untuk menunjang pertumbuhan ekonomi, bersifat sektoral,
parsial dan kurang memihak nelayan tradisional,
2. Belum kondusifnya kebijakan ekonomi makro (political economy), suku
bunga yang masih tinggi serta belum adanya program kredit lunak yang
diperuntukan bagi sektor kelautan.
3. Kerusakan ekosistem pesisir dan laut karena pencemaran dari wilayah
darat, praktek penangkapan ikan dengan bahan kimia, eksploitasi dan
perusakan terumbu karang, serta penggunaan peralatatan tangkap yang
tidak ramah lingkungan,
4. Sistem hukum dan kelembagaan yang belum memadai disertai
implementasinya yang lemah, dan birokrasi yang beretos kerja rendah
serta sarat KKN,
5. Perilaku pengusaha yang hanya memburu keuntungan dengan
mempertahankan sistem pemasaran yang mengutungkan pedagang
perantara dan pengusaha,

16
Wahyuningsih Darajati (Direktur Kelautan dan Perikanan, Bappenas), “Strategi
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu dan Berkelanjutan”, Makalah Sosialisasi
Nasional MFCDP, 22 September 2004
17
Wahyuningsih Darajati (Direktur Kelautan dan Perikanan, Bappenas), “Strategi
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu dan Berkelanjutan” Makalah Sosialisasi
Nasional MFCDP, 22 September 2004
9

6. Rendahnya kesadaran akan arti penting dan nilai strategis pengelolaan


sumber daya wilayah pesisir dan lautan secara terpadu bagi kemajuan dan
kemakmuran bangsa.

Dengan adanya pembangunan kawasan komersial jelas akan


mendatangkan banyak keuntungan ekonomi bagi wilayah tersebut. Alasan
utamanya adalah bahwa semakin banyak kawasan komersial yang dibangun maka
akan menambah pendapatan asli daerah (PAD), kawasan komersil dalam hal ini
yaitu hasil dari reklamasi pantai. Reklamasi pantai telah memberikan keuntungan
dan dapat membantu kota dalam rangka penyediaan lahan untuk berbagai
keperluan (pengembangan kawasan), penataan daerah pantai, pengembangan
wisata bahari, dan lain-lain. Namun bagaimanapun juga reklamasi merupakan
bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap keseimbangan lingkungan
alamiah pantai yang akan melahirkan perubahan ekosistem seperti perubahan pola
arus, erosi dan sedimentasi pantai, dan berpotensi menimbulkan gangguan pada
lingkungan. Tidak hanya itu, kehadiran reklamasi juga dapat berdampak pada
aspek sosial masyarakat, khususnya untuk aspek-aspek sosial yang nyata, seperti
kependudukan, tingkat pendidikan, mata pencaharian, pendapatan dan
pengeluaran rumah tangga. Mata pencaharian sebagai petani tambak, nelayan dan
buruh misalnya, dengan adanya reklamasi akan mempengaruhi hasil tangkapan
dan berimbas pada penurunan pendapatan mereka.

C. Pembatasan Masalah

Ruang lingkup penelitian ini hanya difokuskan pada zona barat saja, yaitu
perkampungan nelayan Muara Angke, lokasi ini merupakan salah satu wilayah
yang merasakan dampak reklamasi Pantai Utara Jakarta, hasil reklamasi yang
terlihat yaitu seperti reklamasi di bagian timur kawasan hunian mewah Pantai
Mutiara, reklamasi di bagian barat Pantai Indah Kapuk serta dibangunnya
pelabuhan Muara Angke sebagai akses penyebrangan masyarakat umum, karena
di pelabuhan sebelumnya yang sebenarnya merupakan pelabuhan nelayan
10

intensitasnya sudah terlalu padat. Kehadiran reklamasi ini niscaya berpengaruh


terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat Muara Angke.

Kondisi masyarakat di kawasan perkampungan nelayan Muara Angke


tidak jauh berbeda dengan kondisi masyarakat pesisir lainnya dimana kebanyakan
masyarakat berprofesi sebagai nelayan dan pelaku usaha perikanan lainnya seperti
pedagang dan pengolah hasil laut. Sebagian besar nelayan yang ada di Muara
Angke merupakan pendatang dari luar wilayah DKI Jakarta seperti dari
Indramayu, Cirebon, Serang dan Tegal. Demikian pula para pedagang ikan dan
kerang merupakan pendatang yang umumnya sudah berdagang di Muara Angke
lebih dari lima tahun.

Permasalahan disini akan difokuskan pada aspek perubahan sosial-


ekonomi masyarakat pesisir akibat pembangunan pelabuhan Muara Angke yang
merupakan salah satu bagian dari kebijakan reklamasi Pantai Utara Jakarta,
dampak sosial-ekonomi mulai muncul ketika terdapat aktivitas : proyek, program
atau kebijaksanaan yang akan diterapkan pada suatu masyarakat. Bentuk
intervensi ini mempengaruhi keseimbangan pada suatu sistem (masyarakat).
Pengaruh yang ditimbulkan bisa bersifat positif, ataupun negatif. Perubahan yang
dimaksud adalah beralihnya keadaan sosial-ekonomi masyarakat ketika sebelum
adanya reklamasi hingga setelah reklamasi. Kemudian yang dimaksud dengan
masyarakat pada penelitian ini adalah masyarakat pesisir yang mencari nafkah di
sekitar wilayah penelitian, antara lain nelayan, pedagang dan pengolah ikan,
pedagang dan pengolah kerang, dan mata pencaharian non perikanan. Sedangkan,
aspek sosial-ekonomi difokuskan pada aspek-aspek yang dapat diukur (tangible),
seperti pengalaman usaha, jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, kondisi
dan fasilitas perumahan, mata pencaharian, pendapatan rumah tangga dan
pengeluaran rumah tangga.
11

D. Rumusan Masalah

Reklamasi yang tidak memperhatikan pedoman perencanaan tata ruang


kawasan reklamasi pantai dapat mengakibatkan degradasi lingkungan pesisir, hal
ini sangat berpengaruh terhadap hilangnya potensi sumber daya hayati pesisir
terutama beberapa biota laut yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat
setempat, begitu juga pada aspek sosial-ekonomi masyarakat, bagi mereka yang
tidak memiliki keterampilan selain melaut, mereka tidak memiliki alternatif usaha
lain selain menjadi buruh nelayan, dengan adanya reklamasi akan mempengaruhi
hasil tangkapan dan berimbas pada penurunan pendapatan mereka. Oleh karena
itu, perlu suatu perencanaan pembangunan yang terpadu, yang tidak hanya
berorientasi pada aspek lingkungan saja tetapi juga aspek sosial-ekonomi
masyarakat, sehingga dampak sosial-ekonomi masyarakat juga dapat diprediksi
dan diantisipasi oleh pemerintah selaku pengampu kebijakan.

Dengan demikian maka muncul rumusan masalah, Bagaimanakah dampak


pembangunan pelabuhan Muara Angke terhadap perubahan sosial-ekonomi
masyarakat perkampungan nelayan Muara Angke ?

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan permasalahan yang ada, maka tujuan dari penelitian ini


adalah untuk mengetahui dan menganalisis perubahan sosial-ekonomi masyarakat
perkampungan nelayan Muara Angke akibat pembangunan pelabuhan Muara
Angke.

F. Kegunaan Hasil Penelitian

Dalam hal ilmu pengetahuan, penelitian ini diharapkan dapat memberikan


sumbangan keilmuan dan pengetahuan, baik bagi para pembacanya maupun bagi
12

para praktisi pengembangan masyarakat, khususnya yang membidangi ilmu


sosial.

Disamping itu, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan bahan


masukan bagi universitas yang membidangi ilmu sosial, khususnya jurusan
pendidikan ilmu pengetahuan sosial (sosiologi, geografi dan ekonomi), dalam
rangka menciptakan program pendidikan, kurikulum, serta network untuk
pendidikan.

Bagi pengampu kebijakan (stakeholder) dan lembaga swadaya masyarakat


(LSM), hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan alternatif dalam
menentukan kebijakan yang meminimumkan dampak sosial, ekonomi dan
lingkungan dalam membuat dan menjalankan suatu kebijakan pembangunan.
Kemudian bagi masyarakat yang bersangkutan, hasil penelitian ini berguna dalam
merencanakan strategi untuk meningkatkan status sosial-ekonomi mereka dan
bertahan hidup terhadap perubahan lingkungannya. Dengan adanya penelitian ini,
diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai apa itu
reklamasi, dan apa saja dampak positif dan negatif yang akan mereka rasakan.
13

BAB II

KAJIAN TEORITIK

A. Potensi Sosial, Ekonomi dan Budaya Wilayah Pesisir

Potensi ekonomi dalam bentuk produk barang dan jasa di kawasan pesisir,
pantai dan pulau-pulau kecil meliputi :

1. Sumber daya diperbaharui (renewable resources) termasuk ikan, udang,


moluska, kerang mutiara, kepiting, rumput laut, hutan mangrove, hewan
karang, lamun, dan biota laut lainnya.
2. Sumber daya yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable resources)
seperti minyak bumi dan gas, bauksit, timah, bijih besi, mangan, fosfor,
dan mineral lainnya.
3. Energi kelautan seperti : energi gelombang, pasang surut, angin dan OTEC
(Ocean Thermal Energy Conversion)
4. Jasa-jasa lingkungan (environmental services) termasuk tempat-tempat
(habitat) yang indah dan menyejukkan untuk lokasi pariwisata dan
rekreasi, sarana transportasi dan komunikasi, pengatur iklim, penampung
limbah, dan kawasan pemukiman serta industri.

Sejauh ini pemanfaatan sumber daya yang berada di pesisir, pantai dan
pulau-pulau kecil ini masih jauh dari optimal. Hal ini terlihat dari sumbangan
ekonomi bidang kelautan terhadap PDB (Product Domestic Bruto) nasional yang
hanya mencapai sekitar 12,4 % (Rp. 56 Trilyun) pada tahun 1997. Kontribusi
tersebut berasal dari tujuh sektor ekonomi kelautan yakni : perikanan
(penangkapan dan budidaya), pertambangan dan energi, bangunan kelautan,
industri maritim, pariwisata dan jasa kelautan.

Kawasan pesisir sarat dengan masalah-masalah sosial-ekonomi dan


budaya yang memiliki implikasi terhadap pengelolaan wilayah pesisir. Masalah

13
14

yang sangat menonjol yaitu bahwa kawasan pesisir umumnya memiliki status
sebagai sumber daya milik bersama (common property resources) akibatnya
pemanfaatan sumber daya kawasan pesisir menjadi tidak bisa dikontrol karena
tidak ada keputusan kolektif. Kelebihan pemanfaatan dan eksploitasi sumber daya
terjadi dimana-mana yang akhirnya membuat sumber daya rusak dan memberikan
produktivitas, hasil, dan pendapatan yang rendah. Gejala ini disebut dengan
tragedi milik bersama (Tragedy of The Common).18

B. Penataan Ruang

Dalam melaksanakan konsep pengembangan suatu wilayah, tentunya


harus melalui proses perencanaan tata ruang wilayah yang matang, yakni
perencanaan yang komprehensif mencakup aspek fisik, ekonomi, sosial, dan
budaya demi mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, seperti pemanfaatan
ruangan untuk kawasan peruntukan pemukiman harus sesuai dengan daya dukung
tanah setempat dan harus dapat menyediakan lingkungan yang sehat dan aman
dari bencana alam serta dapat memberikan lingkungan hidup yang sesuai bagi
pengembangan masyarakat sekitar, dengan tetap memperhatikan kelestarian
fungsi ekologi. Pemanfaatan dan pengelolaan kawasan peruntukan pemukiman
harus didukung oleh ketersediaan fasilitas fisik atau utilitas umum (kemudahan
akses transportasi, pasar, pusat perdangangan dan jasa, perkantoran, sarana air
bersih, persampahan, penanganan limbah dan drainase) dan fasilitas sosial
(kesehatan, pendidikan dan agama).

Mengikuti UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, tujuan


kebijakan penataan ruang wilayah pesisir dan lautan dirumuskan sebagai berikut
:19

18
Rokhmin Dahuri, Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan, untuk Kesejahteraan
Rakyat (Kumpulan Pemikiran Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS), (Jakarta : Lembaga Informasi dan
Studi Pembangunan Indonesia, 2000), h. 10
19
Iwan Nugroho, Rokhmin Dahuri, Pengembangan Wilayah : Pespektif Ekonomi, Sosial
dan Lingkungan, (Jakarta : LP3ES, 2012), cet. 2, h. 306
15

1. Terselenggaranya pemanfaatan ruang (sumber daya dan jasa lingkungan)


2. Terselenggaranya pengaturan pemanfatan ruang kawasan lindung dan
budidaya wilayah pesisir dan kelautan
3. Tercapainya pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan kelautan yang
berkualitas

Tujuan-tujuan tersebut secara tidak langsung mensyaratkan adanya zoning


dalam pemanfaatan ruang. Dengan kata lain pembangunan yang dialokasikan
melalui zoning pada setiap wilayah harus disesuaikan dengan daya dukung
lingkungan dan secara ekonomis menguntungkan.

Secara konsepsional, dalam suatu wilayah dimana pembangunan


dialokasikan, setidaknya terdapat tiga zona yaitu :20

1. Zona Preservasi, yaitu suatu wilayah yang mengandung atribut ekologis


dan biologis yang sangat penting bagi kelangsungan hidup ekosistem dan
seluruh komponennya, meliputi biota (organisme) termasuk kehidupan
manusia, spesies langka atau endemik, habitat dan berpijah, berbagai biota
laut, ikan, dan biota laut lainnya, dan sumber air tawar. Di dalam zona ini
tidak diperkenankan kegiatan pemanfaatan atau pembangunan, kecuali
untuk kepentingan penelitian dan pendidikan.
2. Zona Konservasi, yaitu wilayah yang diperbolehkan adannya kegiatan
pembangunan, tetapi dengan intensitas yang terbatas dan sangat terkendali,
misalnya wisata bahari, perikanan tangkap dan budi daya yang ramah
lingkungan (responsible fisheries) dan pengusahaan hutan mangrove
secara lestari. Zona konservasi bersama preservasi berfungsi memelihara
berbagai proses penunjang kehidupan, seperti siklus hidrologi dan unsur
hara; membersihkan limbah secara alamiah; dan sumber keanekaragaman
hayati (bio diversity). Luas kedua zona ini yang optimal dalam suatu
wilayah, tergantung pada kondisi alamnya, seyogyanya berkisar antara 30
sampai 50 persen dari luas wilayah.

20
Iwan Nugroho, Rokhmin Dahuri, Pengembangan Wilayah : Pespektif Ekonomi, Sosial
dan Lingkungan, cet. 2, h. 306-307
16

3. Zona pemanfaatan, yaitu wilayah yang karena sifat biologis dan


ekologisnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pembangunan
yang lebih intensif, antara lain seperti industri, pertambangan dan
pemukiman. Namun kegiatan-kegiatan pembangunan dalam zona
pemanfaatan hendaknya harmonis mengikuti karakteristik ekologis.

C. Reklamasi

Untuk memahami suatu permasalahan menegenai reklamasi, perlu kiranya


melakukan suatu pendekatan terhadap masalah, pendekatan ini dapat diperoleh
melalui pemahaman menegenai definisi, tujuan, serta dampak dari reklamasi.

1. Pengertian Reklamasi Pantai

Istilah “reklamasi” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan


sebagai pengurukan (tanah), atau juga usaha memperluas pertanian (tanah)
atau dengan memanfaatkan daerah yang sebelumnya tidak bermanfaat menjadi
bermanfaat. Sedangkan mereklamasi berarti membuka tanah untuk digarap.21
Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Kementrian PU,22
Reklamasi lahan adalah proses pembentukan lahan baru di pesisir atau
bantaran sungai. Sesuai dengan definisinya, tujuan utama reklamasi adalah
menjadikan kawasan berair yang rusak atau tidak berguna menjadi lebih baik
dan bermanfaat. Kawasan ini biasanya dimanfaatkan untuk kawasan
permukiman, perindustrian, bisnis dan pertokoan, pelabuhan udara, perkotaan,
pertanian, serta objek wisata.

Dalam Undang-undang nomor 27 tahun 2007 tentang pengelolaan


wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, mengungkapkan bahwa reklamasi
adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka meningkatkan manfaat sumber

21
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan
Nasional, 2008), h. 1188
22
Ruchyat Deni Djakapermana, Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang,
Reklamasi Pantai Sebagai Alternatif Pengembangan Kawasan, Kementerian PU
17

daya lahan yang ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan
cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase. Pengertian ini sejalan
dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 40/PRT/M/2007 mengenai
Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai.

Dengan demikian, reklamasi adalah usaha pembentukan lahan baru


dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase dalam rangka
meningkatkan manfaat sumber daya lahan yang ditinjau dari sudut lingkungan
dan sosial ekonomi. Sedangkan reklamasi pantai dapat diartikan sebagai usaha
pembentukan lahan baru baik yang menyatu dengan wilayah pantai ataupun
yang terpisah dari pantai dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau
drainase dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan yang
ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi.

2. Tujuan Reklamasi

Tujuan reklamasi adalah menjadikan kawasan berair yang rusak atau


tidak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat. Kawasan baru tersebut,
biasanya dimanfaatkan untuk kawasan pemukiman, perindustrian, bisnis dan
pertokoan, pertanian, serta objek wisata.23 Khususnya pada Kota Jakarta,
tujuan utama reklamsi Pantai Utara Jakarta yaitu untuk menekan laju
pertumbuhan, dimana tempat yang baru tersebut akan dijadikan pemukiman
yang mampu menampung sekitar 1,5 juta penduduk Jakarta.24

Reklamasi pantai merupakan salah satu langkah pemekaran kota.


Reklamasi dilakukan oleh negara atau kota-kota besar yang laju pertumbuhan
dan kebutuhan lahannya meningkat demikian pesat tetapi mengalami kendala
dengan semakin menyempitnya lahan daratan (keterbatasan lahan). Dengan

23
Modul Terapan, Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai
(Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 44/PRT/M/2007), Direktorat Jenderal Penataan Ruang,
Departemen Pekerjaan Umum. h. 16.
24
Ruchyat Deni Djakapermana, Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang,
Reklamasi Pantai Sebagai Alternatif Pengembangan Kawasan, Kementerian PU
18

kondisi tersebut, pemekaran kota ke arah daratan sudah tidak memungkinkan


lagi, sehingga diperlukan daratan baru. Selain reklamasi, alternatif lain dari
kebutuhan lahan adalah pemekaran ke arah vertikal dengan membangun
gedung-gedung pencakar langit dan rumah-rumah susun.25

3. Dampak Reklamasi Pantai

Sebagai proses perubahan yang terencana, jelas bahwa masalah sosial


yang timbul bukan merupakan hal yang ikut direncanakan. Oleh sebab itu,
maka lebih tepat disebut sebagai efek sampingan atau dampak dari proses
pembangunan masyarakat. Mengingat bahwa gejala sosial merupakan
fenomena yang saling terkait, maka tidak mengherankan jika perubahan yang
terjadi pada salah satu atau beberapa aspek, yang dikehendaki atau tidak
dikehendaki, dapat menghasilkan terjadinya perubahan pada aspek yang lain.
Terjadinya dampak yang tidak dikehendaki itulah yang kemudian
dikategorikan sebagai masalah sosial.26

Perubahan pantai dan dampak akibat adanya reklamasi tidak hanya


bersifat lokal, tetapi meluas. Reklamasi memiliki dampak positif maupun
negatif bagi masyarakat dan ekosistem pesisir dan laut. Dampak ini pun
mempunyai sifat jangka pendek dan jangka panjang yang dipengaruhi oleh
kondisi ekosistem dan masyarakat disekitar.27

a. Dampak positif

Secara umum dampak positif dari kegiatan reklamasi sesuai


dengan tujuan diadakannya reklamsi, seperti menghidupkan kembali

25
Modul Terapan, Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai
(Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 44/PRT/M/2007), h. 16-17.
26
Soetomo, Masalah Sosial dan Pembangunan, (Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya, 1995),
h. 165.
27
Ruchyat Deni Djakapermana, Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang,
Reklamasi Pantai Sebagai Alternatif Pengembangan Kawasan, Kementerian PU
19

transportasi air, membuka peluang pembangunan wilayah pesisir,


meningkatkan pariwisata bahari, serta meningkatkan pendapatan daerah.

Kegiatan reklamasi antara lain tentunya pada peningkatan kualitas


dan nilai ekonomi kawasan pesisir, mengurangi lahan yang dianggap
kurang produktif, penambahan wilayah, perlindungan pantai dari erosi,
peningkatan kondisi habitat perairan, perbaikan rejim hidraulik kawasan
pantai, dan penyerapan tenaga kerja

Reklamasi banyak memberikan keuntungan dalam


mengembangkan wilayah. Praktek ini memberikan pilihan penyediaan
lahan untuk pemekaran wilayah, penataan daerah pantai, menciptakan
alternatif kegiatan dan pengembangan wisata bahari. Pulau hasil reklamasi
dapat menahan gelombang pasang yang mengikis pantai, Selain itu juga
dapat menjadi semacam bendungan untuk menahan banjir rob di daratan.

b. Dampak negatif

Namun perlu diingat pula, reklamasi merupakan hasil campur


tangan manusia terhadap alam, sehingga memungkinkan semua kegiatan
ini juga membawa dampak buruk. Diantara dampak negatif reklamasi
pantai pada lingkungan meliputi dampak fisik seperti perubahan hidro-
oseanografi, erosi pantai, sedimentasi, peningkatan kekeruhan,
pencemaran laut, perubahan rejin air tanah, peningkatan potensi banjir dan
penggenangan di wilayah pesisir. Sedangkan, dampak biologis berupa
terganggunya ekosistem mangrove, terumbu karang, padang lamun,
estuaria dan penurunan keanekaragaman hayati.

Adanya kegiatan ini, wilayah pantai yang semula merupakan ruang


publik bagi masyarakat akan hilang atau berkurang karena dimanfaatkan
untuk kegiatan privat. Keanekaragaman biota laut juga akan berkurang,
baik flora maupun fauna, karena timbunan tanah urugan mempengaruhi
20

ekosistem yang sudah ada. Sistem hidrologi gelombang air laut yang jatuh
ke pantai akan berubah dari alaminya. Berubahnya alur air akan
mengakibatkan daerah di luar reklamasi akan mendapat limpahan air yang
banyak sehingga kemungkinan akan terjadi abrasi, tergerus atau
mengakibatkan terjadinya banjir atau rob.

Disamping itu, reklamasi pantai juga berdampak pada aspek sosial-


ekonomi masyarakat, kegiatan masyarakat di wilayah pantai sebagian
besar adalah petani tambak, nelayan dan buruh, sehingga adanya reklamasi
akan mempengaruhi hasil tangkapan dan berimbas pada penurunan
pendapatan mereka.

Kondisi ekosistem di wilayah pantai yang kaya akan


keanekaragaman hayati sangat mendukung fungsi pantai sebagai
penyangga daratan. Ekosistem perairan pantai sangat rentan terhadap
perubahan sehingga apabila terjadi perubahan baik secara alami maupun
rekayasa akan mengakibatkan berubahnya keseimbangan ekosistem.
Terganggunya ekosistem perairan pantai dalam waktu yang lama, pasti
memberikan kerusakan ekosistem wilayah pantai, kondisi ini
menyebabkan kerusakan pantai. Untuk reklamasi biasanya memerlukan
material urugan yang cukup besar yang tidak dapat diperoleh dari sekitar
pantai, sehingga harus didatangkan dari wilayah lain yang memerlukan
jasa angkutan. Pengangkutan ini berakibat pada padatnya lalu lintas,
penurunan kualitas udara, debu, bising yang akan mengganggu kesehatan
masyarakat.

Sehingga untuk meminimalkan dampak fisik, ekologis, sosial


ekonomi dan budaya negatif serta mengoptimalkan dampak positif, maka
kegiatan reklamasi harus dilakukan secara hati-hati dan berdasar pada
pedoman yang ada dengan melibatkan stakeholder. Pada dasarnya,
reklamasi harus menerapkan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan
21

yaitu memperhatikan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan dengan


orientasi jangka panjang.

D. Masyarakat
1. Pengertian Masyarakat Pesisir

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, masyarakat diartikan sebagai


sekumpulan orang yang hidup bersama pada suatu tempat atau wilayah
dengan ikatan aturan tertentu dan kesamaan tertentu.28 Auguste Comte dalam
Abdulsyani mengatakan bahwa masyarakat merupakan kelompok-kelompok
makhluk hidup dengan realitas-realitas baru yang berkembang menurut
hukum-hukumnya sendiri dan berkembang menurut pola perkembangan yang
tersendiri.29

Definisi wilayah pesisir Menurut Dahuri dalam Syamsir Salam, hingga


saat ini belum ada definisi yang baku. Namun demikian, terdapat kesepakatan
umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara
daratan dan lautan.30 Dengan kata lain wilayah pesisir berarti tanah dasar
berpasir dipantai ditepi laut.

Masyarakat pesisir adalah kelompok orang yang bermukim di wilayah


pesisir, mempunyai mata pencaharian dari sumber daya alam dan jasa-jasa
lingkungan pesisir dan laut, misalnya nelayan, pembudidaya ikan, pedagang,
pengelola ikan, pemilik atau pekerja perusahaan perhubungan laut, pemilik
atau pekerja pertambangan dan energi di wilayah pesisir, pemilik atau pekerja
industri maritim, misalnya galangan kapal dan coastal and engineering.

28
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan
Nasional, 2008), h. 924
29
Abdulsyani, SOSIOLOGI : Skematika, Teori, dan Terapan, (Jakarta : PT. Bumi Aksara,
2012), h. 31
30
Syamsir Salam, Amir Fadilah, Sosiologi Pedesaan, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), h. 199
22

Berdasarkan definisi di atas, maka masyarakat pesisir diartikan sebagai


sekumpulan orang yang bertempat tinggal di tepi pantai dan memiliki mata
pencaharian yang berasal dari sumber daya laut dan pantai tersebut.

2. Karakteristik Masyarakat Pesisir

Sifat dan karakteristik masyarakat pesisir sangat dipengaruhi oleh jenis


kegiatan mereka, seperti usaha perikanan tangkap, usaha perikanan tambak,
dan usaha pengolahan hasil perikanan yang memang dominan dilakukan oleh
mereka. Karena sifat dari usaha-usaha mereka sangat dipengaruhi oleh faktor-
faktor lingkungan, musim dan pasar, maka karakteristik masyarakat pesisir
juga terpengaruhi oleh faktor-faktor tersebut.

Secara struktural, masyarakat nelayan dan kegiatan ekonomi


perikanannya, seperti yang digambarkan Firth memiliki kemiripan dengan
sistem ekonomi petani. Walaupun karakteristik aktivitas produksi nelayan dan
petani berbeda, tetapi dalam beberapa hal terdapat kesamaan yang bersifat
umum, seperti kerentanan secara ekonomi terhadap timbulnya ketidakpastian
yang berkaitan dengan musim-musim produksi.31 Karakteristik ini menjadi
karakteristik yang paling mencolok di kalangan masyarakat pesisir, terutama
bagi para nelayan kecil. Pada musim penangkapan para nelayan sangat sibuk
melaut. Sebaliknya, pada musim paceklik kegiatan melaut menjadi berkurang
sehingga banyak nelayan yang terpaksa menganggur.

Kondisi ini mempunyai implikasi besar pula terhadap kondisi sosial-


ekonomi masyarakat pantai secara umum dan kaum nelayan khususnya.

Kondisi di atas turut pula mendorong munculnya pola hubungan


tertentu yang sangat umum dijumpai dikalangan nelayan dan juga petani
tambak, yakni pola hubungan yang bersifat vertikal, yang terwujud dalam

31
Kusnadi, Nelayan : Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial, (Bandung : Humaniora
Utama Press, 2000), h. 23
23

hubungan patron-klien. Menurut Scott dalam Kusnadi menyatakan bahwa


hubungan patron-klien merupakan kasus hubungan antara dua orang yang
sebagian besar melibatkan persahabatan instrumental, dimana seseorang yang
kedudukan sosialnya (patron) lebih tinggi menggunakan pengaruh dan sumber
daya yang dimilikinya untuk memberikan perlindungan atau keuntungan, atau
keduanya kepada orang yang kedudukannya (client) lebih rendah.32 Karena
keadaan ekonomi yang buruk, maka para nelayan kecil, buruh nelayan, petani
tambak kecil, dan buruh tambak seringkali terpaksa meminjam uang dan
barang-barang kebutuhan hidup sehari-hari dari para juragan atau para
pedangang pengumpul. Konsekuensinya, para peminjam tersebut menjadi
terikat dengan pihak juragan atau pedagang. Keterkaitan tersebut antara lain
berupa keharusan menjual produknya kepada pedagang atau juragan tersebut.
Pola hubungan yang tidak simetris ini tentu saja sangat mudah menjadi alat
mendominasi dan eksploitasi.

Aturan-aturan yang digunakan umumnya timbul dan berakar dari


permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Aturan-aturan
dan kebijakan ini kemudian ditetapkan, dan dikukuhkan sebagai hukum adat
yang disepakati bersama. Dalam penerapannya, aturan-aturan tersebut juga
langsung diaplikasikan, diawasi dan dievaluasi sendiri oleh masyarakat.

Sistem pengelolaan di atas dapat berjalan dengan baik di dalam


struktur masyarakat yang masih sederhana dan belum banyak dimasuki oleh
pihak luar. Hal ini dikarenakan baik budaya, tatanan hidup dan kegiatan
masyarakat relatif homogen dan masing-masing individu merasa mempunyai
kepentingan yang sama dan tanggung jawab dalam melaksanakan dan
mengawasi hukum yang sudah disepakati bersama.33

32
Kusnadi, Nelayan : Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial, (Bandung : Humaniora
Utama Press, 2000), h. 18
33
Rokhmin Dahuri, Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan, untuk Kesejahteraan
Rakyat (Kumpulan Pemikiran Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS), (Jakarta : Lembaga Informasi dan
Studi Pembangunan Indonesia, 2000), h.7-8
24

E. Perubahan Sosial
1. Pengertian Perubahan Sosial

Kata lain dari perubahan adalah transformasi. Transformasi berasal


dari bahasa Inggris transformation yang berarti perubahan bentuk atau
penggantian rupa.34 Kemudian diserap kedalam bahasa Indonesia dengan kata
transformasi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, transformasi berarti
perubahan rupa (bentuk, sifat, fungsi dan sebagainya).35 Perubahan sosial
merupakan segala transformasi pada individu, kelompok, masyarakat, dan
lembaga-lembaga sosial yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di
dalamnya nilai, sikap, dan pola perilaku diantara kelompok dalam
masyarakat.36

Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam
hidupnya akan mengalami perubahan baik sosial ataupun ekonomi. Adanya
perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu
perbandingan dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang
kemudian kita bandingkan dengan keadaan masyarakat pada waktu yang
lampau. Perubahan sosial ekonomi yang terjadi di dalam masyarakat
merupakan suatu proses yang terus menerus, ini berarti bahwa setiap
masyarakat akan mengalami perubahan-perubahan dalam setiap aspek
kehidupan.

William F. Ogburn mengemukakan bahwa ruang lingkup perubahan


sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan yang materiil ataupun immaterial
dengan menekankan bahwa pengaruh yang besar dari unsur-unsur immareriil.

Kingsley Davis mengartikan perubahan sosial sebagai perubahan yang


terjadi dalam fungsi dan struktur masyarakat. Perubahan sosial dikatakannya

34
Rayner Hardjono, Kamus Populer Inggris-Indonesia, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka
Utama, 2002), h. 401
35
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan
Nasional, 2008), h. 1544
36
Dadang Supardan, Pengantar Ilmu Sosial Dasar : Sebuah Kajian Pendekatan
Struktural, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007), h. 142
25

sebagai perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap


keseimbangan hubungan sosial tersebut.

Sementara itu Selo Soemardjan mengungkapkan bahwa perubahan


sosial adalah perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan
di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di
dalam nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola perilaku diantara kelompok dalam
masyarakat.37

Dari beragam definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa perubahan


sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur sosial atau organisasi
sosial masyarakat, yang memengaruhi sistem sosial masyarakat secara
keseluruhan.

2. Faktor-faktor yang Menyebabkan Perubahan Sosial

Pada dasarnya, perubahan sosial terjadi oleh karena anggota


masyarakat pada waktu tertentu merasa tidak puas lagi terhadap keadaan
hidupnya yang lama. Norma-norma dan lembaga sosial atau sarana
penghidupan yang lama dianggap tidak memadai lagi untuk memenuhi
kebutuhan hidup yang baru.38

Untuk mempelajari perubahan sosial masyarakat, perlu diketahui


sebab-sebab yang melatari terjadinya perubahan itu. Apabila diteliti lebih
mendalam sebab terjadinya suatu perubahan masyarakat, mungkin
dikarenakan adanya suatu yang dianggap sudah tidak lagi memuaskan
masyarakat sebagai pengganti faktor yang lama itu. Mungkin juga masyarakat
mengadakan perubahan karena terpaksa demi untuk menyesuaikan suatu

37
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada,
2009), h. 262-263.
38
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, h. 274.
26

faktor dengan faktor-faktor lain yang sudah mengalami perubahan terlebih


dahulu.39

Proses perubahan sosial terjadi karena manusia adalah makhluk yang


berpikir dan bekerja, manusia juga selalu mempertahankan kehidupannya serta
memperbaiki nasibnya. Disamping itu, perubahan sosial juga terjadi karena
keinginan manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan sekelilingnya
ataupun disebabkan oleh faktor ekologis.40

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa ada sumber sebab-sebab yang


terletak di dalam masyarakat itu sendiri dan ada yang letaknya di luar.41
Sebab-sebab yang bersumber dari dalam masyarakat itu sendiri, antara lain
sebagai berikut :

a. Bertambah atau Berkurangnya Penduduk

Pertambahan penduduk yang sangat pesat di pulau Jawa


menyebabkan terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, terutama
pada lembaga-lembaga kemasyarakatannya.

Berkurang dan bertambahnya penduduk disebabkan berpindahnya


penduduk dari desa ke kota atau dari daerah ke daerah lain. Perpindahan
penduduk mengakibatkan kekosongan, misalnya, dalam bidang pembagian
kerja dan stratifikasi sosial, yang memengaruhi lembaga-lembaga
kemasyarakatan.

b. Penemuan-penemuan Baru

Suatu proses sosial dan kebudayaan yang besar, tetapi yang terjadi
dalam jangka waktu tidak terlalu lama disebut dengan inovasi atau
39
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada,
2009), h. 275.
40
Phill Astrid S. Susanto, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, (Bandung: Bina
Cipta, 1977), h. 188.
41
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, h. 275-282.
27

innovation. Proses tersebut meliputi suatu penemuan baru, jalannya unsur


kebudayaan baru yang tersebar keseluruh bagian masyarakat dan cara-cara
unsur kebudayaan baru diterima, dipelajari, dan akhirnya dipakai oleh
masyarakat.

Menurut Koentjraningrat dalam Abdulsyani, faktor-faktor yang


mendorong individu untuk mencari penemuan baru adalah sebagai berikut
:42

1. Kesadaran dari orang perorangan akan kekurangan dalam


kebudayaannya.
2. Kualitas dari ahli-ahli dalam suatu kebudayaan.
3. Perangsang bagi aktivitas-aktivitas penciptaan dalam masyarakat.

c. Pertentangan (conflict) Masyarakat

Pertentangan-pertentangan yang ada di dalam masyarakat yang


terjadi antara individu dengan kelompok atau antara kelompok dengan
kelompok. Umumnya masyarakat tradisional Indonesia bersifat kolektif.
Segala kegiatan di dasarkan pada kepentingan masyarakat. Kepentingan
individu walaupun diakui, tetapi mempunyai fungsi sosial sering timbul
pertentangan antara kepentingan individu dengan kepentingan
kelompoknya, yang dalam hal-hal tertentu dapat menimbulkan perubahan
sosial.

Suatu perubahan sosial dapat pula bersumber pada sebab-sebab yang


berasal dari luar masyarakat itu sendiri, antara lain sebagai berikut :

a. Sebab-sebab yang Berasal dari Lingkungan Alam Fisik yang Ada


di Sekitar Manusia

42
Abdulsyani, SOSIOLOGI : Skematika, Teori, dan Terapan, (Jakarta : PT. Bumi Aksara,
2012), h. 164-165.
28

Terjadinya gempa bumi, banjir besar, dan sebagainya


menyebabkan masyarakat-masyarakat yang mendiami daerah-daerah
tersebut terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Apabila
masyarakat tersebut mendiami tempat tinggalnya yang baru tersebut,
kemungkinan hal tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan
pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.

Begitu juga dengan perubahan fisik lingkungan tempat hidup


masyarakat, dalam hal ini yaitu reklamasi pantai yang dapat
mengakibatkan perubahan baik pada aspek lingkungan maupun sosial
ekonomi masyarakat. Dampak negatif yang bersumber pada lingkungan
alam fisik biasanya ditimbulkan oleh tindakan dari para masyarakat itu
sendiri yang kurang memperhatikan keberlangsungan ekosistem.

Perubahan lingkungan akan memperlihatkan penyesuaian


masyarakat pada lingkungan yang baru, terutama dalam hal penyesuaian
terhadap aktivitas sosial-ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan mata
pencaharian, pendapatan dan pengeluaran rumah tangga, selain itu
masyarakat juga berusaha untuk menyesuaikan mental atau sikap terhadap
lingkungan baru tersebut. Keberhasilan masyarakat dalam proses
penyesuaian akan menentukan arah perubahan mereka, apakah mereka
akan mengalami kemunduran (regress) atau kemajuan (progress).

b. Pengaruh Kebudayaan Masyarakat Lain

Apabila sebab-sebab perubahan bersumber pada masyarakat lain,


itu mungkin terjadi karena kebudayaan dari masyarakat lain melancarkan
pengaruhnya. Hubungan yang dilakukan secara fisik antara dua
masyarakat mempunyai kecendrungan untuk menimbulkan pengaruh
timbal balik. Artinya, masing-masing masyarakat memengaruhi
masyarakat lainnya, tetapi juga menerima pengaruh dari masyarakat yang
lain.
29

3. Strategi Adaptasi

Banyaknya intervensi manusia mengakibatkan berubahnya kondisi


fisik atau lingkungan yang sekian lama menjadi sumber penghidupan
masyarakat, sehingga berpengaruh pada pendapatan masyarakat, untuk
menyikapi tekanan sosial ekonomi serta kemiskinan yang dihadapi
masyarakat, kelompok rumah tangga berusaha mengembangkan strategi
adaptasi. Dengan cara demikian, mereka tetap sanggup melangsungkan
kehidupnya (survival of the fittes).43

Corner berpendapat bahwa kalangan penduduk miskin pedesaan


terdapat beberapa pola strategi adaptasi yang dikembangkan untuk menjaga
kelangsungan hidup :44

a. Melakukan beraneka ragam pekerjaan untuk memperoleh penghasilan.


Pekerjaan-pekerjaan yang tersedia di desa dan dapat merendahkan
martabat pun akan tetap diterima, walaupun upahnya rendah. Balasan
berupa pangan membuat suatu pekerjaan menjadi lebih menarik.
b. Jika kegiatan-kegiatan tersebut masih kurang memadai, penduduk
miskin akan berpaling pada sistem penunjang yang ada di
lingkungannya. Sistem ikatan kekerabatan, ketetanggaan, dan
pengaturan tukar-menukar secara timbal balik merupakan sumber daya
yang sangat berharga bagi penduduk miskin. Pola-pola hubungan
sosial demikian memberi rasa aman dan terlindungi bagi orang miskin.
Rasa aman dan ikatan-ikatan emosional yang relatif masih kuat dalam
kehidupan suatu komunitas dapat menjelaskan bahwa tingkat
penghasilan bukanlah faktor determinan satu-satunya dari mata
pencaharian orang miskin.

43
Kusnadi, Nelayan : Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial, (Bandung : Humaniora
Utama Press, 2000) h. 5
44
Kusnadi, Nelayan : Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial, h. 7-9
30

c. Bekerja lebih banyak meskipun lebih sedikit masukan. Startegi yang


bersifat ekonomis ini ditempuh untuk mengurangi tingkat kebutuhan
konsumsi sehari-hari.
d. Memilih alternatif lain jika ketiga altenatif di atas sulit dilakukan dan
memungkinkan untuk tetap bertahan hidup di desa sudah sangat kritis.
Rumah tangga miskin tersebut harus menghadapi pilihan terakhir agar
segera meninggalkan desa dan bermigrasi ke kota. Dengan cara
demikian, rumah tangga miskin dapat menganekaragamkan sumber-
sumber pendapatannya dari luar desa.

Keempat pola strategi adaptasi untuk kelangsungan hidup di atas terus


berputar sekitar akses sumber daya dan pekerjaan. Dalam perebutan sumber
daya ini, kelompok-kelompok miskin tidak hanya bersaing dengan pihak yang
kaya dan kuat (vertikal), tetapi juga di antara komunitas mereka sendiri
(horizontal).

F. Pendapatan Rumah Tangga

Menurut istilah statistik, pendapatan rumah tangga adalah pendapatan


yang diterima oleh rumah tangga bersangkutan baik yang berasal dari pendapatan
kepala rumah tangga maupun pendapatan anggota-anggota rumah tangga.
Pendapatan rumah tangga dapat berasal dari balas jasa faktor produksi tenaga
kerja (upah dan gaji, keuntungan, bonus, dan lain lain), balas jasa kapital (bunga,
bagi hasil, dan lain lain), dan pendapatan yang berasal dari pemberian pihak lain
(transfer).45 Badan Pusat Statistik (BPS), menyatakan bahwa pendapatan dan
penerimaan rumah tangga adalah seluruh pendapatan dan penerimaan yang terima
oleh seluruh anggota ekonomi yang terdiri atas :46

45
Istilah Statistik, Badan Pusat Statistik,
(http://www.bps.go.id/menutab.php?tab=6&ist=1&var=P)
46
Darma Utama, (Skripsi), Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak Terhadap
Kondisi Sosial Ekonomi Nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara, DKI Jakarta, Skripsi pada Prodi
31

1. Pendapatan dari upah atau gaji yang mencakup upah atau gaji yang
diterima oleh seluruh keluarga ekonomi yang bekerja sebagai buruh dan
merupakan imbalan bagi pekerjaan yang dilakukan untuk suatu
perusahaan, majikan, atau instansi tertentu, baik berupa barang maupun
jasa.
2. Pendapatan dari usaha seluruh anggota keluarga yang berupa pendapatan
kotor yaitu selisih jual barang dan jasa yang diproduksi dengan biaya
produksinya.
3. Pendapatan lainnya yaitu pendapatan diluar gaji atau upah yang
menyangkut usaha lain dari: penerimaan sewa rumah milik sendiri, bunga,
dividen, royalti, paten, sewa/kontrak, lahan, rumah, gedung, bangunan dan
peralatan.

Sumber pendapatan yang beragam tersebut dapat terjadi karena anggota


rumah tangga yang bekerja melakukan lebih dari satu pekerjaan atau masing-
masing anggota rumah tangga mempunyai kegiatan yang berbeda antara yang satu
dengan lainnya. Kumpulan dari pendapatan tersebut merupakan total pendapatan
rumah tangga. Penelitian ini akan melihat pendapatan rumah tangga masyarakat
pesisir berdasarkan jenis pekerjaannya (nelayan, pedagang dan pengolah ikan,
pedagang dan pengolah kerang, dan pekerjaan non perikanan). Pendapatan rumah
tangga dalam penelitian ini berasal dari pendapatan usaha, yang terdiri dari
pendapatan utama dan pendapatan tambahan mereka selama sebulan, dengan
perbandingan waktu sebelum dan sesudah dibangunnya pelabuhan Muara Angke.

G. Pengeluaran Rumah Tangga

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pola pengeluaran rumah tangga


merupakan indikator yang dapat memberikan gambaran keadaan kesejahteraan
penduduk. Semakin tinggi pendapatan maka porsi pengeluaran akan bergeser dari

Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor, Bogor, 2006, tidak dipublikasikan. h. 9-10
32

pengeluaran untuk makanan ke pengeluaran untuk bukan makanan. Pengeluaran


tersebut terdiri atas :47

1. Konsumsi makanan, terdiri dari kelompok padi-padian, umbi-umbian,


ikan, daging, telur, dan susu, sayur-sayuran, kacang-kacangan, buah-
buahan, minyak dan lemak, bahan minuman, bumbu-bumbu, tembakau
dan sirih.
2. Konsumsi untuk barang bukan makanan, terdiri dari perumahan dan
fasilitas rumah tangga, aneka barang dan jasa, biaya pendidikan, biaya
kesehatan, barang tahan lama, keperluan pesta dan upacara.

Pada kondisi pendapatan terbatas, pemenuhan kebutuhan makanan akan


menjadi perioritas utama, sehingga pada kelompok masyarakat berpendapatan
rendah akan terlihat bahwa sebagian besar pendapatannya digunakan untuk
membeli makanan. Seiring dengan peningkatan pendapatan maka lambat laun
akan terjadi pergeseran pola pengeluaran, yaitu penurunan porsi pendapatan yang
dibelanjakan untuk makanan dan peningkatan porsi pendapatan yang dibelanjakan
untuk bukan makan.48 Pengeluaran barang dan jasa di luar makanan merupakan
bagian terbesar dari pengeluaran rumah tangga. Pengeluaran tersebut mencakup
pengeluaran untuk perawatan, kesehatan, peningkatan pendidikan, rekreasi, olah
raga, dan lainnya.

Dalam penelitian ini sumber pengeluaran rumah tangga diperoleh dari


pengeluaran makanan dan bukan makanan dalam periode satu bulan. dengan
perbandingan waktu sebelum dan sesudah dibangunnya pelabuhan Muara Angke.

47
Darma Utama, (Skripsi), Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak Terhadap
Kondisi Sosial Ekonomi Nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara, DKI Jakarta, Skripsi pada Prodi
Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor, Bogor, 2006, tidak dipublikasikan. h. 10-11
48
Ringkasan Eksekutif Pengeluaran dan Konsumsi Penduduk Indonesia (Hasil SUSENAS
Panel Maret 2010), (Jakarta : Badan Pusat Statistik), h. 4
33

H. Sikap
1. Pengertian Sikap

Baron dan Byrne mengemukakan definisi sikap sebagai penilaian


subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Menurut Colman, sikap adalah
sebuah pola yang menetap berupa respons evaluatif tentang orang, benda, atau
isu.

Strickland menjelaskan bahwa sikap adalah kecendrungan untuk


memberikan respon secara kognitif, emosi, dan perilaku yang diarahkan pada
suatu objek, pribadi dan situasi khusus dalam cara-cara tertentu. Menurut
Eagly & Chaiken, sikap melibatkan kecendrungan respon yang bersifat
preferensial. Dalam konteks itu, seseorang memiliki kecendrungan untuk puas
atau tidak puas, positif atau negatif, suka atau tidak suka terhadap suatu objek
sikap.49

Dengan demikian, sikap merupakan emosi atau efek yang diarahkan


oleh seseorang kepada orang lain, benda, maupun peristiwa sebagai objek
sasaran sikap, atau dengan kata lain sikap merupakan kecendrungan untuk
bereaksi puas atau tidak puas, positif atau negatif, suka atau tidak suka
terhadap suatu objek sikap.

2. Komponen Sikap

Terdapat tiga komponen sikap, yaitu komponen respon evaluatif


kognitif, komponen respon evaluatif afektif dan komponen respon evaluatif
perilaku :50

a. Komponen respon evaluatif kognitif adalah gambaran tentang cara


seseorang dalam mempersepsi objek, peristiwa, atau situasi sebagai

49
Fattah Hanurawan, Psikologi Sosial Suatu Pengantar, (Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 2010), h. 64-65
50
Fattah Hanurawan, Psikologi Sosial Suatu Pengantar, h. 65
34

sasaran sikap. Komponen ini adalah pikiran, keyakinan, atau ide


seseorang tentang suatu objek. Dalam bentuk yang paling sederhana,
komponen kognitif adalah kategori-kategori yang digunakan dalam
berpikir.
b. Komponen respon evaluatif afektif adalah perasaan atau emosi yang
dihubungkan dengan suatu objek sikap. Perasaan atau emosi meliputi
kecemasan, kasihan, benci, marah, cemburu atau suka.
c. Komponen respon evaluatif perilaku adalah tendensi untuk
berperilaku pada cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Dalam hal
ini, tekanan lebih pada tendensi untuk berperilaku dan bukan pada
perilaku secara terbuka.

Ketiga komponen ini secara bersama merupakan penentu bagi jumlah


keseluruhan sikap sesorang terhadap suatu objek sikap.

3. Fungsi Sikap

D. Katz menjelaskan empat fungsi sikap, empat fungsi sikap itu adalah
fungsi penyesuaian diri, fungsi pertahanan diri, fungsi ekspresi nilai, dan
fungsi pengetahuan :51

a. Fungsi Penyesuaian Diri

Fungsi ini berarti bahwa orang cenderung mengembangkan sikap


yang akan membantu untuk mencapai tujuannya secara maksimal.

b. Fungsi Pertahanan Diri

Fungsi ini mengacu pada pengertian bahwa sikap dapat


melindungi diri seseorang dari keharusan untuk mengakui kenyataan
tentang dirinya.

51
Fattah Hanurawan, Psikologi Sosial Suatu Pengantar, (Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 2010), h. 66
35

c. Fungsi Ekspresi Nilai

Fungsi ini berarti bahwa sikap membentuk ekspresi positif nilai-


nilai dasar seseorang, memamerkan citra dirinya dan aktualisasi diri.

d. Fungsi Pengetahuan

Fungsi ini berarti bahwa sikap membantu seseorang menetapkan


standar evaluasi terhadap suatu hal. Standar itu menggambarkan
keteraturan, kejelasan, dan stabilitas kerangka acu pribadi seseorang
dalam menghadapi objek atau peristiwa di sekelilingnya.

I. Hasil Penelitian Relevan

Dalam penulisan ini, terdapat beberapa bahan bacaan yang berkaitan


dengan permasalahan dalam perubahan sosial-ekonomi yang diakibatkan oleh
berubahnya kondisi fisik suatu wilayah, masing-masing diantaranya adalah :

Pertama, Skripsi yang berjudul “Relevansi status sosial ekonomi terhadap


kepedulian lingkungan hidup dalam konteks Indonesia sebagai negara
berkembang (studi kasus Rukun Warga 11, Kelurahan Warakas, Tanjung Priok,
Jakarta Utara)”. Penelitian ini dilakukan oleh Andromeda M. F. K., mahasiswa
strata satu (S1) Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas Indonesia (FISIP-UI), tahun 2009. Permasalahan yang diangkat
adalah mengenai permasalahan lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan
manusia yang tidak ramah lingkungan serta kepedulian mereka terhadap
permasalahan lingkungan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kepedulian lingkungan masyarakat pada setiap lapisan status sosial ekonomi,
dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang.

Berdasarkan temuan penelitian, tidak ada hubungan antara status sosial


ekonomi dan kepedulian lingkungan. Namun, ada hubungan antara kepedulian
lingkungan khusus dan tindakan lingkungan. Implementasi nyata dari kepedulian
36

masyarakat justru karena rusaknya lingkungan hidup sekitar. Di samping itu,


masyarakat setempat, pemerintah lokal, dan pelaku pasar juga memiliki peran
dalam pembentukan kepedulian lingkungan.

Kedua, Skripsi yang berjudul “Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar


Minyak terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Nelayan di Muara Angke, Jakarta
Utara, Jakarta”. Penelitian ini ditulis oleh Darma Utama, mahasiswa strata satu
(S1) Program Studi Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan-Kelautan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2006.
Penelitian ini mengangkat permasalahan mengenai pengaruh kenaikan harga
BBM terhadap usaha perikanan tangkap dan juga kondisi sosial ekonomi nelayan.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui presentase komponen biaya BBM
terhadap total biaya sebelum dan sesudah kenaikan harga BBM serta untuk
mengetahui dampak kenaikan harga BBM terhadap kondisi sosial ekonomi
nelayan.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus, yakni


penelitian mengenai status subjek penelitian yang berkenaan dengan suatu fase
spesifik dari keseluruhan personalitas. Tujuannya adalah untuk memberikan
gambaran mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter khas
dari kasus ataupun status dari fokus penelitian, yaitu nelayan ABK dengan
kapasitas kapal 5 GT ke bawah.

Adapun hasil analisis dampak kenaikan harga BBM terhadap presentase


komponen biaya BBM terhadap total biaya usaha perikanan tangkap nelayan 5 GT
ke bawah diketahui bervariasi menurut alat tangkap yang digunakan, yaitu dengan
alat tangkap bubu rajungan, jaring rampus, gillnet dan jaring tangsi menunjukkan
adanya kenaikan total biaya usaha pasca kenaikan harga BBM. Hasil penelitian ini
juga menunjukkan bahwa dampak kenaikan harga BBM terhadap kondisi sosial
ekonomi nelayan diketahui juga bervariasi menurut indikator yang digunakan.
Kesejahteraan menurut indikator keadaan tempat tinggal, fasilitas tempat tinggal,
kesehatan, kehidupan beragama, dan kemudahan melakukan kegiatan olah raga
37

tidak mengalami perubahan. Presentase perubahan kesejahteraan nelayan


bervariasi berdasarkan indikator pendapatan, pengeluaran, kemudahan
mendapatkan fasilitas kesehatan, kemudahan memasukkan anak ke jenjang
pendidikan, kemudahan mendapatkan fasilitas transportasi, dan rasa aman dari
gangguan kejahatan.

Ketiga, Tesis yang berjudul “Kajian Reklamasi Pantai Dadap, Kabupaten


Tangerang (Sebuah Analisis Persepsi Stakeholder)”, yang ditulis oleh mahasiswi
strata dua (S2) Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) bernama
Indrani Dharmayanti pada tahun 2006. Permasalahan yang diangkat dalam
penelitian ini adalah bagaimana persepsi masyarakat dan stakeholder terhadap
rencana kebijakan reklamasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat persepsi
masyarakat mengenai kondisi lingkungan, sosial, dan ekonomi di sekitar Pantai
Dadap, serta mengetahui pengaruh reklamasi tersebut terhadap lingkungan, sosial
dan ekonomi masyarakat setempat.

Dari hasil pengumpulan data primer melalui wawancara dengan


masyarakat yang dianalisa dengan cara analisa persepsi dan uji jenjang bertanda,
membuktian bahwa kondisi lingkungan di sekitar areal reklamasi pada periode
sebelum tahun 2000 kondisinya masih tergolong baik, sedangkan setelah itu yaitu
periode tahun 2000-2005 kondisi lingkungan mengalami penurunan. Sementara
kondisi sosial masyarakat tidak terlalu berpengaruh, hanya terjadi peningkatan
konflik antar warga nelayan yang diakibatkan oleh penyempitan dan
pendangkalan sungai yang sering menyebabkan tabrakan kapal yang berujung
konflik. Sedangkan secara ekonomi, dampak negatif yang dihasilkan lebih besar
daripada dampak positifnya, terlihat dari berkurangnya manfaat lingkungan pesisir
sehingga berpengaruh pada pendapatan mereka. Hasil penelitian ini membuktikan
bahwa kecendrungan akan masalah sosial-ekonomi akan lebih signifikan, jika
pengembangan wilayah pesisir tidak dikelola secara terpadu.

Keempat, Desertasi yang berjudul “Model Kebijakan Pengembangan


Kawasan Pantai Utara Jakarta Secara Berkelanjutan”, yang ditulis oleh Sapto
38

Supomo, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 2009.
Penelitian ini berisi pembahasan mengenai model pengembangan kawasan
Pantura Jakarta secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini meliputi :
menganalisis status keberlanjutan pengembangan kawasan Pantura Jakarta,
menganalisis nilai ekonomi total kawasan hutan mangrove di Pantura Jakarta,
mengidentifikasi kebutuhan stakeholder dalam pemanfaatan ruang kawasan
Pantura Jakarta, menganalisis keterkaitan antar aspek ekologi, ekonomi, dan sosial
di kawasan Pantura Jakarta, dan menyusun arahan kebijakan pengembangan
kawasan Pantura Jakarta yang berkelanjutan.

Model analisis pengembangan kawasan pantai utara Jakarta yang


digunakan pada penelitian ini adalah analisis kondisi keberlanjutan menggunakan
multi dimensional scaling dan analisis kebutuhan stakeholder dengan metode need
assesment, perhitungan nilai ekonomi total kawasan dengan menggunakan total
economic valuation, analisis sistem dinamik, dan analytical hierarchy process
untuk menentukan prioritas kebijakan.

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan diperoleh beberapa


kesimpulan. Pembangunan kawasan pantura Jakarta belum mencapai kondisi
keberlanjutan. Dari lima dimensi yang dianalisis, hanya dimensi kelembangaan
yang telah mencapai status berkelanjutan sedangkan dimensi ekologi, ekonomi,
sosial, dan teknologi belum berkelanjutan.

Dari penelitian pertama, ketiga dan keempat, diketahui bahwa


permasalahan lingkungan merupakan hasil dari kegiatan manusia yang tidak
ramah lingkungan, terutama dalam kegiatan pembangunan yang tidak
memperhatikan dampak sosial, ekonomi dan lingkungan. Pola permasalahan
lingkungan menyerupai siklus, yaitu manusia sebagai titik temu antara sebab dan
akibat permasalahan lingkungan. Perubahan lingkungan akibat pembangunan,
meniscayakan berdampak pada kegiatan sosial ekonomi masyarakat, serta kondisi
ekologis kawasan pembangunan tersebut.
39

Penelitian pertama dan kedua menjadi acuan utama dalam


mendeskripsikan dan menyajikan data-data sosial ekonomi masyarakat, namun
dalam penelitian ini metode yang dipakai yaitu metode survey dengan pendekatan
kuantitatif deskriptif, yang bertujuan untuk memperoleh data representatif dari
subjek penelitian dan yang dijadikan indikator perubahan hanya pendapatan dan
pengeluaran rumah tangga. Disamping itu, penelitian keempat juga merupakan
acuan, karena memiliki relevansi dalam menunjang penelitian ini, antara lain
keterkaitan dalam hal kebijakan pengembangan kawasan (reklamasi) dan data-
data terkait kondisi sosial ekonomi masyarakat Muara Angke. Namun dalam
penulisan ini analisis yang digunakan disesuaikan dengan kapasitasnya sebagai
penulisan skripsi yaitu analisis kuantitatif deskriptif, serta masalah yang akan
diungkap lebih bersifat deskripsi berdasarkan hasil survey, bukan untuk
menentukan arahan kebijakan pengembangan yang harusnya dilakukan para
stakeholder.

J. Kerangka Berpikir

Seiring dengan perkembangan peradaban dan kegiatan sosial ekonominya,


manusia memanfatkan wilayah pesisir untuk berbagai kepentingan. Konsekuensi
yang muncul adalah masalah penyediaan lahan bagi aktivitas sosial dan ekonomi
masyarakat. Jalan yang ditempuh untuk memperoleh lahan baru yaitu dengan
mengadakan kebijakan reklamasi pantai. Begitu juga dengan pembangunan
Pelabuhan Muara Angke yang merupakan hasil pengurukan dan pengerukan
lahan.

Dengan adanya reklamasi pantai diharapkan tidak hanya dapat mengatasi


masalah keterbatasan lahan, tetapi juga dapat memanfaatkan sumber daya yang
terdapat pada proyek reklamasi. Disamping itu, yang tidak kalah pentingnya dari
kebijakan reklamasi ini adalah pengembangan serta peningkatan taraf sosial-
ekonomi masyarakat pesisir, yang diketahui melalui perbandingan pendapatan
perkapita dan pengeluaran perkapita rumah tangga sebelum dan sesudah adanya
40

reklamasi (pembangunan pelabuhan Muara Angke). Pemberdayaan masyarakat


pesisir harus dikelola secara optimal sehingga kondisi kehidupan masyarakat yang
sesuai dengan standar kesejahteraan dapat terwujud secara berlahan, tentunya hal
ini memerlukan perencanaan yang terpadu dan analisis dampak yang tidak hanya
mempertimbangkan aspek fisik atau lingkungan saja, tetapi juga dampak sosial-
ekonomi masyarakat perlu menjadi pertimbangan, serta peranan pedoman
pelaksanakan reklamasi dan kebijakan penataan ruang wilayah pesisir dan lautan
yang dapat menentukan masa depan potensi lingkungan, sosial dan ekonomi
masyarakat.

Reklamasi termasuk faktor eksternal yang menyebabkan perubahan sosial-


ekonomi. Dengan berubahnya kondisi fisik lingkungannya, masyarakat berusaha
menyesuaikan diri (adaptasi) dan melakukan peralihan-peralihan segala aktivitas
sosial-ekonomi sebagai upaya untuk bertahan dengan kondisi lingkungan yang
baru. Dalam proses penyesuaian ini tidak semua individu dikatakan berhasil dan
merasakan dampak positif dari reklamasi, sebagian dari mereka menemukan
kegagalan dalam proses penyesuain ini, sehingga harus merasakan dampak negatif
dari suatu perubahan lingkungan (reklamasi).

Dengan demikian, dapat dirangkaikan suatu asumsi bahwa jika penataan


ruang hasil reklamasi sesuai dengan pedoman atau ketentuan yang berlaku, maka
hal ini akan memudahkan penyesuaian kondisi sosial-ekonomi masyarakat
terhadap kehadiran reklamasi, sehingga dapat meminimalkan dampak negatif
yang ditimbulkan reklamasi serta kecendrungan dampak positif reklamasi dapat
dirasakan secara signifikan.
41

Gambar 2.1. Kerangka Berpikir

Visi Pengelolaan Perencanaan Tata Ruang


Wilayah Pesisir Kawasan Reklamasi Pantai

Reklamasi Pantai
(Pelabuhan Muara Angke)

Subsistem Subsistem Subsistem


Lingkungan Sosial Ekonomi

Analisis Perubahan Sosial-Ekonomi


Stakeholder Masyarakat

Positif Negatif
42

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di pemukiman nelayan Muara Angke,


Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. Lokasi ini dipilih karena
wilayah ini merupakan salah satu yang terdaftar dalam kebijakan reklamasi Pantai
Utara Jakarta, yang ditandai dengan pembangunan pelabuhan Muara Angke
sebagai akses masyarakat untuk penyebrangan ke Kepulauan Seribu, dengan
adanya pelabuhan ini niscaya berpengaruh terhadap perubahan sosial-ekonomi
masyarakat, khususnya kependudukan, mata pencaharian, pendapatan dan
pengeluaran rumah tangga. Oleh karena itu, wilayah ini menarik untuk diteliti.
Untuk mempermudah dalam proses analisis data, penelitian lapang dilakukan
terhitung enam bulan, mulai dari bulan Februari - April 2014 merupakan tahap
survey dan observasi, kemudian tiga bulan berikutnya bulan Mei - Juli 2014
merupakan tahap pengumpulan data, baik itu data primer maupun sekunder.

B. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dan penelitian


survey. Penelitian deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu
masyarakat atau kelompok orang tertentu atau gambaran mengenai gejala atau
hubungan antara dua gejala atau lebih.52

Sedangkan, penelitian survey merupakan penelitian yang mengumpulkan


informasi dari suatu sampel dengan menanyakan melalui angket atau interview

52
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang
Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h. 35.

42
43

agar nantinya dapat menggambarkan sebagai aspek dari populasi.53 Pendekatan


dalam penelitian ini ditujukan pada sejumlah besar individu atau kelompok; unit
yang ditelaahnya. Fokus perhatian penelitian survey hanya ditujukan pada
beberapa variable saja, mengingat unit yang ditelaahnya dalam jumlah besar.54
Data dalam survey analitik biasanya merupakan data kuantitatif.55 Penelitian
survey berusaha memperoleh data mangenai karakteristik atau hubungan sebab
akibat antar variabel, dengan mengacu indikator-indikator yang bersifat umum,
sehingga memungkinkan untuk melakukan generalisasi. Artinya, individu atau
kelompok yang diambil sebagai sample penelitian, haruslah bisa mewakili
populasi individu atau kelompok yang diteliti (representatif). Teknik sampling
merupakan persoalan penting pada setiap survey, oleh karena itu dalam penelitian
ini menggunakan teknik sampling yang dapat merepresentasikan karakteristik
populasi yaitu dengan teknik purposive sampling.

Sementara untuk memperoleh persentase kecendrungan perubahan sosial-


ekonomi masyarakat, penelitian ini mengunakan metode kuantitatif, dimana data
diperoleh dari daftar kuesioner yang dilakukan di lokasi penelitian. Setelah data
kuantitatif diolah barulah dideskripsikan untuk menggambarkan kondisi yang ada
di lapangan, sehingga data yang dihasilkan mudah dipahami, karena selain
deskripsi berupa narasi yang logis, diperkuat dengan persentase perolehan data.

53
Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan : Teori dan Aplikasi,
(Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009), h. 47
54
Sanapiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada,
2003), h. 23
55
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang
Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, h. 54.
44

C. Unit Analisis

Sebenarnya dalam perumusan masalah sudah terbayang apa yang menjadi


unit analisis penelitian. Unit analisis ini menunjukkan siapa atau apa yang
mempunyai karakteristik yang akan diteliti.56

Dalam penelitian ini, karakteristik atau variabel yang akan diteliti adalah
perubahan sosial-ekonomi masyarakat. Dengan demikian, unit analisisnya adalah
orang-orang sebagai individu atau perseorangan yang dikategorikan berdasarkan
jenis pekerjaan masyarakat pesisir, yaitu nelayan, pedagang dan pengolah ikan,
pedagang dan pengolah kerang, dan mata pencaharian non perikanan.

D. Instrumen Penelitian

Sesuai dengan metode penelitian dan teknik pengumpulan data yang


digunakan dalam penelitian ini, maka instrumen yang akan digunakan untuk
memperoleh data yang diinginkan adalah : draft kuesioner, daftar pertanyaan
wawancara, serta alat pendukung lainnya dalam perolehan dokumentasi (alat
perekam dan kamera).

E. Teknik Pengumpulan Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu data sekunder dan
data primer. Adapun data sekunder adalah data yang diambil melalui instansi
pemerintah atau lembaga-lembaga swasta dan buku-buku yang relevan dengan
pokok masalah yang terdapat pada penelitian ini. Data sekunder yang diperoleh
berupa kependudukan Kelurahan Pluit, kondisi sosial ekonomi masyarakat Muara
Angke, fasilitas Pelabuhan Muara Angke, dan rencana tata ruang wilayah Jakarta
Utara.

56
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang
Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h. 29
45

Sedangkan, data primer diambil langsung di lapangan melalui sampel yang


akan dihimpun dari masyarakat setempat (responden) dan juga melalui informan
serta narasumber yang lebih mengetahui lokasi penelitian. Data yang diperoleh
yaitu kondisi sosial ekonomi masyarakat yang mencakup pendidikan, jumlah
anggota keluarga, mata pencaharian, kondisi dan fasilitas perumahan, pendapatan,
pengeluaran, serta sikap terhadap kehadiran Pelabuhan Muara Angke.

Dalam menentukan sample, digunakan teknik pengambilan sample


berdasarkan tujuan (Purposive Sampling). Purposive Sampling didasarkan atas
ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai keterkaitan erat dengan populasi
yang diketahui sebelumnya. Dengan kata lain, unit sampel yang dihubungi
disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan
penelitian.57 Dalam teknik ini, awalnya dilakukan perolehan informasi melalui
keterangan Bapak Khafidin (Ketua RW), dengan tujuan untuk meminta gambaran
mengenai kondisi sosial-ekonomi masyarakat sekitar dan penjelasan mengenai
kehadiran pelabuhan Muara Angke, setelah menjelaskan maksud dan tujuan
penelitian, kemudian penulis meminta rekomendasai narasumber kepada Bapak
Khafidin, rekomendasi ini selain bertujuan untuk mempermudah memperoleh
rekomendasi responden representatif juga untuk menambah kelengkapan data
penelitian, dengan demikian maka dipilih Bapak Arfani (Tokoh Masyarakat).
Siapa yang akan diambil sebagai anggota diserahkan pada pertimbangan
pengumpul data (Ketua RW dan Tokoh Masyarakat) yang sesuai dengan maksud
dan tujuan peneliti.58

Prosedur yang dilalui dalam pemilihan responden yaitu dengan


menyesuaikan karakteritik responden dengan kriteria-kriteria yang diperlukan
dalam penelitian, seperti kategori mata pencaharian; apakah mereka termasuk
dalam jenis mata pencaharian nelayan, pedagang dan pengolah ikan, pedagang
dan pengolah kerang, dan non perikanan, lama usaha; berapa lama mereka

57
Nurul Zuriah, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan : Teori dan Aplikasi,
(Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009), h. 124.
58
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang
Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h. 63
46

menjalankan usahanya, diutamakan mereka yang sudah berusaha minimal 10


tahun dan kurang dari 10 tahun sebagai pembanding, dan lokasi responden;
apakah mereka berdekatan dengan pelabuhan Muara Angke dan merasakan
dampaknya. Dengan demikian, pengumpul data (Ketua RW dan Tokoh
Masyarakat) yang telah diberikan pejelasan akan mengambil siapa saja yang
menurut pertimbangan dapat merepresentasikan masing-masing kategori
pekerjaan masyarakat pesisir.

Berdasarkan pertimbangan kriteria-kriteria tersebut diperoleh responden


representatif sebanyak 12 orang, yaitu 2 orang nelayan, 3 orang pedagang dan
pengolah ikan, 3 orang pedangan dan pengolah kerang, dan 4 orang non
perikanan.

Sementara untuk teknik pengumpulan data, digunakan teknik-teknik yang


umumnya dilakukan dalam studi dampak sosial, Teknik tersebut diantaranya yaitu
sebagai berikut :

1. Kuesioner

Penggunaan kuesioner didasarkan oleh suatu keyakinan bahwa


responden atau narasumber adalah orang yang paling mengetahui tentang
dirinya sendiri. Apa yang dinyatakan oleh responden dianggap benar dan
dapat dipercaya. Interpretasi responden atas pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan oleh peneliti dianggap sama dengan apa yang dimaksudkan oleh
peneliti. Dalam hal ini penyebaran kuesioner diajukan kepada seluruh
responden secara langsung, jawaban responden diperoleh dengan cara
membacakan seluruh pertanyaan kuesioner kepada responden. Teknik ini
bertujuan untuk memperoleh data mengenai kondisi sosial ekonomi
masyarakat yang mencakup pendidikan, jumlah anggota keluarga, mata
pencaharian, kondisi dan fasilitas perumahan, pendapatan, pengeluaran, serta
sikap terhadap kehadiran Pelabuhan Muara Angke.
47

2. Wawancara

Wawancara adalah pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan


secara langsung oleh pewawancara kepada responden, dan jawaban-jawaban
responden dicatat atau direkam dengan alat perekam.59

Wawancara ini disusun dalam bentuk pertanyaan terbuka yang


dilakukan dengan cara wawancara secara mendalam agar mendapatkan
informasi secara bebas demi keluesan dalam penelitian ini. Pertanyaan-
pertanyaan dimulai dari yang bersifat umum, kemudian masuk kepada hal-hal
yang berhubungan dengan topik permasalahan. Informan dan narasumber
diberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian. Wawancara
ditujukan kepada informan dan narasumber yang lebih mengetahui kondisi
lokasi penelitian, informan yang diwawancarai yaitu Bapak Khafidin (Ketua
RW), dan Bapak Arfani (Tokoh Masyarakat) sebagai narasumber. Teknik ini
bertujuan untuk memperoleh data mengenai kondisi sosial ekonomi
masyarakat, latar belakang pelabuhan Muara Angke, pola hubungan sosial
masyarakat, masalah-masalah yang dihadapi masyarakat akibat pembangunan
pelabuhan Muara Angke dan sikap masyarakat terhadap kehadiran pelabuhan
Muara Angke.

3. Observasi

Secara luas, observasi atau pengamatan berarti setiap kegiatan untuk


melakukan pengukuran. Akan tetapi, observasi atau pengamatan disini
diartikan secara sempit, yaitu pengamatan dengan menggunakan indera
pengelihatan yang berarti tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan.60

59
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang
Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h. 67-
68
60
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang
Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, h. 69
48

Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang


(tempat), pelaku, kegiatan, objek, kejadian atau peristiwa, dan juga waktu.
Observasi dilakukan untuk mendapatkan data tentang aktivitas sosial ekonomi
masyarakat perkampungan nelayan Muara Angke.

F. Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh disusun melalui beberapa langkah, yaitu editing,


coding, tabulasi, dan analisis. Data yang telah diedit disusun dalam bentuk tabel
berdasarkan hubungan variabel serta dilihat persentasenya, kemudian dianalisis
sesuai dengan kebutuhan pembahasan. Data dan informasi hasil penelitian
dianalisis secara deskriptif untuk menyajikan gambaran berbagai variabel yang
diteliti. Sebagian data yang diperoleh dari hasil wawancara, kemudian
dikategorikan sesuai dengan kebutuhan pembahasan.

Data-data yang bersifat kualitatif dianalisis dengan cara dideskripsikan


dengan narasi yang logis. Sedangkan data-data yang bersifat kuantitatif, kemudian
dianalisis menggunakan penghitungan Microsoft Excel. Data berupa mencakup
tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, mata pencaharian, kondisi dan
fasilitas perumahan, pendapatan dan pengeluaran rumah tangga.

Untuk mengetahui kondisi dan fasilitas perumahan yang dimiliki


responden digunakan indikator menurut Badan Pusat Statistik pada SUSENAS
2003 dengan kriteria dan skor yang telah disesuaikan dengan kebutuhan analisis.61

61
Darma Utama, (Skripsi), Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak Terhadap
Kondisi Sosial Ekonomi Nelayan di Muara Angke, Jakarta Utara, DKI Jakarta, Skripsi pada Prodi
Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor, Bogor, 2006, tidak dipublikasikan. h. 87-88
49

Tabel 3.1. Indikator Kondisi dan Fasilitas Perumahan Menurut


Badan Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 yang
dimodifikasi

Indikator Kondisi dan Fasilitas


No Kriteria Skor
Perumahan
1 Kondisi perumahan : 1. Permanen (Skor : 3
a. Atap : Genteng (3) / Asbes 15-18)
(2) / Seng (1) 2. Semi permanen 2
b. Bilik : Tembok (4) / (Skor : 10-14)
Setengah tembok (3) / Kayu 3. Non permanen 1
(2) / Bambu kayu (1) (Skor : 5-9)
c. Status : Milik sendiri (3) /
Sewa (2) /Numpang (1)
d. Lantai : Porselin (5) / Ubin
(4) / Plester (3) / Papan (2) /
Tanah (1)
e. Luas : > 100 m2 (3) / 50 –
100 m2 (2) / < 50 m2 (1)
2 Fasilitas perumahan : 1. Lengkap (Skor : 3
a. Pekarangan : > 100 m2 (3) / 18-22)
50 – 100 m2 (2) / < 50 m2 2. Sedang (Skor : 2
(1) 12-17)
b. Hiburan : Video (4) / TV 3. Kurang (Skor : 6- 1
(3) / Tape recorder (2) / 11)
Radio (1)
c. Pendingin : AC (4) / Lemari
es (3) / Kipas angin (2) /
Alam (1)
d. Bahan bakar : Gas (3) /
Minyak tanah (2) / Kayu (1)
e. Sumber air : PAM (5) /
Sumur bor (4) / Mata air (3)
/ Air hujan (2) / Sungai (1)
f. MCK : Kamar mandi
sendiri (3) / Kamar mandi
umum (2) / Sungai (1)

Sedangkan untuk menganalisis sikap responden, digunakan pengukuran


dengan skala Likert. Skala Likert disebut juga method of summated ratings karena
nilai peringkat setiap jawaban atau tanggapan dijumlahkan sehingga mendapat
50

nilai total,62 Likert merupakan metode pengukuran sikap yang banyak digunakan
dalam penelitian sosial karena kesederhanaannya, metode ini bermanfaat untuk
membandingkan skor sikap seseorang dengan distribusi skala dari sekelompok
orang lainnya, serta untuk melihat perkembangan atau perubahan sikap sebelum
dan sesudah ekperimen atau suatu kegiatan.

Dalam perumusan Skala Likert, item-item harus terdiri dari item positif
dan item negatif. Item positif adalah pernyataan yang memberikan isyarat
mendukung atau menunjukkan sikap yang positif terhadap topik yang sedang
diukur, sedangkan item negatif sebaliknya, yaitu melawan topik atau
menunjukkan sikap yang negatif. Untuk setiap pilihan jawaban (Sangat Setuju,
Setuju, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju), diberikan skor dengan kriteria
apabila item positif maka angka terbesar diletakkan pada “Sangat Setuju”.
Kemudian untuk item negatif maka angka terbesar diletakkan pada “Sangat Tidak
Setuju”. Skor yang diberikan pada jawaban untuk setiap item kemudian
dijumlahkan. Item positif dan item negatif ditempatkan secara acak.

Tabel 3.2. Indikator Skor Pengukuran Sikap (Positif-Negatif)

Skor
Pilihan Jawaban
Item Positif Item Negatif
Sangat Setuju 4 1
Setuju 3 2
Tidak Setuju 2 3
Sangat Tidak Setuju 1 4

62
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang
Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2011), h. 77
51

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Keadaan Umum Daerah


1. Letak Daerah Penelitian

Lokasi penelitian perkampungan nelayan Muara Angke merupakan


bagian dari wilayah Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Kotamadya
Jakarta Utara. Kelurahan Pluit secara astronomis berada pada posisi 60. 06’.
50” – 60. 06’. 56” Lintang Selatan dan 1060. 45’. 56” – 1060. 46’. 28” Bujur
Timur. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 1251/1986
tanggal 29 Juli 1986, menjelaskan bahwa Kelurahan Pluit mempunyai luas
wilayah 771,19 Ha dengan batas-batas wilayah sebaai berikut :

a. Sebalah Utara : Pantai Laut Jawa.


b. Sebelah Timur : Sepanjang Tepi Waduk Pluit sebelah barat
c. Sebelah Selatan : Jl. Pluit Karang Selatan – Jl. Pluit Selatan.
d. Sebelah Barat : Kali Muara Angke – Kali Cisadane.

Kelurahan Pluit secara administratif terbagi ke dalam 18 RW dan 220


RT. Muara Angke sendiri terdiri dari atas 2 RW yaitu RW 01 dan 011 yang
masing-masing memiliki 10 dan 13 RT.

2. Kependudukan
a. Kewarganegaraan dan Jenis Kelamin

Jumlah penduduk Kelurahan Pluit bulan Februari 2014 untuk WNI


sebesar 49.664 jiwa yang terdiri atas 24.798 orang laki-laki dan 24.866
orang perempuan, sedangkan jumlah WNA sebesar 63 jiwa yang terdiri
atas 38 orang laki-laki dan 25 orang perempuan.

51
52

Tabel 4.1. Komposisi Penduduk Menurut Kewarganegaraan dan


Jenis Kelamin di Kelurahan Pluit dalam Laporan
Bulanan Februari 2014

WNI (Orang) WNA (Orang)


Umur Persentase Persentase
No Laki- Perem- Jum- Laki- Perem- Jum-
(Tahun) (%) (%)
laki puan lah laki puan lah

1 0-4 1.435 1.699 3.134 6,34 0 1 1 1,59


2 5 - 9 th 1.782 1.608 3.390 6,86 4 3 7 11,11
3 10 - 14 th 1.629 1.592 3.221 6,52 4 1 5 7,94
4 15 - 19 th 1.747 1.723 3.470 7,02 0 4 4 6,35
5 20 - 24 th 2.023 2.011 4.034 8,17 5 1 6 9,52
6 25 - 29 th 2.463 2.433 4.896 9,91 2 0 2 3,17
7 30 -34 th 2.641 2.506 5.147 10,42 5 2 7 11,11
8 35 - 39 th 2.194 2.078 4.272 8,65 0 1 1 1,59
9 40 - 44 th 1.754 1.715 3.469 7,02 0 3 3 4,76
10 45 -49 th 1.207 1.673 2.880 5,83 2 0 2 3,17
11 50 -53 th 1.487 1.692 3.179 6,44 1 2 3 4,76
12 55 - 59 th 1.393 1.559 2.952 5,98 4 1 5 7,94
13 60 - 64 th 1.235 1.056 2.291 4,64 3 2 5 7,94
14 65 - 69 th 766 639 1.405 2,84 5 2 7 11,11
15 70 - 74 th 441 415 856 1,73 1 0 1 1,59
75 th
16 keatas 339 466 805 1,63 2 2 4 6,35
Total 24.536 24.865 49.401 100,00 38 25 63 100,00
Sumber : Laporan Bulanan Kelurahan Pluit Februari 2014

b. Pendidikan

Tingkat pendidikan penduduk Kelurahan Pluit secara umum


tergolong cukup tinggi. Hal ini terlihat dari jumlah penduduk yang tamat
SLTA sebesar 15.840 atau 31,80% dari jumlah penduduk, serta peminatan
terhadap akademi/perguruan tinggi juga cukup baik yaitu sebesar 6.047
atau 12,14%. Jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan selengkapnya
dapat dilihat pada Tabel 4.2.
53

Tabel 4.2. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Pendidikan di


Kelurahan Pluit dalam Laporan Bulanan Februari 2014

Jenis Kelamin (Orang) Persentase


No Jenis Pendidikan
Laki-laki Perempuan Jumlah (%)

1 Tidak Sekolah 438 588 1.026 2,06

2 Tidak Tamat SD 788 984 1.772 3,56

3 Tamat SD 4.490 5.304 9.794 19,66

4 Tamat SLTP 7.631 7.703 15.334 30,78

5 Tamat SLTA 8.021 7.819 15.840 31,80

6 Tamat Akademi/PT 3.518 2.529 6.047 12,14

Total 24.886 24.927 49.813 100,00


Sumber : Laporan Bulanan Kelurahan Pluit Februari 2014

c. Mata Pencaharian

Sebagaian besar penduduk Kelurahan Pluit memiliki mata


pencaharian sebagai Karyawan Swasta/Negeri/ABRI yaitu sebanyak
17.239 jiwa atau 35,35%. Kelompok mata pencaharian ini memiliki
proporsi cukup tinggi disebabkan letak Kelurahan Pluit yang berada di ibu
kota Negara sehingga memungkinkan masyarakatnya bekerja di
perusahaan-perusahaan swasta maupun instansi pemerintah. Mata
pencaharian sebagai pedagang/wiraswasta menempati posisi kedua
terbanyak setelah Karyawan Swasta/Negeri/ABRI yaitu sebesar 14.128
jiwa atau 28,97%, hal ini dikarenakan letak strategis Kelurahan Pluit
sebagai pusat pendapatan dan perdagangan perikanan terbesar di Jakarta.
Sedangkan untuk mata pencaharian nelayan hanya digeluti oleh 2.917 jiwa
atau 5,98%, hal ini dimungkinkan karena adanya relokasi pemukiman oleh
pemerintah, sehingga masih banyak penduduk Muara Angke yang belum
terdaftar di Kelurahan Pluit.
54

Tabel 4.3. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Mata Pencaharian


di Kelurahan Pluit dalam Laporan Bulanan Februari
2014

Jenis Kelamin (Orang)


Persentase
No Jenis Mata Pencaharian
Laki-laki Perempuan Jumlah (%)

1 Tani - - - 0
Karyawan
2 SwastaNegeri/ABRI 9.644 7.596 17.240 35,35

3 Pedagang/Wiraswasta 8.026 6.102 14.128 28,97

4 Nelayan 2.917 - 2.917 5,98

5 Buruh Tani - - - 0

6 Pensiun 761 252 1.013 2,08

7 Pertukangan 120 - 120 0,25

8 Pengangguran 749 483 1.232 2,53

9 Fakir Miskin 486 393 879 1,80

10 Lain-lain 2.201 9.036 11.237 23,04

Total 24.904 23.862 48.766 100,00


Sumber : Laporan Bulanan Kelurahan Pluit Februari 2014

B. Kondisi Sarana dan Prasarana


1. Peribadatan

Tempat peribadatan yang terdapat di Kelurahan Pluit terdiri dari


Masjid, Musholla, Gereja, Pura, dan Vihara atau Klenteng. Pada tabel 4.4.
terlihat tempat peribadatan Gereja berjumlah 14 unit dan merupakan
terbanyak pertama, sedangkan Masjid menempati urutan ketiga setelah
Vihara / Klenteng yaitu berjumlah 7 unit.
55

Tabel 4.4. Jenis Tempat Peribadatan di Kelurahan Pluit dalam


Laporan Bulanan Februari 2014

No Jenis Tempat Peribadatan Jumlah (Unit)


1 Masjid 7
2 Musholla 3
3 Gereja 14
4 Pura 1
5 Kuil / Klenteng / Vihara 11
Total 36
Sumber : Laporan Bulanan Kelurahan Pluit Februari 2014

2. Kesehatan

Jumlah sarana kesehatan terbanyak yang ada di Kelurahan Pluit


ditempati oleh Dokter Praktek sebanyak 54 unit. PPKB menjadi terbanyak
kedua yaitu berjumlah 18 unit. Tidak terdapat Rumah sakit yang berada di
wilayah administrasi Kelurahan Pluit, namun rumah sakit yang cukup dekat
untuk dijangkau dari Muara Angke yaitu Rumah Sakit Swasta Atmajaya.

Tabel 4.5. Sarana dan Prasarana Kesehatan di Kelurahan Pluit


dalam Laporan Bulanan Februari 2014

No Jenis Sarana dan Prasarana Jumlah (Unit)


1 Rumah Sakit 0
2 Puskesmas 1
3 Posyandu 8
4 UPGK 5
5 Karang Balita 2
6 Dokter Praktek 54
7 Apotik 6
56

8 Klinik Kesehatan 1
9 Sin She 5
10 Akupuntur 3
11 PPKB 18
12 BKIA 1
13 Klinik KB 1
14 Taman Gizi 1
15 Kursus 8
16 Lain-lain 0
Total 114
Sumber : Laporan Bulanan Kelurahan Pluit Februari 2014

3. Pendidikan

Sarana pendidikan di Kelurahan Pluit terdiri dari sarana pendidikan


formal, yaitu SD, SMP, dan SMU.

Tabel 4.6. Jumlah Sarana dan Pendidikan Formal di Kelurahan


Pluit dalam Laporan Bulanan Februari 2014

Jumlah
No Jenis Pendidikan Gedung Sekolah
(Unit) (Unit)
1 Sekolah Dasar (SD)
 Negeri 2 2
 Bersubsidi 0 0
 Swasta 8 8
 Ibtidaiyah 1 1
Total 11 11
2 Sekolah Menengah Pertama (SMP)
 Negeri 1 1
 Bersubsidi 0 0
 Swasta 9 9
57

 Tsanawiyah 1 1
Total 11 11
3 Sekolah Menengah Umum (SMU)
 Negeri 1 1
 Bersubsidi 0 0
 Swasta 4 4
 Aliyah 0 0

Total 5 5
Sumber : Laporan Bulanan Kelurahan Pluit Februari 2014

Disamping itu, di Kelurahan Pluit juga terdapat sarana pendidikan


informal yang terdiri dari taman kanak-kanak dan berbagai kursus kejuruan
atau keterampilan. Fasilitas pendidikan di Kelurahan Pluit yang cukup lengkap
mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah tingkat atas tidak
serta merta membuat anak-anak dari Kelurahan ini hanya bersekolah di
Kelurahan Pluit tetapi banyak diantara mereka yang bersekolah di luar
Kelurahan Pluit. Hal ini dimungkinkan karena akses yang cukup mudah untuk
menjangkau wilayah di luar Kelurahan Pluit.

C. Keadaan Umum Pelabuhan Muara Angke


1. Latar Belakang

Salah satu faktor utama dibangunnya Pelabuhan Muara Angke adalah


karena tingginya animo masyarakat maupun wisatawan yang ingin berkunjung
ke Kepulauan Seribu. Awalnya pelabuhan penyebrangan ini akan dibangun di
Pelabuhan Bahtera Jaya, Pluit. Namun, dengan berbagai pertimbangan
akhirnya dipilihlah kawasan Muara Angke.63 Disamping itu, kepadatan arus
penyebrangan yang terjadi di Pelabuhan Kali Adem, juga menjadi faktor

63
Al furqon, Pelabuhan Muara Angke Dilengkapi Pemecah Ombak, 2012,
(http://www.jakarta.go.id/v2/news/2012/01/Pelabuhan-Muara-Angke-Dilengkapi-Pemecah-
Ombak)
58

pendorong mengapa Pelabuhan Muara Angke ini dibangun. Sebenarnya fungsi


utama Pelabuhan Kali Adem hanya untuk tempat pendaratan ikan atau hanya
digunakan untuk kegiatan perikanan.

Pelabuhan Muara Angke ini dibangun sejak tahun 2004 dan memiliki
luas 3,4 hektar. Yang telah dibangun seluas 7.500 meter persegi dengan
memiliki daya tampung 50 kapal. Selain itu, pemecah ombak pun telah berdiri
sepanjang 1,4 kilometer. Biaya untuk membangun pelabuhan ini menelan
biaya sekitar Rp 130 miliar.64

2. Kebijakan Pengembangan Pelabuhan Muara Angke

Memorandum of Understanding (MoU) antara Gubernur DKI Jakarta


dengan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Tanggal 26 Mei 1995.
Berisi mengenai kesepakatan pertukaran tanah milik pemerintah DKI Jakarta
+ 11 ha terletak di Ancol Timur, Kelurahan Ancol, Kec.Penjaringan, Jakarta
Utara dengan bangunan gedung serba guna, kapal, stadion olah raga dan
kolam renang serta dermaga berikut fasilitas penunjangnya milik Departemen
Perhubungan (dermaga 500 m², ruang tunggu penumpang 150 m², lapangan
parkir berikut jalan 1400 m²) diatas lahan milik Pemprov DKI Jakarta seluas
5.000 m².65

Perda No. 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah


(RTRW) DKI Jakarta, Sistem Prasarana Wilayah pada Pasal 19 ayat 10
menjelaskan bahwa Pelabuhan Muara Angke merupakan salah satu dermaga
penyeberangan yang dikhususkan untuk penyeberangan dari dan ke
Kepulauan Seribu. Rencana dermaga penyebrangan ke Kepulauan Seribu akan
di fokuskan pada Pulau F (Muara Angke) dan Pulau J (Ancol) kawasan

64
Al furqon, Pelabuhan Muara Angke Dilengkapi Pemecah Ombak, 2012,
(http://www.jakarta.go.id/v2/news/2012/01/Pelabuhan-Muara-Angke-Dilengkapi-Pemecah-
Ombak)
65
Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Kebijakan Pengembangan Pelabuhan Muara Angke,
(http://dishub.jakarta.go.id/informasi/4/bidang-transportasi-laut-udara?page=10)
59

reklamasi, hal ini tertuang pada Pasal 9 ayat 5 Rencana Sistem Jaringan,
Pergub No. 121 Tahun 2012 tentang Penataan Ruang Kawasan Reklamasi
Pantai Utara Jakarta. Disamping itu, Surat Keputusan Gubernur Provinsi DKI
Jakarta No. 125 tahun 1995 tentang Pembangunan Dermaga Penyeberangan
Ke Pulau Seribu, juga turut melandasi kebijakan pengembangan pelabuhan
penyebrangan Muara Angke.

3. Sarana dan Prasarana

Pelabuhan Muara Angke dilengkapi dengan bebrapa fasilitas


pendukung operasional pelabuhan. Diantaranya, fasilitas ruang loket yang
nyaman, kolam dermaga, pemecah ombak, kantor pelabuhan, ruang tunggu
penumpang (boarding pass) layakanya seperti di bandara, lahan parkir kapal
dan fasilitas penunjang lainnya. Berikut rincian daftar sarana dan prasarana
yang terdapat di Pelabuhan Muara Angke :66

Tabel 4.7. Daftar Prasarana Pelabuhan Muara Angke Tahun 2002 -2012

No Jenis Prasarana Volume Tahun Instansi


Pembangunan
1 Breakwater 115 m2 2002 - 2003 PU
2
2 Breakwater 25 m 2004 Dishub
3 Dermaga 32, 5 m2 2004 Dishub
4 Breakwater 51 m2 2005 Dishub
5 Jalan Beton 600 m2 2006 PU
6 Pematangan Lahan 3.400 m2 2006 Dishub
7 Dermaga 50 m2 2006 Dishub
8 Pengerukan Kolam 30.000 m3 2005 Dishub

66
Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Kebijakan Pengembangan Pelabuhan Muara Angke,
(http://dishub.jakarta.go.id/informasi/4/bidang-transportasi-laut-udara?page=9)
60

Pelabuhan
9 Pembangunan Dermaga 50 m2 dan 2007 Dishub
dan Pematangan Lahan 3. 400 m2
10 Pematangan Lahan dan 1.600 m2 2008 Dishub
Pengerasan dan 1.600
m2
11 Pembangunan Dermaga 50 m2 dan 2008 Dishub
dan Breakwater 25 m2
12 Pematangan Lahan 2.500 m2 2009 Dishub
13 Pematangan Lahan 7.500 m2 2011 Dishub
14 Panjang Breakwater 1.415 m2 2011 Dishub
15 Dermaga 1.825 m2 2011 Dishub
2
16 Gedung Kantor 810 m 2011 Dishub
17 Reklamasi Pematangan 7.500 m2 2011 Dishub
Lahan
18 Luas Shelter 270 m2 2011 Dishub
19 Luas Loket 12 m2 2011 Dishub
20 Jalan Beton 600 m2 2011 Dishub
21 Pengerukan 88.000 m3 2011 Dishub
22 Pematangan Lahan
Pelabuhan Muara 9.400 m2 2012 Dishub
Angke
23 Pembangunan Fasilitas
Penunjang di Pelabuhan
Muara Angke :
1. Pembangunan
1.700 m2 2012 Dishub
Shelter
2. Pembangunan
Pujasera
3. Pembangunan
61

Lapangan Parkir
4. Pembangunan
Toilet Umum
5. Pembangunan
Taman dan
Drainase
6. Musholla
24 Peningkatan
Breakwater Pelabuhan 530 m3 2012 Dishub
Muara Angke
25 Pengerukan Kolam
Pelabuhan Muara 42.450 m3 2012 Dishub
Angke
Sumber : Situs Resmi Dinas Perhubungan (Dishub) Jakarta.

Di sekitar wilayah pelabuhan hingga saat ini masih terlihat belum


terbebas dari kegiatan warga sekitar, masih ada warga yang bermain dan
memancing di sekitar wilayah pelabuhan, bahkan lahan parkir pelabuhan juga
masih dijadikan pangkalan ojek odong-odong.

4. Akses Transportasi

Untuk kemudahan akses menuju Muara Angke bagi pengguna


transportasi massal, pemerintah telah membangun terminal Muara Angke dan
mengoperasikan beberapa trayek angkot dari dan menuju Muara Angke,
namun untuk mencapai Pelabuhan Muara Angke dari terminal memerlukan
sarana transportasi non-trayek, seperti ojek motor, ojek sepeda, ojek odong-
odong, dan becak.

Akses jalan menuju pelabuhan cukup dekat dan mudah dijangkau oleh
kendaraan kecil seperti mobil pribadi maupun kendaraan besar seperti Bus
62

atau mobil tronton, namun kondisinya jalannya masih terdapat genagan-


genagan air yang diakibatkan oleh laut pasang dan pembuangan limbah
pengolahan ikan, kondisi inilah yang membuat akses ke pelabuhan terkesan
kumuh. Menurut informan, genangan tersebut disebabkan oleh penurunan
kontur tanah, yang diakibatkan oleh besarnya intensitas akses kendaraan
proyek ketika proses pembangunan pelabuhan.67

D. Karakteristik Responden
1. Umur Responden

Responden pada penelitian ini sampai pada waktu penelitian, rata-rata


berumur 46,4 tahun dengan umur terendah 34 tahun dan responden tertua
berumur 80 tahun. Sebagian besar responden berada pada kelompok umur 36-
40 tahun, 41-45 tahun dan 46-50 tahun, dengan jumlah yang sama yaitu
masing-masing berjumlah 3 orang (25%), sedangkan jumlah terkecil terdapat
pada kelompok umur 31-35 tahun, 51-55 tahun dan 56 tahun ke atas (80
tahun), yaitu masing-masing berjumlah 1 orang (8,3%).

Tabel 4.8. Kelompok Umur Responden Tahun 2014

Jumlah Presentase
No Kelompok Umur (Orang) (%)
1 31 - 35 1 8,33
2 36 - 40 3 25,00
3 41 - 45 3 25,00
4 46 - 50 3 25,00
5 51 - 55 1 8,33
6 56 + 1 8,33
Jumlah 12 100,00
Sumber : Data Primer diolah 2014

67
Wawancara dengan tokoh masyarakat, Bapak Arfani (52 Tahun), Sabtu 13 Agustus
2014, Pukul 12.30 WIB, di dalam rumah.
63

Tabel 4.8. menggambarkan bahwa sebagian responden berada pada


usia produktif dan sampai pada waktu penelitian dilakukan mereka masih
bekerja. Hanya sebagian kecil saja yang sudah dapat dikatakan tidak lagi
muda atau tidak produktif, selengkapnya ada pada Lampiran 1.

2. Jumlah Tanggungan Keluarga

Masyarakat pesisir yang menjadi responden penelitian ini memiliki


jumlah anggota keluarga yang bervariasi. Banyaknya jumlah tanggungan
keluarga menentukan seberapa besar pengeluaran dalam suatu rumah tangga.
Rata-rata jumlah tanggungan keluarga yang dimiliki responden adalah 5
orang. Jumlah tanggungan keluarga terbesar adalah 8 orang, terdapat pada 2
responden (16,66%), bahkan ada salah satu responden yang memiliki dua
rumah tangga, yang di rumah dan yang di kampung. Sedangkan jumlah
tanggungan keluarga terkecil adalah 4 orang, yang memiliki anggota keluarga
terkecil ini sebanyak 5 responden (41,66%). (Lampiran 1).

3. Pengalaman Usaha

Pengalaman usaha responden cukup bervariasi, hingga waktu


penelitian ada responden yang telah menekuni pekerjaannya hingga puluhan
tahun, ada yang baru beberapa tahun, dan ada juga yang baru berjalan 4 bulan,
yang diakibatkan karena peralihan mata pencaharian.

Responden yang memiliki pengalaman usaha terlama adalah 30 tahun,


bernama Bapak Kapidun yang telah menekuni pekerjaannya sebagai pengolah
limbah ikan semenjak belum ada pemukiman penduduk di Muara Angke.
Sedangkan, pengalaman usaha terendah yaitu selama kurang dari 1 tahun (4
bulan), bernama Bapak Supendi yang beralih profesi menjadi petugas
keamanan setelah sebelumnya menjadi penjaga WC umum, selain sebagai
berprofesi petugas keamanan Bapak Supendi juga memiliki warung kelontong
64

dekat Pelabuhan yang sudah berjualan semenjak Pelabuhan Muara Angke baru
diresmikan. (Lampiran 1)

4. Riwayat Pendidikan

Tingkat pendidikan responden pada penelitian ini cukup tinggi, yang


dilihat dari banyaknya responden menamatkan riwayat pendidikannya hingga
SLTA. Hal ini dimungkinkan karena penetapan responden tidak secara
random melainkan secara purposive sampling, yang diambil berdasarkan
rekomendasi informan dan pertimbangan representatif masing-masing
matapencaharian. Sebagian besar responden yang menamatkan riwayat
pendidikannya hingga SLTA ini berada pada kelompok umur di bawah 40
tahun, atau dengan kata lain masih dalam usia muda atau produktif.

Posisi terbanyak pertama berada pada tingkat pendidikan SLTA, yaitu


berjumlah 4 orang (33,33%). Terbanyak kedua berada pada tingkat tamat SD,
yaitu sebanyak 3 orang (25%), tidak tamat SD dan tamat SLTP masing-
masing sebanyak 2 orang (16,66%), kemudian 1 orang (8,33%) yang berada
pada posisi terendah, yaitu pada tingkat tidak sekolah.

Tabel 4.9. Tingkat Pendidikan Responden Tahun 2014

Tingkat Jumlah Presentase


No Pendidikan (Orang) (%)
1 Tidak Sekolah 1 8,33
2 Tidak Tamat SD 2 16,66
3 Tamat SD 3 25
4 Tamat SLTP 2 16,66
5 Tamat SLTA 4 33,33
Jumlah 12 100,00
Sumber : Data Primer diolah 2014
65

5. Kondisi dan Fasilitas Perumahan


a. Kondisi Perumahan

Selain sandang dan pangan, tempat tinggal juga merupakan salah


satu bagian dari kebutuhan primer masyarakat. Kondisi tempat tinggal atau
perumahan memberikan gambaran mengenai tingkat kesejahteraan
keluarga. Perumahan yang ideal adalah tempat tinggal yang memenuhi
persyaratan kesehatan dan lokasinya mudah untuk menjangkau beberapa
fasilitas seperti fasilitas kesehatan, pendidikan, dan pasar.

Kondisi perumahan responden pada penelitian ini mayoritas berada


dalam kategori semi permanen yang berjumlah 6 rumah (50%). Hal ini
terlihat dari perumahan responden yang belum seluruhnya memenuhi
kriteria perumahan permanen menurut Badan Pusat Statistik pada
SUSENAS 2003. Kriteria atap rumah, mayoritas rumah responden masih
menggunakan asbes, yaitu sebanyak 10 rumah (83,33%) dan hanya 2
rumah (16,66%) saja yang atapnya sudah menggunakan genting. Bilik
rumah responden yang sudah menggunakan tembok sebanyak 7 rumah
(58,33%), setengah tembok 1 rumah (8,33%), dan masih banyak
perumahan responden yang masih menggunakan kayu sebagai bilik
rumahnya, yaitu sebanyak 4 rumah (33,33%). Status kepemilikan
perumahan responden, yaitu sebanyak 8 keluarga (53,33%) sudah milik
sendiri, dan 4 keluarga (33,33%) masih berstatus sewa. Bahan lantai yang
digunakan keluarga responden juga bervariasi, sebanyak 6 rumah (50%)
sudah menggunakan ubin, 2 rumah (16,66%) menggunakan lantai plester,
dan 4 rumah (33,33%) masih menggunakan kayu sebagai lantai rumahnya.
Luas perumahan responden terdiri dari 5 rumah (41,66%) tergololong
berlantai sedang dan 7 rumah (58,33%) tergolong memiliki lantai rumah
yang sempit (Lampiran 2).

Hasil penjumlahan kelima elemen keadaan perumahan di atas,


diperoleh nilai antara 5-9 sebanyak 2 keluarga (16,66%) dengan kategori
66

Non Permanen, 10-14 sebanyak 6 keluarga (50%) dengan kategori Semi


Permanen, dan kategori Permanen dengan nilai antara 15-18 sebanyak 4
keluarga (33,33%). Mayoritas kriteria perumahan responden pada
penelitian ini termasuk dalam kriteria semi permanen, yaitu 6 keluarga
(50%), hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden belum
sepenuhnya menganggap bahwa tempat tinggal merupakan kebutuhan
yang harus segera dipenuhi. Pendapatan keluarga sangat mempengaruhi
keadaan atau kondisi perumahan keluarga, dengan kata lain semakin tinggi
pendapatan mereka, semakin baik keadaan atau kondisi perumahan
keluarganya.

b. Fasilitas Perumahan

Fasilitas perumahan sangat menentukan apakah perumahan


tersebut ideal atau tidak. Kelengkapan fasilitas perumahan juga menjadi
salah satu cerminan tingkat kesejahteraan keluarga.

Dalam kategori luas pekarangan rumah, seluruh (100%) keluarga


rumah tangga memiliki pekarangan rumah sempit. Fasilitas hiburan berupa
TV dimiliki oleh 8 orang (66,66%), 2 orang (16,66%) memiliki radio, dan
2 orang (16,66%) memiliki video. Fasilitas pendingin yang dimiliki,
sebanyak 8 orang (66,66%) memiliki kipas angin, sebanyak 2 orang
(16,66%) memiliki lemari es, dan AC (Air Conditioner) sebanyak 2 orang
(16,66%). Dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar sehari-hari seluruh
(100%) keluarga rumah tangga sudah menggunakan kompor gas. Sumber
air utama untuk kebutuhan sehari-sehari, seluruh (100%) keluarga rumah
tangga sudah menggunakan PAM. Hal ini disebabkan oleh sulitnya
memperoleh sumber air bersih dan layak di daerah ini. Fasilitas MCK
yang dimiliki sebagian besar, yaitu 9 orang (75%) sudah menggunakan
MCK milik sendiri dan 3 orang (25%) masih menggunakan MCK umum
(Lampiran 3). Namun demikian, fasilitas yang dimiliki oleh keluarga
67

rumah tangga akan segera berubah, mungkin saja bertambah atau


berkurang. Perubahan ini utamanya disebabkan oleh faktor ekonomi,
dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terkadang mereka terpaksa
berhutang, kemudian mereka akan menjual barang berharga milik mereka
dan akan digunakan untuk membayar hutang jika kesulitan membayarnya.

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, diperoleh hasil yaitu,


yang memiliki skor antara 18-22 sebanyak 7 orang (58,33%) dengan
kategori fasilitas perumahan yang lengkap dan skor antara 12-17 sebanyak
5 orang (41,66%) dengan kategori fasilitas perumahan yang sedang.
Fasilitas perumahan yang lengkap dan sedang menunjukkan sebagian
besar responden sudah menggunakan sebagian pendapatannya selain untuk
kebutuhan makanan juga untuk memenuhi kebutuhan akan kelengkapan
fasilitas perumahannya. Kelengkapan fasilitas pokok berupa sarana bahan
bakar sehari-hari, air, dan kamar mandi akan menentukan kenyamanan
suatu perumahan atau tempat tinggal keluarga.

E. Dampak Pelabuhan Muara Angke Terhadap Perubahan Kondisi Sosial-


Ekonomi Masyarakat
1. Keragaman Usaha (Mata Pencaharian)

Dengan adanya pembangunan Pelabuhan Muara Angke, mata


pencaharian masyarakat menjadi beragam, yang dahulunya sebagian besar
masyarakat hanya mengandalkan bidang perikanan (nelayan, pengolah dan
pedagang ikan atau kerang) sebagai sumber mata pencaharian, sekarang sudah
bertambah alternatif mata pencahrian lain di luar perikanan (non perikanan).

Mata pencaharian dalam bidang perikanan, yaitu nelayan, pedagang


dan pengolah ikan, serta pedagang dan pengolah kerang. Ada 2 responden
yang dijadikan sampel mata pencaharian nelayan, yang kemudian ditemukan
dua macam nelayan menurut jenis tangkapannya yaitu nelayan penangkap
ikan dan nelayan penangkap rajungan. Mereka sudah memulai usahanya sejak
68

puluhan tahun lalu, pengalaman usaha paling singkat yaitu 10 tahun dan yang
paling lama yaitu 25 tahun. Salah satu responden ada yang beralih mata
pencaharian, namun masih dalam lingkup nelayan, yaitu dari buruh nelayan
karena dituakan oleh rekan-rekannya, kemudian dijadikan pengurus nelayan
penangkap ikan. Tiga responden yang dijadikan sampel mata pencaharian
pedagang dan pengolah ikan, sama seperti nelayan, mereka sudah memulai
usahanya sejak puluhan tahun lalu, pengalaman usaha paling singkat yaitu 20
tahun dan yang paling lama yaitu 30 tahun. Salah satu responden beralih mata
pencaharian dari pengasin ikan menjadi pengolah limbah ikan, peralihan ini
dikarenakan usaha pengasin ikan yang semakin menjamur. Berikut adalah
penuturan Bapak Kapidun (80 Tahun) mengenai alasan peralihan usaha yang
ditekuninya :

“Dulu waktu disini masih sepi, jadi pengasin ikan penghasilannya lumayan,
tapi karena makin banyak pendatang jadi usaha pengasin ikan juga makin
banyak, makanya saya pindah jadi tukang pengolah ikan aja”.68
Sampel untuk mata pencaharian pedagang dan pengolah kerang diambil tiga
responden, pengalaman usaha paling singkat yaitu 4 tahun dan yang paling
lama yaitu 15 tahun. Selain sebagai pedagang kerang, untuk menambah
pendapatan dua responden memiliki usaha sampingan sebagai pembudidaya
kerang, dan salah satunya juga memiliki usaha rumahan, yaitu counter HP.

Sedangkan mata pencaharian non perikanan adalah mereka yang


memiliki mata pencaharian di luar kegiatan atau aktivitas perikanan dan secara
langsung memanfaatkan kehadiran Pelabuhan Muara Angke. Terdapat empat
responden yang dijadikan sampel pada mata pencaharian non perikanan ini,
yaitu ojek odong-odong dua responden, ojek sepeda dan petugas keamanan
masing-masing satu responden. Mata pencaharian sebagai ojek odong-odong
merupakan mata pencaharian yang baru responden jalani, sebelumnya mereka
bekerja di kampung, salah satu responden ada yang memiliki usaha sampingan
sebagai tukang servis elektronik. Mata pencaharian ojek sepeda merupakan

68
Wawancara dengan pengolah ikan, Bapak Kapidun (80 Tahun), Sabtu 12 Juli 2014,
Pukul 12.25 WIB, di halaman rumah.
69

peralihan dari mata pencaharian responden sebagai tukang gorengan,


responden beralih karena semakin besarnya biaya usaha gorengannya,
disamping itu banyaknya pengunjung yang berdatangan ke Pelabuhan Muara
Angke juga mendorong responden untuk beralih ke ojek sepeda yang biaya
usahanya lebih kecil. Responden terakhir sebagai petugas keamanan juga
merupakan peralihan dari mata pencaharian sebelumnya sebagai penjaga WC
umum. Sebagai tambahan penghasilan, setelah adanya Pelabuhan Muara
Angke responden juga menjadikan rumahnya untuk berjualan, yaitu dengan
membuka warung kelontong di depan pintu masuk pelabuhan yang dijaga oleh
istrinya.

2. Perubahan Pendapatan Rumah Tangga

Pendapatan rumah tangga responden dibagi menjadi dua sumber, yaitu


pendapatan utama dan pendapatan tambahan. Pendapatan utama merupakan
pendapatan yang diperoleh dari mata pencaharian utama, sedangkan
pendapatan tambahan merupakan pendapatan yang diperoleh dari mata
pencaharian selain mata pencaharian utama.

a. Pendapatan Utama

Pendapatan utama rumah tangga dalam hal ini adalah pendapatan


yang berasal dari mata pencaharian utama yang telah lama dijalani oleh
responden. Data pendapatan utama ini diperoleh berdasarkan informasi
responden mengenai pendapatan bersih dari mata pencaharian utama
selama satu bulan. Perubahan pendapatan utama terbesar pada mata
pencaharian nelayan. Mahalnya BBM, kondisi cuaca, hasil tangkapan yang
tidak menentu, jauhnnya jarak tempuh untuk mendapatkan ikan
mengakibatkan besarnya biaya operasional sehingga berdampak pada
pendapatan mereka, terutama buruh nelayan. Padahal dahulu sebelum
pelabuhan dibangun, mereka bisa memanfaatkan wilayah tersebut untuk
menangkap ikan atau membuat tambak, dengan biaya operasional yang
70

kecil mereka sudah bisa memiliki pendapatan yang cukup. Nilai terbesar
pendapatan nelayan sebelum Pembangunan Pelabuhan Muara Angke
adalah Rp 45.000.000,00 per bulan, sedangkan nilai terkecilnya adalah Rp
1.500.000,00 per bulan. Setelah pembangunan Pelabuhan Muara Angke
nilai terbesar dan terkecil pendapatan utama responden adalah masing Rp
6.500.000,00 dan Rp 3.000.000,00 atau rata-rata turun dari Rp
23.250.000,00 menjadi Rp 4.750.000,00, disamping itu rata-rata
pendapatan utama pedagang dan pengolah kerang juga mengalami
penurunan, dari Rp 6.666.667,00 menjadi Rp 3.666.667,00, penurunan ini
hampir sama penyebabnya dengan kelompok nelayan, terutama dalam hal
semakin sempitnya wilayah jangkauan tangkapan kerang atau budidaya
kerang. Sedangkan kenaikan rata-rata pendapatan utama terdapat pada
pedagang dan pengolah ikan, dari Rp 10.666.667,00 naik menjadi Rp
11.833.333,00 dan non perikanan dari Rp 1.350.000,00 menjadi Rp
1.575.000,00 (Tabel 4.10.). Kenaikan pendapatan mata pencaharian non
perikanan disebabkan oleh semakin banyak pengunjung yang berdatangan
dan menggunakan jasa angkutan mereka, terutama ketika hari libur atau
akhir pekan.

Tabel 4.10. Rata-rata Pendapatan Utama Responden Sebelum dan


Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke
Tahun 2014

Pendapatan Utama Rumah Tangga (Rp)


Jenis Mata
No Nilai Terbesar Nilai Terkecil Rata-rata
Pencaharian
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1 Nelayan 45.000.000 6.500.000 1.500.000 3.000.000 23.250.000 4.750.000
Pedagang dan
2
Pengolah Ikan 20.000.000 20.000.000 2.000.000 500.000 10.666.667 11.833.333
Pedagang dan
3 Pengolah
Kerang 10.000.000 5.000.000 4.000.000 2.000.000 6.666.667 3.666.667
4 Non Perikanan 3.000.000 2.200.000 500.000 600.000 1.350.000 1.575.000
Rata-rata 10.483.333 5.456.250
Sumber : Data Primer diolah 2014
71

b. Pendapatan Tambahan

Pendapatan tambahan merupakan pendapatan bersih responden


dalam periode satu bulan yang berasal dari mata pencaharian tambahan di
luar mata pencaharian utama. Pendapatan tambahan responden,
diantaranya seperti tukang servis elektronik, teknisi listrik, budidaya
kerang, dan warung kelontong. Perubahan pendapatan sampingan terbesar
pada kelompok mata pencaharian non perikanan, sebelum Pembangunan
Pelabuhan Muara Angke adalah Rp 30.000.000,00 per bulan, sedangkan
nilai terkecilnya adalah Rp 200.000,00 per bulan. Setelah pembangunan
Pelabuhan Muara Angke nilai terbesar dan terkecil pendapatan responden
adalah masing Rp 3.000.000,00 dan Rp 500.000,00 atau rata-rata turun
dari Rp 7.550.000,00 menjadi Rp 875.000,00. Kelompok non perikanan
yang dimaksud adalah mata pencaharian pedagang (Bpk. Supendi), ketika
pelabuhan mulai beroperasi warungnya bisa mendapatkan hasil mencapai
Rp 1.000.000,00 per hari, namun sekarang mulai menurun karena
berkurangnya intensitas pengunjung yang memanfaatkan pelabuhan ini,
keramaian terjadi ketika liburan atau akhir pecan saja. Sedangkan
kenaikan rata-rata pendapatan tambahan dialami oleh kelompok mata
pencaharian nelayan dan pedagang dan pengolah ikan, yaitu masing-
masing naik dari sebelumnya Rp 200.000,00 dan Rp 500.000,00 menjadi
masing-masing Rp 350.000,00 dan Rp 833.333,00 (Tabel 4.11.).

Tabel 4.11. Rata-rata Pendapatan Tambahan Responden Sebelum


dan Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke
Tahun 2014

Pendapat Tambahan Rumah Tangga (Rp)


Jenis Mata
No Nilai Terbesar Nilai Terkecil Rata-rata
Pencaharian
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1 Nelayan 400.000 700.000 0 0 200.000 350.000
Pedagang dan
2
Pengolah Ikan 0 0 0 0 0 0
3 Pedagang dan 1.000.000 2.000.000 500.000 500.000 500.000 833.333
72

Pengolah Kerang
4 Non Perikanan 30.000.000 3.000.000 200.000 500.000 7.550.000 875.000
Rata-rata 2.032.500 462.083
Sumber : Data Primer diolah 2014

c. Total Pendapatan Rumah Tangga

Total pendapatan rumah tangga adalah nilai penjumlahan antara


pendapatan utama rumah tangga dan pendapatan tambahan rumah tangga
dalam periode satu bulan. Nilai pendapatan total rumah tangga terbesar
responden dialami oleh kelompok nelayan, yaitu Rp 45.000.000,00
sebelum pembangunan pelabuhan dan turun menjadi Rp 6.500.000,00.
Nilai terkecil pendapatan total rumah tangga kelompok nelayan, yaitu Rp
1.900.000,00 kemudian naik menjadi Rp 3.700.000,00 sesudah
pembangunan pelabuhan. Nilai rata-rata pendapatan total rumah tangga
kelompok nelayan menunjukkan adanya penurunan yang signifikan, yaitu
dari Rp 23.450.000,00 dan turun menjadi Rp 5.100.000,00 sesudah
pembangunan pelabuhan, selisih rata-rata penurunannya mencapai 360%
atau senilai Rp 18.350.000. Nilai terbesar pendapatan total rumah tangga
kelompok pedagang dan pengolah kerang, sebelum pembangunan
pelabuhan yaitu Rp 10.500.000,00 dan turun menjadi Rp 6.000.000,00
sesudah pembangunan pelabuhan. Sedangkan untuk nilai terkecilnya
menunjukkan nilai yang sama antara sebelum dan sesudah pembangunan
pelabuhan, yaitu masing-masing Rp 500.000,00. Nilai rata-rata pendapatan
total rumah tangga kelompok pedagang dan pengolah kerang sebelum dan
sesudah pembangunan pelabuhan, yaitu Rp 7.166.667,00 dan turun
menjadi Rp 4.500.000,00, dengan persentase penurunan sebesar 59%.
Nilai pendapatan total rumah tangga terbesar kelompok mata pencaharian
non perikanan juga mengalami penurunan, nilai terbesar yang diperoleh,
yaitu dari Rp 31.000.000,00 menjadi Rp 5.200.000,00. Nilai terkecilnya
yaitu sebesar Rp 700.000,00 dan turun menjadi Rp 600.000,00. Nilai rata-
73

rata pendapatan total rumah tangga kelompok non perikanan juga


mengalami penurunan sebesar 263%, yaitu dari Rp 8.900.000,00 turun
menjadi Rp 2.450.000,00 (Tabel 4.12.).

Tabel 4.12. Rata-rata Total Pendapatan Responden Sebelum dan


Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke
Tahun 2014

Pendapatan Total Rumah Tangga (Rp)


Jenis Mata
No Nilai Terbesar Nilai Terkecil Rata-rata
Pencaharian
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1 Nelayan 45.000.000 6.500.000 1.900.000 3.700.000 23.450.000 5.100.000
Pedagang dan
2
Pengolah Ikan 20.000.000 20.000.000 2.000.000 500.000 10.666.667 11.833.333
Pedagang dan
3 Pengolah
Kerang 10.500.000 6.000.000 500.000 500.000 7.166.667 4.500.000
4 Non Perikanan 31.000.000 5.200.000 700.000 600.000 8.900.000 2.450.000
Rata-rata 12.545.833 5.970.833

Sumber : Data Primer diolah 2014


74

Sedangkan nilai rata-rata pendapatan total rumah tangga kelompok


pedagang dan pengolah ikan menunjukkan adanya peningkatan sebesar
10% atau senilai Rp 1.166.667,00 (Tabel 4.13), yaitu sebelum
pembangunan pelabuhan rata-rata pendapatan total rumah tangga sebesar
Rp 10.666.667,00 kemudian naik menjadi Rp 11.833.333,00. Nilai
terbesar pendapatan total rumah tangga kelompok pedagang dan pengolah
ikan menunjukkan adanya kesamaan hasil yang diperoleh antara sebelum
dan sesudah pembangunan pelabuhan, yaitu masing-masing sebesar Rp
20.000.000,00. Sedangkan nilai terkecilnya adalah Rp 2.000.000,00 dan
turun menjadi Rp 500.000,00 sesudah pembangunan pelabuhan.

Tabel 4.13. Rata-rata Perubahan Pendapatan Total Responden


Sebelum dan Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara
Angke Tahun 2014

Rata-rata Perubahan
No Jenis Mata Pencaharian Pendapatan
(Rp) (%)
1 Nelayan -18.350.000 -360
Pedagang dan Pengolah
2 Ikan 1.166.667 10
Pedagang dan Pengolah
3 Kerang -2.666.667 -59
4 Non Perikanan -6.450.000 -263
Jumlah -26.300.000 -672
Rata-rata -6.575.000 -168
Sumber : Data Primer diolah 2014

3. Perubahan Pengeluaran Rumah Tangga

Pengeluaran rumah tangga adalah biaya yang dikeluarkan keluarga


untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Pengeluaran rumah tangga
dibedakan ke dalam dua hal, yaitu pengeluaran untuk kebutuhan pangan dan
non pangan. Pengeluaran untuk kebutuhan pangan antara lain pengeluaran
untuk bahan konsumsi, yaitu beras, lauk pauk dan sayuran, makanan
75

tambahan, dan kebutuhan dapur. Sedangkan untuk pengeluaran non pangan,


seperti biaya pendidikan, perumahan, kesehatan, listrik, air, dan telepon.

a. Pengeluaran Pangan

Pengeluaran pangan rumah tangga ini diperoleh dari keterangan


reponden mengenai pemenuhan kebutuhan pangan mereka dalam periode
satu bulan. Kenaikan pengeluaran pangan rumah tangga sebelum dan
sesudah pembangunan pelabuhan dialami oleh kelompok nelayan dan
kelompok pedagang dan pengolah ikan. Nilai terbesar pengeluaran pangan
pada kelompok nelayan sebelum pembangunan pelabuhan, yaitu Rp
15.000.000,00 dan naik menjadi Rp 20.000.000,00. Sedangkan untuk nilai
terkecilnya naik dari Rp 420.000,00 menjadi Rp 650.000,00 sesudah
pembangunan pelabuhan. Rata-rata pengeluaran pangan untuk rumah
tangga kelompok nelayan juga mengalami kenaikan, yaitu dari Rp
7.710.000,00 menjadi Rp 10.325.000,00 (Tabel 4.14).

Sedangkan untuk kelompok pedagang dan pengolah kerang dan


kelompok non perikanan mengalami penurunan pengeluaran pangan
rumah tangga. Penurunan signifikan terjadi pada pengeluaran pangan
rumah tangga kelompok pedagang dan pengolah kerang dengan nilai rata-
rata dari Rp 1.773.333,00, sesudah pembangunan pelabuhan turun menjadi
Rp 1.266.667,00 (Tabel 4.14).

Tabel 4.14. Rata-rata Pengeluaran Pangan Responden Sebelum dan


Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke
Tahun 2014

Pengeluaran Pangan Rumah Tangga (Rp)


Jenis Mata
No Nilai Terbesar Nilai Terkecil Rata-rata
Pencaharian
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1 Nelayan 15.000.000 20.000.000 420.000 650.000 7.710.000 10.325.000
Pedagang dan
2
Pengolah Ikan 5.000.000 8.000.000 1.000.000 1.000.000 3.233.333 4.233.333
Pedagang dan
3
Pengolah 3.000.000 1.500.000 820.000 800.000 1.773.333 1.266.667
76

Kerang
4 Non Perikanan 2.000.000 1.800.000 1.500.000 1.500.000 1.825.000 1.575.000
Rata-rata 3.635.417 4.350.000
Sumber : Data Primer diolah 2014

b. Pengeluaran Non Pangan

Pengeluaran non pangan merupakan pengeluaran rumah tangga


dalam periode satu bulan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan non
pangan, seperti biaya pendidikan, perumahan, kesehatan, listrik, air, dan
telepon. Kenaikan terbesar pengeluaran non pangan rumah tangga sebelum
dan sesudah pembangunan pelabuhan dialami oleh kelompok nelayan,
yaitu nilai terbesar Rp 8.000.000,00 naik menjadi Rp 15.400.000,00
sesudah pembangunan pelabuhan, dan nilai terkecil sebelum pembangunan
pelabuhan naik dari Rp 510.000,00 menjadi Rp 640.000,00. Rata-rata
pengeluaran non pangan rumah tangga kelompok nelayan juga mengalami
kenaikan, yaitu dari Rp 4.225.000,00 naik menjadi Rp 8.020.000,00
sesudah pembangunan pelabuhan (Tabel 4.15).

Sedangkan untuk kenaikan terendah pengeluaran non pangan


rumah tangga sebelum dan sesudah pembangunan pelabuhan dialami oleh
kelompok non perikanan, yaitu nilai terbesar Rp 1.250.000,00 naik
menjadi Rp 1.550.000,00 sesudah pembangunan pelabuhan, sedangkan
nilai terkecilnya tetap Rp 620.000,00 sebelum dan sesudah pembangunan
pelabuhan. Rata-rata pengeluaran non pangan rumah tangga kelompok non
perikanan sebelum pembangunan pelabuhan adalah Rp 850.000,00 naik
menjadi Rp 955.000,00 sesudah pembangunan pelabuhan (Tabel 4.15).
77

Tabel 4.15. Rata-rata Pengeluaran Non Pangan Responden


Sebelum dan Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara
Angke Tahun 2014

Pengeluaran Non Pangan Rumah Tangga (Rp)


Jenis
No Nilai Terbesar Nilai Terkecil Rata-rata
Matapencaharian
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1 Nelayan 8.000.000 15.400.000 510.000 640.000 4.225.000 8.020.000
Pedagang dan
2
Pengolah Ikan 3.000.000 5.000.000 875.000 600.000 2.158.333 2.875.000
Pedagang dan
3 Pengolah
Kerang 2.845.000 2.960.000 800.000 1.350.000 1.815.000 2.120.000
4 Non Perikanan 1.250.000 1.550.000 620.000 620.000 850.000 955.000
Rata-rata 2.269.583 3.492.500
Sumber : Data Primer diolah 2014

c. Total Pengeluaran Rumah Tangga

Total pengeluaran rumah tangga adalah nilai penjumlahan antara


pengeluaran pangan rumah tangga dan pengeluaran non pangan rumah
tangga dalam periode satu bulan. Kenaikan pengeluaran total rumah
tangga sebelum dan sesudah pembangunan pelabuhan dialami oleh
kelompok nelayan dan kelompok pedagang dan pengolah ikan. Namun
untuk nilai kenaikan terbesar dialami oleh kelompok nelayan, dengan nilai
selisih perubahan mencapai Rp 6.380.000,00 atau 53% dari nilai rata-rata.
Rata-rata pengeluaran total rumah tangga kelompok nelayan, yaitu naik
dari Rp 11.965.000,00 menjadi Rp 18.345.000,00. Nilai terbesar
pengeluaran total pada kelompok nelayan sebelum pembangunan
pelabuhan adalah Rp 23.000.000,00 dan naik menjadi Rp 35.400.000,00.
Sedangkan untuk nilai terkecilnya naik dari Rp 930.000,00 menjadi Rp
1.290.000,00 sesudah pembangunan pelabuhan (Tabel 4.16).
78

Tabel 4.16. Rata-rata Pengeluaran Total Responden Sebelum dan


Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara Angke
Tahun 2014

Pengeluaran Total Rumah Tangga (Rp)


Jenis
No Nilai Terbesar Nilai Terkecil Rata-rata
Matapencaharian
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
1 Nelayan 23.000.000 35.400.000 930.000 1.290.000 11.965.000 18.345.000
Pedagang dan
2
Pengolah Ikan 8.000.000 13.000.000 1.875.000 1.600.000 5.391.667 7.108.333
Pedagang dan
3 Pengolah
Kerang 5.845.000 4.460.000 1.620.000 2.150.000 3.588.333 3.386.667
4 Non Perikanan 3.050.000 3.350.000 2.120.000 2.120.000 2.675.000 2.530.000
Rata-rata 5.905.000 7.842.500

Sumber : Data Primer diolah 2014

Sedangkan pengeluaran total rumah tangga pada kelompok


pedagang dan pengolah kerang dan kelompok non perikanan mengalami
penurunan. Penurunan pada kelompok pedagang dan pengolah kerang
(Tabel 4.17), yaitu sebesar 6% atau senilai Rp 201.667,00, dengan nilai
rata-rata dari Rp 3.588.333,00, sesudah pembangunan pelabuhan turun
79

menjadi Rp 3.386.667,00. Pada kelompok non perikanan penurunannya


sebesar 6% atau senilai Rp 145.000,00, dengan nilai rata-rata Rp
2.675.000,00 turun menjadi Rp 2.530.000,00.

Tabel 4.17. Rata-rata Perubahan Pengeluaran Total Responden


Sebelum dan Sesudah Pembangunan Pelabuhan Muara
Angke Tahun 2014
Rata-rata Perubahan
No Jenis Matapencaharian Pengeluaran
(Rp) (%)
1 Nelayan 6.380.000 53
Pedagang dan Pengolah
2 Ikan 1.716.667 32
Pedagang dan Pengolah
3 Kerang -201.667 -6
4 Non Perikanan -145.000 -6
Jumlah 7.750.000 73
Rata-rata 1.937.500 18
Sumber : Data Primer diolah 2014

d. Ketimpangan Pendapatan dan Pengeluaran

Sesudah pembangunan pelabuhan Muara Angke terjadi


ketimpangan antara pendapatan dan pengeluaran. Pendapatan yang
diperoleh rumah tangga lebih rendah daripada pengeluaran yang
dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebelum
pembangunan pelabuhan, rata-rata pendapatan rumah tangga responden
adalah Rp 12.545.833,00 dengan pengeluaran rumah tangga sebesar Rp
5.905.000,00. Sesudah pembangunan pelabuhan, rata-rata pendapatan
rumah tangga responden adalah Rp 5.970.833 dengan pengeluaran rumah
tangga sebesar Rp 7.842.500.
80

Sumber : Data Primer diolah 2014

Tampak bahwa sesudah pembangunan pelabuhan muara angke,


pendapatan rumah tangga responden berada di bawah pengeluaran rumah
tangga. Diantara responden mengakui akan ketimpangan ini dan
menyatakan bahwa untuk mengatasi hal tersebut, sebagian responden
seperti kelompok nelayan, pengolah dan pedagang ikan dan non perikanan
terpaksa berhutang pada warung, tetangga, dan bahkan juragan mereka.
Pembayaran hutang diakui responden akan dilakukan setelah mereka
memiliki rezeki atau bahkan terkadang melalui potongan imbalan juragan
mereka. Realitas ini merupakan salah satu karakteristik utama masyarakat
pesisir yang dikenal dengan istilah patron klien, yaitu hubungan antara dua
orang yang sebagian besar melibatkan persahabatan instrumental, dimana
seseorang yang kedudukan sosialnya (patron) lebih tinggi menggunakan
pengaruh dan sumber daya yang dimilikinya untuk memberikan
perlindungan atau keuntungan, atau keduanya kepada orang yang
81

kedudukannya (client) lebih rendah.69 Pola hubungan seperti ini memiliki


ciri khusus yaitu adanya ketimpangan dalam pertukaran. Ketimpangan
tersebut terjadi karena juragan berada pada posisi yang lebih kuat dan kaya
dari pandeganya.70

F. Sikap Masyarakat Mengenai Dampak Pelabuhan Muara Angke

Dalam menanggapi pembangunan pelabuhan yang telah berdiri selama


hampir sepuluh tahun ini, masyarakat memiliki sikap yang menunjukkan adanya
optimisme terhadap pembangunan pelabuhan muara angke. Hal ini terlihat dari
hasil perhitungan sikap masyarakat yang diolah dengan Skala Likert (Lampiran
5), yaitu 10 orang (83,33%) setuju dan 2 orang (16,66%) sangat setuju terhadap
pembangunan pelabuhan Muara Angke (Tabel 4.18), hal ini dimungkinkan karena
kehadiran pelabuhan Muara Angke tidak menganggu kegiatan usaha mereka, di
samping itu sebagian besar responden juga belum mengetahui kepastian rencana
reklamasi Pantai Utara Jakarta, dengan kata lain belum ada sosialisasi oleh pihak
terkait bahwa lokasi mereka termasuk dalam peta rencana reklamasi Pantai Utara
Jakarta. Oleh karena itu, terlepas dari sikap optimis responden terhadap
pembangunan pelabuhan tersebut, mereka juga khawatir jika sewaktu-waktu
penggusuran terjadi di lahan yang mereka tempati, karena lahan yang selama ini
mereka tempati adalah lahan milik pemerintah. Seperti yang diutarakan oleh salah
satu responden berikut :

“Wilayah ini dahulunya rawa-rawa yang kurang terurus, terus dijadikan tambak-
tambak ikan oleh masyarakat pendatang yang mulai membangun pemukiman
disini dengan menguruk rawa-rawa, tapi pas udah ramai pemukiman tiba-tiba
wilayah yang kami tempati ini diklaim milik pemerintah”.71

69
Kusnadi, Nelayan : Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial, (Bandung : Humaniora
Utama Press, 2000), h. 18
70
Syamsir Salam, Amir Fadilah, Sosiologi Pedesaan, (Jakarta : Lembaga Penelitian UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008), h. 212
71
Wawancara dengan petugas keamanan, Bapak Supendi (36 Tahun), Sabtu 12 Juli 2014,
Pukul 14.15 WIB, di dalam rumah.
82

Tabel 4.18. Sikap Responden atas Pembangunan


Pelabuhan Muara Angke
Jumlah Presentase
No Kriteria
(orang) (%)
1 Sangat Setuju 2 16,66
2 Setuju 10 83,33
3 Tidak Setuju 0 0
4 Sangat Tidak Setuju 0 0
Jumlah 12 100,00
Sumber : Data Primer diolah dengan Skala Likert

Bagi sebagian besar responden, pembangunan pelabuhan Muara Angke


mampu mendatangkan keuntungan yang langsung dirasakan oleh masyarakat
setempat, terutama dalam hal menambah pendapatan keluarga (Tabel 4.19.) yang
dirasakan oleh 7 responden (58,33%), dapat memberikan kesempatan berusaha
dirasakan oleh 3 responden (25%), dengan terbukanya kesempatan bekerja bagi
anggota keluarga secara tidak langsung dapat menambah pendapatan keluarga.
Menyerap tenaga lokal dan keuntungan lan-lain sama-sama dirasakan oleh 1
responden (8,33%). Keuntungan diharapkan akan lebih besar lagi ketika
pelabuhan sudah menyelesaikan tahap pengembangan, misalnya seperti
pembuatan ruko, penginapan, rumah makan, dan jasa wisata lainnya, secara tidak
langsung hal ini akan berdampak signifikan terhadap pendapatan masyarakat
sekitar, terutama para juragan besar.

Tabel 4.19. Keuntungan yang Dirasakan Responden atas


Pembangunan Pelabuhan Muara Angke
Jumlah Presentase
No Keuntungan
(orang) (%)
Meningkatkan taraf
1
hidup/Kesejahteraan 0 0
2 Menyerap tenaga kerja lokal 1 8,33
Memberikan kesempatan
3
berusaha 3 25
4 Menambah pendapatan keluarga 7 58,33
83

5 lain-lain 1 8,33
6 Tidak ada/tidak memilih 0 0
Jumlah 12 100,00
Sumber : Data Primer diolah 2014

Sedangkan dalam hal kerugian yang dirasakan responden akibat


pembangunan pelabuhan Muara Angke (Tabel 4.20.), sebanyak 7 responden
(58,33%) atau sebagian besar menunjukkan belum adannya kerugian yang
signifikan, menurut mereka kehadiran pelabuhan muara angke tidak begitu
menganggu kegiatan usaha mereka dan lebih banyak mendatangkan keuntungan,
namun mereka juga mengkhawatirkan jika suatu saat wilayah mereka terkena
penggusuran oleh pemerintah. Sebanyak 3 responden (25%) merasa tidak nyaman
berusaha, sikap ini diutarakan oleh kelompok non perikanan (ojek odong-odong)
yang merasa tidak nyaman karena terbatasnya akses perjalanan akibat penutupan
jalan oleh pihak pelabuhan sehingga berpengaruh pada pendapatan mereka.
Kemudian penurunan pendapatan dan kepadatan penduduk dirasakan oleh
masing-masing 1 responden (8,33%).

Tabel 4.20. Kerugian yang Dirasakan Responden atas


Pembangunan Pelabuhan Muara Angke
Jumlah Presentase
No Kerugian
(orang) (%)
1 Penurunan pendapatan 1 8,33
Bertambahnya
2
pengeluaran 0 0
3 membuat keributan 0 0
4 Terjadinya pungutan liar 0 0
5 Kepadatan penduduk 1 8,33
6 Timbulnya kesemrawutan 0 0
Mempengaruhi budaya
7
lokal 0 0
merasa tidak nyaman
8
berusaha 3 25
9 Lain-lain 0 0
84

10 Tidak ada/tidak memilih 7 58,33


Jumlah 12 100,00
Sumber : Data Primer diolah 2014

Dari keterangan hasil pengukuran sikap diatas, diketahui bahwa seluruh


responden menunjukkan sikap optimisme terhadap pembangunan dan
pengembangan pelabuhan Muara Angke, mereka menyambut baik kehadiran
pelabuhan Muara Angke, sebagian besar mereka manyatakan bahwa dengan
kehadiran pelabuhan mereka lebih banyak merasakan keuntungan dari pada
kerugian, ada juga responden yang mempunnyai sikap netral terhadap kehadiran
pelabuhan. Namun, terlepas dari keuntungan yang mereka rasakan, sebagian besar
responden terutama mereka yang memiliki rumah non permanen
mengkhawatirkan tempat tinggal mereka yang bisa saja sewaktu-waktu terkena
penggusuran oleh pemerintah.
85

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pemaparan-pemaparan di atas, disimpulkan bahwa reklamasi


pantai memberi dampak peralihan pada pola kegiatan sosial, budaya dan ekonomi
maupun habitat ruang perairan masyarakat sebelum direklamasi. Perubahan yang
terjadi harus menyesuaikan peralihan fungsi kawasan dan pola ruang kawasan,
selanjutnya, berimplikasi pada perubahan ketersediaan jenis lapangan kerja baru
dan bentuk keragaman usaha baru yang ditawarkan. Pembangunan pelabuhan
Muara Angke telah menambah keragaman jenis mata pencaharian masyarakat di
sekitar pelabuhan, tidak hanya terpaku pada mata pencaharian perikanan, tetapi
juga mata pencaharian lain di luar perikanan (non perikanan), seperti menjadi
tukang ojek odong-odong, ojek motor atau sepeda, becak dan membuka warung
kelontong.

Perubahan dalam hal pendapatan rumah tangga, rata-rata responden


mengalami penurunan pendapatan yaitu pada kelompok pedagang dan pengolah
kerang serta non perikanan, penurunan sebesar lebih dari 3 kali lipat (360%)
dialami oleh nelayan dari pendapatan awal sebelum pembangunan pelabuhan.
Kenaikan hanya terjadi pada kelompok pedagang dan pengolah ikan, yaitu sebesar
10% atau senilai Rp 1.166.667,00. Sedangkan, perubahan dalam hal pengeluaran
rumah tangga, kelompok pedagang dan pengolah ikan dan nelayan mengalami
kenaikan pengeluaran, terutama pada kelompok nelayan dengan kenaikan sebesar
53%. Penurunan dialami oleh kelompok pedagang dan pengolah kerang serta non
perikanan dengan persentase penurunan masing-masing sebesar 6%.

Sikap responden terhadap kehadiran pelabuhan Muara Angke


menunjukkan adanya sikap optimisme jika pengembangan pelabuhan tetap
memperhatikan pemberdayaan masyarakat sekitar. Namun, dibalik sikap

85
86

optimisme tersebut, mereka juga mengkhawatirkan tempat tinggalnya jika suatu


saat ada penggusuran.

B. Saran

Sebagaimana yang telah dipaparkan, maka disarankan kepada pihak-pihak


terkait, supaya dapat melakukan pengembangan-pengembangan dan memberikan
solusi-solusi alternatif yang relevan bagi pengembangan sosial ekonomi
masyarakat pesisir yang terkena dampak reklamasi.

1. Guna menghindari konflik kepentingan, maka penyusunan tata ruang


disusun dengan zonasi-zonasi pengembangan yang dianalisis dari aspek
ekologis, sosial, ekonomi dan budaya. Disamping itu perlu sosialisasi
yang lebih intensif kepada masyarakat tentang pengembangan pelabuhan
Muara Angke sebagai dermaga penyeberangan dari dan ke Kepulauan
Seribu dan pengawasan serta perawatan yang efektif oleh petugas dinas
terkait.
2. Pemerintah pusat dan daerah hendaknya melibatkan masyarakat dalam
pembangunan dan pengembangan kawasan dengan cara memberikan
rangsangan dan insentif dalam mendukung kegiatan jasa dan pariwisata
dan melakukan upaya-upaya untuk membangun kelembagaan masyarakat
yang dapat mengakomodasi semua kepentingan pelaku ekonomi
masyarakat setempat khususnya pengembangan wisata terpadu.
3. Perlu dilakukan penelitian serupa di daerah atau tempat lain sebagai
pembanding dan memperluas khasanah keilmuan mengenai
pengembangan kawasan dan dampaknya bagi masyarakat pesisir.
87

DAFTAR PUSTAKA

Abdulsyani, SOSIOLOGI : Skematika, Teori, dan Terapan, Jakarta : PT. Bumi


Aksara, 2012.

Al furqon, Pelabuhan Muara Angke Dilengkapi Pemecah Ombak, 2012,


(http://www.jakarta.go.id/v2/news/2012/01/Pelabuhan-Muara-Angke
Dilengkapi-Pemecah-Ombak)

Anonim Undergraduated Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya,


pdf

Badan Pelaksana Reklamasi Pantai Utara Jakarta, “Rencana Kawasan Reklamasi


Pantai Utara Jakarta”, 2008, (http://panturajakarta.blogspot.com/)

Dahuri, Rokhmin, Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan, untuk Kesejahteraan


Rakyat (Kumpulan Pemikiran Dr. Ir. Rokhim Dahuri MS), Jakarta :
Lembaga Informasi dan Studi Pembangunan Indonesia, 2000.

Darajati, Wahyuningsih, (Direktur Kelautan dan Perikanan, Bappenas), “Strategi


Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu dan
Berkelanjutan”, Makalah Sosialisasi Nasional MFCDP, 22 September
2004.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Kebijakan Pengembangan Pelabuhan Muara


Angke, (http://dishub.jakarta.go.id/informasi/4/bidang-transportasi-laut
udara?page=10)

Djakapermana, Deni Ruchyat, Sekretaris Direktorat Jenderal Penataan Ruang,


Reklamasi Pantai Sebagai Alternatif Pengembangan Kawasan,
Kementerian PU.

Faisal, Sanapiah, Format-format Penelitian Sosial, Jakarta : PT. RajaGrafindo


Persada, 2003.
88

Hanurawan, Fattah, Psikologi Sosial Suatu Pengantar, Bandung : PT. Remaja


Rosdakarya, 2010.

Hardjono, Rayner, Kamus Populer Inggris-Indonesia, Jakarta : PT. Gramedia


Pustaka Utama, 2002.

Istilah Statistik, Badan Pusat Statistik,


(http://www.bps.go.id/menutab.php?tab=6&ist=1&var=P)

Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan


Nasional, 2008.

Kusnadi, Nelayan : Strategi Adaptasi dan Jaringan Sosial, Bandung : Humaniora


Utama Press, 2000.

Modul Terapan, Pedoman Perencanaan Tata Ruang Kawasan Reklamasi Pantai


(Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 44/PRT/M/2007), Direktorat
Jenderal Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan Umum.

Nugroho Iwan., dan Dahuri Rokhmin, Pengembangan Wilayah : Pespektif


Ekonomi, Sosial dan Lingkungan, Jakarta : LP3ES, 2012.

Ringkasan Eksekutif Pengeluaran dan Konsumsi Penduduk Indonesia (Hasil


SUSENAS Panel Maret 2010), Jakarta : Badan Pusat Statistik.

Salam Syamsir., dan Fadilah Amir, Sosiologi Pedesaan, Jakarta : Lembaga


Penelitian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008.

Soehartono, Irawan, Metode Penelitian Sosial : Suatu Teknik Penelitian Bidang


Kesejahteraan Sosial dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 2011.

Soehoed, A.R, Bunga Rampai Pembangunan : Antara Harapan dan Ancaman


Masa Depan, Jakarta : Puri Fadjar Mandiri dan FTUI, 2002.
89

_______, Proyek PANTURA Transformasi dari Ibukota Propinsi ke Ibukota


Negara : Persiapan-persiapan Bagi Proyek Multifungsi, Jakarta :
Djambatan, 2004.

Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : PT. RajaGrafindo


Persada, 2009.

Soetomo, Masalah Sosial dan Pembangunan, Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya,
1995.

Supardan, Dadang, Pengantar Ilmu Sosial Dasar : Sebuah Kajian Pendekatan


Struktural, Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2007.

Supono, Sapto, (Desertasi), Model Kebijakan Pengembangan Kawasan Pantai


Utara Jakarta Secara Berkelanjutan, Desertasi pada Sekolah Pascasarjana
Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, 2009, tidak dipublikasikan.

Supriharyono, Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir


Tropis. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2000.

Susanto. S, Phill Astrid, Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, Bandung:


Bina Cipta, 1977.

Utama, Darma, (Skripsi), Dampak Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak


Terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Nelayan di Muara Angke, Jakarta
Utara, DKI Jakarta, Skripsi pada Prodi Manajemen Bisnis dan Ekonomi
Perikanan Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor (IPB), Bogor, 2006, tidak dipublikasikan.

Zuriah, Nurul, Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan : Teori dan Aplikasi,
Jakarta : PT Bumi Aksara, 2009.
90

Lampiran 1 Karakteristik Responden (Umur, Jumlah Anggota Keluarga,


Tingkat Pendidikan, dan Pengalaman Usaha)

Jumlah
Pengalaman
Umur Anggota Tingkat
No Berusaha
(Tahun) Keluarga Pendidikan
(Tahun)
(Orang)
1 53 6 SD 10
2 48 6 SLTA 25
3 44 8 SLTP 20
4 44 5 SD 20
5 80 8 SD - 30
6 45 6 SD 15
7 40 6 TIDAK 4
SEKOLAH
8 34 4 SLTA 14
9 46 4 SD - 9
10 49 4 SLTP 1
11 36 4 SLTA 4 (Bulan)
12 38 4 SLTA 1
Keterangan : SD - = SD dan tidak menamatkannya
91

Lampiran 2 Kondisi Perumahan Responden Menurut Kriteria Badan Pusat


Statistik pada SUSENAS 2003

Kondisi Perumahan
No Jumlah Skor Kriteria
Atap Bilik Status Lantai Luas
1 2 4 3 4 2 15 3 Permanen
2 2 4 2 4 2 14 2 Semi Permanen
3 3 4 3 4 2 16 3 Permanen
4 2 3 3 2 2 12 2 Semi Permanen
5 2 4 3 4 2 15 3 Permanen
6 2 2 3 2 1 10 2 Semi Permanen
7 3 4 3 4 1 15 3 Permanen
8 2 4 3 4 1 14 2 Semi Permanen
9 2 2 2 2 1 9 1 Non Permanen
10 2 2 2 2 1 9 1 Non Permanen
11 2 4 3 3 1 13 2 Semi Permanen
12 2 2 2 3 1 10 2 Semi Permanen
Rata-rata Semi Permanen
92

Lampiran 3 Fasilitas Perumahan Responden Menurut Kriteria Badan


Pusat Statistik pada SUSENAS 2003

Fasilitas Perumahan
No Bahan Sumber Jumlah Skor Kriteria
Pekarangan Hiburan Pendingin MCK
Bakar Air
1 1 3 2 3 5 3 17 2 Sedang
2 1 3 4 3 5 3 19 3 Lengkap
3 1 3 4 3 5 3 19 3 Lengkap
4 1 4 2 3 5 3 18 3 Lengkap
5 1 3 4 3 5 3 19 3 Lengkap
6 1 3 2 3 5 3 17 2 Sedang
7 1 4 2 3 5 3 18 3 Lengkap
8 1 4 4 3 5 3 20 3 Lengkap
9 1 4 2 3 5 2 17 2 Sedang
10 1 3 2 3 5 2 16 2 Sedang
11 1 3 4 3 5 3 19 3 Lengkap
12 1 3 2 3 5 2 16 2 Sedang
Rata-rata Lengkap
93

Lampiran 4 Indikator Kondisi dan Fasilitas Perumahan Menurut


Badan Pusat Statistik pada SUSENAS 2003 yang
dimodifikasi

Indikator Kondisi dan Fasilitas


No Kriteria Skor
Perumahan
1 Kondisi perumahan : 4. Permanen (Skor : 3
f. Atap : Genteng (3) / Asbes 15-18)
(2) / Seng (1) 5. Semi permanen 2
g. Bilik : Tembok (4) / (Skor : 10-14)
Setengah tembok (3) / Kayu 6. Non permanen 1
(2) / Bambu kayu (1) (Skor : 5-9)
h. Status : Milik sendiri (3) /
Sewa (2) /Numpang (1)
i. Lantai : Porselin (5) / Ubin
(4) / Plester (3) / Papan (2) /
Tanah (1)
j. Luas : > 100 m2 (3) / 50 –
100 m2 (2) / < 50 m2 (1)
2 Fasilitas perumahan : 4. Lengkap (Skor : 3
g. Pekarangan : > 100 m2 (3) / 18-22)
50 – 100 m2 (2) / < 50 m2 5. Sedang (Skor : 2
(1) 12-17)
h. Hiburan : Video (4) / TV 6. Kurang (Skor : 6- 1
(3) / Tape recorder (2) / 11)
Radio (1)
i. Pendingin : AC (4) / Lemari
es (3) / Kipas angin (2) /
Alam (1)
j. Bahan bakar : Gas (3) /
Minyak tanah (2) / Kayu (1)
k. Sumber air : PAM (5) /
Sumur bor (4) / Mata air (3)
/ Air hujan (2) / Sungai (1)
l. MCK : Kamar mandi
sendiri (3) / Kamar mandi
umum (2) / Sungai (1)
94

Lampiran 5 Hasil Skor Sikap Responden Mengenai Kehadiran Pelabuhan


Muara Angke

Indikator (Butir Soal)


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor Kriteria
(+) (+) (+) (-) (+) (+) (-) (-) (+) (+)
1 4 3 3 1 4 4 3 1 4 3 30 SETUJU
2 3 3 3 2 3 3 2 3 3 3 28 SETUJU
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30 SETUJU
4 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 29 SETUJU
5 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 29 SETUJU
6 3 2 3 2 2 2 3 2 2 2 23 SETUJU
7 2 2 2 3 3 3 3 3 1 3 25 SETUJU
8 2 2 3 2 2 2 3 2 3 3 24 SETUJU
9 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 27 SETUJU
SANGAT
10 4 3 3 2 3 3 3 3 3 4 31 SETUJU
11 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 25 SETUJU
SANGAT
12 4 4 3 3 4 4 3 3 3 4 35 SETUJU
Keterangan :
(+) = Pertanyaan Positif, Sangat Setuju (4), Setuju (3), Tidak Setuju (2),
Sangat Tidak Setuju (1)
(-) = Pertanyaan Negatif, Sangat Setuju (1), Setuju (2), Tidak Setuju (3),
Sangat Tidak Setuju (4)
Skor :
1 –10 = Sangat Tidak Setuju 11 – 20 = Tidak Setuju
21 – 30 = Setuju 31 – 40 = Sangat Setuju
95

Lampiran 6 Kuesioner Penelitian

KUESIONER

“PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TERHADAP


REKLAMASI PANTAI UTARA JAKARTA (TINJAUAN SOSIOLOGIS
MASYARAKAT DI SEKITARAN PELABUHAN MUARA ANGKE,
KELURAHAN PLUIT, JAKARTA UTARA)”

Nama Responden : …………………………………………

Alamat : …………………………………………

Kelurahan : …………………………………………

Kecamatan : …………………………………………

Propinsi : DKI Jakarta

Nama Pewawancara : …………………………………………

Hari/Tanggal : …………………………………………

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014/1435 H
96

A. Karakteristik Responden

1. Nama responden : …………………………………………


2. Jenis Kelamin : …………………………………………
3. Umur : …………………………………………
4. Suku bangsa : …………………………………………
5. Pendidikan : …………………………………………
6. Mata pencaharian utama : …………………………………………
7. Apakah mata pencaharian Anda merupakan peralihan akibat adanya
Pelabuhan Muara Angke ? ………………………………………… (Jika
tidak, lanjut No. 7)
Jika iya, apa mata pencaharian utama sebelumnya dan kenapa beralih ?
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………

8. Sudah berapa lama menjalani usaha tersebut ? ……………………………

9. Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil mata pencaharian
utama tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara
Angke)
Sebelum : Rp …………………………………………
Sesudah : Rp …………………………………………

10. Apakah mempunyai usaha lain, disamping mata pencaharian utama dalam
menambah pendapatan keluarga ? …………………………………………
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil usaha sampingan
tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara Angke)
Sebelum : Rp …………………………………………
Sesudah : Rp …………………………………………
97

11. Usaha apa saja yang dapat dikerjakan dengan memanfaatkan kehadiran
Pelabuhan Muara Angke ? …………………………………………
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil pemanfaatan
kehadiran Pelabuhan Muara Angke tersebut ? Rp
…………………………………………
Jika tidak memanfaatkan, kenapa ? ………………………………………..
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………

12. Anggota Keluarga


No Nama Status dalam Jenis Umur
keluarga kelamin
1
2
3
4
5
6
7
8
9

B. Pengeluaran Rumah Tangga


Bulanan ( Rp ) Tahunan (Rp )
No Macam Kebutuhan
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah

A. Pangan :

1. Beras
2. Lauk pauk dan
sayuran
3. Makanan
tambahan
98

4. Kebutuhan dapur
Total

B. Non Pangan :

1. Pendidikan
2. Perumahan
3. Kesehatan
4. Listrik
5. Air/PAM
6. Telepon
Total

C. Kondisi dan Fasilitas Perumahan

1. Kondisi Perumahan
Atap Bilik Status Lantai Luas

1. Seng 1. Bambu 1. Numpang 1. Tanah 1. < 50 m2


2. Asbes kayu 2. Sewa 2. Papan 2. 50 –
2
3. Genteng 2. Kayu 3. Milik 3. Plester 100 m
3. Setengah sendiri 4. Ubin 3. > 100
tembok 5. Porselin m2
4. Tembok

2. Fasilitas Perumahan
Pekarangan Hiburan Pendingin Bahan Sumber MCK
Bakar Air

1. < 50 m2 1. Radio 1. Alam 1. Kayu 1. Sungai 1. Sungai


2. 50 – 100 2. Tape 2. Kipas 2. Minyak 2. Air 2. Kamar
m2 record angin tanah hujan mandi
3. > 100 m2 er 3. Lemari 3. Gas 3. Mata umum
3. TV es air 3. Kamar
4. Video 4. AC 4. Sumur mandi
bor sendiri
5. PAM
99

D. Sikap Masyarakat Terhadap Pembangunan Pelabuhan Muara Angke

1. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat menambah pendapatan rumah


tangga
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

2. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan kesejahteraan


keluarga (pangan, sandang, papan yang lebih baik)
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

3. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke dapat memberikan lapangan pekerjaan


yang lebih banyak
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

4. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi semakin


padat warganya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

5. Dengan adanya kegiatan di Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi


lebih maju dan berkembang
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

6. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan pendidikan


anak-anak di wilayah kami menjadi lebih baik
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

7. Para pengunjung yang datang ke Pelabuhan Muara Angke memberikan


pengaruh buruk bagi masyarakat di wilayah kami
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju
100

8. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke mengakibatkan pudarnya budaya


masyarakat nelayan
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

9. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke membuat masyarakat di wilayah kami


mengenal teknologi yang lebih maju
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

10. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke lebih banyak mendatangkan keuntungan


dibandingkan dengan kerugiannya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

11. Keuntungan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran


Pelabuhan Muara Angke (keuntungan utama)
a. Meningkatkan taraf hidup / kesejahteraan...................................................
b. Menyerap tenaga kerja lokal .......................................................................
c. Memberikan kesempatan berusaha .............................................................
d. Menambah pendapatan keluarga .................................................................
e. Lain-lain .....................................................................................................
12. Permasalahan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran
Pelabuhan Muara Angke (permasalahan utama)
a. Penurunan pendapatan .................................................................................
b. Bertambahnya pengeluaran .........................................................................
c. Membuat keributan......................................................................................
d. Terjadinya pungutan liar .............................................................................
e. Kepadatan penduduk ...................................................................................
f. Timbulnya kesemrawutan ............................................................................
g. Mempengaruhi budaya lokal .......................................................................
h. Merasa tidak nyaman berusaha ...................................................................
i. Lain-lain ......................................................................................................
j. .....................................................................................................................
101

Lampiran 7 Pedoman Wawancara Tokoh Masyarakat

PEDOMAN WAWANCARA

“PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TERHADAP


REKLAMASI PANTAI UTARA JAKARTA (TINJAUAN SOSIOLOGIS
MASYARAKAT DI SEKITARAN PELABUHAN MUARA ANGKE,
KELURAHAN PLUIT, JAKARTA UTARA)”

Nama Responden : …………………………………………

Alamat : …………………………………………

Kelurahan : …………………………………………

Kecamatan : …………………………………………

Propinsi : DKI Jakarta

Nama Pewawancara : …………………………………………

Hari/Tanggal : …………………………………………

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014/1435 H
102

A. Karakteristik Responden

1. Nama responden : …………………………………………


2. Jenis Kelamin : …………………………………………
3. Umur : …………………………………………
4. Suku bangsa : …………………………………………
5. Pendidikan : …………………………………………
6. Mata pencaharian utama : …………………………………………

B. Sikap Terhadap Pembangunan Pelabuhan Muara Angke


1. Bagaimana pandangan dan sikap masyarakat terhadap pembangunan
pelabuhan Muara Angke ?
2. Bagaimana sikap masyarakat terhadap proses pembebasan lahan ?
3. Bagaimana sikap masyarakat terhadap lingkungan baru ini, apakah
menyenangkan atau sebaliknya ?
a. Jika lebih menyenangkan, mengapa ?
b. Jika sebaliknya, mengapa ?
4. Apakah terjadi perubahan pola hubungan sosial antar masyarakat,
Bagaimanakah prosesnya dan mengapa hal itu bisa terjadi ?
5. Apakah terjadi perubahan mata pencaharian masyarakat, Bagaimanakah
prosesnya dan mengapa hal itu bisa terjadi ?
6. Apakah ada pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan dan
operasional pelabuhan Muara Angke ?
7. Bagaimana masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dengan kehadiran
pelabuhan Muara Angke ?
103

Lampiran 8 Hasil Kuesioner Penelitian (Perwakilan Masing-masing


Mata Pencaharian)
HASIL KUESIONER PENELITIAN

“PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TERHADAP


REKLAMASI PANTAI UTARA JAKARTA (TINJAUAN SOSIOLOGIS
MASYARAKAT DI SEKITARAN PELABUHAN MUARA ANGKE,
KELURAHAN PLUIT, JAKARTA UTARA)”

Nama Responden : Warkiman

Alamat : Kampung Nelayan, Blok Empang

Kelurahan : Pluit

Kecamatan : Penjaringan

Propinsi : DKI Jakarta

Nama Pewawancara : Ibnu Mustaqim

Hari/Tanggal : Kamis, 10 Juli 2014, Pukul 11.10 WIB

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014/1435 H
104

A. Karakteristik Responden
1. Nama responden : Warkiman
2. Jenis Kelamin : Laki-laki
3. Umur : 53 Tahun
4. Suku bangsa : Jawa
5. Pendidikan : SD
6. Mata pencaharian utama : Pengurus Nelayan
7. Apakah mata pencaharian Anda merupakan peralihan akibat adanya
Pelabuhan Muara Angke ? Iya (Jika tidak, lanjut No. 7)
Jika iya, apa mata pencaharian utama sebelumnya dan kenapa beralih ?
Nelayan

8. Sudah berapa lama menjalani usaha tersebut ? 10 Tahun

9. Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil mata pencaharian
utama tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara
Angke)
Sebelum : Rp 1.500.000,00
Sesudah : Rp 3.000.000,00

10. Apakah mempunyai usaha lain, disamping mata pencaharian utama dalam
menambah pendapatan keluarga ? Teknisi listrik
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil usaha sampingan
tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara Angke)
Sebelum : Rp 400.000,00
Sesudah : Rp 700.000,00

11. Usaha apa saja yang dapat dikerjakan dengan memanfaatkan kehadiran
Pelabuhan Muara Angke ? -
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil pemanfaatan
kehadiran Pelabuhan Muara Angke tersebut ? Rp -
Jika tidak memanfaatkan, kenapa ? -

12. Anggota Keluarga


No Nama Status dalam Jenis Umur
keluarga kelamin
1 Warkiman Kepala keluarga L 53
2 Munirah Istri P 49
3 Anton Anak L 30
105

4 Yanto Anak L 25
5 Karyono Anak L 20
6 Febri Anak L 12
7
8
9

B. Pengeluaran Rumah Tangga

Bulanan ( Rp ) Tahunan (Rp )


No Macam Kebutuhan
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
A. Pangan :
1. Beras 200.000 400.000
2. Lauk pauk dan 100.000 100.000
sayuran
3. Makanan 40.000 50.000
tambahan
4. Kebutuhan dapur 80.000 100.000
Total 420.000 650.000
B. Non Pangan :
1. Pendidikan 70.000 100.000
2. Perumahan - -
3. Kesehatan 100.000 200.000
4. Listrik 40.000 40.000
5. Air/PAM 300.000 300.000
6. Telepon - -
Total 510.000 640.000

C. Kondisi dan Fasilitas Perumahan


1. Kondisi Perumahan
Atap Bilik Status Lantai Luas
1. Seng 1. Bambu 1. Numpang 1. Tanah 1. < 50 m2
2. Asbes kayu 2. Sewa 2. Papan 2. 50 –
3. Genteng 2. Kayu 3. Milik 3. Plester 100 m2
3. Setengah sendiri 4. Ubin 3. > 100
tembok 5. Porselin m2
4. Tembok
106

2. Fasilitas Perumahan
Pekarangan Hiburan Pendingin Bahan Sumber MCK
Bakar Air
4. < 50 m2 5. Radio 5. Alam 4. Kayu 6. Sungai 4. Sungai
5. 50 – 100 6. Tape 6. Kipas 5. Minyak 7. Air 5. Kamar
m2 record angin tanah hujan mandi
6. > 100 m2 er 6. Gas 8. Mata umum
7. Lemari
7. TV air 6. Kamar
es
8. Video 9. Sumur mandi
8. AC
bor sendiri
10. PAM

D. Sikap Masyarakat Terhadap Pembangunan Pelabuhan Muara Angke


1. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat menambah pendapatan rumah
tangga
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

2. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan kesejahteraan


keluarga (pangan, sandang, papan yang lebih baik)
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

3. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke dapat memberikan lapangan pekerjaan


yang lebih banyak
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

4. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi semakin


padat warganya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

5. Dengan adanya kegiatan di Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi


lebih maju dan berkembang
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

6. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan pendidikan


anak-anak di wilayah kami menjadi lebih baik
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

7. Para pengunjung yang datang ke Pelabuhan Muara Angke memberikan


pengaruh buruk bagi masyarakat di wilayah kami
107

a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

8. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke mengakibatkan pudarnya budaya


masyarakat nelayan
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

9. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke membuat masyarakat di wilayah kami


mengenal teknologi yang lebih maju
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

10. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke lebih banyak mendatangkan keuntungan


dibandingkan dengan kerugiannya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

11. Keuntungan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran


Pelabuhan Muara Angke (keuntungan utama)
a. Meningkatkan taraf hidup / kesejahteraan ............................................
b. Menyerap tenaga kerja lokal .................................................................
c. Memberikan kesempatan berusaha .......................................................
d. Menambah pendapatan keluarga ...........................................................
e. Lain-lain ...............................................................................................

12. Permasalahan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran


Pelabuhan Muara Angke (permasalahan utama)
a. Penurunan pendapatan ..........................................................................
b. Bertambahnya pengeluaran ...................................................................
c. Membuat keributan ...............................................................................
d. Terjadinya pungutan liar .......................................................................
e. Kepadatan penduduk .............................................................................
f. Timbulnya kesemrawutan......................................................................
g. Mempengaruhi budaya lokal.................................................................
h. Merasa tidak nyaman berusaha .............................................................
i. Lain-lain Belum ada
108

HASIL KUESIONER PENELITIAN

“PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TERHADAP


REKLAMASI PANTAI UTARA JAKARTA (TINJAUAN SOSIOLOGIS
MASYARAKAT DI SEKITARAN PELABUHAN MUARA ANGKE,
KELURAHAN PLUIT, JAKARTA UTARA)”

Nama Responden : Munip

Alamat : Kampung Nelayan, Blok Eceng

Kelurahan : Pluit

Kecamatan : Penjaringan

Propinsi : DKI Jakarta

Nama Pewawancara : Ibnu Mustaqim

Hari/Tanggal : Minggu, 31 Agustus 2014, Pukul 15.50 WIB

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014/1435 H
109

A. Karakteristik Responden
1. Nama responden : Munip
2. Jenis Kelamin : Laki-laki
3. Umur : 48 Tahun
4. Suku bangsa : Madura
5. Pendidikan : SMA
6. Mata pencaharian utama : Pengurus Nelayan (Rajungan)
7. Apakah mata pencaharian Anda merupakan peralihan akibat adanya
Pelabuhan Muara Angke ? Tidak (Jika tidak, lanjut No. 7)
Jika iya, apa mata pencaharian utama sebelumnya dan kenapa beralih ?

8. Sudah berapa lama menjalani usaha tersebut ? 25 Tahun

9. Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil mata pencaharian
utama tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara
Angke)
Sebelum : Rp 45.000.000,00
Sesudah : Rp 6.500.000,00

10. Apakah mempunyai usaha lain, disamping mata pencaharian utama dalam
menambah pendapatan keluarga ? Tidak
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil usaha sampingan
tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara Angke)
Sebelum : Rp -
Sesudah : Rp -

11. Usaha apa saja yang dapat dikerjakan dengan memanfaatkan kehadiran
Pelabuhan Muara Angke ? Tidak ada
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil pemanfaatan
kehadiran Pelabuhan Muara Angke tersebut ? Rp -
Jika tidak memanfaatkan, kenapa ? belum tertarik, tapi mungkin jika
pelabuhan sudah ramai saya akan membuka usaha di sana

12. Anggota Keluarga


No Nama Status dalam Jenis Umur
keluarga kelamin
1 Munip Kepala keluarga L 48
2 Humiah Istri P 39
3 Khotimah Anak P 17
110

4 Zainal Arifin Anak L 12


5 M. Umar Anak L 7
6 Siti Muarofah Anak P 3
7
8
9

B. Pengeluaran Rumah Tangga

Bulanan ( Rp ) Tahunan (Rp )


No Macam Kebutuhan
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
A. Pangan :
1. Beras 4.000.000 6.000.000
2. Lauk pauk dan 6.000.000 8.000.000
sayuran
3. Makanan 2.000.000 2.000.000
tambahan
4. Kebutuhan dapur 3.000.000 4.000.000
Total 15.000.000 20.000.000
B. Non Pangan :
1. Pendidikan 5.000.000 8.000.000
2. Perumahan 200.000 400.000
3. Kesehatan 1.000.000 1.000.000
4. Listrik 400.000 400.000
5. Air/PAM 400.000 600.000
6. Telepon 1.000.000 2.000.000
Total 8.000.000 15.400.000

C. Kondisi dan Fasilitas Perumahan


1. Kondisi Perumahan
Atap Bilik Status Lantai Luas
1. Seng 1. Bambu 1. Numpang 1. Tanah 1. < 50 m2
2. Asbes kayu 2. Sewa 2. Papan 2. 50 –
3. Genteng 2. Kayu 3. Milik 3. Plester 100 m2
3. Setengah sendiri 4. Ubin 3. > 100
tembok 5. Porselin m2
4. Tembok
111

2. Fasilitas Perumahan
Pekarangan Hiburan Pendingin Bahan Sumber MCK
Bakar Air
1. < 50 m2 1. Radio 1. Alam 1. Kayu 1. Sungai 1. Sungai
2. 50 – 100 2. Tape 2. Kipas 2. Minyak 2. Air 2. Kamar
m2 record angin tanah hujan mandi
3. > 100 m2 er 3. Gas 3. Mata umum
3. Lemari
3. TV air 3. Kamar
es
4. Video 4. Sumur mandi
4. AC
bor sendiri
5. PAM

D. Persepsi Mengenai Pembangunan Pelabuhan Muara Angke


1. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat menambah pendapatan rumah
tangga
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

2. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan kesejahteraan


keluarga (pangan, sandang, papan yang lebih baik)
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

3. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke dapat memberikan lapangan pekerjaan


yang lebih banyak
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

4. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi semakin


padat warganya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

5. Dengan adanya kegiatan di Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi


lebih maju dan berkembang
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

6. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan pendidikan


anak-anak di wilayah kami menjadi lebih baik
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

7. Para pengunjung yang datang ke Pelabuhan Muara Angke memberikan


pengaruh buruk bagi masyarakat di wilayah kami
112

a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

8. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke mengakibatkan pudarnya budaya


masyarakat nelayan
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

9. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke membuat masyarakat di wilayah kami


mengenal teknologi yang lebih maju
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

10. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke lebih banyak mendatangkan keuntungan


dibandingkan dengan kerugiannya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

11. Keuntungan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran


Pelabuhan Muara Angke (keuntungan utama)
a. Meningkatkan taraf hidup / kesejahteraan ...............................................
b. Menyerap tenaga kerja lokal ....................................................................
c. Memberikan kesempatan berusaha ..........................................................
d. Menambah pendapatan keluarga..............................................................
e. Lain-lain Banyak orang berdatangan

12. Permasalahan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran


Pelabuhan Muara Angke (permasalahan utama)
a. Penurunan pendapatan .............................................................................
b. Bertambahnya pengeluaran ......................................................................
c. Membuat keributan ..................................................................................
d. Terjadinya pungutan liar ..........................................................................
e. Kepadatan penduduk ................................................................................
f. Timbulnya kesemrawutan.........................................................................
g. Mempengaruhi budaya lokal....................................................................
h. Merasa tidak nyaman berusaha ................................................................
i. Lain-lain Belum begitu merasakan
113

HASIL KUESIONER PENELITIAN

“PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TERHADAP


REKLAMASI PANTAI UTARA JAKARTA (TINJAUAN SOSIOLOGIS
MASYARAKAT DI SEKITARAN PELABUHAN MUARA ANGKE,
KELURAHAN PLUIT, JAKARTA UTARA)”

Nama Responden : Khafidin (Ketua RW 011)

Alamat : Kampung Nelayan, Muara Angke RW 011

Kelurahan : Pluit

Kecamatan : Penjaringan

Propinsi : DKI Jakarta

Nama Pewawancara : Ibnu Mustaqim

Hari/Tanggal : Sabtu, 12 Juli 2014, Pukul 15.10 WIB

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014/1435 H
114

E. Karakteristik Responden
1. Nama responden : Khafidin
2. Jenis Kelamin : Laki-laki
3. Umur : 44 Tahun
4. Suku bangsa : Serang (Banten)
5. Pendidikan : SMP
6. Mata pencaharian utama : Pedagang Ikan
7. Apakah mata pencaharian Anda merupakan peralihan akibat adanya
Pelabuhan Muara Angke ? Tidak (Jika tidak, lanjut No. 7)
Jika iya, apa mata pencaharian utama sebelumnya dan kenapa beralih ?

8. Sudah berapa lama menjalani usaha tersebut ? 20 Tahun

9. Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil mata pencaharian
utama tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara
Angke)
Sebelum : Rp 10.000.000,00
Sesudah : Rp 15.000.000,00

10. Apakah mempunyai usaha lain, disamping mata pencaharian utama dalam
menambah pendapatan keluarga ? Tidak
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil usaha sampingan
tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara Angke)
Sebelum : Rp -
Sesudah : Rp -

11. Usaha apa saja yang dapat dikerjakan dengan memanfaatkan kehadiran
Pelabuhan Muara Angke ? Tidak ada
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil pemanfaatan
kehadiran Pelabuhan Muara Angke tersebut ? Rp -
Jika tidak memanfaatkan, kenapa ? belum tertarik, belum ada lahan usaha

12. Anggota Keluarga


No Nama Status dalam Jenis Umur
keluarga kelamin
1 Khafidin Kepala keluarga L 44
2 Hj. Evi Lusianti Istri P 35
3 Hidayat Anak L 18
4 Oji Anak L 15
115

5 Indah Anak P 13
6 Arjuna Anak L 9
7 Cika Anak P 5
8 Ikbal Anak L 1
9

F. Pengeluaran Rumah Tangga

Bulanan ( Rp ) Tahunan (Rp )


No Macam Kebutuhan
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
A. Pangan :
1. Beras 900.000 1.500.000
2. Lauk pauk dan 2.000.000 3.000.000
sayuran
3. Makanan 600.000 1.500.000
tambahan
4. Kebutuhan dapur 1.500.000 2.000.000
Total 5.000.000 8.000.000
B. Non Pangan :
1. Pendidikan 2.000.000 3.500.000
2. Perumahan 50.000 100.000
3. Kesehatan 350.000 400.000
4. Listrik 150.000 250.000
5. Air/PAM 200.000 250.000
6. Telepon 250.000 500.000
Total 3.000.000 5.000.000

G. Kondisi dan Fasilitas Perumahan


1. Kondisi Perumahan
Atap Bilik Status Lantai Luas
1. Seng 1. Bambu 1. Numpang 1. Tanah 1. < 50 m2
2. Asbes kayu 2. Sewa 2. Papan 2. 50 –
3. Genteng 2. Kayu 3. Milik 3. Plester 100 m2
3. Setengah sendiri 4. Ubin 3. > 100
tembok 5. Porselin m2
4. Tembok
116

2. Fasilitas Perumahan
Pekarangan Hiburan Pendingin Bahan Sumber MCK
Bakar Air
1. < 50 m2 1. Radio 1. Alam 1. Kayu 1. Sungai 1. Sungai
2. 50 – 100 2. Tape 2. Kipas 2. Minyak 2. Air 2. Kamar
m2 record angin tanah hujan mandi
3. > 100 m2 er 3. Gas 3. Mata umum
3. Lemari
3. TV air 3. Kamar
es
4. Video 4. Sumur mandi
4. AC
bor sendiri
5. PAM

H. Persepsi Mengenai Pembangunan Pelabuhan Muara Angke


1. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat menambah pendapatan rumah
tangga
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

2. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan kesejahteraan


keluarga (pangan, sandang, papan yang lebih baik)
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

3. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke dapat memberikan lapangan pekerjaan


yang lebih banyak
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

4. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi semakin


padat warganya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

5. Dengan adanya kegiatan di Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi


lebih maju dan berkembang
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

6. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan pendidikan


anak-anak di wilayah kami menjadi lebih baik
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

7. Para pengunjung yang datang ke Pelabuhan Muara Angke memberikan


pengaruh buruk bagi masyarakat di wilayah kami
117

a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

8. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke mengakibatkan pudarnya budaya


masyarakat nelayan
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

9. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke membuat masyarakat di wilayah kami


mengenal teknologi yang lebih maju
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

10. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke lebih banyak mendatangkan keuntungan


dibandingkan dengan kerugiannya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

11. Keuntungan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran


Pelabuhan Muara Angke (keuntungan utama)
a. Meningkatkan taraf hidup / kesejahteraan ...............................................
b. Menyerap tenaga kerja lokal ....................................................................
c. Memberikan kesempatan berusaha ..........................................................
d. Menambah pendapatan keluarga..............................................................
e. Lain-lain

12. Permasalahan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran


Pelabuhan Muara Angke (permasalahan utama)
a. Penurunan pendapatan .............................................................................
b. Bertambahnya pengeluaran ......................................................................
c. Membuat keributan ..................................................................................
d. Terjadinya pungutan liar ..........................................................................
e. Kepadatan penduduk ................................................................................
f. Timbulnya kesemrawutan.........................................................................
g. Mempengaruhi budaya lokal....................................................................
h. Merasa tidak nyaman berusaha ................................................................
i. Lain-lain
118

HASIL KUESIONER PENELITIAN

“PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TERHADAP


REKLAMASI PANTAI UTARA JAKARTA (TINJAUAN SOSIOLOGIS
MASYARAKAT DI SEKITARAN PELABUHAN MUARA ANGKE,
KELURAHAN PLUIT, JAKARTA UTARA)”

Nama Responden : Sasmi

Alamat : Kampung Nelayan, Blok Empang

Kelurahan : Pluit

Kecamatan : Penjaringan

Propinsi : DKI Jakarta

Nama Pewawancara : Ibnu Mustaqim

Hari/Tanggal : Kamis, 10 Juli 2014, Pukul 14.10 WIB

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014/1435 H
119

A. Karakteristik Responden
1. Nama responden : Sasmi
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Umur : 45 Tahun
4. Suku bangsa : Jawa
5. Pendidikan : SD
6. Mata pencaharian utama : Pedagang Kerang
7. Apakah mata pencaharian Anda merupakan peralihan akibat adanya
Pelabuhan Muara Angke ? Tidak (Jika tidak, lanjut No. 7)
Jika iya, apa mata pencaharian utama sebelumnya dan kenapa beralih ?

8. Sudah berapa lama menjalani usaha tersebut ? 15 Tahun

9. Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil mata pencaharian
utama tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara
Angke)
Sebelum : Rp 6.000.000,00
Sesudah : Rp 2.000.000,00

10. Apakah mempunyai usaha lain, disamping mata pencaharian utama dalam
menambah pendapatan keluarga ? Tidak
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil usaha sampingan
tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara Angke)
Sebelum : Rp -
Sesudah : Rp -

11. Usaha apa saja yang dapat dikerjakan dengan memanfaatkan kehadiran
Pelabuhan Muara Angke ? Tidak ada
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil pemanfaatan
kehadiran Pelabuhan Muara Angke tersebut ? Rp -
Jika tidak memanfaatkan, kenapa ? -

12. Anggota Keluarga


No Nama Status dalam Jenis Umur
keluarga kelamin
1 Sunara Kepala keluarga L 50
2 Sasmi Istri P 45
3 Warkani Anak L 25
4 Tobiah Anak P 20
120

5 Tito Anak L 12
6 Tatang Anak L 7
7
8
9

B. Pengeluaran Rumah Tangga

Bulanan ( Rp ) Tahunan (Rp )


No Macam Kebutuhan
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
A. Pangan :
1. Beras 400.000 400.000
2. Lauk pauk dan 700.000 750.000
sayuran
3. Makanan 150.000 100.000
tambahan
4. Kebutuhan dapur 250.000 250.000
Total 1.500.000 1.500.000
B. Non Pangan :
1. Pendidikan 200.000 400.000
2. Perumahan - -
3. Kesehatan 50.000 100.000
4. Listrik 50.000 50.000
5. Air/PAM 500.000 500.000
6. Telepon 1.000.000 1.000.000
Total 1.800.000 2.050.000

C. Kondisi dan Fasilitas Perumahan


1. Kondisi Perumahan
Atap Bilik Status Lantai Luas
1. Seng 1. Bambu 1. Numpang 1. Tanah 1. < 50 m2
2. Asbes kayu 2. Sewa 2. Papan 2. 50 –
3. Genteng 2. Kayu 3. Milik 3. Plester 100 m2
3. Setengah sendiri 4. Ubin 3. > 100
tembok 5. Porselin m2
4. Tembok
121

2. Fasilitas Perumahan
Pekarangan Hiburan Pendingin Bahan Sumber MCK
Bakar Air
1. < 50 m2 1. Radio 1. Alam 1. Kayu 1. Sungai 1. Sungai
2. 50 – 100 2. Tape 2. Kipas 2. Minyak 2. Air 2. Kamar
m2 record angin tanah hujan mandi
3. > 100 m2 er 3. Gas 3. Mata umum
3. Lemari
3. TV air 3. Kamar
es
4. Video 4. Sumur mandi
4. AC
bor sendiri
5. PAM

D. Persepsi Mengenai Pembangunan Pelabuhan Muara Angke


1. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat menambah pendapatan rumah
tangga
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

2. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan kesejahteraan


keluarga (pangan, sandang, papan yang lebih baik)
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

3. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke dapat memberikan lapangan pekerjaan


yang lebih banyak
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

4. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi semakin


padat warganya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

5. Dengan adanya kegiatan di Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi


lebih maju dan berkembang
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

6. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan pendidikan


anak-anak di wilayah kami menjadi lebih baik
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

7. Para pengunjung yang datang ke Pelabuhan Muara Angke memberikan


pengaruh buruk bagi masyarakat di wilayah kami
122

a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

8. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke mengakibatkan pudarnya budaya


masyarakat nelayan
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

9. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke membuat masyarakat di wilayah kami


mengenal teknologi yang lebih maju
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

10. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke lebih banyak mendatangkan keuntungan


dibandingkan dengan kerugiannya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

11. Keuntungan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran


Pelabuhan Muara Angke (keuntungan utama)
a. Meningkatkan taraf hidup / kesejahteraan ...............................................
b. Menyerap tenaga kerja lokal ....................................................................
c. Memberikan kesempatan berusaha ..........................................................
d. Menambah pendapatan keluarga..............................................................
e. Lain-lain

12. Permasalahan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran


Pelabuhan Muara Angke (permasalahan utama)
a. Penurunan pendapatan .............................................................................
b. Bertambahnya pengeluaran ......................................................................
c. Membuat keributan ..................................................................................
d. Terjadinya pungutan liar ..........................................................................
e. Kepadatan penduduk ................................................................................
f. Timbulnya kesemrawutan.........................................................................
g. Mempengaruhi budaya lokal....................................................................
h. Merasa tidak nyaman berusaha ................................................................
i. Lain-lain
123

HASIL KUESIONER PENELITIAN

“PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TERHADAP


REKLAMASI PANTAI UTARA JAKARTA (TINJAUAN SOSIOLOGIS
MASYARAKAT DI SEKITARAN PELABUHAN MUARA ANGKE,
KELURAHAN PLUIT, JAKARTA UTARA)”

Nama Responden : Supendi

Alamat : Jl. Pelabuhan Baru, Blok Empang

Kelurahan : Pluit

Kecamatan : Penjaringan

Propinsi : DKI Jakarta

Nama Pewawancara : Ibnu Mustaqim

Hari/Tanggal : Sabtu, 12 Juli 2014, Pukul 14.15 WIB

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014/1435 H
124

A. Karakteristik Responden
1. Nama responden : Supendi
2. Jenis Kelamin : Laki-laki
3. Umur : 36 Tahun
4. Suku bangsa : Sunda
5. Pendidikan : STM
6. Mata pencaharian utama : Petugas Keamanan
7. Apakah mata pencaharian Anda merupakan peralihan akibat adanya
Pelabuhan Muara Angke ? Ya (Jika tidak, lanjut No. 7)
Jika iya, apa mata pencaharian utama sebelumnya dan kenapa beralih ?
Penjaga WC umum, karena terlalu banyak saingan dan adanya peluang
usaha baru dengan dibangunnya pelabuhan Muara Angke.

8. Sudah berapa lama menjalani usaha tersebut ? 4 Bulan

9. Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil mata pencaharian
utama tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara
Angke)
Sebelum : Rp 1.000.000,00
Sesudah : Rp 2.000.000,00

10. Apakah mempunyai usaha lain, disamping mata pencaharian utama dalam
menambah pendapatan keluarga ? Ya, Berdagang sejak pelabuhan
diresmikan
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil usaha sampingan
tersebut ? (sebelum dan sesudah kehadiran Pelabuhan Muara Angke)
Sebelum : Rp 30.000.000,00
Sesudah : Rp 3.000.000,00

11. Usaha apa saja yang dapat dikerjakan dengan memanfaatkan kehadiran
Pelabuhan Muara Angke ? Berdagang
Berapa rata-rata pendapatan bersih per bulan dari hasil pemanfaatan
kehadiran Pelabuhan Muara Angke tersebut ? Rp 3.000.000,00
Jika tidak memanfaatkan, kenapa ? -

12. Anggota Keluarga


No Nama Status dalam Jenis Umur
keluarga kelamin
1 Supendi Kepala keluarga L 36
125

2 Siti Mulyani Istri P 24


3 Cindy Anak P 5
4 Rasyid Anak L 3
5
6
7
8
9

B. Pengeluaran Rumah Tangga

Bulanan ( Rp ) Tahunan (Rp )


No Macam Kebutuhan
Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
A. Pangan :
1. Beras 500.000 500.000
2. Lauk pauk dan 750.000 750.000
sayuran
3. Makanan 300.000 300.000
tambahan
4. Kebutuhan dapur 250.000 250.000
Total 1.800.000 1.800.000
B. Non Pangan :
1. Pendidikan 500.000 700.000
2. Perumahan - -
3. Kesehatan 150.000 150.000
4. Listrik 150.000 150.000
5. Air/PAM 450.000 450.000
6. Telepon - 100.000
Total 1.250.000 1.550.000

C. Kondisi dan Fasilitas Perumahan


1. Kondisi Perumahan
Atap Bilik Status Lantai Luas
1. Seng 1. Bambu 1. Numpang 1. Tanah 1. < 50 m2
2. Asbes kayu 2. Sewa 2. Papan 2. 50 –
3. Genteng 2. Kayu 3. Milik 3. Plester 100 m2
3. Setengah sendiri 4. Ubin 3. > 100
tembok 5. Porselin m2
126

4. Tembok

2. Fasilitas Perumahan
Pekarangan Hiburan Pendingin Bahan Sumber MCK
Bakar Air
1. < 50 m2 1. Radio 1. Alam 1. Kayu 1. Sungai 1. Sungai
2. 50 – 100 2. Tape 2. Kipas 2. Minyak 2. Air 2. Kamar
m2 record angin tanah hujan mandi
3. > 100 m2 er 3. Gas 3. Mata umum
3. Lemari
3. TV air 3. Kamar
es
4. Video 4. Sumur mandi
4. AC
bor sendiri
5. PAM

D. Persepsi Mengenai Pembangunan Pelabuhan Muara Angke


1. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat menambah pendapatan rumah
tangga
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

2. Kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan kesejahteraan


keluarga (pangan, sandang, papan yang lebih baik)
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

3. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke dapat memberikan lapangan pekerjaan


yang lebih banyak
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

4. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi semakin


padat warganya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

5. Dengan adanya kegiatan di Pelabuhan Muara Angke wilayah kami menjadi


lebih maju dan berkembang
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

6. Dengan kehadiran Pelabuhan Muara Angke dapat meningkatkan pendidikan


anak-anak di wilayah kami menjadi lebih baik
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju
127

7. Para pengunjung yang datang ke Pelabuhan Muara Angke memberikan


pengaruh buruk bagi masyarakat di wilayah kami
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

8. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke mengakibatkan pudarnya budaya


masyarakat nelayan
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

9. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke membuat masyarakat di wilayah kami


mengenal teknologi yang lebih maju
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

10. Kegiatan di Pelabuhan Muara Angke lebih banyak mendatangkan keuntungan


dibandingkan dengan kerugiannya
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

11. Keuntungan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran


Pelabuhan Muara Angke (keuntungan utama)
a. Meningkatkan taraf hidup / kesejahteraan ...............................................
b. Menyerap tenaga kerja lokal ....................................................................
c. Memberikan kesempatan berusaha ..........................................................
d. Menambah pendapatan keluarga..............................................................
e. Lain-lain

12. Permasalahan apa yang SANGAT Saudara rasakan dengan kehadiran


Pelabuhan Muara Angke (permasalahan utama)
a. Penurunan pendapatan .............................................................................
b. Bertambahnya pengeluaran ......................................................................
c. Membuat keributan ..................................................................................
d. Terjadinya pungutan liar ..........................................................................
e. Kepadatan penduduk ................................................................................
f. Timbulnya kesemrawutan.........................................................................
g. Mempengaruhi budaya lokal....................................................................
h. Merasa tidak nyaman berusaha ................................................................
i. Lain-lain
128

Lampiran 9 Hasil Wawancara Tokoh Masyarakat

HASIL WAWANCARA

“PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT TERHADAP


REKLAMASI PANTAI UTARA JAKARTA (TINJAUAN SOSIOLOGIS
MASYARAKAT DI SEKITARAN PELABUHAN MUARA ANGKE,
KELURAHAN PLUIT, JAKARTA UTARA)”

Nama Responden : Arfani

Alamat : Blok Empang, Muara Angke

Kelurahan : Pluit

Kecamatan : Penjaringan

Propinsi : DKI Jakarta

Nama Pewawancara : Ibnu Mustaqim

Hari/Tanggal : Rabu, 13 Agustus 2014, Pukul 12.30 WIB

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014/1435 H
129

A. Karakteristik Responden

1. Nama responden : Arfani (Tokoh Masyarakat)


2. Jenis Kelamin : Laki-laki
3. Umur : 52 Tahun
4. Suku bangsa : Sunda (Serang)
5. Pendidikan :-
6. Mata pencaharian utama : Tukang Bambu

B. Sikap Terhadap Pembangunan Pelabuhan Muara Angke


1. Bagaimana pandangan dan sikap masyarakat terhadap pembangunan
pelabuhan Muara Angke ?
Jawab : Senang dan menerima, asalkan pengembangannya sesuai dengan
standard an tetap memperhatikan nasib warga sekitar. Pihak pelabuhan
membolehkan kapal ojek untuk menepi di kawasan pelabuhan Muara
Angke, namun harus disertai dengan surat izin dan kelayakan kapal.

2. Bagaimana sikap masyarakat terhadap proses pembebasan lahan ?


Jawab : Pembebasan lahan ini ketika zamannya Pak Sutiyoso, tahun 2003-
2004 ada sekitar 3.626 m2 dibebaskan termasuk lahan garapan atau
tambak. Banyak warga yang terkena penggusuran, dan direlokasi ke rumah
susun, namun setelah beberapa bulan mereka, kembali lagi ke lahan yang
sudah dikuasai pemerintah tersebut. Pada awalnya sikap masyarakat
sempat menolak kehadiran pelabuhan karena lahan yang akan dijadikan
pelabuhan tersebut terlanjur dijadikan pemukiman dan sumber penghasilan
masyarakat.

3. Bagaimana sikap masyarakat terhadap lingkungan baru ini, apakah


menyenangkan atau sebaliknya ?
130

a. Jika lebih menyenangkan, mengapa ? pada intinya kehadiran


pelabuhan ini juga dapat mendatangkan keuntungan, warga bisa
memperoleh penghasilan dari pekerjaan yang beragam. Kampung
nelayan ini harus dikelola dengan baik, Saya sudah mengelola
kampung ini sejak puluhan tahun lalu dan kerjasama warga juga
sangat saya harapkan.

b. Jika sebaliknya, mengapa ?


4. Apakah terjadi perubahan pola hubungan sosial antar masyarakat,
Bagaimanakah prosesnya dan mengapa hal itu bisa terjadi ?
Jawab : Ya ada perubahan, namun dalam hubungan sosial warga tidak
terlalu besar perubahannya, perkumpulan-perkumpulan rutin warga juga
masih berjalan sampai sekarang.

5. Apakah terjadi perubahan mata pencaharian masyarakat, Bagaimanakah


prosesnya dan mengapa hal itu bisa terjadi ?
Jawab : Perubahan mata pencaharian hanya terjadi bada sebagian kecil
warga saja seperti tukag ojek odong-odong, masih banyak warga yang
masih mengandalkan matapencaharian utama yang sudah mereka jalani
sejak lama. Saya berharap operasional pelabuhan bisa kembali normal,
sehingga banyak mendatangkan wisatawan yang nantinya akan
memberikan tambahan pendapatan bagi warga sekitar.

6. Apakah ada pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan dan


operasional pelabuhan Muara Angke ?
Jawab : Saya rasa masih kurang, paling ada hanya tukang parkir
pelabuhan, bahkan untuk kuli bangunan saja mereka lebih banyak
memperkerjakan tukang bangunan dari luar sini. Terkadang Saya juga
diminta mandor untuk mencarikan kuli bangunan dari warga sekitar.
131

7. Bagaimana masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dengan kehadiran


pelabuhan Muara Angke ?
Jawab : Untuk masalah-masalah sosial akibat pembangunan pelabuhan
belum pernah ada. Masalah lebih bersifat teknis seperti keadaan jalan
menuju pelabuhan yang ambles dan sering terjadi banjir, itu diakibatkan
karena banyaknya kendaraan proyek yang melintas ketika pembangunan
pelabuhan berlangsung. Kemudian juga penutupan akses pelabuhan
melalui jalur belakang yang tadinya merupakan jalur trayek ojek odong-
odong, dan mengakibatkan berkurangnya pendapatan tukang ojek odong-
odong.
132

Lampiran 10 Dokumentasi Lapangan

Kantor Karang Taruna RW 011, Kelurahan Pluit, Jakarta Utara


133

Pintu masuk Pelabuhan Muara Angke

Area parkir Pelabuhan Muara Angke


134

Kantor dan Shelter Pelabuhan

Dermaga Pelabuhan
135

Kondisi Area pengolahan kerang Blok Empang


136

Lampiran 11 Gambar Lokasi Penelitian

Sumber : http://dishub.jakarta.go.id/

Cakupan wilayah terdampak Pembangunan Pelabuhan Muara Angke


137

Lampiran 12 Rumus Perhitungan

Persentase responden :
Jumlah responden ÷ Total responden × 100

Pendapatan / pengeluaran terendah :


formula Ms. Excel, contoh : =MIN(B31:B33)

Pendapatan / pengeluaran tebesar :


formula Ms. Excel, contoh : =MAX(B31:B33)

Pendapatan Total :
Pendapatan utama + pendapatan tambahan

Pengeluaran Total :
Pengeluaran pagan + pengeluaran non pangan

Rata-rata pendapatan/pengeluaran :
formula Ms. Excel, contoh : =AVERAGE(P22:P25)

Selisih pendapatan / pengeluaran :


Pendapatan / pengeluaran sesudah – pendapatan / pengeluaran sebelum

Persentase perubahan pendapatan / pengeluaran :


Formula Ms. Excel, Selisih pendapatan / pengeluaran ÷ ABS (Pendapatan /
pengeluaran sesudah, contoh : =(W27-W26)/ABS(W26)
139
140
141
142
143
144
145
146
147

BIODATA PENULIS
Ibnu Mustaqim (22 tahun), lahir 11 Maret 1993 di
Boyolali, Jawa Tengah. Terlahir dari pasangan orang tua
yang sangat diteladani dan dibanggakan, Bapak Slamet
dan Ibu Isminingsih (Almarhumah), anak pertama dari
dua bersaudara adiknya bernama Taufik Saifulloh.
Penulis meriwayatkan pendidikan menengahnya di
Jakarta, yaitu SDN Tegal Alur 10 Pagi, SMPN 120
Jakarta, dan MAN 17 Jakarta. Sejak MA penulis
memang sangat mendambakan bisa masuk UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, selain karena keinginan pribadi yang ingin mempelajari
ilmu secara komprehensif (Dunia dan Akhirat), dorongan dan doa orang tua juga
menjadi motivasi utama penulis untuk mewujudkannya. Pada tahap awal seleksi
masuk PTN melalui jalur PMDK, penulis gagal karena salah memperhitungkan
jurusan yang diminati, kemudian penulis mengikuti SNMPTN, dan Alhamdulillah
penulis berhasil diterima di Jurusan Pendidikan IPS, FITK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Penulis sangat bangga dengan pengalaman yang didapat selama menjalami kuliah
di Jurusan Pendidikan IPS, bangga dengan persahabatan dan kekeluargaan yang
telah terjalin dengan ritme yang mirip pelana kuda, bangga dengan segala
perbedaan yang ada, memaksa kita untuk membaur dalam perbedaan karena
sebenarnya kompak itu tidak berarti seragam, bangga dengan sensitivitas yang
natural terlahir, sehingga saling dukung, saling menyemangati, dan saling
mendoakan menjadi hal yang sangat lumrah dijumpai, dan juga berbagai sense
kebanggan yang lain, yang tidak akan cukup untuk dinarasikan disini.
Dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada
teman-teman seperjuangan Pendidikan IPS 2010, terlebih untuk kalian keluarga
besar 1A, @SosioAntro10, dan ATK Fams. Skripsi ini secara tidak langsung
sebenarnya merupakan bentuk dedikasi atas persahabatan dan kekeluargaan yang
telah terbangun selama ini, dan akan terus terjalin dengan baik sampai kapanpun.
Senang bisa mengenal dan berbagi dengan kalian semua, semoga ikatan ini akan
selalu survive dimanapun, bagaimanapun, dan sampai kapanpun….
Penulis adalah mahasisiwa angkatan 2010 Jurusan Pendidikan IPS Konsenterasi
Sosiologi-Antropologi, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Selama berkuliah, penulis juga aktif di organisasi intra
ataupun ekstra kampus ; Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Volunteer Senat
Mahasiswa (SEMA 2013) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Selain itu penulis juga aktif di Pandorasquad, merupakan komunitas pecinta seni
visual kampus UIN.
Ibnu Mustaqim (1110015000033)
Contact : 08988101448, BBM : 765DD19E
Email : Nuyeah93@gmail.com