Anda di halaman 1dari 4

Dalam berkas tersebut dapat dilihat bahwa terdapat kesalahan

penulisan kode diagnosa dan tindakan. Yang pertama yaitu pada penulisan

kode diagnosa untuk open fracture of great toe, dalam berkas tersebut tertulis

kode diagnosa S92.4. Namun, kode yang diberikan tersebut kurang tepat

dikarenakan tidak adanya karakter ke 5 yang menyertai kode tersebut.

Karakter ke 5 yang seharusnya dituliskan tersebut menunjukkan jenis dari

fracture yang dialami oleh pasien yaitu terbuka atau tertutup. Dan

berdasarkan ICD 10, dalam pengkodean diagnosa untuk kode fracture juga

telah dijelaskan bahwa harus terdapat karakter ke 5 yaitu penambahan angka

0 untuk fracture tertutup dan 1 untuk fracture terbuka. Dan padahal pada

informasi yang didapat dari rekam medis pasien sudah tercantum jelas bahwa

pasien tersebut mengalami fracture terbuka, sehingga seharusnya kode yang

lebih tepat untuk diberikan sesuai dengan ICD 10 yaitu S92.41.

Untuk permasalahan yang kedua yaitu juga terdapat adanya kesalahan

kodefikasi pada tindakan medis yang diberikan. Dalam berkas tersebut

tindakan yang diberikan yaitu debridement of wound dengan kode 86.22.

Sedangkan, untuk kode yang sesuai dengan ICD 9 CM yang lebih tepat yaitu

86.78 .

Dan yang ketiga yaitu mengenai selisih biaya INA CBGs dengan billing system. Hal
ini dapat dilihat yaitu salah satunya pada kasus diatas yaitu mengenai adanya kesalahan
pengkodean. Kesalahan ini mengakibatkan rumah sakit tidak mendapatkan penggantian biaya
yang seharusnya sehingga rumah sakit mengalami kerugian yang tidak sedikit. Artinya,
dalam klaim INA CBGs menghasilkan biaya yang lebih sedikit dibandingkan biaya yang
seharusnya dikeluarkan oleh rumah sakit. Dalam kasus diatas diperoleh bahwa biaya yang
dikeluarkan oleh rumah sakit dalam perawatan pasien sebanyak Rp. 18.919.500 , dan
penggantian biaya yang didapatkan oleh rumah sakit berdasarkan INA CBGs yaitu hanya
sebesar Rp. 13.859.000.
Menurut Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik No :

HK.00.06.6.5.1866 tentang pedoman Persetujuan Tindakan Medik

(Informed Concent), bahwa pihak yang menyatakan persetujuan

meliputi :

1) Pasien sendiri, yaitu apabila pasien telah berumur 21 tahun

atau telah menikah.

2) Bagi pasien dibawah umur 21 tahun, pihak yang dapat

menyatakan persetujuan menurut urutan hak adalah sebagai

berikut :

a. Pasien sendiri, yaitu apabila pasien telah berumur 21

tahun atau telah menikah.

b. Bagi pasien dibawah umur 21 tahun, pihak yang dapat

menyatakan persetujuan menurut urutan hak adalah

Ayah/ibu kandung atau Saudara-saudara kandung

c. Bagi pasien di bawah umur 21 tahun dan tidak

mempunyai orang tua atau orang tuanya berhalangan

hadir, pihak yang dapat menyatakan persetujuan menurut

urutan hak adalah Ayah/ibu kandung lalu Saudara-saudara

kandung lalu Induk semang (orang yang berkewajiban

untuk mengawasi serta ikut bertanggung jawab terhadap

pribadi orang lain, seperti pimpinan asrama dari anak

perantauan atau kepala rumah tangga dari seorang

pembantu rumah tangga yang belum dewasa

d. Bagi pasein dewasa dengan gangguan mental, pihak yang

dapat menyatakan persetujuan menurut urutan hak adalah


Ayah/ibu kandung lalu Wali yang sah lalu Saudara-

saudara kandung

e. Bagi pasien dewasa yang berada di bawan pengampunan

pihak yang dapat menyatakan persetujuan menurut urutan

hak adalah Wali lalu Curator

Bagi pasien dewasa yang telah menikah/orang tua, pihak yang dapat menyatakan persetujuan
menurut urutan hak adalah Suami/istri lalu Ayah/ibu kandung, Anak-anak kandung yang telahir,
Saudara-saudara kandung
Dalam pelayanan asuransi di RSUD dr. Saiful Anwar terdapat

beberapa kendala yang dapat menyebabkan terganggunya proses

klaim asuransi. Kendala tersebut yaitu masih adanya dokumen

rekam medis yang tidak lengkap seperti tidak adanya tanda tangan

dari dokter DPJP dan tidak lengkapnya bukti dukung. Beberapa

kendala tersebut dapat mempengaruhi keterlambatan pengajuan

klaim asuransi.