Anda di halaman 1dari 34

PunyaKu

Silfiana Nurada Afifa

Jumat, 26 April 2013

TATA CARA PENYELENGGARAAN JENAZAH

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam menganjurkan umatnya agar selalu ingat akan mati, Islam juga menganjurkan umatnya
untuk mengunjungi orang yang sedang sakit, menghibur dan mendoakannya. Apabila seseorang
telah meninggal dunia, hendaklah seorang dari mahramnya yang paling dekat dan sama jenis
kelaminnya melakukan kewajiban yang mesti dilakukan terhadap jenazah, yaitu memandikan,
mengkafani, mensholatkan, dan menguburkannya.

Menyelenggarakan jenazah yaitu sejak dari menyiapkannya, memandikannya, mengkafaninya,


mensholatkannya, membawanya ke kubur sampai kepada menguburkannya adalah perintah
agama yang ditujukan kepada kaum muslimin. Apabila perintah itu telah dikerjakan oleh
sebagian mereka sebagaimana mestinya, maka kewajiban melaksanakan perintah itu berarti
sudah terbayar. Kewajiban yang demikian sifatnya dalam istilah agama dinamakan fardhu
kifayah.

Karena semua amal ibadah harus dikerjakan dengan ilmu, maka mempelajari ilmu tentang
peraturan-peraturan di sekitar penyelengaraan jenazah itupun merupakan fardhu kifayah juga.
Akan berdosalah seluruh anggota sesuatu kelompok kaum muslimin apabila dalam kelompok
tersebut tidak terdapat orang yang berilmu cukup untuk melaksanakan fardhu kifayah di sekitar
penyelenggaraan jenazah itu.

Oleh karena itu, dalam pembahasan makalah selanjutnya akan dipaparkan secara terperinci
insya Allah tentang penyelenggaraan jenazah. Di dalam makalah ini akan dijelaskan hal-hal yang
dikerjakan dalam penyelenggaraan jenazah dan juga doa-doa yang diucapkan dari pemandian
hingga pemakaman.

B. Tujuan

1. Membentuk sikap seorang mukmin jika ada muslim lain yang baru saja meninggal dunia.

2. Untuk menyelesaikan tugas Agama Islam tentang “Perawatan jenazah” serta memberi
tambahan informasi tentang Perawatan Jenazah kepada pembaca.

BAB II

PEMBAHASAN

Seorang muslim hendaknya senantiasa mempersiapkan diri untuk menyongsong kematian


dengan memperbanyak amal shalih dan menjauhkan diri dari perkara haram. Apabila seorang
muslim telah dipastikan meninggal, maka wajib bagi orang yang berada di dekatnya untuk
melakukan beberapa hal :

Menutup kedua mata si mayit.

“Sesungguhnya pandangan mata akan mengikuti ruh saat keluar (dari jasad).” (HR. Muslim)

Melemaskan seluruh persendian si mayit agar tidak mengeras, serta meletakkan, sesuatu di
atas perutnya agar tidak mengembung. Menutup sekujur jasad si mayit dengan kain

“Aisyah ra berkata, “Ketika Rasulullah saw wafat, jenazah beliau ditutupi dengan kain yang
bercorak.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Menyegerakan penyelenggaraan jenazahnya, shalat dan penguburan. Islam telah mengingatkan
kita semua bahwa setiap insan yang bernyawa pasti mengalami kematian. Allah SWT telah
berfirman :

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga,
maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang
memperdayakan” ( Q.S. Ali-‘Imran :185)

A. Tata cara pengurusan jenazah

1. Menghadapi orang sakit / sekaratul maut

2. Tajhizul Jenazah (Merawat Mayit)

a. Memandikan jenazah

b. Mengkafani jenazah

c. Menshalatkan jenazah

d. Mengubur jenazah

e. Takziah dan ziarah kubur


v MENGHADAPI ORANG SAKIT (SAKARATUL MAUT)

Apabila kita mendengar berita tentang saudara kita muslim dalam keadaan sakit maka kita
disunatkan untuk menjenguknya sebagai mana hadis riwayat Bukhari dan Muslim

َ َ َ ُ َ ‫ َق‬: ‫ول ِان‬


‫ال رض ه َري َرة ا ِب عن‬ َ ‫ َق‬:
ُ ‫ال صلعم للا َر ُس‬
ِ

ْ ََ ْ َ َ َ ْ ُ َ َ َ ُ َ ِّ َ َ َ ْ
‫ خمس ال ُمس ِل ِم عل ال ُمس ِل ِم َحق‬: ‫ َردالسال ِم‬, ‫ض‬
ِ ‫ و ِعيادةالم ِر‬, ‫الجن ِائ ِز واتباع‬,

ُ ُ َ َْ
‫ الدع َو ِة َوِا َج َابة‬, ‫س َوتش ِميت‬
ِ ‫اط‬
ِ ‫ الع‬/ ‫ومسلم البخارى رواه‬

Artinya : Abu Hurairah menerangkan : Bahwa Rasulullah s a w bersabda : Hak orang muslim atas
orang muslim lainnya ada lima : menjawab salam , mengunjungi orang sakit, mengantar
jenazah , memenuhi undangan dan mentasymit ( mendoa ‘akan ) orang bersin .

§ Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan orang yang sakit (Muhtadlir/Orang sekarat pati) :

1. Menghibur dengan membesarkan hatinya

2. Meminta agar tetap bersabar

3. Membaringkan muhtadlir pada lambung sebelah kanan dan menghadapkannya ke arah qiblat.
Jika tidak memungkinkan semisal karena tempatnya terlalu sempit atau ada semacam
gangguan pada lambung kanannya, maka ia dibaringkan pada lambung sebelah kiri, dan bila
masih tidak memungkinkan, maka diterlentangkan menghadap kiblat dengan memberi ganjalan
di bawah kepala agar wajahnya bisa menghadap qiblat.
4. Membaca surat Yasin dengan suara agak keras, dan surat Ar Ra’du dengan suara pelan.
Faedahnya adalah untuk mempermudah keluarnya ruh. Nabi saw. bersabda:

ُْ ََ ُ ٰ
5. ‫موتاكم عل ٰيس ِاق َرؤا‬.َ (‫)داود أبو رواه‬

“Bacakanlah surat yasin atas orang-orang (yang akan) mati kalian”.

(HR. Abu Dawud)

Bila tidak bisa membaca keduanya, maka cukup membaca surat Yasin saja.

6. Mentalqin kalimat tahlil dengan santun, tanpa ada kesan memaksa. Nabi Muhammad saw.
bersabda:

ُ ِّ َ ُ َ َ َ ٰ ُ (‫)مسلم رواه‬
7. ‫للا ِإل ِإله ل َموتاكم لقنوا‬.

“Tuntunlah orang (yang akan) mati diantara kamu dengan ucapan laailaha illallah”. (HR. Muslim)

َ َ َ َ َ َٰ ُ َ َ َ َ َ ْ
8. ‫آخ ُر كان َمن‬
ِ ‫الجنة دخل للا إل ِإله ل كال ِم ِه‬. (‫)الحاكم رواه‬

“Barangsiapa ucapan terakhirnya kalimat laailaha illallah, maka ia akan masuk surga”. (HR.
Hakim)

Dalam mentalqin, pentalqin (mulaqqin) tidak perlu menambah kata, kecuali muhtadlir (orang
yang akan mati) bukan seorang mukmin, dan ada harapan akan masuk Islam. Talqin tidak perlu
diulang kembali jika muhtadlir telah mampu mengucapkannya, selama ia tidak berbicara lagi.
Sebab, tujuan talqin adalah agar kalimat tahlil menjadi penutup kata yang terucap dari
mulutnya.

9. Memberi minum apabila melihat bahwa ia menginginkannya. Sebab dalam kondisi seperti ini,
bisa saja syaitan menawarkan minuman yang akan ditukar dengan keimanannya.

10. Orang yang menunggu tidak diperbolehkan membicarakan kejelekannya, sebab malaikat
akan mengamini perkataan mereka.

v Sikap Seorang Muslim jika ada Muslim Lain yang Baru Saja Meninggal

1. Hendaklah kita mengucapkan Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raajiun.

2. Menutup (memejamkan) matanya.

3. Menutup mulutnya, yaitu dengan mengikat dagu dan kepalanya.

4. Qiamkan tangannya.

5. Luruskan kakinya lalu ikat kedua ibu jari kakinya.

6. Letakkan ketempat yang tinggi dan Hadapkan ke Qiblat.

7. Menutup badannya dengan kain agar auratnya tidak terlihat.

8. Diperbolehkan menciumnya sebagai tanda berduka cita.

9. Membayarkan hutangnya.

“Dari Abu Hurairah,Rasulullah saw. bersabda: “Diri orang mukmin itu tergantung (tidak sampai
ke hadirat Allah) karena utangnya,hingga utang itu dibayar.” (H.R. at- Tirmidzi)

10. Memberi tahu keluarga, kerabat, dan teman-temannya agar mereka segera mengurus,
mendoakan dan menshalatkannya.
11. Tidak melukainya, sebagaimana tidak melukai badan orang yang masih hidup.

12. Tidak mencelanya.

Untuk menghadapi kematian biasanya orang merasa tidak siap dengan berbagai alasan yang
dibuatnya, antara lain:

1. Merasa masih sedikit amalnya

2. Merasa dosanya masih banyak

3. Anak-anaknya masih kecil, dan lain-lain

Apapun alasan yang dikemukakan apabila sudah datang waktu kematian, maka kematian itu
akan tiba juga , sebagaimana firman Allah dalam QS Yunus : 49

Artinya:

“Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfa’atan
kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah. Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila
telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan
tidak (pula) mendahulukan (nya).” (QS.Yunus :49)

§ Haram melakukan perbuatan niyahah ( meratap ) ketika ada musibah kematian , adapun yang
termasuk niyahah yaitu :

َ َ
1. ‫ الص ِالق ِة‬: Wanita yang menangis menjerit – jerit ketika kena musibah kematian
َ َْ
2. ‫ ال َح ِالق ِة‬:Wanita yang mencukur atau mengacak – acak rambut ketika kena musibah kematian

َ
3. ‫ اشاق ِة‬: Wanita yang merobek – robek baju ketika kena musibah kematian

B. TAJHIZUL JENAZAH (MERAWAT MAYIT)

Tajhizul jenazah adalah merawat atau mengurus seseorang yang telah meninggal. Perawatan di
sini berhukum fardlu kifayah, kecuali bila hanya terdapat satu orang saja, maka hukumnya
fardlu ‘ain.

Hal-hal yang harus dilakukan saat merawat jenazah sebenarnya meliputi lima hal,yaitu:

1. Memandikan

2. Mengkafani

3. Menshalatkan

4. Memakamkan

5. Takziah dan ziarah kubur

Dari keempat hal yang diwajibkan di atas, pada taraf praktek terdapat beberapa pemilahan
sebagai berikut:
ü Orang Muslim

a. Muslim yang bukan syahid

Kewajiban yang harus dilakukan adalah:

1. Memandikan.

2. Mengkafani.

3. Menshalati.

4. Memakamkan.

b. Muslimyang syahid dunia atau syahid dunia-akhirat,mayatnya haram dimandikan dan


dishalati, sehingga kewajiban merawatnya hanya meliputi:

a. Menyempurnakan kafannya jika pakaian yang dipakainya tidak cukup untuk menutup seluruh
tubuhnya.

b. Memakamkan.

ü Bayi yang terlahir sebelum usia 6 bulan (Siqtu)


Dalam kitab-kitab salafy dikenal tiga macam kondisi bayi, yakni:

a. Lahir dalam keadaan hidup. Perawatannya sama dengan perawatan jenazah muslim dewasa.

b. Berbentuk manusia sempurna, tapi tidak tampak tanda-tanda kehidupan. Hal-hal yang harus
dilakukan sama dengan kewajiban terhadap jenazah muslim dewasa, selain menshalati.

c. Belum berbentuk manusia sempurna. Bayi yang demikian, tidak ada kewajiban apapun dalam
perawatannya, akan tetapi disunahkan membungkus dan memakamkannya.

Adapun bayi yang lahir pada usia 6 bulan lebih, baik terlahir dalam keadaan hidup ataupun mati,
kewajiban perawatannya sama dengan orang dewasa.

ü Orang Kafir

Dalam hal ini orang kafir dibedakan menjadi dua:

a. Kafir dzimmi (termasuk kafir muaman dan mu’ahad)

Hukum menshalati mayit kafir adalah haram, adapun hal yang harus dilakukan pada mayat kafir
dzimmi adalah mengkafani dan memakamkan.

b. Kafir harbi dan Orang murtad

Pada dasarnya tidak ada kewajiban apapun atas perawatan keduanya, hanya saja
diperbolehkan untuk mengkafani dan memakamkannya.
1) Memandikan Jenazah

Memandikan mayat hukumnya adalah fardhu kifayah atas muslimin lain yang masih hidup.
Artinya, apabila diantara mereka ada yang mengerjakannya, maka kewajiban itu sudah terbayar
dan gugur bagi muslimin selebihnya. Karena perintah memandikan mayat itu adalah kepada
umumnya kaum muslimin. Sedangkan muslim yang mati syahid tidaklah dimandikan walau ia
dalam keadaan junub sekalipun, melainkan ia hanya dikafani dengan pakaian yang baik untuk
kain kafan, ditambah jika kurang atau dikurangi jika berlebih dari tuntunan sunnah, lalu
dimakamkan dengan darahnya tanpa dibasuh sedikitpun juga. Dan beliau menyuruh agar para
syuhada dari perang Uhud dikubukan dengan darah mereka tanpa dimandikan dan
disembahyangkan.

a. Syarat Wajib Memandikan Jenazah :

1. Mayat orang Islam.

2. Ada tubuhnya walaupun sedikit.

3. Mayat itu bukan mati syahid.

§ Lafal lafal niat memandikan jenazah

o Lafal niat memandikan jenazah laki – laki

ُ َ ُْ َ ْ ٰ َ ََ
‫لِل ال َم ِّي ِت ِل ٰهذا الغس ِل ن َويت‬
ِ ِ ‫تعال‬

o Lafal niat memandikan jenazah perempuan


ُ َ ُْ ْ ٰ َ ََ
‫لِل ال َم ِّي ِت ِل ٰه ِذ ِه الغس ِل ن َويت‬
ِ ِ ‫تعال‬

o Lafal niat mentayamumkan jenazah

ُ َ َ َ َُْ َ ٰ ْ ٰ َ ََ
‫لِل ال َم ِّي ِت هذا قلف ِة تح ِت عن الت َيم َم ن َويت‬
ِ ِ ‫تعال‬

Artinya :

Saya niat tayamum untuk menggantikan membasuh dibawah ( …. ) ini jenazah karena allah ta
‘ala

b. Tahap-tahap memandikan jenazah :

1. Letakkan mayat pada tempat yang tinggi, seperti bangku panjang, batang pisang yang
dijejerkan.

2. Gunakan tabir untuk melindungi tempat memandikan dari pandangan umum.

3. Ganti pakaian jenazah dengan pakaian basahan, seperi sarung agar lebih mudah
memandikannya, tetapi auratnya tetap ditutup.

4. Sandarkan punggung jenazah dan urutlah perutnya agar kotoran di dalamnya keluar.

5. Basuhlah mulut, gigi, jari, kepala dan janggutnya.

6. Sisirlah rambutnya agar rapi.

7. Siramlah seluruh badan lalu bilas dengan sabun.

8.Mewudlukan mayit. Adapun rukun dan kesunahannya sama persis dengan wudlunya orang
hidup. Hanya saja, saat berkumur disunahkan tidak membuka mulut mayit agar airnya tidak
masuk ke dalam perut. Hal ini apabila tidak terdapat hajat untuk membukanya.
Adapun niatnya adalah:

ُ َ ُ ْ َ ُ ْ َ ْ َ ْ ٰ َ
‫ال َم ِّي ِت ِل ٰهذا ال َمسنون ال ُوضو َء ن َويت‬/ ‫لل ال َم ِّيت ِة ِل ٰه ِذ ِه‬
ِ ِ ‫ت َعال‬

9. Mengguyur seluruh tubuh mayit dengan air yang dicampur sedikit kapur barus. Dengan
catatan, saat meninggal mayit tidak dalam keadaan ihram. Saat basuhan terakhir ini, sunah
membaca niat:

ُ َ ُْ َ ْ ٰ َ ْ ٰ َ
‫ال َم ِّي ِت ِل ٰهذا الغس َل ن َويت‬/ ‫للِ ال َم ِّيت ِة ه ِذ ِه‬
ِ ‫ت َعال‬

Atau

ُ َ ُْ َ َ َ ََ ََ
‫اح ِة الغس َل ن َويت‬‫علي ِه الصال ِة ِلس ِتب‬/ ‫علي َها‬

c. Yang Berhak Memandikan Mayat :

Jikalau mayitnya laki-laki yang memandikan harus laki-laki begitu pula apabila mayitnya
perempuan, kecuali apabila masih ada ikatan mahrom, suami-istri, atau mayit adalah anak kecil
yang belum menimbulkan syahwat. Bila tidak ditemukan orang yang boleh memandikan, maka
mayit cukup ditayamumi dengan ditutup semua anggota tubuhnya selain anggota tayamum,
dan yang mentayamumi harus memakai alas tangan.

Urutan orang yang lebih utama memandikan mayit laki-laki adalah ahli waris ashabah laki-laki,
kerabat lai-laki yang lain, istri, orang laki-laki lain. Waris ashabah yang dimaksud adalah:

1. Ayah
2. Kakek dan seatasnya

3. Anak laki-laki

4. Cucu laki-laki dan sebawahnya

5. Saudara laki-laki kandung

6. Saudara laki-laki seayah

7. Anak dari saudara laki-laki kandung

8. Anak dari saudara laki-laki seayah

9. Saudara ayah kandung

10. Saudara ayah seayah

Bagi mayit perempuan, yang paling utama memandikannya adalah perempuan yang masih
memiliki hubungan kerabat dan ikatan mahram dengannya ;seperti anak perempuan, ibu dan
saudara perempuan.

Bila seorang perempuan meninggal dan di tempat itu tidak ada perempuan, suami atau
mahramnya, maka mayat itu hendaklah “ditayammumkan” saja, tidak boleh dimandikan oleh
laki-laki yang lain. Kecuali kalau mayat itu adalah anak-anak, maka laki-laki boleh
memandikanya . Begitu juga kalau yang meninggal adalah seorang laki-laki. Jika ada beberapa
orang yang berhak memandikan, maka yang lebih berhak ialah keluarga yang terdekat dengan
si mayit, dengan syarat ia mengetahui kewajiban mandi serta dapat dipercaya. Kalau tidak,
berpindahlah hak itu kepada keluarga jauh yang berpengetahuan serta amanah (dipecaya).

Rasulullah SAW bersabda :

”Dari ‘Aisyah Rasul bersabda : “Barang siapa memandikan mayat dan dijaganya kepercayaan,
tidak dibukakannya kepada orang lain apa-apa yang dilihat pada mayat itu, maka bersihlah ia
dari segala dosanya, seperti keadaannya sewaktu dilahirkan oleh ibunya”. Kata Beliau lagi :
“Yang memimpinnya hendaklah keluarga yang terdekat kepada mayat jika ia pandai
memandikan mayat. Jika ia tidak pandai, maka siapa saja yang dipandang berhak karena
wara’nya atau karena amanahnya.” (H.R Ahmad)

2) Mengkhafani

Pada dasarnya tujuan mengkafani adalah menutup seluruh bagian tubuh mayit. Walaupun
demikian para fuqaha’ memberi batasan tertentu sesuai dengan jenis kelamin mayit. Batasan-
batasan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Batas Minimal

Batas minimal mengkafani mayit, baik laki-laki ataupun perempuan, adalah selembar kain yang
dapat menutupi seluruh tubuh mayit.

2. Batas Kesempurnaan

a) Bagi mayit laki-laki


Bagi mayit laki-laki yang lebih utama adalah 3 lapis kain kafan dengan ukuran panjang dan lebar
sama, dan boleh mengkafani dengan 5 lapis yang terdiri dari 3 lapis kain kafan ditambah surban
dan baju kurung, atau 2 lapis kain kafan ditambah surban, baju kurung dan sarung.

b) Bagi mayit perempuan

Bagi mayit perempuan kafannya adalah 5 lapis yang terdiri dari 2 lapis kain kafan ditambah
kerudung, baju kurung dan sewek. Kain kafan yang dipergunakan hendaknya berwarna putih
dan diberi wewangian, bila mengkafani lebih dari ketentuan batas maka hukumnya makruh,
sebab dianggap berlebihan.

a.Cara-cara Mengkafani Mayit

Siapkan 5 lembar kain berwarna putih yang terdiri dari surban atau kerudung, baju kurung,
sarung atau sewek, dan 2 lembar kain

untuk menutup seluruh tubuh mayit. Untuk memudahkan proses mengkafani, urutan
peletakannya adalah sebagai berikut:

1. Tali.

2. Kain kafan pembungkus seluruh tubuh.

3. Baju kurung.

4. Sarung atau sewek.


5. Sorban atau kerudung.

6. Setelah kain kafan diletakkan di tempatnya, letakkan mayit yang telah selesai dimandikan
dengan posisi terlentang di atasnya dalam keadaan tangan disedekapkan.

7. Letakkan kapas yang telah diberi wewangian pada anggota tubuh yang berlubang, anggota
tubuh ini meliputi:

a) Mata

b) Lubang hidung

c) Telinga

d) Mulut

e) Dubur

Demikian juga pada anggota sujud, meliputi:

a) Jidat

b) Hidung

c) Kedua siku
d) Telapak tangan

e) Jari-jari telapak kaki

8. Mengikat pantat dengan kain sehelai.

9. Memakaikan baju kurung, sewek atau sarung, dan surban atau kerudung.

10. Mayit dibungkus dengan kain kafan yang menutupi seluruh tubuhnya, dengan cara melipat
lapisan pertama, dimulai dari sisi kiri dilipat ke sisi kanan, kemudian sisi kanan dilipat ke kiri.
Begitu pula untuk lapis kedua dan ketiga.

11. Mengikat kelebihan kain di ujung kepala dan kaki (dipocong), dan diusahakan pocongan
kepala lebih panjang.

12. Setelah ujug kepala dan ujung kaki diikat, sebaiknya ditambahkan ikatan pada bagian tubuh
mayit; seperti perut dan dada, agar kafan tidak mudah terbuka saat dibawa ke pemakaman.

3) Mensholatkan Jenazah

a. Syarat-syarat Shalat Jenazah :

a) Mayit telah disucikan dari najis baik tubuh, kafan maupun tempatnya.
b) Orang yang menshalati telah memenuhi syarat sah shalat (Menutup aurat, suci hadats/najis
dan menghadap kiblat)

a) Lafal lafal niat mewudhukan jenazah

o Lafal niat mewudhukan jenazah laki – laki

ُ َ ُ ْ َ ْ ٰ َ ََ
‫لِل ال َم ِّي ِت ِل ٰهذا ال ُوضو َء ن َويت‬
ِ ِ ‫تعال‬

o Lafal niat mewudhukan jenazah perempuan

ُ َ ُ ْ ْ ٰ َ ََ
‫لِل ال َم ِّي ِت ِل ٰه ِذ ِه ال ُوضو َء ن َويت‬
ِ ِ ‫تعال‬

b) Lafal lafal niat memandikan jenazah

o Lafal niat memandikan jenazah laki – laki

ُ َ ُْ َ ْ ٰ َ ََ
‫لِل ال َم ِّي ِت ِل ٰهذا الغس ِل ن َويت‬
ِ ِ ‫تعال‬

o Lafal niat memandikan jenazah perempuan

ُ َ ُْ ْ ٰ َ ََ
‫لِل ال َم ِّي ِت ِل ٰه ِذ ِه الغس ِل ن َويت‬
ِ ِ ‫تعال‬

o Lafal niat mentayamumkan jenazah


ُ َ َ َ َُْ َ ٰ ْ ٰ َ ََ
‫لِل ال َم ِّي ِت هذا قلف ِة تح ِت عن الت َيم َم ن َويت‬
ِ ِ ‫تعال‬

Artinya : Saya niat tayamum untuk menggantikan membasuh dibawah (…) ini jenazah karena
allah ta ‘ala .

c) Bila mayitnya hadir, posisi mushalli harus berada di belakang mayit. Adapun aturannya
adalah sebagai berikut:

1) Mayit laki-laki:

Mayit dibaringkan dengan meletakkan kepala di sebelah utara. Imam atau munfarid berdiri
lurus dengan kepala mayit.

2) Mayit perempuan

Cara peletakkan mayit sama dengan mayit laki-laki, sedangkan imam atau munfarid berdiri
lurus dengan pantat mayit.

d) Jarak antara mayit dan mushalli tidak melebihi 300 dziro’ atau sekitar 150 m. Hal ini jika
shalat dilakukan di luar masjid.

e) Tidak ada penghalang antara keduanya; misalnya seandainya mayit berada dalam keranda,
maka keranda tersebut tidak boleh dipaku.

f) Bila mayit hadir, maka orang yang menshalati juga harus hadir di tempat tersebut.
‫‪b. Rukun Shalat Mayit‬‬

‫‪a) Niat.‬‬

‫‪Lafal lafal niat shalat jenazah‬‬

‫‪1. untuk jenazah laki laki Satu‬‬

‫َ َ ََ ُ ّ‬ ‫لِل ِا َم ًاما ‪َ /‬م ْأ ُمو ًما ْالك َف َاية َفر َ‬


‫ض َن ْكب ْ َيات َارَب َع ْا َ‬
‫لم ِّي ِت هذا عل ا َصل‬
‫َ َ َ‬
‫ت َعال ِ ِ‬
‫ِ‬ ‫ِ ِ‬

‫‪2. untuk jenazah laki laki dua‬‬

‫ََ ُ ّ‬ ‫َ َ‬ ‫لِل ِا َم ًاما ‪َ /‬م ْأ ُمو ًما ْالك َف َاية َفر َ‬


‫ض َن ْكب ْ َيات َارَب َع ْا َ‬
‫لم ِّي ِت هذي ِن عل ا َصل‬
‫َ َ َ‬
‫ت َعال ِ ِ‬
‫ِ‬ ‫ِ ِ‬

‫‪3. untuk jenazah banyak‬‬

‫َ َ ً َ ْ ُ ً ْ َ َ َ َ َ ْ َ َ َ َ ََۤ ُ َ ْ َ َ َ َ ُ ّ‬ ‫َ‬
‫لموب عل ا َصل‬ ‫ت َعال ِ ِ‬
‫لِل ِاماما ‪ /‬مأموما ا ِلكفاي ِة فرض نك ِب ْيات ارب ع هؤل ِءا‬

‫‪4. untuk jenazah perempuan Satu‬‬

‫ََ ُ ّ‬ ‫ََ َ َ َ ً َُْ ً ْ َ َ َ َ َ ْ َ َ َ َ ْ َ َ َ‬


‫لم ِّيت ِة ه ِذ ِه عل ا َصل‬‫لِل ِاماما ‪ /‬مأموما ا ِلكفاي ِة فرض نك ِب ْيات ارب ع ا‬
‫تعال ِ ِ‬

‫) ‪5. untuk jenazah ghoib ( imam‬‬


ّ ُ ََ َ ُ َ َ َ َ ْ َ َ َ َ َ ْ ً َ َ َ ََ
َ ‫الن( ْا َلغائب ْا‬
‫لم ِّي ِت عل ا َصل‬ ِ ِ ‫لِل ِاماما ا ِلكفاي ِة فرض نك ِب ْيات ارب ع )ف‬
ِ ِ ‫تعال‬

6. untuk jenazah ghoib ( makmum )

ّ ُ ََ ََ ْ َ ْ َ َ َ َ َ ْ ً َُْ َ َ ََ
‫ض نك ِب ْ َيات ارَب َع ا ِل َم ُام علي ِه َصل َمن عل ا َصل‬ ‫لِل مأموما ا ِلكفاي ِة فر‬
ِ ِ ‫تعال‬

b) Berdiri bagi yang mampu.

c) Melakukan takbir sebanyak empat kali termasuk takbiratul ihram.

d) Membaca surat Al Fatihah setelah takbir pertama.

e) Membaca shalawat Nabi setelah takbir kedua.

Contoh bacaan sholawat:

ّ َٰ َ
‫َس ِّي ِدن ُام َحمد عل َص ِّل الل ٰـ ُهم‬

f) Mendo’akan mayit setelah takbir ketiga.

Contoh do’a:

Lafal doa setelah takbir ke 3


َ َ َُ ُ َ ُ َ ُ َ ْ َ َ ُ َ ُ ُ ِّ َ َ َ ُ َ َ َ َ َ َ ْ
‫ف َوع ِاف ِه َوار َحمه له اغ ِفر الل ُهم‬ ‫الجنة واجع ِل خله مد ووسع نزله واك ِرم عنه واع‬

‫َمث َو ُاه‬

Artinya : “ Ya Allah , ampunilah dia , berilah kasih (rahmat ) padanya , berilah maaf padanya ,
muliakanlah kedatangannya (tempatnya ) , lapangkanlah pintu masuknya ( kekubur ) dan
jadikanlah surga tempat kembalinya . “

Lafal do ‘a setelah takbir ke 4

َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َُ
‫َوله لنا َواغ ِفر َبعد ُه تف ِتنا َول اج َر ُه تح ِرمنا ل الل ُهم‬

“Ya Allah , janganlah Engkau rugikan kami dari pada mendapat pahalanya , dan janganlah
Engkau beri kami fitnah sepeninggalnya , dan ampunilah kami dan dia . “

Penjelasan :

Ketika membaca do‘a dalam salat jenazah setelah takbir ke 3 dan ke 4 hendaklah bacaan dlamir
( kata ganti orang ) disesuaikan dengan jenis jenazah tersebut ( laki – laki atau permpuan ),
misalnya :

ُ َ
1. Apabila jenazahnya wanita maka dlamir ( kata ) hu ( ‫ )ه‬diganti dengan dlamir ha ( ‫) ها‬

ُ ُ
2. Apabila jenazahnya dua orang maka dlamir ( kata ) hu ( ‫ )ه‬diganti dengan dlamir huma ( ‫) ه َما‬
ُ ُ
3 Apabila jenazahnya banyak maka dlamir ( kata ) hu ( ‫ )ه‬diganti dengan dlamir hum ( ‫) هم‬

g) Mengucapkan salam pertama setelah takbir keempat.

Contoh bacaan salam:

َ َ ُ ََ ُ ُُ َ ََ
‫للا َو َرح َمة عليكم السال ُم‬
ِ ‫وب َركاته‬

c. Kesunahan Dalam Shalat Jenazah

a) Mengangkat kedua telapak tangan sampai sebatas bahu, lalu meletakkannya diantara dada
pusar pada setiap takbir.

b) Menyempurnakan lafadh niat;

ّ ُ َٰ َ ٰ ْ ٰ َ ْ َ َ َ َ ْ ً َُْ ً َ ٰ ‫ت َع‬.َ
‫ال َم ِّي ِت هذا عل أ َص ِل‬/ ‫ض ال َم ِّيت ِة ه ِذ ِه‬‫مأموما ال ِكفاي ِة فر‬/ ‫لل ِإماما‬
ِ ِ ‫ال‬

c) Melirihkan bacaan fatihan, shalawat dan do’a.

d) Membaca ta’awwudz sebelum membaca surat Al Fatihah.

e) Tidak membaca do’a iftitah.

f) Membaca hamdalah sebelum membaca shalawat.


‫‪g) Menyempurnakan bacaan shalawat. Adapun lafadhnya adalah:‬‬

‫َ ّ‬ ‫َ َٰ‬ ‫َٰ‬ ‫َ ِّ َ‬ ‫َ َ َ ُ َ‬ ‫َ َ ٰ َ َ َ ِّ َ َ ٰ َ‬ ‫َ َ َ ِّ َ‬
‫آل َوعل ُم َحمد َس ِّي ِدنا عل َص ِّلَ الل ٰـ ُهم ‪،‬‬ ‫آل وعل ِإبر ِاهيم سي ِدنا عل صلَيت كما ‪،‬محمد سي ِدنا ِ‬
‫ََ‬
‫وب ِارك ِ‪،‬إبر ِاهيم سي ِدنا ِ‬
‫َ َٰ‬ ‫َٰ‬
‫آل َوعل ُم َحمد َس ِّي ِدنا عل‬
‫َ ِّ َ‬ ‫ي ف ‪،‬إب َراهي َم َس ِّيد َنا َ َ ٰ َ َ َ ِّ َ َ ٰ َ َ ْ َ َ َ ُ َ‬‫َ َْ َ َ‬ ‫َ‬
‫آل وعل ِإبر ِاهيم سي ِدنا عل باركت كما محمد سي ِدنا ِ‬
‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ح ِميد ِإنك العال ِم ْ ِ ِ ِ ِ‬
‫َ‪.‬م ِجيد‬

‫‪h) Menyempurnakan bacaan do’a untuk si mayit‬‬

‫ّ‬ ‫ُ َُ‬ ‫َ ُ َ ُ َ‬ ‫ُ َ ُ َ ْ‬ ‫ْ ُ َ َ َ ُ‬ ‫َْ‬ ‫َ َ َ‬


‫الخ َط َايا م َن َو َن ِّقه َ‬
‫ف َوع ِاف ِه ‪َ ،‬وار َحمه ‪،‬له اغ ِفر الل ٰـ ُهم‬ ‫‪،‬مدخله َو َو ِّسع ‪،‬ن ُزله َوأ ك ِرم ‪،‬عنه واع‬ ‫‪،‬وب َرد َوثلج ِب َماء َواغ ِسله‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫كما‬
‫ُ َُ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ َ‬ ‫َ‬ ‫َ َ ََ ْ ُ‬ ‫َ ََ ً َ‬ ‫َ‬ ‫َ ََ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ََ‬ ‫َْ‬
‫س ِمن األبيض الثوب ينق‬ ‫جا ‪،‬أه َ ِل ِه َِمن خ ْيا وأ َهال َ‪،‬د ِارِه ِمن َ خ ْيا َدارا وأب ِدله ‪،‬الدنَ ِ‬ ‫الق ِي ِفتنة و ِق ِه ‪،‬زو ِج ِه ِمن خ ْيا وزو‬
‫َ َ ََ‬ ‫ُ‬ ‫ٰ‬ ‫ّ‬ ‫ِّ‬ ‫َ‬ ‫َ َ ِّ َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ُّٰ َُ َ َ َ َ َ َ‬ ‫َ َ َ ُ َ‬ ‫ََ‬
‫اب‬ ‫اه ِدنا ٰ‪،‬و َمي ِتنا ِ‪،‬لحينا َاغ ِفر اللـهم ْ‪.‬النا ِر َوعذ ٰ ِ‬ ‫فأح ِي ِه ِمنا أحييته من اللـهم ‪،‬وأنثانا ‪،‬وذك ِرنا ‪،‬وك ِب ْ ِينا ‪،‬وص ِغ ْ ِينا ‪،‬وغ ِائ ِبنا ‪،‬وش ِ‬
‫َ‬ ‫َُ‬ ‫َ ُ‬ ‫َ‬ ‫ْ‬ ‫َ ُ ُ ٰ َ ّ‬ ‫َ َ‬ ‫َ‬
‫َو َمح ُبو ِب َها َو َس َع ِت َها الدن َيا ُرو ِح ِمن خ َر َج ‪،‬عب ِدك َواب ُن عبدك هذا الل ٰـ ُهم ‪.‬ا ِإلي َم ِان عل فت َوفه ِم َِنا ت َوفيته َو َمن ‪،‬ا ِإلسال ِم عل‬
‫َ ََ‬ ‫ٰ‬ ‫َْ ُ ْ‬ ‫ُ َ َ َ ُ ُ‬ ‫َ‬ ‫ٰ َ َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ُ َ َ ُ َ‬ ‫َ َ َ َ‬ ‫ّ‬
‫‪،‬ب ِه أعل ُم َوأنت َو َر ُسولك عبدك ُم َحمدا َوأن ‪،‬أنت ِإل ِإله ل أن َيش َهد كان ‪،‬ل ِق َيه ه َو َو َما الق ِي ظل َم ِة ِإل ِفيها وأ ِحب ِائ ِه‬ ‫ِ‬ ‫الل ٰـ ُهم‬
‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫َ َ َ‬ ‫َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬
‫ن َوأنت َرح َم ِتك ِإ ٰل ف ِق ْيا َوأص َبح ِ‪،‬ب ِه َميول خ ْ ُي َوأنت ِبك ن ِّزل‬
‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫‪،‬ع َذاب ِه َعن َغ ي‬ ‫َ َ َ َ َ‬
‫ي ِجئناك وقد‬ ‫الل ٰـ ُهم َ‪،‬ل ُه ُش َف َع َاء إ َلي َك َراغب َ‬
‫ِ ِْ‬
‫ّ‬
‫ِإن‬
‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬ ‫ِ‬
‫َ َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َ َ‬ ‫ُ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫ْ َ َ َ َ َ َ َ َ ِّ َ ُ َ َ‬ ‫َ َ َ ٰ َ َ ٰ َ ََ ُ َ ٰ ََ َ‬
‫أرحم يا جن ِتك ِإل تبعثه حن ‪،‬عذ ِابك ِمن األمن ِبرحم ِتك ولق ِه ‪،‬عنه فتجاوز م ِسيئا كان وِإن ِ‪،‬إحس ِان ِه ِ ِف ف ِزد مح ِسنا كان‬
‫ي‬ ‫‪.‬الراحم َ‬
‫ِ ِْ‬

‫‪i) Bila mayatnya anak kecil sunah untuk menambah do’a:‬‬

‫ُْ ّ‬ ‫َ‬ ‫َ َ‬ ‫َ ً ُ‬ ‫َ‬ ‫َ ِّ‬ ‫َ‬ ‫َ‬ ‫َٰ‬ ‫َ ُُ‬ ‫َ‬


‫تف ِتن ُه َما َول قلو ِب ِه َما عل الص َي َوأف ِر ِغ َم َو ِازين ُه َما ِب ِه َوثقل َ‪،‬وش ِفيعا َواع ِت َبارا َو ِعظة َ‪،‬وذخرا َو َسلفا أل َبو ِيهِ ف َرطا اج َعله الل ٰـ ُهم‬
‫َ َ‬ ‫َ‬ ‫َ‬
‫‪.‬أج َر ُه تح ِرم ُه َما َول َبعد ُه‬

‫‪j) Setelah takbir ke-empat sunah untuk membaca do’a:‬‬

‫َ َ ّ‬ ‫َ‬ ‫ََ‬ ‫َ َ‬ ‫َ ُ ََ‬


‫َ‪.‬وله لنا َواغ ِفر َبعد ُه تف ِتنا َول أج َر ُه تح ِرمنا ل الل ٰـ ُهم‬

‫‪k) Membaca do’a untuk masing-masing mukmin setelah membaca shalawat:‬‬


ّ َ ‫ي َو ْال ُمؤم َنات ل ْل ُمؤمن‬
‫ي اغ ِفر الل ٰـ ُهم‬ َ ‫و ْال ُمسل َمات َو ْال ُمسلم‬.َ
ِْ ِ ِ ِ ِ ِِْ ِ ِ

l) Salam yang kedua sunah untuk menyempur-nakan. Redaksinya adalah:

َ َ ُ َ ُ ُُ َ ََ
‫للا َو َرح َمة عليكم السال ُم‬
ِ ‫وب َركاته‬.

m) Sunah dilakukan di masjid dengan memper-banyak shaf .

4) Menguburkan Jenazah

Adapun urusan selanjutnya sesudah dishalatkan hendaknya jenazah dibawa kepemakaman


untuk dikuburkan. Meskipun demikian ada beberapa waktu yang dianggap makruh oleh ulama
untuk menguburkan jenazah adalah matahari terbit, matahari berada ditengah-tengah dan
matahari terbenam. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penguburan jenazah adalah :

1. Jenazah segera dikuburkan.

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, ”Hendaklah kamu segerakan mengubur jenazah,
karena jika orang shaleh, maka kamu mendekatkannya pada kebaikan, dan jika ia bukan orang
yang shaleh, supaya kejahatan itu lekas terbuang dari tanggunganmu.” (H.R.Muslim).

2. Liang lahat dibuat seukuran jenazah dengan dengan kedalaman kira-kira setinggi orang
ditambah setengah lengan, lebar kira-kira 1 meter.

3. Liang lahat tidak dibongkar dengan binatang buas. Maksud menguburkan jenazah adalah
untuk menjaga kehormatan mayat dan menjaga keehatan orang-orang disekitar makam dari
bau busuk.

4. Mayat dipikul dari empat penjuru.


“Barang siapa yang mengikuti jenazah maka hendaklah memikul pada keempat penjuru ranjang
(keranda) karena sesungguhnya seperti itu adalah dari sunah Nabi. (H.R.Ibnu Majah)

5. Setelah sampai di tempat pemakaman, jenazah dimasukkan ke liang lahat dengan posisi
miring ke kanan dan dihadapkan ke kiblat. Ketika meletakkan jenazah di dalam kubur, kita
membaca doa :

‫ﷲوعلﻰملةرسولﷲبسما‬

Artinya :

Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah. (H.R.at-Tirmidzi)

6. Lepaskan tali-tali pengikat,lalu tutup dengan papan, kayu, atau bambu, dan timbun sampai
galian liang kubur menjadi rata.

Doa Orek Kubur :

‫منهاخلقﻛمومنهانعيدﻜمومنهانخرجﻜمتارةاخرى‬

7. Mendoakan dan memohonkan ampun atas jenazah.

a) Tata Cara Menguburkan Jenazah :

Dalam penguburan jenazah, kita tidak boleh sembarangan. Kita harus mengetahui tata cara
penguburannya. Tata cara tersebut adalah sebagai berikut :

· Waktu Untuk Mengubur Mayat

Mengubur mayat boleh pada siang atau malam hari. Beberapa sahabat Rasulullah saw dan
keluarga beliau dikubur pada malam hari.

· Memperdalam Galian Lubang Kubur


Maksud mengubur mayat ialah supaya tertutup, tidak nampak jasadnya dan tidak tercium
baunya dan juga agar tidak mudah dimakan burung atau binatang lainnya. Oleh sebab itu,
lubang kubur harus cukup dalam sehingga jasad mayat itu aman dari hal-hal di atas.

· Tentang Liang Lahad

Cara menaruh mayat dalam kubur ada yang ditaruh di tepi lubang sebelah kiblat, kemudian di
atasnya ditaruh semacam bata dengan posisi agak condong, supaya nantinya setelah ditimbun
mayat tidak langsung tertimpa tanah. Cara ini dalam bahasa Arab disebut lahad. Ada juga
dengan menggali di tengah-tengah dasar lubang kubur, kemudian mayat diletakkan di
dalamnya, lalu di atasnya diletakkan semacam bata dengan posisi mendatar untuk penahan
tanah timbunan. Cara ini dalam bahasa Arab disebut syaqqu atau dlarhu. Cara lain ialah
menaruh mayat dalam peti dan menanam bersama peti tersebut ke dalam kubur. Atau peti
tersebut terlebih dahulu diletakkan dalam keadaan kosong dan terbuka, kemudian setelah
mayat dimasukkan ke dalam peti lalu peti itu ditutup lalu ditimbun dengan tanah.

· Cara Memasukkan Mayat ke Dalam Lubang Kubur

Cara terbaik ialah dengan mendahulukan memasukkan kepala mayat dari arah kaki kubur,
karena demikian menurut sunnah Rasulullah SAW.

· Menghadapkan Mayat ke Arah Kiblat

Baik di dalam lahad, syaqqu maupun dikubur di dalam peti, mayat diletakkan miring ke kanan
menghadap kea arah kiblat dengan menyandarkan bagian tubuh sebelah kiri ke dinding kubur
atau dinding peti supaya tidak terlentang kembali.

· Tentang Mengalas Dasar Kubur

Para ulama mazhab empat berpendapat makruh menaruh hamparan atau bantal di bawah
mayat di dalam kubur. Bahkan para ulama menganjurkan supaya ditaruh tanah di bawah pipi
mayat sebelah kanan setelah dibukakan kain kafannya dari pipi itu ditempelkan langsung ke
tanah.
· Berdoa Waktu Menaruh Mayat Dalam Kubur

Pada waktu mayat dimasukkan ke dalam kubur maka dianjurkan supaya membaca doa:

‫ﷲوعلﻰملةرسولﷲبسما‬

Artinya: “Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah”.

· Menutupi Kubur Mayat Perempuan Pada Waktu Ia Dimasukkan Kedalamnya.

Bagi mayat perempuan hendaknya dibentangkan kain dan sebagainya di atas kuburnya pada
waktu ia dimasukkan kedalamnya.

· Mencurah Kubur Dengan Tanah Tiga Kali

Sesudah mayat diletakkan dengan baik, maka masing-masing orang yang menyaksikan
penguburan itu dianjurkan mencurahi lubang kubur itu dengan tanah tiga kali dengan
tangannya dari arah kepalanya. Sesudah itu, dilanjutkan ditimbun dengan tanah galian kubur
itu sampai cukup.

· Sunat Menyapu Kubur Dengan Telapak Tangan

Disunnatkan bagi orang yang menyaksikan pemakaman mayat, menyapu kubur dari arah kepala
mayat sebanyak tiga kali.

· Sunat Berdoa Untuk Mayat Seusai Pemakaman

Disunatkan memohon ampun bagi mayat dan minta dikuatkan pendiriannya seusai ia
dimakamkan, karena pada saat itu ia sedang ditanya di dalam kubur

C. TAKZIAH
Takziah artinya melawat atau menjenguk orang yang meninggal dunia untuk turut mengatakan
bela sungkawakepada keluarganya, serta member penghormatan terakhir kepada orang yang
telah dipanggiluntuk menghadap kehadirat Allah SWT.

Takziah dapat dilakukan sebelum dan sesudah jenazah dikuburkan hingga selam tiga hari.
Namun demikian, takziah diutamakan dilakukan sebelum jenazah dikuburkan.

1. Adab dan Etika Takziah

· Apabila kita mendengar kabar ada seseorang yang meninggal dunia, maka hendaklah
mengucapkan:

· Datanglah dengan segera melawat kerumah duka, masuklah kerumahnya dengan


mengucapkan salam dam mendoakan.

· Pada ssaat takziah, hendaklah bersikap dan berpakaian sopan.

· Hendaknya memberikan nasihat untuk tetap sabar dan tabah dalam menghadapi musibah.

· Hendaklah ikut mengerjakan shalat jenazahdengan ikhlas dan khusyuk.

· Apabila tidak ada uzur, hendaklah kita mengantarkan jenazah itu sampai selesai dimakamkan.

· Memberikan bantuan materi dan moril kepada keluarga yang ditinggalkan, termasuk
memberoikan makanan , karena mereka sedang mendapat cobaan.
2. Hikmah Takziah

- Dapat meringankan beban keluarga si mayat, terutama dari segi mental, sehingga merasa
sedikit terhibur.

- Tugas dan kewajiban keluarga yang ditinggalkan terbantu.

- Dapat mengingatkan akan kematian

- Penghormatan terakhir pada almarhum/ah

- Ikut mendoakan almarhum/ah

- Mempererat tali persaudaraan umat muslim

D. ZIARAH KUBUR

A. Pengertian dan Hukum Ziarah Kubur

Ziarah kubur adalah dating ke makam keluarga atau bukan keluargadengan maksud untuk
mendoakan agar diterima amalnya dan diampuni dosanya oleh Allah SWT. Ziarah kubur adalah
sunah bagi laki-laki, sedangkan bagi perempuan adalah makruh. Alasannya dikhawatirkan
perempuan akan menambah perasaan sedih.

B. Adab (Etika) Berziarah Kubur


Ada beberapa etika dalam berziarah kubur, yakni sebagai berikut:

1. Peziarah hendaknya mengucapkan salam kepada ahli kubur ketika memasuki area makam.

2. Membaca doa-doa, istighfar, tahlil, surah yasin, dan lain sebagainya.Dengan harapan mereka
mendapat pengampunan dari Allah SWT.

3. Pada saat berziarah kubur, bersikap sopan dan berhati-hati, jangan duduk diatas kuburan
atau bergurau , bermain-main atau yang tidak sesuai dengan suasana ziarah kubur.

4. Ziarah kubur orangtuanya atau orang lain bukan untuk meminta sesuatu, tetapi mendoakan
kepada ahli kubur agar mendapat pengampunan dari Allah SWT.

C. Hikmah Ziarah Kubur

Hikmah ziarah kubur diantaranya:

1. Ziarah kubur dapat mengingatkan akan akhirat, maka akan menambah tebalnya iman kepada
Allah SWT dan memperbanyak amal saleh.

2. Kita dapat melakukan kontak batin dengan arwah almarhumah, sekalipun dengan alam yang
berbeda melalui doa.

3. Ziarah kubur adalah perbuatan ibadah karena sunah Rasulullah. Dengan melihat nisan
sebagai saksi bisu akan tumbuh rasa takut kepada Allah SWT.
Pada awalnya ziarah kubur dilarang oleh Rasulullah karena dikhawatirkan menimbulkan syirik
(meminta pada leluhurnya) akantetapi setelah Rasulullah SAW menilai bahwa tingkat keimanan
umat sudah kuat, maka Rasullulah pun memerintahkan untuk berziarah kubur. Selain itu
berziarah kubur banyak lagi hikmah yang dapat digali.

BAB III

PENUTUP

Analisis

Dalam makalah ini terdapat tata cara memandikan, mengkafani, menyalatkan dan
menguburkan jenazah. Selain itu juga makalah ini juga mengandung suatu nilai dimana dalam
penyelenggaraan jenazah merupakan suatu etika dalam islam yang diajarkan oleh nabi
Muhammad SAW, penyelenggaraan jenazah juga merupakan penghormatan orang ditinggalkan
atau orang hidup terhadap orang yang meninggal tersebut, yang menggambarkan rasa
persatuan dan kesatuan sebagai mahluk sosial yang berasal dari yang kuasa dan akan kembali
kepada yang kuasa. Dan terakhir didalam makalah ini mengandung unsur suatu keterampilan
dimana didalam penyelenggaran jenazah ini seseorang dapat mengetahui tata cara dalam
penyelenggaraan ataupun pengurusan jenazah.

Kesimpulan

penyelenggaraan jenazah ini merupakan suatu penghormatan orang yang masih hidup
terhadap orang telah meninggal, penghormatan ini merupakan suatu bukti rasa saling
menganggap manusia merupakan makhluk yang berasal dari yang satu dan akan kembali
padanya. Walaupun hukumnya fardhu kifayah, dalam pengurusan jenazah ini kita dianjurkan
untuk lebih mendalami pengetahuan baik memandikan, mengafankan, menyolatkan, dan juga
menguburkan jenazah .

Saran
Semoga pembaca dapat memahami dan mempraktekan cara-cara dalam penyelenggaraan
jenazah baik memandikan, mengafani, menshalatkan maupun menguburkannya.

silfsilfi di 08.01

Berbagi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Beranda

Lihat versi web

Diberdayakan oleh Blogger

About Me

silfsilfi

Lihat profil lengkapku