Anda di halaman 1dari 2

“Realita Permukiman Kumuh Kampung Apung, Kapuk, Jakarta Barat”

Permukiman kumuh merupakan...

Pada kesempatan kali ini, kami berkunjung ke salah satu permukiman kumuh yang berada di
Kelurahan Kapuk, Jakarta Barat yaitu Kampung Teko RT 001/RW 10. Kampung ini sudah ada
sejak tahun 1996. Dahulu kampung ini dikenal dengan nama Kampung Teko dan merupakan
daratan normal, namun seiring dengan berjalannya waktu, faktor alam dan manusia merubah
keadaan kampung ini menjadi permukiman yang dikelilingi oleh air. Tidak dipungkiri pula
seperti pembangunan industri dan perumahan menjadi salah satu faktornya. Pada tahun 2010
kampung ini lebih dikenal dengan sebutan Kampung Apung. Tidak ada yang memberikan
nama khusus untuk kampung ini. Karena air yang tergenang dikawasan ini, masyarakat sekitar
beranggapan rumah-rumah seperti terapung. Maka dari itu, nama Kampung Teko berubah
menjadi Kampung Apung.

Kampung Apung memiliki luas lahan sebesar 3 Ha. Diantaranya 2 Ha untuk Tempat
Pemakaman Umum (TPU), dan 1 Ha diperuntukan sebagai permukiman. Kini, TPU tersebut
sudah tidak terlihat lagi dikarenakan air yang bisa disebut danau ini menggenangi kawasan
tersebut dan menutupi TPU yang ada dengan kedalaman hingga 3 meter. Jumlah populasi di
Kampung Apung sebanyak 204 KK. 124 jiwa adalah penduduk asli (KTP DKI) sedangkan 80
jiwa merupakan pendatang. Dengan jumlah penduduk sebanyak 204 jiwa dengan luas 1 Ha,
Kampung Apung termasuk dalam permukiman padat diurutan ke-empat dari 12 RT yang ada
di Kelurahan Kapuk. Mata pencaharian mereka 50% bekerja sebagai buruh pabrik yang ada di
sekitar Kelurahan Kapuk. Selebihnya adalah 30% sebagai wiraswasta, dan 20% serabutan.

Berbicara soal sarana dan prasarana, dapat dikatakan sangat minim. Mulai dari sarana
peribadatan hanya memiliki 1 unit musholla, sarana pendidikan yang tersedia hanya rumah
baca atau perpustakaan mini dan 1 unit PAUD, serta sarana kesehatan yang jaraknya cukup
jauh untuk dijangkau, dan tidak ada sarana bermain untuk anak-anak bermain di sore hari.
Ketersediaan untuk air bersih pun belum ada, bahkan beberapa masyarakat masih ada yang
mengandalkan air sumur. Selain itu, terdapat MCK umum yang terdiri dari 3 unit. Namun,
kondisi dan fungsinya tidak lagi baik. Untuk pembuangan sampah sebenarnya sudah dilakukan
dengan rutin dipagi hari para petugas kebersihan mengangkut sampah masyarakat dan
membuang ke TPST yang berada di belakang kampung tersebut. Namun, sangat disayangkan
dalam pengelolaannya yang kurang baik. Sampah-sampah tersebut sudah terlalu banyak dan
menumpuk sehingga tidak tertampung lagi, serta mengakibatkan sampah yang berserakan jatuh
ke air yang menggenani Kampung Apung. Pada akhirnya sampah tersebut menyebabkan
Kampung Apung menjadi kotor, keruh, dan bau.

Jika musim hujan, tentunya Kampung Apung mengalami bencana banjir yang cukup parah.
Banjir tersebut dapat mencapai 1-2 meter. Terkadang, air tersebut surut sampai berhari-hari.
Tidak hanya itu, banjir tersebut sempat memakan korban karena jembatan untuk menyebrang
tidak terlihat dan rusak sehingga menyebabkan banyak warga yang jatuh dan terluka. Bahkan
tidak saat banjir pun, adanya air yang menggenangi Kampung Apung dapat memakan 2 orang
balita tewas.