Anda di halaman 1dari 29

KONSERVASI SUMBERDAYA HAYATI LAUT

DI PERAIRAN SUNGAI DUA LAUT


KABUPATEN TANAH BUMBU

LAPORAN PRAKTEK KONSERVASI SUMBERDAYA HAYATI LAUT

AHMAD SULTHAN NURIY


G1F115002

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur praktikan panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang mana telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga praktikan dapat menyelesaikan
laporan praktikum ini. Laporan ini disusun sebagai salah satu pelengkap tugas dari
mata kuliah Konservasi Sumberdaya Hayati Laut.
Laporan ini berisi tentang Konservasi Sumberdaya Hayati Laut di perairan
Sungai Dua Laut, Kecamatan Sungai Dua Laut, Kabupaten Tanah Bumbu. Laporan
ini diharapkan nantinya dapat menjadi referensi pada mata kuliah ini. Kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun sangat diperlukan demi tulisan
yang lebih baik.

Banjarbaru, Desember 2017

Ahmad Sulthan Nuriy


G1f115002

i
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR.............................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................... ii
DAFTAR TABEL.................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR............................................................................... iv
BAB 1. PENDAHULUAN..................................................................... 1
1.1. Latar Belakang................................................................. 1
1.2. Maksud dan Tujuan ........................................................ 2
BAB 2. METODOLOGI PENELITIAN............................................. 3
2.1. Waktu dan Lokasi ........................................................... 3
2.2. Alat dan Bahan ............................................................... 3
2.3. Prosedur Kerja ................................................................ 4
2.3.1. Mangrove ............................................................ 4
2.3.2. Terumbu Karang.................................................. 4
2.3.3. Lamun ................................................................. 6
2.4. Analisis Data ................................................................... 6
2.4.1. Mangrove ............................................................ 6
2.4.2. Terumbu Karang.................................................. 8
2.4.3. Lamun ................................................................. 8
BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN.............................................. 10
3.1. Ekosistem Mangrove....................................................... 10
3.2. Ekosistem Lamun............................................................ 13
3.3. Ekosistem Terumbu Karang............................................. 16
3.4. Biota Asosiasi.................................................................. 20
BAB 4. UPAYA PELESTARIAN EKOSISTEM.................................... 22
4.1. Pelestarian Hutan Mangrove............................................ 22
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN.................................................. 24
5.1. Kesimpulan...................................................................... 24
5.2. Saran................................................................................ 24
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Alat Praktek Lapang............................................................... 3


Tabel 2. Kerapatan relatif, Frekuensi relatif dan INP pada Tingkat
Pohon di desa Sungai Dua Laut.............................................. 11
Tabel 3. Keriteria Penentapan Kawasan Konservasi............................ 23

iii
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Peta Lokasi Praktik Lapang Sungai Dua Laut.................... 3
Gambar 2. Sebaran Jenis Mangrove di Sungai Dua Laut..................... 12
Gambar 3. Komposisi Jenis Lamun di Tiap Stasiun............................. 13
Gambar 4. Tutupan Lamun Stasiun I.................................................... 14
Gambar 5. Tutupan Lamun Stasiun II................................................... 15
Gambar 6. Tutupan Lamun Stasiun III................................................. 15
Gambar 7. Rata-rata Tutupan Lamun.................................................... 16
Gambar 8. Kondisi Terumbu Karang Stasiun I..................................... 17
Gambar 9. Kondisi Terumbu Karang Stasiun II................................... 18
Gambar 10. Kondisi Terumbu Karang Stasiun III................................ 18
Gambar 11. Kondisi Terumbu Karang Stasiun IV................................ 19
Gambar 12. Bintang Laut...................................................................... 20
Gambar 13. Landak laut (Echinoidea).................................................. 21

iv
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kawasan konservasi mempunyai peran yang sangat besar terhadap
perlindungan keanekaragaman hayati. Kawasan konservasi juga merupakan pilar
dari hampir semua strategi konservasi nasional dan internasional yang berfungsi
sebagai penyedia jasa ekosistem, melindungi spesies yang terancam dan mitigasi
perubahan iklim.
Kawasan konservasi laut mempunyai peranan penting dalam program
konservasi sumberdaya alam diwilayah laut. Permasalahan dan bentuk ancaman
yang sangat serius terhadap sektor perikanan dan kelautan, yang terkait dengan
sumberdaya hayati laut dalam pengelolaan dan pengembangan konservasi perairan
antara lain, permanfaatan berlebihan (over exploitation) terhadap sumberdaya
hayati, penggunaan teknik dan peralatan tangkap ikan merusak lingkungan,
perubahan dan degredasi fisik habitat, pencemaran, introduksi spesies asing dan
konversi kawasan lindung menjadi peruntukan pembangunan.
Pesisir merupakan wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut.
Wilayah pesisir merupakan wilayah pertemuan antara daratan dan laut, ke arah
darat meliputi bagian daratan baik yang kering maupun terendam air, yang masih
dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air
asin. Sedangkan ke arah laut wilayah pesisir meliputi bagian laut yang masih
dipengaruhi oleh proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran
air tawar. Wilayah ini disebut sebagai wilayah yang kaya akan sumberdaya alam
dan jasa lingkungan. Sumber daya pesisir terdiri dari sumberdaya hayati dan non
hayati, dimana unsur hayati terdiri atas ikan, mangrove, terumbu karang, padang
lamun dan biota laut lain beserta ekosistemnya, sedangkan unsur non-hayati terdiri
dari sumberdaya mineral dan abiotik lain di lahan pesisir, permukaan air, di kolom
air, dan di dasar laut
Kawasan Sungai Dua Laut Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan
memiliki kekayaan alam biota termasuk ekosistem terumbu karang, ekosistem
mangrove dan ekosistem lamun. Sungai Dua Laut memiliki keragaman ekosistem
yang menciptakan variasi habitat dan relung kehidupan bagi beragam biota laut

1
seperti kelompok ikan dan biota lainnya. Masyarakat yang berada di sekitar
kawasan ini dapat memanfaatkan ekosistem tersebut serta biota untuk kelangsungan
hidup dan sebagai sumber mata pencarian.
Semakin pesatnya pertambahan penduduk yang menempati wilayah pesisir
menjadi ancaman terhadap keberadaan sumberdaya pesisir itu sendiri akan semakin
besar. Dampak yang terjadi yaitu eksploitasi besar-besaran sumberdaya pesisir,
terutama dalam usaha-usaha ekstensifikasi wilayah peruntukan yang dapat memacu
pertumbuhan ekonomi. Sehingga untuk menghindari kawasan Sungai Dua Laut
agar tidak rusak dan hilang akibat ulah manusia wilayah tersebut harus dijadikan
wilayah konservasi. Demikian, untuk mengetahui kelayakan pantai tersebut
menjadi kawasan konservasi dilihat dari kriteria ekologi, sosial dan budaya serta
ekonomi sesuai yang tercantum dalam buku Pedoman Umum Calon Lokasi
Kawasan Konservasi Perairan .

1.2. Tujuan Praktek


Adapun tujuan dari kegiatan praktik lapang di Desa Sungai Dua Laut adalah
sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui potensi ekosistem atau karakteristik mangrove, lamun
dan terumbu karang.
2. Untuk memberi rekomendasi area konservasi yang sesuai untuk daerah
Tanah Bumbu.

2
BAB II
METODELOGI

2.1. Waktu dan Lokasi

Praktek lapang Konservasi Sumberdaya hayati laut ini dilaksanakan tanggal


8-11 November 2017. Bertempat di Desa Sungai Dua Laut Kecamatan Sungai
Loban Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan.

(Gambar 1. Peta lokasi praktek lapang Sungai Dua Laut)


2.2. Alat
Adapun alat yang digunakan praktek lapang konservasi sumber hayati laut
di sajikan pada (Tabel 1.).
Tabel 1. Alat Praktek Lapang
No. Alat Fungsi
1. Scuba Untuk menyelam
2. Rool meter Untuk membentang transek
3. Buku identifikasi Untuk pedoman penentuan jenis
4. Kamera Untuk dokumentasi
5. Transek 1x1 m Untuk pengamatan biota asosiasi
6. Tali Untuk membentang teransek
7. Kapal Untuk transfortasi laut
8. Global Positioning System (GPS) Untuk menentukan posisi
2.3. Pengumpulan Data
2.3.1. Mangrove

3
Metode pengukuran yang digunakan untuk mengetahui kondisi mangrove
adalah dengan menggunakan Metode Transek Garis dan Petak Contoh (Line
Transect Plot). Metode Transek Garis dan Petak Contoh (Transect Line Plot) adalah
metode pencuplikan contoh populasi suatu ekosistem dengan pendekatan petak
contoh yang berada pada garis yang ditarik melewati wilayah ekosistem tersebut.
Metode pengukuran ini merupakan salah satu metode pengukuran yang paling
mudah dilakukan, namun memiliki tingkat akurasi dan ketelitian yang akurat.
2.3.2. Terumbu karag
2.3.2.1. Metode LIT
LIT merupakan metode yang paling sering digunakan, ditujukan untuk
menentukan komunitas bentik sesil di terumbu karang berdasarkan bentuk
pertumbuhan dalam satuan persen, dan mencatat jumlah biota bentik yang ada
sepanjang garis transek. Komunitas dicirikan dengan menggunakan kategori
lifeform yang memberikan gambaran deskriptif morfologi komunitas karang. LIT
juga digunakan untuk melakukan memonitor kondisi terumbu karang secara detail
dengan pembuatan garis transek permanen.
Metode ini memerlukan dua tingkatan kemampuan dari pencatat data.
Pertama, kemampuan pencatat data untuk mengenal biota laut dan bentuk
pertumbuhannya. Kedua, pencatat data harus mampu mengidentifikasi biota hingga
taksa genera atau spesies.
Metode ini dilakukan dengan melakukan penyelaman scuba. Sebelum
melaksanakan metode LIT, dapat didahului dengan manta tow untuk memberi
gambaran umum kondisi lokasi studi. Pada tiap lokasi, minimum pengamatan
dilakukan pada 2 kedalaman yaitu 3 dan 10 meter. Prosedur kerja untuk LIT adalah
sebagai berikut;
1. Pengamat terdiri atas minimal dua orang; satu orang bertugas untuk membuat
transek sedangkan yang lainnya bertugas untuk mencatat kategori lifeform
karang yang dijumpai.
2. Panjang transek adalah 10 meter dengan minimum 3 kali replikasi. Garis
transek dibuat dengan membentangkan roll meter yang memiliki skala
sentimeter (cm).
3. Pengamat harus menguasai dan mengenal tipe-tipe bentuk pertumbuhan
karang, baik karang hidup maupun biota lainnya.

4
4. Pengamat berenang dari titik nol hingga titik 10 meter mengikuti garis transek
yang telah dibuat dan mencatat semua lifeform karang pada area yang dilalui
oleh garis transek. Setiap life form harus dicatat lebarnya (hingga skala
centimeter). Kategori lifeform dapat mengacu pada AIMS (English et al., 1994)
atau COREMAP.
2.3.2.2. Metode PIT
Metode PIT, merupakan salah satu metode yang dikembangkan untuk
memantau kondisi karang hidup dan biota pendukung lainnya di suatu lokasi
terumbu karang dengan cara yang mudah dan dalam waktu yang cepat (Hill &
Wilkinson, 2004). Metode ini dapat digunakan di daerah (Kabupaten) yang ingin
mengetahui kondisi terumbu karang di daerahnya untuk tujuan pengelolaan. Suatu
daerah yang ingin\ mengelola terumbu karangnya tentu ingin mengetahui terumbu
karangnya yang rusak, dan terumbu karangnya yang masih sehat untuk kepentingan
pengelolaannya.
Metode ini dapat memperkirakan kondisi terumbu karang di daerah
berdasarkan persen tutupan karang batu hidup dengan mudah dan cepat. Secara
teknis, metode Point Intercept Transect (PIT) adalah cara menghitung persen
tutupan (% cover) substrat dasar secara acak, dengan menggunakan tali bertanda di
setiap jarak 0,5 meter atau juga dengan pita berskala (roll meter). Di Daerah
Perlindungan Laut (DPL) COREMAP II World Bank, data baseline ekologi
terumbu karang ditentukan dengan metode Point Intercept Transect (PIT), untuk
mengakses kondisi terumbu karang berdasarkan persen tutupan karang batu hidup,
yang dapat dilakukan oleh seorang yang bukan ahli karang dengan mudah dan
cepat. Metode ini digunakan di DPL oleh tim CRIRC–LIPI, kemudian
disosialisasikan ke CRITC daerah, karena untuk pemantauan kondisi terumbu
karang di DPL selanjutnya akan dilakukan oleh tim CRITC daerah yang
bersangkutan.
2.3.2.2. Metode Manta Tow
Metode ini digunakan untuk penentuan titik sampling, metode manta tow
adalah pengamatan langsung di atas permukaan air yang ditarik secara perlahan
menggunakan rubber boat yang dilengkapi dengan alat snorkeling (yaitu masker,
snorkel, serta fins). Metode ini digunakan untuk koleksi data dan pengamatan ikan

5
karang sepanjang jalur transek. Pengamatan secara umum dilakukan untuk
menentukan lokasi yang mewakili kondisi terumbu karang yang sama dalam hal
karateristik secara fisik, kemiringan, serta tutupan karangnya.
2.3.3. Lamun
Pengamatan lamun di lapangan meliputi identifikasi jenis lamun,
menghitung jumlah tegakan, pengukuran persen penutupan lamun dan pengamatan
terhadap vegetasi lamun. Pengamatan lamun ini dibatasi hanya pada transek
kuadrat dan pengamatan dilakukan dengan cara scuba di kolom perairan mengikuti
jalur dari transek garis.

2.4. Analisis Data


2.4.1. Mangrove
Hasil pengukuran lapangan diolah dengan menggunakan beberapa
persamaan untukmendapatkan gambaran tentang dominansi jenis, kerapatan,
frekuensi dan nilai penting dari masing-masing tingkat pertumbuhan vegetasi yang
telah ditetapkan sebelumnya. Rumus-rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
2.4.1.1. Tingkat Pancang dan Pohon

Dari hasil pengukuran dan pengumpulan data pada vegetasi tingkat pancang
dan pohon dilakukan perhitungan Nilai Penting Jenis (NPJ), dimaksudkan untuk
menentukan jenis mana yang paling dominan. Nilai Penting Jenis diperoleh dari
hasil penjumlahan antara Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR) dan
Dominansi Relatif (DR) dari masing-masing jenis. Perhitungan ini dilakukan
dengan rumus yang dikemukakan oleh Mueller- Dombois dan Ellenberg (1974)
sebagai berikut :
- Kerapatan
Jumlah individu suatu jenis
Kerapatan Mutlak = Jumlah individu suatu jenis
Luas petak contoh
Jumlah individu suatu jenis
Kerapatan Relatif (%) = Jumlah individu suatu jenis x 100
Jumlah individu seluruh jenis
- Frekuensi
Frekuensi Mutlak = Jumlah petak dari suatu jenis yang hadir

6
Jumlah kehadiran suatu jenis

Frekuensi Relatif (%) (FR) = Jumlah kehadiran suatu jenis x 100


Jumlah kehadiran seluruh jenis
- Dominansi
Domiansi Mutlak = Jumlah total luas bidang dasar suatu jenis
Luas petak contoh
Dominansi Relatif (DR) = Jumlah total luas bidang dasar suatu jenis x 100
Jumlah total luas bidang dasar seluruh jenis
Nilai Penting Jenis (NPJ %) = NPJ = KR + FR + DR
2.4.1.2. Tingkat Semai
Dari data hasil pengukuran vegetasi tingkat semai (jumlah individu,
frekuensi dan tinggi rata-rata) selanjutnya dianalisis untuk mencari nilai dominansi
jenisnya dengan Sum of Dominance Ratio (SDR) sesuai dengan rumus yang
dikemukakan oleh Numata (1958) yang dikutip Bratawinata (1988) sebagai
berikut :
- Rasio Jumlah Individu
N’ = Jumlah individu suatu jenis x 100 %
Jumlah individu terbanyak dari suatu jenis
- Rasio Frekuensi
F’ = Jumlah frekuensi suatu jenis x 100%
Jumlah frekuensi terbanyak dari suatu jenis
- Rasio Tinggi Rata-rata
H’ = Tinggi rata-rata dari suatu jenis x 100 %
Tinggi rata-rata tertinggi dari jenis lain
- Jumlah Rasio Dominasi :
SDR3 = N’ + F’ + H’
3
2.4.2. Terumbu Karang

2.4.2.1. Tutupan Terumbu Karang

Kondisi terumbu karang dapat di duga melalui pendekatan persentase


penutupan karang hidup (lifeform) sebagaimana yang di jelaskan oleh Gomez dan
Yap (1988).

7
Dimana :
L = Persentase penutupan karang (%)
Li = Panjang lifefrom jenis kategori
N = Panjang Transek
Adapun kriteria penelitian kondisi ekosistem terumbu karang berdasarkan
persentase penutupan karang hidup disajikan berikut ini:
- Sangat baik = 75% - 100%
- Baik = 50% - 74,9%
- Sedang = 25% - 49,9%
- Buruk = 0% - 24,9%
2.4.3. Lamun

2.4.3.1. Komposisi jenis lamun

Komposisi jenis merupakan perbandingan antara jumlah individu suatu jenis


terhadap jumlah individu secara keseluruhan. Komposisi jenis lamun dihitung
dengan mengunakan rumus (English et al, 1997)

Keterangan

Ki = Komposisi jenis ke-I (%)

ni = Jumlah individu jenis ke-I (ind)

N = Jumlah total individu (ind)

2.4.3.2. Kerapatan Jenis Lamun


Kerapatan jenis lamun yaitu jumlah total individu suatu jenis lamun dalam
unit area yang diukur. Kerapatan jenis lamun di tentukan berdasarkan rumus
(English et al, 1997)

8
Keterangan :

Ki = Kerapatan jenis ke-I (ind/m2)

ni = Jumlah individu atau tegakan dalam transek ke-I (ind)

A = Luas total pengambilan sampel (m2)

9
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Ekosistem Mangrove

3.1.1. Komposisi Jenis

Dari hasil analisis tingkat pertumbuhan pohon, pancang dan semai


ditemukan enam jenis tumbuhan mangrove yang membentuk tegakan dilokasi
penelitian. Keenam jenis mangrove itu meliputi: Avicennia marina, Avicenia alba,
Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Avicennia officialis dan Rhizophora
apiculata.

3.1.2. Distribusi Mangrove


Hutan mangrove merupakan suatu tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang
surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna, dan muara sungai yang tergenang
pada saat pasang dan bebas genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya
bertoleransi terhadap garam.
Hutan mangrove dapat ditemukan di pesisir pantai wilayah tropis sampai
subtropis, terutama pada pantai yang landai, dangkal, terlindung dari gelombang
besar dan muara sungai. Sungai Dua Laut memiliki pantai yang landai dan jenis
tanah berlumpur dan berlempung atau berpasir, habitat tergenang air laut secara
berkala, dengan frekuensi sering (harian), menerima pasokan air tawar yang cukup,
baik berasal dari sungai, mata air maupun air tanah yang berguna untuk
menurunkan kadar garam dan menambah pasokan unsur hara dan lumpur jenis
mangrove yang tumbuh ada 6 spesies yang di dominansi oleh Avicennia officialis
dan Avicennia marina.
3.1.3. Indeks Nilai Penting
Indeks Nilai penting (INP) adalah penjumlahan nilai relatif (RDi), frekuensi
relatif (DFi) dan penutupan realtif (RCi) dari mangrove (Bangen, 2000). Berikut
indeks nilai penting (INP) masin-masing jenis mangrove di lokasi penelitian Sungai
Dua Laut berdasarkan analisis data, dan hasilnya sebagai berikut:

Tabel 2. Kerapatan relatif, Frekuensi relatif dan Nilai Indeks Penting pada Tingkat
Pohon di Desa Sungai Dua Laut

10
Frekuensi Kerapatan
No Jenis Mangrove INP
Relatif/Rfi (%) Relatif/Rdi (%)
1 Avicennia marina 25 34.09 83.71
2 Avicenia alba 12.5 6.82 27.05
3 Sonneratia alba 18.75 11.36 33.9
4 Rhizophora mucronata 6.25 9.09 22.85
5 Avicennia officialis 25 27.27 100.31
6 Rhizophora apiculata 12.5 11.36 27.72
100 100 295.54
Sumber : Hasil Olahan Data Primer 2017

Nilai Kerapatan Relatif (RDi), kerapatan individu, banyak ditentukan oleh


sejumlah factor, yaitu faktor lingkungan dan faktor manusia. Berdasarkan hasil
penelitian kondisi lingkungan merupakan kondisi yang cukup baik bagi
pertumbuhan mangrove, baik suhu, salinitas dan substrat. Kondisi yang baik akan
mendukung bagi pertumbuhan mangrove. Perbedaan kerapatan masing-masing
jenis mangrove dilokasi penelitian Avicennia marina, memiliki kerapatan relatif
lebih tinggi dibanding dengan Avicenia alba, disebabkan letak yang ideal sehingga
pertumbuhan Avicennia marina lebih optimal disbanding Avicenia alba.
Nilai Frekuensi Relatif (RFi), pada setiap pengamatan terutama pada
plot/petak pengannmatan, hamper ditemukan jenis Aviccennia dan Rhizophora.
Keberadaan jenis Aviccennia dan Rhizophora, ditentukan oleh kondisi lingkungan
yang memungkinkan mangrove untuk tubuh optimal. Penyebaran vegetasi
mangrove ditentukan oleh beberapa faktor lingkungan, salah satunya adalah
salinitas.
Indeks Nilai Penting (INP) merefleksikan keberadaan peran (dominasi) dan
struktur vegetasi mangrove di lokasi penelitian. Berdasarkan hasil pehitungan INP
(tabel 2), nilai indeks penting tertinggi yaitu untuk jenis Avicennia officialis sebesar
100.31 dan terendah adalah jenis Avicenia alba.
3.1.4. Struktur Komunitas
Ekosistem mangrove terdiri atas himpunan jenis tumbuhan lainnya dari
suku tumbuhan lain yang berbeda-beda. Setiap jenis mangrove memiliki frekuensi
pemunculan yang berbeda. Selama praktek lapang di Desa Sungai Dua Laut di
temukan 6 jenis mangrove. Kondisi hutan mangrove di lokasi praktek dapat di lihat
pada gambar di bawah ini.

11
Gambar 2. Sebaran Jenis Mangrove di Sungai Dua Laut
Penyebaran jenis mangrove di pengaruhi oleh jenis pasang surut, Watson
(1928) mengemukakan adanya korelasi antara jenis-jenis dengan tinggi pasang dan
lamanya tempat digenangi air, terdapat lima kelas genangan, Pantai Sungai Dua
Laut termasuk dalam Kelas 3 merupakan tempat digenangi oleh pasang rata-rata
(Normal high tides). Tempat ini mencakup sebagian besar hutan mangrove yang
ditumbuhi oleh Avicennia marina, Sonneratia alba dan Rhizophora apiculata.
Dalam hal struktur zonasi pertumbuhan mangrove, menurut (Noor et. al
1999), terbagi dalam 4 zona, yaitu; mangrove terbuka, mangrove tengah, mangrove
payau dan mangrove darat. Pada saat pengembilan data mangrove terletak pada
zona mangrove tengah, untuk zona mangrove tengah, yaitu berada di belakang
mangrove terbuka, didominasi oleh jenis Avicennia marina sesuai dengan hasil
pengamatan.
Dari hasil pengamatan Avicennia marina memiliki kerapatan dan kerapatan
relatif tertinggi di pantai Sungai Dua Laut, karena Kondisi substrat di lokasi
pengamatan bervariasi antara tanah berpasir, pasir dan lumpur. Untuk jenis
Avicennia marina dominan berada di substrat berpasir.

3.2. Lamun
3.2.1. Komposisi jenis

12
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dilokasi penelitian Sungai
Dua Laut didapatkan tiga jenis lamun di antaranya yaitu Halophila ovalis,
Halodule Uninervis dan Halodule pinifolia.

(a) (b)

(c)
Gambar 3. komposisi jenis lamun di tiap stasiun
(a) stasiun I (b) stasiun II (c) stasiun III
Ditemukan dua jenis lamun pada Stasiun I, yaitu Halodule Uninervis dan
Halophila ovalis dengan komposisi terbesar adalah jenis lamun Halophila ovalis
mencapai 54% dibandingkan Halodule Uninervis yang hanya 46%. Jenis lamun
Halodule pinifolia tidak ditemukan di Stasiun I dan stasiun III tetapi ditemukan
distasiun II, hal ini diduga karena relatif tingginya TSS di daerah tersebut 13 mg/L
dan kedalaman perairan yang tergolong dangkal sehingga sering tersingkap saat
surut.
Berbeda dengan Stasiun I, pada Stasiun II dan Stasiun III didominasi oleh
jenis lamun Halodule Uninervis. Komposisi terbesar ditemukan di Stasiun II
dengan persentase 77% sedangkan pada Stasiun III sebesar 56%. Jenis lamun
Halophila ovalis dan Halodule pinifolia juga ditemukan di stasiun ini tetapi dengan
persentase yang sedikit.
3.2.2. Distribusi Lamun

13
Padang lamun yang tersebar luas di perairan dangkal merupakan ekosistem
bahari sangat produktif dan berperan penting dalam kehidupan tetapi sering kali
kurang mendapat perhatian. Menurut Fortes (1994) in Warasti (2009), kondisi
ekosistem padang lamun di perairan indonesia telah mengalami kerusakan sekitar
30 – 40%. Adapun kerusakan tersebut antara lain di sebabkan oleh pengembangan
wilayah, penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan dan pencemaran.
Kerusakan akan berdampak pada keanekaragaman dan juga perubahan luasan
(zonasi).
Dari hasil pengamatan di lokasi Sungai Dua Laut di temukan 3 jenis lamun
yang tersebut di 3 stasiun atau lokasi pengamatan, yaitu : Halophila Ovalis,
Halodule Uninervis dan Halodule pinifolia. Adapun jenis yang ditemukan pada
perairan Sungai Dua Laut di dominansi oleh jenis Halodule Uninervis dan
Halophila Ovalis yang tersebar merata hampir di setiap stasiun. Ini
menggambarkan tingkat keanekaragaman di Perairan Desa Sungai Dua Laut rendah
karena (3 dari 13 jenis lamun yang telah di temukan di indonesia) meskipun
memiliki 3 dari 13 jenis lamun yang ada di indonesia, pertumbuhan lamun di
Perairan Sungai Dua Laut juga bagus dan subur.
3.2.3. Persentase Tutupan
Persen penutupan lamun menggambarkan luas daerah yang tertutupi oleh
lamun. Mengukur persen penutupan lamun merupakan suatu metode untuk melihat
statusdan untuk mendeteksi perubahan dari sebuah vegetasi (Humminga dan
Duarte, 2000). Hasil persentase penutupan lamun di berbagai stasiun ditampilkan
seperti pada Gambar 4.

Gambar 4. Tutupan Lamun Stasiun I

14
Berdasarkan hasil penelitian data Lamun di Perairan Sungai Dua Laut di
stasiun I Lamun Penyulingan dapat dilihat pada (Gambar 4) ada dua jenis lamun
yang berbeda yaitu: Halophila Ovalis dan Halodule Uninervis. Persentase dominan
yang didapat oleh jenis lamun Halophila Ovalis dengan persentase 19 % dan
persentase jenis lamun Halodule Uninervis dengan persentase 16% lebih rendah.

Gambar 5. Tutupan Lamun Stasiun II

Berdasarkan hasil penelitian yang didapat di Perairan Sungai Dua Laut pada
stasiun Lamun katoang (Gambar 4), dapat diketahui bahwa persentasi dominan
jenis lamun Halodule Uninervis memiliki persentase lebih besar 17% dibandingkan
persentase jenis lamun Halodule pinifolia rendah 5%.

Gambar 6. Tutupan Lamun Stasiun III

Berdasarkan hasil penenitian yang dilakukan di Perairan Sungai Dua Laut


dapat di lihat (Gambar 3) Persentase terbesar Stasiun III Lamun anugrah terdapat
jenis lamun Halodule Uninervis dengan persentase lebih besar 62% dan persentase
jenis lamun Halophila Ovalis dengan persentase rendah yaitu 49%.

15
Gambar 7. Rata-rata Tutupan Lamun

Berdasarkan hasil penelitian didapat data tutupan lamun di stasiun 1 - 3


(Gambar 5). Tutupan lamun yang terendah adalah jenis lamun Halodule pinifolia
dengan persentase 5% dan tutupan lamun sedang jenis lamun Halophila Ovalis
dengan persentase 68% dan tutupan lamun dominan adalah jenis lamun Halodule
Uninervis dengan persentase 95%. Jenis lamun Halodule Uninervis ini dikenal
mampu mentoleransi keadaan ekstrim sekalipun. Lamun ini dapat tumbuh pada
rentang salinitas 38-70 ppt dan suhu 10-39 derajat Celsius. Lamun ini juga dikenal
mampu hidup hingga kedalaman 30 meter. Lamun yang juga disebut
sebagai Needle seagrass mempunyai daun sepanjang 6-15 cm dan lebar sekitar
0.25-3.5 mm. Lamun ini dapat dijumpai di hampir seluruh perairan di Indonesia.

3.3. Terumbu Karang


3.3.1. Kondisi Tutupan
Terumbu karang yang terdapat di perairan Sungai Dua Laut hingga Tanjung
Kandang Haur termasuk tipe karang gosong/taka (patch reef). Terumbu karang tipe
ini tumbuh dan berkembang terpisah dari pantai. Beberapa diantaranya ada yang
muncul ke permukaan berupa paparang karang atau juga gosong pasir pada saat
kondisi surut terendah, sementara yang lainnya tenggelam atau tidak terlihat pada
saat surut terendah tersebut.
Terumbu karang di perairan ini sangat dipengaruhi oleh masukan air tawar
dari muara sungai yang berada di pesisir Tanah Bumbu, hal ini dapat mudah
diamati dari atas kapal ketika musim teduh yaitu pada saat musim peralihan. Secara
umum terumbu karang di perairan ini sudah mampu beradaptasi terhadap
perubahan salinitas dan kekeruhan.

16
Berdasarkan hasil pengamatan menggunakkan metode manta taw dengan
cara snorkeling di rataan karang di sekitar Tanjung Kandang Haur diketahui tutupan
karang hidup sebesar 60%. Secara umum kondisi terumbu karangnya tergolong
buruk menurut UNEP 1993. Umumnya penyebab kerusakan terumbu karang di
perairan tersebut disebabkan oleh sedimentasi. Hal ini di indikasikan dengan
adanya permukaan karang yang tertutup sedimen dan tumbunya alga bentik di
permukaan karang yang mati. Selain itu, ditemukan permukaan karang yang
mengalami pemutihan khususnya pada karang bercabang, karang bentuk
bongkahan dan menghampar atau merayap. Peningkatan suhu permukaan laut
dalam waktu lama berdampak pada simbiosis alga karang, yaitu alga zooxanthella.
Untuk bertahan hidup hewan karang melepaskan zooxanthella dalam jumlah
banyak sehingga karang kehilangan warnanya.
Berikut ini hasil dan pembahasan mengenai kondisi terumbu karang di
perairan Sungai Dua Laut adalah sebagai berikut :

Gambar 8. Kondisi Terumbu Karang Stasiun I


Berdasarkan hasil dari penelitian (Gambar 8) ditemukan kelompok karang
yang termasuk golongan acropora sebesar 16%. Sedangkan untuk kelompok non
acropora ditemukan sebesar 11%. Hal ini mengindikasikan relatif besar tekanan
fisik perairan seperti arus dan gelombang di daerah ini. Perbedaan stasiun
pengambilan data sangat memungkinkan terjadinya perbedaan yang di dapat,
karena berbeda stasiun terkadang juga ada faktor-faktor tersendiri yang
mempengaruhi kondisi lingkungan tersebut seperti jenis substrat, salinitas,
pergerakan arus, pasang surut, dan kekeruhan. Adanya perbedaan tersebut juga akan

17
menyebabkan variasi life form yang muncul juga akan berbeda-beda, perbedaan
tersebut akan mengakibatkan perbedaan kedominanan suatu jenis life form di suatu
stasiun.

Gambar 9. Kondisi Terumbu Karang Stasiun II


Berdasarkan hasil dari (gambar 9) di temukan kelompok karang yang
termasuk golongan acropora sebesar 42%. Sedangkan untuk golongan non acropora
di temukan sebesar 30% dan dead coralnya ada 19%. Hal ini di sebabkan selain
pengaruh sedimentasi, pengaruh aktivitas manusia juga ikut menyumbang tingkat
kekeruhan di perairan tersebut.

Gambar 10. Kondisi Terumbu Karang Stasiun III


Berdasarkan hasil pengambilan data menggunakan metode manta taw dapat
di lihat (Gambar 10) bahwa di stasiun 3 terdapat karang hidup dengan presentasi
sebesar 60% dan karang mati 15%. Hal ini karena perairan di spot tersebut masih
bagus dan tingkat sedimentasinya tidak cukup tinggi sehingga persentase karang
hidup lebih tinggi dari pada persentase karang mati.

18
Gambar 10. Kondisi Terumbu Karang Stasiun IV
Berdasarkan hasil pengambilan data terumbu karang di perairan Sungai Dua
Laut menggunakan metode PIT (Point Intercept Transeckt) di dapat kelas acropora
sebesar 18% dan kelas non acropora sebesar 34%. Hasil pengamatan yang telah
diperoleh ternyata yang dominan kelas non-acropora lebih dominan dibanding kelas
acropora, ini mengindikasikan relatif besar tekanan fisik perairan seperti arus dan
gelombang di daerah ini. Karang memiliki bentuk pertumbuhan koloni yang
berbeda-beda. Variasi tersebut bisa dipengaruhi oleh sifat karang itu sendiri,
maupun kondisi lingkungan tempat dia tinggal. Beberapa pengaruh yang berasal
dari kondisi habitat diantaranya adalah intensitas cahaya matahari, pergerarakan
gelombang dan arus, ketersediaan nutrien, serta sedimentasi.
3.3.2. Jenis Karang
Terumbu karang (coral reef) merupakan organisme yang hidup di dasar Lut
dangkal terutama di daerah tropis. Terumbu adalah endapan-endapan masif yang
penting dan kalsium karbonat yang terutama dihasilkan oleh karang (filum
cnidaria, kelas anthozoa, ordo madreporia = scleractinia) dengan sedikit tambahan
dari algae berkapur dan organisme–organisme lain yang mengeluarkan kalsium
karbonat, yang mana termasuk hermatypic coral atau kerangka karang dari kalsium
karbonat (Nybakken, 1992). Dari hasil pengamatan terumbu karang di Perairan
Desa Sungai Dua Laut di dapat 7 spesies terumbu karang yaitu : Digitate,
Branching, Tabulate, Mushroom, Sofe coral, non acropora branching dan Spoonge.

3.3.3 Biota Asosiasi

19
Terumbu karang merupakan ekosistem laut dangkal tropis yang paling
kompleks dan produktif. Secara alami, terumbu karang merupakan habitat bagi
banyak spesies laut untuk melakukan pemijahan, peneluran, pembesaran anak, dan
mencari makan. Terumbu karang juga berperan sebagai gudang keanekaragaman
hayati yang menjadikannya sumber penting bagi berbagai bahan bioaktif yang
diperlukan di bidang medis dan farmasi. Strukturnya yang kokoh berfungsi sebagai
pelindung pantai dan pemukiman pesisir dari hantaman gelombang, badai dan erosi
pantai.
Struktur fisiknya terumbu karang yang rumit, bercabang-cabang, bergua-
gua, dan berlorong-lorong membuat ekosistem ini habitat yang menarik bagi
banyak jenis biota laut. Oleh sebab itu penghuni terumbu karang sangat beraneka
ragam, baik yang berupa tumbuh-tumbuhan maupun biota, berikut adalah biota
yang berada di terumbu karang di Perairan Sungai Dua Laut :

Gambar 11. Bintang Laut


Bintang laut merupakan invertebrata yang termasuk filum echinodermata
dari kelas asteroida. Ciri khas fisik bintang laut adalah bentuknya yang seperti
bintang dengan lima lengan, beberapa memiliki lengan lebih dari lima. Bintang laut
memiliki ukuran yang bervariasi dan beratnya bisa mencapai 5 kg. Salah satu biota
terasosiasi di terumbu karang Desa Sungai Dua Laut ini adalah bintang laut atau
starfish yang termasuk filum echinodermata. Yang hidup di sekitaran terumbu
karang yang telah di amati.

20
Gambar 12. Landak laut (Echinoidea)
Landak laut atau bulu babi adalah biota laut yang termasuk filum
Echinodermata, kelas Echinoidea dan Echinoida order. Habitat hidupnya di bagian
dalam dari laut tetapi juga ditemukan di bagian dangkal. Mereka lebih memilih
untuk tinggal di terumbu karang dan daerah yang lebih rentan terhadap gelombang
pasang.

21
BAB IV. UPAYA PELESTARIAN EKOSISTEM

4.1. Pelestarian Hutam Mangrove


Ekosistem mangrove yang rusak dapat dipulihkan dengan cara
restorasi/rehabilitasi. Restorasi dipahami sebagai usaha mengembalikan kondisi
lingkungan kepada kondisi semula secara alami. Campur tangan manusia
diusahakan sekecil mungkin terutama dalam memaksakan keinginan untuk
menumbuhkan jenis mangrove tertentu menurut yang dipahami/diingini manusia.
Dengan demikian, usaha restorasi semestinya mengandung makna memberi
jalan/peluang kepada alam untuk mengatur/memulihkan dirinya sendiri.
Kita manusia pelaku mencoba membuka jalan dan peluang serta
mempercepat proses pemulihan terutama karena dalam beberapa kondisi, kegiatan
restorasi secara fisik akan lebih murah dibanding kita memaksakan usaha
penanaman mangrove secara langsung. Restorasi perlu dipertimbangkan ketika
suatu sistem telah berubah dalam tingkat tertentu sehingga tidak dapat lagi
memperbaiki atau memperbaharui diri secara alami. Dalam kondisi seperti ini,
ekositem homeastatis telah berhenti secara permanen dan proses normal untuk
suksesi tahap kedua atau perbaikan secara alami setelah kerusakan terhambat oleh
berbagai sebab. Secara umum, semua habitat bakau dapat memperbaiki kondisinya
secara alami dalam waktu 15 - 20 tahun jika:
1) kondisi normal hidrologi tidak terganggu,
2) ketersediaan biji dan bibit serta jaraknya tidak terganggu atau terhalangi.
Jika kondisi hidrologi adalah normal atau mendekati normal tetapi biji
bakau tidak dapat mendekati daerah restorasi, maka dapat direstorasi dengan cara
penanaman. Oleh karena itu habitat bakau dapat diperbaiki tanpa penanaman, maka
rencana restorasi harus terlebih dahulu melihat potensi aliran air laut yang
terhalangi atau tekanan-tekanan lain yang mungkin menghambat perkembangan
bakau (Kusmana, 2005). Dahuri dkk (1996) menyatakan, terdapat tiga parameter
lingkungan yang menentukan kelangsungan hidup dan pertumbuhan mangrove,
yaitu:
1) suplai air tawar dan salinitas, dimana ketersediaan air tawar dan konsentrasi
kadar garam (salinitas) mengendalikan efisiensi metabolic dari ekosistem hutan
mangrove. Ketersediaan air tawar tergantung pada (a) frekuensi dan volume air dari

22
system sungai dan irigasi dari darat, (b) frekuensi dan volume air pertukaran pasang
surut, dan (c) tingkat evaporasi ke atmosfer.
2) Pasokan nutrien: pasokan nutrient bagi ekosistem mangrove ditentukan oleh
berbagai proses yang saling terkait, meliputi input dari ion-ion mineral an-organik
dan bahan organik serta pendaur ulangan nutrien. Secara internal melalui jaringan-
jaringan makanan berbasis detritus (detrital food web).

23
BAB V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat di ambil dari praktikum kali ini adalah
sebagai berikut :
1. Kawasan konservasi mempunyai peran yang sangat besar terhadap
perlindungan keanekaragaman hayati. Kawasan konservasi juga merupakan
pilar dari hampir semua strategi konservasi nasional dan internasional yang
berfungsi sebagai penyedia jasa ekosistem, melindungi spesies yang terancam
dan mitigasi perubahan iklim.
2. Sungai Dua Laut memiliki keragaman ekosistem yang menciptakan variasi
habitat dan relung kehidupan bagi beragam biota laut seperti kelompok ikan dan
biota lainnya termasuk ekosiste mangrove, lamun dan terumbu karang.
Masyarakat yang berada di sekitar kawasan ini memanfaatkan ekosistem
tersebut serta biota untuk kelangsungan hidup dan sebagai sumber mata
pencarian.
5.2. Saran
1. Perlu ada tinjauan khusus kepada masyarakat tentang pemahaman pengelolaan
kawasan konservasi sumberdaya hayati laut oleh Dinas terkait.
2. Untuk menjaga keseimbangan ekosistem perlu ada sosialisasi-sosialisasi kepada
masyarakat hak wilayah oleh Dinas bersangkutan.

24