Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah hubungan perbedaan durasi penggunaan instagram terhadap timbulnya

insomnia pada remaja?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui kebiasaan konsumsi makanan siap saji (fast food) dengan

kejadian obesitas pada anak kelas I, II, dan III SDN 2 Cakranegara Mataram

NTB.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengetahui status gizi pada anak kelas I, II, dan III SDN 2 Cakranegara

Mataram NTB.

2. Mengetahui kebiasaankonsumsi makanan siap saji (fast food)pada anak

kelas I, II, dan III SDN 2 Cakranegara Mataram NTB yang obesitas dan

tidak obesitas.

1
3. Mengetahui hubungan kebiasaankonsumsi makanan siap saji (fast

food)dengan kejadian obesitas pada pada anak kelas I, II, dan IIISDN 2

Cakranegara Mataram NTB.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Memberiinformasimengenaipentingnya menjaga pola makan dari makanan

siap saji (fast food) untuk mencapai status gizi yang baik dan kesehatan

optimal.

2. Untuk Mendukung penelitian tentang pola makan dan konsumsi gizi yang

baik pada anak usia sekolah.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obesitas

2.1.1 Definisi Obesitas

Obesitas didefinisikan sebagai kandungan lemak berlebih pada jaringan

adiposa.Secara fisiologis, obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan

akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan dijaringan adiposa

sehingga dapat mengganggu kesehatan (Sugondo, 2009).

Obesitas terjadi jika dalam suatu periode waktu, lebih banyak kilokalori

yang masuk melalui makanan daripada yang digunakan untuk menunjang

kebutuhan energi tubuh, dengan kelebihan energi tersebut disimpan sebagai

trigliserida di jaringan lemak (Sherwood, 2012).

2.1.2 Epidemiologi Obesitas

Dalam sepuluh tahun terahir, obesitas menjadi masalah global,

prevelensi obesitas di dunia telah meningkat hampir dua kali lipat.Pravelensi

obesitas pada anak dan remaja yang terus meningkat menjadi masalah

kesehatan epidemi global terutama di negara-negara maju seperti Amerika,

Eropa, dan Mediterania Timur dan negara berkembang di Asia Tenggara dan

Afrika (WHO 2016).

3
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, didapatkan

prevalensi obesitas pada anak berusia 5-12 tahun masih tinggi yaitu 18,8

persen, terdiri dari gemuk 10,8 persen dan sangat gemuk (obesitas) 8,8 persen.

Prevalensi gemuk terendah di Nusa Tenggara Timur (8,7%) dan tertinggi di

DKI Jakarta (30,1%). Sebanyak 15 provinsi dengan prevalensi sangat

gemuk diatas nasional, yaitu Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Banten,

Kalimantan Timur, Bali, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, Kepulauan

Riau, Jambi, Papua, Bengkulu, Bangka Belitung, Lampung dan DKI

Jakarta.Dan laporan RISKESDAS 2007 provinsi NTB.ditemukan anak dengan

status pendidikam sekolah dasar didapatkan nilai prevalensi obesitas sebanyak

6,9 - 8,1%. Dan kabupaten yang memiliki pravelensi obesitas tertinggi adalah

kota Mataram.

2.1.3 Etiologi Obesitas

Obesitas terjadi jika dalam suatu periode waktu, lebih banyak kilokalori

yang masuk melalui makanan daripada yang digunakan untuk menunjang

kebutuhan energi tubuh, dengan kelebihan energi tersebut disimpan sebagai

trigliserida di jaringan lemak (Sherwood, 2012).Obesitas dapat disebabkan

oleh peningkatan masukan energi, penurunan pengeluaran energi, atau

kombinasi keduanya, Obesitas disebabkan oleh banyak faktor, antara lain

genetik, lingkungan, psikis, kesehatan, obat-obatan, perkembangan dan

aktivitas fisik (Sherwood, 2012).

4
1. Faktor Genetik

Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab

genetik. Selain faktor genetik pada keluarga, gaya hidup dan kebiasaan

mengkonsumsi makanan tertentu dapat mendorong terjadinya obesitas.

Penelitian menunjukkan bahwa rerata faktor genetik memberikan

pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.

2. Faktor Lingkungan

Lingkungan, termasuk perilaku atau gaya hidup juga memegang peranan

yang cukup berarti terhadap kejadian obesitas.

3. Faktor Psikis

Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan

makan.Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang

negative.Ada dua pola makan abnormal yang dapat menjadi penyebab

obesitas, yaitu makan dalam jumlah sangat banyak dan makan di malam

hari.

4. Faktor Kesehatan

Terdapat beberapa kelainan kongenital dan kelainan neuroendokrin yang

dapat menyebabkan obesitas, diantaranya adalah Down Syndrome,

Cushing Syndrome, kelainan hipotalamus, hipotiroid, dan polycystic

ovary syndrome.

5
5. Faktor Obat

Obat merupakan sumber penyebab signifikan dari terjadinya overweight

dan obesitas. Obat-obat tersebut diantaranya adalah golongan steroid,

antidiabetik, antihistamin, antihipertensi, protease inhibitor. Penggunaan

obat antidiabetes (insulin, sulfonylurea, thiazolidinepines),

glukokortikoid, agen psikotropik, mood stabilizers (lithium), antidepresan

(tricyclics, monoamine oxidase inibitors, paroxetine, mirtazapine) dapat

menimbulkan penambahan berat badan.Selain itu, Insulin-secreting

tumors juga dapat menimbulkan keinginan makan berlebihan sehingga

menimbulkan obesitas.

6. Faktor Perkembangan

Penambahan ukuran, jumlah sel-sel lemak, atau keduanya, terutama yang

terjadi pada pada penderita di masa kanak-kanaknya dapat memiliki sel

lemak sampai lima kali lebih banyak dibandingkan orang yang berat

badannya normal.

7. Aktivitas Fisik

Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu penyebab

utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas pada masyarakat.Orang

yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang

cenderung mengonsumsi makanan kaya lemak dan tidak melakukan

aktivitas fisik yang seimbang akan mengalami obesitas (Farida, 2009).

6
2.1.4 Patofisiologi Obesitas

Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan masukan dan keluaran kalori

dari tubuh serta penurunan aktifitas fisik (sedentary life style) yang

menyebabkan penumpukan lemak di sejumlah bagian tubuh.Pengontrolan

nafsu makan dan tingkat kekenyangan seseorang diatur oleh mekanisme

neural dan humoral (neurohumoral) yang dipengaruhi oleh genetik, nutrisi,

lingkungan, dan sinyal psikologis.Pengaturan keseimbangan energi

diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu pengendalian

rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran energi dan regulasi

sekresi hormon. Proses dalam pengaturan penyimpanan energi ini terjadi

melalui sinyal-sinyal eferen (yang berpusat di hipotalamus) setelah

mendapatkan sinyal aferen dari perifer (jaringan adiposa, usus dan jaringan

otot).

Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan rasa lapar serta

menurunkan pengeluaran energi) dan dapat pula bersifat katabolik (anoreksia,

meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal

pendek dan sinyal panjang.Sinyal pendek mempengaruhi porsi makan dan

waktu makan, serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida

gastrointestinal, yang diperankan oleh kolesistokinin (CCK) sebagai

stimulator dalam peningkatan rasa lapar.Sinyal panjang diperankan oleh fat-

derived hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan

keseimbangan energi (Sherwood, 2012).

7
Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan, maka jaringan

adiposa meningkat disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam peredaran

darah. Kemudian, leptin merangsang anorexigenic center di hipotalamus agar

menurunkan produksi Neuro Peptida Y (NPY) sehingga terjadi penurunan

nafsu makan.Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari

asupan energi, maka jaringan adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada

orexigenic center di hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu

makan. Pada sebagian besar penderita obesitas terjadi resistensi leptin,

sehingga tingginya kadar leptin tidak menyebabkan penurunan nafsu makan.

2.1.5 Klasifikasi Obesitas

Klasifikasi obesitas dapat dibedakan berdasarkan distribusi jaringan

lemak, yaitu:

1. Apple-shapedd body (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian dada

dan pinggang)

2. Pear-shapedd body (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian

panggul dan paha) (Suegondo, 2009).

Terdapat klasifikasi obesitas berdasarkan kriteria obesitas untuk

kawasan Asia Pasifik. Kriteria ini berdasarkan meta-analisis beberapa

kelompok etnik yang berbeda, dengan konsentrasi lemak tubuh, usia, dan

gender yang sama, menunjukkan etnis Amerika berkulit hitam memiliki IMT

lebih tinggi 4,5 kg/m2 dibandingkan dengan etnis kaukasia. Sebaliknya, nilai

8
IMT bangsa Cina, Ethiopia, Indonesia, dan Thailand masing-masing adalah

1.9, 4.6, 3.2, dan 2.9 kg/m2 lebih rendah daripada etnis Kaukasia. Hal ini

memperlihatkan adanya nilai ambang batas IMT untuk obesitas yang spesifik

untuk populasi tertentu (Suegondo, 2009).

Tabe 2.1Klasifikasi Berat Badan Lebih dan Obesitas Berdasarkan IMT dan

Lingkar Perut Menurut Kriteria Asia Pasifik

Risiko Ko-Morbiditas

IMT Lingkar Perut


Klasifikasi
(kg/m2) <80cm (perempuan)
<90 cm (laki-laki)
≥90 cm (laki-laki) ≥80cm (perempuan)

Berat Badan Rendah (risiko meningkat Sedang


< 18,5
Kurang pada masalah klinis lain)

Kisaran Normal 18,5-22,9 Sedang Meningkat

Berat Badan
≥23,0
Lebih

Beresiko 23,0-24,9 Meningkat Moderat

Obes I 25,0-29,9 Moderat Berat

Obes II ≥30,0 Berat Sangat berat

2.1.6 Manifestasi Klinis Obesitas

9
Berdasarkan distribusi jaringan lemak, gejala klinis pada obesitas

dibedakan menjadi apple shape body (distribusi jaringan lemak lebih banyak

dibagian dada dan pinggang) dan pear shape body/gynecoid (distribusi

jaringan lemak lebih banyak dibagian pinggul dan paha). Apple shape body

sering terjadi pada laki-laki sedangkan pear shape body sering terjadi pada

perempuan. Secara klinis kedua tipe ini mudah dikenali, karena mempunyai

ciri-ciri yang khas, antara lain wajah bulat dengan pipi tembem dan dagu

rangkap, leher relatif pendek, dada membusung dengan payudara membesar,

perut membuncit (pendulous abdomen) dan striae abdomen. Lain halnya pada

anak laki-laki, dapat ditemukan burried penis, gynaecomastia, pubertas dini,

genu valgum (tungkai berbentuk X) dengan kedua pangkal paha bagian dalam

saling menempel dan bergesekan yang dapat menyebabkan laserasi kulit

(Soegondo, 2009).

2.1.7 Diagnosis Obesitas

Pakar Committee Guidelines For Overweight In Adolescent Preventive

Services (suatu kelompok penasihat pada Biro Kesehatan Ibu dan Anak,

American Academy of Pediatris, and Medical Association) telah

merekomendasikan penggunaan IMT untuk populasi obesitas dan kelebihan

berat. Dua kategori telah ditentukan : (1) remaja dengan IMT pada percentile

ke-95 atau lebih menurut umur dan kelamin atau yang IMT nya lebih dari 30

harus dianggap kelebihan berat dan dirujuk untuk evaluasi medik yang

10
menentukan, dan (2) remaja yang IMT nya pada percentile ke 85 atau lebih

dari percentile ke 95 atau sama dengan 30 harus dirujuk ke tingkat skrining

kedua.

2.1.8 Penatalaksanaan Obesitas

Tujuan pengobatan obesitas pada anak adalah menghambat laju

kenaikan berat badan yang pesat dan tidak boleh diet terlalu ketat.Sehingga

pengaturan dietnya harus dipertimbangkan bahwa anak masih dalam masa

pertumbuhan sesuai tingkat usianya (Depkes, 2011).

Mengingat penyebab obesitas bersifat multifaktor, maka

penatalaksanaan obesitasseharusnya dilaksanakan secara multidisiplin dengan

mengikut sertakan keluarga dalam proses terapi obesitas. Prinsip dari

tatalaksana obesitas adalah mengurangi asupan energi serta meningkatkan

keluaran energi, dengan cara pengaturan diet dan peningkatan aktivitas fisik.

1. Pengaturan Diet

Prinsip pengaturan diet pada anak obesitas adalah diet seimbang sesuai

dengan Recommended Dietary Allowance (RDA), hal ini karena anak

masih mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Intervensi diet harus

disesuaikan dengan usia anak, derajat obesitas dan ada tidaknya penyakit

penyerta. Pada obesitas sedang dan tanpa penyakit penyerta, diberikan

diet seimbang rendah kalori dengan pengurangan asupan kalori sebesar

30%. Sedang pada obesitas berat (IMT > 97 persentile) dan yang disertai

11
penyakit penyerta, diberikan diet dengan kalori sangat rendah (very

lowcalorie diet).

Dalam pengaturan diet ini perlu diperhatikan tentang:

a. Menurunkan berat badan dengan tetap mempertahankan

pertumbuhan normal

b. Diet seimbang dengan komposisi karbohidrat 50-60%, lemak 20-30%

dengan lemak jenuh < 10% dan protein 15-20% energi total serta

kolesterol < 300 mg per hari (Setiati, 2014).

2. Pengaturan Aktivitas Fisik

Peningkatan aktivitas fisik mempunyai pengaruh terhadap laju

metabolisme.Latihan fisik yang diberikan disesuaikan dengan tingkat

perkembangan motorik, kemampuan fisik dan umurnya. Aktivitas fisik

untuk anak usia 6-12 tahun lebih tepat yang menggunakan keterampilan

otot, seperti bersepeda, berenang, menari dan senam. Dianjurkan untuk

melakukan aktivitas fisik selama 20-30 menit per hari.

3. Peran Serta Orang Tua, Anggota Keluarga, Teman dan Guru

Orang tua menyediakan diet yang seimbang, rendah kalori dan sesuai

petunjuk ahli gizi.Anggota keluarga, guru dan teman ikut berpartisipasi

dalam program diet, mengubah perilaku makan dan aktifitas yang

mendukung program diet.

12
2.1.9 Komplikasi Obesitas

a. Terhadap Kesehatan

Obesitas ringan sampai sedang, morbiditasnya kecil pada masa anak-

anak. Tetapi bila obesitas masih terjadi setelah masa dewasa, maka

morbiditas, dan mortalitasnya akan meningkat.

b. Faktor Resiko Penyakit Kardiovaskular

Faktor risiko ini meliputi peningkatankadar insulin, trigliserida, LDL

(lowdensity lipoprotein) kolesterol, dan tekanan darah sistolik serta

penurunan kadar HDL (high density lipoprotein) kolesterol. IMT

mempunyai hubungan yang kuat dengan kadar insulin. Anak dengan IMT

> persentile ke 99, 40% diantaranya mempunyai kadar insulin tinggi, 15%

mempunyai kadar HDL-kolesterol yang rendah dan 33% dengan kadar

trigliserida tinggi. Anak obesitas cenderungmengalami peningkatan

tekanan darah dan denyut jantung, sekitar 20-30% menderita hipertensi.

c. Saluran Pernafasan

Pada bayi, obesitas merupakan resiko terjadinya saluran pernafasan

bagian bawah, karena terbatasnya kapasitas paru-paru.Adanya hipertrofi

dan adenoid mengakibatkan obstruksi saluran nafas bagian atas, sehingga

mengakibatkan anoksia dan saturasi oksigen rendah, disebut sindrom

Chubby Puffer. Obstruksi ini dapat mengakibatkan gangguan tidur,

gejala-gejala jantung dan kadar oksigen dalam darah yang abnormal serta

nafas yang pendek.

13
d. Diabetes Mellitus tipe-2

Diabetes Mellitus tipe-2 jarang ditemukan pada anak obesitas.Prevalensi

penurunan uji toleransi glukosa pada anak obesitas adalah 25%

sedangkan Diabetes Mellitus tipe-2 hanya 4%.Hampir semua anak

obesitas dengan Diabetes Mellitus tipe-2 mempunyai IMT > + 3SD atau >

persentile ke 99.

e. Obstruktive Sleep Apnea

Sering dijumpai pada anak obesitas dengan kejadian 1/100 dengan gejala

mengorok.Penyebabnya adalah penebalan jaringan lemak didaerah

dinding dada dan perut yang mengganggu pergerakan dinding dada dan

diafragma, sehingga terjadi penurunan volume dan perubahan pola

ventilasi paru serta meningkatkan beban kerja otot pernafasan. Pada saat

tidur terjadi penurunan tonus otot dinding dada yang disertai penurunan

saturasi oksigen dan peningkatan kadarCO2, serta penurunan tonus otot

yang mengatur pergerakan lidah yang menyebabkan lidah jatuh ke arah

dinding belakang faring yang mengakibatkan obstruksi saluran nafas

intermiten dan menyebabkan tidurgelisah, sehingga keesokan harinya

anak cenderung mengantuk dan hipoventilasi. Gejala ini berkurang

seiring dengan penurunan berat badan (Setiati, 2014).

14
2.1.10 Pencegahan Obesitas

Prinsip pencegahan obesitas adalah menurunkan berat badan dengan

cara menciptakan defisit energi dengan mengurangi konsumsi energi atau

menambah penggunaan energi melalui olahraga yang teratur (Wiramihardja,

2007).

Aktif berolah raga adalah salah satu cara menurunkan berat badan di

samping berdiit mengurangi makanan berlemak dan gula. Tetapi remaja

gemuk merasa malu ikut olah raga, dan sikap yang demikian akan membuat

badan tetap atau malah bertambah gemuk. Cara lain menurunkan berat badan

adalah dengan cara berdiit, tetapi diet yang ketat juga berbahaya terhadap

kesehatan karena selain mengurangi konsumsi energi juga mengurangi

konsumsi zat-zat gizi lainnya. Oleh karena itu, dalam menjalankan program

diet, maka ahli gizi atau dokter perlu dimintakan nasehat (Depkes RI, 2011).

Pencegahan obesitas dapat dilakukan dengan melalui pendekatan diet

dan gaya hidup dengan mengintegrasikan: perubahan perilaku, pengaturan

diet dan peningkatan aktivitas fisik. Pencegahan dapat dilakukan pada tingkat

individu dan tingkat komunitas. Adapun pencegahan obesitas pada tingkat

individu antara lain :

1. Mengubah pemilihan makanan menjadi lebih sehat, dan berimbang

2. Menurunkan asupan energi total sehingga sebanding dengan pengeluaran

energi melalui pengurangan ukuran porsi makan

3. Mengatur pemilihan kudapan yang lebih sehat

15
4. Melakukan lebih banyak aktivitas fisik

Sedangkan pencegahan obesitas pada tingkat komunitas berupa

kebijakan yang mendukung upaya pencegahan tingkat individu, diantaranya

adalah :

1. Kebijakan tentang pencantuman label makanan untuk memudahkan

masyarakat mendapatkan makanan sehat

2. Industri makanan memperkecil ukuran hidangan

3. Membatasi iklan promosi makanan yang kurang menyehatkan

4. Mendorong aktivitas berjalan, bersepeda, dan olahraga lain dengan

memperhatikan keamanan/keselamatan dijalan raya dan lingkungan

perkotaan.

2.1.11 Prognosis

Prognosis obesitas tergantung pada penyebab dan ada/tidak adanya

komplikasi.Pada obesitas yang berlanjut sampai dewasa, morbiditas dan

mortalitasnya tinggi.

2.2 Makanan Siap Saji (Fast Food)

2.2.1 Definisi Makanan Siap Saji

Makanan siap saji (fast food) adalah makanan yang mudah disajikan,

praktis dan umumnya diproduksi oleh industri pengolahan pangan dengan

teknologi tinggi dan memberikan berbagai zat aditif untuk mengawawetkan

16
dan memberikan cita rasa bagi produk tersebut.Makanan siap saji (fast food)

merupakan makanan yang penyajiannya cepat dan biasanya mengandung

karbohidrat yang tinggi, lemak yang tinggi dan rendah serat(Khasanah, 2012).

Kehadiran makanan siap saji dalam industri makanan di Indonesia juga

bisa mempengaruhi pola makan kaum remaja di kota. Khususnya bagi remaja

tingkat menengah ke atas, restoran makanan cepat saji merupakan tempat

yang tepat untuk bersantai.Makanan di restoran fast foodditawarkan dengan

harga terjangkau dengan kantong mereka, servisnya cepat dan jenis

makanannya memenuhi selera. Makanan cepat saji umumnya mengandung

kalori, kadar lemak, gula dan sodium (Na) yang tinggi tetapi rendah serat,

vitamin A, asam akorbat, kalsium dan folat. Makanan cepat saji adalah gaya

hidup remaja.

Keberadaan restoran-restoran fast foodyang semakin menjamur di kota-

kota besar di Indonesia, yang menyajikan berbagai makanan siap saji yang

dapat berupa makanan tradisional Indonesia seperti restoran padang dan

makanan barat (Kentucy fried chicken, California fried chicken) yang terkenal

dengan ayam gorengnya, disamping jenis makanan yang tidak kalah populer

seperti Burger, Pizza, Sandwich, dan sebagainya. Dengan manajemen yang

handal dan juga dilakukannya terobosan misalnya pelayanan yang praktis,

desain interior restoran dibuat rapi, menarik dan bersih tanpa meninggalkan

unsur kenyamanan, serta rasanya yang lezat membuat mereka yang sibuk

dalam pekerjaanya memilih alternatif untuk mengkonsumsi jenis fast food,

17
karena lebih cepat dan juga mengandung gengsi bagi sebagian golongan

masyarakat. Bahkan di hari libur pun biasanya banyak keluarga yang memilih

makanan diluar dengan jajanan fast food.

Makanan siap saji seperti fried chickendan french fries, sudah menjadi

jenis makanan yang biasa dikonsumsi pada waktu makan siang atau makan

malam remaja di enam kota besar di Indonesia seperti di Jakarta, Bandung,

Semarang, Yokyakarta, Surabaya dan Denpasar. Menurut penelitian tersebut

15-20% remaja di Jakarta mengonsumsi fried chicken dan burgersebagai

makan siang dan 1-6% mengonsumsi pizzadan spaggethi. Bila makanan

tersebut sering dikonsumsi secara terus-menerus dan berlebihan dapat

mengakibatkan gizi lebih (Khasanah, 2012).

2.2.2 Perbedaan Fast Food dan Junk Food

Fast food tidak sama dengan junk food. Junk food adalah makanan yang

kaya kalori namun miskin gizi, sementara fast food adalah makanan yang

bergizi tinggi. Tetapi fast food umumnya juga miskin akan vitamin mineral.

Fast food berasal dari pangan hewani ternak yang merupakan sumber lemak

dan kolestrol (Damopilli, 2013).

2.2.3 ContohMakanan Siap Saji (fast food)

18
Berikut ini adalah makanan siap saji modern yang paling popular

diseluruh dunia yang berasal dari beberapa negara, diantaranya adalah sebagai

berikut :

1. Hamburger

Hamburger atau sering disebut dengan burger adalah sejenis makanan

berupa roti berbentuk bundar yang diiris dua dan ditengahnya diisi

dengan pattyyang biasa diambil dari daging, kemudian sayur-sayuran

berupa selada, tomat, dan bawang bombay. Hamburger berasal dari

negara Jerman.Saus burger diberi berbagai jenis saus seperti mayounes,

saus tomat dan sambal. Beberapa varian burger juga dilengkapi dengan

keju, asinan, serta bahan pelengkap lain seperti sosis.

2. Pizza

Pizza adalah adonan roti yang umumnya berisi tomat, keju, saus dan

bahan lain sesuai selera. Pizza pertama kali popular di negara Italia.

3. French fries (kentang goreng)

French friesadalah hidangan yang dibuat dari potongan-potongan kentang

yang digoreng dalam minyak goreng panas. French fries berasal dari

negara Belgia. Kentang goreng bisa dimakan begitu saja sebagai makanan

ringan, atau sebagai makanan pelengkap hidangan utama.Kentang goreng

memiliki kandungan glukosa dan lemak yang cukup tinggi.

4. Fried Chicken (ayam goreng)

19
Fried Chicken atau ayam goreng pada umumnya jenis makanan siap saji

yang umum dijual di restoran makanan siap saji (fast food).Fried Chicken

umumnya memiliki protein, kolestrol dan lemak.

5. Spaghetti

Spaghettiberasal dari Italia, namun sudah populer di Indonesia.Spaghetti

adalah mie Italia yang berbentuk panjang seperti lidi, yang umumnya di

masak 9-12 menit di dalam air mendidih dengan tambahan daging dan

isinya.

6. Fish and Chips

Fish and Chips adalah sebuah nama makanan Barat yang terdiri dari

kombinasi antara ikan dan kentang goreng. Rakyat Inggris dan Irlandia

menyebutnya dengan istilah “chippies‟atau “chipper‟, dan merupakan

menu makan siang murah meriah dikalangan remaja.

7. Sushi

Sushiadalah makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk

bersama lauk berupa makanan laut, daging, sayuran mentah atau sudah

dimasak.Sushi juga sudah populer di masyarakat Indonesia.

8. Croissant

Croissantadalah salah satu jenis roti berbentuk bulan sabit adonannya

berbeda dengan adonan roti biasa karena diberi tambahan korsvert(sejenis

lemak) dengan pengolahan teknik lipat, sehingga teksturnya terdiri dari

20
lipatan-lipatan kulit roti yang teras empuk tetapi renyah saat kita

memakannya.Croissant pertama kali popular di Prancis.

9. Hot Dog

Hot Dogmerupakan makanan siap saji berupa sosis yang diselipkan dalam

roti.mustard, saus tomat, bawang dan mayonnaise dapat melengkapi

isiannya. Masih banyak yang termasuk jenis makanan siap saji (fast food),

yaitu the torpedo roll, the pizza pie, chili con carne, tortillas, club

sandwich, sourthen fried chicken, bacon, lettuce and tomato sandwiches,

grilled cheese sandwich, danopen beef sandwich. Yang tergolong dalam

makanan siap saji modern antara lain hamburger, ayam goreng

kentucky, pizza, spagetty, sosis, chicken nugget, kentang goreng, donat

dan makanan cepat saji yang tradisional adalah mie goreng, mie instant,

bakso, mie ayam, gorengan, siomai, mie pangsit, soto dan pecal

(Damopolli, 2013).

2.2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Konsumsi Makanan Siap Saji

Kebiasaan dalam mengkonsumsi fast food dapat dipengaruhi oleh akses

ke sumber makanan, harga fast food dalam hal ini berkaitan dengan uang

saku, pengetahuan remaja tentang fast food dan ketersedian makan dirumah

(Poti, 2014).

21
1. Akses ke Sumber Makanan

Kemudahan akses untuk memperoleh makanan fast food dapat

mempengaruhi kebiasaan atau frekuensi konsumsi fast food

seseorang.Lokasi dimana makanan diperoleh mungkin tidak

mempertimbangkan kualitas makanan yang dikonsumsi. Pola diet barat di

luar restoran fast food berhubungan dengan kelebihan berat badan,

meskipun makanan tersebut diperoleh dari toko kelontong. Supermarket

yang menyediakan produk segar, tetapi juga menyediakan minuman

manis dan keripik dapat berkontribusi terhadap pola pembelian makanan

yang sehat dan tidak sehat. Makanan yang diperoleh dari toko makanan

ritel Amerika Serikat ditemukan mirip makanan fast food dilihat dari segi

total lemak dan kandungan gulanya (Poti, 2014).

2. Pengetahuan Orang Tua

Pengetahuan orang tua mengenai makan-makanan yang bergizi dan tidak

bergizi sangatlah diperlukan bagi orang tua untuk menentukan asupan

gizi yang nantinya akan masuk dan dikonsumsi oleh anak-anak mereka

terutama yang masih sedang dalam masa pertumbuhan. Pengetahuan gizi

yang rendah dapat menyebabkan anak mengkonsumsi fast food tanpa

memperhatikan kandungan gizi yang terdapat di dalamnya (Fitri, 2011).

Pengetahuan orang tua mengenai makan-makanan sehat dan bergizi

untuk anak ini dapat ditemukan dari :

a. Membaca majalah-majalah makanan sehat

22
b. Acara-acara televisi yang menyiarkan bagaimana mengolah makan-

makanan yang sehat

c. Membaca Koran

Dari pengetahuan orang tua mengenai makan-makanan yang

bergizi ada beberapa kandungan zat yang harus ketahui, zat-zat apa saja

yang bermanfaat untuk anak seperti, karbohidrat, lemak,

protein,mineral,vitamin karna zat-zat ini akan sangat berguna untuk

asupan gizi anak. Fungsi zat gizi secara umum adalah sebagai sumber

energi, zat pembangun dan pengatur. Fungsi tersebut dapat dipenuhi dari

makanan yang dikonsumsi sehari-hari mencakup nasi, ikan, daging, susu,

sayuran, buah, gula, margarine, dan lain sebagainya. Setiap kelompok gizi

memiliki fungsi masing-masing, seperti karbohidrat, protein, lemak,

mineral, vitamin.Serat pun kini menjadi komponen yang penting dalam

komposisi diet makanan sehari-hari. (Cakrawati, 2012)

3. Uang Saku

Uang saku merupakan faktor dominan dalam konsumsi fast food, semakin

tinggi uang saku yang dimiliki maka semakin tinggi aksesibilitas,

sehingga semakin tinggi pula frekuensi konsumsi fast food, meskipun

akses jarak dekat, tetapi apabila remaja tidak memiliki uang saku yang

cukup (besar) untuk membeli fast food maka kecil kemungkinan bagi

remaja untuk membeli fast food. Begitu pula akses yang sulit belum tentu

membuat seorang responden enggan mengunjungi restoran fast food

23
selama ia memiliki uang saku yang besar, menyukai fast food dan

memiliki alasan yang dianggap penting, misalnya untuk berkumpul

dengan teman sebaya (Surya, 2013).

4. Ketersedian Makan di Rumah

Masa anak dan remaja merupakan salah satu hal yang berhubungan

dengan konsumsi fast food yang tinggi.Konsumsi fast food yang tinggi

juga disebabkan oleh hasil diet yang buruk. Frekuensi konsumsi fast food

yang tinggi dapat dipengaruhi oleh ketersedian makan dirumah seperti

banyaknya soda dan keripik, serta rendahnya sayuran dan susu (Poti,

2014).

2.2.5 Kandungan Gizi Makanan Siap Saji(fast food)

Secara umum makanan cepat saji mengandung kalori, kadar lemak, gula

dan sodium (Na) yang tinggi tetapi rendah serat, vitamin A, asam akorbat,

kalsium dan folat. Dan berikut ini gambaran kandungan nilai gizi dari

beberapa jenis makanan cepat saji yang saat ini banyak dikonsumsi oleh

masyarakat karena pengaruh tren globalisasi :

1. Komposisi gizi Pizza (100g): Kalori(483 KKal), Lemak(48g),

Kolesterol(52g), Karbohidrat (3g), Gula (3g), Protein (3g).

2. Komposisi gizi Hamburger (100g): Kalori (267 KKal), Lemak (10g),

Kolesterol (29mg), Protein (11g), Karbohidrat (33g), Serat kasar (3g),

Gula (7g).

24
3. Komposisi gizi Donat (I bh = 70 g): Kalori (210 Kkal), Lemak (8g),

Karbohidrat (32g), Serat kasar (1g), Protein (3g), Gula (11g), Sodium

(260mg).

4. Komposisi gizi Fried Chicken (100g): Kalori(298 KKal), Lemak (16,8g),

Protein (34,2g), Karbohidrat (0,1g).

5. Siomay 170 gr 162 kalori

6. Mie bakso sepiring 400 kalori

7. Chicken nugget 6 potong: 250 kalori

8. Mie Instant (1 bungkus) 330 Kalori

9. Kentang goreng mengandung 220 kalori

10. Chicken nugget: protein 15,5%, lemak 9,7%, karbohidrat 66,7%

2.2.6 Dampak Negatif dari Makanan Siap Saji(fast food)

1. Meningkatkan Risiko Serangan Jantung

Kandungan kolesterol yang tinggi pada makanan siap saji dapat

mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah. Pembuluh darah yang

tersumbat akanmembuat aliran darah tidak lancar yang dapat

mengakibatkan terjadinya serangan jantung koroner.

2. Membuat Ketagihan

Makanan cepat saji mengandung zat aditif yang dapat membuat ketagihan

dan merangsang untuk ingin terus memakannya sesering mungkin.

3. Meningkatkan Berat Badan

25
Jika suka mengonsumsi makanan siap saji dan jarang berolahraga, maka

dalam beberapa minggu tubuh akan mengalami penambahan berat badan

yang tidak sehat. Lemak yang di dapat dari mengonsumsi makanan cepat

saji tidak digunakan dengan baik oleh tubuh jika tidak berolahraga.Lemak

inilah yang kemdian tersimpan dan menumpuk dalam tubuh.

4. Meningkatkan Resiko Kanker

Kandungan lemak yang tinggi yang terdapat dalam makanan cepat saji

dapat meningkatkan resiko kanker, terutama kanker payudara dan usus

besar.

5. Memicu Diabetes

Kandungan kalori dan lemak jenuh yang tinggi dalam makanan siap saji

akan memicu terjadinya resistensi insulin yang berujung pada penyakit

diabetes. Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh tidak merespon

insulin sehingga menurunkan penyerapan glukosa yang menyebabkan

banyak glukosa menumpuk di aliran darah (Price, 2006).

6. Memicu Tekanan Darah Tinggi

Garam dapat membuat masakan menjadi jauh lebih nikmat.Hampir semua

makanan makanan cepat saji mengandung garam yang tinggi. Garam

mengandung natrium, ketika kadar natrium dalam darah tinggi dan tidak

dapat dikeluarkan oleh ginjal, volume darah meningkat karena natrium

bersifat menarik dan menahan air. Peningkatan ini menyebabkan jantung

bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh yang

26
menyebabkan tekanan darah tinggi. Bahaya makanan siap saji yang telah

dijabarkan oleh peneliti ilmiah dari beberapa ilmiah pakar serta penerhati

nutrisi adalah sebagai berikut:

a. Sodium (Na) tidak boleh kebanyakan terdapat didalam tubuh kita.

Untuk ukuran orang dewasa, sodium yang aman jumlahnya tidak

boleh lebih dari 3300 mg. Inilah sama degan 1 3/5 sendok teh.

Sodium yang banyak terdapat dalam makanan siap saji dapat

meningkatkan aliran dan tekanan darah sehingga bisa membuat

tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi juga akan berpengaruh

munculnya gangguan ginjal, penyakit jantung dan stroke. Lemak

jenuh yang juga banyak terdapat dalam makanan cepat saji, yang

berbahaya bagi tubuh karena zat tersebut merangsang organ hati

untuk memproduksi banyak kolesterol. Kolesterol sendiri didapat

dengan dua cara, yaitu oleh tubuh itu sendiri dan ada juga yang

berasal dari produk hewani yang kita makan dan dimasak terlalu

lama. Kolesterol banyak terdapat dalam daging, telur, ayam, ikan,

mentega, susu dan keju. Bila jumlahnya banyak, kolesterol dapat

menutup saluran darah dan oksigen yang seharusnya mengalir ke

seluruh tubuh. Tingginya jumlah lemak jenuh dalam makanan cepat

sajiakan menimbulkan kanker, terutama kanker usus dan kanker

payudara. Kanker payudara merupakan pembunuh terbesar setelah

27
kanker usus. Lemak dari daging, susu, dan produk-produk susu

merupakan sumber utama dari lemak jenuh.

b. Selain itu, beberapa menu dalam restoran fast food juga mengandung

banyak gula. Gula, terutama gula buatan, tidak baik untuk kesehatan

karena dapat menyebabkan penyakit gula atau diabetes, kerusakan

gigi dan obesitas. Minuman bersoda, cake, dan cookies mengandung

banyak gula dan sangat sedikit vitamin serta mineralnya. Minuman

bersoda mengandung paling bayak gula, sedangkan kebutuhan gula

dalam tubuh tidak boleh lebih dari 4 g atau satu sendok teh sehari

(Septiyani, 2011).

2.2.7 UpayaMeminimalisasi Dampak Negatif dari Makanan Siap Saji

Untuk mengurangi dan meminimalisasi dampak negatif makanan cepat

saji dapat diupayakan dengan beberapa cara antara lain :

1. Bukan larangan yang menakutkan atau suatu keharusan yang mesti

dilakukan untuk menghindari makanan siap saji beresiko. Walaupun

hidangan yang akan dinikmati umumnya mengandung garam dan lemak

tinggi, sebenarnya jenis makanan siap saji beresiko yang identik dengan

fried chicken itu juga memliki kandungan protein yang cukup tinggi. Bila

harus 1 atau 2 kali dalam sebulan atau 1 kali dalam seminggu ingin

menikmati makanan fried chicken dirasa cukup aman dilakukan. Tetapi,

apabila frekuensi menikmati makanan ini dilakukan lebih sering lagi,

28
maka sebaiknya ketika menyantap sajian ini hendaknya dibarengi dengan

mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.

2. Anjuran yang paling cocok bagi penggemar makanan siap saji adalah

hendaknya mereka mengimbangi konsumsi makanan tinggi lemak protein

dengan makanan tinggi serat seperti sayuran, baik yang disajikan dalam

bentuk mentah misalnya lalapan atau dalam bentuk olahan seperti sop

atau salad dari berbagai sayuran dan buah-buahan.

3. Dianjurkan meminum air putih 8-10 gelas per hari untuk mengimbangi

minuman bersoda tinggi. Disamping itu, untuk mengurangi risiko

makanan siap saji yang mengandung tinggi lemak dan tinggi kadar

garamnya agar mengurangi porsi makanan atau memilih makanan dalam

porsi kecil. Kemudian, bagilah porsi itu dengan rekan atau teman. Dan

yang terakhir jangan lupa untuk berolahraga secara disiplin dan teratur.

4. Buah-buahan merupakan pabrik senyawa vitamin, mineral, fitokimia,

antioksidan, dan serat makanan alami. Pengolahan buah-buahan menjadi

jus merupakan salah satu cara yang baik untuk meningkatkan konsumsi

buah-buahan di masyarakat. Agar diperoleh asupan serat makanan

sebagaimana yang diperlukan tubuh ketika mengonsumsi jus buah

hendaknya jus benar-banar dibuat dari buah asli. Jangan sekali-kali tertipu

dengan berbagai jenis minuman jus rasa buah yang sebenarnya sama

sekali tidak mengandung komponen buah.

29
5. Beberapa saran yang perlu diingat dan penting bagi pecinta makanan siap

saji adalah hendaknya memulai sarapan pagi dengan menu sehat seperti

jus buah, susu rendah lemak atau sereal tinggi serat, dan jangan lupa

mengonsumsi sayuran. Asupan makanan yang mengandung tinggi serat

sangat bermanfaat dan dapat membantu memperlambat rasa lapar,

sehingga akan menekan keinginan untuk mengonsumsi makanan

berlemak atau paling tidak hasrat untuk menikmati akan tertunda. Yang

tergolong dalam makanan siap saji modern antara lain hamburger, ayam

goreng kentucky, pizza, spagetty, sosis, chicken nugget. kentang goreng,

donat dan makanan cepat saji yang tradisional adalah mie goreng, mie

instant, bakso, mie ayam, gorengan, siomai, mie pangsit, soto dan pecal

(Damopolii, 2013).

2.3 Penilaian Status Gizi

Pengukuran Antropometri sebagai Skrining Obesitas Obesitas dapat dinilai

dengan berbagai cara atau metode antara lain pengukuran IMT (Index Massa

Tubuh), serta perbandingan lingkar pinggang dan panggul (Setiati, 2014)

1. Indeks Masa Tubuh (IMT)

Indeksmassa tubuh (IMT) adalah ukuran yang menyatakan komposisi

tubuh, perimbangan antara berat badan dengan tinggi badan. Metode ini

dilakukan dengan cara menghitung BB/TB dimana BB adalah berat badan

dalam kilogram dan TB adalah tinggi badan dalam meter (Setiati, 2014).

30
Tabel 2.2 Klasifikasi IMT menurut WHO Kriteria Asia Pasifik

Risiko Ko-Morbiditas

IMT Lingkar Perut


Klasifikasi
(kg/m2) <80cm (perempuan)
<90 cm (laki-laki)
≥90 cm (laki-laki) ≥80cm (perempuan)

Berat Badan Rendah (risiko meningkat Sedang


< 18,5
Kurang pada masalah klinis lain)

Kisaran Normal 18,5-22,9 Sedang Meningkat

Berat Badan
≥23,0
Lebih

Beresiko 23,0-24,9 Meningkat Moderat

Obes I 25,0-29,9 Moderat Berat

Obes II ≥30,0 Berat Sangat berat

2. Rasio lingkar pinggang – panggul (RLPP)

Pola penyebaran lemak tubuh tersebut dapat ditentukan oleh rasio

lingkar pinggang dan panggul.Pinggang diukur pada titik yang tersempit,

sedangkan panggul diukur pada titik yang terlebar lalu ukuran pinggang

dibagi dengan ukuran panggul.

Rasio Lingkar Pinggang (LiPi) dan Lingkar Panggul (LiPa)

merupakan cara sederhana untuk membedakan obesitas bagian bawah tubuh

(panggul) dan bagian atas tubuh (pinggang dan perut). Jika rasio antara

31
lingkar pinggang dan lingkar panggul untuk perempuan diatas 0.85 dan

untuk laki-laki diatas 0.95 maka berkaitan dengan obesitas sentral / apple

shapedd obesity dan memiliki faktor resiko stroke, DM, dan penyakit

jantung koroner. Sebaliknya jika rasio lingkar pinggang dan lingkar panggul

untuk perempuan dibawah 0,85 dan untuk laki-laki dibawah 0,95 maka

disebut obesitas perifer / pear shapedd obesity (WHO, 20011).

a. Lingkar Pinggang

Lingkar pinggang adalah salah satu indikator untuk menentukan

jenis obesitas yang diperoleh melalui hasil pengukuran panjang lingkar

yang diukur di antara crista illiaca dan costa XII pada lingkar terkecil,

diukur dengan pita meteran non elastis (ketelitian 1 mm). Ukuran

lingkar pinggang yang besar berhubungan dengan peningkatan faktor

risiko terhadap penyakit kardiovaskular karena lingkar pinggang dapat

menggambarkan akumulasi dari lemak intraabdominal atau lemak

visceral. Berikut adalah teknik pengukuran lingkar pinggang menurut

Riskesdas 2013:

1) Responden diminta dengan cara yang santun untuk membuka

pakaian bagian atas atau menyingkapkan pakaian bagian atas dan

raba tulang rusuk terakhir responden untuk menetapkan titik

pengukuran.

2) Tetapkan titik batas tepi tulang rusuk paling bawah.

3) Tetapkan titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul.

32
4) Tetapkan titik tengah di antara diantara titik tulang rusuk terakhir

titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul dan tandai titik

tengah tersebut dengan alat tulis. Meminta responden untuk berdiri

tegak dan bernafas dengan normal (ekspirasi normal).

5) Lakukan pengukuran lingkar perut dimulai/diambil dari titik tengah

kemudian secara sejajar horizontal melingkari pinggang dan perut

kembali menuju titik tengah diawal pengukuran.

6) Apabila responden mempunyai perut yang gendut kebawah,

pengukuran mengambil bagian yang paling buncit lalu berakhir

pada titik tengah tersebut lagi.

7) Pita pengukur tidak boleh melipat dan ukur lingkar pinggang

mendekati angka 0,1 cm.

b. Lingkar Panggul

Lingkar panggul juga merupakan salah satu indikator untuk

menentukan jenis obesitas yang diperoleh melalui hasil pengukuran

panjang lingkar maksimal dari pantat dan pada bagian atas simphysis

ossis pubis. Lingkar panggul yang besar (tanpa menilai IMT dan lingkar

pinggang) memiliki risiko diabetes melitus dan penyakit kardiovaskular

yang lebih rendah dibandingkan dengan obesitas apple shaped

(Oviyanti, 2010).

Berikut adalah teknik pengukuran lingkar pinggang menurut

Riskesdas 2013:

33
1) Responden diminta berdiri tegap dengan kedua kaki dan berat

merata pada setiap kaki.

2) Palpasi dan tetapkan daerah trochanter mayor pada tulang paha.

3) Lingkarkan pita ukur tanpa melakukan penekanan.

4) Posisikan pita ukur pada lingkar maksimum dari bokong, untuk

wanita biasanya di tingkat pangkal paha, sedangkan untuk pria

biasanya sekitar 2 - 4 cm bawah pusar.

5) Ukur lingkar pinggul mendekati angka 0,1cm.

2.4 Kerangka Teori

POLA MAKAN(FAST
FOOD)

Faktor internal Faktor eksternal

 Umur  Lingkungan
 Jenis Kelamin  Status
 Ras Ekonomi
 Genetik  Gaya Hidup

OBESITAS

34
2.5 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah kerangka hubungan antara konsep-

konsep yang ingin di amati atau di ukur melalui penelitian yang akan dilakukan

(Notoadmojo S, 2012).

VARIABEL BEBAS VARIABEL TERIKAT

KONSUMSI MAKANAN SIAP SAJI OBESITAS

2.6 Hipotesis Penelitian

Terdapat hubungan antara konsumsi makanan siap saji (fast food) dengan

kejadian obesitas.

35
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian analitik dengandesain cross sectional

yaitu pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach)

(Notoatmodjo.S, 2012).

3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SDN 2 Cakranegara Mataram NTB. Waktu

penelitian selama 3 bulan yakni periode Februari 2017 s/d April 2017.

3.3 Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dari penelitian ini adalah siwa-siswi kelas I, II, dan III SDN 2

Cakranegara Mataram NTB. Jadi jumlah populasi penelitian ini sebanyak 467

orang.

2. Metode Sampling

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah simple random sampling.

1. Besar Sampel

Penentuan besar sampel dilakukan dengan menggunakan rumus

slovin sebagai dasar penentuan sampel, yaitu dengan :

36
𝑵
𝒏=
𝟏 + 𝑵𝒆𝟐

Keterangan :

N = Besar populasi

n = Besar sampel

e = Persen kelonggaran ketidak telitian karena kesalahan pengambilan

sampel yang masih dapat ditoleri.

467 467
Maka: 𝑛 = 2= 467×(0.0025)+1
1+467 (0,0.5)

467
= = 216,20 (216 sampel)
2.16

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan simple

random sampling, dengan jumlah sampel 216 orang.

Hasil simple random sampling yang dilakukan peneliti dapat

diperoleh 216anak kelas I, II, III di SDN 2 Cakranegara Mataram NTB.

2. Kriteria Sampel

a. Kriteria Inklusi

1) Siswa-siswi kelas I, II, III dan yang hadir saat penelitian

2) Jenis kelamin laki-laki dan perempuan

37
3) Umur 7 – 9 tahun

b. Kriteria Eksklusi

1) Siswa yang menderita sakit saat penelitian berlangsung

2) Siswa yang tidak hadir tanpa keterangan saat penelitian

berlangsung.

3.4 Definisi Operasional

Untuk membagi ruanglingkup variabel yang di teliti, maka variabel

tersebut diberi batasan atau definisi operasional. Definisi operasional ini juga

bermanfaat untuk mengalihkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap

variabel-variabel/ pengembangan instrumen (Notoadmodjo, 2012).

38
Tabel 3.1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala

Ukur

1 Variabel Bebas : Tingkst keseringan Kuesioner a. Obese Ordinal


Makanan siap reponden
(>+2SD)
saji (fast food) mengkonsumsi
msksnsn siap saji b. Non
(fast food).
Obese ( ≤

+2SD).

2 Variabel terikat Keadaan Indeks Antropometri a.obesitas Nominal


: Obesitas Massa Tubuh Anak
(IMT) anak yang b. tidak

berada di atas >+ obesitas


2SD

(KEPMENKES 2010)

3.5 Instrumen Dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan untuk mendapatkan data penelitian, instrumen dalam

penelitian ini antara lain :

1. Timbangan injak

2. Alat pengukur tinggi badan (Microtoise)

3. Formulir identitas siswa-siswi dan orang tua

39
4. Formulir riwayat makan (Dietary History) untuk kebiasaan konsumsi fast

food.

3.6 Aspek Pengukuran

1. Data Indeks Masa Tubuh

Status gizi diukur dengan menggunakan indikator IMT/U kemudian

diinterpresentasikan berdasarkan standar antopometri.

Kemudian hasil tinggi badan dan berat badan dihitung berdasarkan IMT

menurut umur dengan standar nilai berdasarkan KEPMENKES 2010

dikategorikan menjadi:

1. Sangat kurus = < -3SD

2. Kurus = -3SD s/d < -2SD

3. Normal = -2SD s/d 1SD

4. Gemuk = > 1SD s/d 2 SD

5. Obesitas => +2SD

Berdasarkan kategori tersebut maka hasilnya akan dikelompokkan

menjadi Obese (> +2SD) dan Non Obese ( ≤ +2SD).

2. Data karakteristik siswa-siswi dan orang tua

Data diperoleh dari hasil jawaban pertanyaan yang ada dalam form

untuk siswa-siswi dan orang tua. Form tersebut berisi pertanyaan yang

meliputi nama, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, umur, tingkat pendidikan

orang tua, alamat dan nomor telepon yang diisi oleh orang tua/wali. Masing-

40
masing dikelompokkan dalam kategori seperti umur yang di hitung, dan di

kategorikan menjadi: jenis kelamin dengan kategori 1. Laki-laki 2.Perempuan.

3. Data kebiasaan konsumsi makanan siap saji (fast food)

Data kebiasaan konsumsi makanan siap saji (fast food) diperoleh melalui
dietary history questionere, terdiri dari pertanyaan mengenai frekuensi
penggunaan makanan.Jika responden menjawab tidak pernah maka skor
bernilai 0, jika 1-3x/minggu maka skor bernilai 10, jika >3x/minggu maka
skor bernilai 15, jika 1x/hari maka skor bernilai 25, dan jika >1x/hari maka
skor bernilai 50.Seluruh jenis makanan fast food diberi skor dan dijumlahkan.
Lalu di kelompokkan menjadi sering (total skor > median) dan jarang (total
skor < median), (Handayani, 2015).

3.7 Cara Kerja Penelitian

Setelah melakukan penelitian, pengukuran, pengelompokkan dan penilaian,

didapatkan cara kerja sebagai berikut :

1. Menentukan cara penelitian

2. Menentukan variable yang akan diukur

3. Menyusun instrument dan penyusunan data (Quesionere Dietary History)

4. Penilain antropometri dan penentuan obesitas, dan didapatkan skema sebagai

berikut:

Penilaian

41
Jarang Sering

OBES NON OBES OBES NON OBES

Analisa data dengan sistem

Hasil

Laporan

3.8 Analisis Hasil

1. Analisis Univariate

Analisis univariat digunakan untuk mendiskripsikan karakteristik

masing-masing variabel, baik variabel bebas dan variabel terikat.Pada

penelitian ini analisis yang digunakan untuk mengetahui gambaran hubungan

konsumsi makanan siap saji (fast food) pada anak dengan kejadian obesitas.

42
Tabel 3.2 Tabel Dummy Karakteristik Resposden Kebiasaan Konsumsi

Makanan Siap Saji (fast food) dengan Kejadian Obesitas

No Variabel n %

Kebiasaan Konsumsi Makanan Siap


1.
Saji (fast food)

Jarang

Sering

2. Obesitas

Obes

Non obes

Keterangan :

n = Jumlah Variabel

2. Analisis Bivariate

Analisis yang dilakukan untuk mengatahui hubungan antara variabel

bebas dan variabel terikat yaitu komsumsi makanan siap saji (fast food) dan

obesitas.

Metode statistik yang digunakan untuk melihat kemaknaan dan besarnya

hubungan antara variabel, maka dilakukan uji Chi Square (X2). Sedangkan

untuk melihat kejelasan tentang dinamika hubungan antara faktor resiko dan

43
faktor efek dilihat melalui nilai Prevalensi Rasio (PR) dengan 95%

Confidence Interval. Prevalensi Rasio (PR)adalah untuk menunjukan rasio

antara banyaknya kasus yang obesitas dan tidak obesitas.

Tabel 3.3Tabel DummyHubungan Kebiasaan Konsumsi Makanan Siap Saji

(fast food) dengan kejadian obesitas

Konsumsi makanan Obesitas Non Obesitas


Siap Saji (Fast x2 PR 95% CI P
Food) N % n %

Sering

Jarang

Keterangan :

PR = Prevalensi Rasio

X2 = Chi Square

P = Probabilitas

n = Jumlah Variabel

CI = Confidence Interval 95%

3.9 Etika Penelitian

44
Dalam melakukan penelitian, peneliti memperhatikan masalah etika

penelitian. Etika penelitian meliputi :

1. Informed concent (lembar persetujuan)

Merupakan sumber persetujuan memuat penjelasan-penjelaan tentang

maksud dan tujuan penelitian, dampak yang mungkin terjadi selama

penelitian. Apabila responden telah mengerti dan bersedia maka responden

diminta menandatangani surat persetujuan menjadi responden. Namun

apabila responden menolak, peneliti tidak akan memaksa.

2. Anonymity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan

nama subjek penelitian. Untuk memudahkan dalam mengenali identitas,

peneliti memakai simbol pada masing-masing lembar yang hanya diketahui

oleh peneliti.

3. Convidentiality (kerahasiaan)

Informasi yang diberikan oleh responden serta semua data yang

terkumpul akan disimpan, di jamin kerahasiaannya dan hanya menjadi

koleksi peneliti. Peneliti menjamin semua kerahasiaan informasi yang di

berikan oleh responden dan akan dijaga hanya digunakan untuk

kepentingan penelitian (Sastroasmoro, 2011).

45
DAFTAR PUSTAKA

Damopolli, Winarsi., Mayulu, Nelly., Gresty Masi, 2013, Hubungan Konsumsi Fast

Food dengan Kejadian Obesitas Pada Anak SD, ejournal Keperawatan Fakultas

Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado, Diakses tanggal 17 Januari

2017

Departemen Kesehatan RI, 2011,Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan

Kegemukan dan Obesitas Pada Anak Sekolah, Jakarta: Kementrian Kesehatan

RI

Farida, El Baz, et al., 2009,Impact of Obesity and Body Fat Distribution on

Pulmonary Function og Egyptian Children, Egyptian Journal of Bronchology,

2009: 3 (1) 49-58

Handayani, Nuzulul Candra, 2015,Hubungan Kebiasaan Konsumsi Serat dengan

Kejadian Obesitas, Karya Tulis Ilmiah,Mataram : Universitas Islam Al-Azhar

Kemenkes RI., 2013,Riset Kesehatan Dasar, Badan Penelitian dan Pengembangan

Kesehatan

Kepmenkes, 2010,Standar Antropometri Penilaian status Gizi Anak, Kementrian

Kesehatan RI, Jakarta

46
Khasanah, Nur, 2012,Waspadai Beragam Penyakit Degeneratif Akibat Pola Makan,

Cetakan Pertama, Yogyakarta: Penerbit Laksana.

Mustika, Dewi Cakrawati, 2012,Bahan Pangan Gizi dan Kesehatan,

Bandung:Alfabeta

Notoatmodjo, S., 2012,Metodelogi Penelitian Kesehatan, PT. Rineka Cipta, Jakarta

Oviyanti, P N., 2010,Hubungan Antara Lingkar Pinggang Dan Rasio Lingkar

Pinggang Panggul Dengan Tekanan Darah Pada Subjek Usia

Dewasa,Surakarta: Universitas Sebelas Maret. H. 6-9

Poti, JM., Duffey, K J., and Popkin, B.M., 2014,The Association Of Fast Food

Consumption With Poor Dietary Outcomes And Obesity Among Children: Is It

The Fast Food Or The Remainder Of The Diet?, Diakses: 12 Januari 2017.

ajcn.nutrition.org

Price & Wilson, 2014,Patofisiologi : Gangguan Sistem Kardiovaskuler, Jakarta :

EGC pp.582-283

Riskesdas, 2007.Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Provinsi Nusa

Tenggara Barat.

Sastroasmoro, Sudigdo., Ismail, Sofyan, 2011, Dasar-Dasar Metodologi Penelitian

Klinis, Ed.4, Jakarta : Sagung Seto

Soegondo, S., 2009,Obesitas, Dalam AW Sudoyo, B Setiyohadi, I Alwi, M

Simadibrata, S Setiati: Buku ajar ilmu penyakit dalam, Edisi 4,Jilid 3, Jakarta:

Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia: 1924

47
Shinta, Junita Fitri, 2011,Kebiasaan Fast food PadaSiswa Yang Berstatus Gizi Lebih

Di SMA Kartini Batam, Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi

Manusia IPB 2011

Septiyani, R., 2011,Waspada Fast Food! (Karya Tulis Ilmiah), Jakarta: Jurusan

Teknik Industri Universitas Mercu Buana

Sherwood, L., 2012,Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, Edisi 6. Jakarta : EGC, hal.

708-710

Surya, AP., 2013,Faktor Dominan dalam Menentukan Frekuensi Konsumsi Fast

Food Modern Pada Siswa-Siswi SMA Negeri Kecamatan Tangerang Kota,

KotaTangerang, Diakses : 12 Januari 2017. lib.ui.ac.id (Jurnal)

Stiati, Siti, 2014, Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam, Dalam : Alwi, Idrus., sudoyono,

Aru W., Simadibrata, Marcellus, Setyohadi Bambang., Syam, Ari Fahrial, Ed.6,

Jilid 2, Jakarta : FKUI

Wiramihardja, K., 2007,Obesitas dan Penanggulangannya. Penerbit Granada,

Bandung

World Health Organization, 2011, Obesity: Preventing and Managing the Global

Epidemic, Dalam: Report of a WHO Consultation, Geneva

Switzerland,Tersedia dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/11234459

(Diakses pada 08 Januari 2017)

World Health Organization, 2016, Obesity and Overweight,

http//www.who.int./mediacenter/factsheets/fs311/en/,Diakses pada tanggal 10

Januari 2017

48
49