Anda di halaman 1dari 5

HUBUNGAN STATUS GIZI TERHADAP PRESTASI

BELAJAR ANAK SD 6-12 TAHUN DIKOTA MATARAM

Usulan Penelitian Untuk pelaksanaan dan penyusualan Karya Tulis Ilmiah

DIAJUKAN OLEH:

Helmi yuliana 013.06.0024

Megawati putri 014. 06.0015

Kurniawan hidayat 015.06.0012

Rian ardiansyah 015.06.

Baiq ria 015.06

dian

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM AL-AZHAR

MATARAM 2017
Usulan Karya Tulis Ilmiah

HUBUNGAN STATUS GIZI TERHADAP PRESTASI

BELAJAR ANAK SD 6-12 TAHUN DIKOTA MATARAM

Diajukan Oleh :

Helmi yuliana

Megawati putri

Kurniawan hidayat

Baiq ria

Dian

Telah di setujui oleh :

Pembimbing

tanggal

dr Baiq Reski Setiagarini, MMR…………………………………


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan nasional dewasa ini lebih menitik beratkan pada


pembanggunan sumber daya manusia (SDM) yang sehat, cerdas, produktif dan
mandiri. Upaya peningkatan SDM yang berkualitas dapat dimulai dengan cara
penanganan pertumbuhan anak dengan mengatur asupan gizi dan perawatan yang
baik. Hal ini dikarenakan anak usia sekolah merupakan investasi yang sangat
berharga bagi bangsa karena merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan
mampu memperbaiki kondisi bangsa kita di masa mendatang. Sehinggga
diperlukan perhatian lebih terhadap pemantauan status gizi anak usia sekolah.
Anak usia sekolah jika mendapatkan asupan gizi yang baik akan mengalami
tumbuh kembang yang optimal, begitu sebaliknya. (Riska Syatyawati, 2013)
Anak sebagai aset sumber daya manusia dan sebagai generasi penerus
perlu diperhatikan kehidupannya. Kecukupan gizi dan pangan merupakan salah
satu faktor yang terpenting dalam perkembangan kualitas sumber daya manusia.
Kecukupan gizi sangat mempengaruhi terhadap kesehatan dan produktifitas
manusia. Banyak aspek yang mempengaruhi status gizi manusia antara lain pola
pangan, social budaya dan pengaruh konsumsi pangan ( Maryani, 2008 ).
Menurut WHO gizi merupakan pilar utama dari kesehatan dan
kesejahteraan sepanjang siklus kehidupan. Gizi dibutuhkan oleh anak usia
sekolah untuk pertumbuhan dan perkembanan, energi, berpikir, beraktifitas fisik,
dan daya tahan tubuh. ( maleke dkk, 2015).
Pemberian gizi yang kurang baik terutama pada anak-anak akan
menurunkan potensi sumber daya pembangunan masyarakat. Anak yang
meperoleh makanan yang adekuat sejak dari kandungan (status gizi baik) akan
tumbuh dan berkembang dengan optimal sesuai usianya dan mempunyai umur
harapan hidup yang baik. Pertumbuhan dan perkembangan yang optimal ini
mencakup pertumbuhan otak yang sangat menentukan kecerdasan seorang anak
Rendahnya status gizi anak akan membawa dampak negative pada peningkatan
kualitas sumber daya manusia (SDM). Kekurangan gizi berhubungan erat dengan
pencapain akademik murid sekolah yang semakin rendah. ( maleke dkk, 2015).
Fase usia sekolah membutuhkan asupan makanan yang bergizi untuk
menunjang masa pertumbuhan dan perkembangannya. Selain untuk kebutuhan
energi asupan makanan bergizi juga mempengaruhi perkembangan otak, apabila
makanan tidak cukup mengandung zat-zat gizi yang dibutuhkan dan keadaan ini
berlangsung lama akan menyebabkan perubahan metabolisme otak (Cakrawati D,
2012).
Pada keadaan yang lebih berat dan kronis, pertumbuhan badan akan
terganggu, badan lebih kecil di ikuti dengan ukuran otak yang juga kecil. Jumlah
sel dalam batang otak berkurang dan terjadi ketidakmatangan organisasi kimia
dalam otak. Keadaan ini berpengaruh terhadap perkembangan kecerdasan anak.
(Depkes RI, 2004).
Anak yang kurang gizi mudah mengantuk dan kurang bergairah yang
dapat mengganggu proses belajar di sekolah dan menurun prestasi belajarnya dan
daya piker anak juga berkurang karena pertumbuhan otak yang tidak optimal .
Selain itu pada anak yang kurang gizi dapat terjadi stunting tau terhambatnya
pertumbuhan tubuh. Stunting adalah salah satu bentuk gizi kurang yang ditandai
dengan tinggi badan menurut umur diukur dengan standar deviasi dengan
referensi WHO. (Gibney M, 2009).
Di Indonesia prevalensi anak usia 6-12 tahun yang tergolong pendek
(stunting) dan / atau sangat pendek (index TB/U pendek atau sangat pendek)
adalah 20,5 % dan 15,1 %. Sedangkan prevalensi kurus (wasting) dan sanggat
kurus menggunakan indikator IMT/U adalah sebesar 7,6 % dan 4,6 %. Masalah
gizi tersebut dapat disebabkan akibat rendahnya asupan zat gizi baik pada masa
lampau maupun masa sekarang. (Rosita, 2014)
Berdasarkan Riskesdes 2013 prevalensi status gizi pada anak usia 6-12
tahun terdiri dari 4,6 sangat kurus, 3,6 % kurus, 78,6 % normal dan 19,2 %
gemuk. Berdasarkan pemantauan status gizi kurang yang dilakukan oleh dinas
kesehatan provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2013 di kabupaten dan Kota
se-Nusa tenggara barat adalah Kota Mataram (11,59 %), Lombok Barat (12,98
%), Lombok Utara (19,61 %), Lombok Tengah (12,90 %), Lombok timur (14,36
%), Sumbawa Barat (9,08 %), Sumbawa (12,34 %), Dompu (16,12 %), Bima
(17,03 %), dan Kota Bima (15,36 %).

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

1.3.2 Tujuan Khusus

1.4 Manfaat Penelitian