Anda di halaman 1dari 3

Regulasi Pemberantasan Tetanus Di Indonesia

Indonesia memiliki berbagai kebijakan yang mengatur mengenai program pemberantasan


tetanus seperti imunisasi dan obat – obatan. Kegiatan imunisasi diselenggarakan di
Indonesia sejak tahun 1956. Mulai tahun 1977 kegiatan imunisasi diperluas
menjadi Program Pengembangan Imunisasi (PPI) dalam rangka pencegahan
penularan terhadap beberapa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
(PD3I) yaitu Tuberkulosis, Difteri, Pertusis, Campak, Polio, Tetanus serta Hepatitis
B. Beberapa penyakit yang saat ini menjadi perhatian dunia dan merupakan
komitmen global yang wajib diikuti oleh semua negara adalah eradikasi polio
(ERAPO), eliminasi campak – pengendalian rubella (EC-PR) dan Maternal Neonatal
Tetanus Elimination (MNTE) (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42,
2013).

1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 Tentang


Penyelenggaraan Imunisasi
a. Pasal 6 ayat 2 yang berbunyi “Jenis imunisasi dasar sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) terdiri atas:
(1) Bacillus Calmette Guerin (BCG);
(2) Diphtheria Pertusis Tetanus-Hepatitis B (DPT-HB) ata
(3) Diphtheria Pertusis Tetanus-Hepatitis B-Hemophilus Influenza type B (DPT-
HB-Hib);
(4) Hepatitis B pada bayi baru lahir;
(5) Polio; dan
(6) Campak.
b. Pasal 7 ayat (3) yang berbunyi “Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada
anak usia bawah tiga tahun (Batita) sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
terdiri atas Diphtheria Pertusis Tetanus Hepatitis B (DPT-HB) atau Diphtheria
Pertusis Tetanus-Hepatitis B-Hemophilus Influenza type B (DPT-HB-Hib) dan
Campak.”
c. Pasal 7 ayat (5) : “Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada anak usia
sekolah dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (4) terdiri atas
Diphtheria Tetanus (DT), Campak, dan Tetanus diphteria (Td).”
d. Pasal 7 ayat (6) : “Jenis imunisasi lanjutan yang diberikan pada wanita
usia subur sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c berupa
Tetanus Toxoid (TT).”
2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
1611/MENKESSK/XI/2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi.
a. Kegiatan imunisasi dapat dilakukan di pelayanan kesehatan di dalam
ruangan seperti puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit, rumah
bersalin dan polindes. Pelayanan kesehatan di luar ruangan dapat
dilakukan di posyandu, kunjungan rumah dan sekolah. Pelayanan
kesehatan juga dapat dilakukan di rumah sakit swasta, dokter praktik
dan bidan praktik
b. Vaksin yang perlu diberikan pada imunisasi rutin pada bayi adalah
hepatitis B, BCG, polio, DPT dan Campak. Pada usia sekolah perlu
diberikan DT, TT, dan campak. Pada wanita usia subur perlu diberikan
TT. Pemberian vaksin dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Jadwal pemberian vaksin dari tempat dan vaksin.

3. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 Tentang


Jaminan Kesehatan
Pasal 21 ayat (3): “Pelayanan imunisasi dasar sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf b meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri
Pertusis Tetanus dan Hepatitis-B (DPTHB), Polio, dan Campak.”
4. Menurut rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2014, vaksin DTP pertama
diberikan paling cepat pada umur 6 minggu. Dapat diberikan vaksin DTwP atau DTaP
atau kombinasi dengan vaksin lain. Untuk anak umur lebih dari 7 tahun diberikan
vaksin Td, diberikan booster (penguat) setiap 10 tahun. Jadwal pemberian imunisasi
dapat dilihat pada tabel berikut
Tabel 2. Jadwal Pemberian Imunisasi.

Dapus
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2013 Tentang
Penyelenggaraan Imunisasi.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
1611/MENKESSK/XI/2005 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Imunisasi.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 Tentang
Jaminan Kesehatan.
Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2014. Jadwal Imunisasi. Diakses
http://www.idai.or.id/wp-content/uploads/2014/04/Jadwal-
Imunisasi-2014-lanscape-Final.pdf